Selasa, 11 November 2014

Guru Baru


“Nur!” kuhentikan langkahku. Menunggu Tenri yang berlari-lari kecil mengejarku.
“ada apa?” Tanyaku. “tungguin aku dong! Mau ke kantin kan? “ “iya”.
Kantin Bu Sari memang selalu penuh dengan siswa. Selaian komplit jualanya, ada mie, lontong, nasi kuning, rasanya enak. Harga bisa sama, tapi warung Bu Sari selalu jadi pilihan. Mana porsinya lebih banyak, tempatnyapun luas. Baik hati lagi orangnya. Kadang kalau aku lupa bawa uang, ia kan dengan senang hati ngasih ngutang.
“aku nasi kuning, bu” makanan kesukaanku di sini selain lontong, kupesan padanya.
“kalau aku lontong bu”. Nri tak mau ketinggalan.
Bangku sudah penuh semua. Kamipun duduk dibalai bamboo tempatnya Bu Sari duduk menunggu para siswa yang mau pesan.
Sambil makan, Tenri bercerita kalau ada guru baru.
“ namanya siapa?” tanyaku penasaran juga. Soalnya dari tadi dia bilang ganteng, manis, cakep, imut-imut….. “Bu Bia guru matematika kita kan pidah ke SMP. Mungkin dia gantinya”. Lanjutku lagi walau pertanyaan yang tadi belum di jawab olehnya karena lagi mengunyah-ngunyah makanannya.
“ngga tau juga sih. Ngadi yang bilang kemarin. Katanya sih orang bone. Berarti sekampung dengan kamu dong. Mungkin aja kamu kenal. Iya kan?” menatap serius ke arahku.
“Eh….memangnya Bone itu selebar daun kelor apa? Sehingga semuanya aku tau kalau ia dari Bone. Lagian, biarpun aku orang Bone, ku ngga pernah tinggal di Bone. Palingan juga hanya berlibur satu minggu. Asal kamu tau aja ya…. Bone juga termasuk kabupaten yang terluas di sulawesi selatan”. Nada bicaraku meninggi.
“Aku kan Cuma bilang… mungkin. Kalau ngga tahu nggak usah marah gitu lagi!”
***
“Assalamu alaikum , anak-anak………..”
“walaiakum salam, pak”. Semua siswa menjawabnya dengan semangat. Tenri yang memang dari tadi penasaran dengan guru baru ini, bahkan matanya tak mau lepas memandang ke depan. Anak-anak pun kasak kusuk. Macam-macam pertanyaan dari siswa. “perkenalan dulu pak”. “nama pak”. “Status pak”. Pak guru baru itu hanya tersenyum melihat keagresifan para siswa yang centil-centil. Biasa. Anak SMA. Lagi puber. Gak bisa lihat cowok ganteng.
“Perkenalkan, nama bapak, Muhlis” mulai memperkenalkan diri. Nampaknya akan jadi idola baru nich dikalangan siswa ataupun guru guru. Soalnya keren dan ganteng.
“status…….” Semuanya diam. Menunggu kelanjutannya. Pak Mukhlis juga nampaknya sengaja menunda kalimatnya. Kuyakin. Semuanya pasti patah hati. Orang secakep dia pastilah sudah punya istri. Minimal anak sudah 1. dia kan orang Bone. Biasalah orang bugis. Biarpun masih SD anaknya sudah dinikahkan. Dan kekeluargaannya masih sangat kental. Di jodohkan sejak kecil dengan keluarga-keluarga. Biar hubungan semakin erat katanya. Tapi buktinya, kakak pertamau Hamka, yang menikah dengan sepupu satu kaliku Monic, tidak baikan. Akhirnya para orang tua juga saling musuhan dan saling menyalahkan selama bertahun-tahun. Sekarang sih sudah mulai saling bicara. Makanya, kakak keduaku Rani, yang juga sudah ngajar di SMP I tidak dijodohkan lagi. Dia di berikan kebebasan tuk memilih sendiri. Itu menurutku. Karena kutak pernah dengar soal perjodohannya dengan sesorang. Atau mungkin memang tak ada keluarga yang ingin berjodoh dengannya?
“masih single”. Ucapnya sambil tersenyum. So sweet….manis banget senyumnya. ada gingsulnya pula.
“yes!!!” sorak Tenri yang duduk di sampingku.
“emang, apa mengaruhnya kalau dia dia single?” tanyaku heran. “jangan salah ya. Banyak kok guru cowok yang nikah sama muridnya”. Jawabnya dengan senyum tersungging di bibirnya. Dasar. Belum apa-apa sudah mikirin kawin. Tamat sma aja belum. “prihatin dong sama ibu-ibu guru kita yang masih jomblo”.
***
“muhlis…..” sepertinya, ku kenal dengan nama itu. Kayaknya aku pernah baca tentang ….sosok muhlis yang ganteng, putih, keren, tinggi, religius, hampir sama dengan sosok pak muhlis guru baruku. Tapi, tulisan tentang apa ya…. di mana…….
ah! mungkin perasaan ku saja. Dan perasaanku kurang bisa di percaya. Karena berkali-kali aku kecewa, karena terbawa perasaan. Merasa di perhatiin… di beri senyum sama cowok ganteng. akhirnya kegeeran. Dengan PD kudekati dia bermaksud berkenalan. “eh cewek. Tuh merek bajunya masih tergantung.” Alamak….malunya aku. Ternyata aku di tertawain. Gara-gara lupa mencopot merk baju baru yang aku pakai. aku salah sangka.dan, banyak lagi kejadian memalukan lainnya, karena korban perasaan.
Sekarang, lebih baik aku mengerjakan tugas dari guru bahasa indonesiaku. Buat puisi. Tapi, ngomong-ngomong soal puisi, aku mau nulis tentang apa? Aku nggak tahu sama sekali nulis puisi. Tapi, aku nggak perlu khawatir. Ada kak Rani kok.
Aku keluar kamar mencari kak Rani di ruang TV. Biasanya sehabis makan, dia nonton TV. Tidak ada. Berarti di kamarnya.
“kak. Buatkan puisi dong!” rengekku padanya, yang tidur-tiduran sambil baca buku.
kak Rani memang bukan seorang pujangga. Tapi menurutku,dia berbakat banget. Aku pernah membaca beberapa cerpen dan puisi-pisinya yang bertema cinta yang telah ia bukukan. Di ketik computer lalu di jilid jadi satu. Menurutku, tak kalah dengan yang ada di majalah-majalah. Ceritanya bermakna. Bisa membuat kita merasakan, apa yang dirasakan oleh seseorang yang ada di cerita itu. Malah, cerpen-cerpen yang ada di majalah sekarang ini tak begitu menarik menurutku. Ceritanya asal. Tak memuaskan.
“belajar dong buat sendiri. Biarpun jelek asal karya sendiri.” Sudah kuduga. itu jawabannya.
“ngga tau kak. Gimana sih caranya supaya bisa buat puisi?”.
“sebenarnya, kakak ngga bisa buat puisi juga dulu. Hanya kakak suka aja menuliskan segala uneg-uneg kakak dalam buku diari. Lama kelamaan, kucoba tuk buat puisi maupun cerpen. Makanya, dari sekarang kamu harus belajar menuangkan segala perasaanmu dalam tulisan. Siapa tau aja kamu nanti bisa menjadi penulis terkenal”. Rentetatan katan-katanya sudah menyiratkan. Aku harus buat sendiri. Dengan lunglai kulangkahkan kakiku keluar tanpa menghasilkan sebuah puisi.
“aku benar-benar sudah ngantuk berat. Tapi sebaris puisipun belum ada yang kutulis. Aku tak tahu. Bagaimana cara memulainya? Temanya aja belum aku dapat.Mau buat puisi tentang apa?
***
“sudah selesai puisinya…?” Tanya bu Wayan pada kami dengan mata menyelidik. Tapi kuusahakan untuk tenang. Biar tidak ketahuan.
“sudah bu……” tak kusangka, suaraku yang paling keras menjawab membuat mata bu Wayan langsung beralih kepadaku.
Mati aku! Kalau ketahuan, pasti aku kan dikeluarkan dan di jemur di depan kelas, sampai pelajarannya usai.
“ok! Siapa yang bisa baca didepan puisinya?’ syukur….kirain aku yang akan di tunjuk.
Nggak ada seorangpun yang angkat tangan. Kulihat Tenri telah ada sebuah puisi di bukunya. Judulnya aku ingin jatuh cinta lagi
aku ingin jatuh cinta lagi
Sudah berulangkali aku jatuh cinta.
Rindu bila tak bersamanya.
Sunyi bila tak mendengar suaranya.
Berdebar kala bertemu dengannya.
Kesal menjadi senyum
marah menjadi tawa.
Gelisah menjadi riang
Galau menjadi bahagia
indahnya jatuh cinta.
walau pahit terkadang kurasakan
walau getir terkadang menyiksa
walau emosi terkadang menyerang
walau kecewa terkadang menyengat
aku tetap ingin jatuh cinta lagi
Sudah berulang kali aku jatuh cinta.
Tapi, Tak pernah jera aku jatuh cinta
Karena cinta membuat hidupku menjadi berwarna
Hebat benar puisi tenri. Tapi, palingan nyontek juga dari majalah. Nggak mungkin dia yang nulis sendiri. Dia nggak punya tampang jadi pujangga.
Kugaruk kepalaku yang tak gatal. Kebiasaanku yang kali ini, tak kuduga, membawa kesialan bagiku. Karena bu Wayan mengira, aku angkat tangan. “Ya! Kamu yang angkat tangan “ awalnya, kukira santi yang ditunjuk. Yang duduk pas dibelakangku. “kamu, Nur!” Santi memberitahuku. “Ha!” Aku langsung kaget dan pucat. “ya. Nurmi. silahkan maju kedepan”. Jantungku langsung terasa mau copot.
Dengan tangan gemetaran, Kuambil sebuah buku dari dalam tasku. Aku ketiduran tadi malam tanpa menghasilkan apa-apa. Paginya, aku malah terlambat bangun. aKu ke kamar kak Rani. Untungnya dia sudah pergi ke sekolah, jadi kubebas mengobrak-abrik kamarnya. Akhirnya kudapatkan juga yang aku cari.
“Sayakan bilang, buat sendiri!” Matanya melotot. Seperti ikan koki. Mau keluar biji matanya. Dia tahu? Kalau yang ada di tanganku bukan karyaku? Tapi, aku harus tetap bertahan. Terlanjur basah.
“I..ni kumpulan puisi saya bu. Sudah lama saya ketik lalu kuprint dan kujilid.” Alasan spontan yang keluar dari mulutku. Semua teman-temanku terdiam. Tak ada satupun temanku yang protes. Karena aku memang nggak idiot amat. Masuk 5 besarlah. Paling mereka hanya antara percaya dengan tidak. Kalau aku bisa sekreatif itu. Bisa menghasilkan karya.
Diraihnya buku itu dari tanganku. Dia hanya membaca sampulnya. “kumpulan puisi dan cerpen. Kamu bisa buat cerpen juga?”. Aku menuduk. Yang mungkin di artikan anggukan olehnya. Padahal takut menatap matanya. “ana’daraug. ini, nama samaranmu ya?” “Iya bu?.” Untung kak Rani tidak menuliskan nama aslinya di situ. Jadi aman.
“Ok. Kalau begitu, silahkan baca. Dan bukunya nanti, kasi ke ibu. Saya mau periksa. Benar tidak itu karyamu. Silahkan di baca.”
Siapa takut. Kuyakin. Bu Wayan juga tak bisa membuat puisi ataupun cerpen seperti karya kak Rani. Aku juga sering baca puisi atau cerpen di majalah-majalah remaja. Cerpen kakakku malah terkadang lebih bagus. Hanya mungkin kalah nama. Dan pendatang baru. Sehingga cerpennya tak pernah di muat. Tak diperhitungkan.

