Rabu, 16 Juli 2008

Balai Bahasa Medan: Keberadaan dan Peran

Balai Bahasa Medan: Keberadaan dan Peran

Oleh: M. Yunus Rangkuti

“Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta,” sesungguhnya bukan ungkapan perasaan sederhana belaka. Ungkapan tersebut justru merupakan pondasi yang kuat untuk sebentuk peningkatan kemajuan pembangunan. Mengandung daya dinamis dan rasa optimis untuk menepis sikap-sikap pesimis. Dalam lingkup pergaulan orang per orang, antar instansi, bahkan hubungan internasional, justru ungkapan tersebut sering dinafikan. Berkali kita merasa tertepi, karena tak dipeduli. Selalu terjadi salah komunikasi dan persepsi di instansi. Negara kita pun selalu tertinggal dalam segala bidang.

Berkali survey mengenai kondisi kehidupan masyarakat diselenggarakan, selalu saja menuai hasil menyedihkan. Tingkat kemiskinan masih saja tinggi. Kondisi kesehatan sedemikian buruk. Tingkat pendidikan masyarakat masih rendah. Kinerja aparat pemerintah masih lemah. Kondisi ini diperparah oleh situasi keamanan masih belum dirasakan.

Apakah kita menyadari kenyataaan itu? Mungkin kita justru berada pada situasi memasrah diri. Merasakan dan menjalani kehidupan dengan segala keluh kecewa. Tak mengerti mengapa terjadi dan tak mampu mencari solusi memperbaiki kondisi. Kebodohan telah mengunci hati untuk percaya diri dan bersikap mandiri.

Menafikan makna, “tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta” justru sebentuk kebodohan. Pada era globalisasi yang ditandai kecanggihan teknologi komunikasi, masihkah kita berdiam diri atau menari mimpi tak pasti?

Sesungguhnya Negara kita ini dianugerahi sumber kekayaan alam, adat istiadat dan budaya, yang jika dikelola dengan benar akan sangat bermamfaat bagi kehidupan. Untuk pengelolaan dan pemamfaatannya, telah dibangun segala sarana, prasarana dan fasilitas. Didirikan banyak lembaga instansi dan institusi. Masalahnya, kita banyak tak tau atau tak mau tau untuk memamfaatkan keberadaannya. Sebaliknya, banyak juga lembaga instansi dan institusi yang terkesan tertutup atau mempersulit masyarakat dalam memamfaatkan keberadaannya. Bahkan, untuk sekedar mencari dan mendapatkan informasi.

Keberadaan Balai Bahasa Medan sebagai Unit Pelaksana Teknis Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, mungkin belum banyak diketaui lapisan masyarakat Medan khususnya dan Sumatera Utara umumnya. Baik secara lokasi, mamfaat, peran dan program yang telah dilaksanakan Padahal, secara Visi dan Misi memiliki tujuan strategis untuk kemajuan bangsa Indonesia. Visi Pusat Bahasa adalah “Terwujudnya lembaga penelitian yang unggul dan pusat informasi serta pelayanan yang prima di bidang kebahasaan dan kesastraan dalam rangka menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang berwibawa dan bahasa perhubungan luas tingkat antarbangsa.”

Misi Pusat Bahasa meliputi (1) peningkatan mutu bahasa dan sastra, (2) peningkatan sikap positif masyarakat terhadap bahasa dan sastra, (3) pengembangan bahan/ sarana informasi kebahasaan dan kesastraan, (4) peningkatan mutu tenaga kebahasaan dan kesastraan, (5) pengembangan kerja sama, dan (6) pengembangan pengelolaan kelembagaan.

Mendasari visi dan misi tersebut, timbul pertanyaan, “Telah berperankah Balai Bahasa Medan?” Pertanyaan ini hendaknya jangan dijawab putus dengan “telah” atau “belum” semata, namun disikapi secara arif. Pertanyaan ini bisa luas menjangkau banyak hal. Apa-apa program yang telah, sedang dan akan dilaksanakan. Bentuk-bentuk publikasi dan pelayanan tersedia. Hasil yang telah dicapai, bentuk-bentuk kendala ditemui, dan juga kegagalan yang terjadi.


LEBIH OPTIMAL

“Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta” mungkin belum jadi pondasi keberadaan Balai Bahasa Medan. Termasuk juga sosok para pegawainya sebagai pelaksana teknis. Lokasi Balai Bahasa Medan masih banyak masyarakat yang tak tau. Tentunya ini akan terkait dengan ketidaktauan mereka secara luas akan keberadaan Balai Bahasa Medan. Membiarkan situasi seperti ini akan mempersulit peran Balai Bahasa Medan dalam pelaksanaan visi dan misi.

Untuk itu, kinerja pegawai Balai Bahasa Medan dituntut lebih optimal. Aktif dalam pensosialisasian, tidak bersikap pasif. Sosialisasi keberadaan dan peran Balai Bahasa Medan hendaknya lebih diarahkan ke masyarakat luas. Ada banyak cara yang mudah dilaksanakan. Misalnya: penyebaran brosur, penerbitan yang diberikan secara gratis, menyelenggarakan festival dan lomba tentang bahasa dan kesastraan.
Kerjasama dengan media cetak dan elektronik, instansi searah, institusi pendidikan, lembaga seni dan budaya, kelompok belajar masyarakat pedesaan, dan tentunya kerelaan pegawainya, jika ditugaskan ke daerah terpencil sekalipun

Apakah hal-hal tersebut telah terlaksana? Jawabannya terpulang pada Balai Bahasa Medan. Jika hasil-hasil yang dicapai selama ini belum menggembirakan, artinya masih banyak hal yang perlu pembenahan.


MASJID RIYADUSSOLIHIN LAKSANAKAN PERINGATAN NUZUL QUR’AN DAN PEMBERIAN SANTUNAN KEPADA ANAK YATIM/FAKIR MISKIN


Pada akhir Ramadhan, setiap orang selalu mengingat sebuah malam yang istimewa. Malam yang penuh dengan keberkatan, malam kemuliaan, malam yang lebih baik daripada seribu bulan, malam yang penuh dengan kesejahteraan, malam turunnya para Malaikat, dan juga malam dirurunkannya Kitab suci Al-Qur’anul Karim dari Lauh Mahfudzh di langit ke tujuh kepada Baitul Izza di langit pertama, yang sering disebut dengan Lailatul Qadar.
Demi mendapatkan dan menikmati kemuliaan Lailatul Qadar tersebut, maka Masjid Riyadussholihin, yang beralamat di jalan Sunggal km 7 no. 198, Lingk. XIV kel. Sei. Sikambing B, Kec. Medan Sunggal, melaksanakan sebuah kegiatan yang bertajuk Peringatan Nuzul Qur’an dan Pemberian Santunan Kepada Anak Yatim/Fakir Miskin di lingkungan tersebut.
Acara yang dilaksanakan pada hari Jum’at/19 September 2008, ba’da Tarawih, pukul 20.30 WIB itu berlangsung cukup mengharukan. Serta menggugah perasaan kemanusiaan kita sebagai manusia.
“Kegiatan ini dilaksanakan dengan maksud agar tali silaturahim dapat terbina dengan baik. Selain ibadah ritual meningkat, dengan cara memakmurkan Masjid juga memberi santunan atau kegiatan ibadah sosial terbina dengan baik,” demikian Ketua BKM Riyadussolihin, Bapak H. Syahruddin Marpaung, memberikan kata sambutannya.
Lebih jauh lanjutnya, kegiatan ini terlaksana atas bantuan berbagai pihak, seperti jamaah, para donatur dan juga Pemko Medan. Bantuan tersebut selain sejumlah uang untuk 32 anak yatim/fakir miskin, juga pemberian paket, seperti beras, gula, susu kaleng, dan mie instant.
”Ada Rp. 3.091.000,- santunan uang, 30 kg beras, 35 kg gula, 35 kaleng susu dan mie instant yang berhasil kita kumpulkan untuk kita salurkan,” ujar Budiman Syahputra, salah seorang pengurus remaja masjid yang ikut terlibat dalam kegiatan itu.
Acara tersebut juga diisi dengan tausyiah yang disampaikan oleh Al-Ustadz Drs. Bah ren AR. S,Pdi. Dalam tausyiahnya Al-Ustadz menghimbau agar kaum muslimin selalu memperhatikan nasib anak yatim dan fakir miskin.
”Hamba Allah yang selalu memperhatikan nasib anak yatim/fakir miskin, maka Allah SWT, akan senantiasa memperhatikan nasibnya sampai di yaumil mahsyar kelak. Apalagi di saat malam-malam terkhir Ramadhan, malam yang penuh dengan segala kemuliaan. Malam yang lebih baik dari seribu bulan.”
Akhirnya, kegiatan itu yang berlangsung dengan penuh hikmat dan menggugah keimanan tersebut berakhir sampai pukul 21.30 WIB.
”Insya Allah kegiatan yang sangat mulia ini tidak berhenti sampai di sini saja. Dan dapat menggugah kaum muslimin terutama para pejabat yang lain agar mengikuti langkah yang sama,” ujar Bapak Marjono menutup acara yang diamini seluruh jama’ah dan anak yatim/fakir miskin yang hadir memenuhi masjid pada kegiatan malam itu. Semoga. Amin

(Kiriman M. Raudah Jambak)

Tidak ada komentar: