Tuesday, 27 May 2008

Herman KS Dalam Puisi

PADA 2-9 Desember 2007, kita telah membicarakan kumpulan sajak Herman Ks dalam ‘’ Sepi Yang Menyekap Dingin Kian Mengendap’’, dalam ruangan ini, terutama sajak-sajaknya yang bertutur secara langsung dan yang menggunakan metafor dan konvensi khazanah sastra.

Tetapi, ada satu dimensi lagi dari pola bertutur yang tampak rumit digunakan oleh Herman Ks dalam menyampaikan visi dan misinya sebagai penyair, yaitu sajak-sajaknya yang membangun suasana dengan menghadirkan kondisi dan situasi untuk mendukung tema sentral. Dalam hal ini penyair secara real tampak merekam suasana alam sebagai lanskap padahal di balik itu ada suatu kesan tersembunyi bahwa suasana demi suasana alam yang ia goreskan, yang tak jarang terasa sebagai pengulangan demi pengulangan, adalah sebenarnya untuk pendukung tema pokok dalam sajak-sajaknya yang tampak ia balut dan sembunyikan.

Ada satu peristiwa yang terjadi, peristiwa atau tepatnya tragedi yang begitu dahsyat melanda negeri ini, yang ditatap bahkan dialami dan dirasakan sendiri oleh anak bangsa ini, di mana penyair sendiri saat itu berada di tengah-tengahnya. Peristiwa banjir darah yang orang bahkan anak-anak sekolah tak sulit menemukan mayat atau kepala yang telah terpenggal di jalan-jalan, semak-semak, selokan dan sungai. Dalam tragedi Gerakan 30 September yang mengerikan itu, diperkirakan sekitar enam ratus ribu hingga dua juta orang tewas dalam amuk massa.

Tapi mengapa ia tidak merekam subjek atau masalah itu secara transparan, sebagaimana yang telah kita baca dalam sajak-sajaknya terhadap warga kota yang merisaukan hatinya dengan statemen dan keberpihakan yang nyata. Ada beberapa alasan. Komitmennya terhadap “orang-orang kecil” atau “wong cilik” dalam masalah ini menjadi terhambat atau mendapat kesulitan oleh alasan keamanan. Sebagaimana diketahui dalam era pergolakan itu begitu sensitip sehingga seseorang yang diteriaki atau dibisikkan sebagai seorang yang memihak atau terlibat sudah cukup untuk diamankan tanpa perlu pengusutan atau pengadilan.

Keadaan semacam ini terus berlanjut selama belasan atau bahkan puluhan tahun. Musuh bersama adalah ideologi dan siapa saja yang terlibat dalam ideologi haram itu akan dibantai atau diamankan. Sementara keberpihakan penyair tetap kepada manusianya, teristimewa terhadap mereka yang tertindas dan terpinggirkan. Alasan lain, sebagai penyair kemungkinan ia merasa mual melihat pembantaian terhadap sesama yang dilakukan tanpa sembunyi bahkan vulgar. Rasa kemenangan yang dipertontonkan atau euforia yang berlebihan berupa sorak-sorai adalah kejadian sehari-hari, padahal seseorang yang diciduk atau dibantai masih belum tentu berada pihak yang salah.

Penyair kelihatannya sudah sulit melukiskan fenomena itu dengan gaya yang ia rekamkan selama ini, sebagaimana kita baca dalam sajak Orang-orang Malang di atas, yang bahkan dalam situasi dan kondisi yang normal saja pilihan katanya sudah sedemikian rupa. Kosakata yang telah optimal seperti sajak itu untuk mendeskripsikan makna penderitaan manusia “hanya” dalam kondisi dan situasi kota yang masih normal, akan betapa pula pelukisan yang harus digoreskan untuk tragedi kemanusiaan seperti kita sebutkan tadi. Kalau dia meneruskan cara dan gayanya seperti selama ini, tentu penyair akan terjebak ke dalam ungkapan yang verbiage!

Tema-tema itu tentu tak akan hilang dalam sanubari penyair. Namun harus ada pengendapan dan lompatan gaya dari yang selama ini telah biasa dipergunakan. Dan ini tentu saja butuh waktu meskipun menggelisahkan dan menunggu begitu membosankan. Manusia, walau bagaimanapun, memang menghadapi keterbatasan ruang dan waktu yang seolah menyekat keterbatasan eksistensinya. Tapi apa boleh buat, dia harus menerimanya, meskipun tidak harus menyerah. Harus menunggu keadaan dan saat yang tepat. Berdamai dengan ruang dan waktu.

Dan angin pun berdesir
tatkala hujan reda. Engkau berbisik
di tepi hari. Dalam bayang waktu. Dalam menunggu
dan jam yang tak letihnya berdetik
(Dan Angin pun Berdesir, hal. 7)

Meskipun penyair tampak begitu gelisah dalam menunggu waktu, tapi dia optimis “angin pun berdesir” yaitu “tatkala hujan reda”. Meskipun menunggu hujan amukan massa butuh penantian yang lama sehingga angin kreatifitas dapat kembali pulih, namun tampaknya hal itu tidak sia-sia. Dalam banyak sajaknya kemudian, seperti Sajak Sehabis Hujan (hal.25), Selintas Angin di Tengah Padang (hal. 26), Selintas Angin Siang (hal. 27), Menyeru di Tengat Lengang (hal. 28), Senja. Gerimis di Luar (hal. 29), dan Sebuah Perigi Tua (hal. 30)

penyair menemukan style dengan melakukan inovasi dalam bentuk dan isi. Ia sama sekali telah mengubah caranya bersajak. Kalau selama ini pengucapannya begitu lugas dengan larik dan bait yang panjang sehingga mirip kalimat serta makna sajak yang transparan dan menjelasterangkan, dalam arti kata lain, kita masih bisa membedakan dengan jelas antara bentuk dan isi, gaya dan makna, atau bentuk begitu jelas sebagai pembungkus isi, maka dalam sajak di atas, kita hampir tak dapat lagi memilah yang mana bentuk yang mana isi. Diksi dan idiomnya begitu ringkas, padat, dan ekonomis. Ada enjambemen yang selama ini tak dikenalnya. Kita berhadapan dengan suasana demi suasana yang langsung menjadi imaji-imaji dari apa yang mau dia utarakan.

Style atau gaya adalah faktor pembeda antara seorang penyair dengan penyair lainnya, dengan kata lain apabila style atau gaya keduanya mirip akan cenderung dikatakan salah satu di antaranya sebagai pengikut atau lebih ekstremnya plagiator. Namun kalau terjadi terhadap diri seorang penyair, perbedaan style yang dilakukannya dapat dikatakan sebagai satu bentuk pencarian yang meningkatkan kualitas dan pengukuhannya sebagai penyair, dengan catatan, style yang dicapainya atau yang diperolehnya kemudian lebih memenuhi harmonisasi sesama unsur perpuisian.

Penyair tidak lagi memberikan keberpihakan sosial secara jelas sebagaimana yang kita baca dalam sajak-sajaknya terdahulu, meskipun masih terasa nada simpati, namun lebih terasa samar-samar dan begitu menyimpan misteri tentang siapa sebenarnya sosok kau itu. Inilah menurut hemat kita salah satu harga atau nilai sebuah sajak di mana imajinasi kita sebagai pembaca ikut berperan aktif dalam menyiasati dan menentukannya; hal yang sama sekali tidak ditemukan dalam sajak Orang-orang Malang dan sejenisnya, di mana semuanya sudah terhidang dan kita dibujuk bahkan digiring ke arah makna yang dikehendaki penyair, meskipun memang kita belum tentu menyetujuinya.

Imajinasi kita dengan bebas bermain dan mengembara dalam menyiasati sajak Ketika Angin Berdesauan ini. Siapakah kau yang berdiri mematung di tengah-tengah kota yang sedang dilanda topan dan amuk badai itu. Mengapa dia tidak menyingkir dalam huru-hara yang begitu dahsyat sehingga bukan saja daun-daun, bahkan “hari-hari luruh”. Kita tidak tahu persis siapa kau, tetapi mengapa kita seakan mencemaskan nasibnya, menyuruhnya lekas-lekas menyingkir dari sana, meskipun anehnya saran itu pun mencemaskan kita oleh karena suasana kota yang begitu tak memberi pengharapan lagi.

Fungsi kau sangat menentukan dalam sajak ini. Seandainya dia tidak ada jadilah sajak ini semata-mata sebuah impresi penyair terhadap suasana kota yang dilihatnya, semata panorama alam. Tapi dengan hadirnya kau di sana, apa yang divisualkan dalam sajak itu tentulah berupa imaji atau bayang-bayang batin penyair yang mengembara terhadap sesuatu peristiwa yang sangat berkesan; yang tampak begitu kelam dan menakutkan; sehingga untuk menyebutkan identitas kau saja.

Chairil Anwar Dan Bahasa Rahasia Medan

CHAIRIL Anwar lahir, dewasa, dan menentukan sikap hidup berkesenian di Medan. Ia lahir pada 26 Juli 1922, dan meninggal dunia di Jakarta, 28 April 1949. Ia mengaku bahwa pada usianya yang ke15, dalam suratnya kepada H.B. Jassin, telah memilih berkesenian secara bersungguh-sungguh. Ini berarti, Chairil pada waktu itu masih belum pernah pergi ke mana-mana, tetap bergelimang di Medan. Bersekolah, bergaul, dan mengisi lahir dan batinnya dengan segala apa yang dapat diserapnya di tengah-tengah pusat kebudayaan Melayu pada waktu itu.

