Monday, 20 February 2017

D.Rifai Harahap Kembali ke Asal


Mihar Harahap

Puisi "Asal" ditulisnya, Juni 2009. Lalu, bersama puisi lain, dibukukan berjudul "Sila"(2014) kerjasama Omong-Omong Sastra Sumut dengan Laboratorium Sastra Medan. Puisinya:"Saat ini/kita bermain/di depan pintu/rumah kita sendiri"(bait 1). "Esok/kita tercampak/ke dalam lembah gelap/ sempit/dingin/tanpa matahari/tanpa hati/itulah tandanya/kita sendiri"(bait 2). "Di sana, di dalam gelap yang pekat/hanya ibadah yang diridhoi Allah/menerangi"(bait 3). Dia pernah berumah di Sei Kera Medan, terakhir di Luat Dendang Deliserdang. Rumah besar, dihuni keluarga, berpintu, berhalaman. Katanya: "Rumah kita sendiri"(bait 1). Tetapi, bukan rumah asal. Bayangkan, lembah, gelap pengap, sempit, dingin, tanpa matahari. Itulah rumah asal. Katanya:" Itu tandanya/kita sendiri"(bait 2). Namun rumah asal bisa terang, sejuk, nyaman, kalau ibadah ridhoi Allah. Katanya: "Hanya ibadah dunia yang diridhoi Allah/menerangi"(bait 3).

Rupanya, pada hari Selasa (29/11/2016) pukul 10.45.Wib dia meninggal dunia dalam usia 73 tahun. Di rumahnya,"rumah kita sendiri" (bait 1). Dan 5 jam kemudian, pada hari itu juga (setelah dia dikafani dan disholatkan) dia diantar ke pemakaman. "Itu tandanya/kita sendiri"(bait 2). Itulah rumah asal. Memang penyakit lama diderita hanya sebab. Ingin ke rumah sakit, tiba-tiba tak jadi. Jadinya, dia kembali ke rumah asal. Sesuai janji, takdir dan saatnya tidak berkurang sedetikpun.

"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi Allah. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaku, masuklah ke dalam syurgaku" (Al-Qur"an, surah Al-Fajr ayat 27-30). Kembali ke rumah asal, kubur, terlihat oleh mata, mungkin untuk diziarahi. Namun hakikatnya, jiwa yang tenang itu, kembali kepada Tuhannya. Berjamaahlah "jiwa yang tenang itu" untuk masuk ke dalam syurgaku, kata Allah Swt. Semoga demikianlah adanya.

Hanya kepada yang hidup (keluarga, saudara, tetangga, teman, seniman) mari memanjatkan doa."Ya, Rab, ampunilah segala dosa saudaraku ini.Terimalah semua amal ibadahnya, selaku seorang seniman, teaterawan, sastrawan. Tempatkanlah dia di dalam surga yang Kau janjikan". Khusus untuk keluarga, untuk anak, doakan terus-menerus sampai kapanpun. Kepada teman, seniman dan anak didikan, mari memaafkan atas segala kesalahannya. Semoga lapanglah kuburnya.

Kini, tinggal mengenang riwayat kreativitasnya. Namanya Darwis Rifai Harahap atau D.Rifai Harahap, terkadang bernama Berto Wafa atau Wisnu De Rifhara. Mulai berkesenian/berteater sejak SMP. Ketika itu, dia aktif di Sanggar Setanggi Timur pimpinan Admad Setia (Pak Badu, seorang polisi). Tahun 1963, bergabung dengan Bengkel Kerja Actor Studio pimpinan Arief Husin Siregar. Tahun 1964 masuk Teater Nasional. Tahun 1972, bersama Hartono dan Aleks mendirikan Teater Imago.

Tahun 1976, terbit "Tiga Kumpulan Sandiwara Anak". Menyusul cerita anak "Culik Brewok"," Sang Ayah","Pawang Seman","Rakit dan Mimpi" serta "Menentang Badai", semua terbitan Hasmar. Tahun 1978, "Oasa" memenangkan Lomba Naskah Drama Anak-Anak Departemen P dan K.Tahun itu juga, "Balada Marlina", memenangkan Lomba Penulisan Naskah Drama Taman Budaya Yogyakarta. Tahun 1982, memenangkan Lomba Penulisan Naskah Drama Departemen P dan K lagi.

Menulis naskah drama, dipentaskan dan disutradarai sendiri, misalnya "Raja Yang", "Raja-Raja","Raja Hong", "Mimpi", "Mimpi Alam Kinaot","Buih Putih Memburu Karang", "Sarung Ajaib". Pernah menyutradarai "Sepuluh Batang Bertindih" dalam Temu Teater Indonesia di Solo (1993). Dan pernah berkunjung ke luar negeri, antara lain ke Malaysia, Singapura, Bangkok, Amsterdam, Berlin, Paris, Bonn, Brussel, Munchen, Bochum, Denhaag serta kota-kota turis lainnya di dunia.

Pengamat kesenian mengaku bahwa Darwis Rifai Harahap memang rajin, setia dan piawai dalam dunia kesenian. Sebagai teaterawan, dia menulis naskah drama, sutradara, pemain dan esais. Namun harus diakui bahwa dia juga adalah sastrawan, sebab dia juga menulis puisi, cerpen, novel dan cerita anak. Bahkan pernah ikut menggarap film dan senitron. Dia juga aktif membidani teater, pengurus kesenian (DKSU, MKM) dan aktif Omong-Omong Sastra dari rumah ke rumah.

Karya sastranya, semisal cerpen "Mak", terdapat dalam buku "Tikar" (2014). Editor Mihar Harahap, Afrion dan M.Raudah Jambak. Sedangkan karya teater seperti drama "RajaYang" terdapat dalam buku "Raja Yang Trombol" (2013). Kata Pengantar ditulis Mihar Harahap. Naskah ini beberapa kali dipentaskan di Medan dan mendapat sambutan hangat penonton. Kedua karya ini merupakan kritiknya terhadap penguasa dan kebijakannya yang dianggap menyimpang dari tugas.

Cerpen "Mak" menceritakan Mak, orang miskin, tetapi tidak memeroleh Bantuan Langsung Tunai (BLT). Sementara Wak Kus, boleh dibilang bukan orang miskin (memiliki tanah, rumah, sepeda motor) justru memerolehnya. Ternyata, Kepala Lingkungan, pendistribusi BTL itu adalah menantu Wak Kus. Sedangkan Mak, tidak memiliki siapa-siapa, keculai kesabaran. Hal ini disorot pengarang, terjadi kolusi dan nipotisme. Selain melanggar hukum, juga pendistribusian tidak tepat.

Tak sampai di situ, pengarang sendiri menghukum Wak Kus. Uang BTL yang diperlihatkannya kepada Mak, disambar perampok. Ingin mengejar perampok, tak berdaya. Dimintanya anak muda, tak seorang pun yang sudi menolongnya. Wak Kus, selain orangnya angkuh karena menantu Kepala Lingkungan, anaknya ditandai masyarakat di desa itu, juga adalah perampok. Cerpen ini melukiskan bahwa kolusi, nipotisme dan kejahatan, juga terjadi di tengah-tengah masyarakat desa.

