MASIH MERDEKAKAH KAU INDONESIA?
M. Raudah Jambak
Masih merdekakah kau Indonesia
setelah kau rajut usia dari debu-debu jalan raya
dalam kaleng rombeng
recehan angka milik pengemis belia
yang mendendangkan kidung lara
bersama hembusan dupa dari opelet tua
asih merdekakah kau Indonesia
ketika musyawarah berubah dari mufakat
menjadi siasat
ketika wakil rakyat lebih mewakili penjahat
ketika gedung dewan lebih mirip kandang hewan
dan ketika pejabat negara tega menjadi pengkhianat bangsa
Masih merdekakah kau Indonesia
dalam kemerdekaan yang kau sendiri tak paham maknanya
karena matamu telah dibutakan
dan mulutmu disekat rapat-rapat
serta telinga cuma sekedar bunga tanpa rupa
Masih merdekakah kau Indonesia
padahal telah banyak disumbangkan darah dan air mata
dan berjuta nyawa yang akhirnya cuma sekedar wana luka
Masih merdekakah kau Indonesia?
Matahari Tepi Pantai
matahari mengintip sepanjang pantai
menyinari musim
mewarta peta di sela-sela pegunungan
merambat pelan-pelan dalam bias cita-cita
di puncak musim angin begitu landai
pada pelepah pohon kelapa
:terdengar anak mengaji alip ba ta
riak-riak biasa dalam sebuah pemahaman
debur ombak hanya menerjang karang
seperti piatu, mengetuk pintu mimpi membuka
telapak kaki ibu
ia pun menemukan buih
yang meretas sepanjang jarak sepanjang waktu
lalu, langkah lenyapkan buih yang gaduh
di bubungan rumah jiwa kita
menetes tes sebutir embun
menetes tes sebutir keringat
menetes tes sebutir air mata
: biru itu harus tergapai
matahari mengintip sepanjang pantai
menyinari musim
mewarta peta disela-sela pegunungan
meski badai, biru itu harus tergapai
medan,5-Januari-2005
Bismillah
bismillahirrohmanirrohiim
demikian kumulakan segala permulaan
sesungguhnya segala perbuatan
dimulai dengan niat
bismillahirrohmanirrrohiim
mulailah dengan langkah kanan
bismillahirrohmanirrohiim
mulailah dengan tangan kanan
bismillahirrohmanirrohiim
perkuatlah dengan husnuzon
bismillahirrohmanirrahiim
enyahkanlah segala suuzon
bismillah adalah ucapan yakin melangkah
hapus segala hujjah, hapus segala resah
anak yang mengerahkan segala pada ibu
pertiwi yang selalu gelisah
lantas, alhamdulillahirobbil'alamiin,
pertanda syukur sepanjang umur
demikianlah, sejak lahirnya anak manusia
polos dan tanpa ikatan, tak ada sepotongpun
yang terbawa dibawah nisan
lantas, mengaca pada masa lalu perlu
tetapi bertindak untuk lebih maju, justru fardhu
dari tanah akan kembali ke tanah
dari air akan kembali ke air
dari angin akan kembali ke angin
innalillahi wa innailaihi roji'un
untuk apa lagi kita saling berbantah
niat ikhlash atas ridho dan rahmat
itu pencapaian memperoleh syafa'at
mari yakinkan langkah dengan bismillah
tanamkan segala pujian hanya pada Allah
semoga segala niat memperoleh rahmah
medan-2004/2005
Indonesia Berkaca
telah lama indonesia terjebak dalam buramnya
kotak kaca, mulai dari wajah yang berdebu, sampai
tiga dimensi yang kaku, parabola tak lagi berguna
dikalahkan kecanggihan batok kelapa-
kejahatan, penipuan, kemunafikan-berlomba menjadi
pelaku utama-sementara kejujuran, keikhlasan,dan
kesabaran-cukup puas sebagai figuran biasa
telah lama indonesia terjebak dalam kumuhnya
media masa, mulai dari wajah yang penuh darah,
sampai bibir merah penuh gairah, headline kemanusiaan tak lagi berguna, politik haus kekuasaan di atas segalanya-korupsi, prostitusi, anti ideologi-menjadi berita terkini-sementara harkat, martabat, dan nurani-hanya penghias demi investasi
telah lama indonesia terjebak di atas panggung sandiwara, yang selalu kehilangan penonton setia
mulai dari fans tiba-tiba, sampai kelas utama
tiket pertunjukan tidak lagi berguna, sebab
undangan gagal membawa marwah cerita-pemain, penata, dan sutradara-saling curiga dengan honor
yang diterima-sementara proyek, eksebisi, dan
pertunjukan dalam rangka-menjadi penentu final
dalam berkarya
lihatlah aceh, ambon dan papua
lihatlah korupsi, prostitusi dan manipulasi negri
lihatlah segala amoral dan asusila
anak-anak bangsa
apa khabar munir yang menunggang garuda
apa khabar harry roesli dengan drs. arief-nya
apa khabar peter white dan sepakbola indonesia
apa khabar sby bersama seratus harinya
apa khabar hamid jabbar yang selalu menzikirkan puisinya, selalu tertawa gembira-walau dalam tangis indonesia
apa khabar tsunami yang selalu meneteskan
air mata
do'a takjim buat saudara-saudaraku,
yang mengawang di bukit lawang, menanam pusara badan di kuningan, menyerah di bandara adi sumarmo yang gelisah, ambruk mengurusi nyamuk-nyamuk, menggigil digetarnya gempa tsunami
dan yang tiba-tiba pergi ke negeri entah
(tuhan mengarahkan langkah kalian menuju taman
di dalamnya mengalir sungai susu, tumbuh bunga-bunga indah, dan ranumnya beragam buah)
telah lama indonesia terjebak dalam lusuhnya cermin kaca, tapi yakinlah kami masih mampu
membaca makna-membersihkan wajah indonesia
indonesia bercermin
indonesia berkaca
dalam derita
kami akan terus berjuang untukmu
dalam bahagia
kami akan senantiasa mengharumkan
namamu,
indonesia berkaca-anak-anak bangsa berusaha
terangkai do'a, senantiasa
Nama : Maya Ramadhani
Alamat : Jl. Pelita I Gg. Saudara No. 4 Medan
Sekolah : SMUN 6 Medan
Puisi :
Derita Wanita Merdeka
dipungutnya jejak-jejak yang tertinggal
di atas granit-granit hati
yang tercipta dari kebekuan rasa
inikah derita wanita merdeka ?
tanya mereka pada nestapa
yang selalu bayangi tiap langkah kaki mereka
yang selalu terhembus dari tiap helaan nafas mereka
inikah derita wanita merdeka ?
yang terseret arus dunia
dan menjadi pemungut dosa-dosa
dijalanan khatulistiwa ibu kota
dimana katanya merdeka ?
bila kami para wanita harus terjajah
inikah derita wanita merdeka ?
hanya menjadi rayap malam
lalu terhempas oleh pagi
dalam keterasingan
inikah derita wanita merdeka ?
yang terbebas dari kolonial penjajah
namun,terjajah oleh miskinnya negara
Nama : Dian Khairani
Alamat : Jl. STM no. 9 Medan 20219
Sekolah : SMK Negeri 3 Medan
Puisi :
Belawan Kita
Kami mengungsi lagi, saat dua geng ribut-ribut di tengah kampung
Dua orang geng barusan mati, teriak pemuda tanggung
Bukan dua, tiga, kamu salah dengar
Cepat, kita harus bergegas, sebelum rumah kita dibakar
Sebelum si Ujang dibantai dan si Butet diperkosa
Ujar seorang bapak yang suaranya serak
Menahan linangan air mata.
Tidur ya?
Sambung si ibu dan anaknya mengangguk dipangkuannya
Tetapi matanya tetap saja menyimpan telaga
Ada apa, mak?
Mengapa darah harus ditumpahkan?
Ternak kita mereka tombak?
Warung nasi kita mereka bakar?
Hanya karena telinga mereka tak bisa mendengar
Atau Hati mereka tak dapat bersabar?
Jangan berduka !
Besok sore, kita bangun lagi rumah kita
Dan lusanya, belawan kita pasti aman
Karena hari itu 17 Agustus, 59 Tahun sudah negara kita merdeka
ama : Ahmad Fajar
Alamat : Jl. Laboratorium No. 9 Medan
Sekolah : SMU Plus Muhammadiyah Medan
Puisi :
KUBAYANGKAN
Kubayangkan menulis puisi
tuk Ibu tercinta
Hingga akhirnya putus ujung kalam lidahku
karena tajamnya kata dan panasnya hati
Kubayangkan sedang membuat surat cinta
tuk kasihku sayang
sampai habis kertas di dunia
tuk tumpahkan isi hatiku
Kubayangkan kiniku terbaring dihamparan
lautan emas dan perak dunia
Namun,ku bermandi di kubangan darah
dan airmata,di dalam rebusan nanah iri,
dengki yang kusemai dendam padanya
Kubayangkan isi penaku habis
di saat kubuat puisi ini
yang hancurkan hati meregang jiwa dari raga
mengembara di jagat raya mencari Tuhannya
Kubayangkan pabila aku
tak lagi perlu hidup di dunia ini
menyemai dosa
menuai azab
Kubayangkan semua manusia lenyap
tak berbekas
hingga hilang angkara murka
dari atas muka bumi ini
Kubayangkan jadi elang
yang punya sorot mata tajam
dan kekuatan lahir
tapi ia tumpul mata hatinya,
lemah batinnya
Kubayangkan jadi pembunuh yang haus darah
dan tangisan korban
yang memohon agar tak dibunuh
Kubayangkan aku adalah bom
yang guncang Legion & Mariot
yang bungkam keriuhan dunia sesaat,
mengundang derai tangis
banjiri tanah dewata dan metropolitanku
Kubayangkan aku tak lagi
berkhayal tentangku,tentangmu,
tentangnya dan tentang mereka
Namun,ku kan terus menulis hatiku,
hatinya,dan hati mereka
di prasasti yang kuukir
dengan darah aneka bangsa
Nama : Pandapotan MT Siallagan
Alamat : Perumahan Mutiara Permai Jl. Serai Blok B No. 25 Sp. Panam, Pekanbaru Riau 28293
Puisi :
Setelah Bambu Meruncing Lagi Diraut Airmata
: a/
setelah bambu-bambu itu meruncing lagi diraut airmata, kami menugal tanah-tanah yang telah terbakar di dalam jantung kami. kami tanami harapan-harapan, dan membesar jadi pohon-pohon di sepanjang usia kami. lalu hutan-hutan membentang lagi di dalam mimpi-mimpi kami. tapi, setiap kali kami terjaga dihentak doa-doa, kami selalu menemukan bambu dan pohon-pohon itu meranggas lagi. ranting dan daun-daun beterbangan jadi asap, menyesaki nafas kami. tapi kami perintahkan anak-anak kami mengibarkan bendera pada bambu dan pohon-pohon itu, agar kami bisa lagi membaca angin, dan bernyanyi:
indonesia raya...merdeka...merdeka...
b/
setelah pada bambu dan pohon-pohon yang terbakar itu kami kibarkan bendera, kampung kami memancarkan warna merah dan putih. kami takjub, dan berpawai merayakan kemenangan itu. tapi kami tiba-tiba tersentak. kami ternyata sedang berjalan di atas genangan darah, tulang-tulang saudara kami berserakan di halaman. kami ternyata tidak sedang mengibarkan bendera untuk memugar hutan, tapi melukis tanah dengan darah. dan menyusun serakan tulang-tulang jadi jalan raya.
c/
lalu kami berjalan di atasnya, mencoba membunuh ketakutan dengan ketajaman doa-doa. kami jelajahi jalan-jalan menuju kebebasan. tapi kami tersesat. jalan dan gang-gang tak cukup panjang menampung dosa-dosa kami. kami tersesat di tubir tebing, gagap menemukan peluh kami telah menjelma jadi lautan gelap. mimpi-mimpi kami mengapung, mengintai sejarah perjalanan kami, lalu menerkam kami di jurang yang mencuram digali luka kami.
d/
akhirnya kami putuskan untuk rehat, lelap memeluk duka sendiri, tidur di kamar yang kami tukangi dengan airmata kami sendiri. dan di dalam mimpi kami, anak-anak bernyanyi:
indonesia raya...merdeka..merdeka...
e/
kami menghayati nadanya dengan jiwa yang berdarah,
dan menjadi kian tak paham memaknai kemerdekaan
kamarpilu, pekanbaru, 11-08-04
Nama : Prakoso Bhairawa
Alamat : Jl. Bambang Utoyo Lr Sianjur I No. 584 rt 05 Lemabang Palembang
Puisi :
Bercerita Sekawanan Camar; episode 2
Malam berganti
sekawanan camar kembali memecah bayangan matahari
memulai cerita pagi tentang hidup generasi Adam-Hawa
yang selama dimensi waktu menjiarahi peradaban
dengan dongeng cinta, mimpi klasik, harapan
dan memainkannya pada panggung bernama dunia
lewat dialog rangkaian kata sarat makna
keluar melalui rongga diafragma dari tiap hembusan nafas
Sekawanan camar asyik memainkan angin
menangkap butir partikel cerita
dari pemuaian ekosistem pasir putih
di mana riak laut senantiasa mencumbui bibir pasir
dan bercanda bersama anak-anak pesisir
meski habitat mereka mulai kehilangan
ketika tiap jengkal pasir diperdebatkan
dan orang-orang ramai meninabobokkan cemara
dengan syair gergaji mesin bahkan
berani menguji keperkasaan karang dengan peledak
Camar-camar bercerita bergantian satu sama lain
camar besar tak mau kalah dengan camar kecil
si kecil tak mau diremehkan
ia punya cerita tentang air mata
anak pesisir selatan yang terlahir karena nestapa
di mana setelah semalaman melaut Bapaknya tak kembali
lantaran malamnya jadi korban bajak laut
dari utara camar besar membawa kisah tragis
tentang Rama yang tenggelam terseret ombak
dan Shinta hanya melihat lambaian terakhir
Sekawanan camar kembali berputar
memainkan angin bersama matahari yang terus meninggi
dan camar tertua mulai menutup cerita
“Utara – Selatan selalu punya cerita bagi
kita yang mendiaminya dari musim ke musim
sebagai sebuah catatan panjang kehidupan”
Catatan: Kemerdekaan dapat diartikan sebagai sebuah kebebasan. kebebasan mengemukakan pendapat dan berekspresi. begitu juga hal yang diinginkan dalam puisi ini. semua memiliki kebebasan untuk mengemukakan pendapat biar dia kecil maupun besar, karena kebebasan, kemerdekaan milik kita semua
Nama : Hasan Al Banna
Alamat : Jl. Balai Desa Gg. Antara No. 84 Timbang Deli Medan Amplas
Puisi :
BELUM JUGA, NAK
maka selamat jalan, anakku. selamat berjuang
sebab hari ini
kita belum juga merdeka
bukan, bukan belanda yang datang menyerang
tidak, tidak jepang yang kembali menerjang
tapi sanak sendiri yang mengangkang
menghadang
dengan senjata terkokang
tapi jangan takut, anakku. jangan surut
sebab kulahirkan kau
bukan sebagai pengecut
itu terik yang memanggang
itu hujan yang merajang
itu peluru yang mendesing-melintang
adalah buai-sayang yang membawamu pulang
ke rumah atau bahkan ke liang?
lantas jangan menyerah anakku, jangan kalah
sebab sepercik doa
telah kusulut di sumbu darahmu.
Medan, 2003-2004
Kategori : Pelajar
No Peserta : 335
Nama : Nurazizah daulay
Asal Sekolah : SMU sultan iskandar muda
Puisi
biarkan jemariku memilihmu
ketika gemericik dedaunan mengalunkan nada seindah dawai yang dipetik para dewi
izinkan jemariku memilihmu
ketika semilir angin melenggok, meliuk lalu mengelus pipi-pipi perawan
izinkan jemariku memilihmu
ketika para setan berpesta, meminum tuak kebobrokan etika
ketika para wayang saling sikut, menyulam kemelut jadi benang kusut
ketika air bah menyapu rumah-rumah reot di negri yang juga reot
hingga
ketika kamboja akan jatuh di atas kepalaku
jika mungkin,
tetaplah izinkan jemariku memilihmu
"puisiku"
Medan, akhir juni 2004
Kategori : Pelajar
No Peserta : 328
Nama : Maya Rahmadhani
Asal Sekolah : SMUN 6 MEDAN
Puisi :
Oase Sabana
Aku lara dipenghujung hunusan
pedang sang pendusta
Aku lemah diantara oase jiwa-jiwa padang sabana
Lelah aku mengendapkan bermil laut
laraku di dasar amazon terdalam,
dijulangan kebekuan everest teringgi,
dan digersangnya angin gunung sahara
Jiwaku terus mengembara tak tentu arah
diantara ombak-ombak laut,
badai-badai gurun dan
dinginnya gletser-gletser es yang mencair
Kategori : Pelajar
No Peserta : 232
Nama : MHD. HENDRIANTO
Asal Sekolah : SMUN4 MEDAN
Puisi
USANG
Ku buka peta perjuangan bangsa
usang dan penuh debu
sebagian rusak dan termakan jaman
ku buka peta perjuangan bangsa
ada pemuda berjuang
membanggakan ibunda
Indonesia...
ku buka jendela kamarku
di sana tak kulihat lagi
pemuda yang cinta kepada ibunda
Indonesia
Kategori : Pelajar
No Peserta : 314
Nama : FITRIANI RAMBE
Asal Sekolah : SMK.S.TELKOM SANDHY PUTRA
Nyanyi kecil
Lelah bermain lalu tidur
lupakan kekalahan tadi, saat bermain
lelapkan semangat sedikit berbunyi
kekalahan tadi tangis buat ibunda
bocah kecil berlapang dada,
mengisi tetes air mata,
dalam nyanyi kecilnya.
Bocah kecil mengurai waktu
suasana sama, batas tak terlihat
kekalahan dari segalanya
juga tangis buatnya
mengisi nyanyi kecilnya
pada permainan yang tak tertuntaskan
pada segala kecewanya.
Kategori : Pelajar
No Peserta : 69
Nama : Sholahuddin
Asal Sekolah : SMK 1 BATAM
Puisi:
Penghancur Bangsa
kabut surya telah menggepar di atas awan
tumpahan darah yang bergelinang dimana-mana
diamkah dia ??
diamkah dia ??
aroma kematian telah mendatangi tubuh kami
hingga mau merenggut apa yang kami telah dapati.
wahai saudara sadarlah engkau
sebelum engkau diteriaki maling oleh pengikutmu sendiri.
janganlah engkau menghancurkan putra-putri bangsa yang telah mekar dan berkembang
bunyikan saja loncengnya biar terdengar semua orang pertanda ajal insan akan lenyap.
kala sang surya tak ceria lagi seperti dahulu
Kategori : Mahasiswa
No Peserta : 327
Nama : ELIDA WANI LUBIS
Asal Sekolah : UNIMED
Puisi
Perempuan Monalisa
Sebutir nilam menggelinding
Menjelma perempuan monalisa
Berdiri di tengah kobaran api
Menarik perhatian
Pemimpin
Pengkhotbah
Pengembara
Penipu
Pemerkosa
Hingga total memacetkan lalulintas.
Perempuan monalisa
Memberontak dari kepungan penelanjangan
Satu persatu ia tanggalkan pakaiannya
Semua mata terbelalak
Sekian nafsu berlompatan ingin menerkam
Gemuruh guntur meledak ditengah arena
Perempuan monalisa
Hanya dia yang mampu pertaruhkan nyawa
Demi satu benih cahaya bangsa
Anak keseratus,keseribu
bahkan kesejuta ribu anak bangsa
Perempuan monalisa
Pandanglah ia sebagai seorang ibu
Bukan pemuas nafsu
Kategori : Mahasiswa
No Peserta : 248
Nama : Nur Hilmi Daulay
Asal Sekolah : Unimed
Puisi
Ibu, Aku Ingin Merah Putih Reinkarnasi
Pernah Ibu,
seduku merayu
ketika awan-awan itu kelabu
ketika bening yang harusnya berjabat tangan
berubah jadi roda-roda elmaut menggilas
lawang di perbukitan tinggal kenangan
Pernah Ibu,
lukisan yang kutoreh di atas kanvas
kusobek-sobek hingga letihku
karna setiap kali kuas kugerakkan
yang terlukis hanyalah kelam
yang terlukis hanyalah perang
yang terlukis hanyalah keranda-keranda kusam
lalu tak sengaja,
tinta merahku tumpah dan semua hanya darah
Pernah Ibu,
nuraniku tak mampu membendung sesal
sedih yang menikam teredam dengan serapah
aku marah !
ketika merah putih yang kau jahit hanya jadi penutup mayat seorang Ersa
tak cukup Ibu !
kali lain kulihat kain berwarna sama menutupi seorang Ferri
merah putih itu ikut terkubur mati
ada apa dengan anak-anak Ibu ?
tak cukupkah hanya seorang jurnalis?
lalu jaksapun harus melengkapi catatan kelam museum peradaban kita
hhh...
untung saja ada Ferri lain yang enggan mencatatkan dirinya pada museum yang sama
tahukah Ibu?
ketika itu sungguh
aku ingin merah putih reinkarnasi
Ibu,
aku berhasrat, suatu hari membeli kanvas baru lagi
melukis merah putih berkibar jauh lebih tinggi
mewarnai merahnya jauh lebih berani
mewarnai putihnya jauh lebih suci
aku
ingin
merah putih reinkarnasi !
Tanah Air, akhir juni '04
Kategori : Mahasiswa
No Peserta : 209
Nama : Dian Trisna Sari
Asal Sekolah : UNIMED
Puisi :
Kerinduan
Merayu lagu rindu terbenam dalam sepi
Menikam siang dan malam di celah tebing hati
Lukisan kisah lalu terlintas kembali
Kala akhir berjabat kian menusuk diri
Menggumpal ku pendam asa ‘tuk bertemu
Mencari detik indah dalam salam membatu
Menggunung rasa kepada nama penuh cinta
Merajut senyum di langit jiwa
Terbungkam membisu, adakah ia tahu ?
Pohon kerinduan terus tumbuh subur di dinding galau
Terhanyut dalam nikmatnya nada rindu
Riang merajut mimpi, bilakah bertemu ?
Bergayut meninggi mencari hari
Meronta menggenggam tiang hati
Menitipkan asa di balik daun bertemankan matahari
Mengharap tunas rindu memucuk datangnya hari
Kategori : Mahasiswa
No Peserta : 351
Nama : Soni Harianto
Asal Sekolah : Politeknik LP3I Medan
Puisi
Untaian Kata Buat Maya
pinjami aku bahasa...
kan ku ungkai menjadi kata...
tuk uraikan luhur budi, agung pekerti
anugarah Ilahi Rabbi untukmu, seorang putri
pinjami aku mimpi...
kan ku bangun istana syurgawi
dikelilingi nirwana dan rerimbunan bunga
dan jadikan engkau ratu bidadari
pinjami aku waktu
kan ku pahat rindu yang syahdu
yang jernih sebening cahaya surya pagi
yang putih sesuci embun di kelopak daun
pinjami aku pena
tuk goreskan lagi tinta
karena ku t'lah kehabisan kata
karena aku bukanlah penyair itu
yang pandai simpulkan kata lewat irama
yang pandai lembutkan batu yang t'lah beku
aku hanya penyair amatiran
yang ciptakan puisi dari kenyataan
dan kau adalah kenyataan itu
yang terus bersinar seiring waktu
Kategori : Mahasiswa
No Peserta: 143
Nama : Muharijal
Asal Sekolah : Politeknik Negeri Medan
Puisi :
Kemana Hilangnya
Malam itu langit tertunduk
Bulan dengan kedua matanya terbelalak
seakan terkejut ketika gaungan suara
menghambur keatas.
Dentuman suara tembakan itu
tak sedikit pun menggeser tapak kaki kami
yang sejak matahari terjaga
telah menyentuh pipi bumi.
Kami hanya berteriak
teriakan yang selama ini dicekik ketidakadilan
mulut kami terbuka lebar memuntahkan
keperihan kami.
Dor..,rebah dari kaum kami
membelakangi langit yang sedih
menetes darah perjuangan dikulit pertiwi
meresap hingga menyuburkan semangat
untuk tetap berjuang.
Kilat menangkap gambaran malam kelam
bayu menerpa daun warna - warni
digundukan tanah hunian penyampai lidah.
