Monday, 16 June 2008

SERATUS UNTAI BIJI TASBIH

Telah kurangkai
Seratus untai biji tasbih
Mengurai Asma–Mu
Dalam amalan
Dalam Ilahi anta maksudi
Wa ridhoka matlubi

Telah ku rangkai
Seratus untai biji tasbih
Telah kurangkai

Tapi gejolak jiwa ini
tak mampu jua
Menampung tumpahan
Kerinduan
Yang membanjiri air mata

Padahal telah ku arungi keluasan
Laut semesta-Mu

Padahal telah kukayuh sampan
Sejadahku menuju rahmad-Mu

Telah kurangkai
Seratus biji tasbih

Bersama takbir
Bersama zikir
Bersama air
Bersama semilir
Bersama musafir
Bersama fakir
Bersama Allah.

999999999999999

DARI PERTUNJUKAN TEATER SIKLUS 2005

Begitu masuk ke dalam gedung pertunjukan, penonton seakan telah "terjebak" aura Kereta Kencana karya Eugene Ionesco, yang disadur WS.Rendra dan disutradarai Hafiz Taadi, di gedung utama Taman Budaya Sumatera Utara, pada 23-24 Juli 2005 lalu. Seke-liling ruangan dibungkus dengan kain hitam, tanpa menghilangkan sentuhan artistik tentu nya. Tambahan lagi artistik panggung yang "sedap" dipandang mata, dengan layar yang telah terbuka, nyaris menyedot pikiran penonton untuk segera membuat kesimpulan awal bahwa sepasang tokoh tua (Agus dan Patia) yang berusia sekitar dua abad itu, terkesan sangat kaya, dengan nuansa rumah mewah ciri khas dari rumah Prancis (bukan berarti a daptasi yang tanggung). Dan sekali lagi pikiran penonton sengaja atau tidak telah "digi ring" dengan suasana yang "simpang-siur".
Hanya saja masalahnya tidaklah sesederhana itu, dikarenakan tingkat pemikiranpenon
ton yang tidak seragam tentunya. Dan jika ada yang tidak sepaham, hal itu sangatlah wa-jar dan manusiawi sekali. Sepenuhnya adalah hak penonton, inilah inti dari pemikiran ab-surd Ionesco, Luigi Pirandello, Albert Camus, Samuel Backett,dan lain-lain. Tidak ada yang mampu menyimpulkan sebenarnya secara benar karena memang tidak ada kesimpul
an. Ia hadir dan mengalir begitu saja.
"Ionesco sendiri patut dimaknai sebagai upaya seorang avan-gardist, meskipun ia sen diri tak terlalu perduli dengan kriteria-kriteria yang euphemeral seperti itu, sebagaimana karya-karyanya, Kura-kura dan Bekicot atau Badak, yang menolak segala macam "to- peng kebesaran".
Demikian juga halnya dengan Kereta Kencana. Peristiwa yang hadir di atas panggung semakin "menyentak" pikiran kita, begitu suasana alam bawah sadar hadir dan sosok tua satu persatu muncul dengan sebatang lilin. Suasana ini telah pula "menyerap" pikiran pe- nonton untuk tak putus-putusnya tetap fokus ke arah panggung. Berkat sentuhan musik dari Achi, penonton "ngeri" untuk berkedip. Tokoh kakek yang hadir merespon suasana mistis, suasana supranatural, seolah menjadi sebuah pertanda atau simbol kematian. Lela ki tua itu mulai bergelut diantara alam bawah sadarnya, mencari sumber suara yang me-menuhi ruang "hatinya". Ia merasa begitu tertekan oleh bayang-bayang kematian yang ha dir diantara remang-remang ketakutannya. Perlahan suara-suara hayal itu menghilang dengan kehadiran nenek yang selalu hadir sebagai pengobat jiwa dari belahan jiwanya. Dan ternyata persoalan yang sama dihadapi pula oleh sang nenek, hanya saja ia lebih mampu menahan diri, belajar menghibur diri. Mencoba bertahan terhadap derasnya arus kehidupan yang dijalaninya selama dua abad dengan berbagai persoalan yang begitu kompleksnya. Dan disini hadir semacam filsafat kebosanan, dimana keduanya berusaha untuk saling menghibur, saling menguatkan. Perasaan saling menguatkan inilah yang membuat mereka bertahan dalam mengayuh sampan "senja kala".
Peristiwa hayalpun hadir untuk menghilangkan kejenuhan dalam "mendaki" tangga-tangga usia. Suatu ketika mereka mengulangi romantisme masa lalu, minum sambil me-nikmati panganan kecil yang tersedia. Di lain peristiwa mereka seperti anak-anak kecil yang mengarungi masa belia, dengan bermain layang-layang. Di waktu berikutnya mereka berhadapan ketika pertama sekali mengarungi bahtera keluarga. Mereka menimang bayi dengan senyum penuh bunga. Walaupun diantara rentetan peristiwa yang memang pasti dialami siapa saja, tak jarang kesedihan hadir begitu mendera. Mengenang bayang-bayang kematian, yang mengintip disela-sela jendela usia, menjemput. Dan hal itu berlanjut terus menerus, sampai akhirnya bayang-bayang kematian itu telah menung-gu di depan pintu.

A B S U R D I S M E

Sebagai sebuah pertunjukan, Kereta Kencana yang berdurasi lebih kurang dua jam ini, dianggap cukup berhasil. Hanya saja sebagai sebuah karya seni ada bebeapa hal yang per- lu menjadi catatan. Tokoh yang berusia dua abad itu tidak singkron dengan keberadaan ruangan yang terkesan tertata rapi. Dan bunyi tetes air dari awal sampai akhir pertunjuk kan menggambarkan seolah rumah itu dikungkungi oleh goa yang bermata air. Tokoh yang begitu ringkihnya, seperti terlalu diberat-beratkan. Air liur yang terus menerus me-ngalir memberi kesan mempersetankan penonton dengan kenyamanan menikmati per-tunjukan. Rambut dan pakaian antara terurus dengan tidak terurus, sangat bertolak be-lakang dengan keberadaan setting panggung yang cukup terjaga kerapiannya (walau tom bol lampu entah dimana letaknya).
Tambahan lagi suara yang terlalu dipaksakan ketuaannya menyebabkan artikulasi yang tidak jelas. Ketidak-jelasan itu justru diperkuat dengan sound system yang agak terganggu , tidak stabil. Wireless yang timbul tenggelam. Apakah ini yang dimaksud oleh Sutradara,"Perceraian antara manusia dan hidupnya , antara sang aktor dan pentasnya… itulah perasaan absurditas yang sesungguhnya"?
Bagaimanapun sebuah pertunjukkan, seabsurd apapun itu harus mampu menunjukkan benang merah sehalus apapun. Setting harus mampu "berbicara",mampu dimultifungsi kan semaksimal mungkin membentuk makna-makna tertentu. Dan konsistensi sebuah pertunjukan juga harus dipertimbangkan dalam kaitankehadirannya di dunia maya, di alam bawah sadar. Perlu ada kesingkronan antara setting yang rapi dengan tokoh yang kelihatan tidak terurus. Analisis naskah tampaknya perlu digali lagi. Dan tidak ada hu bungan dengan miscasting , dimana keberadaan kedua tokoh yang masih terkesan terba-ta-bata dalam memaksimalkan pola akting yang terkesan sangat lambat yang hampir saja mengundang rasa kantuk, jenuh atau geli dengan mengalirnya air liur secara terus mene rus dari awal sampai akhir pertunjukkan. Masih terkesan keterpaksaan berakting, belum menyertakan roh tokoh yang diperankan. Hal ini terlihat dari langkah atau bloking yang sudah paku mati.
Charles Ralo menulis, Analisis Camus tentang absurd dimulai dengan menunjukkan bahwa secara wajar orang menemukan dan cukup mudah untuk menerima kehidupan ru tinnya sehari-hari. Tetapi dalam kehidupan rutin itu suatu hari timbul ‘mengapa’ – suatu pertanyaan apakah hidup memiliki makna."
Senada dengan hal diatas, dari beberapa tulisan tentang tokoh-tokoh teter absurd dapat kita ketahui, bahwa mereka lebih dahulu telah menguasai teknik konvensional sebelum menunjukkan pengungkapan yang lain, misalnya Eugene Ionesco (kelahiran Rumania), Arthur Adamov (kelahiran Rusia), Samuel Backett (kelahiran Irlandia), Antonin Artaut (Kelahiran Prancis), Gunter Grass (Jerman Barat), Harold Pinter (Kelahiran Inggris), Ed-ward Albee (kelahiran AS), dll. Karena dasar pijakannya telah dikuasai, mereka jadi lebih kuat sewaktu memproklamirkan diri sebagai seniman absurd. Sehingga wajar jika Ionesco sendiri berkata bahwa dalam lakon absurd, tokoh-tokohnya tampil sebagai character without characters.