Drama "Raya Yang" menceritakan raja yang bagaimana dalam memimpin rakyatnya. Apakah raja yang lalim berindak zalim? Atau raja yang pandir berlaku kikir? Ataupun raja apa yang berlagak bagaimana? Jawabannya, akan terasa kalau naskah drama ini dipentaskan. Penonton bukan melihat bagaimana memerintahnya, melainkan tipe sosok raja yang bagaimana. Sebab, penulis mengobrak-abrik raja secara jenaka, ambigu, satire dan kontroversi di tengah-tengah rakyatnya.

Sebenarnya Raja Yang adalah raja pengganti yang telah wafat sebelumnya. Menariknya, usai terpilih, cerita pun selesai. Namun, Raja Yang dilukiskan, suka makan haram, main perempuan, main main telunjuk, berjudi, main api, main bunga dan main pundi-pundi. Akibatnya, rakyat bersikap "raja alim raja disembah (tetapi kalau) raja zalim raja disanggah", meski mungkin saja ada orang yang suka demi kepentingannya. Namun inilah kritik pengarang terhadap sosok para penguasa.

Dihari berduka, Damiri Mahmud meng-sms."Aku senang kita jumpa walau sekilas di tengah duka kehilangan sahabat.Trio teman sekolah ( A.Rahim Qahhar-Darwis Rifai Harahap-Damiri Mahmu Mahmud), tinggal aku. Demikianlah suka-duka kubawa ke pedalaman Hamparan Perak hingga senja meredup. Aku terpana membaca sms ini. Damiri bukan saja tinggal sendiri karena kehilangan teman, tetapi juga sendiri karena tinggal di Hamparan Perak sana. Begitulah hidup berkawan.

(Penulis adalah kritikus sastra, budaya, mpr-oos, ketua fosad, apwas, pengawas dan dosen UISU)

PARA PENYAIR BUKU KUMPULAN PUISI (ANTOLOGI) MEMO UNTUK PRESIDEN. 1 NOvEMBER 2014



Sebuah tonggak kesusastraan Indonesia Terkini yang patut dibaca oleh seluruh masyarakat . Sajian syair bagi negeri yang penuh dinamika perjalanan.
Penyair hanya menunjukan jalan 'lurus agar tak tersesat
Penyair hanya memberi sedekah buah pena tanpa meminta sedekah materi apa pun.
Penyair hanya berkiprah pada jalurnya tanpa meminta imbalan
Adalah kewajiban para penyair untuk mengisi Indonesia
Sebagaimana cita-cita pendahulu kita.
Dan wajar bila bila penyair berkata dalam : MEMO UNTUK PRESIDEN.
SELAMAT DAN SUKSES SLALU PENYAIR INDONESIA
(fotho Saat Penyair Nyekar di Makam Bung Karno oleh sastra Riau)
Rg Bagus Warsono (Indramayu)