BayangMu dan bayangnya

Tuhan……bukan aku menafikanMu,
Bukan aku melupakanMu,
Dan bukan pula aku mengingkariMu.
Kucoba…tuk tetap khusuk mengingatMu……..
Dan dengan memejamkan mata,
Kukira aku mampu menggapaiMu
Dan meraih bayangMu.
Namun……
Ternyata sudut mataku hanya menangkap bayangnya ya……..Allah.
(sory ya, ya Allah.)
Senyumnya yang menawan……..
rambutnya yang brekele
“ha.ha ha" semuanya langsung tertawa mendengar kata-kata brekele. Dan mata merekapun menoleh ke Rahman yang rambutnya memang brekele. Aku ikut tersenyum.
Bayangnya telah meluruhkan konsentrasiku
Tuk tetap mengingatMu, ya……..Allah!
Jangan salahkan hambamu ini ya,
Ya Allah…….yang terlena akan cinta….
Karena dari kau jualah segala zat cinta di alam manusia.
Tepuk tangan yang riuh dari teman-teman. Nampak kepuasan dari sudut matanya. Aku tersenyum penuh kemenangan. Karena berhasil lolos dari hukuman. Bu wayanpun senyum-senyum mendengar puisiku. Soalnya lucu sih. Tapi mempunyai makna yang dalam. Karena itulah kenyataannya. Ketika kita jatuh cinta, kita terkadang lupa segalanya. Yang ada didalam ingatan hanya sang pujaan hati.
***
Benar kata orang. Tidak selamanya yang kita anggap buruk itu buruk. bisa saja itu menjadi hal yang baik. Terbukti. Rahman yang rambutnya brekele itu, nembak aku esoknya, gara-gara puisi itu. Di kiranya mungkin, aku terinspirasi dengan dirinya selama ini, sehingga terciptalah puisi itu.
Dia rangking 2 lo dikelasku. Aku langsung terima aja. Soalnya malu juga sih jomblo melulu. Dibilang ngga laku sama temana-teman. Soal cinta urusan belakang. Perjalanan kan masih panjang. Minimal ada yang antar jemput ke sekolah. Dan julukan the best jomblowati akan hilang dari diriku.
Dari kelas 1 sampai kelas 2 sekarang, baru kali ini aku pacaran. Paling Cuma naksir-naksiran. Tapi tak pernah jadian.
Aku heran aja sama kak Rani. Kok bisa-bisanya nulis puisi yang lucu kayak gitu. Menurut dia sih, semua puisi yang ia buat berdasarkan pengalama pribadi. Dan puisi ini ia buat saat ia jatuh cinta sama kakak tingkatnya yang rambutnya gondrong dan brekele yang menjadi guru les pianonya dikampus dulu.
“Rahman! Temani aku dulu ke kantor ya. Bu Wayan manggil aku….” Saat jam pulang.
“ada masalah apa Bu Wayan manggil kamu?”
“mungkin kasi kembali buku ku yang kemarin”.
Sebenarnya, Hatiku deg degan. Mungkinkah bu Wayan tahu? Kalau itu bukan karyaku? Ah. Tidak mungkin.
Kantor lagi sunyi. Hanya ada bu Wayan. Guru-guru yang lain sudah pada pulang semua. Kulihat buku puisi itu lagi ia baca.
“ada apa bu?”
“nih bukunya. Makasih ya “
“sama-sama bu” syukur deh. Kirain mau introgasi lagi.
“Nurmi…..” tersenyum penuh makna. Kayaknya ada sesuatu yang mau dia ucapkan. Tapi ragu. Apa dia masih ragu ya kalau benar-benar aku yang menulisnya.
“cerpennya bagus, ya?”
“tentu dong, bu. Soalnya cerpen ini dibuat dari hati. Dan sebagian ceritanya adalah pengalam pribadi”. Jawabku mantap. Kata-kata yang selalu di ucapkan oleh kak Rani, saat aku memuji karyanya.
“berarti, kamu benar-benar cinta ya sama pak muhlis?” tanyanya dengan nada menggoda.
“Ha! Pak muhlis?” aku kaget. Apa hubungannya? Aku langsung menoleh ke Rahman. Raut mukanya langsung berubah. Aku menyesal mengajak Rahman kalau ceritanya jadi panjang gini. Ada misunderstanding lagi nih nampaknya.
“iya…Soalnya, ibu baca, semua yang jadi tokoh utamanya, adalah Muhlis. Ada salah satu cerpenmu yang berjudul ada cinta dalam canda. Karakter muhlis yang ada di cerpenmu benar-benar mirip dengan pak muhlis”. Ku tak mampu berkata-kata. Rahman langsung pergi. Mendengar kalimat terakhir bu Wayan.
Benar kata orang. Kalau awalnya buruk, maka buruk pulalah akhirnya. Hal ini terjadikan karena aku berbohong. Gimana ya cara menjelaskannya ke bu Wayan dan rahman? Untung HP bu wayan berbunyi. Akupun pamit tuk mengejar Rahman saat ia sibuk menerima telfon.
Rahman kemana sih. Dia ngga ada ditempat parkir. Ku sms aja ah. Kalau kutelfon, pasti ngga akan diangkat. Kayaknya dia marah banget. “Say…kamu salah paham. Sebenarnya, bukan aku yang nulis cerpen itu. Tapi kakak aku”. Tak berapa lama ada balasannya. “berarti puisi itu bukan kamu yang buat kan?” .. “iya. Tapi dari dulu aku suka sama kamu kok. Jadi, jangan marah lagi ya?”.
Rahman percaya juga. Dan menemuiku di tempat parkir. “mana sih bukunya? Aku penasaran mau baca.”
“Iya ya!. Bukunya nggak aku ambil tadi. Kamu sih….ngambek.”
Aku berdua kembali berjalan kea rah kantor. Kuhentikan langkahku saat masih di belakang kantor. Aku mengintip yang diikuti Rahman dari balik jendela karena mendengar percakapan pak Muhlis dan Bu Wayan. Sepertinya, yang dibicarakan tentang kami.
“Ada apa bu dengan anak-anak itu tadi?”
“nggak ada apa-apa pak. Cuma mau kembaliin buku cerpennya Nurmi”.
“o…..”
“bapak ngajar kan di kelasnya nurmi?”
“iya”
Bu Wayan nampaknya menarik sebuah kesimpulan sendiri dengan senyuman kecil di sudut bibirnya.
Iapun tak bertanya lagi. Sedang pak Muhlis mengambil buku yang ada didepannya dan membukanya. Tadi, buku itu sempat aku ambil. Tapi kuletakkan lagi di meja pak muhlis karena kaget mendengar pernyataan Bu Wayan yang di luar dugaan. Masa aku suka sama yang tua kayak pak muhlis. Nggak lah. Aku bukan Tenri lagi!
Ia tertawa sendiri membaca sebuah puisi di halaman depan. Pasti Bayangmu dan bayangnya. Setelah itu ia membuka-buka lagi. Matanya tertuju pada sebuah cerpen yang membuat kenignya berkerut. Nampaknya ada sesuatu yang menarik. Ia lalu membalik ke halaman sebelumnya. Dari jendela dapat kulihat tulisan judulnya yang ada cinta dalam canda. Karena tulisannya memang besar. buku itu telah berulang kali aku baca. Sayangnya, ending dari cerpen itu tak asyik. Cinta sang gadis tergantung. Sinyal cinta dari si cowok telah ia rasakan. Tapi kalimat cinta tak pernah terucap hingga keduanya tamat kuliah dan si gadis kembali ke kampungnya.
“ada apa pak? Kok bengong gitu?” ternyata, dari tadi bu Wayan memperhatikan tindak tanduk pak Muhlis.
“ku heran saja dengan cerpen ini. Ini mengingatkakku ketika aku masih kuliah di Bone dulu. Kok ceritanya mirip ya dengan kisahku. Namanya pun sama. Tempat kejadiannyapun sama”
‘berarti benar dong, kalau ada teman kuliah bapak yang sering menggoda dengan kata-kata ganteng, rindu…..
Anggukan kepala cowok ganteng yang ada di depannya memberikan jawaban yang jelas.
“sebenarnya, aku suka juga dengan dia. Sayangnya, aku sudah ditunangkan. Dan aku tak mau mengecewakan orantuaku. Akhirnya, akupun menjauhinya. Karena aku takut, dia berharap banyak padaku dan aku tak mau menyakiti hatinya. Namun takdir berkata lain. Tunanganku menikah dengan orang lain. Aku kecewa. Bukan karena dia menikah. Tapi, kecewa, karena kutelah menyia-nyiakan cinta orang yang teramat kucintai. Ibu tau…. Setelah tamat kuliah Dia pernah nelfon sekali. Waktu tau kalau sudah punya hp. Karena saat itu hp masih barang langka. dia sms. Mengungkapkan semua isi hatinya. Tapi, Aku tak pernah membalas smsnya. Karena itu hanya kan memberikan harapa semu padanya”.
Bu Wayan nampak menikmati cerita itu. Penasaran mendengar kelanjutan kisahnya.
“Aku begitu senang, ketika mendapatkan tugas ngajar di sini. Di luwu timur. ke sini, berharap bisa mencarinya. Aku juga tak tau pasti alamatnya di mana. Tapi aku yakin, suatu saat pasti bertemu. Apalagi profesi dia juga guru.”
“namanya siapa pak? Kenapa tidak bilang dari dulu? “
“namanya Rani”
“yang namanya Rani banyak. Istrinya pak agus, juga Rani namanya. Guru di smp sebelah juga Rani namanya. Sekarang lagi hamil.”. Pak Muhlis langsung kaget. “hamil?”
“tenang dulu pak. Memangnya dia guru apa?”
“b. inggris!”
“berarti bukan. Karena yang di sebelah guru Kn. Ada lagi satu yang namanya Rani. Tapi aku lupa guru apa. Nanti deh aku Tanya nurmi. Karena…”
“Assalamu alaikum” di pintu kantor seseorang mengetuk pintu. Pak Muhlis yang muslim tentu saja refleks menjawab salam itu.
“panjang umur. Kok bisa sih kebetulan seperti ini? Kita guru…..” tak jadi melanjutkan pertanyaannya. Karena Pak Muhlis menatap lekat kea rah bu Rani yanga ada di depannya. Sedang Bu Rani, sepertinya tak percaya dengan penglihatannya. Bu Wayan ikut terdiam, melihat kedua insane ini hanya bertatapan heran. Bu Rani inikah yang di maksud pak Muhlis?
“Muhklis…?” dengan ragu, Rani menyebutkan nama cowok yang ada di depannya.
Aku lebih-lebih lagi. Kok Kak rani kenal pak muhlis?***