K L A S I K-P U I T I K
Pandangan Filsafat eksistensialisme yang mengajarkan bahwa yang paling nyata dan konkrit hanyalah eksistensi yang bersifat individual atau hanya yang pernah dialami yang bisa disebut kenyataan . Inilah mungkin yang menjadi dasar dari WS. Rendra, menyadur Les Chaises/The Chairs, 1954 (kursi-kursi) menjadi Kereta Kencana. Keajaiban, miste teri, kerinduan, alam sadar dan bawah sadar, prototype kaum pesimis yang menganggap hidup ini adalah proses menuju tragedi, simbol atau genre tragick farce (realitas yang lucu dan menyedihkan), memiliki kekuatannya tersendiri.
Dengan gaya klasik puitik, naskah Kereta Kencana, hasul polesan WS.Rendra terasa begitu kuat. Dan kekuatan Ionesco-Rendra , ini sayang kurang tergarap pada pertunjukan dari Teater Siklus ini. Dialog-dialog yang sangat puitik ini, tidak meninggalkan kesan pui tiknya sama sekali, diakibatkan artikulasi yang terputus-putus, dan sound system yang agak terganggu.
Beban itu yang agaknya muncul ke permukaannya. Filsafat kebosanan tidak hanya ha-dir dari naskah, ia juga hadir dalam setiap gesture yang dipaksakan, pandangan mata kakek yang terkesan butam dan make-up artistik yang perlahan luntur, serta keringat dan liur yang bercucuran. Hal ini jelas tidak melahirkan suasana klasik maupun puitik tentunya. Dan ketidak puitikan itu nyata hadir, ditambah lagi kecenderungan naskah operarealisme belaka.
Akhirnya, terlepas dari itu semua keberanian sutradara patut diacungi jempol. Perjua ngan pemain yang pantang menyerah, membuat pertunjukan Kereta Kencana yang diusung Teater Siklus di Gedung tertutup Taman Budaya Sumatera utara itum tetap mem beri nilai lebih. Proses kreatif yang tidak amatiran. Kesungguhan terasa begitu merasuk dengan proses kerja yang memakan waktu yang cukup lama. Sungguh dari segi art dan non-art-nya. Dan yang lebih penting penonton tetap bertahan ditempatnmya, mudah-mudahan tidak karena hujan atau alasan segan. Dan mudah-mudahan tidak. Selamat!
Juli, 2005
Penulis pengamat/penikmat teater di Medan

Thursday, 5 June 2008

Naskah Teater Fredy Sr. Wowor : "½ dari 1"

Panggung lengang. Di tenga ruangan badiri dua orang yang berlaku sbagai PERAWAT I dan II. Dorang badiri rupa patong kong babale balakang pa panonton.
PASIEN I
(Bajalang ka tenga ruangan. Tangannya menggenggam brapa buah balon warna warni. Sambil meremas balon yang mengeluarkan bunyi-bunyian, dia manyanyi)
Balonku ada lima
Rupa-rupa warnanya
Merah,kuning,kelabu,
Merah muda dan hijau
…
PASIEN II
(Datang kage-kage dan kemudian dia memecahkan balon yang ada di tangan PASIEN I. Setelah itu, sambil mengambil posisi yang bersebrangan dengan PASIEN I, Ia mencibir dan mulai mengejek)
Manangis ! Ayo, nangis !!
Nangis !
Nangis !
…
PASIEN I
(Mulai mewek, tapi tiba-tiba ia nda jadi manangis)
PASIEN II
(Tidak bisa menerima kenyataan. Dia lantas naik darah)
Kiapa ngana nda jadi nangis ?!
Ayo, jawab !
Kiapa ngana nda jadi manangis tadi ?
PASIEN I
(Tersipu kebingungan)
Kiapa qta musti manangis ?
PASIEN II
(mengamuk dalam kepedihan)
Ngana musti manangis ! Ngana musti manangis ! Ngana musti manangis !
Musti manangis ! Musti manangis !
Manangis !
PERAWAT I dan PERAWAT II
(Terlompat kaget dari keterpakuannya dan dengan terburu mereka berusaha menahan amukan PASIEN II)
PASIEN III dan PASIEN IV
(Terburu datang begitu mendengar ada keributan. Masing-masing muncul dari arah yang berlawanan)
PASIEN I
(Menatap penuh iba)
PASIEN II
(Kian Memedihkan)
Qta nimau dikasihani !
Qta nimau dikasihani !
Qta nimau dikasihani !
PERAWAT I dan PERAWAT II
(Menyeret PASIEN II dengan sekuat tenaga keluar menjauhi PASIEN I)
PASIEN I
(Tidak sanggup menerima kenyataan ini. Dia kejang-kejang kemudian terkapar tiba-tiba ke atas lantai)
PASIEN III dan PASIEN IV
(berlari sambil berteriak-teriak tapi pas berpapasan, mereka ketakutan sendiri. Keduanya berbalik lantas masing-masing terburu ke arah yang saling berlawanan)
Gila
Gila
Gila
Gila
PASIEN I
(Tersadar dari ketidaksadarannya)
LaGi
PASIEN III dan PASIEN IV
(Melintas kembali dari arah masing-masing yang saling berlawanan. Mulut mereka menggumam dengan terbata-bata. Saling berbalasan. Dan kemudian terus menghilang)
PASIEN III
Gila
PASIEN IV
Gila
PASIEN III
Gila
PASIEN IV
Gila
PASIEN III
Gila
PASIEN IV
Gila
PERAWAT I dan PERAWAT II
(Muncul kembali terus membawa PASIEN I pergi, pause)
PASIEN V
(Melintas masuk, berhenti di tengah ruangan dan sambil berpaling ke penonton ia menjengek)
HeHe
PASIEN VI
(Muncul tiba-tiba dengan sebuah senjata mainan di tangannya. Ia menodong Pasien V)
Jang bagra
PASIEN V
(Kecut mengangkat tangannya)
PASIEN VI
(Tersenyum ganjil)
Roko dang
PERAWAT I & PERAWAT II
(Muncul dan membawa pergi Pasien V dan Pasien VI)
Waktu barmaeng so abis
Manjo !!!
…
14 September 2005

