Senin, 16 Juni 2008

Tuhan, Kita Begitu Dekat

LANGKAH – LANGKAH

Suara azan yang mengumandang di batas cakrawala
Adalah asap yang menggumpal – gumpal menjadi
Seonggok awan hitam , di antara
Mendung – mendung
Dan menjadi hujan dalam mataku.
Suara azan yang mengumandang di batas cakrawala
Adalah kemarau yang menyengatkan bisa – bisa
Teriknya dan menusuk jantung – jantung
Hingga berdarah , dan seketika detik – detik
Kematian menyelimuti jiwaku.
Suara azan yang mengumandang di batas cakrawala
Menjadi limbah pada pabrik – pabrik kemaksiatan
Adalah bibit penyakit yang mengatupkan
Segala urat syaraf dan nadi – nadi darahku
Menyumbat mulutku karena tak terbiasa
Melafaskan asma – Mu
Suara azan itu adalah
Langkah – langkah kakiku
Yang terseret satu – satu.


AMSAL MUHARRAM

Allah ,
Hari – hari yang tersusun dalam hurup – hurup keabadian
Pada langit , pada bumi , pada bintang ,
Pada tanah kelahiran adalah
Hijaiyah pergantian musim ke musim
Bermula dari Adam yang mempersunting Hawa
Dalam surga
Lalu , lahirlah pasangan Kabil , lahirlah pasangan Habil
Dalam belantara dunia
Allah ,
Seperti hiasan langit yang gemerlapan
Menjadi cahaya alam semesta jiwa
Adalah Ibrahim yang mencari Sang Pencipta ,
Lalu menunggu kelahiran Ismail tiba
Yang hampir terbentur dalam usia senja Siti Hajar ,
Istrinya dan Allah kembali menguji ke – Imanan
Dalam qurbannya
Allah ,
Dalam lidah cakrawala yang terikat
Bendera – bendera curiga di antara batu karang nafsu
Dan keserakahan dunia lahirlah putra cahaya
Dari rahim Aminah berbapa Abdullah
Muhammad Rasulullah merobah peta suram dunia jahiliyah


Melepas Do’a Air Mata


Sepeninggal tsunami
Kami rangkai do’a air mata tanpa tabur bunga
--sepanjang ziarah, seluas samudera
tetesnya tercipta
menyantuh lembut pipi para bocah
yang tengah mengundang cakrawala
tetesnya tercipta
melepas saudara – saudara kami
yang tertimpa bencana
tetesnya tercipta
menjelma busur zikir yang melesat,
meretas segala jarak
: dari banda sampai Mandrehe
dari kamala sampai barwalla
dari batin sampai perih mata
sepeninggal tsunami
kami lepas do’a air mata tanpa tabur bunga
kami hembuskan aroma surga – liwa
buat saudara – saudara yang tertipa bencana
-- sepanjang ziarah, seluas samudera

Puisi Abdul W. M

Tuhan, Kita Begitu Dekat

Tuhan,
Kita begitu dekat
Sebagai api dengan panas
Aku panas dalam apimu
Tuhan,
Kita begitu dekat
Seperti kain dengan kapas
Aku kapas dalam kainmu
Tuhan,
Kita begitu dekat
Seperti angin dengan arahnya
Tuhan,
Kita begitu dekat
Dalam gelap
Kini aku nyala
Pada lampu padammu

Pusi Sahril

Laut Telah Tak Bertepi

Ingin kukayuh biduk ini hingga segitiga bernama
ketika magnet-magnet kutub
menarik dajal ke perutnya
tapi konon pengayuhku patah
digunting ombak melaka
dan layarku tumbang dihantam
kalimbubu dan puting beliung
kemudiku kehilangan kompas
disikut debat pariwara
hingga aku terdampar di pulau tak bernama
di situs-situs email
masih kulihat belanak mencari terumbu
antara limbah-limbah politik dan tanker keangkuhan
nelayan-nelayan hanya kuasa
sisiri pantai berlumpur
menjala anak sembilang
sisa auman pukat tauke sipit
nipah – simali-mali telah gundul
tempat lokan dan ketam kelapa bertapa
laut telah tak berpantai
ombak pun enggan bertepi
Medan, 2002

Sepeda Mini

Kulit elang di tengah siang
Saat ombak menggiring pasang
Mak Ijah masih menampi beras segantung
di ujung pantai layar sudah tak di bentang
ayah si Antan menambat sampan
tangkapan hari ini hanya bisa bayar utang
di kedainya Pak Dulah
seikat rokok daun nipah dan tambakau cina
terselip di kopiah lusuh itu. Masih belum di bayar
malam merangkak, Antan pulang mengaji
merengek minta belikan sepeda mini
lelaki itu membisu
Kubah Padang, 2002


Puisi sahril

Di Laut Harimau Mengaum

Julang angin dalam buaian
dihembuskan selat melaka, jahil
sibak untaian mayang di
kening langsat dara pesisir
dan gegap gelak di bibir pantai
dara melayu sukat kepah
menjulur kaki mandi pada jilatan
ombak pasang
nun di samudera, senandung pengayuh
sayup belai di ujung pendengaran
: oii.... nandung di nandung
angin, datanglah puan
tiupkan layar tuju tepian kuala
konon di sana belahan jiwa sendirian
tunggu kasih bawa hantaran
oii.... didong.... didong, sayang
ajat hati melabuh kasih di pelaminan
apatah dayalaut telah mengaum
dekil berbagi
bujang menghanyut berantal lengan
tetap awan, mencibir angan
trbakar rindu pada tunangan
nan tiada bertatap berbilang bulan
oh... alam mengapa engkau siksa
batin nelayan bjang pejaka
pada lembut tatap dara pejaka
pada lembu dara jelita
nan berjanji tuk hidup berumah tangga
oh... laut dimanakah engkau sembunyikan ikan
hingga aku lelah mengayuh sampan
berpeluh embun kuyupkan badan
biarpun panas – hujan tetap kutahan
oh... kasih di tepi kuala
adakah engkau menanti dengan setia
akan ikrar janji kita
selepas purnama mengikat cinta

Puisi Sahril

Gadis Pantai

selamat tidur rembulan
pada tuakak ini aku merajut mimpi
mungkin selat melaka ini hantarkan angan
pada gemerincing ringgit di seberang
hingga benang tali kasih cinta kita
terlambat di pelaminan
pulau berhala telah terlewakan
mentari tinggal sepenggalahan
malam kedua menjelang hadapan
wadah adinda tak isa terlupakan
putih pasir pantai negeri
tempat kita berkejar-kejaran
mengelak langkah pada jilatan ombak
engkau angkat rok panjangmu
aku terpana pada betismu
ah, tersipu malu kala engkau tahu
di sinar suaranya tuakak ini
aku masih ingin mewujudkan impi
Kw. Tanjung, 2002

Habis Berbilang

masih kukayuh harapan
pada angan belum kesampaian
sedang janji kian di hadapan
malu bermuka pada handai tolan
nan pasik bertanya, bilakah awak berjulang?
tak mungkin hidup membujang
padahal usia semakin membentang
sebelum petang datang
sebelum dandang meradang untuk didiang
sebelum janur habis di tebang
dan sebelum dara ke seberang
Kw. Tanjung, 2002

Puisi Sahril

Lelaki Itu

lelaki itu memikul pengayuh
tak ada kayu pada kating
jaring dan rawai tak sempat dilabuh
sebab alun gelombang menari-nari
tak sudi menayang neleyan
ikan-ikan menangis
kerang-kerang tersedu-sedan
laut mengamuk
lelaki itu memikul lelah
memikul tatap istrinya
di ujung pandang dua bocah
berlari menerpa
lelaki itu tetap memikulnya
Kw. Tanjungm, 2002

Kenduri Laut

pada pucuk nipah
saat salawat dulang menggema
sepanjang isya membelah samudera
tiga kerbau di sembelih sudah
menghanyutkan lancang
kain tuju warna
pawang menari di unggun bara
gegap riuh ratip nelayan
menembus cakrawala
dara-dara menari inai
upacara hampir di penghujung
renjis tepungtawar menebar
(salam anak cucu pada datu mambang)
pada ratu bunian, mambang tali arus
berkat lailah aillallah Muhammad rasulullah
usai pawang tunaikan kenduri
datu-datu lantunkan ayat kursi
glai daging pembuka rezeki
tubuh rebana diiringi bangsih
tanda syukur
ke hadirat ilahi
bahwa rezeki harus di bagi
agar alam dan manusia harmoni

Tidak ada komentar: