Thursday, 3 July 2008

Membumikan Kembali Sastra Religius

Sejarah menunjukkan bahwa jejak sastra sufistik sekaligus tragedi sastra di Nusantara sudah ada sejak ratusan tahun silam, jauh sebelum "jabang bayi" negara-bangsa Indonesia dibayangkan oleh para pemuda nasionalis-pejuang. Karena dianggap menyebarkan ajaran tasawuf yang menyesatkan, sufi besar Hamzah Fansuri (1607-1636) dienyahkan oleh Sultan Iskandar Muda. Nasib tragis dialami Fansuri serupa dengan apa yang dialami Al-Halaj. Jejak Fansuri masih tersisa dan tapaknya bisa dirunut sampai sekarang lantaran karya-karyanya masih banyak yang berhasil diselamatkan oleh para pengikutnya. Sejarah kemudian mencatat upaya menghilangkan Fansuri dari sejarah telah sia-sia. Namanya justru harum dan dikenal sebagai sufi besar yang pengaruhnya mencakup seluruh Nusantara.

Kisah Hamzah Fansuri di atas setidaknya menjadi semacam prawacana untuk mendedahkan kembali isu tentang peran sastra sufi-regilius, sastra profetik, atau sastra yang digali dari sumber agama dalam konstelasi sosial-politik. Lebih mikro lagi, untuk menjawab sebuah pertanyaan: perlukah dikotomi sastra sufi-nonsufi? Adakah sastra sufistik itu bagi kehidupan manusia? Di tengah maraknya fenomena pengagungan terhadap lirisisme dalam dunia puisi Indonesia dan pemujaan terhadap mitologi dalam prosa saat ini, saya kira mendedahkan kembali sastra sufistik-religius sangat relevan. Setidaknya, bisa mengurangi salah paham tentang sastra sufi atau sastra religius. Lebih jauh lagi, sastra religius diharapkan tidak terus ditempatkan dalam ruang sempit yang mungkin tanpa udara.