Naskah Teater Fredy Sr. Wowor: SUATU WAKTU DALAM HIDUP SEORANG AKTOR

( Pada bagian TENGAH BELAKANG berdiri ORANG I, ORANG II, dan ORANG III sambil membelakangi penonton. Tubuh mereka dicat dalam motif tembok, untuk beberapa waktu lamanya saat pertunjukan berlangsung, mereka berfungsi sebagai latar. Pada bagian TENGAH panggung duduk ORANG IV sambil memeluk lutut.
Cahaya perlahan-lahan menyelimuti panggung. Awalnya cahaya tersebut menyinari sosok-sosok yang telah berada diatas panggung. Kemudian menyinari ke arah samping kiri samping kanan yang berfungsi sebagai pintu masuk dari ORANG V dan ORANG VI )
ORANG V
( Masuk, mengambil tempat disamping orang IV, bicara pada dirinya sendiri )
Setengah bungkus rokok ? Lumayan, dari pada tidak sama sekali
( Menyalakan sebatang rokok dan dihirup dalam-dalam. Matanya
menerawang jauh kedepan )
ORANG VI
( Masuk dan mendapati ORANG V lagi menghisap rokok
dengan pandangan menerawang, dia menyapa )
Selamat……!
ORANG V
( Kecut mencoba menawarkan rokok )
Rokok……..?
ORANG VI
( Latah menjawab dalam kegagapan )
Rokok,
eh, tidak !
Maaf, saya tidak merokok !!
Trima kasih !!!
ORANG V
( Gembira rokoknya tidak berkurang / basa basinya tidak
ditanggapi serius ORANG VI )
Tidak merokok ?!
Selamat !
ORANG VI
Kenalkan, saya Aktor cabutan dari teater KRONIS manado.
ORANG IV
( Terusik perhatiannya begitu mendengar kata AKTOR…! )
ORANG V
Ooh, Aktor ?! Bagus !
Pasti lagi Observasi ya ?
ORANG IV
( Makin terusik perhatiannya mendengar kata… AKTOR dan
OBSERVASI )
ORANG VI
Kok, tahu ?
ORANG V
Jelas tahu.
Saya dulu pernah disuruh mengamati
bagimana tingkah prajurit sisa perang
yang bergelandangan di jalan raya
tanpa sadar bahwa negeri yang diperjuangkannya itu
ternyata tidak merdeka.
Bisa kamu bayangkan,
hampir tiga bulan lamanya
saya kelayapan di jalanan kayak orang gila.
ORANG VI
Wah, rupanya bung juga seorang Aktor !
ORANG IV
(Kian terusik perhatiannya mendengar kata AKTOR terus disebut)
ORANG V
Tapi
ORANG VI
Tapi kenapa !?
ORANG V
Sayang
ORANG VI
( Makin ingin tahu)
Sayang bagimana !?
ORANG V
Pementasan itu dibatalkan.
ORANG VI
Dibatalkan ?!
Mengapa !?
ORANG V
Karena naskah yang akan dipentaskan itu,
termasuk dalam kategori DILARANG PEMERENTA.
Tiga tahun aku dibui,
istriku diperkosa tentara,
Tentara yang datang menyuluhkan program bersih lingkungan.
Dan istriku bunuh diri dihadapanku, selepas aku dari penjara.
ORANG VI
( Terpaku tanpa kata lagi )
ORANG V
Oya, bukankah bung datang untuk observasi ?
ORANG VI
Iya, saya datang untuk mengamati tingkah orang gila yang ada disini
ORANG V
Mengamati tingkah orang gila yang ada di sini ?
O, mengamati dia !
( Mengarahkan pandang ke ORANG IV )
ORANG VI
( Mengikuti pandangan ORANG V )
ORANG IV
( Dalam puncak keterusikannya )
Aktor, hah ?!
ORANG VI
( Melempar pandangan kedepan dengan cepat bersama dengan ORANG V )
Dia tahu…..
ORANG IV
Datang mengamati saya…!
ORANG IV
( Bersama ORANG V )
Dia tahu diamati….
ORANG V
( Bersama ORANG VI )
Dia tahu diamati…..
ORANG IV
Mengapa mesti saya ?
Mesti saya ?
Saya ?
Mengapa ?!
Mengapa ?!
( Merintih penuh kegeraman )
Mengapa mesti saya !?
ORANG I, II, III
( Sama-sama membalikkan tubuhnya dengan cepat )
ORANG V dan VI
( Tegang dalam kecemasan )
Dia tahu…..
ORANG I, II, III
( Membuka kaca mata hitam bersama-sama )
ORANG IV
( Mengamuk kesetanan )
Mengapa mesti saya
Mengapa mesti saya
Mengapa mesti saya
Mengapa ?!
ORANG V dan VI
( Sama-sama panik dan saling memeluk )
Dia
Dia
Dia
Dia
ORANG IV
( Kaku meradang tanpa kata )
Akh
ORANG II dan III
( Berlari kebingungan dan keluar )
Dokter…!
Dokter… !
Dokter… !
ORANG IV
( Terlompat marah )
Biarkan aku !
Biarkan…
Aktor ?!
( Mencemooh)
Aktor kampungan !
( Tidak sanggup meneruskan )
Kampung….
( Muntah )
ORANG I
( Berlari kebingungan dan keluar )
Gila
Gila
Gila
Ini tidak mungkin !
ORANG V dan VI
( Sama-sama keluar dan berkata )
Gila
ORANG IV
( Tertinggal sendirian dan berkata )
Gila ?
Aku tidak gila !
Aku hanya memainkan peranku sebagai seorang Aktor !?
***** TAMAT *****

Tuesday, 27 May 2008

Herman KS Dalam Puisi

PADA 2-9 Desember 2007, kita telah membicarakan kumpulan sajak Herman Ks dalam ‘’ Sepi Yang Menyekap Dingin Kian Mengendap’’, dalam ruangan ini, terutama sajak-sajaknya yang bertutur secara langsung dan yang menggunakan metafor dan konvensi khazanah sastra.

Tetapi, ada satu dimensi lagi dari pola bertutur yang tampak rumit digunakan oleh Herman Ks dalam menyampaikan visi dan misinya sebagai penyair, yaitu sajak-sajaknya yang membangun suasana dengan menghadirkan kondisi dan situasi untuk mendukung tema sentral. Dalam hal ini penyair secara real tampak merekam suasana alam sebagai lanskap padahal di balik itu ada suatu kesan tersembunyi bahwa suasana demi suasana alam yang ia goreskan, yang tak jarang terasa sebagai pengulangan demi pengulangan, adalah sebenarnya untuk pendukung tema pokok dalam sajak-sajaknya yang tampak ia balut dan sembunyikan.

Ada satu peristiwa yang terjadi, peristiwa atau tepatnya tragedi yang begitu dahsyat melanda negeri ini, yang ditatap bahkan dialami dan dirasakan sendiri oleh anak bangsa ini, di mana penyair sendiri saat itu berada di tengah-tengahnya. Peristiwa banjir darah yang orang bahkan anak-anak sekolah tak sulit menemukan mayat atau kepala yang telah terpenggal di jalan-jalan, semak-semak, selokan dan sungai. Dalam tragedi Gerakan 30 September yang mengerikan itu, diperkirakan sekitar enam ratus ribu hingga dua juta orang tewas dalam amuk massa.

Tapi mengapa ia tidak merekam subjek atau masalah itu secara transparan, sebagaimana yang telah kita baca dalam sajak-sajaknya terhadap warga kota yang merisaukan hatinya dengan statemen dan keberpihakan yang nyata. Ada beberapa alasan. Komitmennya terhadap “orang-orang kecil” atau “wong cilik” dalam masalah ini menjadi terhambat atau mendapat kesulitan oleh alasan keamanan. Sebagaimana diketahui dalam era pergolakan itu begitu sensitip sehingga seseorang yang diteriaki atau dibisikkan sebagai seorang yang memihak atau terlibat sudah cukup untuk diamankan tanpa perlu pengusutan atau pengadilan.

Keadaan semacam ini terus berlanjut selama belasan atau bahkan puluhan tahun. Musuh bersama adalah ideologi dan siapa saja yang terlibat dalam ideologi haram itu akan dibantai atau diamankan. Sementara keberpihakan penyair tetap kepada manusianya, teristimewa terhadap mereka yang tertindas dan terpinggirkan. Alasan lain, sebagai penyair kemungkinan ia merasa mual melihat pembantaian terhadap sesama yang dilakukan tanpa sembunyi bahkan vulgar. Rasa kemenangan yang dipertontonkan atau euforia yang berlebihan berupa sorak-sorai adalah kejadian sehari-hari, padahal seseorang yang diciduk atau dibantai masih belum tentu berada pihak yang salah.

Penyair kelihatannya sudah sulit melukiskan fenomena itu dengan gaya yang ia rekamkan selama ini, sebagaimana kita baca dalam sajak Orang-orang Malang di atas, yang bahkan dalam situasi dan kondisi yang normal saja pilihan katanya sudah sedemikian rupa. Kosakata yang telah optimal seperti sajak itu untuk mendeskripsikan makna penderitaan manusia “hanya” dalam kondisi dan situasi kota yang masih normal, akan betapa pula pelukisan yang harus digoreskan untuk tragedi kemanusiaan seperti kita sebutkan tadi. Kalau dia meneruskan cara dan gayanya seperti selama ini, tentu penyair akan terjebak ke dalam ungkapan yang verbiage!

Tema-tema itu tentu tak akan hilang dalam sanubari penyair. Namun harus ada pengendapan dan lompatan gaya dari yang selama ini telah biasa dipergunakan. Dan ini tentu saja butuh waktu meskipun menggelisahkan dan menunggu begitu membosankan. Manusia, walau bagaimanapun, memang menghadapi keterbatasan ruang dan waktu yang seolah menyekat keterbatasan eksistensinya. Tapi apa boleh buat, dia harus menerimanya, meskipun tidak harus menyerah. Harus menunggu keadaan dan saat yang tepat. Berdamai dengan ruang dan waktu.

Dan angin pun berdesir
tatkala hujan reda. Engkau berbisik
di tepi hari. Dalam bayang waktu. Dalam menunggu
dan jam yang tak letihnya berdetik
(Dan Angin pun Berdesir, hal. 7)

Meskipun penyair tampak begitu gelisah dalam menunggu waktu, tapi dia optimis “angin pun berdesir” yaitu “tatkala hujan reda”. Meskipun menunggu hujan amukan massa butuh penantian yang lama sehingga angin kreatifitas dapat kembali pulih, namun tampaknya hal itu tidak sia-sia. Dalam banyak sajaknya kemudian, seperti Sajak Sehabis Hujan (hal.25), Selintas Angin di Tengah Padang (hal. 26), Selintas Angin Siang (hal. 27), Menyeru di Tengat Lengang (hal. 28), Senja. Gerimis di Luar (hal. 29), dan Sebuah Perigi Tua (hal. 30)

penyair menemukan style dengan melakukan inovasi dalam bentuk dan isi. Ia sama sekali telah mengubah caranya bersajak. Kalau selama ini pengucapannya begitu lugas dengan larik dan bait yang panjang sehingga mirip kalimat serta makna sajak yang transparan dan menjelasterangkan, dalam arti kata lain, kita masih bisa membedakan dengan jelas antara bentuk dan isi, gaya dan makna, atau bentuk begitu jelas sebagai pembungkus isi, maka dalam sajak di atas, kita hampir tak dapat lagi memilah yang mana bentuk yang mana isi. Diksi dan idiomnya begitu ringkas, padat, dan ekonomis. Ada enjambemen yang selama ini tak dikenalnya. Kita berhadapan dengan suasana demi suasana yang langsung menjadi imaji-imaji dari apa yang mau dia utarakan.

Style atau gaya adalah faktor pembeda antara seorang penyair dengan penyair lainnya, dengan kata lain apabila style atau gaya keduanya mirip akan cenderung dikatakan salah satu di antaranya sebagai pengikut atau lebih ekstremnya plagiator. Namun kalau terjadi terhadap diri seorang penyair, perbedaan style yang dilakukannya dapat dikatakan sebagai satu bentuk pencarian yang meningkatkan kualitas dan pengukuhannya sebagai penyair, dengan catatan, style yang dicapainya atau yang diperolehnya kemudian lebih memenuhi harmonisasi sesama unsur perpuisian.

Penyair tidak lagi memberikan keberpihakan sosial secara jelas sebagaimana yang kita baca dalam sajak-sajaknya terdahulu, meskipun masih terasa nada simpati, namun lebih terasa samar-samar dan begitu menyimpan misteri tentang siapa sebenarnya sosok kau itu. Inilah menurut hemat kita salah satu harga atau nilai sebuah sajak di mana imajinasi kita sebagai pembaca ikut berperan aktif dalam menyiasati dan menentukannya; hal yang sama sekali tidak ditemukan dalam sajak Orang-orang Malang dan sejenisnya, di mana semuanya sudah terhidang dan kita dibujuk bahkan digiring ke arah makna yang dikehendaki penyair, meskipun memang kita belum tentu menyetujuinya.

Imajinasi kita dengan bebas bermain dan mengembara dalam menyiasati sajak Ketika Angin Berdesauan ini. Siapakah kau yang berdiri mematung di tengah-tengah kota yang sedang dilanda topan dan amuk badai itu. Mengapa dia tidak menyingkir dalam huru-hara yang begitu dahsyat sehingga bukan saja daun-daun, bahkan “hari-hari luruh”. Kita tidak tahu persis siapa kau, tetapi mengapa kita seakan mencemaskan nasibnya, menyuruhnya lekas-lekas menyingkir dari sana, meskipun anehnya saran itu pun mencemaskan kita oleh karena suasana kota yang begitu tak memberi pengharapan lagi.

Fungsi kau sangat menentukan dalam sajak ini. Seandainya dia tidak ada jadilah sajak ini semata-mata sebuah impresi penyair terhadap suasana kota yang dilihatnya, semata panorama alam. Tapi dengan hadirnya kau di sana, apa yang divisualkan dalam sajak itu tentulah berupa imaji atau bayang-bayang batin penyair yang mengembara terhadap sesuatu peristiwa yang sangat berkesan; yang tampak begitu kelam dan menakutkan; sehingga untuk menyebutkan identitas kau saja.

Chairil Anwar Dan Bahasa Rahasia Medan

CHAIRIL Anwar lahir, dewasa, dan menentukan sikap hidup berkesenian di Medan. Ia lahir pada 26 Juli 1922, dan meninggal dunia di Jakarta, 28 April 1949. Ia mengaku bahwa pada usianya yang ke15, dalam suratnya kepada H.B. Jassin, telah memilih berkesenian secara bersungguh-sungguh. Ini berarti, Chairil pada waktu itu masih belum pernah pergi ke mana-mana, tetap bergelimang di Medan. Bersekolah, bergaul, dan mengisi lahir dan batinnya dengan segala apa yang dapat diserapnya di tengah-tengah pusat kebudayaan Melayu pada waktu itu.

Tak dapat disangkal pada periode Chairil di Medan (1922—1941, atau Keith Foulcher berpendapat 1922-1942), kota itu masih sangat kental budaya Melayunya. Sultan Amaluddin Sani Perkasa Alamsjah, Sultan Deli, yang bertahta di Medan, masih berkuasa, baik sebagai Kepala Adat maupun sebagai Kepala Pemerintahan. Para penelaah Chairil Anwar jarang sekali, kalau tak mau dikatakan sama sekali tak pernah, mengaitkan karya-karyanya dengan kebudayaan Melayu yang hidup dan berkembang di Medan. Padahal bahasa dan sastra adalah bagian yang tak terpisahkan dari sebuah kebudayaan. Salah satu bukti dapat diperlihatkan tentang bagaimana para penelaah itu selalu merasakan kesulitan memahamkan beberapa diksi atau idiom dalam sajak-sajak Chairil Anwar sehingga mereka menarik kesimpulan yang keliru.

Di sini kita ingin membicarakan beberapa sajak Chairil Anwar dengan pertama-tama menganalis beberapa kata yang ada di dalamnya yang berkaitan dengan bahasa percakapan dan kebudayaan di Medan. Setelah itu baru ditarik suatu kesimpulan akan makna apa yang terkandung di dalamnya. Marilah kita terlebih dahulu memperhatikan konstruksi dan pilihan kata dalam sajak-sajak Chairil Anwar yang tampak sangat bervariasi, eksperimental dan inovatif serta memberikan berbagai makna. Dalam Penghidupan Chairil berkata:

Lautan maha dalam
mukul dentur selama
nguji tenaga pematang kita
mukul dentur selama
hingga hancur remuk redam
Kurnia Bahagia
kecil setumpuk,
sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk. Desember 1942

Lautan maha dalam sudah lazim, bahkan cederung klise. Tapi tiba-tiba kita dikejutkan oleh mukul dentur selama, konstruksi kalimatnya sungguh luar biasa meskipun untuk sebuah ragam percakapan. “Mukul kau, ya? Kuhajar nanti, berdentur kepalamu ke dinding!” Atau “Bunyi apa kudengar berdentur-dentur, tu!” Untuk kata “selama”, misalnya: “Beginilah piilmu selama, ha?! Tak tahanlah aku!” Jadi, pilihan kata “mukul”, “dentur”, “selama” memang dikenal dalam bahasa percakapan di Medan, tapi kata-kata dari ragam percakapan itu telah digiring Chairil ke gaya personalnya! Konstruksi kalimat mukul dentur selama memang khas Chairil untuk pengertian yang dimaksudkannya: “Lautan yang maha dalam itu gelombangnya memukul-mukul pantai atau tebing, bendentur-dentur bunyinya setiap masa, gunanya untuk menguji seberapa kuat tenaga pematang kita.” Konstruksi kalimat dengan penempatan “selama” seperti itu, tampak begitu khas. Ia memang lazim dalam BMM (Bahasa Melayu Medan) tapi tidak dalam BI. Dalam BMM “selama” bisa berfungsi sebagai ajektiva, sedang dalam BI lebih sebagai partikel atau kata sambung saja.

Jelas, Chairil faham betul menempatkan bahasa percakapan itu dalam sajaknya yang liris dan untuk apa dia melakukan, padahal resikonya terlalu besar. Salah-salah bisa dituduh “membuat kekacauan baru”, “memperkosa bahasa”, “bahasa yang sangat buruk” dan sebagainya. Dalam sajak Penghidupan ini Chairil memulai dengan ungkapan yang sudah sangat dikenal bahkan cederung klise, Lautan maha dalam. Semua orang tahu itu. Tak ada anehnya. Dan kita cenderung mengabaikannya atau tidak memperhatikannya. Tapi tatkala membaca larik kedua, mukul dentur selama, kita mulai dan betul-betul tertegun. Kalimat itu tak biasa. Kita mulai menguras kuriositas kita, keingintahuan kita. Apa maknanya itu, dan untuk apa “kata-kata yang kacau” atau “kata-kata yang tak dikenal” tiba-tiba muncul setelah pernyataan yang begitu biasa. Inilah sebuah terapi bahasa dari seorang penyair.

Ia seperti sangat minta perhatian atas sesuatu yang sudah mapan, yang sudah karatan, yang sudah kuno, yang sudah membosankan, yang sudah basi, lautan maha dalam. Kita cenderung melecehkan, menyepelekan, apanya yang aneh. Tak ada! Tapi penyair tahu betul itu. Ia lalu membuat kejutan, mukul dentur selama, Apa artinya itu?! Kita penasaran. Kata-kata itu mengusik keigintahuan kita. Mungkin membolak-balik kamus. Atau bertanya ke sanake mari. Apa arti mukul atau kenapa ia mengatakan mukul. Dentur itu apa. Kalau berdentur mungkin kita tahu. Dan selama, ah! Selama. Ini tidak biasa. Apa yang tak biasa. Kata-katanya? Bukan! Penempatannya. Kenapa ditempatkan di akhir kalimat?

Jika saja Chairil melanjutkan dengan gaya yang kuno seperti larik pertama, misalnya dengan “ombaknya memukul-mukul tebing dan pasir pantai bergemuruh setiap saat”, kita akan menampik sajak itu dengan kesal. Tetapi karena larik kedua itu tidak bicara seperti itu, malah berhasil menarik minat kita dengan caranya yang tidak biasa tadi, setelah memahami artinya, hati-hati dia melanjutkan nguji tenaga pematang kita. Rupanya kelakuan lautan maha dalam itu, yang sudah karatan itu, ada hubungannya dengan “kita”.

Ternyata lautan maha dalam adanya dalam diri kita, hati, perasaan, pikiran, yang senantiasa memukul-mukul, yang setiap saat berdentur-dentur dalam darah dan daging kita. Hati manusia, pusat emosi dan intelektual manusia, segumpal darah, segumpal daging yang ada dalam setiap batang tubuh manusia, adalah lautan maha dalam. Namun “sedalam-dalam lautan boleh diduga, dalam hati siapa tahu”.

Inilah yang ingin diungkapkan Chairil. Hati manusia, meskipun telah bekerja secara rutin dan klise, telah kuno, namun dia tetap setiap saat memukul-mukul darah dan daging kita, mempengaruhi kita, menjebak kita. Setiap saat dari masa ke masa, ia selalu dapat mempebaharui gaya pukulannya, teknik denturnya terhadap darah daging kita, nguji tenaga pematang kita. Disesuaikannya bahan ujiannya dengan tingkat dan kadar emosi dan intelektual kita, lebih jauh orang per orang. Dahulu, seseorang yang ingin mengambil hak orang lain, harus mengandalkan tenaga dan kekuatan, sekarang cukup dengan online di internet, mengklik salah satu situs, tak lama kemudian akan datang “rejeki tak terduga” ke tempat kita.

Seorang kuli di pelabuhan perlu “bersimbah peluh” untuk melakukan “korupsi” mengutipi ceceran bahan-bahan yang tak laku dijual, seorang presiden cukup dengan sekilas pandang, atau hanya seungkap kata sindir, dan para ajudan akan cukup maklum ke mana arahnya, tak menunggu lama “isi hati” Sang Tuan Presiden akan menjadi kenyataan.Dengan begitu tema sajak ini bisa begitu besar. Mau mukul dentur kezaliman demi kezaliman yang melanda negerinya hingga hancur remuk redam.

Demikianlah sebuah sajak yang pendek seperti Penghidupan itu, maknanya dapat diulur panjang dan up to date hingga sekarang padahal ditulis lebih setengah abad yang lalu. Ia seperti tembus pandang melihat problema bangsanya. Kata-kata hingga hancur remuk redam yang tampak dituliskan atau diucapkan secara klise dan terus terang di tengah-tengah kata-kata “baru”, juga tampaknya mempunyai sindiran tertentu.

Penyair sekaliber Chairil Anwar yang sangat dikenal usil dalam pilihan kata, yang tahan mengantongi sebuah sajak berbulan-bulan sebelum diumumkan, suka mengubah dan mencoret kata-kata bahkan dalam sebuah sajak yang sudah jadi, tak mungkin tak memperhitungkan kata yang begitu klise hingga hancur remuk redam dapat masuk ke dalam sajaknya begitu saja. Chairil sangat memahami bahwa apresiasi masyarakat terhadap sastra Indonesia modern masih terbatas dan baru mulai tumbuh. Masyarakat masih terbiasa dengan bentuk-bentuk konvesional dan masih ingin meneruskannya karena terasa enak dan dapat dipakai sebagai media hiburan meskipun selalu diulang-ulang sehingga misinya menjadi klise.

Padahal sastra bukanlah semata media hiburan belaka tapi juga harus berisi hikmah-hikmah hidup, memuat persoalan bangsa dan pemecahannya. Sementara kondisi dan situasi zaman terus berkembang dan berubah. Dan tentu saja sastra sebagai salah satu media ekspresi mesti mengambil peran dan peduli terhadap nasib dan problema bangsa dan negaranya. Karya sastra tak harus berindah-indah saja, menekankan pada keenakan dan pengisi waktu luang belaka tapi juga sekaligus harus bermanfaat dan menyugukan misinya secara segar dan mengamati perkembangan.

Selanjutnya, Chairil sebagai pembaharu pada satu sisi ingin menuntaskan mencabut akar tradisi sehabis-habisnya baru dengan demikian lahan dapat diolah dengan semangat dan penuh kesegaran. Tapi kemudian dia sadar bahwa hal ini tidak mudah dilakukan. Sebagaimana dikatakan oleh Jassin, “Chairil mau membikin perhitungan habis-habisan dengan tradisi dalam seni masyarakat, tapi tradisi lebih kuat daripadanya. Kelihatan dia kadang kembali pada tradisi, tapi lebih kaya, lebih berisi dari semula.” (Jassin, 1985: 29).

Dari tindakan dan prilaku serta karya-karyanya, kelihatan bahwa Chairil menginsyafi sesungguhnya tidak mungkin “membikin perhitungan habis-habisan dengan tradisi” karena seorang manusia walau bagaimana pun tidak dapat hidup dari nol tapi sedikit banyaknya harus memulai dan melanjutkan yang sudah ada. Paling-paling dia memilih, memilah, memperbaharui yang telah ada dan itulah sesungguhnya yang dilakukannya.

Dalam kehidupannya sendiri, Chairil punya ayah yang menyekolahkan dan memanjakannya, punya ibu sangat disayanginya, punya Oom Syahrir yang memotivasinya, punya agama yang diyakininya, punya lingkungan budaya yang menimang dan membesarkanya. Walau bagaimana pun semua itu ikut membentuk diri dan kepribadiannya, suka atau tidak suka. Dengan perasaan dan kesadarannya, dia harus meneruskan semua itu dengan caranya. Dia meninggalkan ayahnya karena berpihak kepada ibunya, tapi bagaimana pun bekas-bekas yang telah digariskan ayahnya tak mungkin hilang. Dia mengikuti ibunya tapi tak semua pribadi ibunya bisa diturutinya.

Chairil punya Oom Syahrir yang sangat dibanggakannya, tapi sebatas motivasi kebudayaan dan bahan bacaan yang digandrunginya. Tidak berkecimpung dalam politik kebangsaan sebagaimana yang diperjuangkan Sang Politikus dan Negarawan itu. Chairil pun meninggalkan kantong budaya yang melahirkan dan mendewasakannya, namun tidak berarti dan tidak mungkin sama sekali menghapuskan darah daging dan kepribadian yang telah membentuknya walau bagaimana pun pengaruh budaya yang diperolehnya di tempatnya yang baru.

Secara intrinsik Chairil ingin mengubah pola persajakan dan kebiasaan para pujangga sebelumnya, seperti Angkatan Balai Pustaka dan Pujangga Baru yang sangat gemar menggunakan kata-kata klise. Dalam sajak yang begitu pendek, ia sengaja meyempatkan menyelang-seling kata-kata klise dengan kata-kata dan bentuk yang justru baru atau belum dikenal. Dengan demikian Chairil ingin mukul dentur kata-kata klise itu hingga hancur remuk redam selama-lamanya. Sehingga muncullah kata-kata baru yang segar sebagaimana yang telah dilakukannya dengan berbagai eksprimen dan inovasi.

Chairil memang tampak tidak menyembunyikan kebosanannya terhadap kata-kata usang yang selalu dipakai para penyair pendahulunya yang itu-itu saja, seperti yang ia sebut dalam sajak Kenangan. Ada satu kata yang tampak istimewa yaitu mereksmi. Kata itu sepintas diambil dari perbendaharaan kitab Hindu. Sanusi Pane pernah mengambil kata laksmi untuk sajaknya Teratai. Kata laksmi jelas ada sosoknya, nama dewi, istri Dewa Wisnu. Dan kita tahu bahwa Sanusi Pane orientasinya memang ke filsafat dan mistik Timur, terutama India. Chairil tak pernah menampakkan indikasi ke arah itu. Tak tertarik ke dunia filsafat klasik dan mistik. Dan tampaknya tak pernah tertarik kepada Sanusi Pane sebagai pendahulunya. Kata mereksmi bukanlah kembaran laksmi. Bukan nama dewi atau nama siapa-siapa. Isi sajak Kenangan itu pun tampak mengarah ke ketidaksenangan terhadap dunia lama itu.

