Selasa, 31 Mei 2011

PEREMPUAN MERAJUT GELOMBANG

Penerbit Gama Media Yogyakarta ISBN 979-3092-51-3

Novel ini menjadi dokumentasi Koninklijk Instituut voor Taal, Land en Volkkenkunde Royal Netherlands Instituut of Southeast Asian and Carribean Studies (KITL) Leiden dan Universiteitsbibliotheck Universiteit Leiden Belanda

Bibir pantai yang menghadap ke samudera maha luas itu teramat indah diterpa matahari pagi. Pernak-pernik butiran pasir yang terbentang sepanjang pantai yang dihiasi butiran mutiara berkilau. Ombak bergulung-gulung mengecup bibir pantai dan deburnya terdengar seperti kidung merdu yang tidak pernah ada akhirnya. Derai-derai air laut sepanjang hari menimbulkan buih berserakan dan berbinar. Sepanjang hari ,ketika langit cerah,bahkan ketika mendung atau hujanpun, laut di sekitar pantai itu tetap indah, seperti Inong Tanah Rencong berwajah bundar telur, berhidung mancung yang baru saja selesai bersolek.

Perahu nelayan yang sedang menuju ke tengah laut tampak berderet-deret menambah indah pemandangan di pinggir laut itu. Elangpaun terbang rendah mengintai mangsanya,kemudian sesekali menukik ke bawah ,lalu kakinya yang berkuku tajam itu mencengkeram seekor ikan. Elang memang pemangsa yang amat perkasa di pinggir laut yang indah itu.

Sampai kapanpun laut selalu indah ,selalu biru sepanjang masa,selalu menjadi sumber kehidupan manusia,selalu jadi tempat tujuan orang-orang yang ingin menikmati pemandangan elok dan menawan. Puncak pohon nyiur melambai-lambai seperti jari-jemari tangan inong Tanah Rencong yang lentik memanggil-manggil.

Belasan anak muda sedang berada di pinggir laut itu,bukan untuk menikmati indahnya laut, tapi untuk latihan terakhir mereka yang akan naik panggung untuk mementaskan teater klasik tentang perjuangan seorang ratu Aceh yang memerintah Serambi Makkah pada abad ke-17, Ratu Taj’al Alam,menggantikan suaminya Iskandar Tsani yang baru saja wafat dan merupakan puteri Sultan Iskandar Muda. Pementasan secara kolosal itu akan menampilkan pejuangan sang ratu yang bergelar “Paduka Sri Sultan Taj’al Alam Tsafiatuddin Syah Berdaulat Zilluu’ahi Fil Alam binti Sultan Raja Iskandar Muda Johan Berdaulat”.

Tidak tanggung-tanggung masa pemeerintahannya selama 34 tahun membawa Tanah Rencong amat makmur,padahal yang dihadapi tidak hanya penjajah Belanda,tapi juga musuh dalam selimut dari kalangan kerajaan sendiri yang bernafsu untuk naik tahta.

Di antara ombak laut, di antara desau angin spoi, di antara kepak sayap burung elang, di antara gemersik daun-daun nyiur yang melambai, seorang anak muda dengan sehelai kertas di tangan segera membacakan sajak pujangga kenamaan Aceh yang dilahirkan pertengahan abad ke 19 di Pidie.

Baris demi baris syair itu terlontar dari celah bibir lelaki muda itu, agar syair jihad itu gelegarnya terdengar hingga ke seberang laut, hingga ke balik gunung, hingga ke seluruh daratan Tanah Rencong. Meskipun ombak berdebur tak pernah berhenti, tapi kata demi kata jelas terdengar membahana . Belasan orang yang terdiri dari gadis-gadis remaja mengiringi dengan tarian latar dan salah seorang memetik gitar. Syair itu meskipun sudah amat lama diciptakan ,tapi ketika membacanya diiringi dengan tarian latar serta petikan gitar, kata demi kata terdengar amat indah dan memukau:

Karonya Po Rabbul Jalilm ureueng prang sabi ibat mulia

Budiadari tujoh ploh droe,khadam siraroe muda-muda

Meunan peureunman Rabbul Jalil, be’ta temle he syedara

Ja’be teungku ba’prang kapbe,be saying le keu areuta

Dumma areuta gata be teelan ,Nabi Sulaiman saboh seuen bana

Kadang tuba ban meureumee gata dille lob keuruenda

Peureuman Tuhan wahe sanpoe,ban meuteuntee mawot teuka

Wa ma tadri nafsu biayyi ardin tamutu dala ayat labe nyata

Mate ban meu jan kubu ban mupat, ingat be sabbat tuba muda

Didonya nyoe teumpat meularat

Naggroe akhirat tempat nyang suka

Karunia Rabbul Jalil, yang berperang sabil sangat mulia

Bidadari tujuh puluh orang khadam sekalian muda-muda

Begitu firman Rabbul Jalil, jangan diam lagi wahai saudara.

Berangkatlah Teungku memerangi kafir,jangan sayangi akan harta

Seluruh harta anda wahai taulan

Dengan kekayaan Nabi Sulaiman secuil tiada

Terkadang tidak sempat tua, keduluan kita masuk keranda

Firman Tuhan wahai akhi tidak tentu maut tiba

Jadi,seorang tidak mengetahui di bumi yang mana ia akan mati dalam ayat nyata

Kematian dan pusara tak kita ketahui,

Ingat hai sahabat tua muda

Dunia ini tempat melarat,negeri akhirat tempat berduka

Baru bait kedua syair Hikayat Prang Sabi usai dibacakan lelaki muda itu dan semua orang yang hadir di pinggir laut itu tiba-tiba merasakan goncangan yang amat keras.

“Gempa!. Gempaaaa!,” teriak salah seorang anggota sanggar teater Bungong Seulanga yang berlatih amat serius.

“Ya,gempa!. Gempaa!,” sambut yang lain dan merasakan getaran bumi yang sama.

Getaran bumi itu terasa cukup lama, cukup keras dan tidak pernah terjadi sebelumnya,menyebabkan dua orang gadis peserta latihan teater itu terjatuh.

“Ayo,kita teruskan. Teruskan latihan kita!,” teriak sutradara yang rambutnya gondrong,berjambng lebat, bercelana jin kumal dan ditelinganya ada anting-anting meskipun dia lelaki bertubuh kekar.

Anak-anak teater itu tidak segera melanjutkan latihan, karena merasa masih ada sisa gempa.

“Ayo teruskan!,” sang sutradara memberi komando dengan suara keras seakan marah dan membentak. “Kenapa harus berhenti?. Gempa hanya proses alam dan kita berada di alam bebas, tidak perlu merasa takut. Ayo teruskan sajak itu!”
Bait selanjutnya segera terdengar lagi di antara debur ombak laut. Tapi baru beberapa kalimat dibacakan, terdengar seperti ledakan bom yang dahsyat diiringi suara menggelegar. Hanya beberapa detik kemudian, ombak laut yang semula tampak indah tiba-tiba menjadi marah. Air pasang tiba-tiba saja muncul menerpa pantai. Ombak laut yang semula ramah, indah dan dikagumi orang, tiba-tiba saja berubah menjadi gelombang yang amat mengerikan menerjang daratan, lebih tinggi dari pohon kelapa.

“Lari!. Lariii!,” teriak salah seorang yang melihat gelombang yang amat besar.

“Ayo menyingkir!,” sambung yang lain. Sang sutradara yang semula menganjurkan agar latihan itu terus lanjut, juga memberi komando untuk lari.

“Ayo cepat menyingkir. Cepat tinggalkan tempat ini. Pantai ini akan tenggelam!”

Seluruh kru sanggar teater Bungong Seulanga itu segera lari terbirit-birit seperti dikejar setan yang amat menakutkan.. Tidak seorangpun anggota teater yang sebentar lagi akan tampil di atas panggung itu tinggal diam,semua takut digulung ombak besar yang menerjang pantai, tidak seorangpun mau mati terseret ombak yang tiba-tiba mengamuk.

Laut yang memuntahkan isinya hingga ke daratan , seperti air asin, ikan kakap, udang besar,gurita, kepiting, bahkan banyak kapal yang sedang berlayar juga ikut terhempas jauh ke darat. Siapa lagi manusia yang mau peduli kepada ikan besar atau udang yang berserakan di darat kalau gelombang besar mengancam?.

Gelombang laut yang tiba-tiba menerjang itu bukan gelombang biasa. Laut yang sedang murka itu adalah tsunami yang amat dahsyat, yang kekuatannya luar biasa, yang kencangnya juga diluar dugaan manusia. Kapal berbobot ratusan ton mampu dilontarkan ke darat, apalagi mobil yang bermuatan penuh juga ikut terguling. Rumah yang kokoh-pun mampu diratakan dengan tanah. Itulah tsunami!.

Pada detik itu, tidak satupun yang menduga,bahwa gelombang dahsyat itu adalah tsunami yang selalu jadi pembunuh paling ganas di dunia. Gelombang itu mengalahkan langkah anggota teater yang sedang lari terbirit-birit menjauhi pantai. Dalam waktu hanya beberapa detik saja, belasan anak-anak muda itu ditelan ombak besar, terlempar jauh ke darat,ada yang membentur pohon kelapa,ada yang membentur bangunan, ada yang terseret hingga jauh ke darat. Tidak satupun yang selamat. Tidak satupun yang terhindar dari kematian. Dan sehelai kertas yang bertuliskan syair Hikayat Prang Sabi yang merupakan karya sastra jihad itu terombang-ambing dihanyutkan tsunami hingga akhirnya tersangkut di pohon kelapa. Tidak ada lagi yang membacanya. Siapa yang sudi membaca hikayat itu betapapun jalinan kata-katanya amat indah kalau nyawa terancam?. Siapa lagi yang sudi mendengar puisi melankolis itu kalau semua orang dalam ketakutan,panik dan maut akan merenggut dimana-mana?.

“Kiamat datang!. Dunia kiamat!. Kiamat!” teriak orang-orang yang melihat gelombang air laut yang tingginya melebihi pohon kelapa menerjang daratan. Seluruh isi lautan yang maha luas seakan tertumpah ke daratan sehingga orang menganggap kiamat telah datang.

Itulah tragedi yang amat mengerikan dan yang menjadi korban ditelan gelombang itu tidak hanya belasan anak-anak anggota teater itu, tapi masih banyak lagi,bahkan ribuan dan ratusan ribu nyawa direnggut gelombang yang sedang murka hanya dalam waktu beberapa menit saja. Sungguh merupakan tragedi yang paling dahsyat. Orang-orang yang menemui kematian jumlahnya sungguh spektakuler, lebih mengerikan dari ledakan bom. Bahkan lebih dahsyat dari bala Tuhan di zaman Nabi Nuh yang diturunkan terhadap uamt yang ingkar.

Gedung-gedung paling megahpun roboh. Ribuan bangunan porak poranda,pohon-pohon paling tegarpun tumbang. Serambi Makkah pagi itu tiba-tiba saja menjadi rata dengan tanah. Ribuan mayat bergelimpangan di bawah reruntuhan bangunan, di selokan, di tanah lapang, di halaman gedung pemerintah,bahkan di atas pohon juga ada.

Tidak peduli terhadap rumah adat Aceh dengan gaya arsitektur khas Aceh yang dihiasi dengan motif embun berangkat atau embun berarak yang melambangkan kesuburan, ulen-ulen atau bulan, taloe meuputa atau tali berpintal bungong meulue atau bunga melur, bungong mata uroe atau bunga matahari, juga diruntuhkan air laut . Perpustakaan Islam yang berisi buku-buku lama, terutama tentang Islam juga porak poranda dan ribuan buku berserakan dimana-mana.. Bahkan yang namanya Benteng Kuta Alam yang pada perang melawan Belanda, hari itu juga jebol dilanda air,padahal dulu Belanda tidak mampu menembus benteng itu. Isi museum juga berantakan karena gedungnya rusak berat.

Tidak hanya manusia yang dilanda ketakutan dan kepanikan, tapi hewan-hewan yang berada di hutan juga ikut takut. Burung Cempala Kuneng atau murai kuning juga segera mengepakkan sayapnya dan terbang jauh ke puncak Seulawah Agam atau Gunung Geureudong. Hari itu gunung-gunung yang ada di Nangroe Aceh Darussalam telah menjadi tempat pelarian berbagai satwa, orang utan, badak, trenggiling, burung dara laut, ibis, burung kuntul, rangkok, menjangan, harimau, macan tutul, kuao,beo, beruang madu, landak, bahkan juga gajah,semua menyingkir ke Gunung Abong-Abong. Gunung Peut Sagoe, Gunung Battee Tambon, Gunung Kerambi, Seulawah Inong, Geruretee atau Gunung Mata Ie..

Burung-burung dan binatang penghuni hutan itu juga melihat betapa dahsyat air laut yang menerjang apa saja di daratan. Burung dan hewan itu menunduk sedih melihat orang-orang yang tewas diterjang air teramat banyak jumlahnya, seakan kehidupan di dunia ini sudah berakhir.

Air!. Air! Memang air ada dimana-amana. Jalananpun tidak tampak lagi. Ketika gelombang itu sedang mengamuk, azanpun dilantunkan orang untuk memohon agar gelombang dahsyat itu segera reda. Doa-doa, dzikir juga didiucapkan ribuan oang untuk meminta kepada Tuhan agar bencana itu segera berakhir. Tapi gelombang tetap saja menerjang. Yang terlihat hanya air laut yang bergelombang sehingga seorang lelaki tua yang amat fanatik segera berteriak histeris:

“Ya,Allah,turunkan hari ini perahu Nabi Nuh. Kalau hari ini dunia akan kiamat mengapa Engkau tidak memberi tanda-tanda?. Kalau hari ini akan terjadi banjir besar kenapa tidak Engkau suruh alim ulama untuk membuat perahu besar untuk menyelamatkan orang-orang yang tidak berdosa?”.

Doa-doa itu hilang ditelan suara air laut yang gemuruh,bahkan lebih gemuruh dari mesin pesawat terbang atau mesin pabrik yang memekakkan telinga. Sebagian orang memanjat pohon menghindari terjangan air yang amat deras dan berskala besar.

“Ya,Allah . Kenapa bencana ini amat dahsyat?, Apakah tokoh-tokoh masyarakat sudah lupa untuk melakukan saji-sajian untuk Panglima Laot?. Apakah mereka tidak lagi melaksanakan khanduri laot hingga lautpun sangat murka?”

Sungguh luar biasa. Orang-orang yang memanjat pohon itupun ternyata tidak mampu menghindari air laut dan tumbang.

Terdengar rintihan panjang amat mengharukan dari orang-orang yang nyawanya masih bersisa dilindungi malaikat:

“Tolong aku!. Tolong aku!,” teriak seorang ibu yang tubuhnya penuh luka dan tersangkut di pohon. Tidak seorangpun peduli untuk menurunkannya dari pohon. Siapa yang akan menolong kalau semua orang sedang merasakan hal yang sama?. Tidak ada siapapun menolong ,karena semua orang berusaha menyelamatkan dirinya sendiri, berusaha mencari keluarganya masing-masing. Teriakan minta tolong itupun terdengar dimana-mana, diantara puing-puing reruntuhan rumah..

“Mana anakku?. Mana anak-anakku?”, teriak seorang ibu yang terlontar hingga lebih dari 5 kilometer dari rumahnya dan anak yang semula dalam pelukan, tapi derasnya air laut menyebabkan sang anak terlepas dari pelukan ibundanya. Dan teriakan seperti itu juga terdengar dimana-mana, hampir di setiap tempat di bumi Tanah Rencong.

Terdengar jeritan nyaring anak-anak yang kehilangan ayahandanya. Terdengar teriakan memilukan anak-anak yang kehilangan ibunya. Terdengar jeritan memilukan dari ibu-ibu yang anaknya direnggut air laut. Terdengar tangis berkepanjangan dari isteri yang kehilangan suami atau sebaliknya.

Kiamat kecil telah terjadi di bumi Serambi Makkah. Pagi hari itu yang semula cerah berubah warna menjadi kacau balau, hiruk pikuk, penuh jeritan, suara gemuruh, air dimana-mana,mayatpun berserakan di sana sini. Pagi itu bumi Serambi Makkah yang kaya raya, yang penuh dengan minyak bumi dan gas, yang penuh dengan batu gamping,pasir kuarsa, emas, perak, pasir besi dan mika serta semen, telah hancur luluh dan kehidupan seakan berakhir di Nanggroe Aceh Darussalam. Aceh yang alamnya amat indah yang menghasilkan kayu, rotan, damar, karet,kelapa sawit, pupuk, kertas, cengkeh, pinus, lada, pala, nilam dan tidak ketinggalan ladang ganja yang amat terkenal di dunia itu dalam waktu seketika menjadi luluh lantak,hancur berkeping-keping, berserakan bagaikan butiran pasir. Dan bumi Acehpun kehilangan segalanya hanya dalam beberapa menit saja. Tiba-tiba saja negeri Tanah Rencong yang kaya dan terkenal dengan syariat Islamnya, dalam seketika tidak punya apa-apa lagi, selain air mata dimana-mana. Jeritan di sana-sini, keluhan bergaung di langit biru.

***

S

esaat sebelum gelombang tsunami itu menerjang daratan dengan amat ganas, seorang perias pengantin, Meutia, sedang menyusun berbagai jenis aksesoris pakaian pengantin adat Aceh dalam koper besar. Pagi itu Meutia harus merias sepasang pengantin yang semua pelaksanaan perkawinan itu sepenuhnya dengan adat Aceh. Itulah sebabnya dalam kopernya penuh pakaian pengantin, seperti bajoe meukeureuja, bajee linto, bajee darabaro yang bersulam indah, serta ija sawak. Sebilah rencong Aceh juga tidak ketinggalan di samping tangkulok, bungkoh bah ru serta serbaneka perhiasan.

Pastilah upacara perkawinan itu akan berlangsung amat meriah, karena sang pengantin perempuan lulusan salah satu fakultas di Univeristas Syah Kuala dan mempelai pria pengusaha sukses yang bergerak di bidang pembangunan jalan dan jembatan.

Bila pengantin yang bersanding dari kalangan orang kaya, pasti tari Ramphak yang melukiskan keberanian dan keperkasaan wanita-wanita Aceh dalam mengusir penjajah pasti akan dihadirkan. Tari Rapa-I Geleng juga tidak akan ketinggalan.

Alat-alat musik tradisional Aceh,seperti rebana besar,bangsi, biola,areubab, seureune kale, rapai pase, hari itu pasti dimainkan orang. Tidak satupun adat kebesaran Aceh ditinggalkan dalam upacara perkawinan itu. Itulah sebabnya Meutia merasa amat lelah karena sejak Jum’at pagi dia sudah mulai membuat pelaminan, menghiasi juree di rumah dara baro, padahal suaminya, Agam, juga ikut membantu disamping seorang asisten yang sudah cukup piawai merias pengantin Aceh.

Siapa lagi yang paling repot dan paling merasakan kelelahan pada acara adat perkawinan itu kalau bukan seorang perias pengantin seperti Meutia yang suaminya seorang guru SMA bidang studi seni rupa?. Karena kelelahan itu pula ,malam itu sebelum tsunami mengamuk,ketika malam dingin,ketika suami menghendaki making love, Meutia bersikap dingin.

“Maafkan saya lelah,” bisik Meutia malam itu dan menarik selimut karena udara dingin.

“Tapi saya tidak dapat tidur,” sahut suaminya di telinganya dan membelai tubuh Meutia yang indah. Seorang suami bila berhasrat menikmati hubungan paling intim belum terpenuhi pasti tidak dapat memejamkan mata.

“Minumlah seteguk air bening biar dapat tidur!,”

“Sungguh tidak dapat,” sang suami membelai lagi, tapi justru Meutia menggeliatkan tubuhnya dan membelakangi suaminya.

“Jangan belakangi saya. Jangan serahkan punggungmu padaku malam ini. Bukan itu yang kuinginkan”

“Besok saya harus merias pengantin,bagaimana saya harus mandi hadas?. Tidak mungkin saya hadir disana dengan rambut basah.. Saya berharap Yah Zahra maklum,” bisik Meutia.

Betapapun sang suami menghendaki hubungan badan, tapi Meutia tetap saja tidur lelap, sepasang matanya terasa amat berat untuk dibuka. Malam itu seorang suami amat kecewa karena kehendaknya untuk menikmati kemesraan bersama istrinya tidak terpenuhi.

Pagi hari sebelum ayam berkokok, sebelum azan subuh bergema dari puncak menara masjid, Meutia sudah mandi dan berkemas-kemas,hingga lewat jam delapan, semua aksesoris hiasan pengantin belum seluruhnya masuk dalam kopernya.

Perlengkapan acara peusijuek atau sejenis tepung tawar dan pengupa-upa, seperti dolong,bu leukat atau ketan satu talam dan teumpo, breueh pade, teupong taweue ngon ie, on sijeuk , manek manoe, sangee atau tudung saji gloh atau gelas, juga belum disusun rapi untuk dibawa ke rumah mempelai.

Dan wajah sang suami tampak muram ketika dia harus membantu istrinya berkemas,tidak seperti biasanya setiap membantu istri dengan wajah cerah. Kekecewaan malam tadi masih bersisa.

“Yah Zahra marah karena saya tidak melayani malam tadi?,” Meutia biasa memanggil suaminya Yah Zahra atau ayah si Zahra, putri mereka.

Lelaki di sisinya diam.

“Marah?,” ulang Meutia lagi dan melirik suaminya.

Lelaki itu tetap diam. Kekecewaan menggurati wajahnya.

“Marah kepada saya?”

Lelaki itu tetap tidak menyahut.

“Maafkan saya!,” pinta Meutia dan melirik suaminya lagi. “Maukah Ya Zahra memaafkan saya?”

Meutia mengulurkan tangan untuk memohon maaf, tapi suaminya tidak segera menerima uluran tangan itu. Lelaki itu tetap saja diam, tetap saja kekecewaan menggurati wajahnya. Sebagai warga Aceh yang dalam setiap gerak dan kegiatan hidupnya selalu dilandasi dengan syariat Islam, Meutia dan suminya menyadari, bahwa tidak melayani suami yang menghendaki hubungan mesra adalah dosa. Adalah merupakan tabu kalau seorang wanita berdarah Aceh tidak memenuhi permintaan suaminya,apalagi tidur membelakangi suami.

Meutia telah melanggar dosa itu, karena dia amat lelah setelah sehari penuh membuat pelaminan. Meutia tidak dapat melayani suaminya karena dia tidak ingin hadir di rumah mempelai perempuan dengan rambut basah setelah mandi hadas. Itulah sebabnya ,sebelum ia berangkat dengan membawa dua koper berisi aksesoris pakaian pengantin, dia buru-buru mohon maaf dari suaminya.

Tapi sebelum uluran tangannya menyentuh tangan suaminya, sebelum sempat Meutia mencium tangan Agam, tiba-tiba saja terdengar seperti suara bom. Tsunami tiba-tiba saja merenggut segalanya.

Hanya beberapa saat sebelum tsunami menerjang daratan, di sebuah kamar di rumah itu, seorang gadis cilik berusia sebelas tahun sedang bermain boneka dan terdengar melantunkan lagu yang amat populer di Aceh,bahkan di seluruh nusantara, lagu Bungong Jeumpa:

Bungong jeumpa bungong jeumpa megah di Aceh

Bungong telebeh ,telebeh indah lagoi na

Puteh kuning mejam pu mirah

Kuemang siulah cidah that rupa

Gadis cilik semata wayang,Zahra, yang lahir dari rahim Meutia, belum rampung melantunkan lagu itu ketika terdengar suara menggelegar yang amat keras. Dan suara itu membuat si kecil itu berlari keluar kamar dalam ketakutan lalu menghampiri ayahnya.

Sesaat kemudian ,tiba-tiba saja air mengganas membawa puing-puing bangunan rumah dan gedung-gedung, mobil, sampah pohon tumbang, ternak, bahkan juga manusia yang tidak sempat menghindar dari terjangan air. Air!. Dimana-mana air.

Zahra segera memeluk ayahnya lebih erat. Meutia juga memeluk suaminya. Mereka bertiga saling berpelukan amat erat, sementara Agam berpegang amat erat pada dinding rumah.

“Air!. Air,Buya!,” teriak gadis cilik itu.

“Ya,air. Air bah yang sangat mengerikan!,” cetus Meutia.

“Peukeuh donianya karab kiamat?,” tanya Zahra dengan wajah ketakutan dan masih memeluk ayahnya dalam bahasa Aceh.

“Keun!. Keun,tapi ie raya!,” sahut sang ayah .

Air laut tidak hanya membanjiri jalanan,tapi juga menerjang rumah dan memasuki kamar-kamar.

“Peluk buya kuat-kuat!,” teriak Agam kepada putrinya dan juga kepada Meutia.

“Ya,Tuhan. Banjir ini terlalu keras,” teriak sang ayah ketika dengan sekuat tenaganya ia berpegang pada tembok rumah.

Ibu dan anak semata wayang itu semakin erat berpegang pada ayahnya, namun terjangan air laut teramat keras, lebih keras dari dorongan kekuatan mobil yang sedang melaju. Terdengar suara berderak dan rumah itupun akhirnya roboh. Sebagian reruntuhan rumah itu menimpa pundak Agam,bahkan lengan putrinya berdarah karena tertimpa sepotong kayu.

Hempasan air laut yang teramat keras menyebabkan tubuh Meutia terseret padahal kedua tangannya berpegang pada suaminya. Perempuan perias pengantin itu, pagi minggu itu terseret arus dan dalam waktu sekejap sudah terbawa arus sejauh ratusan meter dari rumah itu.

“Meutia!. Meutiaaaa!,” suara Agam memanggil, tapi suara itu lenyap ditelan gemuruh gelombang tsunami yang sedang mengamuk.

“Jangan tinggalkan Zahra!,” si kecil itu juga berteriak-teriak memanggil ibunya yang sudah tidak tampak lagi diseret air. Air laut yang semula biru,ketika melimpah ke darat berwarna hitam karena bercampur lumpur dan sampah.

Agam juga terseret air, namun ia berhasil meraih sebatang kayu dan hanyut hingga ke desa lain, hingga ke Gempong Baroe, Duerueng , hingga Meunasah Keude,sementara Meutia sudah entah dimana,padahal Meutia tidak berpegang pada benda apapun. Syukurlah putrinya ,masih mampu berpegang pada dirnya hingga ikut selamat.

Suasana pagi yang semula amat cerah dan langitpun biru serta awan berarak-arak dan burung-burung terbang rendah dan hinggap di ranting pohon, tiba-tiba saja berubah amat mengerikan. Gelombang laut lebih tinggi dari pohon kelapa menyapu bersih puluhan desa sepanjang pantai hingga jauh ke darat. Pagi itu puluhan desa-desa dalam sekejap saja dilanda malapeaka yang paling dahsyat dan sebagian besar bangunan runtuh,seperti di kawasan Lamngah, Lamreh, Ladong, Pantee Rheung, Blang Kijue, Ulee Kareung, Pantee Raja, Trieng Gadeng dan puluhan desa lainnya di sepanjang pantai barat,hingga ke Pulau Simuelue, Lhoknga dan Meulaboh. Hari itu Serambi Makkah seakan sudah kiamat.

“Pat ummi kah ,Buya,” air mata Zahra berderai ketika air mulai surut dan bertanya kepada ayahnya. Sebagai putrid berdaah Aceh, sesekali Zahra berbicara dengan ayahnya dalam bahasa daerah Aceh.

“Ummi di meu lee ie!,” sahut sang ayah yang mengatakan,bahwa ibunya sudah hanyut dihanyutkan air.

“Jak, ta mita ummi!,” ajak Zahra untuk mencari ibundanya.

“Ya,kita harus segera mencari ummi setelah air reda!”

Pagi itu ribuan,bahkan puluhan ribu dan ratusan ribu manusia dihanyutkan air laut yang sedang murka. Tidak hanya seorang perias pengantian bernama Meutia, tapi juga pemain sandiwara, kuli bangunan, pegawai negeri, polisi, pedagang, bahkan juga alim ulama dan guru mengaji ikut direnggut tsunami yang sedang mengamuk. Tidak hanya rakyat biasa,bahkan atlit yang paling tegarpun ikut dihanyutkan air laut. Juga para bangsawan yang menyandang gelar Teungku, Teuku Cik, Leubee, Geuchik, Petua, Keujren,Keureukon Katibul-mulok dan Ulee balang ikut diseret gelombang. Ribuan jenazah mereka ada yang tergeletak di jalan raya dengan pakaian sobek-sobek dan yang terhimpit puing-puing bangunan juga banyak. Jenazah yang bugil juga ada di sana-sini.

Akan halnya bangunan yang dirobohkan air laut tidak hanya milik Agam, tapi gedung sekolah ikut ambruk,gedung pemerintahan juga rata dengan tanah, bahkan markas polisi juga luluh lantak dan jenazah manusia juga banyak disana. Nisan-nisan dipemakaman umum juga ikut terbongkar.

Yang nyawanya direnggut tsunami tidak hanya lelaki dewasa, tidak hanya ibu-ibu rumah tangga, tapi juga remaja,anak sekolah, mahasiswa,bahkan juga bayi dalam gendongan ibunya juga ikut direnggut ganasnya air laut.

Ratusan ribu jenazah tercecer dimana-mana. Hampir semua kawasan di kota luluh lantak, rumah dan bangunan roboh,bahkan pabrik semen yang kukuh juga hancur bersama ratusan buruhnya. Nusantarapun menangis, ibu pertiwipun berduka amat dalam, duniapun menundukkan kepala tanda ikut bersedih. Tuhan tidak menurunkan mukzijat, tidak menurunkan perahu Nabi Nuh berukuran raksasa untuk menyelamatkan umat manusia dari bencana gelombang tsunami.

“Semua yang terjadi adalah bencana agar manusia membaca tanda-tanda zaman, bahwa kiamat akan datang dan manusia harus sadar diri menjauhi dosa meskipun sekecil butiran paisr,” begitu para pemuka agama dan alim ulama bertutur.

“Apa yang terjadi mungkin adalah azab dari Tuhan. Sebab azab itu sebanding lurus dengan kufur, akibat banyak orang tidak tahu diri, berbuat dosa dan tidak tahu bersyukur,” begitu para guru mengaji berkata kepada orng-orang yang selamat dan mereka sudah kehilangan suami dan anak serta orang tuanya.

“Berkaca dirilah setelah bencana menimpa Tanah Rencong. Yang terjadi adalah Qudrat dari Allah, sebab umat manusia sudah terlalu sombong, angkuh dan lupa diri”, itulah sebagian dari wejangan yang disampaikan oleh bebeapa pengurus meunasah.

Kata-kata itu membuat seorang guru SMA termenung ketika mengenang istrinya yang direnggut bencana berskala besar. Agam bertanya pada dirinya sendiri:

“Apakah istriku penuh dosa hingga dia diseret gelombang dan sekarang entah dimana?”

Sesaat Agam termenung, ingat ketika kehendaknya sebagai suami untuk menikmati kemeraan di atas kasur lembut tidak dilayani Meutia dengan alasan lelah. Tidak hanya itu, Meutia tidur dengan membelakangi dirinya.

Sebagai seorang muslim yang taat dan selalu menghadiri majlis taklim di meunasah atau masjid, Agam tahu benar, bahwa berdosalah istri yang menolak kehendak suaminya.

“Meutia berdosa malam tadi,” ujarnya dalam hati. “Tapi mengapa dia harus menebus dosanya dengan kematian,bahkan dengan cara yang amat mengenaskan?. Sungguh tidak seimbang dengan dosanya yang hanya sekecil butiran pasir.”

Lama Agam menekur dan di depannya air laut masih tergenang di mana-mana. Airmatanya berderai-derai.

“Aku menyesal tidak segera memberinya maaf. Aku menyesal tidak segera menerima uluran tangannya. Aku menyesal tidak segera memberikan tanganku untuk dicium Metuia. Demi Tuhan aku amat menyesal,” ujarnya dengan tersedu-sedu

“Sekarang aku sudah memaafkanmu,Meutia. Aku tidak marah kepadamu. Demi Tuhan aku tidak marah!”

Lama Agam tersedu dan ujung jarinya menyeka airmata di pipinya.

“Apakah ribuan korban yang direnggut air bah ini adalah manusia-manusia yang penuh dosa?. Apakah dosa mereka seberat kaum yang ingkar di zaman Nabi Nuh atau Nabi Luth?,” Agam bertanya pada dirinya sendiri.

Suara gemuruh air laut yang tumpah ke daratan tidak terdengar lagi, tapi suara tangis dan rintihan serta sedu sedan dan juga erang kesakitan karena tertimpa reruntuhan rumah terdengar di sana–sini. Rintihan terdengar dari segala penjuru. Apalai suara tangis anak-anak yang kehilangan ayah dan ibunya. Tidak ada yang menolong, tidak ada yang menyapa. Ribuan orang masih masih dalam kepanikan,lalu bagaimana mau menolong orang lain?.

Kehidupan sakan sudah berakhir di Aceh karena banyaknya korban dan mayat-mayat bergelimpangan. Apalagi yang namanya krueng dan lawe atau sungai, seakan telah menjadi tempat berkumpulnya ribuan mayat-mayat, seperti Krueng Teunom, Krueng Meureubo, Krueng Seunagan, Krueng Meureudeu, Krueng Trenggadeg, Krueng Batee, Krueng Peudada atau Jambu Aye.

Bahkan di danau Aneuek Laot yang luasnya lebih dari 300 meter persegi dan merupakan objek wisata andalan kawasan Tanah Rencong juga terdapat banyak sekali mayat-mayat terapung.

Gelombang dahsyat tsunami sudah mulai reda, tapi getaran bumi masih terasa hampir di seluruh bumi Tanah Rencong. Orang-orang yang selamat dari kematian, masih tetap saja dirundung sedih, cemas, takut, traumatik dan panik. Ratap tangis dan sedu sedan pun masih terdengar dimana-mana. Tsunami sudah mulai reda,tapi air mata masih terus berderai di bumi NAD. Rintihan menahan sakit masih terus terdengar di sana-sini karena orang-orang yang terluka tidak terhitung banyaknya,sementara rumah sakitpun terendam air. Jasad orang yang selamat penuh luka, tapi hati mereka lebih luka lagi. Mereka tidak memiliki apa-apa lagi, semua harta benda dihanyutkan air laut dan yang mereka miliki hanya sisa napas dan itupun terasa aamat sesak. Sebab ketika diterpa air laut mereka menghirup air yang bercampur pasir dan Lumpur.

Akan halnya Agam juga begitu. Agam adalah sosok lelaki bertubuh kekar,namun ketika melihat mayat-mayat bergelimpangan dimana-mana dan istrinya juga hilang air matanya juga berderai. Apalagi satu-satunya anak semata wayang, Zahra, terus menerus menangis, memanggil-manggil ibunya yang kini entah dimana.

Agam rela kehilangan rumahnya. Lelaki itu rela kehilangan seluruh harta benda dan semua miliknya, tapi dia berharap dia dapat menemukan istrinya.

“Pat ummikah?,” pertanyaan tentang ibunya terus menerus menyebabkan relung hati Agam seperti digores beling tajam.

“Apakah ummi akan kembali?,” tanya Zahra lagi berulang-ulang.

“Kenapa Buya tidak memegang tangan ummi kuat-kuat biar tidak dihanyutkan air?”

“Kemana ummi dihanyutkan air banjir?”

“Adakah seseorang yang menolong ummi?”

“Apakah ummi akan hanyut sampai ke laut?”

“Kapan ummi akan pulang?”

“Apakah ummi tetap sehat?”

“Apakah pakaian ummi tidak robek dihempaskan air bah?”

“Apakah tubuh ummi tidak luka-luka?”

Seribu pertanyaan dilontarkan gadis cilik itu kepada ayahnya yang masih menitikkan air mata. Teramat sulit untuk menjawab dan bocah itu hanya mampu menangis dan meratap. Ribuan anak-anak meratap dan menangis seperti itu. Ribuan anak-anak kehilangan kakaknya,kehilangan ayah dan ibunya. Ratusan ribu anak-anak Aceh kehilangan sanak saudara dan mereka jadi anak yatim. Sejak itu anak-anak Tanah Rencong kehilangan masa depan. Entah bersama siapa mereka akan tinggal. Entah dimana anak-anak Aceh itu akan bernaung dan minta makan. Entah akan bagaimana nasib mereka nanti. Semua akan gelap gulita.

Air laut masih tergenang dimana-mana,bahkan getaran gempa susulan masih terasa hampir seluruh kawasan NAD,tapi Zahra tidak sabar untuk segera mencari ibunya.

“Jak,ta mita ummi!”, Zahra menarik-narik tangan ayahnya berkali-kali untuk mencari ibunya.

“Ummi di meu lee ie!,”sahut sang ayah

“Ayo!. Jangan biarkan ummi tergeletak tidak ada yang menolong,” desak bocah itu tidak sabar.

“Kemana kita harus mencari ummi?”

“Meskipun ke ujung lanit kita harus mencarinya sekarang!”

“Zahra tidak takut melihat mayat yang bergelimpangan?”

“Tidak!. Demi ummi, Zahra tidak takut.”

“Baiklah, mari kita cari ummi meskipun hingga ke tepi laut!”

Meskipun baru dihempaskan gelombang air laut yang menerjang daratan, tapi siang itu, gadis cilik itu, seperti mendapat mukzijat tidak takut melihat mayat ada dimana-mana. Mayat-mayat bergelimpangan menandakan,bahwa mereka yang masih hidup jauh lebih sedikit daripada yang tewas diamuk tsunami. Hampir di setiap jengkal tanah Serambi Makkah ada mayat yang terkapar dalam keadaan mengenaskan,seperti nenek-nenek tua, remaja, kanak-kanak dan bayi.

Belum melewati kawasan Meunasah Keude, artinya baru beberapa langkah , sudah terlihat puluhan jenazah tanpa seorangpun yang peduli. Semua dibiarkan terkapar. Tiap mayat, pasti diperhatikan Agam dan putrinya untuk mencari Meutia,apakah ada diantara mayat-mayat yang bergelimpangan itu. Agam dan putrinya ingin menemukan Meutia dalam keadaan hidup atu mati.

Tidak jauh dari kawasan Deureung,langkah Zahra terhenti karena berpapasan dengan enam orang gadis-gadis sebayanya dan mereka semua adalah kawan-kawan Zahra bermain catoe atau maen keong, sungkeut atau tak tham dan mauen galah.

“Anisa!,” cetus Zahra menyapa temannya bermain dan mereka semua selamat dari bencana. “Mau kemana kalian?”

“Aku mencari ayah!,” sahut yang disapa dan tampak jelas ada air mata dipipi sahabatnya.

“Aku mencari ibu dan kakak-kakakku,” sahut Zainab yang kehilangan ibu dan saudaranya.

“Aku juga mencari ayahku,” sambung Ainun.

“Aku juga mencari ayah dan ibuku,.” Sambung Cut Fatimah.

“Aku mencari ibu,” ujar Zahra dan menghapus air amta di pipinya. Semua kawan-kawannya bermain juga menangis sedih. Tidak ada lagi senyum di Tanah Rencong. Tidak ada lagi tawa di Serambi Makkah. Yang ada hanyalah tangis dan kesedihan. Yang ada hanyalah luka yang mendalam di hati yang terasa amat perih.

Enam orang anak-anak itu semua selamat ketika gelombang tsunami tiba-tiba mengamuk, padahal rumah mereka tidak terlalu jauh dari pantai. Meskipun mereka terbawa gelombang dahsyat,tapi malaikat melindungi mereka hingga ke kompleks pemakaman muslim,di tempat yang tinggi. Tubuh bocah-boch itu basah dan berlumpur. Bahkan tiga orang bocah pakaiannya robek-robek.

Gadis-gadis cilik itu selamat karena tiap mereka bermain selalu melantunkan lagu-lagu berlirik mantra dan doa. Bila tidak dalam suasana kesedihan dan duka nestapa pasti mereka akan bermain dan menyanyi lagi. Mereka sudah amat hafal lagu-lagu tradisional anak-anak Aceh:

Hong dat-dat,na umu na ubat

Lhee boh klaih pliek-u,lhee boh mu pisang klat

On pineung tho, on pineung mirah

Alpatihah kutawa bisa

Lirik itu bermakna,hong dat-dat,ada umur ada obat, tiga kali pliek u,tiga tandan pisang rujak,daun pinang merah kering,daun pinang merah, al Fatihah penawar bisa.

Binatang berbisapun takut mendekati anak-anak yang melantunkan lirik mantra itu. Begitu pula tsunami seakan tidak tega membinasakan mereka meskipun mereka terbawa arus hingga jarak yang jauh karena mantra-mantra itu.

Bahkan tidak jauh dari anak-anak itu dilontarkan gelombang laut, ada bayi yang tetap selamat dalam gendongan ibunya. Tentu saja bayi itu selamat karena baru beberapa hari yang lalu seorang pawang membacakan mantra-mantra agar bayi itu selamat dari roh jahat, agar terhindar dari bencana. Mantra itu memang enak di dengar:

Hai pawang Peutani

Bek tapoh-poh budak lam ayon, aneukku di lon cucoe di gata

Rambalut bui rambalut asee,bek kameusilee bak manusia

Rambalut bui rambalut kaphe, bek kaduek le bak manusia.

Ka ek u langet kupeungandoe ,katron u bumoe kutheun cintra

Kuboh bak gaki rante beusoe,kuboh bak jaroe rante teumaga

Hai pawang Peutani. Jangan diganggu bayi dalam ayunan, anak bayi dalam ayunan,anak bayi kami, cucu bagi Anda. Hantu babi anjing,jangan kau menyelinap pada anak manusia. Hantu babi,hantu kafir,jangan kau surup lagi pada manusia. Kau naik ke langit kuketapel, kau turun ke bumi kupasang perangkap. Kupasang di kaki rantai besi, kupansang tangan rantai tembaga.

Itulah makna mantra itu untuk melindungi keselamatan bayi, dan Agam sendiri juga membaca mantra itu ketika Zahra masih bayi dulu, ketika baru dilahirkan.

***

A

gama dan putrinya terus melangkah dan terus melangkah tanpa mengenal lelah. Sepanjang jalan tampak mayat bergelimpangan dan satu demi satu diperhatikan dengan amat jeli,apalagi bila ada mayat perempuan di pinggir jalan atau diparit,pasti diteliti untuk memastikan apakah jenazah ibunya.

“Kamu tidak lelah,Zahra?,” tanya Agam ketika mereka sudah jauh melangkah,sudah ratusan mayat yang mereka teliti.

“Tidak. Kita akan terus mencari ummi sampai malam, sampai esok, sampai lusa, sampai kapanpun. Kita harus menemukan ummi!” Betapa amat keras tekad hati gadis cilik itu,karena dia memang teramat mencintai ibundanya.

Tidak terhitung jenazah yang mereka perhatikan dan airmata masih saja mengalir di pipi Zahra,juga di pipi sang ayah. Betapa amat mengenaskan mayat-mayat itu yang terkadang penuh luka di sekujur tubuhnya karena terbentur bangunan atau pohon ketika dibawa arus deras. Pakaian mereka robek padahal ada mayat yang mengenakan adat Aceh yang bagus.

Sejak dulu di kalangan masyarakat Aceh dalam hal berpakaian selalu berpegang pada falsafah “Geutakot keu angkatan, geumalee keu peukayan” yang bermakna ,bahwa yang ditakuti orang adalah kekuatan ,sementara yang dikagumi, disenangi serta disegani adalah orang yang berpakaian rapi.

Seperti halnya hari itu, ketika bencana tsunami terjadi pada hari libur, sehingga banyak warga yang berpakaian bagus untuk menghadiri undangan atau upacara perkawinan atau khitanan. Yang melaksanakan peusijuek Meulangga juga ada, juga peusijeuk Pade Bijeh, hingga peusijeuk Peudong Rumah atau kenduri membangun rumah banyak dilakukan di hari minggu.

Itulah sebabnya banyak jenazah yang berserakan di jalan-jalan ada yang mengenakan bajee kot atau baju jas, bajee panjang jaroe atau kemeja lengan panjang,bahkan yang mengenakan bajee balek takue atau bajee balek dada atau jas model Eropa.

Sesaat langkah Agam dan putrinya tertegun ketika melihat jenazah lelaki berpakaian adat itu. Pastilah lelaki itu akan menghadiri upcara penting,setidaknya menghadiri pelantikan Lembaga Adat.

“Lelaki ini tetangga saya,” ujar seorang lelaki yang juga mencari anaknya tiba-tiba hadir di sisi Agam

“Tampaknya dia akan menghadiri upcara,” sahut Agam.

“Dia berasal dari keluarga pejabat. Dia baru saja diwisuda sebagai sarjana teknik dan di rumahnya akan dilaksanakan syukuran serta peusijuek. Namun sebelum acara tiu dimulai dan tamu-tamu mulai datang gelombang laut meruntuhkan rumahnya.”

“Kasihan!,” gumam Agam dan menghela nafas panjang.

“Tuhan sakan memberikan ganjaran,sebab dia lulus sebagai sarjana ,bukan karena otaknya yang pintar,tapi setiap ujian dia memberikan uang hingga menghadapi ujian kesarjanaannya uang juga berperan. Bahkan uang kuliah diperoleh orang tuanya dengan jalan yang tidak halal,”

“Korupsi?”

Lelaki di sisi Agam mengaguk. Pantaslah Tuhan marah kepada lelaki muda itu dan kelurganya. Tuhan tidak memperkenankan lelaki muda itu berumur panjang. Sebab andainya dia bekerja nanti akan membangun jembatan atau gedung bertingkat pasti akan roboh karena salah menghitung,salah menyusun konstruksi,sebab gelar kesarjanaannya diperoleh dengan uang.

“Ayo, kita lanjut mencari ummi!,” tiba-tiba saja Zahra menarikkan tangan Agam karena tidak sabar untuk mengetahui nasib ibunya.

Ayah dan anak itu melanjutkan langkah mereka, kembali mengamati mayat-mayat yang bergelimpangan di sepanjang jalan dan selokan. Mendadak langkah Zahra terhenti karena sayup-sayup dia mendengar ratap tangis yang memilukan.

“Kenapa berhenti,Zahra?,”

“Seperti ada ratapan panjang. Seperti suara perempuan merintih.”

“Ayo kita cari. Siapa tahu suara itu adalah ummi.”

Zahra memasang indera pendengarannya untuk mengamati darimana datangnya suara ratapan perempuan itu.

“Dari arah sana!,” ujar Zahra menujuk gedung sekolah yang roboh. Gedung sekolah itu hancur luluh dan semua bangku ikut lenyap dihanyutkan tsunami.

Masih syukur ,tsunami yang amat ganas itu menerjang kawasan NAD pada hari minggu. Andainya terjadi pada hari kerja,pada saat dalam proses belajar dan mengajar sedang berlangsung,pasti ribuan anak-anak sekolah akan dibawa arus laut,akan lebih banyak lagi korban di kalangan anak-anak.

Di antara reruntuhan gedung sekolah yang hancur itulah Agam dan Zahra melihat seorang perempuan cantik meratapi jenazah lelaki yang baru saja ditemukan. Beberapa saat Agam dan Zahra mendengar ratapannya yang amat mengharukan:

“Kelihatannya perempuan yang meratap itu bukan warga Aceh!”,cetus Zahra

“Ya! Tampaknya memang warga pendatang!”

“Pasti datang dari jauh.”

“Dari logat suaranya perempuan itu seperti dari Jawa Tengah.”

Sebagai seorang lelaki yang pernah kuliah di Jurusan Seni Rupa hampir lima tahun di Yogya, Agam tahu,bahwa perempuan itu baru datang dari Jawa Tengah..

“Dengar,Buya. Dengarlah ratapannya!,” ujar Zahra dan mendekati perempuan itu yang masih meratap :

“Sudah kukatakan berkali-kali agar kamu tidak usah pulang ke Aceh. Aku sudah ribuan kali menganjurkan kepadamu agar tidak usah berharap jadi pegawai negeri. Aku sudah terlalu sering menganjurkan kepadmu agar kita menetap di Solo menjadi pedagang batik. Kita akan hidup layak dan bahagia. Tapi hatimu terlalu kras. Tekadmu terlalu keras untuk membangun tanah kelahiranmu hingga tsunami merenggut nyawamu dan aku harus kehilangan dirimu. Sia-sia saja pengorbananku selama ini.”

Perempuan itu merintih panjang. Zahra tertegun mendengar ratapan itu dan bertanya kepada Agam:

“Pengorbanan?. Pengorbanan apa yang diberikan perempaun itu padahal dia berasal dari Pulau Jawa dan lelaki yang diratapinya adalah orang Aceh?”

“Pasti lelaki yang diratapi adalah warga Aceh yang pernah kuliah di Yogya dan kembali ke Aceh untuk membangun negeri kita.”

“Banyakkah putra-puteri Aceh yang kuliah di Yogya dan kota-kota lain di Jawa?”

“Tentu saja amat banyak!”

Sesaat Zahra termenung. Dan ratapan itu terus terdengar amat mengharukan. Agam dan putrinya terus melangkah lagi.

S

elama bertahun-tahun perempuan yang meratap itu telah membiayai lelaki yang sudah menjadi mayat itu ketika masih mahasiswa di Yogya karena ayahnya sakit dan akhirnya meninggal. Lelaki yang menjadi mayat itu ketiadaan biaya dan untunglah bertemu seorang perempuan asal Pekalongan dan membiayai kuliahnya sampai jadi sarjana. Perempuan asal Pekalongan itu berharap agar lelaki itu mau menjadi pedagang batik. Tetapi lelaki itu bersikeras untuk pulang ke Aceh, untuk membangun daerah kelahirannya. Tapi sebelum lelaki itu memberikan sumbangsih pikiran dan tenaganya, tsunami merenggut nyawanya. Yang tewas tidak hanya diri lelaki malang itu, tapi juga ibu dan dua adiknya. Bangunan rumahnya juga ikut rata dengan tanah.

Perempuan kelahiran Pekalongan itu berusaha mengangkat jenazah lelaki yang dicintainya tapi tidak berdaya. Dia memanggil beberapa orang anak muda yang sedang lewat dan meminta bantuannya untuk mengangkat jenazah itu dari reruntuhan bangunan. Perempuan itu mengulurkan uang tiga ratus ribu untuk mengangkat jenazah itu hingga ke sebuah meunasah untuk dimandikan, dikafani, disalatkan dan dikuburkan. Hanya beberapa orang saja yang mengantarnya ke kubur karena semua orang warga Aceh sedang mencari kelurganya yang hilang atau tewas.

Langitpun berwarna kelabu dan turun hujan rintik-rintik. Alam ikut berduka dan sedih karena pada hari itu terlalu banyak orang kehilangan nyawa dan harus dikuburkan. Airmata perempuan kelahiran Pekalongan itu masih terus berderai.

***

H

ari sudah hampir senja ,langit berwarna merah,tapi Agam dan purinya masih terus melangkah,menyusuri jalan-jalan desa. Hampir pada setiap langkah kedua manusia itu pasti melihat jenazah yang hanya ditutupi daun pisang atau dibiarkan terkapar atau tertelungkup dan hampir semua mayat itu berlumur lumpur.

Langkah seorang ayah dan anak itu terhenti ketika melihat seorang gadis cilik berlari kesana kemari,tidak tentu arah,sebentar lari ke arah timur dan sebentar lagi ke a rah barat sambil berteriak-teriak histeris. Pakaian gadis itu tampak kumuh dan di tangannya ada sehelai pakaian perempuan:

“Jangan pergi,Ma!”

“Jangan pergi,Yah!”

“Jangan pergi,Nek!,”

“Jangan tinggalkan Cut sendiri!”

Ucapan itu berulang-ulang terdengar sangat mengharukan.

“Sepertinya Cut Aini!,” cetus Agam setelah memperhatikan gadis cilik yang berlari kian kemari sambil menangis.

“Ya,benar!. Itu Cut Aini,kawan Zahra sekelas!”

“Pasti bunda, nenek dan saudaranya dihanyutkan air bah. Pasti rumahnya juga dihancurkan air laut seperti rumah kita.”

“Tpi kenapa Aini jadi seperti itu?”

“Kasihan. Ayo kita ajak untuk mencari ayah bundanya.”

Agam dan Zahra segera menghampiri gadis cilik yang berteria-teriak histeris itu.

“Cut Aini,kenapa kamu jadi begini?,” Zahra menghampiri.

“Jangan dekat denganku!. Jangan dekati aku!. Biarkan aku terjun ke laut. Biarkan aku mencari dan menyusul ayah dan ibuku,” teriak gadis cilik itu seperti tidak mengenal sahabatnya lagi.

“Aku Zahra!. Aku sahabatmu. Aku kawanmu sekelas!”

“Bukan!. Kamu bukan sahabatku. Bukan kawanku. Biarkan aku mencari ayah dan ibuku. Biarkan aku terjun ke laut!”

Zahra berusaha menyentuh tangan sahabatnya yang tampak seperti kemasukan jin jahat. Amat keras Cut Aini menepiskan tangan Zahra. Cut Aini berlari menjauh,seperti mencari laut dan akan terjun ke dalamnya.

Zahra dan ayahnya hanya dapat menghela nafas panjang penuh perasaan iba. Nasib yang dialami gadis cilik itu lebih mengenaskan lagi. Cut Aini telah kehilangan ayah, ibu, adik dan neneknya. Rumahnya juga diruntuhkan air bah yang amat ganas itu. Pagi itu Cut Aini sedang mengaji di meunasah ketika gelombang besar menghantam rumahnya dan menyeret seisi rumah. Andainyas saat itu Cut Aini dirumah,pasti dia juga akan diseret ombak. Setiap putra-putri Aceh sejak masih kecil sudah diajar membaca Qur’an hingga peumanoe tamat. Bila orangtua tidak mampu mengajar putra-putrinya sendiri lalu diserahkan kepada imeum meunasah dengan iringan pesan: “Aneuk lon lon jak jok keu droeneu, neupoh, mubek capiek deungon buta, lo-en bak nyam ban hukom droeneu”

Ucapan itu bermakna penyerahan seorang anak untuk diajar mengaji dan boleh dipukul kalau nakal asal tidak membuatnya pincang dan luka. Penyerahan itu pun diiringi dengan “bu kunyet ngon u mirah”, atau setalam ketan kuning lengkap dengan kepala inti.

Ketika itulah,ketika Cut Aini sedang membaca Qur-an di hari minggu pagi itu tiba-tiba terasa gempa mengguncang kemudian air laut naik ke darat dan menghancurkan rumah serta emnghanyutkan ribuan rumah, sementara meunasah temapt Cut Aini mengaji berada di tempat yang tinggi hingga tidak terjangkau air yang sedang murka. Lebih dari dua puluh anak-anak yang sedang belajar di meunasah itu ketika pulang menemukan rumhnya sudah runtuh dan keluarganya sudah dihanyutkan air. Tragedi itulah yang amat memukul jiwa Cut Aini dan kawan-kawannya.

“Kenapa Cut Aini jadi begitu,Buya?” Tanya Zahra pada ayahnya.

“Ia kehilangan rumah, ayah dan ibunya. Jiwanya terpukul dan tidak mampu menghadapi tragedi itu.”

Zahra tampak semakin sedih dan mengajaknya melangkah lagi, membiarkan sahabatnya berlari ke arah pantai. Agam dan putrinya melangkah lagi mencari Meutia. Sepanjang jalan yang dilalui tetap saja banyak mayat bergelimpangan. Baru belasan meter jalan dilalui Agam bertemu Teuku Imeum yang dikenalnya sedang menolong seseorang yang sedang sekarat.

Imeum masjid itu menyingkirkan sampah dan kayu-kayu reruntuhan bangunan. Hanya seorang diri dia melakukannya.

“Teungku menolong siapa?,” sapa Agam menghampiri lelaki tua berpakaian serba putih dan bersorban besar.

“Dia jamaah saya di masjid!,” sahut Teungku Imeum dan tasbih tidak terlepas dari tangannya meskipun dia sedang menolong orang yang sedang sekarat.

Tanpa diminta Agam ikut membantu. Setelah tubuh lelaki sekarat itu terangkat dan dibaringkan di atas rumput, Teungku Imeum membisikkan zikir di telinganya sesaat kemudian lelaki itu menghembuskan nafas yang terakhir.

“Masih ada kaitan kerabatkah Teungku dengan jenazah ini?,”

“Tidak!. Saya hanya ingin tahu apakah jamaah saya ada yang dapat diselamatkan dari bencana ini. Jenazah lelaki ini ketika hidupnya memang selalu hadir mengikuti majlis ta’lim,tapi selalu berselisih faham. Hanya karena hal-hal yang amat spele lalu dia bertengkar di masjid,padahal Allah amat marah kepada orang-orang yang bersuara keras di tempat ibadah. Apalagi kalau dia bertengkar tentang masalah bid’ah atau khilafiah. Salah satu sebab-sebab turunnya bencana dari Allah adalah karena orang suka bertengkar di masjid.

“Kelihatannya jamaah Teungku ini meninggal dengan tenang,bahkan tersenyum,” cetus Agam.

“Dia ikhlas menerima kematiannya dengan jalan direnggut bencana. Dia telah menebus kekeliruannya di dunia.”

“Masih adakah jamaah Teungku yang menjadi korban bencana ini?”

“Masih ada satu lagi!”

“Adakah dosa yang dilakukannya?”

“Tidak!. Sama sekali tidak ada dosa besar yang pernah dilakukannya. Dia benar-benar seorang umat yang sangat takut dosa dan selalu dekat dengan Tuhan.”

“Inilah bukti kekejaman tsunami. Orang yang bersih dari dosa,orang yang paling takwa pun direnggut dengan ganas. Seperti halnya istri saya.” Kata-kata itu dituturkan Agam dengan nada sedih.

“Biarlah mereka semua pergi sebagai syuhada. Tapi ada ha-hal penting yang perlu menjadi catatan bagi kita semua dan terkadang diabaikan oleh manusia,teruama bagi para orang tua yang anak-anaknya hidup mapan.”

“Apa maksud Teungku?. Bukankah anak-anak yang hidup mapan dapat memberangkatkan ayah bundanya ke tanah suci?”

“Ya,benar. Ribuan orangtua telah diberangkatkan ke tanah suci oleh anak-anaknya.”

“Lihatlah dekat jembatan itu,” kata Teungku lagi dan menunjuk kea rah timur.

:Puluhan mayat ada di sana dan semuanya belum diangkat dan dimakamkan.”

“Tidak hanya mayat yang ada di sana,bukan?. Di sana juga ada mobil-mobil mewah yang dihanyutkan air bah dan didalamnya penuh mayat yang bertumpuk menjadi satu.”

“Ya,saya melihat banyak bangkai mobil di sana.”

Baru saja sesaat yang lalu Agam dan Zahra melewati jembatan. Di sana banyak mayat yang belum dievakuasi. Di sana juga ada mobil-mobil berbagai jenis dan penumpangnya tewas dihempaskan air laut yang sedang murka. Mobil itu ringsek dan jenazah didalamnya penuh luka bertumpuk menjadi satu. Itulah tandanya gelombang tsunami amat dahsyat.

“Jamaah saya bersyukur putranya naik pangkat di instansinya dan mampu membeli rumah mewah dan juga mobil bagus. Tapi sayang harta dan kekayaan anaknya ikut menyeret ayahnya berbuat kelalaian. Sang ayah ikut dalam mobil itu untuk tujuan yang tidak bermanfaat karena tujuannya hanya ke danau. Saat itulah tsunami menerjang dan seisi mobil itu tewas sia-sia.”

Agam hanya menghela nafas panjang mendengar penuturan itu. Memang kenyataan,terkadang orang tua kehilangan marwah,bnahkan keimanannya runtuh karena nafsu serakah putra-putrinya.

Agam mohon diri untuk melanjutkan perjalanannya mencari istrinya bersama Zahra.

***

B

au busuk semakin menyengat rongga hidung karena teramat banyak mayat-mayat bergelimpangan yang tidak kunjung diangkat. Kawasan dekat jembatan memang amat banyak mayat yang menumpuk apalagi di muara sungai,pastilah para buaya berpesta pora menikmati makan daging manusia.

Di kawasan jembatan itu pula terlihat lima orang anak muda meneliti satu demi satu mayat-mayat yang bergelimpangan. Ternyata anak-anak muda itu bermaksud jahat. Mereka menggerayangi korban bencana yang sudah jadi mayat. Mereka melucuti perhiasan emas dan uang yang ada pada mayat-mayat itu.

Alangkah teganya sekelompok orang itu. Di bumi yang sedang dilanda duka lara itu mereka nekad berbuat keji.

“Apakah orang-orang yang berbuat keji itu adalah orang Aceh?. Apakah mereka orang pendatang,Buya?” Zahra bertanya kepada ayahnya ketika dia melihat sekelompok orang melucuti perhiasan ems dari tubuh mayat-mayat yang terapung di sungai. Mereka sudah banyak mendapatkan uang dan emas yang terdiri dari kalung, cincin, gelang,peniti dan anting-anting. Warga Aceh,terutama perempuannya adalah orang-orang yang hemat,gemar menabung dan mengumpul emas. Itulah sebabnya ketika tsunami menerjang wilayah NAD,sekelompok orang mendadak jadi kaya karena melucuti emas milik korban tsunami.

“Entahlah,Zahra. Sulit dibedakan apakah mereka yang berbuat keji itu adalah orang Aceh atau pendatang. Sebab warna kulit serta postur tubuh meeka sama. Setiap suku bangsa di dunia ini ada saja satu atau dua orang yang jahat,” Agam menyahut polos dan sejujurnya.

“Bukankah orang Aceh semuanya baik-baik?”

“Tidak selamanya begitu,Zahra. Namun yang pasti,pada umumnya warga Aceh adalah muslim yang pintar dan taat dan mereka rajin membaca Al Qur’an serta rajin beribadah.”

Gadis cilik itu hanya terdiam memperhatikan sekelompok orang yang membalik-balikkan mayat yang bergelimpangan untuk melucuti perhiasannya.

Tidak jelas,apakah mereka warga Aceh asli atau pendatang. Namun,sejak sebelum tsunami terjadi,orang-orang pendatang amat banyak jumlahnya. Tidak semua pendatang itu berbudi baik. Tidak semua orang yang menjejakkan kakinya di Serambi Makkah adalah orang-orang yang baik. Banyak diantara pendatang itu hadir di kawasan Tanah Rencong dengan menaburkan dosa. Sudah teramat banyak wanita berstatus penghibur hadir di kawasan itu.

Lihatlah mayat perempuan yang ditemukan Agam dalam selokan,berhimpitan dengan bangkai anjing. Pastilah prilaku perempuan itu ketika hidupnya seperti hewan. Tidak ada yang mengangkat mayat itu selama berhari-hari hingga tubuhnya penuh lalat dan ulat.

Banyak dan amat banyak para pendatang di Tanah Rencong yang menyemaikan dosa sehingga Tuhan pun murka lalu menurunkan gelombang tsunami yang dahsyat seperti hukuman Tuhan terhadap umat Nabi Nuh yang ingkar.

***

K

emana lagi harus melangkahkan kaki bila matahari sudah terbenam dan gelap dimana-mana kalau tidak ketempat penampungan para pengungsi korban bencana alam itu?. Kembali ke rumah tidak mungkin lagi karena rumah mereka sudah rata dengan tanah bersama ribuan rumah lainnya. Gelap dimana-mana karena listrik padam, tiang-tiang listrik ditumbangkan gelombang laut,semua sarana telekomunikasi terputus,kenderaan umum tidak ada sama sekali,apalagi makanan. Seteguk air minum untuk penangkal hauspun tidak ada. Hari itu di tempat pengungsian, ratusan,bahkan ribuan orang korban tsunami kehausan dan kelaparan.

Betapa sengsaranya warga Aceh. Mereka haus,mereka lapar, mereka menangis, hati mereka terluka. Mereka merintih.Kawasan kota seperti kuburan karena gelap gulita dan jorok. Andainya tidak ada ratap tangis dan rintihan orang-orang yang menderia luka-luka, pasti keadan kota seperti kuburan,tidak ada tanda-tanda kehidupan. Bahkan nyanyian jengkrikpun tidak terdengar karena bersembunyi dalam liangnya dan kunang-kunang serta serangga lainnya,bahkan gurem yang paling kecilpun ikut dihanyutkan air,seakan tidak ada lagi mahluk hidup di sana.

Siapa lagi yang akan mampu menyanyikan lagu Bungong Jeumpa pada saat dalam penderitaan?.

Malam pertama ditempat pengungsian adalah malam yang penuh dengan derita dan air mata. Yang terasa hanya dahaga,lapar dan hati yang terluka. Tangis dan rintihan terdengar hingga ke seberang laut, hingga ke balik gunung,hingga ke balik hutan belantara,hingga ke seberang benua. Dunia sudah melihat mayat-mayat bergelimpangan disana-sini dan ribuan rumah rata dengan tanah lewat tayangan televisi dan media massa.. Indonesiapun menangis,pertiwipun berduka dan dunia juga ikut bersedih. Hampir seluruh penduduk dunia terketuk hatinya untuk memberikan bantuan uang,pangan, dan juga obat-obatnan. Ribuan relawan dari berbagai belahan dunia datang berbondong-bondong untuk misi kemanusiaan ke Aceh.

Kalau tidak ada relawan, siapa yuang akan mengangkat mayat-mayat yang begitu banyak jumlahnya di selokan, di sungai dan di pinggir jalan?. Siapa yang akan mengubur mayat yang begitu banyak jumlahnya?. Kalau tidak ada yang mengirim makanan dan minuman, warga Tanah Rencong yang masih hidup akan menyusul yang lainnya ke alam baka. Orang-orang yang akan menemui kematian pasti akan bertambah banyak. Kalau tidak ada bantuan obat-obatan,mereka yang terluka juga akan segera menyusul kerabat mereka ke liang kubur.

Hanya dalam waktu sesaat relawan dari berbagai penjuru dunia menyusun barisan, mengumpul baju bekas, selimut ,kain kafan, karung mayat,makanan,obat-onbtan dan polisipun segera meletakkan bedil untuk mengangkat mayat atau menyelamatkan mereka yang masih hidup. Dan militerpun segera menyarungkan bayonet dan senjatanya untuk tugas-tugas kemanusiaan. Mocong meriampuan ditutup rapat. Mesin perang yang bernama tank aau panser milik aparat ,segera dirantai setelah bencana itu terjadi.

Hanya dalam sesaat setelah tsunami menerjang Aceh ,relawan asing dari berbagai penjuru dunia membanjir di Nangroe Aceh Darusalam untuk mengulurkan tangan tanpa memandang suku bangsa, agama , ras dan status sosial.

Pasukan militer asing segera mendarat di Serambi Makkah membawa berbagai jenis pesawat serta helikopter untuk evakuasi mayat dan juga untuk mengangkut yang luka-luka ke rumah sakit di Medan, atau Jakarta. Mata dunia benar-benar menatap Tanah Rencong yang sudah kehilangan lebih dari seratus ribu warganya,kehilangan tempat tinggal dan yang cacat tidak terhitung jumlahnya. Uluran tanganpun segera datang dari segala penjuru bumi,sebab sesama manusia tidak akan tega membiarkan orang lain dalam penderitaan yang panjang. Sebab seekor anjing yang kehausan pun akan selalu mendapat pertolongan dari manusia. Apalagi terhadap ribuan manusia yang terluka, kehausan ,kehilangn rumah, harta benda,keluarga dan semuanya, paati tidak seorangpun yang tega membiarkannya.

Bagi yang sudah menjadi mayat hanya diperlukan evakuasi lalu dikuburkan dan persoalan akan selesai,tapi akan halnya yang selamat,terutama anak-anak yang kehilangan orang tuanya,pasti akan membutuhkan uluran tangan. Bahkan yang menderita traumatik berat juga sangat banyak jumlahnya. Mereka tidak hanya butuh makan minum dan obat, tapi juga sentuhan lembut untuk menyembuhkan traumatik maha berat,mereka juga butuh terapi dan siraman rohani.

Bumi Serambi Makkah memang pernah dilanda berbagai konflik sehingga tentara dan polisi meletuskan senjatanya yang menyebabkan korban-korban berjatuhan. Tapi dalam musibah bencana alam yang meminta korban ratusan ribu orang, semua pihak harus saling menyingkirkan dendam dan kebencian,lalu menjalin tali persaudaran sesama,bagaikan menjalin simpul tali yang tidak akan pernah terlepas lagi.

D

alam haus dan lapar,seorang ayah yang sudah kehilangan rumah,harta benda dan istri,melangkah lagi bersama putrinya untuk mencari istri tercinta yang tidak diketahui nasib dan keberadaannya. Langkah keduanya mulai lunglai,apalagi bau bangkai menyengat dari mayat-mayat yang masih amat banyak dibiarkan bergelimpangan.

Di tengah perjalanan ,mereka melihat sepasang mayat bugil sedang berpelukan tergeletak dn hanya dua orang yang melihat,tapi tidak berusaha menutup tubuh bugil itu,apalagi untuk mengangkatnya. Agam berusaha melangkah lebih cepat agar Zahra tidak sempat melihat sepasang mayat yang bugil itu.

Bagi sekelompok orang,sepasang mayat bugil itu justru jadi tontonan gratis yang menarik. Seseorang berkomentar:

“Mereka bukan suami istri. Mereka juga bukan warga Aceh. Mereka adalah pekerja di tempat hiburan yang penuh maksiat. Pantaslah Tuhan menurunkan bancana di kawasan Tanah Rencong, biar semua percikan dosa di negeri ini disapu bersih.”

Warga pendatang memang banyak hadir di Aceh,tapi mereka tidak membawa percikan dosa. Agam hanya menghela nafas panjang mendengar ucapan itu. Bersama putrinya dia melangkah lagi melewati mayat demi mayat.

Putus asa mulai hadir di rongga hati lelaki yang terus berjalan dengan lunglai menelusuri kampung demi kampung dan sudah meneliti amat banyak mayat yang bergelimpangan. Tidak satupun mayat perempuan yang terlewatkan untuk diperhatikan. Bau busuk yang amat menyengat tidak dipedulikan oleh ayah dan anak itu. Bahkan dalam perjalanan itu, belasan kali keduanya berpapasan dengan relawan yang mengusung mayat yang sudah dalam karung plastik.

“Saya mohon diperkenankan melihat jenazah dalam kantong itu!,” Agam selalu memohon dengan lembut setiap berpapasan dengan relawan yang mengusung mayat.

“Jenazah ini sudah busuk dan dapat menyebarkan penyakit,” sahut sang relawan menolak.

“Biarlah busuk dan bau, namun kami ingin melihatnya. Terutama karena anak saya amat ingin menemukan jenazah ibunya.”

Berdesir darah ayah dan anak itu ketika kantong mayat itu dibuka,ternyata jenazah perempuan.

“Bukan ibu!,” cetus Agam setelah mengamati mayat yang berbau busuk yang amat menyengat. Zahra amat sedih.

Langkah ayah dan anak itu sudah semakin lemah dan gontai,tapi tetap saja belum ingin berhenti melewati mayat demi mayat yang berserakan dan dibiarkan dikerumuni lalat. Namun jasad Meutia tetap saja tidak ditemukan diantara tumpukan mayat itu.

“Kita harus pasrah kepada Allah,Zahra. Mungkin Allah harus memanggil Ummi,” terdengar suara Agam kepada putrinya.

“Tapi kita harus menemukan jazad ummi,” tukas Zahra dengan mata basah karena air mata.

“Bagaimana kalau jasad ummi sudah terbawa air hingga ke laut?,” ujar Agam lagi, “Apakah kita akan berenang untuk mencarinya?. Gempa susulan kapan saja dapat terjadi dan gelombang dapat menerjang lagi, lalu kita juga akhirnya akan menjadi korban.”

“Kalau tidak menemukan jasad ummi,Zahra akan lebih sedih lagi,” gadis cilik itu hanya mampu menitikkan air mata lagi.

Langkah-langkah gontai itu belum juga berhenti hingga petang. Sesekali ayah dan anak perempuan itu mendongakkan kepala memandang arah langit dan beberapa pesawat yang mengangkut bahan makanan yang akan didrop di kawasan Meulaboh,Lokhnga, Simuelue dan kawasan pantai barat lainnya. Angkutan darat belum dapat menembus kawasan pantai barat itu karena jalan yang longsor, jembatan putus dan banyak pohon-pohon tumbang menyebabkan pantai barat itu terisolir,padahal ribuan manusia ada di sana dalam keadaan kelaparan. Bantuan pangan dan air minum terpaksa diterjunkan melalui helikopter. Bahkan belasan kapal-kapal perang dari berbagai negara juga mendarat di sana untuk memberikan bantuan makanan melalui laut.

Sudah amat jauh perjalanan ayah dan anak itu, sudah banyak melewati ratusan mayat,bahkan yang mulai membusuk juga banyak ditemui. Lihatlah, burung cempala kuneng atau murai sudah terbang jauh,karena tidak tahan dengan bau busuk dari mayat-mayat yang belum terangkat,apa lagi burung pipit dan gereja yang selalu bermain di halaman rumah,sudah terbang jauh ke arah gunung.

Burung-burung bangau dan belibis sudah sejak awal terbang kea rah Tanjung Baeeputih atau Tanjung Peusangon dan Tanjung Seudheuen dan yang terbang ke arah Teluk Lassihin, Teluk Sabang, Teluk Sibigo dan Teluk Sinabang juga ada di sana .Di seluruh kawasan Aceh memang terdapat banyak teluk yang indah,tapi siapa lagi yang akan melangkahkan kaki ke sana untuk melihat keindahannya kalau sebagian besar warga Aceh sudah menjadi mayat dan sebagian lagi kelihangan rumah dan harta bendanya?.

Tandanya bencana itu amat dahsyat,lihatlah di mana-mana berserakan rencong Aceh, parang, tumbeng,siwa atau sejenis keris yang bertuliskan ayat-ayat Qur’an,pedang duan tebu, oom ngom dan banyak lagi. Padahal benda-benda seperti rencong selalu disimpan baik-baik oleh pemiliknya untuk koleksi di tempat khusus. Seperti halnya Agam sendiri yang gemar menyimpan benda-benda bernilai seni amat tinggi.

Namun gelombang laut telah mengobrak-abrik semua benda itu hingga berserakan dan dihanyutkan air laut. Padahal rencong dan senjata-senjata lainnya,pada masa penjajah dulu mampu mengusir Belanda hingga lari tunggang langgang. Namun terhadap gelombang tsunami,berbagai jenis senjata itu tidak berdaya dan dihanyutkan air entah kemana , tercecer di mana-mana. Benda apapun tidak ada yang mampu menghindari gelombang tsunami.

Agam memungut dua buah rencong yang tergeletak di atas rumput dan membersihkannya dari lumpur. Rencong itu mengingatkan benda-benda koleksinya yang diporak porandakan air laut sehingga tidak satupun milik Agam yang tersisa,padahal Agam sebagai guru SMA bidang studi seni rupa amat menyayangi benda-benda itu dan baginya harganya tidak ternilai. Agama amat sedih kehilangan benda-benda itu.

***

K

etika melangkah menuju arah barat, tiba-tiba kedua insan ayah dan anak itu mendengar suara gemuruh. Tandanya seorang korban bencana mengalami derit traumatik berat dia akan menjadi panik dan ketakutan ketika mendengar gemuruh, seakan gelombang tsunami datang lagi untuk membunuh dan meruntuhkan sisa-sisa bangunan yang masih ada. Mereka menganggap tsunami datang lagi untuk menghanyutkan sisa-sisa warga Aceh yang masih hidup,biar bumi Serambi Makkah tidak berpenghuni lagi.

“Ayo lari ke bukit,Buya!. Ayo cepa lari,air laut datang lagi!,” Zahra menarikkan tangan ayahnya dengan ketakutan. “Ayo kita ke bukit sebelum gelombang air itu menelan kita!”

Sesaat Agam mendengar suara gemuruh itu.

“Bukan!. Itu bukan suara tsunami!”

“Tapi suara gemuruh seperti itulah yang terdengar ketika tsunami datang merenggut tubuh ummi kita!,.” tetap saja bocah perempuan itu panik dan ketakutan. Traumatik memang sudah diderita ribuan kanak-kanak warga Aceh,mendengar suara gemercik air saja dapat menimbulkan rasa takut.

“Bukan suara tsunami,Zahra!,” Agam berusaha menenteramkan hati putrinya.

“Lalu suara apa?. Kenapa ada suara gemuruh?”

“Kedengarannya seperti suara mesin alat-alat berat!”

”Alat berat seperti apa?”

“Seperti excavator yang menggali tanah.”

“Untuk apa menggali tanah?. Bukankah di sini tidak ada proyek?”
“Ya, di sini tidak ada pekerjaan membangun jalan atau jembatan. Mungkin sepertgi ada sesuatu. Mungkin ada pencarian mayat yang tertimbun tanah longsor.”

Sesaat Zahra termenung dan terdengar ayahnya lagi.

“Mungkin juga ada penggalian tanah untuk menguburkan jenazah secara massal.”

“Kalau begitu kita harus kesana. Siapa tahu ummi ada di sana. Ayo!”, Zahra menarikan tangan ayahnya.

“Ya,kita harus ke sana. Ratusan mayat mungkin akan dikuburkan di sana”

Meskipun tubuh kedua insan itu sudah amat lemah,tapi keduanya berlari-lari kecil ke arah utara, ke arah datangnya suara gemuruh mesin excavator yang sedang menggali tanah. Dari kejauhan sudah terlihat sebuah excavator berwarna kuning bak tangan raksasa sedang mengeruk tanah. Dari kejauhan juga sudah tercium bau mayat yang sudah membusuk.

“Cepat!. Ayo ,cepat ,Buya. Banyak jenazah di sana!”

“Ya,kita harus melihat sebelum mayat-mayat itu ditimbun.”

Napas ayah dan anak itu teengah-engah ketika tiba dilokasi penggalian dan kedua manusia itu tertegun melihat tumpukan mayat yang jumlahnya ratusan,dijajarkan untuk segera dimakamkan secara massal. Di sisi alat berat itu terlihat mobil ambulans,truk terbuka, mobil box,bahkan juga truk tronton pengangkut mayat dari berbagai tempat. Belasan orang mengenakan masker menurunkan mayat-mayat dari kenderaan itu dan mangusungnya di lubang besar yang sedang digali. Dan bau menyengat sudah sejak tadi tercium oleh Agam dan putinya,tapi mereka tidak muntah,bahkan tidak bergeming sedikitpun.

“Dari mana saja mayat-mayat itu,Buya?,” Tanya Zahra sedih.

“Dari segala penjuru,dari pinggiran kota,dari jalan-jalan, dari selokan, sungai dan pasar.”

“Siapa yang bermurah hati mengangkat mayat-mayat itu?,” tanya gadis dilik itu lagi dan masih memandang ke arah kenderaan yang mengangkut mayat.

“Sudah pasti relawan dari luar Aceh. Mereka bekerja keras. Alat-alat berat juga sudah banyak tiba di sini.”

Dua mobil pick up masuk lagi dan menurunkan belasan mayat. Tiap saat relawan semakin banyak hadir di Serambi Makkah. Tanpa ada relawan pasti ribuan mayat-mayat itu akan terlantar dan membusuk. Sebab warga Aceh lebih banyak yang tewas ketimbang yang hidup.

Ratusan jenazah sudah disusun berjajar,tiba-tiba saja Zahra melihat mayat seorang perempuan berbusana bajee kurong dan mengenakan silueue ada di antara tumpukan jenazah yang akan dikuburkan secara massal.

“Itu ummi!. Itu ummi!”,teriak Zahra dan menunjuk ke arah salah satu jenazah

“Ya. Itu ummi. Ayo kita ambil. Kita harus memakamkannya. Ummi memang sudah meninggal,kita harus memakamkannya secara layak dan baik,harus dimandikan,dikafani dan disholatkan.”

“Ayo kita ambil. Ayo kita angkat!”

Ayah dan anak itu berlari-lari kearah tumpukan jenazah itu dan makin jelas,bahwa salah satu dari sekian banyak jenazah yang akan dimakamkan secara massal adalah Meutia. Tampak jelas pakaian yang melekat pada tubuh jenazah itu adalah milik Meutia dan tidak sempat robek,bahkan lumpur pun enggan melekat. Apalagi pada bagian wajahnya tetap bersih dan anggun. Tandanya malaikat dan Tuhan sayang kepadanya, sehelai rambutpun tidak ada yang tercabik, tidak ada luka sedikitpun, tidak seperti jenazah lainnya. Hampir semua pakaian yang dikenakan jenazah itu tercabik-cabik.

Sementara belasan relawan sedang menjejerkan mayat-mayat yang akan dikuburkan, Agam dan putrinya turun ke dalam lubang besar yang sudah penuh mayat untuk mengangkat jenazah Meutia. Tapi orang-orang berpakaian loreng yang mengenakan masker dan sarung tangan dengan sigap segera mencegah:

“Jangan dekat!. Jangan dekati mayat-mayat itu!,”

“Itu istri saya. Itu jenazah istgri saya, Agam berteriak dan berusaha mendekati jenazah Meutia.

“Itu ibu saya. Kami akan mengangkatnya!,” sambung Zahra mengiba.

“Biarkan kami membawanya pulang. Biarkan kami yang akan memakamkannya,” pinta Agam lagi.

Tapi aparat itu tetap saja melarang. Tiga relawan lainnya juga ikut mencegah dan berusaha memberi pengertian.

“Anda tidak boleh menyentuh jenazah-jenazah ini karena dikhawatirkan sudah menandung kuman dan menimbulkan penyakit!”

Bila aparat dan para relawan mencegah Agam dan putrinya menyentuh jenazah Meutia,tidak ada maksud lain,tapi karena dikhawatirkan akan menyebabkan penyakit,terutama kolera. Bahkan para tentara dan relawan itu bekerja dengan dilengakpi masker dan sebelumnya diberiakn suntikan vaksin anti kolera

“Saya tidak rela istri saya dikuburkan seperti ini. Saya tidak rela istri saya dikuburkan tanpa dimandikan dan tanpa dikafani,saya tidak rela istri saya dikuburkan tanpa disholatkan.”

Para tentara dan relawan itu tetap saja mencegah dan berusaha memberi pengertian kepada Agam dan putrinya,bahwa alim ulama sudah sepakat memberi fatwa,bahwa penguburan secara massal tanpa dimandikan,tanpa dikafani dan tanpa disholatkan adalah syah dan tidak bertentangan dengan kaidah Islam.

Namun Agam dan purinya tetap saja bersikeras untuk membawa Meutia pulang untuk dimakamkan secara layak. Sampai akhirnya Agam dan Zahra pingsan di dalam lubang besar di sisi jenazah istrinya,di antara ratusan jenazah korban tsunami lainnya yang sesaat lagi akan ditimbun.

Ketika Agam dan putrinya dalam keadaan tidak sadar itulah alat berat excavator bekerja keras menimbun ratusan mayat-mayat korban tsunami. Masih puluhan, bahkan ratusan korban-korban bencana itu belum dimakamkan di kawasan Serambi Makkah.

***

K

etika Agam membuka mata, dia sudah terbaring di sebuah tenda tempat penampungan pengungsi yang dihuni puluhan orang jumlahnya, mulai dari anak-anak,remaja, kaum ibu, bapak dan juga nenek-nenek tua renta. Zahra masih tetap saja belum sadarkan diri. Belasan relawan telah mengantarkan mereka ke tenda,padahal tidurpun hanya beralaskan tikar plastik di atas tanah yang lembab dan hujan turun rintik-rintik. Tanpa selimut menyebabkan hamper semua pengungsi menggigil kedinginan.

Di langit terdengar suara gemuruh,lalu sebagian penghuni kamp pengungsi itu berhamburan keluar sambil berteriak-teriak:

“Banjir lagi!. Banjiiir!,” teriak beberapa orang.

“Tsunami datang lagi. Tsunamiiii!”

“Ayo menghindar!. Tempat ini akan tenggelam,” sahut yang lain.

“Ayo lari ke bukit!”

Andainya pengungsi itu tidak dalam traumatik yang cukup parah ,pastilah teriakan-teriakan itu tidak terdengar,pastilh mereka tidak sempat berhamburan keluar tenda,karena yang terdengar bukanlah gemuruh tsunami,tapi gemuruh pesawat helikopter yang menurunkan bantuan air mineral, makanan, obat-obatan dan selimut. Jalan darat ke berbagai lokasi yang terputus menyebabkan bantuan itu diterjunkan dari udara.

Hanya sehari setelah gelombang tsunami menerjang,puluhan pesawat menerjunkan bantuan,bahkan di tempat yang paling parah para relawan sudah berada di sana. Orang-orang yang berteriak histeris dan berhamburan keluar tenda akhirnya kembali dan mulai tenang apalagi setelah tenggorokan mereka dibasahi air mineral yang ditejunkan dari udara. Perut laparpun mulai terisi dengan mie instant dan biskuit.

Seorang nenek tua renta yang semula terbaring lemah karena haus dan lapar akhirnya melakukan sujud syukur ketika mendapatkan air,makanan dan selimut. Namun yang diturunkan dari pesawat heli itu tidak hanya air, makanan dan seliumut tapi juga kantong-kantong mayat yang jumlahnya amat banyak. Lama nenek tua renta itu sujud syukur karena nyawanya masih bersisa, sementara anak dan cucunya dihanyutkan air entah sampai di mana.

Wajah Serambi Makkah hampir saja tiap hari menghiasi di layar televise. Ribuan mayat yang bergelimpangan di pinggir jalan, di bawah reruntuhan gedung atau di perladangan dan juga di bawah kolong jembatan atau tersangkut di pohon, hampir tiap saat disiarkan oleh beberapa stasiun televisi dalam dan luar negeri. Nanggroe Aceh Darussalam jadi amat terkenal kala itu karena tsunami yang menerjangnya.

Hanya sehari setelah tsunami merenggut nyawa rakyat Aceh, puluhan wartawan berbagai media cetak dan elektronik di dunia membanjiri Tanah Rencong.

“Anak saya hanyut!. Anak saya pasti mati direnggut air laut,” ujar nenek tua renta ketika bangkit dari sujud syukur. Seorang nenek yang sudah tua renta,bongkok, giginya tidak bersisa lagi, tapi masih mampu berpegang pada sekeping papan ketika gelombang dahsyat itu merobohkan asrama tempat tinggal putranya yang profesinya sebagai polisi. Padahal setiap anggota polisi pastilah sudah dibekali ilmu bela diri,sudah sering berlatih menghadapi bencana, namun tidak mampu melawan tsunami.

Tidak hanya anggota polisi yang bersenjata lengkap, anggota tentara yang selalu gagah berani kalau di medan perang,pada saat tsunami mengamuk, mereka juga tersapu air laut hingga ke tempat yang teramat jauh. Bahkan yang terbawa ke laut juga amat banyak. Sopir truk, penarik beca, dosen, pejabat di kantor gubernur, dan seniman terkenal banyak yang tidak mampu atas terpaan tsunami yang hanya berlangung beberapa menit saja. Demikian kekuasaan Tuhan atas alam ini, karena hanya Dialah pemilik bumi ini.

***

H

ampir tiap hari,bahkan tiap saat terdengar deru pesawat terbang rendah menerjunkan berbagai bantuan ,mulai dari makanan, obat-obatan dan selimut,kantong mayat dan juga mengangkut orang-orang yang terluka ke rumahsakit di luar Serambi Makkah. Dan pesawat itu juga menurunkan ribuan relawan dari berbagai kalangan,bahkan dari berbagai negara untuk tugas kemanusiaan. Kasihan,ribuan anak-anak Aceh yang sepanjang hari termenung-menung dengan tatapan mata kosong dan hampa karena kehilangan orang tua dan kerabatnya. Dan sejak bencana itu,mereka sudah menjadi yatim piatu, menjadi bocah sebatang kara yang tidak memiliki apa-apa dan tidak memiliki siapapun.

Pastilah masa depan mereka hitam pekat,bahkan depresi mahaberat yang mereka derita akan menyebabkan mereka hidup tidak normal, terlunta-lunta, menjadi peminta-minta,atau syaraf yang terganggu. Kasihan anak-anak tunas bangsa Tanah Rencong,padahal negeri ini amat kaya. Konflik yang melilit kawasan Serambi Makkah tidak kunjung selesai, tidak kunjung tuntas, dan kini bencana mahadahsyat menggilas pula. Kasihan anak negeri ini. Derita tumpang tindih menghimpit anak-anak Tanah Rencong yang sebenarnya amat kaya dengan berbagai sumber daya alamnya yang melimpah.

Puluhan bocah-bocah usia sekolah pagi itu tampak mulai gembira padahal selama beberapa hari mereka selalu termenung dan tatapan mereka tmpak kosong dan hampa. Tidak ada yang mau bermain,tidak ada yang mau tertawa, semua diam, semua seakan bisu dan tuli. Bibir mereka seakan terkunci amat erat. Sepatah katapun tidak ada yang mampu mereka ucapkan, justru yang sering terlihat adalah kepanikan dan ketakutan bila mendengar gemercik air.

Tapi pagi hari itu, mereka tampak ceria ketika menikmati makanan khas Aceh, seperti meusaukat, doi-doi, karah, peunajo, wajeb, timfan dan tumpoe. Siapa menyangka ,bahwa yang membawa makanan khas Aceh itu bukanlah orang Aceh?. Mana mungkin orang Aceh saat itu membuat makanan,sementara mereka semua sedang berduka cita yang amat dalam karena kematian sanak famili, bahkan juga kehilangan rumah dan harta benda.

Ternyata yang membawa kue-kue khas Aceh itu bukan orang Aceh, bukan orang Melayu, bukan orang Tapanuli Selatan atau Madina, bukan orang Betawi atau Jawa,tapi dua orang relawan berambut pirang dan matanya biru yang berasal dari negeri Belanda. Kedua perempuan berkebangsaan Belanda yang baru saja turun dari pesawat itu adalah relawan untuk menangani anak-anak pengungsi korban bencana.

Amat banyak yang harus dilakukan kedua orang perempuan relawan yang datang dari daratan Eropa itu terhadap putra-putri Serambi Makkah,terutama untuk menyembuhkan traumatik yang amt parah di kalangan anak-anak Tanah Rencong. Kedua relawan berwajah cantik itu akan menyembuhkan luka yang amat parah di hati anak-anak Aceh.

Sebelum pesawat mereka mendarat di Aceh, mereka transit di Medan dan memborong semua jenis kue-kue khas Aceh dari beberapa warung jajanan,juga dari pengusaha katering.

“Kamu suka peunajoh?,” kanak-kanak usia sekolah yang ditanya rewlan berambut pirang itu adalah Zahra. Perempuan bule itu tampak dapat berbahasa Indonesia dengan logat Eropa.

“Saya paling suka!,” sahut Zahra yang sudah kehilangan ibundanya tercinta.

“Ayo makan!. Kamu lapar,bukan?,” perempuan bule berambut pirang itu mengulurkan makanan sambil tersenyum. Zahra juga tersenyum.

Puluhan anak-anak sekolah di bawah tenda itu merasa senang ketika menerima uluran kue-kue.

“Kamu pasti suka boi-boi,” sapa perempuan bule berwajah cantik itu kepada seorang bocah lelaki bernama Abdullah.

“Ya, saya suka!”

Puluhan anak-anak itu merasa luka dihatinya terobati oleh kehadiran relawan berjenis kelamin perempuan yang sengaja datang dari tempat yang jauh, dari benua Eropa . Andainya yang diberikan relawan bule itu adalah biskuit atau roti kaleng,pasti anak-anak itu tidak bersemangat menikmatinya,tapi makanan khas Aceh menyebabkan mereka tetap mencintai daerah leluhurnya,Serambi Makkah.. Sungguh relawan asing itu mengerti apa yang disenangi putra-putri Aceh. Relawan berambut pirang itu seperti tidak merasa kaku di bumi Tanah Rencong.

“Selesai makan kue,kita akan bermain dan bernyanyi bersama,juga menari. Setuju?,” tanya relawan bule berambut pirang itu.

“Setujuuuu!,” cetus anak-anak itu serentak. Sebentar saja relawan perempuan bule itu dikerumuni anak-anak berdarah Aceh.

“Mau menari?”

“Mauuuuu!”

“Mau menyanyi?”

“Mauuuu!”

“Bisa menyanyi lagu Bungong Jeumpa?”

“Bisaaaa!,” sahut anak-anak itu serempak, bersemangat dan semua mengelilingi relawan bule itu.

Anak-anak penghuni tenda pengungsian yang jumlahnya puluhan orang itu tercengang ketika yang memulai nyanian Bungong Jeumpa adalah relawan berambut pirang itu. Baru satu bait lagu itu dilantunkan ,puluhan anak-anak Aceh itu terkagum-kagum.

“Di mana kakak belajar lagu Aceh?,” tanya Zahra yang keheranan setelah mendengar relawan bule itu tarik suara.

“Wah, saya senang dipanggil kakak meskipun bukan orang Aceh. Kakak belajar lagu Bunong Jeumpa di negeri kakak, karena kakak adalah mahasiswa seni dan budaya jurusan antropologi Asia Tenggara di Leiden. Banyak buku-buku tentang Indonesia di sana,juga tentang Aceh. Tapi nanti saja kakak bercerita tentang hal itu, sekarang kita bernyanyi dulu bersama-sama.”

Sesaat kemudian di bawah tenda pengungsi itu bergema lagu-lagu kebanggaan rakyat Aceh, Bungong jeumpa. Suaranya terdengar hingga ke tenda lain,hingga ke desa lain,hingga ke seberang sungai. Para orang tua pun seperti terkena mukjizat ikut melantunkan lagu itu dan ikut bergembira.

Hari itu, dibawah tenda pengungsi itu, luka di hati ratusan para pengungsi telah mendapat obat yang paling mujarab. Hari itu korban bencana tsunami tidak lagi menangis dan merintih, tapi ikut bernyanyi,bahkan yang tersenyum juga banyak. Para relawan asal Eropa itu benar-benr menyadari,bahwa anak-anak Aceh tidak hanya butuh mie instant atau selimut, tapi juga butuuh kelembutan, butuh uluran tangan, butuh kasih sayang, butuh perhatian serius,juga terapi jiwa yang amat mujarab, agar mereka tidak putus asa.

Lihatlah kedatangan relawan asal Eropa itu mampu menyingkirkan air mata, mampu mengubah tangis dan ratapan menjadi senyuman,bahkan yang tertawa lebar juga sudah banyak. Dalam sesaat kesedihan dan kebisuan tidak lagi melilit anak-anak para penghuni tenda pengungsi itu.

Tepuk tangan amat gemuruh usai puluhan anak-anak itu menyanyikan lagu kebanggaan orang Aceh

“Kita tidak hanya menyanyi, tapi juga menari. Mau?,” Tanya relawan bermata biru itu dan membelai pundak salah seorang bocah yang kepalanya luka terbalut karena tertimpa reruntuhan rumahnya.

“Mauuu!,” jawaban itupun bernaung amat bersemangat di bawah tenda.

“Nah ,kita duduk dalam posisi berbanjar.” Perempuan bule berwajah cantik itu mengatur puluhan kanak-kanak lelaki dan perempuan agar duduk berbanjar di atas tanah yang hanya dilapisi plastik.

“Kamu tahu tarian apa kalau duduk dalam posisi berbanjar?,” tanya relawan bule yang baru sesaat mendarat di Aceh dari daratan Eropa.

Tidak satupun yang menyahut,justru yang menjawab adalah relawan asal Eropa itu sendiri yang memang banyak mempelajari seni dan budaya Aceh karena kuliahnya di jurusan Antropologi Asia Tenggara,terutama tentang seni dan budaya Aceh.

Snouck Hurgonje yang pernah ditugaskan Belanda di Aceh berhasil menghimpun naskah-naskah tentang adat dan budaya Aceh ke negerinya di Belanda kemudian menjadikannya dokumentasi yang amat berharga.. Itulah sebabnya dua mahsisiwi dari Leiden itu menginjakkan kakinya di Aceh setelah mendapat bekal dari universitasnya dan banyak memahami tentang masyarakat Aceh.

“Kita menari Saman!”, ajak peempuan berkulit putih dan berambut pirang itu.

“Horeeee!,” puluhan anak-anak itu bertepuk tangan amat meriah dan penuh antusias.

Relawan yang matanya biru itu duduk di tengah-tengah anak-anak yang duduk berbanjar, kemudian tari Saman pun segera digelar di bawah tenda pengungsi itu. Siapa lagi yang membaca syair-syair bernada kebaikan dan kebajikan kalau bukan rélawan yang berasal dari Eropa itu?. Perempuan itu berasal dari benua yang amat jauh itu,melantunkan syair-syair dalam bahasa Aceh mengiringi tarian Saman dengan gerak tari yang dinamis. Tari Saman sudah amat populer tidak hanya di Aceh, tapi juga di seluruh nusantara. Tentu saja perempuan yang berasal dari Belanda itu amat banyak mengenal Aceh karena kuliah di jurusan Antropologi Asia Tenggara. Pasti dia tahu apa dan bagaimana tari Saman, Seudati, Dabus, Phoi, Rapa-I Pase, Didong dan pencak silat.

Seorang perempuan yang sedang makan buru-buru meletakkan piringnya ketika tari Saman dimainkan sejumlah anak-anak korban tsunami yang dipimpin relawan dari Belanda. Bahkan laki-laki yang menderita patah tangan tampak menggoyang-goyangkan

badannya seirama dengan gerak tari Saman. Seorang kakek juga ikut ambil bagian menyaksikan tari khas Aceh itu meskipun lelaki tua itu terbatuk-batuk.

Tepuk tangan segera terdengar ketika tari itu usai dan para penghuni tenda itu sejenak telah melupakan tragedi amat dahsyat yang baru saja menimpa mereka. Betapa kedatangan relawan dari negeri seberang itu amat bermanfaat dan mampu menyembuhkan luka yang ada dalam hati para putra-putri Aceh.

Ketika malam datang,anak-anak Aceh penghuni tenda itu mengajak perempuan relawan dari negeri kincir angin itu untuk makan bersama. Kedua relawan itu tidak mampu menolak dan duduk bersimpuh di antara anak-anak Aceh yang tampak lapar.

Relawan berkulit putih itu tersenyum ketika mulai makan nasi bungkus berisi nasi putih, sambal seadanya dan sayur khas Aceh.

“Kakak senang makanan khas Aceh?,” tanya Zahra yang juga makan di antara sekian banyak anak-anak pengungsi korban tsunami.

“Tentu!. Enak sekali. Di negeri kakak tidak ada seperti ini!”

“Namanya gulee pleik-u!”

“Gulee pleik-u ,” relawan asal Belanda itu mengulangi dan melanjutkan makan malam meskipun dengan lauk amat sederhana,tapi amat nikmat bersama anak-anak Aceh yang sedang dirundung malang.

***

L

angit di atas Serambi Makkah tidak lagi kelabu,tidak ada lagi mendung tebal, tidak ada lagi angin kencang,bahkan di sekitar Pantai Cineubeut dan di sekitar Pantai Snoe Itam yang semula diamuk gelombang laut paling parah, kini sudah mulai tenang, hanya sampah masih menumpuk dan berserakan di mana-mana. Di pantai Ulee Lheu, lautnya juga sudah kembali seperti biasa, ombaknya tampak indah dan pernak-pernik buihnya berkilau diterpa matahari pagi. Di sepanjang pantai itu, sampah dan reruntuhan bangunan juga berserakan. Jenazah tetap saja masih ada di mana-mana.

Suara gemuruh pesawat terbang terus terdengar siang dan malam, datang atau pergi dan yang diturunkan tidak hanya makanan,selimut-obat-obatan, tapi juga ratusan relawan. Yang namanya relawan terus bertambah, tidak hanya dari kalangan sipil,tapi juga dari militer .Namun mereka tidak memanggul senjata,sangkur atau granat. Mereka datang dengan bersarung tangan dan mengenakan masker. Apalagi yang mereka lakukan kalau bukan mengangkat mayat yang belum tersentuh padahal mayat-mayat itu sudah membusuk dikerubungi lalat dan ulat?.

Relawan dari kalangan dokter,psikiater, perawat, ahli listrik, operator telekomukasi, operator alat-alat berat, mahasiswa, tokoh pemuda dan juga ulama, semuanya terjun di Aceh. Semua menyingsingkan lengan baju untuk-untuk tugas kemanusiaan tanpa pamrih. Bahkan preman sekalipun ikut diterjunkan di Serambi Makkah dan mereka justru yang paling ulet mengevakuasi sejumlah mayat.

Pagi-pagi sekali dua relawan dari negeri kincir angin itu sdauh berada di bawah tenda pengungsi dan anak-anak segera berkerumun di sekelilingnya kemudian mengucapkan selamat pagi. Lihatlah, wajah-wajah anak Aceh itu tidak lagi murung, tatapan mata mereka tidak lagi kosong dan hampa,bahkan bekas tangis tidak terlihat lagi di mata mereka.

“Boleh saya membacakan puisi,kakak,” tanya Zahra.

“Tentu saja!. Ayo mulai!”

Sebelum gadis cilik yang sudah kehilangan ibunya itu memulai, sejenak batuk beberapa kali dan menggaruk badannya. Puluhan anak-anak pengungsi mulai terserang batuk dan gatal-gatal, karena itulah penyakit yang biasa diderita penghuni kamp pengungsian.

Zahra sudah siap untuk mulai membaca puisinya,tapi sesaat terhenti lagi karena ada pesawat terbang rendah untuk menurunkan berbagai bentuk bantuan yang terus menerus mengalir dari segala pnjuru dunia,bahkan terlalu banyak sehingga menumpuk di berbagai tempat. Belasan orang lelaki dan perempuan menyaksikan relawan bule itu berkerumun dengan anak-anak.

Reuhab pi toih ka geupeu-eh

Geulheueb binteh ban silingka

Siteungoh ri ka jiba-e,sitengaoh pho leumpah dada

Ok di ulee teugeureubang , jilanggang ateueh keureunda

Tanpa diminta Zahra juga melantunkan puisi itu dalam bahasa Indonesia dengan logat Aceh yang amat kental:

Begitu mayat tiba lalu ditidurkan

Dinding dibuka sekelilingnya

Setengah meratap,yang lainnya melakukan pho,emnumbuk dada

Rambut di kepala acakan, sibuk menari mengelilingi keranda

Sesaat setelah puisi itu dibacakan, terlihat wajah-wajah yang tertunduk. Puisi itu amat mengharukan,apalagi Zahra melantunkannya penuh perasaan, sebab kematian ibunya yang dikuburkan tanpa dimandikan, tanpa dikafani amat memukul jiwanya.

Semua anak-anak akhirnya bertepuk tangan setelah perempuan bule itu memberikan komentar:

“Hebat kamu,Zahra. Kamu membaca puisi dengan penuh perasaan,” cetus relawan berambut pirang itu sambil memeluk Zahra.

“Saya selalu teringat ibu saya.”

“Jangan kenang lagi kematian itu. Kamu tahu apa judul puisi itu?”

Zahra menggeleng.

“Kamu membaca puisi itu dengan bagus,tapi tidak tahu apa judul puisi itu. Puisi itu adalah Hikayat Pocut Muhammad!.”

Lihatlah relawan dari Belanda itu lebih tahu tentang seni, sastra dan budaya Tanah Rencong daripada putra-putri Aceh sendiri.

“Dari mana kakak tahu semua tentang seni budaya Aceh?”

“Di Leiden,di sana banyak tersimpan dokumen tentang Sastra Aceh dan Sastra Melayu lainnya mesikpun usianya sudah ratusan tahun.”

“Hebat!,” cetus salah seorang anak lelaki terkagum-kagum. Perempuan asing lebih tahu tentang budaya Aceh, sementara anak negeri ini tidak banyak tahu tentang budayanya sendiri. Anak-anak itu beruntung dapat bertemu seorang perempuan bule yang amat paham seni budaya Aceh. Kedatanganya membawa terapi jiwa yang amat ampuh dan anak-anak Aceh segera mampu melupakan bencana yang baru saja mereka alami.

“Maukah kalian mendegar Hikayat Gajah Tujoh Ulee?” tanya relawan bule itu.

“Mauuu!”

“Hikayat ini masih berkaitan dengan puisi yang dibacakan Zahra tadi, dan merupakan syair yang selalu mengiringi seni tari Pho.” Jelas relawan berambut pirang itu.

“Kalau begitu kakak harus menari Pho bersama kami!”, desak rekan Zahra.

“Baik,tapi dengan syarat kalian semua juga harus ikut menari. Jangan ada lagi yang menangis. Jangan ada lagi yang berduka, jangan ada lagi yang termenung-menung . Kakak kemari untuk mengajak kalian tersenyum dan bergembira. Kakak kemari untuk bersama-sama kalian membaca puisi,menari dan juga bermain. Kalian suka maen keong, maen ce, sungkeut, tak tham dan meuen galah?”

“Kami sukaaa,” anak-anak itu menyahut serentak..

Puluhan pasang mata bocah-bocah Tanah Rencong itu memandang relawan bule itu, padahal sebelumnya mata mereka selalu melahirkan tangis, tapi hari itu tampak bersinar cerah. Tatapan mata kosong dan hampa sudah berobah dengan tatapan yang penuh harapan dan masa depan.

Relawan bule berambut pirang itu mulai membaca syair Hikayat Tujoh Ulee:

Asoe maueligoe dum habeh moe, jipoh-poh droe ban sireuna

Adak ma putroe han peue peugah,

Rasa nyum beukaih jitumbok dada

Di ayah’nda sabo lagee,jiplaih bajee antok gupala

Bahkeu domnan haba ba’e,ban lagee pho aneuk Rawa

Salah seorang anak Aceh diminta untuk melantunkan syair itu dalam bahasa Indonesia dengan pas:

Isi mahligai semua menangis ,memukul diri rata-rata

Ibunda putri tak terkatakan,semua pecah dada ditumbuk

Ayahnya lain lagi, merobek baju,menghantam kepala

Cukup sekian kisah ratapan,seperti irama pho Anak Rawa.

Tepuk tanganpun bergema lagi di bawa tenda pengungsian itu. Ratap tangis dan air mata benr-benar sudah berubah dengan kegembiraan. Apalagi setelah relawan bule itu mengajak anak-anak itu menarikan Pho yang dikenal masyarakat Aceh sejak dua abad silam. Relawan bule itu juga menjelaskan dengan panjang lebar kepada anak-anak itu, bahwa dulu tari Pho merupakan tarian berkabung bagi masyarakat Aceh yang saudaranya meninggal. Pada lagu dan tari Pho awal mulanya mengandung magik,namun lambat laun tari Pho menjadi tarian biasa.

“Sungguh luar baisa!. Sungguh mengagumkan!,” cetus anak-anak Tanah Rencong di bawah tenda pengungsian itu.

“Sungguh menakjubkan. Bagaimana kakak bisa membaca Hikayat tentang Aceh?. Bagaimana kakak bisa menari Saman dan menari Pho dengan baik?”

“Anak-anak Aceh sendiri belum tentu dapat berbuat seperti itu, namun kakak sudah amat mengetahui segalanya!,” ujar salah seoang siswa SMA yang ikut menari Pho penuh rasa kagum.

“Sungguh seperti sebuah keajaiban. Kakak datang dari Belanda,tapi amat mahir menampilkan seni budaya Aceh dengan baik.”

“Bukankah kakak sudah mengatakan,bahwa kakak belajar di Leiden dan memilih jurusan Angtropologi tentang seni budaya Asia Tenggara,terutama Aceh?. Tapi ada hal-hal lain yang menyebabkan kakak harus lebih banyak memahami tari Saman, tari Pho dan menguasai seni budaya Aceh,” ujar salah seorang perempuan berambut yang bernama Alice van Kherkoff.

“Kami sangat ingin mengenal kakak lebih jauh. Kami ingin mengetahui latar belakang perjalanan hidup kakak sehingga amat banyak memahami tentang daerah kami melebihi orang Aceh sendiri,” pinta salah seorang siswa SMA yang selamat dari amukan tsunami.

“Terus terang dalam diri kakak juga mengalir titisan darah Aceh,” ujar relawan yang bernama Alice van Kherkoff.

“Bagaimana mungkin kakak jauh di Belanda memiliki titisan darah Aceh?,” salah seorang siswa SMP mengajukan protes tapi dalam hatinya ada perasaan ingin tahu.

“Kenapa tidak mungkin?. Bukankah sejak ratusan tahun yang silam banyak orang-orang Belanda datang ke negeri ini?. Bukankah sudah sejak berabad-abad silam orang Belanda sudah banyak yang menjejakkan kakinya di Malaka, pasisir India,China dan Indonesia?. Juga Aceh!”

“Ya, kami mengetahui hal itu. Belanda memerangi Aceh. Belanda menjajah negeri kami selama bertahun-tahun!,” salah seorang anak Aceh yang kulitnya hitam legam tampak sempat emosi,tapi relawan asal Belanda itu menymbutnya dengan senyum .

“Tidak semua begitu. Tidak semua orang-orang Amerika, Portugiss, Inggris dan Belanda datang untuk beperang dan menjajah. Ada yang datang ke negeri ini untuk berdagang. Portugis,Inggris dan Belanda datang dengan membawa gulden dan membeli lada dengan harga mahal. Salah seorang pedagang Belanda yang membeli lada dalam jumlah besar itu adalah laki-laki bernama Van Kherkoff, generasi di atas kakek saya.”

“Van Kherkoff datang ke Aceh tanpa membawa meriam dan mesiu,bukan?,” salah seorang anak lelaki bertanya dengan serius.

“Benar!. Yang dibawa hanya uang gulden dan emas semata-mata. Tidak ada senapan, tidak ada peluru yang dibawa. Dan rakyat Aceh pemilik kebun-kebun lada menerimanya dengan baik. Dengarlah bagaimana laki-laki gagah Van Kherkoff berangkat dari Holand pada akhir musim dingin di tahun seribu delapan ratus lima puluh…” Relawan dari Belanda itu mulai menuturkan kisah perjalanan kakek moyangnya yang bernama van Kherkoff ke Tanah Rencong.

“Bukankah pada tahun 1850 kerajaan Aceh dipimpin oleh Sultan Ibrahim Mansyur Syah yang gagah berani?,” salah seorang anak berdiri dan menyebut nama salah seorang Sultan Aceh.

“Benar sekali!. Pada tahun itu perdagangan Belanda, Inggris dan Portugis berjalan lancar di Aceh, karena Sultan Mansyur adalah pemimpin yang bijaksana dan ramah tamah terhadap siapapun!,” ujar Alice lagi.

“Sultan Mansyur Syah memang seorang negarawan yang bijaksana meskipun usianya baru empat puluh tahun,”: seorang siswa SMA memberikan komentar. “Hampir semua sultan yang memerintah Aceh adalah sultan yang bijaksana.”

“Hal itu benar!,” cetus Alice lagi dan melanjutkan tuturnya tentang kehadiran kakek moyangnya di Aceh. “Aceh seharusnya adalah kerajaan yang paling makmur di dunia dengan ladang-ladang lada dan tambang emasnya. Negara asing tergiur oleh banyaknya ladang-ladang lada itu dan menyadari,bahwa Aceh setiap tahun menerima tidak kurang dari tiga puluh lima juta gulden dari penjualan lada.”

“Seharusnya memang demikian halnya hasil lada Aceh melebihi hasil lada dunia. Tapi sayang,bangsa-bagnsa asing itu berlaku curang dan tidak jujur,” ujar salah seorang murid SMA yang fanati terhadap tanah kelahirannya,Aceh.

“Benar!. Itulah sebabnya perang pun akhirnya meletus. Rakyat Aceh sungguh gagah berani dan selama lima abad terus menerus berjuang mengusir orang-orang asing. Tapi lupakan semua itu. Perkenankan kakak menuturkan bagaimana sebenarnya ada titisan darah Aceh dalam diri kakak. Maukah kalian semua mendengarnya?. Setelah itu kita menggambar bebas!,” ujar Alice lagi..

“Setujuuuu!,” sahut bocah-bocah itu serentak dan suara mereka bergaung.

***

A

khir musim semi di tahun 1870, seorang lelaki muda benama Van Kherkoff memimpin rombongan dagang dari Nederlands Handel Maatschappi meninggalkan Negeri Kincir Angin dengan kapal dagang yang sama sekali tidak membawa meriam, bahkan tidak membawa senjata apa pun. Sebab, seluruh penumpang kapal itu adalah pedagang yang akan memburu lada. Berbeda dengan kapal perang De Haai yang datang lebih awal dan berlayar sepanjang pantai barat, tidak jauh dari perairan Aceh.

Jauh-jauh hari para pedagang yang bergabung dalam Nederlands Handel Maatschappi itu sudah menyadari, bahwa sejak awal tahun itu, hubungan Belanda dan Aceh tidak semesta sebelumnya. Pimpinan tertinggi kerajaan Aceh sudah amat lama mencurigai sikap Belanda yang licik. Pada tahun itu pula Sultan Ibrahim Mansur Syah wafat dan digantikan oleh Tuanku Mahmud Syah yang masih berusia 14 tahun.

Dua orang anak Sultan Ibrahim Mansur Syah yang wafat lebih dulu menyebabkan Sultan Ibrahim Mansur Syah tidak memiliki pewaris kerajaan. Itulah sebabnya beliau digantikan oleh putra Sultan Ali Iskandar Syah.

Bangsa-bangsa asing menganggap kepemimpinan Sultan Tuanku Mahmud Syah sangat rapuh. Inggris, Perancis serta Belanda menganggap Sultan Tuanku Mahmud Syah menduduki tahta kerajaan yang goyah terutama karena usianya masih sangat muda belia. Tapi, karena pemerintahan Tuanku Mahmud Syah ternyata dibimbing oleh seorang Sayid keturunan Arab yang bernama Habib Abdurrahman.

Aceh yang amat kaya dengan lada, emas, semen, minyak dan perak itulah banyak pihak asing ingin menundukkan kerajaan itu dan merebut semua kekayaannya. Karena itulah, perang pun tidak terhindarkan pada masa pemerintahan Sultan yang masih muda belia itu.

“Awal bulan April tahun seribu delapan ratus tujuh puluh tiga Wakil Dewan Komsaris Hindia Belanda mengumumkan perang dengan Aceh, “ ujar Alice van Kherkoff menuturkan sejarah masa lalu yang kelabu di Aceh.

“Namun rakyat Aceh tidak menyerah, bukan?” sehut beberapa orang anak lelaki di kamp pengungsian itu.

“Benar!” Rakyar Aceh memang tidak pernah menyerah meskipun senjata yang dimiliki hanya rencong Aceh, sekin panjang, pedang, rudus dan leming kapak.”

“Lalu bagaimana dengan nasib para pedagang Belanda yang sudah berada di Aceh? Bukankah mereka adalah orang-orang sipil tanpa senjata?” salah seorang pemuda Aceh angkat bicara.

“Kapal dagang itu dihujani tembakan meriam saat berada di lepas pantai Aceh.”

“Lalu kapal itu dirampas orang Aceh?” salah seorang anak Aceh ingin tahu. “ Seluruh isi kapal itu dijadikan barang rampasan?”

“Tidak! Kapal itu tidak sempat dirampas oleh prajurit kerajaan Aceh. Kapal dagang itu akhirnya tenggelam.”

“Tewaskah semua pedangang di kapal itu? Lenyapkah semua pedagang yang bergabung dalam Nederlands Handles Maatschappi di kapal itu?” Banyak anak-anak amat bersemangat ingin tahu.

“Sebagian ikut tenggelam bersama kapal yang malang itu. Sebagian menjadi tawanan kerajaan Aceh. Namun sebagian kecil berenang ke pantai Aceh. Dan salah seorang ynag berenang mencapai pantai Aceh Barat adalah Van Kherkoff. Lelaki muda itu mendapat pertolongan Tuhan berhasil mendarat dengan membawa pundi-pundi yang berisi uang gulden dan emas cukup banyak. Laki-laki itu mendapat perlindungan dari seorang Keuchik yang baik hati. Lelaki bernama Van Kherkoff itu bukan penjajah, bukan serdadu. Yang dibawanya bukanlah senapan dan peluru, namun hanya pundi-pundi berisi uang. Karena itulah dia mendapat perlindungan.”

“Amankah dia dalam perlindungan Keuchik di sana?”

“Sangat aman. Sampai perang berlangsung, hingga tewasnya seorang Komandan Tertinggi Belanda Jenderal Mayor J.H.R. Kohler. Perwira tinggi itu mati di depan sebuah mesjid di tengah kota.”

Relawan berambut pirang itu amat kenal dengan nama-nama para pemimpin pasukan Belanda yang menggelar perang di Serambi Mekkah selain Kohler yang tewas. Masih ada lagi nama Kolonel E.C. Van Daalen, Kolonel Geni A.W. Engter van Wisseekerks serta Kapten de Bont. Relawan itu ingat benar betapa dahsyat bangsanya memerangi Aceh dengan mengerahkan kapal-kapal perang, mengangkut hampir dua ratus perwira tinggi, ribuan serdadu pasukan berkuda hampir dua ratus orang, hampir seratus meriam serta disusul kapal-kapal lainnya. Sebagai seorang mahasiswi yang hampir menyelesaikan bidang studi tentang seni budaya Aceh, dia ingat kapal-kapal perang yang ikut menyerbu Aceh, seperti G.G Mijer, Wiliam Meck Kinson, Johanna Elisabeth yang mengangkut pasukan berkuda, serta kapal Josephin yang mengangkut perbekalan makanan dan terakhir kapal Kosmopoliet sebagai rumah sakit bagi serdadu yang luka-luka di peperangan paling dahsyat itu.

“Bagaimana dengan nasib pedagang Van Kherkoff saat perang berlangsung?” tanya salah seorang bocah yang lengannya dibalut karena luka-luka tertimpa bangunan rumahnya.

“Tepat pada saat pasukan Belanda menyerang mesjid di tengah kota itulah, beberapa kapal-kapal dagang Inggris buru-buru meninggalkan semua pelabuhan di Aceh karena tidak ingin terlibat perang. Pada saat itulah seorang lelaki asal Nederland yang sudah berbulan-bulan berada di bumi Tanah Rencong akhirnya pulang dengan menumpang kapal dagang milik Inggris itu. Pundi-pundi berisi gulden dan emas dia berikan kepada Keucik yang sudah melindungi dirinya. Lelaki itu hanya memohon izin untuk membawa gadis Aceh yang cantik jelita. Bersama gadis Aceh itulah lelaki muda Van Kherkoff menumpang kapal berbendera Inggris. Lelaki muda itu akhirnya menikahi gadis Aceh dan lahirlah dua orang anak dan anak-anak itu melahirkan cucu-cucu pula, kemudian lahirlah generasi penerus yang tetap saja memiliki darah campuran antara Belanda Aceh. Tahukah kalian, bahwa salah seorang dari generasi penerus itu adalah saya yang bernama Alice Van Kherkoff yang kini sedang bersama putra-putri Aceh, untuk bermain, menari dan membaca puisi?”

“Luar biasa. Sungguh luar biasa pengalaman itu!” itulah komentar semua yang mendengar penuturan itu, tua dan muda.

“Tentu!” Saya amat kerasan di sini dan merasa Aceh adalah tanah air saya juga.”

Bocah-bocah warga kawasan Serambi Makkah itu amat senang mendengarnya. Mereka sudah memahami siapa sebenarnya relawan berambut pirang bernama Alice Van Kherkoff yang tiap hari bersama mereka. Pantas relawan asal Belanda itu banyak memahami seni budaya Aceh.

“Saya berbahagia dapat menjejakkan kaki di Aceh dan bertemu dengan kalian saat didera penderitaan akibat tsunami yang sangat dahsyat itu,” terdengar lagi suara relawan berambut pirang itu.”

“Tetaplah di sini bersama kami selamanya!” Itulah permintaan belasan anak-anak penghuni tenda pengungsian itu.

Alice hanya tersenyum. Dia masih sempat melanjutkan tentang riwayat perang Aceh yang paling dahsyat pada saat kerajaan Aceh dibawa pemerintahan Sultan Mahmud Syah dan prajuritnya melakukan perang jihad. Semua rela mati untuk tanah air. Kemarahan rakyat Aceh memuncak ketika Mayor Jenderal J.H.R Kohler menyerang mesjid di tengah kota dan membakarnya.

Mesjid memang sudah terbakar dan prajurit Aceh terpaksa mundur. Tapi Jenderal Kohler belum berarti menang. Justru dengan menduduki mesjid menyebabkan api jihad semakin membakar semangat semua warga Aceh. Semangat perjuangan justru semakin membakarnya.

Dengan pekik Allahu Akbar dan dengan mengacungkan rencong Aceh menyatukan tekad, membalas dendam untuk merebut kembali mesjid di tengah kota itu. Jenderal Kohler merasa terkepung dan berteriak-teriak:

“De torstand in de messigit nist langer houdbaar is en de troepen er nist kunnan blijven.”

Teriakan yang bermakna, bahwa mesjid bukan berarti benteng ampuh bagi kita, justru menyebabkan serdadu Belanda terkepung.

“Dan most de messigit verlaten worden!” Jenderal Mayor itu akhirnya memberi komando untuk mundur. Namun, pada saat itulah dia tewas tidak jauh dari mesjid besar di tengah kota itu.

“Itulah puncak kemarahan rakyat Aceh ketika Kohler menduduki mesjid yang merupakan tempat paling mulia bagi umat islam.”

“Jenderal itu mati dan darahnya memerahi negeri kami!” ujar salah seorang bocah yang amat tertarik pada penuturan itu.

“Sekarang kita tidak usah lagi bercerita tentang peperangan masa lalu. Sekarang kalian semua sudah tahu, bahwa dalam diri saya juga mengalir titisan darah Aceh. Saya ingin berbakti untuk negeri ini, terutama untuk anak-anak Aceh.”

“Ya, tetaplah di sini! Bersama kami!” Itulah kehendak semua anak-anak penghuni tenda pengungsian itu.

“Kita sekarang mewarnai gambar!” terdengar suara relawan yang baru saja menuturkan asal usul kelahirannya yang memang darh Aceh mengalir dalam dirinya.

“Horeeeee!” sambut puluhan anak korban bencana itu amat gembira. Mewarnai gambar memang merupakan kegemaran anak-anak dimana-mana. Tapi Zahra, Zainab, Zaitun, Badriah, Syarifah, Habibah dan Ainun tampak sedih.

“Kenapa tiba-tiba jadi sedih, Zahra?” relawan bule menghampiri dan mengusap rambut Zahra.

“Saya tidak mempunyai pensil warna lagi, semua dihanyutkan air laut,” sahut Zahra hampir menangis.

“Tidak usah sedih. Semua tahu, bahwa anak-anak kehilangan alat-alat sekolah, sepatu, pakaian seragam dan semuanya. Kakak membawa pinsil warna untuk kalian semua!”

Ucapan itu disambut amat gembira oleh anak-anak Aceh penghuni tenda pengungsian itu. Mereka duduk rapi diatas plastik dan menerima seperangkat pinsil berwarna dan kertas yang sudah bergambar untuk diberi warna. Anak-anak itu gembira menerima gambar mesjid Baiturrahman sebagai mesjid kebanggaan masyarakat Aceh yang sudah berusia ratusan tahun untuk diberi warna. Kertas yang bergambar Danau Aneuk Laot di Sabang juga ada, lalu yang menerima gambar Seulawah Agam juga ada, serta Krueng Suak-seumaseh yang airnya jernih. Gambar binatang yang dilindungi di kawasan Suaka Alam di Aceh seperti gajah, burung beo, badak, harimau Sumatra juga diberikan kepada anak-anak itu. Apalagi gambar pejuang Aceh yang sedang menghunus rencong.

Semua berkaitan dengan alam Aceh, agar kecintaan mereka terhadap tanah kelahiran meraka sendiri tetap kental di hati pitra-putri Serambi Makkah itu.

“Siapa yang paling bagus memberi warna akan mendapat hadiah!” ujar relawan bule itu.

Anak-anak itu tampak bersemangat, tanpa peduli pada suara pesawat yang terbang rendah untuk menurunkan bahan makanan dan pakaian muslim serta alat-alat rumah tangga, padahal sebelumnya setiap mendengar suara gemuruh anak-anak ketakutan dan panik karena trauma. Namun, traumatik yang amat parah itu kini sudah sembuh karena kehadiran relawan yang berhati amat mulia dan bekerja tanpa pamrih. Terapi mereka benar-benar menjadi obat luka di hati ribuan anak-anak Aceh yang telah kehilangan ayah bunda, sanak saudara dan kehilangan segalanya.

“Sesudah selesai mewarnai gambar kita akan belajar matematika!” terdengar lagi suara relawan bule yang berambut pirang itu.

“Saya juara kelas, Kak!” sambut salah seorang anak lelaki, padahal sebelah matanya ditutup plaster karena tertimpa reruntuhan rumahnya. Masih amat banyak anak-anak Aceh mengalami cedera di bagian mata atau anggota tubuh lainnya. Sebagian sudah diterbangkan ke Medan atau Jakarta untuk mendapatkan pengobatan.

“Bagus! Tapi kamu harus segera berobat agar matamu tidak sedera,” relawan bule itu mengusap rambut anak lelaki itu dengan perasaan iba. “Kamu tidak akan dapat belajar sempurna kalau mata cedera.”

“Tapi saya tidak punya uang. Orang tua saya hanyut dan meninggal,” bocah itu menyahut polos.

“Tidak harus bayar. Banyak pihak datang ke Aceh tidak hanya membantu dalam hal pangan, tapi juga perawatan kesehatan, juga merawat orang yang cedera tanpa harus membayar.”

