Tuesday, 27 May 2008

”Gema Tanah Air”, DR. H. B. Yassin


H. B. Jassin. Di mana berakhirnya mata seorang penyair?
Kau sudah lama sekali tahu, kuburan dia
Hanyalah nisan kata-katanya selama ini
Tentang mimpi, tentang dunia sebelum kau tidur

..........

Paragraf pertama Sajak berjudul Keterangan karya Toto Sudarto Bachtiar [Gema Tanah Air, hal 165]


Kehidupan sastra tak pernah lepas dari kehidupan bangsa dan tanah air, itulah sebabnya sastra senantiasa mengalami perkembangan dengan segala pasang surutnya secara terus-menerus.

Untuk mengamati perkembangan tersebut tentu diperlukan dokumentasi lengkap. Dokumentasi bukan hanya akan berguna bagi para ahlinya, namun juga akan berfaedah bagi orang awam yang menaruh minat di bidang tersebut.

Dalam buku ”Gema Tanah Air”, DR. H. B. Yassin, kritikus sastra Indonesia yang sangat terpandang, secara berturut-turut telah mengumpulkan prosa dan puisi yang dipilih dari karya-karya para sastrawan Indonesia.

Setiap pengarang merupakan wakil dari jamannya, dan dengan karyanya ia pun mencerminkan gejolak situasi dirinya dan juga kehidupan di sekitarnya.

Bunga rampai perjalanan sastra di tanah air yang dirangkai H. B. Yassin ini telah mengalami cetak ulang 10 kali (setidaknya pada buku yang saya pegang, cetakan Balai Pustaka, sejak tahun 1948 hingga 1993 pada cetakan ke 10).

Ada banyak nama-nama penting dari para sastrawan dan karya-karyanya yang bisa kita pelajari dari buku ini sebagai catatan sejarah kesusastraan di tanah air. Sebut saja misalnya Chairil Anwar, Nugroho, Asrul Sani, Samiati Alisjahbana, Toto Sudarto Bachtiar, tentu masih banyak lagi yang lainnya.

Sedikit profil penulis :



H. B. Yassin, lahir 31 Juli 1917 di Gorontalo, Sulawesi Utara, Pendidikan beliau adalah di HIS Gorontalo, HBS-B 5 tahun Medan, tahun 1957/tamat FSUI. Tahun 1958-1959 studi Ilmu Perbandingan Kesusastraan di Yale University, Amerika Serikat. Mendapat gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Indonesia dalam bidang Sastra.

Karangan Asli : Angkatan 45 ; Tifa Penyair dan Daerahnya; Kesustraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei ; Kesusastraan Indonesia di Masa Jepang ; Kesusastraan Dunia dalam Terjemahan Indonesia ; Angkatan 66, Heboh Sastra 1958 dan berbagai artikel di harian dan majalah.

Karya Terjemahan : Chushingura, oleh Sakai Sjiova ; Renungan Indonesia, oleh Sjahrasad ; Terbang Malam. Oleh A. De St Exupery ; Kisah-kisah dari Rumania ; Api Islam, oleh Syed Ameer Ali ; Certa Panji dalam Perbandingan, bersama Zuber Usman, oleh R.M.Ng. Poerbatjaraka ; Max Haverlaar, oleh Multatuli ; Kian Kemari-Indonesia dan Belanda dalam Sastra ; The Complete Poems of Chairil Anwar, dikerjakan bersama Liauw Yoek Fang ; dan Al Qur’anul Karim, Bacaan Mulia.

Judul Buku : Gema Tanah Air ; Prosa dan Puisi [1 dan 2]
Penulis : H.B. Yassin
Penerbit : Balai Pustaka
Cetakan : 10, Jakarta 1993
Tebal : 278 Halaman

Akidah Gauzillah

Saja-sajak Akidah Gauzillah
( )
TANAHKU SEPI
tanahku sepi, menjangkau angin
di langit berlayar. telah habis serpihan
waktuku berpaling. namun segalanya
hanya mengarungi sia di medan senja
bayang-bayang tak mau pergi, melengkung
siluet. lagu-laguku berkaca di sana
tak peduli bulan menutupi malam
sepi yang sia-sia, merambahi malam
hingga aku pun tidur di pangkuan yang
kosong dan tertawa lagi dalam mimpi
berjalan dari langit ke langit
November 05, 2005
KEINGKARAN
terlalu banyak janji tak bisa ditunaikan
terlalu banyak harapan terhamparkan
daun-daun berserakan tak tersapu
dan angin pun pergi entah ke mana
yang berdiri di sini hanya panorama
kediaman
November 05, 2005
KEPADA JO
jangan menangis, jangan
walau air mataku telah berlari
menuju karang laut
tapi hatimu
biarlah menjadi gurun tak berbasah
menunggu hujan di taman kaktus
dan buah-buah berguguran di musimnya
esok akan ada yang datang
menghampirimu kala kau berbaring
tetapi bukan air mataku
November 05, 2005
PERJALANAN
deru kereta itu menungguku
padahal napasku telah berakhir
di ujung jalan, seberang danau
sebelum mencapainya
hidup seperti teh pahit, saat kau
mereguknya perlahan-lahan
dan biarkan tenggorokanmu bernyanyi
menarikan puisi dahaga
yang kau rindukan pada hijau
danau itu
segalanya terus berawal dan berawal
menjemput kematian semusim semi
tak terkira kita akan mengemasnya
sebelum malam tiba
aku tak tahu lagi kebebasan
yang mengepak burung-burung
bersarang di dada ini
meninggalkan gerbong-gerbong
yang terus berkejaran
mencari sepotong pintu hati
di keping jiwa
November 05, 2005
DEPRESI ANAK NEGERI
Aku kehilangan kata
untuk menggoreskan luka jiwa
yang biasanya menjadi grafik keresahan
Termenung di putaran waktu
apakah ada sedikit guna
merangkaki kebimbangan melewati musim-musim
dengan sekian ton dilema yang membusuk
sedang asa terus meradang
buta waktu pagi, siang, sore, dan malam
hanya terpaan panas matahari dirasa
hanya gemerlap bintang terdengar
dari pekik norak bocah-bocah
kampung abad ini
Depresi ini merampas kekayaan
tak bernilai sejak terpeti di nurani keluguan
hingga terpikul oleh ambisi kemudaan
lalu terguncang badai dunia yang disambut
meriah kanibal-kanibal globalisasi
aku tercincang di meja judi mereka
sebab aku bukan siapa-siapa
cuma seorang anak negeri yang suka
berteriak kemalu-maluan:
"Ibu Pertiwi, dalam setiap desah nafasku
terhembus kekayaan cita-cita dan energi
semangat anak bangsa
walau di telapak tangan ini hanya terlihat
selembar lima ribuan hasil menjual koran
untuk membayar SPP."

LAGU
kamar mayat ini,
aku berbaring di kehidupan,
jauh memandang lukisan
kosong, tak mengalun warna-warna
seperti Jamal D Rahman bernyanyi
pada piring-piring
dan aku membisikkan kenangan
tentang laki-laki kota
yang menciptakan not-not jiwa
di garis-garis bermediasi
atas nama fenomena
jalan cinta tak sebatas ruang yang
tertutup keabadian tahta sang derita
menunggu Hitler mengulurkan pedang
ke leher kekasih
dan aku tersenyum damai merentangkan tangan
bernyanyi, "oh, sayang, oh, sayang."
lalu terkuburlah di sini, pada nisan-nisan
kejiwaan yang terlepas dari analisa
riset dokter-dokter jiwa
menghembuskan napasku pada derita
yang tertawa di jendela pagi
dan tangis yang mengulum-ngulum senyum
di tepian malam, melayang-layang
antara Cikini dan kota-kota tua
kubuang hamparan puisi sepanjang jalan
merayapi merpati putih hingga ruh-ruh ini
menggelepar pada nyanyian
yang membungkus kenangan
satu ketenangan harapan
tak terbagi-bagi di antara kesadaran
luka yang neurosis
mendesis-desis
dan aku pun berakhir
sebagai lagu diri


Akidah Gauzillah dikenal sebagai cerpenis dan penyair yang sangat berbakat. Karya-karyanya dipublikasikan di berbagai media sastra pusat dan daerah, seperti Media Indonesia, Republika, Kompas, dan Majalah Sastra Horison. Sajak-sajaknya juga terkumpul dalam buku seri antologi puisi Surat Putih (Risalah Badai, 2001/2002), antologi cerpen Sastra Senja (Dewan Kesenian Jakarta, 2004), antologi cerpen Mencintaimu (Logung Pustaka, 2004), kumpulan cerpen Majelis Sastra Asia Tenggara (Pusat Bahasa, 2005), kumpulan cerpen tunggal Bila Bintang Terpetik (Beranda Hikmah, 2004), dan Antologi Puisi Perempuan Penyair Indonesia/ (Risalah Badai, 2005).


GEMA::Kesadaran
Akidah Gauzillah
Halaman sebelumnyaLalu, di manakah peran Tuhan? Siapa sebenarnya yang membutuhkan atau dibutuhkan? Jika kejahatan dan kebaikan memang salah satu pasangan alamiah sepanjang keabadian atau kebahagiaan dan penderitaan memang tak pernah bisa tersisih salah satu untuk selamanya, apakah demikian pula tiada bedanya hidup dengan Tuhan atau tanpa Tuhan? Jadi apa yang diributkan orang-orang beragama tentang definisi kebenaran dan paling benar? Tidakkah segalanya hanya akan kembali pada satu muara: kebutuhan hidup yang diakui?
Seorang penyair yang juga kawan saya, Binhad Nurrohmat, suatu sore dalam percakapan biasa, mempertanyakan, mengapa Tuhan itu ada? Sebenarnya, jika kita jujur, sejak kecil pun pertanyaan itu telah bermain di alam pikiran kita, tetapi kita senantiasa terjebak pada perasaan Malin Kundang bila membiarkannya hidup dan berkembang seperti halnya fisik kita. Kita mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan manis itu di buku-buku, di klab-klab studi, bahkan hingga ke perguruan tinggi tetapi kita cenderung lupa membuka kesadaran kita sendiri; apakah kita yakin secara sadar untuk memilih apakah Dia ada dalam hidup kita atau kita menciptakannya untuk ada? Dan jika, kesadaran kita menolaknya, yakinkah kita bahwa stabilitas mental kita akan terjaga dengan pilihan itu?
We have no choice, if no choose to choice.
Sanggar Hati, Maret 2005
Akidah Gauzillah. Lahir di Cibubur, Jakarta Timur, 20 Desember 1977. Selama ini menulis karya sastra di Horison, Media Indonesia, Syir’ah, Muslimah, Cakrawala, Puteri, dan aktif di media diskusi mejabudaya, Taman Ismail Marzuki. Buku-buku yang telah terbit antara lain antologi puisi komunal perempuan penyair SURAT PUTIH I dan II (Risalah Badai, 2001/2002), antologi cerpen Yang Dibalut Lumut (CWI, 2003), antologi cerpen Indonesia Mencintaimu (Logung Pustaka, 2004), antologi cerpen Majelis Sastra Asia Tenggara (Pusat Bahasa, 2005) dan kumpulan cerpen tunggal Bila Bintang Terpetik (Beranda Hikmah, 2004).

Friday, 23 May 2008

6 PUISI ANAK RUMAH DUNIA

1.
MAAFKAN DOSA-DOSAKU IBU
Karya : Rosliana
Ibu maafkanlah dosa-dosaku
Karena aku telah melawan dan berbicara
Kasar kepadamu ibu
Ibu maafkanlah dosa-dosaku
Karena aku tidak mau menjadi anak yang durhaka
Ibu maafkanlah dosa-dosaku
Karena aku ingin menjadi anak yang soleh, pandai
Membantu orang tua dan tidak mau melawan kepada orang tua.
Ibu engkaulah segalanya bagiku
Ku berdoa kepada Allah agar dosa-dosaku terhadap ibu
Dapat diampunkan.
Ya allah, ampunilah dosa-dosaku terhadap ibuku
Ya Allah, maafkanlah kesalahanku terhadap ibuku
Ya Allah, hamba tidak akan mengulanginya lagi
Amin… amin… ya robal ‘alamiin.
Semoga dosa-dosaku diampuni Allah…
***
2.
BERDO’A
Karya: Abdul Goni
Ibuku yang telah memelihara dan membesarkan daku
Dan dia telah menyekolahkanku
Dia satu-satunya untukku
Yang merawat aku semenjak kecil
Aku akan mendoakan ibuku
Karna dia yangmengayun-ayun
Ketika aku masih kecil
Dan dia yang membesarkanku.
***
3.
IBUKU
Karya: Wahyudi
Betapa susah payahnya
Engkau melahirkan, mendidik, dan membesarkanku
Engkau adalah perisai hidupku
Engkau adalah cermin hidupku
Aku akan berbakti kepadamu
Aku akan menurut kepadamu
Aku akan melindungi dirimu
Surga ada di telapak kaki ibu.
***
4.
ILMU
Karya: S. Nadrotul Ain
Ilmu semua orang
Memerlukanmu
Aku belajar dengan tekun
Untuk mendapatkanmu
Buku adalah sumbermu
Bagai makanan
Yang kusantap setiap waktu
Tanpamu ilmu
Aku tak berguna
Di dunia ini.
***
5.
SENYUMAN MANIS
Karya: Rosliana
Senyumanmu…. Manis
Senyumanmu…. Indah
Bagaikan susu dan gula
Yang tercampur menjadi Saturday
Bila kau…..tersenyum
Rasanya maniiiiis sekali
Dan bila kau tertawa
Rasanya ria
***
6.
MENTARI
Karya: S. Nadrotul Ain
Hai mentari pagi
Hari ini kau datang tampak cerah sekali
Engkau datang tiap hari
Untuk sumber energi pribumi
Semua orang berlari pagi
Untuk menyehatkan diri
Tanpa kau, hai mentari
Di seluruh bumi ini
Akan mati tiada lagi.
***
BIODATA:
ROSLIANA: sekarang kelas 1 Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Serang. Suka teater, puisi, dan mengarang. Prestasinya lainnya adalah The Best Actress dalam Pesta Anak I Rumah Dunia tahun 2003, beberapa kali ikut pentas teater anak Rumah Dunia di Launching 1001buku di British Council-Jakarta tahun 2003, Indonesia Membaca di Jakarta Convention Centre tahun 2003, dan beberapa event perbukuan.
ABDUL GONI: Murid kelas 2 SMP Islam Darul Falah, Ciloang, Serang. Pernah ikut pentas teater anak Rumah Dunia di Jakarta Convention Centre. Kini sibuk dengan studinya.
WAHYUDI: Dia salah satu anak yang diberi beasiswa oleh Rumah Dunia saat masuk ke bangku SMP. Pernah di kelas 1 di SMP PGRI 1, Serang. Senang musik dan tergabung dalam kelompok musik Rumah Dunia. Sering ikut pentas teater Rumah Dunia.Tapi sekarang dia meninggalkan bangku sekolah dan memilih jadi pengamen di atas bus antar propinsi.
S. NADROTUL AIN: Sekarang kelas 2 di MTsN Serang. Hobi menulis dan teater, sering ikut pentas teater anak Rumah Dunia.

50 Puisi Untuk Anak


50 Puisi Untuk Anak
50 Lagu-Hati-Kesatuan
Tuhan Sempurna dan Anak Sempurna
oleh Sri Chinmoy
.

Aku berdoa kepada Tuhan
Setiap hari.
2.
Ibuku cantik.
3.
Ayahku kuat.
4.
Kecantikan ibuku, Mendebarkanku.
5.
Kekuatan ayahku
Melatih kehidupanku.
6.
Aku sayang sama semua orang.
7.
Aku tidak membenci siapapun.
8.
Aku percaya bahwa semua orang adalah orang yang baik.
9.
Pagi hari memberi sukacita
Di mataku.
10.
Malam hari memberi kedamaian
Di hatiku.
11.
Matahari mengundangku.
Aku takut pergi ke matahari,
Karena itu terlalu jauh.
12.
Bulan mengundangku.
Aku takut bahwa ketika aku berada di sana
Orang tuaku akan merindukanku,
Dan aku juga akan merindukan mereka.
13.
Bintang-bintang dan planet-planet mengundangku.
Aku takut bahwa ketika aku pergi ke mereka,
Mereka akan menahan aku bersama mereka
Untuk bermain dengan mereka
Dan mereka tidak akan memperbolehkan aku
Untuk pulang ke orang tuaku yang malang.
14.
Setiap pagi
Aku melihat sebuah bunga mawar yang sangat indah
Di dalam hatiku.

15.
Aku tidak akan pernah ingin tahu
Apakah itu keraguan dan kecumburuan.
16.
Aku tidak akan pernah ingin merasakan
Perasaan yang tidak aman di hatiku
Dan ketidakmurnian di pikiranku
Selama seluruh kehidupanku.
17.
Setiap malam Tuhan datang
Untuk melihat aku dalam mimpiku.
Dia mengatakan kepadaku:
“Anakku,
Kamu adalah anak baik sekali.
Teruslah seperti ini
Selama seluruh kehidupanmu.
18.
Satu hal yang paling penting
Yang Tuhan telah mengajarkan kepadaku:
Jika aku benar - benar sayang sama Tuhan,
Maka aku tidak akan pernah takut kepada Dia.
19.
Satu hal lagi yang penting
Yang Tuhan telah mengajarkan kepadaku:
Jika aku benar - benar membutuhkan Dia,
Maka Dia akan melakukan semuanya
Untuk membahagiakanku.

20.
Aku tidak pernah menjelek-jelekkan orang lain.
Menjelek-jelekkan orang lain, itu sangat tidak baik.
21.
Orang tuaku sangat baik kepadaku.
Mereka telah mengatakan kepadaku pikirkanlah Tuhan dahulu
Sebelum aku mengatakan sesuatu
Dan sebelum aku melakukan sesuatu.
22.
Orang tuaku telah mengatakan kepadaku
Untuk tidak pernah berbohong.
Aku mematuhi mereka.
23.
Orang tuaku telah mengatakan kepadaku
Untuk tidak pernah bertengkar,
Tidak akan pernah berkelahi.
Aku mematuhi mereka.
24.
Aku sangat sayang sama kasih-sayang,
Cinta-kasih dan keprihatinan ibiku untuk aku.
25.
Saya sangat sayang sama
Percaya diri dan tekad yang bulat ayahku.
Dia menjamin aku bahwa aku akan memiliki
Keduanya percaya diri dan tekad yang bulat seperti dia —
Bahkan lebih dari dia.
26.
Ibuku telah mengatakan kepadaku
Apakah itu doa:
Doa adalah sebuah tangisan
Untuk melihat Mata Tuhan.
27.
Ayahku telah mengatakan kepadaku
Apakah itu meditasi:
Meditasi adalah merasakan Hati Tuhan
Di dalam hatiku.
28.
Orang tuaku telah mengatakan kepadaku
Memaafkanlah orang lain.
Hal itu akan membuat saya sangat senang sekali.
Mereka sangat benar.
Aku adalah buktinya.
29.
Saya tidak suka sama sekali
Pikiranku yang gaduh.

30.
Aku sayang sekali
Sama hatiku yang ceria.
31.
Aku tidak mengeluh
Tentang siapapun.
Hal ini telah membuatku
Sangat senang.
32.

Tuhan dan aku sepenuhnya saling mempercayai.
Tuhan tidak lupa dengan hatiku
Walaupun hanya untuk sesaat.
Aku juga melakukan hal yang sama.
Aku tidak pernah lupa dengan Hati Tuhan.
Tidak pernah!


33.

