Sunday, 10 June 2018

dari Buku ke Buku


























Sunday, 27 May 2018

RAUDAH JAMBAK DAN JEJAK 100 SASTRAWAN SENIMAN BUDAYAWAN SUMATERA UTARA














RAUDAH JAMBAK, APA DAN SIAPA PENYAIR INDONESIA




Apa & Siapa Penyair Indonesia atau disingkat ASPI adalah judul buku terbitan Yayasan Hari Puisi Indonesia yang diluncurkan pada tahun 2017. Buku setebal 676 halaman dengan ISBN 978-602-50502-0-6 ini diprakarsai oleh Rida K. Liamsi, dengan editor Maman S. Mahayana bersama Jimmy S JohansyahNana SastrawanSihar Ramses Simatupang, dan Sofyan RH. Zaid. Sedangkan Sutardji Calzoum BachriAbdul Hadi WMRida K. LiamsiAhmadun Yosi Herfanda, dan Hasan Aspahani bertindak selaku kurator. Buku ini memuat biografi singkat penyair Indonesia yang karya-karyanya dikenal melalui publikasi media massa dan antologi puisi sampai dengan tahun 2017, baik yang masih hidup maupun sudah tutup usia.

Thursday, 24 May 2018

TUGU SASTRA GELAR TEMU PENYAIR NUSANTARA 2018


Sabtu, 12-14 April 2018 sejarah baru dalam dunia sastra Indonesia terukir. Tepat pada hari tersebut terlaksana acara Temu Penyair Nusantara 2018 dengan tajuk Puisi Meretas Keberagaman dan Menolak Intoleransi.
Acara ini diinisiasi oleh dua orang penyair asal Pematangsiantar, yakni Itov Sakha dan Ubai Dillah Al Anshori dengan dibantu oleh adik-adik dari SMA Negeri 2 dan SMA Negeri 5 Pematangsiantar, yang tergabung dalam komunitas Tugu Sastra Siantar.
Susunan acara dirancang sangat menarik dari hari pertama hingga selesai. Ditambah dengan kehadiran sastrawan nasional, Saut Situmorang menambah antusiasme para peserta semakin tinggi.
Para penyair yang hadir berasal dari berbagai daerah, antara lain Medan, yaitu M. Raudah Jambak, Yulhasni, Julaiha Sembiring, Yulia Tasnim, Fitria Panjang, Annisa Tri Sari, Titan Sadewo, Siti Maulidina, dan Dina Mariana; ada pula dari Takengon yaitu Zuliana Ibrahim; Karawang yaitu Rizki Andika; Cianjur yaitu Ihsan Subhan; Padangsidempuan yaitu Sunaryo JW; Pekanbaru/Riau yaitu Kunni Masrohanti dan Asqalani Nst.; Pasaman, Sumatera Barat yaitu Arbi Tanjung; Padang Panjang yaitu Sulaiman Juned; dan dari Pematangsiantar sendiri seperti Thomson Hs. dan lain-lain. Para penyair bermalam dan menginap di Pusat Koperasi Bekatigade.
Jalannya Acara
Hari pertama sekaligus pembukaan oleh Walikota Siantar, yang diwakili oleh Staf Ahli, berlangsung di Balai Kota, Aula Bappeda. Acara yang digelar adalah seminar mengenai proses kreatif penyair dalam menciptakan karyanya (dalam hal ini puisi). Pembicara seminar dibawakan oleh M. Raudah Jambak dan Kunni Masrohanti. Peserta yang hadir selain rekan-rekan penyair, adalah guru-guru dan siswa dari sekolah menengah atas kota Pematangsiantar.
Ubai Dillah Al Anshori, selaku ketua panitia mengatakan bahwa tujuan dari acara ini bukan hanya sekadar silaturahmi para penyair dari berbagai kota di Pematangsiantar, melainkan juga untuk menghidupkan kesusatraan di kota itu sendiri. “Kita mengundang siswa-siswa SMA dari berbagai sekolah untuk turut serta menjadi peserta karena kita ingin sumber daya manusia di kota Pematangsiantar itu melek terhadap sastra, khususnya puisi. Langkah yang bisa kita mulai adalah dengan kegiatan ini,” ujarnya.
Selesai seminar, rangkaian acara dilanjutkan dengan wisata sejarah kota Pematangsiantar. Tempat yang dituju adalah Makam Raja Sang Naualuh Damanik dan Vihara Avalokitesvara.
Kemudian sekitar pukul empat sore rombongan penyair mengarah ke Kedai Kopi Kok Tong sembari bersantai menikmati kopi dan berbagi cerita seputar puisi.
Malam hari acara panggung apresiasi di Tugu Becak, yaitu ikon kota Pematangsiantar. Para penyair masing-masing membacakan puisinya. Panggung apresiasi ini juga diisi oleh seniman lokal kota Pematangsiantar seperti tarian, stand up comedy, dan musik etnik.
Hari kedua acara Orasi Budaya dengan pembicara Saut Situmorang dan Erizal Ginting digelar di Hotel Sapadia membahas eksistensi sastra Indonesia saat ini. Para peserta yang hadir tampak semakin banyak. Diskusi yang aktif menandakan geliat sastra di kota Pematangsiantar terpancing.  Acara yang berlangsung selama tiga jam itu diselingi oleh pembacaan puisi dari para penyair maupun dari para siswa. Acara diakhiri dengan peluncuran Antologi Puisi Anggrainim, Tugu dan Rindu.
Pertemuan dengan bapak Erizal Ginting tidak sebatas itu, malam harinya para penyair diundang untuk mengunjungi rumah beliau untuk melihat-lihat koleksi sepeda motor antiknya. Ia menamakan tempat itu adalah musem motor, sekretariat Bom’s (komunitas pecinta BSA).
Hari ketiga yang menjadi penutup rangkaian acara yaitu para penyair berangkat ke Parapat, Danau Toba. Tiba di Parapat, para penyair disambut oleh pengurus Geopark Danau Toba, Corry Paroma Panjaitan. Sedikit banyak beliau menjelaskan asal usul terbentuknya Danau Toba dan peran Geopark dalam menjaga dan melestarikan Danau Toba.
Selanjutnya para penyair menuju tepi Danau Toba untuk kembali membacakan puisinya. Memang seperti itulah darah penyair, selalu ingin meneriakkan kata-kata, mengekspresikan rasa syukur melalui puisi. Tepat di bawah Pesanggrahan Bung Karno, para penyair bergantian membaca puisi.
Tidak sah rasanya jika belum menyatukan tubuh dengan dingin air Danau Toba. Setelah membaca puisi sebagian penyair menyerahkan tubuhnya ke hamparan danau indah yang berair hijau itu.
Acara ditutup ditandai dengan pengabadian momen, dengan doa-doa dan dengan harapan semoga tali rindu terus tersambung, ruang kenangan selalu ada mengisi batin agar langkah selalu mengarah pada pertemuan-pertemuan berikutnya.