Tak dapat disangkal pada periode Chairil di Medan (1922—1941, atau Keith Foulcher berpendapat 1922-1942), kota itu masih sangat kental budaya Melayunya. Sultan Amaluddin Sani Perkasa Alamsjah, Sultan Deli, yang bertahta di Medan, masih berkuasa, baik sebagai Kepala Adat maupun sebagai Kepala Pemerintahan. Para penelaah Chairil Anwar jarang sekali, kalau tak mau dikatakan sama sekali tak pernah, mengaitkan karya-karyanya dengan kebudayaan Melayu yang hidup dan berkembang di Medan. Padahal bahasa dan sastra adalah bagian yang tak terpisahkan dari sebuah kebudayaan. Salah satu bukti dapat diperlihatkan tentang bagaimana para penelaah itu selalu merasakan kesulitan memahamkan beberapa diksi atau idiom dalam sajak-sajak Chairil Anwar sehingga mereka menarik kesimpulan yang keliru.

Di sini kita ingin membicarakan beberapa sajak Chairil Anwar dengan pertama-tama menganalis beberapa kata yang ada di dalamnya yang berkaitan dengan bahasa percakapan dan kebudayaan di Medan. Setelah itu baru ditarik suatu kesimpulan akan makna apa yang terkandung di dalamnya. Marilah kita terlebih dahulu memperhatikan konstruksi dan pilihan kata dalam sajak-sajak Chairil Anwar yang tampak sangat bervariasi, eksperimental dan inovatif serta memberikan berbagai makna. Dalam Penghidupan Chairil berkata:

Lautan maha dalam
mukul dentur selama
nguji tenaga pematang kita
mukul dentur selama
hingga hancur remuk redam
Kurnia Bahagia
kecil setumpuk,
sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk. Desember 1942

Lautan maha dalam sudah lazim, bahkan cederung klise. Tapi tiba-tiba kita dikejutkan oleh mukul dentur selama, konstruksi kalimatnya sungguh luar biasa meskipun untuk sebuah ragam percakapan. “Mukul kau, ya? Kuhajar nanti, berdentur kepalamu ke dinding!” Atau “Bunyi apa kudengar berdentur-dentur, tu!” Untuk kata “selama”, misalnya: “Beginilah piilmu selama, ha?! Tak tahanlah aku!” Jadi, pilihan kata “mukul”, “dentur”, “selama” memang dikenal dalam bahasa percakapan di Medan, tapi kata-kata dari ragam percakapan itu telah digiring Chairil ke gaya personalnya! Konstruksi kalimat mukul dentur selama memang khas Chairil untuk pengertian yang dimaksudkannya: “Lautan yang maha dalam itu gelombangnya memukul-mukul pantai atau tebing, bendentur-dentur bunyinya setiap masa, gunanya untuk menguji seberapa kuat tenaga pematang kita.” Konstruksi kalimat dengan penempatan “selama” seperti itu, tampak begitu khas. Ia memang lazim dalam BMM (Bahasa Melayu Medan) tapi tidak dalam BI. Dalam BMM “selama” bisa berfungsi sebagai ajektiva, sedang dalam BI lebih sebagai partikel atau kata sambung saja.

Jelas, Chairil faham betul menempatkan bahasa percakapan itu dalam sajaknya yang liris dan untuk apa dia melakukan, padahal resikonya terlalu besar. Salah-salah bisa dituduh “membuat kekacauan baru”, “memperkosa bahasa”, “bahasa yang sangat buruk” dan sebagainya. Dalam sajak Penghidupan ini Chairil memulai dengan ungkapan yang sudah sangat dikenal bahkan cederung klise, Lautan maha dalam. Semua orang tahu itu. Tak ada anehnya. Dan kita cenderung mengabaikannya atau tidak memperhatikannya. Tapi tatkala membaca larik kedua, mukul dentur selama, kita mulai dan betul-betul tertegun. Kalimat itu tak biasa. Kita mulai menguras kuriositas kita, keingintahuan kita. Apa maknanya itu, dan untuk apa “kata-kata yang kacau” atau “kata-kata yang tak dikenal” tiba-tiba muncul setelah pernyataan yang begitu biasa. Inilah sebuah terapi bahasa dari seorang penyair.

Ia seperti sangat minta perhatian atas sesuatu yang sudah mapan, yang sudah karatan, yang sudah kuno, yang sudah membosankan, yang sudah basi, lautan maha dalam. Kita cenderung melecehkan, menyepelekan, apanya yang aneh. Tak ada! Tapi penyair tahu betul itu. Ia lalu membuat kejutan, mukul dentur selama, Apa artinya itu?! Kita penasaran. Kata-kata itu mengusik keigintahuan kita. Mungkin membolak-balik kamus. Atau bertanya ke sanake mari. Apa arti mukul atau kenapa ia mengatakan mukul. Dentur itu apa. Kalau berdentur mungkin kita tahu. Dan selama, ah! Selama. Ini tidak biasa. Apa yang tak biasa. Kata-katanya? Bukan! Penempatannya. Kenapa ditempatkan di akhir kalimat?

Jika saja Chairil melanjutkan dengan gaya yang kuno seperti larik pertama, misalnya dengan “ombaknya memukul-mukul tebing dan pasir pantai bergemuruh setiap saat”, kita akan menampik sajak itu dengan kesal. Tetapi karena larik kedua itu tidak bicara seperti itu, malah berhasil menarik minat kita dengan caranya yang tidak biasa tadi, setelah memahami artinya, hati-hati dia melanjutkan nguji tenaga pematang kita. Rupanya kelakuan lautan maha dalam itu, yang sudah karatan itu, ada hubungannya dengan “kita”.

Ternyata lautan maha dalam adanya dalam diri kita, hati, perasaan, pikiran, yang senantiasa memukul-mukul, yang setiap saat berdentur-dentur dalam darah dan daging kita. Hati manusia, pusat emosi dan intelektual manusia, segumpal darah, segumpal daging yang ada dalam setiap batang tubuh manusia, adalah lautan maha dalam. Namun “sedalam-dalam lautan boleh diduga, dalam hati siapa tahu”.

Inilah yang ingin diungkapkan Chairil. Hati manusia, meskipun telah bekerja secara rutin dan klise, telah kuno, namun dia tetap setiap saat memukul-mukul darah dan daging kita, mempengaruhi kita, menjebak kita. Setiap saat dari masa ke masa, ia selalu dapat mempebaharui gaya pukulannya, teknik denturnya terhadap darah daging kita, nguji tenaga pematang kita. Disesuaikannya bahan ujiannya dengan tingkat dan kadar emosi dan intelektual kita, lebih jauh orang per orang. Dahulu, seseorang yang ingin mengambil hak orang lain, harus mengandalkan tenaga dan kekuatan, sekarang cukup dengan online di internet, mengklik salah satu situs, tak lama kemudian akan datang “rejeki tak terduga” ke tempat kita.

Seorang kuli di pelabuhan perlu “bersimbah peluh” untuk melakukan “korupsi” mengutipi ceceran bahan-bahan yang tak laku dijual, seorang presiden cukup dengan sekilas pandang, atau hanya seungkap kata sindir, dan para ajudan akan cukup maklum ke mana arahnya, tak menunggu lama “isi hati” Sang Tuan Presiden akan menjadi kenyataan.Dengan begitu tema sajak ini bisa begitu besar. Mau mukul dentur kezaliman demi kezaliman yang melanda negerinya hingga hancur remuk redam.

Demikianlah sebuah sajak yang pendek seperti Penghidupan itu, maknanya dapat diulur panjang dan up to date hingga sekarang padahal ditulis lebih setengah abad yang lalu. Ia seperti tembus pandang melihat problema bangsanya. Kata-kata hingga hancur remuk redam yang tampak dituliskan atau diucapkan secara klise dan terus terang di tengah-tengah kata-kata “baru”, juga tampaknya mempunyai sindiran tertentu.

Penyair sekaliber Chairil Anwar yang sangat dikenal usil dalam pilihan kata, yang tahan mengantongi sebuah sajak berbulan-bulan sebelum diumumkan, suka mengubah dan mencoret kata-kata bahkan dalam sebuah sajak yang sudah jadi, tak mungkin tak memperhitungkan kata yang begitu klise hingga hancur remuk redam dapat masuk ke dalam sajaknya begitu saja. Chairil sangat memahami bahwa apresiasi masyarakat terhadap sastra Indonesia modern masih terbatas dan baru mulai tumbuh. Masyarakat masih terbiasa dengan bentuk-bentuk konvesional dan masih ingin meneruskannya karena terasa enak dan dapat dipakai sebagai media hiburan meskipun selalu diulang-ulang sehingga misinya menjadi klise.

Padahal sastra bukanlah semata media hiburan belaka tapi juga harus berisi hikmah-hikmah hidup, memuat persoalan bangsa dan pemecahannya. Sementara kondisi dan situasi zaman terus berkembang dan berubah. Dan tentu saja sastra sebagai salah satu media ekspresi mesti mengambil peran dan peduli terhadap nasib dan problema bangsa dan negaranya. Karya sastra tak harus berindah-indah saja, menekankan pada keenakan dan pengisi waktu luang belaka tapi juga sekaligus harus bermanfaat dan menyugukan misinya secara segar dan mengamati perkembangan.

Selanjutnya, Chairil sebagai pembaharu pada satu sisi ingin menuntaskan mencabut akar tradisi sehabis-habisnya baru dengan demikian lahan dapat diolah dengan semangat dan penuh kesegaran. Tapi kemudian dia sadar bahwa hal ini tidak mudah dilakukan. Sebagaimana dikatakan oleh Jassin, “Chairil mau membikin perhitungan habis-habisan dengan tradisi dalam seni masyarakat, tapi tradisi lebih kuat daripadanya. Kelihatan dia kadang kembali pada tradisi, tapi lebih kaya, lebih berisi dari semula.” (Jassin, 1985: 29).

Dari tindakan dan prilaku serta karya-karyanya, kelihatan bahwa Chairil menginsyafi sesungguhnya tidak mungkin “membikin perhitungan habis-habisan dengan tradisi” karena seorang manusia walau bagaimana pun tidak dapat hidup dari nol tapi sedikit banyaknya harus memulai dan melanjutkan yang sudah ada. Paling-paling dia memilih, memilah, memperbaharui yang telah ada dan itulah sesungguhnya yang dilakukannya.

Dalam kehidupannya sendiri, Chairil punya ayah yang menyekolahkan dan memanjakannya, punya ibu sangat disayanginya, punya Oom Syahrir yang memotivasinya, punya agama yang diyakininya, punya lingkungan budaya yang menimang dan membesarkanya. Walau bagaimana pun semua itu ikut membentuk diri dan kepribadiannya, suka atau tidak suka. Dengan perasaan dan kesadarannya, dia harus meneruskan semua itu dengan caranya. Dia meninggalkan ayahnya karena berpihak kepada ibunya, tapi bagaimana pun bekas-bekas yang telah digariskan ayahnya tak mungkin hilang. Dia mengikuti ibunya tapi tak semua pribadi ibunya bisa diturutinya.

Chairil punya Oom Syahrir yang sangat dibanggakannya, tapi sebatas motivasi kebudayaan dan bahan bacaan yang digandrunginya. Tidak berkecimpung dalam politik kebangsaan sebagaimana yang diperjuangkan Sang Politikus dan Negarawan itu. Chairil pun meninggalkan kantong budaya yang melahirkan dan mendewasakannya, namun tidak berarti dan tidak mungkin sama sekali menghapuskan darah daging dan kepribadian yang telah membentuknya walau bagaimana pun pengaruh budaya yang diperolehnya di tempatnya yang baru.

Secara intrinsik Chairil ingin mengubah pola persajakan dan kebiasaan para pujangga sebelumnya, seperti Angkatan Balai Pustaka dan Pujangga Baru yang sangat gemar menggunakan kata-kata klise. Dalam sajak yang begitu pendek, ia sengaja meyempatkan menyelang-seling kata-kata klise dengan kata-kata dan bentuk yang justru baru atau belum dikenal. Dengan demikian Chairil ingin mukul dentur kata-kata klise itu hingga hancur remuk redam selama-lamanya. Sehingga muncullah kata-kata baru yang segar sebagaimana yang telah dilakukannya dengan berbagai eksprimen dan inovasi.

Chairil memang tampak tidak menyembunyikan kebosanannya terhadap kata-kata usang yang selalu dipakai para penyair pendahulunya yang itu-itu saja, seperti yang ia sebut dalam sajak Kenangan. Ada satu kata yang tampak istimewa yaitu mereksmi. Kata itu sepintas diambil dari perbendaharaan kitab Hindu. Sanusi Pane pernah mengambil kata laksmi untuk sajaknya Teratai. Kata laksmi jelas ada sosoknya, nama dewi, istri Dewa Wisnu. Dan kita tahu bahwa Sanusi Pane orientasinya memang ke filsafat dan mistik Timur, terutama India. Chairil tak pernah menampakkan indikasi ke arah itu. Tak tertarik ke dunia filsafat klasik dan mistik. Dan tampaknya tak pernah tertarik kepada Sanusi Pane sebagai pendahulunya. Kata mereksmi bukanlah kembaran laksmi. Bukan nama dewi atau nama siapa-siapa. Isi sajak Kenangan itu pun tampak mengarah ke ketidaksenangan terhadap dunia lama itu.

Kadang
Di antara jeriji itu-itu saja
Mereksmi memberi warna
Benda usang dilupa
Ah1 Tercebar rasanya diri
Membubung tinggi atas kini
Sejenak
Saja. Halus rapuh ini jalinan kenang
Hancur hilang belum dipegang
Terhentak
Kembali di itu-itu saja
Jiwa bertanya: Dari buah
Hidup kan banyakan jatuh ke tanah?
Menyelubung nyesak penyesalan pernah menyia-nyia. 19 April 1943


Apa yang dimaksud Chairil dengan jeriji itu-itu saja, sehingga membosankannya? Padahal di lain pihak mereksmi begitu memberi warna terhadap benda usang yang sudah dilupa. Kata mereksmi menjadi menarik perhatian karena mirip laksmi. Laksmi, menyimak ke sajak Sanusi Pane di atas adalah simbol dunia lama, dunia itu-itu saja. Jadi sementara dapat disimpulkan mereksmi berasal dari atau yang menyenangi laksmi.

Di Medan, sekitar tahun 1930-1950-an, pernah hidup berbagai “bahasa rahasia” di kalangan para pemuda. Kata-kata dipelesetkan seolah-olah seperti bahasa Belanda. Setidaknya ada dua pola yang dikenal. Misalnya ka van ul artinya kau; ka ver pan artinya kapan Yang lebih praktis adalah pada kata-kata tertentu di huruf akhirnya ditambah dengan sye atau se, misalnya Apsye kau bilse? maksudnya Apa kau bilang? HB Jassin dalam bukunya “Analisa” ketika mengulas sebuah cerita pendek mengakui adanya “bahasa rahasia” ini dan banyak hidup di berbagai tempat di daerah. Ia menyayangkan berbagai “bahasa rahasia” itu kurang dipelihara sehingga dikhawatirkannya akan musnah.

Tentu Chairil, ketika masih berada di Medan, mengetahui adanya berbagai “bahasa rahasia” ini. Dan kata yang sebiji ini: mereksmi, adalah salah satu kata dari “bahasa rahasia” itu. Artinya: mereka. Sebagai penyair, Chairil tidak mengikuti ragam yang sudah ada, misalnya menuliskannya menjadi merverkan atau merekse, “bahasa rahasia” di Medan itu, tapi mereksmi, lagi pula ia punya maksud supaya sebunyi dengan laksmi. Dalam Teratai Sanusi Pane menulis: Daun berseri Laksmi mengarang. Lalu Chairil menyergah: Mereksmi memberi warna/Benda usang dilupa. Mereka mengarang hanya dengan tak bosan-bosan memberi warna terhadap benda usang yang sudah dilupa. Artinya: hanya “melap-lap hasil kebudayaan lama sampai berkilat” seperti yang tertulis dalam Surat Kepercayaan Gelanggang, “tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudayaan baru yang sehat”. Sebagaimana renung Chairil dalam larik sajak itu juga:

Kembali di itu-itu saja
Jiwa bertanya: Dari buah
Hidup kan banyakan jatuh ke tanah?
Ya, begitu banyak buah atau masalah hidup yang masih segar untuk diolah dan dirasakan, mengapa harus Kembali di itu-itu saja?

Hal ini dapat pula kita lihat dengan jelas dan lebih blak-blakan pada sajaknya 1943, sekaligus angka tahun yang sangat subur dalam kepenulisan Chairil. Di sini Chairil tak melakukan inovasi dan eksperimen tentang kata sebagaimana dilakukannya dalam sajak terdahulu Penghidupan dan Kenangan itu. Sajak 1943 itu diksi dan idiomnya boleh dikatakan memenuhi standar “bahasa yang baik dan benar” dan masih kental dengan gaya Medan. Racun berada di reguk pertama/Membusuk rabu terasa di dada/Tenggelam darah dalam nanah/Malam kelam-membelam.

Tapi di sini ia melakukan inovasi bentukan bait dan larik yang begitu revolusioner sehingga tak ada satu penyair pun sebelumnya, pada masanya, dan sesudahnya melakukan hal seperti itu, kecuali lebih dari tiga puluh tahun kemudian sebagaimana yang dilakukan oleh Sutardji Calzoum Bachri.
1943
Racun berada direguk pertama
Membusuk rabu terasa di dada
Tenggelam darah dalam nanah
Malam kelam membelam
Jalan kaku lurus. Putus
Candu.
Tumbang
Tanganku menadah patah
Luluh
Terbenam
Hilang
Lumpuh.
Lahir
Tegak
Berderak
Rubuh
Runtuh
Mengaum. Mengguruh
Menentang. Menyerang
Kuning
Merah
Hitam
Kering
Tandas
Rata
Rata
Rata
Dunia
Kau
Aku
Terpaku. 1943

Kalau diteliti tampak dengan nyata Chairil ingin mengubah dan mendobrak sesuatu yang hanya menyediakan racun baginya dan bagi generasi selanjutnya. Sehingga membusuk rabu dan tenggelam dalam darah dan nanah. Mengikut kebosanan Chairil terhadap karya yang kembali ke itu-itu saja maka di sini Chairil mengumumkan kredonya secara blak-blakan. Karya-karya mereka tak lebih seperti malam kelam membelam atau seperti jalan kaku lurus. Sehingga harus diputus. Karya-karya seperti itu hanya semaca candu bagi masyarakat, sehinga harus ditumbangkan, meski oleh karenanya Tanganku menadah patah atau luluh, atau terbenam atau sekalipun hilang atau lumpuh. Supaya generasi baru yang memberikan udara penyegaran akan lahir, tegak, meski apapun halangannya untuk membuatnya berderak, rubuh, runtuh.

