Diskusi Sastra Seri ke-15
"Imperium Puisi Liris di Indonesia"
Pemikiran Dasar
Sudah lebih satu abad usia kesusastraan Indonesia yang acap dilabel
dengan kata "modern". Banyak sudah gaya dan bentuk yang telah
dilahirkan dan dieksperimentasi oleh para penyair. Sejak Abdullah
Abdul Kadir Munsyi hingga Goenawan Mohamad, sejak Sanusi Pane hingga
Acep Zamzam Noer dan penyair-penyair muda belakangan. Namun, dari
panorama yang cukup kaya itu, dapat kita melihat satu arus utama yang
sangat kuat mempengaruhi wajah, ideologi, bahkan pertumbuhan sastra
kita pada umumnya, yakni lirisisme dalam puisi "modern" Indonesia.
Tentu saja, tengara ini tidak hendak menafikan adanya bentuk-bentuk
lain dan alternatif yang pernah ditetaskan bahkan cukup bergelora di
dalam sejarah perpuisian Indonesia. Sebut saja bentuk-bentuk mulai
dari epik yang antara lain cukup pekat dilahirkan antara lain oleh
Chairil Anwar. Lalu puisi-puisi pamflet yang dimotori WS Rendra,
puisi "mantra" oleh Sutardji Calzoum Bachri, puisi "visual" Danarto,
hingga puisi "mbeling"-nya Remy Silado atau puisi "materialis"-nya
Afrizal Malna.
Namun kekayaan bentuk, gaya dan varian-varian itu masih belum dapat
menutupi kesan kuat dari pengaruh dan dominannya puisi-puisi liris di
Indonesia, hingga di belakangan hari. Hampir umum di kalangan penyair-
penyair muda berbakat saat ini, yang datang dari seluruh pelosok
negeri, mengambil pilihan artistik bahkan "ideologis" dari mainstream
dunia literer itu.
Bahkan dapat dikatakan, sebagian besar dari para
pencipta "alternatif" di atas, pada dasarnya berawal dari dan pada
akhirnya kembali pada bentuk-bentuk yang liris. Entah Chairil,
Rendra, Sutardji atau juga Remy Silado. Lirisisme seakan telah
menjadi bahasa ungkap utama yang –sengaja atau tidak—diterima atau
diakui sebagai wajah utama dalam dunia literer di negeri ini. Walau
sesungguhnya, pilihan artistik itu menyimpan berbagai persoalan,
sebagaimana ia sudah dibincangkan sejak lama, yang sayangnya tidak
cukup adekuat dan mendalam pembahasan dan penyebaran idenya.
Hal di atas, mungkin, antara lain disebabkan oleb "dikuasainya" ruang-
ruang puisi utama di berbagai media massa (koran, majalah, hingga
jurnal-jurnal sastra) oleh mereka (para redaktur, editor, sastrawan,
kritikus atau akademikus) yang memang cenderung lebih setuju atau
sesuai-paham dengan bentuk liris tersebut. Sebagai contoh, beberapa
media sastra utama, seperti koran Kompas (halaman Bentara), Koran
Tempo, majalah sastra Horison, jurnal sastra Kalam (Jakarta) atau
Puisi (Yogya), hingga terbitan-terbitan kampus (UI terutama)
digawangi oleh mereka yang memiliki kecondongan sama di atas.
Sementara media-media tersebut, diterima atau tidak, telah menjadi
sumber acuan atau referensi utama bagi media-media lain maupun
kalangan penyair muda umumnya. Sehingga terbangunlah semacam imperium
(lirisisme) di panggung puisi Indonesia.
Semua media tersebut, bila dilihat lebih dalam ternyata berpangkal
pada tiga kelompok atau komunitas sastra pendukung utama lirisisme di
atas. Yang pertama adalah kelompok Horison yang dipimpin oleh Taufik
Ismail, yang merebut pengaruh hingga Yogyakarta, dan sekolah-sekolah
dasar serta menengah di Indonesia, lewat edisi sastra khusus pelajar
dan gerakan "sastra masuk sekolah". Yang kedua, adalah kelompok Utan
Kayu yang dipimpin Goenawan Mohamad, yang tidak hanya menancapkan
pengaruh pada media-media yang tergabung di dalamnya, seperti Koran
dan majalah Tempo, jurnal Kalam bahkan hingga kebijakan puisi di
harian Kompas atau berbagai acara/festival sastra yang
diselenggarakannya, nasional maupun internasional.
Dan terakhir adalah civitas akademik, terutama Universitas Indonesia,
yang berada di bawah pengaruh kuat Guru Besar seniornya, Sapardi
Djoko Damono, yang tekun melahirkan telaah, hasil penetian, wacana
diskursif, lomba, jurnal hingga penerbitan jurnal-jurnal puisi.
Ketiga kekuatan legitimatif di atas, tentu saja tak dapat diimbangi
oleh kekuatan alternatif yang kebanyakan hanya bersifat individual,
tanpa infrastruktur pendukung sama sekali.
Apakah gejala ini sebenarnya juga menyiratkan adanya sebuab "politik"
(kesusastraan/kebudayaan) tertentu di dalamnya? Atau memang semata ia
menjadi sebuah dinamika literer biasa saja? Hal-hal itu yang antara
lain harus dicari jawabnya. Termasuk, apa sebenarnya risiko-risiko
artistik dan estetik di dalamnya? Apa hal-hal eksternal dan internal
yang mempengaruhinya? Akan kemana sebenarnya perpuisian Indonesia
akan terbawa, di jangka pendek dan panjangnya?
Untuk membahas dan menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itulah,
Bale Sastra Kecapi bersama Harian Umum Kompas dan Bentara Budaya
Jakarta, kembali akan menyelenggarakan serial diskusi sastranya (yang
ke-15), dengan tajuk: "Imperium Satra Liris di Indonesia". Dalam
diskusi yang secara rutin diselenggarakan bertempat di Bentara Budaya
Jakarta, Jl. Palmerah Selatan 17, Jakarta Pusat, akan dilaksanakan
pada tanggal 19 Maret 2008, dengan menghadirkan tiga pembicara, dalam
disiplin agak berbeda untuk membahas persoalan yang terurai di atas.
Yang pertama adalah Sapardi Djoko Damono, profesor sastra dari
Universitas Indonesia juga penyair senior yang mampu mempertahankan
kekuatan kreatif dan perannya dalam dunia kepenyairan Indonesia
selama 40 tahun. Karya-karyanya cukup banyak dan beragam,
terdistribusi dengan baik dan menyentuh cukup banyak lapangan.
Berikutnya adalah Afrizal Malna, penyair juga esais yang meluaskan
aktivitas artistiknya pada bidang-bidang seni lain: teater, seni
rupa, videografi hingga seni tari. Beberapa pemikirannya dianggap
segar dan cukup memberi pengaruh pada sebagian penyair muda di
Indonesia.
Dan terakhir adalah Kris Budiman, linguis yang juga dikenal sebagai
pengamat yang cukup tajam pada persoalan sastra di Indonesia.
Berbagai tulisannya yang mengupas banyak persoalan kemasyarakatan di
sekitar kita, cukup memancing perhatian kalangan cendekiawan. Yang
pada akhirnya dapat memberi nilai lebih pada pandangan dan
analisisnya mengenai sastra Indonesia.
Ancangan Personal
Tanpa bermaksud membatasi atau memagari, atau mendikte pikiran, dari
pembicara Sapardi Djoko Damono kita dapat berharap mendapatkan
sebuah pandangan yang kuat mewakili kecenderungan liris dalam puisi
Indonesia, sebagaimana posisinya yang cukup menonjol di dalam hal itu
dalam hampir setengah abad terakhir perpuisian Indonesia. Adekuasinya
sebagai seorang peneliti dan akademikus, akan memberi bobor
tersendiri bagi pandangan tersebut dan diharapkan ia bisa menjadi
argumentasi terkuat bagi kuat dan bertahannya imperium puisi liris di
Indonesia. Termasuk jawaban persoalan, dari mana sebenarnya
kecenderungan itu berasal; kenapa ia menjadi pilihan utama; apa
advantage yang diperoleh seorang penyair yang memilih bentuk artistik
tersebut, dan pada akhirnya, apa pandangannya terhadap rangkaian
eksperimentasi atau bentuk-bentuk alternatif lainnya yang ada dan
pernah berkembang di negeri ini?
Sementara dari Afrizal Malna, mungkin dapat kira peroleh sebuah
pandangan perbandingan yang coba melihat dunia dan sejarah perpuisian
Indonesia dari sudut lain. Sudut yang selalu mempertanyakan realitas
literer yang ada, realitas yang kadang dianggap terdominasi atau
mengalami hegemoni oleh kekuatan literer tertentu, baik dalam
artistik, politik maupun historik. Mengapa, misalnya, kritik yang
keras harus dilancarkan; dominasi harus dihindarkan; penciptaan
alternatif mesti diperkuat; atau apa antara lain yang pernah
dilakukan oleh Afrizal sendiri dalam mencoba memperkaya khasanah
bentuk atau artistik dunia sastra di Indonesia?
Akhirnya terakhir, dari Kris Budiman, sebagai wakil dari kalangan
pengamat dan akademisi murni, kita dapat mengharap satu pandangan
jernih dan dingin tentang situasi dunia sastra kita, terutama dalam
puisi, dalam sejarah maupun kekiniannya. Bagaimana permainan bentuk,
gaya atau ideologi memberi pengaruh bahkan arah dalam perkembangan
sastra/puisi di negeri ini? Apa yang terjadi atau direaksi oleh
publik sastra pada umumnya, terhadap berbagai kecenderungan atau
pilihan artistik dunia literer di atas? Mengapa secara sosiologis,
historis dan juga mungkin politis, lirisisme begitu kuat bahkan
seakan membangun imperiumnya sendiri? Benarkah karya-karya alternatif
atau eksperimental akan selalu tertinggal solitaire, marjinal untuk
pada akhirnya pupus oleh kekuatan imperial di atas? Dan terakhir
mungkin dapat terbaca kemana arah perkembangan sastra/puisi kita pada
akhirnya; apakah lirisisme dalam puisi sungguh telah dapat menjawab
kebutuhan sastra (dan akhirnya kebutuhan publik luas) kita sekarang
ini?
Dan tentu banyak sisi lain atau persoalan lain yang dapat mencuat
dari ketiga pembicara di atas, yang diharapkan dapat memancing
diskusi atau debat dengan floor demi terciptanya pemahaman lebih baik
dalam kita menghadapi semua kemungkinan konfliktual yang berpotensi
merusak kehidupan dan kebudayaan secara keseleruhan.
Di samping harapan-harapan di atas, kali ini serial diskusi Bale
Sastra, Bentara Budaya dan Kompas juga akan menampilkan satu
pelengkap baru, dimana Bale Sastra akan memresentasikan hasil riset
kecilnya tentang permasalahan yang diangkat. Presentasi itu berupa
penjelasan hasil studi pustaka di seputar wacana dan karya-karya
sastra yang bersangkutan dengan lirisisme. Awal mula, bentuk, isyu-
isyu utama, pengarang-pengarang terkemuka dan perkembangan
mutakhirnya. Kedua, hasil dari kuosiner yang disebarkan di kalangan
para pembaca sastra, tentang bagaimana apresiasi mereka terhadap tema
yang bersangkutan? Apa siginifikansi yang mereka peroleh? Dan apa
harapan yang ada bagi jenis sastra tersebut, berkait dengan kebutuhan
hidup masa kini mereka? Dan lain-lainnya.
Sunday, 18 April 2010
Sunday, 11 April 2010
PUISI INDOSAT 2010
PELAJARAN MEMBACA RUANG
kelas rusuh sekelompok debu berebut kursi
angin tak mau kalah mengambil tempat di mana saja
seperti bias gaduh melongok gagu menyikut sendiri
ingin tak sudah tampil semangat dari tekad membaja
kursi-kursi gelisah mencatat catatan yang tersisa di papan tulis
meja-meja gemetar disetrap keadaan yang membingungkan
seperti siswa usia sekolah mengaratkan hafalan sampai tiris
membaca gambar bibir yang membekap masa depan
langit-langit ruang tak mau kalah menerjunkan kucuran hujan
menguyupkan lantai yang tak pernah selesai berdandan
seperti bantuan pendidikan yang berdiri mematung di simpang jalan
sementara arus jalanan hanya hilir mudik saling berbantahan
media pembelajaran ternganga entah harus melakukan apa
alat-alat tulis tak akrab lagi dengan hurup-hurup dan angka-angka
seperti guru-guru yang terlalu sibuk menebar fatwa-fatwa
dan siswa-siswa yang sibuk menyusun make-up dalam tasnya
"Hore bel panjang. Kita pulang!"
"Hore guru rapat. kita pulang!"
"Hore Ketua Yayasan sakit. Kita pulang!"
"Hore ada artis datang. Kita pulang!"
ah, debu lagi...
SEKOLAH PATUNG
pelajaran pertama adalah memanfaatkan diam
senyum bisu
pelajaran kedua adalah ejaan yang disempurnakan
untuk tangis dan tawa
pelajaran ketiga adalah makan siang
dari tempat sembahyang
pelajaran keempat adalah menyusun nama samaran
di depan puting susu perawan
pelajaran kelima adalah menciptakan mimpi
dengan serpih ingatan kelam
tentang kudeta dan penghianatan
pelajaran keenam adalah melukis nyawa
dengan memberi nafas kepada angka
pelajaran ketujuh batal
disampaikan
sebab para guru ketahuan
telah mempersekutukan Tuhan
Teluknaga, 2010
Sajak Empat Larik
Bertemu sunyi di denyut nadi
Tanpa tegur sapa
Kami memandang ke arah yang berbeda
: cakrawala berkabut, malam jekut, wabah amnesia di setiap penjuru kota
2009
Surat dalam Botol
menjelang pagi, aku menemukkan sepucuk surat dalam botol
ombak utara telah mengantarnya ke bibir pantai abrasi ini
buru-buru aku meminjam pembuka botol dari warung terdekat, kubuka
tapi surat itu sudah mati
kertasnya pucat, hurup-hurupnya terbujur kaku, tinta yang membeku
kugoncang-goncang surat itu, dan kusebut satu-dua nama yang mungkin bisa membangunkannya,
sia-sia,
hanya aroma hutan masa lalu yang menguap lamat-lamat
aku menggali lobang di atas pasir dengan talapak tanganku
jenazah surat itu aku kuburkan dengan sedikit doa-doa
udara laut membiaskan beberapa wajah yang kukenal
tapi tak ada yang bersedih
mejelang tengah hari,kutinggalkan kuburan itu
saat camar berganti nazar
SEBUAH SAJAK SENTIMENTIL DARI TELEVISI HITAM-PUTIH
gadis kecil itu bermimpi
menyusuri kanal kanal di venesia
di atas sampan
dengan sepasang dayungnya
yang kecil
bersama seorang bocah laki laki
penulis puisi.
que sera sera
seorang penyair
duduk sendiri
di kamarnya yang berdebu
dinding dan atap tiba tiba
ja
tuh.
penyair itu cuma menggumam
"o venesia, venesia aku datang"
saat tubuhnya yang kaku
dilarikan banjir ke selokan.
que sera sera
sebuah buku puisi
tersenyum genit
dan menutup dirinya sendiri!
Sungai Waktu
SUNGAI WAKTU
---Elo, Progo dan Borobudur
aku berdiri mendengarkan
detak jantungku sendiri
sembari menandai jejak waktu
ketika detik-detik sejarah
perlahan hanyut dalam arus air
menyeret dan menenggelamkan
rangkaian peristiwa tanpa selesai
silsilah moyangku lahir di pertemuannya
perkawinan masa silam dan masa depan
dimana pemahat batu, petani dan prajurit
mengambil tenaga hidup dari nyawanya
lumpur usia,
dan berabad aliran riwayat
menghembuskan bau mistik
arus memahat bebatuan
tangan mengukir pecandian
di genggaman para tetua
jemari waktu menuliskan prasasti
merapal mantra kata-kata
membukakan gerbang matahari
aku berdiri mendengarkan
detak jantungku sendiri
sembari menandai jejak waktu
menziarahi tumpukan bebatuan
yang menyerupai kelinting raksasa
terpaku mendengarkan gema agung
terhisap musnah dalam arus waktu
lingkaran yang mengitari dirinya sendiri
2010
kantata lundi
ada bunyi sebuah pintu terbuka
pada suaramu
dan langkah kaki orang-orang
dengan lentera di tangan mereka
dengan malam masih saja luruh
dari tangkai-tangkainya
suara-suara tembakan itu
berasal dari atas bukit
suara mereka menunjuk ke gunduk itu
sebab tangan mereka mengangkat lentera
ada bunyi sebuah jendela tersibak
pada suaraku
dan langkah kaki orang-orang
pulang menyimpan rumah
sebab tapak tangan mereka
adalah anak kunci bagi gagang pintu.
orang-orang akan melupakan
apa yang baru saja mereka dengar,
hidup memang harus seperti itu
seperti tak pernah terjadi apa-apa
lalu pintu mengeluarkan ketukan
pada mulut seseorang
silakan masuk
pintu tidak dikunci
lalu entah,
kita yang masuk ke mulut makam
09/07/18
Di Kutuk Gerimis
Di Kutuk Gerimis
-M. Nasser Endara-
Yang hitam bersanggul sajak, di tanah tengah kota ini, aku terlahir dari seribu ucapan selamat malam pepohonan. Dengan mata seputih gema, kuburku memekik menikahi seteguk kata – kata ganjil. Sungguh telah kuberi nama janin dalam lesung pipimu yang remaja itu, namun siang telah berpulang dan hujan kian deras menyeret lumpur dalam rumahku. “Maknai raung dalam peperanganmu dan aku akan menjelma gurat – gurat mantra.” Begitu kau pernah berbisik padaku lewat senggama. Aku berjalan bersama gerimis tak terbaca, namun kiranya punggung yang bersahabat dengan bayang – bayang itu sayangku, telah melikut segala takdir dan kemalanganku.
Aku menggubah puisi sendirian. Luruh! Senyummu serupa ledakan goa kelelawar, menggenapkan ingatan bahwa dulu kau pernah khusuk menyapu bibirku dengan lidahmu. Aku terbaring di atas dedaunan kering masa lalu, hidup dalam sungai – sungai pergantian musim. Lalu, tanah yang kian basah ini, menerbitkan tunggak – tunggak ajalku, dan malam semakin pucat diteluh beburung kepergianmu. Sungguh aku merindukan purnama dalam ekormu, namun kesunyian terlanjur gahar mencintaiku. Mendung membangkitkan gaung dalam kantuk dan kereta – kereta perak lamat memuntahkan siulan para penyair yang setubuhi bianglala, juga dinding – dinding yang retak di tiap tikungan itu, sebab aku telah lama menggubah puisi sendirian. “ Sayang, aku jatuh selingkuh.” Segala letup keperihan dan firman para penyamun bertegur tanpa wujud di merah dan kering lambungku. Betapa luka ini adalah sebentuk mimpi buruk paling terjal. Rindu, menjadi jembatan bagi sepi dan ketandusanku.
Biarkan matahari terbit bersama kecantikanmu yang gaib atau selongsong peluru dari kutuk penyalibanmu menembus bebal jidatku. Adakah kepak sayap kupu – kupu lebih raib dari tangis – tangis belasungkawa? Aku berteriak dan dunia ini semakin tak bernama karena dalam lubang fantasiku, bulan tak lagi bulat, melainkan memanjang dengan seratus siku di tiap sisinya. Jasadku muntab dipanggul geludhuk saat kau menatapku menggubah puisi sendirian. Pernah kutulis nama dan hijau tubuhmu, namun seribu malaikat maut terlanjur menyematkan ciuman lain di kurus jemariku. Ruhku mendadak rusuh, di antara padam dan remuk dadaku, kubangun mercusuar terkutuk layaknya kastil dengan meriam yang siap diletuskan ke otak siapa saja. Aku benar – benar menggubah puisi sendirian. Pelukanku jatuh murtad dan kematianku prematur ditusuk parang tertajam. Bibirku sumbing melantunkan sajak gelap paling perih : Aku cinta padamu.
Surabaya, Januari 2010
Siklus
di pagi hari
matahari dan burung-burung
riang memainkan bulir-bulir padi
di sawah dan di ladang-ladang petani cemas
hasil panennya tak seperti musim kemarin
ia mengerang dibakar matahari
di laut
bulan yang berlayar karam
dihantam badai dan gelombang yang begitu tinggi
retak dan berkeping
di bibir pantai
ada yang memunguti sisa-sisa
kepingan bulan yang telah pecah
merangkainya kembali menjadi sebuah matahari
Permintaan Seorang Suami Kepada Istrinya yang Diterima Jadi TKW
berhentilah mengupili dada dengan puisi yang rusak
melubangi lapis terbawah dari sunyi negeri yang ngeri
"segala sakit akan kami kubur di sini!"
inilah omong kosong kita: menyuling kata-kata dari airmata
yang sering jatuh ke dalam jantung lupa
dan mengungkai kuman luka kehilangan
yang berkembang biak demikian kencang
lalu merasa sendiri mengidap sakit penangis
seakan, kita keturunan nuh paling malang
harus enyah dari tanah kelahiran
melayari airmata yang buncah menggenang kenangan
jauh sebelum kita saling memasuki
sama-sama membawa cermin dan bangku
duduk berjuntai di taman seberang mata kita yang telah cokelat
melihat rupa-rupa mengerdil
di batas nyawa, pada genangan tangis bumi membenam pinggang
kita sudah gemar merawat lumut yang meruyaki beratus juta kepala
"o, sejarahkah itu? sekawanan anjing hutan, melingkari danau darah
dan kita bertaruh nyawa di dalamnya!"
kataku, kita masih di negeri keturunan ikan. berenang sajalah
segala sakit itu tak boleh membuatmu ngeri pada kedalaman
tak perlu pula membuat perahu, seperti nuh, nabi yang penangis itu
aku jengah membilang titik-titik iba yang mengurung matamu
menemanimu berenang ke dalam puisi rusak yang kita peras dari airmata
dengung rarau dan umpat-kutuk telah menjangkiti akal
kepala-kepala berlumut yang bertumbuhan di negeri ngeri ini
sepanjang hari, sejauh jalan, kita selalu disuguhkan wajah ngilu
yang diusung para pesakitan
kataku, ini tidak akan terselesaikan oleh puisi
kita masih suntuk bertanya: betapa sukarnya membedaki muka gembira
berdandan, meski tidak sedang ada keramaian digelar
"kalau hatimu tak lagi beruang tampung
sedang sungai yang pernah dan sering kau dongengkan itu sebenarnya tak ada,
biarkanlah tangisku di sini, bertempat tinggal dalam puisi ini
bila rindu datang juga, kirimi aku sapu tangan
tak akan kujatuhkan lagi tangisku ke dalam jantung lupa yang rusak
ia segera kuturunkan ke tebing pipi
ke pinggir negeri yang ngeri ini, mencair. mengalir!"
2008-2010
Matahari di Sungai Chao Phraya
di sungai Chao Phraya aku temukan Venesia
yang menjadi sebongkah cerita untuk hidangan bersama
ketika berlayar dengan perahu
aku seperti mengintip ibu kota yang penuh riuh rindu
dan tidak pernah habis disampaikan kepada para turis
sepanjang bengawan Chao Phraya
banyak gedung berjajar di tepi dan melukiskan pesona kota ini
menyusuri bengawan Chao Phraya
seperti tenggelam dalam gelombang dan melihat megahnya tiang-tiang
matahari menemaniku di sungai Chao Phraya
di perahu kuberteman karyawan berdasi, mahasiswa, dan mbak rok mini
tidak ada jarak ketika aku di perahu
semuanya menggenggam mimpi dan mengejar waktu
sambil memegang ponsel berkirim kabar ke muasal rindu
dan aku mendapat ketenangan di Phra Buddhasaiyas
tempat berteduhnya kalbu seiring berputarnya arus di perahu
Malang, 2010
Sebuah Senja di Dermaga Merak
i//
aku tahu, Va, kelak aku mati di tepi laut ini
di dalam bebatan tanganmu yang tambang, dan dekapan tubuhmu yang kapal
tapi, badai jantungmu atau gemuruh nadimu adalah hitungan mautku satu-satu
terus menyeretku ke tengah samudera, ke sebalik punggung langit yang pernah surga
ii//
kau pun tahu, Va, angin senja yang garam
tak pernah seperih ini mengelus muka, tak pernah selara ini tebalkan duka
tapi, matamu yang pecahan kaca berserakan pula di dermaga
menjadi koin yang diburu anak-anak silem, menjadi rumput laut di karang-karang
iii//
sementara, permukaan laut seperti keriput kulit nenekku yang tisu
menegaskan siluet kematianku yang pekat, dan kerinduanku yang likat
Merak, Desember 2009-Januari 2010
PENYAIR DAN SAPU LIDI
penyair itu terpana
menatap warna merah menyulap rumahnya
yang dulu berwarna putih menjadi hitam
benar-benar hitam
ketika itu langit merah akan menjadi hitam
hanya tubuh yang bersisa dari apa yang dimilikinya
tiba-tiba ia merasa rumah itu adalah tubuhnya yang juga memiliki warna merah
dan terkadang menyulap putih hatinya menjadi hitam
ia bayangkan rumah itu terpana ketika warna merah menyulap putih hatinya menjadi hitam
putih yang membuatnya menjadi betah sedangkan hitam itu membuatnya menjauhi betah
tiba-tiba kata-kata yang ia dapatkan sepanjang menjauhi betah telah menghilang
ia berbalik menelusuri jalan yang tadi dilewatinya
ia yakin kata-kata yang telah dilahapnya dengan ingatan
pulang kepada peristiwa yang telah menjadi rumah bagi kata-kata itu sendiri
tapi kata-kata tak bisa ditemukan karena langit telah menjadi hitam
terpaksa ia gunakan sapu lidi yang tergeletak di halaman rumah orang yang tak dikenalnya
ia coba mengumpulkan kata-kata
tapi kata-kata memang tak bisa lagi ditemukan
kata-kata sepertinya membutuhkan kemerdekaan meski telah memiliki rumah
seperti dirinya
dan kata-kata itu telah menyelamatkan diri ke tempat-tempat lengang
di tempat itu kata-kata kembali kawin dengan waktu
dan waktu pun mengandung
kemudian melahirkan peristiwa baru
kembali menjadi kata-kata yang baru
2010
Rantau
maka, aku berlayar kepulau-pulau lengang, selat-selat yang menghulu haluan kapal
amboi, di manatah wajahmu dara. aku hanya mengingat jejak tarianmu di ujung semenanjung. kini di situ pulalah kaki terbenam, menjadi seorang kuli pelabuhan.
orang-orang bongkar turunkan impian dari selatan, mengapalkan goni lada, kopi
dan secebis hikayat-hikayat. tanah ini, berabad-abad dipenuhi sejarah kebabilan.
seribu punggawa telah memotret dirinya di mega yang pasi. aku melukis sketsa para sultan, mengulum rindu para sayid pada cinta nan abadi, anbiya-anbiya
yang mengunus tinggi nama tuhan
: tapi tak jua kudapati sedikit jejak rambutmu yang merbak pala di pesisir ini.
pada malam-malam yang diam, orang-orang tidur dalam hikayat ksatria
: mereka telah menjelma Hang Tuah, Hang Jebat, beradu keris acungkan kebenaran,
saat itu pulalah kubayangkan kau terduduk haru di satu sudut polis,
mengemis sejumput kasih lewat pasi dinding dingin, dengan wajah diranum garis.
sedang pun, di pertigaan simpang lain, orang-orang lengkingkan stanza
dengan muncung aroma anggur tua. ”tanah ini, tanah ini harum humusnya mengirim rindu pada negeri seberang. teruslah...,teruslah tulis hikayat kalian dengan ujung pedang”
tapi kaki merindu ayun, hendak langkah jua menemu tanah yang lain.
maka, kususuri sungai, hingga kehulu. kucari para lanun di tanah perca,
beradu niaga, bertaruh peruntungan. Aih..., apatah ini yang disebut nasib?
berkali doaku patah,
diujung
sujud.
1428-1430
Wanita dalam Cermin
katanya angin yang mengetuk pintu cermin searah jarum jam, hingga aku ikuti arah
menapak lorong waktu sampai pada gerbong – gerbong kereta tua dengan hantu masinis
penunggu perlintasan
cermin yang terletak sejajar dengan tembok lusuh seumpama retak lumut yang mengkaji hari. berakar retaknya dengan wanita cantik mengetuk – ngetuk, mengadukan tangan pada tembok kaca. tak diperdulikannya helai gaun dari pundak melusuh ke lengan.
akh, kau rupanya
wanita dalam mimpi yang tiap malam menghamili tidur. memaksa jejak memasung rembulan serupa air mata beku di pipimu
matamu menengadahkan harapan. meminta mengepingkan cermin. adalah kepalan tinju dari tanganku. mengadukan daging pada tulang, tulang pada urat, urat pada cermin
( dan diluar kau membersihkan gaun putih kembang )
Aku terperangkap!
Pada Sebuah Stasiun, Medan 2010
Monolog Kumbakarna
Bukan karena Surga atau Neraka
Seluruh tetes darah yang kugenapkan di altar kota Alengka
Adalah kredo terhadap sisa mimpi yang masih bisa kuraba
Meski terlalu gelap--Bahkan menyesatkan doa yang terbata kubaca
Sebelum ia sampai ke tangan para dewa
Bukan karena Surga atau Neraka
Setiap bagian tubuh yang meninggalkan kedudukannya
Mungkin hanya santapan hewan semata
Dan itu akan lebih membuatku merasa lega
Karena meski tak mampu kunaikan tinggi-tinggi panji kemenangan
Namun masih bisa kukecap rasa sebagai ciptaan-Nya dalam setiap luka ini
Kemudian yakin bahwa namaku nantinya akan tertulis pada kitab Weda
Layaknya seorang yang memiliki jasa
Sampai nantinya kuakhiri pula ceritaku ini di antara bilah panah Sri Rama yang terakhir
Masih ada huruf demi huruf yang ingin kuucapkan
kepada kakakku Rahwana,
kepada adikku Wibiksana,
dan kepada semua prajurit Alengka
Yang masih mengangkat senjata dalam pertempuran ini
Tentang apa yang kita cita-citakan
Sesungguhnya hanyalah kefanaan yang baka
Bukan karena Surga atau Neraka
Bandung, Januari 2010
gedunggedung tua pada sebuah ciuman
semuanya bermula dari alamat rindu
membaca gairah pada beratus bisikan
yang membeku
jika yang bersembunyi pada sebuah ciuman
adalah gedunggedung tua
dengan kesepian yang gemetar
maka aku semakin tak mengenalmu
kegelisahan ini bukan seperti jarum jam
yang senantiasa merenungi waktu
ketika dingin meluruhkan seluruhnya
ahh..selalu ada yang menggema
pada kepungan malam
meninggalkan tiupan angin
yang mengandung ucapanucapan gusar
NOL
baiklah, kau telah menulis sunyi di batu itu
yang kemudian kau biarkan digauni lumut dan semut
aku tak menduga ada kabar bahwa menara
yang kau bangun dengan airmata, terbakar tadi malam
orang-orang memadamkannya dengan bersorak
kejam, katamu. keji, kataku
sudah kuhallo berulang kali ponselmu
tapi kesunyian yang kuterima
kau sengaja mencuri suaraku
tapi kau sembunyikan
gairahmu
Rumah Dalam Tas
Seandainya kamar-kamar terbakar,
sumur-sumur hanya dipenuhi lumpur
dan seluruh kampung halaman tenggelam
dan hilang.
Setelah hujan itu ia hanya ingin pergi
dan membuat rumah dalam tas-tas perjalanannya.
Rumah yang tak banyak jendela, satu pintu tak berkunci.
Di balik pintu tak ada meja dan kursi, apalagi televisi.
Hanya membentang karpet merah beludru, berbulu debu.
Tempat membaring tubuh waktu.
Gerimis setelah hujan, ia hanya ingin pergi
Membuat rumah dua pondasi
Dari tumpukan buku dan gundukan baju.
Rumah dengan halaman yang singkat,
tanpa kata pengantar dan daftar pustaka.
Kelak disana, akan ia wariskan mobil mewah dari kaleng biskuit
atau kulit jeruk, juga terbangan balon udara dari busa-busa senja.
Ia pun berjanji seikat melati.
Takkan pernah memberikan pistol atau pedang.
agar tak pernah lagi ada perang.
Hingga selamanya, setelah hujan tak ada pelangi.
Ia hanya ingin pergi membuat matahari sendiri.
Membiaskan lumpur yang menggenang
dan air mata yang mengenang.
2009
Rindu Kabut
Suatu pagi aku menemukamu terbelah dua di teras rumah,
tepat ketika hujan selesai mengguyur pekarangan
yang selalu gundah seperti tengah menunggu seseorang di masa lalu,
mungkin aku harus membangunkamu segera
setelah cuaca pagi yang kembali cerah ini beranjak pecah
menjadi serbuk yang menyakitkan tubuh,
atau aku yang akan menjagamu dari dada hujan yang tebal itu,
sebab kau pasti tersengal ketika siuman dan mendapati kakimu
tak bisa lagi berpijak seperti waktu-waktu yang lalu
Kakimu telah menjadi bunga yang hidup dan bernapas,
lewat celah daun-daun kulihat kau yang mulai bangkit
dan membiarkan suara udara itu bersemayam sejenak
sebelum berpindah sambil mendendangkan nada alam yang samar
Kau dengar suara itu? Suara serak di balik keremangan sana,
kepak sayap burung telah sepenuhnya lenyap sore tadi,
ketika seorang penarik pedati bertanya pada perantau
yang ditemuinya di tepi jalan, "di manakah jalan pulang?"