Kategori : Umum
No Peserta : 338
Nama : damayanti
Puisi
aku seorang janin
kegelapan ini membuatku akan lelap,
tapi bingar membuatku terjaga
hanya sakit yang pahit
karna bibirku tertohok jariku
"ibu aku akan sumbing"
bingar itu memporak-porandakan impiku
gelegar itu pada siapakah bertuan?
seorang tuan majikan melontar maki pada perempuan yang oroknya kutumpangi
"ibu, suara papaku melengking"
kegelapan ini membuatku akan lelap,
tapi gontai yang tercipta membuatku terjaga
ada tangis meraung
kecewa mengapung
sesal membubung
lalu kulihat perempuan ini berhenti di sebuah rel tua yang banyak menyimpan cerita tentang yawa-nyawa tak berasa
kegelapan ini membuatku akan lelap, gundah benar-benar membuatku terjaga
perempuan ini menjajakan dirinya di depan kereta
aku meronta, histeris
"ibu, kereta itu tak bermata"
tapi aku sumbing, yang terdengar hanya desis
kegelapan ini membuatku akan lelap,
lelap dalam gelap yang panjang
biarkan !
dalam terang nanti akan kutulis cerita buat tuhan tentang episode ini
"aku seorang janin "
Kategori : Umum
No Peserta : 247
Nama : M.Raudah Jambak
Asal Sekolah :
Puisi
Ku Anyam Sebaris Do'a Dengan Hiasan Tahlil Sederhana
Ku anyam sebaris do'a dengan hiasan tahlil sederhana, di awal Ramadhan, pada november luka
bagi saudara-saudara yang tertimpa bencana
dan air mata membersihkan sisa-sisa cinta
yang sempat mengembang di Bukit Lawang
Pada derai air mata, aku rangkai berbagai
aneka bunga do'a, yang sempat mengangkasa
terbang di taman sajadahku bersama untaian
tasbih yang merindu
Ku anyam sebaris do'a dengan hiasan tahlil sederhana bagi saudara-saudara
yang mengeram di antara gelondongan
bersama sungai bukit lawang
dalam sujud panjang yang tak berkesudahan
Medan,03-04
No Peserta : 206
Nama : Yusrizal S Siregar
Asal Sekolah :
Kategori : Umum
Puisi
Sebuah Keberangkatan Sunyi
tak henti-hentinya angin mengirimkan dingin
kebekuan serta kebisuan telah menyelimuti
wajah-wajah batu
melukis sepi tanpa tepi di bola mata
menghujamkan belati sunyi
jauh ke dalam rasa kesendirian berabad
melayangkan ruh-ruh
mengiris bentangan hening yang purba
helai-helai rambut gugur
tatapan-tatapan patah berkabut
laksana antrean panjang sebuah keberangkatan
tanpa stasiun
tanpa kereta
di atas rel-rel waktu menuju keabadian
hanya doa dan air mata, mengantar keberangkatan
ini
di bawah sunyi kamboja.
Tanah Air, Juni 2004.
Yusrizal S. Siregar.
Kategori : Umum
No Peserta : 235
Nama : Zakir
Asal Sekolah:
Puisi
Kau Akan Menjemput Puisi Ini
mungkin hanya tetes hujan yang tahu
kalau telah kulengkapkan tangismu
pada daun-daun yang berjatuhan
kita harus tampung air hujan
seperti kita menampung kemiskinan
telah kulengkapkan puisi ini dengan sepi
ada juga airmata, sedikit senyum kecu
aku masih menunggu di gubuk ini
dari jendela kutatap langkahmu
mungkin kau akan menjemput puisi ini
Medan, 2004
ategori : Umum
No Peserta : 274
Nama : Hasan Al Banna
Asal Sekolah : Medan
Fragmen Sajani
tidak ada yang diwariskan bapakmu untuk kau anakku
selain matamu yang sipit
sedang hitam kulitmu seperti kulit ibumu ini
seperti kebanyakan warna kulit orang pribumi
(entah istilah apa itu, nak ?)
jika kau besar nanti, jangan sulutkan api dendam
kematian ayahmu kepada siapapun
sebab ia hanya terjebak kerusuhan hebat ketika itu
jangan, jangan kau kobarkan amarah durja
nanti para ibu-bapak, istri-suami dan anak-anak
menangis tersedak kehilangan para sanak
jangan belajar menyenangi darah dan luka
nanti sulit kau menafsir airmata; sedih pedih duka dan lara
bahagia atau hampa ?
maka pandanglah hidup ini lewat mata telaga
bertuturlah dengan wangi bunga
sehingga rumah mungil yang kelak kau huni
menjadi persinggahan ribuan rama-rama
yang menelurkan mutiara
dan bukan tempat serigala
memburu mangsa
maka demi bapakmu yang mendekap bumi
menyanyilah dengan gembira, anakku
menarilah kau seriangnya
biar darahmu tak sembarang gelegak
biar amarahmu tak gampang meledak.
Medan, 2003
No Peserta :
1061
Nama Peserta:
Praben Gusti Purnama Sari
Asal Sekolah :
SMAN 1 Pemali-Bangka
Posting :
28122004 , 14:36:58 WIB
Puisi :
Sajak tentang Seekor Camar
Sekawanan camar mengumandangkan lagu perih
lantaran gitar tempat seekor camar bersarang
dipetik jari-jari terluka dan
bulan dimalamnya pun menyanyikan
lagu sunyi dalam kekecewaan
bersama ombak yang meneriaki gelegarnya
membelah karang di tepian
perih terasa sampai ke hati
tapi ledakan baru bermula
Seekor camar berteriak
memanggil harinya dalam keadilan
sepanjang tahun menangis
meratapi luka di pulaunya bersarang
tiap putaran waktu hanya ada
kour dari mesin tambang
membuat kepala sesak
udara panas dan melebarkan luka
Dari tepian bibir pantai camar masih
melihat sebentuk harapan pagi yang mungkin
datang bersama matahari dimensi baru
karena ia yakin cerita duka lalu
tak akan terlihat di hari paginya
No Peserta :
1442
Nama Peserta:
Hardy Okuli
Asal Sekolah :
SMA N 1 Onan Runggu
Posting :
07012005 , 19:35:46 WIB
Puisi :
Menyulut Angan
seusai kuputar waktu
searah tanjak arus usia remajaku dan seusai kukemas mimpi
menjadi kenangan kumuh,
aku akan menguapkan segala
juntal keruh air mata lapukku, akan kujerang
dengan senyum yang memparah
sampai lukisan sedih yang terukir dari terik rinduku
akan terbakar, hangus bersama kedip-kedip hari
sesudah itu,
akan kudaki bukit-bukit awan
meskipun hanya dengan tapak lamban yang belum pasti jadi.
bulan tetap akan kujangkau.
dan dari sana,
bintang tembaga akan kulekang
sampai senyumku kembang seranum purnama
dan dengan bersampankan mimpi,
masih akan kudayung pelayaran senjaku
ke dermaga beku yang hampa tangis
tempat di mana akan kuperamkan tungguku di atas kasur luka
hingga laju kereta anganku
tiba di depan peron waktu yang berpeluh-peluh
sampai senyum kita
benar-benar dapat melingkup telaga gelap
yang meluapkan bau keringat jalanan kemana-mana
agar kelak kita bersama mencicipi adonan waktu
dengan liur yang berulur-ulur pada lumbung cita
sehingga tak akan pernah ada raga berpeluh sia-sia
rembulanpun telah panik menyaksikan ringkasan mimpi kering ini
dan terdengar bisiknya seolah saat ini akan tuntas sebait celoteh bocah
yang berjudulkan bara derita yang akan segera padam oleh hujan malaikat
yang akan menyayat akar-akar lukaku.
No Peserta :
2736
Nama Peserta:
Suryani
Asal Sekolah :
SMPN 1 Sy.Bayu
Posting :
31012005 , 11:55:22 WIB
Puisi :
Nyanyian Pengungsi
Tanah kering rerumputan
Terik hujan permainan
Malam pekat ketakutan
Perut kosong kelaparan
Inilah nyanyian kami
Baitnya lahir dari lara di jiwa
raga dengan duka meranggas
masuk lewat celah bilik sempit,
menghimpit,membusuk,muak!
Kami makan lapar
Kami minum haus,
Air mata kami karamkan pilar sejarah ini
Kini, kami adalah gagak
yang mencakar kuburan sendiri
berharap temukan sisa bangkai
pengganjal nafsu sesaat.
Tak ada lagi tempat berpijak selain gemuruh menampar rejam bumi
Jangan,simpan saja reportase itu
Luka lama kami masih membiru
Belatungnya pun belum usai menari.
Wahai tuan pemilik merah putih!
Terimakasih kami ucapkan
Telah kau beri kami harga
dengan sebungkus mie
Telah kau bawa kami bertamasya
hingga kenal penjuru negeri ini
Tapi, kami lihat...
sayap kemerdekaan negeri ini telah patah
Tak mungkin menerbangkan kami lebih jauh lagi.
Biarkanlah kami menabur benih di puing cinta kami
Ladang gersang kami minta disirami
Ilalang rumah kami minta disiangi
Bocah kecil kami minta disekolahi
Tak perlu kami jadi turis di negeri sendiri!
Tanah kering rerumputan
Terik hujan permainan
Malam pekat ketakutan
Perut kosong kelaparan
No Peserta :
1934
Nama Peserta:
hannanur
Asal Sekolah :
SMUN 2 Pemko lhokseumawe
Posting :
19012005 , 15:02:14 WIB
Puisi :
Bait do'a
Doa masih melengking di busung lapar anak kami.
Matahari memecahkan tangisnya dalam pelukan cahaya
Syair kami dicabik,tapi...
alinianya masih melolong dalam rimba sujud kami
Di panggung...
zaman mengigirkan liang lahat harapan kami
angan meremang dalam telaga air mata
tapi,tetap saja pundak tegak itu memikul keringat yang melaut dalam darah.
Biar kujaring kesucian lisanmu,
yang menyulutkan rangkuman lidah api.
Agar tak pecah lagi kesunyian tarian kita
Di serambi waktu...
doaku masih menggali harapan yang terpahat pada siluet langit tahun depan.
No Peserta :
2792
Nama Peserta:
Nur hilmi Daulay
Asal Sekolah :
universita Negeri Medan
Posting :
31012005 , 14:49:57 WIB
Puisi :
MUHASABAH
Dan bukit-bukit mengecap sunyi pada keheningan terpekat,
Menunggu satu detik yang mengantarkannya pada satu tahun berikutnya
Dan detak jantung yang berjalan menggandeng jarum jam itupun bersaksi,
Pada ingatan yang teracik menjadi catatan kecil terbesar tahun ini.
Tahmidnya menggema menyibak malam,
Saat memorynya menghadiri pesta rakyat, kali ini tanpa darah
Karna Negri ini telah lama lelah, lidahnya tak ingin lagi latah menjilati tinta merah yang berkali-kali tumpah dari jiwa-jiwa penghuninya
Lalu bulu kuduknya berdiri,
Dengan enggan diketuknya memory tragis yang menyaksikan dirinya tertimbun pada puing-puing bangunan dengan airmata menembus lumpur, menyetubuhi air bah.
Dan jantungnya masih berjalan bergandengan dengan jarum jam
walau entah berapa ratus ribu jantung telah diam, bungkam
Ia terpekur,
Menengadahkan kepala menatap lurus menembus jantung cakrawala,
Tapi bulanpun terlihat keruh
dan bibirnya
dan hatinya
dan jiwanya
berpeluk erat pada muhasabah yang nyaris hanyut dalam laut yang gemeretak dengan amarah membirahi
Dan..
helaan nafasnya bertasbih menggaung tembus ke bukit-bukit yang mengecap sunyi pada keheningan terpekat.
Pada satu detik yang berlalu beberapa puluh detik yang lalu, mengantarnya duduk dalam I'tiraf membuka tahun berikutnya
Matanya nanar menatap bulan yang kian keruh-
Dan pemiliknya tak pernah keruh,
Ia luluh
SURAT KEPUTUSAN DEWAN JURI
LOMBA CIPTA PUISI ONLINE V 2005
Kami Dewan Juri Lomba Cipta Puisi Online V yang telah diselenggarakan oleh PT. Telkom Divisi Regional I Sumatera, telah melakukan penilaian terhadap karya-karya Puisi dari para peserta, terhitung mulai tanggal 01 Maret 2005 hingga tanggal 16 April 2005 di situs www.isekolah.org.
Respon peserta masih tetap menggembirakan dengan jumlah yang cukup lumayan, terutama sambutan dari berbagai daerah yang selama ini belum ikut serta. Di samping itu masih ada sebagian pengirim yang berdomisili di luar Sumatera, sehingga statusnya gugur sebagai peserta. Khusus untuk Kategori Umum, di antara pesertanya terdapat beberapa nama penulis yang sudah “jadi”. Jumlah karya yang diterima sebanyak 2610 Judul Puisi, dan sebanyak 332 Judul Puisi yang tidak memenuhi syarat, dinyatakan batal.
Kriteria Penilaian meliputi 3 (tiga) unsur, masing-masing:
1. Unsur Bahasa: Idiom, pilihan kata (diksi), citraan (imaji) dan gaya bahasa.
2. Unsur Tema: Kepaduan tema, termasuk relevansi isi puisi dengan judul.
3. Unsur Orisinalitas (keaslian): Kemandirian dalam menggali dan mengungkapkan tema.
Perlunya ditetapkan Pemenang Lomba Cipta Puisi Online V sesuai dengan Kategori yang terdiri dari: Kategori Pelajar, Mahasiswa, dan Umum.
Maka dengan ini memutuskan: Pemenang Lomba Cipta Puisi Online V sebagaimana tercantum di bawah Surat Keputusan ini. Dewan Juri tidak bertanggung jawab apabila di kemudian hari puisi para pemenang ternyata adalah saduran, terjemahan, atau plagiat. Tanggung jawab tersebut terletak pada peserta itu sendiri.
Surat Keputusan ini tidak dapat diganggu gugat, dan berlaku sejak tanggal ditetapkan.
Medan, 24 April 2005
Dewan Juri Lomba Cipta Puisi Online V 2005
Ketua : A. Rahim Qahhar
Sekretaris : Damiri Mahmud
Anggota : Ys. Rat
Pemenang Lomba Cipta Puisi Online 2005 Juara I, II, dan III beserta Juara Harapan I, II, dan III adalah sebagai berikut :
1. Kategori PELAJAR
JUARA I
No.Peserta : 484
Judul : Karena Alam Bersabda dalam Sajak Kita
Nilai : 480
Nama : Hannanur
Domisili : Lhokseumawe
Sekolah : SMUN 2
JUARA II
No.Peserta : 972
Judul : Senandung Pagi
Nilai : 450
Nama : Lego Sitinjak
Domisili : Rantau Prapat
Sekolah : SMA Negeri 1 Rantau Prapat
JUARA III
No.Peserta : 1199
Judul : Karena Aku Penari Cahaya
Nilai : 375
Nama : Suryani
Domisili : NAD
Sekolah : SMPN 1 Bayu
HARAPAN I
No.Peserta : 798
Judul : Cukuplah Merasa Kecil
Nilai : 350
Nama : Syakhrawil Fadli
Domisili : NAD
Sekolah : SMPN 1 Bayu
HARAPAN II
No.Peserta : 1087
Judul : Orang-orang di Bebatuan
Nilai : 300
Nama : Feizal Al Kholik
Domisili : Kep. Babel
Sekolah : SMKN 1 Pkp
HARAPAN III
No.Peserta : 779
Judul : Harap
Nilai : 275
Nama : Ariesty Kartika
Domisili : Kep. Babel
Sekolah : SMUN 1 Pemali
2. Kategori MAHASISWA
JUARA I
No.Peserta : 766
Judul : Mengangon Badai
Nilai : 485
Nama : Januari Sihotang
Domisili : Sumut
Universitas : Fak. Hukum USU
JUARA II
No.Peserta : 876
Judul : Percakapan di Balik Reruntuhan
Nilai : 475
Nama : Rifaul Fanani
Domisili : Riau
Universitas : UIN Suska Pekanbaru
JUARA III
No.Peserta : 976
Judul : Pada Laut Kita Selalu Diam
Nilai : 450
Nama : Muhalib
Domisili : Riau
Universitas : Univ. Islam Riau
HARAPAN I
No.Peserta : 1124
Judul : Sajadah Laut
Nilai : 375
Nama : Ade Efdira
Domisili : Sumbar
Universitas : Univ. Andalas
HARAPAN II
No.Peserta : 449
Judul : Cut, Kuntum Jeumpa Mulai Mekar
Nilai : 350
Nama : Prakoso Bhairawa
Domisili : Palembang
Universitas : Univ. Sriwijaya
HARAPAN III
No.Peserta : 1167
Judul : Talqin Aceh Dan Nias
Nilai : 325
Nama : Aisyah
Domisili : Sumut
Universitas : USU Medan
3. Kategori UMUM
JUARA I
No.Peserta : 803
Judul : Perahu Fansuri, Suatu Pagi
Nilai : 500
Nama : Jimmy Maruli Alfian
Domisili :Lampung
JUARA II
No.Peserta : 187
Judul : Musa yang Membelah Gelombang
Nilai : 475
Nama : M. Raudah Jambak
Domisili : Medan
JUARA III
No.Peserta : 60
Judul : Aceh 1
Nilai : 455
Nama : Isbedy Stiawan ZS
Domisili : Bandar Lampung
HARAPAN I
No.Peserta : 1085
Judul : Ini Riwayat Kami, Bukan Kiamat Kami
Nilai : 400
Nama : Hasan Al Banna
Domisili : Sumut
HARAPAN II
No.Peserta : 878
Judul : Perahu Kita Masih Bersayap
Nilai : 375
Nama : M. Badri
Domisili : Riau
HARAPAN III
No.Peserta : 1163
Judul : Kasidah Bulan
Nilai : 350
Nama : Pandapotan MT Siallagan
Domisili : Riau
Senin, 09 November 2009
MASIH MERDEKAKAH KAU INDONESIA?
MASIH MERDEKAKAH KAU INDONESIA?
Masih merdekakah kau Indonesia
setelah kau rajut usia dari debu-debu jalan raya
dalam kaleng rombeng
recehan angka milik pengemis belia
yang mendendangkan kidung lara
bersama hembusan dupa dari opelet tua
asih merdekakah kau Indonesia
ketika musyawarah berubah dari mufakat
menjadi siasat
ketika wakil rakyat lebih mewakili penjahat
ketika gedung dewan lebih mirip kandang hewan
dan ketika pejabat negara tega menjadi pengkhianat bangsa
Masih merdekakah kau Indonesia
dalam kemerdekaan yang kau sendiri tak paham maknanya
karena matamu telah dibutakan
dan mulutmu disekat rapat-rapat
serta telinga cuma sekedar bunga tanpa rupa
Masih merdekakah kau Indonesia
padahal telah banyak disumbangkan darah dan air mata
dan berjuta nyawa yang akhirnya cuma sekedar wana luka
Masih merdekakah kau Indonesia?
Masih merdekakah kau Indonesia
setelah kau rajut usia dari debu-debu jalan raya
dalam kaleng rombeng
recehan angka milik pengemis belia
yang mendendangkan kidung lara
bersama hembusan dupa dari opelet tua
asih merdekakah kau Indonesia
ketika musyawarah berubah dari mufakat
menjadi siasat
ketika wakil rakyat lebih mewakili penjahat
ketika gedung dewan lebih mirip kandang hewan
dan ketika pejabat negara tega menjadi pengkhianat bangsa
Masih merdekakah kau Indonesia
dalam kemerdekaan yang kau sendiri tak paham maknanya
karena matamu telah dibutakan
dan mulutmu disekat rapat-rapat
serta telinga cuma sekedar bunga tanpa rupa
Masih merdekakah kau Indonesia
padahal telah banyak disumbangkan darah dan air mata
dan berjuta nyawa yang akhirnya cuma sekedar wana luka
Masih merdekakah kau Indonesia?
Minggu, 08 November 2009
PAHLAWAN DAN KEMERDEKAAN
SEORANG ANAK MUDA MASA KINI MENULIS PUISI TENTANG PAHLAWAN DAN KEMERDEKAAN
Oleh :
Husni Djamaluddin
Bagaimana kalian mengendap dalam gelap malam
di lereng strategis sebuah bukit kecil
menghadang konvoi nica
bagaimana jantung kalian deras berdebar
ketika iring-iringan kendaraan itu semakin mendekat
lalu bagaimana tubuhmu ditembus peluru
dan kau rebah ke tanah berlumur darah
terbaring beku
di rumput ilalang
dalam lengang yang panjang
kami tak tahu
ketika itu kami belum tumbuh dirahim ibu
bagaimana kalian dalam seragam kumal
baju compang-camping
menyandang karaben Jepang
di front-front terdepan
bagaimana kalian terpelanting
dari tebing-tebing pertempuran
bagaimana kalian menyerbu tank
dengan bambu runcing
bagaimana kalian bertahan habis-habisan
ketika dikepung musuh dari segala penjuru
bagaimana kalian terbaring
di dinding-dinding kamar pemeriksaan nefis
bagaimana kalian mengunci rapat rahasia pasukan
dalam mulut yang teguh membisu
walau dilistrik jari-jarimu
dan dicabuti kuku-kukumu
bagaimana kesetiakawanan yang menulang-sumsum
bagaimana kaum ibu sibuk bertugas di dapur umum
bagaimana kalian sudah merasa bangga
kalau ke markas bisa naik sepeda
bagaimana semua itu sungguh-sungguh terjadi
dan bukan dongeng
dan bukan mimpi
kami tak alami
kami belum hadir di bumi ini
bagaimana peristiwa-peristiwa itu berlangsung
pastilah satu memori yang agung
tapi adalah memori kalian
dan bukan nostalgia kami
kemerdekaan
telah kalian rebut
kemerdekaan
telah kalian wariskan
kepada negeri ini
kepada kami anak-anakmu
kemerdekaan
menjadikan kami
jadi generasi
yang tak kenal lagi
rasa rendah hati
seperti yang kalian rasakan
di zaman penjajahan
kemerdekaan
ke sekolah naik sepeda
bukan lagi segumpal rasa bangga
seperti kalian dulu
di tahun tiga puluh
kami anak-anakmu
telah kalian belikan
sepeda motor baru
untuk sekolah, ngebut dan pacaran
tetapi
kemerdekaan
yang juga bahkan
menyadarkan kami
tentang peranan yang harus kami mainkan sendiri
dengan tangan sendiri dengan keringat sendiri
sengan bahasa kami sendiri
dalam lagu cinta
tak bersisa
pada tumpah darah
Indonesia
Kemerdekaan
kami tahu
tak hanya dalam deru
sepeda motor
tak cuma meluku tanah dengan traktor
kemerdekaan
bukan hanya langkah-langkah kami
ke gedung-gedung sekolah
kemerdekaan
bukan hanya langkah-langkah petani
ke petak-petak sawah
kemerdekaan
alah pula pintu terbuka
bagi langkah-langkah pemilih
ke kotak-kotak suara
kemerdekaan
adalah ketika hati nurani
bebas melangkah
dengan gagah
bebas berkata
tanpa
terbata-bata
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tapi bukan Tidur sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata kita sedang perang
Dia tidak tahu kapan dia datang
kedua lengannya memeluk senapan
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
kemudian dia terbaring, tetapi bukan tidur sayang
Wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
dunia tambah beku
ditengah degup suara yang menderu
Hari itu 10 November
Hujanpun mulai turun
orang-orang ingin kembali memandangnya
sambil merangkai karangan bunga
tapi yang nampak,
wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
kemudian dia terbaring, tetapi bukan tidur sayang
Senyum bekunya mau berkata:
Aku sangat muda
(Pahlawan Tak Dikenal karya Toto Subagyo Bachtiar)
AKU TULIS PAMPLET INI
Oleh :
W.S. Rendra
Aku tulis pamplet ini
karena lembaga pendapat umum
ditutupi jaring labah-labah
Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,
dan ungkapan diri ditekan
menjadi peng - iya - an
Apa yang terpegang hari ini
bisa luput besok pagi
Ketidakpastian merajalela.
Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki
menjadi marabahaya
menjadi isi kebon binatang
Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,
maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam
Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.
Tidak mengandung perdebatan
Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan
Aku tulis pamplet ini
karena pamplet bukan tabu bagi penyair
Aku inginkan merpati pos.
Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku
Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.
Aku tidak melihat alasan
kenapa harus diam tertekan dan termangu.
Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar.
Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.
Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ?
Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan.
Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.
Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api.
Rembulan memberi mimpi pada dendam.
Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah
yang teronggok bagai sampah
Kegamangan. Kecurigaan.
Ketakutan.
Kelesuan.
Aku tulis pamplet ini
karena kawan dan lawan adalah saudara
Di dalam alam masih ada cahaya.
Matahari yang tenggelam diganti rembulan.
Lalu besok pagi pasti terbit kembali.
Dan di dalam air lumpur kehidupan,
aku melihat bagai terkaca :
ternyata kita, toh, manusia !
Pejambon Jakarta 27 April 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi
Ingredients:
DOA SEORANG SERDADU SEBELUM BERPERANG
Oleh :
W.S. Rendra
Tuhanku,
WajahMu membayang di kota terbakar
dan firmanMu terguris di atas ribuan
kuburan yang dangkal
Anak menangis kehilangan bapa
Tanah sepi kehilangan lelakinya
Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia
Apabila malam turun nanti
sempurnalah sudah warna dosa
dan mesiu kembali lagi bicara
Waktu itu, Tuhanku,
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku menusukkan sangkurku
Malam dan wajahku
adalah satu warna
Dosa dan nafasku
adalah satu udara.
Tak ada lagi pilihan
kecuali menyadari
-biarpun bersama penyesalan-
Apa yang bisa diucapkan
oleh bibirku yang terjajah ?
Sementara kulihat kedua lengaMu yang capai
mendekap bumi yang mengkhianatiMu
Tuhanku
Erat-erat kugenggam senapanku
Perkenankan aku membunuh
Perkenankan aku menusukkan sangkurku
Mimbar Indonesia
Th. XIV, No. 25 /18 Juni 1960
Directions:
GERILYA
Oleh :
W.S. Rendra
Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling di jalan
Angin tergantung
terkecap pahitnya tembakau
bendungan keluh dan bencana
Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan
Dengan tujuh lubang pelor
diketuk gerbang langit
dan menyala mentari muda
melepas kesumatnya
Gadis berjalan di subuh merah
dengan sayur-mayur di punggung
melihatnya pertama
Ia beri jeritan manis
dan duka daun wortel
Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan
Orang-orang kampung mengenalnya
anak janda berambut ombak
ditimba air bergantang-gantang
disiram atas tubuhnya
Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan
Lewat gardu Belanda dengan berani
berlindung warna malam
sendiri masuk kota
ingin ikut ngubur ibunya
Siasat Th IX, No. 42/1955
GUGUR
Oleh :
W.S. Rendra
Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Tiada kuasa lagi menegak
Telah ia lepaskan dengan gemilang
pelor terakhir dari bedilnya
Ke dada musuh yang merebut kotanya
Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Ia sudah tua
luka-luka di badannya
Bagai harimau tua
susah payah maut menjeratnya
Matanya bagai saga
menatap musuh pergi dari kotanya
Sesudah pertempuran yang gemilang itu
lima pemuda mengangkatnya
di antaranya anaknya
Ia menolak
dan tetap merangkak
menuju kota kesayangannya
Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Belumlagi selusin tindak
mautpun menghadangnya.
Ketika anaknya memegang tangannya
ia berkata :
" Yang berasal dari tanah
kembali rebah pada tanah.
Dan aku pun berasal dari tanah
tanah Ambarawa yang kucinta
Kita bukanlah anak jadah
Kerna kita punya bumi kecintaan.
Bumi yang menyusui kita
dengan mata airnya.
Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.
Bumi kita adalah kehormatan.
Bumi kita adalah juwa dari jiwa.
Ia adalah bumi nenek moyang.
Ia adalah bumi waris yang sekarang.
Ia adalah bumi waris yang akan datang."
Hari pun berangkat malam
Bumi berpeluh dan terbakar
Kerna api menyala di kota Ambarawa
Orang tua itu kembali berkata :
"Lihatlah, hari telah fajar !
Wahai bumi yang indah,
kita akan berpelukan buat selama-lamanya !
Nanti sekali waktu
seorang cucuku
akan menacapkan bajak
di bumi tempatku berkubur
kemudian akan ditanamnya benih
dan tumbuh dengan subur
Maka ia pun berkata :
-Alangkah gemburnya tanah di sini!"
Hari pun lengkap malam
ketika menutup matanya
HAI, KAMU !
Oleh :
W.S. Rendra
Luka-luka di dalam lembaga,
intaian keangkuhan kekerdilan jiwa,
noda di dalam pergaulan antar manusia,
duduk di dalam kemacetan angan-angan.
Aku berontak dengan memandang cakrawala.
Jari-jari waktu menggamitku.
Aku menyimak kepada arus kali.
Lagu margasatwa agak mereda.
Indahnya ketenangan turun ke hatiku.
Lepas sudah himpitan-himpitan yang mengekangku.
Jakarta, 29 Pebruari 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi
LAGU SEORANG GERILYA
(Untuk puteraku Isaias Sadewa)
Oleh :
W.S. Rendra
Engkau melayang jauh, kekasihku.
Engkau mandi cahaya matahari.
Aku di sini memandangmu,
menyandang senapan, berbendera pusaka.
Di antara pohon-pohon pisang di kampung kita yang berdebu,
engkau berkudung selendang katun di kepalamu.
Engkau menjadi suatu keindahan,
sementara dari jauh
resimen tank penindas terdengar menderu.
Malam bermandi cahaya matahari,
kehijauan menyelimuti medan perang yang membara.
Di dalam hujan tembakan mortir, kekasihku,
engkau menjadi pelangi yang agung dan syahdu
Peluruku habis
dan darah muncrat dari dadaku.
Maka di saat seperti itu
kamu menyanyikan lagu-lagu perjuangan
bersama kakek-kakekku yang telah gugur
di dalam berjuang membela rakyat jelata
Jakarta, 2 september 1977
Potret Pembangunan dalam Puisi
LAGU SERDADU
Oleh :
W.S. Rendra
Kami masuk serdadu dan dapat senapang
ibu kami nangis tapi elang toh harus terbang
Yoho, darah kami campur arak!
Yoho, mimpi kami patung-patung dari perak
Nenek cerita pulau-pulau kita indah sekali
Wahai, tanah yang baik untuk mati
Dan kalau ku telentang dengan pelor timah
cukilah ia bagi puteraku di rumah
Siasat
No. 630, th. 13/Nopember 1959
NOTA BENE : AKU KANGEN
Oleh :
W.S. Rendra
Lunglai - ganas karena bahagia dan sedih,
indah dan gigih cinta kita di dunia yang fana.
Nyawamu dan nyawaku dijodohkan langit,
dan anak kita akan lahir di cakrawala.
Ada pun mata kita akan terus bertatapan hingga berabad-abad lamanya.
Juwitaku yang cakap meskipun tanpa dandanan
untukmu hidupku terbuka.
Warna-warna kehidupan berpendar-pendar menakjubkan
Isyarat-isyarat getaran ajaib menggerakkan penaku.
Tanpa sekejap pun luput dari kenangan padamu
aku bergerak menulis pamplet, mempertahankan kehidupan.
Jakarta, Kotabumi, 24 Maret 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi
ORANG-ORANG MISKIN
Oleh :
W.S. Rendra
Orang-orang miskin di jalan,
yang tinggal di dalam selokan,
yang kalah di dalam pergulatan,
yang diledek oleh impian,
janganlah mereka ditinggalkan.
Angin membawa bau baju mereka.
Rambut mereka melekat di bulan purnama.
Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
mengandung buah jalan raya.
Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.
Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.
Tak bisa kamu abaikan.
Bila kamu remehkan mereka,
di jalan kamu akan diburu bayangan.
Tidurmu akan penuh igauan,
dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.
Jangan kamu bilang negara ini kaya
karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.
Jangan kamu bilang dirimu kaya
bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
Dan perlu diusulkan
agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.
Orang-orang miskin di jalan
masuk ke dalam tidur malammu.
Perempuan-perempuan bunga raya
menyuapi putra-putramu.
Tangan-tangan kotor dari jalanan
meraba-raba kaca jendelamu.
Mereka tak bisa kamu biarkan.
Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.
Mereka akan menjadi pertanyaan
yang mencegat ideologimu.
Gigi mereka yang kuning
akan meringis di muka agamamu.
Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
akan hinggap di gorden presidenan
dan buku programma gedung kesenian.
Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,
bagai udara panas yang selalu ada,
bagai gerimis yang selalu membayang.
Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
tertuju ke dada kita,
atau ke dada mereka sendiri.
O, kenangkanlah :
orang-orang miskin
juga berasal dari kemah Ibrahim
Yogya, 4 Pebruari 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi
PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA
Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, dari manakah mereka
ke stasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa
sebelum peluit kereta pagi terjaga
sebelum hari bermula dalam pesta kerja
Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta, kemanakah mereka
di atas roda-roda baja mereka berkendara
mereka berlomba dengan surya menuju gerbang kota
merebut hidup di pasar-pasar kota
Perempuan-perempuan perkasa yang membawa bakul di pagi buta, siapakah mereka
mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa
akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
mereka : cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa
DARI SEORANG GURU KEPADA MURID-MURIDNYA
Apakah yang kupunya, anak-anakku
selain buku-buku dan sedikit ilmu
sumber pengabdian kepadamu
Kalau di hari Minggu engkau datang ke rumahku
aku takut, anak-anakku
kursi-kursi tua yang di sana
dan meja tulis sederhana
dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya
semua padamu akan bercerita
tentang hidup di rumah tangga
Ah, tentang ini aku tak pernah bercerita
depan kelas, sedang menatap wajah-wajahmu remaja
- horison yang selalu biru bagiku -
karena kutahu, anak-anakku
engkau terlalu muda
engkau terlalu bersih dari dosa
untuk mengenal ini semua
RAKYAT
hadiah di hari krida
buat siswa-siswa SMA Negeri
Simpang Empat, Pasaman
Rakyat ialah kita
jutaaan tangan yang mengayun dalam kerja
di bumi di tanah tercinta
jutaan tangan mengayun bersama
membuka hutan-hutan lalang jadi ladang-ladang berbunga
mengepulkan asap dari cerobong pabrik-pabrik di kota
menaikkan layar menebar jala
meraba kelam di tambang logam dan batubara
Rakyat ialah tangan yang bekerja
Rakyat ialah kita
otak yang menapak sepanjang jemaring angka-angka
yang selalu berkata dua adalah dua
yang bergerak di simpang siur garis niaga
Rakyat ialah otak yang menulis angka-angka
Rakyat ialah kita
beragam suara di langit tanah tercinta
suara bangsi di rumah berjenjang bertangga
suara kecapi di pegunungan jelita
suara bonang mengambang di pendapa
suara kecak di muka pura
suara tifa di hutan kebun pala
Rakyat ialah suara beraneka
Rakyat ialah kita
puisi kaya makna di wajah semesta
di darat
hari yang beringat
gunung batu berwarna coklat
di laut
angin yang menyapu kabut
awan menyimpan topan
Rakyat ialah puisi di wajah semesta
Rakyat ialah kita
darah di tubuh bangsa
debar sepanjang masa
PRAJURIT JAGA MALAM
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu......
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !
(1948)
Siasat,
Th III, No. 96
1949
MALAM
Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
--Thermopylae?-
- jagal tidak dikenal ? -
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang
Zaman Baru,
No. 11-12
20-30 Agustus 1957
KRAWANG-BEKASI
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
(1948)
Brawidjaja,
Jilid 7, No 16,
1957
DIPONEGORO
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang
(Februari 1943)
Budaya,
Th III, No. 8
Agustus 1954
PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO
Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut
Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh
(1948)
Liberty,
Jilid 7, No 297,
1954
________________________________________
Thursday, April 03, 2003
AKU
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Maret 1943
PENERIMAAN
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.
Maret 1943
HAMPA
kepada sri
Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.
DOA
kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
13 November 1943
SAJAK PUTIH
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah...
SENJA DI PELABUHAN KECIL
buat: Sri Ajati
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
1946
CINTAKU JAUH DI PULAU
Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.
Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"
Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.
1946
MALAM DI PEGUNUNGAN
Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!
1947
YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS
kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin
aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku
1949
DERAI DERAI CEMARA
cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini
hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
1949
Oleh :
Husni Djamaluddin
Bagaimana kalian mengendap dalam gelap malam
di lereng strategis sebuah bukit kecil
menghadang konvoi nica
bagaimana jantung kalian deras berdebar
ketika iring-iringan kendaraan itu semakin mendekat
lalu bagaimana tubuhmu ditembus peluru
dan kau rebah ke tanah berlumur darah
terbaring beku
di rumput ilalang
dalam lengang yang panjang
kami tak tahu
ketika itu kami belum tumbuh dirahim ibu
bagaimana kalian dalam seragam kumal
baju compang-camping
menyandang karaben Jepang
di front-front terdepan
bagaimana kalian terpelanting
dari tebing-tebing pertempuran
bagaimana kalian menyerbu tank
dengan bambu runcing
bagaimana kalian bertahan habis-habisan
ketika dikepung musuh dari segala penjuru
bagaimana kalian terbaring
di dinding-dinding kamar pemeriksaan nefis
bagaimana kalian mengunci rapat rahasia pasukan
dalam mulut yang teguh membisu
walau dilistrik jari-jarimu
dan dicabuti kuku-kukumu
bagaimana kesetiakawanan yang menulang-sumsum
bagaimana kaum ibu sibuk bertugas di dapur umum
bagaimana kalian sudah merasa bangga
kalau ke markas bisa naik sepeda
bagaimana semua itu sungguh-sungguh terjadi
dan bukan dongeng
dan bukan mimpi
kami tak alami
kami belum hadir di bumi ini
bagaimana peristiwa-peristiwa itu berlangsung
pastilah satu memori yang agung
tapi adalah memori kalian
dan bukan nostalgia kami
kemerdekaan
telah kalian rebut
kemerdekaan
telah kalian wariskan
kepada negeri ini
kepada kami anak-anakmu
kemerdekaan
menjadikan kami
jadi generasi
yang tak kenal lagi
rasa rendah hati
seperti yang kalian rasakan
di zaman penjajahan
kemerdekaan
ke sekolah naik sepeda
bukan lagi segumpal rasa bangga
seperti kalian dulu
di tahun tiga puluh
kami anak-anakmu
telah kalian belikan
sepeda motor baru
untuk sekolah, ngebut dan pacaran
tetapi
kemerdekaan
yang juga bahkan
menyadarkan kami
tentang peranan yang harus kami mainkan sendiri
dengan tangan sendiri dengan keringat sendiri
sengan bahasa kami sendiri
dalam lagu cinta
tak bersisa
pada tumpah darah
Indonesia
Kemerdekaan
kami tahu
tak hanya dalam deru
sepeda motor
tak cuma meluku tanah dengan traktor
kemerdekaan
bukan hanya langkah-langkah kami
ke gedung-gedung sekolah
kemerdekaan
bukan hanya langkah-langkah petani
ke petak-petak sawah
kemerdekaan
alah pula pintu terbuka
bagi langkah-langkah pemilih
ke kotak-kotak suara
kemerdekaan
adalah ketika hati nurani
bebas melangkah
dengan gagah
bebas berkata
tanpa
terbata-bata
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tapi bukan Tidur sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata kita sedang perang
Dia tidak tahu kapan dia datang
kedua lengannya memeluk senapan
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
kemudian dia terbaring, tetapi bukan tidur sayang
Wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
dunia tambah beku
ditengah degup suara yang menderu
Hari itu 10 November
Hujanpun mulai turun
orang-orang ingin kembali memandangnya
sambil merangkai karangan bunga
tapi yang nampak,
wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
kemudian dia terbaring, tetapi bukan tidur sayang
Senyum bekunya mau berkata:
Aku sangat muda
(Pahlawan Tak Dikenal karya Toto Subagyo Bachtiar)
AKU TULIS PAMPLET INI
Oleh :
W.S. Rendra
Aku tulis pamplet ini
karena lembaga pendapat umum
ditutupi jaring labah-labah
Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,
dan ungkapan diri ditekan
menjadi peng - iya - an
Apa yang terpegang hari ini
bisa luput besok pagi
Ketidakpastian merajalela.
Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki
menjadi marabahaya
menjadi isi kebon binatang
Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,
maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam
Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.
Tidak mengandung perdebatan
Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan
Aku tulis pamplet ini
karena pamplet bukan tabu bagi penyair
Aku inginkan merpati pos.
Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku
Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.
Aku tidak melihat alasan
kenapa harus diam tertekan dan termangu.
Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar.
Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.
Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ?
Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan.
Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.
Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api.
Rembulan memberi mimpi pada dendam.
Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah
yang teronggok bagai sampah
Kegamangan. Kecurigaan.
Ketakutan.
Kelesuan.
Aku tulis pamplet ini
karena kawan dan lawan adalah saudara
Di dalam alam masih ada cahaya.
Matahari yang tenggelam diganti rembulan.
Lalu besok pagi pasti terbit kembali.
Dan di dalam air lumpur kehidupan,
aku melihat bagai terkaca :
ternyata kita, toh, manusia !
Pejambon Jakarta 27 April 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi
Ingredients:
DOA SEORANG SERDADU SEBELUM BERPERANG
Oleh :
W.S. Rendra
Tuhanku,
WajahMu membayang di kota terbakar
dan firmanMu terguris di atas ribuan
kuburan yang dangkal
Anak menangis kehilangan bapa
Tanah sepi kehilangan lelakinya
Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia
Apabila malam turun nanti
sempurnalah sudah warna dosa
dan mesiu kembali lagi bicara
Waktu itu, Tuhanku,
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku menusukkan sangkurku
Malam dan wajahku
adalah satu warna
Dosa dan nafasku
adalah satu udara.
Tak ada lagi pilihan
kecuali menyadari
-biarpun bersama penyesalan-
Apa yang bisa diucapkan
oleh bibirku yang terjajah ?
Sementara kulihat kedua lengaMu yang capai
mendekap bumi yang mengkhianatiMu
Tuhanku
Erat-erat kugenggam senapanku
Perkenankan aku membunuh
Perkenankan aku menusukkan sangkurku
Mimbar Indonesia
Th. XIV, No. 25 /18 Juni 1960
Directions:
GERILYA
Oleh :
W.S. Rendra
Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling di jalan
Angin tergantung
terkecap pahitnya tembakau
bendungan keluh dan bencana
Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan
Dengan tujuh lubang pelor
diketuk gerbang langit
dan menyala mentari muda
melepas kesumatnya
Gadis berjalan di subuh merah
dengan sayur-mayur di punggung
melihatnya pertama
Ia beri jeritan manis
dan duka daun wortel
Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan
Orang-orang kampung mengenalnya
anak janda berambut ombak
ditimba air bergantang-gantang
disiram atas tubuhnya
Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan
Lewat gardu Belanda dengan berani
berlindung warna malam
sendiri masuk kota
ingin ikut ngubur ibunya
Siasat Th IX, No. 42/1955
GUGUR
Oleh :
W.S. Rendra
Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Tiada kuasa lagi menegak
Telah ia lepaskan dengan gemilang
pelor terakhir dari bedilnya
Ke dada musuh yang merebut kotanya
Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Ia sudah tua
luka-luka di badannya
Bagai harimau tua
susah payah maut menjeratnya
Matanya bagai saga
menatap musuh pergi dari kotanya
Sesudah pertempuran yang gemilang itu
lima pemuda mengangkatnya
di antaranya anaknya
Ia menolak
dan tetap merangkak
menuju kota kesayangannya
Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Belumlagi selusin tindak
mautpun menghadangnya.
Ketika anaknya memegang tangannya
ia berkata :
" Yang berasal dari tanah
kembali rebah pada tanah.
Dan aku pun berasal dari tanah
tanah Ambarawa yang kucinta
Kita bukanlah anak jadah
Kerna kita punya bumi kecintaan.
Bumi yang menyusui kita
dengan mata airnya.
Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.
Bumi kita adalah kehormatan.
Bumi kita adalah juwa dari jiwa.
Ia adalah bumi nenek moyang.
Ia adalah bumi waris yang sekarang.
Ia adalah bumi waris yang akan datang."
Hari pun berangkat malam
Bumi berpeluh dan terbakar
Kerna api menyala di kota Ambarawa
Orang tua itu kembali berkata :
"Lihatlah, hari telah fajar !
Wahai bumi yang indah,
kita akan berpelukan buat selama-lamanya !
Nanti sekali waktu
seorang cucuku
akan menacapkan bajak
di bumi tempatku berkubur
kemudian akan ditanamnya benih
dan tumbuh dengan subur
Maka ia pun berkata :
-Alangkah gemburnya tanah di sini!"
Hari pun lengkap malam
ketika menutup matanya
HAI, KAMU !
Oleh :
W.S. Rendra
Luka-luka di dalam lembaga,
intaian keangkuhan kekerdilan jiwa,
noda di dalam pergaulan antar manusia,
duduk di dalam kemacetan angan-angan.
Aku berontak dengan memandang cakrawala.
Jari-jari waktu menggamitku.
Aku menyimak kepada arus kali.
Lagu margasatwa agak mereda.
Indahnya ketenangan turun ke hatiku.
Lepas sudah himpitan-himpitan yang mengekangku.
Jakarta, 29 Pebruari 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi
LAGU SEORANG GERILYA
(Untuk puteraku Isaias Sadewa)
Oleh :
W.S. Rendra
Engkau melayang jauh, kekasihku.
Engkau mandi cahaya matahari.
Aku di sini memandangmu,
menyandang senapan, berbendera pusaka.
Di antara pohon-pohon pisang di kampung kita yang berdebu,
engkau berkudung selendang katun di kepalamu.
Engkau menjadi suatu keindahan,
sementara dari jauh
resimen tank penindas terdengar menderu.
Malam bermandi cahaya matahari,
kehijauan menyelimuti medan perang yang membara.
Di dalam hujan tembakan mortir, kekasihku,
engkau menjadi pelangi yang agung dan syahdu
Peluruku habis
dan darah muncrat dari dadaku.
Maka di saat seperti itu
kamu menyanyikan lagu-lagu perjuangan
bersama kakek-kakekku yang telah gugur
di dalam berjuang membela rakyat jelata
Jakarta, 2 september 1977
Potret Pembangunan dalam Puisi
LAGU SERDADU
Oleh :
W.S. Rendra
Kami masuk serdadu dan dapat senapang
ibu kami nangis tapi elang toh harus terbang
Yoho, darah kami campur arak!
Yoho, mimpi kami patung-patung dari perak
Nenek cerita pulau-pulau kita indah sekali
Wahai, tanah yang baik untuk mati
Dan kalau ku telentang dengan pelor timah
cukilah ia bagi puteraku di rumah
Siasat
No. 630, th. 13/Nopember 1959
NOTA BENE : AKU KANGEN
Oleh :
W.S. Rendra
Lunglai - ganas karena bahagia dan sedih,
indah dan gigih cinta kita di dunia yang fana.
Nyawamu dan nyawaku dijodohkan langit,
dan anak kita akan lahir di cakrawala.
Ada pun mata kita akan terus bertatapan hingga berabad-abad lamanya.
Juwitaku yang cakap meskipun tanpa dandanan
untukmu hidupku terbuka.
Warna-warna kehidupan berpendar-pendar menakjubkan
Isyarat-isyarat getaran ajaib menggerakkan penaku.
Tanpa sekejap pun luput dari kenangan padamu
aku bergerak menulis pamplet, mempertahankan kehidupan.
Jakarta, Kotabumi, 24 Maret 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi
ORANG-ORANG MISKIN
Oleh :
W.S. Rendra
Orang-orang miskin di jalan,
yang tinggal di dalam selokan,
yang kalah di dalam pergulatan,
yang diledek oleh impian,
janganlah mereka ditinggalkan.
Angin membawa bau baju mereka.
Rambut mereka melekat di bulan purnama.
Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
mengandung buah jalan raya.
Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.
Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.
Tak bisa kamu abaikan.
Bila kamu remehkan mereka,
di jalan kamu akan diburu bayangan.
Tidurmu akan penuh igauan,
dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.
Jangan kamu bilang negara ini kaya
karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.
Jangan kamu bilang dirimu kaya
bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
Dan perlu diusulkan
agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.
Orang-orang miskin di jalan
masuk ke dalam tidur malammu.
Perempuan-perempuan bunga raya
menyuapi putra-putramu.
Tangan-tangan kotor dari jalanan
meraba-raba kaca jendelamu.
Mereka tak bisa kamu biarkan.
Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.
Mereka akan menjadi pertanyaan
yang mencegat ideologimu.
Gigi mereka yang kuning
akan meringis di muka agamamu.
Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
akan hinggap di gorden presidenan
dan buku programma gedung kesenian.
Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,
bagai udara panas yang selalu ada,
bagai gerimis yang selalu membayang.
Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
tertuju ke dada kita,
atau ke dada mereka sendiri.
O, kenangkanlah :
orang-orang miskin
juga berasal dari kemah Ibrahim
Yogya, 4 Pebruari 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi
PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA
Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, dari manakah mereka
ke stasiun kereta mereka datang dari bukit-bukit desa
sebelum peluit kereta pagi terjaga
sebelum hari bermula dalam pesta kerja
Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta, kemanakah mereka
di atas roda-roda baja mereka berkendara
mereka berlomba dengan surya menuju gerbang kota
merebut hidup di pasar-pasar kota
Perempuan-perempuan perkasa yang membawa bakul di pagi buta, siapakah mereka
mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa
akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota
mereka : cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa
DARI SEORANG GURU KEPADA MURID-MURIDNYA
Apakah yang kupunya, anak-anakku
selain buku-buku dan sedikit ilmu
sumber pengabdian kepadamu
Kalau di hari Minggu engkau datang ke rumahku
aku takut, anak-anakku
kursi-kursi tua yang di sana
dan meja tulis sederhana
dan jendela-jendela yang tak pernah diganti kainnya
semua padamu akan bercerita
tentang hidup di rumah tangga
Ah, tentang ini aku tak pernah bercerita
depan kelas, sedang menatap wajah-wajahmu remaja
- horison yang selalu biru bagiku -
karena kutahu, anak-anakku
engkau terlalu muda
engkau terlalu bersih dari dosa
untuk mengenal ini semua
RAKYAT
hadiah di hari krida
buat siswa-siswa SMA Negeri
Simpang Empat, Pasaman
Rakyat ialah kita
jutaaan tangan yang mengayun dalam kerja
di bumi di tanah tercinta
jutaan tangan mengayun bersama
membuka hutan-hutan lalang jadi ladang-ladang berbunga
mengepulkan asap dari cerobong pabrik-pabrik di kota
menaikkan layar menebar jala
meraba kelam di tambang logam dan batubara
Rakyat ialah tangan yang bekerja
Rakyat ialah kita
otak yang menapak sepanjang jemaring angka-angka
yang selalu berkata dua adalah dua
yang bergerak di simpang siur garis niaga
Rakyat ialah otak yang menulis angka-angka
Rakyat ialah kita
beragam suara di langit tanah tercinta
suara bangsi di rumah berjenjang bertangga
suara kecapi di pegunungan jelita
suara bonang mengambang di pendapa
suara kecak di muka pura
suara tifa di hutan kebun pala
Rakyat ialah suara beraneka
Rakyat ialah kita
puisi kaya makna di wajah semesta
di darat
hari yang beringat
gunung batu berwarna coklat
di laut
angin yang menyapu kabut
awan menyimpan topan
Rakyat ialah puisi di wajah semesta
Rakyat ialah kita
darah di tubuh bangsa
debar sepanjang masa
PRAJURIT JAGA MALAM
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu......
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !
(1948)
Siasat,
Th III, No. 96
1949
MALAM
Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
--Thermopylae?-
- jagal tidak dikenal ? -
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang
Zaman Baru,
No. 11-12
20-30 Agustus 1957
KRAWANG-BEKASI
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
(1948)
Brawidjaja,
Jilid 7, No 16,
1957
DIPONEGORO
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang
(Februari 1943)
Budaya,
Th III, No. 8
Agustus 1954
PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO
Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut
Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh
(1948)
Liberty,
Jilid 7, No 297,
1954
________________________________________
Thursday, April 03, 2003
AKU
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Maret 1943
PENERIMAAN
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.
Maret 1943
HAMPA
kepada sri
Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.
DOA
kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
13 November 1943
SAJAK PUTIH
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah...
SENJA DI PELABUHAN KECIL
buat: Sri Ajati
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
1946
CINTAKU JAUH DI PULAU
Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.
Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"
Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.
1946
MALAM DI PEGUNUNGAN
Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!
1947
YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS
kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin
aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku
1949
DERAI DERAI CEMARA
cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini
hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
1949
Minggu, 11 Oktober 2009
M. Raudah Jambak, lahir di Medan-5 Januari 1972
M. Raudah Jambak, lahir di Medan-5 Januari 1972. Jatuh cinta dengan teater sejak di ESEMPE. Lalu melamar teater LKK di IKIP 1993. 1994/1995 ditunjuk sebagai ketua Teater LKK IKIP Medan, kemudian melahir kan beberapa nas kah dan pementasan baik sebagai pemain, kru, atau sutradara(radio, TeVe, ikLan, fiLm dan panggung). Penggagas festival DKOKUK LKK IKIP MEDAN (1995). 1995 ikut membidani SANGGAR TEA TER GENERASI MEDAN dan tercatat sebagai pengurus angkatan I (bid. DIKLAT) sam pai sekarang. Bergabung juga di PATRIA 1995. Beberapa kali diajak bergotong ro yong oleh bebe rapa kelompok teater di Medan, seperti : PATRIA, NUANSA, NASIO NAL, IMAGO, MERDEKA, ANAK NEGERI, BLOK, GENERASI, Dan Lupa Lagi. Beberapa kali me menangkan festival baik sebagai pemain, artistik, penu lis naskah, dan sutradara. Sebagai pengamat tetap PARADE TEATER PELAJAR dari 2003 s/d 2006 ditunjuk Aso siasi Teater Sumatera Utara. Juri tetap festival teater (DKOKUK) sampai 2005. Melatih teater di beberapa sekolah sampai sekarang. Instruktur Acting D’WIN DOWS PRODUC TIONS sampai 2008. Riwayat pementasan serius setamat sekolah sejak 1993 di LKK IKIP (sekarang UNIMED) Medan. Tampil dalam TASSEMATA di TBSU 1994. 1995 menyutradarai SANG PENYAIR di Taman Budaya Sumatera Utara. ABRA KA DAB RA di pentas tertutup TIM Jakarta, 1996 dalam rangkaian Pekan Seni Mahasis wa tingkat Nasional. MENYIBAK TIRAI MASA DEPAN 1997 di Pardede Hall. WA JAH KITA 1998 di hotel GARUDA PLAZA Konvention Hall. TRAGEDI AL-HALLAJ di Hotel Tiara Konvention Hall 1999. PE TANG DI TAMAN di TBSU 2000. PEJUANG 2000 di Departeman Pariwisata, Seni dan Budaya Pematang Siantar. MARNI di TVRI Medan 2001. TANAH GARAPAN di TVRI 2002. Mengikuti workshop MASTERA, di Bogor (2003), Festival Teater Alternatif GKJ Awards, di Jakarta (2003) dan workshop teater alternatif, di TIM Jakarta (2003), Pameran dan Perge laran Seni Se-Sumatera, di Taman Budaya Banda Aceh-Monolog ANJING MASIH MENGGONGONG (2004). Menyutra darai monolog "Indonesia Undercover" dalam seleksi Monolog 2005, di Taman Budaya Suma tera dalam rangka monolog nasional di Graha Bakti, Taman Ismail Marzuki. 2006 JODOH PARADE TEATER SUMUT di TBSU. 2007 menyutradarai PEREMPUAN TANPA KEPALA di TBSU. 2008 JODOH SABTU TERTAWA ALA KAMPUSI di TBSU. Menyutradarai TIURMAIDA 08/09 di TBSU. Di 2009 dalam CUBLIS di TBSU terlibat sebagai Co- Sutradara-bersama penulis/pemain Hasan Al-Banna, dalam rangkaian Jaringan Teater Se-Sumatera di LAMPUNG. Saat ini selain di FKS, HISKI, SIAN, AGBSI, HSBI dan GENERASI juga membidani Komunitas Home Poetry (Komunitas HP-1997) sekaligus sebagai Ketua Umum, juga bertugas di beberapa sekolah sebagai staf pengajar, Di perguruan dan Univeristas Panca Budi (Fakultas Agama Islam dan Fakultas Filsafat). Alamat kontak-Taman Budaya Sumatera Utara, Jl.Perintis Ke merdekaan No. 33 Me dan. HP. 085830805157/ 0618460419. Alamat rumah: Jl. Murai batu e. 10, Kompleks rajawali indah-Sunggal-Medan. Kantor: SMK Panca Budi – 2,
Jl. Gatot Subroto km 4,3. E-Mail: mraudahjambak@plasa.com. – mraudahjambak@yahoo.com. Pandangan hidupnya belajarlah tanpa henti, maka engkau ada. Lebih baik ber karya daripada mencela. Karya akan menjadikanmu ada, rendah hati akan menjadikannya abadi, dan kesombongan akan menghancurkannya perlahan. Ingat sejarah akan terus mencatat.......................! Walaupun tidak ada yang baru di bawah matahari......................!MARI BERFIKIR MERDEKA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Jl. Gatot Subroto km 4,3. E-Mail: mraudahjambak@plasa.com. – mraudahjambak@yahoo.com. Pandangan hidupnya belajarlah tanpa henti, maka engkau ada. Lebih baik ber karya daripada mencela. Karya akan menjadikanmu ada, rendah hati akan menjadikannya abadi, dan kesombongan akan menghancurkannya perlahan. Ingat sejarah akan terus mencatat.......................! Walaupun tidak ada yang baru di bawah matahari......................!MARI BERFIKIR MERDEKA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Kamis, 11 Juni 2009
PUISI-PUISI PENYAIR SUMATERA UTARA
PUISI M. RAUDAH JAMBAK
DI POJOK RUMAH SAKIT BERLANTAI TIGA
: fragmen-fragmen penyembuhan
Di pojok rumah sakit berlantai tiga
Detik maut pelan-pelan mengukir nisan memipih-pipih umur kami
Setiap tetes air mata yang jatuh adalah harapan yang perlahan menjauh
Sakit kami seolah menghunuskan napas yang semakin aus
Berharap izrail menunda waktu melepas sauh
Berharap tuhan masih berumah di tubuh
Jika ternyata hidup hanya di genang air mata
Biarlah jiwa yang lara tenggelam di dasarnya
Melumpurkan debu-debu kesakitan yang meradang
Pada raga di kurung masa ke masa
Jika ternyata hidup hanya di genang air mata
Biarlah angin mengirimkan lembut lengannya
Membawa segala aroma-aroma telaga surga
Dari kepedihan seluas samudera
Jika tenyata hidup selalu di genang air mata
Maka hapuslah lara kami, hanguskan duka kami
Biar jadi debu, biar jadi abu yang dihanyutkan
Sungai-sungai hati menuju muara cinta
Jika ternyata hidup selalu di genang air mata
Adakah tempat untuk membangun dermaga
Tempat kapal-kapal kami membangun rumah
Menyusun segala rencana menuju ke pulau bahagia
Padahal pernah kami serahkan utuh-utuh hati kami, padamu
Tetapi kau balur jiwa kami sepenuh empedu
Mata kami yang berpijar, berbinar
Tetapi padamu kau susun kelam, buram
Kami berpikir kau adalah pengobat hati
Ternyata kau bakteri yang menanam nyeri
Aduh, ibu
Bersebab narkoba kami celaka
Aduh, bapak
Bersebab narkoba kami merana
Aduh, tuhan kami
Kami terlanjur lupa memaknai diri
Dulu ketika hidup kami di belenggu ragu
Siapa lawan dan kawan kami tak tahu
Dulu ketika cinta di gunting putus asa
Tak ada tempat berbagi suka dan duka
Dulu ketika segalanya hilang entah ke mana
Psikotropika seolah sahabat berbagi duka
Ternyata setelah berbagi setia berlama-lama
Lara hati membara sepanjang usia
Membelenggu jiwa
Menumpuk derita
Membisa racunnya
Di pojok rumah sakit berlantai tiga
semoga maut enggan menjemput umur kami
Setiap tetes do’a membasuh adalah harapan yang berlabuh
Sakit kami adalah sampan-sampan sebuah pengakuan
Berharap izrail menunda waktu melepas sauh
Berharap tuhan masih berumah di tubuh
Medan, 01-09
SEKOLAH, NAK
Sekolah, Nak
Jika memang sekolah itu mampu mewujudkan
Cita-citamu menjadi dokter yang mengobati
Negeri yang sedang sakit ini, bersebab narkoba
pahami semua mata pelajaran secara bersahaja
jangan hanya hitung-hitungan saja
Sebab pikiranmu nanti akan tertanam
Sekadar keuntunganmu pribadi
Buta dengan kerugian orang lain
Boleh, Nak
Kau boleh jadi jaksa, apalagi jadi hakim
Tapi hati-hati, sebab kau akan tergelincir
Hanya untuk mempermainkan hati nurani di balik
Gelar yang kau pugar, dan jika masih begitu
Lebih baik kau jadi pedagang saja yang jelas
Ukuran timbangannya, itupun jika kau pedagang kecil
Seandainya kau pedagang besar, maka kau akan merepotkan
Pemerintah dengan kerugian yang milyaran
Siapkan dirimu jadi pemimpin, Nak
Sebab banyak pemimpin yang lebih siap
Jadi anak buah, pesuruh atau pecundang
Dalam pikiran mereka rakyat bukan apa-apa
Jika negara adikuasa yang mengerdipkan mata
Agama hanya jadi rawa-rawa penghalang
Akal bulus keinginan mereka menaikkan tarif
Setinggi-tingginya,menghukum maling ayam
Dengan cara yang paling jahanam
Sementara pelaku korupsi masih diberikan
Hukuman bergaransi
Sekolah, Nak
Jika memang sekolah itu mampu menjadikan kita
manusia berakal budi-berhati mulia
dalam setiap detik alirkanlah do’a-do’a
memohon kepada sang pencipta
karena dialah yang layak sempurna dipercaya
medan, 04
PUISI HARTA PINEM
NANDE GODA
Aku, Nande Goda
lahir dari rahim Gunung Sinabung
ibuku, petani kampung
ayahku, bekas pejuang revolusi berpangkat kopral
waktu Agresi Militer II aku dibawa ibu mengungsi ke hutan
tidur berselimutkan daun-daun
makananku keladi rebus dan singkong hutan
begitulah, aku dibesarkan ayah dan ibuku dengan sederhana
bermenukan cinta dan kasih sayang
di tengah saudara-saudaraku aku disebut perempuan binal
dan gampang memberontak
setelah remaja aku dijodohkan kedua orangtuaku
dengan seorang pria sesuku yang lugu dan baik hati
keluarganya masih punya hubungan darah dengan keluargaku
kata ibu beliau masih ipar dekatku dari garis keturunan ayah
aku tidak tahu inikah namanya cinta
namun satu persatu anakku berlahiran
mereka semua butuh belanja
aku tak punya keahlian
sedang ke ladang bukanlah kesukaanku
pening kepalaku berhadapan dengan cangkul dan matahari
akhirnya aku jadi berjualan sayur ke pekan-pekan
sedang suamiku jadi petani jeruk di kebun
pergi subuh pulang malam kini jadi jadwal rutin keseharianku
mula-mula biasa saja dan rezeki mengalir ke rumah tangga kami
lama-lama karena setiap hari bertemu
aku jatuh hati pada sopir langgananku
dia sudah beranak lima dan aku pun beranak banyak
tapi dalam bercinta kami merasa jadi muda kembali
seperti buah durian masak di pohon
bau aib itu akhirnya tercium juga oleh keluarga
balik ke rumah seperti pulang ke neraka
suami kurasa jadi musuh besar
sang pacar gelap menghasutku bertindak nekat habisi nyawa suami
biar bebas perjalanan berbuat jinah
aduh cintaku!
17 liang di dadanya cukuplah
kata orang aku bejat moral
tapi bagaimana, tindakanku sudah terlanjur basah
Aku Nande Goda !
suamiku kubunuh dengan keji
begitu aku disuruh petugas berteriak
Aku Nande Goda !
suamiku kubunuh dengan tega
begitu aku digelandang berkeliling kota
orang-orang menyambutku dengan wajah murka
sambil meludahi wajahku
mereka sebut aku perempuan binal tak beradat
tapi bagaimana, perbuatanku sudah telanjur basah
kini penjaralah tempatku mengadu paling baik
rumahtanggaku hancur karena permainan gila!
Aku Nande Goda !
kata orang masa depanku sehitam malam
aib akan berbuahkan aib
tapi jangan hakimi aku dengan pedang murka seumur hidup
medan, 2006
PUISI HIDAYAT BANJAR
KARBALA
Karbala, empat belas abad silam
hari ini terulang
beratus-ratus Hussein dibantai
padang yang kini jadi wilayah Irak itu
hadir di pelupuk mata kita
Kepala Hussein-hussein yang menjadi bola
memang tak ditendang ke Damaskus
tetapi menggelinding sendiri
ke dalam rumah kita
Karbala, empat belas abad silam
menjadi mimpi buruk anak-anak kita
yang setiap jam pelajaran di sekolah
mendapat ajaran Pancasila
Karbala, empat belas abad yang silam
jadi sejarah yang aneh bagi Islam
kita hanya terbengong-bengong
menyaksikan para Ali yang tak dapat menangis
karena kehabisan air mata
Sampit......Sampit........Sampit
Aceh.........Aceh...........Aceh...
adalah Islam yang terkoyak
Karbala, empat belas abad silam
kita seperti tak bersudara dengan para Ali
terpesona kemilau pedang Yazid
yang haus kekuasaan
yang haus syahwat
yang haus segala-galanya
berlindung AlQur’an dan Hadist
yang telah diputarbalikkan
Karbala, empat belas abad silam
kemilau pedang Yazid masih menari-nari
di depan mata kita
di negeri yang penuh pesona
negeri yang subur dan kaya
dengan jutaan hektar hutan, perkebunan dan laut
dengan jutaan ton tambang emas, minyak dan gas
yang dapat dikeruk sepanjang tahun
namun tak didistribusikan dengan adil
Karbala, empat belas abad silam
hadir kembali di sini
negeri nyiur melambai
negeri yang sepanjang tahun disiram cahaya matahari
namun masyarakatnya kekurangan energi
Karbala hadir di sini
dengan panji Muawiyah
dan kitapun terbengong-bengong
diam seribu bahasa
10 Muharram 1422 H
4 April 2001
PUISI S. RATMAN SURAS
BALADA MARNI GADIS TEMBUNG
Matanya redup adalah sayap burung yang lelah
setelah terbang melintasi tanah jaluran kuburan yang resah
berhari-hari menyulam kain lusuh
disengat matahari terpercik gerimis tipis
yang menderas menjadi badai tipis
Ia lahir dari jaman serba bingung
bapak ibunya jawa generasi terkini
kakek buyutnya korban kuli kontrak kompeni
diperas keringatnya menanam tembakau deli
sampai bercucu-cicit di tanah ini
Sepetak kolam kangkung di tepi desa Tembung
harapan keluarga agar asap dapur terus membubung
walau hasilnya cekak ditilep harga yang terus melambung
sedang bapaknya cuma kenek kuli bangunan
bersepeda pancal kota yang tak nyaman
Selepas SMP Marni memberontak, saat ia ingin membeli bedak
ingin berpatut-patut di depan cermin yang telah retak
merias diri, merawat raga, sebab si Sarmin anak tetangga
perjaka muda sering mencuri wajahnya, dari balik rimbunan pisang
di suatu siang, ketika angin mulai semilir mengalir
Jika berladang tak lagi memberi harapan
tanah-tanah kebun jadi rebutan dan hunian
kebutuhan hidup makin merenggut
Marni bingung tentukan tujuan
Bersama Jirah teman kecilnya
yang telah gemilang meraih bintang
ia terpikat langsung berangkat, jadi TKW ke negeri seberang
gadis lugu nan ayu yang masih segar
Ketika tiba-tiba di negeri singa, Marni terjebak hitamnya lumpur
ia tertipu sindikat gelap dipaksa jadi gadis penghibur
hatinya pedih tersayat-sayat, impiannya seketika hancur
pada saat yang mendebarkan, ketika tangan-tangan kuat dan kekar
mulai gerayangan di sekujur molek tubuhnya yang terkapar
Marni berontak mulut terkatup batin gemeretak
ia jadi gelap mata untuk mempertahankan mahkota sucinya
dipecahkannya sebuah botol minuman beralkohol
ditikamnya perut buncit toke asing berduit
darah segar muncrat menggenang di lantai kamar
Kini ia hidup heboh dalam cerita berita duka-lara
namanya menghias menyita media massa dua negara bertetangga
orang-orang saling lempar tentang kebenarannya
kerabat dan bapak-ibunya di Tembung berpayung langit murung
anak gadisnya terancam hukuman gantung
medan, 2005-2006
PUISI HASAN AL BANNA
BELAWAN, KISAH SEBINGKAH KOTA
/1/
laut keriput, terasa aroma garam masam
dan kecut
saksikan bahu laut lebam menanggungkan
riuh-lalang perjalanan
lalu udara yang bersiut
seperti serbuk-serbuk besi tua
berat dan berkarat
ke mana camar-camar terbang
sambil menyandang sebuntal luka?
aroma tuak
menjalar dari riuk-derak lapak
kerumun laki-laki bersuara teriak
bernyanyi sambil meletuskan gelak
lantas tergeletak
dan selalu, bait-bait lagu
terperangkap di lingkar gitar tua
mmh, para gelandangan dan orang gila
senantiasa gagal mendirikan rumah
ruko-ruko renta
hasil senggama cina dan belanda
berjejer berhadap-hadap di kerut kota
aha, remuk-muram itu rupa
seperti para perempuan yang sejak lampau
kehilangan meja rias
dan yang tak pernah mengenal lelaki
/2/
dermaga adalah tubuh yang geletar
tapi tetap setia pada janji: “hai, turunkan saja
debar jangkar ke dangkal darahku
sekali waktu, tanpa aba-aba
laut akan mengokang badai
o, kapal-kapal yang kuyup
kemari, kalian akan kurangkul!”
masih adakah dada-dada yang berdebar
mendengar terompet kapal yang parau?
tapi dari ringkih kapal
cuma satu dua turis yang turun melancong
menelusur jalanan usang
atau sekadar menyodorkan cibiran
“buah tangan apa yang pantas
ditukar dengan dolar? Dan kekaguman
macam apa yang musti kami decakkan?”
amboi, adakah laut umpama kekasih
yang enggan mengirim kado?
ah, samar suara mesin sampan pencari ikan
adalah hasrat yang sekarat
berkisah tentang birahi laut
yang senantiasa luput terpagut
atau seperti igau para nelayan:”Tuhan, hanya
tengkorak ikan
yang terjebak di cemas jala!”
/3/
ai, apa yang merayap meniru seok kelabang
adalah kereta api barang, menggendong
gerbong panjang
menafsir jarak antara datang dan pulang
roda dan rel bak dua kelamin besi
yang memintal rindu
tapi tak pernah memercikkan api cemburu
anak-anak teramat lihai menanggal seragam sekolah
bereklebat menjelma bajing
demi menaklukkan terik yang berkelok dan terjal
truk-truk bermesin raung, batuk-batuk
berpundak lapuk, bernapas engah
memanggul peti kemas demi peti kemas
menyeret beban tak berkesudahan
merontokkan pitam asap
dan merentang beribu kelambu debu
entahlah, hilir-mudik orang-orang
semacam bayangan kelam yang menyedihkan
nun, kuli-kuli bertubuh hangus
bersaku tandus
masih terlatih mengintai sekeping harapan
tapi, bah, para tukang pungli
seperti berpinak dari rahim tikus
rakus
kapan mereka mampus?
Belawan-Medan,2006-2008
PUISI MIHAR HARAHAP
OHAMI
Ohami Ohami
Ohami Ohami
Siapa anakku, siapa
Anakku permata bundamu jelita
Puah. Atas kuasamu purnama raya melata di akar rimba
tepian jurang perkampungan baru bukit tajam dan jembatan
layang di bawah kali curam terbentang, sementara para
satwa mengangkasa ke awan-awan ke bintang-bintang langit
yang paling jauh. Atas kuasamu segala apa di antaranya
menjadi sempurna. Puah. Puah
Di mana anakku, di mana
Anakku melayang bundamu kepayang
Puah. Gemuruh ombak pulang ke ombak gemuruh rasa pulang
ke rasa, gerimis hujan terik mentari adalah denyut
jantung anak kembara juga pulang ke asalnya. Duhai duli
sembah harap, terimalah wewangian zikir dan asap dupa
yang menggumpal-gumpal melingkar-lingkar menujumu,
menujumu. Puah. Puah.