Pak Guru

 
Cerpen 
SITI MUYASSAROTUL


Ahad, 03/11/2013 13:00
Beginilah kegiatannya sehari-hari, tangannya selalu dicium bocah-bocah. Senyumnya merekah, badannya sedikit diangkat sekiranya bisa terlihat gagah dan terhormat. Sesekali menyuruh bocah untuk memenuhi kebutuhannya. Terkadang juga dia mengamuk, marah-marah lantaran ada bocah yang dianggapnya nakal.

Ya, dia adalah Pak Guru. Namanya Anto. Guru yang dikagumi sekaligus dihormati oleh bocah-bocah, bahkan para tetangganya. Dia salah satu putra dari guru yang dituakan dan sangat disegani di sekolah ini. Pak Guru Anto semakin bangga ketika pangkatnya naik, bukan lagi sebagai guru honorer, namun lebih. Dia merasa pangakatnya ini akan membuat hidupnya kelak terjamin.

Beberapa kali dia sering mendominasi rapat para guru. Juga siang kali ini.

“Pak, menurut saya sekolah kita sudah kelewat sabar menunggu dana BOS belum juga cair,” kata Pak Guru Anto.

Semua guru terdiam, mereka diam bukan karena setuju ataupun tidak setuju. Mereka diam juga bukan karena tidak tahu apa yang dibicarakan juga bukan karena kebingungan dengan masalah dana BOS ini. Mereka diam karena sebenarnya mereka tidak begitu butuh dengan kehadiran dana tersebut. Mereka sebenarnya lebih memikirkan kondisi bocah-bocah. Mereka semakin sulit untuk diatur. Semakin banyak bocah yang melanggar peraturan.

“Pak Kepala, kenapa kita diam saja seperti ini, Pak. Kita ini butuh dana itu, Pak?” katanya.

Pak kepala pun diam bukan karena memikirkan dana itu. Bukannya dia memanggil rapat para guru untuk menangani kondisi bocah-bocah, kenapa Pak Guru Anto malah mempermasalahkan dana itu. Tapi pak kepala juga cenderung diam.

Pak Guru Anto bingung dengan rapat siang ini. Semua cenderung diam. Padahal dia sudah bicara sampai mulutnya berbuih. Dia meminum air di depannya, langsung menghabiskannya. Sangat terlihat kalau dia memang kehausan.

Istri Pak Guru Anto sering mengkhawatirkan tingkah laku suaminya. Kini suaminya bukan lagi seperti dulu. Dulu ketika masih mahasiswa dan mereka berpacaran, suaminya itu merupakan laki-laki yang diidamkan banyak perempuan. Dulu dia aktivis kampus yang selalu mengedepankan keadilan, kesetaraan.  Bahkan dia pernah menjadi ketua BEM. Kini membantu mencucikan pakaian anak dan istrinya saja tidak pernah, jangankan itu membuat kopi sendiri saja tidak pernah apalagi memberi peluang pada istrinya untuk berkarir, “Sekarang belum saatnya untuk kamu, biar karir saya dulu yang meningkat. Toh kalau karir saya bagus, kamu sebagai istriku juga pasti ikut dihormati.”

Bukan dihormati orang lain yang istrinya butuhkan, namun dia lebih berharap suaminya yang terlebih dahulu menghormatinya, minimal menghormati pendapatnya.

“Pak, njenengan tuh jangan terlalu meributkan dana yang belum cair itu, masih banyak yang harus diperhatikan, khususnya perilaku bocah-bocah, murid-muridmu. Semakin banyak saja mereka merokok, pacaran bahkan berkata tidak sopan,” kata istrinya.