Ia harus melawan, Mengaum. Mengguruh, bukan itu saja tetapi harus menentang. Menyerang, supaya terjadi pembaharuan dan mengalami proses kuning, merah, hitam, sehingga karya-karya model mereka yang telah usang itu menjadi kering, tandus, rata-rata sehingga Dunia melihat jelas bahwa kau pujangga lama di depan aku jadi terpaku. Sehingga hancur remuk redam. Mengapa sajak itu diberinya judul 1943, sedangkan tak ada kena mengena dengan isi sajak ialah bahwa pada tahun itu Chairil telah merasa cukup kuat dengan puluhan sajaknya.Harus dicatat bahwa tahun itu saja ia telah menulis lebih tiga puluh sajak, atau tepatnya 32 sajak.Satu hal yang tak pernah terulang dalam masa kreativitasnya selama 7 tahun itu dengan total keseluruhan hanya 70 sajak.

Kalau saja Rosihan Anwar atau H.B. Jassin awas akan hal ini, dan tidak terlalu mengaitkan kebangkitan sastra dengan kebangkitan politik, maka angkatan di mana Chairil jadi pelopornya seharusnya bernama Angkatan 43 di mana sajak 1943 dapat dijadikan sebagai tonggak! Sebagian besar sajak Chairil justru memadu tradisi lama dengan segala yang baru mempengaruhinya dan yang dipungutnya dalam perjalanan hidup dan pengembaraan batinnya. Ia dengan berani membuat eksperimen dan inovasi sehingga seolah kita berada dalam ruangan “pas bebas”, seperti yang terkesan pada sajak 1943 itu. Di sana, dalam proses pemaduan itu dia bisa membentangkan segala macam ironi dan tragedi kehidupan.Yang paling penting pendedahan sikap, wawasan, cita, gagasan yang digeluti dan diperjuangkannya.

Dari paparan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Chairil sadar betul memakai ungkapanungkapan konvensional, dan memadunya dengan diksi dan idiom baru yang dibentuknya dari hasil eksperimen dan inovasinya/Semua ini tidak terlepas dari akar kata yang berasal dari budaya yang mendewasakanya. Diksi dan idiom yang digunakanya sudah dikenalnya betul dan sudah menjadi naluri dan darah dagingnya. Dengan kematangannya itu, ia menyesuaikannya menjadi simbol yang khas miliknya sehingga tampak menyatu.


damiri mahmud

Profil Sastrawan

Arifin C. Noer dilahirkan di Cirebon, Jawa Barat, 10 Maret 1941, dan meninggal di Jakarta, 28 Mei 1995. Pendiri Teater Kecil ini menulis puisi, drama, dan menyutradarai sejumlah film. Karya-karyanya anatara lain: Nurul Aini (1963), Mega-mega (1967), Kapai-kapai (1967; diterjemahkan Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris), Prita Istri Kita, Umang-umang, Selamat Pagi Jajang (1979).

Armijn Pane dilahirkan di Muara Sipongi, Sumatera Utara, 18 Agustus 1908, dan meninggal di Jakarta, 16 Februari 1970. Antara 1933-55 pernah menjadi redaktur majalah Pujangga Baru, Balai Pustaka, dan majalah Indonesia. Novelnya, Belenggu (1940), hingga saat ini dipandang sebagai peretas penulisan novel Indonesia modern. Karya-karyanya yang lain: Jiwa Berjiwa (1939), Kort overzicht van de Moderne Indonesische Literatuur (1949), Kisah Antara Manusia (1953), Jinak-jinak Merpati (1953), Gamelan Jiwa (1960), Tiongkok Zaman Baru, Sejarahnya: Abad ke-19 Sekarang (1953). Ia pun menerjemahkan dan menyadur novel dan drama, yaitu: Membangun Hari Kedua (1956; Ilya Ehtenburg) dan Ratna (1943; Hendrik Ibsen).

Asrul Sani dilahirkan di Rao, Sumatera Barat, 10 Juni 1926. Lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia (1955) ini pernah menjadi redaktur Pujangga Baru, Gema Suasana, Gelanggang, dan Citra Film. Karya-karya aslinya adalah: Tiga Menguak Takdir (1950; bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin), Dari Suatu Masa Dari Suatu Tempat (1972), Mantera (1975), Mahkamah (1988). Selain banyak menulis skenario dan menyutradarai film, ia dikenal sebagai penerjemah andal dan produktif. Karya-karya terjemahannya, antara lain: Laut Membisu (1949; Vercors), Pangeran Muda (1952; Antoine de Saint Exupery), Enam Pelajaran bagi Calon Aktor (1960; Richard Bolslavsky), Rumah Perawan (1977; Kawabata Yasunari), Villa des Roses (Willem Elschot), Puteri Pulau (1977; Maria Dermout), Kuil Kencana (1978; Yukio Mishima), Pintu Tertutup (1979; Jean Paul Sartre), Julius Caesar (1979; William Shakespeare), Sang Anak (1979; Rabindranath Tagore); Catatan dari Bawah Tanah (1979; Dostoyevsky), Keindahan dan Kepiluan (1986; Nikolai Gogol).

BM Syamsuddin dilahirkan di Natuna, Kepulauan Riau, 10 Mei 1935, dan meningal di Bukitttingi, 20 Februari 1997. Karya-karyanya berupa puisi dan cerpen dimuat di antaranya di Kompas dan Suara Karya Minggu. Selain sejumlah buku cerita anak, ia menulis antara lain: Seni Lakon Mendu Tradisi Pemanggungan dan Nilai Lestari (1995) dan Seni Teater Tradisional Mak Yong.

Budi Darma dilahirkan di Rembang, Jawa Tengah, 25 April 1937. Meraih M.A. dan Ph.D di Indiana University, Bloomington, Amerika Serikat. Novelis yang pernah menjadi Rektor IKIP Surabaya ini meraih SEA Write Award pada 1984. Karya-karyanya: Orang-orang Bloomington (1980), Solilokui (1983), Olenka (1983; pemenang pertama Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1980 dan Hadiah Sastra DKJ 1983), Sejumlah Esai Sastra (1984), Rafilus (1988), Harmonium (1995), Ny Talis (1996). Sebuah cerpennya, “Derabat”, terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1999 dan dipublikasikan pada buku berjudul sama.

Bur Rasuanto dilahirkan di Palembang, Sumatera Selatan, 6 April 1937. Karya-karya salah seorang penanda tangan utama Manifes Kebudayaan dan doktor dalam bidang filsafat ini adalah: Bumi yang Berpeluh (1963), Mereka Akan Bangkit (1963; meraih Hadiah Sastra Yamin, namun ditolak pengarangnya), Mereka Telah Bangkit (1966), Sang Ayah (1969), Manusia Tanah Air (1969), Tuyet (1978; mendapat hadiah utama Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1978).

BY Tand dilahirkan di Asahan, Sumatera Utara, 10 Agustus 1942. Karya-karyanya: Ketika Matahari Tertidur (1979), Sajak-sajak Diam (1983), Sketsa (1984; memenangkan Hadiah Utama Hadiah Puisi Putra II Malaysia), Alif Ba Ta (t.t.), Khatulistiwa (1981), Titian Laut I, II, III (1982; terbit di Malaysia), Si Hitam (1990), dan antologi Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (Suratman Markasan [ed.]).

Chairil Anwar dilahirkan di Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922, dan meninggal di Jakarta, 28 April 1949. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, sastrawan yang oleh H.B. Jassin dinobatkan sebagai Pelopor angkatan 45 dalam puisi itu, mendirikan “Gelanggang Seniman Merdeka” (1946). Kumpulan puisi penyair yang pernah menjadi redaktur ruang budaya Siasat “Gelanggang” dan Gema Suasana ini adalah Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Putus (1949), Deru Campur Debu (1949), Tiga Menguak Takdir (1950; bersama Asrul Sani dan Rivai Apin), Aku Ini Binatang Jalang (1986), Derai-derai Cemara (1998). Karya-karya terjemahannya: Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948; Andre Gide), Kena Gempur (1951; John Steinbeck). Penerjemahan karya-karyanya ke dalam bahasa Inggris dan Jerman dilakukan Burton Raffel, Chairil Anwar: Selected Poems (New York: 1963) dan The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar (New York: 1970), Liaw Yock-Fang (Singapura: 1974), Walter Karwath, Feur und Asche (Wina: 1978). Karya-karya studi tentang Chairil Anwar antara lain dilakukan oleh: S.U.S. Nababan, A Linguistic Analysis of the Poetry of Amir Hamzah and Chairil Anwar (New York: 1976), Boen S. Oemarjati, Chairil Anwar: the Poet and His Language (Den Haag: 1972).