Kembali anakku, kembali
Anakku sembunyi bundamu mencari
Puah. Antara langit putih berjenjang naik bumi hitam
bertangga turun payung biru kuncup kembang mengapung,
di mana kau singgahkan makna peradaban penghujung?
Antara gelisah burung kehilangan dahan akar pucuk bilah
hendak tinggi menyapu buih laut ke tepi ke tengah,
di mana kau beri ini hati pasrah? Di mana? Di mana?
Puah. Puah.
Ohami. Ohami
Ohami Ohami
Inilah malapetaka. Dalam kamar gelap pengap tanpa
pintu dan jendela, tiba-tiba waktu bagai hantu yang
tiada menjadi ada. Ada anjing mengejar mangsa jerit
melengking. Ada wanita diperkosa jerit
melengking. Ada hamba dibentak ditembak jerit melengking.
Dan pada suatu saat, mereka menghajarnya, menyeretnya
Dengan ganas ke tiang gantungan. Duh, betapa perihnya,
ketika mereka menutup matanya, menjerat lehernya dan
bersiap-siap menarik urat nafasnya, “Ohami, adalah serdadu
kuda diburu, ekornya benalu melilit tali teraju. Tarik !”
Anak langitku belahan bumi
Yang muaranya hitam putih
Dalam gelombang gelembung buih
Puah. Wahai angin laut angin gunung semesta yang agung
Atas segala kuasamu segala apa diantaranyamenjadi sempurna
Dimana kau singgahkan makna peradaban penghujung? Di mana
kau beri ini hati pasrah? Wahai, duli sembah harap,
terimalah wewangian zikir dan asap dupa yang menggumpal-
gumpal melingkar-lingkar menujumu, menujumu. Puah. Puah.
Anak langitku titisan matahari
Yang cahayanya kunang-kunang
Dalam pandang sebatas bayang
Inilah kesaksian anak negeri yang mati abadi dalam hidup
tak berpri. Sebab mereka kemudi adili keadilan bukan
dengan kebenaran di atas kebenaran. Sebab mereka kendali
bijaki kebijakan bukan dengan kebenaran di atas kebenaran
inilah kesaksian anak negeri yang tanpa batas perkara
berani menatap bahaya menantang segala nista
Sebab kami bangsa merdeka merdekakan bangsa dengan
kebenaran di atas kebenaran. Sebab kami bangsa budaya
budayakan bangsa dengan kebenaran di atas kebenaran
“Tuhan, Ohami adalah serumpun bunga matahari menghiasi
halaman rumah yang hari ini mati karena musim kemarau.”
Subhanallah Wabihamdihi
Subhanalllah Wabihamdihi
Sajak M. Raudah Jambak
SUNGAI PENGEMIS
1.
Seorang pengemis duduk di pusat kota
menggenggam terompet yang dibuang
oleh pemiliknya. Jalanan mulai sunyi.
Seorang pengemis duduk di simpang kota
meniup terompet yang basah terimbas
air hujan. Suaranya tersekat.
Seorang pengemis duduk di tiang
lampu jalan raya yang mati arusnya,
pengendara satu-satu. Bibirnya membiru.
2.
Pada malam tahun baru ini, para pengemis
mengais rezeki dari sisa terompet yang ditinggalkan
para pejalan kaki. Hujan baru saja reda, meninggalkan
segala sisa.
sepanjang malam pengemis itu menahan
gigil tulang, memungut segala bekas di jalanan.
Pesta baru saja usai, menjejakkan segala mimpi
yang terburai.
Lalu perlahan ia pergi meninggalkan sisa nasib
yang tak sempat dikutip. Di simpang jalan,
lampu merah tak jua padam di antara langkah
yang tertahan
3.
dan perlahan suara malam senyap
meninabobokkan bulan di peraduan.
Suara terompet dan jerit petasan sedari
tadi telah dibungkam.
Menjelang pagi seorang pengemis
membangun kepingan mimpi. Bersama
tumpukan sisa hujan yang perlahan
meninggalkannya di sepanjang selokan
4.
Di antara pagi
Pengemis kecil duduk sendiri
Mendekap sisa hujan
Di dadanya
Sementara waktu terus berpacu
Kendaraan terus melaju
Satu per satu
Pengemis kecil duduk sendiri
menumpukkan sisa nasib
mengumpulkan kepingan mimpi
dalam nyenyak tidurnya
5.
Pulanglah, Dik
Tinggalkan segala tipu daya dunia yang membujukmu
Membawa kepada segala kenistaan
Dan persekongkolan
Debu dan asap knalpot yang memburumu adalah
Ular kepala dua yang siap membenamkan segala rindu
Di kepalamu yang murni
Pulanglah, Dik
Pulang. Masih ada esok yang akan menyulam
Wajah burammu menjadi senyuman
6.
Pengemis kecil bertubuh dekil
menyanyikan senandung sunyi
lagu dari segala kepedihan
Berhenti di traffic-light
Simpang jalan raya
Kencringan di tangan kanan
Merangkai harapan
Pengemis kecil bertubuh dekil
Menghalau masa lampau
Tentang bulan dan matahari
Terjebak arus pikiran belia
Yang terbang bersama debu
Sepanjang jalan raya
7.
Di simpangsimpang jalan raya
Seorang pengemis kecil menunggu rindu
Sisa mati lampu dan deru segala hujan
Entah tanggal yang ke berapa
Zikir mengalir
Di simpangsimpang jalan raya
Seorang pengemis kecil menunggu ragu
Pada pilu hati yang kuyu
Entah ngilu yang ke berapa
Sendu memalu
8.
Di jalan ini
Pasir menyisir pagi
Menyemai gigil kerikil
Ah, betapa angin mengganggu pintu-pintu
Tak berdaun dalam bangunan pikiran
Pada sudut rumah daun-daun berguguran
Bunga-bunga telahpun melayu
Sekeras deru nyanyian hujan kau tetap bertahan
Baris-baris debu menyembur mantra beraroma dupa
Karam di kornea mata, menghapus jejak perjalanan
Di setiap titik peron-peron lengang
Dan daun-daun yang melayang berpeluh
Pada jejak-jejak perjalanan
9.
Di pintu tahun baru
Seorang pengemis kecil mengumpulkan sampah
Yang ditinggalkan peradaban kata-kata
Entah muntahan yang ke berapa
Serapah yang ia rasakan
Di pintu tahun baru
Seorang pengemis kecil mengutip sampah kata
Pada pilu hati yang kuyu, lugu
Entah ngilu yang ke berapa
Sendu memalu
MENYUSURI KOTA KOTA SUNGAI
1.
Menyusuri sungai, ketekketek bersin
Menggeram pada isak gemuruh mesin
riakriaknya menari pada perih segala sedih
rindu muara penawar tubuh segala ringkih
di gemuruh hati yang gaduh ada luka membawa cerita
di sepanjang alirannya ada sesuatu yang belum terbaca
tentang sebuah pemandian putriputri raja yang menari
melintasi perkampungan dan pabrikpabrik yang berdiri
bagai raksasa pada tepiannya, serta sejarah terkubur
yang tersusun sempurna menutupi kubangan lumpur
di bawah kayukayu penyangga dari kidung buaian
ah, apakah dayangdayang tengah menarikan tarian
selamat datang atau sekelebat ibuibu yang tengah mencuci
di depan jamban kayu sepanjang tepian perigi segala sepi
Eit, sepasang camar saling bertatap mesra, di atas sampan
yang melintas pelan. Wajah mereka terlihat kelelahan.
Angin berhembus sangat lamban mengantar ke sebuah kota
yang bernama kenangan setua usia benda-benda purbakala
Sambil meneguk setetes air membawa ingatan tertahan
dari sebuah perjalanan pergi dan kembali sebuah kenangan
sepanjang hari awan merangkak pelan
mengabarkan permulaan salam perjumpaan
2.
Menyusuri sungai, terbayang segala kenang
tongkang menerjang. Berlari kencang garang
Permukaannya membelah memberi jalan Musa
dari kejaran raja Fir'aun yang memendam luka
Pada peta hayalku yang aduh terdaftar ragam cinderamata
Serta hadiah perpisahan upah sebuah pelukan sepanjang kota
Warnanya menggambar sebuah kecemasan juga
rahasia yang belum sempat terpecahkan semesta
laksana kendaraan Musa, lajunya menikam-tikam
terjebak monopoli minyak Fir'aun sepenuh dendam
yang usianya melampaui batas keserakahan
tentang sebuah keimanan dan keyakinan
anak angkat kepada Tuhan yang terpendam nyaman
kerakusan ayah angkat yang ingin melampaui kekuasaan
saat gelombang terbawa pulang. Riaknya yang tenang
begitu meninabobokkan. Di depan terpampang kenang
sebuah kanvas perjalanan yang kita susuri
yang bergoyang kita seolah diajak menari
3.
Menyusuri sungai, pengeruk klutuk pasir menyisir
Laiknya seorang gadis yang menunggu penyair
permukaanya menggelombang sesekali
di tepiannya bocahbocah telanjang menari
Menyusuri sungai, kota-kota seolah menyendiri
Menyusuri sungai, kota-kota seperti sepi
SUARA MENYERUAK DARI DASAR SUNGAI
1.
pada aliran sungai bangkai melintasi bebatu
tak kuharap kau senandungkan debu-debu
pun mungkin ceracau bajaj yang berlari
hiruplah aroma kesumat birahi ini
di hirukpikuk pengendara
atau pengguna jalan raya
2.
disesaki asongan dan gelandang
kau bukanlah pemakaman tanpa kenang
hanya saja kau selalu hembuskan aroma bangkai pada air menggenang
aku haru pada pekat airmu, haru pada senandung lapar zikir terbuang
menarikan sampan sampah bersama goyang riak pelepah
yang menghanyutkan suara-suara dari mulut penuh serapah
3.
dan rauplah cuka
lalulalang aroma
segala pembusukkan
segala pembusukkan
2008
UJUNG PENA SUNGAI TINTA
1.
Sepenuh musim kugali kata dari ujung pena sungai tinta.
Sepanjang musim itu pula kusemai lembar kota,
menusuk--merasuk di rampak tik tak tik tak jarum jam
yang berdetak. Seutuh musim ke musim mewarta dendam
peta sengketa, menceracau bak pemabuk berdiplomasi.
Menguras sumur alkisah dengan segala menu basi,
berakhir suka atau duka. Seluas musim- musim melayarkan
perahu galau, pulau demi pulau, bersama kemudi kecemasan.
Menembus segala musim membebas ruang kuli tinta,
menggali sumur kata-kata pengab rahasia.
dan, di titik penentuan, beragam ujung pena-
musafir, mereguk cinta dari sumur kata-kata.
2.
Setelahnya prosesi sunyi. Kemudian kehadiranmu persis
sekadar kemunculan yang tak beraturan di setiap desis
Menunggumu pun tercipta ritual ujung pena.
sebuah pesta dari segala napas peristiwa
cahaya matahari menghadirkan madu makna
menetes dari mata air jiwa dan para kuli tinta
terus menguras sumur kata pada lembah segala wacana,
menyisir-ranjaunya di setiap titik perhentian langkah pena
Yang tertinggal mungkin tapak-tapak kaki juru bicara,
bertopengkan segala wawancara para dasamuka
Pun lenyapkan segala jejak tapak-tapak para musafir gagak
yang berwajah kuda berbulu serigala. Lesapkan segala gerak
3.
langkah yang mengonak Pada tubuh, peluh mulai terasa
membasuh lesatkan aroma sesak segala muak ke udara.
Lalu orkestra zaman menggumuli musim berkali,
meninabobokkan sepenuh istirah. Lalu sunyi,
lalu sepi, menutup diri. Bibirpun meloncatkan segala
rahasia sumur kata, ladang menggemuruh-hutan belantara
Para pemburu sempat kehilangan panah dan busurnya,
memburu di setiap perhentian kata menggumulinya
untuk kemudian dilahirkan pada cerita
gerbang penghabisan para jagal maupun casanova.
Pada ujung pena kuli tinta menggali sumur kata-kata.
Ada mata air yang terus melimpahkan peristiwa.
4.
Pada limpahan peristiwa, orasi kata menghambur makna.
Sumur kata-kata adalah petanya. Menetapkan warta
Kita pun dapat memahat atau mengukir wajah kita,
mengukur seberapa bersihnya. Di pisau bedah, kata
Juru bicara pun mengukir abadi rasa, membulat harap
pada keyakinan menyimpannya-menumpuk dekap
di etalase kaca bersama sekumpulan perompak yang lupa
membajak, ketika kita membaca rahasia cuaca.
Cermin-cermin retak merupakan sekumpulan arak-arakan
yang melontar, menghunus, menghujat dan meninabobokkan
Yakinku mewarna rindu, bersimpul pena, para kuli tinta
Dengan ujung pena, para kuli tinta menggali sumur kata-kata,
Mewarta segala peristiwa.
Mewarta segala cuaca
2008
DOA SUNGAI KESEPIAN
1.
Di dalam ruang dadaku ada irama degup
yang menarikan jantung dengan irama tertahan.
Mendesah seperti tangkai ranting patah.
Irama itu kadang naik-kadang turun
menembus lorong-lorong di ujung telinga
mengiringi larik terakhir sebelum senandung
yang lesap terbawa angin.
Irama itu berhamburan pada sesak irama
pada degup dada yang menembus lorong
di ujung telinga yang berseberangan. Ada
isak yang mendesak butir embun jatuh
pada lembar waktu dan cucaca.
Lalu suhu udara yang berbeda membawa
irama itu seolah nyanyian nina-bobo yang
akan mengantarkanmu pada alam, alam
yang sulit kau baca.
Dan akhirnya seperti yang telah kau duga
sebelumnya irama itu adalah lagu
dengan irama tembang kenangan
sebagai sebuah salam perpisahan.
2.
Aku tersedak dadaku menafsirkan detak
seluruh irama dari degup yang berbeda
menyatukan irama debar pada tembang
yang hampir tak terbaca
Aku tersedak merindukan lagu sukacita
memenuhi segala rasa bahagia yang pernah
dipenuhi irama dari degup yang tertahan. Dan
aku ingin membisikkan sesuatu, tapi irama
kelumu menghardik harapku,
aku ingin membisikkan ke telingamu, tapi
mulutku begitu kaku.
Aku hilang suara. Aku hilang cahaya.
3.
Tubuhku tak berasa, udara dingin yang kau
kabarkan seperti sekawanan daun
yang gugur ke bumi.
udara dingin itu melahirkan beribu gunung es
di sekujur tubuhku, menutupi rongga pori kulitku
yang pernah mengalirkan ribuan sungai-sungai kecil
tempat para nelayan menebarkan jala untuk menangkap
ikan-ikan kecil yang pernah kau pelihara.
Lalu bongkahan es itu perlahan mencair
Dihancurkan ceracau kemarau yang menghambur
Dari mulutmu. Laut matamu membuncah.
Sungai-sungaimu pecah. Irama lain memainkan
sendiri nadanya dari degup yang lain. Menghantarkan
suara lain ke langit yang lain. Membawa cahaya
yang lain ke negeri yang lain.
Entahlah, aku tak tahu apakah irama yang
lahir dari degupmu adalah doadoa sebagai
penghantar tidur abadiku. Atau doa-doaku
yang menghantarkannya pada degup isak
dari irama kebadian.
M. Raudah Jambak, lahir di Medan, 5 Januari 1972. Saat ini bertugas di beberapa sekolah sebagai staf pengajar Panca Budi, Budi Utomo dan UNIMED
DI POJOK RUMAH SAKIT BERLANTAI TIGA
: fragmen-fragmen penyembuhan
Di pojok rumah sakit berlantai tiga
Detik maut pelan-pelan mengukir nisan memipih-pipih umur kami
Setiap tetes air mata yang jatuh adalah harapan yang perlahan menjauh
Sakit kami seolah menghunuskan napas yang semakin aus
Berharap izrail menunda waktu melepas sauh
Berharap tuhan masih berumah di tubuh
Jika ternyata hidup hanya di genang air mata
Biarlah jiwa yang lara tenggelam di dasarnya
Melumpurkan debu-debu kesakitan yang meradang
Pada raga di kurung masa ke masa
Jika ternyata hidup hanya di genang air mata
Biarlah angin mengirimkan lembut lengannya
Membawa segala aroma-aroma telaga surga
Dari kepedihan seluas samudera
Jika tenyata hidup selalu di genang air mata
Maka hapuslah lara kami, hanguskan duka kami
Biar jadi debu, biar jadi abu yang dihanyutkan
Sungai-sungai hati menuju muara cinta
Jika ternyata hidup selalu di genang air mata
Adakah tempat untuk membangun dermaga
Tempat kapal-kapal kami membangun rumah
Menyusun segala rencana menuju ke pulau bahagia
Padahal pernah kami serahkan utuh-utuh hati kami, padamu
Tetapi kau balur jiwa kami sepenuh empedu
Mata kami yang berpijar, berbinar
Tetapi padamu kau susun kelam, buram
Kami berpikir kau adalah pengobat hati
Ternyata kau bakteri yang menanam nyeri
Aduh, ibu
Bersebab narkoba kami celaka
Aduh, bapak
Bersebab narkoba kami merana
Aduh, tuhan kami
Kami terlanjur lupa memaknai diri
Dulu ketika hidup kami di belenggu ragu
Siapa lawan dan kawan kami tak tahu
Dulu ketika cinta di gunting putus asa
Tak ada tempat berbagi suka dan duka
Dulu ketika segalanya hilang entah ke mana
Psikotropika seolah sahabat berbagi duka
Ternyata setelah berbagi setia berlama-lama
Lara hati membara sepanjang usia
Membelenggu jiwa
Menumpuk derita
Membisa racunnya
Di pojok rumah sakit berlantai tiga
semoga maut enggan menjemput umur kami
Setiap tetes do’a membasuh adalah harapan yang berlabuh
Sakit kami adalah sampan-sampan sebuah pengakuan
Berharap izrail menunda waktu melepas sauh
Berharap tuhan masih berumah di tubuh
Medan, 01-09
SEKOLAH, NAK
Sekolah, Nak
Jika memang sekolah itu mampu mewujudkan
Cita-citamu menjadi dokter yang mengobati
Negeri yang sedang sakit ini, bersebab narkoba
pahami semua mata pelajaran secara bersahaja
jangan hanya hitung-hitungan saja
Sebab pikiranmu nanti akan tertanam
Sekadar keuntunganmu pribadi
Buta dengan kerugian orang lain
Boleh, Nak
Kau boleh jadi jaksa, apalagi jadi hakim
Tapi hati-hati, sebab kau akan tergelincir
Hanya untuk mempermainkan hati nurani di balik
Gelar yang kau pugar, dan jika masih begitu
Lebih baik kau jadi pedagang saja yang jelas
Ukuran timbangannya, itupun jika kau pedagang kecil
Seandainya kau pedagang besar, maka kau akan merepotkan
Pemerintah dengan kerugian yang milyaran
Siapkan dirimu jadi pemimpin, Nak
Sebab banyak pemimpin yang lebih siap
Jadi anak buah, pesuruh atau pecundang
Dalam pikiran mereka rakyat bukan apa-apa
Jika negara adikuasa yang mengerdipkan mata
Agama hanya jadi rawa-rawa penghalang
Akal bulus keinginan mereka menaikkan tarif
Setinggi-tingginya,menghukum maling ayam
Dengan cara yang paling jahanam
Sementara pelaku korupsi masih diberikan
Hukuman bergaransi
Sekolah, Nak
Jika memang sekolah itu mampu menjadikan kita
manusia berakal budi-berhati mulia
dalam setiap detik alirkanlah do’a-do’a
memohon kepada sang pencipta
karena dialah yang layak sempurna dipercaya
medan, 04
PUISI HARTA PINEM
NANDE GODA
Aku, Nande Goda
lahir dari rahim Gunung Sinabung
ibuku, petani kampung
ayahku, bekas pejuang revolusi berpangkat kopral
waktu Agresi Militer II aku dibawa ibu mengungsi ke hutan
tidur berselimutkan daun-daun
makananku keladi rebus dan singkong hutan
begitulah, aku dibesarkan ayah dan ibuku dengan sederhana
bermenukan cinta dan kasih sayang
di tengah saudara-saudaraku aku disebut perempuan binal
dan gampang memberontak
setelah remaja aku dijodohkan kedua orangtuaku
dengan seorang pria sesuku yang lugu dan baik hati
keluarganya masih punya hubungan darah dengan keluargaku
kata ibu beliau masih ipar dekatku dari garis keturunan ayah
aku tidak tahu inikah namanya cinta
namun satu persatu anakku berlahiran
mereka semua butuh belanja
aku tak punya keahlian
sedang ke ladang bukanlah kesukaanku
pening kepalaku berhadapan dengan cangkul dan matahari
akhirnya aku jadi berjualan sayur ke pekan-pekan
sedang suamiku jadi petani jeruk di kebun
pergi subuh pulang malam kini jadi jadwal rutin keseharianku
mula-mula biasa saja dan rezeki mengalir ke rumah tangga kami
lama-lama karena setiap hari bertemu
aku jatuh hati pada sopir langgananku
dia sudah beranak lima dan aku pun beranak banyak
tapi dalam bercinta kami merasa jadi muda kembali
seperti buah durian masak di pohon
bau aib itu akhirnya tercium juga oleh keluarga
balik ke rumah seperti pulang ke neraka
suami kurasa jadi musuh besar
sang pacar gelap menghasutku bertindak nekat habisi nyawa suami
biar bebas perjalanan berbuat jinah
aduh cintaku!
17 liang di dadanya cukuplah
kata orang aku bejat moral
tapi bagaimana, tindakanku sudah terlanjur basah
Aku Nande Goda !
suamiku kubunuh dengan keji
begitu aku disuruh petugas berteriak
Aku Nande Goda !
suamiku kubunuh dengan tega
begitu aku digelandang berkeliling kota
orang-orang menyambutku dengan wajah murka
sambil meludahi wajahku
mereka sebut aku perempuan binal tak beradat
tapi bagaimana, perbuatanku sudah telanjur basah
kini penjaralah tempatku mengadu paling baik
rumahtanggaku hancur karena permainan gila!
Aku Nande Goda !
kata orang masa depanku sehitam malam
aib akan berbuahkan aib
tapi jangan hakimi aku dengan pedang murka seumur hidup
medan, 2006
PUISI HIDAYAT BANJAR
KARBALA
Karbala, empat belas abad silam
hari ini terulang
beratus-ratus Hussein dibantai
padang yang kini jadi wilayah Irak itu
hadir di pelupuk mata kita
Kepala Hussein-hussein yang menjadi bola
memang tak ditendang ke Damaskus
tetapi menggelinding sendiri
ke dalam rumah kita
Karbala, empat belas abad silam
menjadi mimpi buruk anak-anak kita
yang setiap jam pelajaran di sekolah
mendapat ajaran Pancasila
Karbala, empat belas abad yang silam
jadi sejarah yang aneh bagi Islam
kita hanya terbengong-bengong
menyaksikan para Ali yang tak dapat menangis
karena kehabisan air mata
Sampit......Sampit........Sampit
Aceh.........Aceh...........Aceh...
adalah Islam yang terkoyak
Karbala, empat belas abad silam
kita seperti tak bersudara dengan para Ali
terpesona kemilau pedang Yazid
yang haus kekuasaan
yang haus syahwat
yang haus segala-galanya
berlindung AlQur’an dan Hadist
yang telah diputarbalikkan
Karbala, empat belas abad silam
kemilau pedang Yazid masih menari-nari
di depan mata kita
di negeri yang penuh pesona
negeri yang subur dan kaya
dengan jutaan hektar hutan, perkebunan dan laut
dengan jutaan ton tambang emas, minyak dan gas
yang dapat dikeruk sepanjang tahun
namun tak didistribusikan dengan adil
Karbala, empat belas abad silam
hadir kembali di sini
negeri nyiur melambai
negeri yang sepanjang tahun disiram cahaya matahari
namun masyarakatnya kekurangan energi
Karbala hadir di sini
dengan panji Muawiyah
dan kitapun terbengong-bengong
diam seribu bahasa
10 Muharram 1422 H
4 April 2001
PUISI S. RATMAN SURAS
BALADA MARNI GADIS TEMBUNG
Matanya redup adalah sayap burung yang lelah
setelah terbang melintasi tanah jaluran kuburan yang resah
berhari-hari menyulam kain lusuh
disengat matahari terpercik gerimis tipis
yang menderas menjadi badai tipis
Ia lahir dari jaman serba bingung
bapak ibunya jawa generasi terkini
kakek buyutnya korban kuli kontrak kompeni
diperas keringatnya menanam tembakau deli
sampai bercucu-cicit di tanah ini
Sepetak kolam kangkung di tepi desa Tembung
harapan keluarga agar asap dapur terus membubung
walau hasilnya cekak ditilep harga yang terus melambung
sedang bapaknya cuma kenek kuli bangunan
bersepeda pancal kota yang tak nyaman
Selepas SMP Marni memberontak, saat ia ingin membeli bedak
ingin berpatut-patut di depan cermin yang telah retak
merias diri, merawat raga, sebab si Sarmin anak tetangga
perjaka muda sering mencuri wajahnya, dari balik rimbunan pisang
di suatu siang, ketika angin mulai semilir mengalir
Jika berladang tak lagi memberi harapan
tanah-tanah kebun jadi rebutan dan hunian
kebutuhan hidup makin merenggut
Marni bingung tentukan tujuan
Bersama Jirah teman kecilnya
yang telah gemilang meraih bintang
ia terpikat langsung berangkat, jadi TKW ke negeri seberang
gadis lugu nan ayu yang masih segar
Ketika tiba-tiba di negeri singa, Marni terjebak hitamnya lumpur
ia tertipu sindikat gelap dipaksa jadi gadis penghibur
hatinya pedih tersayat-sayat, impiannya seketika hancur
pada saat yang mendebarkan, ketika tangan-tangan kuat dan kekar
mulai gerayangan di sekujur molek tubuhnya yang terkapar
Marni berontak mulut terkatup batin gemeretak
ia jadi gelap mata untuk mempertahankan mahkota sucinya
dipecahkannya sebuah botol minuman beralkohol
ditikamnya perut buncit toke asing berduit
darah segar muncrat menggenang di lantai kamar
Kini ia hidup heboh dalam cerita berita duka-lara
namanya menghias menyita media massa dua negara bertetangga
orang-orang saling lempar tentang kebenarannya
kerabat dan bapak-ibunya di Tembung berpayung langit murung
anak gadisnya terancam hukuman gantung
medan, 2005-2006
PUISI HASAN AL BANNA
BELAWAN, KISAH SEBINGKAH KOTA
/1/
laut keriput, terasa aroma garam masam
dan kecut
saksikan bahu laut lebam menanggungkan
riuh-lalang perjalanan
lalu udara yang bersiut
seperti serbuk-serbuk besi tua
berat dan berkarat
ke mana camar-camar terbang
sambil menyandang sebuntal luka?
aroma tuak
menjalar dari riuk-derak lapak
kerumun laki-laki bersuara teriak
bernyanyi sambil meletuskan gelak
lantas tergeletak
dan selalu, bait-bait lagu
terperangkap di lingkar gitar tua
mmh, para gelandangan dan orang gila
senantiasa gagal mendirikan rumah
ruko-ruko renta
hasil senggama cina dan belanda
berjejer berhadap-hadap di kerut kota
aha, remuk-muram itu rupa
seperti para perempuan yang sejak lampau
kehilangan meja rias
dan yang tak pernah mengenal lelaki
/2/
dermaga adalah tubuh yang geletar
tapi tetap setia pada janji: “hai, turunkan saja
debar jangkar ke dangkal darahku
sekali waktu, tanpa aba-aba
laut akan mengokang badai
o, kapal-kapal yang kuyup
kemari, kalian akan kurangkul!”
masih adakah dada-dada yang berdebar
mendengar terompet kapal yang parau?
tapi dari ringkih kapal
cuma satu dua turis yang turun melancong
menelusur jalanan usang
atau sekadar menyodorkan cibiran
“buah tangan apa yang pantas
ditukar dengan dolar? Dan kekaguman
macam apa yang musti kami decakkan?”
amboi, adakah laut umpama kekasih
yang enggan mengirim kado?
ah, samar suara mesin sampan pencari ikan
adalah hasrat yang sekarat
berkisah tentang birahi laut
yang senantiasa luput terpagut
atau seperti igau para nelayan:”Tuhan, hanya
tengkorak ikan
yang terjebak di cemas jala!”
/3/
ai, apa yang merayap meniru seok kelabang
adalah kereta api barang, menggendong
gerbong panjang
menafsir jarak antara datang dan pulang
roda dan rel bak dua kelamin besi
yang memintal rindu
tapi tak pernah memercikkan api cemburu
anak-anak teramat lihai menanggal seragam sekolah
bereklebat menjelma bajing
demi menaklukkan terik yang berkelok dan terjal
truk-truk bermesin raung, batuk-batuk
berpundak lapuk, bernapas engah
memanggul peti kemas demi peti kemas
menyeret beban tak berkesudahan
merontokkan pitam asap
dan merentang beribu kelambu debu
entahlah, hilir-mudik orang-orang
semacam bayangan kelam yang menyedihkan
nun, kuli-kuli bertubuh hangus
bersaku tandus
masih terlatih mengintai sekeping harapan
tapi, bah, para tukang pungli
seperti berpinak dari rahim tikus
rakus
kapan mereka mampus?
Belawan-Medan,2006-2008
PUISI MIHAR HARAHAP
OHAMI
Ohami Ohami
Ohami Ohami
Siapa anakku, siapa
Anakku permata bundamu jelita
Puah. Atas kuasamu purnama raya melata di akar rimba
tepian jurang perkampungan baru bukit tajam dan jembatan
layang di bawah kali curam terbentang, sementara para
satwa mengangkasa ke awan-awan ke bintang-bintang langit
yang paling jauh. Atas kuasamu segala apa di antaranya
menjadi sempurna. Puah. Puah
Di mana anakku, di mana
Anakku melayang bundamu kepayang
Puah. Gemuruh ombak pulang ke ombak gemuruh rasa pulang
ke rasa, gerimis hujan terik mentari adalah denyut
jantung anak kembara juga pulang ke asalnya. Duhai duli
sembah harap, terimalah wewangian zikir dan asap dupa
yang menggumpal-gumpal melingkar-lingkar menujumu,
menujumu. Puah. Puah.
Kembali anakku, kembali
Anakku sembunyi bundamu mencari
Puah. Antara langit putih berjenjang naik bumi hitam
bertangga turun payung biru kuncup kembang mengapung,
di mana kau singgahkan makna peradaban penghujung?
Antara gelisah burung kehilangan dahan akar pucuk bilah
hendak tinggi menyapu buih laut ke tepi ke tengah,
di mana kau beri ini hati pasrah? Di mana? Di mana?
Puah. Puah.
Ohami. Ohami
Ohami Ohami
Inilah malapetaka. Dalam kamar gelap pengap tanpa
pintu dan jendela, tiba-tiba waktu bagai hantu yang
tiada menjadi ada. Ada anjing mengejar mangsa jerit
melengking. Ada wanita diperkosa jerit
melengking. Ada hamba dibentak ditembak jerit melengking.
Dan pada suatu saat, mereka menghajarnya, menyeretnya
Dengan ganas ke tiang gantungan. Duh, betapa perihnya,
ketika mereka menutup matanya, menjerat lehernya dan
bersiap-siap menarik urat nafasnya, “Ohami, adalah serdadu
kuda diburu, ekornya benalu melilit tali teraju. Tarik !”
Anak langitku belahan bumi
Yang muaranya hitam putih
Dalam gelombang gelembung buih
Puah. Wahai angin laut angin gunung semesta yang agung
Atas segala kuasamu segala apa diantaranyamenjadi sempurna
Dimana kau singgahkan makna peradaban penghujung? Di mana
kau beri ini hati pasrah? Wahai, duli sembah harap,
terimalah wewangian zikir dan asap dupa yang menggumpal-
gumpal melingkar-lingkar menujumu, menujumu. Puah. Puah.
Anak langitku titisan matahari
Yang cahayanya kunang-kunang
Dalam pandang sebatas bayang
Inilah kesaksian anak negeri yang mati abadi dalam hidup
tak berpri. Sebab mereka kemudi adili keadilan bukan
dengan kebenaran di atas kebenaran. Sebab mereka kendali
bijaki kebijakan bukan dengan kebenaran di atas kebenaran
inilah kesaksian anak negeri yang tanpa batas perkara
berani menatap bahaya menantang segala nista
Sebab kami bangsa merdeka merdekakan bangsa dengan
kebenaran di atas kebenaran. Sebab kami bangsa budaya
budayakan bangsa dengan kebenaran di atas kebenaran
“Tuhan, Ohami adalah serumpun bunga matahari menghiasi
halaman rumah yang hari ini mati karena musim kemarau.”
Subhanallah Wabihamdihi
Subhanalllah Wabihamdihi
Sajak M. Raudah Jambak
SUNGAI PENGEMIS
1.
Seorang pengemis duduk di pusat kota
menggenggam terompet yang dibuang
oleh pemiliknya. Jalanan mulai sunyi.
Seorang pengemis duduk di simpang kota
meniup terompet yang basah terimbas
air hujan. Suaranya tersekat.
Seorang pengemis duduk di tiang
lampu jalan raya yang mati arusnya,
pengendara satu-satu. Bibirnya membiru.
2.
Pada malam tahun baru ini, para pengemis
mengais rezeki dari sisa terompet yang ditinggalkan
para pejalan kaki. Hujan baru saja reda, meninggalkan
segala sisa.
sepanjang malam pengemis itu menahan
gigil tulang, memungut segala bekas di jalanan.
Pesta baru saja usai, menjejakkan segala mimpi
yang terburai.
Lalu perlahan ia pergi meninggalkan sisa nasib
yang tak sempat dikutip. Di simpang jalan,
lampu merah tak jua padam di antara langkah
yang tertahan
3.
dan perlahan suara malam senyap
meninabobokkan bulan di peraduan.
Suara terompet dan jerit petasan sedari
tadi telah dibungkam.
Menjelang pagi seorang pengemis
membangun kepingan mimpi. Bersama
tumpukan sisa hujan yang perlahan
meninggalkannya di sepanjang selokan
4.
Di antara pagi
Pengemis kecil duduk sendiri
Mendekap sisa hujan
Di dadanya
Sementara waktu terus berpacu
Kendaraan terus melaju
Satu per satu
Pengemis kecil duduk sendiri
menumpukkan sisa nasib
mengumpulkan kepingan mimpi
dalam nyenyak tidurnya
5.
Pulanglah, Dik
Tinggalkan segala tipu daya dunia yang membujukmu
Membawa kepada segala kenistaan
Dan persekongkolan
Debu dan asap knalpot yang memburumu adalah
Ular kepala dua yang siap membenamkan segala rindu
Di kepalamu yang murni
Pulanglah, Dik
Pulang. Masih ada esok yang akan menyulam
Wajah burammu menjadi senyuman
6.
Pengemis kecil bertubuh dekil
menyanyikan senandung sunyi
lagu dari segala kepedihan
Berhenti di traffic-light
Simpang jalan raya
Kencringan di tangan kanan
Merangkai harapan
Pengemis kecil bertubuh dekil
Menghalau masa lampau
Tentang bulan dan matahari
Terjebak arus pikiran belia
Yang terbang bersama debu
Sepanjang jalan raya
7.
Di simpangsimpang jalan raya
Seorang pengemis kecil menunggu rindu
Sisa mati lampu dan deru segala hujan
Entah tanggal yang ke berapa
Zikir mengalir
Di simpangsimpang jalan raya
Seorang pengemis kecil menunggu ragu
Pada pilu hati yang kuyu
Entah ngilu yang ke berapa
Sendu memalu
8.
Di jalan ini
Pasir menyisir pagi
Menyemai gigil kerikil
Ah, betapa angin mengganggu pintu-pintu
Tak berdaun dalam bangunan pikiran
Pada sudut rumah daun-daun berguguran
Bunga-bunga telahpun melayu
Sekeras deru nyanyian hujan kau tetap bertahan
Baris-baris debu menyembur mantra beraroma dupa
Karam di kornea mata, menghapus jejak perjalanan
Di setiap titik peron-peron lengang
Dan daun-daun yang melayang berpeluh
Pada jejak-jejak perjalanan
9.
Di pintu tahun baru
Seorang pengemis kecil mengumpulkan sampah
Yang ditinggalkan peradaban kata-kata
Entah muntahan yang ke berapa
Serapah yang ia rasakan
Di pintu tahun baru
Seorang pengemis kecil mengutip sampah kata
Pada pilu hati yang kuyu, lugu
Entah ngilu yang ke berapa
Sendu memalu
MENYUSURI KOTA KOTA SUNGAI
1.
Menyusuri sungai, ketekketek bersin
Menggeram pada isak gemuruh mesin
riakriaknya menari pada perih segala sedih
rindu muara penawar tubuh segala ringkih
di gemuruh hati yang gaduh ada luka membawa cerita
di sepanjang alirannya ada sesuatu yang belum terbaca
tentang sebuah pemandian putriputri raja yang menari
melintasi perkampungan dan pabrikpabrik yang berdiri
bagai raksasa pada tepiannya, serta sejarah terkubur
yang tersusun sempurna menutupi kubangan lumpur
di bawah kayukayu penyangga dari kidung buaian
ah, apakah dayangdayang tengah menarikan tarian
selamat datang atau sekelebat ibuibu yang tengah mencuci
di depan jamban kayu sepanjang tepian perigi segala sepi
Eit, sepasang camar saling bertatap mesra, di atas sampan
yang melintas pelan. Wajah mereka terlihat kelelahan.
Angin berhembus sangat lamban mengantar ke sebuah kota
yang bernama kenangan setua usia benda-benda purbakala
Sambil meneguk setetes air membawa ingatan tertahan
dari sebuah perjalanan pergi dan kembali sebuah kenangan
sepanjang hari awan merangkak pelan
mengabarkan permulaan salam perjumpaan
2.
Menyusuri sungai, terbayang segala kenang
tongkang menerjang. Berlari kencang garang
Permukaannya membelah memberi jalan Musa
dari kejaran raja Fir'aun yang memendam luka
Pada peta hayalku yang aduh terdaftar ragam cinderamata
Serta hadiah perpisahan upah sebuah pelukan sepanjang kota
Warnanya menggambar sebuah kecemasan juga
rahasia yang belum sempat terpecahkan semesta
laksana kendaraan Musa, lajunya menikam-tikam
terjebak monopoli minyak Fir'aun sepenuh dendam
yang usianya melampaui batas keserakahan
tentang sebuah keimanan dan keyakinan
anak angkat kepada Tuhan yang terpendam nyaman
kerakusan ayah angkat yang ingin melampaui kekuasaan
saat gelombang terbawa pulang. Riaknya yang tenang
begitu meninabobokkan. Di depan terpampang kenang
sebuah kanvas perjalanan yang kita susuri
yang bergoyang kita seolah diajak menari
3.
Menyusuri sungai, pengeruk klutuk pasir menyisir
Laiknya seorang gadis yang menunggu penyair
permukaanya menggelombang sesekali
di tepiannya bocahbocah telanjang menari
Menyusuri sungai, kota-kota seolah menyendiri
Menyusuri sungai, kota-kota seperti sepi
SUARA MENYERUAK DARI DASAR SUNGAI
1.
pada aliran sungai bangkai melintasi bebatu
tak kuharap kau senandungkan debu-debu
pun mungkin ceracau bajaj yang berlari
hiruplah aroma kesumat birahi ini
di hirukpikuk pengendara
atau pengguna jalan raya
2.
disesaki asongan dan gelandang
kau bukanlah pemakaman tanpa kenang
hanya saja kau selalu hembuskan aroma bangkai pada air menggenang
aku haru pada pekat airmu, haru pada senandung lapar zikir terbuang
menarikan sampan sampah bersama goyang riak pelepah
yang menghanyutkan suara-suara dari mulut penuh serapah
3.
dan rauplah cuka
lalulalang aroma
segala pembusukkan
segala pembusukkan
2008
UJUNG PENA SUNGAI TINTA
1.
Sepenuh musim kugali kata dari ujung pena sungai tinta.
Sepanjang musim itu pula kusemai lembar kota,
menusuk--merasuk di rampak tik tak tik tak jarum jam
yang berdetak. Seutuh musim ke musim mewarta dendam
peta sengketa, menceracau bak pemabuk berdiplomasi.
Menguras sumur alkisah dengan segala menu basi,
berakhir suka atau duka. Seluas musim- musim melayarkan
perahu galau, pulau demi pulau, bersama kemudi kecemasan.
Menembus segala musim membebas ruang kuli tinta,
menggali sumur kata-kata pengab rahasia.
dan, di titik penentuan, beragam ujung pena-
musafir, mereguk cinta dari sumur kata-kata.
2.
Setelahnya prosesi sunyi. Kemudian kehadiranmu persis
sekadar kemunculan yang tak beraturan di setiap desis
Menunggumu pun tercipta ritual ujung pena.
sebuah pesta dari segala napas peristiwa
cahaya matahari menghadirkan madu makna
menetes dari mata air jiwa dan para kuli tinta
terus menguras sumur kata pada lembah segala wacana,
menyisir-ranjaunya di setiap titik perhentian langkah pena
Yang tertinggal mungkin tapak-tapak kaki juru bicara,
bertopengkan segala wawancara para dasamuka
Pun lenyapkan segala jejak tapak-tapak para musafir gagak
yang berwajah kuda berbulu serigala. Lesapkan segala gerak
3.
langkah yang mengonak Pada tubuh, peluh mulai terasa
membasuh lesatkan aroma sesak segala muak ke udara.
Lalu orkestra zaman menggumuli musim berkali,
meninabobokkan sepenuh istirah. Lalu sunyi,
lalu sepi, menutup diri. Bibirpun meloncatkan segala
rahasia sumur kata, ladang menggemuruh-hutan belantara
Para pemburu sempat kehilangan panah dan busurnya,
memburu di setiap perhentian kata menggumulinya
untuk kemudian dilahirkan pada cerita
gerbang penghabisan para jagal maupun casanova.
Pada ujung pena kuli tinta menggali sumur kata-kata.
Ada mata air yang terus melimpahkan peristiwa.
4.
Pada limpahan peristiwa, orasi kata menghambur makna.
Sumur kata-kata adalah petanya. Menetapkan warta
Kita pun dapat memahat atau mengukir wajah kita,
mengukur seberapa bersihnya. Di pisau bedah, kata
Juru bicara pun mengukir abadi rasa, membulat harap
pada keyakinan menyimpannya-menumpuk dekap
di etalase kaca bersama sekumpulan perompak yang lupa
membajak, ketika kita membaca rahasia cuaca.
Cermin-cermin retak merupakan sekumpulan arak-arakan
yang melontar, menghunus, menghujat dan meninabobokkan
Yakinku mewarna rindu, bersimpul pena, para kuli tinta
Dengan ujung pena, para kuli tinta menggali sumur kata-kata,
Mewarta segala peristiwa.
Mewarta segala cuaca
2008
DOA SUNGAI KESEPIAN
1.
Di dalam ruang dadaku ada irama degup
yang menarikan jantung dengan irama tertahan.
Mendesah seperti tangkai ranting patah.
Irama itu kadang naik-kadang turun
menembus lorong-lorong di ujung telinga
mengiringi larik terakhir sebelum senandung
yang lesap terbawa angin.
Irama itu berhamburan pada sesak irama
pada degup dada yang menembus lorong
di ujung telinga yang berseberangan. Ada
isak yang mendesak butir embun jatuh
pada lembar waktu dan cucaca.
Lalu suhu udara yang berbeda membawa
irama itu seolah nyanyian nina-bobo yang
akan mengantarkanmu pada alam, alam
yang sulit kau baca.
Dan akhirnya seperti yang telah kau duga
sebelumnya irama itu adalah lagu
dengan irama tembang kenangan
sebagai sebuah salam perpisahan.
2.
Aku tersedak dadaku menafsirkan detak
seluruh irama dari degup yang berbeda
menyatukan irama debar pada tembang
yang hampir tak terbaca
Aku tersedak merindukan lagu sukacita
memenuhi segala rasa bahagia yang pernah
dipenuhi irama dari degup yang tertahan. Dan
aku ingin membisikkan sesuatu, tapi irama
kelumu menghardik harapku,
aku ingin membisikkan ke telingamu, tapi
mulutku begitu kaku.
Aku hilang suara. Aku hilang cahaya.
3.
Tubuhku tak berasa, udara dingin yang kau
kabarkan seperti sekawanan daun
yang gugur ke bumi.
udara dingin itu melahirkan beribu gunung es
di sekujur tubuhku, menutupi rongga pori kulitku
yang pernah mengalirkan ribuan sungai-sungai kecil
tempat para nelayan menebarkan jala untuk menangkap
ikan-ikan kecil yang pernah kau pelihara.
Lalu bongkahan es itu perlahan mencair
Dihancurkan ceracau kemarau yang menghambur
Dari mulutmu. Laut matamu membuncah.
Sungai-sungaimu pecah. Irama lain memainkan
sendiri nadanya dari degup yang lain. Menghantarkan
suara lain ke langit yang lain. Membawa cahaya
yang lain ke negeri yang lain.
Entahlah, aku tak tahu apakah irama yang
lahir dari degupmu adalah doadoa sebagai
penghantar tidur abadiku. Atau doa-doaku
yang menghantarkannya pada degup isak
dari irama kebadian.
M. Raudah Jambak, lahir di Medan, 5 Januari 1972. Saat ini bertugas di beberapa sekolah sebagai staf pengajar Panca Budi, Budi Utomo dan UNIMED
Jumat, 24 April 2009
Alkisah,
Buah Kerja Rodi
Hasil penelusuran METRO dari berbagai sumber, dua Batu Lubang yang terletak di Desa Simaninggir ini, merupakan bukti peninggalan sejarah perjuangan rakyat Tapanuli. Dikisahkan, Batu Lubang dulunya dibuat dan dikerjakan oleh bangsa Indonesia sendiri. Mereka adalah para pejuang kemerdekaan RI yang ditawan oleh penjajah Belanda dan Jepang.
Sekitar tahun 1930, para penjajah Belanda dan Jepang menghadapi kesulitan melewati jalan ini, karena dihempang batu cadas dan hutan belantara. Buntutnya, kaum penjajah memaksa para pejuang Indonesia ini menjadi pekerja paksa (rodi), untuk memahat batu-batu cadas ini hingga jalan Tarutung-Sibolga (Tapanuli Tengah) bisa tembus.
Pada masa penjajahan Jepang, pembuatan Batu Lubang ini terus berlanjut hingga selesai dan dapat dilalui oleh kendaraan bermotor. Konon, pada waktu pembuatan Batu Lubang, banyak para pejuang yang menjadi korban dan tidak sedikit pejuang yang mati. Yang mati, mayatnya langsung dibuang ke jurang.
Selama bertahun-tahun dibiarkan tetap sempit, sekitar tahun 1991, akhirnya pemerintah akhirnya memutuskan untuk memperlebar terowongan. Tapi kali ini tak lagi dengan memahat, melainkan pakai dinamit.
Terpanggil Jadi Penjaga
Dulu, Batu Lubang terkesan seram, karena tidak ada lampu maupun penjaga. Namun saat ini, kesan itu sudah berkurang jauh. Sudah 15 tahun lamanya, Batu Lubang diawasi seorang penjaga, yang digaji Dinas Pekerjaan Umum Rp500 ribu per bulan.
“Dulu sejak tahun 1993, Batu Lubang ini dijaga dan diawasi mertua saya, Serep Simbolon (almarhum, red). Namun sejak mertua saya meninggal awal 2008, saya yang jaga,” kata Robert Tarihoran.
Ditanya kisah terpanggilnya mertua kemudian dirinya menjadi penjaga Batu Lubang, Robert menjelaskan, hal itu dimulai tahun 1991, saat ada pengeboman untuk pelebaran terowongan di di Batu Lubang.
“Tak lama setelah pengeboman, suatu malam saat tidur, mertua saya bermimpi. Ia bermimpi didatangi seseorang, yang mengatakan agar mertua saya membersihkan Batu Lubang. ‘Kau beserta anakmu akan kuberikan alat kompresor untuk membersihkan debu yang ada di Batu Lubang’ Itulah pesan yang diterima mertuaku dalam mimpinya,” kata ayah lima anak ini.
