PUISI-PUISI
NYANYIAN UNTUK IBU YANG MEMAKAI BAJU ABU-ABU
Sinar naik ke ufuk
Kau labuhkan sepi ke penghujung
Melambai ke arahku
Lewat baju abu-abu
Kutunggu kau menghilang
Menjauh perlahan ke balik hampa dan keinginan
Namun bisik-bisik daun terus mengiringi kesunyian
Lewat baju abu-abu
Kau pergi meraih di peraduan mimpi
Tak lagi jari itik yang terus diberengi
kau mantap merajut angsa
Yang telah menanti di niagara ini
Semoga ken terus abadi
PETIR YANG MENYAMBAR
Ketika petir itu lekas menyambar di atasku
Tak henti api-api menusuk kulitku
Tak ada lagi tempat untukku
Untuk sekian lama kubiarkan mata ini terpejam
Menyambut petir yang akan luluh lantak dalam-dalam
Kuabadikan kegerahan dalam lukisan tinta
Meski kegerahan itu tak lagi kelam
Petir itu terus menyambar
Tak henti ku bersabar
Seiring laju perpisahan
Kubiarkan ia terus temaram
“Milik Kami” Yang Kau Rampas
Perut kami masih belum terisi
Pikiran kami masih dipenuhi hutang lagi
Pendidikan kami tak dapat kami penuhi
Uang kami tak sebanyak yang kau miliki
Mengertilah, hidup sedang susah
Cabai tak dapat kami nikmati
Bahkan beras mengutip di pasar pagi
Lantas, kau masih rampas harta kami?
MERAH PUTIH (bukan) TANPA MAKNA
Bersama mentari pagi yang berhembus kencang melewati
Kutatap dua warna yang terus dihormati
Sambil berkeliling kupandang satu-satu
Entah apa yang mereka hormati
Tapi tak juga dimaknai
Dari ujung anak-anak bermain
Entah apa yang mereka permainkan
Dari sela rawa beribu tikus menggerogoti brangkas bank negara
Tanpa peduli akan rakyat yang bekerja menabungnya
Bersama seorang teman
Kurekatkan kepatriotan
Tinggal anak-anak yang tak diajarkan
Juga tikus-tikus yang tak punya perikemanusiaan
Dihari istimewa
Kuberjanji akan terus setia
Pada dua warna yang selalu jadi tanda tanya
Merah putih tanpa makna
Bagi orang yang tak tahu apa itu Indonesia
NEGERI INDONESIA
Bersamanya ku berdiri tegak
Menatap dunia yang semakin rusak
Tapi ku tetap tak beranjak
Dari negeri yang banyak retak
Berkali ku coba lapangkan dada
Melawan segala masalah yang ada
Juga bencana yang melanda
Indonesia tercinta
Kini ku siap melangkah
Menyongsong kemerdekaan yang kan jadi masalah
Tapi tak apalah
Ku tetap cinta Indonesia
ISAK TANGIS DARI KAMAR SEBELAH
Dari balik selimut
Isak tangis seorang bocah tergeletak pergi ke antah berantah
Dalam kotak kubus
Kamar sebelah katanya
Decit-decit kayu tua menyaksikan
Isak-isak parau tak dipedulikan
Oh, bukan
Ia tak tonton ketidakpedulian
Yang membingungkan
Tapi betapa kehidupan menyedihkan
Diciptakan seorang yang penuh janji
Isak tangis itu sunyi kembali
Dari kamar sebelah
Dan tak terdengar apapun lagi
KAKEK TUA BUTA
Kulihat
Kakek tua menangis di atas peti
Yang akan membawanya nanti
Bersama sebercak putih di bola mata
Ia terus berorasi
Di atas peti
Hanya aku yang menatapi
Kudengar
Birunya laut, hijaunya darat, dan udara tanpa warna
Menjejak kaki di segala arah
Tanpa sebercak putih di gedungnya
Menguasai areanya
Kurasakan
Laut, darat, bahkan udara
Buta akan dunia
Tak ingat peti-peti mati
Yang membawa kakek tua abadi
Dan terus meratapi
Dengan kebutaannya yang telah menghantui
LANGIT YANG SEMAMPAI
Waktu tak akan pernah sampai
hingga tetesan terakhir sekalipun
dan aku tak akan pernah menggapai
apa yang diciptakan
meski ku telah menelanjangi langit yang semampai
pergumulan dalan hidup
tak lagi punya waktu tuk selesaikan
namun hatiku tak lagi mendendam
pada malam-malam tak berbintang
AYAH
Senyum dan derita
kau ucapkan dengan hati gundah
apa yang dapat kulakukan
ayah
Kau bagi suka duka
tanpa kau risau ada yang menggelitik sukma
tapi tetesan air mata sang bunda
mengalahkan rasa di dada
Tak tau kemana
ku akan bernagi cerita
tapi sungguh,
bagi ceritamu ayah
agar kita sama merasa
ayah
aku sayang padamu
HIDUP LAGI
Bisik pilu hati yang merajam
Bosan terangi malam
Yang tak berujung damai
Pelipur musnah diganyang amarah
Maka hidup lagi
Tuk bantai mereka yang kotor duniawi
Meski rintih kian menari
Diatas sebutir resah tak pergi
SENYUM KAN DATANG LAGI
Angan melayang
Bongkah arang pun menghalang
Wujudkan impian yang tak kunjung padam
Sebersit keraguan datang
Tak pupuskan harapan
Berlari
Terus erat semua mimpi
Pasti terjadi
Pahit lari
Dari nyata yang abadi
Kan hadir senyum lagi
IMAJINASI
Dengar!
Pintakulah pasti ada
Bebaskan cerita penuh warna
Segala oret suka duka
Lihat!
Potong ia pelan saja
Tuk lukis cerita
Tak berujung duka
Yang kuraih juga
Selongsong api membara
Hanguskan cerita kita
Hadirkan imajinasi musnah
Tuk lebih berharga
CERPEN
Aku tak punya upil?
Inilah desaku. Desa yang masih bersifat sedikit primitive ditengah hiruk-pikuknya kehidupan modern. Desa anak-anak penuh mimpi. Desa orang-orang jujur yang memegang teguh adat-istiadat serta tradisi mereka. Desa yang membesarkanku. Serta desa yang mempunyai tradisi unik, yaitu mengupil. Sebenarnya mengupil itu awalnya bukanlah menjadi suatu tradisi, tapi itu merupakan suatu hobi turun-temurun yang kemudian dianut sebagai tradisi.
Kapan saja dan dimana saja pasti warga desaku ini selalu mengupil, sebab mengupil itu seperti sudah mendarah daging pada kami. Semua orang disini selalu mengupil, kecuali aku. Aku sangat ingin mengupil, tapu fisikku tidak merestui. Ya, aku bisa dikatakan tidak mempunyai hidung layaknya manusia normal. Memang aku masih bias bernafas walaupun lubang hidungku sangat kecil. Kata ibu, aku tidak bisa mengupil.
Tradisi mengupil katanya dapat menambah semangat warga desa kami. Terutama bagi petani yang kerjanya dari dini hari hingga senja menjelang. Para petani desaku seperti tidak mengenal lelah saat bekerja karena mereka sudah mengupil sebelumnya. Mengupil juga membuat hidung warga desaku menjadi bersih. Memang menjijikkan, tapi inilah tradisi kami.
Sempat terpikir olehku untuk membuat hidung buatan. Karena saat itu aku masih kecil, aku mengutarakan keinginanku itu pada orang tuaku, tapi aku malah ditertawakan habis-habisan oleh orang tuaku. Mereka mengatakan, “Kita ini manusia yang diciptakan Tuhan. Hidung kita juga. Jadi, mana mungkin kita menciptakan hidung.”
Biasanya sore harilah yang menjadi waktu favorit warga desaku untuk mengupil. Pada saat itulah, kita akan melihat pemandangan orang-orang yang mengupil di teras rumahnya masing-masing.
***
Aku mengupil. Aku berhasil mengupil.
Saat bermain bersama teman-teman, aku mencoba mengupil, merasakan bagaimana sih rasanya mengupil yang tersohor di desaku itu. Tiba-tiba seorang temanku berteriak,
“Hei.. Ngapain kau? Mau coba ngupil? Nggak punya hidung aja pun.” Mendengar teriakan temanku itu aku langsung merasa minder. Tapi aku ingin mencoba.
Akhirnya aku mencoba mengupil, tak disangka-sangka aku berhasil mengupil. Upilku itu besar sekali. Mungkin sebesar bakso. Teman-temanku yang melihat upilku langsung terperangah, mereka belum pernah melihat upil sebesar itu. Salah seorang temanku, Budi, sibuk memanggil warga desa untuk melihat upilku.
“Mak, Pak, hee semuanya… liatlah itu upil si Bonga, besar kali. Kayak bakso.”
Akibat teriakan Budi, warga keluar dari rumahnya. Warga yang sedang mencangkul, memanjat pohon, memberi makan ayam, bergosip, bahkan yang sedang mencari kutu langsung menghentikan aktivitasnya hanya untuk melihat upil baksoku.
Berita upilku yang sebesar bakso langsung menyebar ke seluruh desa, ke desa sebelah, bahkan ke kota . Upilku kini telah terkenal di seluruh penjuru tanah air, seperti batunya Ponari yang bisa menyembuhkan penyakit. Akibatnya, desaku yang awalnya sepi, sunyi, damai, dan tenteram itu kini dipenuhi oleh banyak orang dari berbagai daerah hanya untuk melihat upil baksoku. Mata pencaharian warga yang hanya sebagai petani, kini diselingi dengan berdagang segala macam makanan dan minuman, karena orang-orang yang datang ke desaku sangat ramai, sehingga tak heran terkadang mereka merasa haus dan lapar. Pendapatan wargapun kini bertambah.
Hidupku sekarang sejahtera, sebab tak jarang orang-orang yang datang ke desaku itu memberikanku uang saku. Upilku juga seakan tidak berhenti terbentuk. Setiap jam aku pasti bisa mengupil. Aku juga mendapat uang tambahan dari orang-orang yang berniat membeli upilku sebagai kenang-kenangan.
***
Aku terbangun dari tidur lelapku. Hah, ternyata aku bisa mengupil upil sebesar bakso itu hanya mimpi. Padahal aku sangat ingin itu semua menjadi kenyataan.
Penasaran, aku mencoba mengupil. Menakjubkan, mimpiku jadi kenyataan. Upilku sekarang bahkan jauh lebih besar daripada yang ada dalam mimpiku. Upilku sekarang sebesar bola pingpong. Hahaha…
Siapa bilang aku tidak bisa mengupil?
CERPEN
Ketika putik mulai memerah
Aku tak henti memandangi pohon-pohon bunga raya di sekitar desaku. Kecintaanku pada bunga raya memaksaku untuk terus mengamati perkembangan dan pertumbuhan bunga raya di desaku. Tak ada rasa letih yang menghampiriku saat aku mengelilingi desa untuk mengamati apakah putik-putik bunga raya itu mulai memerah.
Seluruh penjuru desatelah kukitari. Masih ada 1 pohon bunga raya yang putiknya belum memerah. Mungkin sekitar 1 atau 2 minggu lagi putik-putik itu memerah.
Aku memang sangat senang melihat putik-putik pohon raya yang sudah berwarna merah, indah. Bahkan lebih indah dari sunset di pantai. Bagiku memandangi putik bunga raya itu membuatku tenang, jauh lebih tenang dibanding perasaan tenang saat mengetahui lulus ujian sekolah. Oleh karena itu, dalam waktu 1 minggu kedepan aku akan terus memperhatikan putik pohon bunga raya yang belum memerah milik Uwak Loh, tetanggaku.
***
Sore ini aku kembali melihat putik bunga raya Uwak Loh bersama Soraya, sahabatku. Aku memang sudah lama tidak bertemu Soraya, karena ia pergi ke luar kota dari 2 minggu yang lalu.
“Nita, kenapa sih kau semangat kali kalau sedangh ngeliatin putik-putik pohon bunga raya?” tanyanya padaku tepat saat kami menginjakkan kaki di depan halaman rumah Uwak Loh.
“Aku ingin semua putik-putik pohon bunga raya di desa ini memerah.” Jawabku singkat tanpa ekspresi.
“Iya. Aku tau. Tapi kenapa kau ingin putik-putik itu memerah?” tanya Soraya lagi.
“Kau akan tau jawabannya nanti.”
Aku berlalu meninggalkan Soraya yang masih terpelongo di depan halaman rumah Uwak Loh.
***
Minggu pagi yang cerah kusambut dengan raut wajah yang berbeda dengan keadaan matahari yang sedang bersemangat menyinari bumi dengan teriknya. Pagi ini kulihat ibuku memasak nasi goreng yang sedap aromanya. Bapak sedang pergi jogging bersama kepala desa. Sedangkan kedua opungku asyik berkebun. Mereka yang sudah tua saja sangat bersemangat menyambut hari ini.
Aku mengambil piring dan menuangkan nasi goreng yang mengepul ke dalamnya. Porsi sarapanku pagi ini lain dari biasanya. Piring makanku itu penuh. Maklum aku belum makan dari kemarin siang.
Sedang asyik sarapan sambil menonton acara TV favoritku, Soraya dating ke rumahku dan mengobrol bersama opungku di kebun depan rumahku.
“Nita, Soraya datang nih.” Opungku berteriak memanggilku.
Soraya masuk ke rumahku. Aku mengajaknya ikut sarapan, tapi dia menolak dan mengatakan bahwa putik pohon bunga raya Uwak Loh sudah memerah semuanya. Mendengar itu, aku segera menghabiskan nasi gorengku dan segera berjalan ke rumah Uwak Loh bersama Soraya.
Sesampainya di rumah Uwak Loh aku terpana melihat putik-putik pohon bunga raya itu memerah. Aku berlari menuju balai desa. Balai desa merupakan bangunan tertinggi di desaku yang memiliki 4 lantai bangunan. Aku segera menuju lantai 4 bangunan itu diikuti Soraya. Tampaklah desaku yang damai dikelilingi pohon bunga raya. Putik di setiap pohon itu memerah. Sungguh pemandangan yang sangat ku idamkan.
“Kenapa kau senang kali Nita?” tanya Soraya.
“Aku senang karena saat hari kematianku tiba putik pohon bunga raya di desa ini sudah berwarna merah.”
“Maksudmu?”
“Ya. Aku divonis mengidap penyakit Leukimia oleh dokter Puskesmas. Dan aku diperkirakan akan meninggal hari ini. Aku memndengarnya saat dokter itu membicarakan hal itu sama orang tuaku. Tapi mereka merahasiakannya padaku. “
Soraya terkejut atas jawabanku. “Jadi kau meninggal hari ini?”
“Ya. Kau hitung mundur dari 10 sekarang.” jawabku sambil memejamkan mata.
“10…9…8…7…6…5…4…3…2…1…”
“BRUKK..”
Tubuhku ambruk.
Ya, aku sudah meninggal sekarang. Persis seperti perkiraan dokter Puskesmas tentang hari kematianku. Tapi aku tidak takut, karena keinginan terakhirku sudah terwujud. Aku meninggal saat melihat putik pohon bunga raya terakhir yang belum memerah akhirnya memerah juga.
PENCARIAN
Kuarungi lembah-lembah Fisika
Kulayari hiruk pikuk Matematika
Kuselami seluk beluk tenses penuh warna
Kupandangi indahnya IPA
Kuselusuri belantara Sastra
Ku tak mengerti
mengapa aku di sini
tapi ku terus mencari
sampai kutemukan sendiri
arti pencarian ini
Kuingat dulu
sosok penuh kasih
mengajariku tulis baca
mengajari jari-jari
menari-nari diantara kata-kata
sehingga ku mengenal angka-angka
Kini cita telah di depan mata
Fisika, Matematika, IPA, dan Sastra
tak henti mengajakku bercerita
menemukan pencarian
yang tertunda
KEPADA IBUKU
Setetes keringat
tak berarti
di mataku
Dua tetes keringat
masih tak berarti
di mataku
Sepuluh tetes keringat
sedikit melepas bebanku
Seribu tetes keringat
mengubah kehidupanku
Kau tak tahu
Ibu
beribu tetes keringatku
bukti aku tulus
mencintaimu
TUHAN
Tuhan
andai kutahu
ku takkan bertanya
Tuhan
andai kupunya
apa lagi yang hendak ku minta
Tuhan
andai ku mati
ku takkan bertanya dan meminta
apapun lagi
TAK TERPIKIR LAGI UNTUK BERPIKIR
Entah apa lagi yang terpikir
kulukai lagi siapa saja yang kutemui
Entah lagi apa yang terpikir
kukejami lagi apa saja yang kutemui
Tapi
apa kau sempat berpikir
kau telah
menabur luka dan keji di hati
siapa saja
apa saja
yang kau temui
Aku tak mengerti
mengapa tak berguna hati
tak terpikir lagi untuk berpikir?
NYANYIAN KAUM JELATA
Bola api
di telan surga
tepiskan dunia
laksana bulan
Kita pasti bisa
menampik segala yang ada
walau asumsi mereka
memberatkan pribadi kita
Burung-burung terus juga berkicau
penderitaan lampau tak dirasa
ditelan ombak sahara
metamorfosa kemiskinan
CERPEN
Motor butut kolektor
Suara mesin terdengar sangat jelas di telingaku. Suara yang selalu kudengar setiap hari. Suara yang mungkin dapat memekakkan telingaku. Tapi, suara inilah yang memberiku makan setiap hari.
Motor butut di hadapanku ini sudah entah berapa kali diperbaiki di tempat ku bekerja sebagai montir, bengkel Adinda. Pemiliknya tak pernah bosan memasukkan motornya ke bengkel ini. Sebenarnya motor butut ini sudah waktunya diganti dengan yang baru.
Kulihat motor itu dengan saksama. Kira-kira aku harus mulai memperbaikinya dari mana. Tapi, kali ini aku harus benar-benar angkat tangan. Semua bagian motor itu sudah rusak. Tak ada harapan si pemilik motor dapat mengendarainya lagi.
“Ini sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Semua bagiannya sudah rusak. Tak ada harapan.” akhirnya aku mengatakan yang sejujurnya pada si pemilik motor. Sebenarnya aku tidak tega juga melihat ekspresi sedih di wajahnya.
Kulihat mata si pemilik motor itu berkaca-kaca. Dulu, si pemilik motor itu pernah bercerita bahwa motor bututnya itu adalah peninggalan almarhum ayahnya yang meninggal 30 tahun yang lalu. Saat itu ia masih berumur 10 tahun. Saat itu ayahnya mempunyai uang dari hasil kerja kerasnya bekerja sebagai buruh pabrik rendahan. Keinginannya mengajak anaknya (yang sangat ingin naik motor sampai terbawa mimpi) jalan-jalan dengan menggunakan motor membuatnya tergerak membeli motor butut tahun 60-an. Tapi, saat sedang dalam perjalanan pulang dari pabrik dengan mengendarai motor butut itu, ayah si pemilik motor itu kecelakaan dan merenggut nyawanya. Motor butut itulah satu-satunya peninggalan ayah si pemilik motor itu padanya. Oleh sebab itu, tak heran kalau pemilik motor itu sangat sedih mengetahui keadaan motornya yang sudah tidak bisa digunakan lagi.
Dengan langkah gontai, kulihat pemilik motor itu pergi meninggalkan bengkel tanpa membawa motornya ikut serta.
“Hei pak. Motornya kenapa nggak dibawa?” teriakku memanggil si pemilik motor yang sudah pergi meninggalkan bengkel.
“Sudah. Buat kamu saja.” jawabnya sambil menaiki angkot yang baru saja lewat di depannya.
Aku berusaha mengejar, tapi angkot itu tak dapat kutandingi. Sepertinya angkot itu sedang balapan dengan angkot berjalur dan bernomor sama di sampingnya. Tak ayal, 2 angkot itu saling kejar-kejaran dan berjalan sangat cepat.
Aku kembali berjalan ke bengkel. Kupandangi motor butut di hadapanku. Apa yang hendak kulakukan dengan motor ini? Sebenarnya tekstur motor ini tidak begitu jelek, unik malah. Motor ini cukup antik kalau dijual pada kolektor barang antik. Ah ya, aku jual saja motor ini pada kolektor motor antik. Tapi, apa dia mau membeli motor butut yang sudah tidak bisa digunakan ini? Ah, kucoba sajalah.
***
Akhirnya setelah pulang bekerja dari bengkel, aku memutuskan untuk pergi ke rumah kolektor motor antik dan menawarkan motor butut milik konsumen motor tadi. Tapi, aku tidak membawa motor itu ikut seta karena aku kan naik sepeda butut milikku, mana mungkin aku membawa motor butut itu.
Rumah mewah milik si kolektor telah ada di hadapanku. Segera kumasuki rumah itu setelah meminta izin dan berbincang-bincang sebentar dengan satpam rumah itu.
Agak lama juga aku menunggu pintu rumah mewah itu di buka. Aku melihat si pemilik motor butut di bengkel tadilah yang membukakan pintu. Karena heran, aku segera bertanya padanya,
“Kok bapak ada di sini? Bukannya ini rumah kolektor motor antik?” tanyaku pada sosok di hadapanku.
“Sayalah kolektornya. Ada apa kamu ke sini?” si pemilik motor (yang ternyata kolektor) itu dengan tegas balik bertanya padaku.
“Oh, ya ampun. Maafkan saya. Sebenarnya saya ke sini tadi berniat menjual motor yang bapak tinggalkan di bengkel tadi. Maafkan saya lancang.” jawabku dengan sedikit menundukkan kepala. Aku takut kalau kolektor itu marah padaku karena telah lancang berniat menjual motor peninggalan ayahnya.
“Tidak apa-apa. Motor itu sekarang milikmu. Hak kamu mau menjual motor itu atau tidak. Sebenarnya tadi saat di bengkel, saya menangis bahagia. Ayah saya dulu berpesan, kalau sudah rusak, motor itu boleh saya berikan pada orang lain. Karena walaupun sudah rusak, motor itu memiliki nilai jual yang tinggi.” Kata si kolektor itu dengan sabar sambil mempersilakanku memasuki ruang tamu rumahnya yang mewah.
“Kalau motor itu memiliki nilai jual yang tinggi, kenapa bapak tidak menjual atau mengoleksinya saja? Kenapa bapak malah memberikannya pada saya?” tanyaku antusias sambil menduduki sofanya yang empuk.
Dia tersenyum. “Justru karena motor itu memiliki nilai jual yang tinggilah makanya saya memberikannya padamu. Saya kan kolektor, masa saya menjual motor, seharusnya saya membeli motor. Lagipula ayah saya dulu juga pernah berpesan, kalau sudah rusak, motor itu bukan milik saya lagi. Saya harus memberikannya pada orang yang saya percayai untuk memiliki dan menjaga motor itu. Dan saya percaya padamu. Kamu kan montir, kamu pasti bisa menjaganya. Nah, mungkin pengetahuanmu pada motor masih kurang. Motor itu masih bisa diperbaiki. Kita juga bisa memodifikasinya agar lebih tampak menarik. Ayo.” Jelasnya. Ia mengajakku ke taman belakang rumahnya yang dipenuhi motor antik berbagai jenis dan model. Motor-motor itu terlihat menarik dengan modifikasi yang apik tanpa meninggalkan kesan vintage atau antik. Ajaibnya, sebenarnya motor-motor itu sudah rusak, tapi berkat ketelatenan anak buah si kolektor ini, motor-motor itu masih bisa digunakan.
***
Beberapa hari kemudian…
Motor butut di bengkel Adinda milik kolektor yang sekarang sudah menjadi milikku itu tampak menarik sekali. Saat aku ke rumah kolektor itu beberapa hari yang lalu, si kolektor mengajakku ke taman belakang rumahnya yang dipenuhi motor antik. Lalu, keesokan harinya ia menyuruh asistennya menjemput motor butut milikku ke rumahnya. Ia bersama anak buahnya memperbaiki dan memodifikasi motorku hingga motor itu bisa digunakan lagi dan tampak menarik dengan gaya vintage tahun 80-an.
Sekarang, aku telah siap membawa motor antikku ke jalanan dengan bangga. Berkat kolektor motor antik itu, kini aku memiliki motor bernilai jual tinggi.
BIODATA PENULIS
Nina Khibrani Pasaribu (Dinda), saat ini duduk di bangku kelas X di SMA Negeri 4 Medan. Lahir di Medan, tanggal 4 Januari 1996. Kebiasaan menulis sudah lama ditekuni, sejak kelas 4 Sekolah Dasar. Karya dalam bentuk puisi maupun cerpen sudah dimuat di harian Waspada. Kebiasaan membaca dan menulis merupakan kegiatan yang sering dilakukan di rumah bersama mama (Herni Fauziah) dan ayah (Imran Pasaribu) serta kakak-kakak (Nirma Herfina Pasaribu, Tiana Aurora Pasaribu) yang karyanya juga pernah dimuat di harian Waspada. Karya yang dikirim ini merupakan sebagian karya-karya yang sudah dimuat di harian Waspada. Terima kasih.
Salam Sastra,
Nina
Sunday, 6 March 2011
Wednesday, 2 March 2011
PUISI-PUISI ISLAMI
M. Raudah Jambak
BISMILLAH
bismillahirrohmanirrohiim
demikian kumulakan segala permulaan
sesungguhnya segala perbuatan
dimulai dengan niat
bismillahirrohmanirrrohiim
mulailah dengan langkah kanan
bismillahirrohmanirrohiim
mulailah dengan tangan kanan
bismillahirrohmanirrohiim
perkuatlah dengan husnuzon
bismillahirrohmanirrahiim
enyahkanlah segala suuzon
bismillah adalah ucapan yakin melangkah
hapus segala hujjah, hapus segala resah
anak yang mengerahkan segala pada ibu
pertiwi yang selalu gelisah
lantas, alhamdulillahirobbil'alamiin,
pertanda syukur sepanjang umur
demikianlah, sejak lahirnya anak manusia
polos dan tanpa ikatan, tak ada sepotongpun
yang terbawa dibawah nisan
lantas, mengaca pada masa lalu perlu
tetapi bertindak untuk lebih maju, justru fardhu
dari tanah akan kembali ke tanah
dari air akan kembali ke air
dari angin akan kembali ke angin
innalillahi wa innailaihi roji'un
untuk apa lagi kita saling berbantah
niat ikhlash atas ridho dan rahmat
itu pencapaian memperoleh syafa'at
mari yakinkan langkah dengan bismillah
tanamkan segala pujian hanya pada Allah
semoga segala niat memperoleh rahmah
medan-2004/2005
SERATUS UNTAI BUJI TASBIH
Telah kurangkai seratus untai biji tasbih
Mengurai asmamu dalam amalan dalam ilahi
Anta maksudi waridhoka matlubi
Telah kuangkai seratus untai biji tasbih
Telah kurangkai tapi gejolak jiwa ini
Tak mampu jua menampung tumpahan kerinduan
Yang membanjir air mata
Padahal telah kuarungi keluasan laut semestamu
Padahal telah kukayuh sampan sajadahku
Menuju rahmatmu
Telah kurangkai seratus untai biji tasbih
Telah kurangkai
Bersama takbir
Bersama zikir
Bersama air
Bersama semilir
Bersama musafir
Bersama fakir
Bersama ALLAH.........
Lelaki yang Berdiri Itu
Lelaki yang berdiri
Antara rumah dan mimbarnya
Pada taman di antara
taman-taman di surga
berdiri atas gundukan tanah
bersandar pada sebatang
pohon kurma yang menangis
menyaksikannya naik
atas mimbar dari kayu
laksana unta yang menangis
kehilangan anak
lalu lelaki itu memeluknya
dan berkata
"Mana yang kau pilih
hidup subur dan rimbun
atau menjadi pohonan surga?"
lelaki itu lalu menguburnya
di bawah mimbar empat tingkat
yang kemudian menjadi puing
di peti mati
hanya tercium aroma wewangi
lelaki yang berdiri
antara rumah dan mimbarnya
pada taman di antara
taman-taman di surga
pada hari berbangkit, berdiri
pertama kali, lalu diteruskan
sahabat, imam dan wali
setelahnya yang mendapat
syafaat dan rahmat Ilahi
medan,11-12-04
PUISI M. RAUDAH JAMBAK
SAJADAH BATU
Pada sajadah batu menempel lukisan dahiku
Dengan zikir beribu waktu
Rabbi,
Telah meretas air mataku satu satu
Namun rindu begitu kelu
Pada sajadah batu kuukir ayat ayat cinta
Dari waktu ke waktu
2007-09-15
SAJADAH KAYU
Walau rayap rayap mengerat gigil tulang
Sujudku pada-Mu
Tapi takkan pernah lapuk sajadah kayu
Yang menjelma perahu
Mengarungi lautan do’a-do’a menuju
Dermaga rindu
Ah, akukah itu
Si penebang kayu yang dahaga
Akan embun rahmat-Mu
2007-09-15
SAJADAH API
Ibrahimlah itu yang dikuyupi api api rindu
Menganyam tembikar murka
Abrahah si pengumpul kayu
“Patung besar itulah yang memenggal leher
Tuhan-tuhan mu,” ujarnya berseru
Amuk Abrahah menyulut deru
Dan Ibrahimlah itu yang meng-Imami
Sujud pada sajadah api membiru
07
SAJADAH TANAH
Sunan Kalijaga membentangkan sajadah
Tanah membasah, menggetarkan dada Syekh Siti Jenar
“Telah menyatu aku dengan Tuhanku!”
Mengutil rimah-rimah amarahnya
yang berdarah darah
O, siapakah yang memautkan
Zikir cacing pada bebal leher terpenggal
Di bujur sujud yang tersungkur?
07
SAJADAH AIR
Digelembung zikir sajadah air, Musa
Menjambangi Khaidir sebelum menyeberangi
Laut senja, lalu kata-kata dipecah dalam
Bilah bilah
Dan perahu itu
Dan anak itu
Dan rumah itu
Pada sujud air sajadahpun air
Mengalir, membulir
07
SAJADAH UDARA
Menapaki Haram menuju Aqsa adalah
Hijaiyah bagi hati yang resah
Lalu, memebentanglah sajadah
Pada sujud udara menjemput cinta-Nya
Telah ku salatkan dunia merantai jahiliyah
Yang tak sudah sudah
Ya, Rabbi
07
Iqra’
:bacalah dengan nama Tuhan-mu yang menciptakan
Pada masa yang penuh benalu seluas tanpa batas
Allah,izinkan aku untuk tetap bernaung dalam asma-Mu
Setegar zikir rerumputan menyulam suara azan
Yang bergema di lingkaran semesta tak terhingga
Sebab dalam ketenangan yang mengambang
Dingin terasa meluluhlantakkan
Sebab dalam keheningan yang mengawang
Bisu begitu membekukan
Sebab dalam kehampaan yang menerawang
Api berkobar-kobar menghanguskan
Aku telah mengunyah-kunyah
Segala tipu daya yang meledakkan kebenaran
Dalam kesumat dan tak jelas batasnya
Dalam sujud aku arungi lautan taubat
Naungi dan peluk kami pada kehangatan
Illahi anta maksudi
Wa ridhoka matlubi
Tuhanku,
Pada masa yang berwarna abu-abu membekas
Di kanvas jiwa, perhelatan telahpun dikunjungi
Deraian air-mata yang mencekik nurani,
Menulikan telinga dari lantunan ayat-ayat cinta-Mu
Tentang sepotong pesawat bagai burung-burung yang
Menggapai-gapai makrifat di bandara surga-MU
Tentang sebongkah kapal, bagai lumba-lumba yang
Menelusuri maqom di pulau penuh sungai susu
Tentang sekeping kereta-api, bagai kura-kura yang
Bermunajat sepanjang stasiun hati ber-aura biru
Atau tentang muntahan, debaran, deburan, dan
Zikir dari perut-perut bumi
Bukan tak tersulam niat membungkus
Bongkahan syahwat dan karang muslihat
Membesar-memadat, membesar-memadat
Dalam sujud panjang tak berkesudahan
Naungi dan peluk kami pada kehangatan
Illahi anta maksudi wa ridhoka matlubi
Amboi,
Pada masa yang penuh belatung, virus
Dan kuman-kuman ini ajarilah kami meneguk
Setetes demi setetes embun keikhlasan dari
Segelas derai air-mata kami, derai air-mata
Kecintaan sepenuh nurani
Jangan lenakan kami dalam kebatilan
Yang membutakan
Jangan mabukkan kami dengan khamar
Yang meluluh-lantakkan
Jangan hilangkan segala kesadaran
Yang melenyapkan-tanpa bekas
Selalu kukayuh sampan sajadah
Mengarungi lautan penuh ombak,
Penuh onak, menghindari bongkahan
Karang-karang keangkuhan yang teramat tajam
Dalam sujud yang beringsut-ingsut
Naungi dan peluk kami pada kehangatan
Illahi anta maksudi wa ridhoka matlubi
Maka,
Setelah kubaca masa-masa penuh benalu
Berwarna abu-abu yang penuh belatung,
Virus dan kuman-kuman, dengan nama-Mu
Yang menciptakan: naungilah dan peluk kami
Dari teror kemaksiatan, serta persekutuan kesesatan
Agar tetap taffakur dalam syukur, dalam membaca
Rasa cinta sesama
Kutubul amin, 22 Januari 2007
PADA RUKUK AKU TERBUNGKUK PADA SUJUD AKU MAUJUD
Oleh : M.Raudah Jambak
Malam ini, sajadah telah dialiri sungai air mata, do’a-do’a
Berembun diujung lidah yang jatuh dari daun-daun tasbih
Sementara angin khusuk memeluk degap rindu yang hampir
Membeku. Entahlah, rapal kaji tak juga sampai ke hati atau
Cinta yang bertuba di jelaga
Pada setiap baris ayat, kabar pun telah disampaikan. Jiwa yang
Kosong hanyalah gudang tua yang kehilangan cahaya dan tempat
Bersemayamnya para pendosa. Tetapi butir-butir wudhu’ yang bergulir
Adalah kerjap cahaya yang siap berpijar pada taman yang telah lama
Tak bertuan
Dan malam ini, gelap hanya mengantar subuh yang selalu membasuh
Dahaga para pemburu nasuha, yang melentikkan setiap jentik zikir
Di setiap iring-iringan takbir. Harap hanya sebatas kerinduan yang
Mengawan, rindu adalah harap yang mengerjap dalam degap, sebab
Pada rukuk aku terbungkuk pada sujud aku maujud
Medan,2007
Kun
Jadilah!
maka jadilah ia
bukan batuknya ternyata
tapi degup jantung yang
mengeras tiba-tiba
dan muntahan dari bibir
yang menggila
Jadilah!
maka jadilah ia
dan do'a yang menjawab
segala
maka,
Kun!
medan,06
Demi Masa
Demi yang menguasai gugur daun daun
adakah hijau bersembunyi pada kerontang
pikiran?
Demi pemilik mata air mengalir
adakah kekeruhan terendap pada danau
hati?
Demi Sang Maha Pencipta manusia
adakah pria dan wanita diharuskan
bebas berbuat suka-suka?
Medan, 2006
LANGKAH – LANGKAH
Suara azan yang mengumandang di batas cakrawala
Adalah asap yang menggumpal – gumpal menjadi
Seonggok awan hitam , di antara
Mendung – mendung
Dan menjadi hujan dalam mataku.
Suara azan yang mengumandang di batas cakrawala
Adalah kemarau yang menyengatkan bisa – bisa
Teriknya dan menusuk jantung – jantung
Hingga berdarah , dan seketika detik – detik
Kematian menyelimuti jiwaku.
Suara azan yang mengumandang di batas cakrawala
Menjadi limbah pada pabrik – pabrik kemaksiatan
Adalah bibit penyakit yang mengatupkan
Segala urat syaraf dan nadi – nadi darahku
Menyumbat mulutku karena tak terbiasa
Melafaskan asma – Mu
Suara azan itu adalah
Langkah – langkah kakiku
Yang terseret satu – satu.
Puisi M. Raudah Jambak
AMSAL MUHARRAM
Allah ,
Hari – hari yang tersusun dalam hurup – hurup keabadian
Pada langit , pada bumi , pada bintang ,
Pada tanah kelahiran adalah
Hijaiyah pergantian musim ke musim
Bermula dari Adam yang mempersunting Hawa
Dalam surga
Lalu , lahirlah pasangan Kabil , lahirlah pasangan Habil
Dalam belantara dunia
Allah ,
Seperti hiasan langit yang gemerlapan
Menjadi cahaya alam semesta jiwa
Adalah Ibrahim yang mencari Sang Pencipta ,
Lalu menunggu kelahiran Ismail tiba
Yang hampir terbentur dalam usia senja Siti Hajar ,
Istrinya dan Allah kembali menguji ke – Imanan
Dalam qurbannya
Allah ,
Dalam lidah cakrawala yang terikat
Bendera – bendera curiga di antara batu karang nafsu
Dan keserakahan dunia lahirlah putra cahaya
Dari rahim Aminah berbapa Abdullah
Muhammad Rasulullah merobah peta suram dunia jahiliyah
Puisi M. Raudah Jambak
Melepas Do’a Air Mata
Sepeninggal tsunami
Kami rangkai do’a air mata tanpa tabur bunga
--sepanjang ziarah, seluas samudera
tetesnya tercipta
menyantuh lembut pipi para bocah
yang tengah mengundang cakrawala
tetesnya tercipta
melepas saudara – saudara kami
yang tertimpa bencana
tetesnya tercipta
menjelma busur zikir yang melesat,
meretas segala jarak
: dari banda sampai Mandrehe
dari kamala sampai barwalla
dari batin sampai perih mata
sepeninggal tsunami
kami lepas do’a air mata tanpa tabur bunga
kami hembuskan aroma surga – liwa
buat saudara – saudara yang tertipa bencana
-- sepanjang ziarah, seluas samudera
SEHABIS KHATAM HUJAN
Sehabis khatam hujan pada ayat terakhir perjalanan
Debudebu kota telahlama membatu, melafazkan
Gemertak almanak yang melangkah kaku sepanjang
Alif ba ta cinta
Lalu sepenuh daun kering menguning menyesakkan keranda
Luka di bawah deraknya pohon kamboja, dan kita bertanya
Kembali pada cuaca,”adakah kita tuliskan catatan-catatan
Surga?”
Medan,05
Ku Anyam Sebaris Do'a Dengan Hiasan Tahlil Sederhana
Ku anyam sebaris do'a dengan hiasan tahlil sederhana, di awal Ramadhan, pada november luka
bagi saudara-saudara yang tertimpa bencana
dan air mata membersihkan sisa-sisa cinta
yang sempat mengembang di Bukit Lawang
Pada derai air mata, aku rangkai berbagai
aneka bunga do'a, yang sempat mengangkasa
terbang di taman sajadahku bersama untaian
tasbih yang merindu
Ku anyam sebaris do'a dengan hiasan tahlil sederhana bagi saudara-saudara
yang mengeram di antara gelondongan
bersama sungai bukit lawang
dalam sujud panjang yang tak berkesudahan
Medan,03-04
Adalah rahasia dalam rahasia
mustika hati kasih adalah kata yang kau tenun
dan rasa dalam bulan purnama memecah sinar
dan binar angkara di jagad sengketa
adapun tamadun terbelah sudah,
adapun kurun berlelehan darah
dan sukma takberpantai, kekasih
selindang iman terpendam dalam-dalam
desir angin subuh membawa tualang
ke haribaan Ilahi bermakna wujud?
di sini terpampang hakikat langit
dan makrifat menyatu di purnama sabit
sayap musim dalam setaman angin terketar
membawa pusar tak bernama
tataplah cahaya dalam cahaya,
nur muhammad yang utuh, maka takkan kau bawa gaduh
dari musim ke musim, kau tak yakin bahwa
kemilau syahdunya merenggut gosong menungmu
tataplah rahasia dalam rahsia
Allah!
2006
Aliran Cahaya
tahan sengketa untuk sementara
mari kita bagi-bagi cahaya
alirannya sudah sampai pada iman
yang paling kelam
puasakan hati, pikiran dan lisan
dari dendam dan segala kemungkaran
niscaya jiwa terjaga segala satwasangka
terlindung cahaya yang paling benderang
tahan sengketa di bawah puncak
keabadian yang paling hitam
mari kita bagi-bagi cahaya
dari alirannya yang paling tentram
medan,2006
Ramadhan Ya Ramadhan
adalah hati yang lebih abadi
melahirkan cinta sang pencipta cinta
aduh, betapa tubuh begitu ringkih
jiwa usang berjuta melahirkan letih
ramadhan ya ramadhan
kemana resah do'a hendak ditumpah
selain di selembar sajadah basah?
kemana zikir terus digilir
selain pada biji tasbih yang berlebih?
kemana takbir diteriakkan dalam sir
selain tenggelam dalam derai tangis fakir?
adalah hati yang lebih abadi
melahirkan nur muhammad yang abadi
pada resah do'a di sajadah basah
pada gilir zikir pada biji tasbih berlebih
pada teriak takbir fakir-fakir
medan,2006
Suatu Hari Aku Bertemu Dengan Diri Sendiri
suatu hari aku bertemu dengan diriku sendiri, terpaku di atas sajadah basah. Tafakur menabur resah pada Allah tak ada sepotong kata gairah tak ada seiris kata bahagia tak ada setitik warna cahaya suatu hari aku bertemu dengan diri sendiri, betapa anehnya raudah di atas sajadah. Tafakur seperti orang-orang yang tergusur tak ada sepotong pun kata makmur tak ada seulas ceria tak ada sebutir apa-apa suatu hari aku bertemu dengan diri sendiri, rasa malu tak terbendung lagi. Tak terbendung lagi Subhanallah!
Medan, 06
REQUIEM KEBANGKITAN
Ruh saudara-saudara kami
ruhnya Muhajirin
yang hijrah
singgah
di negeri Anshor
Robbi,
betapa luka begitu menyayat
sepanjang hayat
seperti rintihan seudati
memapah saman
dari zaman ke zaman
seperti erangan hombo
melompati batu
dari waktu ke waktu
Saudaraku,
jangan pandangi cemas
yang menganga di tepi cadas
yang menguap di udara
yang hanyut di antara lumut
sebab,
akan kau temukan gairah keabadian
di pusaran warna-warna
maut hanyalah selimut
yang mendekap hangat
para Muhajirin
yang hijrah ke negeri angin
menggilir zikir
sepanjang takbir
Ruh saudara-saudara kami
ruhnya Muhajirin
yang meminjam jubah tsunami
menuju negeri tabi'-tabi'in
di antara nadi luka
di antara syair yang merintih
di antara erangan tertahan
Robbi,
betapa luka begitu menyayat
sepanajang hayat, tapi
bangkitkan semangat jiwa
saudara kami
agar terus melukis pelangi
pada kanvas hati
bersama
'Illahi anta maksudi
wa rdhoka matlubi...
medan , 2005
PERAHUKU BERDERAK DI HAMPARAN DO’A YANG TAK BERTEPIAN
perahuku berderak diketuk-ketuk riak,
diombang-ambingkan ombak, entahlah
kukembangkan jua layar do’a dalam elusan angin
yang menggebu
kukutip butir-butir embun dari daun-daun senja
udara terasa semakin menua pada keriput
awan kelam yang diam, lalu bersama rintik langit
yang menitik anginpun berhenti sejenak di tepian
pantai yang pasang menyambut malam, perahuku
masih berderak di ketuk-ketuk riak
ah, betapa harap ini memeras air mata, jatuh
di ribuan buih laut yang mengeram, perahuku
masih diombang-ambingkan ombak
pada ini
lukisan pantai semakin landai di rimbunan
pasir yang berambut sarat beban pada kanvas
gelombang petang dan biru yang tentram,
biru yang berpaham di hamparan do’a yang
tak bertepian
malam mengetuk-ketuk pintu dan jendela pada
ruang yang lengang, angin melahirkan sunyi
dari lorong-lorong tak bernama
rahimmnya berderak menerjang celah jendela kaca
purnama nyalang mata di rerimbunan pohon mangga
cahayanya menembus segala lara di malam siaga, mengenang
siang tak lama berpulang. angin masih menimang-timang
sunyi dalam gendongan bermotif bunga-bunga
ah, waktu hanya menghitung-hitung rindu di kalender cuaca
lalu satu persatu tanggal usia, angin pun semakin tua pada
pertumbuhan sunyi yang beranjak dewasa sepanjang perjalanan
do’a-do’a
medan, 2007
DAN SEGALA CINTA PUN MELEPASMU
Dan bertasbihlah burungburung bersama maut
yang menjemputmu menuju dunia keabadian
dan berzikirlah hamparan rerumputan bersama
sederet lukaluka ditubuhnya pada rebah tubuhmu
dan awanawan ikut taffakur menaungi segala suka
segala duka diiringiringan jenazah putihmu
dan mentiklah hujan disudutsudut mataku mengenang
segala cinta yang pernah berharap akan restumu
Nur Hilmi Daulay
MUHASABAH
Dan bukit-bukit mengecap sunyi pada keheningan terpekat,
Menunggu satu detik yang mengantarkannya pada satu tahun berikutnya
Dan detak jantung yang berjalan menggandeng jarum jam itupun bersaksi,
Pada ingatan yang teracik menjadi catatan kecil terbesar tahun ini.
Tahmidnya menggema menyibak malam,
Saat memorynya menghadiri pesta rakyat, kali ini tanpa darah
Karna Negri ini telah lama lelah, lidahnya tak ingin lagi latah menjilati tinta merah yang berkali-kali tumpah dari jiwa-jiwa penghuninya
Lalu bulu kuduknya berdiri,
Dengan enggan diketuknya memory tragis yang menyaksikan dirinya tertimbun pada puing-puing bangunan dengan airmata menembus lumpur, menyetubuhi air bah.
Dan jantungnya masih berjalan bergandengan dengan jarum jam
walau entah berapa ratus ribu jantung telah diam, bungkam
Ia terpekur,
Menengadahkan kepala menatap lurus menembus jantung cakrawala,
Tapi bulanpun terlihat keruh
dan bibirnya
dan hatinya
dan jiwanya
berpeluk erat pada muhasabah yang nyaris hanyut dalam laut yang gemeretak dengan amarah membirahi
Dan..
helaan nafasnya bertasbih menggaung tembus ke bukit-bukit yang mengecap sunyi pada keheningan terpekat.
Pada satu detik yang berlalu beberapa puluh detik yang lalu, mengantarnya duduk dalam I'tiraf membuka tahun berikutnya
Matanya nanar menatap bulan yang kian keruh-
Dan pemiliknya tak pernah keruh,
Ia luluh04-medan
Hasan Al Banna
BELUM JUGA, NAK
maka selamat jalan, anakku. selamat berjuang
sebab hari ini
kita belum juga merdeka
bukan, bukan belanda yang datang menyerang
tidak, tidak jepang yang kembali menerjang
tapi sanak sendiri yang mengangkang
menghadang
dengan senjata terkokang
tapi jangan takut, anakku. jangan surut
sebab kulahirkan kau
bukan sebagai pengecut
itu terik yang memanggang
itu hujan yang merajang
itu peluru yang mendesing-melintang
adalah buai-sayang yang membawamu pulang
ke rumah atau bahkan ke liang?
lantas jangan menyerah anakku, jangan kalah
sebab sepercik doa
telah kusulut di sumbu darahmu.
Medan, 2003-2004
Sajak Indrian Koto
Lebaran Untuk Seorang Perempuan
lebaran, suatu waktu saat di mana sajadahku
basah oleh sesal dan duka lara
- sungguhkah aku kembali suci sebagaimana matamu
yang bening dan kekanak-kanakkan?
setiap putaran waktu, akan mengembalikan sepenggal kisah
yang sama dan berulang;
dan lebaran.
tapi tidak kisah ini, serupa mimpi –duhai, bagaimana
aku memulai? ia, waktu yang berkelindan itu, suatu kali
mengungkungku dalam birahi –ramadhan, di mana
setan-setan istirah – kami menjelma sepasukan setan lain
yang sama liar, sama kurang ajar –apakah bernama setan?
lebaran saat di mana semua orang merasa suci, tapi aku
sedikit sangsi, adakah yang akan terkelupas
dari kenakalan remaja yang sedikit tolol ini?
pagi itu, adalah sebuah waktu yang kelak
akan kami kutuk. lebaran masih jauh, tapi sukacita
sedang kami rayakan dengan cara
yang paling dasyat. setelahnya, kami purapura melupakan
penyesalan tak begitu saja menyelesaikan
banyak kisah, setelahnya tuhan mengirimkan kami
bingkisan yang muram dan lebaran adakah dosadosa akan ditanggalkan?
dan kau, sepasang matamu yang bening dan kanakkanak
tak cukup menyelamatkanku dalam harubiru
“setiap soal, setiap beban adalah perihal yang
membesarkan.” aku tak cukup kuat menafsir ulang
banyak kisah; lebaran ini, kerinduanku dibalut gunda dan luka.
kau menafsirnafsir lukaku dan aku sedikit
berpurapura menceritakan kerinduan yang dangkal; wajah ibu,
aroma kampung, lemangtapai, ketupat dan irama takbir
tapi, rahasia itu tetaplah terus terjaga
yang barangkali kelak akan kau tau juga, saat di mana
aku tak bisa merangkulmu lagi
- jika kau benarbenar pergi.
“jangan pergi dulu,” kataku di malam itu. “ikutlah bersamaku
kita akan rayakan keriuhan di jalanjalan, di alunalun sampai
kita muak dan muntah dengan sedikit sesal yang tertunda”
ramadhan telah usai, adakah besok, waktu yang lain
akan mempertemukan kita serupa peristiwa ini?
sebab kelak, mungkin kita tidak akan menghabiskan waktu
di jalan ini lagi. barangkali aku akan berada di tempat tersunyi
dan kau sedang menyandarkan kepala di bahu entah siapa
"itu kau," katamu dengan mata yang serupa malam
tapi tidak, kita tak beranjak
kita samasama berdusta, ”tinggallah di rumah,” katamu,
“kita akan makan ketupat dan dari dalam akan kita dengan irama takbir.”
kali ini aku menjadi manusia yang sedikit patuh, setidaknya
untuk sepiring ketupat. dan kita bercerita sesuatu yang cengeng;
tentang rumah masa depan, kata seorang kawan.
jika kata adalah doa sunggukah ia akan ada?
oh, celaka! banyak hal yang begitu rahasia. dan kami
yang tak pernah kuceritakan padamu adalah peristiwa konyol
yang entah akan selesai di mana –katakanlah, bagaimana aku bisa
meninggalkanmu jika bau rambutmu terus mengejarku.
malam itu – setelah pesta kecil itu – kau menghibur
kecengenganku dan aku berdusta padamu tentang
semua kerinduan itu. “aku ditinggalkan banyak waktu,
ditinggalkan banyak kisah.” kataku.
“setiap orang tengah mencipta peristiwa lain
atau menyambung kisah yang lama.”
“dan aku ingin punya persoalan denganmu saja.”
kataku dan kau tertawa
inilah rahasianya: setiap orang, setiap kita punya peristiwa dengan
banyak orang. ini rumit dan ini jauh lebih rumit. dan kami, suatu waktu
-ah, betapa aku menjadi tolol– menjalin peristiwa kecil
yang menyesakkan.
dengarlah, aku tulis puisi ini untukmu
sebagai isyarat keberangkatanku. sebagaimana kau tak datang
di hari pertama lebaran ini. “menziarahi waktu. mengunjungi setiap orang yang
mencatat peristiwa denganku.”katamu.
“dan aku, tidakkah juga perlu sebuah ziarah?’
“ah, kau kan kisah yang lain, koto!” –atau tidak terlalu penting?
“enak aja! untukmu akan ada peristiwa lain yang sedikit berbeda.”
-ah, bukankah selalu berbeda. Serupa apa?
dan aku sakit. lalu rumah redup dari bayangku
masa kanak lindap oleh peristiwa kecil dan tuhan tengah mengucapkan
selamat lebaran padaku. tidakkah kau tahu?
ah, kau tak akan pernah tahu,
- atau adakah tengah menjelma kekasih wahai perempuan
yang kukenal lewat sebait puisi.
dan tuhan kembali mengirimkan kartu pos dan bingkisan;
dosa dan dirimu.
Di antara itu semua akan adakah kita?
poetika, 2006
Bayang-bayang Nabi
(Oleh Kang Jaz)
________________________________________
Ya Rasulullah, apa yang harus dilakukan para pemimpin ?
"Membela yang lemah dan membantu yang miskin" jawab Nabi.
Ya Rasulullah, apa yang harus dilakukan ulama ?
Memberi contoh yang baik dan mendukung pemimpin
YAng membela orang - arang lemah" jawabnya
Ya Rasulullah ... apa yang harus dilakukan orang-orang lemah dan miskin ?
"Bersabarlah, dan tetplah bersabar
Jangan kau lihat pemimpinmu yang suka harta
Jangan kau ikuti ulamamu yang mendekati mereka
Jangan kau temani orang-orang yang menjilat mereka
Jangan kau lepaskan pandanganmu dari para pemimpin dan ulama yang hidupnya juhud dari harta"
Ya RAsulullah... Pemimpin seperti itu sudah tidak ada
Ulama seperti itu sudah menghilang entah kemana
Yang tersisa adalah pemimpin serakah
Yang tertinggal adalah ulama-ulama yang tama'
Banyak rakyat yang mengikuti keserakahan mereka
Ummat banyak yang meneladani ketamakan mereka !
Apa yang harus aku lakukan, Ya... RAsulullah !
Siapa yang harus aku angkat jadi pemimpin ?
Siapa yang harus aku ikuti fatwa-fatwanya ?
Siapa yang harus aku jadikan teman setia ?
"Wahai ummatku...
Tinggalkan mereka semua
Dunia tidak akan bertambah baik sebab mereka
Bertemanlah dengan anak dan istrimu saja
Karena Allah menganjurkan, "Wa 'asiruhunna bil ma'ruf"
Ikutilah fatwa hatimu
Karena hadits mengatakan, "Istafti qalbaka, wa in aftaukan nas waftauka waftauka"
Dan angkatlah dirimu menjadi pemimpin
Bukankah, "Kullulkum Ra'in, ea kullukum masulun 'an ra'iyyatihi ?"
Wajahmu
(Kitab Cinta Rumi)
________________________________________
Mungkin kau berencana pergi,
seperti ruh manusia
tinggalkan dunia membawa hampir semua
kemanisan diri bersamanya
Kau pelanai kudamu
Kau benar-benar harus pergi
Ingat kau punya teman disini yang setia
rumput dan langit
Pernahkah kukecewakan dirimu ?
Mungkin kau tengah marah
Tetapi ingatlah malam-malam
yang penuh percakapan,
karya-karya bagus,
melati-melati kuning di pinggir laut
Krinduan, ujar Jibril
biarlah demikian
Syam-i Tabriz,
Wajahmu adalah apa yang coba diingat-ingat lagi oleh setiap agama
Aku telah mendobrak kedalam kerinduan,
Penuh dengan nestapa yang telah kurasakan sebelumnya
tapi tiada semacam ini
Sang inti penuntun pada cinta
Jiwa membantu sumber ilham
Pegang erat sakit istimewamu ini
Ia juga bisa membawamu pada Tuhan
Tugasku adalah membawa cinta ini
sebagai pelipur untukmereka yang kangen kamu,
untuk pergi kemanapun kaumelangkah
dan menatap lumpur-lumpur
yang terinjak olehmu
muram cahaya mentari,
pucat dingding ini
Cinta menjauh
Cahayanya berubah
Ternyata ku perlu keanggunan
lebih dari yang kupikirkan
Keindahan Fantasi Cinta
(Al Muktashim)
________________________________________
Riuh... ramai... gaduh... dan penuh kegembiraan
Taman hati berwarna warni
Panggung rumah paru-paru berdiri kokoh
Kolam cinta mengalir indah keawan kasih
Badan terasa sejuk...
Segar tak terkirakan
Rumput selaput nadi bergoyang lembut
Di tiup angin cinta sejati
Burung camar jantung menukik pelan
Hinggap di pohon tulang iga putih
Matanya melihat kearah taman hati
Pandangannya terpesona oleh pemandangan cantik
Bidadari cinta dan pangeran kasih sayang
Bersenda gurau diangan yang tinggi
Hati pun gembira...
Jiwa pun lega...
Ya Allah...
Abadikan keadaan ini
Agar menjadi pedoman
Bagi hati yang saling menyatu
Mentari sanubari tersenyum riang
Alam jiwa bergembira ria
Serentak...
Jiwa0jiwa riang berdansa di sekitar taman hati
Oooh...
Indahnya fantasi cinta
Keagungan Ilahi
(Al Muktashim)
________________________________________
Ratu malam sang rembulan
Raja siang sang matahari
Keduanya selalu bertentangan,
Tarik menarik
Dorong mendorong
Saling menguasai,
Seolah selalu bertanding tiada henti
Tiada yang kalah
Tak ada yang menag,
Karena dengan kedua sifat yang bertentangan ini
Seluruh alam semesta bergerak!
Dunia berputar,
Saling mengisi,
Yang satu melengkapi yang lain
Tanpa yang satu
Takkan ada yang lain,
Siang dan malam
Terang dan gelap
BAik dan jahat
Tanpa yang satu,
Apakah yang lain itu akan ada?
Tanpa adanya gelap,
Dapatkah kita mengenal terang?
Inilah sebuah kenyataan
Yang telah dikenhendaki Allah
Tanpa kehendaknya, takkan terjadi apa-apa
Dawai Sang Sufi
(Al Futuhat)
________________________________________
Hidup adalah ibadah
Dalam ayat-Nya Allah berfirman,
Wama kholaqtul jinna wal insa illa liya'bududun
Lama aku tidak percaya dengan ayat ini
Fikirku aku hanya disuruh shalat, puasa dan dzikir
Apalagiketika aku berfikir tentang ayat,
Wa'bud robbaka hatta ya'tiyakal yakin,
Demi Allah, aku tidak sanggup untuk beribadah terus menerus...
Aku bingung
Aku takut
Aku lari dari pendapatku sendiri
Suatu hari aku bertanya kepada guruku
Guruku mengatakan, "Tidak salah pendapatmu, tapi kurang".
Ketahuilah.....
Dalam ayat lain Allah juga berfirman
Wala tansa nasibaka minaddunya
Dan La yukallifullahu nafsan illa wus'aha
Jelas Allah tidak hanya menyuruh kitauntuksholat dan puasa
Allah juga menyuruh kita untukmencari dunia
Bahkan Allah melarang kita untuk membebani diri kita dengan beban yang berat
Sehingga kita tidak mampu memikulnya
Walaupun itu ibadah
Ketauhillah.....
Ibadahitu bukan bentuk lahirnya
Banyak perkara dunia yang berubah menjadi amal dunia karena niat
Banyak perkara yang kadang menurut kita tidak ada nilainya tetapi
Disisi Allah sangat berharga
Engkau makan,minum, tidur, cari nafkah, menikah
Tetapi di niati untuk menguatkan ibadah
Itulah arti Wama kholaqtul jinna wal insa illa liyakbudun
Dan engkau dapat istiqomah sholat, puasa, dzikir
Dengan bantuan makan, minum dan menikah
Itulah artiWa'bud robbaka hatta ya'tiyakal yaqin
Jikaengkau sholat, puasa tetapi tidak makan dan minum
Pasti engkau akan mati
bukankah ini bunuh diri dan jelas tidak ibadah ?
Engkau hanya sholat, puasa dan dzikir tetapi tidak menikah
Sehingga suatu ketika terjerumus zina, apakah arti semua ibadahmu ?
Ingatlah Allah pencipta manusia dengan ukuran dan aturan
Janganlah engkau mempertahankan kebodohanmu
Janganlah engkau hancur hanya karena pemahamanmu yang salah
Dan ingatlah pesan Allah Alladzina yastami'unal qoula
Fayattabi'una ahsanah.....
Orang-orang yang mendengarkan pendapat
Kemudian mengikuti pendapat yang paling bagus
Merekalah yang diberi petunjuk Allah
Dan merekalah orang-orang yang beruntung.....
FIRMANMU
Oleh:Aby Al Kahfie.
Ya ALLAH
Dua FirmanMU Yang Selalu Mengonyak Sobek
Pedih Perih Terasa Luka Dalam Menyayat Hati
Tak Mampu Ku Tahankan Gejolak Tangis
Terisak pilu Rindu AkanMU
Mengingat TuturMU Yang Kian Terabaikan
Satu Pilu Berjuta Resah Akan FIRMANMU
WAHAI SEKALIAN MANUSIA APA YANG MEMBUATMU
BERLAKU DURHAKA PADA TUHANMU
Sentak serontak Bergoncang Hati
Dalam Tangis Meratap Pilu
Satu Tangis Berjuta Pilu Akan QUDSIMU
WAHAI ANAK CUCU ADAM, KEBAIKANKU SELALU TURUN KEPADAMU
NAMUN KEJAHATANMU SELALU NAIK PADAKU
Refleks jiwa Meronta Hati
Memaki Diri Menuai Sedih
YA ALLAH
Nilailah Aku DAlam Dhoifku
Ku Ingin Kau Dalam Kesendirianku
Ku Rindu Kau Dalam Kesepianku
Ku Pilih Kau Di Antara mereka
Mendera Tangis Ketika Kau Abaikan.
YA ALLAH
Tersingkapnya Pelataran SinggasanaMU
Menjadi SAtu Pinta Tempat
Agar Ku Bisa Menyempurnakan SEMBAHKU
Ketika Tabir Mulai Terbuka Dari Segala KekuasaanMU
PINTAKU
YA ALLAH
Jadikan Aku Dalam RahmatMU Ketika KU Butuh
Jadikan Aku Dalam Sepiku Menjadi KawanMU
Jadikan Aku Dalam PETUNJUKMU KETIKA Ku Tersesat
Jadikan Aku Dalam IBADAHKU Menjadi kekasihMU
YA ALLAH
AKU dan PINTAKU
BERSERAH HARAP PADAMU.
Puisi-puisi Karya Pusriza
Sajadah Air Mata /1/
Ketika rusuk tubuh menggigil ngilu
dicambuk brikade pasukan langit
peluh mengucur berbau nanah
pada pori-pori nista
isi kepala semak dengan nafsu dunia
batin ternoda berteriak:
ampun Tuhan
jiwa-jiwa keruh berguling
merayap mengais raung:
kami insyaf Tuhan
lantas jiwa-jiwa keruh dengan sedunya
bersujud pada sajadah air mata
Tembung, September 2007
Sajadah Air Mata /2/
Tuhan, hamba-Mu larut dalam kelam
berjalan mencari penerang
pada sudut-sudut yang gamang
dalam perjalanan
maksiat tertelan menjadi sarapan
entah berapa dusta yang terkunyah
entah berapa nista yang menjadi darah
tapi, Tuhan
aku tetap mencarimu
walau di atas sajadah
menjadi telaga air mata
Bilal, September 2007
Sajadah Air Mata /3/
Pada malam bergelayut alunan
zikir di bibir basah
seorang muallaf yang merindu
buah makrifat
menganyam untaian tasbih
illahi dalam hatinya
dengan linangan air mata atas sajadah
menuju sujudnya.
Sunggal, September 2007
Puisi-puisi Karya Pusriza
Sajadah Air Mata /4/
Maka jatuhlah bulir-bulir
air mata di atas sajadah
pada akhir doa
seorang pemuda yang
memetik buah taubatnya
Medan, September 2007
Sajadah Air Mata /5/
Rizka, tidurlah
bentangkan air mata itu
di atas sajadah
kemarilah sayang
beri kecupan dengan bismillah
biarkan ayat-ayat Tuhan
membasuh tidur kita
berselimut Hamdalah
Medan, September 2007
Sajadah Air Mata /6/
telah kualirkan sungai air mata
pada muara sajadah yang resah
sebab Kau menyapa kami dalam lupa
lalu hadiahkan gempa berbalut gelisah
sebab Kau menegur kami dengan cinta
lalu titipkan bencana yang tak sudah-sudah
telah kualirkan sungai air mata
pada muara sajadah yang resah
tapi, kami hamba yang selalu
mengharapkan rahmat-Mu
tak sudah-sudah
Medan, September 2007
Puisi-puisi Karya Pusriza
Sajadah Air Mata /7/
kemana sajadah air mata kubentangkan
di simpang jalan anak kecil menengadah tangan
kemana sajadah air mata kubentangkan
di bawah lampu merah ibu renta yang
terbungkuk-bungkuk memegang mangkuk
Sunggal, September 2007
Sajadah Air Mata /8/
walau di atas sajadah
hujan air mata
membentuk telaga
walau di atas sajadah
waktu terus menggebuk
remuk
tetapi, Tuhan
di atas sajadah
aku merindu cinta-Mu
merengkuh tubuhku
Sunggal, September 2007
Sajadah Air Mata /9/
Takkan terganti sajadah air mataku
dengan 1000 dinar
walaupun api membakar tubuhku
menggelegar bagai nar
Takkan terganti sajadah air mataku
dengan 1000 dinar
walaupun istana kau bangun
dengan muslihat dunia
yang berbagai rupa
Sunggal, September 2007
Puisi-puisi Karya Pusriza
Sajadah Air Mata /10/
Ibu, diantara doa-doamu
kau menyebut nama anak-anakmu
lalu kau bersujud
diatas sajadah bersama
bulir-bulir air mata
tapi, ibu
biarlah aku mengganti
sujudmu pada sajadah air mataku
Sunggal, September 2007
BISMILLAH
bismillahirrohmanirrohiim
demikian kumulakan segala permulaan
sesungguhnya segala perbuatan
dimulai dengan niat
bismillahirrohmanirrrohiim
mulailah dengan langkah kanan
bismillahirrohmanirrohiim
mulailah dengan tangan kanan
bismillahirrohmanirrohiim
perkuatlah dengan husnuzon
bismillahirrohmanirrahiim
enyahkanlah segala suuzon
bismillah adalah ucapan yakin melangkah
hapus segala hujjah, hapus segala resah
anak yang mengerahkan segala pada ibu
pertiwi yang selalu gelisah
lantas, alhamdulillahirobbil'alamiin,
pertanda syukur sepanjang umur
demikianlah, sejak lahirnya anak manusia
polos dan tanpa ikatan, tak ada sepotongpun
yang terbawa dibawah nisan
lantas, mengaca pada masa lalu perlu
tetapi bertindak untuk lebih maju, justru fardhu
dari tanah akan kembali ke tanah
dari air akan kembali ke air
dari angin akan kembali ke angin
innalillahi wa innailaihi roji'un
untuk apa lagi kita saling berbantah
niat ikhlash atas ridho dan rahmat
itu pencapaian memperoleh syafa'at
mari yakinkan langkah dengan bismillah
tanamkan segala pujian hanya pada Allah
semoga segala niat memperoleh rahmah
medan-2004/2005
SERATUS UNTAI BUJI TASBIH
Telah kurangkai seratus untai biji tasbih
Mengurai asmamu dalam amalan dalam ilahi
Anta maksudi waridhoka matlubi
Telah kuangkai seratus untai biji tasbih
Telah kurangkai tapi gejolak jiwa ini
Tak mampu jua menampung tumpahan kerinduan
Yang membanjir air mata
Padahal telah kuarungi keluasan laut semestamu
Padahal telah kukayuh sampan sajadahku
Menuju rahmatmu
Telah kurangkai seratus untai biji tasbih
Telah kurangkai
Bersama takbir
Bersama zikir
Bersama air
Bersama semilir
Bersama musafir
Bersama fakir
Bersama ALLAH.........
Lelaki yang Berdiri Itu
Lelaki yang berdiri
Antara rumah dan mimbarnya
Pada taman di antara
taman-taman di surga
berdiri atas gundukan tanah
bersandar pada sebatang
pohon kurma yang menangis
menyaksikannya naik
atas mimbar dari kayu
laksana unta yang menangis
kehilangan anak
lalu lelaki itu memeluknya
dan berkata
"Mana yang kau pilih
hidup subur dan rimbun
atau menjadi pohonan surga?"
lelaki itu lalu menguburnya
di bawah mimbar empat tingkat
yang kemudian menjadi puing
di peti mati
hanya tercium aroma wewangi
lelaki yang berdiri
antara rumah dan mimbarnya
pada taman di antara
taman-taman di surga
pada hari berbangkit, berdiri
pertama kali, lalu diteruskan
sahabat, imam dan wali
setelahnya yang mendapat
syafaat dan rahmat Ilahi
medan,11-12-04
PUISI M. RAUDAH JAMBAK
SAJADAH BATU
Pada sajadah batu menempel lukisan dahiku
Dengan zikir beribu waktu
Rabbi,
Telah meretas air mataku satu satu
Namun rindu begitu kelu
Pada sajadah batu kuukir ayat ayat cinta
Dari waktu ke waktu
2007-09-15
SAJADAH KAYU
Walau rayap rayap mengerat gigil tulang
Sujudku pada-Mu
Tapi takkan pernah lapuk sajadah kayu
Yang menjelma perahu
Mengarungi lautan do’a-do’a menuju
Dermaga rindu
Ah, akukah itu
Si penebang kayu yang dahaga
Akan embun rahmat-Mu
2007-09-15
SAJADAH API
Ibrahimlah itu yang dikuyupi api api rindu
Menganyam tembikar murka
Abrahah si pengumpul kayu
“Patung besar itulah yang memenggal leher
Tuhan-tuhan mu,” ujarnya berseru
Amuk Abrahah menyulut deru
Dan Ibrahimlah itu yang meng-Imami
Sujud pada sajadah api membiru
07
SAJADAH TANAH
Sunan Kalijaga membentangkan sajadah
Tanah membasah, menggetarkan dada Syekh Siti Jenar
“Telah menyatu aku dengan Tuhanku!”
Mengutil rimah-rimah amarahnya
yang berdarah darah
O, siapakah yang memautkan
Zikir cacing pada bebal leher terpenggal
Di bujur sujud yang tersungkur?
07
SAJADAH AIR
Digelembung zikir sajadah air, Musa
Menjambangi Khaidir sebelum menyeberangi
Laut senja, lalu kata-kata dipecah dalam
Bilah bilah
Dan perahu itu
Dan anak itu
Dan rumah itu
Pada sujud air sajadahpun air
Mengalir, membulir
07
SAJADAH UDARA
Menapaki Haram menuju Aqsa adalah
Hijaiyah bagi hati yang resah
Lalu, memebentanglah sajadah
Pada sujud udara menjemput cinta-Nya
Telah ku salatkan dunia merantai jahiliyah
Yang tak sudah sudah
Ya, Rabbi
07
Iqra’
:bacalah dengan nama Tuhan-mu yang menciptakan
Pada masa yang penuh benalu seluas tanpa batas
Allah,izinkan aku untuk tetap bernaung dalam asma-Mu
Setegar zikir rerumputan menyulam suara azan
Yang bergema di lingkaran semesta tak terhingga
Sebab dalam ketenangan yang mengambang
Dingin terasa meluluhlantakkan
Sebab dalam keheningan yang mengawang
Bisu begitu membekukan
Sebab dalam kehampaan yang menerawang
Api berkobar-kobar menghanguskan
Aku telah mengunyah-kunyah
Segala tipu daya yang meledakkan kebenaran
Dalam kesumat dan tak jelas batasnya
Dalam sujud aku arungi lautan taubat
Naungi dan peluk kami pada kehangatan
Illahi anta maksudi
Wa ridhoka matlubi
Tuhanku,
Pada masa yang berwarna abu-abu membekas
Di kanvas jiwa, perhelatan telahpun dikunjungi
Deraian air-mata yang mencekik nurani,
Menulikan telinga dari lantunan ayat-ayat cinta-Mu
Tentang sepotong pesawat bagai burung-burung yang
Menggapai-gapai makrifat di bandara surga-MU
Tentang sebongkah kapal, bagai lumba-lumba yang
Menelusuri maqom di pulau penuh sungai susu
Tentang sekeping kereta-api, bagai kura-kura yang
Bermunajat sepanjang stasiun hati ber-aura biru
Atau tentang muntahan, debaran, deburan, dan
Zikir dari perut-perut bumi
Bukan tak tersulam niat membungkus
Bongkahan syahwat dan karang muslihat
Membesar-memadat, membesar-memadat
Dalam sujud panjang tak berkesudahan
Naungi dan peluk kami pada kehangatan
Illahi anta maksudi wa ridhoka matlubi
Amboi,
Pada masa yang penuh belatung, virus
Dan kuman-kuman ini ajarilah kami meneguk
Setetes demi setetes embun keikhlasan dari
Segelas derai air-mata kami, derai air-mata
Kecintaan sepenuh nurani
Jangan lenakan kami dalam kebatilan
Yang membutakan
Jangan mabukkan kami dengan khamar
Yang meluluh-lantakkan
Jangan hilangkan segala kesadaran
Yang melenyapkan-tanpa bekas
Selalu kukayuh sampan sajadah
Mengarungi lautan penuh ombak,
Penuh onak, menghindari bongkahan
Karang-karang keangkuhan yang teramat tajam
Dalam sujud yang beringsut-ingsut
Naungi dan peluk kami pada kehangatan
Illahi anta maksudi wa ridhoka matlubi
Maka,
Setelah kubaca masa-masa penuh benalu
Berwarna abu-abu yang penuh belatung,
Virus dan kuman-kuman, dengan nama-Mu
Yang menciptakan: naungilah dan peluk kami
Dari teror kemaksiatan, serta persekutuan kesesatan
Agar tetap taffakur dalam syukur, dalam membaca
Rasa cinta sesama
Kutubul amin, 22 Januari 2007
PADA RUKUK AKU TERBUNGKUK PADA SUJUD AKU MAUJUD
Oleh : M.Raudah Jambak
Malam ini, sajadah telah dialiri sungai air mata, do’a-do’a
Berembun diujung lidah yang jatuh dari daun-daun tasbih
Sementara angin khusuk memeluk degap rindu yang hampir
Membeku. Entahlah, rapal kaji tak juga sampai ke hati atau
Cinta yang bertuba di jelaga
Pada setiap baris ayat, kabar pun telah disampaikan. Jiwa yang
Kosong hanyalah gudang tua yang kehilangan cahaya dan tempat
Bersemayamnya para pendosa. Tetapi butir-butir wudhu’ yang bergulir
Adalah kerjap cahaya yang siap berpijar pada taman yang telah lama
Tak bertuan
Dan malam ini, gelap hanya mengantar subuh yang selalu membasuh
Dahaga para pemburu nasuha, yang melentikkan setiap jentik zikir
Di setiap iring-iringan takbir. Harap hanya sebatas kerinduan yang
Mengawan, rindu adalah harap yang mengerjap dalam degap, sebab
Pada rukuk aku terbungkuk pada sujud aku maujud
Medan,2007
Kun
Jadilah!
maka jadilah ia
bukan batuknya ternyata
tapi degup jantung yang
mengeras tiba-tiba
dan muntahan dari bibir
yang menggila
Jadilah!
maka jadilah ia
dan do'a yang menjawab
segala
maka,
Kun!
medan,06
Demi Masa
Demi yang menguasai gugur daun daun
adakah hijau bersembunyi pada kerontang
pikiran?
Demi pemilik mata air mengalir
adakah kekeruhan terendap pada danau
hati?
Demi Sang Maha Pencipta manusia
adakah pria dan wanita diharuskan
bebas berbuat suka-suka?
Medan, 2006
LANGKAH – LANGKAH
Suara azan yang mengumandang di batas cakrawala
Adalah asap yang menggumpal – gumpal menjadi
Seonggok awan hitam , di antara
Mendung – mendung
Dan menjadi hujan dalam mataku.
Suara azan yang mengumandang di batas cakrawala
Adalah kemarau yang menyengatkan bisa – bisa
Teriknya dan menusuk jantung – jantung
Hingga berdarah , dan seketika detik – detik
Kematian menyelimuti jiwaku.
Suara azan yang mengumandang di batas cakrawala
Menjadi limbah pada pabrik – pabrik kemaksiatan
Adalah bibit penyakit yang mengatupkan
Segala urat syaraf dan nadi – nadi darahku
Menyumbat mulutku karena tak terbiasa
Melafaskan asma – Mu
Suara azan itu adalah
Langkah – langkah kakiku
Yang terseret satu – satu.
Puisi M. Raudah Jambak
AMSAL MUHARRAM
Allah ,
Hari – hari yang tersusun dalam hurup – hurup keabadian
Pada langit , pada bumi , pada bintang ,
Pada tanah kelahiran adalah
Hijaiyah pergantian musim ke musim
Bermula dari Adam yang mempersunting Hawa
Dalam surga
Lalu , lahirlah pasangan Kabil , lahirlah pasangan Habil
Dalam belantara dunia
Allah ,
Seperti hiasan langit yang gemerlapan
Menjadi cahaya alam semesta jiwa
Adalah Ibrahim yang mencari Sang Pencipta ,
Lalu menunggu kelahiran Ismail tiba
Yang hampir terbentur dalam usia senja Siti Hajar ,
Istrinya dan Allah kembali menguji ke – Imanan
Dalam qurbannya
Allah ,
Dalam lidah cakrawala yang terikat
Bendera – bendera curiga di antara batu karang nafsu
Dan keserakahan dunia lahirlah putra cahaya
Dari rahim Aminah berbapa Abdullah
Muhammad Rasulullah merobah peta suram dunia jahiliyah
Puisi M. Raudah Jambak
Melepas Do’a Air Mata
Sepeninggal tsunami
Kami rangkai do’a air mata tanpa tabur bunga
--sepanjang ziarah, seluas samudera
tetesnya tercipta
menyantuh lembut pipi para bocah
yang tengah mengundang cakrawala
tetesnya tercipta
melepas saudara – saudara kami
yang tertimpa bencana
tetesnya tercipta
menjelma busur zikir yang melesat,
meretas segala jarak
: dari banda sampai Mandrehe
dari kamala sampai barwalla
dari batin sampai perih mata
sepeninggal tsunami
kami lepas do’a air mata tanpa tabur bunga
kami hembuskan aroma surga – liwa
buat saudara – saudara yang tertipa bencana
-- sepanjang ziarah, seluas samudera
SEHABIS KHATAM HUJAN
Sehabis khatam hujan pada ayat terakhir perjalanan
Debudebu kota telahlama membatu, melafazkan
Gemertak almanak yang melangkah kaku sepanjang
Alif ba ta cinta
Lalu sepenuh daun kering menguning menyesakkan keranda
Luka di bawah deraknya pohon kamboja, dan kita bertanya
Kembali pada cuaca,”adakah kita tuliskan catatan-catatan
Surga?”
Medan,05
Ku Anyam Sebaris Do'a Dengan Hiasan Tahlil Sederhana
Ku anyam sebaris do'a dengan hiasan tahlil sederhana, di awal Ramadhan, pada november luka
bagi saudara-saudara yang tertimpa bencana
dan air mata membersihkan sisa-sisa cinta
yang sempat mengembang di Bukit Lawang
Pada derai air mata, aku rangkai berbagai
aneka bunga do'a, yang sempat mengangkasa
terbang di taman sajadahku bersama untaian
tasbih yang merindu
Ku anyam sebaris do'a dengan hiasan tahlil sederhana bagi saudara-saudara
yang mengeram di antara gelondongan
bersama sungai bukit lawang
dalam sujud panjang yang tak berkesudahan
Medan,03-04
Adalah rahasia dalam rahasia
mustika hati kasih adalah kata yang kau tenun
dan rasa dalam bulan purnama memecah sinar
dan binar angkara di jagad sengketa
adapun tamadun terbelah sudah,
adapun kurun berlelehan darah
dan sukma takberpantai, kekasih
selindang iman terpendam dalam-dalam
desir angin subuh membawa tualang
ke haribaan Ilahi bermakna wujud?
di sini terpampang hakikat langit
dan makrifat menyatu di purnama sabit
sayap musim dalam setaman angin terketar
membawa pusar tak bernama
tataplah cahaya dalam cahaya,
nur muhammad yang utuh, maka takkan kau bawa gaduh
dari musim ke musim, kau tak yakin bahwa
kemilau syahdunya merenggut gosong menungmu
tataplah rahasia dalam rahsia
Allah!
2006
Aliran Cahaya
tahan sengketa untuk sementara
mari kita bagi-bagi cahaya
alirannya sudah sampai pada iman
yang paling kelam
puasakan hati, pikiran dan lisan
dari dendam dan segala kemungkaran
niscaya jiwa terjaga segala satwasangka
terlindung cahaya yang paling benderang
tahan sengketa di bawah puncak
keabadian yang paling hitam
mari kita bagi-bagi cahaya
dari alirannya yang paling tentram
medan,2006
Ramadhan Ya Ramadhan
adalah hati yang lebih abadi
melahirkan cinta sang pencipta cinta
aduh, betapa tubuh begitu ringkih
jiwa usang berjuta melahirkan letih
ramadhan ya ramadhan
kemana resah do'a hendak ditumpah
selain di selembar sajadah basah?
kemana zikir terus digilir
selain pada biji tasbih yang berlebih?
kemana takbir diteriakkan dalam sir
selain tenggelam dalam derai tangis fakir?
adalah hati yang lebih abadi
melahirkan nur muhammad yang abadi
pada resah do'a di sajadah basah
pada gilir zikir pada biji tasbih berlebih
pada teriak takbir fakir-fakir
medan,2006
Suatu Hari Aku Bertemu Dengan Diri Sendiri
suatu hari aku bertemu dengan diriku sendiri, terpaku di atas sajadah basah. Tafakur menabur resah pada Allah tak ada sepotong kata gairah tak ada seiris kata bahagia tak ada setitik warna cahaya suatu hari aku bertemu dengan diri sendiri, betapa anehnya raudah di atas sajadah. Tafakur seperti orang-orang yang tergusur tak ada sepotong pun kata makmur tak ada seulas ceria tak ada sebutir apa-apa suatu hari aku bertemu dengan diri sendiri, rasa malu tak terbendung lagi. Tak terbendung lagi Subhanallah!
Medan, 06
REQUIEM KEBANGKITAN
Ruh saudara-saudara kami
ruhnya Muhajirin
yang hijrah
singgah
di negeri Anshor
Robbi,
betapa luka begitu menyayat
sepanjang hayat
seperti rintihan seudati
memapah saman
dari zaman ke zaman
seperti erangan hombo
melompati batu
dari waktu ke waktu
Saudaraku,
jangan pandangi cemas
yang menganga di tepi cadas
yang menguap di udara
yang hanyut di antara lumut
sebab,
akan kau temukan gairah keabadian
di pusaran warna-warna
maut hanyalah selimut
yang mendekap hangat
para Muhajirin
yang hijrah ke negeri angin
menggilir zikir
sepanjang takbir
Ruh saudara-saudara kami
ruhnya Muhajirin
yang meminjam jubah tsunami
menuju negeri tabi'-tabi'in
di antara nadi luka
di antara syair yang merintih
di antara erangan tertahan
Robbi,
betapa luka begitu menyayat
sepanajang hayat, tapi
bangkitkan semangat jiwa
saudara kami
agar terus melukis pelangi
pada kanvas hati
bersama
'Illahi anta maksudi
wa rdhoka matlubi...
medan , 2005
PERAHUKU BERDERAK DI HAMPARAN DO’A YANG TAK BERTEPIAN
perahuku berderak diketuk-ketuk riak,
diombang-ambingkan ombak, entahlah
kukembangkan jua layar do’a dalam elusan angin
yang menggebu
kukutip butir-butir embun dari daun-daun senja
udara terasa semakin menua pada keriput
awan kelam yang diam, lalu bersama rintik langit
yang menitik anginpun berhenti sejenak di tepian
pantai yang pasang menyambut malam, perahuku
masih berderak di ketuk-ketuk riak
ah, betapa harap ini memeras air mata, jatuh
di ribuan buih laut yang mengeram, perahuku
masih diombang-ambingkan ombak
pada ini
lukisan pantai semakin landai di rimbunan
pasir yang berambut sarat beban pada kanvas
gelombang petang dan biru yang tentram,
biru yang berpaham di hamparan do’a yang
tak bertepian
malam mengetuk-ketuk pintu dan jendela pada
ruang yang lengang, angin melahirkan sunyi
dari lorong-lorong tak bernama
rahimmnya berderak menerjang celah jendela kaca
purnama nyalang mata di rerimbunan pohon mangga
cahayanya menembus segala lara di malam siaga, mengenang
siang tak lama berpulang. angin masih menimang-timang
sunyi dalam gendongan bermotif bunga-bunga
ah, waktu hanya menghitung-hitung rindu di kalender cuaca
lalu satu persatu tanggal usia, angin pun semakin tua pada
pertumbuhan sunyi yang beranjak dewasa sepanjang perjalanan
do’a-do’a
medan, 2007
DAN SEGALA CINTA PUN MELEPASMU
Dan bertasbihlah burungburung bersama maut
yang menjemputmu menuju dunia keabadian
dan berzikirlah hamparan rerumputan bersama
sederet lukaluka ditubuhnya pada rebah tubuhmu
dan awanawan ikut taffakur menaungi segala suka
segala duka diiringiringan jenazah putihmu
dan mentiklah hujan disudutsudut mataku mengenang
segala cinta yang pernah berharap akan restumu
Nur Hilmi Daulay
MUHASABAH
Dan bukit-bukit mengecap sunyi pada keheningan terpekat,
Menunggu satu detik yang mengantarkannya pada satu tahun berikutnya
Dan detak jantung yang berjalan menggandeng jarum jam itupun bersaksi,
Pada ingatan yang teracik menjadi catatan kecil terbesar tahun ini.
Tahmidnya menggema menyibak malam,
Saat memorynya menghadiri pesta rakyat, kali ini tanpa darah
Karna Negri ini telah lama lelah, lidahnya tak ingin lagi latah menjilati tinta merah yang berkali-kali tumpah dari jiwa-jiwa penghuninya
Lalu bulu kuduknya berdiri,
Dengan enggan diketuknya memory tragis yang menyaksikan dirinya tertimbun pada puing-puing bangunan dengan airmata menembus lumpur, menyetubuhi air bah.
Dan jantungnya masih berjalan bergandengan dengan jarum jam
walau entah berapa ratus ribu jantung telah diam, bungkam
Ia terpekur,
Menengadahkan kepala menatap lurus menembus jantung cakrawala,
Tapi bulanpun terlihat keruh
dan bibirnya
dan hatinya
dan jiwanya
berpeluk erat pada muhasabah yang nyaris hanyut dalam laut yang gemeretak dengan amarah membirahi
Dan..
helaan nafasnya bertasbih menggaung tembus ke bukit-bukit yang mengecap sunyi pada keheningan terpekat.
Pada satu detik yang berlalu beberapa puluh detik yang lalu, mengantarnya duduk dalam I'tiraf membuka tahun berikutnya
Matanya nanar menatap bulan yang kian keruh-
Dan pemiliknya tak pernah keruh,
Ia luluh04-medan
Hasan Al Banna
BELUM JUGA, NAK
maka selamat jalan, anakku. selamat berjuang
sebab hari ini
kita belum juga merdeka
bukan, bukan belanda yang datang menyerang
tidak, tidak jepang yang kembali menerjang
tapi sanak sendiri yang mengangkang
menghadang
dengan senjata terkokang
tapi jangan takut, anakku. jangan surut
sebab kulahirkan kau
bukan sebagai pengecut
itu terik yang memanggang
itu hujan yang merajang
itu peluru yang mendesing-melintang
adalah buai-sayang yang membawamu pulang
ke rumah atau bahkan ke liang?
lantas jangan menyerah anakku, jangan kalah
sebab sepercik doa
telah kusulut di sumbu darahmu.
Medan, 2003-2004
Sajak Indrian Koto
Lebaran Untuk Seorang Perempuan
lebaran, suatu waktu saat di mana sajadahku
basah oleh sesal dan duka lara
- sungguhkah aku kembali suci sebagaimana matamu
yang bening dan kekanak-kanakkan?
setiap putaran waktu, akan mengembalikan sepenggal kisah
yang sama dan berulang;
dan lebaran.
tapi tidak kisah ini, serupa mimpi –duhai, bagaimana
aku memulai? ia, waktu yang berkelindan itu, suatu kali
mengungkungku dalam birahi –ramadhan, di mana
setan-setan istirah – kami menjelma sepasukan setan lain
yang sama liar, sama kurang ajar –apakah bernama setan?
lebaran saat di mana semua orang merasa suci, tapi aku
sedikit sangsi, adakah yang akan terkelupas
dari kenakalan remaja yang sedikit tolol ini?
pagi itu, adalah sebuah waktu yang kelak
akan kami kutuk. lebaran masih jauh, tapi sukacita
sedang kami rayakan dengan cara
yang paling dasyat. setelahnya, kami purapura melupakan
penyesalan tak begitu saja menyelesaikan
banyak kisah, setelahnya tuhan mengirimkan kami
bingkisan yang muram dan lebaran adakah dosadosa akan ditanggalkan?
dan kau, sepasang matamu yang bening dan kanakkanak
tak cukup menyelamatkanku dalam harubiru
“setiap soal, setiap beban adalah perihal yang
membesarkan.” aku tak cukup kuat menafsir ulang
banyak kisah; lebaran ini, kerinduanku dibalut gunda dan luka.
kau menafsirnafsir lukaku dan aku sedikit
berpurapura menceritakan kerinduan yang dangkal; wajah ibu,
aroma kampung, lemangtapai, ketupat dan irama takbir
tapi, rahasia itu tetaplah terus terjaga
yang barangkali kelak akan kau tau juga, saat di mana
aku tak bisa merangkulmu lagi
- jika kau benarbenar pergi.
“jangan pergi dulu,” kataku di malam itu. “ikutlah bersamaku
kita akan rayakan keriuhan di jalanjalan, di alunalun sampai
kita muak dan muntah dengan sedikit sesal yang tertunda”
ramadhan telah usai, adakah besok, waktu yang lain
akan mempertemukan kita serupa peristiwa ini?
sebab kelak, mungkin kita tidak akan menghabiskan waktu
di jalan ini lagi. barangkali aku akan berada di tempat tersunyi
dan kau sedang menyandarkan kepala di bahu entah siapa
"itu kau," katamu dengan mata yang serupa malam
tapi tidak, kita tak beranjak
kita samasama berdusta, ”tinggallah di rumah,” katamu,
“kita akan makan ketupat dan dari dalam akan kita dengan irama takbir.”
kali ini aku menjadi manusia yang sedikit patuh, setidaknya
untuk sepiring ketupat. dan kita bercerita sesuatu yang cengeng;
tentang rumah masa depan, kata seorang kawan.
jika kata adalah doa sunggukah ia akan ada?
oh, celaka! banyak hal yang begitu rahasia. dan kami
yang tak pernah kuceritakan padamu adalah peristiwa konyol
yang entah akan selesai di mana –katakanlah, bagaimana aku bisa
meninggalkanmu jika bau rambutmu terus mengejarku.
malam itu – setelah pesta kecil itu – kau menghibur
kecengenganku dan aku berdusta padamu tentang
semua kerinduan itu. “aku ditinggalkan banyak waktu,
ditinggalkan banyak kisah.” kataku.
“setiap orang tengah mencipta peristiwa lain
atau menyambung kisah yang lama.”
“dan aku ingin punya persoalan denganmu saja.”
kataku dan kau tertawa
inilah rahasianya: setiap orang, setiap kita punya peristiwa dengan
banyak orang. ini rumit dan ini jauh lebih rumit. dan kami, suatu waktu
-ah, betapa aku menjadi tolol– menjalin peristiwa kecil
yang menyesakkan.
dengarlah, aku tulis puisi ini untukmu
sebagai isyarat keberangkatanku. sebagaimana kau tak datang
di hari pertama lebaran ini. “menziarahi waktu. mengunjungi setiap orang yang
mencatat peristiwa denganku.”katamu.
“dan aku, tidakkah juga perlu sebuah ziarah?’
“ah, kau kan kisah yang lain, koto!” –atau tidak terlalu penting?
“enak aja! untukmu akan ada peristiwa lain yang sedikit berbeda.”
-ah, bukankah selalu berbeda. Serupa apa?
dan aku sakit. lalu rumah redup dari bayangku
masa kanak lindap oleh peristiwa kecil dan tuhan tengah mengucapkan
selamat lebaran padaku. tidakkah kau tahu?
ah, kau tak akan pernah tahu,
- atau adakah tengah menjelma kekasih wahai perempuan
yang kukenal lewat sebait puisi.
dan tuhan kembali mengirimkan kartu pos dan bingkisan;
dosa dan dirimu.
Di antara itu semua akan adakah kita?
poetika, 2006
Bayang-bayang Nabi
(Oleh Kang Jaz)
________________________________________
Ya Rasulullah, apa yang harus dilakukan para pemimpin ?
"Membela yang lemah dan membantu yang miskin" jawab Nabi.
Ya Rasulullah, apa yang harus dilakukan ulama ?
Memberi contoh yang baik dan mendukung pemimpin
YAng membela orang - arang lemah" jawabnya
Ya Rasulullah ... apa yang harus dilakukan orang-orang lemah dan miskin ?
"Bersabarlah, dan tetplah bersabar
Jangan kau lihat pemimpinmu yang suka harta
Jangan kau ikuti ulamamu yang mendekati mereka
Jangan kau temani orang-orang yang menjilat mereka
Jangan kau lepaskan pandanganmu dari para pemimpin dan ulama yang hidupnya juhud dari harta"
Ya RAsulullah... Pemimpin seperti itu sudah tidak ada
Ulama seperti itu sudah menghilang entah kemana
Yang tersisa adalah pemimpin serakah
Yang tertinggal adalah ulama-ulama yang tama'
Banyak rakyat yang mengikuti keserakahan mereka
Ummat banyak yang meneladani ketamakan mereka !
Apa yang harus aku lakukan, Ya... RAsulullah !
Siapa yang harus aku angkat jadi pemimpin ?
Siapa yang harus aku ikuti fatwa-fatwanya ?
Siapa yang harus aku jadikan teman setia ?
"Wahai ummatku...
Tinggalkan mereka semua
Dunia tidak akan bertambah baik sebab mereka
Bertemanlah dengan anak dan istrimu saja
Karena Allah menganjurkan, "Wa 'asiruhunna bil ma'ruf"
Ikutilah fatwa hatimu
Karena hadits mengatakan, "Istafti qalbaka, wa in aftaukan nas waftauka waftauka"
Dan angkatlah dirimu menjadi pemimpin
Bukankah, "Kullulkum Ra'in, ea kullukum masulun 'an ra'iyyatihi ?"
Wajahmu
(Kitab Cinta Rumi)
________________________________________
Mungkin kau berencana pergi,
seperti ruh manusia
tinggalkan dunia membawa hampir semua
kemanisan diri bersamanya
Kau pelanai kudamu
Kau benar-benar harus pergi
Ingat kau punya teman disini yang setia
rumput dan langit
Pernahkah kukecewakan dirimu ?
Mungkin kau tengah marah
Tetapi ingatlah malam-malam
yang penuh percakapan,
karya-karya bagus,
melati-melati kuning di pinggir laut
Krinduan, ujar Jibril
biarlah demikian
Syam-i Tabriz,
Wajahmu adalah apa yang coba diingat-ingat lagi oleh setiap agama
Aku telah mendobrak kedalam kerinduan,
Penuh dengan nestapa yang telah kurasakan sebelumnya
tapi tiada semacam ini
Sang inti penuntun pada cinta
Jiwa membantu sumber ilham
Pegang erat sakit istimewamu ini
Ia juga bisa membawamu pada Tuhan
Tugasku adalah membawa cinta ini
sebagai pelipur untukmereka yang kangen kamu,
untuk pergi kemanapun kaumelangkah
dan menatap lumpur-lumpur
yang terinjak olehmu
muram cahaya mentari,
pucat dingding ini
Cinta menjauh
Cahayanya berubah
Ternyata ku perlu keanggunan
lebih dari yang kupikirkan
Keindahan Fantasi Cinta
(Al Muktashim)
________________________________________
Riuh... ramai... gaduh... dan penuh kegembiraan
Taman hati berwarna warni
Panggung rumah paru-paru berdiri kokoh
Kolam cinta mengalir indah keawan kasih
Badan terasa sejuk...
Segar tak terkirakan
Rumput selaput nadi bergoyang lembut
Di tiup angin cinta sejati
Burung camar jantung menukik pelan
Hinggap di pohon tulang iga putih
Matanya melihat kearah taman hati
Pandangannya terpesona oleh pemandangan cantik
Bidadari cinta dan pangeran kasih sayang
Bersenda gurau diangan yang tinggi
Hati pun gembira...
Jiwa pun lega...
Ya Allah...
Abadikan keadaan ini
Agar menjadi pedoman
Bagi hati yang saling menyatu
Mentari sanubari tersenyum riang
Alam jiwa bergembira ria
Serentak...
Jiwa0jiwa riang berdansa di sekitar taman hati
Oooh...
Indahnya fantasi cinta
Keagungan Ilahi
(Al Muktashim)
________________________________________
Ratu malam sang rembulan
Raja siang sang matahari
Keduanya selalu bertentangan,
Tarik menarik
Dorong mendorong
Saling menguasai,
Seolah selalu bertanding tiada henti
Tiada yang kalah
Tak ada yang menag,
Karena dengan kedua sifat yang bertentangan ini
Seluruh alam semesta bergerak!
Dunia berputar,
Saling mengisi,
Yang satu melengkapi yang lain
Tanpa yang satu
Takkan ada yang lain,
Siang dan malam
Terang dan gelap
BAik dan jahat
Tanpa yang satu,
Apakah yang lain itu akan ada?
Tanpa adanya gelap,
Dapatkah kita mengenal terang?
Inilah sebuah kenyataan
Yang telah dikenhendaki Allah
Tanpa kehendaknya, takkan terjadi apa-apa
Dawai Sang Sufi
(Al Futuhat)
________________________________________
Hidup adalah ibadah
Dalam ayat-Nya Allah berfirman,
Wama kholaqtul jinna wal insa illa liya'bududun
Lama aku tidak percaya dengan ayat ini
Fikirku aku hanya disuruh shalat, puasa dan dzikir
Apalagiketika aku berfikir tentang ayat,
Wa'bud robbaka hatta ya'tiyakal yakin,
Demi Allah, aku tidak sanggup untuk beribadah terus menerus...
Aku bingung
Aku takut
Aku lari dari pendapatku sendiri
Suatu hari aku bertanya kepada guruku
Guruku mengatakan, "Tidak salah pendapatmu, tapi kurang".
Ketahuilah.....
Dalam ayat lain Allah juga berfirman
Wala tansa nasibaka minaddunya
Dan La yukallifullahu nafsan illa wus'aha
Jelas Allah tidak hanya menyuruh kitauntuksholat dan puasa
Allah juga menyuruh kita untukmencari dunia
Bahkan Allah melarang kita untuk membebani diri kita dengan beban yang berat
Sehingga kita tidak mampu memikulnya
Walaupun itu ibadah
Ketauhillah.....
Ibadahitu bukan bentuk lahirnya
Banyak perkara dunia yang berubah menjadi amal dunia karena niat
Banyak perkara yang kadang menurut kita tidak ada nilainya tetapi
Disisi Allah sangat berharga
Engkau makan,minum, tidur, cari nafkah, menikah
Tetapi di niati untuk menguatkan ibadah
Itulah arti Wama kholaqtul jinna wal insa illa liyakbudun
Dan engkau dapat istiqomah sholat, puasa, dzikir
Dengan bantuan makan, minum dan menikah
Itulah artiWa'bud robbaka hatta ya'tiyakal yaqin
Jikaengkau sholat, puasa tetapi tidak makan dan minum
Pasti engkau akan mati
bukankah ini bunuh diri dan jelas tidak ibadah ?
Engkau hanya sholat, puasa dan dzikir tetapi tidak menikah
Sehingga suatu ketika terjerumus zina, apakah arti semua ibadahmu ?
Ingatlah Allah pencipta manusia dengan ukuran dan aturan
Janganlah engkau mempertahankan kebodohanmu
Janganlah engkau hancur hanya karena pemahamanmu yang salah
Dan ingatlah pesan Allah Alladzina yastami'unal qoula
Fayattabi'una ahsanah.....
Orang-orang yang mendengarkan pendapat
Kemudian mengikuti pendapat yang paling bagus
Merekalah yang diberi petunjuk Allah
Dan merekalah orang-orang yang beruntung.....
FIRMANMU
Oleh:Aby Al Kahfie.
Ya ALLAH
Dua FirmanMU Yang Selalu Mengonyak Sobek
Pedih Perih Terasa Luka Dalam Menyayat Hati
Tak Mampu Ku Tahankan Gejolak Tangis
Terisak pilu Rindu AkanMU
Mengingat TuturMU Yang Kian Terabaikan
Satu Pilu Berjuta Resah Akan FIRMANMU
WAHAI SEKALIAN MANUSIA APA YANG MEMBUATMU
BERLAKU DURHAKA PADA TUHANMU
Sentak serontak Bergoncang Hati
Dalam Tangis Meratap Pilu
Satu Tangis Berjuta Pilu Akan QUDSIMU
WAHAI ANAK CUCU ADAM, KEBAIKANKU SELALU TURUN KEPADAMU
NAMUN KEJAHATANMU SELALU NAIK PADAKU
Refleks jiwa Meronta Hati
Memaki Diri Menuai Sedih
YA ALLAH
Nilailah Aku DAlam Dhoifku
Ku Ingin Kau Dalam Kesendirianku
Ku Rindu Kau Dalam Kesepianku
Ku Pilih Kau Di Antara mereka
Mendera Tangis Ketika Kau Abaikan.
YA ALLAH
Tersingkapnya Pelataran SinggasanaMU
Menjadi SAtu Pinta Tempat
Agar Ku Bisa Menyempurnakan SEMBAHKU
Ketika Tabir Mulai Terbuka Dari Segala KekuasaanMU
PINTAKU
YA ALLAH
Jadikan Aku Dalam RahmatMU Ketika KU Butuh
Jadikan Aku Dalam Sepiku Menjadi KawanMU
Jadikan Aku Dalam PETUNJUKMU KETIKA Ku Tersesat
Jadikan Aku Dalam IBADAHKU Menjadi kekasihMU
YA ALLAH
AKU dan PINTAKU
BERSERAH HARAP PADAMU.
Puisi-puisi Karya Pusriza
Sajadah Air Mata /1/
Ketika rusuk tubuh menggigil ngilu
dicambuk brikade pasukan langit
peluh mengucur berbau nanah
pada pori-pori nista
isi kepala semak dengan nafsu dunia
batin ternoda berteriak:
ampun Tuhan
jiwa-jiwa keruh berguling
merayap mengais raung:
kami insyaf Tuhan
lantas jiwa-jiwa keruh dengan sedunya
bersujud pada sajadah air mata
Tembung, September 2007
Sajadah Air Mata /2/
Tuhan, hamba-Mu larut dalam kelam
berjalan mencari penerang
pada sudut-sudut yang gamang
dalam perjalanan
maksiat tertelan menjadi sarapan
entah berapa dusta yang terkunyah
entah berapa nista yang menjadi darah
tapi, Tuhan
aku tetap mencarimu
walau di atas sajadah
menjadi telaga air mata
Bilal, September 2007
Sajadah Air Mata /3/
Pada malam bergelayut alunan
zikir di bibir basah
seorang muallaf yang merindu
buah makrifat
menganyam untaian tasbih
illahi dalam hatinya
dengan linangan air mata atas sajadah
menuju sujudnya.
Sunggal, September 2007
Puisi-puisi Karya Pusriza
Sajadah Air Mata /4/
Maka jatuhlah bulir-bulir
air mata di atas sajadah
pada akhir doa
seorang pemuda yang
memetik buah taubatnya
Medan, September 2007
Sajadah Air Mata /5/
Rizka, tidurlah
bentangkan air mata itu
di atas sajadah
kemarilah sayang
beri kecupan dengan bismillah
biarkan ayat-ayat Tuhan
membasuh tidur kita
berselimut Hamdalah
Medan, September 2007
Sajadah Air Mata /6/
telah kualirkan sungai air mata
pada muara sajadah yang resah
sebab Kau menyapa kami dalam lupa
lalu hadiahkan gempa berbalut gelisah
sebab Kau menegur kami dengan cinta
lalu titipkan bencana yang tak sudah-sudah
telah kualirkan sungai air mata
pada muara sajadah yang resah
tapi, kami hamba yang selalu
mengharapkan rahmat-Mu
tak sudah-sudah
Medan, September 2007
Puisi-puisi Karya Pusriza
Sajadah Air Mata /7/
kemana sajadah air mata kubentangkan
di simpang jalan anak kecil menengadah tangan
kemana sajadah air mata kubentangkan
di bawah lampu merah ibu renta yang
terbungkuk-bungkuk memegang mangkuk
Sunggal, September 2007
Sajadah Air Mata /8/
walau di atas sajadah
hujan air mata
membentuk telaga
walau di atas sajadah
waktu terus menggebuk
remuk
tetapi, Tuhan
di atas sajadah
aku merindu cinta-Mu
merengkuh tubuhku
Sunggal, September 2007
Sajadah Air Mata /9/
Takkan terganti sajadah air mataku
dengan 1000 dinar
walaupun api membakar tubuhku
menggelegar bagai nar
Takkan terganti sajadah air mataku
dengan 1000 dinar
walaupun istana kau bangun
dengan muslihat dunia
yang berbagai rupa
Sunggal, September 2007
Puisi-puisi Karya Pusriza
Sajadah Air Mata /10/
Ibu, diantara doa-doamu
kau menyebut nama anak-anakmu
lalu kau bersujud
diatas sajadah bersama
bulir-bulir air mata
tapi, ibu
biarlah aku mengganti
sujudmu pada sajadah air mataku
Sunggal, September 2007
Tuesday, 18 January 2011
Anugerah Puisi CSH 2010-2011
(CSH Poetry Award 2010-2011)
Anugerah Puisi CSH 2010-2011 mengundang para penyair Indonesia mengirimkan buku kumpulan puisi mereka dalam bahasa Indonesia yang terbit antara 1 Januari 2010 s.d. 31 Desember 2011, untuk diikutkan dalam penilaian buku kumpulan puisi terbaik 2010-2011.
Bertindak sebagai juri untuk Anugerah Puisi CSH 2010-2011 adalah penyair dan redaktur majalah sastra Horison, Cecep Syamsul Hari.
Juri hanya akan menilai buku kumpulan puisi yang dikirimkan melalui pos oleh penyairnya sendiri yang disertai surat pengantar penyair yang bersangkutan yang menyatakan bahwa bukunya dikirim untuk diikutkan dalam penilaian buku kumpulan puisi terbaik 2010-2011 (Anugerah Puisi CSH 2010-2011). Buku kumpulan puisi yang dikirimkan melalui pos bukan oleh penyairnya sendiri serta tidak disertai surat pengantar penyair yang bersangkutan tidak akan diikutkan dalam penilaian.
Beberapa ketentuan Anugerah Puisi CSH 2010-2011:
1. Anugerah Puisi CSH 2010-2011 terbuka untuk seluruh penyair berkewarganegaraan Indonesia yang menulis dalam bahasa Indonesia (baik berdomisili di dalam maupun di luar negeri). Anugerah Puisi CSH 2010-2011 tertutup bagi juri.
2. Anugerah Puisi CSH 2010-2011 hanya berlaku untuk buku kumpulan puisi tunggal yang ditulis dalam bahasa Indonesia, bukan buku antologi puisi maupun buku puisi terjemahan.
3. Para penyair Indonesia dipersilakan mengirimkan melalui pos lebih dari satu judul buku kumpulan puisi untuk diikutkan dalam penilaian buku kumpulan puisi terbaik 2010-2011 (Anugerah Puisi CSH 2010-2011) sepanjang terbit antara 1 Januari 2010 s.d. 31 Desember 2011.
4. Buku kumpulan puisi yang diikutkan dalam penilaian buku kumpulan puisi terbaik 2010-2011 (Anugerah Puisi CSH 2010-2011) diterima paling lambat 1 Februari 2012, dikirimkan melalui pos ke: ANUGERAH PUISI CSH 2010-2011, Jl. Raya Cibabat No. 357, Cimahi 40522, Jawa Barat.
5. Di dalam sampul depan amplop surat atau di dalam surat pengantar keikutsertaan penilaian buku kumpulan puisi terbaik 2010-2011 (Anugerah Puisi CSH 2010-2011) mohon disertakan alamat surat pengirim, email, nomor telefon/HP yang dapat dihubungi.
6. Buku kumpulan puisi yang dinilai juri sebagai buku kumpulan puisi terbaik 2010-2011 dan berhak sebagai pemenang Anugerah Puisi CSH 2010-2011 akan diumumkan pada bulan Mei 2012 melalui website: http://cecepsyamsulhari.webs.com, Facebook, dan media lain. Penilaian dan keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.
Cimahi, Februari 2011
Cecep Syamsul Hari
Anugerah Puisi CSH 2010-2011 mengundang para penyair Indonesia mengirimkan buku kumpulan puisi mereka dalam bahasa Indonesia yang terbit antara 1 Januari 2010 s.d. 31 Desember 2011, untuk diikutkan dalam penilaian buku kumpulan puisi terbaik 2010-2011.
Bertindak sebagai juri untuk Anugerah Puisi CSH 2010-2011 adalah penyair dan redaktur majalah sastra Horison, Cecep Syamsul Hari.
Juri hanya akan menilai buku kumpulan puisi yang dikirimkan melalui pos oleh penyairnya sendiri yang disertai surat pengantar penyair yang bersangkutan yang menyatakan bahwa bukunya dikirim untuk diikutkan dalam penilaian buku kumpulan puisi terbaik 2010-2011 (Anugerah Puisi CSH 2010-2011). Buku kumpulan puisi yang dikirimkan melalui pos bukan oleh penyairnya sendiri serta tidak disertai surat pengantar penyair yang bersangkutan tidak akan diikutkan dalam penilaian.
Beberapa ketentuan Anugerah Puisi CSH 2010-2011:
1. Anugerah Puisi CSH 2010-2011 terbuka untuk seluruh penyair berkewarganegaraan Indonesia yang menulis dalam bahasa Indonesia (baik berdomisili di dalam maupun di luar negeri). Anugerah Puisi CSH 2010-2011 tertutup bagi juri.
2. Anugerah Puisi CSH 2010-2011 hanya berlaku untuk buku kumpulan puisi tunggal yang ditulis dalam bahasa Indonesia, bukan buku antologi puisi maupun buku puisi terjemahan.
3. Para penyair Indonesia dipersilakan mengirimkan melalui pos lebih dari satu judul buku kumpulan puisi untuk diikutkan dalam penilaian buku kumpulan puisi terbaik 2010-2011 (Anugerah Puisi CSH 2010-2011) sepanjang terbit antara 1 Januari 2010 s.d. 31 Desember 2011.
4. Buku kumpulan puisi yang diikutkan dalam penilaian buku kumpulan puisi terbaik 2010-2011 (Anugerah Puisi CSH 2010-2011) diterima paling lambat 1 Februari 2012, dikirimkan melalui pos ke: ANUGERAH PUISI CSH 2010-2011, Jl. Raya Cibabat No. 357, Cimahi 40522, Jawa Barat.
5. Di dalam sampul depan amplop surat atau di dalam surat pengantar keikutsertaan penilaian buku kumpulan puisi terbaik 2010-2011 (Anugerah Puisi CSH 2010-2011) mohon disertakan alamat surat pengirim, email, nomor telefon/HP yang dapat dihubungi.
6. Buku kumpulan puisi yang dinilai juri sebagai buku kumpulan puisi terbaik 2010-2011 dan berhak sebagai pemenang Anugerah Puisi CSH 2010-2011 akan diumumkan pada bulan Mei 2012 melalui website: http://cecepsyamsulhari.webs.com, Facebook, dan media lain. Penilaian dan keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.
Cimahi, Februari 2011
Cecep Syamsul Hari
Tuesday, 11 January 2011
Ragdi F. Daye
Taman Imajinasi Bernama Fiksi
Judul : Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian;
Cerpen Kompas Pilihan 2009
Penyunting : Ninuk M. Pambudy
Penerbit : Kompas, 2010
Tebal : xxxviii + 178 halaman
Peresensi : Ade Efdira
Hari Minggu, adalah hari yang melegakan bagi kalangan yang selama sepekan terkungkung oleh rutinitas. Hari Minggu dapat dimanfaatkan untuk penyegaran, istirahat, atau bercengkrama bersama keluarga. Hari libur itu dapat digunakan untuk bersantai di rumah, pergi wisata ke luar kota, atau bermain ke taman bersama anak-anak. Taman memang meriah di hari Minggu, seperti juga koran, pada hari Minggu, koran tak cuma menghidangkan berita yang kadang menaikkan tingkat stres, tapi juga dihiasai rubrik-rubrik menghibur, seperti aneka feature, hobi dan konsultasi, artikel kesehatan, humor, serta cerpen.
Cerpen, di tengah kompleksitas dunia yang penuh sesak, kehadirannya seperti taman kota di hari Minggu bagi koran harian. Setelah sepekan penuh dengan berita-berita yang berat, cerpen hadir memberi sedikit ruang relaks dengan fiksinya. Memang, kehadiran cerpen menyimpang dari prinsip koran yang memberikan informasi akurat dan faktual. Cerpen bersifat fiktif. Namun, kefiktifan itu menjadi refleksi atas informasi-informasi lugas yang dihantarkan berita. Berita menawarkan fakta untuk memperkaya pengetahuan, sedangkan cerpen atau fiksi menjanjikan pembebasan imajinasi bagi kepuasan jiwa.
Seperti dalam cerpen terbaik buku kumpulan ini, Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian (PSHAIR) yang ditulis oleh seorang arsitek bernama Avianti Armand, imajinasi mendapat ruang kebebasannya. Tema yang diangkat cerpen ini sebenarnya sudah sering muncul dalam berita-berita mengenai kekerasan dalam rumah tangga. Ada perseteruan ayah dan ibu yang mengorbankan kehidupan seorang anak. Di dalam berita telah sering kita temukan seorang istri menggorok suami, seorang suami memancung istri, seorang anak menggergaji ayah, seorang ayah memperkosa anak, atau seorang anak memutilasi ibunya. Berita-berita itu membuat kita bergidik dan mual ingin muntah. Namun dalam cerpen PSHAIR ini, ketika keinginan membunuh dan peristiwa balas dendam bergulat dengan riuh dalam imajinasi, kita mungkin jadi bisa menerima sikap seorang anak yang menancapkan pisau ke dada ayah yang selalu menyiksa ibunya.
Cerita itu hanya fiksi, hanya khayalan, bohong-bohongan. Sama halnya dengan pikiran liar kita yang berkecamuk dalam kepala; menghantamkan porselen ke kepala bos yang selalu mengintimidasi, menyumpalkan sendal ke mulut teman kerja yang suka cari muka, atau meloncat terbang dari jendela bak peterpan ketika mendapat salam mesra dari kekasih. Hanya imajinasi yang tak perlu dibuktikan kebenarannya. Namun, ketika imajinasi itu melintas dan raib tak berbekas, kita merasakan sedikit kelegaan, ada beban yang lepas meninggalkan rasa lapang seperti usai buang air besar.
Cerpen-cerpen—setidaknya beberapa buah—dalam kumpulan ini menawarkan pembebasan semacam itu. Jiwa yang sudah sumpek dibelenggu rutinitas yang bikin mumet, mendapat sedikit intermezo. Cerpen-cerpen itu tentu saja tidak serta merta berhasil mengesampingkan berita yang menyodorkan fakta, karena meskipun cerpen memainkan imajinasi, kenyataannya, fakta-fakta di masa ini begitu dahsyat, tidak terbayangkan, bahkan lebih tidak masuk akal dibanding fiksi paling ganjil. Sehingga ada sejumlah pengarang yang melontarkan pertanyaan bingung, apa lagi yang bisa ditulis cerpenis apabila fakta sudah sebegitu gila?
Kelebatan-kelebatan imajinasi dalam cerpen menjadi pori-pori yang membawa napas segar. Ada letupan kepedihan ibu dan anak dalam rumah yang penuh siksa, ada suami-istri kota besar yang mendapatkan obat kebekuan di kampung pelosok, ada seorang gadis yang menguliti kepala kucing untuk dijadikan hidangan spesial, ada senja berlumur darah di sebuah taman yang romantis, ada seorang istri brahmana yang menyiapkan kamar pengantin untuk suaminya yang dipaksa menikah lagi agar bisa jadi pendeta, dan ada tentang caleg yang membuat ‘ayat keempat’ agar bisa menjual tanah ulayat. Peristiwa-peristiwa unik itu seperti pecahan kemungkinan dalam fakta yang dapat tumbuh subur dalam cerita.
Cerita-cerita itu kemudian menjadi sebuah taman kecil. Kita dapat menghirup hawa getir atau riang ketika duduk di bawah pohon-pohonnya. Kita dapat memandang warna sentimentil atau gundah di langitnya. Kita dapat merasakan tegar pengorbanan, lincah kelicikan, atau sentakan kemarahan yang menari-nari di sana. Kita akan merasa miris, sedih, haru, atau geram. Jiwa kita tersentuh. Taman kecil itu adalah buku ini, kumpulan Cerpen Kompas Pilihan 2009.[]
>> surat kabar Haluan, Minggu 9 Januari 2011
Judul : Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian;
Cerpen Kompas Pilihan 2009
Penyunting : Ninuk M. Pambudy
Penerbit : Kompas, 2010
Tebal : xxxviii + 178 halaman
Peresensi : Ade Efdira
Hari Minggu, adalah hari yang melegakan bagi kalangan yang selama sepekan terkungkung oleh rutinitas. Hari Minggu dapat dimanfaatkan untuk penyegaran, istirahat, atau bercengkrama bersama keluarga. Hari libur itu dapat digunakan untuk bersantai di rumah, pergi wisata ke luar kota, atau bermain ke taman bersama anak-anak. Taman memang meriah di hari Minggu, seperti juga koran, pada hari Minggu, koran tak cuma menghidangkan berita yang kadang menaikkan tingkat stres, tapi juga dihiasai rubrik-rubrik menghibur, seperti aneka feature, hobi dan konsultasi, artikel kesehatan, humor, serta cerpen.
Cerpen, di tengah kompleksitas dunia yang penuh sesak, kehadirannya seperti taman kota di hari Minggu bagi koran harian. Setelah sepekan penuh dengan berita-berita yang berat, cerpen hadir memberi sedikit ruang relaks dengan fiksinya. Memang, kehadiran cerpen menyimpang dari prinsip koran yang memberikan informasi akurat dan faktual. Cerpen bersifat fiktif. Namun, kefiktifan itu menjadi refleksi atas informasi-informasi lugas yang dihantarkan berita. Berita menawarkan fakta untuk memperkaya pengetahuan, sedangkan cerpen atau fiksi menjanjikan pembebasan imajinasi bagi kepuasan jiwa.
Seperti dalam cerpen terbaik buku kumpulan ini, Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian (PSHAIR) yang ditulis oleh seorang arsitek bernama Avianti Armand, imajinasi mendapat ruang kebebasannya. Tema yang diangkat cerpen ini sebenarnya sudah sering muncul dalam berita-berita mengenai kekerasan dalam rumah tangga. Ada perseteruan ayah dan ibu yang mengorbankan kehidupan seorang anak. Di dalam berita telah sering kita temukan seorang istri menggorok suami, seorang suami memancung istri, seorang anak menggergaji ayah, seorang ayah memperkosa anak, atau seorang anak memutilasi ibunya. Berita-berita itu membuat kita bergidik dan mual ingin muntah. Namun dalam cerpen PSHAIR ini, ketika keinginan membunuh dan peristiwa balas dendam bergulat dengan riuh dalam imajinasi, kita mungkin jadi bisa menerima sikap seorang anak yang menancapkan pisau ke dada ayah yang selalu menyiksa ibunya.
Cerita itu hanya fiksi, hanya khayalan, bohong-bohongan. Sama halnya dengan pikiran liar kita yang berkecamuk dalam kepala; menghantamkan porselen ke kepala bos yang selalu mengintimidasi, menyumpalkan sendal ke mulut teman kerja yang suka cari muka, atau meloncat terbang dari jendela bak peterpan ketika mendapat salam mesra dari kekasih. Hanya imajinasi yang tak perlu dibuktikan kebenarannya. Namun, ketika imajinasi itu melintas dan raib tak berbekas, kita merasakan sedikit kelegaan, ada beban yang lepas meninggalkan rasa lapang seperti usai buang air besar.
Cerpen-cerpen—setidaknya beberapa buah—dalam kumpulan ini menawarkan pembebasan semacam itu. Jiwa yang sudah sumpek dibelenggu rutinitas yang bikin mumet, mendapat sedikit intermezo. Cerpen-cerpen itu tentu saja tidak serta merta berhasil mengesampingkan berita yang menyodorkan fakta, karena meskipun cerpen memainkan imajinasi, kenyataannya, fakta-fakta di masa ini begitu dahsyat, tidak terbayangkan, bahkan lebih tidak masuk akal dibanding fiksi paling ganjil. Sehingga ada sejumlah pengarang yang melontarkan pertanyaan bingung, apa lagi yang bisa ditulis cerpenis apabila fakta sudah sebegitu gila?
Kelebatan-kelebatan imajinasi dalam cerpen menjadi pori-pori yang membawa napas segar. Ada letupan kepedihan ibu dan anak dalam rumah yang penuh siksa, ada suami-istri kota besar yang mendapatkan obat kebekuan di kampung pelosok, ada seorang gadis yang menguliti kepala kucing untuk dijadikan hidangan spesial, ada senja berlumur darah di sebuah taman yang romantis, ada seorang istri brahmana yang menyiapkan kamar pengantin untuk suaminya yang dipaksa menikah lagi agar bisa jadi pendeta, dan ada tentang caleg yang membuat ‘ayat keempat’ agar bisa menjual tanah ulayat. Peristiwa-peristiwa unik itu seperti pecahan kemungkinan dalam fakta yang dapat tumbuh subur dalam cerita.
Cerita-cerita itu kemudian menjadi sebuah taman kecil. Kita dapat menghirup hawa getir atau riang ketika duduk di bawah pohon-pohonnya. Kita dapat memandang warna sentimentil atau gundah di langitnya. Kita dapat merasakan tegar pengorbanan, lincah kelicikan, atau sentakan kemarahan yang menari-nari di sana. Kita akan merasa miris, sedih, haru, atau geram. Jiwa kita tersentuh. Taman kecil itu adalah buku ini, kumpulan Cerpen Kompas Pilihan 2009.[]
>> surat kabar Haluan, Minggu 9 Januari 2011
Wednesday, 15 December 2010
Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan 2010
Judul: Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan 2010
Editor: Suyitno Ethexs
Kurator: Chamim Kohari-Saiful Bakri-Umi Salama
Desain cover: warung grafis indonesia
Lukisan cover: Joni Ramlan, Mojosari, Mojokerto
Layout: kang madrim
Cetakan pertama:Oktober 2010
ISBN: 978-602-97907-0-2
Tebal: 829 + xxxviii halaman
Penerbit: Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto Jl. Jayanegara 4 Kabupaten Mojokerto 61361
email : dewankeseniankabmojokerto@gmail.com, Hak cipta ada pada masing-masing penulis
Berikut catatan kurator:
PUISI DI GAPURA CANDI WRINGIN LAWANG
Sebuah Pengantar
“Ia tidak menulis untuk dibaca tetapi untuk didengar; nia tidak menghidangkan teka-teki, tetapi menulis untuk dimengerti” ( A. Teeuw ).
“Pikiran merubah kapas menjadi kain emas dan merubah batu menjadi cermin terang, namun penyair dengan pesona sajak yang dilakukan memerah minuman bermadu dari sengat kehidupan” (Iqbal, Tulip dari Sinai)
”Penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang dungu. Tidakkah kau lihat mereka menenggelamkan diri dalam sembarang lembah hayalan dan kata, dan mereka suka mengujarkan apa yang tak mereka kerjakan kecuali mereka yang beriman, beramal baik, banyak mengingat dan menyebut Allah dan melakukan pembelaan ketika dizalimi”. (Terjemahan QS. Asysyu’araa: 224-227)
Sungguh, kami harus tahu diri, dan kami mencoba meyakinkan bahwa tugas kurator yang hendak diamanatkan kepada kami sebenarnya salah alamat, dan kami menyodorkan beberapa nama yang layak mengemban tugas itu, tetapi ditolak dengan alasan bahwa nama-nama yang dimaksud memang layak, tetapi dianggap tidak “steeril” dari virus-virus “Primodialisme komunitas” yang justru akan menjadi “beban” bagi niat baik diselenggarakannya “Festival Bulan Purnama Majapahit”, memang selama ini jarang ada yang berani menerbitkan antologi puisi atau cerpen di luar “klik”nya.
Tugas kurator itu akhirnya tetap diamanatkan kepada kami yang “wong ndeso” yang dianggap belum terkontaminasi oleh “primordialisme komunitas” dan hirukpikuk sastra di media massa. Terus terang dengan “tergagap-gagap” kami terima amanat itu, dan betul setelah kami baca karya-karya sastra yang telah dikirim, dan kami buka lembaran-lembaran kertas yang menumpuk sekitar 7 rim, yang di dalamnya masih campur antara karya puisi dan karya cerpen, ternyata terdapat banyak nama-nama “beken” yang sudah terkenal di jagad sastra Indonesia, nyali kami menjadi semakin “mungkret”, tetapi dengan kesabaran dan keberanian yang diberani-beranikan, kami terus membenamkan diri dalam kubangan puisi-puisi dan cerpen-cerpen, ternyata semakin dalam kami menyelam semakin asyik.
Membaca puisi dan cerpen yang bertebaran dan yang hendak dikumpulkan dalam Antologi Festival Bulan Purnama Majapahit 2010 ini, sungguh sangat mendebarkan, kami semacam menapaki “Cahaya Tajalli” yang berjajar panjang penuh pesona, kami betul-betul diajak melayari aneka pelangi warna-warni keindahan Nusantara. Dari “puisi terang” sampai “puisi gelap”. Dari penyair yang sudah terkenal seperti Ahmadun Yosi Herfanda, sampai yang baru muncul seperti Mas Hikmatul Azimah yang lulusan setingkat Kejar Paket B, mereka semua berusaha menyuguhkan karya-karyanya yang terbaik, mereka telah “ijtihad” untuk melahirkan karya-karyanya dengan mempertaruhkan seluruh jiwa dan raganya kedalam “bentuk” dan “isi” puisi, tentu dengan caranya sendiri-sendiri. Meski sangat heterogin tetapi belum ada yang ingin “merusak” konvensi bahasa, dan ia juga tidak beranjak lebih jauh, tak ada keinginan dari para penyair itu untuk menyimpang, sebagaimana disinyalir oleh Cassier, yang pada umumnya menimpa para seniman. Mereka para penyair yang mengirimkan karya-karyanya belum ada yang berani menggunakan hak “licentia poetica” nya.
Berbeda dengan Chairil Anwar, atau setidak-tidaknya Sutardji Calzoum Bachri yang berani menentukan dan membuat jalannya sendiri, sehingga ia layak dijadikan pemimpin madzhab perpuisian di Indonesia, meski kami yakin suatu saat kelak akan lahir mujaddid (pembaharu) perpuisian di Indonesia. Kami berharap dari Gapura Wringin Lawang, Festival Bulan Purnama Majapahit 2010 ini mampu membuka pintu cakrawala sastra Indonesia, hingga melahirkan sastrawan-sastrawan terbaik Indonesia, walau pun Budi Darma menyatakan “Angkatan dalam sastra tidak semata-mata ditentukan oleh kekuatan dalam sastra itu sendiri. Suatu angkatan dalam sastra dapat ada, apa bila ada gejolak yang bersambung-gayung dengan dunia pemikiran”
Secara sederhana, menulis puisi itu mudah, apa bila hal itu dilihat dari persoalan teknis yang bisa dipelajari dan dilakukan oleh siapa pun. Menurut Afrizal Malna “apa sulitnya menulis puisi, tetapi menjadi seorang penyair seringkali lahir dari konstruksi kondisi-kondisi tertentu. Penghormatan terhadap puisi dan penyair justru berlangsung dalam ketegangan-ketegangan ini, karena itu tidak semua orang bisa menjadi penyair”.
Antologi Festival Bulan Purnama Majapahit 2010 ini, sengaja memberi ruang kepada siapa pun yang intens menulis karya sastra, sebuah ruang yang sangat luas untuk mereka-mereka yang sudah “tercemar” mau pun yang “terhambat” atau bahkan yang “terlempar” dari mass media, komunitas-komunitas, dan klik-klik sastra tertentu. Dan biarlah karya-karya puisi yang ada dalam Antologi Festival Bulan Purnama Majapahit 2010 ini, hidup bebas berdiri dan berbicara sendiri dengan eksistensi dan esensinya masing-masing. Sebagai kurator kami tidak ingin menghakimi. Para penyair dan puisi-puisinya yang lolos masuk dalam Antologi Festival Bulan Purnama Majapahit 2010 ini, semoga tidak hanya “kebetulan” atau hanya sekedar “numpang beken”, atau sekedar latah biar disebut penyair. Dan kami tidak ingin menggurui, sebab hidup adalah pilihan-pilihan nurani, yang demi kehormatan harus diseriusi, bila tidak, maka cap “pecundang” akan menempel terus dan menjadi bayang-bayang yang dapat menghantui di setiap langkahnya. Penyair romantik John Keats (1795-1821) mengatakan “Sebab utama kegagalan seniman, baik dalam menggarap obyek umum maupun obyek yang sudah dikenal identitas keindahannya adalah karena kurangnya intensitas pada diri senimannya”.
Harga diri dan eksistensi penyair terdapat pada karya dan kecintaannya terhadap apa yang digelutinya, tetapi kata D. Zawai Imron “Banyak penyair yang pada akhirnya tidak setia dengan kepenyairannya. Semula menggebu-gebu menulis puisi namun dengan mudahnya meninggalkan puisi begitu saja”
Dari Gapura Candi Wringin Lawang Trowulan Mojokerto, kami dan masyarakat sastra menggantungkan harapan, semoga Antologi Cerpen Festifal Bulan Purnama Majapahit 2010 ini, mampu membuka pintu cakrawala sastra Indonesia, meskipun kami sadar bahwa hal itu seperti mimpi, tidak mudah dan memerlukan kerja besar dari semua pihak.
Akhirnya, dari 1.524 judul puisi yang dikirimkan oleh 310 penyair, hanya 620 judul puisi yang dinyatakan lolos dan dapat ditampilkan di Antologi Puisi Festifal Bulan Purnama Majapahit tahun 2010 ini, dan selebihnya yang 1.214 judul puisi dinyatakan tidak lolos, bukan karena tidak baik, tetapi hanya persoalan keterbatasan tempat saja.
Dengan ketulusan dan kerendahan hati, kami mohon maaf atas keterbatasan kami, kami yakin tiada gading yang tak retak, karena itu tegur sapa dan sumbang saran dari semua pihak sangat diharapkan.
Sekian. Semoga bermanfaat.
Mojokerto, 20 Oktober 2010
Kurator, (1. Chamim Kohari , 2. Umi Salama, 3. Saiful Bakri)
Ujung Laut Pulau Marwah, Antologi Cerpen Temu Sastrawan Indonesia III
Ujung Laut Pulau Marwah, Antologi Cerpen Temu Sastrawan Indonesia III"Cerpen-cerpen di dalam buku ini memiliki keragaman ekspresi yang sungguh jamak. Cerpen warna lokal di antaranya masih tampak dijadikan andalan lantaran memang memberi banyak kemungkinan, lihat saja cerpen bermuatan lokal Betawi, Melayu, Timor, Madura dan Minang di sini.
Meski masih belum terlalu jauh dieksplorasi, namun sudah cukup menunjukkan bahwa lokalitas memberi kegairahan penciptaan yang tak kunjung padam. Jika setia digeluti, perangkat semacam ini niscaya akan menjadi pembeda dengan cerpen umumnya. Apa yang mereka lakukan mencerminkan masih ada ruang eksplorasi yang luas bagi penulis Indonesia yang diuntungkan oleh, antara lain, ragam budaya kita yang kaya."
Begitulah tulisan pada bagian atas sampul belakang buku “Ujung Laut Pulau Marwah” yang diambil dari Pengantar Kuratorial, “Sastra Indonesia Mutakhir: Kritik dan Keragaman”.
Buku ini diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang dalam rangkaian sebuah hajatan budaya, “Temu Sastrawan Indonesia III” (TSI III) di Kota Gurindam Negeri Pantun itu, pada 28-31 Oktober lalu—setelah TSI I (Jambi, 2008) dan TSI II (Pangkalpinang, 2009).
Acara yang digelar bertepatan dengan Oktober sebagai bulan bahasa itu dihadiri para sastrawan dari kota-kota besar dan kecil di seluruh Indonesia, yang diundang oleh Pemerintah Kota Tanjungpinang, atas hasil rekomendasi tim kurator TSI III yang beranggotakan Abdul Kadir Ibrahim (Tanjungpinang), Hoesnizar Hood (Tanjungpinang), Joni Ariadinata (Yogyakarta), Mezra E. Polllondou (Kupang), Raudal Tanjung Banua (Yogyakarta), Said Parman (Tanjungpinang), Saut Situmorang (Yogyakarta), Syafaruddin (Tanjungpinang), Tan Lioe Ie (Bali), Triyanto Triwikromo (Semarang), dan Zen Hae (Jakarta).
Tampilnya Tanjungpinang sebagai tuan rumah bukan oleh sebab keberuntungan ataupun “sistem arisan”. Kota kecil nan indah ini dipilih lantaran sejak beratus tahun lalu mewariskan bahasa Melayu sebagai lingua franca (bahasa pengantar), yang dikenal kemudian hingga hari ini sebagai Bahasa Indonesia.
Dari Tanjungpinang pula lahir tokoh bahasa dalam sastra klasik Melayu, Raja Ali Haji (1708-1783), yang karya monumentalnya, “Gurindam Dua Belas” (1847), lalu disusul “Bustan’l Katibin” (1857), dan “Kitab Pengetahuan Bahasa” (1859), telah mengantarkan ia sebagai Bapak Bahasa Indonesia dan oleh Pemerintah RI kemudian dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2004.
Dan jauh sebelum TSI III digelar, tepatnya sejak akhir Juli 2010, Walikota Tanjungpinang, Hj. Suryatati A. Manan, dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, Drs. Abdul Kadir Ibrahim, MT, telah mengirimkan kepada 150 orang sastrawan yang diundang, surat pemberitahuan berisi perihal sisik-melik TSI III disertai himbauan untuk mengirimkan karya puisi atau cerpennya lantaran akan dibukukan setelah melalui proses seleksi tentunya.
Dan hasilnya, ketika acara berlangsung, para peserta yang hadir sudah memegang buku berisi karya-karya itu. Karya mereka sendiri, atau karya rekan sastrawan yang lain.
Adalah Joni Ariadinata, Raudal Tanjung Banua, Said Parman, dan Triyanto Triwikromo, yang menjadi kurator cerpen untuk “Ujung Laut Pulau Marwah”. Merekalah yang menetapkan 33 cerpen karya 33 orang penulis untuk dapat tampil di dalamnya. Karya-karya tersebut disusun di dalam buku berdasarkan abjad nama para penulisnya, yakni:
“Tuan Guru Sulaiman” (Adi Alimin Arwan, Mamuju, Sulawesi Barat), “Kemarau pun Singgah di Kampung Kami” (Agustinus Wahyono, Balikpapan, Kalimantan Timur), “Di Ujung Simpul Rafia” (Andri Medianyah, Tanjungpinang, Kepulauan Riau), “Kabut Kembahang” (Arman AZ, Bandarlampung, Lampung), “Seperti Natnitnole” (Benny Arnas, Lubuklinggau, Sumatera Selatan), “Babad Mejayan” (Beni Setia, Caruban, Madiun, Jawa Timur), “Djali-Djali Bintang Kedjora” (Chairil Gibran Ramadhan, DKI Jakarta).
“Kembalinya Anakku yang Hilang” (Endang Purnama Sari, Tanjungpinang, Kepulauan Riau), “Anggorok dan Anggodot” (Fahrudin Nasrulloh, Jombang, Jawa Timur), “Semburat Petang di Lagoi” (Fakhrunnas MA Jabbar, Pekanbaru, Riau), “Koleksi 932013: Fina Sato” (Fina Sato, Bandung, Jawa Barat), “Kisah si Pemotong Rumput [Seniman Plat Baja]” (Gol A. Gong, Serang, Banten).
“15 Hari Bulan” (Hasan Al Bana, Medan, Sumatera Utara), “Perempuan Petelur” (Igoy el Fitra, Padang, Sumatera Barat), “Setelah Rumah” (Indrian Koto, Yogyakarta, DI Yogyakarta), “Hamsat Mencuri Jambu Klutuk” (Idris Pasaribu, Medan, Sumatra Utara), “Lelaki dengan Kopiah Resam” (Koko P. Bhairawa, Sungailiat, Bangka-Belitung), “Senandung Perih Dendang Saluang” (M. Raudah Jambak, Medan, Sumatera Utara), “Ujung Laut Perahu Kalianget” (Mahwi Air Tawar, Yogyakarta, DI Yogyakarta), “Bai Liang” (Marsel Robot, Kupang, NTT), “Sandal Jepit Yong Dolah” (Maswito, Tanjungpinang, Kepulauan Riau).
“Pacar Elektrik” (Miral Shamsara Ratuloli, Kupang, NTT), “Melawan Rumput” (Mustofa W. Hasyim, Yogyakarta, DI Yogyakarta), “Lingkaran Luka” (Panda MT Siallagan, Pematang Siantar, Sumatera Utara), “Tanam Pinang Tumbuh Gading” (Pion Ratulolly, Kupang, NTT), “Kucing Tua” (Ragdi F. Daye, Padang, Sumatera Barat), “Bentan” (Riawani Elyta, Tanjungpinang, Kepulauan Riau), “Musim Ikan” (Sunlie Thomas Alexander, Belinyu, Bangka-Belitung).
“Aroma Bangkai di Depan Rumah Mantan Penghulu” (Tarmizi rumahhitam, Batam, Kepulauan Riau), “Kecapi Terakhir di Malam Minggu” (Thompson Hs, Pematang Siantar, Sumatera Utara), “Tetangga Baru” (Unizara, Tanjungpinang, Kepulauan Riau), “Malina Dalam Bus Tua” (Yetti A.KA, Padang, Sumatera Barat), dan “Air Mata Lelaki Tua di Barak Pengungsi” (Yoss Gerard Lema, Kupang, NTT).
Dari daftar di atas dapat terlihat bahwa daerah kedatangan masing-masing penulis tidaklah sama jumlahnya: Sulawesi Barat (1), Kalimantan Timur (1), Kepulauan Riau (6), Lampung (1), Sumatera Selatan (1), Jawa Timur (2), DKI Jakarta (1), Riau (1), Jawa Barat (1), Banten (1), Sumatera Barat (3), DI Yogyakarta (3), Sumatera Utara (5), Bangka-Belitung (2), dan NTT (4).
Lepas dari itu, “Ujung Laut Pulau Marwah” terbilang menarik lantaran memuat begitu banyak cerpen bernuansa lokal yang membawa nilai-nilai budaya etnik dari masing-masing sastrawan. Wajah keragaman Nusantara pun tercermin di dalam buku setebal 362 halaman ini. Maka buku ini sedikit-banyak berhasil menyodorkan fakta tentang sisi lain dunia kesusastraan Indonesia masa kini yang ternyata tak selalu dimenangi oleh cerpen-cerpen bernuansa nasional yang tidak kentara setting tempatnya.
Namun sangat disesalkan terjadinya ketidaktelitian dalam hal penggarapan isi, hingga terjadi kesalahan penulisan nama yang sangat fatal pada dua orang sastrawan. “Chairil Gibran Ramadhan” misalnya, pada daftar isi dan halaman dalam ditulis “Chairil Gilang Ramadhan” (penulisan secara benar, “Chairil Gibran Ramadhan”, hanya terjadi pada “kesempatan terakhir”, yang terdapat dalam bagian biodata). Sedangkan “Yoss Gerard Lema” yang pada daftar isi dan halaman dalam ditulis sama, ternyata pada bagian biodata ditulis “Yos Gamalama”.
Mungkinkah saat pengerjaannya nama kedua sastrawan ini mengingatkan penggarapnya pada drummer Gilang Ramadhan dan komedian Dorce Gamalama? Lantas dengan cara apa dan bagaimana orang-orang yang terlibat sebagai panitia dalam TSI III melakukan ralat atas hal ini?
Pada bagian bawah sampul belakang buku “Ujung Laut Pulau Marwah” terdapat kalimat yang diambil dari Pengantar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, Drs. Abdul Kadir Ibrahim, MT selaku Ketua Pelaksana TSI III: Temu Sastrawan Indonesia (TSI) III/2010 yang dilangsungkan di Kota Tanjungpinang, dapat dipandang sebagai upaya menyigi kembali kejayaan sastra Melayu yang pada era Kerajaan Riau pernah meninggi dan memucuk.
Raja Ali Haji adalah salah seorang tokoh, yang berbabit, dengan masa itu, dengan sejumlah karya pemuncak; ilham bagi masa kini. (Catatan CGR: menyigi adalah sisipan atau celah, berbabit adalah ikut serta/terlibat secara langsung atau tidak langsung)
Tuesday, 7 December 2010
Pion Ratulolly
ISYARAT;
Menerawang Senandung Perih Dendang Saluang[1])[2]
Karya M. Raudah Jambak[3] Dengan Lampu Pijar Semiotika
Pengantar
Pada kegiatan Temu Sastrawan Indonesia (TSI) III di Tanjung Pinang tanggal 28-31 Oktober 2010 lalu, seluruh sastrawan di Indonesia yang berniat mengikuti TSI III diprasyaratkan oleh penyelenggara untuk mengirim sebuah naskah puisi atau cerpen. Naskah-naskah ini pada akhirnya sudah dibukukan oleh penyelenggara setelah melewati kurasi tim kurator yang terdiri dari beberapa sastrawan senior (sebenarnya dalam sastra tidak ada senior dan junior namun pengklasifikasian yang saya lakukan ini semata untuk memudahkan pembeda antara sastrawan kurator dan sastrawan peserta TSI III). Naskah-naskah puisi dibukukan dalam Percakapan Lingua Franca: Antologi Puisi sedangkan naskah-naskah cerpen dibukukan dalam Ujung Laut Pulau Marwah: Antologi Cerpen. Semua sastrawan peserta kemudian dibagikan kedua buku ini oleh penyelenggara. Saya pun langsung melahap buku Ujung Laut Pulau Marwah: Antologi Cerpen membuka daftar isi. Cerpen yang pertama saya cari –untuk mengecek kepastian apakah naskah saya diterima atau tidak- tentunya adalah cerpen saya Tanam Pinang Tumbuh Gading. Dan ternyata cerpen saya juga ikut tergenang di atas Ujung Laut Pulau Marwah: Antologi Cerpen. Saya lalu membacanya -tepatnya membaca cepat.
Selepas mengkhatam Tanam Pinang Tumbuh Gading, saya kembali lagi ke daftar isi. Bagian nama sastrawan menjadi ekor mata saya. Dan M. Raudah Jambak adalah sastrawan yang ingin pertama saya baca karyanya, berhubung beliau adalah orang pertama yang saya kenal dalam kegiatan TSI III. Persis, cerpen Senandung Perih Dendang Saluang pun mulai saya lahap. Saya bahkan menghkhatam cerpen ini sampai beberapa kali. Akan tetapi, senandung perih dendang saluang itu terus saja terngiang-terngiang di telingaku. Ada apa gerangan?
Cerpen ini, sebagaimana cerpen lainnya, juga mengandung dua unsur dasar, estetika dan etika[4]. Keduanya hal ini bisa ditemukan dalam struktur atau tubuh cerpen (baik tema, alur, penokohan dan perwatakan, geya penceritaan, dll). Akan tetapi, yang membuat senandung perih dendang saluang itu terus saja terngiang-terngiang di telingaku lantaran saya dikejar beberapa pertanyaan misterius; mengapa judulnya harus Senandung Perih Dendang Saluang? Mengapa perih? Mengapa Saluang? Mengapa kejadiannya saat hujan, kilat guntur, langit muram (maksudnya tak ada cahaya bintang dan bulan). Sederetan pertanyaan-pertanyaan sejenis ini lalu berelindanan liar di kepala saya. Karena itu, demi meminimalisir –tidak bermaksud mengeliminir- senandung perih dendang saluang yang terus mengiang-ngiang di telinga ini dan demi menjinakkan pertanyaan-pertanyan misterius di kepala ini maka saya akan mencoba untuk menerawangnya. Meskipun jujur saya akui bahwa tulisan ini agak jauh dari sifat keilmiahan.
Sekilas Tentang SPDS
Cerpen Senandung Perih Dendang Saluang (SPDS; pen) mengisahkan tentang kepanikan tokoh aku pada suatu malam saat hujan mengguyur rumah[5]nya. Ia khawatir akan terjadinya banjir. Kalau pun tidak banjir maka kebakaran. Kedua bencana ini sering hadir pada saat hujan dalam waktu yang relatif lama dan anehnya acap kali terjadi pada tiap bulan Ramadhan. Kepanikan tokoh aku tidak hanya habis sampai di situ. Ia juga menghawatirkan keberadaan rumah mertuanya yang ditinggal pergi oleh mertuanya ke Pariaman.
Cerita berlanjut, isrti tokoh aku yang sebelumnya sudah terlelap, tiba-tiba meraung-raung. Istrinya mimpi buruk. Mimpi tentang Mamak dan Bapak dari tokoh istri, terkubur dinding rumah Andung di kampung (baca: Pariaman). Dan setelah menenagkan istri, tokoh aku pergi ke rumah mertuanya untuk memastikan tak terjadi apa-apa. Betul saja, di rumah mertuanya tak terjadi apa-apa. Namun sekembali ke rumahnya, tokoh aku mendapati anak-anaknya menangis histeris. Di sisi anak-anak, istrinya tergeletak pingsan. Di tangan istrinya tergenggam subuah HP. Ternyata istri tokoh aku pingsan karena membaca pesan masuk di HP itu. Isi pesan masuknya adalah “Kak, Pariaman gempa. 7,6 SR. Rumah Andung hancur. Mamak….”.
Menariknya dalam beberapa peristiwa yang ada dalam cerpen SPDS selalu dimunculkan mengenai tokoh aku yang beberapa kali mendengar bunyi saluang dan suara sirine. Sejalan dengan itu, tokoh aku juga menyaksikan, awan yang terlihat buram, langit suram, hujan terus menerus mengguyur-menderas, banjir, lumpur, kilat serta guntur. Di samping itu, ada hal lain yang sempat disitir Raudah, yaitu kritik-kritik sosial. Baik terhadap masyarakat maupun pemerintah. Nah, bagi saya, beberapa hal inilah yang akan coba saya terawang. Tujuan dari proses penerawangan ini adalah agar bisa melihat salah satu aura cerpen Senandung Perih Dendang Saluang karya M. Raudah Jambak dalam rupa yang alternatif. Oleh karena itu, saya membutuhkan sebuah lampu pijar yang berkapasitas kuat untuk proses penerawangan. Dan lampu pijar yang saya gunakan adalah Semiotika de Saurse.
Lampu Pijar Semiotika Saurse
Yasraf Amir Piliang dalam bukunya Hipersemiotika mengutip definisi semiotika (semiotics) oleh Ferdinand de Saussure “bahwa semiotika adalah ilmu yang mengkaji tentang tanda sebagai bagian dalam kehidupan sosial”. Dengan kata lain, Saussure berpendapat bahwa semiotika sangat menyandarkan dirinya pada aturan main (rule) atau kode sosial (social rule) yang berlaku di dalam masyarakat, sehingga tanda dapat dipahami maknanya secara kolektif. (Piliang, 2003:256). Senada dengan itu, mengutip pernyataan penulis Perancis, Michael Butor, bahwa Aart van Zoest (1993) dalam bukunya Semiotika: Tentang Tanda, Cara Kerjanya, dan Apa yang Kita Lakukan Dengannya menyatakan bahwa masalah manusia adalah mencari arti dari yang tidak mempunyai arti. Dia juga menyatakan bahwa semua mempunyai arti, atau tidak satupun mempunyai arti. Titik tolak dari pernyataan ini adalah bahwa manusia mencari arti dalam benda-benda dan gejala-gejala yang mengelilinginya dan bahwa dia, tepat atau tidak tepat, benar atau salah, memberikan arti. Karena manusia mampu, maka ia dapat memberikan arti pada benda-benda dan gejala-gejala.
Dari pandangan ini maka saya akan mencoba mengklasifikasikan pembahasan ini dari dua aspek yang sudah saya garis bawahi di atas yakni, 1) benda-benda, dan 2) gejala-gejala.
1) Benda-benda
a) Saluang.
Benda yang pertama sekali hadir dalam cerpen ini tentu saja saluang lantaran ia nampang dalam judul dan kadar keberadaannya sangat mendukung kisah dalam cerpen SPDS. Berdasarkan makna denotatif, saluang adalah alat musik tiup sejenis seruling tradisional khas Minangkabau, Sumatra Barat. Biasanya dipakai dalam pertunjukan untuk mengiringi lagu-lagu lepas yang diceritakan secara spontan. Unsur spontanitas juga terdapat dalam syair-syair untuk lagu-lagu lepasnya. Sedangkan berdasarkan konotatif saluang ini dapat mewakili suara-suara perih, sedih, duka, dan segala hal yang berkaitan dengan duka cita (bisa pula kematian). Sebagaimana kehadiran saluang dalam cerpen ini yang selalu dikaitkan dengan musibah. Hal ini dapat dilihat pada kutipan cerpen, hal: 158, paragraf 1, sebagai berikut:
…..
LAMA mataku tidak mau terpejam. Dan memang aku tidak mau memejamkannya sedikit pun. Padahal, aku sudah mengantuk berat. Istri dan anak-anakku sudah lama terlelap. Sebelumnya mereka berusaha bercengkrama, sambil berjaga. Betapa tidak. Sudah hampir seminggu daerah tempat tinggal kami diguyur hujan. Awan terlihat buram. Langit terus-menerus muram. Seolah menebar kesedihan yang mendalam. Bukan hanya disebabkan jalan raya yang basah. Atau air yang menggenang sampai ke lutut orang dewasa, di beberapa tempat. Sebilah saluang seolah bersenandung di pikiranku, mengikuti irama rembesan air hujan dari langit-langit rumah kami yang rapuh itulah, yang paling mengganggu.
…..
Dalam paragraf ini diceritakan tentang kesedihan tokoh aku di suatu malam lantaran daerah tempat tinggalnya telah seminggu diguyur hujan. Dan ia merasakan kesedihan akibat itu. Namun anehnya, kesedihan yang lebih mendalam justru di saat tokoh aku mendengar sebilah seluang yang seolah bersenandung di pikirannya. Dapat dipekirakan bahwa ada sebuah berita duka yang dikabarkan atau diisyaratkan melalui bunyi saluang itu. Dan pada akhir cerita diketahui bahwa berita duka itu adalah kecelakaan (kematian? boleh jadi!) Mamak (dan Bapak? boleh jadi!) dari istri tokoh aku, karena rumah Andung (dari istri tokoh aku) hancur akibat gempa Pariaman.
b) Sirine.
Kalau saluang barangkali hanya dikenal di Pulau Sumatera umumnya. Sedangkan sirine hampir dikenal oleh seluruh warga Indonesia –boleh jadi dunia. Suara sirine ini biasanya muncul dari mobil ambulance. Mobil ambulance biasanya diasosiasikan dengan mobil jenazah. Dengan demikian, di saat tokoh aku mendengar suara sirine (meskipun dalam pikiran) maka di saat itulah kabar duka telah disuarakan oleh sirine. Hal ini bisa disandingkan pada kutipan cerpen, hal: 161, paragraf: 9, sebagai berikut:
…..
Mataku terus mengawasi sisi langit-langit yang merembeskan hujan. Aman, pikirku. Tetapi telingaku sayup-sayup mendengar sayup sirine yang melesat di antara deru irama hujan menembus gendang telingaku. Dan aku hanya bisa menelan ludah. Rumah siapa lagi, pikirku kembali.
…..
Tokoh aku mengkhawatirkan kalau-kalau bunyi sirine (yang masuk ke telinganya secara nyata atau melalui pikiran?) ini berasal dari rumah yang terbakar. Ia juga mencemaskan kalau-kalau suara sirine itu berasal dari rumah mertuanya yang kosong ditinggal pergi mertua tokoh aku ke Pariaman.
c) Rumah
Rumah secara makna denotasi adalah tempat tinggal, berteduh dari panas dan hujan, tempat prifasi, tempat segala suka dan duka ditanak di dalamnya, menjadi tempat yang vital dan sangat dibutuhkan setiap orang untuk menjalani segala urusannya di dunia ini. Singkatnya, rumah adalah surga. Maka makna konotasi rumah adalah jantung, nafas, paru-paru, nadi, urat, intinya segala sesuatu yang berkaitan dengan hidup matinya seseorang.
Dalam cerpen ini tokoh aku mengkhawatirkan keberadaan rumah mertuanya yang sedang dalam keadaan kosong, tanpa penghuni. Dan ketika menenangkan istrinya yang mendapatkan mimpi buruk tentang Mamak dan Bapak (dari istri tokoh aku) yang terkubur dinding rumah Andung (dari istri tokoh aku). Naasnya, tokoh aku memahami rumah (yang diisyaratkan oleh bayang wajah mertuanya) secara denotatif. Bukan secara konotatif. Dari salah tafsir ke salah tindak.
2) Gejala-gejala
a) Gejala dari alam
Gejala dari alam yang dimaksud berkaitan dengan peristiwa-peristiwa alam yang mendukung/ mempertegas kualitas cerita. Di antaranya, awan terlihat buram, langit suram, hujan mengucur deras, genangan air, kilat dan guntur. Peristiwa-peristiwa ini biasanya menimbulkan ketidaknyamanan bagi manusia. Ketidaknyamanan ini biasanya menimbulkan kecemasan (mungkin akan terjadi banjir atau kebakaran). Kecemasan inilah terkadang akan mengantarkan orang kepada tindakan-tindakan yang gegabah. Gejala-gejala dari alam seperti ini biasanya menyiratkan tentang kesedihan, kedukaan dan kelaraan. Bahkan menghantarkan orang kepada kepasrahan.
b) Gejala dari manusia
Gejala yang dimaksud seperti mata tidak mau terpejam, cemas, terbawa mimpi buruk, serta dada bergemuruh kencang. Gejala-gejala ini menandakan bahwa ada sesuatu yang akan terjadi. Biasanya berkaitan dengan berita duka. Contoh kasus yang sederhana adalah ketika sesorang mengalami kejadian mata yang tiba-tiba saja berkedip berulang-ulang. Hal ini mengisyaratkan akan adanya kabar buruk yang berkaitan dengan dirinya (kalau bukan dirinya maka orang-orang dekatnya). Dan kejadian-kejadian seperti ini lebih mengarah kepada mitos atau kepercayaan (bukan agama) tradisional.
Kritik Sosial
Dalam cerpen Senandung Perih Dendang Saluang juga ditemukan beberap kritik sosial. Sekali lagi demi kenyamanan telaah, saya terpaksa mengklasifikasikan kritik sosial ini ke dalam dua aspek, yakni 1) Kritik Sosial Terhadap Masyarakat dan 2) Kritik Sosial Terhadap Pemerintah.
1) Kritik Sosial Terhadap Masyarakat.
Kritik ini nampak pada beberapa kejadian yaitu: jalan raya yang basah (tentunya dalam kadar yang banyak), air yang menggenang sampai lutut orang dewasa, banjir, lumpur, kebakaran karena lilin kalau listrik padam dan petasan kalau musim Ramadhan serta gesekan arus pendek kalau liatrik menyala, lari sepeda motor yang kurang awas di saat hujan. Nah, Raudah ingin menyampaikan kritik kepada kita selaku masyarakat (sekaligus pemerintah) agar lebih memperhatikan persoalan di atas. Misalnya akibat dari jalan raya tergenang, air yang tergenang hingga lutut orang, banjir lumpur, dll, maka kebersihan harus dijaga. Buanglah sampah pada tempatnya. Kaitan dengan kebakaran agar kita lebih memperhatikan lagi posisi/ tempat lilin agar di saat tertiup angin tidak menyebabkan benda di sekitar terbakar. Begitu pun petasan yang dibakar oleh anak-anak sebaiknya penggunaannya diawasi oleh orang dewasa.
2) Kritik Sosial Terhadap Pemerintah
Selain kritik sosial terhadap masyarakat di atas juga mengena kepada pemerintah, ada kritik lainnya yang ikut mengena juga kepada pemerintah, yakni: banjir (termasuk kebakaran dan dan bencana di saat musim hujan umumnya) seharusnya mendapat perhatian serius dari pemerintah. Adapun perhatian yang dimaksud adalah kerja nyata dari pemerintah untuk mengatasi masalah banjir. Baik pada masa sebelumnya sebagai bentuk pencegahan (prefentife) atau pun pada masa terjadi (membersihkan selokan/parit yang terendam, memperlancar arus air) maupun pada saat sesudah terjadinya banjir. Dengan demikian maka kehidupan sosial masyarakat dapat berjalan dengan baik adanya sebagaimana yang diharapkan oleh setiap manusia.
Penutup
Dengan beberapa uraian di atas diharapkan mampu menjadi penerawang sederhana untuk memahami cerpen Senandung Perih Dendang Saluang karya M. Raudah Jambak berdasarkan pendekatan semiotik de Saurse. Tulisan ini bukanlah sebuah kebenaran yang pasti karena itu saya memohon kiranya kalau ada hal yang bisa diterawang, silahkan menyarankan. Tulisan ini semata pembacaan saya secara subjektif atas cerpen SPDS. Bagi yang ingin menerawangnya dari aspek yang lain, saya persilahkan. Selamat melanjutkan aktifitas selanjutnya dan selamat membaca isyarat.
Kupang, Malam, November 2010, besoknya hari raya qurban…
Pion Ratulolly; Penulis Novel “atma” Putih Cinta Lamahala Kupang, Peserta Temu Sastrawan Indonesia III di Tanjung Pinang.
[1] Saluang merupakan alat musik tiup yang tumbuh dan berkembang di Minangkabau. Terbuat dari potongan pohon bambu pilihan, berdiameter kira-kira 2-3 cm dengan panjang kurang lebih 90 cm. Bentuknya serupa dengan seruling atau flute, hanya saja pangkal potongan pohon bambu ini tidak ditutup seperti flute atau seruling pada umumnya, alias ujung dan pangkalnya bolong.
[2] Senandung Perih Dendang Saluang adalah salah satu cerpen yang ada dalam buku Ujung Laut Pulau Marwah: Antologi Cerpen Temu Sastrawan Indonesia III (TSI III di Tanjung Pinang, 28-31/10/2010).
[3] Raudah Jambak, sastrawan dari Medan, Sumatera Utara.
[4] Estetika dan Etika merupakan nilai-nilai yang ada dalam Aksiologi (Salah satu cabang ilmu Filsafat Pendidikan). Estetika bermakna nilai keindahan (baik bahasa, gaya cerita, tema, dll) sedangkan nilai etika lebih kepada nilai moral, kebaikan dan kebenaran. Keduanya selalu diperjuangkan oleh setiap penulis.
[5] Bila dilihat dari penamaan tokoh, seperti Mamak maka latar tempat cerpen ini ada di Sumatera, Minang, Medan; sesuai dengan asal sang cerpenis.
Menerawang Senandung Perih Dendang Saluang[1])[2]
Karya M. Raudah Jambak[3] Dengan Lampu Pijar Semiotika
Pengantar
Pada kegiatan Temu Sastrawan Indonesia (TSI) III di Tanjung Pinang tanggal 28-31 Oktober 2010 lalu, seluruh sastrawan di Indonesia yang berniat mengikuti TSI III diprasyaratkan oleh penyelenggara untuk mengirim sebuah naskah puisi atau cerpen. Naskah-naskah ini pada akhirnya sudah dibukukan oleh penyelenggara setelah melewati kurasi tim kurator yang terdiri dari beberapa sastrawan senior (sebenarnya dalam sastra tidak ada senior dan junior namun pengklasifikasian yang saya lakukan ini semata untuk memudahkan pembeda antara sastrawan kurator dan sastrawan peserta TSI III). Naskah-naskah puisi dibukukan dalam Percakapan Lingua Franca: Antologi Puisi sedangkan naskah-naskah cerpen dibukukan dalam Ujung Laut Pulau Marwah: Antologi Cerpen. Semua sastrawan peserta kemudian dibagikan kedua buku ini oleh penyelenggara. Saya pun langsung melahap buku Ujung Laut Pulau Marwah: Antologi Cerpen membuka daftar isi. Cerpen yang pertama saya cari –untuk mengecek kepastian apakah naskah saya diterima atau tidak- tentunya adalah cerpen saya Tanam Pinang Tumbuh Gading. Dan ternyata cerpen saya juga ikut tergenang di atas Ujung Laut Pulau Marwah: Antologi Cerpen. Saya lalu membacanya -tepatnya membaca cepat.
Selepas mengkhatam Tanam Pinang Tumbuh Gading, saya kembali lagi ke daftar isi. Bagian nama sastrawan menjadi ekor mata saya. Dan M. Raudah Jambak adalah sastrawan yang ingin pertama saya baca karyanya, berhubung beliau adalah orang pertama yang saya kenal dalam kegiatan TSI III. Persis, cerpen Senandung Perih Dendang Saluang pun mulai saya lahap. Saya bahkan menghkhatam cerpen ini sampai beberapa kali. Akan tetapi, senandung perih dendang saluang itu terus saja terngiang-terngiang di telingaku. Ada apa gerangan?
Cerpen ini, sebagaimana cerpen lainnya, juga mengandung dua unsur dasar, estetika dan etika[4]. Keduanya hal ini bisa ditemukan dalam struktur atau tubuh cerpen (baik tema, alur, penokohan dan perwatakan, geya penceritaan, dll). Akan tetapi, yang membuat senandung perih dendang saluang itu terus saja terngiang-terngiang di telingaku lantaran saya dikejar beberapa pertanyaan misterius; mengapa judulnya harus Senandung Perih Dendang Saluang? Mengapa perih? Mengapa Saluang? Mengapa kejadiannya saat hujan, kilat guntur, langit muram (maksudnya tak ada cahaya bintang dan bulan). Sederetan pertanyaan-pertanyaan sejenis ini lalu berelindanan liar di kepala saya. Karena itu, demi meminimalisir –tidak bermaksud mengeliminir- senandung perih dendang saluang yang terus mengiang-ngiang di telinga ini dan demi menjinakkan pertanyaan-pertanyan misterius di kepala ini maka saya akan mencoba untuk menerawangnya. Meskipun jujur saya akui bahwa tulisan ini agak jauh dari sifat keilmiahan.
Sekilas Tentang SPDS
Cerpen Senandung Perih Dendang Saluang (SPDS; pen) mengisahkan tentang kepanikan tokoh aku pada suatu malam saat hujan mengguyur rumah[5]nya. Ia khawatir akan terjadinya banjir. Kalau pun tidak banjir maka kebakaran. Kedua bencana ini sering hadir pada saat hujan dalam waktu yang relatif lama dan anehnya acap kali terjadi pada tiap bulan Ramadhan. Kepanikan tokoh aku tidak hanya habis sampai di situ. Ia juga menghawatirkan keberadaan rumah mertuanya yang ditinggal pergi oleh mertuanya ke Pariaman.
Cerita berlanjut, isrti tokoh aku yang sebelumnya sudah terlelap, tiba-tiba meraung-raung. Istrinya mimpi buruk. Mimpi tentang Mamak dan Bapak dari tokoh istri, terkubur dinding rumah Andung di kampung (baca: Pariaman). Dan setelah menenagkan istri, tokoh aku pergi ke rumah mertuanya untuk memastikan tak terjadi apa-apa. Betul saja, di rumah mertuanya tak terjadi apa-apa. Namun sekembali ke rumahnya, tokoh aku mendapati anak-anaknya menangis histeris. Di sisi anak-anak, istrinya tergeletak pingsan. Di tangan istrinya tergenggam subuah HP. Ternyata istri tokoh aku pingsan karena membaca pesan masuk di HP itu. Isi pesan masuknya adalah “Kak, Pariaman gempa. 7,6 SR. Rumah Andung hancur. Mamak….”.
Menariknya dalam beberapa peristiwa yang ada dalam cerpen SPDS selalu dimunculkan mengenai tokoh aku yang beberapa kali mendengar bunyi saluang dan suara sirine. Sejalan dengan itu, tokoh aku juga menyaksikan, awan yang terlihat buram, langit suram, hujan terus menerus mengguyur-menderas, banjir, lumpur, kilat serta guntur. Di samping itu, ada hal lain yang sempat disitir Raudah, yaitu kritik-kritik sosial. Baik terhadap masyarakat maupun pemerintah. Nah, bagi saya, beberapa hal inilah yang akan coba saya terawang. Tujuan dari proses penerawangan ini adalah agar bisa melihat salah satu aura cerpen Senandung Perih Dendang Saluang karya M. Raudah Jambak dalam rupa yang alternatif. Oleh karena itu, saya membutuhkan sebuah lampu pijar yang berkapasitas kuat untuk proses penerawangan. Dan lampu pijar yang saya gunakan adalah Semiotika de Saurse.
Lampu Pijar Semiotika Saurse
Yasraf Amir Piliang dalam bukunya Hipersemiotika mengutip definisi semiotika (semiotics) oleh Ferdinand de Saussure “bahwa semiotika adalah ilmu yang mengkaji tentang tanda sebagai bagian dalam kehidupan sosial”. Dengan kata lain, Saussure berpendapat bahwa semiotika sangat menyandarkan dirinya pada aturan main (rule) atau kode sosial (social rule) yang berlaku di dalam masyarakat, sehingga tanda dapat dipahami maknanya secara kolektif. (Piliang, 2003:256). Senada dengan itu, mengutip pernyataan penulis Perancis, Michael Butor, bahwa Aart van Zoest (1993) dalam bukunya Semiotika: Tentang Tanda, Cara Kerjanya, dan Apa yang Kita Lakukan Dengannya menyatakan bahwa masalah manusia adalah mencari arti dari yang tidak mempunyai arti. Dia juga menyatakan bahwa semua mempunyai arti, atau tidak satupun mempunyai arti. Titik tolak dari pernyataan ini adalah bahwa manusia mencari arti dalam benda-benda dan gejala-gejala yang mengelilinginya dan bahwa dia, tepat atau tidak tepat, benar atau salah, memberikan arti. Karena manusia mampu, maka ia dapat memberikan arti pada benda-benda dan gejala-gejala.
Dari pandangan ini maka saya akan mencoba mengklasifikasikan pembahasan ini dari dua aspek yang sudah saya garis bawahi di atas yakni, 1) benda-benda, dan 2) gejala-gejala.
1) Benda-benda
a) Saluang.
Benda yang pertama sekali hadir dalam cerpen ini tentu saja saluang lantaran ia nampang dalam judul dan kadar keberadaannya sangat mendukung kisah dalam cerpen SPDS. Berdasarkan makna denotatif, saluang adalah alat musik tiup sejenis seruling tradisional khas Minangkabau, Sumatra Barat. Biasanya dipakai dalam pertunjukan untuk mengiringi lagu-lagu lepas yang diceritakan secara spontan. Unsur spontanitas juga terdapat dalam syair-syair untuk lagu-lagu lepasnya. Sedangkan berdasarkan konotatif saluang ini dapat mewakili suara-suara perih, sedih, duka, dan segala hal yang berkaitan dengan duka cita (bisa pula kematian). Sebagaimana kehadiran saluang dalam cerpen ini yang selalu dikaitkan dengan musibah. Hal ini dapat dilihat pada kutipan cerpen, hal: 158, paragraf 1, sebagai berikut:
…..
LAMA mataku tidak mau terpejam. Dan memang aku tidak mau memejamkannya sedikit pun. Padahal, aku sudah mengantuk berat. Istri dan anak-anakku sudah lama terlelap. Sebelumnya mereka berusaha bercengkrama, sambil berjaga. Betapa tidak. Sudah hampir seminggu daerah tempat tinggal kami diguyur hujan. Awan terlihat buram. Langit terus-menerus muram. Seolah menebar kesedihan yang mendalam. Bukan hanya disebabkan jalan raya yang basah. Atau air yang menggenang sampai ke lutut orang dewasa, di beberapa tempat. Sebilah saluang seolah bersenandung di pikiranku, mengikuti irama rembesan air hujan dari langit-langit rumah kami yang rapuh itulah, yang paling mengganggu.
…..
Dalam paragraf ini diceritakan tentang kesedihan tokoh aku di suatu malam lantaran daerah tempat tinggalnya telah seminggu diguyur hujan. Dan ia merasakan kesedihan akibat itu. Namun anehnya, kesedihan yang lebih mendalam justru di saat tokoh aku mendengar sebilah seluang yang seolah bersenandung di pikirannya. Dapat dipekirakan bahwa ada sebuah berita duka yang dikabarkan atau diisyaratkan melalui bunyi saluang itu. Dan pada akhir cerita diketahui bahwa berita duka itu adalah kecelakaan (kematian? boleh jadi!) Mamak (dan Bapak? boleh jadi!) dari istri tokoh aku, karena rumah Andung (dari istri tokoh aku) hancur akibat gempa Pariaman.
b) Sirine.
Kalau saluang barangkali hanya dikenal di Pulau Sumatera umumnya. Sedangkan sirine hampir dikenal oleh seluruh warga Indonesia –boleh jadi dunia. Suara sirine ini biasanya muncul dari mobil ambulance. Mobil ambulance biasanya diasosiasikan dengan mobil jenazah. Dengan demikian, di saat tokoh aku mendengar suara sirine (meskipun dalam pikiran) maka di saat itulah kabar duka telah disuarakan oleh sirine. Hal ini bisa disandingkan pada kutipan cerpen, hal: 161, paragraf: 9, sebagai berikut:
…..
Mataku terus mengawasi sisi langit-langit yang merembeskan hujan. Aman, pikirku. Tetapi telingaku sayup-sayup mendengar sayup sirine yang melesat di antara deru irama hujan menembus gendang telingaku. Dan aku hanya bisa menelan ludah. Rumah siapa lagi, pikirku kembali.
…..
Tokoh aku mengkhawatirkan kalau-kalau bunyi sirine (yang masuk ke telinganya secara nyata atau melalui pikiran?) ini berasal dari rumah yang terbakar. Ia juga mencemaskan kalau-kalau suara sirine itu berasal dari rumah mertuanya yang kosong ditinggal pergi mertua tokoh aku ke Pariaman.
c) Rumah
Rumah secara makna denotasi adalah tempat tinggal, berteduh dari panas dan hujan, tempat prifasi, tempat segala suka dan duka ditanak di dalamnya, menjadi tempat yang vital dan sangat dibutuhkan setiap orang untuk menjalani segala urusannya di dunia ini. Singkatnya, rumah adalah surga. Maka makna konotasi rumah adalah jantung, nafas, paru-paru, nadi, urat, intinya segala sesuatu yang berkaitan dengan hidup matinya seseorang.
Dalam cerpen ini tokoh aku mengkhawatirkan keberadaan rumah mertuanya yang sedang dalam keadaan kosong, tanpa penghuni. Dan ketika menenangkan istrinya yang mendapatkan mimpi buruk tentang Mamak dan Bapak (dari istri tokoh aku) yang terkubur dinding rumah Andung (dari istri tokoh aku). Naasnya, tokoh aku memahami rumah (yang diisyaratkan oleh bayang wajah mertuanya) secara denotatif. Bukan secara konotatif. Dari salah tafsir ke salah tindak.
2) Gejala-gejala
a) Gejala dari alam
Gejala dari alam yang dimaksud berkaitan dengan peristiwa-peristiwa alam yang mendukung/ mempertegas kualitas cerita. Di antaranya, awan terlihat buram, langit suram, hujan mengucur deras, genangan air, kilat dan guntur. Peristiwa-peristiwa ini biasanya menimbulkan ketidaknyamanan bagi manusia. Ketidaknyamanan ini biasanya menimbulkan kecemasan (mungkin akan terjadi banjir atau kebakaran). Kecemasan inilah terkadang akan mengantarkan orang kepada tindakan-tindakan yang gegabah. Gejala-gejala dari alam seperti ini biasanya menyiratkan tentang kesedihan, kedukaan dan kelaraan. Bahkan menghantarkan orang kepada kepasrahan.
b) Gejala dari manusia
Gejala yang dimaksud seperti mata tidak mau terpejam, cemas, terbawa mimpi buruk, serta dada bergemuruh kencang. Gejala-gejala ini menandakan bahwa ada sesuatu yang akan terjadi. Biasanya berkaitan dengan berita duka. Contoh kasus yang sederhana adalah ketika sesorang mengalami kejadian mata yang tiba-tiba saja berkedip berulang-ulang. Hal ini mengisyaratkan akan adanya kabar buruk yang berkaitan dengan dirinya (kalau bukan dirinya maka orang-orang dekatnya). Dan kejadian-kejadian seperti ini lebih mengarah kepada mitos atau kepercayaan (bukan agama) tradisional.
Kritik Sosial
Dalam cerpen Senandung Perih Dendang Saluang juga ditemukan beberap kritik sosial. Sekali lagi demi kenyamanan telaah, saya terpaksa mengklasifikasikan kritik sosial ini ke dalam dua aspek, yakni 1) Kritik Sosial Terhadap Masyarakat dan 2) Kritik Sosial Terhadap Pemerintah.
1) Kritik Sosial Terhadap Masyarakat.
Kritik ini nampak pada beberapa kejadian yaitu: jalan raya yang basah (tentunya dalam kadar yang banyak), air yang menggenang sampai lutut orang dewasa, banjir, lumpur, kebakaran karena lilin kalau listrik padam dan petasan kalau musim Ramadhan serta gesekan arus pendek kalau liatrik menyala, lari sepeda motor yang kurang awas di saat hujan. Nah, Raudah ingin menyampaikan kritik kepada kita selaku masyarakat (sekaligus pemerintah) agar lebih memperhatikan persoalan di atas. Misalnya akibat dari jalan raya tergenang, air yang tergenang hingga lutut orang, banjir lumpur, dll, maka kebersihan harus dijaga. Buanglah sampah pada tempatnya. Kaitan dengan kebakaran agar kita lebih memperhatikan lagi posisi/ tempat lilin agar di saat tertiup angin tidak menyebabkan benda di sekitar terbakar. Begitu pun petasan yang dibakar oleh anak-anak sebaiknya penggunaannya diawasi oleh orang dewasa.
2) Kritik Sosial Terhadap Pemerintah
Selain kritik sosial terhadap masyarakat di atas juga mengena kepada pemerintah, ada kritik lainnya yang ikut mengena juga kepada pemerintah, yakni: banjir (termasuk kebakaran dan dan bencana di saat musim hujan umumnya) seharusnya mendapat perhatian serius dari pemerintah. Adapun perhatian yang dimaksud adalah kerja nyata dari pemerintah untuk mengatasi masalah banjir. Baik pada masa sebelumnya sebagai bentuk pencegahan (prefentife) atau pun pada masa terjadi (membersihkan selokan/parit yang terendam, memperlancar arus air) maupun pada saat sesudah terjadinya banjir. Dengan demikian maka kehidupan sosial masyarakat dapat berjalan dengan baik adanya sebagaimana yang diharapkan oleh setiap manusia.
Penutup
Dengan beberapa uraian di atas diharapkan mampu menjadi penerawang sederhana untuk memahami cerpen Senandung Perih Dendang Saluang karya M. Raudah Jambak berdasarkan pendekatan semiotik de Saurse. Tulisan ini bukanlah sebuah kebenaran yang pasti karena itu saya memohon kiranya kalau ada hal yang bisa diterawang, silahkan menyarankan. Tulisan ini semata pembacaan saya secara subjektif atas cerpen SPDS. Bagi yang ingin menerawangnya dari aspek yang lain, saya persilahkan. Selamat melanjutkan aktifitas selanjutnya dan selamat membaca isyarat.
Kupang, Malam, November 2010, besoknya hari raya qurban…
Pion Ratulolly; Penulis Novel “atma” Putih Cinta Lamahala Kupang, Peserta Temu Sastrawan Indonesia III di Tanjung Pinang.
[1] Saluang merupakan alat musik tiup yang tumbuh dan berkembang di Minangkabau. Terbuat dari potongan pohon bambu pilihan, berdiameter kira-kira 2-3 cm dengan panjang kurang lebih 90 cm. Bentuknya serupa dengan seruling atau flute, hanya saja pangkal potongan pohon bambu ini tidak ditutup seperti flute atau seruling pada umumnya, alias ujung dan pangkalnya bolong.
[2] Senandung Perih Dendang Saluang adalah salah satu cerpen yang ada dalam buku Ujung Laut Pulau Marwah: Antologi Cerpen Temu Sastrawan Indonesia III (TSI III di Tanjung Pinang, 28-31/10/2010).
[3] Raudah Jambak, sastrawan dari Medan, Sumatera Utara.
[4] Estetika dan Etika merupakan nilai-nilai yang ada dalam Aksiologi (Salah satu cabang ilmu Filsafat Pendidikan). Estetika bermakna nilai keindahan (baik bahasa, gaya cerita, tema, dll) sedangkan nilai etika lebih kepada nilai moral, kebaikan dan kebenaran. Keduanya selalu diperjuangkan oleh setiap penulis.
[5] Bila dilihat dari penamaan tokoh, seperti Mamak maka latar tempat cerpen ini ada di Sumatera, Minang, Medan; sesuai dengan asal sang cerpenis.
Subscribe to:
Posts (Atom)