ALDA MUHSI

Kudus Tuan Rumah Pertemuan Penyair Nusantara 2018


Akar puisi modern yang tumbuh di negara-negara Melayu serumpun dinilai masih perlu diperkuat.  Karena itu, "Tradisi Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) perlu diteruskan guna memperkuat akar puisi Melayu modern."
Demikian salah satu keputusan musyawarah PPN X yang diadakan di Taman Budaya Banten, Sabtu (16/12).  PPN X berlangsung sejak 15 hingga 17 Desember 2017.
Rilis Panitia PPN X yang diterima Republika.co.id, Selasa (19/12) menyebutkan, Musyawarah PPN X yang dipimping oleh Ketua DKB H Chavchay Syaefullah itu juga memutuskan, tradisi PPN sangat penting sebagai forum untuk bertemu guna saling memberikan informasi perkembangan perpuisian Nusantara di masing-masing negara serumpun.
Selain itu,  hasil musyawarah PPN X yang dibacakan oleh wakil Indonesia Ahmadun Yosi Herfanda itu menyebutkan Kudus (Provinsi Jawa Tengah) sebagai tuan rumah PPN XI tahun 2018 dan Malaysia sebagai Tuan rumah PPN XII tahun 2019.
Rekomendasi
Musyawarah PPN X yang diikuti wakil Malaysia Moh Saleeh Rahamad, wakil Singapura Djamal Tukimin, wakil Thailand Mahroso Doloh, wakil Brunei Djefri Arif,  wakil Indonesia Ahmadun YH, wakil tuan rumah PPN XI Djumari HS, wakil tuan rumah PPN XII Shamsuddin Othman, dan wakil kurator Sulaiman Djaya,  itu juga menghasilkan rekomendasi dan deklarasi perdamaian.
Direkomendasikan agar Panitia PPN XI dan PPN XII menerbitkan kumpulan puisi yang berisi karya seluruh peserta. Dalam penerbitan ini, dilakukan kurasi terhadap karya oleh kurator PPN XI tahun 2018 dan kurator PPN XII tahun 2019.
Juga direkomendasikan, untuk terselenggaranya PPN XI di Kudus (Jawa Tengah) dan PPN XII di Malaysia diharapkan panitia dan peserta mampu menjalin kerja sama pendanaan dengan lembaga pemerintah dan swasta.  "Juga diusulkan adanya Anugerah Penyair Nusantara," katanya.