“Lho kamu tuh gimana to? Dana itu juga penting, itu kan janji pemerintah, yo harus ditepati,” katanya sambil mengisap rokok.

“Iya, tapi kan bocah-bocah di sekolahmu itukan kebanyakan anak orang mampu, yang lebih penting ya memikirkan masa depan mereka,” kata istrinya lagi.

“Sudah, sudah, kamu tuh tahu apa tentang masalah sekolahku. Oh ya aku sekarang mau ikut sertifikasi. Kamu doakan biar aku lulus. Nanti uangnya bisa kita belikan mobil,” katanya.

“Amin... tapi kenapa harus mobil to pak? Kenapa gak untuk tabungan haji saja?” tanya istrinya.

“Ah.. kita kan masih muda. Kalo soal haji nanti saja lah,” kata suaminya. Istrinya selalu menghela napas sesak, dan mencoba lebih sabar.

Rencananya untuk berdemo menagih dana yang dijanjikan pemerintah gagal. Dia tidak bisa menggerakkan para guru sekolahnya. Juga karena dia alih konsentrasi pada ujian sertifikasinya yang lumayan ribet. Bahkan karena keribetan itu, dia melupakan bocah-bocahnya. Saat jadwalnya mengajar dia malah membiarkan bocah-bocah ribut di kelasnya. Saatnya guru lain khusyuk mengajar, dia mencari-cari guru yang mau jam pelajarannya diambil. Bahkan tak segan-segan dia meminta bapaknya sendiri yang sudah puluhan tahun mengajar pendidikan agama  di sekolah itu untuk menyerahkan jam pelajarannya kepadanya.

Bapaknya tidak bisa menolak permintaan anaknya, walaupun dalam hatinya mengajar di sekolah ini adalah sebuah pengabdian yang sampai tetes darah penghabisan. Dia tetap ikhlas, karena bagaimanapun dia ingin anaknya bahagia.

Setelah beberapa tahun dia mendaftar sertifikasi, sampai detik ini belum juga dia mendapat panggilan. Pak Guru Anto ini lebih sering marah-marah ketimbang beberapa tahun silam. Istrinya sering menangis, namun juga sering terlihat bahagia di depan bapak mertuanya atau di depan bocah-bocah dan para tetangga. Sekarang suami yang dikenalnya bukan seperti yang dulu sebelum mereka menikah. Suaminya sudah tidak tulus menjadi seorang guru, sudah tidak 'tanpa tanda jasa' niat yang ada dalam hatinya.

Begitupun yang dirasa Pak Guru Anto, dia merasa dirinya berbeda dengan dulu. Namun ketika dia melihat wajahnya dalam cermin dia merasa ini semua adalah proses yang panjang. Semua perjuangannya harus terbayar “aku tidak bisa tinggal diam.”

Bocah-bocah bingung jam pelajaran Pak Anto kali ini juga kosong, mereka mencari Pak Guru Anto, di kantor tidak ada, bahkan tidak ada guru satu pun yang tahu di mana pak Guru Anto. Hanya istrinya yang tahu di mana dia berada.

Bel istirahat membuat kegembiraan tersendiri bagi bocah-bocah. Mereka banyak berlari menuju kantin sekolah. di kantin ternyata penuh dengan bocah lainnya. Semua mata mereka tertuju pada TV kecil yang sedang memberitakan para Guru berdemo. Salah satu bocah melihat jelas siapa yang tersorot kamera, dia mengenalnya, ya Pak Guru Anto. Dia melihat sosok itu memakai seragam mengajarnya dengan kepala terikat serta membawa kertas besar dengan tulisan “BERIKAN HAK KAMI, TEPATI JANJIMU!!!”

Ternyata bukan hanya satu yang melihatnya di layar kaca itu, semua-semua yang menonton berita siang ini menyaksikan sosok itu. Beberapa bocah berpikir, “Hahahaha.... pak guru saja berdemo, wajarlah kalu kita tawuran.”

Ada pula yang berpikiran “Pak Guru menuntut hak, sedangkan dia sendiri hari ini tidak memberi hak kepada kami.”

Istrinya semakin menagis histeris, begitupun anak dan ayahnya.


Krapyak, 24 Mei 13, 23:53

SITI MUYASSAROTUL lahir di Cirebon 25 Januari 1988. Pernah juga aktif di Komunitas Coret LKiS.

HADIAH BUAT PAK GURU

Cerpen : HADIAH BUAT PAK GURU

            “Ssst… Pak Darto,” bisik Silvi.
            Keempat temannya langsung merendahkan tubuhnya, berlindung di balik semak-semak. Di kejauhan tampak Pak Darto sedang berjalan agak cepat menuju WC Guru. Silvi cs mengintai dengan senyum menyeringai.
      Byur! Klontang! Suara guyuran air dan ember jatuh terdengar dari tempat anak-anak bandel itu mengintai begitu Pak Darto masuk WC. Silvi cs cekikikan. Bahkan Faisal sampai memegangi perutnya dan Fina berurai air mata karena merasa geli sekali. Bagi mereka, ‘kecelakaan’ yang menimpa Pak Darto merupakan hal yang sangat lucu. Mereka memang yang memasang jebakan itu. WC Guru yang tidak pernah dikunci memudahkan rencana mereka. Mereka meletakkan seember air penuh di atas daun pintu WC Guru yang dibuka sedikit, sehingga siapa saja yang membuka pintu itu secara otomatis ember yang berada di atas pintu akan terjatuh. Dan hasilnya bisa dibayangkan.
            Beberapa saat kemudian tampak Pak Darto keluar dari WC. Guru yang sudah mulai tampak tua itu basah kuyup, mulai dari kepala sampai pakaiannya. Sungguh menggenaskan. Tapi bagi Silvi cs hal itu sangat menggembirakan. Mereka tertawa puas melihat hasil kerjanya sesuai dengan yang mereka rencanakan.
            Silvi, Faisal, Fina, Egy, dan Anjar adalah anak-anak yang sering membuat onar. Meskipun mereka sudah kelas 3, namun mereka tetap tidak mau mengubah kebiasaan buruk mereka. Mereka tidak hanya ngerjain sesama teman di luar kelompok mereka, tetapi juga terhadap guru. Mereka sudah menjadi langganan menghadap Guru BP. Namun sepertinya tak ada seorang pun yang bisa menasihati mereka. Bagi mereka, tiada hari tanpa membuat ulah.
***
            Semua merasa terkejut dan heran ketika Pak Darto memasuki kelas dengan pakaian basah. Tapi Silvi cs hanya saling memandang dan mesam-mesem.
            “Assalamu'alaikum warahmatulaahi wabarakatuh!” sapa Pak Darto setelah meletakkan buku-bukunya di atas meja.
            Para siswa menjawab serempak, meskipun ada yang suaranya dibuat-buat.
            “Anak-anak, Bapak minta maaf karena terpaksa mengajar dengan pakaian basah,” ucap Pak Darto.
            “Kenapa, Pak?” beberapa anak bersuara serempak.
            “Kebetulan tadi ada yang iseng-iseng sama Bapak,” jawab Pak Darto sambil tersenyum. “Bapak tidak apa-apa. Bapak hanya bisa mendoakan semoga mereka diberi hidayah oleh Allah sehingga mereka akan menyadari kesalahannya. Dan keadaan Bapak yang seperti ini semoga tidak memengaruhi semangat kalian untuk tetap belajar dengan baik.”
            Selanjutnya pelajaran berjalan seperti biasa. Silvi cs saling melirik dan tersenyum simpul. Tapi dalam hati mereka mengagumi kesabaran guru agama itu.
***
            Silvi cs berjalan ke tempat parkir, bermaksud mengambil sepeda motor mereka. Kebetulan Pak Darto baru saja keluar dari tempat parkir menuntun sepeda ontelnya. Rupanya ban belakang sepedanya kempes. Barangkali karena sengaja dikempeskan oleh siswa sebab hal seperti itu sudah sering terjadi.
            “Lihat tuh hasil kerja kamu,” bisik Silvi pada Faisal sambil tersenyum.
            Faisal, Fina, Egy, dan Anjar hanya tertawa kecil melihat keadaan Pak Darto. Dan tanpa disadari oleh Pak Darto, ada sesuatu yang jatuh melayang dari saku belakang celananya ketika beliau mengambil kunci sepeda..
            “Eh, ada yang jatuh,” kata Anjar lirih.
            “Biar aku yang ambil,” ucap Faisal. Lalu dengan langkah yang dibuat sewajar mungkin ia mendekati benda milik Pak Darto yang terjatuh, sementara Pak Darto tetap berjalan menuntun sepedanya pelan-pelan. Dan dengan cepat Faisal memungut benda itu yang langsung dimasukkannya ke dalam saku celananya. Kemudian dengan terburu-buru ia bergerak mendekati teman-temannya sambil tersenyum.
            “Apa, Sal?” tanya Anjar penasaran.
            “Cuma kertas. Tapi belum kubuka,” sahut Faisal sambil mengeluarkan benda yang tadi diambilnya.
            “Cepat buka, Sal!” kata Fina tidak sabar.
            Faisal membuka kertas yang terlipat itu dengan hati-hati. Keempat temannya yang mengerumuninya merasa tidak sabar. Begitu kertas sudah dibuka, dengan cepat Faisal membaca tulisan yang terbesar.  “Slip gaji Pak Darto,” ucapnya lirih.
            Mereka tampak tersenyum. Entah tersenyum senang atau tersenyum licik. Kemudian dengan teliti mereka membaca tulisan di atas kertas itu.
***
            Pak Darto menyandarkan sepedanya di pohon jambu biji depan rumahnya yang sederhana. Ketika ia memasuki rumahnya, tampak istrinya sedang membungkusi ceriping ketela dengan plastik untuk dijual. “Assalamu'alaikum!”
            “Wa’alaikum salam. Sudah gajian ya, Pak?” sahut istrinya.
            “Sudah, Bu,” sahut Pak Darto sambil mengambil uang di dalam tasnya. “Ini!”
            Wanita itu menerima uang yang diulurkan suaminya. Lalu dihitungnya sebentar. “Kok Cuma seratus empat puluh lima, Pak?”
            “Ada potongan lima ribu untuk iuran, karena ada teman yang menikah minggu lalu,” sahut Pak Darto sambil memasukkan tangannya ke saku belakang celananya, bermaksud mengambil slip gajinya. Tapi ia kebingungan karena saku celananya kosong. Ia tak menemukan selembar kertas yang dicarinya. Ah, mungkin terjatuh di jalan, batinnya.
            “Ya sudah. Sana Bapak makan dulu. Setelah sholat, nanti antarkan dagangan ini ke warung Bu Erni dan Bu Nunung!”
            Pak Darto makan dengan lahap meskipun hanya dengan sayur daun ketela, tempe goreng, dan sambal tomat. Pekerjaan sebagai guru swasta tidak memungkinkan ia makan dengan lauk yang mewah. Gaji Rp150.000,00 setiap bulan sungguh tidak cukup untuk biaya hidupnya. Apalagi ia punya istri dan dua orang anak. Beruntung ia memiliki istri yang pandai mencari uang tambahan meskipun hanya dengan berdagang kecil-kecilan. Ia juga merasa bersyukur karena ia masih bisa menyekolahkan anak-anaknya dengan baik.
***
            Pagi ini Pak Darto kembali mengajar. Tapi sungguh ia merasa heran sekaligus senang melihat sikap para siswa yang telah berubah drastis. Suasana belajar benar-benar telah berubah menjadi nyaman. Semua siswa mengikuti pelajaran dengan baik dan tekun, termasuk Silvi cs yang biasanya paling ramai dan selalu membuat ulah.
            “Ada yang sudah hapal surat Albayyinah?” tanya Pak Darto.
            “Saya, Pak… saya, Pak!” beberapa anak mengacungkan jari.
            “Coba kamu, Faisal!” kata Pak Darto sambil menunjuk Faisal yang ikut mengacungkan jari, ingin tahu apakah anak bandel itu benar-benar serius telah berubah.
            Ternyata Faisal bisa melafalkan surat Albayyinah dengan lancar. Pak Darto tersenyum puas. Hatinya diam-diam terharu.
            “Sekarang coba kamu, Silvi!” kata Pak Darto lagi.
           