Kadang
Di antara jeriji itu-itu saja
Mereksmi memberi warna
Benda usang dilupa
Ah1 Tercebar rasanya diri
Membubung tinggi atas kini
Sejenak
Saja. Halus rapuh ini jalinan kenang
Hancur hilang belum dipegang
Terhentak
Kembali di itu-itu saja
Jiwa bertanya: Dari buah
Hidup kan banyakan jatuh ke tanah?
Menyelubung nyesak penyesalan pernah menyia-nyia. 19 April 1943


Apa yang dimaksud Chairil dengan jeriji itu-itu saja, sehingga membosankannya? Padahal di lain pihak mereksmi begitu memberi warna terhadap benda usang yang sudah dilupa. Kata mereksmi menjadi menarik perhatian karena mirip laksmi. Laksmi, menyimak ke sajak Sanusi Pane di atas adalah simbol dunia lama, dunia itu-itu saja. Jadi sementara dapat disimpulkan mereksmi berasal dari atau yang menyenangi laksmi.

Di Medan, sekitar tahun 1930-1950-an, pernah hidup berbagai “bahasa rahasia” di kalangan para pemuda. Kata-kata dipelesetkan seolah-olah seperti bahasa Belanda. Setidaknya ada dua pola yang dikenal. Misalnya ka van ul artinya kau; ka ver pan artinya kapan Yang lebih praktis adalah pada kata-kata tertentu di huruf akhirnya ditambah dengan sye atau se, misalnya Apsye kau bilse? maksudnya Apa kau bilang? HB Jassin dalam bukunya “Analisa” ketika mengulas sebuah cerita pendek mengakui adanya “bahasa rahasia” ini dan banyak hidup di berbagai tempat di daerah. Ia menyayangkan berbagai “bahasa rahasia” itu kurang dipelihara sehingga dikhawatirkannya akan musnah.

Tentu Chairil, ketika masih berada di Medan, mengetahui adanya berbagai “bahasa rahasia” ini. Dan kata yang sebiji ini: mereksmi, adalah salah satu kata dari “bahasa rahasia” itu. Artinya: mereka. Sebagai penyair, Chairil tidak mengikuti ragam yang sudah ada, misalnya menuliskannya menjadi merverkan atau merekse, “bahasa rahasia” di Medan itu, tapi mereksmi, lagi pula ia punya maksud supaya sebunyi dengan laksmi. Dalam Teratai Sanusi Pane menulis: Daun berseri Laksmi mengarang. Lalu Chairil menyergah: Mereksmi memberi warna/Benda usang dilupa. Mereka mengarang hanya dengan tak bosan-bosan memberi warna terhadap benda usang yang sudah dilupa. Artinya: hanya “melap-lap hasil kebudayaan lama sampai berkilat” seperti yang tertulis dalam Surat Kepercayaan Gelanggang, “tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudayaan baru yang sehat”. Sebagaimana renung Chairil dalam larik sajak itu juga:

Kembali di itu-itu saja
Jiwa bertanya: Dari buah
Hidup kan banyakan jatuh ke tanah?
Ya, begitu banyak buah atau masalah hidup yang masih segar untuk diolah dan dirasakan, mengapa harus Kembali di itu-itu saja?

Hal ini dapat pula kita lihat dengan jelas dan lebih blak-blakan pada sajaknya 1943, sekaligus angka tahun yang sangat subur dalam kepenulisan Chairil. Di sini Chairil tak melakukan inovasi dan eksperimen tentang kata sebagaimana dilakukannya dalam sajak terdahulu Penghidupan dan Kenangan itu. Sajak 1943 itu diksi dan idiomnya boleh dikatakan memenuhi standar “bahasa yang baik dan benar” dan masih kental dengan gaya Medan. Racun berada di reguk pertama/Membusuk rabu terasa di dada/Tenggelam darah dalam nanah/Malam kelam-membelam.

Tapi di sini ia melakukan inovasi bentukan bait dan larik yang begitu revolusioner sehingga tak ada satu penyair pun sebelumnya, pada masanya, dan sesudahnya melakukan hal seperti itu, kecuali lebih dari tiga puluh tahun kemudian sebagaimana yang dilakukan oleh Sutardji Calzoum Bachri.
1943
Racun berada direguk pertama
Membusuk rabu terasa di dada
Tenggelam darah dalam nanah
Malam kelam membelam
Jalan kaku lurus. Putus
Candu.
Tumbang
Tanganku menadah patah
Luluh
Terbenam
Hilang
Lumpuh.
Lahir
Tegak
Berderak
Rubuh
Runtuh
Mengaum. Mengguruh
Menentang. Menyerang
Kuning
Merah
Hitam
Kering
Tandas
Rata
Rata
Rata
Dunia
Kau
Aku
Terpaku. 1943

Kalau diteliti tampak dengan nyata Chairil ingin mengubah dan mendobrak sesuatu yang hanya menyediakan racun baginya dan bagi generasi selanjutnya. Sehingga membusuk rabu dan tenggelam dalam darah dan nanah. Mengikut kebosanan Chairil terhadap karya yang kembali ke itu-itu saja maka di sini Chairil mengumumkan kredonya secara blak-blakan. Karya-karya mereka tak lebih seperti malam kelam membelam atau seperti jalan kaku lurus. Sehingga harus diputus. Karya-karya seperti itu hanya semaca candu bagi masyarakat, sehinga harus ditumbangkan, meski oleh karenanya Tanganku menadah patah atau luluh, atau terbenam atau sekalipun hilang atau lumpuh. Supaya generasi baru yang memberikan udara penyegaran akan lahir, tegak, meski apapun halangannya untuk membuatnya berderak, rubuh, runtuh.

Ia harus melawan, Mengaum. Mengguruh, bukan itu saja tetapi harus menentang. Menyerang, supaya terjadi pembaharuan dan mengalami proses kuning, merah, hitam, sehingga karya-karya model mereka yang telah usang itu menjadi kering, tandus, rata-rata sehingga Dunia melihat jelas bahwa kau pujangga lama di depan aku jadi terpaku. Sehingga hancur remuk redam. Mengapa sajak itu diberinya judul 1943, sedangkan tak ada kena mengena dengan isi sajak ialah bahwa pada tahun itu Chairil telah merasa cukup kuat dengan puluhan sajaknya.Harus dicatat bahwa tahun itu saja ia telah menulis lebih tiga puluh sajak, atau tepatnya 32 sajak.Satu hal yang tak pernah terulang dalam masa kreativitasnya selama 7 tahun itu dengan total keseluruhan hanya 70 sajak.

Kalau saja Rosihan Anwar atau H.B. Jassin awas akan hal ini, dan tidak terlalu mengaitkan kebangkitan sastra dengan kebangkitan politik, maka angkatan di mana Chairil jadi pelopornya seharusnya bernama Angkatan 43 di mana sajak 1943 dapat dijadikan sebagai tonggak! Sebagian besar sajak Chairil justru memadu tradisi lama dengan segala yang baru mempengaruhinya dan yang dipungutnya dalam perjalanan hidup dan pengembaraan batinnya. Ia dengan berani membuat eksperimen dan inovasi sehingga seolah kita berada dalam ruangan “pas bebas”, seperti yang terkesan pada sajak 1943 itu. Di sana, dalam proses pemaduan itu dia bisa membentangkan segala macam ironi dan tragedi kehidupan.Yang paling penting pendedahan sikap, wawasan, cita, gagasan yang digeluti dan diperjuangkannya.

Dari paparan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Chairil sadar betul memakai ungkapanungkapan konvensional, dan memadunya dengan diksi dan idiom baru yang dibentuknya dari hasil eksperimen dan inovasinya/Semua ini tidak terlepas dari akar kata yang berasal dari budaya yang mendewasakanya. Diksi dan idiom yang digunakanya sudah dikenalnya betul dan sudah menjadi naluri dan darah dagingnya. Dengan kematangannya itu, ia menyesuaikannya menjadi simbol yang khas miliknya sehingga tampak menyatu.


damiri mahmud

Profil Sastrawan

Arifin C. Noer dilahirkan di Cirebon, Jawa Barat, 10 Maret 1941, dan meninggal di Jakarta, 28 Mei 1995. Pendiri Teater Kecil ini menulis puisi, drama, dan menyutradarai sejumlah film. Karya-karyanya anatara lain: Nurul Aini (1963), Mega-mega (1967), Kapai-kapai (1967; diterjemahkan Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris), Prita Istri Kita, Umang-umang, Selamat Pagi Jajang (1979).

Armijn Pane dilahirkan di Muara Sipongi, Sumatera Utara, 18 Agustus 1908, dan meninggal di Jakarta, 16 Februari 1970. Antara 1933-55 pernah menjadi redaktur majalah Pujangga Baru, Balai Pustaka, dan majalah Indonesia. Novelnya, Belenggu (1940), hingga saat ini dipandang sebagai peretas penulisan novel Indonesia modern. Karya-karyanya yang lain: Jiwa Berjiwa (1939), Kort overzicht van de Moderne Indonesische Literatuur (1949), Kisah Antara Manusia (1953), Jinak-jinak Merpati (1953), Gamelan Jiwa (1960), Tiongkok Zaman Baru, Sejarahnya: Abad ke-19 Sekarang (1953). Ia pun menerjemahkan dan menyadur novel dan drama, yaitu: Membangun Hari Kedua (1956; Ilya Ehtenburg) dan Ratna (1943; Hendrik Ibsen).

