Thursday, 3 July 2008

Sastra Religius, Agama, dan Kemunafikan

Budi P Hatees

Akhir-akhir ini, ingatan saya kepada cerpen-cerpen Djamil Suherman bangkit kembali. Sastrawan ini banyak menulis cerpen dengan latar kehidupan pesantren. Diksi-diksi yang dipakainya untuk mendiskripsikan realitas kehidupan para santri sangat akrab dengan realitas sehari-hari pondok pesantren misalnya tarawih, santri, tadarus, dan lain sebagainya. Nilai yang hendak disampaikannya pun seputar dunia yang ditekuni para santri, sebuah pilih an hidup untuk selalu eling kepada Yang Maha Kuasa.

Saya menyebut cerpen-cerpen itu kental akan religiusitas yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan agama Djamil Suherman yang juga seorang santri. Kedua hal itu menjadi keekaan dalam cerpen-cerpen tersebut, sehingga jelas bahwa apa yang dilakukan Djamil Suherman tidak cuma menulis cerpen melainkan menjadikan cerpen sebagai medium berkomunikasi dengan Yang Maha Kuasa. Cerpen-cerpen itu, berikut semua unsur cerpen yang terkandung di dalamnya, pada akhirnya hanya medium.

Pada tataran inilah persoalan religiusitas dalam karya sastra menjadi persoalan kompleks. Tidak cuma selesai dengan meminjam formula-formula atau definisi-definisi yang ada maupun membuat formula-formula baru dengan harapan lebih paradigmatis.

Religiusitas dalam karya sastra lebih kepada persoalan individu sastrawan dalam menghasilkan teks-teks sastra yang begitu kental akan nilai-nilai religi dan transendental. Disebut begitu, karena religiusitas merupakan kondrat manusia yang paling hakiki. Begitu ummat manusia diciptakan-Nya, saat itu juga manusia sudah harus mengabdi kepada Yang Maha Kuasa; menyembah-Nya sebagai wujud dari kesadaran transendental seorang hamba. Bahkan seorang ateis sekalipun tidak bisa mengabaikan nilai-nilai religius yang ada dalam dirinya.

Sebab itu, perdebatan religiusitas dalam karya sastra lebih baik diarahkan kepada fenomena maraknya karya-karya sastra religius yang ditulis lebih sebagai mode. Sebab karya-karya sastra religi, yang oleh para pengamat sastra diposisikan sebagai karya percerahan rohani, ternyata tidak melulu ditulis sebagai salah satu medium berkomunikasi antara manusia sastrawan dengan Yang Maha Kuasa.

Karya-karya sastra religius itu, yang kental akan "penyerahan habis-habisan seorang hamba kepada Penciptanya", ditulis dalam semangat massa. Artinya, sastrawan bersangkutan hanya bertujuan menghasilkan sebuah karya sastra yang digemari publik, di mana seleksi pertama ada di tangan para redaktur budaya media koran atau majalah.Tidak heran jika ada penyair menulis sebuah puisi religius dalam keadaan mabuk atau sambil meminum alkohol.

Itulah ironi yang menelikung dunia penciptaan karya sastra kita saat ini. Di dalamnya kita dapati kemunafikan yang dimanjakan atas nama "kepasrahan habis-habisan" seorang ummat, namun orientasinya disemangati tata nilai kapitalisme global yang didorong oleh rasa persaingan tinggi agar bisa tampil di hadapan publik.

Kembali kepada cerpen-cerpen Djamil Suherman. Terhadap cerpen-cerpen semacam karya Djamil Suherman, sastrawan Ahmad Tohari pernah menawarkan batasan. "Sastra pesantren," kata penulis trilogi Ronggeng Dukuh Paruk ini dalam buku Sastra dan Budaya Islam Nusantara (IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, 1998), "merupakan karya sastra yang hidup dan diciptakan oleh kalangan pesantren, atau karya sastra yang bermuatan misi dakwah."

Tentu saja, kalimat "karya sastra yang bermuatan misi dakwah" dalam batasan ini, sangat longgar. Sebab, banyak sastrawan kini yang menghasilkan karya sastra bermuatan misi dakwah, dan mereka tidak berasal dari kalangan pesantren. Bahkan, banyak karya sastra tentang kehidupan pesantren lengkap dengan segala tata nilai masyarakatnya, namun tidak dihasilkan oleh sastrawan yang punya hubungan erat dengan pesantren.

Karya-karya sastra yang dihasilkan aktivis Forum Lingkar Pena (FLP) di seluruh Indonesia, sebagian bukan produk pesantren, sangat kenatal memuat misi dakwah agama Islam. Dalam novel-novel Gola Gong misalnya, terutama yang diterbitkan Mizan, misi dakwah itu menjadi ruh yang menghidupi karya tersebut. Begitu juga dengan cerpen-cerpen bahkan komik, semua unsur yang membentuk karya-karya itu hanya sebagai pelengkap dari misi dakwah agama Islam tersebut.

Artinya, batasan "bermuatan misi agama" itu hanya memberi pengertian umum dan bukan ciri khas. Pada tataran inilah, seorang pemabuk yang menghasilkan sebuah puisi bermuatan dakwah sambil meminum bir, akan diakui juga sebagai penyair religi. Tentu saja hal itu tidak bisa diterima.

Dalam kesusastraan kita kini, tidak banyak sastrawan yang mengikuti jejak Djamil Suherman. Ada memang banyak sastrawan yang merupakan produk pesantren, yang mempunyai kontribusi besar dalam khasanah kesastraan Indonesia mutakhir, seperti KH Mustofa Bisri, Emha Ainun Nadjib, Ahmad Tohari, Fudoli Zaini, Zawawi Imron, Acep Zamzam Nur, Ahmad Syubbanuddin Alwi, Jamad D Rahman, Mathori A Elwa, dan Nasruddin Anshory.