 Daftar penyair Antologi Memo untuk Presiden
1. A. Slamet Widodo (Jakarta)
2. Aang Ayatullah K. @Aazatara (Jakarta
3. Abah Yoyok (Tangerang)
4. Abdurrahman El Husaini (Martapura)
5. Abidin Hanif (Lahat)
6. Acep Syahrir (Indramayu)
7. Ade Riyan Purnama (Jakarta)
8. Agam Jaya Syam (Wellington)
9. Agus Kusnandi Suling (Tegal)
10. Agus R. Subagyo (Nganjuk)
11. Agus Sighro Budiono (Bojonegoro)
12. Agus Triwibowo @Agus Subakir (Wonogiri)
13. Agustav Triono (Banyumas)
14. Ahmad Ardian (Pangkep)
15. Ahmad Samuel Jogawi (Pekalongan)
16. Ahmad Solihin @Rangdag Dawala (Tangerang)
17. Akhmad Sekhu (Jakarta)
18. Ali Syamsudin Arsy (Banjarbaru)
19. Aloeth Pathi (Pati)
20. Amar Ar-Risalah (Depok)
21. Anang Famuji (Purwokerto)
22. Andi Jamaluddin AR.AK (Tanah Bumbu)
23. Andreas Kristoko (Yogyakarta)
24. Andrian Eka Saputra (Boyolali)
25. Andrias Edison (Blitar)
26. Anjar Bayu Saputra (Yogjakarta)
27. Anna Mariyana (Banjarmasin)
28. Anung Ageng Prihantoko (Cilacap)
29. Arafat Ahc (Demak)
30. Arba Karomaini @Sugih Mblegedhu (Brebes)
31. Ardi Susanti (Tulungagung)
32. Arind Reza (Purworejo)
33. Aris Rahman Yusuf (Mojokerto)
34. Arsyad Indradi (Banjarbaru)
35. Asmoro El Fahrabi (Pasuruan)
36. Asril Koto (Padang)
37. Asro Al Murthawy Pamenang (Jambi)
38. Autar Abdillah (Surabaya)
39. Awan Hadi Wismoko (Banjarbaru)
40. Ayid Suyitno PS (Jakarta)
41. Ayu Cipta (Tangerang)
42. Bagus Putu Parto (Blitar)
43. Baharuddin Iskandar (Pinrang)
44. Bambang Eka Prasetya (Magelang)
45. Bambang Hirawan @ Buana K. S. (Muara Bungo)
46. BambangWidiatmoko (Jakarta)
47. Barlean Bagus S. A. (Jember)
48. D. S. Dhani (Schwerin)
49. D. Z. Sandyarto (Malang)
50. Daladi Ahmad (Magelang)
51. Darman D. Hoeri (Malang)
52. Daryat Arya @Arya Sutha (Semarang)
53. De Sucitra (Banten)
54. Deni Puja Pranata (Sumenep)
55. Denny Mizhar (Malang)
56. Dharmadi (Jakarta)
57. Diah Rofika (Berlin)
58. Diana Roosetindaro (Solo)
59. Didid Endro S (Jepara)
60. Dimas Arika Mihardja (Jambi)
61. Dimaz IndiaNa SEnja (Brebes)
62. Dody Yan Masfa @Teater Tobong (Surabaya)
63. Dulrokhim (Purworejo)
64. Dwi Ery Santoso (Tegal)
65. Dyah Kencono Puspito Dewi (Bekasi)
66. Eddie M. N. S Soemanto (Padang)
67. Eddy Pramduane (Depok)
68. Eddy Pranata PNP (Purwokerto)
69. Effendi Saleh (Blitar)
70. Eka Pradhaning (Magelang)
71. Eko Widianto (Jepara)
72. Endang Wahyuni Ramli (Surabaya)
73. Endang Setiyaningsih (Bogor)
74. Endang Supriyadi (Depok)
75. Esti Ismawati (Klaten)
76. Euis Herni Ismail (Subang)
77. Eva Nur Aprillail (Jakarta)
78. Fahrurraji Asmuni (Amuntai)
79. Fariz Ihsan Putra (Riau)
80. Fendi Kachonk (Sumenep)
81. Fikar W. Eda (Jakarta)
82. Fransiska Ambar Kristyani (Semarang)
83. GusHar Wegig Pramudito/ Agus Suharsono (Jakarta)
84. @H. A. Nurhadi Moekri/ Akhmad Nurhadi Moekri (Sumenep)
85. Hardho Sayoko SPB (Ngawi)
86. Hasan B Saidi (Batam)
87. Hasan Bisri Bfc (Bogor)
88. Helwatin Najwa (Banjarbaru)
89. Helyn Avinanto @ Helin Supentoel (Ngawi)
90. Hendra Royadi / Hendra Satiawan (Amuntai)
91. Herman Syahara (Jakarta)
92. Heru Mugiarso (Semarang)
93. Hidayat Raharja (Sumenep)
94. Husnu Abadi (Riau)
95. I Putu Supartika (Buleleng)
96. Iberahim (Barabai)
97. Ibnu Hajar (Sumenep)
98. Imam Ekapuji Al-ghazali @Ki Tapa Wengi (Sumenep)
99. Irna Novia Damayanti (Purbalingga)
100. Iwan Kusuma Ngo Cak (Jember)
101. Jhon F. Pane (Kotabaru)
102. Joshua Igho (Tegal)
103. Jumari HS (Kudus)
104. K. Pudji Peristiwati @Dewi Nurhalizah (Malang)
105. Kidung Purnama (Ciamis)
106. Kunthit Widodo (Kudus)
107. Kurnia Fajar (Wonogiri)
108. Langtijiwa Andra (Surabaya)
109. Lukni Maulana (Semarang)
110. M. Amin Mustika Muda (Marabahan)
111. M. Raudah Jambak (Medan)
112. Mameth Suwargo (Tegal)
113. Maria Roeslie (Banjarmasin)
114. Marlin Dinamikanto (Jakarta)
115. Melur Seruni (Magelang)
116. Mochammad Asrori (Mojokerto)
117. Moh Fauzi (Sumenep)
118. Mohamad Fauzi (Pemalang)
119. Much Khoiri (Surabaya)
120. Muhammad Hafeedz Amar Riskha (Indramayu)
121. Muhammad Lefand (Jember)
122. Muhammad Rois Rinaldi (Cilegon)
123. Muhtar S. Hidayat (Ngawi)
124. Muttafaqur Rohmah (Banyuwangi)
125. Najibul Mahbub (Pekalongan)
126. Nanang Anna Noor (Banyumas)
127. Nanang Farid Syam (Depok)
128. Nugraha A. T. @Andhyka Nugraha (Palembang)
129. Nur Auda Maulidia @Aida Raja (Sumenep)
130. Nur Widowati (Cirebon)
131. Nurani Soyomukti (Trenggalek)
132. Nurochman Sudibyo Y. S. (Indramayu)
133. Oscar Amran (Bogor)
134. Pekik Sasinilo (Kebumen)
135. Puput Amiranti (Blitar)
136. Puspita Ann (Solo)
137. Raedu Badrus Shaleh (Sumenep)
138. Rahman Sudrajat @Sejatineurip Drajat (Purworejo)
139. Rahmat Agung (Pasuruan)
140. Rahmi Airin @Amoy AiRior (Jakarta)
141. Rakhmat Giryadi (Sidoarjo)
142. RD Kedum (Lubuklinggau)
143. Restuti Saragih (Medan)
144. Rg Bagus Warsono (Indramayu)
145. Ria Oktavia Indrawati (Depok)
146. Ribut Achwandi (Pekalongan)
147. Rini Ganefa (Semarang)
148. Riswo Mulyadi (Banyumas)
149. Riyanto (Purwokerto)
150. Rusdiansyah (Bontang)
151. Rusliadi Darwis (Makassar)
152. Saiful Bahri (Aceh)
153. Saiful Hadjar (Surabaya)
154. Salman Yoga S. (Takengon)
155. Sanusi Pane (Jambi)
156. Sari Nurfatwa Hakim (Ciamis)
157. Sarwendah Rahman (Malang)
158. Shantined (Bontang)
159. Shella (Jepara)
160. Shonhaji Muhammad Al-Gowzhyne (Sidoarjo)
161. Sonny H. Sayangbati (Jakarta)
162. Sudarmono (Bekasi)
163. Sujudi Akbar Pamungkas (Kotawaringin Timur)
164. Sukur Budiharjo (Bogor)
165. Sulaiman Juned (Aceh)
166. Sulis Bambang (Semarang)
167. Sumanang Tirtasujana (Purworejo)
168. Sumasno Hadi (Banjarmasin)
169. Sunaryo Broto (Bontang)
170. Surya Hardi (Riau)
171. Sus S. Hardjono (Sragen)
172. Susmi Hartini (Purwokerto)
173. Sutejo Ssc (Malang)
174. Suyitno Ethex (Mojokerto)
175. Syarif Hidayatullah (Banjarmasin)
176. Syarifuddin Arifin (Padang)
177. Syarifuddin HH @Arif Al FanZa (Jember)
178. Syibram Mulsi (Barabai)
179. Tarmizi (Batam)
180. Taufik Ikram Jamil (Pekanbaru)
181. Tengsoe Tjahjono (Surabaya)
182. Thomas Budi Santoso (Kudus)
183. Thomas Haryanto Soekiran (Purworejo)
184. Tri Tedi Maedison (Padang)
185. Trisnatunabuyafi Ranaatmaja (Banyumas)
186. Udo Z. Karzi (Lampung)
187. W. Haryanto (Blitar)
188. Wage Tegoeh Wijono (Purwokerto)
189. Wahyu Prihantoro (Ngawi)
190. Wanto Tirta (Banyumas)
191. Wardjito Soeharso (Semarang)
192. Wawan Kurn (Makassar)
193. Yogira Yogaswara (Bandung)
194. Yusti Aprilina (Bengkulu)
195. Zulfa Fahmy (Kendal)
196. Zulkarnain Siregar @Lela Jingga (Medan)

