Thursday, 3 July 2008

Sajak-sajak

Jimmy Maruli Alfian
Dendam Tak Sudah*

danau ini tak mengalirkan apa-apa
tetapi mengapa kau tenggelam dalam diamnya?
mungkin duka tubuhmu terlampau berat
mungkin sengketa riwayat terlampau sarat
sesungguhnya di dasar danau akan kau temukan
batu-batu, kulit keong, juga beling botol dan piring
saat itu tubuh putihmu pun menjadi mineral
sampai kau memekik segala sebal
begitu banyak kepedihan yang kau igaukan
menjadi asap rokok, derik serangga di batang kepok
dan roda-roda kereta yang tak pernah kapok
terjerembab dalam ulang alik perjalanan
entah apa bentuk paras danau ini
kadang-kadang oval dan dingin tak karuan
tak jarang pula persegi dengan riak amarah
di tiap tepi
kecipak permukaan
membuat lelaki membelalak
sebelum akhirnya tenggelam
dalam sehimpun gombal sajak
kelaras yang jatuh di bibir danau
seketika daunnya datang mendekat engkau
telur-telur katak yang menggelantung
ialah tanda penantian terus berlangsung
teguklah bir dari tuangan terakhir
lalu hitung berapa banyak di gubuk orang mampir;
berteduh karena hujan, membeli tisu dan minuman
atau hanya melepas letih memeluk pinggang kekasih
dan seperti kemarin,
(hanya saja hari ini banyak nyamuk
dan bekas sepatumu di pasir mulai suruk)
danau ini tak mengalirkan apa-apa
tetapi mengapa kau tenggelam dalam kesumatnya?
2007
* Nama sebuah danau kecil di Bengkulu.

Jimmy Maruli Alfian
Bukit Fatima 2
akhirnya kau sudah punya rumah
dengan kusen kayu meranti
dan lebar jendela kau hafal dalam inci
maka, tak ada serapah untuk tidak betah
pintu yang menangkil ke selatan
dan bangku di dapur menjorok ke lautan
ialah sejumlah dalih
bahwa kau menungguku dengan sedih
nyatanya kau biarkan aku merapah ke bebukit
lalu dengan tolol mengenangmu
saat menyapu beranda dan berkali gembira
mengibaskan keset ke batang mangga
padahal kau tahu, telapak kaki
dan semua ingatanku tinggal di situ
sungguh, aku ingin kembali ke sana lagi
lalu merayahmu dari lengan waktu
nanti saja, katamu, pada saat hari sabat
kau akan rihat dari menggambar denah,
memikirkan letak guci, warna kamar mandi
pun jahitan kulit kursi
"dan di sebuah senja, datanglah ke rumahku
dengan berahasia akan kubiarkan kau
mengutip surga di bibir jendela
diintip cahaya dari bukit fatima"
ah, aku tahu kau hanya basa-basi
sekadar gurau atau menokok mimpi
karena sungguh, bagaimana hendak tandang
bila pintumu sudah terkunci dan dipalang?
oleh isyarat
juga riwayat
2007
Jimmy Maruli Alfian

Fort Marlborough
"apakah harus ada yang dipertahankan
kalau nyatanya kau konyol digempur kesedihan?"
waktu pertama menemukan daratan itu
ia langsung lupa dari kubu mana ia tiba
baginya pelayaran ini teramat lucu
karena cuaca melulu gagal dikira
hah! begitu letih mengimani laut
tak ada penunjuk arah sewaktu kalut
kompas rusak, teropong hilang
ikan-ikan tak ada renang mengambang
sampai akhirnya ia berani berlabuh
meninggalkan serdadu ombak,
selat yang padat, tubuh yang rapuh,
dan gelak awak di atas geladak
"kesedihan tak punya kebangsaan
maka biarkan aku merapat sendiri
pura-puranya suluk di tempat sembunyi
kalian, teruskanlah perjalanan ke selatan"
ia pun menunggu magrib
sore dan hujan saling menyalip
di antara bibir benteng dan mulut pantai
tubuh ringkihnya pun makin lepai
ia putuskan untuk tinggal di sana
meriam dan parit-parit akan melindungi
dari serangan kenangan yang membuatnya
harus memilih kalah atau menang
"hei, apakah harus ada yang dipertahankan
kalau nyatanya kau konyol digempur kesedihan?"
ia pun menggumam dalam duduk silanya
"masa bodo! tak akan usai pertahanan ini
karena menyerang membuat diri
semakin jauh dari tempat kembali
semak dan miang bakal ganti menghuni"
2007
Lupita Lukman
Seekor Burung
Dia sudah tinggi rupanya, sudah besar. Sehingga ranjang yang sedari kecil menjadi saksi mimpi-mimpinya itu, kini tak lagi cukup menampung tubuhnya. Hingga ibunya yang selalu mengantar tidurnya dengan dongeng-dongeng, tembang atau doa-doa itu, kini menyuruhnya pergi.
"Segeralah kau temui mimpi-mimpimu yang terserak di jalanan, tinggalkan ranjang ini, kamar, juga rumah ini, jadilah burung!"
"Tapi, Bu…," tiba-tiba saja kalimatnya terhenti ketika ia telanjur sadar tangannya mengepak menjadi sayap, terbang menjelma burung dengan hati amat senyap. Meninggalkan ranjang berseprei abu-abu. Meninggalkan ibu.
"Tentu dia terbang kini, dia sudah besar," gumam ibu.
2
Burung itu terbang seharian. Telah puas bermain-main di bebukitan. Kini, ia kelelahan. Meski tetap saja ia merasa sungkan hinggap di sebuah dahan.
"Sekarang, aku akan ke mana? Awan menghitam, hujan segera datang. Saat seperti ini, aku hanya ingin kembali ke ranjangku dan meringkuk di sisi ibu."
3
Setahun sudah berlalu, ibu sendirian di rumah itu. Ranjang itu pun sepreinya sudah diganti biru. Astaga! Kini ibu senang memelihara berbagai macam burung dalam sangkar, dalam kamar.
Sambil memandikan seekor burung dalam sangkar bambu, ibu bergumam,
"Dia sudah besar, tak mungkin lupa jalan pulang, tak mungkin sasar."
4
Di sebuah senja berwajah jingga, aku melihat seekor burung terbang
penasaran, berputar-putar di sekitar batang bambu, lupa jalan pulang ke rumah ibu.
September 2007
Lupita Lukman
Penyihir
>is 62248m,<: Sapardi
kau menatapku dari kejauhan
seperti senja yang mengharukan
sebab ada seribu jalan menuju dirimu
hampir gelap dan berbatu
tahukah kau tuan, aku hampir sesat
di jalan yang pernah kau namai ini
aku dikelabui mimpi
: menjadi perempuan berambut emas,
bergaun pekat
"kutunggu kau sebagai penyair!" ujarmu suatu waktu
tapi tuan, nyatanya kini aku malah jadi penyihir
berbibir hitam dan topi lancip
aku ingin jadi penyair tuan, bukan penyihir!
adakah aku salah menafsir pesan?
sebab, tahukah kau?
kini aku dalam perjalanan terbang menuju dirimu
di sebuah senja remang dan jalan berbatu
berniat menyihirmu, menjadi hantu
Agustus 2007
Jimmy Maruli Alfian lahir di Telukbetung, Lampung, 3 Maret 1980. Kumpulan puisinya yang siap terbit berjudul Bukit Fatima.
Lupita Lukman lahir di Kota Bumi, Lampung, 17 Maret 1985. Beberapa puisinya termuat di sejumlah antologi bersama. Kini ia aktif dalam Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Universitas Lampung.