Tapi para sastrawan produk pesantren itu tidak hanya menulis kehidupan di sekitar pesantren seperti Djamil Suherman, melainkan juga menulis tentang banyak hal sebagaimana sastrawan lain yang bukan produk pondok pesantren. Sebut saja Fudoli Zaini dengan cerpen-cerpen yang temanya sangat beragam dalam kehidupan yang begitu luas.

Begitu pula Ahmad Tohari, lebih menekuni kehidupan pedesaan dengan segala macam variasinya, baik dalam bentuk cerpen maupun novel. Zawawi Imron memilih menulis puisi yang kental akan tradisi budaya Madura. Sedangkan Acep Zamzam Noor lebih banyak dipengaruhi globalisasi peradaban, dan membentuknya sebagai penyair yang santri.

Sekalipun mereka yang saya sebut terakhir tidak melulu bicara kehidupan pesantren, namun kekhasan seorang santri tetap ditemukan dalam karya-karya mereka. Kekhasan ini berkaitan dengan nilai-nilai agama Islam yang mereka anut, yang bukan begitu koheren di dalam diri mereka sehingga menghasilkan karya-karya sastra yang kuat akan religiusitas. Karya-karya sastra mereka, banyak mempengaruhi estetika dunia kesusastraan nasional saat ini. Dimana banyak sastrawan yang bukan produk pondok pesantren, berlomba menciptakan karya sastra yang religius.

Dalam tahun 1980-an, ketika sastrawan Abdul Hadi WM mengelola rubrik budaya Berita Buana bisa disebut sebagai priode bangkitnya sastrawan religius. Para penyair berlomba-lomba menulis puisi religius. Sebagain memang betul-betul ingin berdakwah, tapi tidak sedikit yang hanya agar karya-karyanya dipublikasikan di Berita Buana.

Mereka yang betul-betul serius berdakwah, hingga kini tetap eksis menghasilkan karya-karya religius. Yang cuma ikut mode, ada yang akhirnya memilih untuk menjadi penulis karya sastra religius, tapi tidak sedikit yang tidak kedengaran lagi riwayatnya alias "mati sebagai penyair".

Dari fenomena itu, masihkan bisa dikatakan bahwa religiusitas berkaitan dengan kehidupan agama? Dr Simuh dalam buku Sastra dan Budaya Islam Nusantara mengatakan sastra Islam memberikan sumbangan yang sangat besar kepada sejarah. "Bila jejak sejarah yang berupa nisan raja-raja Aceh tidak bisa mengungkapkan Islam yang bagaimana yang datang ke Indonesia," tulis Simuh, "sastra Islam Melayu ataupun Jawa bisa menggambarkan paham atau aliran Islam apa yang menyebar di Indonesia." n penulis adalah penyair dan esais, tinggal di lampung ()

Sajak-sajak

Jimmy Maruli Alfian
Dendam Tak Sudah*

danau ini tak mengalirkan apa-apa
tetapi mengapa kau tenggelam dalam diamnya?
mungkin duka tubuhmu terlampau berat
mungkin sengketa riwayat terlampau sarat
sesungguhnya di dasar danau akan kau temukan
batu-batu, kulit keong, juga beling botol dan piring
saat itu tubuh putihmu pun menjadi mineral
sampai kau memekik segala sebal
begitu banyak kepedihan yang kau igaukan
menjadi asap rokok, derik serangga di batang kepok
dan roda-roda kereta yang tak pernah kapok
terjerembab dalam ulang alik perjalanan
entah apa bentuk paras danau ini
kadang-kadang oval dan dingin tak karuan
tak jarang pula persegi dengan riak amarah
di tiap tepi
kecipak permukaan
membuat lelaki membelalak
sebelum akhirnya tenggelam
dalam sehimpun gombal sajak
kelaras yang jatuh di bibir danau
seketika daunnya datang mendekat engkau
telur-telur katak yang menggelantung
ialah tanda penantian terus berlangsung
teguklah bir dari tuangan terakhir
lalu hitung berapa banyak di gubuk orang mampir;
berteduh karena hujan, membeli tisu dan minuman
atau hanya melepas letih memeluk pinggang kekasih
dan seperti kemarin,
(hanya saja hari ini banyak nyamuk
dan bekas sepatumu di pasir mulai suruk)
danau ini tak mengalirkan apa-apa
tetapi mengapa kau tenggelam dalam kesumatnya?
2007
* Nama sebuah danau kecil di Bengkulu.

Jimmy Maruli Alfian
Bukit Fatima 2
akhirnya kau sudah punya rumah
dengan kusen kayu meranti
dan lebar jendela kau hafal dalam inci
maka, tak ada serapah untuk tidak betah
pintu yang menangkil ke selatan
dan bangku di dapur menjorok ke lautan
ialah sejumlah dalih
bahwa kau menungguku dengan sedih
nyatanya kau biarkan aku merapah ke bebukit
lalu dengan tolol mengenangmu
saat menyapu beranda dan berkali gembira
mengibaskan keset ke batang mangga
padahal kau tahu, telapak kaki
dan semua ingatanku tinggal di situ
sungguh, aku ingin kembali ke sana lagi
lalu merayahmu dari lengan waktu
nanti saja, katamu, pada saat hari sabat
kau akan rihat dari menggambar denah,
memikirkan letak guci, warna kamar mandi
pun jahitan kulit kursi
"dan di sebuah senja, datanglah ke rumahku
dengan berahasia akan kubiarkan kau
mengutip surga di bibir jendela
diintip cahaya dari bukit fatima"
ah, aku tahu kau hanya basa-basi
sekadar gurau atau menokok mimpi
karena sungguh, bagaimana hendak tandang
bila pintumu sudah terkunci dan dipalang?
oleh isyarat
juga riwayat
2007
Jimmy Maruli Alfian

Fort Marlborough
"apakah harus ada yang dipertahankan
kalau nyatanya kau konyol digempur kesedihan?"
waktu pertama menemukan daratan itu
ia langsung lupa dari kubu mana ia tiba
baginya pelayaran ini teramat lucu
karena cuaca melulu gagal dikira
hah! begitu letih mengimani laut
tak ada penunjuk arah sewaktu kalut
kompas rusak, teropong hilang
ikan-ikan tak ada renang mengambang
sampai akhirnya ia berani berlabuh
meninggalkan serdadu ombak,
selat yang padat, tubuh yang rapuh,
dan gelak awak di atas geladak
"kesedihan tak punya kebangsaan
maka biarkan aku merapat sendiri
pura-puranya suluk di tempat sembunyi
kalian, teruskanlah perjalanan ke selatan"
ia pun menunggu magrib
sore dan hujan saling menyalip
di antara bibir benteng dan mulut pantai
tubuh ringkihnya pun makin lepai
ia putuskan untuk tinggal di sana
meriam dan parit-parit akan melindungi
dari serangan kenangan yang membuatnya
harus memilih kalah atau menang
"hei, apakah harus ada yang dipertahankan
kalau nyatanya kau konyol digempur kesedihan?"
ia pun menggumam dalam duduk silanya
"masa bodo! tak akan usai pertahanan ini
karena menyerang membuat diri
semakin jauh dari tempat kembali
semak dan miang bakal ganti menghuni"
2007
Lupita Lukman
Seekor Burung
Dia sudah tinggi rupanya, sudah besar. Sehingga ranjang yang sedari kecil menjadi saksi mimpi-mimpinya itu, kini tak lagi cukup menampung tubuhnya. Hingga ibunya yang selalu mengantar tidurnya dengan dongeng-dongeng, tembang atau doa-doa itu, kini menyuruhnya pergi.
"Segeralah kau temui mimpi-mimpimu yang terserak di jalanan, tinggalkan ranjang ini, kamar, juga rumah ini, jadilah burung!"
"Tapi, Bu…," tiba-tiba saja kalimatnya terhenti ketika ia telanjur sadar tangannya mengepak menjadi sayap, terbang menjelma burung dengan hati amat senyap. Meninggalkan ranjang berseprei abu-abu. Meninggalkan ibu.
"Tentu dia terbang kini, dia sudah besar," gumam ibu.
2
Burung itu terbang seharian. Telah puas bermain-main di bebukitan. Kini, ia kelelahan. Meski tetap saja ia merasa sungkan hinggap di sebuah dahan.
"Sekarang, aku akan ke mana? Awan menghitam, hujan segera datang. Saat seperti ini, aku hanya ingin kembali ke ranjangku dan meringkuk di sisi ibu."
3
Setahun sudah berlalu, ibu sendirian di rumah itu. Ranjang itu pun sepreinya sudah diganti biru. Astaga! Kini ibu senang memelihara berbagai macam burung dalam sangkar, dalam kamar.
Sambil memandikan seekor burung dalam sangkar bambu, ibu bergumam,
"Dia sudah besar, tak mungkin lupa jalan pulang, tak mungkin sasar."
4
Di sebuah senja berwajah jingga, aku melihat seekor burung terbang
penasaran, berputar-putar di sekitar batang bambu, lupa jalan pulang ke rumah ibu.
September 2007
Lupita Lukman
Penyihir
>is 62248m,<: Sapardi
kau menatapku dari kejauhan
seperti senja yang mengharukan
sebab ada seribu jalan menuju dirimu
hampir gelap dan berbatu
tahukah kau tuan, aku hampir sesat
di jalan yang pernah kau namai ini
aku dikelabui mimpi
: menjadi perempuan berambut emas,
bergaun pekat
"kutunggu kau sebagai penyair!" ujarmu suatu waktu
tapi tuan, nyatanya kini aku malah jadi penyihir
berbibir hitam dan topi lancip
aku ingin jadi penyair tuan, bukan penyihir!
adakah aku salah menafsir pesan?
sebab, tahukah kau?
kini aku dalam perjalanan terbang menuju dirimu
di sebuah senja remang dan jalan berbatu
berniat menyihirmu, menjadi hantu
Agustus 2007
Jimmy Maruli Alfian lahir di Telukbetung, Lampung, 3 Maret 1980. Kumpulan puisinya yang siap terbit berjudul Bukit Fatima.
Lupita Lukman lahir di Kota Bumi, Lampung, 17 Maret 1985. Beberapa puisinya termuat di sejumlah antologi bersama. Kini ia aktif dalam Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Universitas Lampung.

Pulau Kampung Pukau Lampung" karya Hasan Aspahani (Batam).

Pulau Kampung
Pukau Lampung


MAKA, pada ombak di selatmu, aku belajar mengayuh lagi. Biduk tak
bercadik ini. Ke pulau-pulau di gugus Krakataumu. Dengan
cemas yang tak lagi kemas: sampailah, sampailah lekas.
Sampai ke telukmu. Tempat sebuah bandar berpelabuhan rindu.
Dan aku pelaut hendak menukar layar dengan jubah biksu dan
kamus rahasia tempat para penyair menyemai benih puisi.

AHAI, di mana nanti kutinggalkan perahu? Sedang di sini sungai-sungai
mengeruk beluk dengan bait baru, mengeduk seluk dengan larik
arus laju. Bagaimana nanti kuinginkan badai? Sedang di sini alir
lurus menuju ke muara yang satu. "Sungai telah kami terjemahkan
ke dalam puisi, siapa yang berani memaknai kedalaman? Menebak
apa yang kami tawarkan, mungkin sebuah teteduhan?"

BAIKLAH, di mana aku bisa singgah? Aku ingin sebuah kedai yang ramah.
Dan segelas kopi kampung beraroma rumah. Para perempuan menemani
dengan buku antologi dan lelaki dengan kitab sejarah. "Malam nanti
datanglah. Kita membaca wangi sejarah, dan mungkin bisa kau temukan
rahasia bagaimana menyuling atsiri ke dalam puisi." Aku termenung.
Seperti kudengar lirih bebandung.

BARANGKALI, ada situs di pelupukmu tempat para pelaut betah
membayangkan khayangan, dan aku akan menduga telah menjadi
dewa, menghafalkan pisaan, lalu memejamkan keinginan, belajar
mengerti sebisanya betapa di sini manusia mungkin berbahagia.
Atau menunggu disalin ke remang memmang.

Hak cipta pada hasan aspahani

Puisi M. Badri

Dari Negeri Badri


MALAM PINANGAN

Aku ingin menanami hamparan sawah yang memanjang di hatimu
Dengan padi-padi yang tumbuh dari gairah jiwaku
Lalu kualiri dengan sungai yang memancar di lubuk rindu
Dengarlah seruling cinta itu, mengalun sampai ke padang-padang
Beriring kasidah panjang di keremangan petang
Aku ingin melingkarkan sebait puisi di jemarimu
Sampai embun pagi memutih
Menghapus kesunyian kita sepanjang pematang
Saat mengeja nama anak-anak yang tertulis di setiap bulir padi
Hingga menguning dan berwarna gading
Semalam, aku menunggu bukit-bukit meluruhkan bunganya
Sebab di rambutmu yang gambut ingin kusemai doa-doa
Agar matamu memancarkan cahaya seperti bintang-bintang
Saat pelangi melukis warna warni rumah kita
Ketika aku menerjemahkan isyarat angin menjadi bahasa cinta
Lihatlah, menjelang malam Tuhan mengirimi bulan
Hingga puisi yang lekat di jemarimu berkilauan
Kunang-kunang pun menabuh reranting menjadi irama merdu
Burung-burung kemudian memahat kesetiaan
Dengan paruhnya yang meruncing karena rindu
Tiba di dermaga, ayah ibu kita, pasangan kekasih tua itu
Memberi sebuah sampan yang ditatahnya dari batu karang
Sebab laut akan mengiringi, dengan gelombang surut dan pasang
Sampai waktu membuktikan setiap makna
Dari kata-kata yang kita kayuh berdua
Bogor, 2008
Sajak ini menjadi pemenang "Karya Terpuji" Sayembara Puisi Cinta Tabloid Nyata 2008

Perempuan yang Mencintai Laut
: evy

dermaga 1
bidukmu terapung di celah senja yang merona
antara percikan ombak dan dayung, mengitari semenanjung
menembus angin pesisir di pulau-pulau anyir
oleh aroma ikan, wangi kehidupan
ah geliat tubuhmu serupa duyung berenang ke tepian
menjemput cintamu yang tertambat di pelabuhan

dermaga 2
kepada karang kau bercerita tentang kehidupan
di laut yang membiru oleh ikan-ikan dan terumbu
warna jala dan kemilau nelayan menggarami petang
dan di pesisir, anak-anak itu, menyusu pada asin perahu
yang berlayar dari pulau ke pulau, sampai ke laut paling dalam
menebar masa depan dan impian

dermaga 3
jangan menangis, katamu
sebab air mata akan menenggelamkan separuh daratan
menghapus isyarat cinta yang terukir di atas pasir
bermekaran sepanjang pantai, sampai ke ujung palung
dan di lautmu, aku mencoba memahami bahasa ombak
membaca kilau mutiara di dasarnya

Wednesday, 2 July 2008

LAWAN CATUR : SEBUAH TEKA TEKI KEHIDUPAN

LAWAN CATUR : SEBUAH TEKA TEKI KEHIDUPAN

Memainkan catur, adalah memainkan hidup dan mati. Jika sang raja mati, maka semua aparatur di bawahnya juga akan mati. Tidak hanya prajurit kelas teri, pejabat kelas mentri pun akan ikut mati.
Permainan catur merupakan permainan penuh misteri. Kita sulit menafsirkan kebera daan hidup dan mati. Terkadang kita memainkan tokoh orang lain dalam diri kita, terkadang pula kita selalu berharap orang lain itu adalah kita. Penuh teka teki.
Teka teki itu telah dihadirkan Teater LKK Unimed di Taman Budaya Sumatera Utara, pada Senin, 30 Juni 2008, pukul 20.00 WIB. Naskah yang berjudul Lawan Catur karya Kenneth Arthur, terjemahan WS. Rendra.

Memaknai Tujuan Hidup
Pertunjukan Lawan Catur dihadirkan dengan suasana panggung yang cukup lengang, penuh rahasia. Di atasnya terlihat dua orang lelaki sedang terduduk pada kursi yang di tengahnya ada papan catur, sedang bermain catur. Di sinilah dialog demi dialog hadir dan mengalir.
…Aku tidak pernah bosan main catur. Dengar, Antonio. Apabila aku bosan main catur, itu artinya aku bosan hidup. Permainan catur adalah tantangan bagi ketajaman otak dan kekuatan sikap jiwa manusia : sebagaimana taktik cinta, taktik perang, politik dan lain sebagainya. Apabila permainan caturku buruk aku akan berhenti jadi Menteri Urusan Kepolisian. Kita orang pemerintah tidak hanya meletakkan nyawa dalam kekuatan tangan kita, namun juga harus mengasah kepala untuk menjalankan tugas seefektif mungkin. Kita harus tetap menjaga agar sempurna, persis geraknya, licin jalannya. Ya…ya…begitu lah caranya kita mengabdi pada pekerjaan kita. Apabila mesin-mesin dalam kepala kita mogok atau macet, kita tak pula lagi berarti apa-apa.
Samuel Glaspel (Ahmad Badren) berdialog dan bermain cukup brilyan memainkan perannya. Ibarat kapten di tim sepakbola ia selalu menggiring penonton kepada setiap teka-teki hidup yang mengalir di atas pentas. Musik yang mengantar permainan cukup membantu penonton sebagai penikmat pertunjukan focus mengikuti adegan demi adegan di atas pentas.
Adegan yang sebenarnya minimalis gerak (pada awalnya) itu, dibawakan dengan penuh daya pikat. Bukankah hidup terasa akan sangat lamban jika kita tidak menghadir kannya dengan penuh energi? Sekecil apapun ruang gerak, sesedikit bagaimanapun titik gerak kitalah yang mampu menghadirkannya dengan segala kemampuan kita. Intinya bagaimana kita mampu meyakinkan orang lain dengan peran yang kita mainkan.
Untuk meyakinkan orang lain kita perlu lawan main yang sepadan agar adegan yang hadirkan tidak berat sebelah. Antonio (Deni Dahriansyah Lubis) mampu menjadi lawan main Samuel yang sepadan. Dia, Antonio, mampu membawa perannya sebagai bawahan, ajudan Polisi. Prinsip bahwa atasan tidak pernah salah, berhasil diperkuatnya. Bawahan sebagai orang yang selalu di pihak yang kalah dan salah berhasil dihadirkannya.
Kita jadi teringat bagaimana penjual obat yang menjajakan dagangannya. Selalu saja dihadirkan pemeran pembantu dalam aksi-aksi mereka. Hal ini dilakukan untuk meya kini pembeli bahwa obat yang mereka jual benar-benar manjur. Pasien yang datang tiba-tiba seketika itu juga sembuh.
Adegan berikutnya biasa nya dipergunakan untuk pemanis. Kita lihat saja dalam permainan gulat bebas ala Amerika, smackdown, di sela-sela permainan selalu dihadirkan sosok perempuan cantik untuk menambah daya tarik. Dan tentunya hidup juga begitu ada yang menjadi sosok antagonis atau protagonist, selebihnya bias kita ciptakan sendiri.
Begitulah, setelah dialog-demi dialog hadir dari Samuel dan Antonio, yang sebenar nya cukup sarat pesan, bagaimana kita menyikapi hidup secara cerdas. Selanjutnya Verka (Siti Fatimah) hadir untuk memberitahukan kedatangan Oscar Jacob (Muhammad Ardi an), sang pemberontak.
…orang yang bernama Oscar Jacob itu masuk komplotan anti pemerintah, dan dia mendapat tugas dari pimpinannya untuk membunuh yang mulia. Dua orang bawahannya telah kami tangkap dua minggu yang lalu, dan yang tak mesti diragukan lagi adalah mengenai orang yang bernama Oscar Jakob itu. Laporan mengenai sejarah hidupnya, sejak dia lahir sampai sekarang telah kami serahkan kepada yang mulia. Tentu yang mulia telah memahaminya.
Dari dialog Antonio ini membawa penonton memasuki wilayah teka-teki itu. Tentu yang mulia telah memahaminya. Ada apa? Apa ada? Rasa curiga mulai hadir dan menga lir. Dengan kedatangan Oscar, misteri mulai terkuak. Penonton dipaksa untuk tetap me ngembangkan telinga dan melebarkan mata. Pada akhirnya inti cerita sudah bisa kita tebak, siapa yang kuat membawakan peranannya, maka dialah yang muncul sebagai pe-menang. Dan di sini Samuel (yang dulunya bernama Oscar Jacob, anak petani miskin, sahabat semasa kecil Samuel), berhasil mengalahkan (membunuh dengan racun) Oscar (yang dulunya bernama Samuel Glaspel, anak juragan kaya yang ditukarkan ibunya dengan mengubah namanya menjadi Oscar-menurut versi Samuel sendiri).

Hidup Harus Terus Diperjuangkan
Secara keseluruhan pertunjukkan Lawan Catur karya Kenneth Arthur, terjemahan WS Rendra, yang diaminkan oleh Teater LKK Unimed mudah dipahami. Masriawan Herlambang sebagai sutradara mampu mengarahkan pemainnya dengan apik. Konsep kesederhanaan nyata jelas terpampang. Musik pengiring yang hadir tidak menggebu-gebu. Mengantar penonton secara serius. Lampu yang hadir tanpa embel-embel cahaya yang berwarna, rata. Atau artistik dan set panggung yang dominan hitam putih.
Semua sudut tergarap dengan baik. Improvisasi dan bisinis yang menawan. Pesan-pesan sarat makna. Kelebihan-kelebihan itu mampu menutupi beberapa kelemahan sepanjang permainan. Seperti lampu bagian luar yang hidup sedikit kasar. Sedangkan di atas panggung ada bagian-bagian tertentu yang terasa temaram. Begitu juga musik yang diprogram dari computer, sedikit membuyarkan konsentrasi. Pun sound system yang sedikit konslet.
Set panggung yang sangat sederhana mampu diberdayakan semaksimal mungkin oleh pemain. Kekuatan bermain Samuel mampu menutupi kelemahan pemain yang terasa masih grogi di beberapa adegan. Atau dialog yang sedikit terputus-putus, diimprovisasi oleh Samuel dengan baik. Pun begitu vocal para pemain terdengar sesekali timbul teng gelam pada beberapa adegan.
Langkah, rezeki, pertemuan, dan maut sejatinya memang sebuah perjalanan yang mesti kita lewati. Lahir dan mati kerap kita jumpai. Bagaimanapun kematian adalah pemberhentian pada satu stasiun untuk menuju stasiun berikutnya. Lantas bagaimana dengan yang hidup? Hidup tentu harus dilanjutkan. Bukan begitu? Demikianlah, Lawan Catur yang digawangi Ahmad Haikal sebagai peñata musik, Pusriza piñata lampu, diban tu kru yang lain, seperti: Apriani Kartini (Produser), Heri Sukamto (Pim. Panggung), Maimun Hasibuan (Tiket), Gustriyani Harahap (Make Up), Febri Masnaria (Kostum), Safinatul Hasanah Harahap (Pembantu Umum), Ardhi Saputra, Arif Solihin Martua, dll.

Medan, akhir Juni 2008
Penulis adalah pengamat seni pertunjukkan. Sutradara Teater Generasi


M. Raudah Jambak, lahir di Medan-5 Januari 1972. Beberapa kegiatan yang pernah di kuti PEKSIMINAS III di TIM Jakarta (1995), work shop cerpen MASTERA, di Bogor (2003), Festival Teater Alternatif GKJ Awards, di Jakarta (2003) dan workshop teater alternatif, di TIM Jakarta (2003), Pameran dan Pergelaran Seni Se-Sumatera, di Taman Budaya Banda Aceh-Monolog (2004). Menyutradarai monolog "Indonesia Undercover" dalam seleksi Monolog 2005, di Taman Budaya Sumatera dalam rangka monolog nasional di Graha Bakti, Taman Ismail Marzuki. Karyanya selain di Medan juga pernah dimuat di Surat Kabar RAKYAT MERDE KA Jakarta dan Majalah SIASAH Malaysia,Majalah Horison Jakarta,Majalah Gong Jogja, BEN Jogja, Radio Nederland, Cyber sastra, Pontianak Post, Suara Karya Jakarta, Komunitas Sekolah Sumatera, RRI I Nusantara Medan, RRI Pro 2 FM, Bianglala dan surat kabar di Medan. Sering menjuarai lomba baca/cipta puisi, cerpen, dongeng, proklamasi dan juga Teater di Medan. Sering menjadi juri, instruktur, dan pembicara dalam seminar sastra dan bahasa. Selain itu beberapa buku yang memuat karyanya jugasudahterbit,misalanya:MUARATIGA (antologi cerpen-puisi/Indonesia-Malaysia), 50 Botol Infus (Teater LKK IKIP Medan), KECAMUK (antologi pusi bersama SyahrilOK), TENGOK (antologi puisipenyair Medan), SERATUS UNTAI BIJI TASBIH (antologi puisi bersama A.Parmonangan), OMONG-OMONG SASTRA 25 TAHUN (antologi esay), MEDITASI (antologi puisi tunggal), AMUK GELOMBANG (sejumlah puisi elegi penyair Sumatera Utara, Ragam Sunyi Tsunami (kumpulan puisi, Balai bahasa Sumut)dan Perempuan berhati gerimis .Tembang Bukit Kapur (Penerbit Escava, Jakarta, 2007), Kumpulan cerpen Ranesi (Grasindo, 2007) Medan Sastra (DKSU, 2007), Jelajah (2003), Jogja 5,9 RC (antologi Puisi Jogja, 2006), Medan Puisi (2006), 25 cerpen terbaik guru (2007-Perpustakaan Nasional-Jakarta), 6 Penyair Urban (antologi Puisi, Komunitas Hp-2008) Sekarang aktif di Sanggar GENERASI Medan. Saat ini bertugas di beberapa sekolah sebagai staf pengajar, Yayasan Panca Budi, Budi Utomo dan UNIMED, Anggota HISKI Sumut (2005-2008). Kepala Biro Sastra Seniman Indonesia Anti Narkoba (SIAN)Wil.Sumut, Direktur Komunitas HP Medan, Pengurus Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI Wil. Sumut).dll. Alamat surat menyurat: Taman Budaya Sumatera Utara, Jl.Perintis Kemerdekaan No. 33 Medan. HP. 085830805157. rek; Mandiri cabang mdn balaikota,106-00-04699933-3
Alamat e-mail: mraudahjambak@yahoo.com. mraudahjambak@plasa.com.
Alamat blog: mraudahjambak.blogspot.com.komunitashomepoetry.blogspot.com.

Peran Balai Bahasa dan Rasa Kepedulian Sekolah

Balai bahasa dalam pengertian dasarnya adalah tempat berbahasa. Berangkat dari pengertian dasar itu saya tertarik menyinggung sedikit persoalan ini. Apalagi jika dikaitkan dengan maksud dan tujuan yang ingin dicapai dalam kaitannya dengan peran Balai Bahasa.