250 Penyair Lolos Seleksi Antologi Puisi Kopi “1550 MDPL”



Setelah melalui seleksi secara ketat oleh tim kurator sejak tanggal 24 Oktober 2016, akhirnya pihak penyelenggara event antologi puisi penyair dunia mengumumkan nama-nama penyair yang lolos seleksi, Kamis 17/11/2016. Dari 1.526 naskah puisi (572 penyair) yang diterima oleh panitia, kemudian berdasarkan hasil kurasi dinyatakan lolos dalam event ini 250 Penyair.
Berdasarkan informasi yang diproleh dari salah satu tim kurasi Salman Yoga S menyebutkan, penyeleksian naskah puisi ini sangat ketat dilakukan oleh tiga orang kurator, diantaranya Fikar W Eda (Aceh Culture), Mustafa Ismail (Ruang Sastra) dan Salman Yoga S (The Gayo Institute). Sehingga membutuhkan waktu kurang lebih setengah bulan dalam proses kurasi. Penyair yang dinyatakan lolos berasal dari berbagai daerah di Indonesia juga luar negeri.
“Buku ini diberi Judul Kumpulan Puisi Kopi 1550 MDPL, setelah dikurasi dan ditetapkan nama-nama penyair yang dinayatakan lolos. Selanjutnya buku ini akan naik cetak dan akan diluncurkan dalam acara Pesta Puisi Kopi Dunia di Takengon, 25-27 November 2016. Bagi penyair yang membutuhkan undangan untuk mengahdiri acara tersebut harap menghubungi panitia,” ungkap Salman.
(WinAnsar)
Berikut nama-nama penyair yang dinyatakan lolos dalam Puisi Kopi 1550 MDPL:
1. Abu Ma’mur MF
2. Abd Rasyid (Kopi Penyair)
3. Abd.Sofi
4. Abu Rahmad
5. Ace Sumanta
6. Agustina Thamrin
7. Achmad Fathoni
8. Achmad Hidayat Alsair
9. AD. Rusmianto
10. Ahmad Fahmi
11. Ahmadun Yosi Herfanda
12. Ahmad Zaini
13. Alam Terkembang
14. Alveng Subrata
15. A. Musabbih
16. Amelia Hashim / Malaysia
17. Amrin Moha
18. Amrin Tambuse
19. Andi Jamaluddin, AR.AK (Kopi Pahit Dalam Pahit Kopi)
20. Anisa (Dalam Secangkir Ingatan)
21. Anil Hukma
22. Anisa Afzal
23. Anisa Isti
24. Ansar Salihin (Aceh)
25. Anwar Putra Bayu
26. Anwar Sadat
27. Arafat Nur:
28. Ardi Susanti
29. Arif HD Borobudur (Atas Nama Kopi)
30. Arif Hidayat
31. Arya Helmi (Rokok Kopi Dan Wajah Kekasih)
32. Asa Jatmiko
33. Astrajingga Asmasubrata
34. Asril Koto (Puisinya belum ada judul)
35. Asrina Novianti
36. Apep Wahyudin
37. Awaluddin Ishak
38. Ayoung Faridah Athar (Kopi Politik)
39. Ayu Cipta (Reportase Kopi)
40. Ayu Harahap
41. Alexander Robert Nainggolan
42. Aqilah QC
43. Aqin Jejen
44. Arya Helmi
45. Bambang Widiatmoko
46. Bangkit Prayogo (Antonim Kopi Ibu Dan Kopi Kafe)
47. Bataona Noce
48. Bimo Prasetyo
49. Bonari Nabonenar (Secangkir Kopi dan Kelahiran Puisi)
50. Budi Maryono
51. Budhi Setyawan
52. Budi Wiryawan (Kopi dan WA)
53. BS.Icen Jumpa (Kopimu Kotaku)
54. Barlean Bagus Satrio Aji
55. Beni Setia
56. Catur Hari Mukti
57. Chalvin Papilaya
58. Damiri Mahmud
59. Dari Fuadi
60. Dedy Tri Riyadi
61. Denni Meilizon (Kopi Pasaman di Amsterdam)
62. Dewi Salistiawati
63. DG Kumarsana
64. Dian Rennuati
65. Dian Rusdiana (Secangkir Kopi Kenangan)
66. Dianovka (Ayat-Ayat Kopi)
67. Dimas Arika Mihardja
68. Djazlam Zainal
79. D Kemalawati
70. Eddy Pranata PNP
71. Edy Samudra Kertagama
72. Edrida Pulungan
73. Emi Suy Hariyanto (Ayat-Ayat Kopi)
74. Endang Supriadi
75. Endut Ahadiat
76. Er El Em
77. Eri Syofratmin
78. Ersa Sasmita
79. Erye Rao
80. Ervira Maresha
81. Ewith Bahar
82. Ezra Tuname
83. Chairul Anam (ambil dua puisi saja)
84. Fuadi
85. Fitria Panjang (Bukan Gula yang Larut dalam Kopiku)
86. Freeman Rudolfo Rumbiak (Kopi Salam)
87. Fakhrunnas MA Jabbar
88. Fahmi Wahid (Perempuan Di Aroma Kopi)
89. Faidi Rizal Alief
90. Faruk Abdurrahman
91. Fatin Hamama
92. Fauraria Valentine
93. Fauzi Rohmah
94. Fendi Kachonk
95. Fikar W Eda
96. Fitrah Anugerah
97. Fransisikus Emilius D. Kadju
98. Frid Dacosta
99. Gita Fetty Utami
100.Gunta Wirawan (Kopi pada Senja yang Penghabisan)
101.Gust Kn
102.Hadi Sastra
103.Habib Safillah Akbariski (Aceh Dalam Segelas Kopi)
104.Hafney Maulana
105.Hamdani
106.Handry Tm
107.Harko Transept
108.Hasta Indriyana
109.Hasan Bisri BFC
110.Hasti Nahdiana (Menangis)
111.Heni Hendrayani
112.Heri Maja Kelana
113.Herman RN
114.Heru Tock
115.Hidayatullah Habibi
116.Hery Mulyadi (Dzikir Kopi)
117.Hoiri Asfa
118.Humam S. Chudori (Kopi Nusantara)
119.Husnu Abadi
120.H. Shobir Poer (Secangkir Kopi Cinta)
121.Ida Fitri
122.Idhey Detti
123.Ihsan Subhan
124.Ika Y. Suryadi
125.I Made Suantha
126.Iman Sembada (Sepasang Kopi)
127.Inaliyatul ‘Umama
128.Irawan Sandhya Wiraatmaja
129.Irvan Mulyadie
130.Isbedy Stiawan ZS
131.Itov Sakha
132.Iva Fauziah
133.Iyut Fitra
134.Jasman Bandul
135.Jen Kelana
136.Jhojhox (Kopi Tua)
137.Jhon FS. Pane (Perjamuan Kopi)
138.Julaiha S.
139.Julia Hartini
140.Jumari HS
141.Khaidir Syahrian
142.Khairul Umam Al-faqih
143.Khusniwati Md Mohani (Sepahit Kopi Hitam…)
144.Kidung Purnama (Hujan Belum Reda)
145.Kim Al Ghozali AM
146.Kocha Bani
147.Kunni Masrohanti
148.Kurnia Effendi
149.Kurnia Hidayati
150.Kris da Somerpes
151.Kristopel Bili
152.L Surajiya
153.Lailatul kiptiyah
154.Lailatur Raziqah
155.LK Ara
156.Larasati Sahara
157.Lathifah Inten Mahardika (Pemujaan Kopi)
158.Liska Rahayu
159.Mahdi Idris
160.Mahan Jamil Hudani
161.Mahroso Doloh
162.Matdon (Kopi Malabar)
163.Matroni Musèrang
164.Meifrizal (Sejauh Mocha Sejauh Kenangan)
165.Melur Seruni Astuti (Cerita Dari Meja 23)
166.Mezra E. Pellondou (Sepasang Mata Kopi)
167.Mohammad Arfani
168.Mohd Adid Ab Rahman
169.Muhammad Daffa
170.Muhammad de Putra
171.Muhammad Husein Heikal
172.Muhammad Sarjuli
173.Muhammad Subhan
174.Mukti Sutarman Espe
175.Muslih Marju
176.Musmarwan Abdullah
177.Mustafa Ismail
178.M Rain (Sehabis Kopi Gayo)
179.Rmn. Kindy
180.Nasir Ali
181.Niken Kinanti
182.Noor El Niel
183.Noer Listanto Alfarizi
184.Novy Noorhayati Syahfida
185.Pierra Imo
186.Pilo Poly
187.Polanco S. Achri
188.Purnama K Ruslan
189.Rahmad Sanjaya (Beranda Satu Meja)
190.Rahmat Hidayat (Tak Ada Desau)
191.Raudah Jambak
192.Ramon Damora
193.Renda Setyadiharja
194.Rida K. Liamsi
195.Rida Nurdiani
196.Ridhafi Ashah Atalka (Kwatrin Tentang Kopi)
197.Rie Kusuma
198.Rini Intama
199.Robi Akbar
200.Rohani BTE Din
201.Rudy Ramdani Aliruda (Kahwa, Perempuan…)
202.Rusdi El Umar
203.Ryan Rachman
204.Saiful Bahri
205.Salimi Ahmad
206.Salman Yoga S
207.Sastri Bakry (Sang Pelukis)
208.Sengat Ibrahim
209.Seruni Unie
210.Siwi Widjayanti
211.Soeryadarma Isman
212.Soe Marda Paranggana (Kopi Marathon)
213.Soni Farid Maulana
214.Sri Wintala Achmad
215.Sugik Muhammad Sahar
216.Sulaiman Djaya (Jazz & Kopi)
217.Sulaiman Juned (Menabung Cinta.. & Hikayat..)
218.Sihar Ramses Simatupang
219.Sulaiman Tripa
220.Sus S. Hardjono
221.Suyadi San
222.Syarifuddin Aliza (Sajak Sepi Secanngkir Kopi)
223.Syarifuddin Arifin
224.Teja Alhabd (Bercangkir Kopi Sekanak)
225.Teuku Dadek
226.Thoni Mukarrom I.A. (Kopi Bapak)
227.Titis Hening (Suatu Waktu)
228.Tiara Sari
229.Tora Kundera
230.Ummi Rissa
231.Vera Hastuti (Kotamu)
232.Viddy Ad Daery
233.W Haryanto
234.Wiekerna Malibra (Kawan Kopi 3)
235.Willy Ana
236.Wilfridus Setu Embu
236.Win Gemade
237.Winar Ramelan
238.WirjaTaufan (Secangkir Kopi Mengenang Toet 2)
239.Yahya Andi Saputra
240.Yudhie Yarcho
241.Yohan Lejap
242.Zabidi Zay Lawanglangit
245.Zainab Al Kautsar (Sebab)
246.Zaki Ef (Kosakopi)
247.Zakir (Rindu Kental…)
248.Zulfaisal Putera
249.Zuliana Ibrahim (Lepat dan Sisa Kopi…)
250.RAMAI & DUA CANGKIR KOPI (PENULIS ???)

Thursday, 25 August 2016

KONSEP DASAR TENTANG DRAMA



KONSEP DASAR TENTANG DRAMA

Berbicara masalah drama, kita akan dihadapkan kepada dua pemikiran. Pada satu segi kita teringat kepada jenis pertunjukan yang mengasyikkan atau menjemukan. Pada segi lain kita berpikir tentang sebuah naskah yang dikarang atau ditulis dalam bentuk dialog-dialog (merupakan karya sastra).

Kerangka pemikiran kita yang seperti ini dapat dijelaskan dalam suatu konsep pikiran yang jelas dan utuh sehingga kita dapat memahami mana yang dikatakan drama sebagai pemikiran yang pertama dan mana yang pemikiran kedua. Maksudnya di sini adalah, kita sanggup membedakan antara kedua pemikiran di atas dan dapat melihat hubungan antara keduanya.

Menurut Tarigan (1984:73), ada dua pengertian drama, yaitu: (1) drama sebagai text play atau reportair, dan (2) drama sebagai theatre atau performance. Hubungan keduanya sangat erat. Dengan kata lain: setiap lakon atau pertunjukan harus mempunyai naskah yang akan dipentaskan. Sebaliknya tidaklah otomatis setiap naskah merupakan teater, sebab ada saja kemungkinan naskah yang seperti itu hanyalah berfungsi sebagai bahan bacaan saja, bukan untuk pertunjukan. Jadi, ada naskah yang dapat dipentaskan dan ada yang tidak, misalnya drama "Awal dan Mira" karya Utuy Tatang Sontani. Drama ini sulit untuk dipentaskan tetapi enak untuk dibaca (lihat Rosidi, 1982:114).

Memahami penjelasan diatas, dapat diambil suatu perbedaan nyata dari keduanya. Perbedaan itu adalah:

1. Drama sebagai text-play atau naskah adalah hasil sastra 'milik pribadi', yaitu milik penulis drama tersebut, sedangkan drama sebagai teater adalah seni kolektif.
2. Text-play masih memerlukan pembaca soliter (pembaca yang mempunyai perasaan bersatu), sedangkan teater memerlukan penonton kolektif dan penonton ini sangat penting.
3. Text-play masih memerlukan penggarapan yang baik dan teliti baru dapat dipanggungkan sebagai teater dan ia menjadi seni kolektif.
4. Text-play adalah bacaan, sedangkan teater adalah pertunjukan atau tontonan.

Berdasarkan hal di atas, antara keduanya harus dibedakan secara tegas, walaupun pada umumnya penulisan naskah drama itu bertujuan untuk dipentaskan atau dilakonkan. Teori-teori dari beberapa orang ahlipun memperlihatkan bahwa pembahasan aspek-aspek drama dalam dua pengertian drama di atas berbeda.

Aspek yang dibahas atau materi utama pada text-play adalah: a) premis (tema), b) watak, dan c) plot, sedangkan pada pementasan adalah: a) naskah, b) pelaku, c) pentas, d) perlengkapan pentas, e) tata busana (pakaian), f) tata rias, g) cahaya, h) dekorasi, dan i) musik (bandingkan dengan Syam, 1984:17).

Rumusan tentang perbedaan kedua pemikiran di atas dapat juga dibandingkan dengan pendapat Martoko (1984:158) yaitu dalam pembatasannya tentang pengertian pementasan. Ia menyatakan "pementasan itu merupakan sebuah sintesa dan mengimbau pada beberapa indera sekaligus".