            “Tapi saya belum hafal, Pak,” jawab Silvi.
            “Tidak apa-apa. Bapak hanya ingin tahu sampai di mana hapalanmu.”
            Silvi pun segera melakukan apa yang diinginkan gurunya. Tapi pada ayat ketiga gadis tomboy itu tampak terbata-bata. Dan akhirnya macet sama sekali. “Maaf… Pak, saya belum hafal,” kata Silvi akhirnya. “Tapi saya janji minggu depan saya sudah hafal.”
            Pak Darto benar-benar terharu. Keseriusan gadis tomboy sungguh-sungguh telah mengusik nuraninya. Tanpa sadar air matanya sudah meloncat keluar. Buru-buru beliau duduk di kursi guru dan terdiam beberapa saat. Tenggorokannya terasa tersumbat. Para siswa juga ikut terbawa emosi, sehingga suasana kelas menjadi hening.
***
            Perubahan sikap positif yang dilakukan siswa kelas 3 tidak hanya mencengangkan Pak Darto, tapi juga seluruh guru di sekolah swasta itu. Sudah tentu hal itu menggembirakan hati para guru meskipun mereka tidak mengetahui apa yang menyebabkan para siswa berubah secara total. Yang terpenting bagi mereka adalah proses belajar-mengajar menjadi lancar dan nyaman. Sampai ketika UAN sudah di ambang pintu, para siswa sudah tampak siap menghadapi ujian.
***
            Acara perpisahan kelas 3 yang diselenggarakan di aula sekolah segera dimulai. Dewan guru dan karyawan serta siswa-siswi kelas 1 dan 2 sampai tukang kebun tampak menghadiri acara itu. Semua menampakkan wajah ceria. Ini adalah acara yang teramat istimewa, lebih-lebih bagi kelas 3 yang semuanya lulus UAN.
           