Padahal perantau itu merasa bodoh tentang waktu dan tempat
Kau belum menyimak kisahku itu, tentu, aku sudah di sini
dan duduk untuk menceritakan segala sesuatu, apa saja,
asal kau siuman dan tenang kembali bersamaku
menatap hamparan kabut yang berpendar dalam hening ujung bukit itu
PUISI TENTANG ANAK-ANAK BULAN
1.
dulu, anak-anak bulan senang main origami kapal-kapalan
sewaktu penghujan melahirkan arus luapan kali menuju jalan-jalan kampung
lalu ada dolanan jamuran saat banjir tak lagi tinggal pada bulan-bulan kemarau
: di mana ibu mereka sering berdandan dengan begitu purnama
mereka bilang, kapal-kapalan jauh lebih seru dibanding
berpura-pura melingkar bergandeng-tangan menyanyikan
kidung jamuran yang jadul itu
dan bermain kapal-kapalan tak perlu mendiamkan
pura pada wajah-jujur kita.
2.
sekarang, duduk mengendapkan mata pada layar televisi
atau muka-muka kaca digital lebih jadi jaminan hiburan
tanpa perlu keluar di jalanan kampung
mempelajari mainan nenek moyang
:banjir-banjiran
kapal-kapalan
jamur-jamuran
demikian, mereka jadi tahu
tentang ibubulan yang berpindah tempat
mengungsi karena kebanjiran sepi di setiap jalan-malam.
3.
sekian lama duduk belajar memilih
mana channel yang paling baik ditonton
anak-anak bulan sadar; televisi telah mengurungnya
pada kepala mereka
sedang ibu mereka masih saja menyimpan lagu jamuran
yang siaga diajarkan untuk setiap malam
yang bangun dan lelap pada bola-mata mereka.
4.
rupanya, ada isyarat pembicaraan kecil
suatu ketika pada channel nomor satu
mulut mereka begitu nyaring
membacakan tanya dari televisi,
“hei…hei...
ada wajah siapa di muka layar itu
ada bu guru dan pak guru
yang berdemo di depan sekolah kita
juga ada alat-alat besar itu
dan mau ke mana
bangku-bangku
papan tulis kita?”
rupanya, tanya menuntun mereka
untuk kembali ke pangkuan ibubulan
supaya mimpi tak meleleh di samping nyala doa.
5.
di pinggiran jalan kampung anak-anak bulan menengadah
berhitung tentang bilangan-waktu ramalan
kapan bisa menemui ibubulan lagi
semenjak mereka rajin belajar mencari arah
tanpa kompas dan peta, ke mana namanya diketemukan
selain dalam rupa ibu yang berdandan purnama lagi
lantas bertanya mengapa kata bulan tak dinamakan, padahal
ibubulan masih setia merancang adegan permainan jujur-tawa-rindu
untuk setiap anak yang lahir dan bermain
di setiap kota-malam di setiap zaman
di setiap nyanyian anak-anak bulan;
tradisi yang membuatnya ada dan tanda!
Semarang, 2010
CATATAN
Jamuran: permainan tradisional dari Solo, Jawa Tengah
Dolanan (bahasa Jawa): permainan (bahasa Indonesia)
Ketika Orang-orang di Kampungku Meremas Jantungnya Sendiri
Waktu itu hujan panas dan angin mati pulang ke ibunya. Lalu mereka pun
berjalan di tengah hari terbungkuk-bungkuk
mencari luhak, sekedar menimba air; sekedar minum kopi; sekedar
mandi anaknya. Sekedar saja, kemudian
mereka telah berjalan subuh-subuh dengan punggung tegak,
di pematang. Ketika mata itu belum sepenuhnya berisi terang. Hanya samar
dari pundak mereka, bekas lumpur atau kulit yang terkelupas
telah membusuk sebelum hari naik sepenggalah. Maka jangan mengantuk
di ujung balai, sebelum hujan turun; sebelum air menggelegak; sebelum
gelas kopi terisi penuh.
Jika saja kopi ini terlalu pahit, datang saja. Akan kaudapati
hujan tengah berhenti di tengah kampung.
Kandangpadati, 091021
Tafakur
Di tanah yang akan punah ini usia kita tumbuh dan rubuh
Ia seperti daun-daun hari yang memutih disembelih matahari
Rumah bagi riwayat kita bangun di atas sepetak keluh kesah
Menabung mimpi yang sepi di tahun-tahun yang tenggelam
Membenahi rencana di lembaran-lembaran musim yang fana
Di sinilah di taman purba dunia dahaga iman mengendapkan jelaga
Tafakur kita tersungkur dalam legam sunyi dan misteri
Merangkak di setapak puisi memunguti remah-remah cahaya
Hayatilah nyala kegelisahan yang tak pernah selesai ini
Dengan cinta kita pertautkan temali mimpi pada tiang-tiang zaman
Di sinilah di kebun kepedihan kita tanam benih-benih permenungan
Dan kita pergilirkan silsilah rindu yang tak pernah menyerah
Doa-doa kita dilipat seperti surat yang terkirim tanpa alamat
Ia seperti pohon yang menjulurkan lidahnya pada warna langit
Dengan akar ketabahannya kita lebur dalam sujud yang teduh
Di tanah yang akan punah ini usia kita tergusur dan terbujur
Waktu perlahan akan meredup menutup pintu-pintu masa lalu
Jiwa yang berabad kita dzikirkan akan hilang dan berakhir
Hayatilah nyala kegelisahan yang tak pernah selesai ini
Sebelum kita runtuh dan terbunuh tanpa menyisakan makna
Bandung, Februari 2010
Dari Pesisirmu Luka Berpesiar ke Jantungku
di bulan pengalih tahun. satu lagu masih setia berputar di langit gaza
sepucuk sajak kukirim lewat genit angin yang membelai harap
lalu separuh bulan redup menatap ringkih kematian
di taman-taman pembantaian
di gaza. kota yang kehilangan peta atau barangkali cinta
setiap hela napas adalah detik terakhir mengukur waktu
dan orang-orang tak peduli. masihkah segelas capucino hangat
menenggelamkan nol derajat musim-musim yang gelisah melerai sudah
di gaza. kota yang menyelundupkan nyawa di liku-liku terowongan
burung-burung tajam mengintai nasib
ah, jadi remuk juga kanak-kanakku dalam kenangan
memulung bahagia. di taman-taman pembantaian
dan sesuara kudengar berpesiar dari pesisirmu ke pesisirku
”ini laut kami. kapan lagi kami bisa meneruskan hidup dari laut ini?”
begitulah
deritamu bukan deritaku. tapi luka jantungku
di sepetak meja, aku tak turut merundingi kisahmu. hanya tulis satu puisi
` -tentang derita di genting batas yang tak putus disergap ngilu-
seindah pelukis menggaris liku-liku kamboja di antara dada kekasihnya
tapi kata jadi sederai debu juga. meruap dalam mimpi orang-orang yang dijanjikan
gaza. seperti sebuah lakon
hamletkah yang kau kisahkan? sebagai epilog
Padang, Februari 2009
kampung angin
Kampung Angin
utara
perkenalan diam-diam
daun jambu dan anjing kampung
berpeluk di tanah yang lirih
asmara dari hujan januari
barat daya
musim telah berbagi
tak ada lagi rindu
daun jambu lapuk
dingin yang tak terpahami usia
barat
bergegaslah, perjalanan belumlah genap
dua musim adalah hadiah
pertaruhan dari waktu yang ganjil dan tengil
tenggara
karang dan ombak
ranjang perkawinan bagi sayap
pertukaran untuk para lelah
mencari kelahiran yang tak patah
selatan
beburung berpindah
meninggalkan anak dan cahaya
berlesapan ringan ke langit
menduga kehidupan baru yang biru
barat laut
batu-batu adalah keabadian
kenang yang tak mudah pecah
merupa dupa asap yang bunga
timur
awal dari segala ketakutan
dosa yang tak pernah diinginkan
hujanhujan menyerbu dalam tidur
timur laut
sebuah rancangan rencana
tak diketahui dan
tak akan diketahui
siapa pun?
2010
KAMPUNG INDONESIA
ku tabuh gendang
ku tiupkan seruling
pepohonan menari pada hamparan bumi
menyanyikan lagu-lagu tentang tanah kelahiran
angin membawa irama bungong jeumpa sampai yamko rambe yamko
membaca keindahan taman-taman nusantara pada peta khatulistiwa
menikmati hombo batu, menikmati tari piring
membarakan hentakan reog, membarakan pendet
pada pandangan pemuda-pemuda berpeci dan gadis-gadis berbaju batik
di sinilah catatan sejarah bermula
takkan hilang indonesia di bumi
ku pukul tifa
ku petik hasapi
gemanya menembus dinding hati setiap generasi
memenuhi ruang-ruang sepenuh semesta
menitipkan semangat juang cut meutia sampai dewi sartika
melahirkan kartini-kartini yang penuh dedikasi
menanamkan semangat sisingamangaraja, menanamkan semangat pattimura
lebih besar dari osama, lebih gariah dari obama
dicatatkan sriwijaya, didengungkan sumpah palapa
di sinilah sejarah melegenda
tentang kejayaan nusantara
ku tepuk pak pung
ku petik kecapi
bersama tarian daun-daun, dengung gunung, titik embun, kicau burung
betul-betul senikmat kampung, kampung indonesia
Jambek, 2010
DI BAWAH TUGU GURU PATIMPUS
ada lembaran sejarah, sahdan, tentang catatan
yang terlepas hurup-hurupnya dari meidan bukan mesawang
sebuah pundamen yang melapuk, yang tergerus
membentuk debu-debu, menebal menjadi cerita lain
dalam keniscayaan sebuah perobahan mengekalkan pendulum,
mengekalkan peradaban urban
di sini pedagang kaki lima menjadwalkan singgah
di sini orang-orang jalananmenetapkan segala istirah
di sini keteraturan adalah sekadar alas kaki mengikis daki-daki
bulan dan matahari hanyalah jam langit yang mengisyaratkan
kapan datang dan pergi. lalu, lampu taman yang kadang redup
menarikan iramanya sendiri menuju keabadian para pemimpi
yang sesekali usil mencuri bias-bias matahari dan menitipkannya
diam-diam pada bulan
ada lembaran sejarah, sahdan, terbang entah kemana
bersamaan keterpukauan gerbong-gerbong tua
langsirkan gelisah perempuan-perempuan penari
menghibur para petualang yang sejenak datang
mencatatkan liar pandang, kemudian pergi menembus
bilah-bilah sunyi, mencatatkan sejarah lain menjadi cerita lain
membenam teriak loko hitam, mencampak gumpal asap
ke langit rerak
di sini pernah ada kobaran api berabad silam membara
percik riwayat kisah-kisah semangat juang
di sini pernah ada gegap sejarah mencatatkan awal mula
pemancakan gedung-gedung nan gagah
dan di sini Guru Patimpus berdiri abadi meratapi kisah lain
dari cerita lain tentang anak-anak jalanan, deru knalpot tua
dan perempuan-perempuan berrok mini yang entah kapan datang,
yang entah kapan pergi
Komunitas HP, Medan, 2010
kelas rusuh sekelompok debu berebut kursi
angin tak mau kalah mengambil tempat di mana saja
seperti bias gaduh melongok gagu menyikut sendiri
ingin tak sudah tampil semangat dari tekad membaja
kursi-kursi gelisah mencatat catatan yang tersisa di papan tulis
meja-meja gemetar disetrap keadaan yang membingungkan
seperti siswa usia sekolah mengaratkan hafalan sampai tiris
membaca gambar bibir yang membekap masa depan
langit-langit ruang tak mau kalah menerjunkan kucuran hujan
menguyupkan lantai yang tak pernah selesai berdandan
seperti bantuan pendidikan yang berdiri mematung di simpang jalan
sementara arus jalanan hanya hilir mudik saling berbantahan
media pembelajaran ternganga entah harus melakukan apa
alat-alat tulis tak akrab lagi dengan hurup-hurup dan angka-angka
seperti guru-guru yang terlalu sibuk menebar fatwa-fatwa
dan siswa-siswa yang sibuk menyusun make-up dalam tasnya
"Hore bel panjang. Kita pulang!"
"Hore guru rapat. kita pulang!"
"Hore Ketua Yayasan sakit. Kita pulang!"
"Hore ada artis datang. Kita pulang!"
ah, debu lagi...
SEKOLAH PATUNG
pelajaran pertama adalah memanfaatkan diam
senyum bisu
pelajaran kedua adalah ejaan yang disempurnakan
untuk tangis dan tawa
pelajaran ketiga adalah makan siang
dari tempat sembahyang
pelajaran keempat adalah menyusun nama samaran
di depan puting susu perawan
pelajaran kelima adalah menciptakan mimpi
dengan serpih ingatan kelam
tentang kudeta dan penghianatan
pelajaran keenam adalah melukis nyawa
dengan memberi nafas kepada angka
pelajaran ketujuh batal
disampaikan
sebab para guru ketahuan
telah mempersekutukan Tuhan
Teluknaga, 2010
Sajak Empat Larik
Bertemu sunyi di denyut nadi
Tanpa tegur sapa
Kami memandang ke arah yang berbeda
: cakrawala berkabut, malam jekut, wabah amnesia di setiap penjuru kota
2009
Surat dalam Botol
menjelang pagi, aku menemukkan sepucuk surat dalam botol
ombak utara telah mengantarnya ke bibir pantai abrasi ini
buru-buru aku meminjam pembuka botol dari warung terdekat, kubuka
tapi surat itu sudah mati
kertasnya pucat, hurup-hurupnya terbujur kaku, tinta yang membeku
kugoncang-goncang surat itu, dan kusebut satu-dua nama yang mungkin bisa membangunkannya,
sia-sia,
hanya aroma hutan masa lalu yang menguap lamat-lamat
aku menggali lobang di atas pasir dengan talapak tanganku
jenazah surat itu aku kuburkan dengan sedikit doa-doa
udara laut membiaskan beberapa wajah yang kukenal
tapi tak ada yang bersedih
mejelang tengah hari,kutinggalkan kuburan itu
saat camar berganti nazar
SEBUAH SAJAK SENTIMENTIL DARI TELEVISI HITAM-PUTIH
gadis kecil itu bermimpi
menyusuri kanal kanal di venesia
di atas sampan
dengan sepasang dayungnya
yang kecil
bersama seorang bocah laki laki
penulis puisi.
que sera sera
seorang penyair
duduk sendiri
di kamarnya yang berdebu
dinding dan atap tiba tiba
ja
tuh.
penyair itu cuma menggumam
"o venesia, venesia aku datang"
saat tubuhnya yang kaku
dilarikan banjir ke selokan.
que sera sera
sebuah buku puisi
tersenyum genit
dan menutup dirinya sendiri!
Sungai Waktu
SUNGAI WAKTU
---Elo, Progo dan Borobudur
aku berdiri mendengarkan
detak jantungku sendiri
sembari menandai jejak waktu
ketika detik-detik sejarah
perlahan hanyut dalam arus air
menyeret dan menenggelamkan
rangkaian peristiwa tanpa selesai
silsilah moyangku lahir di pertemuannya
perkawinan masa silam dan masa depan
dimana pemahat batu, petani dan prajurit
mengambil tenaga hidup dari nyawanya
lumpur usia,
dan berabad aliran riwayat
menghembuskan bau mistik
arus memahat bebatuan
tangan mengukir pecandian
di genggaman para tetua
jemari waktu menuliskan prasasti
merapal mantra kata-kata
membukakan gerbang matahari
aku berdiri mendengarkan
detak jantungku sendiri
sembari menandai jejak waktu
menziarahi tumpukan bebatuan
yang menyerupai kelinting raksasa
terpaku mendengarkan gema agung
terhisap musnah dalam arus waktu
lingkaran yang mengitari dirinya sendiri
2010
kantata lundi
ada bunyi sebuah pintu terbuka
pada suaramu
dan langkah kaki orang-orang
dengan lentera di tangan mereka
dengan malam masih saja luruh
dari tangkai-tangkainya
suara-suara tembakan itu
berasal dari atas bukit
suara mereka menunjuk ke gunduk itu
sebab tangan mereka mengangkat lentera
ada bunyi sebuah jendela tersibak
pada suaraku
dan langkah kaki orang-orang
pulang menyimpan rumah
sebab tapak tangan mereka
adalah anak kunci bagi gagang pintu.
orang-orang akan melupakan
apa yang baru saja mereka dengar,
hidup memang harus seperti itu
seperti tak pernah terjadi apa-apa
lalu pintu mengeluarkan ketukan
pada mulut seseorang
silakan masuk
pintu tidak dikunci
lalu entah,
kita yang masuk ke mulut makam
09/07/18
Di Kutuk Gerimis
Di Kutuk Gerimis
-M. Nasser Endara-
Yang hitam bersanggul sajak, di tanah tengah kota ini, aku terlahir dari seribu ucapan selamat malam pepohonan. Dengan mata seputih gema, kuburku memekik menikahi seteguk kata – kata ganjil. Sungguh telah kuberi nama janin dalam lesung pipimu yang remaja itu, namun siang telah berpulang dan hujan kian deras menyeret lumpur dalam rumahku. “Maknai raung dalam peperanganmu dan aku akan menjelma gurat – gurat mantra.” Begitu kau pernah berbisik padaku lewat senggama. Aku berjalan bersama gerimis tak terbaca, namun kiranya punggung yang bersahabat dengan bayang – bayang itu sayangku, telah melikut segala takdir dan kemalanganku.
Aku menggubah puisi sendirian. Luruh! Senyummu serupa ledakan goa kelelawar, menggenapkan ingatan bahwa dulu kau pernah khusuk menyapu bibirku dengan lidahmu. Aku terbaring di atas dedaunan kering masa lalu, hidup dalam sungai – sungai pergantian musim. Lalu, tanah yang kian basah ini, menerbitkan tunggak – tunggak ajalku, dan malam semakin pucat diteluh beburung kepergianmu. Sungguh aku merindukan purnama dalam ekormu, namun kesunyian terlanjur gahar mencintaiku. Mendung membangkitkan gaung dalam kantuk dan kereta – kereta perak lamat memuntahkan siulan para penyair yang setubuhi bianglala, juga dinding – dinding yang retak di tiap tikungan itu, sebab aku telah lama menggubah puisi sendirian. “ Sayang, aku jatuh selingkuh.” Segala letup keperihan dan firman para penyamun bertegur tanpa wujud di merah dan kering lambungku. Betapa luka ini adalah sebentuk mimpi buruk paling terjal. Rindu, menjadi jembatan bagi sepi dan ketandusanku.
Biarkan matahari terbit bersama kecantikanmu yang gaib atau selongsong peluru dari kutuk penyalibanmu menembus bebal jidatku. Adakah kepak sayap kupu – kupu lebih raib dari tangis – tangis belasungkawa? Aku berteriak dan dunia ini semakin tak bernama karena dalam lubang fantasiku, bulan tak lagi bulat, melainkan memanjang dengan seratus siku di tiap sisinya. Jasadku muntab dipanggul geludhuk saat kau menatapku menggubah puisi sendirian. Pernah kutulis nama dan hijau tubuhmu, namun seribu malaikat maut terlanjur menyematkan ciuman lain di kurus jemariku. Ruhku mendadak rusuh, di antara padam dan remuk dadaku, kubangun mercusuar terkutuk layaknya kastil dengan meriam yang siap diletuskan ke otak siapa saja. Aku benar – benar menggubah puisi sendirian. Pelukanku jatuh murtad dan kematianku prematur ditusuk parang tertajam. Bibirku sumbing melantunkan sajak gelap paling perih : Aku cinta padamu.
Surabaya, Januari 2010
Siklus
di pagi hari
matahari dan burung-burung
riang memainkan bulir-bulir padi
di sawah dan di ladang-ladang petani cemas
hasil panennya tak seperti musim kemarin
ia mengerang dibakar matahari
di laut
bulan yang berlayar karam
dihantam badai dan gelombang yang begitu tinggi
retak dan berkeping
di bibir pantai
ada yang memunguti sisa-sisa
kepingan bulan yang telah pecah
merangkainya kembali menjadi sebuah matahari
Permintaan Seorang Suami Kepada Istrinya yang Diterima Jadi TKW
berhentilah mengupili dada dengan puisi yang rusak
melubangi lapis terbawah dari sunyi negeri yang ngeri
"segala sakit akan kami kubur di sini!"
inilah omong kosong kita: menyuling kata-kata dari airmata
yang sering jatuh ke dalam jantung lupa
dan mengungkai kuman luka kehilangan
yang berkembang biak demikian kencang
lalu merasa sendiri mengidap sakit penangis
seakan, kita keturunan nuh paling malang
harus enyah dari tanah kelahiran
melayari airmata yang buncah menggenang kenangan
jauh sebelum kita saling memasuki
sama-sama membawa cermin dan bangku
duduk berjuntai di taman seberang mata kita yang telah cokelat
melihat rupa-rupa mengerdil
di batas nyawa, pada genangan tangis bumi membenam pinggang
kita sudah gemar merawat lumut yang meruyaki beratus juta kepala
"o, sejarahkah itu? sekawanan anjing hutan, melingkari danau darah
dan kita bertaruh nyawa di dalamnya!"
kataku, kita masih di negeri keturunan ikan. berenang sajalah
segala sakit itu tak boleh membuatmu ngeri pada kedalaman
tak perlu pula membuat perahu, seperti nuh, nabi yang penangis itu
aku jengah membilang titik-titik iba yang mengurung matamu
menemanimu berenang ke dalam puisi rusak yang kita peras dari airmata
dengung rarau dan umpat-kutuk telah menjangkiti akal
kepala-kepala berlumut yang bertumbuhan di negeri ngeri ini
sepanjang hari, sejauh jalan, kita selalu disuguhkan wajah ngilu
yang diusung para pesakitan
kataku, ini tidak akan terselesaikan oleh puisi
kita masih suntuk bertanya: betapa sukarnya membedaki muka gembira
berdandan, meski tidak sedang ada keramaian digelar
"kalau hatimu tak lagi beruang tampung
sedang sungai yang pernah dan sering kau dongengkan itu sebenarnya tak ada,
biarkanlah tangisku di sini, bertempat tinggal dalam puisi ini
bila rindu datang juga, kirimi aku sapu tangan
tak akan kujatuhkan lagi tangisku ke dalam jantung lupa yang rusak
ia segera kuturunkan ke tebing pipi
ke pinggir negeri yang ngeri ini, mencair. mengalir!"
2008-2010
Matahari di Sungai Chao Phraya
di sungai Chao Phraya aku temukan Venesia
yang menjadi sebongkah cerita untuk hidangan bersama
ketika berlayar dengan perahu
aku seperti mengintip ibu kota yang penuh riuh rindu
dan tidak pernah habis disampaikan kepada para turis
sepanjang bengawan Chao Phraya
banyak gedung berjajar di tepi dan melukiskan pesona kota ini
menyusuri bengawan Chao Phraya
seperti tenggelam dalam gelombang dan melihat megahnya tiang-tiang
matahari menemaniku di sungai Chao Phraya
di perahu kuberteman karyawan berdasi, mahasiswa, dan mbak rok mini
tidak ada jarak ketika aku di perahu
semuanya menggenggam mimpi dan mengejar waktu
sambil memegang ponsel berkirim kabar ke muasal rindu
dan aku mendapat ketenangan di Phra Buddhasaiyas
tempat berteduhnya kalbu seiring berputarnya arus di perahu
Malang, 2010
Sebuah Senja di Dermaga Merak
i//
aku tahu, Va, kelak aku mati di tepi laut ini
di dalam bebatan tanganmu yang tambang, dan dekapan tubuhmu yang kapal
tapi, badai jantungmu atau gemuruh nadimu adalah hitungan mautku satu-satu
terus menyeretku ke tengah samudera, ke sebalik punggung langit yang pernah surga
ii//
kau pun tahu, Va, angin senja yang garam
tak pernah seperih ini mengelus muka, tak pernah selara ini tebalkan duka
tapi, matamu yang pecahan kaca berserakan pula di dermaga
menjadi koin yang diburu anak-anak silem, menjadi rumput laut di karang-karang
iii//
sementara, permukaan laut seperti keriput kulit nenekku yang tisu
menegaskan siluet kematianku yang pekat, dan kerinduanku yang likat
Merak, Desember 2009-Januari 2010
PENYAIR DAN SAPU LIDI
penyair itu terpana
menatap warna merah menyulap rumahnya
yang dulu berwarna putih menjadi hitam
benar-benar hitam
ketika itu langit merah akan menjadi hitam
hanya tubuh yang bersisa dari apa yang dimilikinya
tiba-tiba ia merasa rumah itu adalah tubuhnya yang juga memiliki warna merah
dan terkadang menyulap putih hatinya menjadi hitam
ia bayangkan rumah itu terpana ketika warna merah menyulap putih hatinya menjadi hitam
putih yang membuatnya menjadi betah sedangkan hitam itu membuatnya menjauhi betah
tiba-tiba kata-kata yang ia dapatkan sepanjang menjauhi betah telah menghilang
ia berbalik menelusuri jalan yang tadi dilewatinya
ia yakin kata-kata yang telah dilahapnya dengan ingatan
pulang kepada peristiwa yang telah menjadi rumah bagi kata-kata itu sendiri
tapi kata-kata tak bisa ditemukan karena langit telah menjadi hitam
terpaksa ia gunakan sapu lidi yang tergeletak di halaman rumah orang yang tak dikenalnya
ia coba mengumpulkan kata-kata
tapi kata-kata memang tak bisa lagi ditemukan
kata-kata sepertinya membutuhkan kemerdekaan meski telah memiliki rumah
seperti dirinya
dan kata-kata itu telah menyelamatkan diri ke tempat-tempat lengang
di tempat itu kata-kata kembali kawin dengan waktu
dan waktu pun mengandung
kemudian melahirkan peristiwa baru
kembali menjadi kata-kata yang baru
2010
Rantau
maka, aku berlayar kepulau-pulau lengang, selat-selat yang menghulu haluan kapal
amboi, di manatah wajahmu dara. aku hanya mengingat jejak tarianmu di ujung semenanjung. kini di situ pulalah kaki terbenam, menjadi seorang kuli pelabuhan.
orang-orang bongkar turunkan impian dari selatan, mengapalkan goni lada, kopi
dan secebis hikayat-hikayat. tanah ini, berabad-abad dipenuhi sejarah kebabilan.
seribu punggawa telah memotret dirinya di mega yang pasi. aku melukis sketsa para sultan, mengulum rindu para sayid pada cinta nan abadi, anbiya-anbiya
yang mengunus tinggi nama tuhan
: tapi tak jua kudapati sedikit jejak rambutmu yang merbak pala di pesisir ini.
pada malam-malam yang diam, orang-orang tidur dalam hikayat ksatria
: mereka telah menjelma Hang Tuah, Hang Jebat, beradu keris acungkan kebenaran,
saat itu pulalah kubayangkan kau terduduk haru di satu sudut polis,
mengemis sejumput kasih lewat pasi dinding dingin, dengan wajah diranum garis.
sedang pun, di pertigaan simpang lain, orang-orang lengkingkan stanza
dengan muncung aroma anggur tua. ”tanah ini, tanah ini harum humusnya mengirim rindu pada negeri seberang. teruslah...,teruslah tulis hikayat kalian dengan ujung pedang”
tapi kaki merindu ayun, hendak langkah jua menemu tanah yang lain.
maka, kususuri sungai, hingga kehulu. kucari para lanun di tanah perca,
beradu niaga, bertaruh peruntungan. Aih..., apatah ini yang disebut nasib?
berkali doaku patah,
diujung
sujud.
1428-1430
Wanita dalam Cermin
katanya angin yang mengetuk pintu cermin searah jarum jam, hingga aku ikuti arah
menapak lorong waktu sampai pada gerbong – gerbong kereta tua dengan hantu masinis
penunggu perlintasan
cermin yang terletak sejajar dengan tembok lusuh seumpama retak lumut yang mengkaji hari. berakar retaknya dengan wanita cantik mengetuk – ngetuk, mengadukan tangan pada tembok kaca. tak diperdulikannya helai gaun dari pundak melusuh ke lengan.
akh, kau rupanya
wanita dalam mimpi yang tiap malam menghamili tidur. memaksa jejak memasung rembulan serupa air mata beku di pipimu
matamu menengadahkan harapan. meminta mengepingkan cermin. adalah kepalan tinju dari tanganku. mengadukan daging pada tulang, tulang pada urat, urat pada cermin
( dan diluar kau membersihkan gaun putih kembang )
Aku terperangkap!
Pada Sebuah Stasiun, Medan 2010
Monolog Kumbakarna
Bukan karena Surga atau Neraka
Seluruh tetes darah yang kugenapkan di altar kota Alengka
Adalah kredo terhadap sisa mimpi yang masih bisa kuraba
Meski terlalu gelap--Bahkan menyesatkan doa yang terbata kubaca
Sebelum ia sampai ke tangan para dewa
Bukan karena Surga atau Neraka
Setiap bagian tubuh yang meninggalkan kedudukannya
Mungkin hanya santapan hewan semata
Dan itu akan lebih membuatku merasa lega
Karena meski tak mampu kunaikan tinggi-tinggi panji kemenangan
Namun masih bisa kukecap rasa sebagai ciptaan-Nya dalam setiap luka ini
Kemudian yakin bahwa namaku nantinya akan tertulis pada kitab Weda
Layaknya seorang yang memiliki jasa
Sampai nantinya kuakhiri pula ceritaku ini di antara bilah panah Sri Rama yang terakhir
Masih ada huruf demi huruf yang ingin kuucapkan
kepada kakakku Rahwana,
kepada adikku Wibiksana,
dan kepada semua prajurit Alengka
Yang masih mengangkat senjata dalam pertempuran ini
Tentang apa yang kita cita-citakan
Sesungguhnya hanyalah kefanaan yang baka
Bukan karena Surga atau Neraka
Bandung, Januari 2010
gedunggedung tua pada sebuah ciuman
semuanya bermula dari alamat rindu
membaca gairah pada beratus bisikan
yang membeku
jika yang bersembunyi pada sebuah ciuman
adalah gedunggedung tua
dengan kesepian yang gemetar
maka aku semakin tak mengenalmu
kegelisahan ini bukan seperti jarum jam
yang senantiasa merenungi waktu
ketika dingin meluruhkan seluruhnya
ahh..selalu ada yang menggema
pada kepungan malam
meninggalkan tiupan angin
yang mengandung ucapanucapan gusar
NOL
baiklah, kau telah menulis sunyi di batu itu
yang kemudian kau biarkan digauni lumut dan semut
aku tak menduga ada kabar bahwa menara
yang kau bangun dengan airmata, terbakar tadi malam
orang-orang memadamkannya dengan bersorak
kejam, katamu. keji, kataku
sudah kuhallo berulang kali ponselmu
tapi kesunyian yang kuterima
kau sengaja mencuri suaraku
tapi kau sembunyikan
gairahmu
Rumah Dalam Tas
Seandainya kamar-kamar terbakar,
sumur-sumur hanya dipenuhi lumpur
dan seluruh kampung halaman tenggelam
dan hilang.
Setelah hujan itu ia hanya ingin pergi
dan membuat rumah dalam tas-tas perjalanannya.
Rumah yang tak banyak jendela, satu pintu tak berkunci.
Di balik pintu tak ada meja dan kursi, apalagi televisi.
Hanya membentang karpet merah beludru, berbulu debu.
Tempat membaring tubuh waktu.
Gerimis setelah hujan, ia hanya ingin pergi
Membuat rumah dua pondasi
Dari tumpukan buku dan gundukan baju.
Rumah dengan halaman yang singkat,
tanpa kata pengantar dan daftar pustaka.
Kelak disana, akan ia wariskan mobil mewah dari kaleng biskuit
atau kulit jeruk, juga terbangan balon udara dari busa-busa senja.
Ia pun berjanji seikat melati.
Takkan pernah memberikan pistol atau pedang.
agar tak pernah lagi ada perang.
Hingga selamanya, setelah hujan tak ada pelangi.
Ia hanya ingin pergi membuat matahari sendiri.
Membiaskan lumpur yang menggenang
dan air mata yang mengenang.
2009
Rindu Kabut
Suatu pagi aku menemukamu terbelah dua di teras rumah,
tepat ketika hujan selesai mengguyur pekarangan
yang selalu gundah seperti tengah menunggu seseorang di masa lalu,
mungkin aku harus membangunkamu segera
setelah cuaca pagi yang kembali cerah ini beranjak pecah
menjadi serbuk yang menyakitkan tubuh,
atau aku yang akan menjagamu dari dada hujan yang tebal itu,
sebab kau pasti tersengal ketika siuman dan mendapati kakimu
tak bisa lagi berpijak seperti waktu-waktu yang lalu
Kakimu telah menjadi bunga yang hidup dan bernapas,
lewat celah daun-daun kulihat kau yang mulai bangkit
dan membiarkan suara udara itu bersemayam sejenak
sebelum berpindah sambil mendendangkan nada alam yang samar
Kau dengar suara itu? Suara serak di balik keremangan sana,
kepak sayap burung telah sepenuhnya lenyap sore tadi,
ketika seorang penarik pedati bertanya pada perantau
yang ditemuinya di tepi jalan, "di manakah jalan pulang?"
Padahal perantau itu merasa bodoh tentang waktu dan tempat
Kau belum menyimak kisahku itu, tentu, aku sudah di sini
dan duduk untuk menceritakan segala sesuatu, apa saja,
asal kau siuman dan tenang kembali bersamaku
menatap hamparan kabut yang berpendar dalam hening ujung bukit itu
PUISI TENTANG ANAK-ANAK BULAN
1.
dulu, anak-anak bulan senang main origami kapal-kapalan
sewaktu penghujan melahirkan arus luapan kali menuju jalan-jalan kampung
lalu ada dolanan jamuran saat banjir tak lagi tinggal pada bulan-bulan kemarau
: di mana ibu mereka sering berdandan dengan begitu purnama
mereka bilang, kapal-kapalan jauh lebih seru dibanding
berpura-pura melingkar bergandeng-tangan menyanyikan
kidung jamuran yang jadul itu
dan bermain kapal-kapalan tak perlu mendiamkan
pura pada wajah-jujur kita.