Tuhan mengatakan kepadaku bahwa
Air mataku dan Senyum-Senyumannya
Adalah sama pentingnya.


34.

Tuhan menginginkan bahwa aku tinggal
Di dalam hati terus-menerus.
Dia sangat bangga sama aku
Bahwa aku dapat melakukan hal itu
Dengan mudah.


35.

Ketika aku mengatakan kepada Tuhan sambil bercanda
Bahwa kehidupanku adalah sebuah buku rahasia,
Tuhan menambah secara senyum dan dengan bangga,
“Juga sebuah buku suci.”




36.

Aku tahu bahwa Rahmat Tuhan
Telah membuat aku baik.
Tuhan menambah secara senyum dan dengan bangga,
“Tidak hanya baik saja,
Tetapi sangat baik sekali.”


37.

Tuhan mengatakan kepadaku
Untuk tidak membuat kesalahan yang serius sekali.
Aku harus sayang sama ibuku
Dan ayahku secara seimbang.


38.

Aku mengatakan kepada Tuhan:
“Aku sayang sama mereka secara seimbang,
seimbang, seimbang!”


39.

Ayahku mengatakan kepadaku
Bahwa kecantikanku
Berada di dalam mataku.


40.

Ibuku mengatakan kepadaku
Bahwa keharumanku
Berada di dalam hatiku.




41.

Tuhan, ketika Engkau melihat aku,
Aku mendapatkan sukacita yang amat sangat,
Tetapi ketika Engkau melihat ke dalam hatiku,
Aku menjadi sangat takut.

“Kenapa, anakku, kenapa?
Kamu tidak membuat suatu kesalahan.
Tetaplah senang dan teruslah senang
Manakala Aku melihat ke dalam hatimu.”


42.

Baru-baru ini, aku telah melihat
Sebuah kebun yang indah di dalam hatiku.
Aku telah mulai berdoa
Dan bermeditasi di dalam kebun tersebut,
Dan aku sangat gembira dan bahagia.


43.

Ibuku telah menasihatiku
Untuk berdoa kepada Tuhan
Untuk sebuah hati besar,
Sebuah hati yang sangat besar.
Aku sedang melakukan hal itu,
Dan aku merasakan sangat baik, baik sekali!


44.

Ayahku telah menasihatiku
Untuk berdoa kepada Tuhan
Untuk sebuah kepala yang kecil,
Sebuah kepala yang kecil sekali.
Aku sedang melakukan hal itu,
Dan aku merasakan sangat baik, baik sekali!




45.

Hari ini aku sangat diilhami
Utuk membuka
Rahasia-doaku
Dan rahasia-meditasiku.


46.

Ketika aku berdoa kepada Tuhan,
Aku mengepal tanganku dan menaruhnya
persis di dadaku
Dan aku mencoba mendengar denyut jantungku.
Aku melihat ke atas untuk menemukan sebuah tempat
Sepuluh feet, sekurang-kurangnya,
Lebih tinggi daripada kepalaku.
Ketika aku telah menyelesaikan semua hal ini,
Aku mulai berdoa.
Terus-terang saja, saya mendapatkan hasil luar biasa.


47.

Ketika aku bermeditasi kepada Tuhan,
Aku melakukan hal yang sama dengan tanganku,
Hanya, tidak melihat ke atas tapi ke dalam.
Aku melihat ke dalam hatiku selanjutnya
Aku melihat untuk suatu tempat yang suci dan hening
Di dalam hatiku.
Ketika semua ini usai,
Aku mulai bermeditasi.
Aku berani mengatakan bahwa hasilnya tidak bisa dibayangkan.


48.

Tuhan, Engkau telah membuatku anak Engkau yang sempurna.
Sebagai balasan apa yang aku dapat memberikan kepada Engkau?
Aku hanyalah seorang anak yang kecil;
Aku tidak punya apa-apa untuk memberikan kepada Engkau.




49.

Anakku,
Aku hanya membutuhkan satu hal dari kamu:
Sebuah senyuman yang manis dan imut.


50.

I also need another favour from you.
You will tell your parents
How happy and grateful you are to them
For bringing you into this world.
Still one more favour I need,
And this is the last favour
You will have to do for Me, My child.
You will have to claim Me all the time,
Not missing a second,
As your own, very own.

“God, I have already started.”

Aku juga membutuhkan sebuah bantuan dari kamu.
Kamu akan mengatakan kepada orang tuaku
betapa senangnya dan bersyukurnya kepada mereka
Untuk membawa kamu ke dunia ini.
Masih ada satu bantuan lagi yang Aku membutuhkan,
Dan ini merupakan bantuan yang terakhir
Yang kamu harus melakukan untuk Aku, anakku.
Kamu akan harus selalu mengakui Aku,
Tanpa kehilangan sedikitpun,
Sebagai kepunyaanmu, kepunyaanmu yang sesungguhnya.

“Tuhan, saya sudah mulai.”

PERLAWANAN SASTRA TAUFIK ISMAIL

Hari ini, Taufiq Ismail berbicara dihadapan dosen-dosen IPB. Makalah yang beliau baca sama dengan pidato Taman Ismail Marzuki yaitu : ‘Budaya Malu dikikis Gerakan Syahwat Merdeka’. Di penghujung pidatonya tadi, beliau mengusap airmatanya, sedih melihat kondisi yang terjadi.
Saya lampirkan tulisan beliau yang dahsyat menyentak kita semua:

Budidaya Malu Dikikis Habis Gerakan Syahwat Merdeka

Pidato Kebudayaan Taufiq Ismail


Sederetan gelombang besar menggebu-gebu menyerbu pantai Indonesia, naik ke daratan, masuk ke pedalaman. Gelombang demi gelombang ini datang susun-bersusun dengan suatu keteraturan, mulai 1998 ketika reformasi meruntuhkan represi 39 tahun gabungan zaman Demokrasi Terpimpin dan Demokrasi Pembangunan, dan membuka lebar pintu dan jendela Indonesia. Hawa ruangan yang sumpek dalam dua zaman itu berganti dengan kesegaran baru. Tapi tidak terlalu lama, kini digantikan angin yang semakin kencang dan arus menderu-deru.

Kebebasan berbicara, berpendapat, dan mengeritik, berdiri-menjamurnya partai-partai politik baru, keleluasaan berdemonstrasi, ditiadakannya SIUPP (izin penerbitan pers), dilepaskannya tahanan politik, diselenggarakannya pemilihan umum bebas dan langsung, dan seterusnya, dinikmati belum sampai sewindu, tapi sementara itu silih berganti beruntun-runtun belum terpecahkan krisis yang tak habis-habis. Tagihan rekening reformasi ternyata mahal sekali.

Bahana yang datang terlambat dari benua-benua lain itu menumbuh dan menyuburkan kelompok permissif dan addiktif negeri kita, yang sejak 1998 naik daun. Arus besar yang menderu-deru menyerbu kepulauan kita adalah gelombang sebuah gerakan syahwat merdeka. Gerakan tak bersosok organisasi resmi ini tidak berdiri sendiri, tapi bekerjasama bahu-membahu melalui jaringan mendunia, dengan kapital raksasa mendanainya, ideologi gabungan yang melandasinya, dan banyak media massa cetak dan elektronik jadi pengeras suaranya.

Siapakah komponen gerakan syahwat merdeka ini?

PERTAMA adalah praktisi sehari-hari kehidupan pribadi dan kelompok dalam perilaku seks bebas hetero dan homo, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi. Sebagian berjelas-jelas anti kehidupan berkeluarga normal, sebagian lebih besar, tak mau menampakkan diri.

KEDUA, penerbit majalah dan tabloid mesum, yang telah menikmati tiada perlunya SIUPP. Mereka menjual wajah dan kulit perempuan muda, lalu menawarkan jasa hubungan kelamin pada pembaca pria dan wanita lewat nomor telepon genggam, serta mengiklankan berbagai alat kelamin tiruan (kue pancong berkumis dan lemper berbaterai) dan boneka karet perempuan yang bisa dibawa bobok bekerjasama.

KETIGA, produser, penulis skrip dan pengiklan acara televisi syahwat. Seks siswa dengan guru, ayah dengan anak, siswa dengan siswa, siswa dengan pria paruh baya, siswa dengan pekerja seks komersial ---- ditayangkan pada jam prime time, kalau pemainnya terkenal. Remaja berseragam OSIS memang menjadi sasaran segmen pasar penting tahun-tahun ini. Beberapa guru SMA menyampaikan keluhan pada saya. “Citra kami guru-guru SMA di sinetron adalah citra guru tidak cerdas, kurang pergaulan dan memalukan.” Mari kita ingat ekstensifnya pengaruh tayangan layar kaca ini. Setiap tayangan televisi, rata-rata 170.000.000 yang memirsa. Seratus tujuh puluh juta pemirsanya.

KEEMPAT, 4,200,000 (empat koma dua juta) situs porno dunia, 100,000 (seratus ribu) situs porno Indonesia di internet. Dengan empat kali klik di komputer, anatomi tubuh perempuan dan laki-laki, sekaligus fisiologinya, dapat diakses tanpa biaya, sama mudahnya dilakukan baik dari San Francisco, Timbuktu, Rotterdam mau pun Klaten.

Pornografi gratis di internet luarbiasa besar jumlahnya. Seorang sosiolog Amerika Serikat mengumpamakan serbuan kecabulan itu di negaranya bagaikan “gelombang tsunami setinggi 30 meter, dan kami melawannya dengan dua telapak tangan.”

Di Singapura, Malaysia, Korea Selatan situs porno diblokir pemerintah untuk terutama melindungi anak-anak dan remaja. Pemerintah kita tidak melakukan hal yang sama.

KELIMA, penulis, penerbit dan propagandis buku syahwat ¼ sastra dan ½ sastra. Di Malaysia, penulis yang mencabul-cabulkan karyanya penulis pria. Di Indonesia, penulis yang asyik dengan wilayah selangkang dan sekitarnya mayoritas penulis perempuan. Ada kritikus sastra Malaysia berkata: “Wah, pak Taufiq, pengarang wanita Indonesia berani-berani. Kok mereka tidak malu, ya?” Memang begitulah, RASA MALU ITU YANG SUDAH TERKIKIS, bukan saja pada penulis-penulis perempuan aliran s.m.s. (sastra mazhab selangkang) itu, bahkan lebih-lebih lagi pada banyak bagian dari bangsa.

KEENAM, penerbit dan pengedar komik cabul. Komik yang kebanyakan terbitan Jepang dengan teks dialog diterjemahkan ke bahasa kita itu tampak dari kulit luar biasa-biasa saja, tapi di dalamnya banyak gambar hubungan badannya, misalnya (bukan main) antara siswa dengan Bu Guru. Harganya Rp 2.000. Sebagian komik-komik itu tidak semata lucah saja, tapi ada pula kadar ideologinya. Ideologinya adalah anjuran perlawanan pada otoritas orangtua dan guru, yang banyak aturan ini-itu, termasuk terhadap seks bebas. Dalam salah satu komik itu saya baca kecaman yang paling sengit adalah pada Menteri Pendidikan Jepang. Tentu saja dalam teks terjemahan berubah, yang dikecam jadinya Menteri Pendidikan Nasional kita.

KETUJUH, produsen, pengganda, pembajak, pengecer dan penonton VCD/DVD biru. Indonesia kini jadi sorga besar pornografi paling murah di dunia, diukur dari kwantitas dan harganya. Angka resmi produksi dan bajakan tidak saya ketahui, tapi literatur menyebut antara 2 juta – 20 juta keping setahun. Harga yang dulu Rp 30.000 sekeping, kini turun menjadi Rp 3.000, bahkan lebih murah lagi. Dengan biaya 3 batang rokok kretek yang diisap 15 menit, orang bisa menonton sekeping VCD/DVD biru dengan pelaku kulit putih dalam 6 posisi selama 60 menit. Luarbiasa murah. Anak SD kita bisa membelinya tanpa risi tanpa larangan peraturan pemerintah.

Seorang peneliti mengabarkan bahwa di Jakarta Pusat ada murid-murid laki-laki yang kumpul dua sore seminggu di rumah salah seorang dari mereka, lalu menayangkan VCD-DVD porno. Sesudah selesai mereka onani bersama-sama. Siswa sekolah apa, dan kelas berapa? Siswa SD, kelas lima. Tak diceritakan apa ekses selanjutnya.

KEDELAPAN, fabrikan dan konsumen alkohol. Minuman keras dari berbagai merek dengan mudah bisa diperoleh di pasaran. Kemasan botol kecil diproduksi, mudah masuk kantong celana, harga murah, dijual di kios tukang rokok di depan sekolah, remaja dengan bebas bisa membelinya. Di Amerika dan Eropa batas umur larangan di bawah 18 tahun. Negeri kita pasar besar minuman keras, jualannya sampai ke desa-desa.

KESEMBILAN, produsen, pengedar dan pengguna narkoba. Tingkat keterlibatan Indonesia bukan pada pengedar dan pengguna saja, bahkan kini sampai pada derajat produsen dunia. Enam juta anak muda Indonesia terperangkap sebagai pengguna, ratusan ribu menjadi korbannya.

KESEPULUH, fabrikan, pengiklan dan pengisap nikotin. Korban racun nikotin 57.000 orang / tahun, maknanya setiap hari 156 orang mati, atau setiap 9 menit seorang pecandu rokok meninggal dunia. Pemasukan pajak 15 trilyun (1996), tapi ongkos pengobatan berbagai penyakit akibatnya 30 trilyun rupiah.

Mengapa alkohol, narkoba dan nikotin termasuk dalam kategori kontributor arus syahwat merdeka ini? Karena sifat addiktifnya, kecanduannya, yang sangat mirip, begitu pula proses pembentukan ketiga addiksi tersebut dalam susunan syaraf pusat manusia. Dalam masyarakat permissif, interaksi antara seks dengan alkohol, narkoba dan nikotin, akrab sekali, sukar dipisahkan. Interaksi ini kemudian dilengkapi dengan tindak kriminalitas berikutnya, seperti pemerasan, perampokan sampai pembunuhan. Setiap hari berita semacam ini dapat dibaca di koran-koran.

KESEBELAS, pengiklan perempuan dan laki-laki panggilan. Dalam masyarakat permissif, iklan semacam ini menjadi jembatan komunikasi yang diperlukan.

KEDUABELAS, germo dan pelanggan prostitusi. Apabila hubungan syahwat suka-sama-suka yang gratis tidak tersedia, hubungan dalam bentuk perjanjian bayaran merupakan jalan keluarnya. Dalam hal ini prostitusi berfungsi.

KETIGABELAS, dokter dan dukun praktisi aborsi. Akibat tujuh unsur pertama di atas, kasus perkosaan dan kehamilan di luar pernikahan meningkat drastis. Setiap hari dapat kita baca kasus siswa SMP/SMA memperkosa anak SD, satu-satu atau rame-rame, ketika papi-mami tak ada di rumah dan pembantu pergi ke pasar berbelanja. Setiap ditanyakan apa sebab dia/mereka memperkosa, selalu dijawab ‘karena terangsang sesudah menonton VCD/DVD biru dan ingin mencobakannya.’ Praktisi aborsi gelap menjadi tempat pelarian, bila kehamilan terjadi.

Seorang peneliti dari sebuah universitas di Jakarta menyebutkan bahwa angka aborsi di Indonesia 2,2 juta setahunnya. Maknanya setiap 15 detik seorang calon bayi di suatu tempat di negeri kita meninggal akibat dari salah satu atau gabungan ketujuh faktor di atas. Inilah produk akhirnya. Luar biasa destruksi sosial yang diakibatkannya.

Dalam gemuruh gelombang gerakan syahwat merdeka ini, pornografi dan pornoaksi menjadi bintang panggungnya, melalui gemuruh kontroversi pro-kontra RUU APP.

Karena satu-dua-atau beberapa kekurangan dalam RUU itu, yang total kontra menolaknya, tanpa sadar terbawa dalam gelombang gerakan syahwat merdeka ini. Tetapi bisa juga dengan sadar memang mau terbawa di dalamnya.

Salah satu kekurangan RUU itu, yang perlu ditambah-sempurnakan adalah perlindungan bagi anak-cucu kita, jumlahnya 60 juta, terhadap kekerasan pornografi. Dalam hiruk pikuk di sekitar RUU ini, terlupakan betapa dalam usia sekecil itu 80% anak-anak 9-12 tahun terpapar pornografi, situs porno di internet naik lebih sepuluh kali lipat, lalu 40% anak-anak kita yang lebih dewasa sudah melakukan hubungan seks pra-nikah. Sementara anak-anak di Amerika Serikat dilindungi oleh 6 Undang-undang, anak-anak kita belum, karena undang-undangnya belum ada. KUHP yang ada tidak melindungi mereka karena kunonya. Gelombang Syahwat Merdeka yang menolak total RUU ini berarti menolak melindungi anak-cucu kita sendiri.

Gerakan tak bernama tak bersosok organisasi ini terkoordinasi bahu-membahu menumpang gelombang masa reformasi mendestruksi moralitas dan tatanan sosial. Ideologinya neo-liberalisme, pandangannya materialistik, disokong kapitalisme jagat raya.

Menguji Rasa Malu Diri Sendiri

Seorang pengarang muda meminta pendapat saya tentang cerita pendeknya yang dimuat di sebuah media. Dia berkata, “Kalau cerpen saya itu dianggap pornografis, wah, sedihlah saya.” Saya waktu itu belum sempat membacanya. Tapi saya kirimkan padanya pendapat saya mengenai pornografi. Begini.

Misalkan saya menulis sebuah cerpen. Saya akan mentes, menguji karya saya itu lewat dua tahap. Pertama, bila tokoh-tokoh di dalam karya saya itu saya ganti dengan ayah, ibu, mertua, isteri, anak, kakak atau adik saya; lalu kedua, karya itu saya bacakan di depan ayah, ibu, mertua, isteri, anak, kakak, adik, siswa di kelas sekolah, anggota pengajian masjid, jamaah gereja; kemudian saya tidak merasa malu, tiada dipermalukan, tak canggung, tak risi, tak muak dan tidak jijik karenanya, maka karya saya itu bukan karya pornografi.

Tapi kalau ketika saya membacakannya di depan orang-orang itu saya merasa malu, dipermalukan, tak patut, tak pantas, canggung, risi, muak dan jijik, maka karya saya itu pornografis.

Hal ini berlaku pula bila karya itu bukan karya saya, ketika saya menilai karya orang lain. Sebaliknya dipakai tolok ukur yang sama juga, yaitu bila orang lain menilai karya saya. Setiap pembaca bisa melakukan tes tersebut dengan cara yang serupa.

Pendekatan saya adalah pengujian rasa malu itu. Rasa malu itu yang kini luntur dalam warna tekstil kehidupan bangsa kita, dalam terlalu banyak hal.

Sebuah majalah mesum dunia dengan selaput artistik, Playboy, menumpang taufan reformasi dan gelombang liberalisme akhirnya terbit juga di Indonesia. Majalah ini diam-diam jadi tempat pelatihan awal onani pembaca Amerika, dan kini, beberapa puluh tahun kemudian, dikalahkan internet, sehingga jadilah publik pembaca Playboy dan publik langganan situs porno internet Amerika masturbator terbesar di dunia. Majalah pabrik pengeruk keuntungan dari kulit tubuh perempuan ini, mencoba menjajakan bentuk eksploitasi kaum Hawa di negeri kita yang pangsa pasarnya luarbiasa besar ini. Bila mereka berhasil, maka bakal berderet antri masuk lagi majalah anti-tekstil di tubuh perempuan dan fundamentalis-syahwat-merdeka seperti Penthouse, Hustler, Celebrity Skin, Cheri, Swank, Velvet, Cherry Pop, XXX Teens dan seterusnya.

Untuk mengukur sendiri rasa malu penerbit dan redaktur Playboy Indonesia, saya sarankan kepada mereka melakukan sebuah percobaan, yaitu mengganti model 4/5 telanjang majalah itu dengan ibu kandung, ibu mertua, kakak, adik, isteri dan anak perempuan mereka sendiri. Saran ini belum berlaku sekarang, tapi kelak suatu hari ketika Playboy Indonesia keluar perilaku aslinya dalam masalah ketelanjangan model yang dipotret. Sekarang mereka masih malu-malu kucing. Sesudah dibuat dalam edisi dummy, promosikan foto-foto itu itu di 10 saluran televisi dan 25 suratkabar. Bagaimana? Berani? Malu atau tidak?

Pendekatan lain yang dapat dipakai juga adalah menduga-memperkirakan-mengingat akibat yang mungkin terjadi sesudah orang membaca karya pornografis itu. Sesudah seseorang membaca, katakan cerpen yang memberi sugesti secara samar-samar terjadinya hubungan kelamin, apalagi kalau dengan jelas mendeskripsikan adegannya, apakah dengan kata-kata indah yang dianggap sastrawi atau kalimat-kalimat brutal, maka pembaca akan terangsang.

Sesudah terangsang yang paling penakut akan onani dan yang paling nekat akan memperkosa. Memperkosa perempuan dewasa tidak mudah, karena itu anak kecil jadi sasaran. Perkosaan banyak terjadi terhadap anak-anak kecil masih bau susu bubuk belum haid yang di rumah sendirian karena papi-mami pergi kerja, pembantu pergi ke pasar, jam 9-10 pagi.

Anak-anak tanggung pemerkosa itu, ketika diinterogasi dan ditanya kenapa, umumnya bilang karena sesudah menonton VCD porno mereka terangsang ingin mencoba sendiri. Merayu orang dewasa takut, mendekati perempuan-bayaran tidak ada uang. Kalau diteliti lebih jauh kasus yang sangat banyak ini (peneliti yang rajin akan bisa mendapat S-3 lewat tumpukan guntingan koran), mungkin saja anak itu juga pernah membaca cerita pendek, puisi, novel atau komik cabul.

Akibat selanjutnya, merebak-meluaslah aborsi, prostitusi, penularan penyakit kelamin gonorrhoea, syphilis, HIV-AIDS, yang meruyak di kota-kota besar Indonesia berbarengan dengan akibat penggunaan alkohol dan narkoba yang tak kalah destruktifnya.

Akibat Sosial Ini Tak Pernah Difikirkan Penulis

Semua rangkaian musibah sosial ini tidak pernah difikirkan oleh penulis cerpen-puisi-novelis erotis yang umumnya asyik berdandan dengan dirinya sendiri, mabuk posisi selebriti, ke sana disanjung ke sini dipuji, tidak pernah bersedia merenungkan akibat yang mungkin ditimbulkan oleh tulisannya. Sejumlah cerpen dan novel pasca reformasi sudah dikatakan orang mendekati VCD/DVD porno tertulis. Maukah mereka membayangkan, bahwa sesudah sebuah cerpen atau novel dengan rangsangan syahwat terbit, maka beberapa ratus atau ribu pembaca yang terangsang itu akan mencontoh melakukan apa yang disebutkan dalam alinea-alinea di atas tadi, dengan segala rentetan kemungkinan yang bisa terjadi selanjutnya?

Destruksi sosial yang dilakukan penulis cerpen-novel syahwat itu, beradik-kakak dengan destruksi yang dilakukan produsen-pengedar-pembajak-pengecer VCD/DVD porno, beredar (diperkirakan) sebanyak 20 juta keping, yang telah meruyak di masyarakat kita, masyarakat konsumen pornografi terbesar dan termurah di dunia. Dulu harganya Rp 30.000 sekeping, kini Rp 3.000, sama murahnya dengan 3 batang rokok kretek. Mengisap rokok kretek 15 menit sama biayanya dengan memiliki dan menonton sekeping VCD/DVD syahwat sepanjang 6o menit itu. Bersama dengan produsen alkohol, narkoba dan nikotin, mereka tidak sadar telah menjadi unsur penting pengukuhan masyarakat permissif-addiktif serba-boleh-apa-saja-genjot, yang dengan bersemangat melabrak apa yang mereka anggap tabu selama ini, berpartisipasi meluluh-lantakkan moralitas anak bangsa.

Perzinaan yang Hakekatnya Pencurian adalah Ciri Sastra Selangkang

Akhirnya sesudah mendapatkan korannya, saya membaca cerpen karya penulis yang disebut di atas. Dalam segi teknik penulisan, cerpen itu lancar dibaca. Dalam segi isi sederhana saja, dan secara klise sering ditulis pengarang Indonesia yang pertama kali pergi ke luar negeri, yaitu pertemuan seorang laki-laki di negeri asing dengan perempuan asing negeri itu. Kedua-duanya kesepian. Si laki-laki Indonesia lupa isteri di kampung. Di akhir cerita mereka berpelukan dan berciuman. Begitu saja.

Dalam interaksi yang kelihatan iseng itu, cerpenis tidak menyatakan sikap yang jelas terhadap hubungan kedua orang itu. Akan ke mana hubungan itu berlanjut, juga tak eksplisit. Apakah akan sampai pada hubungan pernikahan atau perzinaan, kabur adanya.

Perzinaan adalah sebuah pencurian. Yang melakukan zina, mencuri hak orang lain, yaitu hak penggunaan alat kelamin orang lain itu secara tidak sah. Pezina melakukan intervensi terhadap ruang privat alat kelamin yang dizinai. Dia tak punya hak untuk itu. Yang dizinai bersekongkol dengan yang melakukan penetrasi, dia juga tak punya hak mengizinkannya. Pemerkosa adalah perampok penggunaan alat kelamin orang yang diperkosa. Penggunaan alat kelamin seseorang diatur dalam lembaga pernikahan yang suci adanya.

Para pengarang yang terang-terangan tidak setuju pada lembaga pernikahan, dan/atau melakukan hubungan kelamin semaunya, yang tokoh-tokoh dalam karyanya diberi peran syahwat merdeka, adalah rombongan pencuri bersuluh sinar rembulan dan matahari. Mereka maling tersamar. Mereka celakanya, tidak merasa jadi maling, karena (herannya) ada propagandis sastra menghadiahi mereka glorifikasi, dan penerbit menyediakan gratifikasi. Propagandis dan penerbit sastra semacam ini, dalam istilah kriminologi, berkomplot dengan maling.

Hal ini berlaku bukan saja untuk karya (yang dianggap) sastra, tapi juga untuk bacaan turisme, rujukan tempat hiburan malam, dan direktori semacam itu. Buku petunjuk yang begitu langsung tak langsung menunjukkan cara berzina, lengkap dengan nama dan alamat tempat berkumpulnya alat-alat kelamin yang dapat dicuri haknya dengan cara membayar tunai atau dengan kartu kredit gesekan.

Sastra selangkang adalah sastra yang asyik dengan berbagai masalah wilayah selangkang dan sekitarnya. Kalau di Malaysia pengarang-pengarang yang mencabul-cabulkan karya kebanyakan pria, maka di Indonesia pengarang sastra selangkang mayoritas perempuan.
Beberapa di antaranya mungkin memang nymphomania atau gila syahwat, hingga ada kritikus sastra sampai hati menyebutnya “vagina yang haus sperma”. Mestinya ini sudah menjadi kasus psikiatri yang baik disigi, tentang kemungkinannya jadi epidemi, dan harus dikasihani.

Bila dua abad yang lalu sejumlah perempuan Aceh, Jawa dan Sulawesi Selatan naik takhta sebagai penguasa tertinggi kerajaan, Sultanah atau Ratu dengan kenegarawanan dan reputasi terpuji, maka di abad 21 ini sejumlah perempuan Indonesia mencari dan memburu tepuk tangan kelompok permissif dan addiktif sebagai penulis sastra selangkang, yang aromanya jauh dari wangi, menyiarkan bau amis-bacin kelamin tersendiri, yang bagi mereka parfum sehari-hari.
Dengan Ringan Nama Tuhan Dipermainkan

Di tahun 1971-1972, ketika saya jadi penyair tamu di Iowa Writing Program, Universitas Iowa, di benua itu sedang heboh-hebohnya gelombang gerakan perempuan. Kini, 34-an tahun kemudian, arus riaknya sampai ke Indonesia. Kaum feminis Amerika waktu itu sedang gencar-gencarnya mengumumkan pembebasan kaum perempuan, terutama liberasi kopulasi, kebebasan berkelamin, di koran, majalah, buku dan televisi.

Menyaksikan penampilan para maling hak penggunaan alat kelamin orang lain itu di layar kaca, yang cengengesan dan mringas-mringis seperti Gloria Steinem dan semacamnya, banyak orang mual dan jijik karenanya. Mereka tidak peduli terhadap epidemi penyakit kelamin HIV-AIDS yang meruyak menyebar seantero Amerika Serikat waktu itu, menimpa baik orang laki-laki maupun perempuan, hetero dan homoseksual, akibat kebebasan yang bablas itu.

Di setasiun kereta api bawah tanah New York, seorang laki-laki korban HIV-AIDS menadahkan topi mengemis. Belum pernah saya melihat kerangka manusia berbalut kulit tanpa daging dan lemak sekurus dia itu. Sinar matanya kosong, suaranya parau.

Kematian banyak anggota kelompok ini, terutama di kalangan seniman di tahun 1970-an, tulis seorang esais, bagaikan kematian di medan perang Vietnam. Sebuah orkestra simfoni di New York, anggota-anggotanya bergiliran mati saban minggu karena kejangkitan HIV-AIDS dan narkoba, akibat kebebasan bablas itu. Para pembebas kaum perempuan itu tak acuh pada bencana menimpa bangsa karena asyik mendandani penampilan selebriti diri sendiri. Saya sangat heran. Sungguh memuakkan.

Kalimat bersayap mereka adalah, “This is my body. I’ll do whatever I like with my body.” “Ini tubuhku. Aku akan lakukan apa saja yang aku suka dengan tubuhku ini.” Congkaknya luar biasa, seolah-olah tubuh mereka itu ciptaan mereka sendiri, padahal tubuh itu pinjaman kredit mencicil dari Tuhan, cuma satu tingkat di atas sepeda motor Jepang dan Cina yang diobral di iklan koran-koran.

Mereka tak ada urusan dengan Maha Produser Tubuh itu. Penganjur masyarakat permissif di mana pun juga, tidak suka Tuhan dilibatkan dalam urusan. Percuma bicara tentang moral dengan mereka. Dengan ringan nama Tuhan dipermainkan dalam karya. Situasi kita kini merupakan riak-riak gelombang dari jauh itu, dari abad 20 ke awal abad 21 ini, advokatornya dengan semangat dan stamina mirip anak-anak remaja bertopi beisbol yang selalu meniru membeo apa saja yang berasal dari Amerika Utara itu.
Penutup
Ciri kolektif seluruh komponen Gerakan Syahwat Merdeka ini adalah budaya malu yang telah kikis nyaris habis dari susunan syaraf pusat dan rohani mereka, dan tak adanya lagi penghormatan terhadap hak penggunaan kelamin orang lain yang disabet-dicopet-dikorupsi dengan entengnya. Tanpa memiliki hak penggunaan kelamin orang lain, maka sesungguhnya Gerakan Syahwat Merdeka adalah maling dan garong genitalia, berserikat dengan alkohol, nikotin dan narkoba, menjadi perantara kejahatan, mencecerkan HIV-AIDS, prostitusi dan aborsi, bersuluh bulan dan matahari.***
IPB, 9 Januari 2007.

PUNCAK ACARA BULAN BAHASA DAN SASTRA 2006 BERLANGSUNG MERIAH

Puncak Acara Bulan Bahasa dan Sastra 2006 (BBS 2006) yang dihadiri Mendiknas Prof. Dr. Bambang Soedibyo, M.B.A., berlangsung meriah. Acara itu dilaksanakan di Pusat Bahasa, Kamis, 9 November 2006. Puncak Acara BBS 2006 dihadiri oleh berbagai kalangan, seperti sastrawan, pemenang lomba dan sayembara BBS 2006 (siswa, mahasiswa, guru), wartawan, dan para pejabat di lingkungan Depdiknas serta kepala balai/ kantor bahasa dari seluruh Indonesia. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-78.

Mendiknas Bambang Soedibyo dalam sambutannya mengemukakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dilahirkan sebagai sebuah negara yang secara fisik terfragmentasi oleh laut dan gunung-gunung. Kondisi itu menyulitkan NKRI untuk terintegrasi dalam satu kesatuan spasial teritorial. Bahasa Indonesia menjadikan silaturahmi antarberbagai kelompok bisa diselamatkan. Betapa tingginya peran bahasa Indonesia dalam mengintegrasikan seluruh komponen bangsa Indonesia menjadi satu kesatuan yang melahirkan nasionalisme.

Selanjutnya Mendiknas mengingatkan untuk tetap menjaga kelestarian bahasa Indonesia, karena dapat menyatukan Indonesia sebagai satu kesatuan sosial, politik, ekonomi, hukum dan kultural.

Pada kesempatan itu, Mendiknas yang didampingi oleh Kepala Pusat Bahasa, Dr. Dendy Sugono, menyerahkan Penghargaan Sastra Pusat Bahasa 2006 kepada tiga sastrawan terpilih, yaitu Sitor Situmorang (Biksu Tak Berjubah), Sitok Srengenge (Kelenjar Bekisar Jantan), dan Remy Sylado (Kerudung Merah Kirmizi). Disamping itu Mendiknas juga menyerahkan hadiah bagi para pemenang berbagai lomba dan sayembara BBS 2006. Mereka adalah Abdul Hadi El-ham (penulisan puisi remaja tingkat nasional), Sesarina Puspita (penulisan naskah drama tingkat nasional), M. Irfan Athari (penulisan puisi untuk siswa SD tingkat nasional), Indah Zulhairani Siregar (penulisan cerpen remaja tingkat nasional), Harna Silwati (penulisan cerita rakyat tingkat nasional), Muhammad Abduh Abbas (pembacaan puisi guru SD tingkat nasional), Ghanta Little (festival musikalisasi puisi se-Jadebotabek), serta Trivena Theresia Kristian, Wahyono Adi Saputro, dan Lucia Tyagita Rani Caesara (penulisan proposal penelitian bahasa dan sastra).

Acara ini dimeriahkan oleh penampilan Ghanta Little dari Universitas Nasional (Unas), pemenang festival musikalisasi puisi BBS 2006, tari tradisional dari daerah Betawi, yang menyambut kehadiran tamu-tamu kehormatan. Suasana makin semarak dengan sajian pembacaan monolog oleh Putu Wijaya dengan kemaestroannya menyuguhkan ekspresi dalam pembacaan monolog yang membuat hadirin terpukau dibuatnya dan pembacaan puisi mbeling oleh Remy Sylado yang tak kalah serunya mendapat sambutan meriah dari para tamu undangan. Di akhir acara para undangan larut dalam irama melayu oleh penampilan musik tradisional dari Kepulauan Riau, dan sebagian tamu undangan pun berjoget bersama di depan panggung. (hr.)


Para Pemenang Kegiatan Bulan Bahasa dan Sastra 2006

A. Para Pemenang Sayembara


1. Sayembara Penulisan Naskah Drama bagi Remaja Tingkat Nasional
Pemenang III Sesarina Puspita (Jakarta)
Pemenang Harapan I Femmy Fallent Chelina Ubro (Kendari)
Pemenang Harapan II Ayu Ratnasari ( Palembang)
Pemenang Harapan III Dita Pilih Ratna (Banyuwangi)

2. Sayembara Penulisan Puisi Remaja Tingkat Nasional
Pemenang I Abdul Hadi El-ham (Cirebon)
Pemenang II A’yat Syafrana G. Khalili (Madura)
Pemenang III Sigit Rais ( Bandung)
Pemenang Harapan I Ach. Muklish (Yogyakarta)
Pemenang Harapan II Badrus Shaleh (Sumenep)
Pemenang Harapan III Ferina Meliawati (Bandung)

3. Sayembara Penulisan Puisi untuk Siswa SD Tingkat Nasional
Pemenang I M. Irfan Athari, SD Terpadu At-Taqwa Pondok Ungu, Bekasi
Pemenang II Nastiti Widya Ikhsani, SDN Polisi IV, Bogor
Pemenang III Armadina Az Zahra, SDN Pekayon 10 Pagi, Jakarta Timur
Pemenang Harapan I Atika Izzatul Jannah, SDIT Iqra BKL, Bengkulu
Pemenang Harapan II Ihdal Husnayani, SDN Pondok Makmur,Tangerang
Pemenang Harapan III Assyifa Alkhansa, MI Yampi, Jakarta Utara

4. Sayembara Penulisan Cerita Pendek Remaja Tingkat Nasional
Pemenang I Indah Zuhairani Siregar (Medan)
Pemenang II Deddy Arsya (Padang)
Pemenang III Putri Anisa Melia Sari (Binjai)
Pemenang Harapan I Saraswati Laksmi (Bali)
Pemenang Harapan II Rr. Desi Kumala Isnani (Yogyakarta)
Pemenang Harapan III Siska Fitriani (Payakumbuh, Sumatera Barat)

5. Sayembara Penulisan Cerita Rakyat Tingkat Nasional
Pemenang I Harna Silwati (Jambi)
Pemenang II Navelia Widijayanti (Yogyakarta)
Pemenang III Drs. Muslim (Palembang)
Pemenang Harapan I Herman R (Aceh)
Pemenang Harapan II Tantra Alimi (Surakarta)
Pemenang Harapan III Muhamad Raudah Jambak (Medan)

6. Sayembara Pembacaan Puisi Guru SD Tingkat Nasional
Pemenang I Muhammad Abduh Abbas, SD Pluit Raya, Jakarta Utara
Pemenang II Arif Rahmanto, S.Pd., SD Muhammadiyah Sapen,Yogyakarta
Pemenang III Ima Nuzuliyah Abdy, S.Pd., SD Islam Al Azhar, Kelapa Gading, Surabaya
Pemenang Harapan I Robianur, S.Pd., Madrasah Ibtidaiyah Al Asyiriah 1 Banjarmasin
Pemenang Harapan II Siti Kartika, A.Ma., SD Wanajaya, Karawang
Pemenang Harapan III Rita Yulyati, S.Pd., SDN 2 Sebasang, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat

7. Sayembara Penulisan Proposal Penelitian Bahasa dan Sastra
a. Proposal Penelitian Bahasa
Pemenang I Trivena Theresia Kristian ( Universitas Kristen Petra Surabaya)
Pemenang II Muh. Wahid Tafthozani (Universitas Muhammadiyah Surakarta)
Pemenang III Hermanto (Universitas Negeri Yogyakarta)
b. Proposal Penelitian Sastra
Pemenang I Wahyono Adi Seputro (Universitas Jember)
Pemenang II Bandung Mawardi (Universitas Muhammadiyah Surakarta)
Pemenang III Restu Kurniawan (Universitas Muhammadiyah Purwokerto)
c. Proposal Penelitian Pengajaran Bahasa dan Sastra
Pemenang I Lucia Tyagita Rani Caesara (Universitas Negeri Jakarta)
Pemenang II Currie Wulaningrum ( Universitas Negeri Jakarta)
Pemenang III Anggita Maralia Putri (Universitas Negeri Jakarta)

8. Festival Musikalisasi Puisi
Pemenang I Ghanta Little (Universitas Nasional)
Pemenang II Sanggar Muslim
Pemenang III Base Pom
Pemenang Harapan I SMA I Bogor
Pemenang Harapan II SMP Pembangunan UIN
Pemenang Harapan III SMAN 77 Jakarta


A. Para Pemenang Non Sayembara

1. Penilaian Penggunaan Bahasa Indonesia di Media Massa
Peringkat 1 Media Indonesia
Peringkat 2 Koran Tempo
Peringkat 3 Kompas
Peringkat 4 Bisnis Indonesia
Peringkat 5 Jawa Pos
Peringkat 6 Investor Daily
Peringkat 7 Suara Pembaruan
Peringkat 8 Republika
Peringkat 9 Berita Kota
Peringkat 10 Haluan

2. Pemberian Penghargaan Buku Nonbahasa dan Nonsastra (Tiga terbaik)
Buku Menjadi Pasangan Paling Berbahagia
Karangan Cahyadi Takariawan
Penerbit Syaamil, Bandung
Buku Bolak-Balik Bali
Karangan Gde Aryantha Soethama
Penerbit Buku Arti (Arti Foundation), Bali
Buku Pendidikan Agama Islam
Karangan Muhamad Alim
Penerbit Remaja Rosdakarya, Bandung

3. Debat Bahasa dan Sastra Antarmahasiswa Se-Jadebotabek
Pemenang I Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta
Pemenang II Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris
Fakultas Sastra, Universitas Pakuan Bogor
Pemenang III Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris
Fakultas Tarbiyah
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Pemenang Harapan I Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia
Pemenang Harapan II Jurusan bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Pakuan Bogor
Pemenang Harapan III Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Ibnu Khaldun Bogor

4. Adibahasa (Penilaian Penggunaan Bahasa di Setiap Provinsi Seluruh Indonesia)
Peringkat 1 Provinsi Bangka Belitung
Peringkat 2 Provinsi Jawa Barat
Peringkat 3 Provinsi Jambi
Peringkat 4 Provinsi Jawa Timur
Peringkat 5 Provinsi Sumatera Barat
Peringkat 6 Provinsi Sulawesi Tenggara
Peringkat 7 Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Peringkat 8 Provinsi Lampung
Peringkat 9 Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Peringkat 10 Provinsi Riau

Menyingkap Peta Sastrawan Sumatera

Menyingkap Peta Sastrawan Sumatera


Oleh Suyadi San

PULAU Sumatera tidak hanya penghasil rempah. Tak sebatas kawah candradimuka politik nasional. Sejarah membuktikan, swarnadwipa ini merupakan sokoguru budaya. Melayu, Minangkabau, Batak, Gayo-Alas-Singkil, Aceh, merupakan puak terbesar di samping kaum pendatang dari Jawa.

Dua kerajaan besar pra Indonesia bermukim di sini: Samudera Pasai dan Sriwijaya. Gugusan pegunungan membentang dan menjulang dari utara hingga selatan: Bukit Barisan. Toba, Singkarak, dan Maninjau adalah danau yang menjadi ikon semenanjung Sumatera.

Banyak lagi patut dibanggakan di wilayah ini. Tak ayal, pengarang-pengarang Indonesia kerap memotret Sumatera dalam figura budayanya. Ini terlihat jelas pada masa Balai Pustaka dan Pujangga Baru. Deretan pengarang besar Indonesia lahir di sini dan membesarkan Indonesia Raya.

Persemaian wilayah sastra ini menjadi satu bagian penting dalam geosastra dan geopolitik kebudayaan Indonesia. Di arena Temu Sastrawan Sumatera dan Temu Sastrawan Sumatera Utara 2007, yang digelar Dewan Kesenian Sumatera Utara 28-30 Desember barusan, menggambarkan pemetaan semangat bersastra di kalangan sastrawan antarprovinsi di Pulau Andalas.

Pengembaraan kreativitas bersastra para sastrawan itu tertuang dalam satu medan, yakni sastra. Pertemuan antarsastrawan di Pulau Sumatera itulah yang melahirkan diterbitkannya buku Medan Sastra. Buku kumpulan karya sastra ini dimaksudkan sebagai satu penanda bahwa pulau ini tidak pernah kering melahirkan generasi sastra.

Tak heran, sebelum acara temu sastrawan ini berlangsung, sebelum buku tersebut diterbitkan, saya selaku editor dibantu rekan S. Ratman Suras, M. Raudah Jambak, dan Hasan Al Banna menerima ratusan karya. Karena keterbatasan waktu – juga dana – pula, kami hanya bisa meloloskan 85 judul karya sastra dari 57 orang penulis, terdiri atas 55 judul puisi dari 33 penulis, 20 cerita pendek (20 penulis), 2 naskah drama (2 penulis), dan 8 esai (8 penulis).

Nama-nama pengarang yang karyanya termuat di dalam buku ini, merupakan keterwakilan dari bejibunnya jumlah penulis karya sastra pada masing-masing provinsi dan daerah. Tak hayal, buku ini juga diisi sejumlah nama baru. Karya-karya mereka – untuk sementara ini – disandingkan dengan sastrawan generasi sebelumnya. Alam dan waktu yang akan menguji mereka: apakah mereka pantas menyandang ‘gelar’ sastrawan di kemudian hari.

Para penulis baru yang muncul pada buku ini, di antaranya Agus Mulia, Ahmad Badren Siregar, Antonius Silalahi, Djamal, Elidawani Lubis, Herni Fauziah, Januari Sihotang, Lia Anggia Nasution, Pria Ismar, Pusriza, Embar T Nugroho, Indra Dinata SC.

Ada pula nama Indra YT, Irwan Effendi, Richad Yanato, Rina Mahfuzah Nasution, Sumiaty KSM, Variati Husni, dan Yunita Sari. Itu semua dari Provinsi Sumatera Utara. Sumatera Barat mengutus sastrawan mudanya, seperti Anda S, Chairan Hafzan Yurma, Edo Virama Putra, Esha Tegar Putra, Pinto Anugrah, Yetti A.KA .

Yang jelas, generasi baru sastrawan Sumatera nyatanya terus berdenyut. Ia menjadi satu fenomena bahwa Sumatera tidak akan kehabisan penerus cita-cita sastrawan terdahulu. Buku ini barangkali akan jadi saksi sejarah tentang perjalanan sastra Sumatera.

Sumatera Utara selaku tuan rumah, tentu saja jadi penyumbang terbanyak pengisi buku. Selain sastrawan pemula di atas, sastrawan terkemuka daerah ini yang tampil meramaikan buku Medan Sastra ini, di antaranya, Afrion, Amin Setiamin, Damiri Mahmud, D. Ilyas Rawi, Harta Pinem, Herman KS, Idris Siregar, M. Yunus Rangkuti.

Lalu, Shafwan Hadi Umry, S. Ratman Suras, Zainal Arifin AKA, A. Yusran, Dini Usman, Hasan Al Banna, Hidayat Banjar, Malubi, M. Raudah Jambak, Nasib TS, Saripuddin Lubis, Sulaiman Sambas, Teja Purnama, Tengku Agus Khaidir, Yulhasni, Suyadi San, dan Syaiful Hidayat.

Selain melalui karya, peta sastrawan Sumatera secara jelas dapat dibaca melalui esai-esai yang terdapat di dalam Medan Sastra. Perkembangan dan jejaring sastra masing-masing provinsi diungkap Syaiful Hidayat (Sumatera Utara),. D. Kemalawati (Nanggroe Aceh Darussalam), Ira Esmiralda (Bangka Belitung), Isbedy Stiawan ZS (Lampung), Muhammad Husyairi (Jambi) dan Tarmizi (Kepulauan Riau).

Lalu, sastrawan Damiri Mahmud dan akademisi Dr. Ikhwanuddin Nasution M.Si menyoroti serta mengkritisi karya-karya dan perjalanan sastra Sumatera tersebut. Syaiful Hidayat pada esai yang terdapat di dalam buku ini menyatakan, sastra Indonesia menempatkan sastra dan sastrawan dari Sumatera Utara dan Sumatera Barat sebagai pelopor sastra modern Indonesia.
Konstelasi sastra itu menumbuhkan Kota Medan dan Kota Padang sebagai pusat sastra Indonesia yang utama di luar Pulau Jawa. Sastrawan dari kedua wilayah ini kemudian saling memberi warna sehingga muncullah Chairil Anwar dan Hamka sebagai orang Minang yang secara bersamaan melekat sebagai orang Medan.

Sebaliknya, Sutan Takdir Alisjahbana dan Mochtar Lubis sebagai orang Medan yang merasakan atmosfer sastra Minang. Mereka merupakan bagian dari kelas menengah Hindia Belanda yang memperoleh pendidikan, sehingga terampil dalam mengekspresikan gagasannya, pandangan hidup sebagai subjek kolektif.

Menurut penilaian Damiri Mahmud, saat ini geliat kepengarangan Sumatera makin ramai, terutama puisi dan Cerpen. Para penulis Sumatera ini tampak berusaha melepaskan diri dari “cengkeraman” Jakarta yang selama ini dianggap sebagai sentralisasi sastra. Kata Damiri lagi, kantong-kantong sastra di beberapa tempat di Sumatera diusahakan seintensif mungkin. Kegiatan-kegiatan pertemuan, diskusi, sayembara, penerbitan buku begitu marak dilakukan.

Damiri memperkirakan, Riau paling depan dalam geliat bersastra. Pada dekade 60-an dan 70-an daerah ini masih terasa sepi dari kegiatan dan para sastrawan. Tapi sekarang begitu banyak kegiatan dan muncul tokoh-tokoh kenamaan. Mereka pun sangat giat menggali akar tradisi sastranya. Karya-karya Raja Ali Haji misalnya, kembali ditransliterasi dan diterbitkan.

Sedangkan Sumatera Utara, sebagaimana halnya Riau, tampaknya punya kedekatan sejarah dengan Semenanjung Malaysia. Karya-karya para sastrawan banyak yang terbit di sana. Setidaknya 12 novel telah dibukukan dan beberapa antologi puisi dan Cerpen.

Ada pula even “Dialog Utara” yang dilaksanakan sejak awal 1980-an yang pada mulanya diisi oleh para sastrawan dari Medan dan Pulau Pinang yang dianggap sebagai kota kembar karena kemiripannya yang sama-sama memiliki tradisi sebagai kota pantai.
Tampaknya di antara genre sastra yang banyak ditulis adalah puisi dan kemudian cerita pendek. Kurang diimbangi oleh penulisan novel. Barangkali penulisan novel memerlukan waktu yang lama dan dukungan dana yang besar sementara para penulis sekarang pada umumnya punya kegiatan rangkap.

Tradisi sebagai “pujangga istana” di zaman kerajaan dulu telah hilang. Sebagaimana diketahui Hamzah Fansuri dan Raja Ali Haji, sedikit banyaknya merupakan “pujangga istana” sehingga di samping dukungan dana, misi yang mereka tulis bisa dengan cepat dapat terlaksana.

Deknong Kemalawati dalam esai nya memaparkan sejumlah generasi sastra Aceh. Generasi sastra Aceh ini dimulai dari Angkatan Sufi. didominasi oleh tema agama terutama mengenai tasawuf (mazhab; aliran), hal ini menandakan perkembangan (pengkajian) masalah agama di Aceh berada dalam priode emas.

Salah satu faktor penyebabnya adalah Sultan (raja) memberikan akses yang seluas-luasnya kepada penyair untuk berkarya. Di samping itu, penyair (dinominasi kaum ulama) sangat dihargai kerajaan, sehingga mereka menjadi mufti. Pada zaman itu, politik telah memainkan peranan yang besar dalam perkembangan kesusastraan di Aceh. Terutama, persengketaan mazhab Hamzah Fansuri dengan Nuruddin ar-Raniri—mengenai faham wujudiyah. Dalam catatan sejarah banyak karya Hamzah Fansuri dan ikutannya dimusnahkan oleh kerajaan atas saran dari Nuruddin ar-Raniri.

Angkatan Pujangga Baru didominasi tema ketuhanan dan keindahan alam. Selain itu, bentuk karya masih dipengaruhi terutama oleh bentuk pantun dan syair Melayu. Selanjutnya angkatan pertengahan corak (bentuk) dan tema karya sudah mulai kaya—tidak terpaku dalam bentuk syair dan pantun Melayu.

Selain masih didomonasi tema-tema di atas, tema pada angkatan ini sudah diperkaya dengan tema-tema heroik kepahlawanan. Seiring perkembangan politik yang terjadi khususnya di Aceh maka karya sastra pun mengalami corak dan temanya sesuai dengan kondisi zaman tersebut.

Tema-tema kepahlawanan pasca Pujangga Baru, menurut Kemalawati, bermula dari “pemberontakan” DI/TI dipimpin Daud Beureueh pada 1953. Kemudian dilanjutkan dengan “perlawanan” GAM sejak 1976 dipimpin Hasan Tiro. Sejak saat itu Aceh terus melakukan perlawanan terhadap pemerintah, apa lagi setelah diterapkannya DOM (Daerah Operasi Militer) pada 1989 oleh pemerintah Orde Baru. Setelah kejatuhan Soeharto 1998 dilanjutkan dengan Darurat Militer, yang berakhir pascatsunami dengan perjanjian damai (MOU) antara RI dengan GAM.

Kondisi ini telah memunculkan sastrawan (penyair) angkatan konflik. Tema-tema yang mendominasi angkatan ini adalah tentang perlawanan (mencari keadilan) dan tragedi kemanusiaan. Bencana gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004 membawa banyak perubahan dalam segala bidang kehidupan masyarakat Aceh. Bermunculanlah karya-karya sastra, baik yang ditulis oleh penyair-penyair yang sudah konsisten maupun muka-muka baru. Orang-orang “berlomba-lomba” menulis, menerbitkan, pelatihan-pelatihan serta menampilkan karya sastra menjadi seni pertunjukan.

Dalam catatan Kemalawati, ada beberapa perkumpulan (swasta) yang eksis sampai sekarang terutama dalam hal pelatihan dan penerbitan karya sastra, di antaranya, Bangkit Aceh, Lapena, ASA, Do Karim, Tikar Pandan, AMuK Community, Aneuk Muling Publishing, Aceh Culture Institute dan lain-lain. Bagaimana dengan Bangka Belitung? Bangka Belitung merupakan provinsi baru. Kelahirannya tak berjauhan dengan kelahiran Provinsi Banten, Gorontalo dan Kepulauan Riau. Konstelasi sastra provinsi ini dikupas dalam esai Ira Esmiralda (hal. 262-265).

Dari esai Ira ini, kita mengetahui peta perjalanan sastra di Bangka Belitung. Menurut Ira, kaum terpelajar menggeluti sastra lebih memilih keluar Bangka Belitung (Jawa) dan berkarya di sana. Pada tahun 1930-an muncul nama Fatimah Hasan Delais dengan karyanya Kehilangan Mustika.

Setelah itu dunia sastra (tulis) di Bangka Belitung mengalami stagnasi panjang. Hingga tahun 1980-an, muncul nama Ian Sanchin (Belitung) dan Willi Siswanto (Bangka) yang memublikasikan Cerpen remajanya di beberapa majalah remaja dan keluarga. Drama sangat diminati oleh remaja atau pelajar Bangka. Pada masa ini, kelompok-kelompok teater remaja dan pelajar bermunculan dan pementasan teater cukup sering diadakan. Namun pada pertengahan 1990-an, seiring keluarnya remaja-remaja tersebut ke kota lain untuk melanjutkan studi, kehidupan teater di Bangka meredup lalu vakum.

Pada 1990-an akhir, muncul koran daerah pertama di Bangka, Bangka Pos (group Kompas). Lembar budaya minggu pada koran tersebut telah meletakkan dasar bagi pertumbuhan dan perkembangan sastra di Bangkabelitung. Willi Siswanto, Nurhayat Arif Permana sebagai redaktur budaya Bangka Pos mengajak penyumbang tulisan sastra di lembar budaya Bangka Pos untuk membentuk sebuah komunitas sastra. Hingga terbentuklah Komunitas Pekerja Sastra Pulau Bangka (KPSPB) pada 2000.

Ira juga menyebutkan, kantong-kantong sastra di Bangka Belitung terpusat di Pangkal Pinang (ibukota Bangka Belitung) dan Sungailiat (ibukota Kabupaten Bangka). Pegiat sastra di Pangkal Pinang terdiri dari latarbelakang profesi. Mulai pensiunan guru, pegawai KUA, sampai yang betul-betul hanya mengandalkan tulisannya sebagai jalan hidup. Di Sungailiat, para pegiat sastranya umumnya memiliki latarbelakang profesi yang lebih homogen. Semuanya rata-rata pegawai negeri sipil. Dari guru, pejabat Pemda, sampai reporter.

Lampung menyumbang Isbedy Stiawan ZS. Di dalam esainya (hal. 266-272),, Isbedy gambling menyebut peta sastra Indonesia tidak lengkap tanpa Lampung. Itu, dimulai dari kiprah Assaroeddin Malik Zulqornain Ch alias Amzuch. Perkembangan berikut, “pulangnya” para perantau: Iwan Nurdaya-Djafar, Sugandhi Putra, Hendra Z., Djuhardi Basri, dan Naim Emel Prahana. Bersamaan itu, dinamika sastra di Lampung kian bergolak dengan munculnya Syaiful Irba Tanpaka, Achmad Rich, serta yang berkiprah kemudian yaitu Panji Utama, A.J. Erwin, Iswadi Pratama, Ivan Sumantri Bonang, D.Pramudia Muchtar, Eddy Samudra Kertagama dan lain-lain—untuk sekadar menyebut beberapa nama.

Isbedy tidak menafikan peran kampus yang cukup besar. Sumbangsih terbesar adalah Universitas Lampung. Muncullah nama Ari Pahala Hutabarat, Jimmy Maruli Alfian, Inggit Putria Marga, Diah Indra Mertawirana (kini Diah Merta), Lupita Lukman dan Elya Harda. Jambi melalui esai Muhammad Husyairi (hal. 273-276) membuat peta sastrawan Jambi dalam tiga generasi. Sebagian besar dari tiga generasi tersebut didominasi oleh para penyair. Generasi pertama Ghazali Burhan Riodja (Alm) dan Yusuf Asni.

Di lapis kedua ada Dimas Arika Mihardja, Acef Syahril (sekarang berdomisili di Indramayu), Iif Ranupane, Dimas Agus Pelaz, Iriani R. Tandi, Budi Veteranto, Ari Setya Ardhi, EM. Yogiswara, Nanang Sunarya, Suardiman Malay, Firdaus, Asro Al-Murthawy, Amri Suwarta dan Indriatno. Secara kekaryaan, generasi lapis kedua ini muncul pada paruh tahun delapan puluhan dan sembilan puluhan.

Sedangkan generasi ketiga yang muncul setelah tahun sembilan puluhan, sebut saja Muhammad Husyairi (Ary MHS Ce’gu), Yupnical Saketi, Ide Bagus Putra, Ramayani, Oton Marton, Alpakihi, Putra Edison, Emen Sling, Muhammad Muslih, Berry Hermawati, Yohana, Titas, Gita Romadhona, Chori Marbawy, Pendra Darmawan, Anshori Bharata, Monas Junior dan Fahrizal Eka. Begitulah. Konstelasi sastra pulau Sumatera tersingkap di dalam buku Medansastra. Kita berharap, buku tersebut menjadi sumbangan bagi sejarah sastra di Sumatera, kelak! Amiin.

(Staf teknis Balai Bahasa Medan, Pimpinan Teater Generasi Medan, Ketua Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia-Sumatera Utara).