Chairul Harun dilahirkan Kayutanam, Sumatera Barat, Agustus 1940, dan meninggal di Padang, 19 Februari 1998. Karya-karyanya antara lain: Monumen Safari (1966) dan Warisan (1979; novel penerima hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1979)

D. Zawawi Imron dilahirkan di Sumenep, Madura, 1946. Karya-karya penyair yang meraih Hadiah Utama dalam lomba penulisan puisi AN-Teve pada 1995 ini, antara lain: Semerbak Mayang (1977), Madura Akulah Lautmu (1978), Celurit Emas (1980), Bulan Tertusuk Ilalang (1982), Nenek Moyangku Airmata (1985; mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K, 1985), Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996), Lautmu Tak Habis Gelombang (1996), Madura Akulah Darahmu (1999).

Damiri Mahmud dilahirkan di Medan, Sumatera Utara, 1945. Karya-karyanya: Tiga Muda (1980), Aku Senantiasa Mencari (1982), Sajak-sajak Kamar (1983), Kuala (1975), Puisi (1977), Rantau (1984). Puisi-puisinya dimuat pula di Horison, Basis, Republika, dan lain-lain.

Danarto dilahirkan di Sragen, Jawa Tengah, 27 Juni 1940. Karya-karya penerima SEA Write Award 1988 ini adalah: Godlob (1975), Adam Ma`rifat (1982; meraih Hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta dan Yayasan Buku Utama pada tahun yang sama), Berhala (1987; memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1987), Orang Jawa Naik Haji (1984), Obrok Owok-owok, Ebrek Ewek-ewek (1976), Bel Geduwel Beh (1976), Gergasi (1993), Gerak-gerak Allah (1996), dan Asmaraloka (1999).

Darman Moenir dilahirkan di Batusangkar, Sumatera Barat, 27 Juli 1952. Ia mengikuti International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat, pada 1988, dan empat tahun kemudian menerima Hadiah Sastra dari Pemerintah RI. Karya-karyanya antara lain: Gumam (1976), Bako (1983; novel pemenang hadiah utama Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1980), Aku Keluargaku Tetanggaku (pemenenang kedua Sayembara Novel Kartini 1987), Jelaga Pusaka Tinggi (1997). Karyanya yang lain dapat ditemukan pula dalam antologi Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (1991; Suratman Markasan [ed.]).

Darmanto Jatman dilahirkan dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1942. Karya-karyanya antara lain: Sajak-sajak Putih (1968), Ungu (1968; bersama A. Makmur Makka), Bangsat (1974), Sang Darmanto (1975), Ki Blakasuta Bla Bla (1980), Karto Iya Bilang Mboten (1981), Sastra, Psikologi, dan Masyarakat (1985), Sekitar Masalah Kebudayaan (1986), Golf untuk Rakyat (1994), Istri (1997). Sejumlah sajaknya, bersama sejumlah sajak penyair lain seperti Abdul Hadi WM dan Sutardji Calzoum Bachri, diterjemahkan Harry Aveling dan dipublikasikan dalam Arjuna in Meditation (1976).

Djamil Suherman dilahirkan di Surabaya, Jawa Timur, 24 April 1924, dan meninggal di Bandung, 30 November 1985. Karya-karyanya berupa puisi, novel dan cerita pendek: Muara (1958; bersama Kaswanda Saleh), Manifestasi (1963), Perjalanan ke Akhirat (1963; memenangkan hadiah kedua Majalah Sastra 1962), Umi Kulsum (1983), Pejuang-pejuang Kali Pepe (1984), Sarip Tambakoso (1985), Sakerah (1985).

Ediruslan Pe Amanriza dilahirkan di Pekanbaru, Riau, 17 Agustus 1947. Kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung tidak ia selesaikan. Kumpulan puisinya: Surat-suratku kepada GN, Vogabon, Bukit Kawin, Wangkang. Sementara novel-novelnya: Di Bawah Matahari, Taman, Jakarta di Manakah Sri, Nakhoda (mendapat Hadiah Sayembara mengarang Roman DKJ 1977), Panggil Aku Sakai (1987) Ke Langit (1993), Koyan, Jembatan, Dikalahkan Sang Sapurba (2000). Kumpulan cerita pendeknya: Renungkanlah Markasan (1997).

Frans Nadjira dilahirkan di Makassar, 3 September 1942. Sastrawan yang juga pelukis ini pada 1979 mengikuti Iowa International Writing Program, di Iowa City, Amerika Serikat. Puisi dan cerpennya tersebar di berbagai media publikasi, antara lain di Horison, Sinar Harapan, Bali Post, AIA News (Australia), termasuk di beberapa antologi bersama Laut Biru Langit Biru, Puisi Asean, Tonggak, The Spirit That Moves Us (USA), On Foreign Shores, Teh Ginseng, A Bonsai’s Morning, dan Ketika Kata Ketika Warna. Kumpulan puisinya: Jendela dan Springs of Fire Springs of Tears, dan kumpulan cerpennya Bercakap-cakap di Bawah Guguran Daun.

Gerson Poyk dilahirkan di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, 16 Juni 1931. Peserta angkatan pertama dari Indonesia pada International Writing Program di Iowa University Amerika Serikat ini, memenangkan Hadiah Adinegoro pada 1985 dan 1986, dan SEA Write Award pada 1989. Novel dan kumpulan cerita pendeknya, antara lain: Hari-hari Pertama (1968), Sang Guru (1971), Matias Ankari (1975), Oleng-kemoleng & Surat-surat Cinta Rajaguguk (1975), Nostalgia Nusatenggara (1976), Jerat (1978), Cumbuan Sabana (1979), Seutas Benang Cinta (1982), Giring-giring (1982), Di Bawah Matahari Bali (1982), Requiem untuk Seorang Perempuan (1983), Anak Karang (1985), Doa Perkabungan (1987), Impian Nyoman Sulastri dan Hanibal (1988), Poti Wolo (1988).

Goenawan Mohamad dilahirkan di Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941. Pemimpin redaksi majalah Tempo selama 23 tahun yang juga mantan wartawan harian Kami ini dikenal luas sebagai penyair dan penulis esai yang sangat cerdas. Karya-karyanya antara lain: Pariksit (1971), Potret Penyair Muda sebagai Si Malin Kundang (1972), Interlude (1973), Seks, Sastra, Kita (1980), Catatan Pinggir (1982-91; empat jilid), Asmaradana (1992), Misalkan Kita di Sarajevo (1998). Salah seorang penanda tangan Manifes Kebudayaan ini, pada 1973 mendapat Anugerah Seni dari Pemerintah RI, dan delapan tahun kemudian meraih SEA Write Award.

Hamid Jabbar dilahirkan di Kotagadang, Sumatera Barat, 27 Juli 1949. Karya-karya penyair yang pernah menjadi wartawan Indonesia Express, Singgalang, dan redaktur Balai Pustaka ini antara lain: Paco-Paco (1974), Dua Warna (1975; bersama Upita Agustine), Wajah Kita (1981), Siapa Mau Jadi Raja, Raja Berak Menangis, Zikrullah. Cerpennya, “Engku Datuk Yth. Di Jakarta” terpilih masuk ke dalam antologi Cerita Pendek Indonesia IV (1986; Satyagraha Hoerip [ed.]). Kumpulan puisinya terakhir: Super Hilang, Segerobak Sajak (1998; memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama).

Hamka dilahirkan di Maninjau, Sumatera Barat, 16 Februari 1908, dan meningal di Jakarta, 24 Juli 1981. Pernah memimpin majalah Pedoman Masyarakat, Gema Islam, Panji Masyarakat, dan hingga akhir hayatnya menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia. Karya-karya peraih gelar doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar (Mesir) ini antara lain: Di Bawah Lindungan Ka`bah (1938), Merantau ke Deli (1938), Karena Fitnah (1938), Tuan Direktur (1939), Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (1939), Keadilan Ilahi (1941), Di Dalam Lembah Kehidupan (1941), Dijemput Mamaknya (1949), Menunggu Beduk Berbunyi (1950), Kenang-kenangan Hidup I-IV (1951-52), Lembah Nikmat (1959), Cemburu (1961), Cermin Penghidupan (1962), Ayahku (1967), dan sejumlah buku filsafat, etika, dan khotbah.

Hamsad Rangkuti dilahirkan di Titikuning, Sumatera Utara, 7 Mei 1943. Sastrawan yang hampir setiap tahun karyanya selalu masuk dalam kumpulan cerita pendek terbaik Kompas ini, hingga sekarang menjabat pemimpin redaksi majalah sastra Horison. Karya-karyanya: Lukisan Perkawinan (1982), Cemara (1982), Lampu Merah (1988; novel yang memenangkan hadiah harapan Sayembara Mengarang Roman DKJ 1980), Kereta Pagi Jam 5 (1994), dan Sampah Bulan Desember (2000).