2.
sekarang, duduk mengendapkan mata pada layar televisi
atau muka-muka kaca digital lebih jadi jaminan hiburan
tanpa perlu keluar di jalanan kampung
mempelajari mainan nenek moyang
:banjir-banjiran
kapal-kapalan
jamur-jamuran
demikian, mereka jadi tahu
tentang ibubulan yang berpindah tempat
mengungsi karena kebanjiran sepi di setiap jalan-malam.
3.
sekian lama duduk belajar memilih
mana channel yang paling baik ditonton
anak-anak bulan sadar; televisi telah mengurungnya
pada kepala mereka
sedang ibu mereka masih saja menyimpan lagu jamuran
yang siaga diajarkan untuk setiap malam
yang bangun dan lelap pada bola-mata mereka.
4.
rupanya, ada isyarat pembicaraan kecil
suatu ketika pada channel nomor satu
mulut mereka begitu nyaring
membacakan tanya dari televisi,
“hei…hei...
ada wajah siapa di muka layar itu
ada bu guru dan pak guru
yang berdemo di depan sekolah kita
juga ada alat-alat besar itu
dan mau ke mana
bangku-bangku
papan tulis kita?”
rupanya, tanya menuntun mereka
untuk kembali ke pangkuan ibubulan
supaya mimpi tak meleleh di samping nyala doa.
5.
di pinggiran jalan kampung anak-anak bulan menengadah
berhitung tentang bilangan-waktu ramalan
kapan bisa menemui ibubulan lagi
semenjak mereka rajin belajar mencari arah
tanpa kompas dan peta, ke mana namanya diketemukan
selain dalam rupa ibu yang berdandan purnama lagi
lantas bertanya mengapa kata bulan tak dinamakan, padahal
ibubulan masih setia merancang adegan permainan jujur-tawa-rindu
untuk setiap anak yang lahir dan bermain
di setiap kota-malam di setiap zaman
di setiap nyanyian anak-anak bulan;
tradisi yang membuatnya ada dan tanda!
Semarang, 2010
CATATAN
Jamuran: permainan tradisional dari Solo, Jawa Tengah
Dolanan (bahasa Jawa): permainan (bahasa Indonesia)
Ketika Orang-orang di Kampungku Meremas Jantungnya Sendiri
Waktu itu hujan panas dan angin mati pulang ke ibunya. Lalu mereka pun
berjalan di tengah hari terbungkuk-bungkuk
mencari luhak, sekedar menimba air; sekedar minum kopi; sekedar
mandi anaknya. Sekedar saja, kemudian
mereka telah berjalan subuh-subuh dengan punggung tegak,
di pematang. Ketika mata itu belum sepenuhnya berisi terang. Hanya samar
dari pundak mereka, bekas lumpur atau kulit yang terkelupas
telah membusuk sebelum hari naik sepenggalah. Maka jangan mengantuk
di ujung balai, sebelum hujan turun; sebelum air menggelegak; sebelum
gelas kopi terisi penuh.
Jika saja kopi ini terlalu pahit, datang saja. Akan kaudapati
hujan tengah berhenti di tengah kampung.
Kandangpadati, 091021
Tafakur
Di tanah yang akan punah ini usia kita tumbuh dan rubuh
Ia seperti daun-daun hari yang memutih disembelih matahari
Rumah bagi riwayat kita bangun di atas sepetak keluh kesah
Menabung mimpi yang sepi di tahun-tahun yang tenggelam
Membenahi rencana di lembaran-lembaran musim yang fana
Di sinilah di taman purba dunia dahaga iman mengendapkan jelaga
Tafakur kita tersungkur dalam legam sunyi dan misteri
Merangkak di setapak puisi memunguti remah-remah cahaya
Hayatilah nyala kegelisahan yang tak pernah selesai ini
Dengan cinta kita pertautkan temali mimpi pada tiang-tiang zaman
Di sinilah di kebun kepedihan kita tanam benih-benih permenungan
Dan kita pergilirkan silsilah rindu yang tak pernah menyerah
Doa-doa kita dilipat seperti surat yang terkirim tanpa alamat
Ia seperti pohon yang menjulurkan lidahnya pada warna langit
Dengan akar ketabahannya kita lebur dalam sujud yang teduh
Di tanah yang akan punah ini usia kita tergusur dan terbujur
Waktu perlahan akan meredup menutup pintu-pintu masa lalu
Jiwa yang berabad kita dzikirkan akan hilang dan berakhir
Hayatilah nyala kegelisahan yang tak pernah selesai ini
Sebelum kita runtuh dan terbunuh tanpa menyisakan makna
Bandung, Februari 2010
Dari Pesisirmu Luka Berpesiar ke Jantungku
di bulan pengalih tahun. satu lagu masih setia berputar di langit gaza
sepucuk sajak kukirim lewat genit angin yang membelai harap
lalu separuh bulan redup menatap ringkih kematian
di taman-taman pembantaian
di gaza. kota yang kehilangan peta atau barangkali cinta
setiap hela napas adalah detik terakhir mengukur waktu
dan orang-orang tak peduli. masihkah segelas capucino hangat
menenggelamkan nol derajat musim-musim yang gelisah melerai sudah
di gaza. kota yang menyelundupkan nyawa di liku-liku terowongan
burung-burung tajam mengintai nasib
ah, jadi remuk juga kanak-kanakku dalam kenangan
memulung bahagia. di taman-taman pembantaian
dan sesuara kudengar berpesiar dari pesisirmu ke pesisirku
”ini laut kami. kapan lagi kami bisa meneruskan hidup dari laut ini?”
begitulah
deritamu bukan deritaku. tapi luka jantungku
di sepetak meja, aku tak turut merundingi kisahmu. hanya tulis satu puisi
` -tentang derita di genting batas yang tak putus disergap ngilu-
seindah pelukis menggaris liku-liku kamboja di antara dada kekasihnya
tapi kata jadi sederai debu juga. meruap dalam mimpi orang-orang yang dijanjikan
gaza. seperti sebuah lakon
hamletkah yang kau kisahkan? sebagai epilog
Padang, Februari 2009
kampung angin
Kampung Angin
utara
perkenalan diam-diam
daun jambu dan anjing kampung
berpeluk di tanah yang lirih
asmara dari hujan januari
barat daya
musim telah berbagi
tak ada lagi rindu
daun jambu lapuk
dingin yang tak terpahami usia
barat
bergegaslah, perjalanan belumlah genap
dua musim adalah hadiah
pertaruhan dari waktu yang ganjil dan tengil
tenggara
karang dan ombak
ranjang perkawinan bagi sayap
pertukaran untuk para lelah
mencari kelahiran yang tak patah
selatan
beburung berpindah
meninggalkan anak dan cahaya
berlesapan ringan ke langit
menduga kehidupan baru yang biru
barat laut
batu-batu adalah keabadian
kenang yang tak mudah pecah
merupa dupa asap yang bunga
timur
awal dari segala ketakutan
dosa yang tak pernah diinginkan
hujanhujan menyerbu dalam tidur
timur laut
sebuah rancangan rencana
tak diketahui dan
tak akan diketahui
siapa pun?
2010
KAMPUNG INDONESIA
ku tabuh gendang
ku tiupkan seruling
pepohonan menari pada hamparan bumi
menyanyikan lagu-lagu tentang tanah kelahiran
angin membawa irama bungong jeumpa sampai yamko rambe yamko
membaca keindahan taman-taman nusantara pada peta khatulistiwa
menikmati hombo batu, menikmati tari piring
membarakan hentakan reog, membarakan pendet
pada pandangan pemuda-pemuda berpeci dan gadis-gadis berbaju batik
di sinilah catatan sejarah bermula
takkan hilang indonesia di bumi
ku pukul tifa
ku petik hasapi
gemanya menembus dinding hati setiap generasi
memenuhi ruang-ruang sepenuh semesta
menitipkan semangat juang cut meutia sampai dewi sartika
melahirkan kartini-kartini yang penuh dedikasi
menanamkan semangat sisingamangaraja, menanamkan semangat pattimura
lebih besar dari osama, lebih gariah dari obama
dicatatkan sriwijaya, didengungkan sumpah palapa
di sinilah sejarah melegenda
tentang kejayaan nusantara
ku tepuk pak pung
ku petik kecapi
bersama tarian daun-daun, dengung gunung, titik embun, kicau burung
betul-betul senikmat kampung, kampung indonesia
Jambek, 2010
DI BAWAH TUGU GURU PATIMPUS
ada lembaran sejarah, sahdan, tentang catatan
yang terlepas hurup-hurupnya dari meidan bukan mesawang
sebuah pundamen yang melapuk, yang tergerus
membentuk debu-debu, menebal menjadi cerita lain
dalam keniscayaan sebuah perobahan mengekalkan pendulum,
mengekalkan peradaban urban
di sini pedagang kaki lima menjadwalkan singgah
di sini orang-orang jalananmenetapkan segala istirah
di sini keteraturan adalah sekadar alas kaki mengikis daki-daki
bulan dan matahari hanyalah jam langit yang mengisyaratkan
kapan datang dan pergi. lalu, lampu taman yang kadang redup
menarikan iramanya sendiri menuju keabadian para pemimpi
yang sesekali usil mencuri bias-bias matahari dan menitipkannya
diam-diam pada bulan
ada lembaran sejarah, sahdan, terbang entah kemana
bersamaan keterpukauan gerbong-gerbong tua
langsirkan gelisah perempuan-perempuan penari
menghibur para petualang yang sejenak datang
mencatatkan liar pandang, kemudian pergi menembus
bilah-bilah sunyi, mencatatkan sejarah lain menjadi cerita lain
membenam teriak loko hitam, mencampak gumpal asap
ke langit rerak
di sini pernah ada kobaran api berabad silam membara
percik riwayat kisah-kisah semangat juang
di sini pernah ada gegap sejarah mencatatkan awal mula
pemancakan gedung-gedung nan gagah
dan di sini Guru Patimpus berdiri abadi meratapi kisah lain
dari cerita lain tentang anak-anak jalanan, deru knalpot tua
dan perempuan-perempuan berrok mini yang entah kapan datang,
yang entah kapan pergi
Komunitas HP, Medan, 2010
PENGUMUMAN LOMBA CIPTA PUISI INDOSAT PERIODE MARET 2010
SEBOTOL AIR MINERAL BUAT BODE RISWANDI
Ada sepasang nama yang tersaji di mejamu
Kerut kerut kening di wajahmu melahirkan
Ringkik kuda yang mendaki bukit rindu
Rindu yang dikultuskan seberkas wajah
Pada coretanmu.
“Sudahlah, Kinantimu sudah pulang.” Kataku
memecah kebisuanmu yang amat keramat.
“Masih ada sajak untuk meminangnya.” Jawabmu
singkat.
Seperti katamu kemarin. Kayu adalah impian
Yang kau gantung di langit musim basah kali ini.
Bukan kayu yang dihiasi hijau daun daun
Bukan kayu yang disematkan doa doa keramat
Tetapi kayu yang siap menuju perapian rumah-Nya.
Sebotol air mineral yang kuberikan kemarin
Adalah bukti perjuanganmu yang tak kunjung usai
Perjuangan menafsir gerimis yang turun di bukit rindu
Juga perjuangan seberkas wajah yang kau endapkan
di cangkir musim.
“Aku telah meminangnya dengan sajak.” Katamu
Dengan kegembiraan hutan hutan. Mata basah segera
Kau tawarkan pada jerit jangkrik malam ini.
Aku masih menyimpan sebotol air mineral
yang tinggal setengah itu. Sementara sungai puisi
yang kau ciptakan, masih mengalir menuju hilir.
Tasikmalaya, 2010
Plaosan
Angin kerontang memungut sepotong awan
Kepak burung hitam tumbang menampar terik
kaoknya parau bagai sayatan sabit malaikat
Liang semut telah berabad lalu ditinggal penghuni
rengkah
di balik ilalang kering
Sepasang kaki menjejak
pusara sejarah tanpa kamboja
Lahat menganganga
risau menunggu kematian
melenggang tanpa wujud
Di dinding batu yang gelap dan dingin
tangan gaib merangkai ceceran huruf berkabung
Amithba Aksobya Vajprani Manjsuri
Diakah Bodisattva yang bersimpuh
menahan perginya sang Budha?
Arca bergelimpangan tanpa kepala
Oh, pembantaian semalam menyisakan
anyir darah
dan desir kekosongan
Aku Pramudya Wardhani, putri Samaratungga!
Kutebar kuncup melati di atas jasadku
agar semerbak lesap dalam kalbu kekasih
Ingatkah ketika kau letakkan gelora di pucuk-pucuk perwara?
Dua kerajaan langit bertikai
dan menghunus pedang ke jantung kita
Air mata telah mensucikan kenangan
musykil sirna sekalipun pahatan kisah runtuh
bersetubuh puing ganjil
Kelelawar berhambur dengan tengkuk merinding
Suara gemuruh terpantul di lorong sunyi
"Plaosan lambang cinta abadi!"
(Desember 2009)
Jika Dia
Jika dia datang
bilang saja aku sudah pergi
jangan bilang padanya aku ke mana
cukup bilang aku sudah tak ada lagi
Jika dia tanya
bilang saja aku telah lama
jangan bilang padanya kapan aku pergi
dan jangan bilang juga kapan aku kembali
Jika dia tak percaya
bilang saja kau adalah orang yang kupercaya
jangan bilang padanya aku terpaksa
cukup bilang memang ini nyatanya
Jika dia menangisi
bilang saja apa yang ada di kepalamu
jangan bilang bahwa aku menangis juga
cukup bilang memang begini harusnya
(8.3.10)
SAJAK BULAN FEBRUARI
Mendaki Februari yang sepuh di mata-Mu
Adalah menelusuri waktu yang dikeramatkan
Batu cincin. Mencuri kata kata yang diagungkan
penyihir dan penyair. Juga menjaring ikan di kedalaman
tangan tangan penasbih.
Seperti katamu, menjemput tahun adalah
Menyusuri bentangan sungai firdaus di awal
musim, menafsir dzikir dari kemunculannya di hilir
Juga pemasrahan pada kutukan gerimis yang jatuh di mataMu
Tasikmalaya, 2010
DIWAN BATU-BATU
/1/
Akulah batu-batu; Saksi atas bintang-gemintang
yang menua di pematang malam. Saksi bagi matahari
yang mengendap menandai lelangkahmu di punggung bumi.
Akulah batu-batu; Bayang-bayangmu yang kelam memanjang
yang senantiasa suntuk kau dustai. Buku-buku usia
yang ringkih membeku, membatu.
Akulah batu-batu; Ketabahan dan gairah basah sepanjang
musim kemarau dan penghujan. Bilik sepi dari sujud-sujudmu
yang tunjam, namun hilang dari sajadah sejarahmu.
Akulah batu-batu; Kusimpan lengking tangismu pertama
juga lembar demi lembar kesunyian yang memudar
dari aorta, jantung, dan wajahmu yang memar.
/2/
Sehabis mendaki bukit terjalmu.
Aku pun menggelinding turun mengusung luka-luka.
Namun percayalah, aku bukan batu kutuk terlunta!
Lihatlah, aku tak hangus! Dan aku tak mengenalmu
sebagai Sisipus. Aku hilir mudik tujuhkali selayak Sa'i
menemani jiwamu yang terus mencari.
Akulah batu-batu bara yang menghalau pasukan gajah Abrahah.
Batu-batu sohib burung Ababil! Aku sahabat para malaikat! Aku kerabat
ruh segala tetumbuhan, hewan-hewan, dan peri-peri di hutan keramat.
Aku bersenyawa di sungai waktu.
Menjelma Rindu yang kau rindu.
Menjelma Tangis yang kau tangis.
/3/
Akulah batu-batu; Arsiran-arsiran hitam legam
yang meluntur diam-diam dari helai-helai rambutmu.
Jeritan-Jeritanmu tertahan, degupnya erat kugenggam.
Tataplah pepori wajahku yang kerontang.
Hadapilah aku sebelum kau beranjak pulang.
Pungutlah aku, dan sucikan dirimu!
Sebab akulah batu-batu!
Akulah batu-batu Rindumu!
Batu-batu Kasihmu!
Batu-batu Tangismu!
Batu-batu darahmu! Batu-batu nasibmu!
Dan kelak, akulah batu-batu Kuburmu!
/4/
Manaji, pungutlah aku! Dan
lontarkan aku ke tubuh arca-mu.
Biarkan aku luruh
bersama arca-mu runtuh.
Sebab akulah batu
batu fana-mu!
Muntilan, 2010.
pada seutas benang yang menjulur ke langit
ia mencecap amis angin yang terbang di depan rumah
aroma kecut menyeruak
dari karung bekas
yang setiap minggu diangkat
ia mengibas seikat kenangan
kenangan waktu yang dirangkai
pada seutas benang yang menjulur ke langit
dulu pernah terjadi,
ketika ia menghitung detak jam
meniris keringat yang bau
mengusap peluh yang melekat di dahinya
ia terus merajuk pada nasib
di depan pintu yang sepi
menyusun angan di kepalanya
mengorek kata yang tepat
tapi ia gagal memilihnya menjadi sebuah pesan yang membalut kesunyian
gundah terpuruk di tumpukan sampah
resah bersemi di kedalaman jiwa
air mata hanyalah lintasan kesedihan
yang menghiasi warna pagi dan petang
menjadi buih liar menebar di halaman wajahnya
orang orang menyisir angin memuja waktu
tapi ia memahat udara di bawah terik
ada bahagia yang ditinggalkan
langkahnya merubah masa
meninggalkan tapak tapak yang diraba debu
sepenggal hari tak sekadar mampir di benak siang
di hamparan sampah tanpa aksara
ia menjadi sajak elegi yang membumbung ke langit
agustus, dua ribu delapan
ia mencecap amis angin yang terbang di depan rumah
aroma kecut menyeruak
dari karung bekas
yang setiap minggu diangkat
ia mengibas seikat kenangan
kenangan waktu yang dirangkai
pada seutas benang yang menjulur ke langit
dulu pernah terjadi,
ketika ia menghitung detak jam
meniris keringat yang bau
mengusap peluh yang melekat di dahinya
ia terus merajuk pada nasib
di depan pintu yang sepi
menyusun angan di kepalanya
mengorek kata yang tepat
tapi ia gagal memilihnya menjadi sebuah pesan yang membalut kesunyian
gundah terpuruk di tumpukan sampah
resah bersemi di kedalaman jiwa
air mata hanyalah lintasan kesedihan
yang menghiasi warna pagi dan petang
menjadi buih liar menebar di halaman wajahnya
orang orang menyisir angin memuja waktu
tapi ia memahat udara di bawah terik
ada bahagia yang ditinggalkan
langkahnya merubah masa
meninggalkan tapak tapak yang diraba debu
sepenggal hari tak sekadar mampir di benak siang
di hamparan sampah tanpa aksara
ia menjadi sajak elegi yang membumbung ke langit
agustus, dua ribu delapan
Kura-Kura dalam Tubuhmu
Malam-malam sekali ada ombak berjalan ke tubuhmu. Aku pikir itu laut yang tiba-tiba
kalut dan takut kalau hujan tak lagi mau turun. Hujan pasir. Hujan lambaian nyiur
di pantai itu, yang diam-diam memanggil kura-kura ke pinggiran. Meninggalkan telur.
Menyampaikan rindu yang lain dari bekas-bekas tetasan yang tak pernah kembali.
Kura-kura itu berjalan ke tubuhmu. Aku takut kura-kura itu akan memakanmu yang sedang
lelap dalam tidur memimpikan sepasang kepiting yang tak lagi berjalan miring. Kepiting anjing
yang menggonggong malam-malam. Kepiting kuda yang meringkik meminta penggembalaan
seperti domba-domba lain yang pernah kauceritakan dalam suratmu itu.
Malam-malam sekali bantal itu berkhianat pada janji untuk memberimu sepasang mimpi
lain tentang caranya bercinta sambil melenguh-lenguhkan namaNya sebelum ada kura-kura
yang berjalan ke tubuhmu. Kura-kura itu mungkin sekali adalah gadis empat belasan yang
pernah kau cumbui di halaman sekolah. Lalu kau bekap ia dengan sebuah bantal yang
kini berkhianat di tidurmu.
KASIDAH TERAKHIR
- ALMARHUM WAN ANWAR
Sepagi inikah harus kulepas engkau ke utara ?
menuju pulau asing
mengarungi samudera yang belum tersentuh
melepasmu ke dermaga nan jauh.
Sebenarnya kita sama-sama tak kenal
belum ada janji untuk tatap muka
maupun sekedar minum kopi kental.
Namun bahasa jantungmu,
bahasa ginjalmu
jauh-jauh waktu telah kucermati dengan seksama
sebagaimana kucermati setiap titik gerimis
yang kerap menghujam Cianjurmu
yang dingin.
Sepagi inikah harus kututup November ini dengan sunyi?
menyeka dada dengan kabar pilu
berita kehilangan yang ungu.
Sebenarnya kita sama-sama tak kenal
belum ada janji untuk tatap muka
maupun sekedar minum kopi kental.
Setidaknya pernah kau baca tempo hari
rangkaian kata yang sempat kuanyam
tentang tragedi kota luka.
Sepagi inikah harus kulepas engkau ke utara?
mengikuti arah maut
yang datang selalu tergesa.
CIWIDEY, NOVEMBER 2009
tentang orang yang bicara sengau
: empat tanya mak dan petuahnya
satu
orang sekarang yang tak lagi berjalan
meski bicara banyak hal dalam kotak-kotak partikulir
kusampaikan itu pada mak
pulang yang tertunda baiknya kubicarakan saja
tapi mak berkata; orang-orang berbicara sengau
seperti menyembunyikan sesuatu; bau mulutnya sendiri
dua
bagaimana kau rupakan air mukamu, nak?
sementara mataku mulai lamur
kusampaikan pada mak tentang kuasa ilmu
kuasa niscaya tawajuh melebihi sihir; tri-ji dan setelahnya
tapi mak berkata; muka orang-orang terlihat samar
seperti menyembunyikan sesuatu; air mukanya sendiri
tiga
kata mak orang-orang masih tetap bersuara parau
dan airmukanya tak bercahaya
kusampaikan pada mak tentang kuasa globalisasi
kuasa niscaya uang di negeri-negeri tak bertepi
tapi mak berkata; orang-orang terlihat tergesa-gesa
seperti mengeluarkan sesuatu; kotorannya sendiri
empat
mak akhirnya berkata
bicaralah baik-baik, pelan-pelan dan seadanya
katakan saja kerinduan adalah kuasa persuaan
setelah kata-kata habis diucapkan
19/02/2010
Aku Kini Menjemputmu
tiba-tiba aku membayangkan kita adalah burung kecil yang terbang,
ketika gerimis turun mengecup langit senja. ribuan pohon-pohon
yang basah dengan terpaksa, mengusir kita. lantas kucari atap-atap teduh
di antara gedung-gedung yang menggigilkan peristiwa muasal kita.
tiang-tiang listrik yang seolah-olah ingin melesat menuju angkasa.
sementara mereka hanya tertancap dikepung kabut jalan raya.
kita memang pernah diciptakan dengan sayap gemerlapan, jauh
sebelum cahaya bersujud pada kita. dan api memilih pengkhianatannya.
kita juga tinggal di taman yang separuhnya terkena terik matahari hangat
dan separuhnya lagi terbasahi hujan –geliat semak belukar, pohon-pohon
yang menjatuhkan apel hijau ke tepian sungai. tapi aku dan kau,
telah lebih memilih cinta. lebih tergoda dengan lampu-lampu kota,
dan riak telaga berangsa. yang sesekali kita kunjungi di saat
merasa perlu meneteskan airmata.
kusayangkan semua itu pada waktu yang terus bergelora di langit jingga.
di mana gerimis memang terasa pahit bagai ujung pisau tembaga.
sebab itulah jarak kita yang kini telah kuhancurkan dalam kerinduan.
lama kunantikan, sejak engkau menetas di rahim ibumu,
dan aku kini menjemputmu. aku membayangkan lagi, bila kita mampu
menjawab pertanyaan di antara sesak iklan dan berita menggelikan.
maka aku sudah sampai pada pengembaraan adam. haruskah
memilih ruas tulang yang hilang, di kantor perusahaan, mal atau swalayan.
meskipun, sejak berabad silam, kuharapkan pertemuannya
di tepian pantai, di mana angin menyapa bersama ombak lembut.
atau paling tidak, di sebuah taman yang hangat dan dinginnya
sedikit mengingatkan pada pohon terlarang.
: dan sekarang, bukankah kini adam ada pada diriku, terpuasakan oleh cintamu.
Bandung, 2010
PENINGGALAN KALENDER DI BULAN MARET
untuk sebuah keluarga dusun di wonogiri
I
seketika itu, engkau jadi usia sumur yang sering kali
engkau timba setiap pagi hari sebelum engkau pergi beli
sarapan untuk dua anak yang sering kali
berebut uang jajan sekolah
-waktu itu ternyata air belum langka,
seperti uang-
II
ada arah lain yang merangkai jalan setapak menuju
kebun kopi yang pernah engkau mohonkan pada musim
yang menyebabkannya;
sementara pencuri-pencuri kecil yang tak diduga menanam kesal
pada ranting pohon-pohon anggur di hampir setiap purnama
-kebun kopi milikmu telah berbicara banyak padaku
mengenai arah pencuri yang menyisakan biji-biji anggur
di bawah dahannya-
III
saat bulan belum lengkap dan panen belum genap
pada suatu masa tanggal-tanggal menghitung jarak yang engkau
bilangkan kepada kesederhanaan rindu: pakaian yang senantiasa
engkau tanggalkan di hari-hari telapak-tangan-doamu,
gubuk ternyata tak cepat lupa mengingat tangan siapa
yang lumpur karena doa
saat panen belum genap dan bulan belum lengkap
selalu saja ada lipatan senyum yang sabit berarakkan
dari ladang-ladang ketela menuju pintu rumahmu
tempat kalender berdiam pada kedua pipiku
lalu kubaca salammu yang tinggal di bulan ketiga
: simpanlah kami baik-baik untuk engkau bawa
sebagai tanda dan doa.
2010
Bincang Bintang
suatu kali kau bergumam,
"Aku telah mati lama sebelum ini,
saat menggigit segaris nadi yang
katanya membuatku abadi".
kau jelas mengelak saat aku
tanya apa yang
kau bicarakan diantara kabut
asap rokokmu.
kau malah bertanya,
mengapa aku menyukai masa lalu,
sejak caya bintang yang sering kupuja
dalam sajak adalah
pesan yang tersesat dan terkatung
sebelum akhirnya
tiba hanya untuk mengabarkan
"Aku menua, barangkali kini meniada."
melampaui perkara kini atau lalu,
tetap saja bintang memikatku,
sebagaimana cinta.
bukankah terkadang cinta
lebih cantik dari jauh, kita tak usah
cemas hangus atau sekadar gemetar
bersipandang dengan
kegelapan yang
jujur dan pekat?
barangkali kau benar.
jika tak lagi berwarna
cahaya tetaplah bernyawa
meski adanya gelap semata
serupa kerinduan
yang kekal dan bengal
tersengal saat mengetuk
dengkur halusmu
subuh tadi.
Dzikir
bersama gelap dan sunyi
berkaca diri pada kedalaman hati
mengapa hidup mesti ditawar
bila kita tak sanggup membayar
kita seperti musafir yang disesatkan angin
tak henti mengudap mimpi di siang hari
sementara jemari kita letih menghitung nasib
dan membiarkan jiwa kerontang dimakan usia
subhanallah
satu tarikan nafas
segenap karunia Tuhan meruah luas
alhamdulillah
sedetik jantung berdetak
semilyar cahaya rahmat melesak
la ilahailallah
setetes aliran darah
seluas samudera hikmah mengurai anugerah
allahu akbar
setitik denyut nadi
segala daya insani membuncahkan energi
telah jauh menempuh perjalanan
namun kita lupa untuk pulang
seperti selembar puisi lusuh yang kita simpan
dimakan ngengat dalam lemari ingatan
kapan lagi kita membaca umur
yang berlumut oleh angin dan hujan ?
dengarkan suara cicak bergunjing
membicarakan kita yang alpa membaca doa
seperti musim-musim yang berlari
meninggalkan cuaca di halaman rumah kita
pejamkan mata dari pandangan
tumpulkan rasa dari kenikmatan
tanggalkan pakaian kemunafikan
lantunkan lafal dengan perlahan
subhanallah walhamdulillah wala ilaha ilallah allahu akbar
Tirtomoyo, 19 Maret
Partitur Hujan
apakah ini yang kau sebut dengan rindu?
jika daun-daun telah basah, dan tanah-tanah
meruapkan namamu, untuk kuhirup
bersama kenangan.
ketika segalanya, menjadi kesenyapan
yang tak bisa lagi ditawar.
jalan-jalan atau bahkan gedung-gedung
terasa mengenakan mantel, sedangkan
aku sendirian kedinginan
menggigil, seraya ingin mengucapkan cinta
pada api, pada lampu-lampu
dan pada apapun itu
yang mampu mencairkan kehendakku.
saat jarak seolah-olah sekeras batu.
dan ciuman tak pernah kunjung tiba.
sungguh aku telah menjadi
nyanyian yang dihiraukan,
ribuan titik jarum tak tertahankan
menikam ke ulu jantung ingatan.
Bandung, 2009
di Pinggir Batavia
semalam kereta berhenti di pinggir Jakarta
malam sangatlah setia menjaga lajunya
hingga tak rela pagi membuncah di sela kaca
mungkin si malam terlalu cemburu pada pagi buta
ah malam, kau tak perlu terlalu cemburu
pagi ini ribuan orang sudah terburu-buru
beradu cepat dengan pagi untuk tiba di Jakarta
tak seperti tadi malam dimana mereka pulas kau jaga
lalu pagi yang singkat cepat berlalu atau mungkin tak ada pagi di sini
karena rasa pagi dengan cepat pula ditelan habis oleh aroma Jakarta
tak tercium aroma teh hangat dalam gelas kaca pagi
hanya wajah-wajah tergesa menempel di sela kaca kereta
dan sepulang dari stasiun dalam fajar yang menggempur sisa malam
kota ini sudah berantakan dengan roda-roda yang menggilasi jalan
oh ,apa yang mereka cari di ujung jalan sana?
di ujung jalanan yang salah urus dan penuh nestapa
: terkadang mereka menyebutnya penghidupan, terkadang saya sebutnya keserakahan, terkadang mereka menyebutnya kebahagiaan saya berani menyebutnya air mata
( Stasiun Bekasi, 19 Maret 2010)
balada para dewa
begitu malam menampakkan wajahnya
orang-orang gegas merapikan langkah
“jangan ada satu jejak pun tertinggal
apalagi berkeras berdiam di sudut kegelapan
kita harus kembali pada rahim peraduan
sebelum gigil memporakporandakannya
hanya ada satu obor yang dibiarkan tetap menyala
menyambut kedatangan para dewa”, tegasnya.
ya, memang benar
kini kami mulai mendengar derap langkah itu
dari kejauhan terlihat seperti nyata, namun tak tampak
satu persatu tak tiknya berkeliaran dalam ruang tengah telinga
mengental dalam larutan keheningan
memaksa setiap pendengaran tetap bersetia
menghitung tiap detak, mengukur jejarak
sampai benar-benar tak adalagi yang berderap dan berjarak
kegelapan dan bunyi kecapi sunyi mengiringi kedatangan
harum keresahan semakin menyengat
langit-langit mata kami berubah menjadi kuning langsat
menyaksikan, mendengar balada para dewa
“kami datang membawa bebungkus doa yang kalian panjatkan sejak subuh tadi
kami datang membawa sekantong keringat dan selembar airmata yang terkoyak
di balik langit, kami datang membawa sebongkah mimpi yang tergolek di bibir senja
dan kami datang tidak untuk menggenapkan doa-doa, tapi kami datang hanya
mengambil sedikit angka dalam tubuh, kami datang memungut
sedikit nafas dari mimpi-mimpi kalian”.
siapa yang masih bertahan atau berapa yang lari dari kenyataan
semua tercatat pada tiap lelembar tanah—
sesuatu kepahitan dan keindahan yang takkan terlupakan sepanjang zaman peradaban
akan didapatkan setiap insan”, tegasnya.
demikianlah kami menutup malam setiap harinya
memersiapkan sesaji
mendengarkan balada para dewa
sambil memungut kata-kata yang bergelincatan dari bibir tuanya
barangkali berkah tak lari ke mana
sambil mengemas musim pulang
Maret, 2010
Kampung dalam Aquarium
ke pemancingan mana lagi kautumpahkan rindu
melumutkan kecemasan pada lendir umpan
dan mata kail yang lapar
agar ikan-ikan mau kaubujuk bercerai dengan lubuk
dan pulang ke kampung penggorengan
pelengkap hidangan di meja makan
kau tahu, sejauh-jauh pergi menyisir bibir sungai,
hanya untuk mencari air keruh,
ikan-ikan pilihan tak akan memakan umpan dalam kejernihan
kau tinggalkan hulu yang hening-bening
muasal segala arus terus menghanyutkan
anak-anak pantau dengan sejarah hambar
entah arah mana akan mereka tuju
sebut saja, kampung berair jernih berikan jinak;
berair keruh berikan liar;
berair tawar berikan banyak
alamat kepulangan yang pahit
aku beritahu, andaikata pemancinganmu sia-sia, pulanglah.
aku dan ikan-ikan yang sering kauburu
setelah penggusuran itu
kini tinggal di kampung baru
mendekam di kamar air empat persegi
pada sebuah ruang tamu tidak berhulu-bermuara
hanya gelembung-gelembung dihembus tenaga listrik
juga kincir-kincir plastik
batu-batu buatan dan lukisan karang di balik kaca
terasa seperti menyelam-melintas di antara
tanjung dan teluk kampung pesisir yang tenang
meski tidak ada kapal-kapal berbenah
bagi pelayaran para pelaut
apalagi jejaring pukat ikan karang
bertandanglah, oi pemancing
bukankah sungai-sungai yang menghilir
dari hunjaman kaki-kaki hujan sudah tidak mampu menafsirkan kehendak air matamu
dan kerinduan tidak selamanya mesti dipuaskan dengan tancapan mata kail di rahang ikan yang rakus
aku bayangkan kau datang
sebelum insangku sempurna jadi karang
menyematkan mata kail
di setiap saku baju para tamu
sungai naniang, 20
Gendang
Sampai takdir mengirim perempuan tuli ke tempat paling sepi:
tak ada lagu kayu-kayu, bunyi-bunyi besi atau suara ranting patah
menimpa genting rumah. Tak ada.
Hanya keluh penabuh dan teriak penyorak yang mengoyak telinga
hingga untuk pertama kalinya, perempuan itu pun akhirnya menangkap
dengar.
Barangkali, karena kemurahan hati atau rasa syukur yang terlanjur.
Sebut saja pengorbanan atau perampasan. Ketika kulitnya yang halus
mulus dikecup kilau bibir pisau, di tangan si ahli. Maka sempurnalah
luka-lukanya.
Ketika semuanya ditabuh, semuanya disentuh, semuanya bergemuruh.
Tinggal sepenggal luka dibawa lari sapi-sapi.
Bandung, 20
Ketika Hujan
Apa yang hendak kau cari, selain teduh. Mendekatlah. Tengah
kudirikan api sebagai pengganti matahari. Keringkanlah segala
yang basah. Sementara kusembunyikan bajumu di tempat paling
rahasia. Pakai sarung itu. Jangan balut tubuhmu dengan rambut.
Cintailah aku. Kau perempuan yang tiba-tiba datang dari rimba
hutan dan belukar hujan.
Kelak
Setelah reda. Kau menjadi istri atau ibu dari anak-anakku.
Kemudian kau temukan baju yang dulu sempat kusembunyikan.
Jangan tanya siapa pelakunya, atau diam-diam kau memakainya lagi.
Sebab ini tanah dan rumah-rumah berbeda dengan tempatmu yang entah.
Sepertilah denganorang-orang itu.
Biar mereka tak bertanya-tanya mula, menduga-duga asal.
Kedatanganmu yang memang sukar dikabar.
Barangkali, ini takdir yang salah. Kau bertamu ke tempat yang salah.
Aku berikan jamuan yang salah dan kita bercinta dengan cara yang salah.
Tapi, biarlah. Segalanya telah tumpah.
201
Sajak Pengantar
Sebab kepergianmu yang terburu-buru. Maka aku tulis sajak ini, sebagai
pengantar perjalananmu yang basah, menuju rumah tempat singgah segala
yang bermula dari tanah.
Beristirahatlah. Meskipun luasnya tak sama dengan rumah sewaanmu yang dulu.
Tapi, setidaknya cukup aman dan nyaman untuk berbaring tanpa harus berpusing
memikirkan biaya listrik, air atau sewa bulanan. Beristirahatlah, tenang. Sesekali
orang-orang datang memberimu sebotol air dan beberapa lembar cahaya.
Sebenarnya, aku tak ingin bersedih. Tapi sedang. Tapi, sudahlah. Lagi pula,
kau sudah jauh pergi. Dan barangkali di sini sudah tak aman lagi, untukmu
menikmati hidup, berdemonstrasi atau sekedar mencari calon istri.
Memang. Dalam setiap kepergian selalu ada yang disisakan. Maka, biarlah
kuamankan namamu dalam sajak ini, di samping rasa tidak enak, di bawah
kesedihan yang sudah aku tulis, sebelumnya.
201
Tujuh Belas Yard dari Hari Esok
kembalilah, wahai masa lalu yang pernah kurelakan
tiada pulang yang bisa kalian tempuh
selain pada aku yang tubuh, waktu yang tersepuh.
tujuh belas yard dari hari esok
adalah bayang-bayang yang terpelosok
dalam ingatan kita, tentang kekasih.
jalan yang sesak oleh pesta
kini sudah seperti merayakan sajak dengan dusta.
aku inginkan melaju jauh ke paling fana
membawa rindu yang membeku
pada dinding-dinding benteng lintasanmu.
sudah tiba waktunya, kita rela mabuk
sebelum tempat-tempat semakin asing.
air mata yang ngalir dari sepasang hilir
tanpa tujuan, tanpa akhir.
jarak adalah tanda bagi gerbang tak bernama
untuk membuka luka. manakala tak ada sesiapa
yang menantikan kedatangan kereta di depan nasib kita.
Stasiun Bandung, 2010
Aku Akan Selalu Berteman Musim yang Kau Tinggalkan
�
Aku akan selalu berteman musim yang kau tinggalkan
dalam tidurmu bersama waktu. Tahun-tahun terpenggal,
merangkum semua hujan yang turun jadi ngungun.
Hari menetas dan tiba-tiba saja terlepas.
Suara kecilku menjerit-jerit dalam tubuh
yang telah sunyi kini. Memanggil-manggil kenangan
dan sisa percakapan separuh bulan.
Aku akan selalu berteman musim yang kau tinggalkan
dalam tidurmu bersama waktu. Berkawan cahaya senja
yang berayun di pucuk-pucuk ilalang di depan rumah kita.
Membuka pintu-pintu sajak yang telah kau bangun
dengan cinta. Mungkin dapat kumasuki sebuah rahasia
dari kata-kata di langit rekah. Atau akankah selalu
kutampung mendung yang kini mulai terapung.
Serang, 200
SAJAK CINTA DI UMUR ENAMPULUH EMPAT TAHUN
dalam perbincangan seusai senja itu
kau terasa begitu puisi:
pasir pantai dan rinai rinai
hujan di masa kecilku menari nari dan menganaksungai
di kedalaman lesung pipimu.
o demi kedua bola matamu yang sendu
kugosokkan kedua telapak tanganku agar hangat. agar lamat lamat
dapat kusekakan tangismu. dan kupindahkan duka
dan kupindahkan airmata
ke wajah rembulan yang nestapa.
bibir atas dan bibir bawahmu
yang merah muda mengeluhkan cintaku yang
menurutmu semakin habis saja. getarnya pelan dan lemah.
seperti kesunyian yang rutin merangkak rangkaki punggung kota. aku diam.
aku selalu diam kalau sedang duka atau jatuh cinta.
ah, sekarang kaupun ikut diam. suara jangkrik dan rayuan jalang
bunga bunga di bawah jendela
menggantikan keluhanmu. sebuah radio buruk di atas meja
berkisah tentang sepasang kekasih yang saling menikam.
—cara yang bagus untuk bunuh diri. sementara malam semakin kelam
dan bulan memucat seperti geliat sepi.
menatap kulit pipimu yang kuning
dan harum mengingatkanku akan ciuman ciuman
yang dulu saling kita berikan. bagai kupu kupu yang tidak kian
lelah mengepakkan sayapnya yang biru kehijau hijauan.
tetapi di pipimu yang kuning dan harum itu
kini ada sebaris peringatan dan tanda seru:
“o cintamu telah berkurang!”
dadaku sesak membayangkan kau menangis di kamar kecil di malam malam
ketika aku pulas tertidur dan tak sadar bahwa cintaku telah berkurang.
waktu tak pernah ambil pusing dengan permasalahan kita. dengan
airmatamu dan diamku. atau
dengan bibir merah mudamu dan sisa sisa ciumanmu di leherku.
waktu terus saja menjalankan tik toknya
seperti cicak terus terus membunyikan cak caknya.
tetapi bukanlah waktu yang membikin kita harus bersegera
melainkan aku yang tidak ingin
membuatmu jadi kering dan tua: bagaimana kalau kita
selesaikan saja
cinta ini dengan pucat?
di atas meja di dalam kaca jendela
sebuah radio buruk
kembali
menggumamkan berita
tentang sepasang
kekasih
yangbunuhdiri.
(2009
Dzikir Perempuan
Berabad dzikirku menjelma seribu tetes cinta di atas batu-batu takdir
Sajadahku adalah hamparan puisi yang sunyi di taman sejarah
Rindu yang kuriwayatkan melahirkan gemuruh aroma kesedihan
Rahimku melantunkan musim-musim yang sepi dalam kehidupan
Barisan lelaki tak henti menyanyikan lagu sumbang pengkhianatan
Harapanku karam dan tenggelam dalam bahasa kaum pemerkosa
Dzikirku lahir dan bergulir di dalam penjara-penjara gelap penindasan
Menggeliat melawan birahi kekuasaan, menampar hasrat zaman
Suaraku adalah berjuta jiwa yang meronta dalam belenggu tradisi
Menafsir isyarat Tuhan dalam manuskrip-manuskrip lusuh dan berdebu
Mimpiku merapat pada barisan ilalang yang tegak menunjuk terang
Menyusun akar cahaya di atap langit dan ladang-dalang harapan
Kubangkitkan huruf-huruf dan suaraku tengadah mewarnai dunia
Merentangkan sayap-sayap cinta dalam ruang derita yang gulita
Kuberi napas hak yang sempat terhempas badai purba kedzaliman
Kulangkahkan kaki mendaki bukit-bukit memanjat kemerdekaan
Jiwa kita sama di mata alam, kehadiran kita sama di mata Tuhan
Terimalah, terimalah getar dzikirku dalam tebing-tebing pikiranmu
Karawang 201
Drupadi
Biarkan langit mengagungkan kecantikan wajahmu
sebab awan belum menjadi bagian yang sesungguhnya.
angin adalah tempat pertemuan burung-burung
pertemuan dari setiap doa, mantra dan puja-puja
kau yang mengantar lewat tangan kanan dan jari-jarimu
menguap beribu wangi kekhawatiran
menyatu di sudut matamu yang beraliran
akan ada maut datang tanpa salam
menerjemahkan mata busur satu persatu
lalu meminang dan melesat ke palung udara
membaca setiap gerak bibirmu yang samar
memegang tanganmu yang bergetar
atau meraba wajahmu yang basah dan pasrah
aku bukan bagian dari sajak-sajak
atau dewa-dewa yang menundukan dagumu
aku juga bukan doa, mantra dan puja-puja
aku adalah lelaki pengukur waktu
sibuk mengemas keinginan sendiri
dan mencari apa arti mati
Maka biarkan langit mengagungkan kecantikan wajahmu
sebab awan belum menjadi bagian yang sesungguhnya.
201
Ada sepasang nama yang tersaji di mejamu
Kerut kerut kening di wajahmu melahirkan
Ringkik kuda yang mendaki bukit rindu
Rindu yang dikultuskan seberkas wajah
Pada coretanmu.
“Sudahlah, Kinantimu sudah pulang.” Kataku
memecah kebisuanmu yang amat keramat.
“Masih ada sajak untuk meminangnya.” Jawabmu
singkat.
Seperti katamu kemarin. Kayu adalah impian
Yang kau gantung di langit musim basah kali ini.
Bukan kayu yang dihiasi hijau daun daun
Bukan kayu yang disematkan doa doa keramat
Tetapi kayu yang siap menuju perapian rumah-Nya.
Sebotol air mineral yang kuberikan kemarin
Adalah bukti perjuanganmu yang tak kunjung usai
Perjuangan menafsir gerimis yang turun di bukit rindu
Juga perjuangan seberkas wajah yang kau endapkan
di cangkir musim.
“Aku telah meminangnya dengan sajak.” Katamu
Dengan kegembiraan hutan hutan. Mata basah segera
Kau tawarkan pada jerit jangkrik malam ini.
Aku masih menyimpan sebotol air mineral
yang tinggal setengah itu. Sementara sungai puisi
yang kau ciptakan, masih mengalir menuju hilir.
Tasikmalaya, 2010
Plaosan
Angin kerontang memungut sepotong awan
Kepak burung hitam tumbang menampar terik
kaoknya parau bagai sayatan sabit malaikat
Liang semut telah berabad lalu ditinggal penghuni
rengkah
di balik ilalang kering
Sepasang kaki menjejak
pusara sejarah tanpa kamboja
Lahat menganganga
risau menunggu kematian
melenggang tanpa wujud
Di dinding batu yang gelap dan dingin
tangan gaib merangkai ceceran huruf berkabung
Amithba Aksobya Vajprani Manjsuri
Diakah Bodisattva yang bersimpuh
menahan perginya sang Budha?
Arca bergelimpangan tanpa kepala
Oh, pembantaian semalam menyisakan
anyir darah
dan desir kekosongan
Aku Pramudya Wardhani, putri Samaratungga!
Kutebar kuncup melati di atas jasadku
agar semerbak lesap dalam kalbu kekasih
Ingatkah ketika kau letakkan gelora di pucuk-pucuk perwara?
Dua kerajaan langit bertikai
dan menghunus pedang ke jantung kita
Air mata telah mensucikan kenangan
musykil sirna sekalipun pahatan kisah runtuh
bersetubuh puing ganjil
Kelelawar berhambur dengan tengkuk merinding
Suara gemuruh terpantul di lorong sunyi
"Plaosan lambang cinta abadi!"
(Desember 2009)
Jika Dia
Jika dia datang
bilang saja aku sudah pergi
jangan bilang padanya aku ke mana
cukup bilang aku sudah tak ada lagi
Jika dia tanya
bilang saja aku telah lama
jangan bilang padanya kapan aku pergi
dan jangan bilang juga kapan aku kembali
Jika dia tak percaya
bilang saja kau adalah orang yang kupercaya
jangan bilang padanya aku terpaksa
cukup bilang memang ini nyatanya
Jika dia menangisi
bilang saja apa yang ada di kepalamu
jangan bilang bahwa aku menangis juga
cukup bilang memang begini harusnya
(8.3.10)
SAJAK BULAN FEBRUARI
Mendaki Februari yang sepuh di mata-Mu
Adalah menelusuri waktu yang dikeramatkan
Batu cincin. Mencuri kata kata yang diagungkan
penyihir dan penyair. Juga menjaring ikan di kedalaman
tangan tangan penasbih.
Seperti katamu, menjemput tahun adalah
Menyusuri bentangan sungai firdaus di awal
musim, menafsir dzikir dari kemunculannya di hilir
Juga pemasrahan pada kutukan gerimis yang jatuh di mataMu
Tasikmalaya, 2010
DIWAN BATU-BATU
/1/
Akulah batu-batu; Saksi atas bintang-gemintang
yang menua di pematang malam. Saksi bagi matahari
yang mengendap menandai lelangkahmu di punggung bumi.
Akulah batu-batu; Bayang-bayangmu yang kelam memanjang
yang senantiasa suntuk kau dustai. Buku-buku usia
yang ringkih membeku, membatu.
Akulah batu-batu; Ketabahan dan gairah basah sepanjang
musim kemarau dan penghujan. Bilik sepi dari sujud-sujudmu
yang tunjam, namun hilang dari sajadah sejarahmu.
Akulah batu-batu; Kusimpan lengking tangismu pertama
juga lembar demi lembar kesunyian yang memudar
dari aorta, jantung, dan wajahmu yang memar.
/2/
Sehabis mendaki bukit terjalmu.
Aku pun menggelinding turun mengusung luka-luka.
Namun percayalah, aku bukan batu kutuk terlunta!
Lihatlah, aku tak hangus! Dan aku tak mengenalmu
sebagai Sisipus. Aku hilir mudik tujuhkali selayak Sa'i
menemani jiwamu yang terus mencari.
Akulah batu-batu bara yang menghalau pasukan gajah Abrahah.
Batu-batu sohib burung Ababil! Aku sahabat para malaikat! Aku kerabat
ruh segala tetumbuhan, hewan-hewan, dan peri-peri di hutan keramat.
Aku bersenyawa di sungai waktu.
Menjelma Rindu yang kau rindu.
Menjelma Tangis yang kau tangis.
/3/
Akulah batu-batu; Arsiran-arsiran hitam legam
yang meluntur diam-diam dari helai-helai rambutmu.
Jeritan-Jeritanmu tertahan, degupnya erat kugenggam.
Tataplah pepori wajahku yang kerontang.
Hadapilah aku sebelum kau beranjak pulang.
Pungutlah aku, dan sucikan dirimu!
Sebab akulah batu-batu!
Akulah batu-batu Rindumu!
Batu-batu Kasihmu!
Batu-batu Tangismu!
Batu-batu darahmu! Batu-batu nasibmu!
Dan kelak, akulah batu-batu Kuburmu!
/4/
Manaji, pungutlah aku! Dan
lontarkan aku ke tubuh arca-mu.
Biarkan aku luruh
bersama arca-mu runtuh.
Sebab akulah batu
batu fana-mu!
Muntilan, 2010.
pada seutas benang yang menjulur ke langit
ia mencecap amis angin yang terbang di depan rumah
aroma kecut menyeruak
dari karung bekas
yang setiap minggu diangkat
ia mengibas seikat kenangan
kenangan waktu yang dirangkai
pada seutas benang yang menjulur ke langit
dulu pernah terjadi,
ketika ia menghitung detak jam
meniris keringat yang bau
mengusap peluh yang melekat di dahinya
ia terus merajuk pada nasib
di depan pintu yang sepi
menyusun angan di kepalanya
mengorek kata yang tepat
tapi ia gagal memilihnya menjadi sebuah pesan yang membalut kesunyian
gundah terpuruk di tumpukan sampah
resah bersemi di kedalaman jiwa
air mata hanyalah lintasan kesedihan
yang menghiasi warna pagi dan petang
menjadi buih liar menebar di halaman wajahnya
orang orang menyisir angin memuja waktu
tapi ia memahat udara di bawah terik
ada bahagia yang ditinggalkan
langkahnya merubah masa
meninggalkan tapak tapak yang diraba debu
sepenggal hari tak sekadar mampir di benak siang
di hamparan sampah tanpa aksara
ia menjadi sajak elegi yang membumbung ke langit
agustus, dua ribu delapan
ia mencecap amis angin yang terbang di depan rumah
aroma kecut menyeruak
dari karung bekas
yang setiap minggu diangkat
ia mengibas seikat kenangan
kenangan waktu yang dirangkai
pada seutas benang yang menjulur ke langit
dulu pernah terjadi,
ketika ia menghitung detak jam
meniris keringat yang bau
mengusap peluh yang melekat di dahinya
ia terus merajuk pada nasib
di depan pintu yang sepi
menyusun angan di kepalanya
mengorek kata yang tepat
tapi ia gagal memilihnya menjadi sebuah pesan yang membalut kesunyian
gundah terpuruk di tumpukan sampah
resah bersemi di kedalaman jiwa
air mata hanyalah lintasan kesedihan
yang menghiasi warna pagi dan petang
menjadi buih liar menebar di halaman wajahnya
orang orang menyisir angin memuja waktu
tapi ia memahat udara di bawah terik
ada bahagia yang ditinggalkan
langkahnya merubah masa
meninggalkan tapak tapak yang diraba debu
sepenggal hari tak sekadar mampir di benak siang
di hamparan sampah tanpa aksara
ia menjadi sajak elegi yang membumbung ke langit
agustus, dua ribu delapan
Kura-Kura dalam Tubuhmu
Malam-malam sekali ada ombak berjalan ke tubuhmu. Aku pikir itu laut yang tiba-tiba
kalut dan takut kalau hujan tak lagi mau turun. Hujan pasir. Hujan lambaian nyiur
di pantai itu, yang diam-diam memanggil kura-kura ke pinggiran. Meninggalkan telur.
Menyampaikan rindu yang lain dari bekas-bekas tetasan yang tak pernah kembali.
Kura-kura itu berjalan ke tubuhmu. Aku takut kura-kura itu akan memakanmu yang sedang
lelap dalam tidur memimpikan sepasang kepiting yang tak lagi berjalan miring. Kepiting anjing
yang menggonggong malam-malam. Kepiting kuda yang meringkik meminta penggembalaan
seperti domba-domba lain yang pernah kauceritakan dalam suratmu itu.
Malam-malam sekali bantal itu berkhianat pada janji untuk memberimu sepasang mimpi
lain tentang caranya bercinta sambil melenguh-lenguhkan namaNya sebelum ada kura-kura
yang berjalan ke tubuhmu. Kura-kura itu mungkin sekali adalah gadis empat belasan yang
pernah kau cumbui di halaman sekolah. Lalu kau bekap ia dengan sebuah bantal yang
kini berkhianat di tidurmu.
KASIDAH TERAKHIR
- ALMARHUM WAN ANWAR
Sepagi inikah harus kulepas engkau ke utara ?
menuju pulau asing
mengarungi samudera yang belum tersentuh
melepasmu ke dermaga nan jauh.
Sebenarnya kita sama-sama tak kenal
belum ada janji untuk tatap muka
maupun sekedar minum kopi kental.
Namun bahasa jantungmu,
bahasa ginjalmu
jauh-jauh waktu telah kucermati dengan seksama
sebagaimana kucermati setiap titik gerimis
yang kerap menghujam Cianjurmu
yang dingin.
Sepagi inikah harus kututup November ini dengan sunyi?
menyeka dada dengan kabar pilu
berita kehilangan yang ungu.
Sebenarnya kita sama-sama tak kenal
belum ada janji untuk tatap muka
maupun sekedar minum kopi kental.
Setidaknya pernah kau baca tempo hari
rangkaian kata yang sempat kuanyam
tentang tragedi kota luka.
Sepagi inikah harus kulepas engkau ke utara?
mengikuti arah maut
yang datang selalu tergesa.
CIWIDEY, NOVEMBER 2009
tentang orang yang bicara sengau
: empat tanya mak dan petuahnya
satu
orang sekarang yang tak lagi berjalan
meski bicara banyak hal dalam kotak-kotak partikulir
kusampaikan itu pada mak
pulang yang tertunda baiknya kubicarakan saja
tapi mak berkata; orang-orang berbicara sengau
seperti menyembunyikan sesuatu; bau mulutnya sendiri
dua
bagaimana kau rupakan air mukamu, nak?
sementara mataku mulai lamur
kusampaikan pada mak tentang kuasa ilmu
kuasa niscaya tawajuh melebihi sihir; tri-ji dan setelahnya
tapi mak berkata; muka orang-orang terlihat samar
seperti menyembunyikan sesuatu; air mukanya sendiri
tiga
kata mak orang-orang masih tetap bersuara parau
dan airmukanya tak bercahaya
kusampaikan pada mak tentang kuasa globalisasi
kuasa niscaya uang di negeri-negeri tak bertepi
tapi mak berkata; orang-orang terlihat tergesa-gesa
seperti mengeluarkan sesuatu; kotorannya sendiri
empat
mak akhirnya berkata
bicaralah baik-baik, pelan-pelan dan seadanya
katakan saja kerinduan adalah kuasa persuaan
setelah kata-kata habis diucapkan
19/02/2010
Aku Kini Menjemputmu
tiba-tiba aku membayangkan kita adalah burung kecil yang terbang,
ketika gerimis turun mengecup langit senja. ribuan pohon-pohon
yang basah dengan terpaksa, mengusir kita. lantas kucari atap-atap teduh
di antara gedung-gedung yang menggigilkan peristiwa muasal kita.
tiang-tiang listrik yang seolah-olah ingin melesat menuju angkasa.
sementara mereka hanya tertancap dikepung kabut jalan raya.
kita memang pernah diciptakan dengan sayap gemerlapan, jauh
sebelum cahaya bersujud pada kita. dan api memilih pengkhianatannya.
kita juga tinggal di taman yang separuhnya terkena terik matahari hangat
dan separuhnya lagi terbasahi hujan –geliat semak belukar, pohon-pohon
yang menjatuhkan apel hijau ke tepian sungai. tapi aku dan kau,
telah lebih memilih cinta. lebih tergoda dengan lampu-lampu kota,
dan riak telaga berangsa. yang sesekali kita kunjungi di saat
merasa perlu meneteskan airmata.
kusayangkan semua itu pada waktu yang terus bergelora di langit jingga.
di mana gerimis memang terasa pahit bagai ujung pisau tembaga.
sebab itulah jarak kita yang kini telah kuhancurkan dalam kerinduan.
lama kunantikan, sejak engkau menetas di rahim ibumu,
dan aku kini menjemputmu. aku membayangkan lagi, bila kita mampu
menjawab pertanyaan di antara sesak iklan dan berita menggelikan.
maka aku sudah sampai pada pengembaraan adam. haruskah
memilih ruas tulang yang hilang, di kantor perusahaan, mal atau swalayan.
meskipun, sejak berabad silam, kuharapkan pertemuannya
di tepian pantai, di mana angin menyapa bersama ombak lembut.
atau paling tidak, di sebuah taman yang hangat dan dinginnya
sedikit mengingatkan pada pohon terlarang.
: dan sekarang, bukankah kini adam ada pada diriku, terpuasakan oleh cintamu.
Bandung, 2010
PENINGGALAN KALENDER DI BULAN MARET
untuk sebuah keluarga dusun di wonogiri
I
seketika itu, engkau jadi usia sumur yang sering kali
engkau timba setiap pagi hari sebelum engkau pergi beli
sarapan untuk dua anak yang sering kali
berebut uang jajan sekolah
-waktu itu ternyata air belum langka,
seperti uang-
II
ada arah lain yang merangkai jalan setapak menuju
kebun kopi yang pernah engkau mohonkan pada musim
yang menyebabkannya;
sementara pencuri-pencuri kecil yang tak diduga menanam kesal
pada ranting pohon-pohon anggur di hampir setiap purnama
-kebun kopi milikmu telah berbicara banyak padaku
mengenai arah pencuri yang menyisakan biji-biji anggur
di bawah dahannya-
III
saat bulan belum lengkap dan panen belum genap
pada suatu masa tanggal-tanggal menghitung jarak yang engkau
bilangkan kepada kesederhanaan rindu: pakaian yang senantiasa
engkau tanggalkan di hari-hari telapak-tangan-doamu,
gubuk ternyata tak cepat lupa mengingat tangan siapa
yang lumpur karena doa
saat panen belum genap dan bulan belum lengkap
selalu saja ada lipatan senyum yang sabit berarakkan
dari ladang-ladang ketela menuju pintu rumahmu
tempat kalender berdiam pada kedua pipiku
lalu kubaca salammu yang tinggal di bulan ketiga
: simpanlah kami baik-baik untuk engkau bawa
sebagai tanda dan doa.
2010
Bincang Bintang
suatu kali kau bergumam,
"Aku telah mati lama sebelum ini,
saat menggigit segaris nadi yang
katanya membuatku abadi".
kau jelas mengelak saat aku
tanya apa yang
kau bicarakan diantara kabut
asap rokokmu.
kau malah bertanya,
mengapa aku menyukai masa lalu,
sejak caya bintang yang sering kupuja
dalam sajak adalah
pesan yang tersesat dan terkatung
sebelum akhirnya
tiba hanya untuk mengabarkan
"Aku menua, barangkali kini meniada."
melampaui perkara kini atau lalu,
tetap saja bintang memikatku,
sebagaimana cinta.
bukankah terkadang cinta
lebih cantik dari jauh, kita tak usah
cemas hangus atau sekadar gemetar
bersipandang dengan
kegelapan yang
jujur dan pekat?
barangkali kau benar.
jika tak lagi berwarna
cahaya tetaplah bernyawa
meski adanya gelap semata
serupa kerinduan
yang kekal dan bengal
tersengal saat mengetuk
dengkur halusmu
subuh tadi.
Dzikir
bersama gelap dan sunyi
berkaca diri pada kedalaman hati
mengapa hidup mesti ditawar
bila kita tak sanggup membayar
kita seperti musafir yang disesatkan angin
tak henti mengudap mimpi di siang hari
sementara jemari kita letih menghitung nasib
dan membiarkan jiwa kerontang dimakan usia
subhanallah
satu tarikan nafas
segenap karunia Tuhan meruah luas
alhamdulillah
sedetik jantung berdetak
semilyar cahaya rahmat melesak
la ilahailallah
setetes aliran darah
seluas samudera hikmah mengurai anugerah
allahu akbar
setitik denyut nadi
segala daya insani membuncahkan energi
telah jauh menempuh perjalanan
namun kita lupa untuk pulang
seperti selembar puisi lusuh yang kita simpan
dimakan ngengat dalam lemari ingatan
kapan lagi kita membaca umur
yang berlumut oleh angin dan hujan ?
dengarkan suara cicak bergunjing
membicarakan kita yang alpa membaca doa
seperti musim-musim yang berlari
meninggalkan cuaca di halaman rumah kita
pejamkan mata dari pandangan
tumpulkan rasa dari kenikmatan
tanggalkan pakaian kemunafikan
lantunkan lafal dengan perlahan
subhanallah walhamdulillah wala ilaha ilallah allahu akbar
Tirtomoyo, 19 Maret
Partitur Hujan
apakah ini yang kau sebut dengan rindu?
jika daun-daun telah basah, dan tanah-tanah
meruapkan namamu, untuk kuhirup
bersama kenangan.
ketika segalanya, menjadi kesenyapan
yang tak bisa lagi ditawar.
jalan-jalan atau bahkan gedung-gedung
terasa mengenakan mantel, sedangkan
aku sendirian kedinginan
menggigil, seraya ingin mengucapkan cinta
pada api, pada lampu-lampu
dan pada apapun itu
yang mampu mencairkan kehendakku.
saat jarak seolah-olah sekeras batu.
dan ciuman tak pernah kunjung tiba.
sungguh aku telah menjadi
nyanyian yang dihiraukan,
ribuan titik jarum tak tertahankan
menikam ke ulu jantung ingatan.
Bandung, 2009
di Pinggir Batavia
semalam kereta berhenti di pinggir Jakarta
malam sangatlah setia menjaga lajunya
hingga tak rela pagi membuncah di sela kaca
mungkin si malam terlalu cemburu pada pagi buta
ah malam, kau tak perlu terlalu cemburu
pagi ini ribuan orang sudah terburu-buru
beradu cepat dengan pagi untuk tiba di Jakarta
tak seperti tadi malam dimana mereka pulas kau jaga
lalu pagi yang singkat cepat berlalu atau mungkin tak ada pagi di sini
karena rasa pagi dengan cepat pula ditelan habis oleh aroma Jakarta
tak tercium aroma teh hangat dalam gelas kaca pagi
hanya wajah-wajah tergesa menempel di sela kaca kereta
dan sepulang dari stasiun dalam fajar yang menggempur sisa malam
kota ini sudah berantakan dengan roda-roda yang menggilasi jalan
oh ,apa yang mereka cari di ujung jalan sana?
di ujung jalanan yang salah urus dan penuh nestapa
: terkadang mereka menyebutnya penghidupan, terkadang saya sebutnya keserakahan, terkadang mereka menyebutnya kebahagiaan saya berani menyebutnya air mata
( Stasiun Bekasi, 19 Maret 2010)
balada para dewa
begitu malam menampakkan wajahnya
orang-orang gegas merapikan langkah
“jangan ada satu jejak pun tertinggal
apalagi berkeras berdiam di sudut kegelapan
kita harus kembali pada rahim peraduan
sebelum gigil memporakporandakannya
hanya ada satu obor yang dibiarkan tetap menyala
menyambut kedatangan para dewa”, tegasnya.
ya, memang benar
kini kami mulai mendengar derap langkah itu
dari kejauhan terlihat seperti nyata, namun tak tampak
satu persatu tak tiknya berkeliaran dalam ruang tengah telinga
mengental dalam larutan keheningan
memaksa setiap pendengaran tetap bersetia
menghitung tiap detak, mengukur jejarak
sampai benar-benar tak adalagi yang berderap dan berjarak
kegelapan dan bunyi kecapi sunyi mengiringi kedatangan
harum keresahan semakin menyengat
langit-langit mata kami berubah menjadi kuning langsat
menyaksikan, mendengar balada para dewa
“kami datang membawa bebungkus doa yang kalian panjatkan sejak subuh tadi
kami datang membawa sekantong keringat dan selembar airmata yang terkoyak
di balik langit, kami datang membawa sebongkah mimpi yang tergolek di bibir senja
dan kami datang tidak untuk menggenapkan doa-doa, tapi kami datang hanya
mengambil sedikit angka dalam tubuh, kami datang memungut
sedikit nafas dari mimpi-mimpi kalian”.
siapa yang masih bertahan atau berapa yang lari dari kenyataan
semua tercatat pada tiap lelembar tanah—
sesuatu kepahitan dan keindahan yang takkan terlupakan sepanjang zaman peradaban
akan didapatkan setiap insan”, tegasnya.
demikianlah kami menutup malam setiap harinya
memersiapkan sesaji
mendengarkan balada para dewa
sambil memungut kata-kata yang bergelincatan dari bibir tuanya
barangkali berkah tak lari ke mana
sambil mengemas musim pulang
Maret, 2010
Kampung dalam Aquarium
ke pemancingan mana lagi kautumpahkan rindu
melumutkan kecemasan pada lendir umpan
dan mata kail yang lapar
agar ikan-ikan mau kaubujuk bercerai dengan lubuk
dan pulang ke kampung penggorengan
pelengkap hidangan di meja makan
kau tahu, sejauh-jauh pergi menyisir bibir sungai,
hanya untuk mencari air keruh,
ikan-ikan pilihan tak akan memakan umpan dalam kejernihan
kau tinggalkan hulu yang hening-bening
muasal segala arus terus menghanyutkan
anak-anak pantau dengan sejarah hambar
entah arah mana akan mereka tuju
sebut saja, kampung berair jernih berikan jinak;
berair keruh berikan liar;
berair tawar berikan banyak
alamat kepulangan yang pahit
aku beritahu, andaikata pemancinganmu sia-sia, pulanglah.
aku dan ikan-ikan yang sering kauburu
setelah penggusuran itu
kini tinggal di kampung baru
mendekam di kamar air empat persegi
pada sebuah ruang tamu tidak berhulu-bermuara
hanya gelembung-gelembung dihembus tenaga listrik
juga kincir-kincir plastik
batu-batu buatan dan lukisan karang di balik kaca
terasa seperti menyelam-melintas di antara
tanjung dan teluk kampung pesisir yang tenang
meski tidak ada kapal-kapal berbenah
bagi pelayaran para pelaut
apalagi jejaring pukat ikan karang
bertandanglah, oi pemancing
bukankah sungai-sungai yang menghilir
dari hunjaman kaki-kaki hujan sudah tidak mampu menafsirkan kehendak air matamu
dan kerinduan tidak selamanya mesti dipuaskan dengan tancapan mata kail di rahang ikan yang rakus
aku bayangkan kau datang
sebelum insangku sempurna jadi karang
menyematkan mata kail
di setiap saku baju para tamu
sungai naniang, 20
Gendang
Sampai takdir mengirim perempuan tuli ke tempat paling sepi:
tak ada lagu kayu-kayu, bunyi-bunyi besi atau suara ranting patah
menimpa genting rumah. Tak ada.