Mengapresiasi Drama sebagai Karya Sastra

Seperti halnya puisi dan prosa, drama sebagai karya sastra perlu diapresiasikan lewat pembacaan terhadap naskahnya. Pengertian apresiasi dalam drama sama dengan apresiasi sastra lainnya, yaitu merupakan penaksiran kualitas karya sastra serta pemberian nilai yang wajar kepadanya berdasarkan pengamatan dan pengalaman yang jelas, sadar, serta kritis.

Kalau demikian halnya, layaklah drama sebagai karya sastra merupakan hal yang utama untuk didekati, dipahami, ditelaah, dan diapresiasi. Dari pengapresiasian naskah yang dilakukan akan diperoleh pengalaman. Pengalaman inilah yang akhirnya kita hubungkan dengan keadaan sebenarnya di luar drama. Akhirnya ditemukanlah suatu perubahan nilai-nilai dalam diri. Pementasan tidak lagi diterima sebagai penentu nilai sebuah drama. Yang menentukan adalah proses apresiasi sendiri sebagai pembaca. Dalam hal ini menurut Damono (1983:150) adalah:

Kita bisa saja mendapatkan pengalaman dengan hanya membaca drama; ... Dan kita juga berhak berbicara tentang drama sebagai karya sastra. Itulah alasan mengapa drama diedarkan dalam bentuk buku, mengapa Martin Esslin menulis tentang drama absurd, Francis Fergusson menulis "The Human Image in Dramatic Literature." Helen Cardner membicarakan "Murder in the Cathederal." T.S. Elliot dalam "The Art of T.S. Elliot," dan seterusnya.

Sampainya seseorang dalam mengapresiasikan naskah drama memerlukan suatu proses. Proses ini membutuhkan seperangkat perlengkapan. Ini dibutuhkan bukan saja untuk memahami maksud dan pesan pengarang, tetapi juga untuk memahami bagaimana pengarang secara estetik menyampaikan maksud dan pesannya itu.

Berbagai teori digunakan untuk mengapresiasikan karya sastra drama itu. Kita kenal struktur dramatik Aristoteles. Titik pangkalnya adalah rumusan tentang karya sastra drama yang baik biasanya memiliki alur cerita yang berbentuk piramida, diawali dengan unsur eksposisi, dilanjutkan dengan komplikasi, memuncak pada klimaks, menurut kembali pada resolusi, dan berakhir pada konklusi.

Teori lain adalah yang bertitik-tolak dari tokoh utama cerita atau ada juga yang menggunakan teori strukturalistik yang dikembangkan oleh Etienne Sourlau. Teori ini mendekati karya sastra drama dari sisi fungsi-fungsi yang terdapat di dalamnya. Namun demikian, karena drama adalah bagian dari seni sastra dan seni peran maka proses apresiasinya bertolak dari intuitif. Dalam hal ini Saini K.M. (1965:55) berpendapat:

Pada dasarnya semua karya seni adalah pengetahuan intuitif. Makna karya seni hanya dapat dipahami melalui pikiran, perasaan, dan khayalan sekaligus, dengan kata lain, dengan intuisi. Namun di dalam upaya memahami makna karya seni, kegiatan pikiran (intelek, rasio), perasaan (emosi), daya khayal (imajinasi) tidak senantiasa seimbang. Kadang-kadang pikiran menonjol perannya, kadang-kadang perasaan, kadang-kadang khayal. Di dalam menghadapi karya sastra drama dari gaya realisme, misalnya, intelek kita lebih banyak bekerja dibanding dengan khayal; di dalam jenis melodrama, perasaan cenderung lebih dipancing untuk giat oleh sastrawannya.

Menyikapi pendapat di atas, sebagai seni peran atau teater, sastra drama telah melalui proses intuitif dari sutradara. Sastra drama itu telah diolah dalam bentuk penafsiran, pemotongan cerita yang kurang menunjang, atau penambahan dialog yang mungkin relevan dan tidak menyimpang dari ide cerita. Hal inilah yang membedakannya dengan apresiasi sastra drama sebagai bentuk tersendiri yang bukan untuk tujuan pementasan atau teater. Sebagai karya sastra drama betul-betul dihadapi dalam keutuhan dan keseluruhan simbol-simbol bahasa yang ada dalam naskah. Ia tidak bisa dihilangkan atau ditambah.

Pendekatan dalam Mengapresiasi Sastra Drama

Berdasarkan teori-teori yang dijelaskan sebelumnya untuk mengapresiasi sastra drama, ada beberapa pendapat yang dapat dilakukan untuk mengapresiasi sastra drama. Menurut Hamidy (1984:15) pendekatan tersebut dapat dilakukan dalam segi:

1. Pendekatan dari segi fungsi. Hal ini biasanya dihubungkan dengan peranan yang dapat dimainkan oleh drama dalam masyarakat.
2. Pendekatan derajat peristiwa. Pembahasan ini berhubungan dengan alur, yaitu dalam bentuk bagaimana derajat peristiwa seperti eksposisi, komplikasi, krisis, sampai kepada penyelesaian.
3. Pendekatan terhadap tema. Dalam hal ini kita dihadapkan kepada perbandingan tiap-tiap kesatuan peristiwa sehingga sampai kepada suatu logika (kesimpulan) bagaimana citra atau ide yang hendak disampaikan.
4. Pendekatan terhadap drama yang berkaitan dengan segi aliran karya sastra, misalnya realisme, naturalisme, dan ekspresionisme.
5. Pendekatan dari sudut gaya. Pembahasan ini menyangkut bagaimana perkembangan sistematika bangun drama itu dengan kaitannya terhadap pantulan gaya yang hendak diperlihatkan kepada pembaca.

Lima pendekatan di atas sebenarnya merupakan satu alternatif saja dari cara lain atau pendekatan lain yang mungkin dapat dilakukan dalam mengapresiasi sastra drama. Persoalan penting yang seharusnya dipahami adalah bagaimana agar kedudukan drama sebagai apresiasi sastra seimbang dengan pembicaraan atau apresiasi sastra lainnya. Harapan ini muncul agar drama sebagai karya sastra tidak terlepas dari bahasa sastra Indonesia.

Tingkat-tingkat Apresiasi Sastra Drama

Tingkat apresiasi dalam pengertian ini dilihat dari daya tanggap, pemahaman, pengkhayalan, dan ketrampilan. Dengan demikian menyangkut pula pengertian tingkat kesiapan dalam menanggapi, memahami, menghayati, dan keterampilan dalam tingkat apresiasi sastra. Menurut Mio (1991:19) tingkat-tingkat apresiasi sastra drama, khususnya pembacaan drama dan prosa dapat dibagi atas empat, yaitu:

1. Pembaca yang telah dapat merasakan karya sastra itu sesuatu yang hidup, dengan pelaku-pelakunya yang mengagumkan. Mereka telah dapat terbawa dalam cerita atau drama yang sedang dibacanya, yang sering diiringi oleh ketawa, menangis, membenci seorang pelaku, dan sebagainya.
2. Pembaca yang telah dapat melihat dalamnya perasaan atau jika mereka telah dapat mengungkapkan rahasia kepribadian para pelaku satu drama berarti selangkah lebih maju dari pembaca di atas, Pada tingkat ini pembaca drama tidak saja menikmati kejadian-kejadian dalam drama secara badaniah, tetapi lebih banyak pada apa yang terjadi dalam pikiran pelaku.
3. Pembaca drama yang telah dapat membandingkan satu drama dengan yang lain dan dapat memberikan pendapatnya mengenai satu karya, juga telah dapat membaca karya yang lebih sukar dengan kenikmatan.
4. Pembaca yang telah dapat melihat keindahan susunan dialog, setting simbolis, pemakaian kata-kata yang berirana yang disajikan oleh sastrawan, telah mampu memberi respons pada daya sastra yang merangsang mereka berpikir dan memberi respons pada seni yang disajikan sastrawan.