Beberapa hari setelah mimpi itu, mertuanya didatangi Pegawai Dinas PU, dan ditawari pekerjaan untuk merawat dan membersihkan jalan sepanjang Batu Lubang. Pekerjaan sebagai penjaga dilakoni mertuanya sejak tahun 1993 sampai tahun 2008, dengan gaji terakhir Rp500 ribu per bulan.
Sebelum mertuanya meninggal pada Pebruari 2008, pekerjaan sebagai penjaga terowongan diwariskannya kepada sang menantu, yaitu Robert sendiri. Gaji tetap sama, Rp500 ribu per bulan.
Cukupkah untuk menghidupi dan menyekolahkan kelima anaknya? “Yah, pesan mertua hanya satu, selama menjaga Batu Lubang, saya harus selalu memiliki niat baik. Dengan demikian, saya akan diberikan rejeki. Pesan itu saya pegang, dan sampai sekarang kelima anak saya masih sekolah,” katanya.
Rezeki dimaksud datang dari para sopir yang lewat Batu Lubang, yang kerap memberikan sekedar uang rokok kepadanya. “Rezeki itu khususnya sering datang dari kendaraan prbadi,” ungkapnya mensyukuri berkat yang diterimanya.
Objek Wisata
Bagi orang yang belum pernah melewati Batu Lubang, mungkin ingin tahu rasanya melewati Batu Lubang. Jujur, kesannya cukup mencekam. Untungnya, panjang terowongan hanya 10 meter ditambah 8 meter. Di terowongan 10 meter itu yang kesannya agak dramatis, karena terowongan menikung, dengan air menetes di sana sini. Jalan di terowongan itu sendiri sama sekali tidak mulus alias rusak berat. Maklum, tetesan air terus menerus merusak jalan.
Namun demikian, setelah Batu Lubang terang benderang dan tidak seram lagi, belakangan ini beberapa pengunjung sudah dari Kota Sibolga ada yang sengaja datang ke tempat ini untuk menikmati pemandangan dan sejuknya udara. Belum lagi para pelintas yang memilih istirahat sejenak menikmati pemnadangan, di gazebo di mulut terowongan.
“Mungkin kalau lebih ditata dengan membangun beberapa fasilitas, Batu Lubang akan menjadi lokasi wisata alam/sejarah yang lebih layak jual,” kata Robert. (data dibantu poltak tarihoran)
Simalungun merupakan salah satu suku asli dari Sumatera Utara, Indonesia. Simalungun juga merujuk pada nama sebuah kotamadya, yaitu Kotamadya Simalungun dengan ibukota Pematangsiantar. Dalam bahasa Simulungun, kata “simalungun” memiliki kata dasar “lungun” yang berarti “sunyi”. Diberikan nama demikian, karena penduduk daerah itu masih sedikit dan pemukiman mereka terletak saling berjauhan. Orang Batak Toba menyebutnya “Si Balungu”, sedangkan orang Karo menyebutnya “Batak Timur”, karena bertempat di sebelah timur mereka.
Kotamadya Simalungun memiliki ragam warisan tradisi, salah satunya adalah cerita rakyat. Di daerah ini, terdapat cerita rakyat yang sangat terkenal, yaitu Kisah Putri Ular. Cerita ini mengisahkan kegagalan seorang putri raja yang cantik jelita untuk dijadikan permaisuri oleh seorang raja muda yang tampan, karena sang putri tiba-tiba menjelma menjadi seekor ular. Peristiwa apa sebenarnya yang terjadi, sehingga sang putri cantik itu menjelma menjadi seekor ular? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita rakyat berikut ini!
* * *
Alkisah, di suatu negeri di kawasan Simalungun, Sumatera Utara, berdiri sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana. Sang Raja memiliki seorang putri yang kecantikannya sungguh luar biasa. Berita tentang kecantikan putri raja itu tersebar ke berbagai pelosok negeri. Berita tersebut juga didengar oleh seorang raja muda yang memerintah di sebuah kerajaan yang letaknya tidak jauh dari kerajaan ayah sang Putri.
Mendengar kabar tersebut, Raja Muda yang tampan itu berniat melamar sang putri. Sang raja kemudian mengumpulkan para penasehat kerajaan untuk memusyawarahkan keinginannya tersebut.
“Wahai, para penasehatku! Apakah kalian sudah mendengar berita kecantikan putri itu?” tanya sang raja kepada penasehatnya.
“Sudah, Tuan!” jawab para penasehat serantak.
“Bagaimana menurut kalian, jika sang putri itu aku jadikan sebagai permaisuri?” sang Raja kembali bertanya.
“Hamba setuju, Tuan!” jawab salah seorang penasehat.
“Iya, Tuan! Hamba kira, Tuan dan Putri adalah pasangan yang sangat serasi. Tuan seorang raja muda yang tampan, sedangkan sang putri seorang gadis yang cantik jelita,” tambah seorang penasehat.
“Baiklah kalau begitu. Segera persiapkan segala keperluan untuk meminang sang putri,” perintah sang raja.
“Baik, Baginda!” jawab seluruh penasehat serentak.
Keesokan harinya, tampak rombongan utusan raja muda meninggalkan istana menuju negeri tempat tinggal sang putri. Sesampainya di sana, mereka disambut dan dijamu dengan baik oleh ayah sang putri. Usai perjamuan, utusan sang raja muda pun menyampaikan maksud kedatangan mereka.
“Ampun, Baginda! Maksud kedatangan kami ke sini adalah hendak menyampaikan pinangan Raja kami,” jawab salah seorang utusan yang bertindak sebagai juru bicara.
“Kami menerima pinangan Raja kalian dengan senang hati, karena kedua kerajaan akan bersatu untuk mewujudkan masyarakat yang makmur, damai dan sejahtera,” jawab sang raja.
“Terima kasih, Baginda! Berita gembira ini segera kami sampaikan kepada Raja kami. Akan tetapi…, Raja kami berpesan bahwa jika lamaran ini diterima pernikahan akan dilangsungkan dua bulan lagi,” ujar utusan tersebut.
“Kenapa begitu lama?” tanya sang Raja tidak sabar.
“Raja kami ingin pernikahannya dilangsungkan secara besar-besaran,” jawab utusan itu.
“Baiklah kalau begitu, kami siap menunggu,” jawab sang Raja.
Usai berunding, utusan Raja Muda berpamitan kepada sang Raja untuk kembali ke negeri mereka. Setibanya di sana, mereka langsung melaporkan berita gembira itu kepada Raja mereka, bahwa pinangannya diterima. Sang Raja Muda sangat gembira mendengar berita itu.
“Kalau begitu, mulai saat ini kita harus menyiapkan segala keperluan untuk upacara pernikahan ini!” seru Raja Muda.
“Baiklah, Tuan! Segera kami kerjakan,” jawab seorang utusan.
Sementara itu, setelah para utusan Raja Muda kembali ke negeri mereka, ayah sang Putri menemui putrinya dan menyampaikan berita pinangan itu.
“Wahai, putriku! Tahukah engkau maksud kedatangan para utusan itu?” tanya sang Raja kepada putrinya.
“Tidak, ayah! Memangnya ada apa, yah?” sang putri balik bertanya.
“Ketahuilah, putriku! Kedatangan mereka kemari untuk menyampaikan pinangan raja mereka yang masih muda. Bagaimana menurutmu?” tanya sang Ayah.
“Jika ayah senang, putri bersedia,” jawab sang Putri malu-malu.
“Ayah sangat bangga memiliki putri yang cantik dan penurut sepertimu, wahai putriku!” sanjung sang Ayah.
“Putriku, jagalah dirimu baik-baik! Jangan sampai terjadi sesuatu yang dapat membatalkan pernikahanmu,” tambah sang ayah.
“Baik, ayah!” jawab sang putri.
Menjelang hari pernikahannya, sebagaimana biasa, setiap pagi sang putri pergi mandi dengan ditemani beberapa orang dayangnya di sebuah kolam yang berada di belakang istana. Di pinggir kolam disiapkan sebuah batu besar untuk tempat duduk sang putri. Usai berganti pakaian, sang putri segera masuk ke dalam kolam berendam sejenak untuk menyejukkan sekujur tubuhnya.
Setelah beberapa saat berendam, sang putri duduk di atas batu di tepi kolam. Sambil menjuntaikan kakinya ke dalam air, sang putri membayangkan betapa bahagianya saat pernikahan nanti, duduk bersanding di pelaminan bersama sang suami, seorang Raja Muda yang gagah dan tampan.
Di tengah-tengah sang putri asyik mengkhayal dan menikmati kesejukan air kolam itu, tiba-tiba angin bertiup kencang. Tanpa diduga, sebuah ranting pohon yang sudah kering mendadak jatuh tepat mengenahi ujung hidung sang putri.
“Aduuuh, hidungku!” jerit sang putri sambil memegang hidungnya.
Dalam sekejap, tangan putri yang malang itu penuh dengan darah. Sambil menahan rasa sakit, sang putri menyuruh dayang-dayangnya untuk diambilkan cermin. Betapa terkejut dan kecewanya sang putri saat melihat wajahnya di cermin. Hidungnya yang semula mancung itu tiba-tiba menjadi sompel (hilang sebagian) tertimpa ranting pohon yang ujungnya tajam. Kini wajah sang putri tidak cantik lagi seperti semula. Ia sangat sedih dan air matanya pun bercucuran keluar dari kelopak matanya.
“Celaka! Pernikahanku dengan raja muda akan gagal. Ia pasti akan mencari putri lain yang tidak memiliki cacat. Jika aku gagal menikah dengan raja muda, ayah dan ibu pasti kecewa dan malu di hadapan rakyatnya,” pikir sang putri.
Sang putri sangat tertekan. Pikiran-pikiran itu terus berkecamuk di kepalanya. Hatinya pun semakin bingung. Ia tidak ingin membuat malu dan kecewa kedua orang tuanya. Namun, ia tidak mampu mengatasi permasalahan yang sedang dihadapinya. Ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi, selain menyesali nasibnya yang malang itu.
Sang putri pun jadi putus asa. Sambil menangis, ia menengadahkan kedua tangannya ke atas, lalu berdoa:
“Ya, Tuhan! Hukumlah hambamu ini yang telah membuat malu dan kecewa orang tuanya!” doa sang putri dengan mata berkaca-kaca.
Baru saja doa itu terucap dari mulut sang putri, tiba-tiba petir menyambar-nyambar sebagai tanda doa sang putri didengar oleh Tuhan. Beberapa saat kemudian, tubuh sang putri mengalami perubahan yang sangat mengejutkan. Kakinya yang putih mulus tiba-tiba mengeluarkan sisik. Sisik tersebut semakin merambat ke atas. Dayang-dayangnya pun tersentak kaget saat melihat peristiwa itu. Ketika sisik itu mencapai dada, sang putri segera memerintahkan seorang dayang-dayangnya untuk memberi tahu ayah dan ibunya di dalam istana.
“Ampun, Tuan!” hormat sang dayang kepada raja.
“Ada apa, dayang-dayang?” tanya sang raja.
“Ampun, Tuan! Kulit tuan putri mengeluarkan sisik seperti ular,” lapor sang dayang.
“Apa…? Anakku mengeluarkan sisik!” tanya sang raja tersentak kaget.
“Benar, Tuan! Hamba sendiri tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi,” jawab sang dayang.
Setelah mendengar laporan itu, sang raja dan permaisuri segera menuju ke kolam permandian. Sesampainya di tempat itu, mereka sudah tidak melihat tubuh sang putri. Yang tampak hanya seekor ular besar yang bergelung di atas batu yang biasa dipakai sang putri untuk duduk.
“Putriku!” seru sang raja kepada ular itu.
Ular itu hanya bisa menggerakan kepala dan menjulurkan lidahnya dengan tatapan mata yang
Ular itu hanya bisa menggerakan kepala dan menjulurkan lidahnya dengan tatapan mata yang sayu. Ia seakan hendak berbicara, namun tak satu kata pun yang terucap dari mulutnya.
“Putriku! Apa yang terjadi denganmu?” tanya permaisuri cemas.
Meskipun permaisuri sudah berteriak memanggilnya, namun ular itu tetap saja tidak bisa berkata apa-apa. Tak lama kemudian, ular besar penjelmaan sang putri pergi meninggalkan mereka dan masuk ke dalam semak belukar. Sang raja dan permaisuri beserta dayang-dayang tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka sangat sedih dan menangis atas nasib malang yang menimpa sang putri.
Peristiwa penjelmaan sang putri menjadi seekor ular adalah hukuman dari Yang Kuasa atas permintaannya sendiri, karena keputusasaannya. Ia putus asa karena telah membuat malu dan kecewa kedua orang tuanya. Ia tidak berhasil menjaga amanah ayahnya untuk selalu jaga diri agar tidak terjadi sesuatu yang dapat membatalkan pernikahannya dengan Raja Muda yang tampan itu.
* * *
Parapat atau Prapat adalah sebuah kota kecil yang berada di wilayah Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Indonesia. Kota kecil yang terletak di tepi Danau Toba ini merupakan tujuan wisata yang ramai dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Kota ini memiliki keindahan alam yang sangat mempesona dan didukung oleh akses jalan transportasi yang bagus, sehingga mudah untuk dijangkau. Kota ini sering digunakan sebagai tempat singgah oleh para wisatawan yang melintas di Jalan Raya Lintas Sumatera (Jalinsum) bagian barat yang menghubungkan Kota Medan dengan Kota Padang.
Selain sebagai objek wisata yang eksotis, Parapat juga merupakan sebuah kota yang melegenda di kalangan masyarakat di Sumatera Utara. Dahulu, kota kecil ini merupakan sebuah pekan[1] yang terletak di tepi Danau Toba. Setelah terjadi suatu peristiwa yang sangat mengerikan, tempat itu oleh masyarakat diberi nama Parapat atau Prapat. Dalam peristiwa itu, muncul sebuah batu yang menyerupai manusia yang berada di tepi Danau Toba. Menurut masyarakat setempat, batu itu merupakan penjelmaan seorang gadis cantik bernama Seruni. Peristiwa apa sebenarnya yang pernah terjadi di pinggiran kota kecil itu? Kenapa gadis cantik itu menjelma menjadi batu? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Batu Gantung berikut ini!
* * *
Alkisah, di sebuah desa terpencil di pinggiran Danau Toba Sumatera Utara, hiduplah sepasang suami-istri dengan seorang anak perempuannya yang cantik jelita bernama Seruni. Selain rupawan, Seruni juga sangat rajin membantu orang tuanya bekerja di ladang. Setiap hari keluarga kecil itu mengerjakan ladang mereka yang berada di tepi Danau Toba, dan hasilnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Pada suatu hari, Seruni pergi ke ladang seorang diri, karena kedua orang tuanya ada keperluan di desa tetangga. Seruni hanya ditemani oleh seekor anjing kesayangannya bernama si Toki. Sesampainya di ladang, gadis itu tidak bekerja, tetapi ia hanya duduk merenung sambil memandangi indahnya alam Danau Toba. Sepertinya ia sedang menghadapi masalah yang sulit dipecahkannya. Sementara anjingnya, si Toki, ikut duduk di sebelahnya sambil menatap wajah Seruni seakan mengetahui apa yang dipikirkan majikannya itu. Sekali-sekali anjing itu menggonggong untuk mengalihkan perhatian sang majikan, namun sang majikan tetap saja usik dengan lamunannya.
Memang beberapa hari terakhir wajah Seruni selalu tampak murung. Ia sangat sedih, karena akan dinikahkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pemuda yang masih saudara sepupunya. Padahal ia telah menjalin asmara dengan seorang pemuda pilihannya dan telah berjanji akan membina rumah tangga yang bahagia. Ia sangat bingung. Di satu sisi ia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, dan di sisi lain ia tidak sanggup jika harus berpisah dengan pemuda pujaan hatinya. Oleh karena merasa tidak sanggup memikul beban berat itu, ia pun mulai putus asa.
“Ya, Tuhan! Hamba sudah tidak sanggup hidup dengan beban ini,” keluh Seruni.
Beberapa saat kemudian, Seruni beranjak dari tempat duduknya. Dengan berderai air mata, ia berjalan perlahan ke arah Danau Toba. Rupanya gadis itu ingin mengakhiri hidupnya dengan melompat ke Danau Toba yang bertebing curam itu. Sementara si Toki, mengikuti majikannya dari belakang sambil menggonggong.
Dengan pikiran yang terus berkecamuk, Seruni berjalan ke arah tebing Danau Toba tanpa memerhatikan jalan yang dilaluinya. Tanpa diduga, tiba-tiba ia terperosok ke dalam lubang batu yang besar hingga masuk jauh ke dasar lubang. Batu cadas yang hitam itu membuat suasana di dalam lubang itu semakin gelap. Gadis cantik itu sangat ketakutan. Di dasar lubang yang gelap, ia merasakan dinding-dinding batu cadas itu bergerak merapat hendak menghimpitnya.
“Tolooooggg……! Tolooooggg……! Toloong aku, Toki!” terdengar suara Seruni meminta tolong kepada anjing kesayangannya.
Si Toki mengerti jika majikannya membutuhkan pertolongannya, namun ia tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali hanya menggonggong di mulut lubang. Beberapa kali Seruni berteriak meminta tolong, namun si Toki benar-benar tidak mampu menolongnnya. Akhirnya gadis itu semakin putus asa.
“Ah, lebih baik aku mati saja daripada lama hidup menderita,” pasrah Seruni.
Dinding-dinding batu cadas itu bergerak semakin merapat.
“Parapat[2]… ! Parapat batu… Parapat!” seru Seruni menyuruh batu itu menghimpit tubuhnya..
Sementara si Toki yang mengetahui majikannya terancam bahaya terus menggonggong di mulut lubang. Merasa tidak mampu menolong sang majikan, ia pun segera berlari pulang ke rumah untuk meminta bantuan.
Sesampai di rumah majikannya, si Toki segera menghampiri orang tua Seruni yang kebetulan baru datang dari desa tetangga berjalan menuju rumahnya.
“Auggg…! auggg…! auggg…!” si Toki menggonggong sambil mencakar-cakar tanah untuk memberitahukan kepada kedua orang tua itu bahwa Seruni dalam keadaan bahaya.
“Toki…, mana Seruni? Apa yang terjadi dengannya?” tanya ayah Seruni kepada anjing itu.
“Auggg…! auggg…! auggg…!” si Toki terus menggonggong berlari mondar-mandir mengajak mereka ke suatu tempat.
“Pak, sepertinya Seruni dalam keadaan bahaya,” sahut ibu Seruni.
“Ibu benar. Si Toki mengajak kita untuk mengikutinya,” kata ayah Seruni.
“Tapi hari sudah gelap, Pak. Bagaimana kita ke sana?” kata ibu Seruni.
“Ibu siapkan obor! Aku akan mencari bantuan ke tetangga,” seru sang ayah.
Tak lama kemudian, seluruh tetangga telah berkumpul di halaman rumah ayah Seruni sambil membawa obor. Setelah itu mereka mengikuti si Toki ke tempat kejadian. Sesampainya mereka di ladang, si Toki langsung menuju ke arah mulut lubang itu. Kemudian ia menggonggong sambil mengulur-ulurkan mulutnya ke dalam lubang untuk memberitahukan kepada warga bahwa Seruni berada di dasar lubang itu.
Kedua orang tua Seruni segera mendekati mulut lubang. Alangkah terkejutnya ketika mereka melihat ada lubang batu yang cukup besar di pinggir ladang mereka. Di dalam lubang itu terdengar sayup-sayup suara seorang wanita: “Parapat… ! Parapat batu… Parapat!”
“Pak, dengar suara itu! Itukan suara anak kita! seru ibu Seruni panik.
“Benar, bu! Itu suara Seruni!” jawab sang ayah ikut panik.
“Tapi, kenapa dia berteriak: parapat, parapatlah batu?” tanya sang ibu.
“Entahlah, bu! Sepertinya ada yang tidak beres di dalam sana,” jawab sang ayah cemas.
Pak Tani itu berusaha menerangi lubang itu dengan obornya, namun dasar lubang itu sangat dalam sehingga tidak dapat ditembus oleh cahaya obor.
“Seruniii…! Seruniii… !” teriak ayah Seruni.
“Seruni…anakku! Ini ibu dan ayahmu datang untuk menolongmu!” sang ibu ikut berteriak.
Beberapa kali mereka berteriak, namun tidak mendapat jawaban dari Seruni. Hanya suara Seruni terdengar sayup-sayup yang menyuruh batu itu merapat untuk menghimpitnya.
“Parapat… ! Parapatlah batu… ! Parapatlah!”
“Seruniiii… anakku!” sekali lagi ibu Seruni berteriak sambil menangis histeris.
Warga yang hadir di tempat itu berusaha untuk membantu. Salah seorang warga mengulurkan seutas tampar (tali) sampai ke dasar lubang, namun tampar itu tidak tersentuh sama sekali. Ayah Seruni semakin khawatir dengan keadaan anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyusul putrinya terjun ke dalam lubang batu.
“Bu, pegang obor ini!” perintah sang ayah.
“Ayah mau ke mana?” tanya sang ibu.
“Aku mau menyusul Seruni ke dalam lubang,” jawabnya tegas.
“Jangan ayah, sangat berbahaya!” cegah sang ibu.
“Benar pak, lubang itu sangat dalam dan gelap,” sahut salah seorang warga.
Akhirnya ayah Seruni mengurungkan niatnya. Sesaat kemudian, tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Bumi bergoyang dengan dahsyatnya seakan hendak kiamat. Lubang batu itu tiba-tiba menutup sendiri. Tebing-tebing di pinggir Danau Toba pun berguguran. Ayah dan ibu Seruni beserta seluruh warga berlari ke sana ke mari untuk menyelamatkan diri. Mereka meninggalkan mulut lubang batu, sehingga Seruni yang malang itu tidak dapat diselamatkan dari himpitan batu cadas.
Beberapa saat setelah gempa itu berhenti, tiba-tiba muncul sebuah batu besar yang menyerupai tubuh seorang gadis dan seolah-olah menggantung pada dinding tebing di tepi Danau Toba. Masyarakat setempat mempercayai bahwa batu itu merupakan penjelmaan Seruni yang terhimpit batu cadas di dalam lubang. Oleh mereka batu itu kemudian diberi nama “Batu Gantung”.
Beberapa hari kemudian, tersiarlah berita tentang peristiwa yang menimpa gadis itu. Para warga berbondong-bondong ke tempat kejadian untuk melihat “Batu Gantung” itu. Warga yang menyaksikan peristiwa itu menceritakan kepada warga lainnya bahwa sebelum lubang itu tertutup, terdengar suara: “Parapat… parapat batu… parapatlah!”
Oleh karena kata “parapat” sering diucapkan orang dan banyak yang menceritakannya, maka Pekan yang berada di tepi Danau Toba itu kemudian diberi nama “Parapat”. Parapat kini menjadi sebuah kota kecil salah satu tujuan wisata yang sangat menarik di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia.
* * *
Hasil penelusuran METRO dari berbagai sumber, dua Batu Lubang yang terletak di Desa Simaninggir ini, merupakan bukti peninggalan sejarah perjuangan rakyat Tapanuli. Dikisahkan, Batu Lubang dulunya dibuat dan dikerjakan oleh bangsa Indonesia sendiri. Mereka adalah para pejuang kemerdekaan RI yang ditawan oleh penjajah Belanda dan Jepang.
Sekitar tahun 1930, para penjajah Belanda dan Jepang menghadapi kesulitan melewati jalan ini, karena dihempang batu cadas dan hutan belantara. Buntutnya, kaum penjajah memaksa para pejuang Indonesia ini menjadi pekerja paksa (rodi), untuk memahat batu-batu cadas ini hingga jalan Tarutung-Sibolga (Tapanuli Tengah) bisa tembus.
Pada masa penjajahan Jepang, pembuatan Batu Lubang ini terus berlanjut hingga selesai dan dapat dilalui oleh kendaraan bermotor. Konon, pada waktu pembuatan Batu Lubang, banyak para pejuang yang menjadi korban dan tidak sedikit pejuang yang mati. Yang mati, mayatnya langsung dibuang ke jurang.