Hartoyo Andangjaya dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 4 Juli 1930, dan meninggal di kota kelahirannya, 30 Agustus 1991. Karya-karya aslinya: Simphoni Puisi (1954; bersama D.S. Moeljanto), Manifestasi (1963; bersama Goenawan Mohamad, et. al.), Buku Puisi (1973), Dari Sunyi ke Bunyi (1991; kumpulan esai peraih hadiah Yayasan Buku Utama Depdikbud 1993). Karya-karya terjemahannya: Tukang Kebun (1976; Rabindranath Tagore), Kubur Terhormat bagi Pelaut (1977; Slauerhoff), Rahasia Hati (1978; Natsume Soseki), Musyawarah Burung (1983; Farid al-Din Attar), Puisi Arab Modern (1984), Kasidah Cinta (tt.; Jalal al-Din Rumi).

HS Djurtatap dilahirkan di Payakumbuh, Sumatera Barat, 2 Juni 1947. Sejak 1974 menjadi redaktur harian Pelita Jakarta. Karya-karyanya dimuat antara lain di Horison. Dua sajaknya dimuat dalam antologi Sajak-sajak Perjuangan dan Tanah Air (1995; Oyon Sofyan [ed.]).

Husni Djamaluddin dilahirkan di Mandar, Sulawesi Selatan, 10 November 1934. Karya-karyanya: Puisi Akhir Tahun (1969), Obsesi (1970), Kau dan Aku (1973), Anu (1974), Toraja (1979), Sajak-sajak dari Makassar (1974), Bulan Luka Parah (1986), Berenang-renang ke Tepian, dan antologi Puisi ASEAN Buku III (1978).

Ibrahim Sattah dilahirkan di Pulau Tujuh, Riau Kepulauan, 1943, dan meninggal di Pekanbaru, 19 Januari 1988. Karya-karya penyair berpendidikan terakhir kelas 1 SMA dan pernah menjadi dosen Universitas Islam Riau serta Wakil Kepala Pusat Penerangan Angkatan Bersenjata RI Riau/Sumatera Barat itu terkumpul dalam: Dandandid (1975), Ibrahim (1980), dan Hai Ti (1981).

Idrus dilahirkan di Padang, Sumatera Barat, 21 September 1921, dan meninggal di kota yang sama, 18 Mei 1979. Tahun 1965-79, mengajar di Universitas Monash, Australia. Penutur fasih yang pernah menjadi redaktur majalah Kisah dan Indonesia ini dikenal sebagai pelopor penulisan prosa dalam kesusastraan Indonesia modern. Karya-karya drama, cerita pendek, novel dan terjemahannya adalah: Dokter Bisma (1945); Kejahatan Membalas Dendam (1945), Jibaku Aceh (1945), Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (1948), Keluarga Surono (1948), Aki (1949), Perempuan dan Kebangsaan (1949), Dua Episode Masa Kecil (1952), Dengan Mata Terbuka (1961), Hati Nurani Manusia (1963), Hikayat Puteri Penelope (1973), Kereta Api Baja (1948; Vsevold Ivanov), Acoka (1948; G. Gonggrijp), Keju (1948; Willem Elschot), Perkenalan (1949; Anton Chekov, Luigi Pirandello, Guy de Maupassant, dan Jeroslav Hasek).

Idrus Tintin dilahirkan di Rengat, Riau, 10 November 1932. Ia pernah menjadi guru di SMAN II Pekanbaru dan mengasuh Sanggar Teater Bahana. Tiga kumpulan puisinya: Luput, Burung Waktu, dan Nyanyian di Lautan, Tarian di Tengah Hutan dikumpulkan kembali dalam Idrus Tintin: Seniman dari Riau Kumpulan Puisi dan Telaah (1996).

”Gema Tanah Air”, DR. H. B. Yassin


H. B. Jassin. Di mana berakhirnya mata seorang penyair?
Kau sudah lama sekali tahu, kuburan dia
Hanyalah nisan kata-katanya selama ini
Tentang mimpi, tentang dunia sebelum kau tidur

..........

Paragraf pertama Sajak berjudul Keterangan karya Toto Sudarto Bachtiar [Gema Tanah Air, hal 165]


Kehidupan sastra tak pernah lepas dari kehidupan bangsa dan tanah air, itulah sebabnya sastra senantiasa mengalami perkembangan dengan segala pasang surutnya secara terus-menerus.

Untuk mengamati perkembangan tersebut tentu diperlukan dokumentasi lengkap. Dokumentasi bukan hanya akan berguna bagi para ahlinya, namun juga akan berfaedah bagi orang awam yang menaruh minat di bidang tersebut.

Dalam buku ”Gema Tanah Air”, DR. H. B. Yassin, kritikus sastra Indonesia yang sangat terpandang, secara berturut-turut telah mengumpulkan prosa dan puisi yang dipilih dari karya-karya para sastrawan Indonesia.

Setiap pengarang merupakan wakil dari jamannya, dan dengan karyanya ia pun mencerminkan gejolak situasi dirinya dan juga kehidupan di sekitarnya.

Bunga rampai perjalanan sastra di tanah air yang dirangkai H. B. Yassin ini telah mengalami cetak ulang 10 kali (setidaknya pada buku yang saya pegang, cetakan Balai Pustaka, sejak tahun 1948 hingga 1993 pada cetakan ke 10).

Ada banyak nama-nama penting dari para sastrawan dan karya-karyanya yang bisa kita pelajari dari buku ini sebagai catatan sejarah kesusastraan di tanah air. Sebut saja misalnya Chairil Anwar, Nugroho, Asrul Sani, Samiati Alisjahbana, Toto Sudarto Bachtiar, tentu masih banyak lagi yang lainnya.

Sedikit profil penulis :



H. B. Yassin, lahir 31 Juli 1917 di Gorontalo, Sulawesi Utara, Pendidikan beliau adalah di HIS Gorontalo, HBS-B 5 tahun Medan, tahun 1957/tamat FSUI. Tahun 1958-1959 studi Ilmu Perbandingan Kesusastraan di Yale University, Amerika Serikat. Mendapat gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Indonesia dalam bidang Sastra.

Karangan Asli : Angkatan 45 ; Tifa Penyair dan Daerahnya; Kesustraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei ; Kesusastraan Indonesia di Masa Jepang ; Kesusastraan Dunia dalam Terjemahan Indonesia ; Angkatan 66, Heboh Sastra 1958 dan berbagai artikel di harian dan majalah.

Karya Terjemahan : Chushingura, oleh Sakai Sjiova ; Renungan Indonesia, oleh Sjahrasad ; Terbang Malam. Oleh A. De St Exupery ; Kisah-kisah dari Rumania ; Api Islam, oleh Syed Ameer Ali ; Certa Panji dalam Perbandingan, bersama Zuber Usman, oleh R.M.Ng. Poerbatjaraka ; Max Haverlaar, oleh Multatuli ; Kian Kemari-Indonesia dan Belanda dalam Sastra ; The Complete Poems of Chairil Anwar, dikerjakan bersama Liauw Yoek Fang ; dan Al Qur’anul Karim, Bacaan Mulia.

Judul Buku : Gema Tanah Air ; Prosa dan Puisi [1 dan 2]
Penulis : H.B. Yassin
Penerbit : Balai Pustaka
Cetakan : 10, Jakarta 1993
Tebal : 278 Halaman

Akidah Gauzillah

Saja-sajak Akidah Gauzillah
( )
TANAHKU SEPI
tanahku sepi, menjangkau angin
di langit berlayar. telah habis serpihan
waktuku berpaling. namun segalanya
hanya mengarungi sia di medan senja
bayang-bayang tak mau pergi, melengkung
siluet. lagu-laguku berkaca di sana
tak peduli bulan menutupi malam
sepi yang sia-sia, merambahi malam
hingga aku pun tidur di pangkuan yang
kosong dan tertawa lagi dalam mimpi
berjalan dari langit ke langit
November 05, 2005
KEINGKARAN
terlalu banyak janji tak bisa ditunaikan
terlalu banyak harapan terhamparkan
daun-daun berserakan tak tersapu
dan angin pun pergi entah ke mana
yang berdiri di sini hanya panorama
kediaman
November 05, 2005
KEPADA JO
jangan menangis, jangan
walau air mataku telah berlari
menuju karang laut
tapi hatimu
biarlah menjadi gurun tak berbasah
menunggu hujan di taman kaktus
dan buah-buah berguguran di musimnya
esok akan ada yang datang
menghampirimu kala kau berbaring
tetapi bukan air mataku
November 05, 2005
PERJALANAN
deru kereta itu menungguku
padahal napasku telah berakhir
di ujung jalan, seberang danau
sebelum mencapainya
hidup seperti teh pahit, saat kau
mereguknya perlahan-lahan
dan biarkan tenggorokanmu bernyanyi
menarikan puisi dahaga
yang kau rindukan pada hijau
danau itu
segalanya terus berawal dan berawal
menjemput kematian semusim semi
tak terkira kita akan mengemasnya
sebelum malam tiba
aku tak tahu lagi kebebasan
yang mengepak burung-burung
bersarang di dada ini
meninggalkan gerbong-gerbong
yang terus berkejaran
mencari sepotong pintu hati
di keping jiwa
November 05, 2005
DEPRESI ANAK NEGERI
Aku kehilangan kata
untuk menggoreskan luka jiwa
yang biasanya menjadi grafik keresahan
Termenung di putaran waktu
apakah ada sedikit guna
merangkaki kebimbangan melewati musim-musim
dengan sekian ton dilema yang membusuk
sedang asa terus meradang
buta waktu pagi, siang, sore, dan malam
hanya terpaan panas matahari dirasa
hanya gemerlap bintang terdengar
dari pekik norak bocah-bocah
kampung abad ini
Depresi ini merampas kekayaan
tak bernilai sejak terpeti di nurani keluguan
hingga terpikul oleh ambisi kemudaan
lalu terguncang badai dunia yang disambut
meriah kanibal-kanibal globalisasi
aku tercincang di meja judi mereka
sebab aku bukan siapa-siapa
cuma seorang anak negeri yang suka
berteriak kemalu-maluan:
"Ibu Pertiwi, dalam setiap desah nafasku
terhembus kekayaan cita-cita dan energi
semangat anak bangsa
walau di telapak tangan ini hanya terlihat
selembar lima ribuan hasil menjual koran
untuk membayar SPP."