Penutup

Kegiatan menggauli cipta sastra seperti yang dikenal dalam apresiasi sastra adalah kegiatan yang membutuhkan pelibatan hati secara serius terhadap objek yang dinikmati, yakni dalam bentuk bahasa tulis. Seorang penikmat sastra haruslah betul-betul dapat menghadirkan pikirannya ke dalam cipta sastra yang sedang diapresiasinya. Pekerjaan apresiasi ini bukanlah pekerjaan main-main.

Usaha untuk menumbuhkan keseriusan dan pemahaman dalam mengapresiasi sebuah karya sastra adalah dengan jalan menikmati, memberikan sikap positif, dan menganggapnya sebagai suatu kerja yang menyenangkan. Paling kurang ada rasa ingin mengetahui terhadap apa yang terselubung di dalam keunikan karya sastra itu.

Setelah sikap dan keinginan itu dipupuk terus, lahirlah semacam penilaian buruk atau baik dan akhirnya dapat diterima sebagai suatu yang punya arti atau tidak terhadap perkembangan jiwa kita sebagai pembaca. Usaha untuk memberikan penilaian buruk atau baik inilah yang merupakan usaha dalam suatu proses apresiasi sastra.

Drama sebagai salah satu jenis dari sastra yang patut atau wajar diapresiasikan dan dikembangkan. Dikatakan demikian sesuai dengan kedudukan drama itu dalam karya kepribadian seseorang. Melalui drama yang dibaca, selain orang itu dapat mempelajari dan menikmati isinya, ia juga dapat memahami masalah apa yang disampaikan dalam cerita. Dari proses ini mereka atau pembaca akan diantarkan kepada pertimbangan dan pemikiran terhadap kebenaran dan kemungkinan hal yang terjadi dalam cerita dengan kenyataan yang ada di luar cerita. Apabila telah sampai ke tingkat ini akhirnya dapat memcapai tingkat apresiasi yang baik.

Individu yang terlibat dalam kerja apresiasi sastra drama itu merupakan manusia yang berbeda-beda tingkat inteligensi, minat, bakat, dan sikapnya dalam menanggapi sesuatu hal. Untuk itu, mereka juga mempunyai perbedaan dalam kegiatan mengapresiasi sastra drama. Dalam hal ini ada dua penyebabnya, yaitu faktor dari dalam diri dan luar diri. Faktor dari dalam diri, contoh: minat, bakat, dan sikap, sedangkan faktor dari luar diri di antaranya adalah faktor sosial.

Jelas kiranya bahwa mengapresiasi drama dapat dilakukan dalam dua cara. Pertama, dari sisi drama sebagai karya sastra, yakni naskahnya. Kedua dari sisi teater atau pementasannya. Pementasan dalam pengertian di sisi adalah memberikan penafsiran kedua kepada naskah drama.

Apabila seseorang telah mampu membedakan apa yang semestinya dilakukan ketika ia ingin mengapresiasi drama sebagai karya sastra atau drama sebagai suatu pementasan berarti ia telah sanggup menentukan keberadaan drama dalam kehidupannya. Berarti, ia juga telah dapat menerima sastra itu sebagai suatu yang memukau, penuh imajinasi, dan perlu dipahami sebagai bagian dari proses kehidupan.

Daftar Pustaka

Brahim. 1968. Drama dalam Pendidikan. Jakarta: Gunung Agung.

Damono, Sapardi Djoko. 1983. Kesusastraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan. Jakarta: Gramedia.

Esten, Mursal. 1978. Kesusasteraan: Pengajaran Teori dan Sejarah. Bandung: Angkasa.

Hamidy, U.U. 1984. Pengantar Kajian Drama. Pekanbaru: Bumi Pustaka.

Hardjana, Andre. 1981. Kritik Sastra : Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia.

Martoko, Dick. 1984. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia.

M. Saini K. 1985. Dramawan dan Karyanya. Bandung: Angkasa.

Munir, Emha Syamsul. 1983. "Mengenal Teater". Dalam Majalah Sahabat Pena, No. 143. Jakarta.

Nio, Bo Kim Hoa. 1981. Pengajaran Apresiasi Drama. Jakarta: Penataran Lokakarya Tahap II. P3G. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Rendra. W.S. 1983. Mempertimbangkan Tradisi. Jakarta: Gramedia.

Rosidi, Ajip. 1982. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Bandung: Binacipta.

Semi, M. Ater. 1984. Materi Sastra. Padang: Sridarma.

Sutardjo, U.M. 1987. Bagi Masa Depan Teater Indonesia. Bandung: Gramedia.

Syam, Syahlinar. 1984. Bina Drama. Bandung: Jurusan Sendra Tasik FPBS IKIP Padang.

Tarigan, Henry Guntur. 1984. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.

Wednesday, 1 June 2016

FESTIVAL IQRA KHP 2016 (Festival iktikof Ramadhan Komunitas Home Poetry Tahun 2016)

Assalamualaikum wr wb
Ikuti dan saksikan
FESTIVAL IQRA KHP 2016
(Festival iktikof Ramadhan Komunitas Home Poetry Tahun 2016)

Bertempat di Taman budaya Sumut tanggal 18 Juni 2016
Adapun perlombaan yang akan di adakan :
1. Lomba membaca puisi islami Kat umur 14 - 19 thn
Pilihan puisi :
a. Mustofa Bisri. Bagi MU
b. M raudah Jambak. Seratus untai biji tasbih
c. Ahmadun Yosi herfanda. Sembahyang rerumputan
d. Emha Ainun Nadjib. Doa sehelai daun kering
2. Lomba cipta puisi islami
3. Lomba cipta cerpen islami
4. Lomba berbusana muslim casual anak2 maka 10 tahun
Seluruh pendaftaran Rp 10.000,- (SERBU)
Tempat pendaftaran sanggar Home Poetry di tbsu
Info lebih lanjut
Akbar Zein. 082167472849
Andi ml. 083199151983
Rebut Hadian jutaan rupiah untuk THR Anda......
Ayo lomba dan buka puasa bareng KHP..

