Wednesday, 2 July 2008

LAWAN CATUR : SEBUAH TEKA TEKI KEHIDUPAN

LAWAN CATUR : SEBUAH TEKA TEKI KEHIDUPAN

Memainkan catur, adalah memainkan hidup dan mati. Jika sang raja mati, maka semua aparatur di bawahnya juga akan mati. Tidak hanya prajurit kelas teri, pejabat kelas mentri pun akan ikut mati.
Permainan catur merupakan permainan penuh misteri. Kita sulit menafsirkan kebera daan hidup dan mati. Terkadang kita memainkan tokoh orang lain dalam diri kita, terkadang pula kita selalu berharap orang lain itu adalah kita. Penuh teka teki.
Teka teki itu telah dihadirkan Teater LKK Unimed di Taman Budaya Sumatera Utara, pada Senin, 30 Juni 2008, pukul 20.00 WIB. Naskah yang berjudul Lawan Catur karya Kenneth Arthur, terjemahan WS. Rendra.

Memaknai Tujuan Hidup
Pertunjukan Lawan Catur dihadirkan dengan suasana panggung yang cukup lengang, penuh rahasia. Di atasnya terlihat dua orang lelaki sedang terduduk pada kursi yang di tengahnya ada papan catur, sedang bermain catur. Di sinilah dialog demi dialog hadir dan mengalir.
…Aku tidak pernah bosan main catur. Dengar, Antonio. Apabila aku bosan main catur, itu artinya aku bosan hidup. Permainan catur adalah tantangan bagi ketajaman otak dan kekuatan sikap jiwa manusia : sebagaimana taktik cinta, taktik perang, politik dan lain sebagainya. Apabila permainan caturku buruk aku akan berhenti jadi Menteri Urusan Kepolisian. Kita orang pemerintah tidak hanya meletakkan nyawa dalam kekuatan tangan kita, namun juga harus mengasah kepala untuk menjalankan tugas seefektif mungkin. Kita harus tetap menjaga agar sempurna, persis geraknya, licin jalannya. Ya…ya…begitu lah caranya kita mengabdi pada pekerjaan kita. Apabila mesin-mesin dalam kepala kita mogok atau macet, kita tak pula lagi berarti apa-apa.
Samuel Glaspel (Ahmad Badren) berdialog dan bermain cukup brilyan memainkan perannya. Ibarat kapten di tim sepakbola ia selalu menggiring penonton kepada setiap teka-teki hidup yang mengalir di atas pentas. Musik yang mengantar permainan cukup membantu penonton sebagai penikmat pertunjukan focus mengikuti adegan demi adegan di atas pentas.
Adegan yang sebenarnya minimalis gerak (pada awalnya) itu, dibawakan dengan penuh daya pikat. Bukankah hidup terasa akan sangat lamban jika kita tidak menghadir kannya dengan penuh energi? Sekecil apapun ruang gerak, sesedikit bagaimanapun titik gerak kitalah yang mampu menghadirkannya dengan segala kemampuan kita. Intinya bagaimana kita mampu meyakinkan orang lain dengan peran yang kita mainkan.
Untuk meyakinkan orang lain kita perlu lawan main yang sepadan agar adegan yang hadirkan tidak berat sebelah. Antonio (Deni Dahriansyah Lubis) mampu menjadi lawan main Samuel yang sepadan. Dia, Antonio, mampu membawa perannya sebagai bawahan, ajudan Polisi. Prinsip bahwa atasan tidak pernah salah, berhasil diperkuatnya. Bawahan sebagai orang yang selalu di pihak yang kalah dan salah berhasil dihadirkannya.
Kita jadi teringat bagaimana penjual obat yang menjajakan dagangannya. Selalu saja dihadirkan pemeran pembantu dalam aksi-aksi mereka. Hal ini dilakukan untuk meya kini pembeli bahwa obat yang mereka jual benar-benar manjur. Pasien yang datang tiba-tiba seketika itu juga sembuh.
Adegan berikutnya biasa nya dipergunakan untuk pemanis. Kita lihat saja dalam permainan gulat bebas ala Amerika, smackdown, di sela-sela permainan selalu dihadirkan sosok perempuan cantik untuk menambah daya tarik. Dan tentunya hidup juga begitu ada yang menjadi sosok antagonis atau protagonist, selebihnya bias kita ciptakan sendiri.
Begitulah, setelah dialog-demi dialog hadir dari Samuel dan Antonio, yang sebenar nya cukup sarat pesan, bagaimana kita menyikapi hidup secara cerdas. Selanjutnya Verka (Siti Fatimah) hadir untuk memberitahukan kedatangan Oscar Jacob (Muhammad Ardi an), sang pemberontak.
…orang yang bernama Oscar Jacob itu masuk komplotan anti pemerintah, dan dia mendapat tugas dari pimpinannya untuk membunuh yang mulia. Dua orang bawahannya telah kami tangkap dua minggu yang lalu, dan yang tak mesti diragukan lagi adalah mengenai orang yang bernama Oscar Jakob itu. Laporan mengenai sejarah hidupnya, sejak dia lahir sampai sekarang telah kami serahkan kepada yang mulia. Tentu yang mulia telah memahaminya.
Dari dialog Antonio ini membawa penonton memasuki wilayah teka-teki itu. Tentu yang mulia telah memahaminya. Ada apa? Apa ada? Rasa curiga mulai hadir dan menga lir. Dengan kedatangan Oscar, misteri mulai terkuak. Penonton dipaksa untuk tetap me ngembangkan telinga dan melebarkan mata. Pada akhirnya inti cerita sudah bisa kita tebak, siapa yang kuat membawakan peranannya, maka dialah yang muncul sebagai pe-menang. Dan di sini Samuel (yang dulunya bernama Oscar Jacob, anak petani miskin, sahabat semasa kecil Samuel), berhasil mengalahkan (membunuh dengan racun) Oscar (yang dulunya bernama Samuel Glaspel, anak juragan kaya yang ditukarkan ibunya dengan mengubah namanya menjadi Oscar-menurut versi Samuel sendiri).

Hidup Harus Terus Diperjuangkan
Secara keseluruhan pertunjukkan Lawan Catur karya Kenneth Arthur, terjemahan WS Rendra, yang diaminkan oleh Teater LKK Unimed mudah dipahami. Masriawan Herlambang sebagai sutradara mampu mengarahkan pemainnya dengan apik. Konsep kesederhanaan nyata jelas terpampang. Musik pengiring yang hadir tidak menggebu-gebu. Mengantar penonton secara serius. Lampu yang hadir tanpa embel-embel cahaya yang berwarna, rata. Atau artistik dan set panggung yang dominan hitam putih.
Semua sudut tergarap dengan baik. Improvisasi dan bisinis yang menawan. Pesan-pesan sarat makna. Kelebihan-kelebihan itu mampu menutupi beberapa kelemahan sepanjang permainan. Seperti lampu bagian luar yang hidup sedikit kasar. Sedangkan di atas panggung ada bagian-bagian tertentu yang terasa temaram. Begitu juga musik yang diprogram dari computer, sedikit membuyarkan konsentrasi. Pun sound system yang sedikit konslet.
Set panggung yang sangat sederhana mampu diberdayakan semaksimal mungkin oleh pemain. Kekuatan bermain Samuel mampu menutupi kelemahan pemain yang terasa masih grogi di beberapa adegan. Atau dialog yang sedikit terputus-putus, diimprovisasi oleh Samuel dengan baik. Pun begitu vocal para pemain terdengar sesekali timbul teng gelam pada beberapa adegan.
Langkah, rezeki, pertemuan, dan maut sejatinya memang sebuah perjalanan yang mesti kita lewati. Lahir dan mati kerap kita jumpai. Bagaimanapun kematian adalah pemberhentian pada satu stasiun untuk menuju stasiun berikutnya. Lantas bagaimana dengan yang hidup? Hidup tentu harus dilanjutkan. Bukan begitu? Demikianlah, Lawan Catur yang digawangi Ahmad Haikal sebagai peñata musik, Pusriza piñata lampu, diban tu kru yang lain, seperti: Apriani Kartini (Produser), Heri Sukamto (Pim. Panggung), Maimun Hasibuan (Tiket), Gustriyani Harahap (Make Up), Febri Masnaria (Kostum), Safinatul Hasanah Harahap (Pembantu Umum), Ardhi Saputra, Arif Solihin Martua, dll.

Medan, akhir Juni 2008
Penulis adalah pengamat seni pertunjukkan. Sutradara Teater Generasi


M. Raudah Jambak, lahir di Medan-5 Januari 1972. Beberapa kegiatan yang pernah di kuti PEKSIMINAS III di TIM Jakarta (1995), work shop cerpen MASTERA, di Bogor (2003), Festival Teater Alternatif GKJ Awards, di Jakarta (2003) dan workshop teater alternatif, di TIM Jakarta (2003), Pameran dan Pergelaran Seni Se-Sumatera, di Taman Budaya Banda Aceh-Monolog (2004). Menyutradarai monolog "Indonesia Undercover" dalam seleksi Monolog 2005, di Taman Budaya Sumatera dalam rangka monolog nasional di Graha Bakti, Taman Ismail Marzuki. Karyanya selain di Medan juga pernah dimuat di Surat Kabar RAKYAT MERDE KA Jakarta dan Majalah SIASAH Malaysia,Majalah Horison Jakarta,Majalah Gong Jogja, BEN Jogja, Radio Nederland, Cyber sastra, Pontianak Post, Suara Karya Jakarta, Komunitas Sekolah Sumatera, RRI I Nusantara Medan, RRI Pro 2 FM, Bianglala dan surat kabar di Medan. Sering menjuarai lomba baca/cipta puisi, cerpen, dongeng, proklamasi dan juga Teater di Medan. Sering menjadi juri, instruktur, dan pembicara dalam seminar sastra dan bahasa. Selain itu beberapa buku yang memuat karyanya jugasudahterbit,misalanya:MUARATIGA (antologi cerpen-puisi/Indonesia-Malaysia), 50 Botol Infus (Teater LKK IKIP Medan), KECAMUK (antologi pusi bersama SyahrilOK), TENGOK (antologi puisipenyair Medan), SERATUS UNTAI BIJI TASBIH (antologi puisi bersama A.Parmonangan), OMONG-OMONG SASTRA 25 TAHUN (antologi esay), MEDITASI (antologi puisi tunggal), AMUK GELOMBANG (sejumlah puisi elegi penyair Sumatera Utara, Ragam Sunyi Tsunami (kumpulan puisi, Balai bahasa Sumut)dan Perempuan berhati gerimis .Tembang Bukit Kapur (Penerbit Escava, Jakarta, 2007), Kumpulan cerpen Ranesi (Grasindo, 2007) Medan Sastra (DKSU, 2007), Jelajah (2003), Jogja 5,9 RC (antologi Puisi Jogja, 2006), Medan Puisi (2006), 25 cerpen terbaik guru (2007-Perpustakaan Nasional-Jakarta), 6 Penyair Urban (antologi Puisi, Komunitas Hp-2008) Sekarang aktif di Sanggar GENERASI Medan. Saat ini bertugas di beberapa sekolah sebagai staf pengajar, Yayasan Panca Budi, Budi Utomo dan UNIMED, Anggota HISKI Sumut (2005-2008). Kepala Biro Sastra Seniman Indonesia Anti Narkoba (SIAN)Wil.Sumut, Direktur Komunitas HP Medan, Pengurus Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI Wil. Sumut).dll. Alamat surat menyurat: Taman Budaya Sumatera Utara, Jl.Perintis Kemerdekaan No. 33 Medan. HP. 085830805157. rek; Mandiri cabang mdn balaikota,106-00-04699933-3
Alamat e-mail: mraudahjambak@yahoo.com. mraudahjambak@plasa.com.
Alamat blog: mraudahjambak.blogspot.com.komunitashomepoetry.blogspot.com.

Peran Balai Bahasa dan Rasa Kepedulian Sekolah

Balai bahasa dalam pengertian dasarnya adalah tempat berbahasa. Berangkat dari pengertian dasar itu saya tertarik menyinggung sedikit persoalan ini. Apalagi jika dikaitkan dengan maksud dan tujuan yang ingin dicapai dalam kaitannya dengan peran Balai Bahasa.

Peran Balai Bahasa dan Sekolah
Balai Bahasa diharapkan dapat merajut silaturahmi dalam memperkokoh rasa nasionalisme. Memartabatkan bahasa Indonesia sebagai lambang jati diri bangsa. Meningkatkan mutu pemakaian bahasa Indonesia melalui karya sastra. Terutama di sekolah-sekolah. Sehingga tidak ada lagi sikap menyepelekan bahasa Indonesia. Termasuk lingkungan sekolah, para guru, dan pelajar.
Sikap menyepelekan bahasa Indonesia juga terjadi pada sebagian pelajar yang tidak mau mendalami bahasa nasional ini karena mereka menganggap bahasa Indonesia merupakan bahasa sehari-hari. Tak heran bila ada pelajar SMP atau SMA mendapat nilai lebih untuk pelajaran bahasa Inggrisnya di rapor, sementara nilai bahasa Indonesianya kurang..
Jika untuk merajut silaturahmi dalam memperkokoh rasa nasionalisme, tentunya yang menjadi perhatian kita adalah yang akan terjadi hanya sekadar kumpul-kumpul, datang dan pulang. Situasi seperti ini sungguh memprihatinkan. Prihatin dengan sikap tertentu dari sekolah-sekolah yang cenderung tidak mengutamakan bahasa Indonesia. Kini banyak sekolah nasional berstandar internasional yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar sehari-hari. Padahal sebaiknya (atau seharusnya), yang "internasional" itu hanya kurikulumnya, sedangkan bahasa pengantarnya tetap bahasa Indonesia. Ini tentu berbeda dengan sekolah internasional yang pasti menggunakan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya, sebagai bahasa pengantar sehari-hari
Kondisi-kondisi tersebut mengundang keprihatinan pakar linguistik Prof. Dr. Amrin Saragih yang juga Guru Besar Universitas Negeri Medan. Tokoh yang juga Kepala Balai Bahasa Medan ini menganggap sebagian orang Indonesia sedang mengalami krisis bahasa yang juga berarti mengalami krisis identitas. Mereka mengalami "demam" bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, yang dianggap memiliki nilai jual tinggi. Semua istilah, merek dagang, spanduk, nama perusahaan, nama hotel, dan nama tempat pelayanan umum menggunakan bahasa Inggris, atau bercampur bahasa Inggris, sehingga tidak proporsional.
Beliau juga ada mengungkapkan bahwa bahasa memiliki kekuatan-kekuatan terutama dalam menekankan pendidikan. Kenyataan yang kita hadapi, bahasa ternyata tidak mampu dimanfaatkan sebaik mungkin sebagai penguat terajutnya silaturahmi, apalagi dalam memperkokoh rasa nasionalisme.
Bahasa Indonesia sebagai bahasa penyatu dalam kesehariannya justru dianaktirikan. Lihat dan dengarkan dalam setiap acara dan kegiatan apapun. Bahasa Indonesia yang disinyalir oleh Damiri Mahmud justru dirusak oleh orang-orang linguistik sendiri.
Dalam setiap pembicaraan apapun itu, jika tidak berbahasa asing, terutama bahasa Inggris, dianggap tidak berkelas. Produk yang dihasilkan, jika tidak berbau asing, maka dianggap murahan.
Hal ini terjadi pada semua aspek kemasyarakatan dan kehidupan yang berlang di Indonesia. Tak terlepas pula di lembaga-lembaga pendidikan. Guru bahasa Indonesia sendiri-pun diwajibkan oleh sekolah penyelenggara untuk mampu berbahasa Inggris dalam proses belajar-mengajar. Fatalnya lagi ini ada kaitannya dengan tunjangan prestasi. Kemampuan berbahasa Inggris ini masuk dalam kriteria penilaian. Akhirnya, guru bahasa Indonesia tentunya tidak akan pernah mendapat kan tunjangan prestasi. Penyebabnya adalah kesadaran nasionalisme harus berbenturan dengan kebutuhan materialisme.
Nasionalisme yang berbenturan dengan materialisme, juga menjadi penyebab bahasa Indonesia sebagai lambang jati diri bangsa justru menjadi tidak bermartabat. Saling tuding, saling tuduh, merasa hebat masih menjadi momok yang sampai sekarang belum mampu ditinggalkan.
Dalam konteks senada, penyair mbeling Remy Sylado yang juga seorang munsyi (ahli bahasa, mengecam keras bertebarannya kata-kata dan istilah asing di berbagai segi kehidupan bangsa Indonesia, seolah-olah kita tidak punya bahasa Indonesia. Tidak memiliki martabat. Media massa cetak dan elektronik pun dikritiknya karena sering menggunakan kata atau istilah bahasa asing secara berlebihan, padahal kata atau istilah yang memiliki arti sama atau sepadan sudah ada dalam bahasa Indonesia., mungkin Remy Sylado sepakat martabat itu akan terangkat jika adanya kesadaran berbahasa.
Dengan terjalinnya silaturahmi dan meningkatnya martabat bahasa, maka mutu pemakaian bahasa Indonesia pasti dapat diwujudkan. Dan proses pelaksanaan itu bisa diwujudkan di mana saja terutama di sekolah

Kepedulian
Sebenarnya, bahasa Indonesia punya tempat yang khusus di hati masyarakat internasional. Banyak warga negara lain, misalnya Jepang atau Australia yang mempelajari bahasa Indonesia. Kini tercatat ada 73 negara yang mengajarkan bahasa Indonesia, baik di tingkat SD, SMP, SMA, atau perguruan tinggi.
di Australia, bahasa Indonesia diajarkan dari tingkat SD sampai SMA. Beberapa perguruan tinggi di sana juga membuka program studi bahasa Indonesia. Sementara di Jepang ada tujuh belas perguruan tinggi yang mengajarkan bahasa Indonesia.
Dari semua paparan tersebut, kini diharapkan muncul sikap untuk selalu mengutamakan bahasa Indonesia dan menempatkannya pada posisi terhormat. Siapapun misalnya, tak perlu ragu untuk menyapa tamu asing dengan salam "selamat pagi" pada kesempatan pertama, baru kemudian "good morning" (bila dirasa perlu). Buat apa kita menggunakan kata concern padahal kita punya kata peduli? Mengapa kita memakai kata input padahal kita punya kata masukan? Mengapa harus organizing committee, bukan panitia pelaksana? Dan seterusnya, dan seterusnya. Saya sudah mengatur segalanya..
Semua pihak dituntut untuk peduli terhadap perkembangan bahasa Indonesia, baik itu pelajar, pengajar, pejabat, maupun pers. Apalagi pers memiliki peran yang sangat besar karena produknya setiap hari dibaca atau dinikmati masyarakat luas. Kini saatnya kita menunjukkan kecintaan yang tinggi terhadap bahasa Indonesia karena bahasa Indonesia merupakan bagian dari jati diri bangsa. Hal ini jelas, bahwa Balai Bahasa punya peran penting untuk mengembangkan rasa kepedulian sekolah dalam menggunakan bahasa nasional ini. Demikian.

***

Tuesday, 1 July 2008

LAWAN CATUR : PROSES MEMAHAT JATI DIRI

LAWAN CATUR : PROSES MEMAHAT JATI DIRI

Begitu memasuki gedung pertunjukan, suasana lengang menyeruak begitu saja. Kursi-kursi menggigil dielus air conditioner . Ruangan mungkin serasa agak pengab. Tetapi satu persatu “penggila” teater memasuki ruangan, sedikit gaduh. Mungkin ada niat yang belum tersalurkan. Beberapa saat kemudian keheningan menyambar, setelah pem bawa acara menyampaikan acara akan segera dimulai.
Musik mengantar naiknya layar perlahan. Ketika panggung sedikit membuka, mulai dari kaki sampai tampak kepala, pertanyaan terjawab sudah. Di tengah pentas dua orang terlihat sedang bermain catur. Dengan setting panggung yang cukup sederhana, pertun jukan itu pun dimulai.
Malam itu, Senin, 30 Juni 2008, pukul 08.00WIB LKK Unimed kembali berkarya. Sebuah pertunjukan Teater dengan judul Lawan Catur karya Kenneth Arthur, terjemahan WS. Rendra, hadir di Taman Budaya Sumatera Utara.

Sebuah Kegagapan Yang Tertutupi
Seorang Kepala Mentri Urusan Polisi, Samuel Glaspel (Ahmad Badren Siregar) de ngan ajudannnya Antonio (Deni D. Lubis), sedang asyik memain-mainkan buah caturnya, mengingatkan saya kepada sebuah pertunjukan gerak bertajuk “Kontrang Kantring atawa Lawan Catur”.
Naskah karya Sir Kenneth William Goodman berjudul Chess Game ini telah diadaptasikan oleh WS Rendra pada masa lalu. Dan kini, adaptasi itu pun diserap dalam rangkaian gerak, sebuah presentasi tarian, yang menekankan pada pemaknaan tubuh penarinya.
Yang ada di panggung hanyalah berupa kotak besar – menyembunyikan para pemain, juga bisa menjadi simbolik catur. Dengan menampilkan lima aktor, mereka mengeksplorasi berbagai gerak tubuh, mulai dari gerak repetitif yang kejang, bahkan gerak yang sangat kaku, terkadang ditampilkan dengan gemulai.
Dengan mengenakan pakaian serupa napi, baret-baret merah, mereka bergerak memperlihatkan dentum perkusi serupa tambur yang mengiring tubuh mereka. Lalu seorang penari yang kakinya terjerat rantai, melepasnya, ada perkelahian, ada permainan eksplorasi serupa buang ingus, saling kentut.
Di tengah eksplorasi yang terkesan “menjijikkan” itu muncullah simbol roti, hamburger, ayam goreng KFC, cap cay, seakan ingin memberikan paparan tentang kondisi tanah air yang tidak resisten, lewat bahasa-bahasa perlambang.
Inilah mungkin kegamangan individu itu, baik secara internal sistem Negara, hingga ke eksternal Negara Indonesia di tengah peradaban internasional. Dengan tajuk “Lawan Catur dan Kontrang-Kantring”, selain mengangkut simbol verbal lewat guratan tubuh dan idiom yang begitu dikenal semacam itu, mereka juga membuat umpatan-umpatan seperti “bajigur!”
Makna di balik gerak yang ekspresif terkadang trance dan rawan ini memang bisa dilihat dari tema utama yang mengarah pada dua “kata kunci”. “Kontrang kantring” bermakna “bingung”, yang merujuk tentang kebingungan individu pada sebuah kelembagaan besar bernama Negara yang kerap mengalami kegagalan dalam cita-cita. Sedangkan “lawan catur” adalah sebuah oposisi biner, dua kehendak dari arus yang besar.
Dan malam itu Kepala Polisi dan ajudannnya lebih banyak mengeluarkan dialog-dialog verbal. Gerak-gerak bisnis atau improvisasi yang muncul hanya mempermanis tampilan permainan.
Naskah yang juga merupakan terjemahan WS. Rendra ini sebenarnya berhasil dima inkan oleh para pemain. Pemain cukup maksimal, terutama Ahmad Badren Siregar walau terkadang suaranya terdengar turun naik. Ia berhasil menjadi kapten dalam pertunjukan itu. Beberapa pemain lain (Siti Fatimah-Verka, Muhammad Ardian-Oscar Yacob), ber usaha untuk mengimbangi, tetapi kegamangan atau ragu-ragu sedikit terlihat menggang- gu.
Lampu layaknya juga memperkuat pertunjukan justru hampir tidak mengkontribu sikan apa-apa, jika para pemain tampil dengan apa adanya. Dengan semangat dan penuh permainan yang cerdas, pertunjukan itu cukup ternikmati.

Hidup Adalah Teka Teki
Catur mengisyarakat perjalanan kehidupan manusia, yang sulit ditebak ke mana langkahnya. Penonton sebagai makhluk individu, hanya bisa mengikuti arah langkah yang diarahkan Sang Mahakuasa. Tinggal bagaimana kita mampu menyikapinya. Perjalanan itu cukup panjang mulai kita lahir kedunia, anak-anak, kanak-kanak, remaja, dewasa, dan tua.
Selama perjalanan itu kitapun terkadang tidak tahu apakah berjalanan berdasarkan peran yang sudah ditentukan, atau kita menciptakan sendiri peran-peran itu. Bisa jadi suatu ketika kita bakal menjadi orang lain. Atau sebaliknya.
Demikian halnya yang terjadi dengan Samuel dan Oscar, ketika masih kecil Samuel (bernama Oscar) yang anak petani, ditukarkan dengan Oscar (Samuel nama kecilnya) yang anak saudagar kaya, oleh ibu kandung Samuel kecil.
Seperti sebuah perjalanan, ada rasa bosan memerankan orang lain. Ingin kembali menjadi diri sendiri. Ada rasa bosan untuk berbicara bohong, ada rasa bosan untuk berlaku tidak adil, apalagi menzolimi orang lain setiap hari.
Kembali mencari jati diri. Hal itulah yang tergambar secara keseluruhan, dan orang yang selalu konsisten, tentunya akan hadir sebagai pemenang. Dan jika ada pemenang tentu akan ada pecundang. Akhirnya pertunjukan itu dengan ending yang mengharukan.
Rasa haru itu muncul di saat dua orang sahabat lama, akhirnya saling berbunuhan demi menyelamatkan idealismenya masing-masing.
Dengan demikian, selamat untuk Teater LKK Unimed. Semoga terus berjaya. Dan mampu menyikapi hidaup yang tumpang-tindih ini. Laksana catur kita yang tinggal melangkah kemana kita harus berjalan, di mana kita memulai langkah.
Sedikit saja salah langkah, maka bersiaplah dengan kehancuran kita. Hidup bukanlah sandiwara. Hidup adalah suatu cara mengaplikasikan segala rencana. Tentunya berman faat bagi ummat manusia. Sekali lagi selamat. Lebih baik terus berkarya daripada mencela. Salam.


Medan, akhir Juni 2008
Penulis adalah pengamat teater, Direktur Komunitas HP

Friday, 27 June 2008

NUZUL AINI RAMADHANI

BUNGAKU
OLEH :RAHMAT .M.RIDHO


Meski kemarau belum berlalu
Bungaku di halaman tak pernah layu
Kadang kulihat kumbang dan kupu-kupu
Sesekali datang mengisap madu


Udara panas bercampur debu
Sering menganggu indah bungaku
Kuturuti nasihat ibu
Memelihara dan menyiram bunga setiap waktu

Terima kasih bungaku
Halaman rumahku
Tempat bermainku
Menjadi indah selalu

BUKU
OLEH :RAHMAT .M.RIDHO

Bermacam-macam jenismu
Berbagai corak warnamu
Berjenis –jenis ukuranmu
Beraneka ragam isimu

Banyak manfaatmu
Tuk kami gunakan slalu
Akan kubaca di rimu
Supaya kuberkembang maju
Engkau adalah sumber ilmu
Yang sangat berguna
Bagi kehidupanku

Engkau adalah jedela dunia
Tuk memberantas kebodohan
Tanpamu
Kami tak akan mampu
tuk membangun
tanah persada , Indonesia TERCINTA




AYAH
OLEH :RAHMAT .M.RIDHO

Ayah engkau bekerja mencari nafkah
Untuk menghidupi seluruh keluarga
Ayah kau tak menganal lelah
Dan tak merasa lesu

Ayah walaupun kami nakal
Tetapi engkau tetap mencitai kami
Ayah kasihmu pun sungguh besar
Engkau adalah seorang pahlawan buat keluarga

Ayah jasamu sudah terlalu besar
Bagi seluruh anggota keluarga
Ayah engkaau menyekolahkan aku
Agar kelak aku menjadi orang yang berguna

LAUT
OLEH :RAHMAT .M.RIDHO


Kau sungguh indah dipandang
Warnamu biru menakjubkan
Di tengahmu batu karang tak goyang
Pohon kelapa melambai di tepimu
Hembusan angin bertiup lembut
Menambah indah suasanamu
Aku sangat kagum padamu

PAHLAWAN TANPA TANDA JASA
OLEH :RAHMAT .M.RIDHO

Dengan penuh kasih sayang
Kau beraitahu kami
Apa yang kami tidak tahu

Tanpamu….
Orang tidak bisa membaca
Tidak tahu sopan santun
Kami sangat berterimakasih
Padamu….

Guruku yang baik…
Engkaulah pelita dalam kegelapan

Kelak…
Ilmumu yang telah engkau berikan
Pasti berguna untuk masa depanku
Menyongsong masa depan yang cerah

Yang dapat kuberikan
Hanyalah sebuah puisi
Untukmu guru…
Pahlawan tanpa tanda jasa


PAPA DAN MIMI
OLEH :RAHMAT .M.RIDHO

Papa adalah matahari siang hari
Yang gagah perkasa
Dan menerangi bumi
Serta memberikan kehidupan
Pada bumi

Mimi adalah bulan di malam hari
Yang halus dan lembut
Memancarkan bias sinarnya
Dan menerangi malam
Yang membuat bumi selalu ceria

Papa…
Mimi…
Dunia ini akan beku
Tanpa kehadiranmu
Dan akan kuturuti
Segala nasehatmu
Hingga
Akhir hidupku

KRABU HITAM KRABU PUTIH

OLEH :RAHMAT .M.RIDHO

Nyanyian dermawan sudah datang
Krabu hitam dan krabu putih bernyanyi
Terdengar suara syair yang
Sangat bagus .pandanganmu
Krabu hitam sangat tajam
Seakan tidak ada yang berani
Melihatmu kalau kau
Krabu putih pandanganmu
Indah sekali seakan ada yang
Memakaimu tetapi kalian sama
hujutnya tetapi sipatnya lain sekali
permintaan ibuku untuk memakaimu
krabu hitam danpun aku menoleh
untuk memakaikankun krabu putih
akupun menangis tapi
tangisan itu dari hatiku aku pun
menahan nangisku. karbu hitam
pun lengket di kupingku yang bagus
aku menangis setiap malam
merindukan krabu putih yang
cantik sekali .krabu hitam
pun menangis .akhirnya krabu
hitam terlepas sendiri dari kupingku


MEDAN SUMUT
TANGGAL :15-2-2008


CERMIN CINTA
OLEH:RAHMAT .M.RIDHO

Cinta –cinta telah lepas dari
Kebencian yang sangat sensara
Hati –hatipun cerah seperti cahaya
Lampu yang tidak bisa mati
Orang-orangpun penuh dengan
Cinta yang sangat berbunga-
Bunga tapi kebencian ada
Di mana –mana
Pas cinta berkembang biak
Akhirnya kebencian hilangDari bumi kita
.tapi bukan kebencian
Yang ada tapi kejahatanpun
Ada jadi belum setengahnya
Bumi kita indah masih jadi
Percintaan menjadi sedikit
Jadi banyak yang mencari
Dengan kesusahan akhirnya
Percintaan datang sendiri

MEDAN SUMUT
TANGGAL :16-2-2008
BUAH CINTA

OLEH:RAHMAT.M. RIDHO


Buah-buah cinta telah jatuh dari
Setangkai ranting yang sangat
Rapuh .jatuh seperti
Angin yang sangat kencang
Yang bertaburan ke seluruh
Perosot-prosot cinta yang
Sedang membara seperti lautan yang
Terhempas ke daratan
Buah-buah cinta itu akhrinya
Membusuk dan cinta-cinta
Pun membusuk seperti
Petir yang ganas
Orang-orangpun saling membenci
Pasangnya akhirnya pohon-
Pohon buah cinta berbuah
Pohon itu berbuah lain
Yang bernama buah petapa


Medan sumut
Tangal:07-4-2008



RAHMAT .M.RIDHO

PERGI KE ANCOL

Oleh :rahmat .m. ridho

Pagi-pagi sekali rahmat,aini,
Nanda,nantulang,dan tulang ewin
Pergi ke ancol dan sessampainya
Kami terlalu datang pagi pagi
Sekali jadi kami memutuskan
Jalan ke pantai saya kepingin
Berenag di pantai itu tapi
Tidak di ijinkan tulang ewin
Jadi kami kembali ke yang kami tuju
dufan dan kami paling duluan dapat
Karcisnya kemudian kami langsung
Naik komedi putar
Sesudah naik komedi putar kami
Langsung naik gajah berputar
Saya langsung pening
Ya terus saya naik burung rajawali
Yang seram
Masih banyak permainan yang
Sudah kami mainkan ya
Itu cerita ku


Medan sumut
Tanggal :8-2-2008



Jalan –Jalan di Tahun
Baru
Oleh ;Rahmat .M. Ridho

Malam –malam kami
Semua jalan menikmati
Malam tahun baru
Saya ,nanda dan aini
Membeli terompet
Yang cantik kemudian
Kami berhenti di monas
Kemudian saya ,nanda ,dan
Adek aini meniup
Terompet sekeras –kerasnya
Kemudian ayah nanda
Mengajak berkeliling monas
Yang indah dan tinggi .
Saya membeli gulali
Empat biji sesaat ini
Kami tidak sadarsudah malam
Sekali sesaat di perjalanan
Semua mengantuk yang
Cuma bangun tulang ewin ,
Saya, nanda ade aini ya
Disuruh bernyanyi apa saja biar
Rame dan tidak sepi sekali
Medan sumut
Tanggaal :8-2-2008




PERGI KE BANDUNG

OLEH :Rahmat .M. Ridho

Pada saat pagi tulang
Ewin mengajak kami
Semua ke bandung
Dan kami menyiapkan
Maknan ,baju ,dan minyak
Kayu putih
Di saat perjalanan ade
Aini muntah di mobil
Terpaksa tulang ewin
Berhenti di jalan
Untuk mengganti
Baju ade aini
Kemudian kami
Melanjutkan perjalanan
Kemudian kami berhenti.
Di mesjid untuk solat
Masuk ke mesjid
Rupanya masuk harus
Membuka selop kita
Atau sepatu sesudah
Masuk kami semua
Melewati air yang dingin
Itu untuk bias masuk ke mesjid
Dan saya,nandadan ade aini
Kemudian nanda mengajak
Saya untuk mandi air itu
Dan kami melanjutkan
Perjalanan oma membeli
Ketoprak yang enak
Kami sampai di tujuan
Saya langsung menangkap
Ikan yang besar.saya
Mendapat ikan gurami
Yang besar lagi bunting
Jadi saya melepaskan
Ikan itu dia lagi bunting
Dan kami memesan
Iakanyang tidak
Di pancing
Tapi taya dan kuitidak
Mau makan taya dan kuin
Melihat ikan saja nantulang
Memmanggil taya dan kuin
Ke mudian kami pulang
Pas di perjalan oma
Membeli rambutan
Merah kami semua
Makan di perjalanan teryata
Asam dan banyak semutnya
Tiba-tiba bensin mobil
Habis tulang ewin mengisinya
Tiba –tiba saya gatal –gatal
Dan kami sampai dirumah
Kemudian mba yanti
Bilang ke saya harus keringat
Besoknya saya lari –lari di
Komplek saya langsung
Berkeringat dan pun saya
Sembuh


Medan sumut
Tanggal :9-2-2008



ULANG TAHUN QUIN
OLEH :RAHMAT .M. RIDHO


Pada saat itu nantulang bikin
Kue untuk quin ulang tahun
sampai malam
Sekali dan saya ,nanda ,dan ade aini
Mau membantu nantulang
Kami bercelepotan
Jadi pas jam 00:00
Kami siap dan kuenya
Berbentuk dora jadi nantulang
Menyuruh kami tidur biar
Tidak terlambat bangun nanti
Kami pun tidur
Pas sudah paginya nanda
Yang terlambat bangun
Jadi nantulang membangunkan
Nanda tapi nanda tidak bangun
Tulang Ewin mengambil
Air dan tulang ewin menyiram
Nanda pakai air itu dan nanda pun
Bangun. Kemudian kami bersama tulang
Ewin meniup balon quin sudah siap
Mandi dan quin meminta balon
Tapi tulang ewin tidak mengasi
Kemudian quin nangis terpaksa tulang
Ewin mengasi balon yang berwarna
Hijau dan berdatangan tamu –tamu
Kamipun memulai acaranya

Medan sumut
Tanggal :9-2-2008



PULANG KE MEDAN
OLEH:RAHMAT .M.RIDHO


Pagi-pagi sekali kami berencana
Mau pulang ke medan jadi
Nantulang membelikan tiket
Pesawat .pas sore tiket sudah
Ada jadi saya ,nenek,kakek,dan
Ade aini menyiapkan baju-baju
Dan makanan untuk di dalam pesawat
Esok harinya kami bersiap-siap
Dan kamipun berangkat ke
Bandara soekarno harta
Perjalanan ke bandara
Sangat jauh jadi
Saya tertidur di mobil
Jam 13:00 kami sampai
Di bandara jadi pas mau
Turun dari mobil rupanya
Pesawat laion eiar mau berangkat
Kami langsung masuk
Dan kami tek of di dalam
pesawat kami dapat
bangku nomor tiga
saya paling sudut duduknya
kalau adik aini di tengah
dan oma terpisa dari kami tapi
oma di sebelah kami saya melihat –
lihat ke bawah dan sayapun
tertidur saya haus sekali
di dalam pesawat dan akhirnya
ada minuman dan beberapa kemudian
kami sampai di MEDAN saya
mencari mimi saya dan saya nelihatnya
tapi mimi saya tidak nampak saya.
pas kami keluar mimi saya nampak juga


MEDAN SUMUT
TANGAL :11-2-2008



KETEMU MIMI DAN PAPA
OLEH:RAHAMT .M. RIDHO

Saya ketemu mimi pas pulang
Dari Jakarta kami pulangnya
Dengan taksi tapi mimi dan
Papa naik motor. kamipun sampai
Tapi mimi dan papa tidak nampak
Rupanya lagi makanan
Dan kami pun makan
Mimi membelikan ayam goreng untuk saya

MEDAN SUMUT
TANGGAL:11-2-2008

















NUZUL AINI RAMADHANI

PESAWAT

Aku jalan- jalan ke depok
Dengan ayah dan ibuku
Sesampai di bandara
Aku turun dari pesawat
Dengan gembira sekali

Aku melihat orang gembira
Dan kami naik delman bersama
Setelah sampai kami makan dulu
Dan kami beristirahat

Nuzul aini
Medan sumut
Tanggal ; 3-12-2007

DI MEKARSARI

Saya mengelilingi kebun jeruk
Selain jeruk ada kelengkeng
Kemudian ada juga manggis dan
Banyak lagi kami jumpa pesulap
Dan kami beli minum dan naik
Kereta

Nuzul aini ramadani
Medan sumut
Tanggal : 9-2-2008


KE BANDUNG

Saya pergi ke bandung
Dengan tulang ewin , nan tulang ,nanda
taya , queen , dan pembantu
Saya melewati gunung- gunung yang tinggi sekali
Dan saya muntah – muntah kami berenti sebentar
Dan kami mampir di masjid ahirnya kami sampai juga
Kami berfoto disana dan kami beli kue di toko kue

Nuzul aini ramadani
Medan sumut
TANGGAL : 11-2-2008
SENYUM

Senyum itu melukiskan kecantikan seseorang
Senyum itu melukiskan kebaikan seseorang
Senyum itu melukiskan ketulusan hati seseorang
Tanpa senyum ,dunia ini
Tidak akan melahirkan keramahan ,
Dan kegembiraan seseorang
Oh senyum …
Betapa senyum banyak memiliki
Titik cahaya yang sangat terang
Nuzul aini ramadani
Medan sumut


AIR

Di mana kau air
Semua mencarimu
Tanpa dirimu
Orang akan mati karena haus
Menjadi lemas kering layu

Dari pejabat tinggi, rendah
Sampai pengemis pun
Kau akan dicari
Memang kau tirta

Sangat dibutuhkan oleh semua
Tapi kehadiranmu yang berlimpah
Banyak membikin manusia susah
Bagaimana tidak
Rumah, tanaman, dan ternak
Bisa habis karena kau marah

Nuzul aini ramadani
Medan sumut

PITA RAMBUT

Pita…
Kau membuat rambutku kelihatan indah
Kau membuat rambutku kelihatan rapi
Kau membuat aku menjadi cantik

Pita…
Warnamu bermacam-macam
Ada kuning, merah, dan putih
Cocok dengan warna bajuku

Pita…
Kau sangat berarti bagiku
Karena membuatku kelihatan cantik
Kalau melihatmu, aku senang dan langsung membelinya

Nuzul aini ramadani
Medan sumut

CITA-CITAKU

Jika kelak aku dewasa
Aku ingin jadi astronot
Aku terbang ke bulan
Naik pesawat ruang angkasa

Aku harus rajin belajar
Agar cita-citaku terlaksana
Ya , Tuhan. Kabulkanlah permintaanku
Jadikanlah aku anak yang berguna
Bagi nusa bangsa, dan agama
Nuzul aini ramadani
Medan sumut

JERITAN ANAK SAMPAH


Adakah tuan lihat kami
Mengais sampah sepagi ini
Berpacu dengan waktu demi sesuap nasi
Dan terpanggang matahari di siang hari

Kami tidak menyalahkan siapa-siapa
Kami hanya minta keadilan
Kami hanya minta belas kasihan
Tentang nasib kami yang akan dating
Dan tentang kami yang sekarang malang melintang

Adakah tuan lihat kami
Yang tiada berbaju
Bukan kami tak malu
Tapi karena kami tak mampu

Nuzul Aini Ramadani

BIDADARI

Kata orang kau cantik
Kata orang kau baik hati
Kata orang kau turun dari langit
Benarkah itu?

Kata orang kau dapat terbang
Kata orang kau turun jika ada pelangi
Mungkinkah itu?

Kadang aku tak percaya
Tetapi kau sering ada dalam cerita
Oh, bidadari…
Benarkah kau ada?

Nuzul aini ramadani
Medan sumut

BAKTIMU GURU

Engkaulah guru
Setiap hari mengajar
Anak-anak kecil dan lucu
Penuh sabar dan tawakal
Tanpa kenal lelah

Engkau tuntun
Engkau bina
Engkau asuh
Engkau didik
Berikan ilmu pengetahuan
Terapkan ketrampilan
Penuh kasih saying

Engkau hadapi suka dan duka
Tawa dan tangis mereka
Jiwamu tetap tegar
Harapmu semoga mereka kelak
Tercipta insan-insan berguna
Berbakti seperti engkau

Nuzul aini ramadani
Medan sumut
PAPA – MIMI

Papa…
Mimi…
Demi anak-anakmu ini
Kau bekerja sepanjang waktu
Semua tenaga dan pikiran
Kau kerahkan
Tanpa mengenal rasa lelah
Walau hujan deras
Walau teriknya matahari
Namun…
Engkau tetap sabar, tanpa mengeluh
Dan mempunyai rasa bosan

Papa…
Mimi…
Begitu besar pengorbananmu

Papa…
Mimi…
Sungguh besar kasih sayangmu
Bagi kami anak-anakmu
Sungguh, kami tak dapat
Membalas jasamu
Hanya do’a kami panjatkan
Semoga engkau panjang umur
Dan sehat selalu, serta rezekimu
Selalu hadir dan mengalir

Papa…
Mimi….
Terimalah tanda terimakasih
Dari kami

Nuzul Aini Ramadani
Medan sumut









ADIK BAYI

Kakimu kecil
Tanganmu kecil
Mulutmu kecil
Mukamu kecil
Semua yang ada padamu
Serba kecil dan mungil
Aku senang punya adik bayi
Adik bayi seperti kamu
Yang lucu dan menggemaskan
Adik bayi….
Jika kelak kau dewasa
Jadilah manusia yang berguna


Nuzul aini ramadani
Medan sumut


SEKOLAH

Di sanalah ku menuntut ilmu
Di sanalah aku mendapat teman

Sekolahku….
Engkau tetap ku ingat
Sampai kapan pun

Nuzul aini ramadani
Medan sumut

HARAPAN

Aku mempunyai harapan
Harapanku hanya menjadi orang yang pintar
Selalu meraih juara di kelas

Aku berjalan berkilo-kilo meter
Hambatan tidak kurisaukan
Harapanku sudah di depan mata
Ingin rasanya ku memilikinya, memeluknya
Hingga aku meraihnya

Nuzul aini ramadani
Medan sumut

Monday, 23 June 2008

Aku Penari

Aku Penari
Oleh: Indah Zuhairani


Namaku masih tergurat di batang pohon Seri itu. Walau mengabur, namun bisa dapat kubaca: Sulan. Bedanya, dulu guratan itu sejajar dengan wajahku dan kini sedadaku. Sekarang dengan hanya mengulurkan tangan aku bisa mengambil buahnya. Tak seperti tujuh tahun lalu. Aku harus memanjatnya.

Biasanya pohon bisa menutupi wajahku yang kecil. Tapi bukan salahnya. Tubuhku makin mengembang. Gampang terlihat jadinya. Kalau dulu, pohon ini mendukung ritual mengintip orang-orang belajar. Mengintip mereka memainkan selendang sambil menari. Melukis padang dan pohonan. Bercerita dan belajar matematika. Mengutip bahasa dan sajak yang selalu kubawa menjelang tidur bersama ayam-ayamku, ehhh ayam nenek itu. Aih, bagaimana pula kandang ayam yang menjadi rumahku dulu?

Bagaimana ya dengan nenek pemilik ayam itu. Masih galakkah dia? Atau sudah mati? Aku ingat bagaimana dia memberiku makan jika bisa menjual telur-telur ayamnya dengan harga tinggi. Itu pun sekali sehari. Itu juga yang membuat aku jadi sering mengintipnya ada atau tidak di rumah. Lalu mencuri di rumahnya. Untung dia tak pernah tahu. Bisa kubayangkan makiannya. Soalnya, masuk kamar mandi untuk mandi saja dia marah apalagi mencuri makannya.

Malunya. Aku jadi biasa mencuri di rumah yang memberi aku tumpangan kandang ayam. Tapi dia juga yang membuat anak-anak sebayaku malas main denganku. Anak-anak itu sering mengejekku. Bahkan ada yang menyebutku Sulan Monyet Ayam. Monyet karena aku sering memanjat pohon Seri. Ayam karena aku tinggal di kandang ayam. Mereka juga sering menutup hidung saat aku lewat. Katanya aku bau.

Tapi tak apa, kurasakan keasikan di sana. Bau yang bertahun-tahun kuhirup mengharum. Bulu-bulu ayam membuang alergi. Aku sehat-sehat saja. Telur-telurnya dapat kumakan mentah-mentah. Tak pernah merasa capek jadinya.

Mereka tidak tahu dari keayamanku dan kemonyetanku, aku bisa mencuri pelajaran di sekolah terbuka mereka. Memang lebih asyik lagi jika aku bisa sekolah terang-terangan, tanpa harus mengintip. Tapi bagaimana bisa? Sekolah itu hanya untuk anak petani. Sedang aku anak siapa? Aku sendiri tak tahu. Aku seorang anak yang entah tercecer di mana lalu dipungut entah untuk kepentingan apa. Tapi tak apa. Toh sekarang aku bisa hidup lebih baik. Tarianku memberiku rumah dan hidup yang lebih baik. Bisa mengajarkan tarian yang kudapat dari mengintip. Aku tidak lagi tinggal di kandang ayam. Tidak mencuri makanan. Tidak memonyet untuk mengambil buah Seri yang merah dan manis. Sekarang lebih sering mandi di kamar mandi keramik biru. Kota, ternyata tempat yang memberiku kehidupan lebih baik untuk anak yang menumpang di kandang ayam.

Tapi bukan karena mengintip aku berteman dengan kota. Memang, memang dari mengintip aku bisa menghayati selendang menggelombang mengikuti angin. Aku juga bisa merasakan angin mengayun-ayun rasa dan badan penari. Tapi, semua itu memang percuma, kalau saja aku kelewatan menonton pertunjukan rombongan penari keliling di pasar.

Waktu mereka tampil, kutinggalkan telur-telurku. Aku tak peduli nenek itu marah. Aku bosan melihat tarian yang hampir setiap hari kuintip. Aku ingin melihat yang lain. O, Tuhan. Aku merasa melihat yang tak terbayangkan. Selendang membelai perasaan. Angin menyelusup ke jiwa. Pori-poriku terbuka. Ada yang menggeliat dalam diri. Aih! Entah kenapa aku mendadak berada di antara penari-penari. Aku hanya ingin bergerak. Hanya ingin mereka melihatku bergerak. Anjing! Ekstaseku pecah. Aku ditarik. Tangan-tangan kuat menyeretku keluar dari arena pertunjukan. Aku hanya bisa menangis. Tapi hatiku terus-terus memanggil-manggil tarian. Tapi mereka tuli. Mereka buta. Seperti Tuhan, mereka menolakku hadir di arena tadi. Mereka tak membolehkanku menari dengan iringan gamelan dan seruling sawah. Mereka mengusirku sambil memakiku, "Gila!"

Tapi aku tidak menyerah. Seorang tukang sayur menyemangatiku.
"Kau mau menari seperti mereka? Ikuti saja lenggak-lenggoknya. Ajari dirimu menari seperti mereka. Mereka dua minggu di sini. Masih banyak waktu untuk kau menunjukkan kemampuanmu. Jika butuh selendang banyak di rumah. Besok kubawakan kau satu. Kau akan menari. Bahkan lebih indah dari mereka. Tapi, ingat. Jangan pernah jual tarianmu pada orang-orang yang bukan hanya suka pada tarianmu. Catat itu dalam kepala. Kau bukan anak seperti ejekan orang kampung. Kau lebih cerdas dari mereka yang belajar di sekolah terbuka. Kau lebih pintar menghitung belanjaan daripada anakku."

Mendengar ucapan itu, aku bagai orang kehausan mendapat segelas air. Tak dingin tapi hangat. Ya, aku mendapat kehangatan manusia yang jarang kurasa. Kehangatan manusia itu mengantarkan selendang itu padaku. Dimana tukang sayur yang hangat itu sekarang? Aku jadi rindu dia. Tadi waktu melalui pasar bersama rombongan penari tak kulihat dia berjualan. Apa sudah pindah? Atau dia bangkrut karena memberi satu selendang untukku? Tidak mungkin. Selendang itu tidak baru, tapi manik-maniknya masih rapih. Warnanya juga belum terlalu pudar. Memang ada sedikit sobekan. Tapi tak apa. Selendang itu yang membawaku ke rombongan penari.

Hari berikutnya aku terus menonton tarian yang mereka bawakan. Kupikir biasa saja. Bisa lebih baik jika mereka menghayati angin. Aku jadi ingin memperkenalkan angin kepada mereka.

"Biarkan aku menari sebentar saja. Tiga menit saja. Lihat dulu. Aku penari. Aku bisa menari. Tolonglah! Setelah hari ini aku takkan mengganggu acara kalian lagi. Aku janji."
Tarianku berkelebatan di angin. Menawan mata pemilik rombongan. Matanya, mata seorang ibu yang teduh. Dia yang menyapaku lebih dulu. Dia juga yang menawarkan untuk ikut. Beberapa hari kulewati dengan usiran rombongan, akhirnya kini aku menjadi anggota rombongan. Senangnya!

Bu Wiyan. Cantik. Janda yang memberikan seluruh hidupnya untuk menari, penarinya dan orkestra musik ringan. Persis seperti penari zaman dulu yang sering kulihat gambarnya di papan tempat anak-anak belajar. Betul-betul mirip. Bahkan awalnya kupikir gambar itu hidup dan menjelma menjadi Bu Wiyan. Perempuan itu begitu kusayang, seperti dia menyayangiku. Menyekolahkanku hingga sekarang. Aku belajar dengan utuh. Aku juga diizinkan ikut rombongan pada waktu-waktu liburan sekolah, seperti sekarang. Liburan kenaikan ini yang membawaku pulang. Pulang ke kampung dimana hanya rombongan dan penjual sayur yang menerima aku sebagai anak perempuan yang bisa menari. Bisa menggambar. Bisa segalanya.

Bu Wiyan juga suka mengoleksi lukisanku tentang kampung. Tentang kandang ayam. Tentang rumah yang sering kumasuki untuk mencuri. Tapi dia tak marah padaku. Karena aku tak pernah mencuri di rumahnya. Lagi pula buat apa aku mencuri? Sekarang aku bisa makan tiga kali sehari. Aku bisa mandi sesukaku. Bisa menonton TV. Bisa belajar dengan buku-buku yang mahal. Bisa mengetik di komputer. Komputernya memang sudah agak rusak. Tapi sajak-sajakku tak ikut rusak. Dia juga suka menyuruh anak-anak di dekat rumah kami membacakan sajak-sajakku ketika ada acara apa saja. Dia sepertinya mengagumiku, seperti aku mengaguminya. Dia ibuku, dia mengubah jalan hidup.

Tak bisa kulupakan, hidupku banyak berubah sekarang. Sekarang kampung ini juga. Memang pohon Seri masih menoreh namaku. Tapi di sekitarnya masih banyak pohon Seri yang tidak kutau namanya. Dulu hanya ada tujuh. Semua kuberi nama seperti nama ayam-ayam di kandangku. Kalau kulihat kulit pohon lebih muda dan basah, maka mereka adalah perempuan. Kalau agak keriput dan tua, itu laki-laki. Ya, begitu juga aku menilai ayam-ayam yang tidur bersamaku di kandang. Mozza, Ringga, Sarma, Gondo, Herman, Dadang. Pohon Seri itu namanya Sulan, seperti namaku. Hanya dia yang tak punya pasangan. Tadinya aku berniat menikahkan mereka semua. Tapi itu kan waktu kecil, umurku saja masih sembilan tahun. Sekarang mereka seperti sudah menikah saja. Punya keturunan yang banyak. Ahh, bodohnya aku. Mana bisa pohon menikah. Tapi mereka pasti berkembang atau ada yang menanamnya lagi. Terpuji sekali dia. Jadi teduh. Tapi aku tidak suka pondok-pondok kecil yang tertutup di sekitar pohonan.

Pondok-pondok itu didatangi pasangan yang bermacam-macam. Ada yang perempuannya muda laki-lakinya tua. Ada juga sebaliknya. Ada yang sebaya. Dan ahhkh, itu urusan mereka. Yang penting mereka sudah merusak kerindangan pohonku. Atau pemilik warung itu yang menanami pohon dan membangun pondok-pondok? Terserahlah, tapi bagaimana orang-orang kampung sebayaku? Apa masih menolakku dan mengataiku monyet ayam? Tidak, pasti tidak. Aku sekarang tak perlu memanjat untuk ambil buah seri. Aku juga tidak tidur di kandang ayam.

Hei, itukan Lasri! Berapa umurnya sekarang ya? Waktu aku sembilan, dia sebelas tahun. Dia lebih tua dariku. Tapi dia terlihat lebih tua dari usianya. Apa karena temannya itu. Temannya terlalu tua. Sangat tua. Siapanya ya? Pacarnya. Atau... suaminya. berarti dia sudah menikah. Cepat sekali. Aku saja masih sekolah kelas tiga SMP. Ah, tapi kurasa itu biasa. Ini 'kan kampung. Tapi tidak juga. Bangunan di sini sudah banyak yang megah. Sudah banyak kendaraan dan kantor-kantor meski agak kecil dibanding kantor di kota. Ih, itukan Burhan, Lili, Gita. Mereka ada di situ juga. Sedang apa ya? Apa mereka masih mengenalku? Kurasa tidak. Aku terlihat lebih cantik dibanding mereka. Tapi si Burhan sedang apa? Dia bergandeng dengan laki-laki juga? Tak mungkin pacar. Hanya teman. Pasti!

Astaga! Mereka berciuman? Burhan.... Burhan pacaran dengan laki-laki? Saling belai pula. Astaga! Gila! Mereka semua sepertinya sudah gila. Apa tidak ada niat melanjut ke sekolah terbuka lanjutan? Atau memang hanya begitu saja ilmu mereka? Malaskah? Atau tak ada uang? Tapi aneh betul.

Kurasa mereka pasti malas. Lebih asyik bersenang-senang. Buktinya Kak Satti yang dulu juga bersekolah di sekolah terbuka kelihatannya masih bekerja. Aku pernah melihatnya lewat berseragam rapi boncengan dengan laki-laki juga rapi. Sampai sekarang aku tak pernah jumpa dia lagi. Tapi aku yakin itu dia. Dulu aku sempat mengaguminya. Dia murid paling tua di sekolah terbuka. Usianya waktu itu sudah tiga belas tahun. Tapi dia tidak malu bersama-sama belajar dengan anak-anak yang tiga atau empat tahun lebih muda darinya. Dia juga pinter menari. Tapi itu pasti dia. Tompel di dekat dagunya masih hitam kemerahan.

Maunya mereka juga seperti Satti. Seperti aku. Menjumpai hidup baru di kota. Tapi mereka betah di sini. Terlalu cinta pada kampung? Mau cari apa di sini! Paling-paling bertani, beternak, dan berdagang. Tak ada hal baru yang mengembangkan pikiran. Besok pagi sebelum menari aku harus menemui mereka. Satu-satu. Tapi sebelumnya aku ke rumah nenek pemilik ayam itu dulu. Semoga masih ada. Aku masih hapal gang di kampung ini meski banyak bangunan batu yang asing untuk mataku.

Mereka semua berkumpul. Apa tinggal serumah?
"Hei,..... Apa kabar? Masih ingat?"
Kelihatannya mereka begitu aneh memandangku. Ada apa ya?
"Sulan!"
"Monyet ayam?"
Hmmm, mereka masih memanggilku begitu. Lucu juga mendengarnya.
"Kalian semua tinggal di sini?"
"Tidak! Kami hanya malas pulang. Dari tadi malam belum tidur. Banyak tamu yang datang. Perlu dilayani spesial. Tadi malam 'kan malam minggu, jadi banyak pengunjung."
"Suaramu lembut sekali Burhan?"
"Ahhh biasa saja!"
Apa yang kalian lakukan di sini? Kulihat kemarin kalian masing-masing punya pasangan intim. Yang paling aneh kau Burhan!"
"Dia kan homo!"
"Jangan gitu, Li. Dia bukan homo. Hanya tuntutan tugas. Bukan begitu, Han?"
"Gita, Gita! Jangan munafik gitu. Kau sama seperti aku. Seperti kami, kita! Kita semua pasangan komersil yang dibayar. Pelacur. Kau tahu itu?"
"Kau yang pelacur! Aku hanya menemani satu tamu malam ini. Dia itu pun suami gelap yang menikahiku dua bulan lalu,"
"Alah...."
"Sudah! Sesama kawan tak perlu begitu. Kita sama-sama dan ini kita!"
Pelacur? Mereka semua pelacur? Lantas apa yang dikatakan orangtua mereka? Siapa yang menjadikan mereka begitu? Apa maunya mereka dengan begitu? Kenapa tidak memilih hidup selain melacur?
"Apa kabar? Sulan!"
"Baik, Las! Kau juga?"
"Ya."
"Kenapa kau begitu? Lebih baik menari. Kau pintar menari. Kau juga pintar mengajari anak-anak membaca. Kau juga pintar menggambar. Lalu ibu dan ayahmu bagaimana?"
"Mereka yang menyuruhku. Kenapa tidak? Uang dari sini lebih banyak. Mereka bisa menikmati kopi dan pisang goreng tanpa harus ke ladang, sawah dagang dan beternak. Mereka hanya membutuhkan aku. Apa masalahnya kalau aku melacur? Tak ada kan? Kau hanya beruntung, pergi ke kota dengan rombongan tari dan sekolah sebisamu."
"Aku tidak beruntung. Kalian harusnya lebih beruntung. Punya orangtua dan sempat belajar lebih dulu dari aku. Lalu kenapa harus melacur?"

"Ini paling gampang dilakukan. Lagi pula tak ada risiko selain penyakit dan ditangkap hansip. Kurasa pekerjaan ini lebih menguntungkan. Tanpa modal. Hanya tubuh saja. Dan sedikit cumbuan. Menari pun ada gunanya? Penari-penari di sini juga disamakan dengan pelacur. Kerjanya juga lebih berat. Harus lebih menari dulu, ditiduri baru dibayar. Sedang kami, sekadar menemani minum, dibawa pergi lalu dibayar. Lebih gampang kan? Tak usah menari untuk melacur, Sulan!"

"Aku lebih memilih jadi penari. Sejak warung ini buka. Kau tahu ini warung milik orang kota. Dia yang membawa kami dan menawarkan harga mahal. Itu juga yang membuat orang-orangtua sekampung ini menerima. Uangnya besar. Apalah petani? Tak ada. Penghasilan tak sebanding dengan hama dan kering yang datang setiap tahun. Hampir seluruh petani setiap tahun rugi. Hampir juga kerugian itu seratus persen. Petani-petani dan tak terkecuali orangtua kami harus terus meminjam uang. Dibayar dengan anak-anak perempuannya. Kurang ajar memang. Tapi inilah pelajaran yang lebih berharga dari sekolah terbuka. Pelajaran itu juga yang membawa kemauan kami jadi pelacur!"

"Aku tak sependapat! Kalian bodoh. Percuma kalian duluan sekolah. Tapi otak kalian buntu. Terlalu mau dibodohi dengan kebodohan dan kemiskinan. Terlalu gampang menyerah,"
"Bukan menyerah. Ini balasan. Dan kami membalas dengan ikhlas untuk orangtua kami. Daripada rumah harus dibongkar. Lebih baik begini. Kau ingat nenek yang kau tumpangi. Karena dia tak punya anak, ayam dan semua isi rumah diambil paksa. Dia tidur di mana saja di lorong kampung. Akhirnya dia meninggal! Sadis bukan. Lebih sadis daripada orang-orang tua yang membiarkan anaknya melacur!"

"Meninggal?"
"Ya, tiga tahun kau pergi. Kampung ini banyak didatangi orang kota. Dan ya, akhirnya mereka menguasai. Beginilah. Tapi tak apa. Inilah perubahan Sulan. Perubahan yang mendasar hingga ke anak-anak. Kehidupan seperti inilah yang menjanjikan kenyamanan. Kau harus setuju! Penari tidak lebih dihargai dibanding pelacur warung ini!"
"Kau mau menari ya, Sulan?"
"Ya, jangan sampai diusir. Setahun ini sudah lima rombongan penari diusir. Mereka mengurangi omset warung dan kami. Kami merasa dirugikan."
"Aku tetap akan menari! Tetap!"
"Keras kepala!"
"Bukan begitu Burhan! Aku cuma melekangkan kepelacuran dari penari. Penari bukan pelacur seperti kalian"
"Kau juga pelacur, Sulan! Nikmatilah, seperti kami menikmati hidup"
"Tidak! Aku penari. Sampai jumpa nanti sore. Nikmati saja hidup sebagai pelacur. Lihat saja. Jam tiga nanti kami menari di lapangan bola!"
"Persetan dengan menari dan penari."

Lantunan irama seperti musik dari dunia baru. Lenggak-lenggok penari menyulam selendang di tangan dan di pinggul mereka. Hanya sedikit yang menonton. Sulan tetap terlihat begitu semangat. Setidaknya semangat itu hadir juga di hati teman-teman yang pernah menolaknya. Teman yang melacur hanya karena takut tidak makan. Takut tidak punya rumah.

Mereka datang juga. Teman-teman lamaku yang pelacur!

"Mereka penari! Usir saja. Mereka akan merusak pendapatan kita. Kalian mau rumah dan sawah digusur? Tidak 'kan. Usir saja!"
"Tidak! Jangan usir. Kami mau menari. Kami menari bukan melacur seperti hidup kampung ini!"
"Usir!......"
"Terlalu banyak, Sulan! Kita tak bisa terus menari. Nanti kendaraan dan segala milik kita bisa-bisa dibakar!"
"Tidak mau! Sulan mau terus menari, Bu. Mereka harus buang pikiran tentang penari itu pelacur. Sulan mau kasih tau mereka, penari itu seniman tubuh yang tak menjual tubuh!"
"Sudahlah, Sulan! Kita pergi saja. Hentikan musiknya!"
"Jangan, Bu. Mereka harus lihat Sulan menari"
"Usir! Bakar!"
"Mereka banyak, Sulan!"
"Biar!"
"Sulan sayang ibu 'kan? Sulan sayang rombongan kita 'kan? Ayolah nak. Biar saja mereka begitu. Yang penting kita penari, bukan pelacur. Lagi pula kita harus mengamen lagi di kampung lain. Liburanmu sudah mau habis,"
"Sulan ajak ibu ke sini karena Sulan rindu kampung. Sulan ingin tunjukkan Sulan bukan monyet ayam yang bisa manjat yang tidur di kandang ayam lagi."
"Sudahlah! Ayo!"
"Anjing. Dasar kampung pelacuran!"
"Sulan, jangan!"

"Ibu, ternyata kampung ini tetap sama. Bukan hanya pohon serinya. Mereka juga masih menolak Sulan. Padahal Sulan tidak lagi tidur di kandang ayam. Tidak lagi suka manjat. Sulan juga sudah bisa menari. Sulan benci mereka. Sampai mati pun Sulan takkan mau menari di kampung ini lagi. Biar saja mereka mencari hidupnya sebagai pelacur!"
"Ya, yang penting Sulan 'kan anak ibu. Anak ibu yang pintar menari, tapi bukan pelacur! Ayo."

Aku tak bisa menolak ibu seperti orang-orang kampung ini menolakku. Tapi aku tak bisa menolak harapan. Ya harapan. Harapan agar namaku tetap tertoreh di pohon Seriku. Agar kembali anak-anak menari di balik pohon itu, walau tanpa Sulan yang mengintip.
"Ayo, bu."

Medan, 31 Agustus 2006

Monday, 16 June 2008

Celana Pacar Kecilku di Bawah Kibaran Sarung




Buku ini berisi 125 sajak Joko Pinurbo yang pernah dimuat dalam Celana, Di Bawah Kibaran Sarung, dan Pacarkecilku, trio kumpulan puisi yang telah memperkenalkan penyairnya sebagai salah satu ikon penting dunia perpuisian Indonesia modern. Jokpin (demikian penyair ini kerap disapa) mematahkan stigma bahwa puisi sulit dibaca. Jokpin tidak bersusah-susah dan menyulitkan pembaca dengan metafora atau idiom menyesatkan seperti yang cenderung dilakukan banyak penyair lain di tanah air kita.


Buku ini merupakan dokumentasi karya yang sangat berharga dari penyair yang telah menerima berbagai penghargaan sastra.


PACAR KECILKU


untuk Anggra


Pacarkecilku bangun di subuh hari ketika azan datang
membangunkan mimpi. Pacarkecilku berlari ke halaman,
menadah hujan dengan botol mainan, menyimpannya
di kulkas sepanjang hari, dan malamnya
ia lihat di botol itu
gumpalan cahaya warna-warni.



Pacarkecilku lelap tidurnya, botol pelangi dalam dekapnya.
Ketika bangun ia berkata: "Tadi kau ke mana?
Aku mencarimu di rerimbun taman bunga."
Aku terdiam. Sepanjang malam aku hanya berjaga
di samping tidurnya agar dapat melihat bagaimana azan
pelan-pelan membuka matanya.


Pacarkecilku tak akan mengerti:
pelangi dalam botol cintanya
bakal berganti menjadi kuntum-kuntum mawar-melati
yang akan ia taburkan di atas jasadku, nanti.