Peran Balai Bahasa dan Sekolah
Balai Bahasa diharapkan dapat merajut silaturahmi dalam memperkokoh rasa nasionalisme. Memartabatkan bahasa Indonesia sebagai lambang jati diri bangsa. Meningkatkan mutu pemakaian bahasa Indonesia melalui karya sastra. Terutama di sekolah-sekolah. Sehingga tidak ada lagi sikap menyepelekan bahasa Indonesia. Termasuk lingkungan sekolah, para guru, dan pelajar.
Sikap menyepelekan bahasa Indonesia juga terjadi pada sebagian pelajar yang tidak mau mendalami bahasa nasional ini karena mereka menganggap bahasa Indonesia merupakan bahasa sehari-hari. Tak heran bila ada pelajar SMP atau SMA mendapat nilai lebih untuk pelajaran bahasa Inggrisnya di rapor, sementara nilai bahasa Indonesianya kurang..
Jika untuk merajut silaturahmi dalam memperkokoh rasa nasionalisme, tentunya yang menjadi perhatian kita adalah yang akan terjadi hanya sekadar kumpul-kumpul, datang dan pulang. Situasi seperti ini sungguh memprihatinkan. Prihatin dengan sikap tertentu dari sekolah-sekolah yang cenderung tidak mengutamakan bahasa Indonesia. Kini banyak sekolah nasional berstandar internasional yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar sehari-hari. Padahal sebaiknya (atau seharusnya), yang "internasional" itu hanya kurikulumnya, sedangkan bahasa pengantarnya tetap bahasa Indonesia. Ini tentu berbeda dengan sekolah internasional yang pasti menggunakan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya, sebagai bahasa pengantar sehari-hari
Kondisi-kondisi tersebut mengundang keprihatinan pakar linguistik Prof. Dr. Amrin Saragih yang juga Guru Besar Universitas Negeri Medan. Tokoh yang juga Kepala Balai Bahasa Medan ini menganggap sebagian orang Indonesia sedang mengalami krisis bahasa yang juga berarti mengalami krisis identitas. Mereka mengalami "demam" bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, yang dianggap memiliki nilai jual tinggi. Semua istilah, merek dagang, spanduk, nama perusahaan, nama hotel, dan nama tempat pelayanan umum menggunakan bahasa Inggris, atau bercampur bahasa Inggris, sehingga tidak proporsional.
Beliau juga ada mengungkapkan bahwa bahasa memiliki kekuatan-kekuatan terutama dalam menekankan pendidikan. Kenyataan yang kita hadapi, bahasa ternyata tidak mampu dimanfaatkan sebaik mungkin sebagai penguat terajutnya silaturahmi, apalagi dalam memperkokoh rasa nasionalisme.
Bahasa Indonesia sebagai bahasa penyatu dalam kesehariannya justru dianaktirikan. Lihat dan dengarkan dalam setiap acara dan kegiatan apapun. Bahasa Indonesia yang disinyalir oleh Damiri Mahmud justru dirusak oleh orang-orang linguistik sendiri.
Dalam setiap pembicaraan apapun itu, jika tidak berbahasa asing, terutama bahasa Inggris, dianggap tidak berkelas. Produk yang dihasilkan, jika tidak berbau asing, maka dianggap murahan.
Hal ini terjadi pada semua aspek kemasyarakatan dan kehidupan yang berlang di Indonesia. Tak terlepas pula di lembaga-lembaga pendidikan. Guru bahasa Indonesia sendiri-pun diwajibkan oleh sekolah penyelenggara untuk mampu berbahasa Inggris dalam proses belajar-mengajar. Fatalnya lagi ini ada kaitannya dengan tunjangan prestasi. Kemampuan berbahasa Inggris ini masuk dalam kriteria penilaian. Akhirnya, guru bahasa Indonesia tentunya tidak akan pernah mendapat kan tunjangan prestasi. Penyebabnya adalah kesadaran nasionalisme harus berbenturan dengan kebutuhan materialisme.
Nasionalisme yang berbenturan dengan materialisme, juga menjadi penyebab bahasa Indonesia sebagai lambang jati diri bangsa justru menjadi tidak bermartabat. Saling tuding, saling tuduh, merasa hebat masih menjadi momok yang sampai sekarang belum mampu ditinggalkan.
Dalam konteks senada, penyair mbeling Remy Sylado yang juga seorang munsyi (ahli bahasa, mengecam keras bertebarannya kata-kata dan istilah asing di berbagai segi kehidupan bangsa Indonesia, seolah-olah kita tidak punya bahasa Indonesia. Tidak memiliki martabat. Media massa cetak dan elektronik pun dikritiknya karena sering menggunakan kata atau istilah bahasa asing secara berlebihan, padahal kata atau istilah yang memiliki arti sama atau sepadan sudah ada dalam bahasa Indonesia., mungkin Remy Sylado sepakat martabat itu akan terangkat jika adanya kesadaran berbahasa.
Dengan terjalinnya silaturahmi dan meningkatnya martabat bahasa, maka mutu pemakaian bahasa Indonesia pasti dapat diwujudkan. Dan proses pelaksanaan itu bisa diwujudkan di mana saja terutama di sekolah

Kepedulian
Sebenarnya, bahasa Indonesia punya tempat yang khusus di hati masyarakat internasional. Banyak warga negara lain, misalnya Jepang atau Australia yang mempelajari bahasa Indonesia. Kini tercatat ada 73 negara yang mengajarkan bahasa Indonesia, baik di tingkat SD, SMP, SMA, atau perguruan tinggi.
di Australia, bahasa Indonesia diajarkan dari tingkat SD sampai SMA. Beberapa perguruan tinggi di sana juga membuka program studi bahasa Indonesia. Sementara di Jepang ada tujuh belas perguruan tinggi yang mengajarkan bahasa Indonesia.
Dari semua paparan tersebut, kini diharapkan muncul sikap untuk selalu mengutamakan bahasa Indonesia dan menempatkannya pada posisi terhormat. Siapapun misalnya, tak perlu ragu untuk menyapa tamu asing dengan salam "selamat pagi" pada kesempatan pertama, baru kemudian "good morning" (bila dirasa perlu). Buat apa kita menggunakan kata concern padahal kita punya kata peduli? Mengapa kita memakai kata input padahal kita punya kata masukan? Mengapa harus organizing committee, bukan panitia pelaksana? Dan seterusnya, dan seterusnya. Saya sudah mengatur segalanya..
Semua pihak dituntut untuk peduli terhadap perkembangan bahasa Indonesia, baik itu pelajar, pengajar, pejabat, maupun pers. Apalagi pers memiliki peran yang sangat besar karena produknya setiap hari dibaca atau dinikmati masyarakat luas. Kini saatnya kita menunjukkan kecintaan yang tinggi terhadap bahasa Indonesia karena bahasa Indonesia merupakan bagian dari jati diri bangsa. Hal ini jelas, bahwa Balai Bahasa punya peran penting untuk mengembangkan rasa kepedulian sekolah dalam menggunakan bahasa nasional ini. Demikian.

***

Tuesday, 1 July 2008

LAWAN CATUR : PROSES MEMAHAT JATI DIRI

LAWAN CATUR : PROSES MEMAHAT JATI DIRI

Begitu memasuki gedung pertunjukan, suasana lengang menyeruak begitu saja. Kursi-kursi menggigil dielus air conditioner . Ruangan mungkin serasa agak pengab. Tetapi satu persatu “penggila” teater memasuki ruangan, sedikit gaduh. Mungkin ada niat yang belum tersalurkan. Beberapa saat kemudian keheningan menyambar, setelah pem bawa acara menyampaikan acara akan segera dimulai.
Musik mengantar naiknya layar perlahan. Ketika panggung sedikit membuka, mulai dari kaki sampai tampak kepala, pertanyaan terjawab sudah. Di tengah pentas dua orang terlihat sedang bermain catur. Dengan setting panggung yang cukup sederhana, pertun jukan itu pun dimulai.
Malam itu, Senin, 30 Juni 2008, pukul 08.00WIB LKK Unimed kembali berkarya. Sebuah pertunjukan Teater dengan judul Lawan Catur karya Kenneth Arthur, terjemahan WS. Rendra, hadir di Taman Budaya Sumatera Utara.

Sebuah Kegagapan Yang Tertutupi
Seorang Kepala Mentri Urusan Polisi, Samuel Glaspel (Ahmad Badren Siregar) de ngan ajudannnya Antonio (Deni D. Lubis), sedang asyik memain-mainkan buah caturnya, mengingatkan saya kepada sebuah pertunjukan gerak bertajuk “Kontrang Kantring atawa Lawan Catur”.
Naskah karya Sir Kenneth William Goodman berjudul Chess Game ini telah diadaptasikan oleh WS Rendra pada masa lalu. Dan kini, adaptasi itu pun diserap dalam rangkaian gerak, sebuah presentasi tarian, yang menekankan pada pemaknaan tubuh penarinya.
Yang ada di panggung hanyalah berupa kotak besar – menyembunyikan para pemain, juga bisa menjadi simbolik catur. Dengan menampilkan lima aktor, mereka mengeksplorasi berbagai gerak tubuh, mulai dari gerak repetitif yang kejang, bahkan gerak yang sangat kaku, terkadang ditampilkan dengan gemulai.
Dengan mengenakan pakaian serupa napi, baret-baret merah, mereka bergerak memperlihatkan dentum perkusi serupa tambur yang mengiring tubuh mereka. Lalu seorang penari yang kakinya terjerat rantai, melepasnya, ada perkelahian, ada permainan eksplorasi serupa buang ingus, saling kentut.
Di tengah eksplorasi yang terkesan “menjijikkan” itu muncullah simbol roti, hamburger, ayam goreng KFC, cap cay, seakan ingin memberikan paparan tentang kondisi tanah air yang tidak resisten, lewat bahasa-bahasa perlambang.
Inilah mungkin kegamangan individu itu, baik secara internal sistem Negara, hingga ke eksternal Negara Indonesia di tengah peradaban internasional. Dengan tajuk “Lawan Catur dan Kontrang-Kantring”, selain mengangkut simbol verbal lewat guratan tubuh dan idiom yang begitu dikenal semacam itu, mereka juga membuat umpatan-umpatan seperti “bajigur!”
Makna di balik gerak yang ekspresif terkadang trance dan rawan ini memang bisa dilihat dari tema utama yang mengarah pada dua “kata kunci”. “Kontrang kantring” bermakna “bingung”, yang merujuk tentang kebingungan individu pada sebuah kelembagaan besar bernama Negara yang kerap mengalami kegagalan dalam cita-cita. Sedangkan “lawan catur” adalah sebuah oposisi biner, dua kehendak dari arus yang besar.
Dan malam itu Kepala Polisi dan ajudannnya lebih banyak mengeluarkan dialog-dialog verbal. Gerak-gerak bisnis atau improvisasi yang muncul hanya mempermanis tampilan permainan.
Naskah yang juga merupakan terjemahan WS. Rendra ini sebenarnya berhasil dima inkan oleh para pemain. Pemain cukup maksimal, terutama Ahmad Badren Siregar walau terkadang suaranya terdengar turun naik. Ia berhasil menjadi kapten dalam pertunjukan itu. Beberapa pemain lain (Siti Fatimah-Verka, Muhammad Ardian-Oscar Yacob), ber usaha untuk mengimbangi, tetapi kegamangan atau ragu-ragu sedikit terlihat menggang- gu.
Lampu layaknya juga memperkuat pertunjukan justru hampir tidak mengkontribu sikan apa-apa, jika para pemain tampil dengan apa adanya. Dengan semangat dan penuh permainan yang cerdas, pertunjukan itu cukup ternikmati.

Hidup Adalah Teka Teki
Catur mengisyarakat perjalanan kehidupan manusia, yang sulit ditebak ke mana langkahnya. Penonton sebagai makhluk individu, hanya bisa mengikuti arah langkah yang diarahkan Sang Mahakuasa. Tinggal bagaimana kita mampu menyikapinya. Perjalanan itu cukup panjang mulai kita lahir kedunia, anak-anak, kanak-kanak, remaja, dewasa, dan tua.
Selama perjalanan itu kitapun terkadang tidak tahu apakah berjalanan berdasarkan peran yang sudah ditentukan, atau kita menciptakan sendiri peran-peran itu. Bisa jadi suatu ketika kita bakal menjadi orang lain. Atau sebaliknya.
Demikian halnya yang terjadi dengan Samuel dan Oscar, ketika masih kecil Samuel (bernama Oscar) yang anak petani, ditukarkan dengan Oscar (Samuel nama kecilnya) yang anak saudagar kaya, oleh ibu kandung Samuel kecil.
Seperti sebuah perjalanan, ada rasa bosan memerankan orang lain. Ingin kembali menjadi diri sendiri. Ada rasa bosan untuk berbicara bohong, ada rasa bosan untuk berlaku tidak adil, apalagi menzolimi orang lain setiap hari.
Kembali mencari jati diri. Hal itulah yang tergambar secara keseluruhan, dan orang yang selalu konsisten, tentunya akan hadir sebagai pemenang. Dan jika ada pemenang tentu akan ada pecundang. Akhirnya pertunjukan itu dengan ending yang mengharukan.
Rasa haru itu muncul di saat dua orang sahabat lama, akhirnya saling berbunuhan demi menyelamatkan idealismenya masing-masing.
Dengan demikian, selamat untuk Teater LKK Unimed. Semoga terus berjaya. Dan mampu menyikapi hidaup yang tumpang-tindih ini. Laksana catur kita yang tinggal melangkah kemana kita harus berjalan, di mana kita memulai langkah.
Sedikit saja salah langkah, maka bersiaplah dengan kehancuran kita. Hidup bukanlah sandiwara. Hidup adalah suatu cara mengaplikasikan segala rencana. Tentunya berman faat bagi ummat manusia. Sekali lagi selamat. Lebih baik terus berkarya daripada mencela. Salam.


Medan, akhir Juni 2008
Penulis adalah pengamat teater, Direktur Komunitas HP