“Terima kasih, Kak. Kami sudah menerima banyak sekali kabaikan, kelembutan, kasih sayang, dan uluran tangan.”

Relawan bule itu tersenyum. Misi kemanusiaan yang dilakukannya tidak hanya terapi terhadap anak-anak korban tsunami, tapi juga membuka sekolah lapangan di bawah tenda agar anak-anak usia sekolah yang sekolahnya diporak-porandakan tsunami tidak ketinggalan dalam pelajarannya. Relawan bule itu juga sudah dibekali dengan berbagai hal, juga dalam hal pendidikan, sebab berbagai pihak menyadari bencana tsunami yang amat dahsyat itu pasti menyebabkan ratusan gedung sekolah roboh, guru pun banyak yang menemui kematian direnggut air laut ynag menerjang daratan.

S

udah berhari-hari relawan asal benua Eropa itu berada di Nangroe Aceh Darussalam dan tiap hari bergaul dengan putra-putri Aceh yang dekil karena terkadang seharian tidak mandi karena ketiadaan air. Syukurlah ada negara asing yang datang sebagai relawan untuk membuat pompanisasi air yang dapat langsung diminum tanpa dimasak. Sebentar lagi anak-anak korban bencana tsunami itu dapat mandi sepuasnya, padahal selama ini sanitasi tidak memadai menyebabkan banyak pengungsi menderita diare dan gatal-gatal.

Sudah berhari-hari relawan asal Belanda itu menari, menyanyi dan membaca puisi dalam bahasa Aceh bersama anak-anak dan juga bermain sung keut atau meuen galah serta belajar matematika tanpa mengenal lelah dan bosan.

Siapa menduga, bahwa relawan bule nonmuslim yang datang dari tempat yang jauh di seberang samudera, yang adat istiadat dan budayanya berbeda namun sangat memahami adat istiadat Serambi Makkah? Yang diperhatikan relawan asing itu tidak hanya anak-anak untuk diberi terapi agar mereka terhindar dari traumatik tapi juga memperhatikan keadaan ibu-ibu di pengungsian.

Dua orang relawan bule di bawah tenda itu melihat ada seorang ibu yang baru dua minggu melahirkan dan selamat dari bencana tsunami bersama bayinya, sementara suaminya yang sedang berbelanja di pasar tewas diterjang gelombang. Padahal suaminya berbelanja untuk keperluan adat Peutron Aneuk Manyak atau menurunkan bayi setelah usia bayi 15 hari.

“Ibu sudah melaksanakan adat Peutron Aneuk Manyak?” tanya salah seorang relawan bernama Alice van Kherkoff itu kepada Bu Rohaya yang masih menyusui bayinya dan air matanya berderai teringat kepada suaminya.

“Belum! Rasanya tidak mungkin lagi saya melaksanakan itu karena saya tidak mempunyai apa-apa lagi!” sahut Bu Rohaya dan menghapuskan air mata di pipinya.

“Tidak usah menangis, Bu. Kita dapat melaksanakan adat itu disini!” ujar relawan itu.

“Disini? Di tenda ini? Di pengungsian ini? Bu Rohaya seakan tidak percaya pada ucapan relawan bule itu.

“Ya, disini!”

“Kita adakan kenduri sekadarnya disini. Bukankah disini juga ada Leubee yang dapat memimpin doa?” Relawan bule itu menunjuk kepada seorang lelaki setangah umur yang selalu melantunkan azan bila waktu salat tiba lalu menjadi imam salat dan doanya selalu panjang.

“Mungkinkah dapat kita laksanakan?”

“Mungkin! Tapi dengan cara yang amat sederhana!”

Beberapa orang lelaki dan perempuan penghuni tenda itu diminta untuk berkumpul untuk mengadakan adat Peutron Aneuk Manyak namun dalam suasana yang amat sederhana. Perempuan bule itu ternyata sudah menyiapkan sesuatu dengan dibantu oleh relawan lokal yang mengerti memasak bu leukat kuneng atau ketan kuning, keumamah atau ikan kayu digulai dan tumpoe atau adonan tepung untuk dimakan bersama-sama.

Sungguh tidak diduga, bahwa di fakultasnya di Leiden, relawan itu sudah demikian jauh mempelajari bahasa Aceh serta adat istiadatnya, juga dalam hal acara” menurunkan bayi”. Sungguh tidak diduga, bahwa relawan asal Negeri Kincir Angin itu ternyata mengerti memainkan rebana dan melantunkan pei rapai atau menabuh rebana turun bayi. Semua terkagum-kagum apalagi ketika relawan itu berkata-kata dalam bahasa Aceh ditujukan kepada sang bayi yang pada hari itu diturunkan ke tanah.

“Lagee bumoe nyoe tuetap, meunan beuteutap pendirian gata.”

Ucapan itu bermakna, seperti kukuhnya bumi ini, maka demikian pula kukuh pendirianmu, wahai anak.

Semua terkagum-kagum menyaksikan acara yang amat sederhana, maklum bertempat di pengungsian dan baru saja semua tertimpa bencana yang paling dahsyat.

Tangan mungil itu pun akhirnya membelah kelapa sebagai puncak adat menurunkan bayi ke tanah.

“Saya pernah belajar adat ini di tempat saya kuliah. Makna yang terkandung dalam membelah kelapa ini agar bayi kelak tidak terkejut kalau mendengar suara gemuruh atau suara yang mengerikan, seperti halnya ketika bencana tsunami terjadi tidak menjadi panik.”

Semua yang hadir benar-benar terpesona. Acara itu diakhiri dengan membagikan daun sirih kepada para tamu yang hanya beberapa orang dari kalangan penghuni tenda itu.

“Kalian suka dongeng?” tanya relawan kulit putih itu masih tetap dengan wajah cerah berkumpul dengan sejumlah anak-anak. Dia sudah amat akrab dengan putra-putri Aceh di tenda pengungsian itu.

“Tentu saja suka! Tentang Putri Hijau?”

“Bukan!”

“Lalu dongeng tentang apa?”

“Tentu saja dongeng yang paling disukai di Aceh!”

Puluhan anak-anak Aceh itu pun duduk bersila diatas plastik yang dibentang diatas tanah dan karen antusias, yang duduk di tanah tanpa alas juga banyak.

Wanita asal Eropa itu mulai bercerita dengan menyebutkan judul dongengnya, tentang Hikayat Banta Beuransah. Tapi sebelum dongeng itu dilanjutkan terdengar suara deru dua truk, bukan mengangkut bantuan makanan dan pakaian, tapi mengangkut sekelompok warga Aceh yang akan berangkat menuju Medan, Jakarta dan kota-kota lainnya. Tidak hanya kakek nenek yang ada di dalam truk, tapi juga anak-anak dan abang-abang mahasiswa. Bayi pun ada dalam truk besar.

Sejak bencana paling dahsyat itu terjadi, sudah puluhan truk berangkat membawa sejumlah warga Aceh eksodus keluar Serambi Makkah. Dan kali ini, truk mengangkut sejumlah mahasiswa dan anak-anak, lelaki dan perempuan. Belasan anak-anak itu adalah teman-teman bermain Zahra. Tentu saja relawan bule itu terhenti mendongeng karena Zahra dan kawan-kawannya berhamburan keluar tenda.

“Selamat tinggal, Zahra! Selamat tinggal!” kawan-kawan Zahra melambaikan tangan.

“Kamu mau kemana?” Zahra menatap para sahabatnya yang melambaikan tangan.

“Kami mau ke Jakarta. Kami mau sekolah disana!”

Kata-kata itu hanya membuat hati Zahra dan semua anak-anak penghuni tenda itu termenung dan sedih. Bahkan, Zahra tampak menitikkan air mata menyaksikan teman-temannya akan berangkat jauh meninggalkan tanah leluhurnya, Aceh tercinta.

“Kamu menangis, Zahra?”

Gadis cilik itu hanya duduk tidak mampu berkata apa-apa dan relawan berkulit putih itu mengusap rambutnya dengan lembut dan kasih sayang.

“Apa yang kamu tangisi, Zahra?” tanya relawan asing itu.

“Saya kehilangan sahabat-sahabat saya.”

“Tidak usah sedih, Zahra. Disini masih banyak teman-temanmu dan saya juga selalu disini.”

Perlahan sekali gadis cilik itu menatap relawan asing itu dengan mata basah.

“Hati saya terlalu sedih. Air mata saya adalah air mata Serambi Makkah.”

“Apa maksudmu, Zahra?” relawan bule itu masih mengusap rambut Zahra dengan lembut dan penuh kasih sayang.

“Saya sangat sedih karena terlalu banyak orang Aceh meninggalkan daerah kelahirannya. Warga Aceh sudah amat banyak yang meninggal karena bencana dan yang hilang juga sangat banyak. Sekarang setelah bencana reda, banyak warga Aceh menyingkir banyak anak-anak Aceh dibawa pergi. Siapa lagi yang akan tinggal disini? Siapa lagi yang akan tinggal di Aceh kalau semua pergi? Siapa yang akan membangun kembali Aceh kalau semua orang Aceh pergi jauh? Negeri ini akan kosong tanpa penghuni. Kalau semua warga Aceh pergi, yang tinggal disini hanya burung-burung, belalang atau kucing.”

Zahra menyeka air mata di pipinya. Dua truk besar lewat lagi mengangkut warga Aceh untuk pergi jauh, eksodus keluarga Serambi Makkah. Relawan asing itu termenung sesaat, dia memahami apa yang amat menyedihkan hati Zahra. Akan habislah penduduk Aceh kalau banyak warganya meninggalkan Aceh dengan alasan tidak punya rumah lagi, tidak punya mata pencaharian lagi, tidak punya kerabat lagi. Apalagi ada rasa takut, bahwa tsunami akan datang lagi.

Lihatlah, para mahasiswa pun ikut-ikutan meninggalkan Universitas Syah Kuala untuk kuliah di Jawa atau Sumatra Utara. Bahkan anak-anak siswa SMA atau SLTP juga iku pindah. Dia melihat Hamidah ada dalam truk itu, juga Maumunah, Rizal, Komar, Nurul dan Bariah. Mereka meninggalkan tanah kelahirannya yang seharusnya mereka cintai hingga akhir hayat, tapi kenapa mereka meninggalkannya? Apakah gelombang tsunami juga ikut menerpa hati anak-anak dan warga Aceh sehingga mereka pergi jauh? Sungguh mahadahsyat kalau gelombang laut itu juga menerjang hati dan sanubari warga Serambi Makkah.

Mungkin mereka yang keluar dari Serambi Makkah, takut gelombang dahsyat tsunami akan datang lagi, akan merenggut sisa-sisa warga Aceh dan menenggelamkan negeri yang kaya dengan sumber daya alam ini. Akan habiskah penghuni Serambi Makkah?

Sebuah pesawat Herkules milik angkatan perang sebuah negara asing sudah menunggu di Bandara untuk mengangkut para eksodus yang datang dengan belasan truk dan bus.

Tidak hanya itu. Bayi-bayi yang baru berumur beberapa bulan juga ramai-ramai diadopsi dibawa keluar dari tanah rencong. Kalau alasannya meninggalkan Serambi Makkah untuk berobat ke rumah sakit yang memiliki sarana fasilitas lebih komplit masih dapat dipahami. Tapi bila alasan trauma tinggal di Aceh dan tidak memiliki rumah lagi,sungguh amat menyedihkan. Siapa lagi yang akan menghuni Serambi Makkah kalau semua eksodus? Apakah yang akan menjadi penghuni Tanah Rencong adalah gajah dan burung cempala koneng?

“Tidak usah menangis terus, Zahra. Mudah-mudahan mereka pergi bukan untuk selamanya bermukim di tempat jauh. Mudah-mudahan mereka akan kembali ke Aceh!” bujuk relawan yang selalu mendampingi anak-anak itu.

Zahra menyeka air mata di pipinya.

“Ayo kita duduk di tenda. Bukankah kamu senang mendengar dongeng? Mari kita mulai dongeng itu.

Zahra dan sahabatnya sesama gadis cilik masuk ke tenda dan matanya masih basah ketika relawan asing itu memulai dongeng itu:

“Raja Syamsah yang memerintah Negeri Araminyah mempunyai anak dua orang dari istrinya yang sudah meninggal,” relawan asing itu memulai dongeng.

“Siapa nama putra mahkota itu, Kak?” tanya salah seorang bocah.

“Namanya Banta Beusiyah dan Banta Thah. Setelah istrinya meninggal, Tuanku Raja kawin lagi dengan putri Syaribanun dan mendapat seorang anak laki-laki.”

“Siapa nama putra yang dilahirkan Putri Syaribanun?”

“Banta Berurunsah. Malam itu amat sunyi dan dingin ketika Raja Syamsah bermimpi tentang seorang Raja Malik Syamsarah dari Negeri Geulita Ebeuram bernama Malik Syamsarah yang mempunyai putri bernama Ruhoon Afeulah.”

“Cantikkah putri itu?” tanya Zahra amat tertarik pada dongeng itu.

“Tentu saja cantik, mana ada gadis Aceh yang tidak cantik, apalag putri raja. Gadis-gadis Aceh pintar menari, jarinya lembut, dan suaranya merdu.

Gadis-gadis cilik berdarah Aceh itu bangga disebut semuanya berwajah cantik. Perempuan bule itu melanjutkan dogengnya:

“Putri Ruhoon Afeulah bermimpi melihat seekor burung bernama Maleoondiri yang amat indah bulunya.”

“Tentu setiap hari burung itu selalu berkicau nyaring,” ujar anak-anak itu.

“Ya! Suara nyaring itulah yang membuat hati Raja risau untuk memiliki burung itu.”

“Apakah anak-anak Raja tidak berusaha untuk mencari dan menangkap burung itu agar hati Paduka Raja senang?”

“Tentu saja! Berangkatlah tiga orang putra Raja dan ketika tiba di hutan mereka melihat jalan yang harus mereka tempuh ternyata bersimpang tiga. Dari tulisan yang tertera pada sebuah batu, bahwa dua jalan yang harus dilalui sangat mulus dan sepanjang jalan banyak kesenangan dunia, sementara satu jalan lagi penuh dengan perintang dan sangat sukar dilalui.”

“Lalu mana yang dipilih oleh tiga putra mahkota itu?” tanya salah seorang anak yang amat tekun mendengar dongeng itu.

“Nah, Banta Beursiyah dan Banta Qeureuthah memilih jalan yang penuh dengan kesenangan dunia.”

“Lalu Banta Beuransah memilih jalan yang sangat banyak rintangannya?” tanya Zahra.

“Ya, tetapi mereka yang memilih jalan yang penuh dengan kesenangan dunia tidak sampai pada tujuan dan jalan yang penuh rintangan itu ternyata menuju arah tujuan yang tepat. Banta Beuransah yang sangat sabar itu mendapatkan kebahagiaan, sementara dua saudaranya menghadapi kehancuran kerena terlena dalam kesenangan hidup. Impian tentang burung yang dulunya amat indah dan suaranya nyaring itu ternyata bukan burung biasa, tapi seorang putri cantik.”

Relawan asing itu dengan gayanya yang khas menuturkan, bahwa dua putra mahkota Banta Beursiyah dan Banta Quereuthah, sepanjang jalan terlena oleh kesenangan dunia, berfoya-foya dan makan apapun hingga berlebihan dan di setiap desa mereka pasti mampir sambil nonton pertunjukan tari Seudati.

“Kalian pernah nonton tari Seudati, bukan?” tanya relawan itu di antara penyampaian dongengnya.

“Pernah!” sahut anak-anak itu serantak dan antusias.

“Nah, kedua putra itu terlena oleh tarian Seudati hingga lupa melanjutkan perjalanannya untuk memenuhi permintaan Baginda Raja. Sejak dulu orang selalu kagum dengan gerak tangan yang memukul-mukul dada yang diiringi dengan nyanyian dan lirik-lirik puisi lama. Selesai menyaksikan tari Seudati, mereka tidak langsung meneruskan perjalanan, tapi nonton pergelaran Didong. Kalian tahu apa itu Didong?”

“tentu saja tahu, Didong adalah seni suara, sastra dan tari yang berasal dari Aceh Gayo.”

“Bagus!”

“Lalu bagaimana dengan perjalanan Banta Beuransah?” tanya Zahra ingin tahu.

“Perjalanan itu memang banyak menghadapi berbagai rintangan hutan belantara, kayu-kayu tumbang, duri, tidak ada makanan selain buah-buahan hutan, binatang buas pun sangat banyak, seperti harimau dan ular berbisa, tapi semua dapat diatasi oleh putra raja yang berhati sabar dan ksatria, serta perjuangannya tidak mengenal lelah.

Seperti itulah tekad perjuangan rakyat Aceh, tidak kenal lelah, dalam menghadapi peperangan maupun membangun negerinya.

Puluhan anak-anak senang dan bangga relawan bule itu sangat mengagumi pejuang Aceh dan juga mengagumi bumi Aceh.

“Akhirnya Banta Beuransah mendapatkan putri cantik jelita itu.”

“Kemana dibawa putri cantik itu?” tanya bocah-bocah itu ingin tahu.

“Tentu saja ke Aceh dan tempat itu bernama Negeri Indera.”

Bocah-bocah itu terkagum-kagum mendengar dongeng yang diungkapkan perempuan asing yang datang dari seberang benua. Perempuan asing itu lebih banyak mengetahui tentang berbagai hikayat di Aceh, tentang budaya, adat istiadat dan juga berbagai tari dan nyanyian Aceh. Sebab, di Negeri Kincir Angin itu amat banyak dokumentasi tentang budaya negeri ini di masa lalu yang tersimpan baik disana.

Perempuan asal Eropa itu mengakhiri dongeng itu dengan tiga bait hikayat Banta Beuransah:

“Masing-masing dapat bahagian/adik abang mendapat istana/Banta Beuransah juga demikian/Raja kakanda begitu pula.

Demikian nasib masing-masing mereka/seorang raja seorang putri/kehendak Allah/limpahkan karunia/hasil pasti raja bermimpi.

Karena bahagia putra bertiga/masing mereka mendapat bahagian/dapat dara, dapat harta/dapat bahagia sepanjang zaman.”

Tidak hanya itu, relawan dari negeri seberang itu juga membacakan sebuah puisi lisan tentang pahlawan:

“Deungo lon, kisah po bungong panjoe,

Pahlawan Nangroe ulon calitra.

Di Meulaboh Uma Pahlawan, di

Bakongan Angkasah Muda

Sideh di Padang ni Imam Bonjol, Batak

ngon Karo Singamahraja

Di Aceh na Teungku Chik Ditiro,

Diponegoro di tanoh Jawa

Cahid Angkasah tinggay Cut Ali, prang

Beureuhi leubeh bak nyangka.”

Tepuk tangan pun amat riuh di bawah tenda itu setelah relawan asing itu selesai mendongeng yang diakhiri dengan pembacaan Hikayat Banta Beuransah.

Masih banyak lagi hikayat yang ada di kepala relawan bule itu, seperti Hikayat Num Parisi yang mengungkapkan tentang Kerajaan Islam di Semudra Pase, Hikayat Maleem Dagang yang bertutur tentang heroiknya perjuangan rakyat Aceh di bawah pimpinan Sultan Iskandar Muda melawan Portugis yang awalnya menduduki Malaka. Bahkan, Hikayat yang bernuansa Islami Eulijah Tujooh juga amat lancar dituturkan kepada putra-putri Aceh sehingga puluhan anak-anak itu semakin akrab dengan relawan asing itu. Semua itu karena memang merupakan mata kuliah di fakultasnya di Belanda. Putra-putri Serambi Makkah itu benar-benar tersenyum menatap masa depan mereka.

***

T

idak hanya berbagai hikayat yang dikuasai relawan asing itu, tapi juga tokoh-tokoh pejuang Aceh melawan penjajah. Di depan anak-anak Aceh itu, relawan asing itu bertutur tentang Sultan Malikul Saleh yang memimpin dengan adil dua Kerajaan Pase dan Peurelak yang merupakan awal kerajaan Samudera Pase. Paduka raja yang adil itu digantikan oleh Sultan Ahmad Laidkudzahir.

Dari relawan asing itu putra-putri Aceh mengenal sosok Sultan Mugayat Syah dan bersama adiknya Sultan Laksamana Ibrahim berhasil menewaskan Panglima Angkatan Perang Portugis, Horge, de Brito, namun pada pertemuan berikutnya di selat Malaka, Paduka Sultan pun tewas.

Lautan biru di Selat Malaka menjadi saksi abadi bagaimana rakyat Aceh berjuang melawan penjajah Portugis hingga titik darah yang terakhir.

Puluhan anak-anak, bahkan orang tua terpukau oleh kisah heroik yang dituturkan perempuan asal Belanda itu. Sungguh menakjubkan perempuan asing lebih banyak tahu tentang Aceh daripada warga Tanah Rencong sendiri. Itulah yang membuat anak-anak dan ibu-ibu di bawah tenda itu amat menyenangi kedua relawan asing itu. Mereka bener-benar mampu membuat warga Aceh tersenyum dan menatap masa depan dengan mata cerah, tidak dengan tatapan kosong dan hampa.

Relawan asing itu seakan sudah jatuh cinta di Serambi Makkah yang dikenalnya melalui mata kuliah dan diktat sejak mereka masih duduk di semester awal di Leiden. Tanah Rencong yang indah, Serambi Makkah yang elok, masyarakatnya yang ramah tamah dan dunia pun mencatat, bahwa hanya Aceh yang tidak pernah menyerahkan kedaulatannya ke penjajah meskipun Belanda pernah menggempur Aceh bertahun-tahun. Terlalu lama digempur penjajah dari segala penjuru menyebabkan rakyat Aceh bertempur tidak hanya dengan angkatan senjata, hingga lahirlah penyair dan sastra kelas dunia, Teungku Tjhik Muhammad Pantee Kulu dengan sastranya Hikayat Prang Sabi. Dunia menilai krya sastra itu setara dengan ILLIAS dan ODYSSEA sebagai karya sastra pujangga Hommerus di zaman Epic Era Yunani di tahun 900-700 sebelum Masehi.

Dua orang relawan itu mengagumi karya itu dan juga karya pujangga Aceh lainnya yang dijuluki”penyair perang”, seperti Abdul Karim atau Do Karim, Hassan bin Sabit, Ka’ab bin Malik dan Abdullah bin Rawahan yang membangkitkan semangat perang sabil dalam karyanya. Karya-karya Islami itu dikagumi masyarakat dunia.

Aceh amat terkenal karena selama lebih dari lima abad menghadapi gempuran penjajah yang datang dari segala penjuru dan negeri itu selalu saja utuh, tidak pernah luluh lantak, tidak banyak bangunan yang roboh, tidak terlalu banyak nyawa melayang padahal pertempuran selama lebih dari ratusan tahun. Sungguh merupakan rentang waktu yang teramat panjang. Aceh tidak pernah menyerah dan tetap berdiri tegar. Wilayah itu tidak sempat tercabik oleh penjajah.

Namun, ketika tsunami yang menyerang Serambi Makkah dalam waktu hanya beberapa menit, ratusan ribu manusia kehilangan nyawa disana, ratusan ribu bangunan roboh dan rata dengan tanah, puluhan ribu manusia hilang tidak diketahui keberadaannya, bahkan ratusan militer serta polisi juga ikut terbunuh melebihi korban perang. Warga Aceh tidak pernah menyerah kepada Belanda meskipun senjata yang tergenggam di tangan hanya sebilah rencong, tapi sama sekali tidak berdaya terhadap gelombang laut yang bernama tsunami. Hanya dalam hitungan menit saja, rakyat Serambi Makkah menyerah kepada gelombang laut itu. Betapa tragis nasibmu, wahai Aceh. Kehidupan seakan telah berakhir disana.

Itulah yang menyebabkan kedua relawan asal Negeri Kincir Angin itu, terutama Alice, amat kasihan melihat rakyat Aceh, kasihan melihat anak-anak yang telah kehilangan orang tua mereka dan kehilangan masa depan. Itulah sebabnya kedua relawan itu amat kerasan di Serambi Makkah dan menyatu dengan anak-anak korban bencana, padahal mereka menderita tubuh gatal-gatal, batuk, sesak napas, dan juga diare.

Kedua relawan itu dan mungkin ribuan relawan lainnya enggan meninggalkan kawasan Aceh yang elok dan indah. Mereka bekerja siang malam tanpa pamrih dan terkadang lupa makan, bahkan yang tugasnya hanya mengangkat dan menguburkan mayat juga banyak.

Itulah sebabnya kedua relawan berkebangsaan Belanda dan masih berstatus mahasiswi jurusan Antropologi Asia Tenggara itu amat asyik bersama puluhan anak-anak Aceh menggelar berbagai jenis tari dn nyanyi di bawah di kamp pengungsi.

***

S

epanjang hari langit si atas Serambi Mekkah selalu gemuruh bukan karena tsunami yang kembali menerjang, tapi karena suara pesawat yang tiap hari menurunkan berbagai bantuan dan juga relawan. Padahal jumlahnya sudah amat banyak, tapi masih tetap saja terasa kurang untuk mengangkat mayat dan menguburkannya, juga untuk membersihkan reruntuhan bangunan di berbagai tempat. Sudah ratusan alat-alat berat didatangkan dari berbagai daerah di Tanah Air tapi masih saja terasa kurang karena rumah dan bangunan yang rata dengan tanah tidak terhitung lagi.

Ketika pesawat-pesawat menurunkan para relawan itulah, Zahra termenung di bawah tenda pengungsi, mengasingkan diri dari kawan-kawannya yang sudah mengerumunir relawan asal Eropa itu untuk mendengarkan dongeng tentang Ainul Mardhliyah, ratu bidadari sorga yang cantik jelita.

Namun relawan bule itu tidak melanjutkan dongeng itu karena salah seorang anak tidak hadir, yakni Zahra.

“Mana Zahra?” relawan asing itu bertanya kepada puluhan anak-anak yang duduk bersila di depannya.

“Tampaknya Zahra sakit,” sahut salah seorang anak.

“Kasihan!” cetus relawan itu. “kalau begitu kita harus melihatnya. Kita harus membawanya ke posko kesehatan.”

Relawan asing itu segera beranjak dan menemui seorang gadis cilik sedang merenung dan wajahnya tampak murung.

“Kamu sakit, Zahra?” sapa relawan yang selalu tersenyum dan lembut itu.

Zahra menggeleng.

“Kenapa lesu?”

“Saya rindu rumah!”

“Rindu rumah? Bukannya rumahmu sudah roboh seperti halnya rumah-rumah penduduk lainnya? Hampir tidak ada lagi rumah yang utuh.”

“Saya ingin melihatnya, meski hanya tinggal puing dan reruntuhan, siapa tahu ada boneka kesayangan saya masih ada, siapa tahu ada baju ummi masih tersisa. Saya akan mengambil baju ummi dan memeluknya, sebab saya sangat rindu kepada ummi. Baju ummi juga untuk menghapus air mata saya....”

Kata-kata itu hanya membuat perempuan yang kehadirannya di Serambi Makkah sebagai relawan kemanusiaan itu amat iba, lalu segera memeluk gadis cilik itu.

“Kalau begitu, ayo kita bersama-sama melihat rumah itu. Kakak dan semua kawan-kawanmu akan ikut mencari boneka kesayanganmu dan juga sisa pakaian ibumu. Ayo kita pergi sekarang.”

“Terima kasih, kakak selalu baik kepada anak-anak Aceh yang sekarang sangat menderita.”

Zahra bangkit dan segera berjalan di sisi relawan asing itu, diikuti sejumlah anak-anak Aceh lainnya yang juga ingin melihat reruntuhan rumahnya masing-masing.

Ada perasaan sedih yang mendalam di hati relawan itu melihat amat banyak reruntuhan rumah sepanjang jalan.

Langkah relawan asing itu terhenti ketika di pinggir jalan melihat alat musik tertimbun kayu-kayu dan sampah lainnya.

“Kakak memungut apa?” sapa anak-anak yang mengiringi relawan itu dan berusaha membantunya menyingkirkan kayu dan sampah.

“Ini instrumen musik kuno bernama teganing, terbuat dari sepotong ruas bambu besar, asalnya dari Aceh Gayo. Teganing selalu dimainkan gadis-gadis Aceh Gayo di beranda rumah yang disebut lepo.”

“Apakah di Belanda tidak ada benda-benda seni seperti ini?” tanya Nadilah, seorang gadis Aceh yang cantik berusia 15 tahun.

“Khusus benda-benda purbakala asal Belanda tersimpan dengan baik di Rijkmuseum van Oudheden. Ada lagi Tropen Museum, yakni khusus menyajikan koleksi negara-negara ketiga. Namun yang sangat terkenal adalah Museum Vincent van Goch di Amsterdam yang menyimpan lukisan-lukisan terkenal di dunia, Museum Multatuli juga ada di Amsterdam.”

“Apakah di Belanda ada petani?” tanya Nazib yang badannya gemuk, kepalanya terbalut karena luka tertimpa runtuhan rumahnya.

“Banyak! Belanda luasnya hanya 41.548 km2. Pertanian yang paling utama adalah gandum dan Belanda sangat terkenal dengan ternak sapinya.”

“Apakah di sana juga banyak hutan?” seorang anak lelaki berusia dua belas tahun bertanya ingin tahu.

“Hutan di Belanda sangat sedikit. Namun tiap orang Belanda sangat gemar berkebun dan memelihara tanaman. Gunung yang tertinggi di Belanda hanya 321 meter dari permukaan laut. Dan Belanda merupakan negeri yang letaknya di bawah permukaan laut. Justru di kawasan di bawah laut itu merupakan pemukiman padat.”

“Pernahkah Tsunami merenggut banyak nyawa di sana?” tanya Nabilah lagi.

“Sebelum abad tujuh belas, Belanda selalu diterjang banjir, kebakaran, dan epidemi. Pada saat itu penduduk Belanda tetap saja sedikit. Namun, setelah abad itu berlalu Belanda mampu mengumpulkan dana yang besar sehingga setiap orang Belanda bersikap niewe waterweg, yakni berperang melawan air dan dibangunlah waduk dan dam serta sungai Rijn diperluas dan diluruskan sehingga Belanda benar-benar terhindar dari bencana alam. Bukan hal yang aneh bila permukaan laut dikeringkan untuk dijadikan pemukiman. Pertambahan penduduk yang amat besar terjadi tahun 1950 setelah penyerahan kedaulatan dari Belanda dan sekutu kepada Indonesia, banyak orang-orang Indo hijrah ke Belanda sehingga penduduk Belanda bertambah sangat spektakuler.”

“Apakah Kakak dilahirkan di kota besar seperti Amsterdam atau Rotterdam?” tanya salah seorang bocah perempuan.

“Tidak! Sama sekali tidak! Saya dilahirkan di desa Zoetermeer, terletak antara Rotterdam dan Leiden, kawasan itu sangat terkenal dengan sebutan Het van Holland!”

“Apa artinya itu?” semua anak-anak itu menandang Alice.

“Artinya Jantung Hijau Negeri Belanda.”

“Kalau begitu, Belanda adalah negara yang bersih!”

“Tidak hanya bersih, tapi bebas polusi, bebas dari kemacetan lalu lintas.”

“Banyakkah sekolah disana?”

“Tentu jumlahnya disesuaikan dengan jumlah anak usia sekolah. Namun untuk dimaklumi, bahwa Universiteit yang tertua di Belanda adalah Rijksuniversiteit Leiden yang sudah berusia hampir 500 tahun. Kemudian menyusul Universiteit Utrecht juga dibangun pada abad itu.”

Setetes demi setetes air mata bergulir di pipi Zahra ketika dia memandang reruntuhan rumahnya. Tidak mampu menahan kesedihan yang menggores hatinya, gadis cilik itu tersedu.

“Tidak usah menangis lagi, Zahra,” relawan asing itu mengusap rambutnya dengan lembut dan kasih sayang.

Gadis cilik itu tidak mampu membendung air mata, tidak mampu meredam kesedihan dalam hatinya. Lama dia tersedu.

“Semua adalah takdir, Zahra. Masih banyak anak-anak yang juga mengalami nasib yang sama, mereka kehilangan ibu, kehilangan ayah dan rumah. Zahra lebih beruntung karena masih punya ayah yang akan mengasuh dan membesarkanmu nanti. Hapuslah air matamu.”

Gadis cilik itu menyeka air mata.

Saya sudah tidak punya ibu lagi. Kalau suatu saat ayah menikah lagi, saya berharap dengan seorang perempuan yang seperti ibu, hatinya lembut, penuh kasih sayang, tidak pernah marah dan seorang perias pengantin,” ujar gadis cilik itu di depan relawan bule itu.

“Tidak mungkin secepat itu ayahmu akan menikah lagi. Banyak hal-hal yang harus dilakukan ayahmu, terutama bagaimana agar dapat mendirikan rumah lagi.”

Zahra menyeka sisa air mata di pipinya.

“Tolong katakan kepada ayah saya, kalau menikah harus dengan seorang perempuan yang pintar membaca Alquran dan tidak pernah melalaikan salat,” pinta gadis cilik itu.

“Tidak usah ragu kalau hal itu permintaanmu. Bukanlah semua perempuan Aceh adalah orang-orang yang pintar membaca Alquran dan rajin salat? Tidak ada yang meragukan hal itu. Pernah mendengar nama Snouck Hurgronje, bukan?”

“Ya, pernah. Dia adalah panglima tentara Belanda di Aceh!”

“Nah, Snouck mengetahui benar, semua warga Aceh, lelaki dan perempuan dapat membaca Alquran, sehingga Snouck akhirnya juga harus berlatih membaca kitab suci itu untuk melumpuhkan Aceh.”

Sesaat Zahra termenung.

“Ayo kita cari boneka kesayangan Zahra di bawah reruntuhan!” ajak relawan bule itu.

Belasan anak-anak yang ikut segera menyingsingkan lengan menyingkirkan reruntuhan rumah itu sebisanya. Tiba-tiba seorang bocah berteriak:

“Ini bonekamu, Zahra. Ini bonekamu!” bocah lelaki itu mengangkat tinggi-tinggi sebuah boneka kesayangan Zahra.

Zahra berlari-lari menghampiri bocah lelaki itu dan segera meraih boneka indah namun dikotori lumpur.

“Oh, bonekaku Putri Intan, aku sangat takut kehilangan dirimu. Syukurlah kamu mampu bertahan dari terjangan gelombang laut,” cetusnya dan mencium puas-puas boneka itu.

“Kamu memberi nama bonekamu Putri Intan, Zahra?” tanya relawan putih itu.

“Ya!”

“Dari mana kamu memperoleh nama seindah itu?”

“Dari ibu yang selalu mendongeng tentang Hikayat Malem Dewa.”

“Kamu senang dengan nama itu?”

“Tentu, karena dia inong dari sorga, sebagai ratu bidadari yang cantik jelita dan berbudi amat mulia.”

“Kamu seorang anak pintar, Zahra!” cetus relawan bermata biru itu dan menyeka lumpur di pipi Zahra yang berasal dari boneka kesayangannya yang terbenam dalam lumpur di antara puing-puing bangunan rumahnya yang roboh.

“Saya bersyukur Cut Ainul Mardiah kembali dalam pelukan saya dan akan menjadi teman saya tidur setelah saya tidak ada.”

Relawan asal Belanda itu tersenyum.

“Satu hal lagi yang ingin saya temukan dan mudah-mudahan tidak sempat dihanyutkan air laut.”

“Apa itu? Baju ibumukah?”

“Ya!” Zahra mengangguk. “ Saya membutuhkannya untuk menjadi selimut saya ketika tidur dan untuk menyeka air mata kalau saya menangis.”

“Ayo, kita cari!”

Relawan itu kembali menyisir puing-puing bersama anak-anak lainnya. Namun yang ditemukan bukan baju ibunya tapi, sebuah benda kecil, sebuah Alquran ukuran buku saku. Zahra juga mencium Alquran kecil itu yang seperti memiliki mukjizat tidak dihanyutkan air laut.

“Ibu selalu membaca Alquran ini sebelum tidur!” cetus Zahra.

“Itulah yang dikagumi semua orang, wanita Aceh amat taat kepada agamanya, rajin membaca, Alquran dan kental ibadah. Hampir tidak ada perempuan Aceh yang keluar rumah tanpa penutup kepala,” cetus perempuan relawan itu penuh rasa kagum.

Sesaat Zahra menatap Alquran yang baru ditemukan sahabatnya. Benda itu seperti mukjizat, meskipun bekas bangunan rumah itu penuh lumpur, tapi tidak setitik pun lumpur yang melekat padanya. Pada usianya yang belum genap sebelas tahun, Zahra sudah fasih membaca Alquran dalam acara peutamat beued atau khatam Alquran itu disaksikan pengurus Meunasah.

Semua harta benda yang ada di rumah itu sudah tidak ada lagi, semua disapu gelombang tsunami yang amat ganas. Pesawat TV terbawaw arus hingga entah dimana, juga kulkas hingga tempat tidur dan alat-alat dapur, hingga ijazah dan berbagai sertifikat, semua lenyap. Apalagi tas sekolah dan pakaian seragam tidak ada yang bersisa.

Ada perasaan sedih di hati gadis cilik itu setelah amat lama mencari sisa-sisa pakaian ibunya tapi tidak menemukannya. Semua dihanyutkan air, semua lenyap.

Tiba-tiba seorang anak lelaki sahabat Zahra bermain catoe berteriak:

“Apakah baju ibumu berwarna krem, Zahra?”

“Ya! Ibu senang warna krem!”

“Mana?”

“Di atas pohon itu!” bocah lelaki sahabat Zahra bermain dan mengaji, menunjuk ke arah puncak pohon jambu air yang tinggi dan burung pipit selalu bersarang di pohon itu, tapi gelombang laut yang marah ikut menghanyutkan sarang burung itu. Namun induk burung itu mengajak anaknya terbang ke bukit untuk menyelamatkan diri. Burung-burung itu tidak sempat jadi korban ganasnya laut, sama halnya dengan jangkrik yang bersembunyi di liangnya atau seperti semut-semut kecil yang segera masuk ke sarangnya ketika tsunami mengamuk amat dahsyat.

Bocah bernama Hamid itu tanpa diperintah segera memanjat pohon jambu air, meskipun cabangnya amat rapuh tapi bocah itu tidak mengenal takut. Semut-semut hitam tidak seekor pun melekat tampak melekat di tubuh bocah itu. Semut-semut itu tidak ingin menyakiti bocah itu.

Hanya dalam sesaat bocah lelaki itu sudah turun membawa sehelai pakaian berwarna krem dan Zahra buru-buru meraihnya, lalu memeluknya dengan amat erat.

“Oh, saya seakan memeluk ummi hari ini. Seakan ummi di sisi saya. Biarlah yang saya temukan hanya baju milik ummi, “ cetusnya dan air mata pun mengalir lagi.

Relawan Belanda itu membelai rambut Zahra penuh kasih sayang:

“Jangan menangis lagi, Zahra. Simpanlah air matamu!”

Ummi saya seakan hadir menjenguk keadaan saya!”

“Hentikan tangismu. Jangan ada lagi putra-putri Aceh yang menagis. Jangan ada lagi tangis di Serambi Makkah. Putra-putri Aceh harus tersenyum, harus menatap masa depan dengan penuh semangat dan penuh harapan.”

Zahra berusaha meredam tangisnya.

“Semua yang kamu inginkan sudah ditemukan dibawah reruntuhan rumahmu, seperti boneka kesayanganmu, baju ibumu, kemudian Alquran yang selalu dibaca ibumu….”, terdengar suara relawan bule itu sambil membelai rambut Zahra.

“Ya,biarlah yang lainya lenyap dibawa air laut, tapi salah satu pakaian ummi ada pada saya, untuk teman tidur saya di malam sepi.”

Perempuan bule itu merasa terharu dan ada sesuatu yang ditemukannya di antara puing-puing reruntuhan rumah itu, sesuatu yang amat berharga.

“Saya menemukan sesuatu milik ibumu, Zahra!”

“Menemukan apa?” Selendang ummi –kah?”

“Bukan!”

“Cincin?”

Perempuan berkulit putih itu menggeleng.

“Seuntai kalung?”

“Bukan!”

“Lalu apa?”

Sesaat perempuan bule itu menatap mata Zahra amat dalam dan di bola mata bocah itu ada perasaan rindu dan kasih saying ibundanya.

“Katakan dulu andainya kamu dewasa nanti kamu mau jadi apa?” ujar relawan itu.

Sesaat Zahra termenung, tidak mampu menyahut dan perempuan bule itu bertanya lagi:

“Apa cita-citamu?”

Tetap saja Zahra tidak mampu menyahut

“Mau jadi dokter?” Tanya perempuan asing itu.

Zahra menggeleng.

“Mau jadi pramugari?”

Gadis cilik itu sekali lagi menggeleng.

“Jadi artis?”

Gadis cilik yang sudah tidak punya ibu itu tetap menggeleng.

“Mau jadi karyawati bank?”

Tetap saja Zahra menggeleng

“Jadi insinyur?”

Zahra tetap menggeleng.

“Sarjana pertanian biar membantu petani agar hasil pertanian di negeri Aceh melimpah?”

“Tidak?”

“Kalau jadi pertambangan? Bukankah Serambi Makkah kaya dengan minyak, gas bumi, emas, semen, perak, pasir kuasa, batu gamping, dan masih banyak lagi hasil bumi yang melimpah.”

“Tidak!”

“Lalu mau jadi apa? Katakan sekarang, saya juga ingin mengatakan sesuatu kepadamu!”

“Saya mau….mau….., ucapan Zahra terputus-putus.

“Ayo lanjutkan!”

“Saya mau jadi ahli hukum, biar hokum benar-benar ditegakkan di Serambi Mekkah.”

“Hebat cita-citamu, Zahra.” Relawan berambut pirang itu menepuk-nepuk pundak Zahra penuh rasa kagum.

“Tapi saya tidak punya uang. Untuk menjadi ahli hukum harus lama duduk di bangku kuliah,” keluh Zahra diiringi desah napas panjang.

“Ya, harus duduk di fakultas hukum.”

“Rasanya tidak mungkin lagi, karena ibu saya sudah tidak ada dan ayah hanya seorang guru yang gajinya kecil dan rumah pun sudah diruntuhkan tsunami. Mungkin sekolah saya tidak akan sampai tamat, mungkin ribuan putra-putri Aceh tidak seorang pun yang mampu duduk di bangku sekolah lagi karena para orang tuanya harus membangun rumah yang biayanya amat mahal dan pekerjaan pun tidak ada. Kebodohan akan tersebar di setiap jengkal tanah di Aceh.”

“Kamu berpikir sejauh itu, Zahra. Tapi jangan pikirkan hal itu. Belajarlah baik-baik dan tekun, kamu pasti berhasil meraih cita-cita itu!”

“Bagaimana saya tidak memikirkan hal itu kalau tidak punya rumah itu? Dimana kami akan tinggal? Akankah selamanya kami tinggal di pengungsian?”

“Tidak selamanya!” Kamu akan segera mempunyai rumah lagi!”

“Dari mana uangnya? Dari mana ayah mendapatkan uang? Ayah bukan seorang pemain sulap yang pasti tidak mungkin mendapatkan uang puluhan juta dalam sekejap. Ayah saya hanya seorang guru.”

“Kamu yang akan mendapatkan uang berjuta-juta, Zahra!”

“Dari mana? Tuhan tidak akan legi menurunkan mukjizat ke dunia.”

Sesaat Zahra termenung dan menekur di atas serpihan bangunan rumahnya yang runtuh.

“Rasanya ibu tidak meninggalkan apa-apa lagi. Semua miliknya musnah disapu air laut.”

“Masih ada yang tersisa.”

Zahra menggeleng. Relawan asal Negeri Kincir Angin itu mengeluarkan sehelai kertas di laminating.

“Inilah benda paling berharga yang ditinggalkan ibumu untukmu, Zahra. Untuk pendidikanmu hingga menjadi seorang sarjana hukum kemudian melanjutkan ke Leiden, di Negeri Belanda.”

Perempuan bule itu menyerahkan sehelai kertas terbungkus plastik yang baru ditemukan di antara puing-puing rumah. Zahra menerimanya, tapi dia tidak mengerti.

“Apa arti kertas ini?” Tanya Zahra polos kepada relawan itu.

“Ini adalah sebuah polis asuransi jiwa dalam mata uang dolar. Tidak kurang dari lima belas ribu dolar, semua untukmu, Zahra. Cukup untuk membangun sebuah rumah dan cukup untuk membiayai pendidikanmu hingga ke perguruan tinggi.”

“Mungkinkah ibu berbuat seperti itu?” Sesaat Zahra menatap perempuan bule itu penuh tanda Tanya dan keraguan.

“Kenapa tidak mungkin? Setiap orang tua yang menyayangi anaknya pasti menjadi peserta asuransi untuk perlindungan anak-anaknya. Umur seseorang tidak dapat diduga kapan akan berakhir. Ibumu sudah memikirkannya, meninggalkan sesuatu yang terbaik, untuk masa depan anaknya. Polis asuransi ini akan segera jadi uang.”

“Oh…..”mendadak Zahra memeluk perempuan berambut pirang yang sudah amat lekat di hati anak-anak korban bencana tsunami. Saat itu, Zahra seakan menemukan kembali ibunya yang selalu lembut, penuh kasih sayang, dan penuh perhatian.

Lama perempuan bule itu memeluk tubuh Zahra. Belasan putra-putri Aceh yang sudah tidak punya ibu bapak lagi masih berkerumunan di sisinya.

“Putra-putri Serambi Makkah tidak boleh menangis lagi. Ribuan relawan datang ke Aceh tidak hanya sekedar mengangkat mayat, tidak hanya memberi bantuan pangan, tapi memberi harapan kepada putra-putri Aceh untuk mendapatkan masa depan yang cemerlang. Tersenyumlah kepada dunia.”

Belasan anak-anak korban bencana itu merunduk, menatap bumi yang baru saja dilanda bencana paling dahsyat.

“Hanya Zahra saja yang akan mendapatkan rumah lagi?” seorang bocah lelaki memberanikan diri bertanya.

“Tidak! Semua keluarga korban bencana ini akan mendapatkan kembali rumahnya. Bantuan dari berbagai negara terus mengalir tidak hanya dalam bentuk pangan, tapi membangun kembali rumah-rumah penduduk yang hancur. Juga rumah sakit dan sekolah-sekolah.”

“Syukur pada-Mu, Tuhan!” ujar salah seorang bocah bertubuh hitam legam.

“Semua putra-putri Aceh harus tekun belajar untuk meraih masa depan yang cerah dan penuh harapan. Banyak yayasan dan LSM di dunia, terutama di Belanda, yang akan menyantuni dan memberikan beasiswa berprestasi untuk belajar dengan gratis di Leiden dan pulang ke Aceh sebagai ahli di bidangnya. Di hari-hari mendatang, anak Aceh harus mampu membangun negerinya.”

“Sungguhkah itu?” salah seorang masih meragukan kata-kata itu.

“Salah seorang yang pasti akan mendapatkannya adalah Zahra. Jangan sedih kalau suatu saat nanti Zahra meninggalkan Aceh, tapi suatu saat pasti kembali untuk membangun negeri ini.”

Amat berat Zahra memeluk relawan asing itu. Belasan putra-putri Aceh merasa telah mendapatkan kembali harapannya. Tatapan mereka tidak lagi kosong dan hampa. Ada seulas senyum di wajah mereka. Ribuan relawan datang ke Serambi Makkah mengajak umat di sana memang untuk tersenyum.

***

P

uluhan pasang burung-burung yang terbang ke bukit ketika tsunami melanda kawasan Serambi Mekkah tampak hinggap di ranting-ranting pepohonan yang tersisa dan ridak sempat dirobohkan gelombang air laut yang sedang murka. Bangsa burung adalah makhluk yang paling berbahagia di bumi Tanah Rencong, sebab tidak seekor pun burung yang menjadi korban tsunami, bahkan anak burung yang paling kecil pun sempat terbang ke bukit ketika terdengar seuara menggelegar kemudian muncul gelombang dahsyat lebih tinggi dari pohon kelapa dan kecepatannya lebih dari 200 km per jam.

Semut-semut kecil yang biasanya beriringan mengusung belalang mati ke sarangnya untuk makanan mereka, juga tidak banyak yang menjadi korban. Sebab, semut-semut kecil itu segera masuk ke dalam lobang diantara bebatuan atau dibawah tanah sehingga binatang kecil itu terhindar dari amukan tsunami. Nyali semut-semut kecil itu merasakan akan adanya bencana paling dahsyat sehingga mereka menyusup ke dalam liangnya. Hamper tidak ada satu semut pun yang mati. Burung-burung dan semut-semut kecil itu lebih beruntung dari manusia yang amat banyak menjadi korban. Apakah karena burung-burung dan semut-semut kecil itu tidak pernah berdosa? Apakah karena burung-burung itu selalu hidup damai, bersih dan tidak pernah melakukan kesalahan terhadap yang lainnya? Apakah karena burung-burung itu tidak pernah menorehkan luka pada sesama? Apakah semut-semut kecil itu tidak pernah mencubit sesamanya? Lihatlah betapa damainya jutaan semut-semut kecil yang beriringan mengusung belalang mati untuk makanan mereka. Tidak ada yang saling membunuh merebutkan makanan. Tidak ada yang saling menipu. Semua bekerja sama mengusung belalang mati itu dan membagi makanan itu dengan seadil-adilnya.

Tidak seperti burung-burung atau semut-semut kecil yang selamat dari bencana, tikus dan kecoa amat banyak yang mati. Sebab tikus adalah hewan pencoleng, tikus banyak yang menggerogoti padi milik petani, banyak yang mencuri makanan di atas meja. Dan manusia yang sifatnya seperti tikus juga amat banyak diman-mana.

Kini burung-burung itu telah kembali dari perbukitan dan melihat banyak mayat-mayat yang bergelimpangan dan gedung-gedung yang runtuh. Hati burung-burung itu terenyuh. Hati semut-semut kecil itu juga amat nyeri. Amat pedih. Mata mereka basah karena tangis melihat bumi Tanah Rencong yang luluh lantak rata dengan tanah.

Kini burung-burung itu kembali merajut sarangnya di antara daun-daun pepohonan yang tidak ditumbangkan amukan air laut. Sepasang demi sepasang burung-burung itu telah membangun kembali sarangnya di puncak pohon. Burung-burung itu seperti tidak takut bencana dahsyat di kawasan itu akan terulang kembali.

Seperti burung-burung itulah Pak Agam yang sehari-hari adalah guru seni rupa di sebuah SMA Negeri sedang membangun kembali rumahnya yang roboh dan benda-benda koleksi kesayangannyajuga ikut musnah diporak-porandakan air laut. Sebagai seorang guru seni rupa, Agam amat sangat banyak memiliki benda-benda kuno yang amat bersejarah, mulai dari kendi air, berbagai kemasan dari daun pandan yang diawetkan, peralatan memasak dari tembaga, tempat air tradisional dari daun lontar, apalagi alat-alat rumah dari rotan, patung pahatan dari kayu, perhiasan dari perak bakar, tenunan tradisional Aceh, topeng, senjata seperti rencong Aceh yang gagangnya berukir dan berbagai jenis seni kaligrafi berbahasa Arab yang amat indah, dan banyak lagi. Namun, benda-benda kesayangan lelaki itu sudah lenyap ditelan gelombang dahsyat.

Bila ada warga Serambi Makkah yang paling banyak kehilangan adalah lelaki muda bernama Agam yang telah kehilangan istrinya,seorang perias pengantin, dan benda-benda seni sebagai alat peraga untuk sekolahnya, juga benda-benda koleksi perupa terkamuka yang amat mahal harganya.

Kini lelaki itu mulai membangun kembali rumahnya yang hancur. Lelaki itu adalah warga yang pertama kali membangun kembali rumahnya, tanpa mengharapkan bantuan dari pemerintah, tanpa bantuan dari LSM, tanpa bantuan dari dana luar negeri yang amat banyak mengalir ke Aceh.

Lelaki itu amat bersyukur, ketika istrinya masih hidup diam-diam menjadi pemegang polis asuransi dalam bentuk dolar. Kini setelah istrinya pergi untuk selamanya dan dikuburkan secara massal, polis asuransi itu telah menjadi uang. Siapa yang telah menemukan polis asuransi itu di antara puing-puing kalau tidak Zahra, putrinya? Siapa pula yang telah membantu proses pecairan polis asuransi itu kalau bukan putrinya bersama seorang relawan dari Belanda bernama Alice van Kherkoff?

Pagi itu angin berhembus lembut ketika lelaki muda guru seni rupa itu sedang melakukan sesuatu atas lahan yang pernah menjadi tapak rumahnya yang sudah luluh lantak. Beberapa orang hadir di sana, ketika sedang didirikan tiang utama atau tameh raja dan tameh putroe. Burung-burung di ranting pohon pun menciricit nyaring seperti tidak pernah terjadi bencana. Burung-burung itu seperti ikut memanjatkan doa-doa agar rumah yang sudah mulai dibangun di atas lahan itu adalah rumah yang serasi dan tidak akan menjadi korban bencana alam lagi.

Tiba-tiba seorang lelaki bule muncul.

“Selamat pagi, Pak Agam!” sapa bule itu dengan berbahasa Indonesia yang cukup lancar.

“Selamat pagi, Anda siapa?” sahut lelaki muda itu menatap tamunya yang tampak amat sopan.

“Saya Honsen Winters, relawan dari Australia!” lelaki bule itu mendekat.

“Terima kasih atas kedatangan Tuan Honsen ke negeri saya yang sudah hancur lebur!”

“Saya senang dapat bertemu dengan Pak Agam yang pertama kali membangun rumah di kawasan paling parah diterpa tsunami. Pak Agam tidak trauma atas bencana itu? Pak Agam tidak beniat untuk memilih tempat bermukim yang lebih aman dari tsunami?”

“Saya sudah bertahun-tahun bermukim di kawasan ini. Saya sangat mencintai tempat ini. Disini saya dilahirkan, disini saya dibesarkan, disini saya menikah dan disini anak saya satu-satunya lahir.”

“Ya, saya belum mampu melupakannya.”

“Pak Agam sedang melakukan apa?” Bule kelahiran Melbourne itu lebih mendekat.

“Peusijuek Peudang Rumoh.”

“Apa artinya itu?”

“Upacara sakral memohon keselamatan bagi rumah kami, seperti upacara tepung tawar.”

“Bagus sekali. Saya senang melihatnya.”

“Banyak hal tentang Aceh yang akan anda lihat!”

“Ya, saya sudah melihatnya. Saya jadi sangat tertarik dengan Aceh. Ayah saya adalah seorang diplomat yang sudah berkeliling Asia dan paling lama tinggal di Jakarta.”

“Pantas Anda dapat berbahasa Indonesia dengan baik. Juga berbahasa Aceh?”

Lelaki muda yang telah kehilangan istrinya itu tersenyum.

“Pak Agam tidak takut tsunami akan datang lagi?”

“Kalau hal itu terjadi adalah kehendak Allah!”

“Bukankah menurut para ahli, kawasan ini sangat rawan dengan tsunami?”

“Ya, saya sudah mendengarnya. Bencana itu akan terjadi lagi tujuh puluh atau seratus tahun mendatang. Kalau hal itu muncul lagi, saya sudah meninggal.”

“Kasihan kepada anak cucu kalau mereka akhirnya juga menghadapi bencana lagi!”

“Saya sudah memikirkannya. Saya berharap pemerintah atau dunia internasional sudah menemukan warning atau aba-aba sedini mungkin akan terjadinya gempa berkekuatan tinggi dan diikuti oleh tsunami yang mengerikan itu sehingga warga dapat segera menghindar.”

“Mudah-mudahan saja demikian hendaknya agar tidak ada lagi korban yang terlalu banyak ketika bencana itu terjadi.”

“Ya!”

“Lelaki bule asal Australia itu dengan tekun menyaksikan Peusijuek Peudang Rumoh yang dilakukan lelaki yang masih berduka karena kehilangan istri tercinta.

“Saya sedang mencari sahabat saya,” kata relawan asal Negeri Kangguru itu.

“Nona Alice van Kherkoff. Saya mendengar, bahwa dia selalu bersama-sama putri Pak Agam. Dia selalu membawa Zahra kemana pun pergi!”

“Ya. Mereka sedang berada di tenda sebelah timur!” Lelaki itu menunjuk arah timur.

“Alice seorang relawan yang baik. Dia senang berada disini, bahkan ingin menetap disini.”

“Kami sering bertemu. Dia banyak belajar tentang Aceh di Universitas Leiden. Saya tahu persis, dalam dirinya juga ada titisan darah Aceh.”

“Ya, Alice sudah amat banyak bercerita tentang dirinya, juga tentang kakek moyangnya yang menikahi perempuan Aceh ketika negeri ini masih dipimpin oleh Sultan Mahmud Syah.”

“Alice sering datang ke Jakarta lalu ke Aceh. Kami sering bertemu dan sesekali makan bersama. Bahkan tiga tahun yang lalu, ketika dia masih seorang mahasiswa saya menemani menelusuri Aceh, mulai dari Sabang, Meulaboh, Lokhnga, hingga Lhokseumawe dan pantai Lhokbubon!”

“Wah, itu tempat wisata yang amat indah di Aceh Barat.”

“Setelah bertahun-tahun tidak bertemu akhirnya kami sama-sama diberi tugas ke Tanak Rencong ini.”

“Silahkan menemuinya bersama anak saya di tenda itu.”

“Terima kasih. Semoga rumah Pak Agam segera selesai dan berbahagia disini.”

“Terima kasih.”

***

D

esa di atas bukit itu adalah sebuah desa yang indah, sejuk dan damai. Pepohonan tumbuh disana-sini dan burung-burung mencericit di rantingnya. Di desa di atas bukit itulah setelah tsunami mengamuk desa yang elok itu jadi tempat pengungsian yang paling aman. Belasan anak-anak sedang tekun menggambar bebas yang dipimpin oleh seorang bule yang rambunya pirang dan matanya biru bernama Alice van Kherkoff. Tidak seorang pun dari belasan anak-anak itu berwajah muram, semua tampak riang.

Pagi itu Alice van Kherkoff mengenakan jins longgar berwarna gelap, kaus berlengan warna putih dan bergambar kincir angin, bersepatu cats putih. Nona bule itu tampak cantik sekali. Sebelum menginjakkan kaki di bumi Tanah Rencong, nona bule itu buru-buru membuka seuntai kalung bergambar salib karena dia seorang penganut Kristen yang fanatik. Alice van Kherkoff menyadari, bahwa Aceh sangat menjunjung tinggi syariat islam dan tidak menyenangi segala lambang-lambang agama lain. Itulah sebabnya, Alice tidak ingin menunjukkan segala atribut tentang agama yang dianutnya.

Beda dengan relawan asing lainnya yang selalu tidak tanggap dengan suasana Islami di Aceh. Ada relawan dari Taiwan yang mengumbar aurat dengan mengenakan celana ponggol pendek dan ketat, kaos oblong yang dadanya terbuka, mengenakan anting-anting sebelah dan tidak jarang di antara relawan asing itu merokok di depan anak-anak Aceh, padahal bagi orang Aceh merokok adalah makruh. Bahkan, yang menenggak minuman keras di depan masyarakat Aceh dan keadaannya setengah mabuk dalam mengangkat mayat juga banyak. Hati rakyat Aceh akan tertusuk oleh sikap relawan yang tidak menghargai Aceh yang Islami.

Belasan anak-anak di bawah tenda itu sedang asyik menggambar bebas sementara Alice van Kherkoff membunyikan kaset dan terdengar lagu Bungong Jeumpa. Dalam benak Alice pastilah anak-anak Aceh itu menggambar gelaombang laut yang lebih tinggi dari pohon kelapa, atau menggambar reruntuhan rumah atau mobil yang dihanyutkan air laut yang melimpah hingga ke barat.

Bencana itu memang telah meluluh-lantakkan Aceh. Bencana itu tidak hanya menghancurkan fisik kawasan Tanah Rencong, tatanan sosial dan kebudayaan juga ikut rusak dan hancur pasca tsunami. Sebab, perangkat pemerintahan mulai dari RT sampai dengan kontor Bupati dan Gubernur, bahkan markas militer juga porak poranda.

Bagi putra-putri Tanah Rencong, tsunami di samping menyebabkan banyak korban, harta benda, juga mengandung banyak hikmah. Bagi putra-putri Aceh, luluh-lantaknya tanah kelahiran mereka memberi mereka pelajaran, bahwa Tuhan menyayangi rakyat Aceh. Selain mau memanggil hamba-Nya yang beriman sebagai syuhada, Allah ingin menyapu bersih Tanah Rencong dari kotoran dan najis yang akhir-akhir ini sudah banyak mencemari negeri itu. Tuhan ingin menghacurkan kafe-kafe yang mulai banyak mengotori Serambi Makkah. Tuhan ingin menyapu bersih para koruptor dan tikus-tikus di kalangan birokrasi. Tuhan ingin menyirami bumi Serambi Makkah dengan darah para syuhada.

Pastilah putra-putri Aceh dalam menggambar bebas itu akan menggambar tentang dahsyatnya tsunami dan korban-korban yang berjatuhan. Ternyata pola pikir Alice van Kherkoff keliru. Tidak seorang pun yang menggambar tentang dahsyatnya bencana itu.

Seperti halnya dengan Mahmud, bocah lelaki itu menggambar tentang pesawat yang penuh dengan penumpang.

“Apakah ini gambar pesawat tempur, Mahmud?” tanya Alice sesaat melihat hasil lukisan bocah kelahiran Aceh Jaya itu.

“Bukan! Bukan pesawat tempur, tapi pesawat penumpang.”

“Siapa penumpang pesawat itu?” tanya bule kelahiran Belanda itu.

“Mereka adalah anak-anak Aceh yang dibawa keluar dari Aceh oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan tujuan tertentu. Mereka selalu menangis di Jakarta, bukan karena tsunami telah menghancurkan negerinya, tapi karena amat sedih meninggalkan tanah kelahiran tercinta.”

“Lalu mereka pulang beramai-ramai walaupun mereka tidak punya rumah maupun orang tua lagi?”

“Ya, mereka bertekad pulang apapun yang terjadi. Mereka rindu Aceh dan mereka rela mati untuk negerinya. Bukankah seperti itu semangat Tengku Cik Ditiro? Bukankah semangat itu yang dimiliki oleh Panglima Polem dan Cut Nyak Dhin?”

“Hebat kamu, Mahmud. Saya sangat senang pada lukisanmu. Saya kagum kepadamu. Kamu pasti anak pintar.”

Alice van Kherkoff hanya tersenyum-senyum dikulum. Dia memperhatikan lukisan anak-anak lainnya. Sesaat relawan asal Belanda itu tertegun ketika melihat seorang bocah perempuan, Habibah melukis sebuah truk penuh muatan.

“Apa yang kamu tampilkan dalam lukisan ini, Habibah?”

“Truk penuh muatan pangan untuk Aceh.”

“Dari mana?”

“Dari seluruh penjuru dunia. Juga dari Belanda.”

Relawan bule yang matanya biru itu hanya senyum-senyum. Dia mencoba untuk melihat anak-anak lainnya dan tertegun ketika melihat Zahra menggambar seekor kucing.

“Kenapa kamu menggambar kucing, Zahra? Apa maknanya?”

“Saya memiliki seekor kucing yang cantik dan bersih. Kadang-kadang kucing itu menemani saya tidur.”

“Lalu kucing itu juga jadi korban tsunami.begitukah?”

Tidak! Tidak seekor kucing pun yang mati karena tsunami di Aceh. Sebab kucing adalah binatang yang amat pintar berenang dan memanjat pohon. Kucing memiliki nyali yang amat tajam dan menyadari tanda-tanda akan terjadi bencana dahsyat lalu segera berlari ke bukit.”

“Lalu kamu sudah menemukannya kembali?”

“Kucing itu sudah kembali. Kucing itu sudah bersama saya. Saya sangat menyayangi dia, seperti halnya Rasulullah juga sangat senang kepada kucing.”

“Bagus, Zahra.”

Tidak satu pun dari belasan anak-anak yang sudah tidak memiliki ayah bunda dan rumah lagi yang menggambar tentang ganasnya bencana tsunami. Mereka menggambar mesjid Baiturrahman yang tetap tegak dengan kukuh. Ada yang menggambar burung yang terbang dari arah bukit, ada yang menggambar tentang tsunami terjadi dan roda kehidupan telah menggeliat kembali. Tidak ada lagi yang bicara tentang kesedihan. Tidak ada yang bicara tentang air mata dan kehancuran. Semua ingin Tanah Rencong kembali bangkit dan semua warganya membangun negeri. Lihatlah, ada bocah lelaki yang menggambar axcavator yang sedang menggali tanah bukan untuk mengubur mayat secara missal, tapi untuk pondasi gedung pemerintahan yang baru.

Sebagian besar masyarakat Aceh sudah mulai tersenyum. Fajar baru telah terbit di Serambi Makkah. Saat itulah, ketika Alice van Kherkoff itu sedang memperhatikan anak-anak menggambar bebas, muncul seorang lelaki bule kelahiran Melbourne.

“Good morning, Miss Alice!” sapa lelaki itu.

“Good morning, Mr. Hons!” sahut Alice ramah dan mereka langsung berjabat tangan erat sekali.

“I’m very glad to see you again, I never think it before.”

“So am I, moreever we meet in a land destroyed totally by a tsunami.”

“Do you like to stay here longer?”

“Of course, I do.”

“When will you go back to Netherland?”

“I think, I’m very reluctant to do that.”

“So, do you to stay permanently in Aceh?”

Perempuan bule bermata biru itu tersenyum.

“Hons,” tutur Alice lagi. “Whe are staying in Tanah Rencong reuiring us to be fanatic on Moslem? We can speak Indonesian language fluently, why don’t we speak Indonesian language as an image to respect Acehnese?”

“Oke, Alice. Pemikiranmu bagus!” sahut lelaki kelahiran Negeri Kangguru itu memulai pembicaraanya dengan bahasa Indonesia.

“Aku sudah sangat akrab dengan anak-anak Aceh. Tanyalah dari ujung ke ujung perkampungan, tanyalah setiap bocah penghuni kamp mereka pasti mengenalku.”

“Kamu benar-benar hebat, Alice.”

“Bocah-bocah itu sudah sangat dekat denganku. Itulah yang menyebabkan aku enggan untuk cepat-cepat pulang.”

“Ingin mendapatkan jodoh disini pula?”

“Boleh jadi begitu!” Sekali lagi relawan asal Negeri Kincir Angin itu tersenyum. Honsen Winters merasakan hatinya berbunga-bunga ketika bertatapan pandang dengan Alice.

“Bukankah disini banyak relawan yang gagah?” Mau dari Jerman ada, mau dari Perancis juga ada. Mau memilih relawan dari Itali juga banyak yang gagah.”

“Lalu bagaimana dengan relawan dari China, Korea dan Bangladesh?”

“Ah. Hos. Aku tidak pernah bermimpi untuk bertemu mereka. Kamu tidak suka bila aku menikah dengan lelaki China dan dibawa ke Negeri Panda itu, bukan? Kau senang aku dibawa ke Beijing?”

“Takdir Tuhan mempertemukan kita disini, di kawasan bencana ini. Rasanya aku berlebihan kalau aku berkata kepadamu, bahwa aku selalu memikirkan dirimu sejak pertama kali kita bertemu di Taman Bunga Nusantara di Capanas dan kita sama-sama naik kereta api kuno keliling kebun itu dan aku mengagumi bunga tulip yang tumbuh subr di tanah itu.”

Ah. Hons. Aku juga sesekali ingat kepadamu. Bagaimana kuliahmu? Sudah kamu raih ijazah psikiater itu?”

“Tentu! Dan dengan nilai cumlaude pula.”

“Aku senang mendengarnya.”

“Aku ditugaskan disini untuk memberikan terapi kepada masyarakat Aceh yang butuh perhatian, terutama terhadap anak-anak.”

“Kita akan saling membantu.”

“Sudah berapa mayat yang kamu angkat, Hons?” Alice menatap wajah lelaki itu dalam-dalam.

“Sama dengan kehadiranmu disini, tugas kita bukan untuk mengangkat mayat-mayat yang bergelimpangan disana-sini, tapi untuk tugas-tugas kemanusiaan, terutama bagi mereka yang masih hidup dan membutuhkan bantuan tetapi.”

“Maafkan aku.”

***

B

ulan sabit tampak bergantung di langit yang cerah. Langit warna biru dan bintang-bintang bertaburan. Angin pun berhembus lembut, mempermainkan daun-daun pepohonan. Sejak terjadinya bencana paling dahsyat hampir semua kawasan di Serambi Makkah itu sepi. Tidak ada suara radio atau tv dan mereka tidak lagi memiliki benda-benda elektronik seperti itu karena sudah direnggut ganasnya air laut.

Sisa warga yang selamat hanya mengurung diri di bawah tenda-tenda sambil menunggu pemerintah menyediakan rumah-rumah bagi mereka.

Sepasang manusia bule berjalan di atas jalan setapak setelah sehari penuh bersama para pengungsi. Mereka sedang pulang ke pemondokannya masing-masing untuk istirahat dan tidur, kemudian kembali esok hari melanjutkan aktivitasnya sebagai relawan. Sepanjang jalan setapak yang mereka lalui terdengar nyanyian jengkrik. Binatang kecil itu pun selamat dari amukan air laut yang menerjang daratan karena mereka segera sembunyi di liangnya bawah tanah diantara rerumputan hijau ketika mendengar suara gemuruh.

Lihatlah, rumput-rumput halus itu juga tidak tercabut dari akarnya ketika air yang ganas itu menerjang, sementara pohon-pohon besar tumbang dan dihanyutkan air. Hampir tiap hari mereka bertemu dan pulang bersama. Ada getar-getar halus di hati lelaki kelahiran Australia itu untuk selalu bertemu Alice meskipun sesaat.

“Alice!” tiba-tiba saja Honsen berhenti melangkah.

“Kenapa berhenti disini?”

“Aku ingin duduk sejenak!” Tiba-tiba saja lelaki kelahiran Australia itu duduk di atas batang kayu yang ditumbangi tsunami.

“Duduklah!” pinta lelaki itu.

Perempuan bule berambut pirang itu duduk disisi lelaki itu.

“Kita menatap langit disini, memandang bulan sabit dan bintang-bintang.”

“Dan mendengar nyanyian jengkrik,” sahut Alice.

“Aku ingin berbicara serius denganmu.”

“Tentang apa?”

“Tentang sesuatu yang mengganjal di rongga hatiku.”

“Adakah sesuatu kendala disini? Kamu merasa kaku berada di negeri Tanah Rencong ini?”

“Oh, sama sekali tidak!”

“Lalu kenapa?”

Perlahan sekali tangan lelaki itu menyentuh ujung jari Alice dan membelainya.

“Aku bahagia bertemu denganmu disini,Alice.”

Alice seperti tidak acuh pada kata-kata itu. Dia masih menatap bintang-bintang di langit dan awan putih berarak.

“Aku bicara serius, Alice. Bolehkah aku menatap matamu sesaat saja?”

Alice menatap lelaki itu. Terasa tatapan lelaki itu teramat dalam dan penuh arti.

“Aku senang menatap sepasang matamu, Alice.”

Tidak ada kata-kata yang diucapkan perempuan bule asal Belanda itu.

“Bolehkah aku memiliki sepasang mata yang indah ini?”

“Hons. Apa makna kata-katamu?”

“Aku ingin memiliki sepasang matamu, ingin memiliki hidung mungil ini dan sepasang bibirmu.”

“Aku tidak mengerti, Hons.”

“Itu artinya aku mencintaimu, Alice.”

“Tapi kita sedang melaksanakan tugas kemanusiaan di negeri orang, Hons.”

“Tapi tugas-tugas kemanusiaan itu tidak terhalang, bukan?”

“Aku tidak dapat berkata apa-apa malam ini!”

“Aku hanya ingin mendengar satu kata saja darimu. Kau tidak menutup hatimu, bukan?”

Lama Alice tidak berkata-kata. Dia menyadari, bahwa selama ini dia masih sendiri. Belum ada seorang pun lelaki yang pernag menggugah hatinya. Selama ini belum ada seorang pun pria yang menggetarkan hati dan jantungnya.

“Hanya satu kata yang ingin kudengar darimu, Alice. Tertutupkah pintu hatimu bagiku?”

Lama Alice tidak mampu untuk berkata-kata, tapi akhirnya sepasang bibir itu bergetar lirih diantara desau angin malam.

“Maafkan aku, Hons.”

“Tertutupkah pintu hatimu terhadapku, Alice?”

“Terus terang, pintu hatiku tetap tertutup untuk siapa saja.”

“Juga terhadapku?”

“Ya!”

“Aku akan selalu ada di sisimu, Alice. Aku ingin melindungi dirimu.”

“Tapi aku merasa aman disini!”

“Alice, dengarkan aku!”

“Aku masih ingin dekat dengan putra-putri Aceh. Kamu tahu bukan, bangsaku pernah menjajah negeri ini selama ratusan tahun. Apa salahnya aku menebusnya dengan berbuat baik kepada anak-anak Tanah Rencong ini? Kau pun tahu, bahwa kakek moyangku pada akhir abad ke delapan belas memboyong perawan Aceh ke Belanda hingga lahirlah cucu-cucunya dan salah satunya adalah aku. Dalam diriku juga ada titisan darah Aceh.

Betapa mulia hati gadis itu. Dia menyadari bangsanya pernah menjajah negeri ini selama ratusan tahun, mengeruk kekayaan negeri ini, melakukan kerja, melakukan penindasan dan berbuat sewenang-wenang. Dia menyadari, bahwa bangsanya pernah menjadi spekulan lada dalam jumlah besar sehingga Aceh mengangkat senjata dan menyatakan perang dengan Belanda. Sekarang gadis berdarah Belanda itu ingin menebus kekejaman yang dilakukan bangsanya. Dia ingin mengabdi kepada warga Aceh.

“Ingat, Honsen. Kita berada di sebuah negeri yang penduduknya amat menjunjung tinggi nilai-nilai Islami. Kalau aku menerima kehadiranmu di hatiku, kita akan selalu bertemu, kita akan selalu menghendaki kemesraan dan aku pun akan selalu rebah di dadamu. Kau akan memelukku erat sekali dan menciumku. Masyarakat Tanah Rencong akan marah sekali melihat perilaku seperti itu.”

“Tapi kita melakukan itu tidak disini, Alice. Kita dapat terbang ke Medan.”

“Tidak!”

“Kita dapat pergi ke Jakarta. Medan-Banda Aceh seperti tidak berjarak lagi sekarang.”

“Tidak!”

“Atau kamu menghendaki kita jalan-jalan ke Singapura suatu saat nanti?”

“Tidak!”

“Hatimu terlalu keras, Alice!”

“Tidak seperti itu, Hons. Aku hanya ingin lebih lama disini, bersama anak-anak Serambi Makkah.”

“Aku sangat kecewa, Alice.”

“Maafkan aku!” hanya itu yang mampu diucapkan perempuan asal Negeri Kincir Angin itu. Dan lelaki itu menghela napas panjang. Ada rasa perih di relung hatinya.

Lama lelaki asal Australia itu menekur. Lelaki itu menyadari isi hati gadis bermata biru di depannya. Alice sudah amat dekat dengan putra-putri Aceh yang telah kehilangan saudaranya. Bahkan yang kehilangan ayah bundanya juga banyak.

Akan halnya Alice, dia tidak akan pernah menyesali telah menolak kehadiran lelaki gagah yang berasal dari Negeri Kangguru itu. Dia tidak pernah menyesal menolak uluran tangan lelaki itu, padahal lelaki itu adalah seorang lelaki gagah dan berpendidikan tinggi. Padahal Alice sudah lama mengenal lelaki itu.

***

T

idak seorang pun menghendaki putra-putri Tanah Rencong terlalu lama bermuram durja. Tidak ada satu pun manusia yang menghendaki anak-anak Serambi Makkah hanya mengenang nasibnya yang malang. Mereka tidak boleh terlalu lama meninggalkan bangku sekolah. Syukurlah ada beberapa pihak, terutama pihak asing yang telah bermurah hati membangun kembali gedung-gedung sekolah yang sudah dirobohkan air laut yang murka.

Dan salah seorang yang amat bersyukur atas dibangunnya gedung-gedung sekolah itu adalah seorang lelaki muda bernama Agam yang telah kehilangan istrinya. Proses belajar-mengajar tidak terlalu lama terhenti.

Meskipun Agam sudah kehilangan istrinya tercinta, tapi langkahnya tampak tegar menuju gedung sekolahnya. Dia berharap anak-anak didiknya juga melangkah tegar dan tidak ada wajah duka di dalam kelasnya ketika Pak Agam memberikan pelajaran seni rupa.

Namun, lelaki guru seni rupa itu tertegun ketika hadir di depan kelas yang biasanya dipenuhi murid-muridnya. Hal pertama kehadirannya di depan kelas lelaki itu melihat beberapa bangku yang kosong. Tidak lebih dari dua puluh lima murid yang hadir, padahal selama ini muridnya tidak kurang dari empat puluh.

“Mana Azizah?” Tanya guru seni rupa itu kepada murid perempuan yang disayangi lelaki pengajar seni rupa di SMA itu. Azizah amat besar perhatiannya pada mata pelajaran seni rupa. Gadis itu amat paham, bahwa karya seni, terutama seni rupa merupakan tanda peradaban suatu bangsa, di samping mengutamakan perilaku budi serta identitas nasional suatu negeri dan pelestarian tradisi.

Tidak ada sahutan dari murid-murid yang hadir ketika guru mereka bertanya tentang salah seorang murid yang tidak hadir. Semua menundukkan wajah.

“Tidak ada yang melihat Azizah?”

Semua murid lelaki mengangkat wajahnya. Suaranya terdengar parau:

“Kita harus merelakannya pergi, Pak. Jenazahnya ditemukan dekat meunasah.”

“Inna lillahi wainna ilaihi rojiun,” terdengar getar bibir sang guru sambil menundukkan wajah.

“Tapi syukurlah yang menemukan adalah keluarganya sendiri sehingga tidak sempat dikuburkan secara missal.”

“Ada yang pernah mendengar kabar tentang Yasin?” Tanya sang guru lagi menanyakan muridnya.

“Yasin juga begitu, Pak. Namun jenazahnya tidak ditemukan hingga saat ini.”

“Mahmud, Rifai, Halimah, Bakri, dan Fadlan sudah jelas menjadi korban tsunami.”

“Biarlah mereka pergi sebagai syuhada dan kita hanya mendoakan semoga Allah menempatkan di tempat yang sebaik-baiknya.”

“Tuhan masih melindungi salah seorang kawan kami Kalsum, Pak. Memang ia sempat dihanyutkan air dan tubuhnya ditemukan di persawahan tapi sepasang matanya cedera karena benturan-benturan ketika ia dihanyutkan air deras.”

“Mudah-mudahan Kalsum akan dapat segera hadir di kelas kita.”

Tidak kurang dari 14 murid yang telah menjadi korban ganasnya bencana itu. Di kelas lain pasti juga begitu. Ribuan murid-murid sekolah telah menjadi korban ganasnya air laut yang murka dan menerjang daratan. Tidak hanya ribuan murid yang menjadi korban, mati atau hilang, tapi para guru juga banyak yang terseret arus hingga menemui kematiannya dan tewas sebagai syuhada. Ratusan gedung sekolah juga hancur berkeping-keping, rata dengan tanah.

Seperti halnya guru biologi, jenazahnya ditemukan dekat jembatan. Guru bahasa dan sastra juga ditemukan telah menjadi mayat dekat kantor kecamatan yang runtuh. Tidak hanya guru dan murid yang telah menjadi korban ganasnya bencana itu.

Hari pertama proses belajar-mengajar di sekolah itu diawali dengan doa bersama bagi para murid dan guru yang telah menjadi korban ganasnya tsunami. Doa itu dibacakan oleh Mustafa, seorang murid yang paling taat beribadah di kelas itu. Ayahnya adalah seorang imam di mesjid Al-Jihad. Belasan murid di kelas itu menitikkan air mata ketika Mustafa melantunkan doa bagi kawan-kawan mereka yang kini sudah menghadap Tuhan dengan cara yang amat mengenaskan.

“Mereka semua gugur sebagai syuhada!” itulah ucapan guru seni yang menghibur para murid. Ucapan itu memberikan kesejukan bagi semua murid yang telah kehilangan rekan-rekannya. Kawan sekelas mereka gugur sebagai syuhada.

Empat puluh murid kini yang hadir hanya dua puluh lima. Suasana kelas itu jadi amat lengang, tidak seperti sebelum tsunami memporak-porandakan kawasan Tanah Rencong. Namun, murid-murid yang tersisa itu meskipun dalam suasana duka, mereka masih memiliki semangat untuk belajar. Mereka dengan tekun mendengar uraian guru tentang seni rupa, tentang seni patung yang merupakan salah satu cabang seni rupa murni yang berwujud dan dalam seni patung banyak digunakan bahan-bahan dari batu, kayu, logam atau bahan lain yang menjadi wahana ekspresi si pembuatnya. Seni patung berukuran besar selalu disebut sebagai seni monumental.

Hari-hari berikutnya, seperti tidak ada lagi suasana duka ketika lelaki yang telah kehilangan istrinya itu hadir di kelas. Pada siswa umumnya tetap bersemangat ketika Agam mengajarkan, bahwa seni karya tradisional umumnya penuh diwarnai dengan perlambangan, baik dalam bentuk metafora binatang, tumbuhan, bangunan, atau figur manusia. Tidak jarang sejak dulu, dalam karya seni dipergunakan untuk menunjang kegiatan ritual-ritual keagamaan dan penyampaian ajaran suatu agama. Bahkan, dahulu kala banyak karya seni rupa justru bersifat magis sehingga dikeramatkan orang, terutama yang berupa patung.

***

H

ujan yang sedang turun meskipun tidak terlalu lebat menyebabkan guru bidang seni rupa itu bergegas meninggalkan kelasnya untuk pulang dan segera tiba di rumah. Di sepanjang jalan lelaki itu melihat induk burung juga enggan meninggalkan anaknya. Enggan bila hujan yang turun akan disertai angin yang kencang dan petir sehingga pohon-pohon tumbang lalu sarang burung itu akan terhempas dan burung itu akan terhempas ke tanah yang basah atau hanyut dibawa air selokan yang meluap.

Kemeja lelaki putih sang guru itu basah ketika ia tiba di rumahnya yang sepi. Tentu saja sepi karena seorang istri yang cantik dan setia sudah tidak ada lagi, sudah menghadap Allah bersama ribuan warga Aceh lainnya yang telah menjadi korban amukan air bah. Tidak ada lagi yang membuatkan kopi hangat, tidak ada lagi yang menyetrika pakaiannya, tidak ada lagi yang memberikan obat kalau putrinya jatuh sakit. Dia akan melakukannya sendiri. Semua sendiri. Siang hari terasa sepi, apalagi pada malam-malam yang dingin dan beku.

Rumah itu belum rampung benar, tetapi lelaki itu ingin segera menghuninya. Sebab, lelaki itu merasa lebih layak tinggal di rumah sendiri daripada di pengungsian yang padat, pengap, dan jorok. Belum ada kursi tamu, belum ada kulkas, belum ada tv. Bila di halaman sudah ada beberapa jenis bunga segar yang menanamnya adalah Zahra, putri tunggalnya yang saat itu masih berada di tenda pengungsian bersama relawan bule bernama Alice van Kherkoff.

Baru beberapa saat lelaki itu memasuki rumah dan melepas kemeja putih yang dibasahi hujan, tiba-tiba terdengar salam.

“Selamat siang, Pak Agam!” terdengar suara lelaki bule dan di tangannya ada rangkaian bunga yang indah dan warna-warni.

“Selamat siang, Mr. Honsen. Silahkan masuk!”

Lelaki bule itu masuk ruang tamu duduk di atas tikar karena lelaki itu sudah tidak memiliki sofa dan kursi tamu setelah gelombang laut mahadahsyat meruntuhkan rumah dan menyapu semua isi rumahnya. Juga melenyapkan berbagai jenis benda-benda berharga sebagai koleksinya serta buku-buku yang diperolehnya ketika lelaki itu kuliah di Akademi Seni Rupa di Pulau Jawa.

“Ada sesuatu yang dapat saya bantu, Mr. Honsen?” sapa lelaki guru seni rupa di SMA itu ramah.

“Justru karena itulah saya datang. Saya membutuhkan bantuan Pak Agam,” ujar lelaki bule asal Australia itu.

“Dengan senang hati saya akan membantu Anda. Bukankah Anda dan ratusan relawan dari berbagai Negara telah membantu masyarakat Aceh, mulai dari mengangkat mayat, menguburkannya, membersihkan reruntuhan rumah, membawa mereka yang luka-luka ke rumah sakit, sampai dengan bantuan materi berupa makanan dan obat-obatan. Tanpa bantuan itu, warga Tanah Rencong akan lebih sengsara nasibnya. Tanpa bantuan itu, mungkin korban-korban akan lebih banyak berjatuhan.”

Lelaki bule itu duduk bersila. Baru beberapa minggu lelaki asal negeri Kangguru itu menjejakkan kakinya di bumi Serambi Makkah, dia sudah dapat duduk bersila seperti umumnya masyarakat Aceh duduk dalam acara kenduri, peusijuek atau acara adat lainnya. Lelaki bule itu cepat menyesuaikan diri dan beradaptasi. Dia tidak pernah lagi menghisap rokok karena dia menyadari bagi rakyat Aceh adalah perbuatan makruh. Dia tidak lagi main kartu meskipun ketika di negerinya main kartu hanya untuk iseng-iseng. Sebab, dia khawatir bila memegang kartu lalu diidentikkan dengan main judi. Lelaki itu juga menjauhi menuman keras.

Betapa beda dengan relawan lain berbuat seenaknya di bumi Serambi Makkah itu. Bahkan yang napasnya berbau alkohol dan mabuk ketika membagikan sembako juga ada. Apalagi relawan perempuan ada yang berpakaian ketat, celana ponggol, kaus oblong yang minim sehingga bagian dada serta bagian auratnya sengaja seperti dipamerkan. Bahkan relawan lokal juga banyak yang tidak menghargai kebiasaan dan adat istiadat Aceh. Banyak relawan lokal perempuan dan laki-laki berpasangan, bahkan yang memasuki sebuah rumah lalu menutup pintu juga banyak. Apalagi yang mereka lakukan kalau tidak berbuat maksiat kalau sepasang manusia sudah berada di ruang tertutup dan cuma berdua? Iblis pasti datang untuk menjerumuskan mereka dalam dosa yang amat berat. Kasihan Tanah Rencong, sudah diterpa bencana, lalu ditambah lagi dengan percikan dosa dari mereka yang datang sebagai relawan.

“Saya mohon bantuan moril, Pak Agam. Mungkin hanya Pak Agam seorang yang dapat membantu saya,” lelaki bule itu memelas.

“Apa yang saya dapat lakukan untuk Anda?” Pak Agam menatap lelaki bule itu yang tampak memelas.

“Hati saya sedang galau. Batin saya seperti terhimpit sebongkah batu. Hidup saya tidak tenteram.”

“Berapa banyak mayat yang sudah Anda angkat sehingga Anda merasa terganggu oleh roh mereka yang hanyut?”

“Terus terang, bukan masalah itu. Saya hadir disini bukan untuk mengangkat mayat. Saya mempunyai tugas sendiri.”

“Oh, ya. Saya mengerti. Ada hal-hal yang menyebabkan jiwa Anda tidak tenteram?”

“Ya!”

“Katakanlah terus terang! Dan saya melihat Anda membawa sekuntum bunga yang indah dan segar. Pasti ada kaitannya dengan seseorang. Apakah Anda sedang merasa jatuh cinta terhadap seseorang di Serambi Makkah ini?”

“Benar! Itulah yang sedang saya alami!”

“Di negeri yang sedang dilanda kehancuran dan porak-poranda ini Anda mengalami jatuh cinta?”

“Ya. Tapi saya kecewa. Perasaan saya sebenarnya hancur.”

“Gadis itu menolak uluran tangan Anda?”

“Ya!”

“Apakah Anda diusir dengan kasar ketika menemuinya?”

“Tidak! Gadis itu tidak sekejam itu. Gadis itu amat lembut dan matanya jernih. Teramat halus dia menolak ketika saya menyentuh ujung jarinya dan saya mengatakan bahwa saya ingin memiliki dirinya.”

“Lalu kenapa harus datang kepada saya? Bagaimana mungkin saya dapat membantu kalau saya tidak mengenal gadis cantik yang telah menutup pintunya untuk Anda?”

“No! Tidak!” cetus lelaki bule itu tegas. “Bapak sangat mengenalnya.”

“Siapa gerangan gadis itu?”

“Gadis itu selalu berada di rumah ini. Hampir tiap hari gadis itu selalu mampir kemari.”

“Saya tidak pernah melihat seseorang gadis pun hadir disini!”

“Pasti ada! Saya selalu melihatnya.”

“Siapa?” lelaki guru seni rupa itu seperti memikir-mikir dan tetap saja berkata belum pernah sekali pun ada gadis yang menginjakkan kakinya di rumah itu.

“Gadis itu selalu bersama Zahra, putrid Pak Agam.”

“Tapi yang selalu bersama Zahra hanya Alice, relawan bule yang berasal dari Belanda! Sama sekali tidak ada orang lain.”

“Justru itulah yang saya maksudkan. Saya telah jatuh cinta kepadanya dengan setulus hati saya. Saya amat tertarik kepada kelembutannya. Saya tertarik kepada sikapnya yang penuh kasih sayang terhadap anak-anak Aceh, saya tertarik kepada kepribadiannya, saya ingin memiliki lehernya yang jenjang dan saya pun ingin memiliki hatinya yang selalu tulus. Saya ingin memiliki dirinya. Tapi saya tidak menduga, ia menutup pintu hatinya untuk saya.”

“Hemm,” gumam guru SMA yang kini tiap hari hadir di kelas untuk memberikan pelajaran seni rupa.

Sesaat sang guru itu termenung. Hatinya gemuruh. Lelaki bule itu sudah mengungkapkan isi hatinya, bahwa ia ingin memiliki mata Alice yang jernih, ingin memiliki hatinya yang tulus dan ingin memiliki dirinya yang semampai itu. Diam-diam guru SMA itu juga memiliki perasaan yang sama. Diam-diam ayah Zahra merasakan ada getar-getar halus di hati dan jantungnya setiap memandang bola mata perempuan bule dari Belanda itu. Dia juga merasakan kelembutan hatinya, ketulusan jiwanya, keramahannya, keindahan tubuhnya, dan segalanya telah menggugah hatinya. Bahkan, wajah perempuan bule itu selalu hadir dalam mimpi-mimpi sang guru yang kini telah kehilangan istrinya direnggut tsunami. Diam-diam wajah Alice van Kherkoff selalu hadir di pelupuk mata sang guru SMA. Diam-diam nama perempuan bule itu selalu lekat di bibir lelaki sang guru.

Kadang-kadang ketika lelaki itu sedang berada di depan kelas, ketika ia memberikan pelajaran tentang aliran-aliran dalam seni rupa, seperti romantisme, ekspresionisme, impresionisme, kubisme, dadaisme, realisme dan surealisme wajah relawan yang rambutnya pirang itu juga hadir di pelupuk matanya. Bahkan, ketika sedang berjalan kaki, ketika sedang makan, apalagi ketika sedang berbaring di malam sepi dan dingin, wajah Alice van Kherkoff juga hadir di pelupuk matanya. Seakan-akan lelaki itu berbicara amat mesra kepadanya.

“Bantulah saya, Pak Agam!” suara lelaki kelahiran Australia itu menyentakkan sang guru SMA itu dari lamunan tentang Alice.

“Berikanlah serangkum bunga ini kepadanya, tanda cinta dan kasih saya yang amat tulus dan suci!” lelaki bule itu memelas lagi.

Sang guru masih tetap saja diam. Masih tetap saja termenung. Sebagai seorang guru seni rupa yang pernah ditempa di kampus perguruan tinggi khusus seni rupa, dia sudah amat sering melukis wajah Alice dan hasilnya lukisan itu terlihat amat cantik sekali meskipun sang guru melukisnya bukan di ats kanvas, namun hanya di kertas putih ukuran folio. Setiap kali Agam melukis relawan berambut pirang itu dan setelah menatapnya dalam-dalam, kemudian dia merobeknya. Guru SMA itu selalu merasa ada saja kelemahan dan kekurangan dalam lukisan wajah Alice. Hingga akhirnya lukisan perempuan berambut pirang itu tidak pernah jadi. Padahal lukisan diatas kertas putih itu tampak cantik dan indah. Sungguh mengagumkan, sungguh mempesona. Agam hanya menatapnya, lalu merobeknya. Berkali-kali lelaki itu selalu berbuat begitu hingga lukisan Alice tidak pernah terjadi.

“Katakan kepada Alice, bahwa saya benar-benar ingin membahagiakan dirinya. Saya akan membawanya ke Melbourne dan tinggal disana!” terdengar suara lelaki bule itu lagi.

Dia amat kaget ketika mendengar lelaki bule itu akan membawa Alice ke Negeri Kangguru. Agam menoleh.

“Kalau tidak mungkin ke Australia, saya bersedia untuk hidup berdampingan dengannya di Belanda.”

“Juga tidak!” amat cepat Agam menyahut. “Sungguh tidak mungkin Alice dibawa pergi jauh-jauh. Sungguh tidak mungkin!”

“Kenapa tidak mungkin?” lelaki bule itu menatap amat tajam wajah Pak Agam.

“Ya, sungguh tidak mungkin!”

“Kenapa?”

“Karena Alice sudah menjadi milik anak-anak Aceh. Alice sudah menjadi milik semua orang Aceh. Semua anak-anak Aceh amat senang kepadanya, seperti ibu mereka sendiri. Alice harus tetap berada di kawasan Serambi Makkah ini. Tidak satupun warga Aceh yang memperkenankan Alice dibawa pergi jauh.”

“Tapi cinta saya benar-benar tulus, benar-benar suci!”

“Apapun alasannya, Alice tetap disini bersama bocah-bocah Aceh yang telah kehilangan ibundanya. Alice akan menjadi ibu mereka.”

Tentu saja sang guru SMA itu tidak memperkenankan Alice dinikahi Honsen Winters kemudian diboyong ke Melbourne atau dibawa ke seberang laut hingga ke Belanda. Sebab Agam memang amat mencintai perempuan bule itu. Hati lelaki yang telah kehilangan istrinya itu sudah merasakan cintanya yang amat dalam kepada Alice karena sudah amat akrab dengan putrinya, Zahra.

“Bantulah saya. Niat saya benar-benar suci!” ujar lelaki bule itu memelas.

“Alice sudah amat lekat di hati putra-putri Tanah Rencong. Untuk itu anak-anak Aceh akan mempertahankannya meskipun harus menyabung nyawa, seperti halnya Cut Nyak Dien mempertahankan tanah leluhur ini dari penjajah Belanda.”

“Hati saya akan hancur kalau tidak seorang pun yang mampu membantu saya,” lelaki bule itu msih memelas.

“Dalam hal ini saya rela membantu apa saja terhadap Anda. Warga Aceh kapan saja dan dimana saja akan membantu Anda, tapi untuk merebut hati Alice kami mohon maaf. Alice harus tetap tinggal di Tanah Rencong. Alice harus tetap bersama anak-anak Serambi Makkah. Bahkan, saya berharap Alice dapat menyumbangkan tenaganya di Fakultas Budaya dan Seni di Universitas Negeri Banda Aceh, sebab perguruan tinggi itu banyak kehilangan tenaga pengajarnya. Saya mengira Alice dapat memberikan sumbangsih tenaganya karena dia banyak memahami budaya dan Kesenian Aceh serta bangsa-bangsa lain di Asia.”

“Kalau demikian, saya akan kehilangan gairah hidup,” lelaki lekahiran Melbourne itu mengeluh panjang.

“Maafkan saya. Apapun yang terjadi, Alice harus tetap disini!” Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan Agam kepada tamunya yang tampak sedih, kecewa dan murung.

Lelaki itu memohon diri, tidak perduli hujan lebat mengguyur bumi dan pakaiannya akan basah. Tidak perduli dia akan jatuh sakit karena diguyur hujan dan air parit pun akan meluap. Jalan tergenang air hujan. Sebab dia merasa hatinya sudah teramat sakit, teramat perih.

Meskipun lelaki itu mengendarai mobil ketika mengunjungi kamp-kamp pengungsi, tapi terkadang harus berjalan kaki dalam hujan lebat. Memang mobil-mobil para relawan masih banyak berseliweran di jalan-jalan di kawasan Aceh.

Rambutnya basah, pakaiannya juga kuyup ketika lelaki bule itu harus turun dari mobil yang biasanya mengangkut obat-obatan dan berjalan kaki puluhan meter untuk dapat menjejakkan kakinya di Pendopo Gubernuran yang selalu ramai, tidak saja tempat itu menjadi tempat kamp pengungsian, tapi juga merupakan pusat informasi para relawan. Ada orang-orang Korea disana, Malaysia, Singapura, Amerika, Kanada, Jerman, Kuwait, Australia, Belanda, Jepang dan banyak lagi.

“Anda sedang ditunggu seseorang di Pentee Rheung!” sapa salah seorang relawan dari Jepang. “Seorang warga sangat membutuhkan rawatan Anda!”

“Ya, ada seorangtua, tampaknya seperti pemuka masyarakat, sedang menderita trauma berat!” sambung salah seorang yang tampaknya dari Korea.

“Bagaimana keadaannya?” Tanya Honsen Winters.

“Keadaannya sungguh amat serius, lemah, tidak mau makan, dan menyendiri sepanjang hari dan malam. Lelaki tua itu membangun tendanya sendiri diatas meunasah yang ikut diruntuhkan amukan air pasang. Uluran tangan Anda sangat dibutuhkan apakah perlu dirujuk ke rumah sakit atau cukup dengan terapi dari Anda!” ujar salah seorang bule yang tampaknya berkebangsaan Jerman.

“Saya akan segera kesana!” sahut Honsen Winters dan buru-buru menyalin pakaiannya yang basah diguyur hujan. Tidak perduli lelaki itu sedang murung hatinya, sedang mengalami kekecewaan yang amat berat, dia segera bergegas untuk menemui seseorang yang dikabarkan sedang menderita mental break down amat berat.

Setiap relawan, apalagi seorang psikiater, bila ada orang menderita traumantik amat berat, atau menderita depresi yang cukup parah harus segera diberikan pertolongan meskipun di tengah malam, meskipun hujan sedang turun membasahi bumi.

***

H

ujan sudah reda ketika Honsen Winters tiba di kawasan Pantee Rheung, tempat paling parah dilanda amukan air laut. Tanah-tanah di sekitar itu masih basah. Air hujan masih tampak tergenang di sana-sini. Beberapa orang penghuni kamp pengungsi sudah menempati barak-barak darurat yang dibangun pemerintah karena tidak tahan terlalu menderita tinggal di kamp. Di berbagai kawasan tempat penampungan pengungsi terlihat tenda pengungsi yang sederhana menyebabkan air juga masuk ke dalam kamp dan banyak warga pakaiannya basah meskipun di dalam kamp. Keadaaan belasan tenda pengungsi itu amat memprihatinkan. Listrik tidak ada sehingga bila malam gelap seperti di tengah kuburan. Toilet yang tidak memadai apa lagi air bersih tidak tersedia dengan cukup menyebabkan banyak kanak-kanak yang terjangkiti diare.

Lelaki kelahiran Negeri Kangguru itu memang menemukan sebuah tenda yang tersendiri diatas sebuah bangunan muenasah yang ikut diruntuhkan tsunami. Dia melihat seorang lelaki tua yang biasa disapa Teungku Chik Pantee Reung, seorang ulama yang paling disegani di kawasan itu.

Lelaki tua penghuni tenda kecil itu tampak sendiri dan duduk diam termangu-mangu. Tidak ada istri atau anak-anak. Tidak ada santri atau jemaah pengajian yang dulu selalu memenuhi meunasah mungil itu. Meunasah itu sudah rata dengan tanah dan yang tinggal hanya puing-puing bangunan. Dua belas santri yang selalu melantunkan ayat-ayat suci dan mendalami maknanya sudah tidak tampak lagi. Kabarnya semua santri itu tewas terbawa air laut yang murka.

Lelaki tua itu menoleh ketika Honsen Witers mengucap salam. Dengan tatapan mata hampa dan kosong, lelaki tua yang biasanya menjadi imam di meunasah itu hanya menyahut lirih, seakan sudah kehabisan tenaga.

“Tenda ini selalu terbuka untuk siapa saja, meskipun yang datang adalah seekor ular berbisa!” sahut lelaki tua yang duduk menyendiri.

“Terima kasih!”

“Relawan bule itu membuka sepatunya lalu memasuki tenda. Hujan lebat yang baru turun menyebabkan lantai yang dilapisi plastik tebal berwarna biru ikut basah.

“Saya senang ada seorang relawan menyinggahi tenda saya,” terdengar suara lelaki tua penghuni tenda itu dan mengusap janggutnya yang panjang. Seperti umumnya Teungku Chik atau yang dikenal sebagai ulama terkemuka dan Imeum Meunasah selalu memelihara janggut, lelaki penghuni tenda itu juga berjanggut panjang yang sudah berwarna putih karena usianya. Lelaki tua itu mengenakan sorban dan jubah.

“Apakah Anda membutuhkan bantuan sesuatu dari saya?” Tanya lelaki tua penghuni tenda.

“Oh tidak! Justru saya mendengar laporan bahwa Teungku Chik membutuhkan bantuan terapi,” sahut relawan bule itu.

“Dari mana datangnya kabar itu? Saya dalam keadaan sehat wal’afiat. Saya dalam keadaan sehat bugar walaupun ditinggalkan oleh semua jemaah saya.”

“Tapi Teungku Chik tampak amat lemah dan menyendiri berhari-hari. Saya juga mendengar Anda tidak mau makan berhari-hari.”

“Lalu harus bersama siapa lagi? Justru pada saat sendiri saya merasa sangat dekat dengan Allah. Anda keliru menduga saya dalam keadaan lemah dan stres. Anda keliru kalau menduga saya tidak mau makan berhari-hari karena mengalami pukulan jiwa. Tapi ketahuilah hal itu saya lakukan karena saya memang sedang melakukan puasa sunat. Islam mengajarkan agar selalu berpuasa untuk memperkuat keimanan!”

Relawan bule itu tertegun mendengar ucapan lelaki penghuni tenda itu. Relawan bule itu merasa tersudut.

“Tapi saya mendengar Teungku Chik selalu menyendiri, termenung setiap hari, tidak mau disapa siapa saja. Bahkan, saya mendengar Teungku Chik selalu tidak tidur sepanjang malam. Dan fisik Teungku Chik tampak semakin lemah!”

“Anda benar-benar keliru. Kalau saya menyendiri sepanjang hari dan malam tidak tidur, karena saya sedang berada dekat sekali dengan Allah. Saya menyebut kebesaran itu dalam zikir, dalam tasbih dan dalam istighfar. Saya tidak pernah jauh dari Allah!”

Relawan bule itu terperangah ketika lelaki penghuni tenda itu mengangkat tangannya dan seuntai tasbih ada di jari tangannya. Dengan tasbih itu lelaki tua itu menghitung sudah berapa ribu kali mengucap kebesaran Allah dalam zikir dan tasbihnya.

“Anda lihat bibir saya?” ujar lelaki tua itu lagi.

“Ya, saya melihatnya.”

“Bagaimana keadaannya?”

“Hitam dan kering!”

“Benar, hitam dan kering karena saya selalu banyak menyebut asma Allah.”

Relawan bule itu semakin tercengang. Dia benar-benar keliru. Semula dia menganggap lelaki tua itu menyendiri karena stress berat, karena depresi, diterpa tsunami yang mungkin menewaskan semua anggota keluarga dan harta bendanya. Ternyata lelaki tua itu menyendiri karena ingin sebanyak-banyaknya menyebut kebesaran Allah lewat zikir dan tasbih. Lelaki itu sepanjang hari tidak makan dan minum ternyata sedang melakukan puasa sunat. Relawan bule itu benar-benar keliru. Lelaki itu dan seluruh relawan asing lainnya benar-benar salah duga. Semua terkecoh.

“Maafkan saya, Teungku Chik!”

“Saya mengerti. Saya memahami karena Anda tidak seiman dengan saya. Anda tidak tahu apa artinya puasa, zikir dan bertasbih.”

“Saya memahami meskipun hanya sedikit.”

“Baik bila Anda memang memahami. Saya mengerti kalau Anda sudah buruk sangka terhadap saya. Saya mengerti karena Anda telah salah duga. Tapi kehadiran Anda ada manfaatnya.”

Relawan bule itu menatap dalam-dalam lelaki tua bersorban besar itu.

“Anda dan ratusan relawan lainnya dari berbagai Negara sudah hadir di negeri saya. Saya berharap kehadiran semua relawan itu, terumata yang bukan muslim agar kehadirannya di negeri saya tidak sewenang-wenang berbuat disini. Hormati adat, budaya dan agama kami. Jangan robek budaya kami. Jangan toreh warga Aceh dengan pisau tajam budaya asing seperti minum alkohol hingga mabuk, berpakaian yang memamerkan aurat. Apalagi berjudi. Jangan sekali-kali membawa barang haram seperti ekstasi ke negeri kami. Jangan berbuat maksiat disini. Jangan kotori negeri kami.”

“Tentu! Saya dan kawan-kawan saya tidak melakukan hal-hal seperti itu. Kami tidak akan menorehkan pisau tajam ke dada masyarakat Aceh. Kami datang dengan hati bersih dan niat suci. Hanya untuk kemanusiaan semata-mata setelah negeri ini hancur lebur oleh ganasnya gempa dan tsunami.”

“Terima kasih kalau Anda dan relawan asing lainnya berjanji tidak akan menorehkan luka di dada kami. Dan satu lagi saya berharap, jauhkan anggapan bahwa bencana yang terjadi adalah semata-mata karena dosa warga Aceh, tapi dosa semua orang. Sebab hingga saat ini sudah banyak benih-benih dosa berserakan dan tumbuh di negeri kami. Orang-orang asing yang menebang hutan kami secara liar sudah amat banyak. Orang-orang asing yang mencemari lautan kami sudah tidak terhitung lagi banyaknya, mencuri ikan seenaknya, menggali kekayaan laut, mengotorinya hingga berdirinya hotel dan cafe sepanjang pantai kami. Padahal Allah sudah memberikan peringatan kepada umat manusia di seluruh dunia sejak lima belas abad silam.”

Relawan bule itu hanya berdiri diam. Dari caranya berbicara, relawan bule itu tahu bahwa Teungku Chik adalah seorang pemuka masyarakat, seorang yang amat alim, seorang imam dan sekaligus seorang orator.”

Lelaki tua penguni tenda itu kemudian berkata lagi:

“Tuhan sudah memperingatkan umatnya sejak seribu lima ratus tahun silam melalui Alquran surat ar-Ruum ayat empat puluh satu.”

Bibir hitam yang kering karena terlalu banyak bertasbih dan berzikir itu bergetar lagi mengucapkan ayat-ayat Alquran yang amat fasih dibacanya dan sekaligus artinya:

“Telah terjadi kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah menyadarkan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.”

“Saya dapat memahami makna ayat itu. Alam semesta telah rusak parah akibat tangan-tangan jahil para manusia,” sahut relawan bule itu.

“Benar. Telah kita saksikan bersama hutan gundul, langit biru penuh asap karena kebakaran hutan. Daratan longsor atau banjir karena tidak ada lagi pohon-pohon penyerap air. Laut pun dikotori oleh para penyeludup bahan bakar dan sebagian tertumpah di tengah laut. Penambangan kekayaan laut yang sembarangan juga ikut menambah parah kerusakan-kerusakan lapisan tanah bawah laut hingga lempengan tanah itu bergerak dan terjadilah gempa dahsyat yang diiringi tsunami yang pada akhirnya menelan korban ratusan ribu jiwa dan harta benda yang tidak sedikit.”

Jauh di dasar hati relawan bule itu ada rasa kagum pada diri lelaki tua penghuni tenda itu. Dia membiarkan lelaki tua bersorban itu bertutur lagi:

“Kalau wajah saya tampak sedih, bukan karena Aceh harus kehilangan ratusan ribu warganya dan juga harta benda dan bukan pula karena kehilangan dua belas jamaah saya yang selama ini selalu melantunkan ayat-ayat suci kalimah mulia. Hati saya amat sedih karena sudah ratusan anak-anak Aceh yang telah kehilangan ayah bundanya dibawa keluar dari Aceh oleh orang-orang tertentu, oleh LSM, oleh badan-badan tertentu dan dengan tujuan tertentu. Hati siapa yang tidak hancur luluh kalau ratusan bahkan mungkin ribuan anak-anak Aceh dijual atau dimurtadkan? Itulah yang menyebabkan batin saya menangis. Saya selalu memohon semoga Allah berkenan menggugah hati mereka untuk mengembalikan anak-anak Aceh ke tanah leluhurnya.”

“Mudah-mudahan doa itu akan terkabul. Saya juga berharap pihak-pihak tertentu mengembalikan anak-anak Aceh yang saat ini entah dimana dan entah bagaimana pula nasibnya.”

Sesaat lelaki tua penghuni tenda itu termenung dan relawan bule itu menatapnya amat dalam. Apakah dua belas jamaah Teungku Chik hanyut dan entah jenazahnya dimana?” Tanya relawan bule itu.

“Mukjizat Tuhan telah terjadi atas dua belas jamaah saya di meunasah ini. Pada hari minggu Desember itu, dua belas jamaah saya diundang ke berbagai tempat untuk melaksanakan berbagai kegiatan. Ada yang diundang untuk membacakan Alquran sebelum acara pernikahan di Lamreh, lalu ada yang diundang untuk menjadi juri musabaqah di Ulee Kareung, ada lagi yang diminta untuk memimpin acara peutamat beued atau khatam Alquran di Lamreh, bahkan ada yang diundang sampai ke Meulaboh dan Lokhnga. Tiba-tiba gelombang dahsyat itu menyapu bersih semua kawasan itu.”

“Lalu dua belas santri itu tewas dihanyutkan gelombang laut?” Tanya relawan bule itu.

“Ya!” Mereka semua terseret arus dari tempat yang berbeda.”

“Mereka dihanyutkan air dari tempat yang berbeda-beda dan berjauhan, tapi akhirnya jasad kedua belas orang jamaah itu ditemukan di satu tempat di bawah reruntuhan bangunan. Mereka berjejer dan menghadap kiblat bagaikan membentuk syaf dalam salat berjamaah.”

“Lamakah jenazah mereka ditemukan?” relawan bule itu ingin tahu.

“Enam hari!”

“Kalau demikian halnya jasad mereka sudah rusak dan membusuk.”

“Disanalah terjadi mukjizat Tuhan. Jenazah itu tidak membusuk. Bahkan pakaian mereka tetap utuh, tidak satupun yang tercabik. Tidak ada ulat atau lalat yang mendekat.”

“Aneh! Sungguh aneh!” cetus relawan bule itu penuh rasa heran.

“Bukan keanehan, tapi itulah mukjizat Tuhan. Jenazah mereka tidak membusuk, tidak ada bau busuk, tidak ada bau tidak enak menusuk rongga hidung. Justru yang terasa adalah aroma yang harum semerbak. Semua itu karena yang menjadi korban ganasnya gelombang itu adalah orang–orang yang sangat fasih membaca Alquran dan memahami maknanya. Tuhan benar-benar memelihara mereka. Allah benar-benar memuliakan jasad dan roh mereka. Mereka gugur sebagai syuhada!”

“Lalu siapa yang mengangkat jasad mereka?”

“Pada awalnya adalah saya sendiri. Tapi sesaat kemudian muncul beberapa orang untuk ikut membantu. Semua heran karena dari jenazah itu tercium bau harum. Dan saya mengangkat jenazah itu tanpa sarung tangan, juga tanpa masker, bahkan hingga saat ini seakan-akan bau harum itu masih melekat. Untuk apa masker kalau yang tercium adalah aroma bau harum? Makaikat telah menyiram tubuh mereka dengan pengharum dari sorga. Itulah ajaran Allah bagi umat yang fasih membaca Alquran, hafal dan memahami maknanya.”

“Apakah jenazah itu dikuburkan secara massal tanpa dimandikan, tanpa dikafani dan tanpa disalatkan?”

“Oh, tidak ! Saya tidak rela jenazah itu dikuburkan tanpa dimandikan, tanpa kain kafan apalagi tanpa disalatkan.”

“Bukankah air bersih amat sulit untuk diperoleh?”

“Pertolongan Allah selalu datang bagi orang yang hidupnya mulia. Tiba-tiba saja muncul mobil tangki yang membawa air secukupnya.”

“Untuk menggali dua belas lubang kubur bukanlah mudah, apa lagi saat itu tiap orang dalam kesibukan mencari keluarga dan sanak saudaranya. Siapa yang bermurah hati menggali lubang-lubang kubur itu?” relawan bule itu ingin tahu.

“Disana juga ada mukjizat Allah. Entah darimana datangnya tiba-tiba muncul banyak lelaki bertubuh kekar membawa pacul dan sekop. Dalam sekejap saja dua belas lubang kubur telah tersedia. Bahkan, ketika dua belas jenazah diturunkan dan ditimbun, aroma harum masih tersebar kemana-mana sehingga setiap orang yang lewat bertanya-tanya siapakah yang telah menebar bau harum?”

“Sungguh luar biasa. Sungguh suatu mukjizat yang tidka pernah saya dengar sebelumnya,” relawan bule itu berdecap-decap penuh rasa kagum.

“Pertolongan Allah akan selalu datang bagi umat yang selalu bersyukur. Sebab, bila setiap umat manusia bersyukur atas segala nikmatnya, Allah akan menambah nikmat itu, namun bila tidak bersyukur merasakan azab yang amat pedih!”

Sesaat relawan asal Australia itu tertegun. Hatinya merasa amat sejuk mendengar semua penuturan lelaki tua penghuni tenda itu.

“Sebentar lagi ada negara tetangga yang akan membangun kembali meunasah ini. Sebentar lagi akan hadir lagi disini jamaah yang akan belajar Alquran hingga menjadi hafiz dan tiap hari akan selalu terdengar kumandang ayat-ayat suci kalimah mulia.”

Hati relawan bule itu semakin terasa sejuk. Dia datang untuk memberikan bantuan terapi kepada lelaki tua itu, tapi ternyata lelaki penghuni tenda itu sehat, tegar, masih berpikir jernih dan memberikan siraman rohani kepada Honsen Winters yang tanpa terasa sudah lebih tiga jam duduk di tenda itu.

Kesejukan semakin terasa di hati relawan bule itu ketika lelaki tua itu mengungkapkan makna Alquran surat Al-Ikhlas, bahwa Dialah Allah, Yang Maha Esa. Bahwa Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Bahwa Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.

Apalagi ketika diperdengarkan surat ali-Imran ayat 85 yang berarti “ Barang siapa yang mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dan di hari akhirat nanti dia akan termasuk orang-orang yang rugi.”

Wajah relawan itu semakin tertunduk ketika dilanturkan surat an-Nisaa ayat 36 yang bermakan, “ Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukannya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada ibu, bapak, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggkan dirinya.”

“Saya sangat kagum kepada Teunku Chik. Saya akan hadir disini lagi esok hari!” itulah yang dikatakan relawan bule itu ketika pamit. Ia pulang dengan membawa hati yang sejuk, apalagi lelaki tua penghuni tua itu mengatakan, bahwa Islam mengajarkan sesama muslim itu bersaudara.

Kalau demikian, semua warga di negeri ini menjadi saudaraku andainya aku menjadi pemeluk Islam dan aku tidak akan mempunyai musuh seorang pun. Semua penduduk negeri ini adalah saudaraku, piker lelaki itu melangkah pulang ke Pendopo Gubernuran.

Sejak itulah, tiap hari meskipun hanya sepuluh menit, relawan bule itu selalu menyinggahi lelaki tua yang selalu duduk sendiri bertasbih dan zikir hingga lidah dan bibirnya kering, duduk sendiri menahan lapar dan haus karena berpuasa.

Hari berikutnya, ketika matahari bersinar amat terik seperti membakar ubun-ubun dan burung-burung pun bernaung di ranting pohon, relawan asal Australia itu tampak berjalan lagi ke arah tenda di atas reruntuhan sebuah meunasah itu. Seperti tidak terasa oleh terik yang membakar kulit, padahal dia sudah amat biasa di negeri yang udaranya dingin.

Siraman rohani yang amat menyegarkan dan menyejukkan hati kembali diperolehnya dari lelaki tua penghuni tenda itu.

“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik lelaki dan perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik!” ujar lelaki tua itu setelah membacakan surat an-Nahl ayat 97.

Relawan bule yang gagah itu tertegun sesaat. Siapa yang tidak menginginkan kehidupan yang baik. Ayat itu benar-benar menggugah hatinya. Apalagi ketika lelaki tua itu mengutarakan bahwa Islam adalah agama yang paling mulia yang mengajarkan segala segi sendi kehidupan. Untuk bergaul sebagai suami istri saja harus didahului dengan doa, juga ketika bersin atau buang hajat.

“Ingatlah, Islam mengajarkan pola makan yang baik,” ujar lelaki tua itu lagi.

“Pola bagaimana?” relawan yang tubuhnya tegar itu bertanya dengan menatap wajah lelaki tua itu.

“Makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang!”

“Wah, saya sangat senang pada pola makan seperti itu. Pantas setiap muslim yang taat tidak seorang pun yang perutnya buncit, tidak ada yang perutnya seperti nangka masak, karena sebelum kenyang mereka berhenti menyuap.”

Relawan bule itu amat bersyukur bertemu dengan lelaki tua penghuni tenda yang mampu memberinya kesejukan dan ketentraman sehingga dia terhindar dari stres berat karena Alice menutup pintu hatinya rapat-rapat. Andainya dia tidak bertemu lelaki tua itu, pasti dia amat memikirkan Alice, pasti relawan bule itu selalu didera kekecewaan yang amat menyiksa batinnya.

Dan siraman rohani yang lekat dihatinya sebagai seorang psikiater yang banyak memberikan bantuan terapi, adalah tentang ayat-ayat dalam Alquran yang mengajarkan tentang terapi kesehatan dan pengobatan berbagai jenis penyakit. Seperti halnya dalam surat an-Nahl yang berarti lebah. Manusia menganjurkan membuat sarang lebah di bukit-bukit, di pohon-pohon untuk menjadi sarang lebah yang mengeluarkan madu dan di dalamnya terdapat berbagai jenis obat penyembuh penyakit. Juga anjuran memakan buah-buahan untuk pola makan yang sehat.

Lebih empat minggu, tiap hari relawan bule itu pasti duduk bersila di depan lelaki tua itu, tidak peduli berjalan di panas terik atau hujan lebat, tidak peduli bajunya basah kuyup dan tidak peduli dia belum makan. Kehadirannya di depan lelaki tua berjenggot panjang itu menyebabkan dia tidak terlalu memikirkan Alice, bahkan mampu untuk melupakannya.

***

S

eorang gadis cilik berlari-lari ketika matahari tenggelam dan langit pun berwarna merah. Gadis itu adalah Zahra dan segera menemui Alice van Kherkoff di Pendopo, tempat yang dijadikan pusat informasi bagi semua relawan asing maupun lokal.

“Ayo ikut saya! Ayo ikut saya!” tiba-tiba saja Zahra menarik tangan Alice yang baru saja minum the hangat.

“Ke mana?”

“Ada sesuatu yang ingin saya perlihatkan!”

“Sesuatu apa?”

“Sesuatu yang indah!”

“Indah bagaimana?”

“Ayolah. Anda pasti akan terkesima. Kakak pasti akan terpesona melihatnya!”

Alice tidak mampu menolak ajakan gadis cilik itu. Dia membiarkan tangannya ditarik gadis cilik itu dan mereka berlari-lari ke suatu tempat di kamp pengungsian. Langkah mereka terhenti ketika tiba dihalaman sebuah mesjid dan azan Magrib baru saja dilantunkan orang.

“Lihat, Kak! Kakak pasti mengenal siapa yang melantunkan azan itu!”

Tanpa merasa canggung relawan bule itu mengintip dari mesjid jendela dan melihat seorang lelaki gagah sedang melantunkan azan.

“Tampaknya seperti Hons!” Nama itu tercetus dari celah sepasang bibir Alice yang tipis.

“Kakak tidak salah lagi!”

“Kenap Hons ada disini? Kenapa harus Hons yang melantunkan azan magrib ini?” Alice van Kherkoff terheran-heran.

“Karena Tuan Hons sudah menjadi seorang muslim sejati!” ujar Zahra polos.

“Menjadi muslim?” Alice seperti tidak percaya pada kata-kata gadis cilik itu.

“Kakak boleh bertanya sendiri kepadanya setelah salat magrib nanti.”

Alice menghela napas panjang. Suara azan terus bergema hingga ke langit biru, hingga burung-burung yang sedang terbang pun mendengar lantunan azan itu.

“Hayya alash sholaah, hayya alal falaah…”

“Itu artinya mari tegakkan salat dan menegakkan kemenangan!” ujar Zahra berkata kepada Alice.

“Hemm,” Alice hanya bergumam lirih. Dia seperti tidak sabar untuk menunggu usai salat magrib untuk segera bertemu dengan Honsen dan bertanya mengapa tiba-tiba saja beralih agama. Selama ini Alice mengenal lelaki itu sebagai seorang penganut Nasrani meskipun amat jarang tampak menghadiri kebaktian minggu.

Sepasang mata Alice tidak berkedip dan memandang ke arah lelaki gagah berdiri lurus pada shaf paling depan, tepat dibelakang imam.

Usai salat lelaki bule yang kini mengenakan sarung dan kemeja putih serta mengenakan peci itu tidak langsung keluar dari mesjid. Lelaki itu menengadahkan tangan dan doanya amat panjang.

Sebab lelaki tua yang selalu ditemuinya setiap hari membacakan ayat Alquran surat Ghafir ayat 60, bahwa Tuhan berfirman agar umat muslim berdoa dan niscaya Tuhan akan memperkenankan. Sesungguhnya orang yang masuk neraka dan dalam keadaan hina dina.

Ketika relawan bule asal Melbourne itu melangkahkan kaki lewat pintu depan, Alice menghadangnya.

“Honsen!” nama itu segera tercetus dari celah bibir Alice.

“Kuharap jangan panggil aku dengan nama itu lagi!” sahut relawan bule itu.

“Lalu aku harus memanggilmu apa?”

“Panggil aku Hanif. Itu artinya adalah jalan yang paling lurus dan benar. Aku ingin menjadi umat yang jalan hidupnya lurus dan benar.”

“Siapa yang member nama itu, Hanif?”

“Teungku Chik Pantee Rheung.”

“Siapa dia?”

“Seorang imam meunasah yang banyak mengajarkan Alquran pada jamaahnya sehingga menjadi hafiz dan ketika tsunami terjadi, semuanya tewas, tetapi jenazahnya tidak membusuk meskipun enam hari baru ditemukan dan tidak rusak, juga tidak membusuk tapi justru menyebarkan bau harum.”

Sesaat Alice termenung.

“Disini aku mendapatkan nur dan hidayah.”

“Apakah nur dan hidayah itu, Hanif?”

“Suatu sinar yang menerangi hatiku.”

Sesaat Alice termenung lagi.

“Disini aku mendapatkan ketentraman hati dan kesejukan,” terdengar lagi suara lelak itu.

“Mukjizat Tuhan yang banyak terjadi di Tanah Rencong ini, Alice.”

“Bagaimana kalau kamu kembali ke Melbourne nanti?”

“Aku akan tetap sebagai muslim.”

“Tapi di negerimu Islam dikucilkan. Bahkan setiap muslim dicurigai sebagai teroris.”

“Apapun yang terjadi hatiku tidak akan goyah.”

“Aku kagum padamu, Hanif.”

Lelaki itu tersenyum. Wajahnya tampak bersih dan bersinar karena baru saja dibasahi air wudlu.

“Kalau aku akhirnya menikah nanti, aku akan memilih seorang muslimah.”

“Aku benar-benar kagum kepadamu."

Sekali lagi lelaki itu hanya tersenyum.

“Maaf, Alice. Aku harus menemui Teungku Chik. Beliau pasti menungguku. Masih amat banyak yang harus kupelajari darinya.”

Lelaki itu melangkah pergi.

***

K

asihan, seorang gadis cilik bernama Zahra yang baru saja bermain rimbang di halaman rumah bersama kawan-kawannya tiba-tiba harus segera berbaring. Gadis cilik yang sudah kehilangan ibunya karena direnggut tsunami itu meraih selimut dan menutupi seluruh tubuhnya yang menggigil. Wajahnya tampak pucat, lemah, matanya sayu dan tatapannya kosong. Sesekali terdengar suara batuk yang panjang. Napasnya juga berat.

Kabar tentang sakitnya Zahra segera sampai ke Pendopo yang merupakan tempat pusat informasi relawan, segera sampai ke telinga seorang relawan bule dari Belanda. Alice segera mengajak rekannya relawan asal Kanada yang merupakan tenaga medis. Sebuah mobil kijang yang biasanya membawa bantuan selimut dan obat- obatan, siang itu segera meluncur ke jalan raya. Alice van Kherkoff amat sedih ketika mendengar seorang gadis cilik yang sudah amat akrab dengannya dalam keadaan sakit dan terbaring.

“Bagaimana keadaanmu, Zahra?” sapa Alice yang segera berlari-lari turun dari mobil kijang.

“Saya sakit!”

“Tetaplah berbaring, dokter akan segera memeriksa dirimu dan memberimu obat.”

“Tapi tubuh saya amat lemah,” keluh Zahra panjang.

“Tetaplah tenang, Zahra. Besok kamu akan kembali sembuh dan kembali bermain.”

“Tapi kepala saya terasa amat berat,” keluh Zahra lagi dan memijit-mijit kepalanya. Alice amat iba dan ikut memijit kepala gadis cilik itu. Dengan penuh kasih sayang.

Dokter dari Kanada yang menyertai Alice segera melakukan pemeriksaan amat teliti. Tapi tubuh Zahra biasa-biasa saja, tidak ada demam, tidak ada tanda-tanda ada radang amandel.

“Dada saya terasa amat sakit kalau batuk,” keluh Zahra lagi dan menyentuh dadanya. Alice ikut membelai dada gadis cilik itu.

“Dokter akan segera memberimu obat.”

“Tapi tubuh saya semua terasa sakit.”

“Mungkin hanya flu. Kalau hanya flu pasti cepat sembuh.”

“Perut saya terasa mual dan mau muntah,” Zahra terus-menerus mengeluh panjang.

“Mungkinkah saya akan sembuh, Kak Alice?”

“Kamu akan segera sembuh,” sahut dokter asal Kanada yang baru empat minggu hadir di bumi Serambi Makkah.

“Tapi saya merasa amat lemah dan tidak mampu bangkit.”

“Ya, kamu hanya membutuhkan istirahat.”

“Sakit apa yang saya derita, Dokter?” terdengar suara Zahra ketika dokter itu memberinya suntikan.

“Semua tidak ada gangguan apa-apa. Semua normal. Tidak ada kelainan apa-apa. Istirahatlah secukupnya di rumah,” ujar dokter yang masih amat muda dan meninggalkan beberapa jenis obat-obatan.

“Makanlah obat ini, kamu akan segera sembuh dan dapat bermain lagi.”

Dokter yang masih amat muda itu segera pergi, tapi Alice tetap duduk di sisi Zahra.

“Kakak mau menemani saya hari ini?” pinta Zahra.

“Kakak akan berada disini setiap hari!”

Alice mengupaskan jeruk manis dan memberikannya kepada Zahra. Relawan bule itu duduk menjuntaikan kaki di pinggir ranjang.

“Saya rindu….,” terdengar suara Zahra ketika mengunyah jeruk manis.

“Rindu kepada siapa?”

“Saya rindu Ibu.”

“Ibu kamu sudah beristirahat dengan tenang.”

“Tapi saya sangat merindukannya.”

“Itu artinya kamu harus berdoa untuk Ibu.”

“Saya ingin sekali bertemu dengan ummi.”

“Sesekali Ibu kamu pasti akan datang dalam mimpi.”

“Saya ingin bertemu bukan dalam mimpi.”

“Tidak mungkin seseorang yang sudah menghadap Tuhan akan kembali ke rumah ini, Zahra. Ibumu tersenyum disana. Ibu kamu membaca Alquran. Ibu juga menyiram bunga.”

“Tapi perasaan saya ummi ada disini sekarang.”

“Tidak mungkin, Zahra. Seungguh tidak mungkin.”

“Rasanya ummi hadir untuk melihat Zahra sakit, untuk membelai rambut Zahra dan untuk mengucapkan kata-kata indah.”

“Bukankah kak Alice ada disini membelai rambutmu? Bukankah kak Alice ada di sisimu? Kak Alice yang akan membuatkan bubur untukmu.”

“Sungguh? Kak Alice akan membuatkan bubur untuk Zahra?”

“Ya!”

“Juga menyuapi Zahra?”

“Ya!”

“Juga untuk berkata hal-hal yang indah?”

“Ya, tentang burung-burung, tentang awan yang berarak dan tentang gunung-gunung.”

“Tentang laut?”

“Juga tentang laut dan burung-burung yang menyambar mangsanya.”

“Sampai sore?”

“Sampai malam datang dan bulan pun terbit.”

“Oh, rasanya Ibu saya benar-benar ada di depan saya. Ibu tersenyum kepada saya.”

Zahra menyentuh jari-jemari tangan relawan bule berkebangsaan Belanda itu.

“Ibumu pasti cantik, Zahra?”

“Ya, cantik sekali. Tapi kak Alice juga cantik.”

Relawan bule itu tersenyum. Mereka saling bertatapan. Lama relawan asal daratan Eropa itu menatap sepasang mata Zahra dan relawan asal Eropa itu seperti menemukan sesuatu dalam bola mata gadis cilik itu. Seperti ada sesuatu yang diharapkan darinya. Sepasang mata itu tidaklah seperti mata orang sakit, tapi karena ada yang dia rindukan.

“Saya merindukan ibu saya…” terdengar lagi suara Zahra yang masih terbaring.

“Saya mengerti perasaanmu, Zahra.”

“Saya ingin ibu saya datang hari ini dan tidak pergi lagi.”

Tapi ibu sudah berbahagia di tempat lain, Zahra!” ujar relawan yang berasal dari daratan Eropa itu. Terasa amat sulit untuk memberi pengertian terhadap gadis cilik itu. Kalau dia mengalami trauma bukan karena tsunami yang amat mengerikan, namun yang memukul jiwanya adalah kepergian ibundanya.

“Kalau ibu saya tidak datang hari ini, saya tidak akan sembuh,” suara Zahra lirih.

“Tapi penyakitmu tidak berat, Zahra. Bukankah dokter sudah memeriksamu dan memberi mu obat? Kamu akan segera sembuh dan dapat bermain lagi.”

“Tidak! Saya tidak akan sembuh, sebab yang merasakan sakit ini adalah saya, bukan orang lain.

“Kamu tidak demam, Zahra. Jantungmu sehat dan semuanya dalam keadaan normal. Tidak ada yang harus dirisaukan.”

“Saya akan menyusul ibu saya…” kata-kata itu amat mengejutkan relawan bule yang selama ini sudah amat akrab dengan Zahra.

“Ya, saya akan menyusul ibu saya besok atau lusa.”

“Zahra! Jangan berkata seperti itu. Kamu akan sehat.” Relawan itu mengusap rambut Zahra dengan lembut dan penuh kasih sayang, dengan penuh keibuan.

“Saya akan sembuh kalau ada seseorang yang dapat menggantikan ibu saya. Saya tidak akan pergi menyusul ibu saya kalau ada seseorang yang berhati lembut berkenan mendampingi saya saat ini dan hari-hari berikutnya,” suara Zahra terdengar lirih.

“Tapi dimana kita akan menemukan seseorang seperti itu, Zahra? Dimana ?” amat dalam relawan itu menatap sepasang mata Zahra yang penuh harap.

“Saya sudah menemukannya.”

“Dimana? Saya akan membawanya kemari meskipun dia berada di tempat yang jauh. Saya akan mengajaknya kemari untuk bersamamu meskipun tempatnya di ujung langit.”

“Sungguh?”

“Sungguh! Katakan dimana seseorang yang telah kamu temukan yang dapat menggantikan almarhumah ibumu!”

Sesaat Zahra berdiam diri dan termenung. Alice menatapnya dengan perasaan penuh iba dan kasihan.

“Ayo katakan dimana seseorang yang dapat menggantikan ibumu! Ayo katakan sekarang!”

“Dia ada disini!”

“Dimana?” relawan itu terheran-heran, sebab tidak ada orang lain di kamar itu selain Zahra dan dirinya.

“Dia ada disini! Di depan saya!” terdengar lagi suara Zahra.

“Saya sungguh tidak mengerti maksud kamu, Zahra. Sebab tidak ada orang lain berada disini selain saya.”

“Peganglah tangan saya erat-erat!” pinta Zahra. Relawan itu pun menyentuh jari-jemari tangan Zahra dan menggenggam erat-erat.

“Mendekatlah kepada saya karena saya akan mengatakan seseorang yang dapat menyembuhkan penyakit saya dan akan menjadi pengganti ibu saya.”

Relawan itu mendekatkan kepalanya karena Zahra akan membisikkan sebuah nama.

“Katakanlah, Zahra.”

“Seseorang itu adalah Kak Alice! Kakak yang telah merebut hati saya dan sekaligus merebut hati ayah saya!”

“Saya? Saya?” cetus relawan itu berulang-ulang seperti tidak percaya bisikan Zahra dan menunjuk dadanya sendiri.

“Ya! Hanya Kak Alice yang dapat menyembuhkan saya. Hanya kakak yang dapat menjadi pengganti ibu saya.”

“Oh, Zahra. Sungguh mengherankan. Sungguh tidak mungkin,” sahut relawan bule itu.

“Kenap harus heran? Kenapa tidak mungkin? Kak Alice sudah sangat akrab dengan anak-anak Aceh. Kak Alice sudah sangat dekat dengan saya dan ayah saya. Apalagi dalam diri kakak juga ada titisan darah Aceh dari kakek moyang yang pernah kawin dengan perempuan Aceh.”

“Tapi suatu saat saya harus kembali ke Belanda, Zahra! Hampir semua kawan-kawan saya sudah kembali, hanya tinggal satu dua orang dan itupun akhirnya harus pulang,” kata-kata itu diucapkan relawan itu dengan nada berat. Hampir dia tidak mampu untuk mengatakan hal itu kepada gadis cilik itu.

“Tidak! Kak Alice tidak boleh pulang. Kakak tidak boleh meninggalkan anak-anak Aceh. Kakak tidak boleh meninggalkan saya.”

“Tapi saya orang asing disini, Zahra. Saya bukan orang Aceh. Saya harus taat dan patuh kepada keterbatasan waktu dan izin tinggal disini. Rakyat Aceh sudah tidak lagi butuh relawan. Saya harus pulang dalam waktu yang tidak lama lagi.”

“Kakak tidak boleh meninggalkan saya selangkahpun. Saya akan mati. Saya akan meyusul ibu kalau kakak tidak disini lagi!” kata-kata itu diucapkan Zahra dengan nada penuh rintihan dan memelas. Perempuan bule itu tidak mampu menahan kesedihan hatinya.

“Jangan tinggalkan negeri ini. Jangan tinggalkan saya. Saya dan ayah saya, juga banyak rakyat Aceh akan berupaya agar kakak tetap diperkenankan untuk tinggal disini dalam waktu yang lama atau untuk selamanya,” pinta Zahra.

Lama perempuan asal daratan Eropa itu termenung. Hatinya amat terenyuh. Hatinya amat iba memandang seorang gadis cilik yang sudah merebut hatinya. Sekarang gadis cilik itu mengharapkan dirinya untuk menjadi pengganti ibunya.

Rakyat Aceh memang sudah bangkit dari keterpurukan akibat bencana yang amat mengerikan. Rakyat Aceh sudah sembuh dari trauma amat berat. Ratusan pasukan tentara asing yang menjalankan misi kemanusiaan sudah meninggalkan Aceh. Tidak ada lagi kapal-kapal perang asing yang masih bersandar di pelabuhan di sekitar Aceh. Semua sudah pulang ke negerinya. Relawan sipil dari berbagai negara yang dulu jumlahnya ratusan, bahkan ribuan, sekarang hanya tinggal satu dua. Aceh sudah bisa membangun daerahnya. Aceh benar-benar sudah bangkit. Tidak ada lagi ratap tangis. Tidak ada lagi derai air mata. Proses belajar –mengajar sudah berlangsung sebagaimana mestinya. Semua pasar-pasar tradisional sudah amat ramai dengan kegiatan jual beli. Kantor-kantor pemerintah juga sudah membuka kegiatan pelayanan sepanjang hari.

Lihatlah jalan-jalan raya yang menghubungkan berbagai kecamatan maupun kabupaten yang semula terputus sekarang sudah diperbaiki dan dilewati kendaraan tanpa rintangan lagi. Transportasi sudah amat lancar. Tidak ada lagi hambatan apapun. Markas polisi dan tentara yang ikut diruntuhkan tsunami sudah dibangun kembali. Roda perekonomian sudah bergerak lancar. Pasar-pasar tradisional juga sudah seperti semula. Investor asing sudah mulai berdatangan. Angkutan kota sudah penuh dengan penumpang terminal bus bukan main padatnya. Begitu juga pelabuhan di sepanjang pantai barat Serambi Makkah sudah ramai disinggahi berbagai kapal niaga yang memuat atau membongkar barang-barang ekspor-impor. Bahkan, turis dari berbagai negara sudah banyak yang mengunjungi Aceh untuk melihat puing-puing reruntuhan bangunan.

Kehidupan di Tanah Rencong sudah pulih dari kehancuran yang fatal. Bahkan, sudah banyak janda-janda yang kehilangan suami karena direnggut ganasnya air laut, kini telah menemukan teman hidup baru. Bahkan, anak-anak Aceh yang dibawa eksodus keluar Serambi Makkah oleh orang-orang tertentu dan untuk tujuan tertentu sudah banyak yang kembali ke tanah kelahirannya. Orang–orang yang terluka karena tertimpa reruntuhan rumah sekarang sudah sehat dari luka-lukanya dan kembali beraktivitas.

Itulah sebabnya, relawan asing sudah hampir sepenuhnya pulang ke negara asalnya. Hanya satu dua yang masih tersisa dan tinggal di Tanah Rencong untuk berbagai aktivitas. Seperti halnya Alice van Kherkoff yang kini masih bersama Zahra.

“Jangan tinggalkan saya, jangan tinggalkan anak-anak Aceh. Jangan tinggalkan bumi Serambi Makkah. Bukankah dalam diri kakak juga ada titisan darah Aceh yang diwariskan dari kakek moyang yang saat itu datang ke Aceh untuk memburu lada? Bukankah kakak pernah menuturkan, bahwa kakek moyang Kak Alice datang dengan menggunakan kapal niaga lalu kapal itu ditenggelamkan oleh prajurit Sultan Mahmud Syah? Dan kakek moyang Kak Alice terdampar di Aceh lalu menikah dengan perempuan Aceh.”

Kata-kata itu hanya membuat Alice termenung beberapa saat. Tragedi yang dialami generasi di atas van Kherkoff ketika memburu lada dengan menggunakan kapal dagang milik Nederlands Handel Maatschappi ditenggelamkan oleh meriam-meriam Sultan Mahmud Syah sebagian menjadi tawanan lalu sebagian lagi mencebur ke laut kemudian mendarat di pantai-pantai barat Aceh. Dan salah seorang yang mendarat di pantai itu adalah kakek van Kherkoff yang akhirnya menikah dengan gadis Aceh. Lalu saat pulang ke Belanda dengan menumpang kapal mlik inggris. Itulah sebabnya dalam diri Alice juga mengalir darah Aceh.

“Kalau memang benar dalam darah Kak Alice ada titisan darah Aceh, jangan tinggalkan Zahra. Jangan tinggalkan negeri kami!” suara Zahra memelas.

Seperti ada mukjizat yang turun dari langit, hati relawan kelahiran Belanda itu tidak mampu menepiskan tangan Zahra yang berpegangan pada tangannya. Alice tidak mampu untuk menolak permintaan Zahra untuk selalu berada disisinya, untuk selamanya. Relawan asing itu tidak mampu menolak ketika Zahra berharap dia dapat menjadi pengganti ibunya. Padahal Alice menyadari, bahwa untuk tetap tinggal di Serambi Makkah selamanya harus menempuh prosedur yang berliku-liku dan alot. Dia pasti akan mondar-mandir ke kedutaan Belanda dan ke berbagai instansi terkait. Apalagi untuk mengganti ibu Zahra persoalannya akan lebih panjang sebab Alice adalah seorang penganut Kristen. Dia harus merubah keyakinannya. Dia harus memeluk Islam. Dia harus menjadi seorang Muslimah.

Tiba-tiba Zahra memeluk relawan bule asal Belanda ketika dari celah bibir Alice tercetus keinginan untuk tetap disisi Zahra selamanya, ingin selamanya pula bermukim di Tanah Rencong dan juga ingin menjadi almarhumah ibunya yang telah dikuburkan secara massal tanpa dimandikan, tanpa dikafani dan tanpa di salatkan. Perempuan bule asal Negeri Kincir Angin itu memang benar-benar sudah jatuh cinta kepada Serambi Makkah. Apalagi dia selalu ingat bahwa dalam dirinya mengalir darah Aceh. Sudah sepantasnya bila Alice van Kherkoff menetap disisi Zahra dan selamanya akan bermukim di Serambi Makkah.

Dalam diri Zahra seolah-olah ada kekuatan gaib yang mampu meluluhkan segumpal hati yang keras. Kekuatan gaib itulah yang mampu menggugah hati seorang perempuan kelahiran Belanda untuk menjadi seorang Muslimah kemudian menjadi pengganti Ibu Zahra. Padahal saat itu Zahra dalam keadaan sehat dan segar bugar. Dia hanya pura-pura sakit, berpura-pura kepalanya pening, pura-pura perutnya mual, tubuhnya lemah, dan ingin mati untuk menyusul almarhumah ibundanya. Zahra hanya berpura-pura sakit agar hati relawan bule itu tergugah. Zahra hanya berpura-pura menggigil dan menyelimuti dirinya. Dia berpura-pura batuk dan berpura-pura dirinya amat lemah. Dan gadis cilik itu benar-benar telah berhasil melumpuhkan hati seorang perempuan yang berasal dari daratan Eropa.

***

S

ebuah rahmat Tuhan telah turun di Aceh pada saat perempuan kelahiran Belanda itu mengucapkan ikrar dua kalimah syahadat di sebuah mesjid. Betapa dia terlihat sangat cantik dan lembut pada saat mengenakan busana Muslimah di depan puluhan jemaah mesjid syuhada. Seorang umat kristiani hari itu telah menjadi seorang Muslimah. Pada saat itu pula lebih dari dua ratus anak-anak Aceh yang dibawa eksodus keluar Tanah Rencong telah kembali. Bukankah semua itu adalah rahmat yang tiada tara besarnya? Lebih besar dari Bukit Uhud atau Jabbal Tsur.

Perempuan yang matanya biru itu ketika bersimpuh tampak anggun, lembut dan penuh keibuan. Dia pun hanya tersenyum ketika namanya tidak lagi Alice van Kherkoff, tapi sudah diberi nama baru, yakni Aisyah, lengkapnya Cut Aisyah Mardiah.

“Nama itu berarti hidup makmur dan nama itu adalah nama istri Rasullullah!” itulah yang diucapkan Zahra ketika memberikan nama itu.

“Saya merasa senang sekali dengan nama itu. Artinya saya akan hidup makmur di negeri ini dan saya akan menjadi Muslimah yang solehah seperti halnya istri nabi!” sahut perempuan yang rambutnya pirang itu. Sekarang dia bukan lagi seorang perempuan Belanda, tapi seorang Inong Aceh yang cantik dan lembut, yang akan mencintai negeri ini. Alice sekarang sudah menjadi seorang perempuan Aceh sejati.

Siapa lagi yang telah mengajarkan ayat-ayat Alquran kepada perempuan bermata biru itu kalau bukan Zahra? Siapa yang mengajarkan salat kepadanya kalau bukan Zahra? Perempuan Aceh harus dapat membaca Alquran. Setiap perempuan Aceh tidak boleh mengumbar aurat dan harus senantiasa mengenakan busana Musimah. Dan itulah yang dilakukan seorang perempuan kelahiran Negeri Kincir Angin tapi memiliki nama bernuansa Islami, Cut Aisyah Mardiah. Dia pun harus hidup dengan didasari adat budaya Tanah Rencong. Dia harus mengerti apa itu peusijuek atau sejenis tepung tawar. Lihatlah perempuan yang kini memiliki nama Cut Aisyah Mardiah itu sudah pandai mengucapkan kata-kata:

“Langkah, reseuki, perteumuen, maot bak Allah.”

Perempuan yang baru sesaat menjadi Muslimah itu sudah pandai mengucapkan kata-kata yang artinya kita berusaha, namun umur senantiasa pada Tuhan.

Perempuan yang kini bernama Cut Aisyah Mardiah itu sudah terbiasa mengenakan pakaian wanita Aceh, sudah terbiasa menutup kepala dan rambutnya dengan ija sawak atau selendang. Dia pun sudah terbiasa mengenakan bajee panyang jaroe atau busana berlengan panjang, bajee kurong atau baju kurung. Dia pun sudah biasa duduk bersimpuh di atas tikar pada acara-acara kenduri atau pertemuan keluarga lainnya.

Apalagi dalam hal masak-memasak atau membuat kue, perempuan yang kini bernama Cut Aisyah Mardiah itu sudah pintar memasak gulai pliek atau membuat kue khas Aceh yang bernama timfan. Perempuan itu tidak akan heran lagi mendengar istilah”seulusoh” atau sejenis ilmu kebatinan untuk menolong calon ibu yang akan melahirkan bayinya. Dengan seulusoh perempuan hamil yang sedang dalam kesulitan untuk melahirkan akan segera mendapatkan pertolongan Allah dan bayinya akan segera lahir kedunia.

Selama bermukim di Serambi Makkah, perempuan yang kini selalu dipanggil Cut Aisyah Mardiah itu hanya seorang diri. Papi dan mami, oppa dan omma serta oom dan semua kerabatnya di Belanda. Dia sendiri di bumi Tanah Rencong, tapi tidak pernah merasa kesepian. Juga tidak merasa sedih karena sebatang kara. Sebab, di Serambi Makkah dia memiliki banyak sahabat, sebab sesama muslim adalah bersaudara.

Cut Aisyah tidak harus hidup terlunta-lunta. Tidak harus tidur di kolong jembatan atau di emperan toko. Banyak, bahkan amat banyak warga Tanah Rencong yang menawarkan kebaikannya dan mengajaknya tinggal bersama. Banyak, bahkan amat banyak para ibu-ibu pemuka masyarakat yang menawarkan sebagai ibu asuh.

Beruntunglah perempuan berdarah Belanda itu akhirnya tinggal di rumah ibu Hajjah Fadilah, seorang janda kaya yang memiliki beberapa toko tekstil. Janda yang sudah tiga kali umroh itu amat baik dan ikut bangga ada seorang mualaf tinggal di rumahnya. Dengan senang hati Bu Hajjah Fadilah memberikan bimbingan tentang islam kepada Cut Aisyah Mardiah. Cut Aisyah seperti mendapatkan tempat bernaung yang benar-benar sejuk. Perempuan berkulit putih yang sekarang bernama Cut Aisyah memang cepat beradaptasi dengan warga setempat. Dia cepat menyatu dengan warga Tanah Rencong itu, apalagi dengan alam. Dia juga cepat mengenal falsafah, kiasan atau pepatah Aceh. Dia akan mengetahui arti kata-kata:

“Pat ujeun han pirang prang tan reda.”

“Selalu ada waktu untuk berhentinya hujan dan selalu ada waktu untuk menghentikan peperangan!” itulah jawab Aisyah.

“Bek tapoh-tapoh budak lam ayon,” Cut Aisyah tau persis artinya, jangan diusik bayi dalam buaian. Atau kiasan lain:

“Meuk’op kop lagee manok keumarom,” Cut Aisyah pasti tahu artinya, bahwa seorang perempuan yang wajahnya bersungut-sungut. Apalagi kalau mendengar kata-kata: Ngon aneuk muda keubit gagah, yang berarti anak muda yang gagah dan simpatik. Atau awaknyan dua jimeudeuk sapat yang artinya duduk berdua berdampingan.

Cut Aisyah tidak akan pernah menyesal menjadi bagian dari masyarakat bumi Serambi Makkah. Apalagi pada saat ini ketika rakyat Aceh membangun daerahnya kembali dan pelan-pelan mulai sarat dengan kapal-kapal niaga mengangkut barang-barang impor dan ekspor. Apalagi para janda-janda yang kehilangan suami saat tsunami terjadi, kini sudah banyak yang menikah lagi.

Demikian juga halnya dengan guru bidang studi seni rupa yang telah kehilangan istri tercintanya, sesaat lagi akan mendapatkan seorang teman hidupnya kembali.

Adat dan budaya Serambi Makkah yang senantiasa berlandaskan Islam tidak membuat perempuan bermata biru itu harus bingung dan kaku. Sebab, sejak dia menjadi mahasiswa jurusan Seni dan Budaya Asia Tenggara dia sudah banyak mengenal Aceh dengan segala liku-liku budayanya. Sejak masih mahasiswa di Leiden dia sudah mengenal apa yang apa yang dikatakan orang Adat ngon hukum lagee zat nugon sifeuet yang bermakna hubungan adat dengan hukum, terutama Islam seperti zat dengan sifatnya.

Itulah sebabnya empat hari menjelang pernikahannya dengan seorang lelaki Aceh yang profesinya adalah seorang guru SMA bidang studi seni rupa, perempuan yang pernah memiliki nama Alice van Kherkoff yang tidak lagi kaget ketika dia didudukkan di atas tilam duek dan diatasnya dibentangkan 7 lapis kain dan di depannya 7 orang wanita tua membacakan kalimah-kalimah sawalat nabi menggiling gaca atau inai. Malam berinai atau Gaca phon memang dirasakan Cut Aisyah amat meriah dan penuh kesan indah. On gaca geupeusijuek atau penepung tawaran dilakukan oleh para orang tua yang terpadang di kawasan itu.

Calon pengantin itu hanya tersenyum-senyum ketika belasan gadis remaja Tanah Rencong saling bercanda dan bersenda gurau, sementara tamu-tamu yang datang membawa beras sepinggan dan uang yang disebut seuneuma yang diterima calon pengantin itu dengan riang. Dalam bilik pengantinnya yang disebut juree, Cut Aisyah membiarkan kuku-kuku jarinya dipolesi inai yang indah, tapi juga telapak tangan dan kakinya, bahkan hingga ke betis ikut dihiasi dengan inai serta mengukir gambar aneka bunga.

“Anda tampak cantik sekali pada malam berinai ini!” cetus beberapa gadis remaja yang ikut hadir pada malam itu.

“Kami tidak pernah melihat calon pengantin secantik Anda!” sambut yang lain.

Calon pengantin yang memang berdarah Belanda itu hanya tersenyum bahagia. Bu Hajjah Fadilah yang kini menjadi ibu asuh Cut Aisyah juga ikut kagum melihat kecantikan perempuan bule itu mengenakan pakaian adat Aceh. Semua pelaksaan yang berkaitan dengan pernikahan itu berlangsung di rumah Bu Hajjah Fadilah, mulai dari meuduk pakat atau duduk bermufakat antar keluarga hingga rangkaian acara berikutnya hingga bersanding.

Di rumah besar itu pula telah berkumpul keucik, imam kampung, imam meunasah dan pemuka masyarakat. Di rumah besar itu pula berlangsung malam Gaca phon yang meriah.

Usai upacara malam berinai, seperti umumnya gadis-gadis yang akan mengakhiri masa kegadisannya, sehari sebelum perkawinannya dia harus melakukan adat mandi berlimau yang dilakukan di rumah besar itu dengan dipimpin seorang perempuan tua berusia hampir 80 tahun.

Di rumah besar itu pula berlangsung resepsi pernikahan yang seluruhnya dilaksanakan dengan adat Aceh. Tidak kurang seribu orang undangan hadir dalam pesta itu. Tamu-tamu yang hadir amat banyak karena sang mempelai wanita berdarah Belanda yang banyak mempelajari adat serta budaya Aceh di negaranya, di Leiden.

Tamu-tamu silih berganti ketika perkawinan seorang guru SMA bidang studi seni rupa yang telah kehilangan istrinya dengan seorang perempuan bule. Hari itu seorang perempuan kelahiran Belanda itu tampak seperti seorang bidadari yang baru turun dari langit ketika dia duduk diatas pelaminan. Cut Aisyah benar-benar cantik mengenakan pakaian adat pengantin Aceh.

Sepasang bibir mempelai perempuan yang cantik dan anggun itu selalu tersenyum setiap menerima uluran tangan yang memberikan ucapan selamat. Dia benar-benar bahagia menyaksikan tamu-tamu amat banyak dan kesenian Ramphak ditampilkan diatas pentas, sebuah tari yang melukiskan keperkasaan Inong Aceh dalam menghadapi penjajah. Cut Aisyah benar-benar kagum.

Seni Rapa-i mempelai perempuan yang merasakan saat-saat bahagia, tapi seorang gadis cilik, Zahr juga ikut bahagia. Andai saat itu yang bersanding disisi ayahnya adalah orang lain, pasti dia akan menangis, pasti air matanya akan berderai-derai. Zahra telah menemukan seorang pengganti ibunya, seorang perempuan yang hatinya amat lembut meskipun perempuan itu berasal dari negeri yang amat jauh, di daratan Eropa. Namun Zahra bangga, dia telah mampu menggugah hati perempuan yang berasal dari negeri yang amat jauh itu menjadi pengganti ibunya. Andaikan Zahra punya adik nanti, pasti cantik sekali. Pasti rambutnya pirang.

Ketika diatas pelaminan itulah Cut Aisyah banyak menerima ucapan selamat melalui telepon dari para sahabat dan juga dari seorang kakak yang bertugas di Kedutaan Besar Belanda di Sri Langka. Juga dari saudara sepupu ibunya yang bertugas sebagai Atase Kebudayaan di India. Tidak ketinggalan dari saudara ayahnya yang bertugas sebagai diplomat di Thailand. Sebagian besar kaum kerabatnya memang menjadi diplomat dan menempati pos di kawasan Asia Tenggara. Meskipun namanya kini sudah menjadi Cut Aisyah Mardiah, dia selalu meras dekat dengan kerabatnya.

Perkawinannya dengan seorang lelaki Aceh dan harus bermukim di bumi Serambi Makkah itu tidak menyebabkan dia harus dikucilkan sahabat dan famili.

“Tidak merasa sebatang kara di Tanah Rencong ini?” itulah yang ditanyakan Agam di atas pelaminan.

“Kenapa harus sebagai sebatang kara? Semua warga Aceh adalah saudara saya,” sahutnya polos.

Ketika jari-jemari tangannya digenggam amat erat oleh suaminya, terdengar suara lagi.

“Saya akan menjadi ibu Zahra yang baik. Saya akan selalu menyayanginya, saya akan mengasuhnya, saya akan mendidiknya sampai suatu saat dia dapat belajar di Leiden dan tinggal di rumah saya.”

“Semoga semua itu terwujud nanti. Dan saya akan selalu memanggilmu dengan kata-kata, wahai pipi yang kemerahan, seperti halnya Nabi memanggil istri tercintanya.”

“Saya senang dengan hal itu, terdengar begitu lembut. Dan saya akan memanggil suami saya dengan Yah Zahra. Bukanka almarhumah ummi Zahra juga memanggil begitu?”

“Ya! Dan sejak saat ini Zahra akan memanggilmu dengan ummi.”

“Saya akan bahagia sekali.”

Hampir tidak pernah terjadi sebelumnya, seorang perempuan bule menikah dengan seorang lelaki Aceh. Gelombang mahadahsyat tsunami yang terjadi amat banyak menelan korban jiwa rakyat Aceh, tapi juga membawa rahmad dengan hadirnya ribuan relawan dari berbagai negara. Dan siapa menduga, salah seorang relawan asing itu berkenan menjadi seorang Muslimah dan akhirnya menikah dengan seorang putra Aceh yang karirnya adalah seorang guru bidang studi seni rupa? Bumi Serambi Makkah benar-benar telah mendapatkan rahmat.

***

M

eskipun darah Belanda tetap mengalir dalam dirinya, tapi Cut Aisyah tidak harus bersedih dan tidak harus menyesal ketika dia harus hadir di dapur, mengupas bawang dan meracik sayur. Sepasang matanya amat pedih dan berair ketika dia mengupas bawang. Sejak pernikahannya dengan Agam, dia sudah menjadi perempuan Aceh. Dan setiap perempuan Aceh harus hadir di dapur, tak peduli matanya berair ketika mengupas bawang.

Sayur pliek dan gulai ikan tongkol yang terhidang di meja makan ternyata amat disenangi oleh Zahra dan ayahnya. Apalagi ketika sore hari, sambil menikmati teh hangat, diatas meja tersedia makanan ringan khas Aceh, yakni peunajoh.

Ummi sudah pintar membuat makanan Aceh!” cetus Zahra.

“Besok Ummi akan membuat doi-doi! Lalu besoknya lagi Zahra akan menikmati teutumeh.”

Apa itu teutumeh?” Tanya Zahra.

“Bukankah itu juga khas makanan Aceh?”

“Ummi akan membuatkannya untuk saya? Zahra akan senang sekali menikmatinya. Dari mana ummi belajar membuat makanan itu?”

“Tentu saja dari perempuan Aceh, dari ibu Hajjah Fadilah. Saya akan menghidangkannya untuk Zahra.”

“Ummi jadi ahli memasak di rumah ini. Zahra akan gemuk karena makanan Ummi selalu enak.”

Cut Aisyah hanya tersenyum. Selama tinggal bersama ibu asuhnya Bu Hajjah Fadilah, dia memang banyak belajar tentang makanan Aceh, bagaimana memasak teutumah yang bahannya terdiri dari cumi-cumi, jeruk nipis, belimbing wuluh, cabe merah, santan dan minyak goreng.

“Kamu pasti suka seulinca!” terdengar lagi suara perempuan bule itu yang kini bernama Cut Aisyah Mardiah itu.

“Apa pula itu? Saya hanya pernah mendengar namanya.”

“Kamu pasti suka karena merupakan minuman segar khas Aceh. Ummi akan membuatkan khusus untuk Zahra dan Yah Zahra.

“Saya akan senang sekali menikmatinya.”

Hari-hari yang penuh dengan kebahagiaan kini tergenggam di tangan perempuan bule itu yang kini sudah menjadi perempuan Aceh. Dia merasa berbahagia meskipun sekarang waktunya lebih banyak di dapur meracik sayur. Kebahagiaan itu juga milik Agam, seorang guru SMA bidang studi seni rupa.

Siapa yang tidak senang dan bahagia kalau pulang dari mengajar mendapati di rumah ada sajian segar bernama seulinca yang bahannya terdiri dari mangga masak, nanas, jambu air, apel dan bengkoang? Sungguh merupakan minuman segar dan nikmat berupa perpaduan jus dan rujak.

“Wah! Wah! Kalau seperti ini kita dapat membuka restoran!” itulah komentar Zahra ketika pulang dari sekolah dan matahari amat terik dia segera menikmati seulinca. Membuat timfan, jangan tanya lagi. Pasti perempuan bule itu sekarang sudah ahli membuatnya.

Jiran tetangga juga ikut menikmati meuseukat dan karah yang dibuat Aisyah. Bahkan, ketika seorang tetangga yang kedatangan besannya dari Bandung memesan kue-kue itu dari Cut Aisyah Mardiah. Sekarang matanya tidak lagi pedih, tidak lagi berair kalau meracik sayur dan mengiris bawang.

Bila malam tiba, siapa lagi yang membantu Zahra mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan gurunya kalau bukan Cut Aisyah Mardiah? Hampir tiap pekerjaan rumah Matematika dia selalu mendapatkan nilai seratus. Apalagi bahasa Inggris, di kelasnya Zahra pasti mendapatkan pujian. Biologi juga begitu. Siapa menyangka, sejak kehadiran seorang perempuan pengganti ibunya pada semester pertama Zahra adalah juara kelas? Gadis cilik itu amat senang dan bahagia. Kerinduan terhadap almarhumah ibunya yang direnggut tsunami telah terobati.

Andainya yang hadir di rumah itu adalah perempuan lain yang menggantikan ibunya, mungkin dia akan selalu menangis, air matanya akan selalu berderai dan pasti nilai pelajarannya akan jeblok.

Tuhan pun memberi rahmat kepada perempuan dari negeri seberang itu dengan hadirnya seorang calon bayi dalam rahimnya. Sebentar lagi rahimnya akan lahir adik Zahra yang mungil. Kebahagiaan semakin erat tergenggam di tangannya.

Acara mee bu atau mengantar bu kulah atau mengantar nasi yang dibungkus daun pisang berbentuk pyramid segera dilangsungkan setelah bayi yang dikandung Aisyah tepat 7 bulan. Kebahagiaan amat jelas tergambar di wajahnya yang ceria ketika ibu mertua dan rombongan sanak famili datang dengan membawa nasi bungkus, ikan panggang, dan burung merpati yang juga dipanggang.

Tempat duduk bagi para tamu-tamu rombongan ibu mertua duduk bersila di keseuramoekeue atau serambi depan dan rombongan keluarga Cut Aisyah yang diwakili ibu asuhnya keluarga Bu Hajjah Fadilah duduk di ruang belakang atau disebut seuramoe likot. Hidangan pun segera digelar untuk santap bersama.

“Burung panggang dan segala lauk pauk ini memiliki makna agar seorang calon ibu yang akan melahirkan dalam kondisi sehat jasmani dan rohaninya!” itulah tutur ibu mertua Aisyah.

“Terima kasih. Saya merasa cukup sehat. Bayi saya seperti bermain bola dalam perut saya!” sahut Cut Aisyah tersenyum dan mengusap perutnya yang mulai membukit.

“Bagi masyarakat Aceh, setiap ibu yang melahirkan bayinya dianggap sebagai sabong nyawong,” ujar ibu mertua lagi.

“Artinya menyambung nyawa. Begitukah?” Cut Aisyah menatap ibu mertuanya dalam-dalam.

“Ya! Karena itu setiap calon ibu harus selalu makan yang lezat, dan dimanjakan agar selalu sehat.”

Cut Aisyah Mardiah hanya tersenyum. Dia merasa betapa pihak mertua dan seluruh kerabat amat penuh perhatian terhadap dirinya. Dia semakin kerasan di bumi Tanah Rencong.

Betapa berbeda sistem kekerabatan masyarakat Aceh dengan di negerinya yang terletak di Eropa Barat itu. Di Belanda setiap anak-anak yang sudah dewasa tidak lagi bergantung kepada kedua orangtuanya, juga dalam hal nafkah. Mereka mandiri dalam semua hal. Apalagi setelah menikah, orang tua atau mertua tidak peduli lagi, sebagaimana orang lain.

Namun di Aceh, meskipun sudah menikah, bahkan hingga saat melahirkan, orang tua ikut campur bahkan sampai mengantar ke bidan yang akan membantu kelahirannya dengan upacara adat.

“Nyoe udep mate aneuk lon, lon pulang lam jaroe gata,” itulah kata-kata yang diucapkan ibu atau ibu mertua kepada bidan. Sang bidan pun tidak ketinggalan menerima bahan-bahan peuneulang yang terdiri dari tepak sirih lengkap dengan isinya, pakaian dan uang.

Cut Aisyah Mardiah merasa ketika melahirkan nanti tidak perlu ke rumah sakit besar yang lengkap sarana perawatannya. Lagipula dokter ginekolog yang memeriksa kandungannya mengatakan semuanya sehat. Apalagi bagi masyarakat Aceh bantuan berupa air seulusoh itu memiliki khasiat membuka pintu kelahiran bagi sang bayi.

“Di Negara saya tidak pernah ada seperti ini. Tidak pernah ada seorang menantu yang mendapatkan kiriman burung merpati yang dipanggang dan rasanya sangat enak!” tersengar suara Cut Aisyah ketika dian menikmati burung merpati yang panggang.

“Beginikah adat kebesaran Aceh, tidak akan pernah hilang oleh kemajuan zaman dan teknologi!”

Keluarga besar itu santap bersama dan tampak jelas ras persaudaraan dan kekerabatan yang amat kental pada acara mee bu itu.

***

A

da cairan bening begulir di pipi Cut Aisyah ketika dia baru saja melahirkan bayinya di sebuah klinik bersalin. Air seulusoh yang sidah diberi jampi-jampi benar-benar membuat bayinya dengan mudah lahir ke dunia. Tangis pertama bayi itu terdengar amat nyaring. Dan cairan bening yang bergulir di pipinya adalah airmata keharuan dan kebahagiaan.

Sesaat kemudian terdengar lantunan azan yang dilakukan ayahanda sang bayi yang baru lahir. Zahra juga tampak amat senang menerima kehadiran adiknya dan mencium kening sang adik yang mungil dan sepasang matanya tampak biru, mewarisi sepasang mata ibunya. Darah Belanda juga mengalir dalam diri si kecil yang baru lahir ke dunia. Hari itu Cut Aisyah Mardiah telah menjadi seorang ibu. Dia ikut menengadahkan kedua tangan dan mengaminkan ketika ayahanda bayi itu membaca baris-baris doa usai melantunkan azan.

Hanya sesaat kemudian seorang bidan menyerahkan sesuatu kepada ayahanda bayi itu.

“Apa yang diberikan bidan itu?” tanya Cut Aisyah melirik suaminya.

“Warga Aceh menyebutnya adoe!” sahut Agam.

“Apa itu adoe?”

“Uri!”

“Oh, plasenta!”

“Ya!”

“Lalu akan dibawa kemana?”

“Adoe harus ditanam baik-baik serta menanamnya tidak boleh sembarangan.”

“Di negera saya, plasenta dibuang sembarangan oleh perawat atau dokter yang menolong persalinan.”

“Disini yang namanya adoe harus dimuliakan dan ditanam dengan periuk tanah serta harus menghadap kiblat.”

Lelaki yang profesinya sebagai guru SMA bidang studi seni rupa itu menjelaskan, bahwa dalam masyarakat Aceh sudah tertentu, bahwa plasenta dari anak lelaki harus ditanam dibawah seurayueng atau dibawah cucuran atap, sementara plasenta bayi perempuan ditanam tidak jauh dari tangga atau pintu depan. Hal itu berkaitan dengan status anak lelaki yang mencari nafkah, sementara anak perempuan sebagai ratu rumah tangga. Menanam plasenta yang sudah dibersihkan amat dilarang jauh dari rumah, dengan harapan kelak bila dewasa tidak meninggalkan kampung halaman atau tanah kelahirannya, tidak meninggalkan bumi Serambi Makkah.

Ah, betapa amat unik adat budaya Tanah Rencong, pikir Aisyah. Usai pelaksanaan koh pusat atau pemotongan pusat dan melantunkan azan serta tanom adoe masih ada lagi acara berikutnya, upacara manoe peuet ploh peuet atau mandi pada saat bayi berumur 44 hari. Acara itu diiringi upacara peucicat atau memberi rasa pada bayi dan cuko ok atau mencukur rambut sang bayi serta peutron atau peugilho tanah atau acara turun tanah dan berakhir pemotongan hewan kambing untuk akikah disertai pemberian nama.

