Festival Seni “Medan Urban” Tampilkan Seni Sastra dan Musik
Oleh : Jamaludin
SMA Harapan 1 Medan menampilkan Ensambel musik Medan Urban pada pembukaan Medan Urban Arts Festival Sabtu, 29 Maret 2008 pukul 15.00-17.00 WIB di Taman Budaya Sumatera Utara. Diselingi dengan musikalisasi puisi, pembacaan rampak puisi oleh SD Panca Budi serta visualisasi sastra oleh Teater LKK UNIMED.
Ensambel musik Medan Urban yang disesuaikan dengan tema penyelenggara adalah merupakan komposisi musik yang mempertemukan berbagai instrumentasi karya-karya kreatif dari para siswa yang selama ini telah mereka tampilkan dalam kompetensi pengembangan kepribadian siswa di sekolah, Drs. H. Hasan Basri, MM selaku Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan dalam pidato arahannya sekaligus membuka dengan resmi Medan Urban Arts Festival menyebut bahwa sistem pendidikan ekstra kurikuler kita sekarang ini lebih menekankan pada kemandirian siswa.
Oleh sebab itu program pengembangan diri yang dilaksanakan setiap hari Sabtu, perlu digalakkan secara terus menerus untuk mecapai kualitas diri siswa sebagaimana diharapkan. Istilah Urban Arts dikatakan Afrion digunakan untuk memberikan batasan wilayah garapan dengan pengertian bahwa seni urban merupakan kesatuan bentuk yang hidup dan berkembang di kota. Dari segi bentuk garapan bisa jadi mengadopsi seni tradisi atau setidaknya mengalami penyesuaian dan perubahan baik dari segi isi dan bentuk maupun konsep garapannya.
Sasaran yang akan dicapai melalui Medan Urban Arts Festival ini hakikatnya mempertemukan setiap perbedaan dengan semangat kedaerahan masing-masing peserta. Selain membaca dan mengidentifikasi seni tradisi yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat kota yang multietnis. Medan Urban Arts Festival diawali penampilan teater LKK UNIMED pimpinan Ahmad Bandren dengan pertunjukan visualisasi puisi Hasan Al Banna berjudul Buruh /3/.
Kisah tragis kaum buruh yang merasa hidupnya tertindas dan ditindas oleh perlakuan semena-mena oleh pengusaha dan mereka para pengambil kebijakan. Buruh yang hidupnya dari hari ke hari hanya tahu menghitung angka-angka, menumpuknya utang dan sewa kontrakan, membayangkan anak istri yang diam dalam kelaparan. Ketidakberdayaan menghadapi persoalan hidup kadang membuat buruh dibayangi kecemasan dan setiap saat dalam kepanikan.
Penggarapan visualisasi puisi ini merupakan sebuah fenomena unik dari sisi kehidupan sosial kaum buruh yang hidup di kota. Sebagaimana kehidupan masyarakat urban lainnya, analisis terhadap kondisi hubungan antara organisasi-organisasi sosial. Dalam kehidupan kaum buruh khususnya di perkotaan, akan menimbulkan berbagai macam persoalan.
Tidak hanya bersifat fisik semata, namun lebih kepada pelanggaran norma-norma sosial, ekonomi dan kebudayaan. Persoalan besar yang terjadi di perkotaan dewasa ini sangat multi dimensional. Bayaknya kaum buruh (pendatang) yang mempunyai tujuan untuk menetap di kota, maupun untuk tinggal sementara, karena ingin menaikkan status sosial melalui pekerjaan dengan pendapatan ekonomi yang lebih baik tentunya. Namun pada kenyataannya selalu gagal beradaptasi dengan lingkungan sekitar hingga menyebabkan kepanikan.
Sebaliknya pembacaan rampak puisi Seuntai Biji Tasbih karya M. Raudah Jambak dan Muhasabah karya Nurhilmi Daulay oleh siswa-siswi SD Panca Budi Medan, menyiratkan betapa sebanarnya anak-anak butuh bimbingan dan perhatian.
Sebagai forum dialog lintas generasi, penampilan siswa-siswa SD Panca Budi ini cukup menarik perhatian. Kebersahajaan dan kebersamaan pembacaan teks puisi mampu ditampilkan dengan koor yang menyatu lewat gerak tubuh. Dalam hal ini tubuh tidak hanya diposisikan menjadi latar pembacaan teks puisi, lebih jauh tubuh menjadi bagian penggambaran roh puisi.
Sebagaimana Masalah generasi muda khususnya anak-anak memiliki banyak keinginan untuk mencoba sesuatu yang baru, juga rasa keingintahuan sesuatu yang aneh menurut pandangan mereka. Apabila seorang anak mencapai usia remaja, secara fisik ia telah matang, tetapi untuk dapat dikatakan dewasa dalam arti sosial masih diperlukan faktor-faktor lainnya. Sementara SMA Harapan 1 Medan menampilkan garapan musik ensambel dengan kolaborasi instrumentasi musik perkusi dan elektronik.
Alat musik tiup pianika dipadukan dengan gitar elektronik dan drum band. Masing-masing memainkan satu alat musik baik yang akustik maupun elektrik, juga beberapa instrumen alat musik lainnya hasil dari ciptaan siswa sendiri.
Ensambel musik ini diharapkan aktif membangun kepekaan dalam berbagai gagasan kratif. Gerakan partisipatif tidak hanya mendorong tumbuhnya instrumentasi musik baru. Setidaknya kolaborasi alat musik baik yang tradisi maupun modern, akustik dan elektrik memungkinkan keduanya dapat berkembang dan hidup di tengah laju pertumbuhan kota yang makin berkembang Selain itu ditampilkan pula tari kreasi Melayu oleh siswa SMA Harapan 2 Medan, perpaduan dua klebudayaan yang tradisi maupun modern kemudian diakhiri dengan penampilan Karmapochi Band yang berhasil merebut juara dari beberapa kali mengikuti lomba band antarpelajar di kota Medan.
Dalam hal perkembangan nilai-nilai budaya dan seni musik tradisi, apa yang teridentifikasi selama ini, mengalami penyesuaian dengan kebudayaan kota dengan pola-pola tertentu. Terlebih lagi dalam memanfaatkan alat-alat musik. Kaitannya dengan pemakaian ruang sebagai sarana dan prasarana publik, menjadi cikal bakal terbentuknya seni urban yang kompleks. Oleh sebab kota mempunyai daya tarik yang kuat karena menjanjikan kesempatan yang lebih luas, pendapatan yang lebih tinggi, dan peluang untuk maju yang lebih luas.
Lebih lanjut disebutkan M. Raudah Jambak bahwa beberapa pendekatan sosio kultural dari sejarah dan peradaban kota, perkembangan budaya tradisional dan modern pada kenyataannya sama-sama hidup dalam masyarakat urban. Keduanya berinteraksi dan saling mendukung dalam pencapaian bentuk seni baru yang berangkat dari akar tradisi.
Medan Urban Arts Festival yang diselenggarakan selama tiga bulan (29 Maret-28 Juni 2008) meliputi seni sastra, tari, rupa, musik, teater dan film yang tradisional maupun modern, dengan maksud memberi ruang kreasi dan apresiasi masyarakat dan mempertemukan karya-karya kreatif seniman dari berbagai daerah kabupaten, kota dan propinsi.
Dengan semangat pencapaian kreatifitas berkesenian yang mempertemukan tokoh-tokoh adat, sastrawan, dan budayawan dari berbagai etnis di Indonesia dengan tujuan Menggali kekayaan adat istiadat, situs-situs sejarah,seni dan budaya berbagai etnis di Medan, Sumatera Utara
Friday, 23 May 2008
Agenda Temu Sastrawan
Jambi, Tuan Rumah
Temu Sastrawan Indonesia 2008
Provinsi Jambi mendapat kepercayaan menjadi tuan rumah pelaksana Temu Sastrawan Indonesia Pertama pada 7-11 Juli 2008. Kegiatan itu juga dikaitkan sebagai salah satu program menyongsong Tahun Kunjungan Wisata Indonesia/Visit Indonesia Year (VIY) 2008 dan Visit Jambi Year (VJY 2009).
Ketua Umum Panitia Pelaksana Temu Sastrawan Indonesia, Mualimah Radhiana, seperti dikutip Antara di Jambi, Jumat lalu mengatakan, temu sastrawan Indonesia 2008 merupakan kegiatan yang amat penting bagi para sastrawan dalam rangka mengagendakan Kongres Sastrawan untuk membentuk forum bersama dengan melibatkan ekologi sastra (sastrawan, kritikus, media, dan penerbit) guna mencapai estetik sastra Indonesia.
Selain itu, akan dilaksanakan pula workshop penulisan esai/kritik sastra serta panggung apresiasi dan wisata budaya ke situs Candi Muarojambi, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi, penerbitan buku antologi, dan pameran/bazar.
Temu Sastrawan Indonesia 2008 di Jambi nantinya akan mengambil tema "Kemandirian, Kebersamaan, dan Keharmonisan". "Tema itu penting agar para sastrawan Indonesia bersama ekologi sastra Indonesia memiliki kekuatan dan mampu memberi solusi mengenai tidak sehatnya ekologi sastra Indonesia saat ini," kata Mualimah yang juga Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi itu.
Sementara itu, sastrawan Jambi Dr Sudaryono MPd yang juga ketua panitia pelaksana Temu Sastra Indonesia mengatakan, dasar pemikiran pertemuan sastrawan Indonesia di Jambi karena saat ini telah terjadi krisis multidimensi seperti politik dan budaya, termasuk sastra Indonesia.
Ekologi sastra Indonesia kini kian memudar, tidak seperti dulu yang banyak menghasilkan karya sastra seperti syair, cerpen, novel, dan skenario cerita film yang berbobot.
"Kritikan sastrawan terkemuka Indonesia masa dulu, seperti Chairil Anwar dan HB Jassin, kini jarang ditemukan, atau bahkan hanya sebatas cerpen," ujar Sudaryono seraya mengingatkan bahwa pada satu hingga dua dasawarsa silam, HB Jassin dengan kritik sastranya, "Kerakap di Atas Batu, Hidup Enggan Mati Tak Mau", berhasil membuat sastra Indonesia tumbuh harmonis.
Kongres sastra Indonesia di Jambi akan menampilkan 10 sastrawan Indonesia, yaitu Dr Katrin Bandel, Prof Dr Suminto A Sayuti, Todung Mulya Lubis, Prof Dr Abdul Bari AZ SH, Nirwan Dewanto, Pamusuk Eneste, dan Ahmadun Y Herfenda. Kemudian Acep Zam-zam Noor, Ahmad Subhanuddin Alwy, Eddy Utama, Dr Haris Effendi Thaher, Prof Dr Hasanuddin WS, Dr Maizar Karim MHum, Korrie Layun Rampan, dan Prof Dr Sunaryono Basuki. (Ami Herman)
Agenda Temu Sastrawan
Indonesia 2008 di Jambi
Oleh: Sudaryono
Sabtu, 17 Nopember 2007
Ada beberapa agenda penting yang perlu kita perhatikan terkait Temu Sastrawan Indonesia (TSI) 2008 di Jambi. Agenda itu secara fundamental berkaitan dengan beberapa persoalan yang mendesak dicarikan solusinya. Rumah tangga sastra Indonesia yang dihuni oleh sastrawan (penyair, cerpenis, novelis, penulis skenario), kritisi, media, dan masyarakat pembaca memberikan gambaran sebagai ekologi yang tidak sehat. Artinya, masing-masing ranah sastra (kreator, kritisi, media, dan masyarakat pembaca) terkesan berjalan sendiri-sendiri dan terpisah oleh adanya jurang yang membatasi kebersamaan dan saling pengertian.
Bahkan, 'bentrok' dan perselisihan paham di antara mereka melahirkan kegelisahan tersendiri. Ingatlah perseteruan antarkomunitas sastra akhir-akhir ini, polemik yang melibatkan media massa, langkanya kritikus yang peduli terhadap perkembangan sastra, dan minimnya apresiasi masyarakat terhadap perkembangan sastra. Tidak sehatnya ekologi sastra Indonesia merupakan pekerjaan rumah yang harus dijadikan wacana penting dalam mengurus rumah tangga sastra Indonesia mutakhir.
Dalam perkembangan sastra pernah muncul humanisme universal, sastra kontekstual, sastra (dominasi) pusat, sastra pedalaman, sastra dekaden, sastra independen, sastra arus bawah dan seterusnya dan seterusnya. Hal ini wajar lantaran sastrawan memiliki progres, visi dan misi dalam berkarya. Hal yang tidak wajar apabila perbedaan pandangan/aliran/isme dll memunculkan konflik berkepanjangan.
TSI 2008 mewadahi dan menyediakan fasilitas untuk membangun rumah tangga sastra Indonesia yang menjunjung tinggi keberagaman, kedinamisan, dan keharmonisan sehingga tercipta ekologi sastra Indonesia yang kondusif.
Keberagaman corak budaya daerah perlu diberikan ruang yang leluasa untuk dieksplorasi dalam penciptaan sastra dan diangkat di atas panggung wacana dalam iklim yang demokratis. Karya sastra yang digali dari tradisi subkultur yang ada di Indonesia akan memberikan rona keberagaman yang manunggal dalam keindonesiaan ("Bhineka Tunggal Ika"). Keberagaman warna lokal saat globalisasi sekarang ini menjadi penting sebab dengan keberagaman itu pula identitas lokal terwadahi. Dengan tampilnya identitas lokal yang beragam maka sastra Indonesia mutakhir akan memberikan tawaran-tawaran tematis dan capaian estetis yang menyemarakkan denyut kehidupan sastra Indonesia. Identitas keindonesiaan dapat dibangun berdasarkan kekayaan tradisi lokal yang ada di Indonesia.
Selain keberagaman, anggota rumah tangga sastra Indonesia (sastrawan, kritikus, media, dan masyarakat) masing-masing perlu memiliki kedinamisan yang mandiri. Kedinamisan dan kemandirian ini memiliki arti penting ketika, misalnya, ada sebagian sastrawan yang 'ditelikung', diintimidasi, dikekang kebebasan kreatifnya, dipinggirkan oleh pihak-pihak lain (pemerintah, pimpinan redaktur koran, organisasi tertentu, pemilik media) memiliki kekuatan advokasi dan pembelaan secara adil dan berimbang. Kedinamisan dan kemandirian anggota rumah tangga sastra Indonesia akan memberikan iklim kondusif kedinamisan kehidupan sastra secara demokratis dan jauh dari sikap-sikap otoriter yang kelewat batas.
Muncul gagasan, mungkin para sastrawan bersatu dalam suatu wadah seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Aliansi Jurnalistik Independent (AJI), Ikatan Keluarga Pengarang Indonesia (IKAPI) yang memiliki keharmonisan? Dengan keharmonisan dimungkinkan sastrawan Indonesia memiliki bargaining power dan bargaining position yang lebih baik. Mungkin para sastrawan perlu melakukan kongres untuk membicarakan "wadah" dan sekaligus menuntaskan ketidakharmonisan. Dalam kaitan ini, melalui temu sastrawan Indonesia yang dihadiri oleh para pelaku sastra (kreator, kritisi, media, dan masyarakat pembaca) minimal dapat disepakati perlunya agenda forum sastrawan secara kontinyu.
Ekologi sastra tidak sehat, antara lain disebabkan tidak berfungsinya kritik sastra. Realitas menunjukan bahwa kuantitas penerbitan karya sastra tidak diiringi oleh kinerja kritik sastra. Kritik sastra hadir dalam bentuk catatan pengantar atau catatan penutup sebuah buku sastra. Sepeninggal H.B. Jassin kinerja kritik sastra belum menampilkan hasil maksimal. Dalam hubungannya dengan minimnya kritikus sastra, dipandang perlu melaksanakan whorkshop penulisan esai/kritik sastra yang diikuti penulis muda berbakat, guru, mahasiswa yang telah biasa menulis di media massa.
Rendahnya apresiasi masyarakat terhadap karya sastra perlu dijembatani melalui Panggung Apresiasi, Pameran, dan Bazzar. Panggung Apresiasi, Pameran, dan Bazzar dapat menampilkan atraksi keberagaman, kemandirian, kedinamisan dan keharmonisan sastra Indonesia dalam paket performance.
Dalam garis besarnya agenda Temu Sastrawan Indonesia 2008 di Jambi direncanakan sebagai berikut:
(1) Kongres Sastrawan: membicarakan (a) kemungkinan dibentuknya wadah atau forum bersama (sastrawan, kritikus, media, penerbit, apresiator); (b) pemetaan capaian estetik sastra Indonesia, (c) keberagaman genre, gaya ungkap, dan kreativitas, dan (d) regenerasi sastrawan. Peserta kongres: Sastrawan (3 generasi), Kritikus, media massa, penerbit, dan undangan khusus. Kongres ini direncanakan 2 hari.
(2) Workshop penulisan esai/kritik sastra: memfasilitasi para penulis muda berbakat, guru sastra, dan mahasiswa untuk mampu menulis kritik/esai sastra. Peserta berkisar 20-30 orang. Waktu whorshop di hari ketiga.
(3) Panggung Apresiasi: menampilkan sastrawan undangan khusus (penyair dan cerpenis Indonesia terpilih), menampilkan keberagaman seni di setiap kota/kabupaten dalam provinsi Jambi, dan sanggar-sanggar seni di kota jambi. Selain itu, memberi ruang bagi olah kreativitas sastrawan kota lain (Padang, Riau, dll) yang dibatasi jumlahnya. Panggung Apresiasi ini digelar selama tiga hari di tempat yang representatif.
(4) Wisata Budaya: wisata budaya ini dimaksudkan untuk memberikan sajian keberagaman yang dimiliki Provinsi Jambi kepada peserta. Mereka misalnya diajak ke situs Candi Muaro Jambi, Pusat batik/kerajinan, kawasan batanghari, Museum, Monumen, dsb. Waktu wisata budaya disesuaikan situasi.
(5) Penerbitan Buku Antologi: menerbitkan 2 buku, yakni: (1) Puisi, cerpen, dan esai sastrawan Indonesia yang dipilih berdasarkan seleksi dan (2) buku puisi sastrawan muda Sumatera. Buku-buku ini dijadikan cenderamata bagi seluruh peserta Temu Sastrawan Indonesia.
(6)Pameran dan Bazaar. Pameran dan bazaar ini dimaksudkan untuk menampilkan keberagaman karya sastra di dukung oleh penerbit-penerbit buku di Indonesia.
Pelaksana Temu Sastrawan Indonesia 2008 di Jambi adalah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi dan didukung oleh Pemerintas Daerah, dan instansi terkait lainnya yang dalam pelaksanaannya dibentuk panitia (berasal dari komunitas sastrawan/ seniman/budayawan/akademisi).
Pelaksanaan Temu Sastrawan Indonesia direncanakan selama 3 (tiga) hari pada minggu pertama Juli 2008. Temu Sastrawan Indonesia 2008 bertema "KEBERAGAMAN, KEDINAMISAN, DAN KEHARMONISAN EKOLOGI SASTRA INDONESIA".dengan sub-sub tema berikut:
1)Membangun rumah tangga sastra Indonesia yang mandiri dan harmonis dalam satu forum bersama sastrawan Indonesia;
2)Sastra, sastrawan, dan keberagaman dalam ekspresi dan apresiasi;
3)Regenerasi sastrawan;
4)Menata hubungan sinergis antara sastrawan, kritikus, media massa, penerbit, dan masyarakat. ***
Temu Sastrawan Indonesia 2008
Provinsi Jambi mendapat kepercayaan menjadi tuan rumah pelaksana Temu Sastrawan Indonesia Pertama pada 7-11 Juli 2008. Kegiatan itu juga dikaitkan sebagai salah satu program menyongsong Tahun Kunjungan Wisata Indonesia/Visit Indonesia Year (VIY) 2008 dan Visit Jambi Year (VJY 2009).
Ketua Umum Panitia Pelaksana Temu Sastrawan Indonesia, Mualimah Radhiana, seperti dikutip Antara di Jambi, Jumat lalu mengatakan, temu sastrawan Indonesia 2008 merupakan kegiatan yang amat penting bagi para sastrawan dalam rangka mengagendakan Kongres Sastrawan untuk membentuk forum bersama dengan melibatkan ekologi sastra (sastrawan, kritikus, media, dan penerbit) guna mencapai estetik sastra Indonesia.
Selain itu, akan dilaksanakan pula workshop penulisan esai/kritik sastra serta panggung apresiasi dan wisata budaya ke situs Candi Muarojambi, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi, penerbitan buku antologi, dan pameran/bazar.
Temu Sastrawan Indonesia 2008 di Jambi nantinya akan mengambil tema "Kemandirian, Kebersamaan, dan Keharmonisan". "Tema itu penting agar para sastrawan Indonesia bersama ekologi sastra Indonesia memiliki kekuatan dan mampu memberi solusi mengenai tidak sehatnya ekologi sastra Indonesia saat ini," kata Mualimah yang juga Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi itu.
Sementara itu, sastrawan Jambi Dr Sudaryono MPd yang juga ketua panitia pelaksana Temu Sastra Indonesia mengatakan, dasar pemikiran pertemuan sastrawan Indonesia di Jambi karena saat ini telah terjadi krisis multidimensi seperti politik dan budaya, termasuk sastra Indonesia.
Ekologi sastra Indonesia kini kian memudar, tidak seperti dulu yang banyak menghasilkan karya sastra seperti syair, cerpen, novel, dan skenario cerita film yang berbobot.
"Kritikan sastrawan terkemuka Indonesia masa dulu, seperti Chairil Anwar dan HB Jassin, kini jarang ditemukan, atau bahkan hanya sebatas cerpen," ujar Sudaryono seraya mengingatkan bahwa pada satu hingga dua dasawarsa silam, HB Jassin dengan kritik sastranya, "Kerakap di Atas Batu, Hidup Enggan Mati Tak Mau", berhasil membuat sastra Indonesia tumbuh harmonis.
Kongres sastra Indonesia di Jambi akan menampilkan 10 sastrawan Indonesia, yaitu Dr Katrin Bandel, Prof Dr Suminto A Sayuti, Todung Mulya Lubis, Prof Dr Abdul Bari AZ SH, Nirwan Dewanto, Pamusuk Eneste, dan Ahmadun Y Herfenda. Kemudian Acep Zam-zam Noor, Ahmad Subhanuddin Alwy, Eddy Utama, Dr Haris Effendi Thaher, Prof Dr Hasanuddin WS, Dr Maizar Karim MHum, Korrie Layun Rampan, dan Prof Dr Sunaryono Basuki. (Ami Herman)
Agenda Temu Sastrawan
Indonesia 2008 di Jambi
Oleh: Sudaryono
Sabtu, 17 Nopember 2007
Ada beberapa agenda penting yang perlu kita perhatikan terkait Temu Sastrawan Indonesia (TSI) 2008 di Jambi. Agenda itu secara fundamental berkaitan dengan beberapa persoalan yang mendesak dicarikan solusinya. Rumah tangga sastra Indonesia yang dihuni oleh sastrawan (penyair, cerpenis, novelis, penulis skenario), kritisi, media, dan masyarakat pembaca memberikan gambaran sebagai ekologi yang tidak sehat. Artinya, masing-masing ranah sastra (kreator, kritisi, media, dan masyarakat pembaca) terkesan berjalan sendiri-sendiri dan terpisah oleh adanya jurang yang membatasi kebersamaan dan saling pengertian.
Bahkan, 'bentrok' dan perselisihan paham di antara mereka melahirkan kegelisahan tersendiri. Ingatlah perseteruan antarkomunitas sastra akhir-akhir ini, polemik yang melibatkan media massa, langkanya kritikus yang peduli terhadap perkembangan sastra, dan minimnya apresiasi masyarakat terhadap perkembangan sastra. Tidak sehatnya ekologi sastra Indonesia merupakan pekerjaan rumah yang harus dijadikan wacana penting dalam mengurus rumah tangga sastra Indonesia mutakhir.
Dalam perkembangan sastra pernah muncul humanisme universal, sastra kontekstual, sastra (dominasi) pusat, sastra pedalaman, sastra dekaden, sastra independen, sastra arus bawah dan seterusnya dan seterusnya. Hal ini wajar lantaran sastrawan memiliki progres, visi dan misi dalam berkarya. Hal yang tidak wajar apabila perbedaan pandangan/aliran/isme dll memunculkan konflik berkepanjangan.
TSI 2008 mewadahi dan menyediakan fasilitas untuk membangun rumah tangga sastra Indonesia yang menjunjung tinggi keberagaman, kedinamisan, dan keharmonisan sehingga tercipta ekologi sastra Indonesia yang kondusif.
Keberagaman corak budaya daerah perlu diberikan ruang yang leluasa untuk dieksplorasi dalam penciptaan sastra dan diangkat di atas panggung wacana dalam iklim yang demokratis. Karya sastra yang digali dari tradisi subkultur yang ada di Indonesia akan memberikan rona keberagaman yang manunggal dalam keindonesiaan ("Bhineka Tunggal Ika"). Keberagaman warna lokal saat globalisasi sekarang ini menjadi penting sebab dengan keberagaman itu pula identitas lokal terwadahi. Dengan tampilnya identitas lokal yang beragam maka sastra Indonesia mutakhir akan memberikan tawaran-tawaran tematis dan capaian estetis yang menyemarakkan denyut kehidupan sastra Indonesia. Identitas keindonesiaan dapat dibangun berdasarkan kekayaan tradisi lokal yang ada di Indonesia.
Selain keberagaman, anggota rumah tangga sastra Indonesia (sastrawan, kritikus, media, dan masyarakat) masing-masing perlu memiliki kedinamisan yang mandiri. Kedinamisan dan kemandirian ini memiliki arti penting ketika, misalnya, ada sebagian sastrawan yang 'ditelikung', diintimidasi, dikekang kebebasan kreatifnya, dipinggirkan oleh pihak-pihak lain (pemerintah, pimpinan redaktur koran, organisasi tertentu, pemilik media) memiliki kekuatan advokasi dan pembelaan secara adil dan berimbang. Kedinamisan dan kemandirian anggota rumah tangga sastra Indonesia akan memberikan iklim kondusif kedinamisan kehidupan sastra secara demokratis dan jauh dari sikap-sikap otoriter yang kelewat batas.
Muncul gagasan, mungkin para sastrawan bersatu dalam suatu wadah seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Aliansi Jurnalistik Independent (AJI), Ikatan Keluarga Pengarang Indonesia (IKAPI) yang memiliki keharmonisan? Dengan keharmonisan dimungkinkan sastrawan Indonesia memiliki bargaining power dan bargaining position yang lebih baik. Mungkin para sastrawan perlu melakukan kongres untuk membicarakan "wadah" dan sekaligus menuntaskan ketidakharmonisan. Dalam kaitan ini, melalui temu sastrawan Indonesia yang dihadiri oleh para pelaku sastra (kreator, kritisi, media, dan masyarakat pembaca) minimal dapat disepakati perlunya agenda forum sastrawan secara kontinyu.
Ekologi sastra tidak sehat, antara lain disebabkan tidak berfungsinya kritik sastra. Realitas menunjukan bahwa kuantitas penerbitan karya sastra tidak diiringi oleh kinerja kritik sastra. Kritik sastra hadir dalam bentuk catatan pengantar atau catatan penutup sebuah buku sastra. Sepeninggal H.B. Jassin kinerja kritik sastra belum menampilkan hasil maksimal. Dalam hubungannya dengan minimnya kritikus sastra, dipandang perlu melaksanakan whorkshop penulisan esai/kritik sastra yang diikuti penulis muda berbakat, guru, mahasiswa yang telah biasa menulis di media massa.
Rendahnya apresiasi masyarakat terhadap karya sastra perlu dijembatani melalui Panggung Apresiasi, Pameran, dan Bazzar. Panggung Apresiasi, Pameran, dan Bazzar dapat menampilkan atraksi keberagaman, kemandirian, kedinamisan dan keharmonisan sastra Indonesia dalam paket performance.
Dalam garis besarnya agenda Temu Sastrawan Indonesia 2008 di Jambi direncanakan sebagai berikut:
(1) Kongres Sastrawan: membicarakan (a) kemungkinan dibentuknya wadah atau forum bersama (sastrawan, kritikus, media, penerbit, apresiator); (b) pemetaan capaian estetik sastra Indonesia, (c) keberagaman genre, gaya ungkap, dan kreativitas, dan (d) regenerasi sastrawan. Peserta kongres: Sastrawan (3 generasi), Kritikus, media massa, penerbit, dan undangan khusus. Kongres ini direncanakan 2 hari.
(2) Workshop penulisan esai/kritik sastra: memfasilitasi para penulis muda berbakat, guru sastra, dan mahasiswa untuk mampu menulis kritik/esai sastra. Peserta berkisar 20-30 orang. Waktu whorshop di hari ketiga.
(3) Panggung Apresiasi: menampilkan sastrawan undangan khusus (penyair dan cerpenis Indonesia terpilih), menampilkan keberagaman seni di setiap kota/kabupaten dalam provinsi Jambi, dan sanggar-sanggar seni di kota jambi. Selain itu, memberi ruang bagi olah kreativitas sastrawan kota lain (Padang, Riau, dll) yang dibatasi jumlahnya. Panggung Apresiasi ini digelar selama tiga hari di tempat yang representatif.
(4) Wisata Budaya: wisata budaya ini dimaksudkan untuk memberikan sajian keberagaman yang dimiliki Provinsi Jambi kepada peserta. Mereka misalnya diajak ke situs Candi Muaro Jambi, Pusat batik/kerajinan, kawasan batanghari, Museum, Monumen, dsb. Waktu wisata budaya disesuaikan situasi.
(5) Penerbitan Buku Antologi: menerbitkan 2 buku, yakni: (1) Puisi, cerpen, dan esai sastrawan Indonesia yang dipilih berdasarkan seleksi dan (2) buku puisi sastrawan muda Sumatera. Buku-buku ini dijadikan cenderamata bagi seluruh peserta Temu Sastrawan Indonesia.
(6)Pameran dan Bazaar. Pameran dan bazaar ini dimaksudkan untuk menampilkan keberagaman karya sastra di dukung oleh penerbit-penerbit buku di Indonesia.
Pelaksana Temu Sastrawan Indonesia 2008 di Jambi adalah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi dan didukung oleh Pemerintas Daerah, dan instansi terkait lainnya yang dalam pelaksanaannya dibentuk panitia (berasal dari komunitas sastrawan/ seniman/budayawan/akademisi).
Pelaksanaan Temu Sastrawan Indonesia direncanakan selama 3 (tiga) hari pada minggu pertama Juli 2008. Temu Sastrawan Indonesia 2008 bertema "KEBERAGAMAN, KEDINAMISAN, DAN KEHARMONISAN EKOLOGI SASTRA INDONESIA".dengan sub-sub tema berikut:
1)Membangun rumah tangga sastra Indonesia yang mandiri dan harmonis dalam satu forum bersama sastrawan Indonesia;
2)Sastra, sastrawan, dan keberagaman dalam ekspresi dan apresiasi;
3)Regenerasi sastrawan;
4)Menata hubungan sinergis antara sastrawan, kritikus, media massa, penerbit, dan masyarakat. ***
Wednesday, 14 May 2008
Panca Budi
Pengajaran Sastra, Ah
HARUS diakui, program pengajaran apresiasi sastra Indonesia yang dipadukan dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia masih kurang menarik bagi para siswa. Penyebab kurang menariknya pelajaran apresiasi sastra Indonesia di antaranya cara guru mengajar yang tidak memotivasi siswa, kurang akrabnya siswa dengan karya sastra. Hal itu disebabkan kurang terbinanya pengajaran apresiasi sastra Indonesia dengan baik.
Ketidakberhasilan pengajaran apresiasi sastra Indonesia juga disebabkan belum ditetapkannya alokasi waktu, untuk pengajaran apresiasi sastra Indonesia sebagai mata ajar yang mandiri. Sampai kini sastra diajarkan sebagai sambilan dalam mengajarkan bahasa Indonesia. Dengan demikan, secara tidak langsung bentuk evaluasi pengajaran bahasa akan mempengaruhi bentuk evaluasi pengajaran sastra. Atau bisa jadi evaluasi pengajaran sastra ditumpangkan ke dalam evaluasi pengajaran bahasa.
Seperti dikatakan Boen S. Oemarjati, sastra "diomprengkan" pada pengajaran bahasa. Kalau dalam kehidupan sehari-hari pekerjaan omprengan dapat memberikan keuntungan yang lebih besar daripada pekerjaan yang sesungguhnya, tidaklah demikian halnya dengan pengajaran yang dipraktikkan dengan cara mengompreng. Pengajaran merupakan kegiatan dan proses pembinaan dan pengembangan. Karena itu, jika dilaksanakan menurut sistem "omprengan", maka proses tersebut mengalami distorsi.
Apa boleh buat memang kalau kedudukan sastra dalam kurikulum kita dinilai masih dipandang dengan sebelah mata. Pelajaran sastra belum mandiri, belum memiliki otonomi untuk mengatur dirinya sendiri. Ia masih nunut dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Padahal berdasarkan kenyataan di lapangan, tidak semua guru Bahasa Indonesia mampu menyajikan pengajaran apresiasi sastra dengan baik. Guru yang mahir mengajarkan bahasa belum tentu mampu tampil memikat saat mengajar sastra. Menyajikan puisi, misalnya, selain dituntut menguasai materi ajar, guru juga harus mampu memberikan contoh yang memikat dan sugestif di depan siswanya saat membaca puisi. Hal ini sulit dilakukan oleh guru bahasa yang kurang memiliki minat serius dan "talenta" yang cukup tentang sastra.
Dalam pembelajaran bahasa atau sastra pada khususnya, siswa bukan hanya dituntut untuk memahami teori-teori sastra tetapi siswa lebih dituntut untuk memiliki kemampuan dalam mengapresiasi karya sastra. Untuk mewujudkan tujuan pembelajaran apresiasi sastra Indonesia ini, maka kehadiran buku-buku sastra mutlak harus dipenuhi, agar siswa memiliki kesempatan untuk berakrab dengan karya sastra. Mustahil pengajaran apresiasi sastra Indonesia itu akan berhasil sesuai harapan jika siswa tidak berhadapan langsung dengan karya sastra tersebut. Pengalaman membaca sastra merupakan penentu dalam mengapresiasi karya sastra.
Aminuddin menyatakan untuk mampu mengapresiasi karya sastra, seseorang itu harus mampu mengapresiasi karya sastra seseorang itu secara terus menerus menggauli karya sastra tersebut. Karena itu, penyediaan sarana (buku-buku/bahan ajar) mutlak harus dipenuhi suatu lembaga pendidikan terutama di perpustakaan.
Demikianlah, pada hakikatnya pembelajaran apresiasi sastra Indonesia ialah memperkenalkan kepada siswa nilai-nilai yang dikandung karya sastra dan mengajak siswa ikut menghayati pengalaman-pengalaman yang disajikan. Pembelajaran apresiasi sastra Indonesia bertujuan mengembangkan kepekaan siswa terhadap nilai-nilai indrawi, nilai akali, nilai afektif, nilai keagamaan, dan nilai sosial, secara sendiri-sendiri, atau gabungan keseluruhan, seperti yang tercermin di dalam karya sastra. Pada hakikatnya pengajaran sastra adalah menciptakan situasi siswa membaca dan merespon karya sastra serta membicarakan secara bersama dalam kelas.
Di dalam mengapresiasikan sastra kita mengenal nilai-nilai yang terdapat di dalam karya sastra. Dengan kegairahan dan empati akhirnya kita dapat merasakan kenikmatan. Supriyadi menyatakan, bahwa kenikmatan itu dapat timbul karena merasa berhasil dalam menerima pengalaman orang lain dan bertambah pengalaman sehingga dapat menghadapi kehidupan dengan lebih baik. Selain itu juga karena kekaguman akan kemampuan sastrawan dalam mengarahkan segala alat yang ada pada medium seninya sehingga berhasil memperjelas, memadukan, dan memberikan makna terhadap pengalaman yang diolahnya. Kenikmatan membaca karya sastra juga bisa diperoleh karena menikmati sesuatu demi sesuatu itu sendiri yaitu kenikmatan estetik.
Pengajaran mestilah direncanakan untuk melibatkan siswa dalam proses penampilan kebermaknaan. Untuk melaksanakan pembelajaran apresiasi sastra, guru harus membuat persiapan dengan penuh pertimbangan. Soemanto menegaskan, bahwa selain berguna sebagai atal kontrol, maka persiapan mengajar juga berguna sebagai pegangan bagi guru sendiri.
Persiapan untuk pembelajaran apresiasi sastra merupakan usaha mempersiapkan diri guru dan persiapan segala hal yang berhubungan dengan pembelajaran. Untuk itulah materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, buku sumber, sarana, evaluasi, haruslah dipersiapkan sebaiknya oleh guru sesuai dengan tuntutan tujuan dan keadaan siswa. Di samping itu, pembelajaran apresiasi sastra harus dipersiapkan untuk selama satu semester sehingga masalah waktu, buku sumber dapat ditanggulangi dan dipersiapkan secara matang. Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran apresiasi sastra paling utama terletak pada guru sastra. Dalam pembelajaran apresiasi sastra, guru harus berusaha agar kegiatan belajar mengajar tetap hidup, menghindari kemonotonan, menimbulkan unsur kejutan, ketakjuban dan kesenangan dari karya sastra yang diajarkan.
Pengadaan buku sastra bagi siswa adalah amat penting sebagai buku sumber pengajaran sastra, tetapi yang selalu menjadi kendala dalam pengajaran sastra selama ini di sekolah adalah karena kurang tersedianya buku-buku sastra di perpustakaan sekolah. Sementara itu, guru juga kurang tahu bagaimana mendapatkan buku-buku sastra tersebut.
Ajip Rosidi menyatakan, bahwa selama ini yang menjadi persoalan ialah tidak semua sekolah memiliki perpustakaan, padahal penyediaan bahan bacaan yang praktis dan efisien adalah berupa perpustakaan. Karena itu, perlu kiranya usaha guru untuk menghimpun buku-buku sastra yang diperlukannya.
Kita tahu, pengajaran sastra di sekolah bertujuan agar siswa menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
Selain itu, agar menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia. Termasuk juga agar siswa memperoleh pengetahuan tentang sastra dengan berbagai teori dan nama pengarang, judul, dan angkatan-angkatan.
Hal itu mengacu pada tujuan yang hendak dicapai pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang mulai diberlakukan tahuan ajaran 2006/2007 dan yang pemberlakuannya didasarkan pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 dan 23/2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Ini berarti, sesungguhnya KTSP memberi peluang yang lebih leluasa bagi guru dan pihak sekolah untuk mengembangkan diri dan meningkatkan kompetensinya. Jika mencermati setiap muatan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dalam KTSP, maka segalanya memang baik-baik saja, sama halnya juga dengan Kurikulum 1994 dan Kurikulum Berbasis Kompentensi (KBK, 2004).
Memasukkan Muatan Lokal
Menurut Maman S. Mahayana, dalam KTSP segalanya seperti hendak "diserahkan" kepada guru dan sekolah masing-masing. Dalam hal ini, ada beberapa hal yang menarik yang ditawarkan dalam KSTP, yaitu guru dan sekolah - terlepas dari campur tangan kepala dinas - diberi peluang untuk membuat silabus, kurikulum, dan indikator-indikatornya sendiri. Di sana tidak ada keharusan menggunakan kurikulum tertentu beserta sejumlah daftar bukunya yang juga tertentu. Dalam hal ini, prinsip fleksibilitas memberi keleluasaan bagi guru untuk menambah jumlah jam pelajaran per minggu sesuai kebutuhan. Di sana diizinkan pula memasukkan muatan lokal sebagai bahan pelajaran yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat.
Dalam konteks pelajaran sastra, muatan lokal tentu saja bertebaran begitu banyak, mulai dengan memanfaatkan khazanah cerita rakyat, dongeng, seni pertunjukan, bahkan juga cerpen yang dimuat di koran-koran lokal pada setiap hari Minggu. Jadi, tidak ada alasan bagi guru untuk berkeluh-kesah menangisi tiadanya bahan pelajaran, lantaran KTSP memberi peluang bagi guru dan sekolah untuk mengembangkan kreativitasnya sesuai dengan tuntutan sekolah atau daerahnya.
Lepasnya campur tangan kepala dinas atau birokrat pendidikan, di satu pihak memberi kebebasan bagi guru dan pihak sekolah mengembangkan diri dan memanfaatkan berbagai bahan yang sesuai dengan kebutuhan, dan di lain pihak, menuntut guru bekerja lebih keras untuk mengatur dan mengurus dirinya sendiri, termasuk persoalan yang menyangkut menajamen sekolah dan kegiatan rutin pembelajaran (bidang akademis). Jadi sangat mungkin dalam ihwal muatan lokal, setiap sekolah mengajarkan materi yang berbeda-beda. Tetapi di situlah KTSP mengakomodasi potensi daerah yang menyangkut kehidupan sosio-budaya serta kondisi peserta didiknya.
Persoalan yang mungkin bakal menjadi kendala bagi pelaksanaan KTSP adalah masih adanya penyelenggaraan Ujian Nasional (UN). Problem pelaksanaan kurikulum sesungguhnya juga lantaran adanya kecenderungan pengajaran yang berorientasi pada keberhasilan UN. Keberhasilan guru mengajar sering kali diukur oleh keberhasilan siswa lulus UN.
Akibatnya, UN dianggap sebagai satu-satu tolok ukur keberhasilan guru dan sekaligus juga sekolah. Tambahan lagi, soal-soal UN yang cenderung sebagai standar dan bersifat umum (nasional), tidak hanya menafikan keberadaan muatan lokal, tetapi juga mengandaikan semua sekolah di seluruh Indonesia mempunyai standar kompetensi yang relatif berada dalam tingkat yang tidak terlalu jauh berbeda. Di samping itu, mengingat UN bersifat nasional "massal", maka soal-soal dipilih sedemikian rupa dengan menggunakan pola memilih. Soal-soal semacam ini tentu saja efektif untuk memudahkan koreksiannya.
Demikianlah, minat siswa terhadap pembelajaran apresiasi sastra akan tumbuh subur jika setiap sekolah memiliki guru yang mempunyai kemampuan mendorong dan membimbing yang disertai dengan kiat-kiat mengajar yang baik. Jika minat siswa membaca dan mengapresiasi karya sastra telah tumbuh, maka minat siswa belajar apresiasi sastra Indonesia dapat dimunculkan dengan baik pula.
HARUS diakui, program pengajaran apresiasi sastra Indonesia yang dipadukan dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia masih kurang menarik bagi para siswa. Penyebab kurang menariknya pelajaran apresiasi sastra Indonesia di antaranya cara guru mengajar yang tidak memotivasi siswa, kurang akrabnya siswa dengan karya sastra. Hal itu disebabkan kurang terbinanya pengajaran apresiasi sastra Indonesia dengan baik.
Ketidakberhasilan pengajaran apresiasi sastra Indonesia juga disebabkan belum ditetapkannya alokasi waktu, untuk pengajaran apresiasi sastra Indonesia sebagai mata ajar yang mandiri. Sampai kini sastra diajarkan sebagai sambilan dalam mengajarkan bahasa Indonesia. Dengan demikan, secara tidak langsung bentuk evaluasi pengajaran bahasa akan mempengaruhi bentuk evaluasi pengajaran sastra. Atau bisa jadi evaluasi pengajaran sastra ditumpangkan ke dalam evaluasi pengajaran bahasa.
Seperti dikatakan Boen S. Oemarjati, sastra "diomprengkan" pada pengajaran bahasa. Kalau dalam kehidupan sehari-hari pekerjaan omprengan dapat memberikan keuntungan yang lebih besar daripada pekerjaan yang sesungguhnya, tidaklah demikian halnya dengan pengajaran yang dipraktikkan dengan cara mengompreng. Pengajaran merupakan kegiatan dan proses pembinaan dan pengembangan. Karena itu, jika dilaksanakan menurut sistem "omprengan", maka proses tersebut mengalami distorsi.
Apa boleh buat memang kalau kedudukan sastra dalam kurikulum kita dinilai masih dipandang dengan sebelah mata. Pelajaran sastra belum mandiri, belum memiliki otonomi untuk mengatur dirinya sendiri. Ia masih nunut dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Padahal berdasarkan kenyataan di lapangan, tidak semua guru Bahasa Indonesia mampu menyajikan pengajaran apresiasi sastra dengan baik. Guru yang mahir mengajarkan bahasa belum tentu mampu tampil memikat saat mengajar sastra. Menyajikan puisi, misalnya, selain dituntut menguasai materi ajar, guru juga harus mampu memberikan contoh yang memikat dan sugestif di depan siswanya saat membaca puisi. Hal ini sulit dilakukan oleh guru bahasa yang kurang memiliki minat serius dan "talenta" yang cukup tentang sastra.
Dalam pembelajaran bahasa atau sastra pada khususnya, siswa bukan hanya dituntut untuk memahami teori-teori sastra tetapi siswa lebih dituntut untuk memiliki kemampuan dalam mengapresiasi karya sastra. Untuk mewujudkan tujuan pembelajaran apresiasi sastra Indonesia ini, maka kehadiran buku-buku sastra mutlak harus dipenuhi, agar siswa memiliki kesempatan untuk berakrab dengan karya sastra. Mustahil pengajaran apresiasi sastra Indonesia itu akan berhasil sesuai harapan jika siswa tidak berhadapan langsung dengan karya sastra tersebut. Pengalaman membaca sastra merupakan penentu dalam mengapresiasi karya sastra.
Aminuddin menyatakan untuk mampu mengapresiasi karya sastra, seseorang itu harus mampu mengapresiasi karya sastra seseorang itu secara terus menerus menggauli karya sastra tersebut. Karena itu, penyediaan sarana (buku-buku/bahan ajar) mutlak harus dipenuhi suatu lembaga pendidikan terutama di perpustakaan.
Demikianlah, pada hakikatnya pembelajaran apresiasi sastra Indonesia ialah memperkenalkan kepada siswa nilai-nilai yang dikandung karya sastra dan mengajak siswa ikut menghayati pengalaman-pengalaman yang disajikan. Pembelajaran apresiasi sastra Indonesia bertujuan mengembangkan kepekaan siswa terhadap nilai-nilai indrawi, nilai akali, nilai afektif, nilai keagamaan, dan nilai sosial, secara sendiri-sendiri, atau gabungan keseluruhan, seperti yang tercermin di dalam karya sastra. Pada hakikatnya pengajaran sastra adalah menciptakan situasi siswa membaca dan merespon karya sastra serta membicarakan secara bersama dalam kelas.
Di dalam mengapresiasikan sastra kita mengenal nilai-nilai yang terdapat di dalam karya sastra. Dengan kegairahan dan empati akhirnya kita dapat merasakan kenikmatan. Supriyadi menyatakan, bahwa kenikmatan itu dapat timbul karena merasa berhasil dalam menerima pengalaman orang lain dan bertambah pengalaman sehingga dapat menghadapi kehidupan dengan lebih baik. Selain itu juga karena kekaguman akan kemampuan sastrawan dalam mengarahkan segala alat yang ada pada medium seninya sehingga berhasil memperjelas, memadukan, dan memberikan makna terhadap pengalaman yang diolahnya. Kenikmatan membaca karya sastra juga bisa diperoleh karena menikmati sesuatu demi sesuatu itu sendiri yaitu kenikmatan estetik.
Pengajaran mestilah direncanakan untuk melibatkan siswa dalam proses penampilan kebermaknaan. Untuk melaksanakan pembelajaran apresiasi sastra, guru harus membuat persiapan dengan penuh pertimbangan. Soemanto menegaskan, bahwa selain berguna sebagai atal kontrol, maka persiapan mengajar juga berguna sebagai pegangan bagi guru sendiri.
Persiapan untuk pembelajaran apresiasi sastra merupakan usaha mempersiapkan diri guru dan persiapan segala hal yang berhubungan dengan pembelajaran. Untuk itulah materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, buku sumber, sarana, evaluasi, haruslah dipersiapkan sebaiknya oleh guru sesuai dengan tuntutan tujuan dan keadaan siswa. Di samping itu, pembelajaran apresiasi sastra harus dipersiapkan untuk selama satu semester sehingga masalah waktu, buku sumber dapat ditanggulangi dan dipersiapkan secara matang. Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran apresiasi sastra paling utama terletak pada guru sastra. Dalam pembelajaran apresiasi sastra, guru harus berusaha agar kegiatan belajar mengajar tetap hidup, menghindari kemonotonan, menimbulkan unsur kejutan, ketakjuban dan kesenangan dari karya sastra yang diajarkan.
Pengadaan buku sastra bagi siswa adalah amat penting sebagai buku sumber pengajaran sastra, tetapi yang selalu menjadi kendala dalam pengajaran sastra selama ini di sekolah adalah karena kurang tersedianya buku-buku sastra di perpustakaan sekolah. Sementara itu, guru juga kurang tahu bagaimana mendapatkan buku-buku sastra tersebut.
Ajip Rosidi menyatakan, bahwa selama ini yang menjadi persoalan ialah tidak semua sekolah memiliki perpustakaan, padahal penyediaan bahan bacaan yang praktis dan efisien adalah berupa perpustakaan. Karena itu, perlu kiranya usaha guru untuk menghimpun buku-buku sastra yang diperlukannya.
Kita tahu, pengajaran sastra di sekolah bertujuan agar siswa menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
Selain itu, agar menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia. Termasuk juga agar siswa memperoleh pengetahuan tentang sastra dengan berbagai teori dan nama pengarang, judul, dan angkatan-angkatan.
Hal itu mengacu pada tujuan yang hendak dicapai pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang mulai diberlakukan tahuan ajaran 2006/2007 dan yang pemberlakuannya didasarkan pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 dan 23/2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Ini berarti, sesungguhnya KTSP memberi peluang yang lebih leluasa bagi guru dan pihak sekolah untuk mengembangkan diri dan meningkatkan kompetensinya. Jika mencermati setiap muatan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dalam KTSP, maka segalanya memang baik-baik saja, sama halnya juga dengan Kurikulum 1994 dan Kurikulum Berbasis Kompentensi (KBK, 2004).
Memasukkan Muatan Lokal
Menurut Maman S. Mahayana, dalam KTSP segalanya seperti hendak "diserahkan" kepada guru dan sekolah masing-masing. Dalam hal ini, ada beberapa hal yang menarik yang ditawarkan dalam KSTP, yaitu guru dan sekolah - terlepas dari campur tangan kepala dinas - diberi peluang untuk membuat silabus, kurikulum, dan indikator-indikatornya sendiri. Di sana tidak ada keharusan menggunakan kurikulum tertentu beserta sejumlah daftar bukunya yang juga tertentu. Dalam hal ini, prinsip fleksibilitas memberi keleluasaan bagi guru untuk menambah jumlah jam pelajaran per minggu sesuai kebutuhan. Di sana diizinkan pula memasukkan muatan lokal sebagai bahan pelajaran yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat.
Dalam konteks pelajaran sastra, muatan lokal tentu saja bertebaran begitu banyak, mulai dengan memanfaatkan khazanah cerita rakyat, dongeng, seni pertunjukan, bahkan juga cerpen yang dimuat di koran-koran lokal pada setiap hari Minggu. Jadi, tidak ada alasan bagi guru untuk berkeluh-kesah menangisi tiadanya bahan pelajaran, lantaran KTSP memberi peluang bagi guru dan sekolah untuk mengembangkan kreativitasnya sesuai dengan tuntutan sekolah atau daerahnya.
Lepasnya campur tangan kepala dinas atau birokrat pendidikan, di satu pihak memberi kebebasan bagi guru dan pihak sekolah mengembangkan diri dan memanfaatkan berbagai bahan yang sesuai dengan kebutuhan, dan di lain pihak, menuntut guru bekerja lebih keras untuk mengatur dan mengurus dirinya sendiri, termasuk persoalan yang menyangkut menajamen sekolah dan kegiatan rutin pembelajaran (bidang akademis). Jadi sangat mungkin dalam ihwal muatan lokal, setiap sekolah mengajarkan materi yang berbeda-beda. Tetapi di situlah KTSP mengakomodasi potensi daerah yang menyangkut kehidupan sosio-budaya serta kondisi peserta didiknya.
Persoalan yang mungkin bakal menjadi kendala bagi pelaksanaan KTSP adalah masih adanya penyelenggaraan Ujian Nasional (UN). Problem pelaksanaan kurikulum sesungguhnya juga lantaran adanya kecenderungan pengajaran yang berorientasi pada keberhasilan UN. Keberhasilan guru mengajar sering kali diukur oleh keberhasilan siswa lulus UN.
Akibatnya, UN dianggap sebagai satu-satu tolok ukur keberhasilan guru dan sekaligus juga sekolah. Tambahan lagi, soal-soal UN yang cenderung sebagai standar dan bersifat umum (nasional), tidak hanya menafikan keberadaan muatan lokal, tetapi juga mengandaikan semua sekolah di seluruh Indonesia mempunyai standar kompetensi yang relatif berada dalam tingkat yang tidak terlalu jauh berbeda. Di samping itu, mengingat UN bersifat nasional "massal", maka soal-soal dipilih sedemikian rupa dengan menggunakan pola memilih. Soal-soal semacam ini tentu saja efektif untuk memudahkan koreksiannya.
Demikianlah, minat siswa terhadap pembelajaran apresiasi sastra akan tumbuh subur jika setiap sekolah memiliki guru yang mempunyai kemampuan mendorong dan membimbing yang disertai dengan kiat-kiat mengajar yang baik. Jika minat siswa membaca dan mengapresiasi karya sastra telah tumbuh, maka minat siswa belajar apresiasi sastra Indonesia dapat dimunculkan dengan baik pula.
JURANG
Di kerajaan nenek moyangku aku tak tahu
Aku menyerupai kota yang mana
aku sudah lelah membuka mata dan tetap saja buta
matahari bersembunyi di bagaian barat otakku
dan hanya bersinar di belahan bumi yang sama
Kadang ayahku menyerupai Jakarta yang tua
Ingin membangun, ingin membangun, ingin membangun
Tak henti-hentinya
Sedang aku ingin tidur sepuas-puasnya
1975, Abdul Hadi. W.M [Meditasi]
Dalam sederetan nama penyair Indonesia pada periode antara 1960-1980, Abdul Hadi W.M termasuk yang layak kita perbincangkan. Pada pertengahan tahun 1960-an Abdul Hadi telah membina kepenyairannya, sampai kepada kumpulan puisi Meditasi ini, kumpulan yang memperoleh hadiah sebagai BUKU TERBAIK yang terbit pada tahun 1976-1977 dari Dewan Kesenian Jakarta.
”Abdul Hadi adalah penyair yang senantiasa berkembang. Dari buku sajaknya yang satu ke yang lain dia dikenal sebagai penyair yang prolifik alam, sajak mistis dan sufis, sajak cinta, sajak mbeling, sajak protes sosial,….”demikian tulis Sutardji Colzoum Bachri, penyair seangkatannya pada Harian Angkatan Bersenjata, 30-10-1978.
Dalam kumpulan puisi ini memang terasa perkembangan itu, kematangan Abdul Hadi W.M dalam menangkap inti dari yang hidup dan kehidupan ini, mengungkapkan suasana hati ide, dan pengalaman-pengalam annya.
H.B. Yassin dalam Harian Berita Buana, 28-10-1977 mengatakan bahwa Abdul Hadi adalah salah satu penyair yang mempunyai pemikiran atau latar belakang estetik yang jelas. Estetika puisinya jelas nampak dalam puisinya. Dia tak menulis sajak begitu saja asal jadi dan asal tulis, melainkan dengan pertimbangan- pertimbangan tertentu yang dia sadari.
Abdul Hadi pernah mengikuti International Writing Program di University, of Iowa, Iowa City, Amerika Serikat tahun 1973-1974. Dari sana dia menghadiri Poetry Internasional di London (1974) dan berpartisipasi dalam Poetry Rotterdam tahun yang sama. Tahun 1968 sajaknya ”Madura” mendapat hadiah pujian redaksi majalah sastra ”Horison”.
Buku kumpulan puisi ini juga mendapat hadiah Seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI pada 1978.
Sekedar tambahan informasi Abdul Hadi W.M adalah juga seorang Doktor Filasafat pada Universitas Gajah Mada.
Judul : Meditasi
Penulis : Abdul Hadi W.M
Penerbit : Balai Pustaka
Cetakan : I, Jakarta 1982
Tebal : 71 Halaman
Harga : Rp 20.000,-

WALAU
Walau penyair besar
Takkan sampai sebatas allah
Dulu pernah kuminta tuhan
Dalam diri
Sekarang tak
Kalau mati
Mungkin matiku bagai batu tamat bagai pasir tamat
Jiwa membumbung dalam baris sajak
Tujuh puncak membilang bilang
Nyeri hari mengucap ucap
Di butir pasir kutulis rindu rindu
Walau huruf habislah sudah
Alifbataku belum sebatas allah
1979 , Sutardji C.B [O, Amuk, Kapak]
Sutardji Calzoum Bachri sudah menjadi bagian yang lekat dalam khazanah sastra Indonesia. Ia telah menjadi salah satu ikon penting dalam perpuisian Indonesia. Sajaksajaknya dikutip untuk berbagai kepentingan. Mulai dari tulisan ilmiah hingga demonstrasi politik, bahkan disablonkan dalam T-shirt anak-anak muda, siswa dan mahasiswa.
Kehadirannya dalam perpuisian Indonesia sangat menghebohkan dan memancing pro dan kontra. Berturut-turut 3 kumpulan sajaknya O, kemudian Amuk dan kemudian Kapak. Ketiga kumpulan sajaknya itu kemudian diterbitkan secara lengkap dibawah judul O, Amuk, Kapak.
Buku ini kemudian telah menjadi klasik dan dijadikan kajian dalam berbagai studi sastra di Fakultas Satra atau Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra di seluruh Indonesia.
Kini sajak-sajak Sutardji Calzoum Bachri sudah ada di hadapan pembaca. Kegairahan untuk menikmatinya terbuka sudah. Selamat menikmati.
Judul : O, Amuk, Kapak
Penulis : Sutardji Colzoum Bachri
Penerbit : Horison
Cetakan : Kedua, 2002
Tebal : 110 Halaman
Harga : Rp 20.000,-
Foto-foto
Cover : Ed Zoelverdi
Hardi/PDS HB Yassin
Yusuf Susilo Hartono/ Dokumentasi Horison

PERNYATAAN
Kucintai tanah ini, Atun, lantaran tak ada
Yang mesti dikutuk dari kelahiran
Kupertahankan tanah ini, Atun, lantaran hak tak punya
Menentukan di tanah mana akan lahir ke dunia
Tanah Cianjur yang subur, gersang pegunungan kapur
Tanah yang kemerahan, tanah yang kehitaman
Lembah yang indah atau dataran mati Jatiwangi
Penduduk yang ramah, penduduk yang jahanam
Manusia-manusia sederhana atau manusia-manusia tinggi
Hati
Akan kupertahankan, Atun, karena mereka kucintai
[Halaman 30 ; Empat Kumpulan Sajak ’Cari Muatan’ Ajip Rosidi]
Coba kita simak satu lagi sajaknya :
KOTA DEMI KOTA
Inilah penyair dengan darah
Di matanya
Inilah penyair dengan bulan
Di tangannya
Ia melihat kepadaku
Jalan dan kota yang pengap
terbayang
ia merenungi kaca jernih
malam terus menyala
hujan turun gerimis
lidah menari jadi kikis
[Halaman 19, 5 bait pertama Sajak Kota Demi Kota ’Cari Muatan’ Ajip Rosidi]
AJIP ROSIDI (dibaca: Ayip Rosidi) mula-mula menulis karya kreatif dalam bahasa Indonesia, kemudian telaah dan komentar tentang sastera, bahasa dan budaya, baik berupa artikel, buku atau makalah dalam berbagai pertemuan di tingkat regional, nasional, maupun internasional. Ia banyak melacak jejak dan tonggak alur sejarah sastera Indonesia dan Sunda, menyampaikan pandangan tentang masalah sosial politik, baik berupa artikel dalam majalah, berupa ceramah atau makalah. Dia juga menulis biografi seniman dan tokoh politik. Pendidikan formalnya SD di Jatiwangi (1950), SMP di Jakarta (1953) dan Tainan Madya di Jakarta (tidak tamat, 1956), selanjutnya otodidak.
Ia mulai mengumumkan karya sastera tahun 1952, dimuat dalam majalah-majalah terkemuka pada waktu itu seperti Mimbar Indonesia, Gelanggang/Siasat, Indonesia, Zenith, Kisah dll. Menurut penelitian Dr. Ulrich Kratz (1988), sampai dengan tahun 1983, Ajip adalah pengarang sajak dan cerita pendek yang paling produktif (326 judul karya dimuat dalam 22 majalah).
Bukunya yang pertama, Tahun-tahun Kematian terbit ketika usianya 17 tahun (1955), diikuti oleh kumpulan sajak, kumpulan cerita pendek, roman, drama, kumpulan esai dan kritik, hasil penelitian, dll., baik dalam bahasa Indonesia maupun Sunda, yang jumlahnya kl. seratus judul.
Karyanya banyak yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, dimuat dalam bungarampai atau terbit sebagai buku, a.l. dalam bahasa Belanda, Cina, Inggris, Jepang, Perands, Kroatia, Rusia, dll. Bukunya yang dalam bahasa Sunda, a.l. Kanjutkundang (bungarampai sastera setelah perang disusun bersama Rusman Sutiasumarga, 1963), Beber Layar! (1964), Jante Arkidam (1967), DurPanjak! (1967), Ngalanglang K.asusastran Sunda (1983), Dengkleung De’ngde’k (1985), Polemik Undak-usuk Basa Sunda (1987), Haji Hasan Mustapajeung Karya-karyana (1988), Hurip Waras! (1988), Pancakaki (1996), Cupumanik Astagina (1997), Eundeuk-eundeukan (1998), Trang-trang Kolentrang (1999), dll.
Ia juga mengumpulkan dan menyunting tulisan tersebar Sjafruddin Prawiranegara (3 jilid) dan Asrul Sani (Surat-surat Kepercayaan, 1997). Ketika masih duduk di SMP men-jadi redaktur majalah Suluh Pelajar (Suluh Peladjar) (1953-1955) yang tersebar ke seluruh Indonesia. Kemudian men-jadi pemimpin redaksi bulanan Prosa (1955), Mingguan (kemudian Majalah Sunda (1965-1967), bulanan Budaya Jaya (Budaja Djaja, 1968-1979). Mendirikan dan memimpin Proyek Penelitian Pantun dan Folklor Sunda (PPP-FS) yang banyak merekam Carita Pantun dan mempublikasikannya (1970-1973).
Bersama kawan-kawannya, Ajip mendirikan penerbit Kiwari di Bandung (1962), penerbit Cupumanik (Tjupumanik) di Jatiwangi (1964), Duta Rakyat (1965) di Bandung, Pustaka Jaya (kemudian Dunia Pustaka Jaya) di Jakarta (1971), Girimukti Pasaka di Jakarta (1980), dan Kiblat Buku Utama di Bandung (2000). Terpilih menjadi Ketua IKAPI dalam dua kali kongres (1973-1976 dan 1976-1979). Menjadi anggota DKJ sejak awal (1968), kemudian menjadi Ketua DKJ beberapa masajabatan (1972-1981). Menjadi anggota BMKN 1954, dan menjadi anggota pengurus pleno (terpilih dalam Kongres 1960). Menjadi anggota LBSS dan menjadi anggota pengurus pleno (1956-1958) dan anggota Dewan Pembina (terpilih dalam Kongres 1993), tapi mengundurkan diri (1996). Salah seorang pendiri dan salah seorang Ketua PP-SS yang pertama (1968-1975), kemudian menjadi salah seorang pendiri dan Ketua Dewan Pendiri Yayasan PP-SS (1996). Salah seorang pendiri Yayasan PDS H.B. Jassin (1977).
Sejak 1981 diangkat menjadi gurubesar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa Asing Osaka), sambil mengajar di Kyoto Sangyo Daigaku (1982-1996) dan Tenri Daignku (1982-1994), tetapi terus aktif memperhatikan kehi-dupan sastera-budaya dan sosial-politik di tanahair dan terus menulis. Tahun 1989 secara pribadi memberikan hadiah sastera tahunan Rancage yang kemudi-an dilanjutkan oleh Yayasan Kebudaya-an Rancage yang didirikannya. Ajip penerima Hadiah Sastera Nasional 1955-1956 untuk puisi (diberikan tahun 1957) dan 1957-1958 untuk prosa (diberikan tahun 1960). Tahun 1993 men-dapat Hadiah Seni dari Pemerintah RI. Tahun 1999 menerima Kun Santo Zui Ho Sho (The Order of Sacred Treasure, Gold Rays with Neck Ribbon) dari pemerintah Jepang sebagai penghargaan atas jasa-jasanya yang dinilai sangat bermanfaat bagi hubungan Indonesia-Jepang.
Setelah pensiun ia menetap di Pabelan, Magelang, Jawa Tengah. Meskipun begitu, ia masih aktif mengelola beberapa lembaga non-profit seperti Yayasan Kebudayaan Rancagé dan Pusat Studi Sunda.
Menyimak perjalanan kehidupan dan karya-karya Ajip, penting sekali rasanya bagi anda untuk mengoleksi karya-karyanya. Bagi anda yang berminat silahkan email ke epri_ts@yahoo. com dan pesan segera sebelum buku-buku lawasnya makin sulit dicari.
Judul : Cari Muatan, Empat Kumpulan Sajak
Penulis : Ajip Rosidi
Penerbit : Balai Pustaka
Cetakan : Ketiga, Jakarta 1998
Tebal : 75 Halaman
Harga : Rp 20.000,-
Salam

EMPAT MIL DARI KENANGAN
Sepasang angsa di sudut taman pom bensin: Kusaksikan
keajaiban dongeng dan biografi bersatu
di situ. Seperti Wilde yang murung di depan sajak
Ginsberg dan Rendra. Kota-kota tanpa patung
”Happy Prince” menyimpan dendam
dan keinginan diam-diam pada kematian. Bagai puisi
Malna dalam saku celana kekuasaan. O, ke mana
orang-orang pergi begitu bergegas
pada dini hari yang riuh ini? Di luar jendela
para penyair, borgol dan selongsong peluru
mengubah dirinya menjadi bahasa. Sayangku, di sebuah
tempat dalam kenangan, Sa’di kehilangan lentera, Tardji
kehilangan ngiau, aku kehilangan
engkau.
Cecep Syamsul Hari, 1994
[Halaman 42 ; Pilihan Puisi Efrosina, 2005]
Di kalangan para penyair Indonesia yang berproses kreatif sejak tahun 1990-an, Cecep Syamsul Hari adalah salah satu penyair yang sangat patut diperhitungkan. Ia sendiri mengaku [dalam kata pengantarnya] menulis sajak sejak kelas 6 SD. Itu berarti sekitar tahun 1980.
Cecep Syamsul Hari lahir di Bandung, 1 Mei 1967. Karya-karya kreatifnya [puisi, cerita pendek, esai] dipublikasikan di berbagai koran di tanah air; Antologi Negri Bayang-bayang [Surabaya; Festival Seni Surabaya, 1997] ; Utan Kayu Tafsir dalam Permainan [Jakarta TUK, 1998] ; Derabat: Kumpulan Cerita Pendek Terbaik Kompas 1999 [Jakarta: Kompas 1999] ; Beth. E. Kolko, et. Al [ed], Writing in an Electronic World: A Rhetoric with Readings [Amerika Serikat; Longman 2000].
Di samping sebagai seorang penyair, dalam kehidupan sehari-hai Cecep Syamsul Hari juga dikenal sebagai penyunting dan penerjemah. Beberapa karya terjemahan dan suntingannya: Para Pemabuk dan Putri Duyung [Kumpulan Puisi Pablo Neruda, Bandung : FSB, 1996] ; Hikayat Kamboja [Kumpulan Puisi D. J. Enright, Bandung: FSB , 1996] ; Ringkasan Sahih Bukhari [Kompilasi 2230 hadits Bukhari karya Al-Imam Zain al-Din Ahmad bin Abd al-Latif Al Zabidi, Bandung : Mizan, 1997] ; Kisah-kisah Persi Jilid III dan IV [C.A Mees Santport dan H.B Jassin, Bandung: Mizan, 1997] ; Mamannoor: Ummi Dachlan Imagi dan Abstraksi [Jakarta: Andi Galeri dan Yayasan Matra Media, 2000] ; Rumah Seberang Jalan [Kumpulan Cerita Pendek Pilihan R. K Narayan, Bandung: Yayasan Matra Media, 2002].
Sejumlah puisinya diterjemahkan Harry Aveling dalam bahasa Inggris, dipublikasikan di Heat Literary International [ New South Wales , Australia , 199], Secret Need World: Indonesia Poetry 1966-1998 [Amerika Serikat: Ohio University Press, 2001], Jurnal Wasafiri [ London , Inggris, 2003].
Kumpulan cerita pendeknya, Saya Tahu, Saya akan Mati di Laut, diterbitkan Penerbit Buku Kompas, 2003. Kumpulan esainya, Mencari dan Menemukan, dan novelnya, Soska [2006].
Pada Tahun 2006, ia diundang untuk tinggal di Korea Selatan sebagai writer in residence dan antara Desember 2007 – Januari 2008, ia diundang untuk tinggal di Rimbun Dahan Arts Residency, Selangor, Malaysia sebagai poet in residence. Ia juga adalah salah seorang redaktur majalah sastra Horison.
Judul : Pilihan Puisi Efrosina
Penulis : Cecep Syamsul Hari
Penerbit : Horison
Cetakan : Kedua, 2005
Tebal : 112 Halaman
Harga : Rp 20.000,-
Subscribe to:
Posts (Atom)