Asrul Sani dilahirkan di Rao, Sumatera Barat, 10 Juni 1926. Lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia (1955) ini pernah menjadi redaktur Pujangga Baru, Gema Suasana, Gelanggang, dan Citra Film. Karya-karya aslinya adalah: Tiga Menguak Takdir (1950; bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin), Dari Suatu Masa Dari Suatu Tempat (1972), Mantera (1975), Mahkamah (1988). Selain banyak menulis skenario dan menyutradarai film, ia dikenal sebagai penerjemah andal dan produktif. Karya-karya terjemahannya, antara lain: Laut Membisu (1949; Vercors), Pangeran Muda (1952; Antoine de Saint Exupery), Enam Pelajaran bagi Calon Aktor (1960; Richard Bolslavsky), Rumah Perawan (1977; Kawabata Yasunari), Villa des Roses (Willem Elschot), Puteri Pulau (1977; Maria Dermout), Kuil Kencana (1978; Yukio Mishima), Pintu Tertutup (1979; Jean Paul Sartre), Julius Caesar (1979; William Shakespeare), Sang Anak (1979; Rabindranath Tagore); Catatan dari Bawah Tanah (1979; Dostoyevsky), Keindahan dan Kepiluan (1986; Nikolai Gogol).

BM Syamsuddin dilahirkan di Natuna, Kepulauan Riau, 10 Mei 1935, dan meningal di Bukitttingi, 20 Februari 1997. Karya-karyanya berupa puisi dan cerpen dimuat di antaranya di Kompas dan Suara Karya Minggu. Selain sejumlah buku cerita anak, ia menulis antara lain: Seni Lakon Mendu Tradisi Pemanggungan dan Nilai Lestari (1995) dan Seni Teater Tradisional Mak Yong.

Budi Darma dilahirkan di Rembang, Jawa Tengah, 25 April 1937. Meraih M.A. dan Ph.D di Indiana University, Bloomington, Amerika Serikat. Novelis yang pernah menjadi Rektor IKIP Surabaya ini meraih SEA Write Award pada 1984. Karya-karyanya: Orang-orang Bloomington (1980), Solilokui (1983), Olenka (1983; pemenang pertama Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1980 dan Hadiah Sastra DKJ 1983), Sejumlah Esai Sastra (1984), Rafilus (1988), Harmonium (1995), Ny Talis (1996). Sebuah cerpennya, “Derabat”, terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1999 dan dipublikasikan pada buku berjudul sama.

Bur Rasuanto dilahirkan di Palembang, Sumatera Selatan, 6 April 1937. Karya-karya salah seorang penanda tangan utama Manifes Kebudayaan dan doktor dalam bidang filsafat ini adalah: Bumi yang Berpeluh (1963), Mereka Akan Bangkit (1963; meraih Hadiah Sastra Yamin, namun ditolak pengarangnya), Mereka Telah Bangkit (1966), Sang Ayah (1969), Manusia Tanah Air (1969), Tuyet (1978; mendapat hadiah utama Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1978).

BY Tand dilahirkan di Asahan, Sumatera Utara, 10 Agustus 1942. Karya-karyanya: Ketika Matahari Tertidur (1979), Sajak-sajak Diam (1983), Sketsa (1984; memenangkan Hadiah Utama Hadiah Puisi Putra II Malaysia), Alif Ba Ta (t.t.), Khatulistiwa (1981), Titian Laut I, II, III (1982; terbit di Malaysia), Si Hitam (1990), dan antologi Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (Suratman Markasan [ed.]).

Chairil Anwar dilahirkan di Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922, dan meninggal di Jakarta, 28 April 1949. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, sastrawan yang oleh H.B. Jassin dinobatkan sebagai Pelopor angkatan 45 dalam puisi itu, mendirikan “Gelanggang Seniman Merdeka” (1946). Kumpulan puisi penyair yang pernah menjadi redaktur ruang budaya Siasat “Gelanggang” dan Gema Suasana ini adalah Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Putus (1949), Deru Campur Debu (1949), Tiga Menguak Takdir (1950; bersama Asrul Sani dan Rivai Apin), Aku Ini Binatang Jalang (1986), Derai-derai Cemara (1998). Karya-karya terjemahannya: Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948; Andre Gide), Kena Gempur (1951; John Steinbeck). Penerjemahan karya-karyanya ke dalam bahasa Inggris dan Jerman dilakukan Burton Raffel, Chairil Anwar: Selected Poems (New York: 1963) dan The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar (New York: 1970), Liaw Yock-Fang (Singapura: 1974), Walter Karwath, Feur und Asche (Wina: 1978). Karya-karya studi tentang Chairil Anwar antara lain dilakukan oleh: S.U.S. Nababan, A Linguistic Analysis of the Poetry of Amir Hamzah and Chairil Anwar (New York: 1976), Boen S. Oemarjati, Chairil Anwar: the Poet and His Language (Den Haag: 1972).

Chairul Harun dilahirkan Kayutanam, Sumatera Barat, Agustus 1940, dan meninggal di Padang, 19 Februari 1998. Karya-karyanya antara lain: Monumen Safari (1966) dan Warisan (1979; novel penerima hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1979)

D. Zawawi Imron dilahirkan di Sumenep, Madura, 1946. Karya-karya penyair yang meraih Hadiah Utama dalam lomba penulisan puisi AN-Teve pada 1995 ini, antara lain: Semerbak Mayang (1977), Madura Akulah Lautmu (1978), Celurit Emas (1980), Bulan Tertusuk Ilalang (1982), Nenek Moyangku Airmata (1985; mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K, 1985), Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996), Lautmu Tak Habis Gelombang (1996), Madura Akulah Darahmu (1999).

Damiri Mahmud dilahirkan di Medan, Sumatera Utara, 1945. Karya-karyanya: Tiga Muda (1980), Aku Senantiasa Mencari (1982), Sajak-sajak Kamar (1983), Kuala (1975), Puisi (1977), Rantau (1984). Puisi-puisinya dimuat pula di Horison, Basis, Republika, dan lain-lain.

Danarto dilahirkan di Sragen, Jawa Tengah, 27 Juni 1940. Karya-karya penerima SEA Write Award 1988 ini adalah: Godlob (1975), Adam Ma`rifat (1982; meraih Hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta dan Yayasan Buku Utama pada tahun yang sama), Berhala (1987; memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1987), Orang Jawa Naik Haji (1984), Obrok Owok-owok, Ebrek Ewek-ewek (1976), Bel Geduwel Beh (1976), Gergasi (1993), Gerak-gerak Allah (1996), dan Asmaraloka (1999).

Darman Moenir dilahirkan di Batusangkar, Sumatera Barat, 27 Juli 1952. Ia mengikuti International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat, pada 1988, dan empat tahun kemudian menerima Hadiah Sastra dari Pemerintah RI. Karya-karyanya antara lain: Gumam (1976), Bako (1983; novel pemenang hadiah utama Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1980), Aku Keluargaku Tetanggaku (pemenenang kedua Sayembara Novel Kartini 1987), Jelaga Pusaka Tinggi (1997). Karyanya yang lain dapat ditemukan pula dalam antologi Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (1991; Suratman Markasan [ed.]).

Darmanto Jatman dilahirkan dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1942. Karya-karyanya antara lain: Sajak-sajak Putih (1968), Ungu (1968; bersama A. Makmur Makka), Bangsat (1974), Sang Darmanto (1975), Ki Blakasuta Bla Bla (1980), Karto Iya Bilang Mboten (1981), Sastra, Psikologi, dan Masyarakat (1985), Sekitar Masalah Kebudayaan (1986), Golf untuk Rakyat (1994), Istri (1997). Sejumlah sajaknya, bersama sejumlah sajak penyair lain seperti Abdul Hadi WM dan Sutardji Calzoum Bachri, diterjemahkan Harry Aveling dan dipublikasikan dalam Arjuna in Meditation (1976).

Djamil Suherman dilahirkan di Surabaya, Jawa Timur, 24 April 1924, dan meninggal di Bandung, 30 November 1985. Karya-karyanya berupa puisi, novel dan cerita pendek: Muara (1958; bersama Kaswanda Saleh), Manifestasi (1963), Perjalanan ke Akhirat (1963; memenangkan hadiah kedua Majalah Sastra 1962), Umi Kulsum (1983), Pejuang-pejuang Kali Pepe (1984), Sarip Tambakoso (1985), Sakerah (1985).

Ediruslan Pe Amanriza dilahirkan di Pekanbaru, Riau, 17 Agustus 1947. Kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung tidak ia selesaikan. Kumpulan puisinya: Surat-suratku kepada GN, Vogabon, Bukit Kawin, Wangkang. Sementara novel-novelnya: Di Bawah Matahari, Taman, Jakarta di Manakah Sri, Nakhoda (mendapat Hadiah Sayembara mengarang Roman DKJ 1977), Panggil Aku Sakai (1987) Ke Langit (1993), Koyan, Jembatan, Dikalahkan Sang Sapurba (2000). Kumpulan cerita pendeknya: Renungkanlah Markasan (1997).

Frans Nadjira dilahirkan di Makassar, 3 September 1942. Sastrawan yang juga pelukis ini pada 1979 mengikuti Iowa International Writing Program, di Iowa City, Amerika Serikat. Puisi dan cerpennya tersebar di berbagai media publikasi, antara lain di Horison, Sinar Harapan, Bali Post, AIA News (Australia), termasuk di beberapa antologi bersama Laut Biru Langit Biru, Puisi Asean, Tonggak, The Spirit That Moves Us (USA), On Foreign Shores, Teh Ginseng, A Bonsai’s Morning, dan Ketika Kata Ketika Warna. Kumpulan puisinya: Jendela dan Springs of Fire Springs of Tears, dan kumpulan cerpennya Bercakap-cakap di Bawah Guguran Daun.

Gerson Poyk dilahirkan di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, 16 Juni 1931. Peserta angkatan pertama dari Indonesia pada International Writing Program di Iowa University Amerika Serikat ini, memenangkan Hadiah Adinegoro pada 1985 dan 1986, dan SEA Write Award pada 1989. Novel dan kumpulan cerita pendeknya, antara lain: Hari-hari Pertama (1968), Sang Guru (1971), Matias Ankari (1975), Oleng-kemoleng & Surat-surat Cinta Rajaguguk (1975), Nostalgia Nusatenggara (1976), Jerat (1978), Cumbuan Sabana (1979), Seutas Benang Cinta (1982), Giring-giring (1982), Di Bawah Matahari Bali (1982), Requiem untuk Seorang Perempuan (1983), Anak Karang (1985), Doa Perkabungan (1987), Impian Nyoman Sulastri dan Hanibal (1988), Poti Wolo (1988).

Goenawan Mohamad dilahirkan di Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941. Pemimpin redaksi majalah Tempo selama 23 tahun yang juga mantan wartawan harian Kami ini dikenal luas sebagai penyair dan penulis esai yang sangat cerdas. Karya-karyanya antara lain: Pariksit (1971), Potret Penyair Muda sebagai Si Malin Kundang (1972), Interlude (1973), Seks, Sastra, Kita (1980), Catatan Pinggir (1982-91; empat jilid), Asmaradana (1992), Misalkan Kita di Sarajevo (1998). Salah seorang penanda tangan Manifes Kebudayaan ini, pada 1973 mendapat Anugerah Seni dari Pemerintah RI, dan delapan tahun kemudian meraih SEA Write Award.

Hamid Jabbar dilahirkan di Kotagadang, Sumatera Barat, 27 Juli 1949. Karya-karya penyair yang pernah menjadi wartawan Indonesia Express, Singgalang, dan redaktur Balai Pustaka ini antara lain: Paco-Paco (1974), Dua Warna (1975; bersama Upita Agustine), Wajah Kita (1981), Siapa Mau Jadi Raja, Raja Berak Menangis, Zikrullah. Cerpennya, “Engku Datuk Yth. Di Jakarta” terpilih masuk ke dalam antologi Cerita Pendek Indonesia IV (1986; Satyagraha Hoerip [ed.]). Kumpulan puisinya terakhir: Super Hilang, Segerobak Sajak (1998; memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama).

Hamka dilahirkan di Maninjau, Sumatera Barat, 16 Februari 1908, dan meningal di Jakarta, 24 Juli 1981. Pernah memimpin majalah Pedoman Masyarakat, Gema Islam, Panji Masyarakat, dan hingga akhir hayatnya menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia. Karya-karya peraih gelar doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar (Mesir) ini antara lain: Di Bawah Lindungan Ka`bah (1938), Merantau ke Deli (1938), Karena Fitnah (1938), Tuan Direktur (1939), Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (1939), Keadilan Ilahi (1941), Di Dalam Lembah Kehidupan (1941), Dijemput Mamaknya (1949), Menunggu Beduk Berbunyi (1950), Kenang-kenangan Hidup I-IV (1951-52), Lembah Nikmat (1959), Cemburu (1961), Cermin Penghidupan (1962), Ayahku (1967), dan sejumlah buku filsafat, etika, dan khotbah.

Hamsad Rangkuti dilahirkan di Titikuning, Sumatera Utara, 7 Mei 1943. Sastrawan yang hampir setiap tahun karyanya selalu masuk dalam kumpulan cerita pendek terbaik Kompas ini, hingga sekarang menjabat pemimpin redaksi majalah sastra Horison. Karya-karyanya: Lukisan Perkawinan (1982), Cemara (1982), Lampu Merah (1988; novel yang memenangkan hadiah harapan Sayembara Mengarang Roman DKJ 1980), Kereta Pagi Jam 5 (1994), dan Sampah Bulan Desember (2000).

Hartoyo Andangjaya dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 4 Juli 1930, dan meninggal di kota kelahirannya, 30 Agustus 1991. Karya-karya aslinya: Simphoni Puisi (1954; bersama D.S. Moeljanto), Manifestasi (1963; bersama Goenawan Mohamad, et. al.), Buku Puisi (1973), Dari Sunyi ke Bunyi (1991; kumpulan esai peraih hadiah Yayasan Buku Utama Depdikbud 1993). Karya-karya terjemahannya: Tukang Kebun (1976; Rabindranath Tagore), Kubur Terhormat bagi Pelaut (1977; Slauerhoff), Rahasia Hati (1978; Natsume Soseki), Musyawarah Burung (1983; Farid al-Din Attar), Puisi Arab Modern (1984), Kasidah Cinta (tt.; Jalal al-Din Rumi).

HS Djurtatap dilahirkan di Payakumbuh, Sumatera Barat, 2 Juni 1947. Sejak 1974 menjadi redaktur harian Pelita Jakarta. Karya-karyanya dimuat antara lain di Horison. Dua sajaknya dimuat dalam antologi Sajak-sajak Perjuangan dan Tanah Air (1995; Oyon Sofyan [ed.]).

Husni Djamaluddin dilahirkan di Mandar, Sulawesi Selatan, 10 November 1934. Karya-karyanya: Puisi Akhir Tahun (1969), Obsesi (1970), Kau dan Aku (1973), Anu (1974), Toraja (1979), Sajak-sajak dari Makassar (1974), Bulan Luka Parah (1986), Berenang-renang ke Tepian, dan antologi Puisi ASEAN Buku III (1978).

Ibrahim Sattah dilahirkan di Pulau Tujuh, Riau Kepulauan, 1943, dan meninggal di Pekanbaru, 19 Januari 1988. Karya-karya penyair berpendidikan terakhir kelas 1 SMA dan pernah menjadi dosen Universitas Islam Riau serta Wakil Kepala Pusat Penerangan Angkatan Bersenjata RI Riau/Sumatera Barat itu terkumpul dalam: Dandandid (1975), Ibrahim (1980), dan Hai Ti (1981).

Idrus dilahirkan di Padang, Sumatera Barat, 21 September 1921, dan meninggal di kota yang sama, 18 Mei 1979. Tahun 1965-79, mengajar di Universitas Monash, Australia. Penutur fasih yang pernah menjadi redaktur majalah Kisah dan Indonesia ini dikenal sebagai pelopor penulisan prosa dalam kesusastraan Indonesia modern. Karya-karya drama, cerita pendek, novel dan terjemahannya adalah: Dokter Bisma (1945); Kejahatan Membalas Dendam (1945), Jibaku Aceh (1945), Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (1948), Keluarga Surono (1948), Aki (1949), Perempuan dan Kebangsaan (1949), Dua Episode Masa Kecil (1952), Dengan Mata Terbuka (1961), Hati Nurani Manusia (1963), Hikayat Puteri Penelope (1973), Kereta Api Baja (1948; Vsevold Ivanov), Acoka (1948; G. Gonggrijp), Keju (1948; Willem Elschot), Perkenalan (1949; Anton Chekov, Luigi Pirandello, Guy de Maupassant, dan Jeroslav Hasek).

Idrus Tintin dilahirkan di Rengat, Riau, 10 November 1932. Ia pernah menjadi guru di SMAN II Pekanbaru dan mengasuh Sanggar Teater Bahana. Tiga kumpulan puisinya: Luput, Burung Waktu, dan Nyanyian di Lautan, Tarian di Tengah Hutan dikumpulkan kembali dalam Idrus Tintin: Seniman dari Riau Kumpulan Puisi dan Telaah (1996).