Hanya keluh penabuh dan teriak penyorak yang mengoyak telinga
hingga untuk pertama kalinya, perempuan itu pun akhirnya menangkap
dengar.
Barangkali, karena kemurahan hati atau rasa syukur yang terlanjur.
Sebut saja pengorbanan atau perampasan. Ketika kulitnya yang halus
mulus dikecup kilau bibir pisau, di tangan si ahli. Maka sempurnalah
luka-lukanya.
Ketika semuanya ditabuh, semuanya disentuh, semuanya bergemuruh.
Tinggal sepenggal luka dibawa lari sapi-sapi.
Bandung, 20
Ketika Hujan
Apa yang hendak kau cari, selain teduh. Mendekatlah. Tengah
kudirikan api sebagai pengganti matahari. Keringkanlah segala
yang basah. Sementara kusembunyikan bajumu di tempat paling
rahasia. Pakai sarung itu. Jangan balut tubuhmu dengan rambut.
Cintailah aku. Kau perempuan yang tiba-tiba datang dari rimba
hutan dan belukar hujan.
Kelak
Setelah reda. Kau menjadi istri atau ibu dari anak-anakku.
Kemudian kau temukan baju yang dulu sempat kusembunyikan.
Jangan tanya siapa pelakunya, atau diam-diam kau memakainya lagi.
Sebab ini tanah dan rumah-rumah berbeda dengan tempatmu yang entah.
Sepertilah denganorang-orang itu.
Biar mereka tak bertanya-tanya mula, menduga-duga asal.
Kedatanganmu yang memang sukar dikabar.
Barangkali, ini takdir yang salah. Kau bertamu ke tempat yang salah.
Aku berikan jamuan yang salah dan kita bercinta dengan cara yang salah.
Tapi, biarlah. Segalanya telah tumpah.
201
Sajak Pengantar
Sebab kepergianmu yang terburu-buru. Maka aku tulis sajak ini, sebagai
pengantar perjalananmu yang basah, menuju rumah tempat singgah segala
yang bermula dari tanah.
Beristirahatlah. Meskipun luasnya tak sama dengan rumah sewaanmu yang dulu.
Tapi, setidaknya cukup aman dan nyaman untuk berbaring tanpa harus berpusing
memikirkan biaya listrik, air atau sewa bulanan. Beristirahatlah, tenang. Sesekali
orang-orang datang memberimu sebotol air dan beberapa lembar cahaya.
Sebenarnya, aku tak ingin bersedih. Tapi sedang. Tapi, sudahlah. Lagi pula,
kau sudah jauh pergi. Dan barangkali di sini sudah tak aman lagi, untukmu
menikmati hidup, berdemonstrasi atau sekedar mencari calon istri.
Memang. Dalam setiap kepergian selalu ada yang disisakan. Maka, biarlah
kuamankan namamu dalam sajak ini, di samping rasa tidak enak, di bawah
kesedihan yang sudah aku tulis, sebelumnya.
201
Tujuh Belas Yard dari Hari Esok
kembalilah, wahai masa lalu yang pernah kurelakan
tiada pulang yang bisa kalian tempuh
selain pada aku yang tubuh, waktu yang tersepuh.
tujuh belas yard dari hari esok
adalah bayang-bayang yang terpelosok
dalam ingatan kita, tentang kekasih.
jalan yang sesak oleh pesta
kini sudah seperti merayakan sajak dengan dusta.
aku inginkan melaju jauh ke paling fana
membawa rindu yang membeku
pada dinding-dinding benteng lintasanmu.
sudah tiba waktunya, kita rela mabuk
sebelum tempat-tempat semakin asing.
air mata yang ngalir dari sepasang hilir
tanpa tujuan, tanpa akhir.
jarak adalah tanda bagi gerbang tak bernama
untuk membuka luka. manakala tak ada sesiapa
yang menantikan kedatangan kereta di depan nasib kita.
Stasiun Bandung, 2010
Aku Akan Selalu Berteman Musim yang Kau Tinggalkan
�
Aku akan selalu berteman musim yang kau tinggalkan
dalam tidurmu bersama waktu. Tahun-tahun terpenggal,
merangkum semua hujan yang turun jadi ngungun.
Hari menetas dan tiba-tiba saja terlepas.
Suara kecilku menjerit-jerit dalam tubuh
yang telah sunyi kini. Memanggil-manggil kenangan
dan sisa percakapan separuh bulan.
Aku akan selalu berteman musim yang kau tinggalkan
dalam tidurmu bersama waktu. Berkawan cahaya senja
yang berayun di pucuk-pucuk ilalang di depan rumah kita.
Membuka pintu-pintu sajak yang telah kau bangun
dengan cinta. Mungkin dapat kumasuki sebuah rahasia
dari kata-kata di langit rekah. Atau akankah selalu
kutampung mendung yang kini mulai terapung.
Serang, 200
SAJAK CINTA DI UMUR ENAMPULUH EMPAT TAHUN
dalam perbincangan seusai senja itu
kau terasa begitu puisi:
pasir pantai dan rinai rinai
hujan di masa kecilku menari nari dan menganaksungai
di kedalaman lesung pipimu.
o demi kedua bola matamu yang sendu
kugosokkan kedua telapak tanganku agar hangat. agar lamat lamat
dapat kusekakan tangismu. dan kupindahkan duka
dan kupindahkan airmata
ke wajah rembulan yang nestapa.
bibir atas dan bibir bawahmu
yang merah muda mengeluhkan cintaku yang
menurutmu semakin habis saja. getarnya pelan dan lemah.
seperti kesunyian yang rutin merangkak rangkaki punggung kota. aku diam.
aku selalu diam kalau sedang duka atau jatuh cinta.
ah, sekarang kaupun ikut diam. suara jangkrik dan rayuan jalang
bunga bunga di bawah jendela
menggantikan keluhanmu. sebuah radio buruk di atas meja
berkisah tentang sepasang kekasih yang saling menikam.
—cara yang bagus untuk bunuh diri. sementara malam semakin kelam
dan bulan memucat seperti geliat sepi.
menatap kulit pipimu yang kuning
dan harum mengingatkanku akan ciuman ciuman
yang dulu saling kita berikan. bagai kupu kupu yang tidak kian
lelah mengepakkan sayapnya yang biru kehijau hijauan.
tetapi di pipimu yang kuning dan harum itu
kini ada sebaris peringatan dan tanda seru:
“o cintamu telah berkurang!”
dadaku sesak membayangkan kau menangis di kamar kecil di malam malam
ketika aku pulas tertidur dan tak sadar bahwa cintaku telah berkurang.
waktu tak pernah ambil pusing dengan permasalahan kita. dengan
airmatamu dan diamku. atau
dengan bibir merah mudamu dan sisa sisa ciumanmu di leherku.
waktu terus saja menjalankan tik toknya
seperti cicak terus terus membunyikan cak caknya.
tetapi bukanlah waktu yang membikin kita harus bersegera
melainkan aku yang tidak ingin
membuatmu jadi kering dan tua: bagaimana kalau kita
selesaikan saja
cinta ini dengan pucat?
di atas meja di dalam kaca jendela
sebuah radio buruk
kembali
menggumamkan berita
tentang sepasang
kekasih
yangbunuhdiri.
(2009
Dzikir Perempuan
Berabad dzikirku menjelma seribu tetes cinta di atas batu-batu takdir
Sajadahku adalah hamparan puisi yang sunyi di taman sejarah
Rindu yang kuriwayatkan melahirkan gemuruh aroma kesedihan
Rahimku melantunkan musim-musim yang sepi dalam kehidupan
Barisan lelaki tak henti menyanyikan lagu sumbang pengkhianatan
Harapanku karam dan tenggelam dalam bahasa kaum pemerkosa
Dzikirku lahir dan bergulir di dalam penjara-penjara gelap penindasan
Menggeliat melawan birahi kekuasaan, menampar hasrat zaman
Suaraku adalah berjuta jiwa yang meronta dalam belenggu tradisi
Menafsir isyarat Tuhan dalam manuskrip-manuskrip lusuh dan berdebu
Mimpiku merapat pada barisan ilalang yang tegak menunjuk terang
Menyusun akar cahaya di atap langit dan ladang-dalang harapan
Kubangkitkan huruf-huruf dan suaraku tengadah mewarnai dunia
Merentangkan sayap-sayap cinta dalam ruang derita yang gulita
Kuberi napas hak yang sempat terhempas badai purba kedzaliman
Kulangkahkan kaki mendaki bukit-bukit memanjat kemerdekaan
Jiwa kita sama di mata alam, kehadiran kita sama di mata Tuhan
Terimalah, terimalah getar dzikirku dalam tebing-tebing pikiranmu
Karawang 201
Drupadi
Biarkan langit mengagungkan kecantikan wajahmu
sebab awan belum menjadi bagian yang sesungguhnya.
angin adalah tempat pertemuan burung-burung
pertemuan dari setiap doa, mantra dan puja-puja
kau yang mengantar lewat tangan kanan dan jari-jarimu
menguap beribu wangi kekhawatiran
menyatu di sudut matamu yang beraliran
akan ada maut datang tanpa salam
menerjemahkan mata busur satu persatu
lalu meminang dan melesat ke palung udara
membaca setiap gerak bibirmu yang samar
memegang tanganmu yang bergetar
atau meraba wajahmu yang basah dan pasrah
aku bukan bagian dari sajak-sajak
atau dewa-dewa yang menundukan dagumu
aku juga bukan doa, mantra dan puja-puja
aku adalah lelaki pengukur waktu
sibuk mengemas keinginan sendiri
dan mencari apa arti mati
Maka biarkan langit mengagungkan kecantikan wajahmu
sebab awan belum menjadi bagian yang sesungguhnya.
201
Monday, 29 March 2010
Drie gnome Datuk
Drie gnome DatukTypische kort verhaal Ranesi
M. Raudah Jambak
20-11-2006
"eigenlijk de Nederlanders die ons geleerd wat het was nationalisme. Nederlanders die leerde de betekenis van ware heldendom en verraad. We waren onderontwikkelde naties die altijd moeilijk om commentaar te geven," de toespraak van de heer Soetan vurig. Dan kukaitkan met de strijd die plaatsvond tijdens de Nederlandse bezetting en de huidige situatie, met inbegrip van Atjeh, Yogyakarta, Poso, Ambon, Papua, en zo verder. En meneer Sutan is trots om uitleg te geven op de vragen die ik gesteld. Dus dat als we kijken naar de hoek koffieshop Cultural Park, Noord-Sumatra, de staat kwesties, politieke, sociale, enz., we altijd kauw-kauwen. Als dat niet gebeurt, dan praat de volgende dag zal worden voortgezet. Altijd zo.
***
Ik was verbijsterd te horen het oude verhaal van de heer Soetan. Onze ontmoeting was niet een bewuste ontmoeting. Op een koffieshop. Op dat moment was ik verdiept in het lezen van het nieuws over de onrust die zich in Atjeh. Over GAM nieuws. Het verhaal was zeer hoog. Nieuws zoals dat is altijd gelezen. Het is veel meer verwoestende nieuws over dit land. Over Gus Dur en zijn politieke tegenstanders. Maar, het is gewoon regelmatig nieuws. Oud nieuws. Over schurk elementen die het spelen waren de president-voorzitterschap. Leren zodat minister het ministerie, of deed alsof zijn ambtenaar - pejabatan.
"Ach, oudbakken ..." Siste ik.
"Wat zijn oudbakken?" Pak zei Sutan aangekomen - zijn aangekomen. Blijkbaar Mr Sutan al had gezeten recht voor me, zonder mijn weten.
"Oh, meneer Sutan." Been een lange, meneer? "
"Van dit. U hoeft alleen niet controleren," Mr Soetan glimlachte. "Wat is er zo muf?"
Opnieuw was ik stil. Ik keek naar de krant die net gelezen. Kijkend naar de kop op pagina een is geschreven een grote vet - schaal.
"Waarom, vroeg wat de muffe zelfs rustig ..."
Ik durfde niet te beantwoorden. Ik weet dat met de heer Soetan. Karakter nogal hard. Hij is erg dapper. Te durf zelfs, als ik het mag zeggen. Mr Sutan erg opgewonden toen uitgenodigd om te praten over alles, vooral politieke kwesties. En bijna alle problemen onder de knie. Misschien in overeenstemming met de leeftijd van rond de vijftig.
En angst als het over politieke kwesties met de heer Sutan, de moed om het onderwerp uit te spreken over de lengte en detail.
Maakt niet uit hoe mensen zullen doen 'iets' aan hem. Hoewel we weten nu het tijdperk van het voorzitterschap als nooit tevoren, maar zorg blijft dat het nog steeds bestaat. Tijdperk, een tijdperk nu durven te breed stemming open, eindelijk te ver. Overwegende dat het vorige tijdperk, het tijdperk van de strakke lock-up bijeenkomst. Alias berbisikpun verboden. Era al te veel.
Voor mij persoonlijk meneer Sutan is een heel teken ik bewonder. Ik heb veel geleerd van de manier waarop hij spreekt opvattingen over alles. Gemakkelijk te verhogen het onderwerp, en ook geconcludeerd gemakkelijke manier uit. Een van de vele geweldige mensen in mijn ogen.
Voor ons, die oud genoeg zijn om hem te kennen, de heer Sutan dit is een bekende figuur en vaderlijk. Maar voor degenen die alleen hem kennen, meneer Sutan mysterieus en spookachtig. Impressed wreed.
'He, wat is er zo muf! "
Mr Sutan luide stem te horen. Ik twijfel, heeft dit feit niet te vertellen aan de heer Soetan. Sutan bang Mr melebarkannya.
"Hier, hier meneer. Nieuws muf ..." kusodorkan krant met een kop die lezen groot en dik. Vol twijfel.
Mr Sutan halen het papier Ik gaf. Hij keek voor een tijdje. Gewoon een moment dat hij zag. De rest van het papier bladert door de krant.
"Ja. ...!" Stale nieuws
Ik was verbaasd. Meestal Mr Sutan altijd reageren op elk probleem. Bovendien is de politieke kwestie. Nou, ik was verbaasd. Grote verandering voor de heer Soetan. Ik vraag me af. Ik wil om te provoceren, als meneer Sutan echt niet meer geïnteresseerd met politieke kwesties.
"Dit, dit is niet muf, meneer?!" Ik bestudeerd met het andere nieuws laat zien.
"Bijna hetzelfde."
"Wat is er bijna hetzelfde, meneer?"
Mr Sutan blijkbaar begonnen verslaafd. Conversation verbreed. Maar ik ben blij. Vanaf Ambon, Sampit, naar Atjeh. Voor mij is Mr Sutan beschrijving is erg handig en vol inzicht. Voor de heer Sutan, werd Indonesië ziek. Intensieve behandeling moet worden gedaan. Niet buitensporige uitbuiting. Indonesië volgens de heer Sutan werd ondermijnd om virussen en bacteriën die proberen aan te vallen of hart impuls macht.
"We houden niet van de strijd van de helden eerste." Pak Sutan begon.
"Onze held is nooit zelfzuchtig en vragen om een beloning. We moeten echt horizon te verbreden en de horizon van ons denken. Bij wijze van opvoeding van generaties - de volgende generatie. Dit betekent niet, vechten we elkaar, berbenuhan opnieuw."
"Volgens u, de onrust in Atjeh hoe?"
"Dit is een probleem, ook. Maar we moeten niet de naam van het volk te ver. Maar de mensen in het veld maakte het tumbal. Dus, ik persoonlijk niet zo sympathiek tegenover de acties gepleegd door de revolutionaire nu." Mr Sutan trekken adem. "Eenmaal in Sumatra. Op de begane deze Deli. Datuj Er zijn drie mensen die gevochten onbaatzuchtig. Sunggak Datuk, Datuk kecik en Datuk oudste."
Ik was verbaasd. Tot een leraar als dit, ik weet het gewoon niet de drie genoemde voorlopercellen Mr Soetan. Volgens de heer Sutan, in de verdediging van dit land van de Nederlandse Deli, deze voorlopercellen handhaven drie voor ongeveer vijfentwintig jaar. Atjeh is niet vergelijkbaar met de meer of minder slechts vijf jaar.
Deze voorlopercellen strijd gestart door Datuk Sunggal. Dan opgevolgd door Datuk Datuk kecik en Eldest. Struggling van generatie op generatie. En alle drie bereikte het afval naar Cilacap.
'Nou, zijn alle drie worstelen voorlopercellen onvoorwaardelijk. " Mr Sutan voortgezet. "Zij vochten op waardigheid onvoorwaardelijk behouden."
"Maar meneer, waarom niet ingaan op de geschiedenis van ...?
'Dat is een ding dat maakt me trots meer. En ze zijn altijd herinnerd door de mensen - mensen die echt weten van de geschiedenis. De laatste strijd van hun nakomelingen die zich had aangesloten de kaart met de rang van majoor. "
"Als het Sultanaat van Deli is nu wat, meneer?"
"Mijn advies, leren! Laat je weet dat gesch ..."
Discussion. Mr Sutan tenslotte liet me in een dromerige toestand. Overleg met de heer Sutan deed me denken. Zodra het conflict ervaren problemen van dit land. Zoals genoemd Soetan Mr. Dit land is ziek.
Ik heb gelezen over Hang Toeah en Hang Djebat. Ander probleem. We zijn afgeleid door zaken die held en die een verrader.
Dergelijke problemen om me de kriebels. Ik ben gewoon een leraar die nog nooit gehoord, het verhaal en de geschiedenis van dit soort leraar - leraar voor. Of van lezing - lezing die ik ooit heb gelezen.
Mijn hoofd was plotseling duizelig. Denken over Malin Kundang of Sampuraga. Denken over Siti Nurbaya of Sabai Nan Aluih. Denken over Tan Malaka of Soekarno. Ahmad Yani Or Soeharto. Amien Rais, of Gus Dur. De kwestie ligt altijd gevoed door de malafide elementen die niet verantwoordelijk zijn voor gewone mensen, zoals kinderen van de natie.
Ik ga overgeven. En ik voelde me alsof ik in bed lag. Vaag zag ik mensen waren druk om me heen. Vaag zag ik de mensen fluisteren om te zien. En plotseling was het donker.
"Wake up! Wil je sterven wat?" Ik voelde dat er iemand was die me wakker. Langzaam opende ik mijn ogen. Vaag zag ik de mensen staren me aan. Ik voelde mijn lichaam in natte omstandigheden.
'Je bent een spion, ja! "
Voordat ik antwoord, plotseling een aantal van hen tilde me en moedigde me te lopen. Ik liep onvast. Ik voelde mijn lichaam is heel zwak. Gewrichten als om te ontsnappen. Rifle geblinddoekt. Veel stemmen van mensen met een zachte plof van bommen. Geweervuur. Veel stemmen van mensen die schreeuwen. Ik dacht dat de oorlog zou hebben gebroken in het streven naar machtsstrijd. Tenslotte elke partij yangt geen krimp, dacht ik.
'Zit hem! " Ik hoorde een stem te geven orders, "Vergeet niet, open obligaties ogen!"
'Oke, Datuk ... "
Bond sloot mijn ogen langzaam open nadat ik zat op een stoel temtat vreemd genoeg voor mij. Ik keek om me heen. Voor mij zat een knappe blik van een man die oud genoeg was. Lijkt net als voorvader, stamvader. Links-rechts in de iets jonger dan mannen die zaten. Zijn verschijning ook graag voorvader, stamvader.
"Je wilt ons te bespioneren, jonge man?" Datuk eerste vraag.
"U lijkt te willen zijn een pluimstrijker, ja?" Tweede Datuk ook het woord.
'Vertel je meester zij kon onmogelijk winnen ... " Derde Datuk niet stil blijven.
Ik boog. Ik begrijp niet wat ze vragen. Ik voelde me vreemd. Ik weet niet de mensen om me heen op dit moment. Ik weet niet de drie oude mannen die mij vragen deze race.
"Antwoord ...!" riepen ze in koor.
"Ik ... Ik ... weet het niet!"
"Ik weet niet wat?"
"Niet wetende wat te antwoorden?"
"Laten we zeggen dat je een spion!"
"Eye eye? Een spion die? Ik nooit lid van een politieke partij. Ik ben gewoon een leraar. Ik wist het gewoon, ik werd onderwezen. Dus, ik ben geen spion.
Alles was stil. Er is weinig twijfel in hun gedachten. Vooral de oudste.
"Is het waar je bent een leraar, meneer Teacher?"
"Ja. Ik leerkrachten van Indonesisch. Het is niet een spion als je beschuldigen!"
'Eh, Indonesië? Manapula gebied gehucht? "
Something ... " Ik was in de war, leek misverstanden te hebben. Ik voelde dat ik was niet in de juiste omgeving. "Indonesië is ons land nu."
"Neem me niet kwalijk, meneer Leraar. Wij strikt gehouden aan alle heren docenten. Maar alstublieft, probeer dan niet om ons te gek. Nu zijn we bezig met het bestrijden van de Nederlandse kolonisten. Dus niet bedriegen ons."
"Tegen de Nederlanders?"
"Ja ..."
'Je bent serieus? "
Master Leraren Verwar ons niet! "
'Je bent serieus? "
"Meester Leraren die ernstige!"
Uiteindelijk heb ik besloten om te praten over Mr Soetan. Over de toestand van de monetaire crisis van Indonesië. Over Atjeh, Ambon Sampit, enzovoort. En misschien ook over de gebeurtenissen die er vandaag is gebeurd.
"Wij begrijpen niet dat de heer Guru verteld. Wij weten Oceaan Pasai, Pagarruyung, of ook Mataram."
"En jij? Ik weet niet wie je bent?"
"Nou, is het hele land zeer vertrouwd met ons. Vooral de Nederlandse natie. Wij zijn drie Datu. Sunggal Datuk, Datuk kecik en Datuk oudste."
'Je hoeft niet proberen om mij gek. Je bent serieus? "
Datuk Sunggal snel verteld. Ik hoorde de verwondering en ontzag. De twee Datuk ook deed hetzelfde als ik. Tijd drift. Praat over hen met het Nederlandse verzet.
'Maar waarom in onze generatie zijn niet bekend bij u? "
"Persoonlijk zijn we heel erg. Maar we zijn meer bezig met onze strijd. Laten we ons niet bekend uit de strijd we geslaagd."
Discussie uiteindelijk verbreed. Drie voorlopercellen was meer geïnteresseerd in het horen van de tijd daarna. Dat de Nederlandse eindelijk in geslaagd wegjagen van de aarde's Deli. Strijd die ze niet tevergeefs. En het was triggering ze meer vechtlust. In het kort werd ik hun adviseur in verscheidene veldslagen.
Victory ze voor de overwinning behaald. Gelukkig heb ik ook heb gelezen de Chinese oorlog strategie. Strijd helden die eerder versloegen hun tegenstanders. En het maakt nieuwsgierig Nederlandse generaals. Elke bonken, bonzen ze altijd doen mislukken.
"Allahu Akbar ... ... Allahu Akbar Allahu Akbar ... aanval ...!
"Eindelijk een overwinning voor de overwinning die wij krijgen. Maar we moeten niet in geslaagd om de Nederlandse vanaf hier te verdrijven."
"Volgens wat ik lees de geschiedenis. En meneer Sutan informatie, kunt u alleen verslaan de Nederlanders. En het was slechts tijdelijk. Omwille van je eigen is een verrader, en ik weet niet wie. Je zou worden geëvacueerd door de Nederlandse een tijdje om Cilacap."
"Dit is ons land. Het is niet een Nederlands bezit. Aub we verkocht de grond aan iemand, maar niet voor de Nederlanders."
Ik zweeg. Ik denk dat dit een kans om de geschiedenis te corrigeren. Mijn hart hoorde het verhaal van Sir warmte Soetan. Warmte te horen dat de strijd Sunggal Datuk, Datuk kecik en Datuk Eldest niet geregistreerd in de geschiedenis. Geschiedenis van de nationale strijd. Derde voorlopercellen en het programma is niet opgenomen als een nationale held, hoewel ze vochten langer in het land te verdedigen en het land van eigenwaarde.
Heer Sutan zei ook dat hun strijd, een strijd die moet worden als een voorbeeld van een model voor latere generaties. Pas er verwarring van historische informatie.
"De bom ...!"
Plotseling de Nederlandse aanval op de derde verdediging zwaar voorlopercellen. Niet lang na een gevecht. Ik probeerde te vinden toevluchtsoord. De Nederlandse aangevallen zwaar. Ik ben nog op zoek naar bescherming. Ik wil niet sterven in het verleden. Trouwens, ik nog wil richten op studenten dit te leiden dat zij zouden siswaku leren hun geschiedenis. Want om de positieve waarden van de geschiedenis van strijd helden.
Vanaf de voorlopercellen, het slachtoffer was veel te vallen. Ik heb nog bleef rennen. Plotseling mijn voeten struikelde iets. Ik viel. Mijn hoofd net geland op een boomstam. De derde flauw voorlopercellen riep mijn naam. "
"Master Teacher ..."
Ik kon niet bewegen.
"Master Teacher. Convey onze strijd ..."
Ik kon niet bewegen.
"Meneer ..." een hand raakte mijn schouder.
"Meneer ..." Ik hoorde het was niet zo vreemd. "Je slaperig, ja?"
'Dank u, Din. " De jongen werd onmiddellijk gehaast. Ik las ooit een bericht van de heer Soetan.
Eerst dacht ik misschien dat er iets ernstig genoeg om te worden afgeleverd. Hoewel mijn maag voelde raar. Waarom hij niet wake me up. In plaats dat hij net weg. Er zijn vier vouwen in de krant. Een voor een lees ik. Mijn hart was niet goed.
Misschien is dit bericht lang genoeg, dacht ik. Bericht over de strijd. Bericht over onderwijs. Boodschap over zelfbeheersing. En veel humanitaire berichten die u wilt afgeleverd. Bericht herhaling en zo verder. Maar, nadat ik lees, kan ik alleen maar lachen. Mr Sutan slechts een woord te schrijven, bekend door drie Datu. Er is geschreven het woord: "M E R D E K A!" Datuk nan van de drie.
Field, 09102006
Sunday, 28 March 2010
FENOMENA FORUM LINGKAR PENA*
FENOMENA FORUM LINGKAR PENA*
Oleh : Maman S. Mahayana*
BAGAIMANA ceritanya, Forum Ling-kar Pena (FLP) yang dibangun oleh segelintir orang[1] –dengan fokus kegiatannya menum-pukan pada bidang (penulisan) karya sastra tiba-tiba menjelma jadi komunitas yang jumlah anggotanya ribuan, tersebar di pelosok Tanah Air,[2] bahkan menerabas sampai ke Mesir, Singapura, Jepang, Sudan, Hongkong, dan terus merambah hingga ke Eropa dan Amerika?
Secara hiperbolis Koran Tempo menjuluki FLP sebagai “Pabrik Penulis Cerita” dan Taufiq Ismail menyebutnya sebagai “Hadi-ah Tuhan untuk Indonesia”. Pertanyaannya: faktor apa saja yang menyebabkan gerakan FLP begitu fenomenal? [3] Seperti kata pepatah: “Datang pada saat yang tepat, di tempat yang tepat, dan dalam waktu yang tepat,” kehadiran FLP laksana menjawab harapan sejumlah besar kaum remaja Indonesia akan kebutuhan belajar menulis—mengarang.
Tentu saja munculnya harapan itu, juga tidak datang secara serta merta. Mesti ada persoalan di belakangnya. Menurut hemat saya, persoalan di belakang antusiasme remaja –yang kemudian menjadi anggota FLP—akan kebutuhan belajar menulis di antaranya disebabkan oleh beberapa faktor berikut:
Pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah yang menjemukan –boleh jadi—berakibat pada lahirnya kebencian terhadap pelajaran itu.[4] Dampak berikutnya, para siswa jatuh pada –meminjam istilah Taufiq Ismail—kerabunan membaca dan kelumpuhan menulis.[5]
Kelompok remaja masjid yang dalam peta kesusastraan Indonesia –dalam sejarahnya—nyaris tidak pernah diperhitungkan, kini dengan kehadiran FLP –yang kebetulan para pendirinya relatif dikenal sebagai penulis nasional—seperti wadah dan sekaligus juga ajang untuk menunjukkan eksistensi kelompok ini. Akibatnya, di satu pihak, FLP diserbu kelompok remaja ini sebagai semacam saluran untuk berekspresi dan menunjukkan jati dirinya, dan di pihak yang lain, FLP dalam pandangan komunitas di luar itu sebagai kelompok eksklusif dengan anggota-anggotanya sebagian besar berasal dari kelompok remaja masjid itu.[6]
Selain kelompok remaja masjid, komunitas remaja pesantren (santri) sering diperlakukan sebagai kelompok eksklusif yang dalam kehidupan sosial antarremaja juga diposisikan secara marjinal. Marjinalisasi masyarakat pesantren yang sudah terjadi begitu lama dalam kehidupan masyarakat perkotaan telah membangun stigma dengan segala eksklusivitasnya. Maka, ketika hadir FLP, mereka merasa bahwa itulah tempat yang tepat dalam kiprahnya menyalurkan kreativitas. Sastra yang dalam banyak pesantren di Indonesia dianggap sebagai bidang yang tak penting, lambat-laun mulai mendapat citra yang wajar –terutama dalam pandangan sejumlah kiayinya.
Berdasarkan keterangan Helvy Tiana Rosa bahwa 70 % anggota FLP adalah kaum perempuan menunjukkan, bahwa tampilnya para pengarang perempuan –terutama pengarang dari kalangan FLP sendiri—seperti sebuah teladan yang patut diikuti.[7] Maka, gerakan yang dijalankan Helvy Tiana Rosa dkk yang gencar menyuarakan pentingnya “berdakwah” melalui tulisan (sastra), mendapat sambutan luar biasa. Selain itu, munculnya sastrawan perempuan lainnya dalam peta kesusastraan Indonesia, tentu saja ikut mendorong keinginan para remaja (perempuan) itu untuk juga menjadi penulis terkenal.
Bahwa gerakan FLP memperoleh dukungan yang luas dari para remaja tersebut, tidak hanya lantaran adanya kesamaan ideologi, tetapi juga lantaran sikap militan para pengurus dan anggota-anggotanya.[8] Militansi inilah yang justru tidak dimiliki komunitas lain yang bergerak di bidang kesusastraan, bahkan juga kebudayaan.
Boleh jadi masih ada faktor lain yang mendorong gerakan FLP menjadi begitu menyebar dan massal. Setidak-tidaknya kelima faktor itulah yang menjadikan FLP sebagai satu-satunya komunitas sastra yang menjulang sendiri jika dilihat dari penyebaran dan jumlah anggotanya. Dilihat dari segi ini, sangat boleh jadi FLP telah melampaui jumlah dan penyebaran keanggotaan organisasi profesi mana pun. FLP tidak hanya menjadi saluran kreativitas mereka yang selama ini mampat, tetapi juga sekaligus menjadi semacam jembatan yang diharapkan dapat mengangkat citra, peran dan martabat mereka di hadapan keluarga dan masyarakatnya.
***
Sebagai sebuah komunitas dengan jumlah anggota yang besar, penyebaran yang luas, dan militansi sebagian besar anggotanya, FLP menjadi komunitas yang sangat potensial mewarnai peta kesusastraan, bahkan juga kebudayaan Indonesia.
Persoalannya tinggal, bagaimana gerakan FLP tidak sekadar berhasil memproduksi (calon) penulis dalam jumlah massal dengan penyebarannya yang menjangkau wilayah yang begitu luas, tetapi juga menghasilkan karya-karya yang berpengaruh justru karena kualitasnya, bahkan jika mungkin, membangun sebuah mainstream dalam konstelasi sastra Indonesia.[9]
Dalam peta komunitas sastra di Tanah Air, FLP memang berada di jalurnya sendiri. Berbeda dengan komunitas lain, sebut saja misalnya, Teater Utan Kayu (TUK) yang cenderung elitis dengan sejumlah nama besar menempel di belakangnya atau Komunitas Sastra Indonesia (KSI) yang coba menggarap potensi-potensi terpendam (calon) sastrawan di kawasan Jakarta dan Tangerang, FLP menerima keanggotaannya tidak dibatasi oleh faktor usia, agama atau apa pun.[10] Keanggotaan yang sangat populis ini telah menceburkan FLP menjadi sebuah komunitas massal. Bahkan, anggotanya secara resmi dikenai iuran Rp 2.500,00 (dua ribu lima ratus rupiah) sebulan, menunjukkan bahwa komunitas ini punya citra dan gengsi positif dalam pandangan kaum remaja,[11] bahkan juga masyarakat pada umumnya.
Jadi, ketika masyarakat masih terperangkap pada pandangan bahwa dunia sastra dan kehidupan sastrawannya adalah dunia yang penuh kebebasan, urakan, eksentrik, dan berbagai pandangan buruk lainnya, FLP menampilkan diri dengan citra yang sebaliknya. Di sinilah keteladanan menjadi penting dalam membangun citra sebuah organisasi atau komunitas.[12] Semangat FLP –sebagaimana yang dinyatakan dalam visinya,[13] juga sebenarnya sederhana saja, yaitu membangun masyarakat membaca dan menulis. Dalam hal itulah, sesungguhnya FLP punya visi yang substansinya sama dengan komunitas sastra lainnya yang bertebaran di Tanah Air, yaitu menciptakan manusia penulis.
Bukankah ketertinggalan bangsa ini dari bangsa lain –terutama Eropa, dan lebih khusus lagi, bangsa di kawasan Asia Tenggara, lantaran budaya baca dan budaya tulis belum melekat dalam pandangan masyarakat. Tambahan lagi dengan derasnya penyebaran virus budaya populer lewat tayangan-tayangan sinetron dan opera sabun di televisi, makin mengakrabkan masyarakat dengan budaya mendengar dan melihat dan menjauhkannya dari budaya membaca dan menulis. Jadi, gerakan FLP sesungguhnya bersinergi dengan gerakan yang dilakukan majalah Horison melalui berbagai programnya serta komunitas sastra lainnya yang bermunculan di berbagai daerah di Indonesia.
Dalam masa satu dasawarsa ini, jelas bahwa FLP telah berhasil melakukan massalisasi kegiatan bersastra yang mencakupi wilayahnya yang begitu luas. Selain itu, citra eksklusif yang pada awalnya melekat pada FLP, lambat-laun sudah mulai cair. Masyarakat sastra juga –langsung atau tidak—mulai memperhitungan kontribusi yang telah diperlihatkan FLP. Demikian juga, sejumlah buku telah diterbitkan dan sejumlah penulis potensial telah dilahirkan.
Pertanyaannya sejauh mana kualitas karya yang telah dilahirkannya? Pandangan apriori beberapa komunitas sastra terhadap karya-karya yang telah dihasilkan FLP –sejauh pengamatan—belumlah proporsional.
Anggapan bahwa karya-karya yang dihasilkan FLP sebagai masuk kategori sastra populer sangat mungkin didasarkan pada (1) stigma awal yang masih melekat, (2) belum mencermati secara lebih komprehensif, (3) tampilan cover yang memang mengesankan sebagai ciri sastra populer. Oleh karena itu, menilai kontribusi FLP –sejak kelahirannya tahun 1997—dalam peta kesusastraan Indonesia dan menempatkannya dalam komunitas sastra, tidak dapat dilakukan secara subjektif. Kita perlu masuk ke dalamnya dan coba menguak lebih jauh apa yang telah dilakukan FLP selama ini.
Bagi saya, gerakan FLP sangat fenomenal. Ia telah berhasil meyakinkan sejumlah komunitas yang selama ini dimarjinalkan. Dalam konteks itu, jelas bahwa FLP telah memainkan peranan yang penting, tidak sekadar memberi penyadaran –terutama kepada para remaja—tentang pentingnya berekspresi melalui kegiatan bersastra, tetapi juga mendorong berlahirannya penulis-penulis potensial.[14]
Bahwa karya-karya FLP dipandang masih berkualitas sastra populer atau sekadar menghasilkan karya yang sarat dengan dakwah agama, pandangan ini pun perlu segera direvisi.[15] Sebagai bukti bahwa FLP telah berhasil melahirkan penulis potensial, segera tampak jika kita mencermati sebuah antologi cerpen berjudul Hongkong, Namaku Peri Cinta (Jakarta: Lingkar Pena Kreativa, 2005, xxiii + 172 halaman) karya anggota FLP Hongkong yang berprofesi sebagai buruh migran. Cerpen pertama yang berjudul “Hujan Masih Menjanjikan Cinta” karya Winna Karnie[16] sungguh menunjukkan karya yang cantik. Ia tidak sekadar piawai dalam membangun tegangan, tetapi juga cerdas dalam memanfaatkan metafora. Jika sejumlah pengarang wanita Indonesia belakangan ini begitu eksplisit menggambarkan hubungan jantina, Winna Karnie seperti hendak menunjukkan cara penggambaran adegan itu dengan bahasa metaforis.
Perhatikan kutipan berikut yang menggambarkan hubungan suami—istri berikut ini: “Dan aku pun harus rela tak terbang ke Singapura hari ini,” sahut suamiku. Kami menertawakan nasib. Suamiku mendekatkan bibirnya di telingaku. “Aku akan mengajak Mama terbang malam ini bukan ke Singapura, tapi ke tempat lain.” “Terbang ke mana?” “Hanya kita berdua di sana. Aku akan mengajak Mama menggapai gugusan bintang dan memetiknya satu per satu. Setelahnya kita singgah di peraduan rembulan, di sana kita nikmati biasnya yang hangat menyentuh asa kita. Bagaimana, Ma?” Aku tersenyum, bersiap ke bulan, bersama suamiku. Malam indah. Kupandangi wajahnya, kutatap bola matanya yang penuh cinta. Aku tahu ada yang bergolak dalam dadanya. Kami mendaki bukit dan ngarai. Akhirnya kami sampai juga ke gugusan bintang. Aku terkulai di lekukan bulan dengan senyum bahagia. Kulirik suamiku, dia terpejam menikmati setiap pendakianku. Dia orang terhebat dalam hidupku. (hlm. 4). Secara tematis cerpen ini mengangkat persoalan biasa dalam kehidupan suami istri. Suami, lantaran profesinya sebagai pilot, hendak terbang ke Singapura. Dan istri mengkhawatirkan keselamatannya lantaran cuaca buruk. Meski begitu, di bagian awal pengarang telah menggiring pembaca kepada kemungkinan terjadinya musibah. Dan benar, menjelang akhir cerita, suami menitipkan barang pesanan istrinya kepada seseorang. Belakangan diketahui, suaminya ngumpet di mobil. Happy ending!
Pola kejutan di akhir cerita cukup menonjol dalam sejumlah cerpen yang terhimpun dalam antologi cerpen itu. Dan itu sesungguhnya merupakan kekuatan untuk mempertahankan tegangan (suspense). Cerpen “Pembantu” karya Syifa Aulia,[17] “Semut Merah” karya Ikriima Ghaniy,[18] “Kabut Hitam di Sepanjang Perjalanan” karya Fia Rosa,[19] atau “Ceroboh” karya Rof,[20] cenderung memanfaatkan pola kejutan di akhir cerita.
Dengan pola itu, kita dapat mencermati betapa para penulis cerpen itu sesungguhnya mempunyai kekuatan atau enerji yang masih tersimpan dan belum dieksploitasi—dieksplorasi secara maksimal, yaitu mempunyai kualitas sebagai penulis novel yang menjanjikan. Cerpen “Semut Merah” misalnya, mengawali ceritanya dari kejadian biasa, yaitu anak majikannya disengat semut merah. Dari sana cerita bergulir sampai ke rumah sakit terkenal di Hongkong dan seolah-olah akan berakhir pada pemecatan yang melibatkan agen tenaga kerja di sana. Belakangan, setelah anak majikannya sembuh, si anak itulah yang justru mempertahankan Suminten, pembantunya itu. Perhatikan kutipan berikut yang memperlihatkan betapa penulisnya coba memanfaatkan referensi, meski sekadar disinggung sepintas. Hong Fo Ngai adalah sejenis kerangkang atau semut merah yang apabila menggigit manusia akan menimbulkan bekas. Bintik-bintik merah yang bisa menjadi benjolan yang bernanah. Masa inkubasinya cepat dan bisa merenggut nyawa seseorang. (hlm. 132) Bukankah pengetahuan ensiklopedis seperti itu juga penting dikuasai seorang pengarang ketika ia hendak menggambarkan sesuatu? Cerpen “Ceroboh” juga cukup menarik.
Kegelisahan psikologis tokoh tentang kompor sesungguhnya lazim terjadi pada diri seseorang. Jadi, ia berhasil memanfaatkan kegelisahan psikologis dengan memadukan antara peristiwa yang sedang terjadi dengan peristiwa yang ada dalam benak dan pikirannya. Bukankah cara itu yang dalam teori sastra yang disebut sebagai arus kesadaran (stream of consciousness)? Satu cerpen lain yang hendak saya singgung sepintas dari antologi cerpen itu adalah karya S. Aisyah Z[21] berjudul “Kepak Sayap Rani”.
Kisahannya berkelak-kelok yang menyebabkan kita agak susah menebak akhir ceritanya. Mengangkat sisi lain kehidupan migran yang menghadapi perilaku majikannya yang ketus, galak, penuh hardik, tanpa pernah senyum. Perhatikan penggalan berikut ini yang memperlihatkan kekuatan metafora dan analogi untuk menggambarkan karakter si majikan berikut ini. Tapi hidup memang berubah drastis baginya. Tidak seperti musik gambus yang difavoritkannya. Lantunan kemarahan dan teriakan perintah menjadi lagu wajib setiap hari. Tiada hari tanpa musik alami yang memekakkan telinga. Teriakan-teriakan itu …? Suara wanita yang jarang berbicara pada Rani itu bagai ketipung yang dipukul dengan palu.
Alur nada yang tak pernah seirama dengan suasana hatinya. Hanya saat wanita itu meninggalkan rumah, hatinya terasa lebih lapang dari rumah besar yang ditumpanginya, tanpa keberadaan wanita itu di dalamnya. Seperti sepuluh ton beban terkurangi begitu Rani berdiri di depan pintu, melepas kepergian wanita itu. (hlm. 94—95) Di akhir cerita dikisahkan, si majikan yang galak itu menyadari, betapa yang kesabaran, kesetiaan, dan ketaatan tokoh Rani jauh lebih bermakna daripada apa yang telah dilakukan si Majikan selama ini. Berdasarkan kisahan dan cara menyelimuti akhir cerita yang juga tak terduga itu, Aisyah sesungguhnya potensial menghasilkan novel.
Sejumlah penggambaran tentang rumah besar yang seolah-olah penuh misteri, latar belakang psikologis si Majikan, dan semangat hidup tokoh Rani dalam usahanya mengangkat martabat keluarga, masih sangat berpeluang dimasuki peristiwa lain yang dapat meneguhkan penokohannya. Cerpen-cerpen yang disinggung sepintas tadi agaknya dapat dijadikan sebagai parameter atau ukuran kualitas karya yang dihasilkan anggota FLP. Tentu karya lain, terutama karya anggota FLP lainnya yang lebih senior, banyak yang jauh lebih oke. Setidak-tidaknya, dari karya para buruh migran itu saja, kita dapat melihat kualitas dan potensi yang dimiliki anggota FLP di masa mendatang.
***
Sebagai sebuah gerakan, suka atau tidak suka, kita tidak dapat menafikan kontribusi penting yang telah dimainkan FLP. Dalam sejarah perjalanan sastra Indonesia, belum ada satu pun komunitas atau organisasi (sastra) yang berhasil membangun jaringan penulis begitu luas, dengan jumlah anggota begitu besar, dan menciptakan penulis—pengarang secara massal.[22]
Inilah kontribusi konkret yang telah diperlihatkan FLP. Dengan demikian, boleh jadi, tanpa disadari oleh para pengurus FLP sendiri, gerakan yang telah mereka lakukan sesungguhnya –tanpa bermaksud melebihkan—adalah catatan sejarah penting yang belum pernah dilakukan oleh organisasi mana pun di Indonesia.
FLP telah membuat tinta emas bagi sastra Indonesia. Mengingat pendidikan atau pelatihan yang dilakukan FLP, sebagaimana yang tersurat dalam visinya, yaitu membangun Indonesia cinta membaca dan menulis serta membangun jaringan penulis berkualitas di Indonesia, maka buah dari kegiatan FLP baru akan terasa sangat manis dan menyebarkan pengaruhnya dalam kehidupan kebangsaan ini, dalam masa satu dasawarsa ke depan.
Bukankah yang dilakukan Helvi Tiana Rosa dalam kawan-kawan dalam satu dasawarsa ini saja sudah menunjukkan hasil yang konkret? Sebagai catatan akhir, FLP di samping tetap mempertahankan pola gerakannya yang selama ini dilakukan, juga perlu dipikirkan untuk menjadikan FLP tidak sekadar bermain dalam tataran kuantitas, melainkan juga dalam tataran kualitas. Dengan begitu, FLP akan ikut memainkan peranannya dalam membangun dan sekaligus mewarnai kehidupan kebudayaan Indonesia di masa depan. Dalam konteks itu, bolehlah dipikirkan beberapa hal berikut ini:
1.
Kiprah dalam menumbuhkan solidaritas kemanusiaan, sebagaimana yang telah diperlihatkan FLP selama ini, jelas menunjukkan bahwa gerakan FLP adalah gerakan kemanusiaan.[23] Cara yang sama barangkali perlu dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan anggotanya dengan cara memberi beasiswa atau mencarikan beasiswa pendidikan untuk anggotanya.
2.
Mengingat perwakilan FLP sudah menjangkau wilayah di semua propinsi di Indonesia dengan cabang-cabangnya yang berada di berbagai kota, maka penting juga dilakukan kerja sama dengan pemerintah daerah dalam rangka merealisasikan berbagai program yang dijalankan FLP. Termasuk di dalamnya bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Daerah, Dewan Kesenian daerah atau komunitas-komunitas sastra yang bertebaran di berbagai kota.
3.
Penerbitan buku-buku FLP, selain tetap mempertahankan pola yang sampai sekarang dilakukan, juga perlu ada “warna” lain, terutama dalam desain covernya yang masih terkesan seperti karya populer.
***
Akhirnya, harus saya katakan sekali lagi: Dalam sejarah sastra Indonesia, belum ada satu pun organisasi atau komunitas (sastra) yang kiprah dan kontribusinya begitu menakjubkan, sebagaimana yang pernah dilakukan FLP. FLP telah membuat catatan sejarah sastra Indonesia dengan tinta emas! Tahniah!
LAMPIRAN 1
(Lampiran ini diambil dari Data FLP) Prestasi Kepenulisan yang Telah Dicapai Anggota FLP
No
Nama Penulis
Prestasi
Skala
Tahun
1.
Asma Nadia (FLP Pusat/Majelis Penulis)
Juara I Lomba Menulis Cerita Pendek Islami (LMCPI) Majalah Annida
Nasional
1994 & 1995
Adikarya IKAPI kategori Buku Remaja Terbaik I untuk buku “Rembulan di Mata Ibu”
Nasional
2001
Pengarang Terbaik Adikarya IKAPI
Nasional
2001
Adikarya IKAPI kategori Buku Remaja Terbaik I untuk buku “Dialog Dua Layar”
Nasional
2002
Adikarya IKAPI kategori Buku remaja Terbaik untuk buku “101 Dating: Jo & Kas”
Nasional
2005
Pengarang Fiksi Remaja Terbaik Mizan Award
Nasional
2003
Peserta Program Penulisan Mastera Terbaik selama 10 Tahun
Asia Tenggara
2005
Naskah Drama Terbaik dalam Lokakarya Perempuan Penulis Naskah Drama
Nasional
2005
Peraih Beasiswa Program “Writer’s Residence” dari Pemerintah Korea
Nasional
2006
2.
Adkhilni M. Sidqi (FLP Yogyakarta)
Juara III Lomba Menulis Artikel Kepemimpinan Pemuda, Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga
Nasional
2006
3.
Ade Efdira (Ragdi F. Daye)/ FLP Sumatera Barat
Juara II Lomba Menulis Cerita Pendek Islami Majalah Annida
Nasional
1999
Juara III Sayembara Menulis Puisi Dewan Kesenian Sumatera Barat
Provinsi
2005
Juara I Lomba Menulis Cerpen Sastra Singgalang
Provinsi
2005
Juara I Lomba Menulis Cerpen Sabili ForUs
Nasional
2006
4.
Alimuddin (FLP Aceh)
Pemenang Harapan Lomba Menulis Cerpen CWI & Menpora
Nasional
2006
5.
Afifah Afra (FLP Pusat)
Juara 3 Lomba Karya Tulis Ilmiah ”Hijrah Nabawiyah”
Nasional
2003
Juara Harapan 1 Sayembara Cerbung Majalah Kartini dengan cerbung ”Tembang Cinta”
Nasional
2003
Finalis Lomba Cipta Cerpen Islami Milad FLP ke-5
Nasional
2002
Penghargaan ke-2 Novel Terbaik Anugerah Pena FLP
Nasional
2002
6.
Azimah Rahayu (FLP Pusat)
Pemenang 2 Lomba Cipta Cerpen Remaja Tabloid MQ
Nasional
2001
Pemenang 2 Lomba Kisah Islami addakwah.com
Nasional
2002
Anugerah Pena untuk Buku Fiksi Terpuji ”Pagi Ini Aku Cantik Sekali”
Nasional
2005
7.
Azwar (FLP Sumatera Barat)
Juara Harapan Terbaik Sayembara Menulis Kritik Seni Dewan Kesenian Sumatera Barat
Provinsi
2003
Peraih Singgalang Award Kategori Penulis Pemula
Provinsi
2005
Juara 3 Menulis Cerpen Koran Ganto
Provinsi
2005
8.
Azzura Dayana (FLP Sumatera Selatan)
Juara 3 Sayembara Penulisan Novel Remaja Gema Insani Press dengan novel “Alabaster”
Nasional
2003
Juara 2 Lomba Menulis Cerpen Creative Writing Institute & Direktorat Kepemudaan dan Diknas
Nasional
2004
9.
Denny Prabowo (FLP Depok)
Finalis Lomba Menulis cerpen CWI & Menpora
Nasional
2005
Finalis Lomba Menulis cerpen CWI & Menpora
Nasional
2006
10.
Endang Rukmana (FLP Serang)
Peraih Penghragaan PenulisMuda Indonesia UNICEF & YKAI
Nasional
2004
11.
Galang Lufityanto (FLP Yogyakarta)
Juara 2 Lomba Menulis Artikel tentang Korea, Kedubes Korea
Nasional
1999
Pemenang Harapan Lomba Menulis Cerpen CWI & Menpora
Nasional
2005
Finalis Lomba Menulis Cerpen CWI & Menpora
Nasional
2006
12.
Haikal Hira H (FLP Jawa Timur)
Pemenang 3 Lomba Penulisan Cerpen Gonjong yang diselenggarakan oleh Program Bahasa Indonesia Universitas Deakin Melbourne Australia
Nasional
2002
Juara 2 Lomba Penulisan Buku Yayasan Al Sofwah Jakarta dengan karya “Sebab Mekarmu Hanya Sekali”
Nasional
2003
Juara 3 Sayembara Cerpen Majalah Kartini dengan cerpen “Obituari”
Nasional
2004
Juara 2 Lomba Cerpen Majalah Muslimah dengan cerpen “Malaikat dari Masa Lalu”
Nasional
2004
Cerpen Terbaik Ketiga dalam Sayembara Cerpen Majalah ESQ Nebula dengan cerpen “Mahsyar”
Nasional
2005
13.
Hara Hope/Haji Arif (FLP Yogyakarta)
Juara 2 Lomba Teenlit Gramedia dengan judul novel “Summer Triangle”
Nasional
2005
14.
Helvy Tiana Rosa
Cerpen “jarring-jaring Merah” terpilih sebagai salah satu dari 10 Cerpen Terbaik Majalah Sastra Horison selama 10 tahun
Nasional
15.
Izzatul Jannah (Setiawati Intan Savitri)-FLP Jawa Tengah
Juara 3 Lomba Menulis Cerita Pendek Majalah Annida
Nasional
1994
Juara Harapan Lomba Menulis Cerita Pendek Majalah Annida
Nasional
1997
16.
M. Irfan Hidayatullah
Juara 1 Lomba Menulis Cerita Pendek Islami Majalah Annida dengan cerpen “Kucing”
Nasional
1999
17.
Medi Adioska (FLP Sumatera Barat)
Juara Harapan II Lomba Menulis Cerpen Telkomsel On-line
Provinsi
18.
Muthmainnah (Maimon Herawati)/FLP Eropa
Pemenang Harapan Lomba Menulis Cerita Pendek Islami Majalah Annida
Nasional
1996
Penulis Favorit Pilihan Pembaca Majalah Annida
Nasional
1997
19.
Nadhira Khalid (FLP Mataram)
Juara Harapan Lomba Menulis Cerpen Majalah Femina
Nasional
20.
Nova Ayu Maulita (FLP Yogyakrta)
Finalis Penghargaan Penulis Muda Indonesia yang diadakan Unicef & YKAI
Nasional
2005
21.
Prakoso Bhairawa Putera (FLP Bangka-Belitung)
Finalis Lomba Menulis Cerpen CWI & Menpora
Nasional
2005
Pemenang 1 Cipta Puisi
Nasional
2001 & 2002
Pemenang I Kategori Mahasiswa Lomba Karya Tulis Hari Dharma Samudera TNI AL
Nasional
2006
Pemenang Harapan Lomba Cerpen se-Sumatera
Provinsi
2005
22.
Sakti Wibowo (FLP Pusat)
Penghargaan Khusus Lomba Menulis Cerita Pendek Islami (LMCPI) Majalah Annida
Nasional
1999
Cerpen Terbaik Majalah Annida selama 10 Tahun
Nasional
2001
Juara Harapan Lomba Menulis Cerpen Milad FLP ke-5
Nasional
2002
Anugerah Pena untuk Kumpulan Cerpen Terpuji Milad FLP ke-5 untuk buku “Satria Kurusetra dan Negeri Para Embun”
Nasional
2002
23.
Sinta Yudisia (FLP Tegal)
Juara I Lomba Menulis Cerita Pendek Islami Majalah Annida
Nasional
2001
Juara Harapan I Lomba Menulis Fiksi Departemen Agama kategori SMU
Nasional
2002
Juara Harapan II Lomba Menulis Fiksi Departemen agama kategori SD
Nasional
2002
Juara II Lomba Menulis Cerita Pendek Islami Majalah Annida
Nasional
2004
Juara I Lomba Menulis Novel Penerbit Gema Insani Press
Nasional
2005
24.
Syamsa Hawa/FLP Bekasi
Penghargaan Penulis Muda Indonesia Unicef & YKAI
Nasional
2005
25.
Tasaro (Taufik Saptoto Rohadi)/ FLP Jawa Barat
Juara I Lomba Menulis Novel Milad FLP ke-8
Nasional
2005
Pemenang Harapan 2 Lomba Penulisan Skenario Film Cerita Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dengan naskah berjudul “Bubat”
Nasional
2006
Pemenang Penghargaan Penulis Artikel Kepemudaan Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga
Nasional
2006
Juara I Lomba Menulis Novel Milad FLP ke-8
Nasional
2005
26.
Yuniato (FLP Sumatera Barat)
Juara I Lomba Resensi Buku Tingkat SMA se-Jambi
Provinsi
2005
*Belum lengkap, data masih terus di-update
LAMPIRAN 2 (Lampiran ini diambil dari Data FLP)
TRADISI ITU BERNAMA ANTOLOGI CINTA Bermula saat Helvy Tiana Rosa mengenal Gola Gong (Penulis yang terkenal dengan “Balada si Roy” di majalah Hai). Mereka berkolaborasi dalam buku berjudul Nyanyian Perjalanan (Syaamil Cipta Media, 2000). Separuh honor buku itu diberikan buat anak-anak jalanan.
Teman-teman perempuan pengarang dari FLP Aceh yang berusia di bawah 27 tahun melakukan hal yang jauh melebihi itu. Mereka membuat buku bersama dengan judul: Doa untuk Sebuah Negeri (Syaamil Cipta Media, 2000). Seluruh royalti yang mereka terima, mereka sumbangkan bagi para janda korban DOM, juga untuk membangun kegiatan sosial FLP di Nanggroe Aceh Darussalam.
Lalu tahun 2000, ketika pengurus Forum Lingkar Pena mendengar kabar tentang Pipiet Senja, serang penulis prolifik yang sakit-sakitan, lahirlah antologi cinta berikutnya di FLP, berjudul Ketika Duka Tersenyum (FBA Press, 2001). Waktu itu belasan penulis menyumbangkan cerpen mereka. Seluruh hasil penjualan buku dibayar di muka dan semua dipersembahkan untuk Pipiet Senja yang waktu itu akan menjalani operasi.
Berlanjut saat Ibnu HS, yang kala itu menjadi Ketua FLP Kalimantan Barat, menginformasikan bahwa seorang sastrawan nasional yang pernah dipuji HB Jassin tahun 1950-an kini hidup dengan cukup memprihatinkan. Yusakh Ananda yang sudah berusia 65 tahun itu harus menyambung hidup dengan berjualan es di depan sebuah SD negeri. Kami di FLP perih sekali mendengarnya. Yusakh Ananda seorang sastrawan terkemuka, mengapa tak ada yang memperhatikannya dengan pantas bahkan di daerahnya sendiri? Teman-teman FLP sepakat untuk lagi lagi membuat buku "keroyokan". Belasan orang kembali menyumbangkan cerpen mereka dalam Cermin dan Malam Ganjil (FBA Press, 2002). Uang itu pun dibawa Ibnu ke Pontianak untuk modal usaha Pak Yusakh. Alhamdulillah. Memang tak seberapa. Tapi ada bahagia yang bertebaran.
Bersamaan dengan itu, Palestina semakin bergolak. Para pengarang FLP di berbagai kota, termasuk yang sedang kuliah di Mesir sepakat membuat antologi bersama yang akan dipersembahkan untuk Palestina. Melalui Mer-C, royalti yang berjumlah 8 juta rupiah dari antologi Merah di Jenin (FBA Press, 2002) itu, kami sumbangkan untuk dibawa ke Palestina.
Cinta yang besar dalam uang yang mungkin sangat tak seberapa. "Antologi cinta" akhirnya menjadi tradisi di Forum Lingkar Pena--organisasi kepenulisan yang berdiri tahun 1997 ini. Cinta menjadi dasar para pengurus dan anggota untuk menyumbang. Dan ketika uang kami terbatas, kami tak lagi menyumbang dengan uang. Kami menyum-bang dengan cerpen.
Suatu hari, sampailah kabar duka cita itu. Agustrijanto, pengarang muda berbakat dari FLP Bandung, ditinggal wafat oleh sang istri ketika istrinya tersebut melahirkan anak mereka. Sang anak yang tak beribu pun masih mempunyai sangkutan sekian belas juta rupiah di rumah sakit. Agustrijanto tak pernah meminta FLP membantunya. Atas inisiatif sendiri, teman-teman di FLP menyumbangkan belasan cerpen mereka dalam antologi Sahabat Pelangi (Lingkar Pena Publishing House, 2005) dan 17 Tahun (FBA Press, 2005), untuk mendapatkan dana belasan juta rupiah.
Begitulah tradisi di FLP. Tak cuma untuk menolong seseorang atau masyarakat. Untuk menolong FLP sendiri kerap dibuat antologi bersama ini. Milad FLP ke-5 dan seterusnya, ada antologi milad. Inilah antologi sumbangan para anggota FLP, agar milad bisa berlangsung. Untuk Musyawarah Nasional I dan milad VIII FLP kemarin (2005) misalnya, teman-teman juga membuat beberapa antologi cinta. Beberapa antologi cinta untuk FLP adalah Luka Telah Menyapa Cinta (FBA Press, 2002), Ketika Cinta Menemukanmu (Gema Insani Press, 2005), I Love You So Mad (Lingkar Pena Publishing House, 2005), Blind Date (Cakrawala Publishing, 2005), Ujilah Cinta Itu (FBA Press, 2005).
Saat tsunami melanda, teman-teman FLP berhasil membuat lima buku antologi cinta bekerja sama dengan banyak penerbit. Uang royalti sekitar 40 juta, Januari-Februari 2005 langsung disumbangkan untuk korban tsunami Aceh. Padahal bukunya baru terbit setelah itu. Alhamdulillah, FLP bisa menjalin persahabatan juga dengan kawan kawan penerbit yang selalu percaya pada kami. Kelima antologi itu: Perempuan Bermata Lembut (FBA Press, 2005), Addicted 2U (Lingkar Pena Publishing House, 2005), Jendela Cinta (Gema Insani Press, 2005), Menyisir Rindu (Cakrawala Publishing, 2005) dan Surat Buat Abang (Senayan Abadi, 2005)).
Di luar itu ada juga antologi FLP Aceh sendiri: Hati yang Terpisah (Syaamil Cipta Media, 2005). Antologi ini ditulis bersama oleh enam anggota FLP Aceh sebelum tsunami. Tiga di antara mereka meninggal karena keganasan tsunami.
Tradisi berlanjut saat FLP mendengar Gito Rollies, seorang musisi yang memiliki kepedulian pada Kampanye Membaca FLP, menderita sakit. Antologi Badman Bidin (Lingkar Pena Publishing House, 2005) pun hadir dan sedikit membantu pengobatan Kang Gito, begitu biasa beliau dipanggil.
Rumah Cahaya (Baca dan Hasilkan Karya) yang FLP dirikan di berbagai kota juga membutuhkan dana untuk pengembangannya. Lagi-lagi anggota FLP gotong royong menyumbang cerpen yang dibukukan dalam The Story of Jomblo (Lingkar Pena Publishing House, 2004) dan Suami Impian (Lingkar Pena Publishing House, 2006).
*Makalah Diskusi Besar “Forum Lingkar Pena dalam Peta Sastra Indonesia” dalam rangka perayaan 10 Tahun Forum Lingkar Pena diselenggarakan Forum Lingkar Pena di Ruang Serbaguna Depdiknas, Jakarta, Sabtu, 24 Februari 2007.
*Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
[1] Berikut dikutip tulisan Helvy Tiana Rosa, berjudul “FLP, Penulis dari 100 Kota” yang disampaikan dalam Milad FLP tahun 2002: “Tahun 1997 saya (Helvy Tiana Rosa: MSM), Asma Nadia, Muthmainnah serta beberapa teman dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia bertemu di Masjid Ukhuwah Islamiyah, Universitas Indonesia. Pertemuan berlanjut dengan diskusi tentang minat membaca dan menulis di kalangan para remaja Indonesia. Percakapan tersebut sampai pada kenyataan semakin mendesaknya kebutuhan masyarakat akan bacaan yang bermutu. Di sisi lain sebenarnya cukup banyak anak muda yang mau berkiprah di bidang penulisan, tetapi potensi mereka kerap tak tersalurkan atau intensitas menulis masih rendah, di antaranya karena tiadanya pembinaan untuk peningkatan kualitas tulisan. Lebih dari itu, semua yang hadir menyadari betapa efektifnya menyampaikan gagasan melalui tulisan. Akhirnya yang hadir sepakat untuk membentuk organisasi penulis. Maka pada tanggal 22 Februari 1997 berdirilah Forum Lingkar Pena, sebagai badan otonom Yayasan Prima dan saya terpilih sebagai Ketua Umum. Saat itu anggotanya tak lebih dari 30 orang saja. Kami pun mengadakan acara rutin pekanan dan bulanan berkaitan tentang penulisan untuk anggota, dengan mengundang pakar di bidang tersebut. Kami mengadakan bengkel penulisan secara kecil-kecilan dan merekrut anggota baru.
[2] Tanpa publisitas, tanpa kehebohan dan gembar-gembor, FLP telah mempunyai perwakilan di 29 propinsi dari Aceh hingga Papua dengan 43 cabangnya di berbagai kota di seluruh Indonesia. Ini barangkali sudah memenuhi keterwakilan daerah sebagai syarat untuk pembentukan sebuah partai politik.
[3] Helvy Tiana Rosa, Ibid. Menurutnya, dalam waktu yang relatif singkat, organisasi yang memiliki cabang di hampir 30 propinsi dan di mancanegara ini telah beranggotakan sekitar 5000 orang, hampir 70% anggotanya adalah perempuan. Dari jumlah ini, 500 di antaranya menulis secara aktif di berbagai media. Ke-500 orang ini berusaha membina 4500 anggota FLP lainnya untuk menjadi penulis pula. Selama tujuh tahun keberadaannya, organisasi penulis ini telah menerbitkan sekitar 400 buku yang sebagian besar terdiri dari karya sastra serius, fiksi remaja dan cerita anak. Tidak ada orang atau lembaga yang mensponsori FLP. Kemandirian ini memungkinkan FLP menulis sesuai kata hati.
[4] Periksalah sejumlah buku pelajaran Bahasa Indonesia untuk SLTP atau SLTA. Di sana kita akan menemukan begitu banyak materi linguistik dengan penekanan pada teori-teori kebahasaan, dan bukan berorientasi pada bagaimana siswa mempunyai keterampilan menggunakan bahasa. Materi pelajaran sastra lebih parah lagi. Selain itu, jumlah jam pelajaran yang begitu minim untuk materi sastra dibandingkan untuk materi bahasa merupakan problem yang lain lagi yang terjadi dalam pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Dalam jumlah jam yang begitu minim itu, di sana, siswa lebih banyak dijejali teori-teori sastra dan pengetahuan sejarah sastra ketimbang disuruh bergaul secara apresiatif dengan karya. Segala masalah itu kemudian bermuara pada pertanyaan-pertanyaan Ujian Nasional yang menyuruh siswa menjawab pilihan A, B, C, D, atau E. Belum lagi menyangkut pertanyaannya yang dalam beberapa kasus cenderung menyesatkan. Maka, usaha untuk menjadikan siswa keterampilan berbahasa dan dapat meningkatan apresiasi siswa terhadap karya sastra, makin jauh panggang dari api. Itulah yang terjadi dalam pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah selama ini.
[5] Keprihatinan Taufiq Ismail atas kondisi buruknya minat membaca, lemahnya keterampilan menulis, dan surutnya apresiasi sastra di sekolah ini kemudian disambut positif oleh Depdiknas dengan diberikannya kewenangan Taufiq Ismail untuk membuat program yang dapat memecahkan keadaan tersebut. Lahirlah kemudian Program Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra (MMAS) bagi guru-guru bahasa Indonesia di SMU dari seluruh pelosok Tanah Air. Berdasarkan pengalaman selama menjadi salah seorang instruktur MMAS sejak tahun 1997, dapatlah disimpulkan, bahwa problem pengajaran bahasa Indonesia di sekolah bersumber dari kurikulum nasional yang muatannya lebih banyak pada materi lingusitik. Pelajaran Bahasa Indonesia seperti mengandaikan bahwa siswa dipersiapkan sebagai linguis –ahli bahasa. Penjejalan tata bahasa dan teori-teori menjadikan pelajaran bahasa Indonesia begitu rumit, menjemukan, dan menakutkan.
[6]Terbukti pandangan ini apriori dan salah. Berikut saya kutip lagi pernyataan Helvy Tiana Rosa tentang sifat dan keanggotaan FLP. “FLP adalah organisasi inklusif. Keanggotaannya terbuka bagi siapa saja tanpa memandang ras maupun agama. Mayoritas anggota FLP memang muslim, namun tingkat pemahaman keislaman mereka tidak seragam. Banyak pula non muslim yang bergabung. Meski demikian para anggota FLP memiliki niat yang sama: membagi seberkas cahaya bagi para pembaca dan menganggap kegiatan menulis adalah bagian dari ibadah. Anggota FLP termuda saat ini (2004: MSM) berusia 4 tahun dan tertua 69 tahun. "Muda" dalam FLP lebih ditekankan pada aspek semangat, bukan usia, meski kebanyakan anggota FLP memang berusia sekitar 15-25 tahun. Namun sejak awal tahun 2004, beberapa FLP wilayah, sebut saja DKI, Jawa Barat dan Kaltim membuka khusus “FLP Kids” untuk anak berusia 6-12 tahun.”
[7]Direktris Eksekutif Majalah Horison, Ati Taufiq Ismail pernah menceritakan pengalamannya waktu diselenggarakan acara SBSB (Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya) di Aceh yang waktu itu membawa sastrawan terkenal Rendra, Taufiq Ismail, Helvy Tiana Rosa, dan Jajang C Noer. Di hotel tempat menginap rombongan Horison, segerombolan remaja datang ke sana. Ati Taufiq Ismail menduga, bahwa para remaja itu akan meminta tanda tangan penyair besar Rendra dan Taufiq Ismail. Ternyata dugaannya salah. Secara histeris, gerombolan remaja itu begitu antusia datang ke sana semata-mata ingin jumpa dan mendapat tanda tangan Helvy Tiana Rosa. Ternyata lagi, sosok Helvy adalah idola mereka. Dalam kegiatan yang sama, hal itu terjadi lagi di Madura. Ketika saya berkunjung ke Pesantren Al-Amin di Pamekasan, Madura, sejumlah santriwati yang menjadi anggota FLP begitu besar keinginannya untuk dapat berjumpa dengan Asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa yang sudah sangat mereka kenal lewat karya-karyanya. Motivasi mereka menjadi anggota FLP, selain ingin menjadi penulis terkenal seperti yang diperlihatkan kedua kakak-beradik itu, juga agar bisa berjumpa dengan keduanya. Beberapa mahasiswa saya di Universitas Indonesia, Islamic College for Advanced Studies (ICAS) Jakarta, dan Universitas Pakuan Bogor, sampai sekarang kerap bertanya, kapan saya dapat mempertemukan mereka dengan Asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa. Bahkan, beberapa di antaranya –sampai kini—masih juga tak yakin, bahwa saya mengenal baik kedua kakak-beradik itu. Mahasiswa yang tak yakin itu ternyata begitu mengidolakannya. Ketika saya bertanya, mengapa mereka mengidolakan mereka, dan bukan mengidolakan sastrawan yang lebih senior atau selebritas atau bintang sinetron yang sedang terkenal, mereka menjawab, bahwa karya kedua sastrawan itu sangat menyentuh perasaan. Mereka juga melihat sosok keduanya sebagai citra ibu rumah tangga yang ideal. “Allahu Akbar!”
[8]Militansi yang saya maksudkan di sini adalah ketangguhan dan keras hati dalam memperjuangkan kemanusiaan melalui kegiatan menulis—mengarang dan menerbitkan buku. Sikap militan untuk menjadi penulis terkenal, meningkatkan harga diri, menunjukkan kualitas dan eksistensinya agar tidak direndahkan orang lain, serta berbagai alasan lain yang melatarbelakangi –dan sekaligus mendorong—memotivasi mereka menjadi anggota FLP diungkapkan dengan sangat mengharukan oleh anggota FLP Hongkong, para buruh migran Indonesia di Hongkong. Periksa Pengantar Asma Nadia dan lampiran yang terdapat dalam antologi cerpen Hongkong, Namaku Peri Cinta (Depok: Lingkar Pena Kreativa, 2005), hlm. v—xxiii.
[9] Ingatlah apa yang telah dilakukan para penyair Pujangga Baru. Lewat Majalah Poedjangga Baroe, Sutan Takdir Alisjahbana, kakak-beradik Sanusi Pane dan Armijn Pane, dan Amir Hamzah, berhasil membangun semacam gerakan estetik sastra (puisi) Indonesia yang menolak bahasa yang mendayu-dayu dan klise, kehidupan dunia supranatural dan istana sentris, serta segala yang dianggap berbau sastra lama. Berkat beberapa sastrawan itulah, sastrawan lain yang karyanya dimuat Poedjangga Baroe, secara umum seperti sangat dipengaruhi oleh gaya kepenyairan Sutan Takdir Alisjahbana dan kawan-kawan. Ingat pula sastrawan Angkatan 70-an yang mengusung “kembali ke akar kembali ke tradisi” seperti punya kesadaran yang sama untuk menggali akar tradisi kultur etnik. Jadi, yang dilakukan mereka adalah gerakan estetik, dan bukan sekadar gerakan massal. Oleh karena itu, gerakan FLP selain perlu tetap mempertahankan penambahan jumlah anggota dan perluasan wilayah jangkauannya, peningkatan kualitas karya perlu menjadi salah satu agenda ke depan. Hanya dengan cara itu, FLP akan ikut memainkan peranan penting dalam mewarnai gerakan estetik sastra Indonesia.
[10]Inklusivisme FLP dalam soal agama tampak ketika FLP menyelenggarakan Sayembara Novel FLP 2005. Pemenang kedua sayembara itu jatuh pada novel berjudul Gadis Kunang-Kunang karya Olyrinson, sastrawan muda Riau (baca: Melayu) keturunan Tionghoa beragama Kristen. Olyrinson sendiri menyatakan bahwa FLP adalah komunitas yang keanggotaannya terbuka untuk setiap orang dan tidak ada kaitannya dengan persoalan agama, etnik, dan usia. Periksa kembali catatan kaki 6.
[11]Citra dan gengsi positif kaum remaja ini diekspresikan dengan kebanggaannya menjadi anggota FLP. Di Pesantren Al-Amin, Pamekasan, Madura, misalnya, mereka yang tidak menjadi anggota FLP dianggap sebagai orang yang kurang gaul. Menjadi anggota FLP seperti “gaya hidup”. Belum menjadi anggota FLP, barangkali sama dengan remaja perkotaan yang tidak punya HP.
[12]Dalam sebuah pelatihan cerpen yang diselenggarakan FLP beberapa waktu yang lalu, di luar forum saya bertanya pada lelaki paruh baya alasan dan minatnya datang ke pelatihan itu. Ternyata dia cuma mengantar anaknya yang duduk di SMP untuk ikut pelatihan itu. Dikatakan pula, bahwa dia menyuruh anaknya untuk menjadi anggota FLP. Saya pikir apa yang dilakukan orang tua itu untuk menyuruh anaknya menjadi anggota FLP sebagai representasi pandangan positif orang tua tentang FLP. Jadi, bukan lagi masalah jika keanggotaan FLP dikenai iuran Rp 2.500,00 jika masyarakat sudah punya pandangan positif yang seperti itu.
[13] Visi FLP adalah membangun Indonesia cinta membaca dan menulis serta membangun jaringan penulis berkualitas di Indonesia. Helvy Tiana Rosa, Ibid.
[14]Dalam beberapa kali menjadi juri lomba penulisan cerpen atau novel yang diselenggarakan berbagai lembaga penerbit, institusi atau lembaga pemerintah, selalu ada pemenangnya yang berlatar belakang anggota FLP. Tentu saja ini dapat juga dijadikan indikator, bahwa FLP telah berhasil mengantarkan anggotanya menjadi penulis potensial yang berkualitas. Hingga kini FLP telah mencatat, bahwa dari sekian ribu anggotanya itu, 153 adalah pengarang produktif. Dari 153 pengarang itu, 21 di antaranya telah menghasilkan penerbitan buku di atas tujuh buku, dengan Asma Nadia berada di urutan pertama (44 buku), berikutnya Afifah Afra Amatullah (31 buku), Fahri Asiza (27 buku), Pipiet Senja (26 buku), Sakti Wibowo (25 buku), Helvy Toana Rosa (19 buku), Izzatul Jannah (18 buku), Gita Lidya (17 buku), Leyla Imtichanah (17 buku), Nurul F Huda (15 buku), Rahmadiyanti (11 buku), Ekky al Malaky (10 buku), Kazimah Al Muhyi (10 buku), sisanya telah menghasilkan antara 7—9 buku. Lihat lampiran.
[15]Beberapa sastrawan penting seperti Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Gola Gong, Kurnia Effendi, Firman Venayaksa, Olyrinson, Sulaiman Tripa yang karya-karyanya diterbitkan FLP merupakan bukti bahwa FLP juga menghasilkan karya-karya serius dengan kualitas yang menjanjikan.
[16]Winna Karnie –nama pena Winarsih Muhammad Karnie, lahir 30 April 1976 di Magetan. Alumnus SMA Negeri 3 Magetan. Bekerja sebagai buruh migran Indonesia di Hongkong.
[17]Ketua FLP Cabang Hongkong (2005—2006).
[18]Lahir di Tuban, 17 Juli 1977.
[19]Nama pena Fitriana S.L.D. lahir di Jawa Tengah (?) tahun 1977 (?).
[20]Nama pena Siti Rofiah, lahir di Kebumen 1 Maret 1973.
[21] S. Aisyah Z lahir di Madiun, 2 Agustus 1981 dengan nama Susan Dewi –mungkin cerpenis termuda dalam antologi itu. Bekerja sebagai buruh migran di Hongkong. Mantan ketua FLP Wilayah Hongkong.
[22]Gerakan massalisasi seperti itu pernah dilakukan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) sebagai corong politik Partai Komunis Indonesia pertengahan tahun 1950-an. Jumlah anggota Lekra memang massal karena keanggotaan itu bagian dari keanggotaan PKI atau sebaliknya. Cabang-cabang Lekra juga terdapat di berbagai kota di seluruh Indonesia sebagai bagian dari sub-organisasi PKI. Tetapi, Lekra tidak menghasilkan penulis atau pengarang atau seniman. Massalisasi yang dilakukan Lekra adalah bagian dari rekrutmen keanggotaan PKI. Bahwa gerakan Lekra yang seperti itu, tentu saja dapat kita pahami mengingat Lekra sebagai sub-organisasi PKI yang pendanaannya menjadi tanggung jawab PKI. Jadi jika dilihat dari rekrutmen keanggotaan FLP yang sukarela dan bantuan iuran setiap bulan dari para anggotanya yang kadangkala membayar kadangkala tidak, tentu saja Lekra masih kalah jauh.
[23]Tanpa publisitas FLP ternyata telah banyak melakukan gerakan kemanusiaan dengan cara memberi bantuan atau sumbangan kemanusiaan. Lihat Lampiran 2.
Tags: makalah 10 tahun flp
3 comments share
Blog Entry Nominator CWI 2006 Jan 18, '07 3:46 AM
for everyone
Nah Berdasarkan Informasi yang saya dapatkan dari beberapa rekan yang tentunya dapat dipercaya dan dapat dipertanggung jawabkan,..berikut ini saya posting para nominator Lomba Cerpen CWI 2006 dan para pemenangnya:
Selamat y....
Wayan Sunarta, Dongeng di bukit Batu Bintan
Muhammad Nasir, Rapun
Ragdi F. Daye, Punggung
Rista Rifia Libiana, Perempuan bermata Bidadari
Irene Sarwindaningrum, Digital Dream
Dalih Sembiring, Floccinaucinihipilificatius
Dian Hartati, Kota Kenangan
Rohyati Sofjan, Poli
I Gusti Made Dwi Guna, Boarding
Ina Nur Ratriyana, Kalau Esok Hari Masih ada, Tuhan…
Ajun Kesuma, Harta Karun
Hari Ambari, Nyi Pohaci
Endah Sulistyowati, Tentara di Tapal Batas
Denny Prabowo, Tedong Helena
Iggoy el-Fitra, Abu, Sepenggal Rindu Arafuru
MH Abid, Pendulang Emas (juara 3)
Indrian Koto, Lagu Ombak Kampung Terkurung
Alimuddin, Serambi tak mau kembali ke Abang Indonesia
Nana Supriatna, Sutinah
Azizah Hefni, Pintu yang Terkunci (juara 2)
Joko Nugroho, Benang yang Mencari Daun
Fahruddin Nasrullah, nubuat dari Sabrang
Griven H Putera, Pusara bernisan Duhut Berbunga
Gunawan Budi Susilo, Malam Buta
M Badri, Loktong (juara1)
Marhalim Zaini, Jaring Batu
Wicaksono Surya Hidayat, Tuhan yang Ketiga
St. Fatimah, Malaika, sebuah Firman Terakhir
M Raudah Jambak, Bulan
Widzar al-Ghifary, Untuk Lelaki Harum Rimba
Sucipto bin Rapii, Kisah dari Numfor
Satmoko Budi Santoso, Kuda yang menderap di Kaki Candi
Oleh : Maman S. Mahayana*
BAGAIMANA ceritanya, Forum Ling-kar Pena (FLP) yang dibangun oleh segelintir orang[1] –dengan fokus kegiatannya menum-pukan pada bidang (penulisan) karya sastra tiba-tiba menjelma jadi komunitas yang jumlah anggotanya ribuan, tersebar di pelosok Tanah Air,[2] bahkan menerabas sampai ke Mesir, Singapura, Jepang, Sudan, Hongkong, dan terus merambah hingga ke Eropa dan Amerika?
Secara hiperbolis Koran Tempo menjuluki FLP sebagai “Pabrik Penulis Cerita” dan Taufiq Ismail menyebutnya sebagai “Hadi-ah Tuhan untuk Indonesia”. Pertanyaannya: faktor apa saja yang menyebabkan gerakan FLP begitu fenomenal? [3] Seperti kata pepatah: “Datang pada saat yang tepat, di tempat yang tepat, dan dalam waktu yang tepat,” kehadiran FLP laksana menjawab harapan sejumlah besar kaum remaja Indonesia akan kebutuhan belajar menulis—mengarang.
Tentu saja munculnya harapan itu, juga tidak datang secara serta merta. Mesti ada persoalan di belakangnya. Menurut hemat saya, persoalan di belakang antusiasme remaja –yang kemudian menjadi anggota FLP—akan kebutuhan belajar menulis di antaranya disebabkan oleh beberapa faktor berikut:
Pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah yang menjemukan –boleh jadi—berakibat pada lahirnya kebencian terhadap pelajaran itu.[4] Dampak berikutnya, para siswa jatuh pada –meminjam istilah Taufiq Ismail—kerabunan membaca dan kelumpuhan menulis.[5]
Kelompok remaja masjid yang dalam peta kesusastraan Indonesia –dalam sejarahnya—nyaris tidak pernah diperhitungkan, kini dengan kehadiran FLP –yang kebetulan para pendirinya relatif dikenal sebagai penulis nasional—seperti wadah dan sekaligus juga ajang untuk menunjukkan eksistensi kelompok ini. Akibatnya, di satu pihak, FLP diserbu kelompok remaja ini sebagai semacam saluran untuk berekspresi dan menunjukkan jati dirinya, dan di pihak yang lain, FLP dalam pandangan komunitas di luar itu sebagai kelompok eksklusif dengan anggota-anggotanya sebagian besar berasal dari kelompok remaja masjid itu.[6]
Selain kelompok remaja masjid, komunitas remaja pesantren (santri) sering diperlakukan sebagai kelompok eksklusif yang dalam kehidupan sosial antarremaja juga diposisikan secara marjinal. Marjinalisasi masyarakat pesantren yang sudah terjadi begitu lama dalam kehidupan masyarakat perkotaan telah membangun stigma dengan segala eksklusivitasnya. Maka, ketika hadir FLP, mereka merasa bahwa itulah tempat yang tepat dalam kiprahnya menyalurkan kreativitas. Sastra yang dalam banyak pesantren di Indonesia dianggap sebagai bidang yang tak penting, lambat-laun mulai mendapat citra yang wajar –terutama dalam pandangan sejumlah kiayinya.
Berdasarkan keterangan Helvy Tiana Rosa bahwa 70 % anggota FLP adalah kaum perempuan menunjukkan, bahwa tampilnya para pengarang perempuan –terutama pengarang dari kalangan FLP sendiri—seperti sebuah teladan yang patut diikuti.[7] Maka, gerakan yang dijalankan Helvy Tiana Rosa dkk yang gencar menyuarakan pentingnya “berdakwah” melalui tulisan (sastra), mendapat sambutan luar biasa. Selain itu, munculnya sastrawan perempuan lainnya dalam peta kesusastraan Indonesia, tentu saja ikut mendorong keinginan para remaja (perempuan) itu untuk juga menjadi penulis terkenal.
Bahwa gerakan FLP memperoleh dukungan yang luas dari para remaja tersebut, tidak hanya lantaran adanya kesamaan ideologi, tetapi juga lantaran sikap militan para pengurus dan anggota-anggotanya.[8] Militansi inilah yang justru tidak dimiliki komunitas lain yang bergerak di bidang kesusastraan, bahkan juga kebudayaan.
Boleh jadi masih ada faktor lain yang mendorong gerakan FLP menjadi begitu menyebar dan massal. Setidak-tidaknya kelima faktor itulah yang menjadikan FLP sebagai satu-satunya komunitas sastra yang menjulang sendiri jika dilihat dari penyebaran dan jumlah anggotanya. Dilihat dari segi ini, sangat boleh jadi FLP telah melampaui jumlah dan penyebaran keanggotaan organisasi profesi mana pun. FLP tidak hanya menjadi saluran kreativitas mereka yang selama ini mampat, tetapi juga sekaligus menjadi semacam jembatan yang diharapkan dapat mengangkat citra, peran dan martabat mereka di hadapan keluarga dan masyarakatnya.
***
Sebagai sebuah komunitas dengan jumlah anggota yang besar, penyebaran yang luas, dan militansi sebagian besar anggotanya, FLP menjadi komunitas yang sangat potensial mewarnai peta kesusastraan, bahkan juga kebudayaan Indonesia.
Persoalannya tinggal, bagaimana gerakan FLP tidak sekadar berhasil memproduksi (calon) penulis dalam jumlah massal dengan penyebarannya yang menjangkau wilayah yang begitu luas, tetapi juga menghasilkan karya-karya yang berpengaruh justru karena kualitasnya, bahkan jika mungkin, membangun sebuah mainstream dalam konstelasi sastra Indonesia.[9]
Dalam peta komunitas sastra di Tanah Air, FLP memang berada di jalurnya sendiri. Berbeda dengan komunitas lain, sebut saja misalnya, Teater Utan Kayu (TUK) yang cenderung elitis dengan sejumlah nama besar menempel di belakangnya atau Komunitas Sastra Indonesia (KSI) yang coba menggarap potensi-potensi terpendam (calon) sastrawan di kawasan Jakarta dan Tangerang, FLP menerima keanggotaannya tidak dibatasi oleh faktor usia, agama atau apa pun.[10] Keanggotaan yang sangat populis ini telah menceburkan FLP menjadi sebuah komunitas massal. Bahkan, anggotanya secara resmi dikenai iuran Rp 2.500,00 (dua ribu lima ratus rupiah) sebulan, menunjukkan bahwa komunitas ini punya citra dan gengsi positif dalam pandangan kaum remaja,[11] bahkan juga masyarakat pada umumnya.
Jadi, ketika masyarakat masih terperangkap pada pandangan bahwa dunia sastra dan kehidupan sastrawannya adalah dunia yang penuh kebebasan, urakan, eksentrik, dan berbagai pandangan buruk lainnya, FLP menampilkan diri dengan citra yang sebaliknya. Di sinilah keteladanan menjadi penting dalam membangun citra sebuah organisasi atau komunitas.[12] Semangat FLP –sebagaimana yang dinyatakan dalam visinya,[13] juga sebenarnya sederhana saja, yaitu membangun masyarakat membaca dan menulis. Dalam hal itulah, sesungguhnya FLP punya visi yang substansinya sama dengan komunitas sastra lainnya yang bertebaran di Tanah Air, yaitu menciptakan manusia penulis.
Bukankah ketertinggalan bangsa ini dari bangsa lain –terutama Eropa, dan lebih khusus lagi, bangsa di kawasan Asia Tenggara, lantaran budaya baca dan budaya tulis belum melekat dalam pandangan masyarakat. Tambahan lagi dengan derasnya penyebaran virus budaya populer lewat tayangan-tayangan sinetron dan opera sabun di televisi, makin mengakrabkan masyarakat dengan budaya mendengar dan melihat dan menjauhkannya dari budaya membaca dan menulis. Jadi, gerakan FLP sesungguhnya bersinergi dengan gerakan yang dilakukan majalah Horison melalui berbagai programnya serta komunitas sastra lainnya yang bermunculan di berbagai daerah di Indonesia.
Dalam masa satu dasawarsa ini, jelas bahwa FLP telah berhasil melakukan massalisasi kegiatan bersastra yang mencakupi wilayahnya yang begitu luas. Selain itu, citra eksklusif yang pada awalnya melekat pada FLP, lambat-laun sudah mulai cair. Masyarakat sastra juga –langsung atau tidak—mulai memperhitungan kontribusi yang telah diperlihatkan FLP. Demikian juga, sejumlah buku telah diterbitkan dan sejumlah penulis potensial telah dilahirkan.
Pertanyaannya sejauh mana kualitas karya yang telah dilahirkannya? Pandangan apriori beberapa komunitas sastra terhadap karya-karya yang telah dihasilkan FLP –sejauh pengamatan—belumlah proporsional.
Anggapan bahwa karya-karya yang dihasilkan FLP sebagai masuk kategori sastra populer sangat mungkin didasarkan pada (1) stigma awal yang masih melekat, (2) belum mencermati secara lebih komprehensif, (3) tampilan cover yang memang mengesankan sebagai ciri sastra populer. Oleh karena itu, menilai kontribusi FLP –sejak kelahirannya tahun 1997—dalam peta kesusastraan Indonesia dan menempatkannya dalam komunitas sastra, tidak dapat dilakukan secara subjektif. Kita perlu masuk ke dalamnya dan coba menguak lebih jauh apa yang telah dilakukan FLP selama ini.
Bagi saya, gerakan FLP sangat fenomenal. Ia telah berhasil meyakinkan sejumlah komunitas yang selama ini dimarjinalkan. Dalam konteks itu, jelas bahwa FLP telah memainkan peranan yang penting, tidak sekadar memberi penyadaran –terutama kepada para remaja—tentang pentingnya berekspresi melalui kegiatan bersastra, tetapi juga mendorong berlahirannya penulis-penulis potensial.[14]
Bahwa karya-karya FLP dipandang masih berkualitas sastra populer atau sekadar menghasilkan karya yang sarat dengan dakwah agama, pandangan ini pun perlu segera direvisi.[15] Sebagai bukti bahwa FLP telah berhasil melahirkan penulis potensial, segera tampak jika kita mencermati sebuah antologi cerpen berjudul Hongkong, Namaku Peri Cinta (Jakarta: Lingkar Pena Kreativa, 2005, xxiii + 172 halaman) karya anggota FLP Hongkong yang berprofesi sebagai buruh migran. Cerpen pertama yang berjudul “Hujan Masih Menjanjikan Cinta” karya Winna Karnie[16] sungguh menunjukkan karya yang cantik. Ia tidak sekadar piawai dalam membangun tegangan, tetapi juga cerdas dalam memanfaatkan metafora. Jika sejumlah pengarang wanita Indonesia belakangan ini begitu eksplisit menggambarkan hubungan jantina, Winna Karnie seperti hendak menunjukkan cara penggambaran adegan itu dengan bahasa metaforis.
Perhatikan kutipan berikut yang menggambarkan hubungan suami—istri berikut ini: “Dan aku pun harus rela tak terbang ke Singapura hari ini,” sahut suamiku. Kami menertawakan nasib. Suamiku mendekatkan bibirnya di telingaku. “Aku akan mengajak Mama terbang malam ini bukan ke Singapura, tapi ke tempat lain.” “Terbang ke mana?” “Hanya kita berdua di sana. Aku akan mengajak Mama menggapai gugusan bintang dan memetiknya satu per satu. Setelahnya kita singgah di peraduan rembulan, di sana kita nikmati biasnya yang hangat menyentuh asa kita. Bagaimana, Ma?” Aku tersenyum, bersiap ke bulan, bersama suamiku. Malam indah. Kupandangi wajahnya, kutatap bola matanya yang penuh cinta. Aku tahu ada yang bergolak dalam dadanya. Kami mendaki bukit dan ngarai. Akhirnya kami sampai juga ke gugusan bintang. Aku terkulai di lekukan bulan dengan senyum bahagia. Kulirik suamiku, dia terpejam menikmati setiap pendakianku. Dia orang terhebat dalam hidupku. (hlm. 4). Secara tematis cerpen ini mengangkat persoalan biasa dalam kehidupan suami istri. Suami, lantaran profesinya sebagai pilot, hendak terbang ke Singapura. Dan istri mengkhawatirkan keselamatannya lantaran cuaca buruk. Meski begitu, di bagian awal pengarang telah menggiring pembaca kepada kemungkinan terjadinya musibah. Dan benar, menjelang akhir cerita, suami menitipkan barang pesanan istrinya kepada seseorang. Belakangan diketahui, suaminya ngumpet di mobil. Happy ending!
Pola kejutan di akhir cerita cukup menonjol dalam sejumlah cerpen yang terhimpun dalam antologi cerpen itu. Dan itu sesungguhnya merupakan kekuatan untuk mempertahankan tegangan (suspense). Cerpen “Pembantu” karya Syifa Aulia,[17] “Semut Merah” karya Ikriima Ghaniy,[18] “Kabut Hitam di Sepanjang Perjalanan” karya Fia Rosa,[19] atau “Ceroboh” karya Rof,[20] cenderung memanfaatkan pola kejutan di akhir cerita.
Dengan pola itu, kita dapat mencermati betapa para penulis cerpen itu sesungguhnya mempunyai kekuatan atau enerji yang masih tersimpan dan belum dieksploitasi—dieksplorasi secara maksimal, yaitu mempunyai kualitas sebagai penulis novel yang menjanjikan. Cerpen “Semut Merah” misalnya, mengawali ceritanya dari kejadian biasa, yaitu anak majikannya disengat semut merah. Dari sana cerita bergulir sampai ke rumah sakit terkenal di Hongkong dan seolah-olah akan berakhir pada pemecatan yang melibatkan agen tenaga kerja di sana. Belakangan, setelah anak majikannya sembuh, si anak itulah yang justru mempertahankan Suminten, pembantunya itu. Perhatikan kutipan berikut yang memperlihatkan betapa penulisnya coba memanfaatkan referensi, meski sekadar disinggung sepintas. Hong Fo Ngai adalah sejenis kerangkang atau semut merah yang apabila menggigit manusia akan menimbulkan bekas. Bintik-bintik merah yang bisa menjadi benjolan yang bernanah. Masa inkubasinya cepat dan bisa merenggut nyawa seseorang. (hlm. 132) Bukankah pengetahuan ensiklopedis seperti itu juga penting dikuasai seorang pengarang ketika ia hendak menggambarkan sesuatu? Cerpen “Ceroboh” juga cukup menarik.
Kegelisahan psikologis tokoh tentang kompor sesungguhnya lazim terjadi pada diri seseorang. Jadi, ia berhasil memanfaatkan kegelisahan psikologis dengan memadukan antara peristiwa yang sedang terjadi dengan peristiwa yang ada dalam benak dan pikirannya. Bukankah cara itu yang dalam teori sastra yang disebut sebagai arus kesadaran (stream of consciousness)? Satu cerpen lain yang hendak saya singgung sepintas dari antologi cerpen itu adalah karya S. Aisyah Z[21] berjudul “Kepak Sayap Rani”.
Kisahannya berkelak-kelok yang menyebabkan kita agak susah menebak akhir ceritanya. Mengangkat sisi lain kehidupan migran yang menghadapi perilaku majikannya yang ketus, galak, penuh hardik, tanpa pernah senyum. Perhatikan penggalan berikut ini yang memperlihatkan kekuatan metafora dan analogi untuk menggambarkan karakter si majikan berikut ini. Tapi hidup memang berubah drastis baginya. Tidak seperti musik gambus yang difavoritkannya. Lantunan kemarahan dan teriakan perintah menjadi lagu wajib setiap hari. Tiada hari tanpa musik alami yang memekakkan telinga. Teriakan-teriakan itu …? Suara wanita yang jarang berbicara pada Rani itu bagai ketipung yang dipukul dengan palu.
Alur nada yang tak pernah seirama dengan suasana hatinya. Hanya saat wanita itu meninggalkan rumah, hatinya terasa lebih lapang dari rumah besar yang ditumpanginya, tanpa keberadaan wanita itu di dalamnya. Seperti sepuluh ton beban terkurangi begitu Rani berdiri di depan pintu, melepas kepergian wanita itu. (hlm. 94—95) Di akhir cerita dikisahkan, si majikan yang galak itu menyadari, betapa yang kesabaran, kesetiaan, dan ketaatan tokoh Rani jauh lebih bermakna daripada apa yang telah dilakukan si Majikan selama ini. Berdasarkan kisahan dan cara menyelimuti akhir cerita yang juga tak terduga itu, Aisyah sesungguhnya potensial menghasilkan novel.
Sejumlah penggambaran tentang rumah besar yang seolah-olah penuh misteri, latar belakang psikologis si Majikan, dan semangat hidup tokoh Rani dalam usahanya mengangkat martabat keluarga, masih sangat berpeluang dimasuki peristiwa lain yang dapat meneguhkan penokohannya. Cerpen-cerpen yang disinggung sepintas tadi agaknya dapat dijadikan sebagai parameter atau ukuran kualitas karya yang dihasilkan anggota FLP. Tentu karya lain, terutama karya anggota FLP lainnya yang lebih senior, banyak yang jauh lebih oke. Setidak-tidaknya, dari karya para buruh migran itu saja, kita dapat melihat kualitas dan potensi yang dimiliki anggota FLP di masa mendatang.
***
Sebagai sebuah gerakan, suka atau tidak suka, kita tidak dapat menafikan kontribusi penting yang telah dimainkan FLP. Dalam sejarah perjalanan sastra Indonesia, belum ada satu pun komunitas atau organisasi (sastra) yang berhasil membangun jaringan penulis begitu luas, dengan jumlah anggota begitu besar, dan menciptakan penulis—pengarang secara massal.[22]
Inilah kontribusi konkret yang telah diperlihatkan FLP. Dengan demikian, boleh jadi, tanpa disadari oleh para pengurus FLP sendiri, gerakan yang telah mereka lakukan sesungguhnya –tanpa bermaksud melebihkan—adalah catatan sejarah penting yang belum pernah dilakukan oleh organisasi mana pun di Indonesia.
FLP telah membuat tinta emas bagi sastra Indonesia. Mengingat pendidikan atau pelatihan yang dilakukan FLP, sebagaimana yang tersurat dalam visinya, yaitu membangun Indonesia cinta membaca dan menulis serta membangun jaringan penulis berkualitas di Indonesia, maka buah dari kegiatan FLP baru akan terasa sangat manis dan menyebarkan pengaruhnya dalam kehidupan kebangsaan ini, dalam masa satu dasawarsa ke depan.
Bukankah yang dilakukan Helvi Tiana Rosa dalam kawan-kawan dalam satu dasawarsa ini saja sudah menunjukkan hasil yang konkret? Sebagai catatan akhir, FLP di samping tetap mempertahankan pola gerakannya yang selama ini dilakukan, juga perlu dipikirkan untuk menjadikan FLP tidak sekadar bermain dalam tataran kuantitas, melainkan juga dalam tataran kualitas. Dengan begitu, FLP akan ikut memainkan peranannya dalam membangun dan sekaligus mewarnai kehidupan kebudayaan Indonesia di masa depan. Dalam konteks itu, bolehlah dipikirkan beberapa hal berikut ini:
1.
Kiprah dalam menumbuhkan solidaritas kemanusiaan, sebagaimana yang telah diperlihatkan FLP selama ini, jelas menunjukkan bahwa gerakan FLP adalah gerakan kemanusiaan.[23] Cara yang sama barangkali perlu dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan anggotanya dengan cara memberi beasiswa atau mencarikan beasiswa pendidikan untuk anggotanya.
2.
Mengingat perwakilan FLP sudah menjangkau wilayah di semua propinsi di Indonesia dengan cabang-cabangnya yang berada di berbagai kota, maka penting juga dilakukan kerja sama dengan pemerintah daerah dalam rangka merealisasikan berbagai program yang dijalankan FLP. Termasuk di dalamnya bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Daerah, Dewan Kesenian daerah atau komunitas-komunitas sastra yang bertebaran di berbagai kota.
3.
Penerbitan buku-buku FLP, selain tetap mempertahankan pola yang sampai sekarang dilakukan, juga perlu ada “warna” lain, terutama dalam desain covernya yang masih terkesan seperti karya populer.
***
Akhirnya, harus saya katakan sekali lagi: Dalam sejarah sastra Indonesia, belum ada satu pun organisasi atau komunitas (sastra) yang kiprah dan kontribusinya begitu menakjubkan, sebagaimana yang pernah dilakukan FLP. FLP telah membuat catatan sejarah sastra Indonesia dengan tinta emas! Tahniah!
LAMPIRAN 1
(Lampiran ini diambil dari Data FLP) Prestasi Kepenulisan yang Telah Dicapai Anggota FLP
No
Nama Penulis
Prestasi
Skala
Tahun
1.
Asma Nadia (FLP Pusat/Majelis Penulis)
Juara I Lomba Menulis Cerita Pendek Islami (LMCPI) Majalah Annida
Nasional
1994 & 1995
Adikarya IKAPI kategori Buku Remaja Terbaik I untuk buku “Rembulan di Mata Ibu”
Nasional
2001
Pengarang Terbaik Adikarya IKAPI
Nasional
2001
Adikarya IKAPI kategori Buku Remaja Terbaik I untuk buku “Dialog Dua Layar”
Nasional
2002
Adikarya IKAPI kategori Buku remaja Terbaik untuk buku “101 Dating: Jo & Kas”
Nasional
2005
Pengarang Fiksi Remaja Terbaik Mizan Award
Nasional
2003
Peserta Program Penulisan Mastera Terbaik selama 10 Tahun
Asia Tenggara
2005
Naskah Drama Terbaik dalam Lokakarya Perempuan Penulis Naskah Drama
Nasional
2005
Peraih Beasiswa Program “Writer’s Residence” dari Pemerintah Korea
Nasional
2006
2.
Adkhilni M. Sidqi (FLP Yogyakarta)
Juara III Lomba Menulis Artikel Kepemimpinan Pemuda, Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga
Nasional
2006
3.
Ade Efdira (Ragdi F. Daye)/ FLP Sumatera Barat
Juara II Lomba Menulis Cerita Pendek Islami Majalah Annida
Nasional
1999
Juara III Sayembara Menulis Puisi Dewan Kesenian Sumatera Barat
Provinsi
2005
Juara I Lomba Menulis Cerpen Sastra Singgalang
Provinsi
2005
Juara I Lomba Menulis Cerpen Sabili ForUs
Nasional
2006
4.
Alimuddin (FLP Aceh)
Pemenang Harapan Lomba Menulis Cerpen CWI & Menpora
Nasional
2006
5.
Afifah Afra (FLP Pusat)
Juara 3 Lomba Karya Tulis Ilmiah ”Hijrah Nabawiyah”
Nasional
2003
Juara Harapan 1 Sayembara Cerbung Majalah Kartini dengan cerbung ”Tembang Cinta”
Nasional
2003
Finalis Lomba Cipta Cerpen Islami Milad FLP ke-5
Nasional
2002
Penghargaan ke-2 Novel Terbaik Anugerah Pena FLP
Nasional
2002
6.
Azimah Rahayu (FLP Pusat)
Pemenang 2 Lomba Cipta Cerpen Remaja Tabloid MQ
Nasional
2001
Pemenang 2 Lomba Kisah Islami addakwah.com
Nasional
2002
Anugerah Pena untuk Buku Fiksi Terpuji ”Pagi Ini Aku Cantik Sekali”
Nasional
2005
7.
Azwar (FLP Sumatera Barat)
Juara Harapan Terbaik Sayembara Menulis Kritik Seni Dewan Kesenian Sumatera Barat
Provinsi
2003
Peraih Singgalang Award Kategori Penulis Pemula
Provinsi
2005
Juara 3 Menulis Cerpen Koran Ganto
Provinsi
2005
8.
Azzura Dayana (FLP Sumatera Selatan)
Juara 3 Sayembara Penulisan Novel Remaja Gema Insani Press dengan novel “Alabaster”
Nasional
2003
Juara 2 Lomba Menulis Cerpen Creative Writing Institute & Direktorat Kepemudaan dan Diknas
Nasional
2004
9.
Denny Prabowo (FLP Depok)
Finalis Lomba Menulis cerpen CWI & Menpora
Nasional
2005
Finalis Lomba Menulis cerpen CWI & Menpora
Nasional
2006
10.
Endang Rukmana (FLP Serang)
Peraih Penghragaan PenulisMuda Indonesia UNICEF & YKAI
Nasional
2004
11.
Galang Lufityanto (FLP Yogyakarta)
Juara 2 Lomba Menulis Artikel tentang Korea, Kedubes Korea
Nasional
1999
Pemenang Harapan Lomba Menulis Cerpen CWI & Menpora
Nasional
2005
Finalis Lomba Menulis Cerpen CWI & Menpora
Nasional
2006
12.
Haikal Hira H (FLP Jawa Timur)
Pemenang 3 Lomba Penulisan Cerpen Gonjong yang diselenggarakan oleh Program Bahasa Indonesia Universitas Deakin Melbourne Australia
Nasional
2002
Juara 2 Lomba Penulisan Buku Yayasan Al Sofwah Jakarta dengan karya “Sebab Mekarmu Hanya Sekali”
Nasional
2003
Juara 3 Sayembara Cerpen Majalah Kartini dengan cerpen “Obituari”
Nasional
2004
Juara 2 Lomba Cerpen Majalah Muslimah dengan cerpen “Malaikat dari Masa Lalu”
Nasional
2004
Cerpen Terbaik Ketiga dalam Sayembara Cerpen Majalah ESQ Nebula dengan cerpen “Mahsyar”
Nasional
2005
13.
Hara Hope/Haji Arif (FLP Yogyakarta)
Juara 2 Lomba Teenlit Gramedia dengan judul novel “Summer Triangle”
Nasional
2005
14.
Helvy Tiana Rosa
Cerpen “jarring-jaring Merah” terpilih sebagai salah satu dari 10 Cerpen Terbaik Majalah Sastra Horison selama 10 tahun
Nasional
15.
Izzatul Jannah (Setiawati Intan Savitri)-FLP Jawa Tengah
Juara 3 Lomba Menulis Cerita Pendek Majalah Annida
Nasional
1994
Juara Harapan Lomba Menulis Cerita Pendek Majalah Annida
Nasional
1997
16.
M. Irfan Hidayatullah
Juara 1 Lomba Menulis Cerita Pendek Islami Majalah Annida dengan cerpen “Kucing”
Nasional
1999
17.
Medi Adioska (FLP Sumatera Barat)
Juara Harapan II Lomba Menulis Cerpen Telkomsel On-line
Provinsi
18.
Muthmainnah (Maimon Herawati)/FLP Eropa
Pemenang Harapan Lomba Menulis Cerita Pendek Islami Majalah Annida
Nasional
1996
Penulis Favorit Pilihan Pembaca Majalah Annida
Nasional
1997
19.
Nadhira Khalid (FLP Mataram)
Juara Harapan Lomba Menulis Cerpen Majalah Femina
Nasional
20.
Nova Ayu Maulita (FLP Yogyakrta)
Finalis Penghargaan Penulis Muda Indonesia yang diadakan Unicef & YKAI
Nasional
2005
21.
Prakoso Bhairawa Putera (FLP Bangka-Belitung)
Finalis Lomba Menulis Cerpen CWI & Menpora
Nasional
2005
Pemenang 1 Cipta Puisi
Nasional
2001 & 2002
Pemenang I Kategori Mahasiswa Lomba Karya Tulis Hari Dharma Samudera TNI AL
Nasional
2006
Pemenang Harapan Lomba Cerpen se-Sumatera
Provinsi
2005
22.
Sakti Wibowo (FLP Pusat)
Penghargaan Khusus Lomba Menulis Cerita Pendek Islami (LMCPI) Majalah Annida
Nasional
1999
Cerpen Terbaik Majalah Annida selama 10 Tahun
Nasional
2001
Juara Harapan Lomba Menulis Cerpen Milad FLP ke-5
Nasional
2002
Anugerah Pena untuk Kumpulan Cerpen Terpuji Milad FLP ke-5 untuk buku “Satria Kurusetra dan Negeri Para Embun”
Nasional
2002
23.
Sinta Yudisia (FLP Tegal)
Juara I Lomba Menulis Cerita Pendek Islami Majalah Annida
Nasional
2001
Juara Harapan I Lomba Menulis Fiksi Departemen Agama kategori SMU
Nasional
2002
Juara Harapan II Lomba Menulis Fiksi Departemen agama kategori SD
Nasional
2002
Juara II Lomba Menulis Cerita Pendek Islami Majalah Annida
Nasional
2004
Juara I Lomba Menulis Novel Penerbit Gema Insani Press
Nasional
2005
24.
Syamsa Hawa/FLP Bekasi
Penghargaan Penulis Muda Indonesia Unicef & YKAI
Nasional
2005
25.
Tasaro (Taufik Saptoto Rohadi)/ FLP Jawa Barat
Juara I Lomba Menulis Novel Milad FLP ke-8
Nasional
2005
Pemenang Harapan 2 Lomba Penulisan Skenario Film Cerita Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dengan naskah berjudul “Bubat”
Nasional
2006
Pemenang Penghargaan Penulis Artikel Kepemudaan Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga
Nasional
2006
Juara I Lomba Menulis Novel Milad FLP ke-8
Nasional
2005
26.
Yuniato (FLP Sumatera Barat)
Juara I Lomba Resensi Buku Tingkat SMA se-Jambi
Provinsi
2005
*Belum lengkap, data masih terus di-update
LAMPIRAN 2 (Lampiran ini diambil dari Data FLP)
TRADISI ITU BERNAMA ANTOLOGI CINTA Bermula saat Helvy Tiana Rosa mengenal Gola Gong (Penulis yang terkenal dengan “Balada si Roy” di majalah Hai). Mereka berkolaborasi dalam buku berjudul Nyanyian Perjalanan (Syaamil Cipta Media, 2000). Separuh honor buku itu diberikan buat anak-anak jalanan.
Teman-teman perempuan pengarang dari FLP Aceh yang berusia di bawah 27 tahun melakukan hal yang jauh melebihi itu. Mereka membuat buku bersama dengan judul: Doa untuk Sebuah Negeri (Syaamil Cipta Media, 2000). Seluruh royalti yang mereka terima, mereka sumbangkan bagi para janda korban DOM, juga untuk membangun kegiatan sosial FLP di Nanggroe Aceh Darussalam.
Lalu tahun 2000, ketika pengurus Forum Lingkar Pena mendengar kabar tentang Pipiet Senja, serang penulis prolifik yang sakit-sakitan, lahirlah antologi cinta berikutnya di FLP, berjudul Ketika Duka Tersenyum (FBA Press, 2001). Waktu itu belasan penulis menyumbangkan cerpen mereka. Seluruh hasil penjualan buku dibayar di muka dan semua dipersembahkan untuk Pipiet Senja yang waktu itu akan menjalani operasi.
Berlanjut saat Ibnu HS, yang kala itu menjadi Ketua FLP Kalimantan Barat, menginformasikan bahwa seorang sastrawan nasional yang pernah dipuji HB Jassin tahun 1950-an kini hidup dengan cukup memprihatinkan. Yusakh Ananda yang sudah berusia 65 tahun itu harus menyambung hidup dengan berjualan es di depan sebuah SD negeri. Kami di FLP perih sekali mendengarnya. Yusakh Ananda seorang sastrawan terkemuka, mengapa tak ada yang memperhatikannya dengan pantas bahkan di daerahnya sendiri? Teman-teman FLP sepakat untuk lagi lagi membuat buku "keroyokan". Belasan orang kembali menyumbangkan cerpen mereka dalam Cermin dan Malam Ganjil (FBA Press, 2002). Uang itu pun dibawa Ibnu ke Pontianak untuk modal usaha Pak Yusakh. Alhamdulillah. Memang tak seberapa. Tapi ada bahagia yang bertebaran.
Bersamaan dengan itu, Palestina semakin bergolak. Para pengarang FLP di berbagai kota, termasuk yang sedang kuliah di Mesir sepakat membuat antologi bersama yang akan dipersembahkan untuk Palestina. Melalui Mer-C, royalti yang berjumlah 8 juta rupiah dari antologi Merah di Jenin (FBA Press, 2002) itu, kami sumbangkan untuk dibawa ke Palestina.
Cinta yang besar dalam uang yang mungkin sangat tak seberapa. "Antologi cinta" akhirnya menjadi tradisi di Forum Lingkar Pena--organisasi kepenulisan yang berdiri tahun 1997 ini. Cinta menjadi dasar para pengurus dan anggota untuk menyumbang. Dan ketika uang kami terbatas, kami tak lagi menyumbang dengan uang. Kami menyum-bang dengan cerpen.
Suatu hari, sampailah kabar duka cita itu. Agustrijanto, pengarang muda berbakat dari FLP Bandung, ditinggal wafat oleh sang istri ketika istrinya tersebut melahirkan anak mereka. Sang anak yang tak beribu pun masih mempunyai sangkutan sekian belas juta rupiah di rumah sakit. Agustrijanto tak pernah meminta FLP membantunya. Atas inisiatif sendiri, teman-teman di FLP menyumbangkan belasan cerpen mereka dalam antologi Sahabat Pelangi (Lingkar Pena Publishing House, 2005) dan 17 Tahun (FBA Press, 2005), untuk mendapatkan dana belasan juta rupiah.
Begitulah tradisi di FLP. Tak cuma untuk menolong seseorang atau masyarakat. Untuk menolong FLP sendiri kerap dibuat antologi bersama ini. Milad FLP ke-5 dan seterusnya, ada antologi milad. Inilah antologi sumbangan para anggota FLP, agar milad bisa berlangsung. Untuk Musyawarah Nasional I dan milad VIII FLP kemarin (2005) misalnya, teman-teman juga membuat beberapa antologi cinta. Beberapa antologi cinta untuk FLP adalah Luka Telah Menyapa Cinta (FBA Press, 2002), Ketika Cinta Menemukanmu (Gema Insani Press, 2005), I Love You So Mad (Lingkar Pena Publishing House, 2005), Blind Date (Cakrawala Publishing, 2005), Ujilah Cinta Itu (FBA Press, 2005).
Saat tsunami melanda, teman-teman FLP berhasil membuat lima buku antologi cinta bekerja sama dengan banyak penerbit. Uang royalti sekitar 40 juta, Januari-Februari 2005 langsung disumbangkan untuk korban tsunami Aceh. Padahal bukunya baru terbit setelah itu. Alhamdulillah, FLP bisa menjalin persahabatan juga dengan kawan kawan penerbit yang selalu percaya pada kami. Kelima antologi itu: Perempuan Bermata Lembut (FBA Press, 2005), Addicted 2U (Lingkar Pena Publishing House, 2005), Jendela Cinta (Gema Insani Press, 2005), Menyisir Rindu (Cakrawala Publishing, 2005) dan Surat Buat Abang (Senayan Abadi, 2005)).
Di luar itu ada juga antologi FLP Aceh sendiri: Hati yang Terpisah (Syaamil Cipta Media, 2005). Antologi ini ditulis bersama oleh enam anggota FLP Aceh sebelum tsunami. Tiga di antara mereka meninggal karena keganasan tsunami.
Tradisi berlanjut saat FLP mendengar Gito Rollies, seorang musisi yang memiliki kepedulian pada Kampanye Membaca FLP, menderita sakit. Antologi Badman Bidin (Lingkar Pena Publishing House, 2005) pun hadir dan sedikit membantu pengobatan Kang Gito, begitu biasa beliau dipanggil.
Rumah Cahaya (Baca dan Hasilkan Karya) yang FLP dirikan di berbagai kota juga membutuhkan dana untuk pengembangannya. Lagi-lagi anggota FLP gotong royong menyumbang cerpen yang dibukukan dalam The Story of Jomblo (Lingkar Pena Publishing House, 2004) dan Suami Impian (Lingkar Pena Publishing House, 2006).
*Makalah Diskusi Besar “Forum Lingkar Pena dalam Peta Sastra Indonesia” dalam rangka perayaan 10 Tahun Forum Lingkar Pena diselenggarakan Forum Lingkar Pena di Ruang Serbaguna Depdiknas, Jakarta, Sabtu, 24 Februari 2007.
*Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
[1] Berikut dikutip tulisan Helvy Tiana Rosa, berjudul “FLP, Penulis dari 100 Kota” yang disampaikan dalam Milad FLP tahun 2002: “Tahun 1997 saya (Helvy Tiana Rosa: MSM), Asma Nadia, Muthmainnah serta beberapa teman dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia bertemu di Masjid Ukhuwah Islamiyah, Universitas Indonesia. Pertemuan berlanjut dengan diskusi tentang minat membaca dan menulis di kalangan para remaja Indonesia. Percakapan tersebut sampai pada kenyataan semakin mendesaknya kebutuhan masyarakat akan bacaan yang bermutu. Di sisi lain sebenarnya cukup banyak anak muda yang mau berkiprah di bidang penulisan, tetapi potensi mereka kerap tak tersalurkan atau intensitas menulis masih rendah, di antaranya karena tiadanya pembinaan untuk peningkatan kualitas tulisan. Lebih dari itu, semua yang hadir menyadari betapa efektifnya menyampaikan gagasan melalui tulisan. Akhirnya yang hadir sepakat untuk membentuk organisasi penulis. Maka pada tanggal 22 Februari 1997 berdirilah Forum Lingkar Pena, sebagai badan otonom Yayasan Prima dan saya terpilih sebagai Ketua Umum. Saat itu anggotanya tak lebih dari 30 orang saja. Kami pun mengadakan acara rutin pekanan dan bulanan berkaitan tentang penulisan untuk anggota, dengan mengundang pakar di bidang tersebut. Kami mengadakan bengkel penulisan secara kecil-kecilan dan merekrut anggota baru.
[2] Tanpa publisitas, tanpa kehebohan dan gembar-gembor, FLP telah mempunyai perwakilan di 29 propinsi dari Aceh hingga Papua dengan 43 cabangnya di berbagai kota di seluruh Indonesia. Ini barangkali sudah memenuhi keterwakilan daerah sebagai syarat untuk pembentukan sebuah partai politik.
[3] Helvy Tiana Rosa, Ibid. Menurutnya, dalam waktu yang relatif singkat, organisasi yang memiliki cabang di hampir 30 propinsi dan di mancanegara ini telah beranggotakan sekitar 5000 orang, hampir 70% anggotanya adalah perempuan. Dari jumlah ini, 500 di antaranya menulis secara aktif di berbagai media. Ke-500 orang ini berusaha membina 4500 anggota FLP lainnya untuk menjadi penulis pula. Selama tujuh tahun keberadaannya, organisasi penulis ini telah menerbitkan sekitar 400 buku yang sebagian besar terdiri dari karya sastra serius, fiksi remaja dan cerita anak. Tidak ada orang atau lembaga yang mensponsori FLP. Kemandirian ini memungkinkan FLP menulis sesuai kata hati.
[4] Periksalah sejumlah buku pelajaran Bahasa Indonesia untuk SLTP atau SLTA. Di sana kita akan menemukan begitu banyak materi linguistik dengan penekanan pada teori-teori kebahasaan, dan bukan berorientasi pada bagaimana siswa mempunyai keterampilan menggunakan bahasa. Materi pelajaran sastra lebih parah lagi. Selain itu, jumlah jam pelajaran yang begitu minim untuk materi sastra dibandingkan untuk materi bahasa merupakan problem yang lain lagi yang terjadi dalam pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Dalam jumlah jam yang begitu minim itu, di sana, siswa lebih banyak dijejali teori-teori sastra dan pengetahuan sejarah sastra ketimbang disuruh bergaul secara apresiatif dengan karya. Segala masalah itu kemudian bermuara pada pertanyaan-pertanyaan Ujian Nasional yang menyuruh siswa menjawab pilihan A, B, C, D, atau E. Belum lagi menyangkut pertanyaannya yang dalam beberapa kasus cenderung menyesatkan. Maka, usaha untuk menjadikan siswa keterampilan berbahasa dan dapat meningkatan apresiasi siswa terhadap karya sastra, makin jauh panggang dari api. Itulah yang terjadi dalam pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah selama ini.
[5] Keprihatinan Taufiq Ismail atas kondisi buruknya minat membaca, lemahnya keterampilan menulis, dan surutnya apresiasi sastra di sekolah ini kemudian disambut positif oleh Depdiknas dengan diberikannya kewenangan Taufiq Ismail untuk membuat program yang dapat memecahkan keadaan tersebut. Lahirlah kemudian Program Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra (MMAS) bagi guru-guru bahasa Indonesia di SMU dari seluruh pelosok Tanah Air. Berdasarkan pengalaman selama menjadi salah seorang instruktur MMAS sejak tahun 1997, dapatlah disimpulkan, bahwa problem pengajaran bahasa Indonesia di sekolah bersumber dari kurikulum nasional yang muatannya lebih banyak pada materi lingusitik. Pelajaran Bahasa Indonesia seperti mengandaikan bahwa siswa dipersiapkan sebagai linguis –ahli bahasa. Penjejalan tata bahasa dan teori-teori menjadikan pelajaran bahasa Indonesia begitu rumit, menjemukan, dan menakutkan.
[6]Terbukti pandangan ini apriori dan salah. Berikut saya kutip lagi pernyataan Helvy Tiana Rosa tentang sifat dan keanggotaan FLP. “FLP adalah organisasi inklusif. Keanggotaannya terbuka bagi siapa saja tanpa memandang ras maupun agama. Mayoritas anggota FLP memang muslim, namun tingkat pemahaman keislaman mereka tidak seragam. Banyak pula non muslim yang bergabung. Meski demikian para anggota FLP memiliki niat yang sama: membagi seberkas cahaya bagi para pembaca dan menganggap kegiatan menulis adalah bagian dari ibadah. Anggota FLP termuda saat ini (2004: MSM) berusia 4 tahun dan tertua 69 tahun. "Muda" dalam FLP lebih ditekankan pada aspek semangat, bukan usia, meski kebanyakan anggota FLP memang berusia sekitar 15-25 tahun. Namun sejak awal tahun 2004, beberapa FLP wilayah, sebut saja DKI, Jawa Barat dan Kaltim membuka khusus “FLP Kids” untuk anak berusia 6-12 tahun.”
[7]Direktris Eksekutif Majalah Horison, Ati Taufiq Ismail pernah menceritakan pengalamannya waktu diselenggarakan acara SBSB (Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya) di Aceh yang waktu itu membawa sastrawan terkenal Rendra, Taufiq Ismail, Helvy Tiana Rosa, dan Jajang C Noer. Di hotel tempat menginap rombongan Horison, segerombolan remaja datang ke sana. Ati Taufiq Ismail menduga, bahwa para remaja itu akan meminta tanda tangan penyair besar Rendra dan Taufiq Ismail. Ternyata dugaannya salah. Secara histeris, gerombolan remaja itu begitu antusia datang ke sana semata-mata ingin jumpa dan mendapat tanda tangan Helvy Tiana Rosa. Ternyata lagi, sosok Helvy adalah idola mereka. Dalam kegiatan yang sama, hal itu terjadi lagi di Madura. Ketika saya berkunjung ke Pesantren Al-Amin di Pamekasan, Madura, sejumlah santriwati yang menjadi anggota FLP begitu besar keinginannya untuk dapat berjumpa dengan Asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa yang sudah sangat mereka kenal lewat karya-karyanya. Motivasi mereka menjadi anggota FLP, selain ingin menjadi penulis terkenal seperti yang diperlihatkan kedua kakak-beradik itu, juga agar bisa berjumpa dengan keduanya. Beberapa mahasiswa saya di Universitas Indonesia, Islamic College for Advanced Studies (ICAS) Jakarta, dan Universitas Pakuan Bogor, sampai sekarang kerap bertanya, kapan saya dapat mempertemukan mereka dengan Asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa. Bahkan, beberapa di antaranya –sampai kini—masih juga tak yakin, bahwa saya mengenal baik kedua kakak-beradik itu. Mahasiswa yang tak yakin itu ternyata begitu mengidolakannya. Ketika saya bertanya, mengapa mereka mengidolakan mereka, dan bukan mengidolakan sastrawan yang lebih senior atau selebritas atau bintang sinetron yang sedang terkenal, mereka menjawab, bahwa karya kedua sastrawan itu sangat menyentuh perasaan. Mereka juga melihat sosok keduanya sebagai citra ibu rumah tangga yang ideal. “Allahu Akbar!”
[8]Militansi yang saya maksudkan di sini adalah ketangguhan dan keras hati dalam memperjuangkan kemanusiaan melalui kegiatan menulis—mengarang dan menerbitkan buku. Sikap militan untuk menjadi penulis terkenal, meningkatkan harga diri, menunjukkan kualitas dan eksistensinya agar tidak direndahkan orang lain, serta berbagai alasan lain yang melatarbelakangi –dan sekaligus mendorong—memotivasi mereka menjadi anggota FLP diungkapkan dengan sangat mengharukan oleh anggota FLP Hongkong, para buruh migran Indonesia di Hongkong. Periksa Pengantar Asma Nadia dan lampiran yang terdapat dalam antologi cerpen Hongkong, Namaku Peri Cinta (Depok: Lingkar Pena Kreativa, 2005), hlm. v—xxiii.
[9] Ingatlah apa yang telah dilakukan para penyair Pujangga Baru. Lewat Majalah Poedjangga Baroe, Sutan Takdir Alisjahbana, kakak-beradik Sanusi Pane dan Armijn Pane, dan Amir Hamzah, berhasil membangun semacam gerakan estetik sastra (puisi) Indonesia yang menolak bahasa yang mendayu-dayu dan klise, kehidupan dunia supranatural dan istana sentris, serta segala yang dianggap berbau sastra lama. Berkat beberapa sastrawan itulah, sastrawan lain yang karyanya dimuat Poedjangga Baroe, secara umum seperti sangat dipengaruhi oleh gaya kepenyairan Sutan Takdir Alisjahbana dan kawan-kawan. Ingat pula sastrawan Angkatan 70-an yang mengusung “kembali ke akar kembali ke tradisi” seperti punya kesadaran yang sama untuk menggali akar tradisi kultur etnik. Jadi, yang dilakukan mereka adalah gerakan estetik, dan bukan sekadar gerakan massal. Oleh karena itu, gerakan FLP selain perlu tetap mempertahankan penambahan jumlah anggota dan perluasan wilayah jangkauannya, peningkatan kualitas karya perlu menjadi salah satu agenda ke depan. Hanya dengan cara itu, FLP akan ikut memainkan peranan penting dalam mewarnai gerakan estetik sastra Indonesia.
[10]Inklusivisme FLP dalam soal agama tampak ketika FLP menyelenggarakan Sayembara Novel FLP 2005. Pemenang kedua sayembara itu jatuh pada novel berjudul Gadis Kunang-Kunang karya Olyrinson, sastrawan muda Riau (baca: Melayu) keturunan Tionghoa beragama Kristen. Olyrinson sendiri menyatakan bahwa FLP adalah komunitas yang keanggotaannya terbuka untuk setiap orang dan tidak ada kaitannya dengan persoalan agama, etnik, dan usia. Periksa kembali catatan kaki 6.
[11]Citra dan gengsi positif kaum remaja ini diekspresikan dengan kebanggaannya menjadi anggota FLP. Di Pesantren Al-Amin, Pamekasan, Madura, misalnya, mereka yang tidak menjadi anggota FLP dianggap sebagai orang yang kurang gaul. Menjadi anggota FLP seperti “gaya hidup”. Belum menjadi anggota FLP, barangkali sama dengan remaja perkotaan yang tidak punya HP.
[12]Dalam sebuah pelatihan cerpen yang diselenggarakan FLP beberapa waktu yang lalu, di luar forum saya bertanya pada lelaki paruh baya alasan dan minatnya datang ke pelatihan itu. Ternyata dia cuma mengantar anaknya yang duduk di SMP untuk ikut pelatihan itu. Dikatakan pula, bahwa dia menyuruh anaknya untuk menjadi anggota FLP. Saya pikir apa yang dilakukan orang tua itu untuk menyuruh anaknya menjadi anggota FLP sebagai representasi pandangan positif orang tua tentang FLP. Jadi, bukan lagi masalah jika keanggotaan FLP dikenai iuran Rp 2.500,00 jika masyarakat sudah punya pandangan positif yang seperti itu.
[13] Visi FLP adalah membangun Indonesia cinta membaca dan menulis serta membangun jaringan penulis berkualitas di Indonesia. Helvy Tiana Rosa, Ibid.
[14]Dalam beberapa kali menjadi juri lomba penulisan cerpen atau novel yang diselenggarakan berbagai lembaga penerbit, institusi atau lembaga pemerintah, selalu ada pemenangnya yang berlatar belakang anggota FLP. Tentu saja ini dapat juga dijadikan indikator, bahwa FLP telah berhasil mengantarkan anggotanya menjadi penulis potensial yang berkualitas. Hingga kini FLP telah mencatat, bahwa dari sekian ribu anggotanya itu, 153 adalah pengarang produktif. Dari 153 pengarang itu, 21 di antaranya telah menghasilkan penerbitan buku di atas tujuh buku, dengan Asma Nadia berada di urutan pertama (44 buku), berikutnya Afifah Afra Amatullah (31 buku), Fahri Asiza (27 buku), Pipiet Senja (26 buku), Sakti Wibowo (25 buku), Helvy Toana Rosa (19 buku), Izzatul Jannah (18 buku), Gita Lidya (17 buku), Leyla Imtichanah (17 buku), Nurul F Huda (15 buku), Rahmadiyanti (11 buku), Ekky al Malaky (10 buku), Kazimah Al Muhyi (10 buku), sisanya telah menghasilkan antara 7—9 buku. Lihat lampiran.
[15]Beberapa sastrawan penting seperti Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Gola Gong, Kurnia Effendi, Firman Venayaksa, Olyrinson, Sulaiman Tripa yang karya-karyanya diterbitkan FLP merupakan bukti bahwa FLP juga menghasilkan karya-karya serius dengan kualitas yang menjanjikan.
[16]Winna Karnie –nama pena Winarsih Muhammad Karnie, lahir 30 April 1976 di Magetan. Alumnus SMA Negeri 3 Magetan. Bekerja sebagai buruh migran Indonesia di Hongkong.
[17]Ketua FLP Cabang Hongkong (2005—2006).
[18]Lahir di Tuban, 17 Juli 1977.
[19]Nama pena Fitriana S.L.D. lahir di Jawa Tengah (?) tahun 1977 (?).
[20]Nama pena Siti Rofiah, lahir di Kebumen 1 Maret 1973.
[21] S. Aisyah Z lahir di Madiun, 2 Agustus 1981 dengan nama Susan Dewi –mungkin cerpenis termuda dalam antologi itu. Bekerja sebagai buruh migran di Hongkong. Mantan ketua FLP Wilayah Hongkong.
[22]Gerakan massalisasi seperti itu pernah dilakukan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) sebagai corong politik Partai Komunis Indonesia pertengahan tahun 1950-an. Jumlah anggota Lekra memang massal karena keanggotaan itu bagian dari keanggotaan PKI atau sebaliknya. Cabang-cabang Lekra juga terdapat di berbagai kota di seluruh Indonesia sebagai bagian dari sub-organisasi PKI. Tetapi, Lekra tidak menghasilkan penulis atau pengarang atau seniman. Massalisasi yang dilakukan Lekra adalah bagian dari rekrutmen keanggotaan PKI. Bahwa gerakan Lekra yang seperti itu, tentu saja dapat kita pahami mengingat Lekra sebagai sub-organisasi PKI yang pendanaannya menjadi tanggung jawab PKI. Jadi jika dilihat dari rekrutmen keanggotaan FLP yang sukarela dan bantuan iuran setiap bulan dari para anggotanya yang kadangkala membayar kadangkala tidak, tentu saja Lekra masih kalah jauh.
[23]Tanpa publisitas FLP ternyata telah banyak melakukan gerakan kemanusiaan dengan cara memberi bantuan atau sumbangan kemanusiaan. Lihat Lampiran 2.
Tags: makalah 10 tahun flp
3 comments share
Blog Entry Nominator CWI 2006 Jan 18, '07 3:46 AM
for everyone
Nah Berdasarkan Informasi yang saya dapatkan dari beberapa rekan yang tentunya dapat dipercaya dan dapat dipertanggung jawabkan,..berikut ini saya posting para nominator Lomba Cerpen CWI 2006 dan para pemenangnya:
Selamat y....
Wayan Sunarta, Dongeng di bukit Batu Bintan
Muhammad Nasir, Rapun
Ragdi F. Daye, Punggung
Rista Rifia Libiana, Perempuan bermata Bidadari
Irene Sarwindaningrum, Digital Dream
Dalih Sembiring, Floccinaucinihipilificatius
Dian Hartati, Kota Kenangan
Rohyati Sofjan, Poli
I Gusti Made Dwi Guna, Boarding
Ina Nur Ratriyana, Kalau Esok Hari Masih ada, Tuhan…
Ajun Kesuma, Harta Karun
Hari Ambari, Nyi Pohaci
Endah Sulistyowati, Tentara di Tapal Batas
Denny Prabowo, Tedong Helena
Iggoy el-Fitra, Abu, Sepenggal Rindu Arafuru
MH Abid, Pendulang Emas (juara 3)
Indrian Koto, Lagu Ombak Kampung Terkurung
Alimuddin, Serambi tak mau kembali ke Abang Indonesia
Nana Supriatna, Sutinah
Azizah Hefni, Pintu yang Terkunci (juara 2)
Joko Nugroho, Benang yang Mencari Daun
Fahruddin Nasrullah, nubuat dari Sabrang
Griven H Putera, Pusara bernisan Duhut Berbunga
Gunawan Budi Susilo, Malam Buta
M Badri, Loktong (juara1)
Marhalim Zaini, Jaring Batu
Wicaksono Surya Hidayat, Tuhan yang Ketiga
St. Fatimah, Malaika, sebuah Firman Terakhir
M Raudah Jambak, Bulan
Widzar al-Ghifary, Untuk Lelaki Harum Rimba
Sucipto bin Rapii, Kisah dari Numfor
Satmoko Budi Santoso, Kuda yang menderap di Kaki Candi
Subscribe to:
Posts (Atom)