Pulau Kampung Pukau Lampung" karya Hasan Aspahani (Batam).

Pulau Kampung
Pukau Lampung


MAKA, pada ombak di selatmu, aku belajar mengayuh lagi. Biduk tak
bercadik ini. Ke pulau-pulau di gugus Krakataumu. Dengan
cemas yang tak lagi kemas: sampailah, sampailah lekas.
Sampai ke telukmu. Tempat sebuah bandar berpelabuhan rindu.
Dan aku pelaut hendak menukar layar dengan jubah biksu dan
kamus rahasia tempat para penyair menyemai benih puisi.

AHAI, di mana nanti kutinggalkan perahu? Sedang di sini sungai-sungai
mengeruk beluk dengan bait baru, mengeduk seluk dengan larik
arus laju. Bagaimana nanti kuinginkan badai? Sedang di sini alir
lurus menuju ke muara yang satu. "Sungai telah kami terjemahkan
ke dalam puisi, siapa yang berani memaknai kedalaman? Menebak
apa yang kami tawarkan, mungkin sebuah teteduhan?"

BAIKLAH, di mana aku bisa singgah? Aku ingin sebuah kedai yang ramah.
Dan segelas kopi kampung beraroma rumah. Para perempuan menemani
dengan buku antologi dan lelaki dengan kitab sejarah. "Malam nanti
datanglah. Kita membaca wangi sejarah, dan mungkin bisa kau temukan
rahasia bagaimana menyuling atsiri ke dalam puisi." Aku termenung.
Seperti kudengar lirih bebandung.

BARANGKALI, ada situs di pelupukmu tempat para pelaut betah
membayangkan khayangan, dan aku akan menduga telah menjadi
dewa, menghafalkan pisaan, lalu memejamkan keinginan, belajar
mengerti sebisanya betapa di sini manusia mungkin berbahagia.
Atau menunggu disalin ke remang memmang.

Hak cipta pada hasan aspahani

Puisi M. Badri

Dari Negeri Badri


MALAM PINANGAN

Aku ingin menanami hamparan sawah yang memanjang di hatimu
Dengan padi-padi yang tumbuh dari gairah jiwaku
Lalu kualiri dengan sungai yang memancar di lubuk rindu
Dengarlah seruling cinta itu, mengalun sampai ke padang-padang
Beriring kasidah panjang di keremangan petang
Aku ingin melingkarkan sebait puisi di jemarimu
Sampai embun pagi memutih
Menghapus kesunyian kita sepanjang pematang
Saat mengeja nama anak-anak yang tertulis di setiap bulir padi
Hingga menguning dan berwarna gading
Semalam, aku menunggu bukit-bukit meluruhkan bunganya
Sebab di rambutmu yang gambut ingin kusemai doa-doa
Agar matamu memancarkan cahaya seperti bintang-bintang
Saat pelangi melukis warna warni rumah kita
Ketika aku menerjemahkan isyarat angin menjadi bahasa cinta
Lihatlah, menjelang malam Tuhan mengirimi bulan
Hingga puisi yang lekat di jemarimu berkilauan
Kunang-kunang pun menabuh reranting menjadi irama merdu
Burung-burung kemudian memahat kesetiaan
Dengan paruhnya yang meruncing karena rindu
Tiba di dermaga, ayah ibu kita, pasangan kekasih tua itu
Memberi sebuah sampan yang ditatahnya dari batu karang
Sebab laut akan mengiringi, dengan gelombang surut dan pasang
Sampai waktu membuktikan setiap makna
Dari kata-kata yang kita kayuh berdua
Bogor, 2008
Sajak ini menjadi pemenang "Karya Terpuji" Sayembara Puisi Cinta Tabloid Nyata 2008

Perempuan yang Mencintai Laut
: evy

dermaga 1
bidukmu terapung di celah senja yang merona
antara percikan ombak dan dayung, mengitari semenanjung
menembus angin pesisir di pulau-pulau anyir
oleh aroma ikan, wangi kehidupan
ah geliat tubuhmu serupa duyung berenang ke tepian
menjemput cintamu yang tertambat di pelabuhan

dermaga 2
kepada karang kau bercerita tentang kehidupan
di laut yang membiru oleh ikan-ikan dan terumbu
warna jala dan kemilau nelayan menggarami petang
dan di pesisir, anak-anak itu, menyusu pada asin perahu
yang berlayar dari pulau ke pulau, sampai ke laut paling dalam
menebar masa depan dan impian

dermaga 3
jangan menangis, katamu
sebab air mata akan menenggelamkan separuh daratan
menghapus isyarat cinta yang terukir di atas pasir
bermekaran sepanjang pantai, sampai ke ujung palung
dan di lautmu, aku mencoba memahami bahasa ombak
membaca kilau mutiara di dasarnya

Wednesday, 2 July 2008

LAWAN CATUR : SEBUAH TEKA TEKI KEHIDUPAN

LAWAN CATUR : SEBUAH TEKA TEKI KEHIDUPAN

Memainkan catur, adalah memainkan hidup dan mati. Jika sang raja mati, maka semua aparatur di bawahnya juga akan mati. Tidak hanya prajurit kelas teri, pejabat kelas mentri pun akan ikut mati.
Permainan catur merupakan permainan penuh misteri. Kita sulit menafsirkan kebera daan hidup dan mati. Terkadang kita memainkan tokoh orang lain dalam diri kita, terkadang pula kita selalu berharap orang lain itu adalah kita. Penuh teka teki.
Teka teki itu telah dihadirkan Teater LKK Unimed di Taman Budaya Sumatera Utara, pada Senin, 30 Juni 2008, pukul 20.00 WIB. Naskah yang berjudul Lawan Catur karya Kenneth Arthur, terjemahan WS. Rendra.