LAGU
kamar mayat ini,
aku berbaring di kehidupan,
jauh memandang lukisan
kosong, tak mengalun warna-warna
seperti Jamal D Rahman bernyanyi
pada piring-piring
dan aku membisikkan kenangan
tentang laki-laki kota
yang menciptakan not-not jiwa
di garis-garis bermediasi
atas nama fenomena
jalan cinta tak sebatas ruang yang
tertutup keabadian tahta sang derita
menunggu Hitler mengulurkan pedang
ke leher kekasih
dan aku tersenyum damai merentangkan tangan
bernyanyi, "oh, sayang, oh, sayang."
lalu terkuburlah di sini, pada nisan-nisan
kejiwaan yang terlepas dari analisa
riset dokter-dokter jiwa
menghembuskan napasku pada derita
yang tertawa di jendela pagi
dan tangis yang mengulum-ngulum senyum
di tepian malam, melayang-layang
antara Cikini dan kota-kota tua
kubuang hamparan puisi sepanjang jalan
merayapi merpati putih hingga ruh-ruh ini
menggelepar pada nyanyian
yang membungkus kenangan
satu ketenangan harapan
tak terbagi-bagi di antara kesadaran
luka yang neurosis
mendesis-desis
dan aku pun berakhir
sebagai lagu diri


Akidah Gauzillah dikenal sebagai cerpenis dan penyair yang sangat berbakat. Karya-karyanya dipublikasikan di berbagai media sastra pusat dan daerah, seperti Media Indonesia, Republika, Kompas, dan Majalah Sastra Horison. Sajak-sajaknya juga terkumpul dalam buku seri antologi puisi Surat Putih (Risalah Badai, 2001/2002), antologi cerpen Sastra Senja (Dewan Kesenian Jakarta, 2004), antologi cerpen Mencintaimu (Logung Pustaka, 2004), kumpulan cerpen Majelis Sastra Asia Tenggara (Pusat Bahasa, 2005), kumpulan cerpen tunggal Bila Bintang Terpetik (Beranda Hikmah, 2004), dan Antologi Puisi Perempuan Penyair Indonesia/ (Risalah Badai, 2005).


GEMA::Kesadaran
Akidah Gauzillah
Halaman sebelumnyaLalu, di manakah peran Tuhan? Siapa sebenarnya yang membutuhkan atau dibutuhkan? Jika kejahatan dan kebaikan memang salah satu pasangan alamiah sepanjang keabadian atau kebahagiaan dan penderitaan memang tak pernah bisa tersisih salah satu untuk selamanya, apakah demikian pula tiada bedanya hidup dengan Tuhan atau tanpa Tuhan? Jadi apa yang diributkan orang-orang beragama tentang definisi kebenaran dan paling benar? Tidakkah segalanya hanya akan kembali pada satu muara: kebutuhan hidup yang diakui?
Seorang penyair yang juga kawan saya, Binhad Nurrohmat, suatu sore dalam percakapan biasa, mempertanyakan, mengapa Tuhan itu ada? Sebenarnya, jika kita jujur, sejak kecil pun pertanyaan itu telah bermain di alam pikiran kita, tetapi kita senantiasa terjebak pada perasaan Malin Kundang bila membiarkannya hidup dan berkembang seperti halnya fisik kita. Kita mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan manis itu di buku-buku, di klab-klab studi, bahkan hingga ke perguruan tinggi tetapi kita cenderung lupa membuka kesadaran kita sendiri; apakah kita yakin secara sadar untuk memilih apakah Dia ada dalam hidup kita atau kita menciptakannya untuk ada? Dan jika, kesadaran kita menolaknya, yakinkah kita bahwa stabilitas mental kita akan terjaga dengan pilihan itu?
We have no choice, if no choose to choice.
Sanggar Hati, Maret 2005
Akidah Gauzillah. Lahir di Cibubur, Jakarta Timur, 20 Desember 1977. Selama ini menulis karya sastra di Horison, Media Indonesia, Syir’ah, Muslimah, Cakrawala, Puteri, dan aktif di media diskusi mejabudaya, Taman Ismail Marzuki. Buku-buku yang telah terbit antara lain antologi puisi komunal perempuan penyair SURAT PUTIH I dan II (Risalah Badai, 2001/2002), antologi cerpen Yang Dibalut Lumut (CWI, 2003), antologi cerpen Indonesia Mencintaimu (Logung Pustaka, 2004), antologi cerpen Majelis Sastra Asia Tenggara (Pusat Bahasa, 2005) dan kumpulan cerpen tunggal Bila Bintang Terpetik (Beranda Hikmah, 2004).

Friday, 23 May 2008

6 PUISI ANAK RUMAH DUNIA

1.
MAAFKAN DOSA-DOSAKU IBU
Karya : Rosliana
Ibu maafkanlah dosa-dosaku
Karena aku telah melawan dan berbicara
Kasar kepadamu ibu
Ibu maafkanlah dosa-dosaku
Karena aku tidak mau menjadi anak yang durhaka
Ibu maafkanlah dosa-dosaku
Karena aku ingin menjadi anak yang soleh, pandai
Membantu orang tua dan tidak mau melawan kepada orang tua.
Ibu engkaulah segalanya bagiku
Ku berdoa kepada Allah agar dosa-dosaku terhadap ibu
Dapat diampunkan.
Ya allah, ampunilah dosa-dosaku terhadap ibuku
Ya Allah, maafkanlah kesalahanku terhadap ibuku
Ya Allah, hamba tidak akan mengulanginya lagi
Amin… amin… ya robal ‘alamiin.
Semoga dosa-dosaku diampuni Allah…
***
2.
BERDO’A
Karya: Abdul Goni
Ibuku yang telah memelihara dan membesarkan daku
Dan dia telah menyekolahkanku
Dia satu-satunya untukku
Yang merawat aku semenjak kecil
Aku akan mendoakan ibuku
Karna dia yangmengayun-ayun
Ketika aku masih kecil
Dan dia yang membesarkanku.
***
3.
IBUKU
Karya: Wahyudi
Betapa susah payahnya
Engkau melahirkan, mendidik, dan membesarkanku
Engkau adalah perisai hidupku
Engkau adalah cermin hidupku
Aku akan berbakti kepadamu
Aku akan menurut kepadamu
Aku akan melindungi dirimu
Surga ada di telapak kaki ibu.
***
4.
ILMU
Karya: S. Nadrotul Ain
Ilmu semua orang
Memerlukanmu
Aku belajar dengan tekun
Untuk mendapatkanmu
Buku adalah sumbermu
Bagai makanan
Yang kusantap setiap waktu
Tanpamu ilmu
Aku tak berguna
Di dunia ini.
***
5.
SENYUMAN MANIS
Karya: Rosliana
Senyumanmu…. Manis
Senyumanmu…. Indah
Bagaikan susu dan gula
Yang tercampur menjadi Saturday
Bila kau…..tersenyum
Rasanya maniiiiis sekali
Dan bila kau tertawa
Rasanya ria
***
6.
MENTARI
Karya: S. Nadrotul Ain
Hai mentari pagi
Hari ini kau datang tampak cerah sekali
Engkau datang tiap hari
Untuk sumber energi pribumi
Semua orang berlari pagi
Untuk menyehatkan diri
Tanpa kau, hai mentari
Di seluruh bumi ini
Akan mati tiada lagi.
***
BIODATA:
ROSLIANA: sekarang kelas 1 Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Serang. Suka teater, puisi, dan mengarang. Prestasinya lainnya adalah The Best Actress dalam Pesta Anak I Rumah Dunia tahun 2003, beberapa kali ikut pentas teater anak Rumah Dunia di Launching 1001buku di British Council-Jakarta tahun 2003, Indonesia Membaca di Jakarta Convention Centre tahun 2003, dan beberapa event perbukuan.
ABDUL GONI: Murid kelas 2 SMP Islam Darul Falah, Ciloang, Serang. Pernah ikut pentas teater anak Rumah Dunia di Jakarta Convention Centre. Kini sibuk dengan studinya.
WAHYUDI: Dia salah satu anak yang diberi beasiswa oleh Rumah Dunia saat masuk ke bangku SMP. Pernah di kelas 1 di SMP PGRI 1, Serang. Senang musik dan tergabung dalam kelompok musik Rumah Dunia. Sering ikut pentas teater Rumah Dunia.Tapi sekarang dia meninggalkan bangku sekolah dan memilih jadi pengamen di atas bus antar propinsi.
S. NADROTUL AIN: Sekarang kelas 2 di MTsN Serang. Hobi menulis dan teater, sering ikut pentas teater anak Rumah Dunia.

50 Puisi Untuk Anak


50 Puisi Untuk Anak
50 Lagu-Hati-Kesatuan
Tuhan Sempurna dan Anak Sempurna
oleh Sri Chinmoy
.

Aku berdoa kepada Tuhan
Setiap hari.
2.
Ibuku cantik.
3.
Ayahku kuat.
4.
Kecantikan ibuku, Mendebarkanku.
5.
Kekuatan ayahku
Melatih kehidupanku.
6.
Aku sayang sama semua orang.
7.
Aku tidak membenci siapapun.
8.
Aku percaya bahwa semua orang adalah orang yang baik.
9.
Pagi hari memberi sukacita
Di mataku.
10.
Malam hari memberi kedamaian
Di hatiku.
11.
Matahari mengundangku.
Aku takut pergi ke matahari,
Karena itu terlalu jauh.
12.
Bulan mengundangku.
Aku takut bahwa ketika aku berada di sana
Orang tuaku akan merindukanku,
Dan aku juga akan merindukan mereka.
13.
Bintang-bintang dan planet-planet mengundangku.
Aku takut bahwa ketika aku pergi ke mereka,
Mereka akan menahan aku bersama mereka
Untuk bermain dengan mereka
Dan mereka tidak akan memperbolehkan aku
Untuk pulang ke orang tuaku yang malang.
14.
Setiap pagi
Aku melihat sebuah bunga mawar yang sangat indah
Di dalam hatiku.

15.
Aku tidak akan pernah ingin tahu
Apakah itu keraguan dan kecumburuan.
16.
Aku tidak akan pernah ingin merasakan
Perasaan yang tidak aman di hatiku
Dan ketidakmurnian di pikiranku
Selama seluruh kehidupanku.
17.
Setiap malam Tuhan datang
Untuk melihat aku dalam mimpiku.
Dia mengatakan kepadaku:
“Anakku,
Kamu adalah anak baik sekali.
Teruslah seperti ini
Selama seluruh kehidupanmu.
18.
Satu hal yang paling penting
Yang Tuhan telah mengajarkan kepadaku:
Jika aku benar - benar sayang sama Tuhan,
Maka aku tidak akan pernah takut kepada Dia.
19.
Satu hal lagi yang penting
Yang Tuhan telah mengajarkan kepadaku:
Jika aku benar - benar membutuhkan Dia,
Maka Dia akan melakukan semuanya
Untuk membahagiakanku.

20.
Aku tidak pernah menjelek-jelekkan orang lain.
Menjelek-jelekkan orang lain, itu sangat tidak baik.
21.
Orang tuaku sangat baik kepadaku.
Mereka telah mengatakan kepadaku pikirkanlah Tuhan dahulu
Sebelum aku mengatakan sesuatu
Dan sebelum aku melakukan sesuatu.
22.
Orang tuaku telah mengatakan kepadaku
Untuk tidak pernah berbohong.
Aku mematuhi mereka.
23.
Orang tuaku telah mengatakan kepadaku
Untuk tidak pernah bertengkar,
Tidak akan pernah berkelahi.
Aku mematuhi mereka.
24.
Aku sangat sayang sama kasih-sayang,
Cinta-kasih dan keprihatinan ibiku untuk aku.
25.
Saya sangat sayang sama
Percaya diri dan tekad yang bulat ayahku.
Dia menjamin aku bahwa aku akan memiliki
Keduanya percaya diri dan tekad yang bulat seperti dia —
Bahkan lebih dari dia.
26.
Ibuku telah mengatakan kepadaku
Apakah itu doa:
Doa adalah sebuah tangisan
Untuk melihat Mata Tuhan.
27.
Ayahku telah mengatakan kepadaku
Apakah itu meditasi:
Meditasi adalah merasakan Hati Tuhan
Di dalam hatiku.
28.
Orang tuaku telah mengatakan kepadaku
Memaafkanlah orang lain.
Hal itu akan membuat saya sangat senang sekali.
Mereka sangat benar.
Aku adalah buktinya.
29.
Saya tidak suka sama sekali
Pikiranku yang gaduh.

30.
Aku sayang sekali
Sama hatiku yang ceria.
31.
Aku tidak mengeluh
Tentang siapapun.
Hal ini telah membuatku
Sangat senang.
32.

Tuhan dan aku sepenuhnya saling mempercayai.
Tuhan tidak lupa dengan hatiku
Walaupun hanya untuk sesaat.
Aku juga melakukan hal yang sama.
Aku tidak pernah lupa dengan Hati Tuhan.
Tidak pernah!


33.

Tuhan mengatakan kepadaku bahwa
Air mataku dan Senyum-Senyumannya
Adalah sama pentingnya.


34.

Tuhan menginginkan bahwa aku tinggal
Di dalam hati terus-menerus.
Dia sangat bangga sama aku
Bahwa aku dapat melakukan hal itu
Dengan mudah.


35.

Ketika aku mengatakan kepada Tuhan sambil bercanda
Bahwa kehidupanku adalah sebuah buku rahasia,
Tuhan menambah secara senyum dan dengan bangga,
“Juga sebuah buku suci.”




36.

Aku tahu bahwa Rahmat Tuhan
Telah membuat aku baik.
Tuhan menambah secara senyum dan dengan bangga,
“Tidak hanya baik saja,
Tetapi sangat baik sekali.”


37.

Tuhan mengatakan kepadaku
Untuk tidak membuat kesalahan yang serius sekali.
Aku harus sayang sama ibuku
Dan ayahku secara seimbang.


38.

Aku mengatakan kepada Tuhan:
“Aku sayang sama mereka secara seimbang,
seimbang, seimbang!”


39.

Ayahku mengatakan kepadaku
Bahwa kecantikanku
Berada di dalam mataku.


40.

Ibuku mengatakan kepadaku
Bahwa keharumanku
Berada di dalam hatiku.




41.

Tuhan, ketika Engkau melihat aku,
Aku mendapatkan sukacita yang amat sangat,
Tetapi ketika Engkau melihat ke dalam hatiku,
Aku menjadi sangat takut.

“Kenapa, anakku, kenapa?
Kamu tidak membuat suatu kesalahan.
Tetaplah senang dan teruslah senang
Manakala Aku melihat ke dalam hatimu.”


42.

Baru-baru ini, aku telah melihat
Sebuah kebun yang indah di dalam hatiku.
Aku telah mulai berdoa
Dan bermeditasi di dalam kebun tersebut,
Dan aku sangat gembira dan bahagia.


43.

Ibuku telah menasihatiku
Untuk berdoa kepada Tuhan
Untuk sebuah hati besar,
Sebuah hati yang sangat besar.
Aku sedang melakukan hal itu,
Dan aku merasakan sangat baik, baik sekali!


44.

Ayahku telah menasihatiku
Untuk berdoa kepada Tuhan
Untuk sebuah kepala yang kecil,
Sebuah kepala yang kecil sekali.
Aku sedang melakukan hal itu,
Dan aku merasakan sangat baik, baik sekali!




45.

Hari ini aku sangat diilhami
Utuk membuka
Rahasia-doaku
Dan rahasia-meditasiku.


46.

Ketika aku berdoa kepada Tuhan,
Aku mengepal tanganku dan menaruhnya
persis di dadaku
Dan aku mencoba mendengar denyut jantungku.
Aku melihat ke atas untuk menemukan sebuah tempat
Sepuluh feet, sekurang-kurangnya,
Lebih tinggi daripada kepalaku.
Ketika aku telah menyelesaikan semua hal ini,
Aku mulai berdoa.
Terus-terang saja, saya mendapatkan hasil luar biasa.


47.

Ketika aku bermeditasi kepada Tuhan,
Aku melakukan hal yang sama dengan tanganku,
Hanya, tidak melihat ke atas tapi ke dalam.
Aku melihat ke dalam hatiku selanjutnya
Aku melihat untuk suatu tempat yang suci dan hening
Di dalam hatiku.
Ketika semua ini usai,
Aku mulai bermeditasi.
Aku berani mengatakan bahwa hasilnya tidak bisa dibayangkan.


48.

Tuhan, Engkau telah membuatku anak Engkau yang sempurna.
Sebagai balasan apa yang aku dapat memberikan kepada Engkau?
Aku hanyalah seorang anak yang kecil;
Aku tidak punya apa-apa untuk memberikan kepada Engkau.




49.

Anakku,
Aku hanya membutuhkan satu hal dari kamu:
Sebuah senyuman yang manis dan imut.


50.

I also need another favour from you.
You will tell your parents
How happy and grateful you are to them
For bringing you into this world.
Still one more favour I need,
And this is the last favour
You will have to do for Me, My child.
You will have to claim Me all the time,
Not missing a second,
As your own, very own.

“God, I have already started.”

Aku juga membutuhkan sebuah bantuan dari kamu.
Kamu akan mengatakan kepada orang tuaku
betapa senangnya dan bersyukurnya kepada mereka
Untuk membawa kamu ke dunia ini.
Masih ada satu bantuan lagi yang Aku membutuhkan,
Dan ini merupakan bantuan yang terakhir
Yang kamu harus melakukan untuk Aku, anakku.
Kamu akan harus selalu mengakui Aku,
Tanpa kehilangan sedikitpun,
Sebagai kepunyaanmu, kepunyaanmu yang sesungguhnya.

“Tuhan, saya sudah mulai.”