Syarat dan Kriteria Mursyid Menurut Prof. Dr. S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc

Syarat dan Kriteria Mursyid Menurut Prof. Dr. S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc



Seorang ahli fiqih yang sudah boleh disebut ulama disamping ilmu dan pengalaman dalam hukum hukum Islam juga memimpin sebuah lembaga keagamaan mendatangi saya ingin mempelajari tasawuf dan menekuni tarekat. Terjadi diskusi yang sangat menarik dan dari diskusi tersebut, ternyata beliau sudah banyak membaca tentang tasawuf/tarekat dari berbagai macam buku termasuk karya-karya klasik. Kebetulan beliau juga penggemar kitab kuning (kitab klasik) karangan ulama-ulama dulu. Ada sebuah pertanyaan yang menarik bagi saya dan bagi kalangan pengamal tarekat pertanyaan itu tidak pernah ditanyakan dan dianggap tabu. Beliau bertanya, “Kalau saya mengamalkan zikir tarekat, berapa lama saya bisa jadi Mursyid?
Bagi kita yang telah menekuni tarekat tentu saja pertanyaan seperti itu ganjil karena kita semua tahu bahwa tidak ada seorang murid yang bercita-cita jadi Mursyid. Seorang Mursyid bukanlah hasil dari beramal, bukan pula karena pengetahuannya tentang tarekat, bukan lamanya menekuni tarekat akan tetapi seseorang diangkat jadi Mursyid semata-mata karena Allah SWT. Saya yakin pertanyaan diatas ditanyakan juga oleh sebagian pembaca sufi muda.
Dalam beberapa Tarekat termasuk Naqsyabandi memang masih ada pengangkatan  banyak Mursyid seperti Tarekat Naqsyabandi Al Khalidi yang ada di Aceh dibawah pimpinan Syekh Muhibuddin Wali bin Syekh Muhammad Wali Al Khalidy. Seorang yang telah di izinkan untuk memimpin suluk diberi gelar mursyid sedangkan dibawahnya disebut wakil mursyid dan dibawahnya di sebut khalifah sedangkan pimpinan secara keseluruhan dan menjadi Mursyid dari seluruh jamaah disebut Saidul Mursyid. Biasanya pengangkatan Mursyid dilakukan setelah selesai suluk. Oleh Saidul Mursyid mengijazahkan Mursyid, wakil mursyid dan khalifah kepada orang-orang yang dianggap layak menerimanya. Setiap suluk terkadang diangkat 2 orang Mursyid, 3 orang wakil mursyid dan sejumlah khalifah sesuai dengan kebutuhan daerah.
Oleh karena tradisi adanya pengangkatan lebih dari seorang Mursyid seperti yang saya ungkapkan di atas maka wajar kalau orang bertanya kapan dirinya bisa menjadi mursyid dengan tujuan ingin membimbing manusia ke jalan Tuhan.
Di dalam Tarekat Naqsyabandi pimpinan Prof. Dr. H. S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc tidak ada pengangkatan Syekh atau Mursyid karena cuma ada satu Mursyid yaitu Beliau sendiri. Gelar khalifah pun tidak lagi dipopulerkan karena Baliau kawatir gelar itu akan membuat muridnya menjadi sombong dan jauh dari sifat-sifat ubudiyah. Beliau dengan rasa kerendahan hati merasa tidak berhak mengangkat khalifah. Beliau pernah mengatakan, “Biarlah gelar khalifah itu Allah sendiri yang memberikannya”.
Tentang kriteria dan syarat-syarat untuk menjadi seorang Mursyid, Prof. Dr. H.S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc dalam bukunya, Ibarat Sekuntum Bunga Dari Taman Firdaus berkata:
“Syarat-syarat bagi seorang mursyid amatlah berat, dan kalau saya ditanya, apakah saya telah memenuhi syarat untuk mursyid? Maka jawabnya amat berat untuk mengatakan “ya”, atau kalau ingin jawaban yang mudah saja, “tidak tahu” Karena sebenarnya bukan saya sendiri  yang harus menilai kualitas saya (begitulah beratnya kriteria seorang mursyid) namun saya melaksanakan tugas dengan sepenuh tenaga, sepenuh jiwa dengan hati yang sebulat-bulatnya. Siap melaksanakan suruh dari pada guru saya yang juga merupakan suruh dari Allah dan Rasul, yaitu menegakkan Dzikrullah dalam diri pribadi saya dan dalam pribadi umat. Jadi beliau-beliau yang diataslah yang menilai akan kualitas diri saya”.
Selanjutnya menurut Beliau, kriteria guru mursyid dapat dilukiskan atau digambarkan secara riil ke dalam tujuh butir antara lain sebagai berikut :
  1. Pilih guru kamu yang mursyid, (dicerdikkan oleh Allah), bukan oleh yang lain-lain dengan mendapat izin Allah dan ridha-Nya.
  2. Ia adalah kamil lagi mukamil (sempurna lagi menyempurnakan) karena karunia Allah.
  3. Yang memberi bekas pengajarannya, (kalau ia mengajar atau berdo’a, maka berbekas pada murid, si murid berubah ke arah kebaikan).
  4. Masyhur ke sana ke mari. Kawan dan lawan mengatakan “Ia seorang Guru besar”.
  5. Tidak dapat dicela oleh orang yang berakal akan pengajarannya, yakni tidak dicela oleh al Qur’an dan al Hadist serta ilmu pengetahuan.
  6. Yang tidak kuat mengerjakan yang harus, umpamanya membuat hal-hal yang tidak murni halalnya.
  7. Tidak setengah kasih akan dunia, karena bulat hatinya. Ia kasih akan Allah, ia bergelora dalam dunia, bekerja keras untuk mengabdi kepada Allah SWT bukan untuk mencintai dunia.
Seorang mursyid merupakan orang yang wara’ dan sangat hati-hati dalam hal-hal yang belum jelas kedudukan hukumnya. Hatinya tidak condong kepada dunia dan selalu berkekalan dalam zikirullah. Apapun gerak dan tindakannya selalu memohon izin dan petunjuk dari Allah SWT.
Beliau juga pernah menggambarkan kedudukan seorang mursyid ibarat seorang yang mengendari kuda dengan kecematan tinggi dengan memegang gelas yang airnya penuh. Kuda harus dipacu dengan kencang sedangkan air tidak boleh tumpah setetespun.
Demikian kriteria mursyid menurut Prof. Dr. H.S.S. Kadirun Yahya MA. M.Sc, mudah-mudahan akan bisa memberikan gambaran kepada kita semua tentang mursyid dan menurut saya apa yang Beliau kemukakan sudah mewakili dari sekian banyak kriteria mursyid yang pernah dikemukakan oleh para syekh tarekat dari dulu sampai sekarang. Akan tetapi dikesempatan lain akan saya tulis juga kriteria dan syarat mursyid menurut syekh lain termasuk Syekh Abdul Qadir Jailani, Syekh Muhammad Amin al Kurdi dan Syekh Ibnu Athailah as Sakandari sebagai bahan perbandingan untuk kita semua.
Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat untuk kita semua, amien ya Rabbal ‘Alamin.