(2001)

***


Kerap saya menonton ia membacakan sajaknya. Penyair ceking itu membaca tanpa ekspresi. Namun kekuatan kata-katanya senantiasa membuat orang tergelitik. ...sajak-sajak itu seolah melampaui estetika, menyentuh wilayah peka manusia.
--Ayu Utami, 2005


...Saudara Joko Pinurbo memang memberikan warna yang sama sekali baru dalam puisi Indonesia. ... Dia itu menggunakan suatu cara pengungkapan yang mungkin orang lain dulu tidak pernah mau mengembangkannya.
--Sapardi Djoko Damono, 2002


Penyair kelahiran 1962 ini adalah antipoda puisi lirik sekaligus puisi protes. Ia berhasil membangkitkan bahasa sehari-hari dengan frasa yang terang sebagai alat puitik.... ...puisi Pinurbo bercerita dengan gamblang, tapi dengan aforisme yang mengejutkan di sana-sini.
--Nirwan Dewanto, 2002


...sajak-sajak yang bercerita dengan kuat, yang menyuling drama pertemuan manusia, tak mati-mati dalam ingatan....
--Hasif Amini, 2003



Judul Celana Pacar Kecilku di Bawah Kibaran Sarung
No. ISBN 979-22-2838- 1
Penulis Joko Pinurbo
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Tanggal terbit Mei - 2007
Jumlah Halaman 232
Jenis Cover Soft Cover
Dimensi(L x P) 135x200mm
Kategori Kumpulan Puisi
Text Bahasa Indonesia
Harga Rp 42.500,-

Tuhan, Kita Begitu Dekat

LANGKAH – LANGKAH

Suara azan yang mengumandang di batas cakrawala
Adalah asap yang menggumpal – gumpal menjadi
Seonggok awan hitam , di antara
Mendung – mendung
Dan menjadi hujan dalam mataku.
Suara azan yang mengumandang di batas cakrawala
Adalah kemarau yang menyengatkan bisa – bisa
Teriknya dan menusuk jantung – jantung
Hingga berdarah , dan seketika detik – detik
Kematian menyelimuti jiwaku.
Suara azan yang mengumandang di batas cakrawala
Menjadi limbah pada pabrik – pabrik kemaksiatan
Adalah bibit penyakit yang mengatupkan
Segala urat syaraf dan nadi – nadi darahku
Menyumbat mulutku karena tak terbiasa
Melafaskan asma – Mu
Suara azan itu adalah
Langkah – langkah kakiku
Yang terseret satu – satu.


AMSAL MUHARRAM

Allah ,
Hari – hari yang tersusun dalam hurup – hurup keabadian
Pada langit , pada bumi , pada bintang ,
Pada tanah kelahiran adalah
Hijaiyah pergantian musim ke musim
Bermula dari Adam yang mempersunting Hawa
Dalam surga
Lalu , lahirlah pasangan Kabil , lahirlah pasangan Habil
Dalam belantara dunia
Allah ,
Seperti hiasan langit yang gemerlapan
Menjadi cahaya alam semesta jiwa
Adalah Ibrahim yang mencari Sang Pencipta ,
Lalu menunggu kelahiran Ismail tiba
Yang hampir terbentur dalam usia senja Siti Hajar ,
Istrinya dan Allah kembali menguji ke – Imanan
Dalam qurbannya
Allah ,
Dalam lidah cakrawala yang terikat
Bendera – bendera curiga di antara batu karang nafsu
Dan keserakahan dunia lahirlah putra cahaya
Dari rahim Aminah berbapa Abdullah
Muhammad Rasulullah merobah peta suram dunia jahiliyah


Melepas Do’a Air Mata


Sepeninggal tsunami
Kami rangkai do’a air mata tanpa tabur bunga
--sepanjang ziarah, seluas samudera
tetesnya tercipta
menyantuh lembut pipi para bocah
yang tengah mengundang cakrawala
tetesnya tercipta
melepas saudara – saudara kami
yang tertimpa bencana
tetesnya tercipta
menjelma busur zikir yang melesat,
meretas segala jarak
: dari banda sampai Mandrehe
dari kamala sampai barwalla
dari batin sampai perih mata
sepeninggal tsunami
kami lepas do’a air mata tanpa tabur bunga
kami hembuskan aroma surga – liwa
buat saudara – saudara yang tertipa bencana
-- sepanjang ziarah, seluas samudera

Puisi Abdul W. M

Tuhan, Kita Begitu Dekat

Tuhan,
Kita begitu dekat
Sebagai api dengan panas
Aku panas dalam apimu
Tuhan,
Kita begitu dekat
Seperti kain dengan kapas
Aku kapas dalam kainmu
Tuhan,
Kita begitu dekat
Seperti angin dengan arahnya
Tuhan,
Kita begitu dekat
Dalam gelap
Kini aku nyala
Pada lampu padammu

Pusi Sahril

Laut Telah Tak Bertepi

Ingin kukayuh biduk ini hingga segitiga bernama
ketika magnet-magnet kutub
menarik dajal ke perutnya
tapi konon pengayuhku patah
digunting ombak melaka
dan layarku tumbang dihantam
kalimbubu dan puting beliung
kemudiku kehilangan kompas
disikut debat pariwara
hingga aku terdampar di pulau tak bernama
di situs-situs email
masih kulihat belanak mencari terumbu
antara limbah-limbah politik dan tanker keangkuhan
nelayan-nelayan hanya kuasa
sisiri pantai berlumpur
menjala anak sembilang
sisa auman pukat tauke sipit
nipah – simali-mali telah gundul
tempat lokan dan ketam kelapa bertapa
laut telah tak berpantai
ombak pun enggan bertepi
Medan, 2002

Sepeda Mini

Kulit elang di tengah siang
Saat ombak menggiring pasang
Mak Ijah masih menampi beras segantung
di ujung pantai layar sudah tak di bentang
ayah si Antan menambat sampan
tangkapan hari ini hanya bisa bayar utang
di kedainya Pak Dulah
seikat rokok daun nipah dan tambakau cina
terselip di kopiah lusuh itu. Masih belum di bayar
malam merangkak, Antan pulang mengaji
merengek minta belikan sepeda mini
lelaki itu membisu
Kubah Padang, 2002


Puisi sahril

Di Laut Harimau Mengaum

Julang angin dalam buaian
dihembuskan selat melaka, jahil
sibak untaian mayang di
kening langsat dara pesisir
dan gegap gelak di bibir pantai
dara melayu sukat kepah
menjulur kaki mandi pada jilatan
ombak pasang
nun di samudera, senandung pengayuh
sayup belai di ujung pendengaran
: oii.... nandung di nandung
angin, datanglah puan
tiupkan layar tuju tepian kuala
konon di sana belahan jiwa sendirian
tunggu kasih bawa hantaran
oii.... didong.... didong, sayang
ajat hati melabuh kasih di pelaminan
apatah dayalaut telah mengaum
dekil berbagi
bujang menghanyut berantal lengan
tetap awan, mencibir angan
trbakar rindu pada tunangan
nan tiada bertatap berbilang bulan
oh... alam mengapa engkau siksa
batin nelayan bjang pejaka
pada lembut tatap dara pejaka
pada lembu dara jelita
nan berjanji tuk hidup berumah tangga
oh... laut dimanakah engkau sembunyikan ikan
hingga aku lelah mengayuh sampan
berpeluh embun kuyupkan badan
biarpun panas – hujan tetap kutahan
oh... kasih di tepi kuala
adakah engkau menanti dengan setia
akan ikrar janji kita
selepas purnama mengikat cinta

Puisi Sahril

Gadis Pantai

selamat tidur rembulan
pada tuakak ini aku merajut mimpi
mungkin selat melaka ini hantarkan angan
pada gemerincing ringgit di seberang
hingga benang tali kasih cinta kita
terlambat di pelaminan
pulau berhala telah terlewakan
mentari tinggal sepenggalahan
malam kedua menjelang hadapan
wadah adinda tak isa terlupakan
putih pasir pantai negeri
tempat kita berkejar-kejaran
mengelak langkah pada jilatan ombak
engkau angkat rok panjangmu
aku terpana pada betismu
ah, tersipu malu kala engkau tahu
di sinar suaranya tuakak ini
aku masih ingin mewujudkan impi
Kw. Tanjung, 2002

Habis Berbilang

masih kukayuh harapan
pada angan belum kesampaian
sedang janji kian di hadapan
malu bermuka pada handai tolan
nan pasik bertanya, bilakah awak berjulang?
tak mungkin hidup membujang
padahal usia semakin membentang
sebelum petang datang
sebelum dandang meradang untuk didiang
sebelum janur habis di tebang
dan sebelum dara ke seberang
Kw. Tanjung, 2002

Puisi Sahril

Lelaki Itu

lelaki itu memikul pengayuh
tak ada kayu pada kating
jaring dan rawai tak sempat dilabuh
sebab alun gelombang menari-nari
tak sudi menayang neleyan
ikan-ikan menangis
kerang-kerang tersedu-sedan
laut mengamuk
lelaki itu memikul lelah
memikul tatap istrinya
di ujung pandang dua bocah
berlari menerpa
lelaki itu tetap memikulnya
Kw. Tanjungm, 2002

Kenduri Laut

pada pucuk nipah
saat salawat dulang menggema
sepanjang isya membelah samudera
tiga kerbau di sembelih sudah
menghanyutkan lancang
kain tuju warna
pawang menari di unggun bara
gegap riuh ratip nelayan
menembus cakrawala
dara-dara menari inai
upacara hampir di penghujung
renjis tepungtawar menebar
(salam anak cucu pada datu mambang)
pada ratu bunian, mambang tali arus
berkat lailah aillallah Muhammad rasulullah
usai pawang tunaikan kenduri
datu-datu lantunkan ayat kursi
glai daging pembuka rezeki
tubuh rebana diiringi bangsih
tanda syukur
ke hadirat ilahi
bahwa rezeki harus di bagi
agar alam dan manusia harmoni