Memaknai Tujuan Hidup
Pertunjukan Lawan Catur dihadirkan dengan suasana panggung yang cukup lengang, penuh rahasia. Di atasnya terlihat dua orang lelaki sedang terduduk pada kursi yang di tengahnya ada papan catur, sedang bermain catur. Di sinilah dialog demi dialog hadir dan mengalir.
…Aku tidak pernah bosan main catur. Dengar, Antonio. Apabila aku bosan main catur, itu artinya aku bosan hidup. Permainan catur adalah tantangan bagi ketajaman otak dan kekuatan sikap jiwa manusia : sebagaimana taktik cinta, taktik perang, politik dan lain sebagainya. Apabila permainan caturku buruk aku akan berhenti jadi Menteri Urusan Kepolisian. Kita orang pemerintah tidak hanya meletakkan nyawa dalam kekuatan tangan kita, namun juga harus mengasah kepala untuk menjalankan tugas seefektif mungkin. Kita harus tetap menjaga agar sempurna, persis geraknya, licin jalannya. Ya…ya…begitu lah caranya kita mengabdi pada pekerjaan kita. Apabila mesin-mesin dalam kepala kita mogok atau macet, kita tak pula lagi berarti apa-apa.
Samuel Glaspel (Ahmad Badren) berdialog dan bermain cukup brilyan memainkan perannya. Ibarat kapten di tim sepakbola ia selalu menggiring penonton kepada setiap teka-teki hidup yang mengalir di atas pentas. Musik yang mengantar permainan cukup membantu penonton sebagai penikmat pertunjukan focus mengikuti adegan demi adegan di atas pentas.
Adegan yang sebenarnya minimalis gerak (pada awalnya) itu, dibawakan dengan penuh daya pikat. Bukankah hidup terasa akan sangat lamban jika kita tidak menghadir kannya dengan penuh energi? Sekecil apapun ruang gerak, sesedikit bagaimanapun titik gerak kitalah yang mampu menghadirkannya dengan segala kemampuan kita. Intinya bagaimana kita mampu meyakinkan orang lain dengan peran yang kita mainkan.
Untuk meyakinkan orang lain kita perlu lawan main yang sepadan agar adegan yang hadirkan tidak berat sebelah. Antonio (Deni Dahriansyah Lubis) mampu menjadi lawan main Samuel yang sepadan. Dia, Antonio, mampu membawa perannya sebagai bawahan, ajudan Polisi. Prinsip bahwa atasan tidak pernah salah, berhasil diperkuatnya. Bawahan sebagai orang yang selalu di pihak yang kalah dan salah berhasil dihadirkannya.
Kita jadi teringat bagaimana penjual obat yang menjajakan dagangannya. Selalu saja dihadirkan pemeran pembantu dalam aksi-aksi mereka. Hal ini dilakukan untuk meya kini pembeli bahwa obat yang mereka jual benar-benar manjur. Pasien yang datang tiba-tiba seketika itu juga sembuh.
Adegan berikutnya biasa nya dipergunakan untuk pemanis. Kita lihat saja dalam permainan gulat bebas ala Amerika, smackdown, di sela-sela permainan selalu dihadirkan sosok perempuan cantik untuk menambah daya tarik. Dan tentunya hidup juga begitu ada yang menjadi sosok antagonis atau protagonist, selebihnya bias kita ciptakan sendiri.
Begitulah, setelah dialog-demi dialog hadir dari Samuel dan Antonio, yang sebenar nya cukup sarat pesan, bagaimana kita menyikapi hidup secara cerdas. Selanjutnya Verka (Siti Fatimah) hadir untuk memberitahukan kedatangan Oscar Jacob (Muhammad Ardi an), sang pemberontak.
…orang yang bernama Oscar Jacob itu masuk komplotan anti pemerintah, dan dia mendapat tugas dari pimpinannya untuk membunuh yang mulia. Dua orang bawahannya telah kami tangkap dua minggu yang lalu, dan yang tak mesti diragukan lagi adalah mengenai orang yang bernama Oscar Jakob itu. Laporan mengenai sejarah hidupnya, sejak dia lahir sampai sekarang telah kami serahkan kepada yang mulia. Tentu yang mulia telah memahaminya.
Dari dialog Antonio ini membawa penonton memasuki wilayah teka-teki itu. Tentu yang mulia telah memahaminya. Ada apa? Apa ada? Rasa curiga mulai hadir dan menga lir. Dengan kedatangan Oscar, misteri mulai terkuak. Penonton dipaksa untuk tetap me ngembangkan telinga dan melebarkan mata. Pada akhirnya inti cerita sudah bisa kita tebak, siapa yang kuat membawakan peranannya, maka dialah yang muncul sebagai pe-menang. Dan di sini Samuel (yang dulunya bernama Oscar Jacob, anak petani miskin, sahabat semasa kecil Samuel), berhasil mengalahkan (membunuh dengan racun) Oscar (yang dulunya bernama Samuel Glaspel, anak juragan kaya yang ditukarkan ibunya dengan mengubah namanya menjadi Oscar-menurut versi Samuel sendiri).

Hidup Harus Terus Diperjuangkan
Secara keseluruhan pertunjukkan Lawan Catur karya Kenneth Arthur, terjemahan WS Rendra, yang diaminkan oleh Teater LKK Unimed mudah dipahami. Masriawan Herlambang sebagai sutradara mampu mengarahkan pemainnya dengan apik. Konsep kesederhanaan nyata jelas terpampang. Musik pengiring yang hadir tidak menggebu-gebu. Mengantar penonton secara serius. Lampu yang hadir tanpa embel-embel cahaya yang berwarna, rata. Atau artistik dan set panggung yang dominan hitam putih.
Semua sudut tergarap dengan baik. Improvisasi dan bisinis yang menawan. Pesan-pesan sarat makna. Kelebihan-kelebihan itu mampu menutupi beberapa kelemahan sepanjang permainan. Seperti lampu bagian luar yang hidup sedikit kasar. Sedangkan di atas panggung ada bagian-bagian tertentu yang terasa temaram. Begitu juga musik yang diprogram dari computer, sedikit membuyarkan konsentrasi. Pun sound system yang sedikit konslet.
Set panggung yang sangat sederhana mampu diberdayakan semaksimal mungkin oleh pemain. Kekuatan bermain Samuel mampu menutupi kelemahan pemain yang terasa masih grogi di beberapa adegan. Atau dialog yang sedikit terputus-putus, diimprovisasi oleh Samuel dengan baik. Pun begitu vocal para pemain terdengar sesekali timbul teng gelam pada beberapa adegan.
Langkah, rezeki, pertemuan, dan maut sejatinya memang sebuah perjalanan yang mesti kita lewati. Lahir dan mati kerap kita jumpai. Bagaimanapun kematian adalah pemberhentian pada satu stasiun untuk menuju stasiun berikutnya. Lantas bagaimana dengan yang hidup? Hidup tentu harus dilanjutkan. Bukan begitu? Demikianlah, Lawan Catur yang digawangi Ahmad Haikal sebagai peñata musik, Pusriza piñata lampu, diban tu kru yang lain, seperti: Apriani Kartini (Produser), Heri Sukamto (Pim. Panggung), Maimun Hasibuan (Tiket), Gustriyani Harahap (Make Up), Febri Masnaria (Kostum), Safinatul Hasanah Harahap (Pembantu Umum), Ardhi Saputra, Arif Solihin Martua, dll.