Selama bertahun-tahun dibiarkan tetap sempit, sekitar tahun 1991, akhirnya pemerintah akhirnya memutuskan untuk memperlebar terowongan. Tapi kali ini tak lagi dengan memahat, melainkan pakai dinamit.
Terpanggil Jadi Penjaga
Dulu, Batu Lubang terkesan seram, karena tidak ada lampu maupun penjaga. Namun saat ini, kesan itu sudah berkurang jauh. Sudah 15 tahun lamanya, Batu Lubang diawasi seorang penjaga, yang digaji Dinas Pekerjaan Umum Rp500 ribu per bulan.
“Dulu sejak tahun 1993, Batu Lubang ini dijaga dan diawasi mertua saya, Serep Simbolon (almarhum, red). Namun sejak mertua saya meninggal awal 2008, saya yang jaga,” kata Robert Tarihoran.
Ditanya kisah terpanggilnya mertua kemudian dirinya menjadi penjaga Batu Lubang, Robert menjelaskan, hal itu dimulai tahun 1991, saat ada pengeboman untuk pelebaran terowongan di di Batu Lubang.
“Tak lama setelah pengeboman, suatu malam saat tidur, mertua saya bermimpi. Ia bermimpi didatangi seseorang, yang mengatakan agar mertua saya membersihkan Batu Lubang. ‘Kau beserta anakmu akan kuberikan alat kompresor untuk membersihkan debu yang ada di Batu Lubang’ Itulah pesan yang diterima mertuaku dalam mimpinya,” kata ayah lima anak ini.
Beberapa hari setelah mimpi itu, mertuanya didatangi Pegawai Dinas PU, dan ditawari pekerjaan untuk merawat dan membersihkan jalan sepanjang Batu Lubang. Pekerjaan sebagai penjaga dilakoni mertuanya sejak tahun 1993 sampai tahun 2008, dengan gaji terakhir Rp500 ribu per bulan.
Sebelum mertuanya meninggal pada Pebruari 2008, pekerjaan sebagai penjaga terowongan diwariskannya kepada sang menantu, yaitu Robert sendiri. Gaji tetap sama, Rp500 ribu per bulan.
Cukupkah untuk menghidupi dan menyekolahkan kelima anaknya? “Yah, pesan mertua hanya satu, selama menjaga Batu Lubang, saya harus selalu memiliki niat baik. Dengan demikian, saya akan diberikan rejeki. Pesan itu saya pegang, dan sampai sekarang kelima anak saya masih sekolah,” katanya.
Rezeki dimaksud datang dari para sopir yang lewat Batu Lubang, yang kerap memberikan sekedar uang rokok kepadanya. “Rezeki itu khususnya sering datang dari kendaraan prbadi,” ungkapnya mensyukuri berkat yang diterimanya.
Objek Wisata
Bagi orang yang belum pernah melewati Batu Lubang, mungkin ingin tahu rasanya melewati Batu Lubang. Jujur, kesannya cukup mencekam. Untungnya, panjang terowongan hanya 10 meter ditambah 8 meter. Di terowongan 10 meter itu yang kesannya agak dramatis, karena terowongan menikung, dengan air menetes di sana sini. Jalan di terowongan itu sendiri sama sekali tidak mulus alias rusak berat. Maklum, tetesan air terus menerus merusak jalan.
Namun demikian, setelah Batu Lubang terang benderang dan tidak seram lagi, belakangan ini beberapa pengunjung sudah dari Kota Sibolga ada yang sengaja datang ke tempat ini untuk menikmati pemandangan dan sejuknya udara. Belum lagi para pelintas yang memilih istirahat sejenak menikmati pemnadangan, di gazebo di mulut terowongan.
“Mungkin kalau lebih ditata dengan membangun beberapa fasilitas, Batu Lubang akan menjadi lokasi wisata alam/sejarah yang lebih layak jual,” kata Robert. (data dibantu poltak tarihoran)
Simalungun merupakan salah satu suku asli dari Sumatera Utara, Indonesia. Simalungun juga merujuk pada nama sebuah kotamadya, yaitu Kotamadya Simalungun dengan ibukota Pematangsiantar. Dalam bahasa Simulungun, kata “simalungun” memiliki kata dasar “lungun” yang berarti “sunyi”. Diberikan nama demikian, karena penduduk daerah itu masih sedikit dan pemukiman mereka terletak saling berjauhan. Orang Batak Toba menyebutnya “Si Balungu”, sedangkan orang Karo menyebutnya “Batak Timur”, karena bertempat di sebelah timur mereka.
Kotamadya Simalungun memiliki ragam warisan tradisi, salah satunya adalah cerita rakyat. Di daerah ini, terdapat cerita rakyat yang sangat terkenal, yaitu Kisah Putri Ular. Cerita ini mengisahkan kegagalan seorang putri raja yang cantik jelita untuk dijadikan permaisuri oleh seorang raja muda yang tampan, karena sang putri tiba-tiba menjelma menjadi seekor ular. Peristiwa apa sebenarnya yang terjadi, sehingga sang putri cantik itu menjelma menjadi seekor ular? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita rakyat berikut ini!
* * *
Alkisah, di suatu negeri di kawasan Simalungun, Sumatera Utara, berdiri sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana. Sang Raja memiliki seorang putri yang kecantikannya sungguh luar biasa. Berita tentang kecantikan putri raja itu tersebar ke berbagai pelosok negeri. Berita tersebut juga didengar oleh seorang raja muda yang memerintah di sebuah kerajaan yang letaknya tidak jauh dari kerajaan ayah sang Putri.
Mendengar kabar tersebut, Raja Muda yang tampan itu berniat melamar sang putri. Sang raja kemudian mengumpulkan para penasehat kerajaan untuk memusyawarahkan keinginannya tersebut.
“Wahai, para penasehatku! Apakah kalian sudah mendengar berita kecantikan putri itu?” tanya sang raja kepada penasehatnya.
“Sudah, Tuan!” jawab para penasehat serantak.
“Bagaimana menurut kalian, jika sang putri itu aku jadikan sebagai permaisuri?” sang Raja kembali bertanya.
“Hamba setuju, Tuan!” jawab salah seorang penasehat.
“Iya, Tuan! Hamba kira, Tuan dan Putri adalah pasangan yang sangat serasi. Tuan seorang raja muda yang tampan, sedangkan sang putri seorang gadis yang cantik jelita,” tambah seorang penasehat.
“Baiklah kalau begitu. Segera persiapkan segala keperluan untuk meminang sang putri,” perintah sang raja.
“Baik, Baginda!” jawab seluruh penasehat serentak.
Keesokan harinya, tampak rombongan utusan raja muda meninggalkan istana menuju negeri tempat tinggal sang putri. Sesampainya di sana, mereka disambut dan dijamu dengan baik oleh ayah sang putri. Usai perjamuan, utusan sang raja muda pun menyampaikan maksud kedatangan mereka.
“Ampun, Baginda! Maksud kedatangan kami ke sini adalah hendak menyampaikan pinangan Raja kami,” jawab salah seorang utusan yang bertindak sebagai juru bicara.
“Kami menerima pinangan Raja kalian dengan senang hati, karena kedua kerajaan akan bersatu untuk mewujudkan masyarakat yang makmur, damai dan sejahtera,” jawab sang raja.
“Terima kasih, Baginda! Berita gembira ini segera kami sampaikan kepada Raja kami. Akan tetapi…, Raja kami berpesan bahwa jika lamaran ini diterima pernikahan akan dilangsungkan dua bulan lagi,” ujar utusan tersebut.
“Kenapa begitu lama?” tanya sang Raja tidak sabar.
“Raja kami ingin pernikahannya dilangsungkan secara besar-besaran,” jawab utusan itu.
“Baiklah kalau begitu, kami siap menunggu,” jawab sang Raja.
Usai berunding, utusan Raja Muda berpamitan kepada sang Raja untuk kembali ke negeri mereka. Setibanya di sana, mereka langsung melaporkan berita gembira itu kepada Raja mereka, bahwa pinangannya diterima. Sang Raja Muda sangat gembira mendengar berita itu.
“Kalau begitu, mulai saat ini kita harus menyiapkan segala keperluan untuk upacara pernikahan ini!” seru Raja Muda.
“Baiklah, Tuan! Segera kami kerjakan,” jawab seorang utusan.
Sementara itu, setelah para utusan Raja Muda kembali ke negeri mereka, ayah sang Putri menemui putrinya dan menyampaikan berita pinangan itu.
“Wahai, putriku! Tahukah engkau maksud kedatangan para utusan itu?” tanya sang Raja kepada putrinya.
“Tidak, ayah! Memangnya ada apa, yah?” sang putri balik bertanya.
“Ketahuilah, putriku! Kedatangan mereka kemari untuk menyampaikan pinangan raja mereka yang masih muda. Bagaimana menurutmu?” tanya sang Ayah.
“Jika ayah senang, putri bersedia,” jawab sang Putri malu-malu.
“Ayah sangat bangga memiliki putri yang cantik dan penurut sepertimu, wahai putriku!” sanjung sang Ayah.
“Putriku, jagalah dirimu baik-baik! Jangan sampai terjadi sesuatu yang dapat membatalkan pernikahanmu,” tambah sang ayah.
“Baik, ayah!” jawab sang putri.
Menjelang hari pernikahannya, sebagaimana biasa, setiap pagi sang putri pergi mandi dengan ditemani beberapa orang dayangnya di sebuah kolam yang berada di belakang istana. Di pinggir kolam disiapkan sebuah batu besar untuk tempat duduk sang putri. Usai berganti pakaian, sang putri segera masuk ke dalam kolam berendam sejenak untuk menyejukkan sekujur tubuhnya.
Setelah beberapa saat berendam, sang putri duduk di atas batu di tepi kolam. Sambil menjuntaikan kakinya ke dalam air, sang putri membayangkan betapa bahagianya saat pernikahan nanti, duduk bersanding di pelaminan bersama sang suami, seorang Raja Muda yang gagah dan tampan.
Di tengah-tengah sang putri asyik mengkhayal dan menikmati kesejukan air kolam itu, tiba-tiba angin bertiup kencang. Tanpa diduga, sebuah ranting pohon yang sudah kering mendadak jatuh tepat mengenahi ujung hidung sang putri.
“Aduuuh, hidungku!” jerit sang putri sambil memegang hidungnya.
Dalam sekejap, tangan putri yang malang itu penuh dengan darah. Sambil menahan rasa sakit, sang putri menyuruh dayang-dayangnya untuk diambilkan cermin. Betapa terkejut dan kecewanya sang putri saat melihat wajahnya di cermin. Hidungnya yang semula mancung itu tiba-tiba menjadi sompel (hilang sebagian) tertimpa ranting pohon yang ujungnya tajam. Kini wajah sang putri tidak cantik lagi seperti semula. Ia sangat sedih dan air matanya pun bercucuran keluar dari kelopak matanya.
“Celaka! Pernikahanku dengan raja muda akan gagal. Ia pasti akan mencari putri lain yang tidak memiliki cacat. Jika aku gagal menikah dengan raja muda, ayah dan ibu pasti kecewa dan malu di hadapan rakyatnya,” pikir sang putri.
Sang putri sangat tertekan. Pikiran-pikiran itu terus berkecamuk di kepalanya. Hatinya pun semakin bingung. Ia tidak ingin membuat malu dan kecewa kedua orang tuanya. Namun, ia tidak mampu mengatasi permasalahan yang sedang dihadapinya. Ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi, selain menyesali nasibnya yang malang itu.
Sang putri pun jadi putus asa. Sambil menangis, ia menengadahkan kedua tangannya ke atas, lalu berdoa:
“Ya, Tuhan! Hukumlah hambamu ini yang telah membuat malu dan kecewa orang tuanya!” doa sang putri dengan mata berkaca-kaca.
Baru saja doa itu terucap dari mulut sang putri, tiba-tiba petir menyambar-nyambar sebagai tanda doa sang putri didengar oleh Tuhan. Beberapa saat kemudian, tubuh sang putri mengalami perubahan yang sangat mengejutkan. Kakinya yang putih mulus tiba-tiba mengeluarkan sisik. Sisik tersebut semakin merambat ke atas. Dayang-dayangnya pun tersentak kaget saat melihat peristiwa itu. Ketika sisik itu mencapai dada, sang putri segera memerintahkan seorang dayang-dayangnya untuk memberi tahu ayah dan ibunya di dalam istana.
“Ampun, Tuan!” hormat sang dayang kepada raja.
“Ada apa, dayang-dayang?” tanya sang raja.
“Ampun, Tuan! Kulit tuan putri mengeluarkan sisik seperti ular,” lapor sang dayang.
“Apa…? Anakku mengeluarkan sisik!” tanya sang raja tersentak kaget.
“Benar, Tuan! Hamba sendiri tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi,” jawab sang dayang.
Setelah mendengar laporan itu, sang raja dan permaisuri segera menuju ke kolam permandian. Sesampainya di tempat itu, mereka sudah tidak melihat tubuh sang putri. Yang tampak hanya seekor ular besar yang bergelung di atas batu yang biasa dipakai sang putri untuk duduk.
“Putriku!” seru sang raja kepada ular itu.
Ular itu hanya bisa menggerakan kepala dan menjulurkan lidahnya dengan tatapan mata yang
Ular itu hanya bisa menggerakan kepala dan menjulurkan lidahnya dengan tatapan mata yang sayu. Ia seakan hendak berbicara, namun tak satu kata pun yang terucap dari mulutnya.
“Putriku! Apa yang terjadi denganmu?” tanya permaisuri cemas.
Meskipun permaisuri sudah berteriak memanggilnya, namun ular itu tetap saja tidak bisa berkata apa-apa. Tak lama kemudian, ular besar penjelmaan sang putri pergi meninggalkan mereka dan masuk ke dalam semak belukar. Sang raja dan permaisuri beserta dayang-dayang tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka sangat sedih dan menangis atas nasib malang yang menimpa sang putri.
Peristiwa penjelmaan sang putri menjadi seekor ular adalah hukuman dari Yang Kuasa atas permintaannya sendiri, karena keputusasaannya. Ia putus asa karena telah membuat malu dan kecewa kedua orang tuanya. Ia tidak berhasil menjaga amanah ayahnya untuk selalu jaga diri agar tidak terjadi sesuatu yang dapat membatalkan pernikahannya dengan Raja Muda yang tampan itu.
* * *
Parapat atau Prapat adalah sebuah kota kecil yang berada di wilayah Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Indonesia. Kota kecil yang terletak di tepi Danau Toba ini merupakan tujuan wisata yang ramai dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Kota ini memiliki keindahan alam yang sangat mempesona dan didukung oleh akses jalan transportasi yang bagus, sehingga mudah untuk dijangkau. Kota ini sering digunakan sebagai tempat singgah oleh para wisatawan yang melintas di Jalan Raya Lintas Sumatera (Jalinsum) bagian barat yang menghubungkan Kota Medan dengan Kota Padang.
Selain sebagai objek wisata yang eksotis, Parapat juga merupakan sebuah kota yang melegenda di kalangan masyarakat di Sumatera Utara. Dahulu, kota kecil ini merupakan sebuah pekan[1] yang terletak di tepi Danau Toba. Setelah terjadi suatu peristiwa yang sangat mengerikan, tempat itu oleh masyarakat diberi nama Parapat atau Prapat. Dalam peristiwa itu, muncul sebuah batu yang menyerupai manusia yang berada di tepi Danau Toba. Menurut masyarakat setempat, batu itu merupakan penjelmaan seorang gadis cantik bernama Seruni. Peristiwa apa sebenarnya yang pernah terjadi di pinggiran kota kecil itu? Kenapa gadis cantik itu menjelma menjadi batu? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Batu Gantung berikut ini!
* * *
Alkisah, di sebuah desa terpencil di pinggiran Danau Toba Sumatera Utara, hiduplah sepasang suami-istri dengan seorang anak perempuannya yang cantik jelita bernama Seruni. Selain rupawan, Seruni juga sangat rajin membantu orang tuanya bekerja di ladang. Setiap hari keluarga kecil itu mengerjakan ladang mereka yang berada di tepi Danau Toba, dan hasilnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Pada suatu hari, Seruni pergi ke ladang seorang diri, karena kedua orang tuanya ada keperluan di desa tetangga. Seruni hanya ditemani oleh seekor anjing kesayangannya bernama si Toki. Sesampainya di ladang, gadis itu tidak bekerja, tetapi ia hanya duduk merenung sambil memandangi indahnya alam Danau Toba. Sepertinya ia sedang menghadapi masalah yang sulit dipecahkannya. Sementara anjingnya, si Toki, ikut duduk di sebelahnya sambil menatap wajah Seruni seakan mengetahui apa yang dipikirkan majikannya itu. Sekali-sekali anjing itu menggonggong untuk mengalihkan perhatian sang majikan, namun sang majikan tetap saja usik dengan lamunannya.
Memang beberapa hari terakhir wajah Seruni selalu tampak murung. Ia sangat sedih, karena akan dinikahkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pemuda yang masih saudara sepupunya. Padahal ia telah menjalin asmara dengan seorang pemuda pilihannya dan telah berjanji akan membina rumah tangga yang bahagia. Ia sangat bingung. Di satu sisi ia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, dan di sisi lain ia tidak sanggup jika harus berpisah dengan pemuda pujaan hatinya. Oleh karena merasa tidak sanggup memikul beban berat itu, ia pun mulai putus asa.
“Ya, Tuhan! Hamba sudah tidak sanggup hidup dengan beban ini,” keluh Seruni.
Beberapa saat kemudian, Seruni beranjak dari tempat duduknya. Dengan berderai air mata, ia berjalan perlahan ke arah Danau Toba. Rupanya gadis itu ingin mengakhiri hidupnya dengan melompat ke Danau Toba yang bertebing curam itu. Sementara si Toki, mengikuti majikannya dari belakang sambil menggonggong.
Dengan pikiran yang terus berkecamuk, Seruni berjalan ke arah tebing Danau Toba tanpa memerhatikan jalan yang dilaluinya. Tanpa diduga, tiba-tiba ia terperosok ke dalam lubang batu yang besar hingga masuk jauh ke dasar lubang. Batu cadas yang hitam itu membuat suasana di dalam lubang itu semakin gelap. Gadis cantik itu sangat ketakutan. Di dasar lubang yang gelap, ia merasakan dinding-dinding batu cadas itu bergerak merapat hendak menghimpitnya.
“Tolooooggg……! Tolooooggg……! Toloong aku, Toki!” terdengar suara Seruni meminta tolong kepada anjing kesayangannya.
Si Toki mengerti jika majikannya membutuhkan pertolongannya, namun ia tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali hanya menggonggong di mulut lubang. Beberapa kali Seruni berteriak meminta tolong, namun si Toki benar-benar tidak mampu menolongnnya. Akhirnya gadis itu semakin putus asa.
“Ah, lebih baik aku mati saja daripada lama hidup menderita,” pasrah Seruni.
Dinding-dinding batu cadas itu bergerak semakin merapat.
“Parapat[2]… ! Parapat batu… Parapat!” seru Seruni menyuruh batu itu menghimpit tubuhnya..
Sementara si Toki yang mengetahui majikannya terancam bahaya terus menggonggong di mulut lubang. Merasa tidak mampu menolong sang majikan, ia pun segera berlari pulang ke rumah untuk meminta bantuan.
Sesampai di rumah majikannya, si Toki segera menghampiri orang tua Seruni yang kebetulan baru datang dari desa tetangga berjalan menuju rumahnya.
“Auggg…! auggg…! auggg…!” si Toki menggonggong sambil mencakar-cakar tanah untuk memberitahukan kepada kedua orang tua itu bahwa Seruni dalam keadaan bahaya.
“Toki…, mana Seruni? Apa yang terjadi dengannya?” tanya ayah Seruni kepada anjing itu.
“Auggg…! auggg…! auggg…!” si Toki terus menggonggong berlari mondar-mandir mengajak mereka ke suatu tempat.
“Pak, sepertinya Seruni dalam keadaan bahaya,” sahut ibu Seruni.
“Ibu benar. Si Toki mengajak kita untuk mengikutinya,” kata ayah Seruni.
“Tapi hari sudah gelap, Pak. Bagaimana kita ke sana?” kata ibu Seruni.
“Ibu siapkan obor! Aku akan mencari bantuan ke tetangga,” seru sang ayah.
Tak lama kemudian, seluruh tetangga telah berkumpul di halaman rumah ayah Seruni sambil membawa obor. Setelah itu mereka mengikuti si Toki ke tempat kejadian. Sesampainya mereka di ladang, si Toki langsung menuju ke arah mulut lubang itu. Kemudian ia menggonggong sambil mengulur-ulurkan mulutnya ke dalam lubang untuk memberitahukan kepada warga bahwa Seruni berada di dasar lubang itu.
Kedua orang tua Seruni segera mendekati mulut lubang. Alangkah terkejutnya ketika mereka melihat ada lubang batu yang cukup besar di pinggir ladang mereka. Di dalam lubang itu terdengar sayup-sayup suara seorang wanita: “Parapat… ! Parapat batu… Parapat!”
“Pak, dengar suara itu! Itukan suara anak kita! seru ibu Seruni panik.
“Benar, bu! Itu suara Seruni!” jawab sang ayah ikut panik.
“Tapi, kenapa dia berteriak: parapat, parapatlah batu?” tanya sang ibu.
“Entahlah, bu! Sepertinya ada yang tidak beres di dalam sana,” jawab sang ayah cemas.
Pak Tani itu berusaha menerangi lubang itu dengan obornya, namun dasar lubang itu sangat dalam sehingga tidak dapat ditembus oleh cahaya obor.
“Seruniii…! Seruniii… !” teriak ayah Seruni.
“Seruni…anakku! Ini ibu dan ayahmu datang untuk menolongmu!” sang ibu ikut berteriak.
Beberapa kali mereka berteriak, namun tidak mendapat jawaban dari Seruni. Hanya suara Seruni terdengar sayup-sayup yang menyuruh batu itu merapat untuk menghimpitnya.
“Parapat… ! Parapatlah batu… ! Parapatlah!”
“Seruniiii… anakku!” sekali lagi ibu Seruni berteriak sambil menangis histeris.
Warga yang hadir di tempat itu berusaha untuk membantu. Salah seorang warga mengulurkan seutas tampar (tali) sampai ke dasar lubang, namun tampar itu tidak tersentuh sama sekali. Ayah Seruni semakin khawatir dengan keadaan anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyusul putrinya terjun ke dalam lubang batu.
“Bu, pegang obor ini!” perintah sang ayah.
“Ayah mau ke mana?” tanya sang ibu.
“Aku mau menyusul Seruni ke dalam lubang,” jawabnya tegas.
“Jangan ayah, sangat berbahaya!” cegah sang ibu.
“Benar pak, lubang itu sangat dalam dan gelap,” sahut salah seorang warga.
Akhirnya ayah Seruni mengurungkan niatnya. Sesaat kemudian, tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Bumi bergoyang dengan dahsyatnya seakan hendak kiamat. Lubang batu itu tiba-tiba menutup sendiri. Tebing-tebing di pinggir Danau Toba pun berguguran. Ayah dan ibu Seruni beserta seluruh warga berlari ke sana ke mari untuk menyelamatkan diri. Mereka meninggalkan mulut lubang batu, sehingga Seruni yang malang itu tidak dapat diselamatkan dari himpitan batu cadas.
Beberapa saat setelah gempa itu berhenti, tiba-tiba muncul sebuah batu besar yang menyerupai tubuh seorang gadis dan seolah-olah menggantung pada dinding tebing di tepi Danau Toba. Masyarakat setempat mempercayai bahwa batu itu merupakan penjelmaan Seruni yang terhimpit batu cadas di dalam lubang. Oleh mereka batu itu kemudian diberi nama “Batu Gantung”.
Beberapa hari kemudian, tersiarlah berita tentang peristiwa yang menimpa gadis itu. Para warga berbondong-bondong ke tempat kejadian untuk melihat “Batu Gantung” itu. Warga yang menyaksikan peristiwa itu menceritakan kepada warga lainnya bahwa sebelum lubang itu tertutup, terdengar suara: “Parapat… parapat batu… parapatlah!”
Oleh karena kata “parapat” sering diucapkan orang dan banyak yang menceritakannya, maka Pekan yang berada di tepi Danau Toba itu kemudian diberi nama “Parapat”. Parapat kini menjadi sebuah kota kecil salah satu tujuan wisata yang sangat menarik di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia.
* * *
Langgan:
Entri (Atom)