Acara demi acara yang dipandu oleh Fina dan Egy sebagai pembawa acara berjalan dengan lancar. Mulai dari pembukaan, selingan tari Gambyong dan lagu dari siswa kelas 1 dan 2, sambutan Kepala Sekolah yang menyatakan bangga dengan prestasi siswa-siswi kelas 3 karena berhasil lulus UAN 100%, sampai akhirnya sambutan dari siswa kelas 3 yang diwakili oleh Faisal.
            “Sebelumnya saya mohon maaf,” kata Faisal setelah mengucapkan salam dan mukadimah. “Seperti yang telah Bapak-bapak dan Ibu-ibu Guru maklumi, bahwa saya tidak pandai berpidato. Maka sekali lagi saya mohon maaf apabila pidato saya nanti tidak layak sama sekali.” Para guru tertawa kecil karena kepolosan Faisal. Faisal menjadi tersenyum. “Yang pertama, saya mewakili teman-teman bersyukur pada Allah yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami berhasil lulus UAN meskipun sebenarnya ini berat bagi kami. Kemudian yang kedua saya mewakili teman-teman mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Bapak-bapak dan Ibu-ibu Guru karena kenakalan dan kebandelan kami yang mungkin telah membuat Bapak-bapak dan Ibu-ibu Guru sakit hati. Dan kami juga berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak-bapak dan Ibu-ibu Guru yang telah dengan ikhlas dan luar biasa sabar dalam membimbing kami belajar.” Faisal berhenti sejenak mengambil napas. “Mungkin Bapak-bapak dan Ibu-ibu Guru ingin tahu, mengapa kami yang sebelumnya bandel-bandel bisa berubah secara drastis menjadi baik dan tekun dalam belajar. Perlu diketahui, bahwa kami pernah secara kebetulan menemukan slip gaji Pak Darto yang terjatuh. Setelah kami baca, kami hampir tidak percaya bahwa gaji seorang guru seminim itu. Tapi setelah kami menghadap Bapak Kepala Sekolah, ternyata memang betul bahwa gaji guru minim sekali. Kami jadi tidak hanya tahu berapa gaji Pak Darto, tapi juga berapa gaji semua guru.” Faisal berhenti lagi. Ada butiran bening yang siap keluar di pojok-pojok matanya. Ia menghela napas dua kali sebelum ia berbicara lagi. “Kami mohon maaf, Bapak-bapak dan Ibu-ibu Guru karena kelancangan kami ini. Tapi, demi Allah, hal inilah yang membuat kami berubah, karena kami pikir betapa berat tugas guru sementara gajinya tidak sesuai dengan tugas yang diembannya. Bahkan kalau boleh kami katakan dengan apa adanya, gaji guru masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan upah kuli bangunan!”
            Tiba-tiba hadirin bertepuk tangan sehingga Faisal berhenti berbicara sebentar. Beberapa guru tampak matanya berkaca-kaca.
            “Hadirin yang kami hormati,” kata Faisal lagi. “Sebagai kenang-kenangan, maka perkenankan kami memberikan sekedar hadiah. Tapi kami mohon maaf karena kami hanya bisa memberikan hadiah ini kepada seorang guru saja. Kami harap guru-guru yang lain tidak iri karena kami telah mengambil keputusan dengan berbagai pertimbangan. Di antaranya : guru yang paling banyak telah kami ‘kerjai’, guru yang paling sabar, guru yang paling sederhana, guru yang menyebabkan kami berubah, dan lain-lain yang tidak bisa kami sebutkan. Kami tahu hadiah ini tidak senilai dengan bimbingan dan kerja keras para guru. Tapi paling tidak, hadiah ini sebagai ungkapan rasa hormat dan rasa sayang kami. Dan hadiah ini kami berikan kepada … Bapak Sudarto!” Hadirin bertepuk tangan. “Mohon kepada Bapak Sudarto untuk naik ke panggung!”
            Pak Darto seperti kebingungan dan ragu-ragu. Tapi teman-temannya mendukungnya agar ia mau naik ke atas panggung. Akhirnya  Pak Darto bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah panggung diiringi tepuk tangan hadirin. Bersamaan dengan itu Tomi menuntun sepeda motor ke atas panggung.
            Faisal turun dari mimbar dengan menggenggam mikrofon dan menyambut Pak Darto. Kini Pak Darto berhadapan dengan Faisal yang didampingi Tomi yang memegang sepeda motor.
            “Pak Darto,” kata Faisal dengan mikrofon di depan mulut. “Sepeda motor ini sengaja kami hadiahkan kepada Bapak. Sepeda motor ini memang bukan baru, tapi kondisinya masih bagus. Harap diterima dengan ikhlas dan semoga banyak manfaatnya buat Bapak.”
            Tomi mendorong sepeda motor itu mendekati Pak Darto.
            “Terima kasih,” ucap Pak Darto sambil memegang stang sepeda motor itu. Suara Pak Darto menggema ke seluruh ruangan karena Faisal mendekatkan mikrofonnya ke mulut Pak Darto. “Semoga ini menjadi amal yang baik bagi kalian. Tapi sebenarnya, bagi saya dan guru-guru yang lain, kelulusan kalian yang seratus persen adalah sudah merupakan hadiah terindah bagi kami.”
            Faisal dan Pak Darto berjabat tangan. Lalu Pak Darto memeluk Faisal dengan mata berkaca-kaca. Setelah itu kemudian Pak Darto kembali turun dari panggung diikuti Tomi yang menuntun sepeda motor yang sekarang sudah menjadi milik Pak Darto.         “Hadirin yang kami hormati,” kata Faisal lagi tanpa kembali naik ke mimbar. “Sebagai hadiah terakhir untuk para guru, terimalah lagu persembahan kami!’
            Siswa kelas 3 yang duduknya berada di belakang para guru dengan teratur bangkit dan berjalan naik ke panggung. Lalu membentuk barisan koor. Silvi siap berdiri di depan menjadi dirigen. Setelah semua siap, Silvi mulai mengangkat tangannya.
            “Bagimu negeri jiwa raga kami,” ucap Silvi melantunkan baris terakhir lagu “Padamu Negeri”.
            Maka mengalunlah lagu “Padamu Negeri” dengan penuh perasaan dari mulut para siswa kelas 3. Suasana menjadi hening. Yang terdengar hanya lantunan lagu “Padamu Negeri”  Para guru seperti terkesima dan terharu. Tanpa terasa air mata mengalir membasahi pipi para Pahlawan Tanpa Tanda Jasa itu. Sungguh lagu itu berhasil menyentuh nurani mereka.
            Ketika lagu “Padamu Negeri” berakhir, applaus panjang diberikan oleh hadirin. Siswa-siswi kelas 3 tetap berdiri dengan wajah serius sampai applaus berhenti sama sekali. Dan kemudian, mengalunlah lagu “Syukur” dengan penuh kesyahduan. Kini bukan hanya para guru, tapi juga para siswa kelas 3 banyak yang menitikkan air mata. Mereka menangis sambil terus menyanyi... amat mengharukan.
***

Temanggung, September 2011

"Guru" Karya Putu Wijaya

Jumat, 02 Desember 2011

Cerpen : "Guru" Karya Putu Wijaya



Anak saya bercita-cita menjadi guru. Tentu saja saya dan istri saya jadi shok. Kami berdua tahu, macam apa masa depan seorang guru. Karena itu, sebelum terlalu jauh, kami cepat-cepat ngajak dia ngomong.


"Kami dengar selentingan, kamu mau jadi guru, Taksu? Betul?!" Taksu mengangguk.


"Betul Pak." Kami kaget.

"Gila, masak kamu mau jadi g-u-r-u?"


"Ya."

Saya dan istri saya pandang-pandangan. Itu malapetaka. Kami sama sekali tidak percaya apa yang kami dengar. Apalagi ketika kami tatap tajam-tajam, mata Taksu nampak tenang tak bersalah. Ia pasti sama sekali tidak menyadari apa yang barusan diucapkannya. Jelas ia tidak mengetahui permasalahannya.


Kami bertambah khawatir, karena Taksu tidak takut bahwa kami tidak setuju. Istri saya menarik nafas dalam-dalam karena kecewa, lalu begitu saja pergi. Saya mulai bicara blak-blakan.


"Taksu, dengar baik-baik. Bapak hanya bicara satu kali saja. Setelah itu terserah kamu! Menjadi guru itu bukan cita-cita. Itu spanduk di jalan kumuh di desa. Kita hidup di kota. Dan ini era milenium ketiga yang diwarnai oleh globalisasi, alias persaingan bebas. Di masa sekarang ini tidak ada orang yang mau jadi guru. Semua guru itu dilnya jadi guru karena terpaksa, karena mereka gagal meraih yang lain. Mereka jadi guru asal tidak nganggur saja. Ngerti? Setiap kali kalau ada kesempatan, mereka akan loncat ngambil yang lebih menguntungkan. Ngapain jadi guru, mau mati berdiri? Kamu kan bukan orang yang gagal, kenapa kamu jadi putus asa begitu?!"


"Tapi saya mau jadi guru."


"Kenapa? Apa nggak ada pekerjaan lain? Kamu tahu, hidup guru itu seperti apa? Guru itu hanya sepeda tua. Ditawar-tawarkan sebagai besi rongsokan pun tidak ada yang mau beli. Hidupnya kejepit. Tugas seabrek-abrek, tetapi duit nol besar. Lihat mana ada guru yang naik Jaguar. Rumahnya saja rata-rata kontrakan dalam gang kumuh. Di desa juga guru hidupnya bukan dari mengajar tapi dari tani. Karena profesi guru itu gersang, boro-boro sebagai cita-cita, buat ongkos jalan saja kurang. Cita-cita itu harus tinggi, Taksu. Masak jadi guru? Itu cita-cita sepele banget, itu namanya menghina orang tua. Masak kamu tidak tahu? Mana ada guru yang punya rumah bertingkat. Tidak ada guru yang punya deposito dollar. Guru itu tidak punya masa depan. Dunianya suram. Kita tidur, dia masih saja utak-atik menyiapkan bahan pelajaran atau memeriksa PR. Kenapa kamu bodoh sekali mau masuk neraka, padahal kamu masih muda, otak kamu encer, dan biaya untuk sekolah sudah kami siapkan. Coba pikir lagi dengan tenang dengan otak dingin!"


"Sudah saya pikir masak-masak." Saya terkejut.


"Pikirkan sekali lagi! Bapak kasi waktu satu bulan!" 


Taksu menggeleng. "Dikasih waktu satu tahun pun hasilnya sama, Pak. Saya ingin jadi guru."


"Tidak! Kamu pikir saja dulu satu bulan lagi!"


Kami tinggalkan Taksu dengan hati panas. Istri saya ngomel sepanjang perjalanan. Yang dijadikan bulan-bulanan, saya. Menurut dia, sayalah yang sudah salah didik, sehingga Taksu jadi cupet pikirannya.


"Kau yang terlalu memanjakan dia, makanya dia seenak perutnya saja sekarang. Masak mau jadi guru. Itu kan bunuh diri!"


Saya diam saja. Istri saya memang aneh. Apa saja yang tidak disukainya, semua dianggapnya hasil perbuatan saya. Nasib suami memang rata-rata begitu. Di luar bisa galak melebihi macan, berhadapan dengan istri, hancur.


Bukan hanya satu bulan, tetapi dua bulan kemudian, kami berdua datang lagi mengunjungi Taksu di tempat kosnya. Sekali ini kami tidak muncul dengan tangan kosong. Istri saya membawa krupuk kulit ikan kegemaran Taksu. Saya sendiri membawa sebuah lap top baru yang paling canggih, sebagai kejutan.


Taksu senang sekali. Tapi kami sendiri kembali sangat terpukul. Ketika kami tanyakan bagaimana hasil perenungannya selama dua bulan, Taksu memberi jawaban yang sama.