Medan, akhir Juni 2008
Penulis adalah pengamat seni pertunjukkan. Sutradara Teater Generasi


M. Raudah Jambak, lahir di Medan-5 Januari 1972. Beberapa kegiatan yang pernah di kuti PEKSIMINAS III di TIM Jakarta (1995), work shop cerpen MASTERA, di Bogor (2003), Festival Teater Alternatif GKJ Awards, di Jakarta (2003) dan workshop teater alternatif, di TIM Jakarta (2003), Pameran dan Pergelaran Seni Se-Sumatera, di Taman Budaya Banda Aceh-Monolog (2004). Menyutradarai monolog "Indonesia Undercover" dalam seleksi Monolog 2005, di Taman Budaya Sumatera dalam rangka monolog nasional di Graha Bakti, Taman Ismail Marzuki. Karyanya selain di Medan juga pernah dimuat di Surat Kabar RAKYAT MERDE KA Jakarta dan Majalah SIASAH Malaysia,Majalah Horison Jakarta,Majalah Gong Jogja, BEN Jogja, Radio Nederland, Cyber sastra, Pontianak Post, Suara Karya Jakarta, Komunitas Sekolah Sumatera, RRI I Nusantara Medan, RRI Pro 2 FM, Bianglala dan surat kabar di Medan. Sering menjuarai lomba baca/cipta puisi, cerpen, dongeng, proklamasi dan juga Teater di Medan. Sering menjadi juri, instruktur, dan pembicara dalam seminar sastra dan bahasa. Selain itu beberapa buku yang memuat karyanya jugasudahterbit,misalanya:MUARATIGA (antologi cerpen-puisi/Indonesia-Malaysia), 50 Botol Infus (Teater LKK IKIP Medan), KECAMUK (antologi pusi bersama SyahrilOK), TENGOK (antologi puisipenyair Medan), SERATUS UNTAI BIJI TASBIH (antologi puisi bersama A.Parmonangan), OMONG-OMONG SASTRA 25 TAHUN (antologi esay), MEDITASI (antologi puisi tunggal), AMUK GELOMBANG (sejumlah puisi elegi penyair Sumatera Utara, Ragam Sunyi Tsunami (kumpulan puisi, Balai bahasa Sumut)dan Perempuan berhati gerimis .Tembang Bukit Kapur (Penerbit Escava, Jakarta, 2007), Kumpulan cerpen Ranesi (Grasindo, 2007) Medan Sastra (DKSU, 2007), Jelajah (2003), Jogja 5,9 RC (antologi Puisi Jogja, 2006), Medan Puisi (2006), 25 cerpen terbaik guru (2007-Perpustakaan Nasional-Jakarta), 6 Penyair Urban (antologi Puisi, Komunitas Hp-2008) Sekarang aktif di Sanggar GENERASI Medan. Saat ini bertugas di beberapa sekolah sebagai staf pengajar, Yayasan Panca Budi, Budi Utomo dan UNIMED, Anggota HISKI Sumut (2005-2008). Kepala Biro Sastra Seniman Indonesia Anti Narkoba (SIAN)Wil.Sumut, Direktur Komunitas HP Medan, Pengurus Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI Wil. Sumut).dll. Alamat surat menyurat: Taman Budaya Sumatera Utara, Jl.Perintis Kemerdekaan No. 33 Medan. HP. 085830805157. rek; Mandiri cabang mdn balaikota,106-00-04699933-3
Alamat e-mail: mraudahjambak@yahoo.com. mraudahjambak@plasa.com.
Alamat blog: mraudahjambak.blogspot.com.komunitashomepoetry.blogspot.com.

Peran Balai Bahasa dan Rasa Kepedulian Sekolah

Balai bahasa dalam pengertian dasarnya adalah tempat berbahasa. Berangkat dari pengertian dasar itu saya tertarik menyinggung sedikit persoalan ini. Apalagi jika dikaitkan dengan maksud dan tujuan yang ingin dicapai dalam kaitannya dengan peran Balai Bahasa.

Peran Balai Bahasa dan Sekolah
Balai Bahasa diharapkan dapat merajut silaturahmi dalam memperkokoh rasa nasionalisme. Memartabatkan bahasa Indonesia sebagai lambang jati diri bangsa. Meningkatkan mutu pemakaian bahasa Indonesia melalui karya sastra. Terutama di sekolah-sekolah. Sehingga tidak ada lagi sikap menyepelekan bahasa Indonesia. Termasuk lingkungan sekolah, para guru, dan pelajar.
Sikap menyepelekan bahasa Indonesia juga terjadi pada sebagian pelajar yang tidak mau mendalami bahasa nasional ini karena mereka menganggap bahasa Indonesia merupakan bahasa sehari-hari. Tak heran bila ada pelajar SMP atau SMA mendapat nilai lebih untuk pelajaran bahasa Inggrisnya di rapor, sementara nilai bahasa Indonesianya kurang..
Jika untuk merajut silaturahmi dalam memperkokoh rasa nasionalisme, tentunya yang menjadi perhatian kita adalah yang akan terjadi hanya sekadar kumpul-kumpul, datang dan pulang. Situasi seperti ini sungguh memprihatinkan. Prihatin dengan sikap tertentu dari sekolah-sekolah yang cenderung tidak mengutamakan bahasa Indonesia. Kini banyak sekolah nasional berstandar internasional yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar sehari-hari. Padahal sebaiknya (atau seharusnya), yang "internasional" itu hanya kurikulumnya, sedangkan bahasa pengantarnya tetap bahasa Indonesia. Ini tentu berbeda dengan sekolah internasional yang pasti menggunakan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya, sebagai bahasa pengantar sehari-hari
Kondisi-kondisi tersebut mengundang keprihatinan pakar linguistik Prof. Dr. Amrin Saragih yang juga Guru Besar Universitas Negeri Medan. Tokoh yang juga Kepala Balai Bahasa Medan ini menganggap sebagian orang Indonesia sedang mengalami krisis bahasa yang juga berarti mengalami krisis identitas. Mereka mengalami "demam" bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, yang dianggap memiliki nilai jual tinggi. Semua istilah, merek dagang, spanduk, nama perusahaan, nama hotel, dan nama tempat pelayanan umum menggunakan bahasa Inggris, atau bercampur bahasa Inggris, sehingga tidak proporsional.
Beliau juga ada mengungkapkan bahwa bahasa memiliki kekuatan-kekuatan terutama dalam menekankan pendidikan. Kenyataan yang kita hadapi, bahasa ternyata tidak mampu dimanfaatkan sebaik mungkin sebagai penguat terajutnya silaturahmi, apalagi dalam memperkokoh rasa nasionalisme.
Bahasa Indonesia sebagai bahasa penyatu dalam kesehariannya justru dianaktirikan. Lihat dan dengarkan dalam setiap acara dan kegiatan apapun. Bahasa Indonesia yang disinyalir oleh Damiri Mahmud justru dirusak oleh orang-orang linguistik sendiri.
Dalam setiap pembicaraan apapun itu, jika tidak berbahasa asing, terutama bahasa Inggris, dianggap tidak berkelas. Produk yang dihasilkan, jika tidak berbau asing, maka dianggap murahan.
Hal ini terjadi pada semua aspek kemasyarakatan dan kehidupan yang berlang di Indonesia. Tak terlepas pula di lembaga-lembaga pendidikan. Guru bahasa Indonesia sendiri-pun diwajibkan oleh sekolah penyelenggara untuk mampu berbahasa Inggris dalam proses belajar-mengajar. Fatalnya lagi ini ada kaitannya dengan tunjangan prestasi. Kemampuan berbahasa Inggris ini masuk dalam kriteria penilaian. Akhirnya, guru bahasa Indonesia tentunya tidak akan pernah mendapat kan tunjangan prestasi. Penyebabnya adalah kesadaran nasionalisme harus berbenturan dengan kebutuhan materialisme.
Nasionalisme yang berbenturan dengan materialisme, juga menjadi penyebab bahasa Indonesia sebagai lambang jati diri bangsa justru menjadi tidak bermartabat. Saling tuding, saling tuduh, merasa hebat masih menjadi momok yang sampai sekarang belum mampu ditinggalkan.
Dalam konteks senada, penyair mbeling Remy Sylado yang juga seorang munsyi (ahli bahasa, mengecam keras bertebarannya kata-kata dan istilah asing di berbagai segi kehidupan bangsa Indonesia, seolah-olah kita tidak punya bahasa Indonesia. Tidak memiliki martabat. Media massa cetak dan elektronik pun dikritiknya karena sering menggunakan kata atau istilah bahasa asing secara berlebihan, padahal kata atau istilah yang memiliki arti sama atau sepadan sudah ada dalam bahasa Indonesia., mungkin Remy Sylado sepakat martabat itu akan terangkat jika adanya kesadaran berbahasa.
Dengan terjalinnya silaturahmi dan meningkatnya martabat bahasa, maka mutu pemakaian bahasa Indonesia pasti dapat diwujudkan. Dan proses pelaksanaan itu bisa diwujudkan di mana saja terutama di sekolah

Kepedulian
Sebenarnya, bahasa Indonesia punya tempat yang khusus di hati masyarakat internasional. Banyak warga negara lain, misalnya Jepang atau Australia yang mempelajari bahasa Indonesia. Kini tercatat ada 73 negara yang mengajarkan bahasa Indonesia, baik di tingkat SD, SMP, SMA, atau perguruan tinggi.
di Australia, bahasa Indonesia diajarkan dari tingkat SD sampai SMA. Beberapa perguruan tinggi di sana juga membuka program studi bahasa Indonesia. Sementara di Jepang ada tujuh belas perguruan tinggi yang mengajarkan bahasa Indonesia.
Dari semua paparan tersebut, kini diharapkan muncul sikap untuk selalu mengutamakan bahasa Indonesia dan menempatkannya pada posisi terhormat. Siapapun misalnya, tak perlu ragu untuk menyapa tamu asing dengan salam "selamat pagi" pada kesempatan pertama, baru kemudian "good morning" (bila dirasa perlu). Buat apa kita menggunakan kata concern padahal kita punya kata peduli? Mengapa kita memakai kata input padahal kita punya kata masukan? Mengapa harus organizing committee, bukan panitia pelaksana? Dan seterusnya, dan seterusnya. Saya sudah mengatur segalanya..
Semua pihak dituntut untuk peduli terhadap perkembangan bahasa Indonesia, baik itu pelajar, pengajar, pejabat, maupun pers. Apalagi pers memiliki peran yang sangat besar karena produknya setiap hari dibaca atau dinikmati masyarakat luas. Kini saatnya kita menunjukkan kecintaan yang tinggi terhadap bahasa Indonesia karena bahasa Indonesia merupakan bagian dari jati diri bangsa. Hal ini jelas, bahwa Balai Bahasa punya peran penting untuk mengembangkan rasa kepedulian sekolah dalam menggunakan bahasa nasional ini. Demikian.

***

Tuesday, 1 July 2008

LAWAN CATUR : PROSES MEMAHAT JATI DIRI

LAWAN CATUR : PROSES MEMAHAT JATI DIRI

Begitu memasuki gedung pertunjukan, suasana lengang menyeruak begitu saja. Kursi-kursi menggigil dielus air conditioner . Ruangan mungkin serasa agak pengab. Tetapi satu persatu “penggila” teater memasuki ruangan, sedikit gaduh. Mungkin ada niat yang belum tersalurkan. Beberapa saat kemudian keheningan menyambar, setelah pem bawa acara menyampaikan acara akan segera dimulai.
Musik mengantar naiknya layar perlahan. Ketika panggung sedikit membuka, mulai dari kaki sampai tampak kepala, pertanyaan terjawab sudah. Di tengah pentas dua orang terlihat sedang bermain catur. Dengan setting panggung yang cukup sederhana, pertun jukan itu pun dimulai.
Malam itu, Senin, 30 Juni 2008, pukul 08.00WIB LKK Unimed kembali berkarya. Sebuah pertunjukan Teater dengan judul Lawan Catur karya Kenneth Arthur, terjemahan WS. Rendra, hadir di Taman Budaya Sumatera Utara.

Sebuah Kegagapan Yang Tertutupi
Seorang Kepala Mentri Urusan Polisi, Samuel Glaspel (Ahmad Badren Siregar) de ngan ajudannnya Antonio (Deni D. Lubis), sedang asyik memain-mainkan buah caturnya, mengingatkan saya kepada sebuah pertunjukan gerak bertajuk “Kontrang Kantring atawa Lawan Catur”.
Naskah karya Sir Kenneth William Goodman berjudul Chess Game ini telah diadaptasikan oleh WS Rendra pada masa lalu. Dan kini, adaptasi itu pun diserap dalam rangkaian gerak, sebuah presentasi tarian, yang menekankan pada pemaknaan tubuh penarinya.
Yang ada di panggung hanyalah berupa kotak besar – menyembunyikan para pemain, juga bisa menjadi simbolik catur. Dengan menampilkan lima aktor, mereka mengeksplorasi berbagai gerak tubuh, mulai dari gerak repetitif yang kejang, bahkan gerak yang sangat kaku, terkadang ditampilkan dengan gemulai.
Dengan mengenakan pakaian serupa napi, baret-baret merah, mereka bergerak memperlihatkan dentum perkusi serupa tambur yang mengiring tubuh mereka. Lalu seorang penari yang kakinya terjerat rantai, melepasnya, ada perkelahian, ada permainan eksplorasi serupa buang ingus, saling kentut.
Di tengah eksplorasi yang terkesan “menjijikkan” itu muncullah simbol roti, hamburger, ayam goreng KFC, cap cay, seakan ingin memberikan paparan tentang kondisi tanah air yang tidak resisten, lewat bahasa-bahasa perlambang.
Inilah mungkin kegamangan individu itu, baik secara internal sistem Negara, hingga ke eksternal Negara Indonesia di tengah peradaban internasional. Dengan tajuk “Lawan Catur dan Kontrang-Kantring”, selain mengangkut simbol verbal lewat guratan tubuh dan idiom yang begitu dikenal semacam itu, mereka juga membuat umpatan-umpatan seperti “bajigur!”
Makna di balik gerak yang ekspresif terkadang trance dan rawan ini memang bisa dilihat dari tema utama yang mengarah pada dua “kata kunci”. “Kontrang kantring” bermakna “bingung”, yang merujuk tentang kebingungan individu pada sebuah kelembagaan besar bernama Negara yang kerap mengalami kegagalan dalam cita-cita. Sedangkan “lawan catur” adalah sebuah oposisi biner, dua kehendak dari arus yang besar.
Dan malam itu Kepala Polisi dan ajudannnya lebih banyak mengeluarkan dialog-dialog verbal. Gerak-gerak bisnis atau improvisasi yang muncul hanya mempermanis tampilan permainan.
Naskah yang juga merupakan terjemahan WS. Rendra ini sebenarnya berhasil dima inkan oleh para pemain. Pemain cukup maksimal, terutama Ahmad Badren Siregar walau terkadang suaranya terdengar turun naik. Ia berhasil menjadi kapten dalam pertunjukan itu. Beberapa pemain lain (Siti Fatimah-Verka, Muhammad Ardian-Oscar Yacob), ber usaha untuk mengimbangi, tetapi kegamangan atau ragu-ragu sedikit terlihat menggang- gu.
Lampu layaknya juga memperkuat pertunjukan justru hampir tidak mengkontribu sikan apa-apa, jika para pemain tampil dengan apa adanya. Dengan semangat dan penuh permainan yang cerdas, pertunjukan itu cukup ternikmati.

Hidup Adalah Teka Teki
Catur mengisyarakat perjalanan kehidupan manusia, yang sulit ditebak ke mana langkahnya. Penonton sebagai makhluk individu, hanya bisa mengikuti arah langkah yang diarahkan Sang Mahakuasa. Tinggal bagaimana kita mampu menyikapinya. Perjalanan itu cukup panjang mulai kita lahir kedunia, anak-anak, kanak-kanak, remaja, dewasa, dan tua.
Selama perjalanan itu kitapun terkadang tidak tahu apakah berjalanan berdasarkan peran yang sudah ditentukan, atau kita menciptakan sendiri peran-peran itu. Bisa jadi suatu ketika kita bakal menjadi orang lain. Atau sebaliknya.
Demikian halnya yang terjadi dengan Samuel dan Oscar, ketika masih kecil Samuel (bernama Oscar) yang anak petani, ditukarkan dengan Oscar (Samuel nama kecilnya) yang anak saudagar kaya, oleh ibu kandung Samuel kecil.
Seperti sebuah perjalanan, ada rasa bosan memerankan orang lain. Ingin kembali menjadi diri sendiri. Ada rasa bosan untuk berbicara bohong, ada rasa bosan untuk berlaku tidak adil, apalagi menzolimi orang lain setiap hari.
Kembali mencari jati diri. Hal itulah yang tergambar secara keseluruhan, dan orang yang selalu konsisten, tentunya akan hadir sebagai pemenang. Dan jika ada pemenang tentu akan ada pecundang. Akhirnya pertunjukan itu dengan ending yang mengharukan.
Rasa haru itu muncul di saat dua orang sahabat lama, akhirnya saling berbunuhan demi menyelamatkan idealismenya masing-masing.
Dengan demikian, selamat untuk Teater LKK Unimed. Semoga terus berjaya. Dan mampu menyikapi hidaup yang tumpang-tindih ini. Laksana catur kita yang tinggal melangkah kemana kita harus berjalan, di mana kita memulai langkah.
Sedikit saja salah langkah, maka bersiaplah dengan kehancuran kita. Hidup bukanlah sandiwara. Hidup adalah suatu cara mengaplikasikan segala rencana. Tentunya berman faat bagi ummat manusia. Sekali lagi selamat. Lebih baik terus berkarya daripada mencela. Salam.


Medan, akhir Juni 2008
Penulis adalah pengamat teater, Direktur Komunitas HP

Friday, 27 June 2008

NUZUL AINI RAMADHANI

BUNGAKU
OLEH :RAHMAT .M.RIDHO


Meski kemarau belum berlalu
Bungaku di halaman tak pernah layu
Kadang kulihat kumbang dan kupu-kupu
Sesekali datang mengisap madu


Udara panas bercampur debu
Sering menganggu indah bungaku
Kuturuti nasihat ibu
Memelihara dan menyiram bunga setiap waktu

Terima kasih bungaku
Halaman rumahku
Tempat bermainku
Menjadi indah selalu

BUKU
OLEH :RAHMAT .M.RIDHO

Bermacam-macam jenismu
Berbagai corak warnamu
Berjenis –jenis ukuranmu
Beraneka ragam isimu

Banyak manfaatmu
Tuk kami gunakan slalu
Akan kubaca di rimu
Supaya kuberkembang maju
Engkau adalah sumber ilmu
Yang sangat berguna
Bagi kehidupanku

Engkau adalah jedela dunia
Tuk memberantas kebodohan
Tanpamu
Kami tak akan mampu
tuk membangun
tanah persada , Indonesia TERCINTA




AYAH
OLEH :RAHMAT .M.RIDHO

Ayah engkau bekerja mencari nafkah
Untuk menghidupi seluruh keluarga
Ayah kau tak menganal lelah
Dan tak merasa lesu

Ayah walaupun kami nakal
Tetapi engkau tetap mencitai kami
Ayah kasihmu pun sungguh besar
Engkau adalah seorang pahlawan buat keluarga

Ayah jasamu sudah terlalu besar
Bagi seluruh anggota keluarga
Ayah engkaau menyekolahkan aku
Agar kelak aku menjadi orang yang berguna

LAUT
OLEH :RAHMAT .M.RIDHO


Kau sungguh indah dipandang
Warnamu biru menakjubkan
Di tengahmu batu karang tak goyang
Pohon kelapa melambai di tepimu
Hembusan angin bertiup lembut
Menambah indah suasanamu
Aku sangat kagum padamu

PAHLAWAN TANPA TANDA JASA
OLEH :RAHMAT .M.RIDHO

Dengan penuh kasih sayang
Kau beraitahu kami
Apa yang kami tidak tahu

Tanpamu….
Orang tidak bisa membaca
Tidak tahu sopan santun
Kami sangat berterimakasih
Padamu….

Guruku yang baik…
Engkaulah pelita dalam kegelapan

Kelak…
Ilmumu yang telah engkau berikan
Pasti berguna untuk masa depanku
Menyongsong masa depan yang cerah

Yang dapat kuberikan
Hanyalah sebuah puisi
Untukmu guru…
Pahlawan tanpa tanda jasa


PAPA DAN MIMI
OLEH :RAHMAT .M.RIDHO

Papa adalah matahari siang hari
Yang gagah perkasa
Dan menerangi bumi
Serta memberikan kehidupan
Pada bumi

Mimi adalah bulan di malam hari
Yang halus dan lembut
Memancarkan bias sinarnya
Dan menerangi malam
Yang membuat bumi selalu ceria

Papa…
Mimi…
Dunia ini akan beku
Tanpa kehadiranmu
Dan akan kuturuti
Segala nasehatmu
Hingga
Akhir hidupku

KRABU HITAM KRABU PUTIH

OLEH :RAHMAT .M.RIDHO

Nyanyian dermawan sudah datang
Krabu hitam dan krabu putih bernyanyi
Terdengar suara syair yang
Sangat bagus .pandanganmu
Krabu hitam sangat tajam
Seakan tidak ada yang berani
Melihatmu kalau kau
Krabu putih pandanganmu
Indah sekali seakan ada yang
Memakaimu tetapi kalian sama
hujutnya tetapi sipatnya lain sekali
permintaan ibuku untuk memakaimu
krabu hitam danpun aku menoleh
untuk memakaikankun krabu putih
akupun menangis tapi
tangisan itu dari hatiku aku pun
menahan nangisku. karbu hitam
pun lengket di kupingku yang bagus
aku menangis setiap malam
merindukan krabu putih yang
cantik sekali .krabu hitam
pun menangis .akhirnya krabu
hitam terlepas sendiri dari kupingku