para penerus
Setelah Fansuri, jejak sufistik-religius masih tampak pada Amir Hamzah. Selanjutnya, dalam telikungan polemik tentang estetika Barat atau Timur yang akan dianut para sastrawan dan pemikir, sastra sufistik tak begitu bergaung. Jejaknya menampak lagi setelah Abdul Hadi WM dengan sangat telaten kembali memungut remah-remah sejarah dan mengonstruksikannya ke dalam sebuah wacana dan proses kreatif pada dekade 1980-an. Lewat Harian Berita Buana, Abdul Hadi WM rajin "mengampanyekan" apa yang diyakininya sebagai upaya "menuju ke Sumber". Sumber yang dimaksud tak lain adalah jalan sufi, tasawuf, jalan Tuhan.
Geliat sastra sufistik-religius tampak jelas dalam dekade 1970-an, meski pembangunan wacana sastra sufistik sendiri baru gencar dilakukan pada dekade 1980-an oleh Abdul Hadi WM. Ketika itu Abdul Hadi memang hanya memfokuskan diri pada regiusitas-sufistik. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, wacana sufistik yang bergulir sejak 1980-an itu kemudian mendapatkan banyak pengikut dan lebih cair. Generasi 1970-an yang karya-karyanya memiliki kekuatan sufistik-religius dalam barisan ini tentu adalah Abdul Hadi WM, Danarto, Kuntowijoyo, Sutardji Calzoum Bachri, Emha Ainun Nadjib, Hamid Jabbar, dan M Fudoli Zaini. Juga generasi 1980-an, antara lain adalah Ahmadun Yosi Herfanda, Isbedy Stiawan ZS, Soni Farid Maulana, Acep Zamzam Noor, dan Endang Supriyadi. Termasuk dalam barisan ini adalah KH Musthofa Bisri, yang meskipun seusia Danarto tetapi lebih dikenal sejak era 1980-an.
Beberapa penyair dan cerpenis pun kemudian sempat "ditasbihkan" sebagai sastrawan sufistik dan memiliki karya yang dianggap masterpeace. Puisi Tuhan, Kita Begitu Dekat/ karya Abdul Hadi WM dan sajak Sembahyang Rumputan-nya Ahmadun Yosi Herfanda, misalnya, sangat kuat dimensi sufistiknya dan sering dijadikan puisi wajib dalam pelbagai lomba baca puisi. Demikian juga dengan cerpen Kecubung Pengasihan-nya Danarto, banyak dieksplorasi oleh kelompok-kelompok teater di Tanah Air untuk dipentaskan. Danarto menjadi perbincangan cukup luas terutama setelah karya masterpeace-nya, Godlob (1975), dinilai kritikus membawa warna baru dalam estetika sastra Indonesia. Sifat-sifat sufistik juga masih sangat kuat dalam karya-karya Danarto lain yang terkumpul dalam Adam Makrifat (1982), Berhala (1987), Gergasi (1996), dan Setangkai Melati di Sayap Jibril (2000). Juga dalam novelnya, Asmaraloka (1999). Hingga kini, Danarto dan sastrawan yang melahirkan karya-karya sufistik-religius dari generasi pertama masih terus menulis dan mempublikasikan karya.
Generasi 1990-an yang karya-karyanya mengandung nilai religius yang kuat antara lain Radhar Panca Dahana, Ahmad Nurullah, Jamal D Rahman, Abidah el Khalieqy, Abdul Wachid BS, Ahmad Syubbanuddin Alwi, Eddy A Effendi, Tjahjono Widarmanto, Tjahjono Widianto, dan Moh Syafari Firdaus. Termasuk dalam generasi terbaru adalah Helvy Tiana Rossa, dan Amin Wangsitalaja (teruma sajak-sajak awalnya). Bagaimana dengan generasi 2000-an? Ini agak aneh. Meski banyak penyair, cerpenis, dan novelis baru bermunculan pada era 2000-an, kita agak sulit menemukan penulis baru yang intens menulis karya-karya sufistik-religius dari generasi ini. Yang muncul justru menguatnya lirisisme yang membangun puisi-puisi romantik.
Penyair yang memiliki kekuatan lirik di paruh awal tahun 2000-an hingga kini antara lain Raudal Tanjung Banua, Jimmy Maruli Alfian, dan Dina Oktaviani. Sayangnya, tema-tema yang mereka garap umumnya masih seputar romantisme. Mereka melanjutkan tradisi lirik Chairil Anwar, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Soni Farid Maulana, Sitok Srengenge, Agus R Sarjono, dan Zen Hae. Sementara di dunia prosa, yang cukup menjanjikan antara lain Puthut EA, Eka Kurniawan, Raudal Tanjung Banua, dan Zen Hae. Yang perlu mendapatkan catatan adalah booming estetika puitik model Afrizal Malna yang melahirkan apa yang disebut sebagai Afrizalian pada tahun 1990-an ternyata tidak membuat karya-karya religius surut. Dunia sufistik-religius seolah menjadi sumur yang tak pernah kering untuk terus digali oleh para sastrawan Indonesia hingga hari ini.
Pertanyaannya kemudian, mengapa setelah lebih dari dua dasa warsa menjadi perbincangan publik sastra tetapi hingga hari ini perdebatan tentang sastra sufistik-religius belum selesai? Seolah-olah di rimbun wacana sufisme dan religiusitas tersimpan misteri. Mungkin akibat salah proses pembacaaan. Mungkin juga tersebab oleh proses membaca yang belum tuntas. Kesalahan membaca, misalnya, terjadi dalam acara Temu Sastrawan Mitra Praja Utama (MPU), yang diadakan oleh Forum Kesenian Banten serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, di Hotel Patra Jasa Anyer, 26-29 Juli 2004. Dalam forum itu, Binhad Nurohmat menolak adanya dikotomi sastra religius dengan sastra-nonreligius. Penolakan yang kemudian diluruskan oleh Abdul Hadi dan Ahmadun itu, menurut saya, disebabkan oleh simplifikasi pandangan Binhad tentang sastra religius.
Dua tahun lalu, penolakan yang hampir sama juga dilakukan oleh Ribut Wijoto (Situs Jaringan Islam Liberal, 20/1/2002). Menurut Wijoto, tak ada sastra religius. Sebab, katanya, regilius berada di dataran etika, sementara sastra berada di tataraan estetika. Menurutnya, religi-etika menciptakan pagar, sedangkan sastra-estetika membongkarnya. Sastra merayakan kerapuhan sedangkan religi memperkokohnya kembali. Pendapat Binhad dan Ribut Wijoto mengandaikan bahwa sebagai manusia kreator, sastrawan berada dalam ruang yang terbagi. Padahal, realitasnya, manusia merupakan makhluk monodualis. Ia terdiri atas badan dan jiwa yang tak mungkin dipisahkan. Konsekuensinya, jika menuruti alur pikiran Binhad, maka seorang sastrawan sufi-religius dalam kehidupan sehari-hari (setiap saat) harus selalu religius. Ia harus berada dalam dunia para sufi, yang melakukan pengasingan diri dari hiruk-pikuk manusia.
Salah satu inti ajaran tasawuf yang diajarkan pada sufi adalah wahdatul wujud (menyatunya hamba dengan Tuhan). Itulah puncak ekstase, mabuk paling puncak yang dirindukan para penganut jalan sufi. Lantaran manusia mengandung unsur badan dan roh (material dan spiritual), maka tak mengherankan jika Mohamad Iqbal dan YB Mangunwijaya mengatakan bahwa semua karya sastra pada dasarnya adalah religius. Pendapat Iqbal dan Romo Mangun dipertegas oleh filosof Islam, Shadr Al-Muta'alihin Asy-Syirazi. Menurut Asy-Syirazi, antara material dan spiritual tidak ada garis pemisah. Keduanya merupakan dua tingkap "keberadaan". Meskipun roh itu nonmaterial, ia memiliki hubungan material. Sebab, ia adalah tahap tertinggi penyempurnaan materi dalam gerak subtansialnya. Menurut Asy-Syirazi, ruh yang merupakan sisi nonmaterial manusia adalah produk gerak. Adapun gerak itu sendiri merupakan jembatan antara materialitas dan spiritualitas.
Akhirnya kita juga bisa memahami mengapa seorang sastrawan tidak bisa mengabdikan sepenuh hidupnya untuk menciptakan karya-karya religius. Sebab, selain malaikat dan para Rosul, manusia adalah makhluk yang dhoif. Meski begitu, ada beberapa manusia yang dikarunia kemampuan lebih untuk melakukan penyatuan diri dengan Allah. Sastrawan pada dasarnya seorang perindu. Baik terhadap hal-hal yang kasat mata maupun pada hal-hal yang bersifat Ilahiah. Itulah sebabnya, Rintrik, tokoh Danarto dalam cerpen Kecubung Pengasihan, tak malu-malu mengatakan bahwa ia rindu syahfat yang besar, yakni bertemu dengan Allah. Nah, bukankah selama ini banyak penyair dan cerpenis Indonesia yang mengungkapkan kesatuan-kerinduan-Nya dengan Khaliqnya?
Sampai pada titik ini, semestinya debat panjang tentang ada tidaknya sastra religius dan seberapa besar pengaruh sastra religius bagi kehidupan bisa diakhiri. Sudah saatnya pengertian sufisme dan religiusitas dalam karya sastra lebih dicairkan sehingga tidak terus membeku dalam ruang sempit lantaran berada dalam tataran hablumminallah. Tataran itulah yang selama ini menjadi acuan kunci para sastrawan sufistik semacam Jallaludin Rummi, Fariduddin Attar, Rabiah Al Adawiyah, Ibnu Arabi, dan Hamzah Fansuri.
Selain hubungan yang bersifat transenden yang dibungkus bingkai hablumminallah, sejatinya manusia masih berpijak dalam kehidupan riil dan harus mengembangkan hubungan yang lebih bersifat hablumminannas (hubungan dengan sesama makhluk dan manusia). Jadi, setelah jejak sufistik dan religiusitas diretas dalam waktu yang begitu panjang, sudah saatnya kini kita kembali membumikan sastra sufistik. Apa yang dilakukan Afrizal Malna dengan menengok kembali ke kampung halaman dan bersentuhan langsung dengan problem-problem sosial masyarakat desa, saya kira, merupakan salah satu upaya untuk kembali ke Sumber. Yakni sebuah akar "kesejatian manusia".
Kesempurnaan manusia sejati adalah ketika dia mampu mengagregasikan kasih sayang, sikap rendah hati, kearifaan, kedermawanan ke dalam dirinya. Semua itu bisa dilakukan oleh sastrawan lantaran mereka memiliki kekuatan olah batin dan kemampuan menaklukkan bahasa Namun, upaya itu bukanlah masalah gampang. Sebab, banyak sastrawan muda yang kini tertular penyakit lama: sudah merasa besar dan tak perlu belajar lagi. Asal bersuara lantang dan bicara aneh maka "sastrawan besar" itu akan ditengok orang dan dicap sebagai pembaru estetika!
Penyair dan penikmat sastra

1 comment:

Air Setitik Community said...

Please visit us at http://airsetitik.tk or http://airsetitik.co.cc