"Saya sudah bilang saya ingin jadi guru, kok ditanya lagi, Pak," katanya sama sekali tanpa rasa berdosa.
Sekarang saya naik darah. Istri saya jangan dikata lagi. Langsung kencang mukanya. Ia tak bisa lagi mengekang marahnya. Taksu disemprotnya habis.


"Taksu! Kamu mau jadi guru pasti karena kamu terpengaruh oleh puji-pujian orang-orang pada guru itu ya?!" damprat istri saya. "Mentang-mentang mereka bilang, guru pahlawan, guru itu berbakti kepada nusa dan bangsa. Ahh! Itu bohong semua! Itu bahasa pemerintah! Apa kamu pikir betul guru itu yang sudah menyebabkan orang jadi pinter? Apa kamu tidak baca di koran, banyak guru-guru yang brengsek dan bejat sekarang? Ah?"


Taksu tidak menjawab.


"Negara sengaja memuji-muji guru setinggi langit tetapi lihat sendiri, negara tidak pernah memberi gaji yang setimpal, karena mereka yakin, banyak orang seperti kamu, sudah puas karena dipuji. Mereka tahu kelemahan orang-orang seperti kamu, Taksu. Dipuji sedikit saja sudah mau banting tulang, kerja rodi tidak peduli tidak dibayar. Kamu tertipu Taksu! Puji-pujian itu dibuat supaya orang-orang yang lemah hati seperti kamu, masih tetap mau jadi guru. Padahal anak-anak pejabat itu sendiri berlomba-lomba dikirim keluar negeri biar sekolah setinggi langit, supaya nanti bisa mewarisi jabatan bapaknya! Masak begitu saja kamu tidak nyahok?"


Taksu tetap tidak menjawab.


"Kamu kan bukan jenis orang yang suka dipuji kan? Kamu sendiri bilang apa gunanya puji-pujian, yang penting adalah sesuatu yang konkret. Yang konkret itu adalah duit, Taksu. Jangan kamu takut dituduh materialistis. Siapa bilang meterialistik itu jelek. Itu kan kata mereka yang tidak punya duit. Karena tidak mampu cari duit mereka lalu memaki-maki duit. Mana mungkin kamu bisa hidup tanpa duit? Yang bener saja. Kita hidup perlu materi. Guru itu pekerjaan yang anti pada materi, buat apa kamu menghabiskan hidup kamu untuk sesuatu yang tidak berguna? Paham?"


Taksu mengangguk.


"Paham. Tapi apa salahnya jadi guru?"


Istri saya melotot tak percaya apa yang didengarnya. Akhirnya dia menyembur.


"Lap top-nya bawa pulang saja dulu, Pak. Biar Taksu mikir lagi! Kasih dia waktu tiga bulan, supaya bisa lebih mendalam dalam memutuskan sesuatu. Ingat, ini soal hidup matimu sendiri, Taksu!"


Sebenarnya saya mau ikut bicara, tapi istri saya menarik saya pergi. Saya tidak mungkin membantah. Di jalan istri saya berbisik.


"Sudah waktunya membuat shock therapy pada Taksu, sebelum ia kejeblos terlalu dalam. Ia memang memerlukan perhatian. Karena itu dia berusaha melakukan sesuatu yang menyebabkan kita terpaksa memperhatikannya. Dasar anak zaman sekarang, akal bulus! Yang dia kepingin bukan lap top tapi mobil! Bapak harus kerja keras beliin dia mobil, supaya mau mengikuti apa nasehat kita!"


Saya tidak setuju, saya punya pendapat lain. Tapi apa artinya bantahan seorang suami. Kalau adik istri saya atau kakaknya, atau bapak-ibunya yang membantah, mungkin akan diturutinya. Tapi kalau dari saya, jangan harap. Apa saja yang saya usulkan mesti dicurigainya ada pamrih kepentingan keluarga saya. Istri memang selalu mengukur suami, dari perasaannya sendiri.


Tiga bulan kami tidak mengunjungi Taksu. Tapi Taksu juga tidak menghubungi kami. Saya jadi cemas. Ternyata anak memang tidak merindukan orang tua, orang tua yang selalu minta diperhatikan anak.


Akhirnya, tanpa diketahui oleh istri saya, saya datang lagi. Sekali ini saya datang dengan kunci mobil. Saya tarik deposito saya di bank dan mengambil kredit sebuah mobil. Mungkin Taksu ingin punya mobil mewah, tapi saya hanya kuat beli murah. Tapi sejelek-jeleknya kan mobil, dengan bonus janji, kalau memang dia mau mengubah cita-citanya, jangankan mobil mewah, segalanya akan saya serahkan, nanti.


"Bagaimana Taksu," kata saya sambil menunjukkan kunci mobil itu. "Ini hadiah untuk kamu. Tetapi kamu juga harus memberi hadiah buat Bapak."


Taksu melihat kunci itu dengan dingin.


"Hadiah apa, Pak?"


Saya tersenyum.


"Tiga bulan Bapak rasa sudah cukup lama buat kamu untuk memutuskan. Jadi, singkat kata saja, mau jadi apa kamu sebenarnya?"


Taksu memandang saya.


"Jadi guru. Kan sudah saya bilang berkali-kali?"


Kunci mobil yang sudah ada di tangannya saya rebut kembali.


"Mobil ini tidak pantas dipakai seorang guru. Kunci ini boleh kamu ambil sekarang juga, kalau kamu berjanji bahwa kamu tidak akan mau jadi guru, sebab itu memalukan orang tua kamu. Kamu ini investasi untuk masa depan kami, Taksu, mengerti? Kamu kami sekolahkan supaya kamu meraih gelar, punya jabatan, dihormati orang, supaya kami juga ikut terhormat. Supaya kamu berguna kepada bangsa dan punya duit untuk merawat kami orang tuamu kalau kami sudah jompo nanti. Bercita-citalah yang bener. Mbok mau jadi presiden begitu! Masak guru! Gila! Kalau kamu jadi guru, paling banter setelah menikah kamu akan kembali menempel di rumah orang tuamu dan menyusu sehingga semua warisan habis ludes. Itu namanya kerdil pikiran. Tidak! Aku tidak mau anakku terpuruk seperti itu!"


Lalu saya letakkan kembali kunci itu di depan hidungnya. Taksu berpikir. Kemudian saya bersorak gegap gembira di dalam hati, karena ia memungut kunci itu lagi.


"Terima kasih, Pak. Bapak sudah memperhatikan saya. Dengan sesungguh-sungguhnya, saya hormat atas perhatian Bapak."


Sembari berkata itu, Taksu menarik tangan saya, lalu di atas telapak tangan saya ditaruhnya kembali kunci mobil itu.


"Saya ingin jadi guru. Maaf."


Kalau tidak menahan diri, pasti waktu itu juga Taksu saya tampar. Kebandelannya itu amat menjengkelkan. Pesawat penerimanya sudah rusak. Untunglah iman saya cukup baik. Saya tekan perasaan saya. Kunci kontak itu saya genggam dan masukkan ke kantung celana.


"Baik. Kalau memang begitu, uang sekolah dan uang makan kamu mulai bulan depan kami stop. Kamu hidup saja sendirian. Supaya kamu bisa merasakan sendiri langsung bagaimana penderitaan hidup ini. Tidak semudah yang kamu baca dalam teori dan slogan. Mudah-mudahan penderitaan itu akan membimbing kamu ke jalan yang benar. Tiga bulan lagi Bapak akan datang. Waktu itu pikiranmu sudah pasti akan berubah! Bangkit memang baru terjadi sesudah sempat hancur! Tapi tak apa."


Tanpa banyak basa-basi lagi, saya pergi. Saya benar-benar naik pitam. Saya kira Taksu pasti sudah dicocok hidungnya oleh seseorang. Tidak ada orang yang bisa melakukan itu, kecuali Mina, pacarnya. Anak guru itulah yang saya anggap sudah kurang ajar menjerumuskan anak saya supaya terkiblat pikirannya untuk menjadi guru. Sialan!


Tepat tiga bulan kemudian saya datang lagi. Sekali ini saya membawa kunci mobil mewah. Tapi terlebih dulu saya mengajukan pertanyaan yang sama.


"Coba jawab untuk yang terakhir kalinya, mau jadi apa kamu sebenarnya?"


"Mau jadi guru."


Saya tak mampu melanjutkan. Tinju saya melayang ke atas meja. Gelas di atas meja meloncat. Kopi yang ada di dalamnya muncrat ke muka saya.


"Tetapi kenapa? Kenapa? Apa informasi kami tidak cukup buat membuka mata dan pikiran kamu yang sudah dicekoki oleh perempuan anak guru kere itu? Kenapa kamu mau jadi guru, Taksu?!!!"


"Karena saya ingin jadi guru."


"Tidak! Kamu tidak boleh jadi guru!"


"Saya mau jadi guru."


"Aku bunuh kau, kalau kau masih saja tetap mau jadi guru."


Taksu menatap saya.


"Apa?"


"Kalau kamu tetap saja mau jadi guru, aku bunuh kau sekarang juga!!" teriak saya kalap. Taksu balas memandang saya tajam.


"Bapak tidak akan bisa membunuh saya."


"Tidak? Kenapa tidak?"


"Sebab guru tidak bisa dibunuh. Jasadnya mungkin saja bisa busuk lalu lenyap. Tapi apa yang diajarkannya tetap tertinggal abadi. Bahkan bertumbuh, berkembang dan memberi inspirasi kepada generasi di masa yanag akan datang. Guru tidak bisa mati, Pak."


Saya tercengang.


"O… jadi narkoba itu yang sudah menyebabkan kamu mau jadi guru?"


"Ya! Itu sebabnya saya ingin jadi guru, sebab saya tidak mau mati." 


Saya bengong. Saya belum pernah dijawab tegas oleh anak saya. Saya jadi gugup.


"Bangsat!" kata saya kelepasan. "Siapa yang sudah mengotori pikiran kamu dengan semboyan keblinger itu? Siapa yang sudah mengindoktrinasi kamu, Taksu?"


Taksu memandang kepada saya tajam.


"Siapa Taksu?!"


Taksu menunjuk.


"Bapak sendiri, kan?"


Saya terkejut.


"Itu kan 28 tahun yang lalu! Sekarang sudah lain Taksu! Kamu jangan ngacau! Kamu tidak bisa hidup dengan nasehat yang Bapak berikan 30 tahun yang lalu! Waktu itu kamu malas. Kamu tidak mau sekolah, kamu hanya mau main-main, kamu bahkan bandel dan kurang ajar pada guru-guru kamu yang datang ke sekolah naik ojek. Kamu tidak sadar meskipun sepatunya butut dan mukanya layu kurang gizi, tapi itulah orang-orang yang akan menyelamatkan hidup kamu. Itulah gudang ilmu yang harus kamu tempel sampai kamu siap. Sebelum kamu siap, kamu harus menghormati mereka, sebab dengan menghormati mereka, baru ilmu itu bisa melekat. Tanpa ada ilmu kamu tidak akan bisa bersaing di zaman global ini. Tahu?"


Satu jam saya memberi Taksu kuliah. Saya telanjangi semua persepsinya tentang hidup. Dengan tidak malu-malu lagi, saya seret nama pacarnya si Mina yang mentang-mentang cantik itu, mau menyeret anak saya ke masa depan yang gelap.


"Tidak betul cinta itu buta!" bentak saya kalap. "Kalau cinta bener buta apa gunanya ada bikini," lanjut saya mengutip iklan yang saya sering papas di jalan. "Kalau kamu menjadi buta, itu namanya bukan cinta tetapi racun. Kamu sudah terkecoh, Taksu. Meskipun keluarga pacarmu itu guru, tidak berarti kamu harus mengidolakan guru sebagai profesi kamu. Buat apa? Justru kamu harus menyelamatkan keluarga guru itu dengan tidak perlu menjadi guru, sebab mereka tidak perlu hidup hancur berantakan gara-gara bangga menjadi guru. Apa artinya kebanggaan kalau hidup di dalam kenyataan lebih menghargai dasi, mobil, duit, dan pangkat? Punya duit, pangkat dan harta benda itu bukan dosa, mengapa harus dilihat sebagai dosa. Sebab itu semuanya hanya alat untuk bisa hidup lebih beradab. Kita bukan menyembahnya, tidak pernah ada ajaran yang menyuruh kamu menyembah materi. Kita hanya memanfaatkan materi itu untuk menambah hidup kita lebih manusiawi. Apa manusia tidak boleh berbahagia? Apa kalau menderita sebagai guru, baru manusia itu menjadi beradab? Itu salah kaprah! Ganti kepala kamu Taksu, sekarang juga! Ini!"


Saya gebrakkan kunci mobil BMW itu di depan matanya dengan sangat marah.


"Ini satu milyar tahu?!"


Sebelum dia sempat menjawab atau mengambil, kunci itu saya ambil kembali sambil siap-siap hendak pergi.


"Pulang sekarang dan minta maaf kepada ibu kamu, sebab kamu baru saja menghina kami! Tinggalkan perempuan itu. Nanti kalau kamu sudah sukses kamu akan dapat 7 kali perempuan yang lebih cantik dari si Mina dengan sangat gampang! Tidak perlu sampai menukar nalar kamu!"


Tanpa menunggu jawaban, lalu saya pulang. Saya ceritakan pada istri saya apa yang sudah saya lakukan. Saya kira saya akan dapat pujian. Tetapi ternyata istri saya bengong. Ia tak percaya dengan apa yang saya ceritakan. Dan ketika kesadarannya turun kembali, matanya melotot dan saya dibentak habis-habisan.


"Bapak terlalu! Jangan perlakukan anakmu seperti itu!" teriak istri saya kalap.


Saya bingung.


"Ayo kembali! Serahkan kunci mobil itu pada Taksu! Kalau memang mau ngasih anak mobil, kasih saja jangan pakai syarat segala, itu namanya dagang! Masak sama anak dagang. Dasar mata duitan!"


Saya tambah bingung.


"Ayo cepet, nanti anak kamu kabur!"


Saya masih ingin membantah. Tapi mendengar kata kabur, hati saya rontok. Taksu itu anak satu-satunya. Sebelas tahun kami menunggunya dengan cemas. Kami berobat ke sana-kemari, sampai berkali-kali melakukan enseminasi buatan dan akhirnya sempat dua kali mengikuti program bayi tabung. Semuanya gagal. Waktu kami pasrah tetapi tidak menyerah, akhirnya istri saya mengandung dan lahirlah Taksu. Anak yang sangat mahal, bagaimana mungkin saya akan biarkan dia kabur?


"Ayo cepat!" teriak sitri saya kalap.


Dengan panik saya kembali menjumpai Taksu. Tetapi sudah terlambat. Anak itu seperti sudah tahu saja, bahwa ibunya akan menyuruh saya kembali. Rumah kost itu sudah kosong. Dia pergi membawa semua barang-barangnya, yang tinggal hanya secarik kertas kecil dan pesan kecil:


"Maaf, tolong relakan saya menjadi seorang guru."
Tangan saya gemetar memegang kertas yang disobek dari buku hariannya itu. Kertas yang nilainya mungkin hanya seperak itu, jauh lebih berarti dari kunci BMW yang harganya semilyar dan sudah mengosongkan deposito saya. Saya duduk di dalam kamar itu, mencium bau Taksu yang masih ketinggalan. Pikiran saya kacau. Apakah sudah takdir dari anak dan orang tua itu bentrok? Mau tak mau saya kembali memaki-maki Mina yang sudah menyesatkan pikiran Taksu. Kembali saya memaki-maki guru yang sudah dikultusindividukan sebagai pekerjaan yang mulia, padahal dalam kenyataannya banyak sekali guru yang brengsek.


Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Saya seperti dipagut aliran listrik. Tetapi ketika menoleh, itu bukan Taksu tetapi istri saya yang menyusul karena merasa cemas. Waktu ia mengetahui apa yang terjadi, dia langsung marah dan kemudian menangis. Akhirnya saya lagi yang menjadi sasaran. Untuk pertama kalinya saya berontak. Kalau tidak, istri saya akan seterusnya menjadikan saya bal-balan. Saya jawab semua tuduhan istri saya. Dia tercengang sebab untuk pertama kalinya saya membantah. Akhirnya di bekas kamar anak kami itu, kami bertengkar keras.


Tetapi itu 10 tahun yang lalu.


Sekarang saya sudah tua. Waktu telah memproses segalanya begitu rupa, sehingga semuanya di luar dugaan. Sekarang Taksu sudah menggantikan hidup saya memikul beban keluarga. Ia menjadi salah seorang pengusaha besar yang mengimpor barang-barang mewah dan mengekspor barang-barang kerajinan serta ikan segar ke berbagai wilayah mancanegara.


"Ia seorang guru bagi sekitar 10.000 orang pegawainya. Guru juga bagi anak-anak muda lain yang menjadi adik generasinya. Bahkan guru bagi bangsa dan negara, karena jasa-jasanya menularkan etos kerja," ucap promotor ketika Taksu mendapat gelar doktor honoris causa dari sebuah pergurauan tinggi bergengsi. 


***

Mataram, Jakarta, 22-10-01
Jakarta, 31-12-01