MEDAN SUMUT
TANGGAL :15-2-2008


CERMIN CINTA
OLEH:RAHMAT .M.RIDHO

Cinta –cinta telah lepas dari
Kebencian yang sangat sensara
Hati –hatipun cerah seperti cahaya
Lampu yang tidak bisa mati
Orang-orangpun penuh dengan
Cinta yang sangat berbunga-
Bunga tapi kebencian ada
Di mana –mana
Pas cinta berkembang biak
Akhirnya kebencian hilangDari bumi kita
.tapi bukan kebencian
Yang ada tapi kejahatanpun
Ada jadi belum setengahnya
Bumi kita indah masih jadi
Percintaan menjadi sedikit
Jadi banyak yang mencari
Dengan kesusahan akhirnya
Percintaan datang sendiri

MEDAN SUMUT
TANGGAL :16-2-2008
BUAH CINTA

OLEH:RAHMAT.M. RIDHO


Buah-buah cinta telah jatuh dari
Setangkai ranting yang sangat
Rapuh .jatuh seperti
Angin yang sangat kencang
Yang bertaburan ke seluruh
Perosot-prosot cinta yang
Sedang membara seperti lautan yang
Terhempas ke daratan
Buah-buah cinta itu akhrinya
Membusuk dan cinta-cinta
Pun membusuk seperti
Petir yang ganas
Orang-orangpun saling membenci
Pasangnya akhirnya pohon-
Pohon buah cinta berbuah
Pohon itu berbuah lain
Yang bernama buah petapa


Medan sumut
Tangal:07-4-2008



RAHMAT .M.RIDHO

PERGI KE ANCOL

Oleh :rahmat .m. ridho

Pagi-pagi sekali rahmat,aini,
Nanda,nantulang,dan tulang ewin
Pergi ke ancol dan sessampainya
Kami terlalu datang pagi pagi
Sekali jadi kami memutuskan
Jalan ke pantai saya kepingin
Berenag di pantai itu tapi
Tidak di ijinkan tulang ewin
Jadi kami kembali ke yang kami tuju
dufan dan kami paling duluan dapat
Karcisnya kemudian kami langsung
Naik komedi putar
Sesudah naik komedi putar kami
Langsung naik gajah berputar
Saya langsung pening
Ya terus saya naik burung rajawali
Yang seram
Masih banyak permainan yang
Sudah kami mainkan ya
Itu cerita ku


Medan sumut
Tanggal :8-2-2008



Jalan –Jalan di Tahun
Baru
Oleh ;Rahmat .M. Ridho

Malam –malam kami
Semua jalan menikmati
Malam tahun baru
Saya ,nanda dan aini
Membeli terompet
Yang cantik kemudian
Kami berhenti di monas
Kemudian saya ,nanda ,dan
Adek aini meniup
Terompet sekeras –kerasnya
Kemudian ayah nanda
Mengajak berkeliling monas
Yang indah dan tinggi .
Saya membeli gulali
Empat biji sesaat ini
Kami tidak sadarsudah malam
Sekali sesaat di perjalanan
Semua mengantuk yang
Cuma bangun tulang ewin ,
Saya, nanda ade aini ya
Disuruh bernyanyi apa saja biar
Rame dan tidak sepi sekali
Medan sumut
Tanggaal :8-2-2008




PERGI KE BANDUNG

OLEH :Rahmat .M. Ridho

Pada saat pagi tulang
Ewin mengajak kami
Semua ke bandung
Dan kami menyiapkan
Maknan ,baju ,dan minyak
Kayu putih
Di saat perjalanan ade
Aini muntah di mobil
Terpaksa tulang ewin
Berhenti di jalan
Untuk mengganti
Baju ade aini
Kemudian kami
Melanjutkan perjalanan
Kemudian kami berhenti.
Di mesjid untuk solat
Masuk ke mesjid
Rupanya masuk harus
Membuka selop kita
Atau sepatu sesudah
Masuk kami semua
Melewati air yang dingin
Itu untuk bias masuk ke mesjid
Dan saya,nandadan ade aini
Kemudian nanda mengajak
Saya untuk mandi air itu
Dan kami melanjutkan
Perjalanan oma membeli
Ketoprak yang enak
Kami sampai di tujuan
Saya langsung menangkap
Ikan yang besar.saya
Mendapat ikan gurami
Yang besar lagi bunting
Jadi saya melepaskan
Ikan itu dia lagi bunting
Dan kami memesan
Iakanyang tidak
Di pancing
Tapi taya dan kuitidak
Mau makan taya dan kuin
Melihat ikan saja nantulang
Memmanggil taya dan kuin
Ke mudian kami pulang
Pas di perjalan oma
Membeli rambutan
Merah kami semua
Makan di perjalanan teryata
Asam dan banyak semutnya
Tiba-tiba bensin mobil
Habis tulang ewin mengisinya
Tiba –tiba saya gatal –gatal
Dan kami sampai dirumah
Kemudian mba yanti
Bilang ke saya harus keringat
Besoknya saya lari –lari di
Komplek saya langsung
Berkeringat dan pun saya
Sembuh


Medan sumut
Tanggal :9-2-2008



ULANG TAHUN QUIN
OLEH :RAHMAT .M. RIDHO


Pada saat itu nantulang bikin
Kue untuk quin ulang tahun
sampai malam
Sekali dan saya ,nanda ,dan ade aini
Mau membantu nantulang
Kami bercelepotan
Jadi pas jam 00:00
Kami siap dan kuenya
Berbentuk dora jadi nantulang
Menyuruh kami tidur biar
Tidak terlambat bangun nanti
Kami pun tidur
Pas sudah paginya nanda
Yang terlambat bangun
Jadi nantulang membangunkan
Nanda tapi nanda tidak bangun
Tulang Ewin mengambil
Air dan tulang ewin menyiram
Nanda pakai air itu dan nanda pun
Bangun. Kemudian kami bersama tulang
Ewin meniup balon quin sudah siap
Mandi dan quin meminta balon
Tapi tulang ewin tidak mengasi
Kemudian quin nangis terpaksa tulang
Ewin mengasi balon yang berwarna
Hijau dan berdatangan tamu –tamu
Kamipun memulai acaranya

Medan sumut
Tanggal :9-2-2008



PULANG KE MEDAN
OLEH:RAHMAT .M.RIDHO


Pagi-pagi sekali kami berencana
Mau pulang ke medan jadi
Nantulang membelikan tiket
Pesawat .pas sore tiket sudah
Ada jadi saya ,nenek,kakek,dan
Ade aini menyiapkan baju-baju
Dan makanan untuk di dalam pesawat
Esok harinya kami bersiap-siap
Dan kamipun berangkat ke
Bandara soekarno harta
Perjalanan ke bandara
Sangat jauh jadi
Saya tertidur di mobil
Jam 13:00 kami sampai
Di bandara jadi pas mau
Turun dari mobil rupanya
Pesawat laion eiar mau berangkat
Kami langsung masuk
Dan kami tek of di dalam
pesawat kami dapat
bangku nomor tiga
saya paling sudut duduknya
kalau adik aini di tengah
dan oma terpisa dari kami tapi
oma di sebelah kami saya melihat –
lihat ke bawah dan sayapun
tertidur saya haus sekali
di dalam pesawat dan akhirnya
ada minuman dan beberapa kemudian
kami sampai di MEDAN saya
mencari mimi saya dan saya nelihatnya
tapi mimi saya tidak nampak saya.
pas kami keluar mimi saya nampak juga


MEDAN SUMUT
TANGAL :11-2-2008



KETEMU MIMI DAN PAPA
OLEH:RAHAMT .M. RIDHO

Saya ketemu mimi pas pulang
Dari Jakarta kami pulangnya
Dengan taksi tapi mimi dan
Papa naik motor. kamipun sampai
Tapi mimi dan papa tidak nampak
Rupanya lagi makanan
Dan kami pun makan
Mimi membelikan ayam goreng untuk saya

MEDAN SUMUT
TANGGAL:11-2-2008

















NUZUL AINI RAMADHANI

PESAWAT

Aku jalan- jalan ke depok
Dengan ayah dan ibuku
Sesampai di bandara
Aku turun dari pesawat
Dengan gembira sekali

Aku melihat orang gembira
Dan kami naik delman bersama
Setelah sampai kami makan dulu
Dan kami beristirahat

Nuzul aini
Medan sumut
Tanggal ; 3-12-2007

DI MEKARSARI

Saya mengelilingi kebun jeruk
Selain jeruk ada kelengkeng
Kemudian ada juga manggis dan
Banyak lagi kami jumpa pesulap
Dan kami beli minum dan naik
Kereta

Nuzul aini ramadani
Medan sumut
Tanggal : 9-2-2008


KE BANDUNG

Saya pergi ke bandung
Dengan tulang ewin , nan tulang ,nanda
taya , queen , dan pembantu
Saya melewati gunung- gunung yang tinggi sekali
Dan saya muntah – muntah kami berenti sebentar
Dan kami mampir di masjid ahirnya kami sampai juga
Kami berfoto disana dan kami beli kue di toko kue

Nuzul aini ramadani
Medan sumut
TANGGAL : 11-2-2008
SENYUM

Senyum itu melukiskan kecantikan seseorang
Senyum itu melukiskan kebaikan seseorang
Senyum itu melukiskan ketulusan hati seseorang
Tanpa senyum ,dunia ini
Tidak akan melahirkan keramahan ,
Dan kegembiraan seseorang
Oh senyum …
Betapa senyum banyak memiliki
Titik cahaya yang sangat terang
Nuzul aini ramadani
Medan sumut


AIR

Di mana kau air
Semua mencarimu
Tanpa dirimu
Orang akan mati karena haus
Menjadi lemas kering layu

Dari pejabat tinggi, rendah
Sampai pengemis pun
Kau akan dicari
Memang kau tirta

Sangat dibutuhkan oleh semua
Tapi kehadiranmu yang berlimpah
Banyak membikin manusia susah
Bagaimana tidak
Rumah, tanaman, dan ternak
Bisa habis karena kau marah

Nuzul aini ramadani
Medan sumut

PITA RAMBUT

Pita…
Kau membuat rambutku kelihatan indah
Kau membuat rambutku kelihatan rapi
Kau membuat aku menjadi cantik

Pita…
Warnamu bermacam-macam
Ada kuning, merah, dan putih
Cocok dengan warna bajuku

Pita…
Kau sangat berarti bagiku
Karena membuatku kelihatan cantik
Kalau melihatmu, aku senang dan langsung membelinya

Nuzul aini ramadani
Medan sumut

CITA-CITAKU

Jika kelak aku dewasa
Aku ingin jadi astronot
Aku terbang ke bulan
Naik pesawat ruang angkasa

Aku harus rajin belajar
Agar cita-citaku terlaksana
Ya , Tuhan. Kabulkanlah permintaanku
Jadikanlah aku anak yang berguna
Bagi nusa bangsa, dan agama
Nuzul aini ramadani
Medan sumut

JERITAN ANAK SAMPAH


Adakah tuan lihat kami
Mengais sampah sepagi ini
Berpacu dengan waktu demi sesuap nasi
Dan terpanggang matahari di siang hari

Kami tidak menyalahkan siapa-siapa
Kami hanya minta keadilan
Kami hanya minta belas kasihan
Tentang nasib kami yang akan dating
Dan tentang kami yang sekarang malang melintang

Adakah tuan lihat kami
Yang tiada berbaju
Bukan kami tak malu
Tapi karena kami tak mampu

Nuzul Aini Ramadani

BIDADARI

Kata orang kau cantik
Kata orang kau baik hati
Kata orang kau turun dari langit
Benarkah itu?

Kata orang kau dapat terbang
Kata orang kau turun jika ada pelangi
Mungkinkah itu?

Kadang aku tak percaya
Tetapi kau sering ada dalam cerita
Oh, bidadari…
Benarkah kau ada?

Nuzul aini ramadani
Medan sumut

BAKTIMU GURU

Engkaulah guru
Setiap hari mengajar
Anak-anak kecil dan lucu
Penuh sabar dan tawakal
Tanpa kenal lelah

Engkau tuntun
Engkau bina
Engkau asuh
Engkau didik
Berikan ilmu pengetahuan
Terapkan ketrampilan
Penuh kasih saying

Engkau hadapi suka dan duka
Tawa dan tangis mereka
Jiwamu tetap tegar
Harapmu semoga mereka kelak
Tercipta insan-insan berguna
Berbakti seperti engkau

Nuzul aini ramadani
Medan sumut
PAPA – MIMI

Papa…
Mimi…
Demi anak-anakmu ini
Kau bekerja sepanjang waktu
Semua tenaga dan pikiran
Kau kerahkan
Tanpa mengenal rasa lelah
Walau hujan deras
Walau teriknya matahari
Namun…
Engkau tetap sabar, tanpa mengeluh
Dan mempunyai rasa bosan

Papa…
Mimi…
Begitu besar pengorbananmu

Papa…
Mimi…
Sungguh besar kasih sayangmu
Bagi kami anak-anakmu
Sungguh, kami tak dapat
Membalas jasamu
Hanya do’a kami panjatkan
Semoga engkau panjang umur
Dan sehat selalu, serta rezekimu
Selalu hadir dan mengalir

Papa…
Mimi….
Terimalah tanda terimakasih
Dari kami

Nuzul Aini Ramadani
Medan sumut









ADIK BAYI

Kakimu kecil
Tanganmu kecil
Mulutmu kecil
Mukamu kecil
Semua yang ada padamu
Serba kecil dan mungil
Aku senang punya adik bayi
Adik bayi seperti kamu
Yang lucu dan menggemaskan
Adik bayi….
Jika kelak kau dewasa
Jadilah manusia yang berguna


Nuzul aini ramadani
Medan sumut


SEKOLAH

Di sanalah ku menuntut ilmu
Di sanalah aku mendapat teman

Sekolahku….
Engkau tetap ku ingat
Sampai kapan pun

Nuzul aini ramadani
Medan sumut

HARAPAN

Aku mempunyai harapan
Harapanku hanya menjadi orang yang pintar
Selalu meraih juara di kelas

Aku berjalan berkilo-kilo meter
Hambatan tidak kurisaukan
Harapanku sudah di depan mata
Ingin rasanya ku memilikinya, memeluknya
Hingga aku meraihnya

Nuzul aini ramadani
Medan sumut