“Bolehkah saya memberi nama adik saya, ummi?” ujar Zahra di depan adiknya.

“Kenapa tidak?”

“Kita beri nama Ziyan. Lengkapnya Ziyan Madani. Kita panggil Ziyan. Enak kedengarannya, bukan?”

“Apa artinya nama itu?” tanya Cut Aisyah yang sedang memberi asi bayinya. Lihatlah betapa sang bayi meneguk asi dari ibunya amat lahap. Rambutnya yang pirang dan sepasang matanya yang biru menandakan ada darah Eropa yang mengalir dalam dirinya.

“Ziyan artinya perhiasan yang amat indah. Dan Madani artinya warga kota yang berbudaya tinggi.”

“Lalu nama itu maknanya adalah perhiasan yang indah bagi warga kota yang berbudaya tinggi. Begitukah?”

“Ya!” Bukankah nama itu amat indah?”

“Ya. Nama yang enak didengar dan enak diucapkan. Semoga kalau besar nanti si kecil ini benar-benar seakan menjadi perhiasan. Semoga dia menjadi seseorang yang berbudaya tinggi.”

“Amin,” sahut Zahra.

Rumah yang dibangun diatas puing-puing rumah lama yang dirobohkan tsunami itu telah mendapatkan limpahan rahmat dengan lahirnya seorang bayi mungil yang diberi nama amat indah, Ziyan Madani.

Asi yang diteguk si kecil Ziyan membuat badannya cepat besar dan pintar. Asi itu membuat daya tahan tubuhnya meningkat sehingga jarang sakit, jarang flu, apalagi diare. Si kecil Ziyan memang benar-benar sehat. Lihatlah lincahnya bukan main, ketika si kecil Ziyan sudah dapat merangkak, sampai ke ujung kamar.

Cut Aisyah Mardiah amat senang bermain dengan si kecil, lalu menjelang tidur Cut Aisyah selalu membacakan puisi yang ditulis oleh Teungku Tjhik Pantee Gaulima yang melukiskan saat-saat perpisahan Sultan Iskandar Mudah dengan putrid Pahang yang ditinggalkannya:

“Kakanda memanggil adindaku sayang,

Hasrat jiwa menyampaikan berita,

Andai izin Allah penyayang,

Kanda berangkat ke Johor Lama.

Kalau takdir umurku panjang,

Akan mengejar di ujud celaka,

Menjawab putrid berhati bimbang,

Tersedu sedan cucurkan air mata.

Air mata duka mengembun di mata

Bagaikan hujan bertitik linang,

Baru sekarang pendapat diminta,

Hina kiranya Putri Pahang…….”

Belum selesai syair itu dibacakan, si kecil Ziyan sudah tertidur pulas. Hampir tiap menjelang tidur, si kecil Ziyan yang lincah itu selalu mendengar ummi-nya membacakan syair. Bocah itu tersenyum ketika ditelinganya diperdengarkan sebuah puisi yang ditulis Syekh Ismail bin Abdul Al Asyi, seorang ulama Aceh yang menetap di Makkah pada abad XIX yang tertera pada pengantar buku Tajul Mulk:

Kami mula dengan nama Allah

Dengan bismillah ambil sempurna

Alhamdulillah sekalian puji

Tuhanku Robbi amat kuasa

Kemudian shalawat akan Nabi

Sahabat sari sama serta,

Amma ba’du wahai tuan

Inilah karangan ajab semua

Mula-mula kami surat

Ilmu hisab wahai saudara

Sirajul Dhalam nama kitab

Wahai sahabat bukan perbula,

Asal tarikat ilmu nujum

Nabi Idris guru cetera

Lagi tersebut dalam kitab ini

Arti yang hilang disini nyata

Lagi pasal dua tiga macam

Wahai tuan ajab semua

Ilmu tabib segala obat

Mujarrabat asal mula

Lima puluh bab penyakit

Disini tersebut wahai saudara

Napas kanan napas kiri

Dalam kitab ini semua nyata

Baik dan jahat wahai akhi

Dalam syarah ini semua nyata

Si kecil Ziyan itu pun akhirnya tertidur lelap dalam dekapan ibunya tercinta. Kadang-kadang Zahra juga ikut mendengar puisi itu hingga tertidur pulas.

Berbahagialah seorang lelaki yang telah mengawini perempuan berambut pirang dan matanya biru itu. Kini perempuan itu taat beribadah, pintar memasak dan menidurkan putranya dengan lirik-lirik puisi bernapaskan Islam. Perempuan mana yang dapat berbuat seperti itu sementara awalnya perempuan itu adalah berasal dari daratan Eropa? Suasana rumah itu terasa selalu sejuk dan penghuninya akan kerasan sepanjang hari di rumah. Hari-hari pun cepat berlalu. Hari-hari yang indah.

Di seluruh desa dan kota-kota di bumi Serambi Makkah, pasangan suami-istri Agam-Cut Aisyah adalah keluarga yang paling berbahagia dan harmonis, tidak ada yang melebihi kebahagiaan keluarga itu. Hingga awan putih yang berarak di langit pun sejenak berhenti tepat di atas rumah itu dan melihat sepasang suami-istri yang sedang meniti hari-hari yang amat manis.

Apalagi burung-burung yang bermain di ranting pohon selalu melirik ke arah rumah itu dan tampak wajah-wajah yang ceria penuh kebahagiaan disana. Kupu-kupu aneka warna yang bermain di rumpun bunga juga ikut melihat suasana bahagia itu. Bahkan, semut-semut kecil yang amat banyak jumlahnya dan sering beriring mengusung bangkai belalang ke sarangnya, sekan berhenti dan tertegun melihat betapa mesra suami-istri itu.

Lihatlah daun-daun pohon sawo, gemerisik bergoyang-goyang dibelai angin lembut seakan sedang berdendang dan menari ikut merasakan kebahagiaan keluarga itu.

Tapi siapa menduga, bahwa suasana bahagia, manis dan mesra suatu saat akan berubah amat pahit seperti empedu?

Tidak ada yang menduga,bahwa dalam rumah tangga itu akhirnya ada badai dahsyat, lebih dahsyat dari hempasan gelombang tsunami. Tidak pernah ada yang menduga, bahwa gempa paling mengerikan mengguncang rumah tangga itu. Tsunami yang amat dahsyat sudah berlalu, namun hempasan lainnya riba-tiba menghadang.

Burung-burung pun segera menggelepar dan terbang tinggi ketika sebuah rumah tangga diterpa gempat paling dahsyat. Awan putih yang berarak di langit pun berubah menjadi mendung kelabu yang menggumpal-gumpal yang membawa angin topan yang merobohkan pohon-pohon dan bangunannya megah. Angin memang tidak selamanya berhembus lembut, tidak selamanya pula berhembus sepoi-sepoi, tapi suatu saat menjadi badai yang menimbulkan bencana.

***

B

encana itu diawali dengan munculnya mobil carry yang memasuki halaman rumah itu dan membawa sejumlah benda-benda, seperti patung kayu, berbagai kaligrafi yang diukir diatas batu pualam, senjata-senjata seperti keris, rencong, kapak berukir, perhiasan dari batu berukir dan dari batu berwarna, nekara atau genderang berukir burung merak, gajah dan ragam geometris padahal genderang seperti itu biasanya alat tetabuhan pada upacara ritual nenek moyang.

Bejana logam yang sudah berumur ratusan tahun juga terlihat dalam mobil yang dikendarai oleh seorang perempuan berwajah cantik dan rambutnya ditutupi jilbab. Berbagai bentuk prasasti juga tampak dalam mobil itu. Tidak ketinggalan lampu gantung dari logam cor yang ukirannya amat indah. Ada lagi lampu minyak tembikar yang penuh ukiran. Puluhan topeng bernilai seni juga memenuhi mobil.

Seorang perempuan cantik turun dari mobil itu dan mengucapkan salam. Siapa lagi yang menyambut kehadiran perempuan berbusana Muslimah itu kalau bukan seorang lelaki bernama Agam yang memang telah kehilangan barang-barang koleksinya berupa ukiran-ukiran dan benda-benda kuno?

“Saya ingin bertemu saudara Agam,” ujar perempuan itu.

“Saya sendiri. Ada sesuatu keperluan dengan saya?” sahut lelaki berprofesi sebagai guru SMA itu.

“Saya telah menemukan benda-bendsa yang pasti merupakan kesayangan Anda.”

“Benda-benda apa?”

“Anda boleh melihat sendiri di mobil saya.”

Tanpa menunggu lama, lelaki itu melihat si mobil yang dikendarai perempuan berwajah cantik itu. Jantung Agam berdebar amat kencang. Darahnya berdebur-debur.

“Ya, benda-benda ini milik saya. Tsunami telah merobohkan rumah saya dan menerjang semua benda-benda kesayangan saya. Seperti ada sebuah keajaiban, seseorang mengantarkan benda-benda amat berharga ini kepada saya!”

“Saya menemukannya diantara rerumputan sebuah kantor kelurahan dan terbenam lumpur. Pada awalnya saya menemukan sebuah rencong berukir indah dan yang tampak hanya gagangnya.”

“Alhamdulillah!” cetus Agam terperangah.

“Berikutnya saya menemukan mangkuk-mangkuk berukir dari kuningan dan juga tempat buah dari perak bakar. Semua tertimbun lumpur dan kotor. Saya menggali timbunan lumpur dan tampak berbagai perhiasan dari logam dan patung-patung.”

“Bagaimana Anda peduli pada benda-benda itu? Bagaimana Anda tahu, benda-benda itu adalah barang bernilai seni yang amat tinggi?”

Perempuan itu mengulurkan tangan.

“Kita belum berkenalan, panggil saya Cut Halimah.”

“Apakah Cut seorang guru seperti saya atau seorang dosen?”

“Tidak!” Hanya pemilik galeri yang saya beri nama Meuligoe Putroe. Saya juga seorng pecinta karya-karya seni terutama seni rupa sekaligus seorang kolektor. Silahkan datang ke galeri saya.”

“Terima kasih, hari ini saya telah menerima rahmat yang paling besar. Seperti sebuah keajaiban, benda-benda kesayangan saya yang diterjang tsunami adalah seorang perempuan cantik.”

“Kita akan bersahabat karena memiliki sikap yang sama, melestarikan budaya bangsa. Datanglah ke galeri Meuligoe Putroe mungkin suatu saat saya mohon bantuan Anda untuk ikut mengelola galeri itu. Mungkin Andalah seseorang yang paling tepat untuk membantu saya melestarikan benda-benda koleksi saya.”

“Saya akan datang kesana nanti!”

Amat bersemangat sang guru SMA itu menurunkan barang-barang yang pernah dihanyutkan gelombang air laut yang naik ke darat melebihi pohon kelapa. Sesekali dia melirik Cut Halimah yang matanya teduh, hidungnya kecil dan mancung, bibirnya tipis dan tutur sapanya lembut. Aneh, tiba-tiba lelaki itu amat senang dengan Cut Halimah, tampaknya keturunan bangsawan dan nama itu terdengar indah dan lelaki itu ingat benar, bahwa Halimah adalah ibu susu Rasulullah. Pantas pemilik nama itu adalah seorang perempuan cantik. Zahra yang semula sedang bermain dengan adiknya ikut menurunkan barang milik ayahnya yang sudah diselamatkan Cut Halimah.

Andai yang menemukan benda-benda di bawah reruntuhan kantor kelurahan itu adalah orang awam, mungkin benda-benda itu akan dibuang, atau dijual kepada pedagang rombengan. Kalau yang menemukannya adalah orang-orang yang buta seni, pasti menganggap benda-benda itu sebagai benda yang tidak berharga dan akan dibiarkan terbenam dalam lumpur hingga rusak atau hancur.

Syukurlah yang menemukannya adalah seorang wanita berparas cantik, pemilik galeri Meuligoe Putroe yang berarti “Mahligai Putri”. Betapa indah nama geleri itu. Tiba-tiba saja darah Agam berdesir kencang ketika bertatapan dengan sepasang mata teduh itu. Jantungnya juga berdebar keras.

Itulah awal pertemuannya dengan Cut Halimah, seorang perempuan berwajah cantik dan amat mencintai karya-karya seni, terutama seni rupa.

Lama lelaki itu tertegun ketika pertama kali menjejakkan kakinya di galeri Meuligoe Putroe dan menatap lukisan perempuan tua sedang melantunkan doa dan dibagian bawah kanvas itu tertera nama Cut Halimah.

“Wah, ternyata Cut Halimah dapat melukis dengan baik,” rasa kagum itu tercetus dari celah bibir Agam.

“Ya, senang melukis. Bukankah awalnya unsur paling utama seni rupa adalah gambar, sehingga gambar atau lukisan adalah sebagai ibu seni rupa?”

Sebagai guru bidang studi seni rupa, Agam amat senang dengan kata-kata itu. Apalagi ketika Cut Halimah mengatakan senang warna-warni cerah lalu diiringi dengan beberapa teori warna yang pernah dikenalnya seperti Mosses Harris yang merangkum warna cerah, seperti, merah, kuning dan biru. Cut Halimah jug menyebut nama ahli teori warna Johann Wolfgang von Goethe serta Plihip Otto Runge di samping Odgen Roods dan Edward Heiring.

“Edward Heiring adalah seorang ahli priskologi yang banyak mengkaji warna dari sudut persepsi manusia,” ujar Cut Halimah.

Cut Halimah juga mengatakan, bahwa semua benda di dunia ini memiliki warna. Warna pula yang telah menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari-hari dan karenanya sebagai unsur penting seni rupa serta diakui sebagai wujud keindahan yang dapat diserap manusia.

Guru bidang studi seni rupa itu semakin kagum ketika melihat ini galeri itu. Cukup banyak karya-karya seni yang terpanjang cukup baik dan serasi. Cukup mengesankan bukan karya pelukis yang memiliki nama besar di tanah air maupun dimancanegara. Agam jadi amat senang hadir di galeri itu, tidak hanya bicara tentang lukisan, tidak hanya bicara tentang seni topeng yang kini amat populer. Kadang Agam dan Cut Halimah ngobrol panjang lebar dan terkadang mereka duduk berdampingan dan bicara amat akrab tentang hal-hal yang bersifat pribadi. Sepasang manusia tiu tampak akrab meskipun baru beberapa minggu bertemu.

“Sendiri saja di rumah ini?” Agam menatap wajah cantik itu.

“Tidak sendiri,” Cut Halimah tersenyum.

“Bersama benda-benda koleksi saya!” Cut Halimah tersenyum.

“Tidak ada muhrim lain?”

“Terus terang, saya adalah seorang janda.”

“Suami dan anak-anak ikut jadi korban tsunami seperti halnya istri saya?” Semakin dalam Agam menatap wajah anggun itu.

“Tidak, Andainya suami saya meninggal karena tsunami, saya tidak akan terlalu sedih karena ribuan warga Aceh juga menjadi korban bencana itu.”

“Karena sakit mungkin?”

Cut Halimah menggeleng

“Kecelakaan?’ Agam mencoba menebak-nebak.

“Juga tidak!”

“Lalu apa yang menyebabkan kepergiannya?”

“Suami saya adalah seorang lulusan Fakultas Hukum. Dia tidak menolak diajak untuk bergabung dengan Lembaga Swadaya Masyarakat yang menangani masalah lingkungan hidup yang sudah rusak di Negeri kita. Suami saya amat serius menangani penggundulan hutan terutama di kawasan Gunung Lauser.”

“Lalu hilang tidak tentu rimbanya di hutan belantara disana? Begitukah?

Sesaat Cut Halimah tidak berkata-kata. Saat dia menekur dan kesedihan menggurati wajahnya yang anggun itu. Dia seperti mengenang kembali peristiwa yang menimpa suaminya.

“Sudah bertahun-tahun penggundulan hutan berlanjut terus. Ilegal logging berlanjut terus tanpa ada yang berani mencegah. Aparat juga tidak berdaya, bahkan diduga aparat juga ikut melindungi dan bekerja sama dengan pelaku pencurian kayu dalam jumlah amat besar itu.”

“Itukah yang menjadi pusat perhatian suami Cut?”

“Ya! Sebagai seorang pemimpin LSM yang membidangi lingkungan hidup, suami saya berkali-kali melaporkan hal itu ke berbagai pihak terkait, mulai dari Polisi, Kodam, Kejaksaan, Kementerian Lingkungan Hidup dan instansi lain.”

“Semua bersikap dingin, bukan? Laporan itu masuk keranjang sampah, bukan?”

“Begitulah kenyataannya. Tidak hanya itu, yang lebih menyedihkan lagi adalah keamanan dan keselamatan suami saya terancam di tengah hutan. Sampai suatu saat dia menemui kematiannya dalam mobilnya. Pihak Jagawana dan pengelola hutan serta sesame anggota LSM mengatakan, suami saya meninggal akibat gigitan ular berbisa yang masuk ke dalam mobilnya.”

“Benarkah begitu?”

“Itulah yang perlu penyelidikan serius dari semua pihak yang terkait. Seseorang telah memasukkan seekor ular berbisa ke dalam mobil suami saya saat dia sedang memotret oknum-oknum yang melakukan penebangan serta truk-truk yang mengangkut kayu untuk selanjutnya diangkut dengan kapal keluar negeri. Yang mengherankan adalah dari mulut suami saya keluar buih dan darah. Seseorang ternyata telah memasukkan racun ke dalam minuman suami saya dan itu yang menyebabkan kematiannya. Namun penyelesaian lebih lanjut sama sekali tidak ada.”

“Saya ikut prihatin,” terdengar suara Agam lirih dan wajahnya tertunduk. Agam ikut sedih, kasihan Cut Halimah, cantik, anggun, masih amat muda tapi telah kehilangan suami tercinta. Cut Halimah sekarang tinggal sendiri.

Sejak itulah hampir setiap hari Agam selalu hadir di galeri Meuligoe Putroe karena Agam amat kasihan kepada janda muda yang cantik dan anggun itu. Juga karena Agam amat senang memandang matanya yang jernih, senang memandang pipinya yang kemerahan, serta amat senang memandang kecantikannnya. Juga karena hatinya mulai tergugah oleh perempuan yang telah kehilangan suaminya. Sebuah perkawinan yang amat manis telah diterpa bencana bila sang suami telah menghadapi godaan yang datangnya dari seorang perempuan lain.

Sebuah perkawinan yang pada awalnya penuh kebahagiaan, akan menghadapi benturan bila seorang suami hatinya telah terpaut pada perempuan lain.

Perubahan yang amat besar telah terjadi pada diri seorang suami bila telah muncul orang ketiga yang akan menghancurkan sebuah mahligai perkawinan. Dan itulah yang telah terjadi pada perkawinan Cut Aisyah Mardiah dengan Agam. Dia seorang suami yang biasanya selalu berkumpul bersama keluarga. Makan malam bersama, salat juga selalu bertindak sebagai imam.

Namun godaan yang tiba-tiba muncul telah membuat semua jadi berubah. Agam lebih sering makan di luar rumah bukan bersama Aisyah, bukan bersama putri sulungnya Zahra. Dia lebih sering terlihat makan di restoran bersama Cut Halimah.

Lelaki itu tidak lagi merasakan nikmatnya kopi hangat yang dibuat istrinya. Kue timfan tidak pernah lagi disentuh sama sekali. Sirup seulinca yang amat nikmat itu tidak seteguk pun dinikmati oleh lelaki itu. Apalagi cumi teutumeh yang paling enak itu juga tidak disentuh sama sekali.

Hari minggu yang biasanya bersantai bersama anak istri, sejak kehadiran perempuan berhidung mancung itu, sama sekali jadi berubah. Seperti hari minggu yang cerah itu, lelaki itu pun sudah berada di pantai bersama Cut Halimah.

Angin laut berhembus membelai tubuh dua jenis manusia itu yang duduk menghadap ke laut dan ombak bergulung-gulung serta camar pun terbang berpasangan. Di kejauhan tampak perahu nelayan sedang menuju ke tengah. Laut teramat indah, padahal baru beberapa saat yang lalu air laut telah mengamuk, menerpa daratan hingga melebihi pohon kepala serta menelan ratusan ribu jiwa manusia.

Bencana air laut yang murka itu telah terlupakan oleh Cut Halimah yang menyandarkan kepalanya didada Agam.

“Kita akan segera menikah,” terdengar suara Agam di antara debur ombak yang bergulung-gulung mencium daratan dan buihnya berkilau diterpa matahari lagi.

Kata-kata itu membuat Cut Halimah menunduk. Tiba-tiba saja ada kesedihan menggurati wajahnya. Tibah-tiba saja cairan bening bergulir dipipinya yang mulus dan kemerahan diterpa matahari lagi.

“Kenapa harus ada tangis, Cut? Kenapa harus ada kesedihan?” Agam menyeka cairan bening dipipi Cut Halimah.

“Di depan kita ada jurang terjal.”

“Kenapa ada jurang?”

“Jurang itu teramat dalam dan di dasarnya ada duri-duri berserakan.”

“Kita akan mampu melewatinya kalau hanya duri-duri tajam.”

“Tapi di dasar jurang itu juga ada batu-batu cadas yang amat terjal, disana juga ada kerikil dan beling tajam.”

“Kita akan mampu menyingkirkannya.”

Air mata mengalir lagi dipipi perempuan cantik itu meskipun Agam baru saja menyekanya dengan ujung jari.

“Saya tidak tega. Saya merasa tidak mampu, karena saya adalah seorang perempuan.” Suara itu seperti sebuah rintihan panjang, seperti ungkapan penderitaan seorang perempuan malang.”

“Kita akan meraih kebahagiaan.”

“Saya tidak mampu menghancurkan perasaan orang lain, apalagi perasaan sesama perempuan.”

“Maksud kamu Cut Aisyah?”

Cut Halimah mengangguk lirih.

“Ya! Dia seorang perempuan seperti halnya saya. Hati perempuan selalu saja sama dimana pun dia berada. Hati perempuan selalu rapuh kalau menghadapi badai dalam rumah tangganya.”

“Tidak akan demikian halnya. Cut Aisyah adalah seseorang berhati mulia. Hatinya akan tegar,” balas Agam dan membelai rambut perempuan itu.

“Setegar apapun perempuan tetap perempuan, yang pasti tidak menghendaki adanya perempuan lain disisi suaminya.”

“Tidak demikian halnya dengan Aisyah. Dia pasti memahami, bahwa seorang suami boleh menikah lagi.”

“Hatinya akan rapuh dan hancur berkeping-keping dan saya ikut merasakan kehancuran itu.”

“Saya akan memberinya pengertian nanti.”

“Demi tuhan, sungguh saya tidak sanggup untuk merebut kebahagiaan orang lain,” suara itu pun seperti keluhan amat panjang. Seperti sebuah rintihan teramat panjang.

“Ingat, Cut Aisyah adalah perempuan yang amat mahal sebab dia berdarah Eropa dan harus meninggalkan negerinya, harus meninggalkan orang tua, kerabat, dan terlebih lagi keyakinannya. Dia rela menjadi Muslimah. Itu artinya amat mahal, tidak dapat dinilai dengan materi. Bagaimana kalau akhirnya dia menghadapi kehancuran? Sungguh amat sulit untuk saya bayangkan apa yang akan terjadi dan sulit membayangkan bagaiman perasannnya.”

“Singkirkan jauh-jauh kekhawatiran itu, Cut. Hatinya amat mulia dan tegar. Dia akan memahami dan saya akan memberinya pengertian, bahwa Islam mengizinkan seorang suami boleh menikah lagi.” Terdengar suara Agam di antara debur ombak dan kaki mereka mulai basah oleh air laut.

“Kasihan dia!” Hanya itu yang terdengar dari mulut Cut Halimah dan wajahnya masih tertunduk.

Belasan burung-burung camar melayang-layang, terbang rendah serta menyambar-nyambar di atas mereka dan suaranya mencericit, seakan marah kepada sepasang manusia yang akan segera menikah padahal disisi lelaki itu sudah ada seorang istri cantik dan penuh keibuan. Ombak pun bergulung-gulung menuju pantai dan lebih besar dari biasanya, seakan ombak pun ikut marah kepada sepasang manusia itu.

Angin yang berhembus lembut membelai daun-daun pohon jambu air disisi sebuah rumah. Angin yang berhembus pagi itu seakan ingin membisikkan sesuatu kepada perempuan penghuni rumah itu. Burung-burung yang hinggap di rantingnya juga ingin menyampaikan kabar kesedihan.

“Dengarlah wahai perempuan cantik, sebentar lagi bencana dahsyat akan menerpa perkawinanmu!”

“Dengarlah, wahai istri berhati sutera. Jangan biarkan suamimu menorehkan sembilu di relung hatimu. Jangan biarkan suamimu menorehkan beling tajam di jantungmu. Dia bersama perempuan lain sekarang. Dia sedang menikmati kemesraan dengan seorang janda cantik. Akankah engkau membiarkannya? Akankah engkau membiarkan dia menghempaskan dirimu diatas batu cadas?”

Sang Cut Aisyah yang sedang bermain bersama si kecil Ziyan dan Zahra tidak mengerti makna awan putih yang berhenti diatas rumahnya. Cut Aisyah tidak peduli pada nyanyian burung yang menyampaikan kabar duka tentang suaminya yang telah tergoda oleh seorang janda cantik.

***

S

udah amat banyak tanda-tanda, bahwa rumah tangga pasangan suami istri yang semula penuh kebahagian itu sedang diterpa badai dahsyat. Cut Aisyah sudah sering bermimpi kemeja kesayangan suaminya dicuri oleh seorang perempuan. Biasanya mimpi seperti itu memberi tanda, bahwa seorang suami telah tergoda oleh orang lain.

Foto pengantin yang terpajang di dinding ruang tamu juga pernah tiba-tiba terhempas padahal angin pun tidak berhembus kencang. Kaca foto pengantin itu pecah berkeping-keping dan pecahan beling berserakan di lantai. Cut Aisyah tidak pernah curiga, tidak pernah beranggapan apa-apa. Tidak hanya itu, hampi setiap hari ketika Agam pulang dari luar rumah, kemejanya pasti beraroma harum padahal Agam tidak pernah memoleskan parfum di kemejanya. Tentu saja tiap pulang tercium aroma harum karena dia selalu duduk amat dekat dengan Cut Halimah sehingga harum parfum dari tubuh perempuan itu melekat di tubuh Agam.

Yang terakhir peringatan itu datang ketika Cut Aisyah menemukan sapu tangan yang ada disaku celana suaminya terlihat ada bekas lipstik.

Kenapa ada lipstik di sapu tangan suamiku? Lama Cut Aisyah sapu tangan milik suaminya. Bila sapu tangan suami ditemukan lipstik yang melekat, pastilah suaminya sudah bersama perempuan lain dan memberinya ciuman. Bekas lipstik itu pun harum.

Itulah awal kecurigaan Aisyah, bahwa suaminya selalu bersama perempuan lain. Itulah awal kecurigaan, bahwa rumah tangganya sedang dilanda badai dahsyat.

“Yah Zahra bersama siapa tadi?” Tanya Cut Aisyah ketika suaminya pulang. Kopi hangat yang tersedia tidak segera diteguk lelaki itu. Kue lemper yang dibuat Cut Aisyah sama sekali tidak disentuh.

“Tidak bersama siapa-siapa!” Agam membohong, padahal hampir tiap hari dia bersama Cut Halimah dan setiap bertemu pasti perempuan itu rebah di dada Agam dan membiarkan remuk dalam dekapan Agam.

“Sungguh? Sungguh-sungguh tidak bersama siapa-siapa?” amat tajam Cut Aisyah menatap suaminya.

“Ya, tidak bersama siapa-siapa!”

Cut Aisyah sengaja menunjukkan sapu tangan dan disana terlihat ada bekas lipstik melekat. Cut Aisyah sengaja tidak segera mencuci sapu tangan itu.

“Lihat di sapu tangan Yah Zahra ada bekas lipstik melekat. Pasti Yah Zahra bersama seseorang dan menikmati kemesraan,” tukas Cut Aisyah dan menatap suaminya semakin tajam. Sapu tangan itu masih di tangannya.

“Demi Tuhan, saya tidak bersama siapa pun!” Agam masih berusaha mengelak.

“Lalu lipstik siapa yang melekat di sapu tangan ini?”

Agam tampak gugup dan tidak mampu menyahut.

“Katakan terus terang! Yah Zahra bersama siapa! Sebab saya tidak ingin ada badai yang menghempas perkawinan kita!”

Agam tampak semakin gugup.

“Saya tidak ingin ada orang lain yang menghancurkan perkawinan kita. Saya ingin rumah tangga kita tetap bahagia dan tidak tergores oleh beling tajam atau menusuk duri.”

Tiba-tiba lelaki yang profesinya sebagai guru itu mendapatkan ilham untuk membohongi istrinya yang cantik dan amat setia.

“Katakan terus terang bersama siapa Yah Zahra menikmati kemesraan?” desak Cut Aisyah lagi dengan warna merah.

“Demi tuhan, saya tidak bersama siapa pun,” sahut Agam.

“Lalu lipstik siapa di sapu tangan ini?” tatapan Cut Aisyah terhadap suaminya semakin dalam. Darahnya gemuruh.

“Jangan terlalu cepat buruk sangka, Aisyah. Jangan tuduh diri saya berbuat yang tidak baik. Jangan tuduh seorang suami yang jalan hidupnya lurus telah menempuh jalan yang berbelok-belok,” ujar Agam dan membelai pundah Aisyah.

“Sapu tangan penuh lisptik ini tidak dapat berbohong, Yah Zahra. Jangan sakiti hati saya. Jangan khianati saya!”

“Pandanglah sapu tangan itu baik-baik, Aisyah. Tidak selamanya warna merah adalah lipstik. Ingat, saya adalah seorang guru seni rupa dan hari ini saya memberikan pelajaran melukis diatas kanvas dengan menggunakan oil colour atau cat minyak. Wajar kalau seorang guru sedang membimbing muridnya menggunakan cat minyak berwarna merah lalu menyekanya dengan sapu tangan. Besok saya akan bawa cat minyak itu ke rumah ini, agar Cut Aisyah tidak merasa saya khianati, agar tidak menuduh saya menikmati kemesraan orang lain.”

Sesaat Cut Aisyah Mardiah menekur. Hatinya kembali lembut. Agam telah berhasil membohongi istrinya yang setia. Padahal hampir tiap hari dia menikmati kemesraan bersama seorang perempuan bernama Cut Halimah, hingga hari itu di sapu tangannya melekat lipstik dari bibir perempuan itu.

Untuk lebih meyakinkan istrinya Agam menjelaskan panjang lebar, bahwa seseorang yang melukis di kanvas banyak menggunakan pewarna, antara lain dengan pensil gambar, lalu water colour atau cat air, kemudian ada lagi oil colour dan cat akrilik serta cat semprot.

Darah dalam diri Cut Aisyah Mardiah yang semula sempat gemuruh karena menemukan lipstik di sapu tangan suaminya kembali dingin setelah suaminya menjelaskan dengan panjang lebar tentang pelajaran melukis di kanvas yang menggunakan cat minyak dan sempat menciprati tangannya. Hari itu seorang suami benar-benar telah menjadi pembohong besar, menjadi pembohong kelas wahid. Tidak ada kecurigaan lagi dihati seorang istri yang dulu bernama Alice van Kherkoff itu. Dan Agam tetap saja setiap hari mampir ke galeri Meuligoe Putroe, apalagi setelah Agam menikahi Cut Halimah secara diam-diam.

***

B

agai hujan lebat tercurah dari langit, air mata mengalir berderai di pipi seorang istri yang cantik dan setia namun telah dikhianati oleh suaminya. Andai Cut Aisyah Mardiah tidak menemukan sehelai resep atas nama Cut Halimah dalam tas suaminya, mungkin Cut Aisyah Mardiah tidak pernah tahu, bahwa suaminya telah menikah lagi dengan seorang pemilik galeri Meuligoe Putroe. Resep itu dari dokter Arifin seorang ginekolog langganan Aisyah ketika hamil.

Amat lama Cut Aisyah menatap sehelai resep yang ditemukan dalam tas suaminya atas nama Cut Halimah. Cut Aisyah tahu persis, bahwa 4 jenis obat yang tertera dalam resep itu adalah obat-obatan dan vitamin khusus wanita mengandung.

Seperti ada mukjizat yang menggerakkan hatinya, tanpa menunggu hari esok, Cut Aisyah segera mendatangi Dr. Arifin dan dari kartu status atas nama Cut Halimah menunjukkan perempuan itu sedang hamil 5 bulan. Hati Cut Aisyah seperti ditoreh dengan pisau tajam. Rongga dada Cut Aisyah seperti ditusuk dengan pisau tajam. Hatinya teramat perih, apalagi setelah membaca alamat pada kartu status pasien atas nama Cut Halimah.

Di alamat itu Cut Aisyah menemukan perempuan hamil mengenakan daster grombong sedang menikmati makan siang bersama Agam yang kini sudah direbut Cut Halimah.

Cut Aisyah adalah seorang istri yang memiliki hati teramat lembut. Hatinya seputih kapas. Dia menemukan suaminya bersama perempuan sedang hamil. Perempuan lain pasti akan menghunus gunting dan menusuk perut perempuan hamil itu. Tapi Cut Aisyah tidak akan berbuat seperti itu. Dia tidak akan melukai perempuan hamil itu. Dia tidak akan menyakiti perempuan hamil itu. Dia tidak akan melontarkan kata-kata keji terhadap seseorang perempuan yang telah merebut kebahagiaannya. Tidak satupun kata-kata kotor terlontar dari celah bibir Cut Aisyah terhadap perempuan hamil yang telah menghancurkan perkawinannya.

Cut Aisyah hanya menemui suaminya dan berkata polos:

“Saya sudah tahu semuanya, Yah Zahra. Jangan bohongi diri saya lagi. Yah Zahra telah menorehkan pisau tajam. Yah Zahra telah menghempaskan diri saya ke jurang terjal yang penuh dengan duri tajam, yang penuh dengan batu cadas, yang penuh dengan beling-beling yang berserakan. Jangan menyesal kalau akhirnya saya pergi jauh!”

Cut Aisyah tidak banyak berkata-kata, dia langsung meninggalkan galeri Meuligoe Putroe yang penuh lukisan. Dia pulang dengan dada yang amat perih. Dia melangkah pulang dengan hati yang hancur seperti serpihan kaca.

“Tunggu, Aisyah! Tungguuuu !” teriak Agam sambil mengejar hingga ke halaman. Tapi hati Cut Aisyah sudah teramat hancur seperti serpihan kaca diatas batu cadas. Cut Aisyah tidak menoleh lagi dan sebuah taksi memang sudah menunggunya. Air matanya berderai-derai seperti hujan yang amat lebat tercurah dari langit.

Air mata masih berderai ketika tiba di rumah dan suaminya sesaat kemudian juga pulang.

“Saya tidak berharap lagi Yah Zahra pulang,” terdengar suara Cut Aisyah diantara isaknya.

“Maafkan saya, Aisyah. Perkenankan saya mencium telapak kakimu untuk memohon maaf.”

“Pintu maaf itu sudah tertutup rapat!” Cut Aisyah menyeka air mata dipipinya. Cut Aisyah sama sekali tidak berharap suaminya menyeka air mata dipipinya. Dia membiarkan air matanya membanjiri pipinya.

“Saya berharap kamu mengerti kalau saya menikah lagi, karena saya amat kasihan kepada Cut Halimah. Karena dia sendiri telah kehilangan suaminya tewas di tengah hutan dan karena saya diminta untuk mengelola koleksi lukisannya yang cukup banyak,” ujar Agam berusaha membujuk hati istrinya.

“Amat sulit untuk menerimanya sebagai kenyataan, Yah Zahra. Biarlah kita menentukan arah hidup kita sendiri-sendiri,” suara Cut Aisyah masih diwarnai tangis. Perempuan itu lahir di daratan Eropa, tapi air matanya bercucuran di seberang lautan, di kawasan Serambi Makkah yang baru saja diluluhlantakkan tsunami.

“Ingatlah, Ya pipi yang kemerahan,” bujuk Agam lagi dan membelai pundak Aisyah. “Kamu sudah menjadi seorang Muslimah yang memiliki hati yang mulia. Kamu adalah seorang Muslimah yang hatinya seputih kapas. Hatimu selembut sutera. Setiap Muslimah seharusnya menyadari, bahwa seorang suami boleh menikah lagi sesuai dengan syariat Islam.”

Kata-kata itu hanya menyentakkan Cut Aisyah yang sejak tadi menunduk berurai air mata.

“Itulah yang tidak bisa saya terima. Saya tidak rela ada orang lain disisi Yah Zahra. Sebab saya mampu mendampingi suami saya dan tidak pernah menghianati Yah Zahra. Tidur pun saya tidak pernah membelakangi Yah Zahra. Apapun yang Yah Zahra kehendaki, saya harus melakukannya. Saya tetap seorang istri yang setia hingga saat ini. Saya tidak memiliki cacat apapun pada diri saya. Cambuklah dengan rotan diri saya puluhan kali seandainya saya tidak mampu melayani suami saya lagi. Demi Tuhan, meskipun Tuhan mengizinkan seorang suami menikah lagi hingga empat kali, namun saya tidak dapat menerimanya,” kata-kata itu diucapkan dengan iringan tangis. “Kecuali istrinya cacat dan tidak mampu melayani suaminya.”

“Seorang Muslimah tidak boleh berpikir begitu!” bujuk Agam.

“Menikah lagi boleh saja, tapi dengan alasan tertentu. Andainya saya cacat, andainya saya tidak setia, andainya saya selalu ingkar terhadap suami yang menghendaki apa saja, andainya saya tidur membelakangi suami, boleh saja Yah Zahra menikah lagi.”

“Hatimu tiba-tiba saja menjadi batu cadas yang amata keras, Aisyah. Namun saya tetap berharap esok atau lusa hatimu akan berubah.”

“Tidak! Tidak akan pernah berubah. Dan jangan menyesal, andainya saya harus pergi jauh, kalau Yah Zahra tidak meninggalkan perempuan itu!”

Terlalu sukar bagi Agam meninggalkan Cut Halimah yang sedang hamil. Lelaki yang profesinya sebagai guru SMA bidang studi seni rupa itu tetap saja selalu hadir di galeri Meuligoe Putroe. Lelaki itu tetap saja tidak peduli hati istrinya yang hancur luluh. Lelaki itu tetap saja tidak peduli, bahwa Cut Aisyah Mardiah akan bertekad untuk pergi jauh bila dia tidak meninggalkan perempuan yang memiliki berbagai lukisan di galeri itu.

***

L

angit pun tampak kelabu dan burung-burung di ranting pohon berhenti berkicau serta semut-semut kecil yang amat banyak beriring-iring mengusung bangkai belalang tiba-tiba berhenti, kemudian memandang ke arah seorang perempuan yang sedang pakaiannya untuk bersiap-siap pergi jauh. Sebuah taksi sudah menanti di depan rumah.

Tsunami yang meminta korban jiwa amat banyak dan menghancurkan di hati seorang perempuan berambut pirang masih dia rasakan amat perih dan pedih. Bahkan lebih menyakitkan.

Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, tiap hari Cut Aisyah Mardiah mengenakan busana Muslimah dan rambutnya yang pirang ditutupi sehelai jilbab, namun saat melangkah pergi dari rumah, dia telah mengganti semuanya. Rambutnya tidak lagi ditutupi jilbab. Busana Muslimah sudah disalin dengan jins ketat dan baju panjang di tubuhnya sudah diganti dengan kaos oblong. Semua sudah berubah. Jalan hidupnya juga berubah. Bahkan dia tidak lagi ingin dipanggil Cut Aisyah Mardiah, namun kembali dengan nama Alice van Kherkoff.

Tidak hanya itu, keyakinan dalam hatinya yang selama ini sebagai seorang muslimah yang shalehah, juga sudah terlepas. Bahkan dilehernya kini sudah melingkar kalung emas dengan mainan bertanda salib. Dan perubahan itu telah terjadi karena seorang suami yang telah menghianatinya.

Banyak dan amat banyak orang yang telah kehilangan dirinya. Terutama adalah seorang gadis cilik bernama Zahra yang telah mendapatkan pengganti ibunya yang amat menyayanginya sepenuh hati. Bahkan seluruh warga Serambi Makkah telah kehilangan seorang Muslimah yang pergi dengan beralih akidah. Kepergian Cut Aisyah Mardiah yang kembali ke tanah airnya di daratan Eropa telah menyebabkan seluruh Serambi Makkah seperti kehilangan gunung emas sebesar bukit Uhud atau bukit emas setinggi Jabal Nur.

Air mata perempuan berambut pirang itu menitik lagi ketika pesawat yang ditumpangi meninggalkan landasan dan dia memandang ke bawah. Bibirnya bergetar lirih:

“Selamat tinggal Zahra. Selamat tinggal Serambi Makkah yang elok. Aku amat mencintaimu, Zahra. Aku amat mencintai negeri ini. Aku akan selalu merindukanmu. Aku akan selalu merindukan negeri ini.”Kata-kata itu diucapkan perempuan berambut pirang itu dengan iringan derai air mata diatas pesawat yang menerbangkannya ke Jakarta, kemudian dengan pesawat KLM dia akan terbang ke tanah airnya, Negeri Kincir Angin, Negeri Belanda.

Sepasang mata biru itu amat lama menatap bumi Nangroe Aceh Darussalam yang baru sesaat ditinggalkannya. Sekarang dikawasan Serambi Makkah telah hadir kembali orang-orang asing dari daratan Eropa, juga dari negara-negara Asia Tenggara. Tapi orang-oran asing itu bukanlah sebagai relawan yang akan mengevakuasi mayat atau membagikan makanan dan obat-obatan kepada korban tsunami. Orang-orang yang berasal dari berbagai negara Uni Eropa dan ASEAN itu juga hadir disana bukan untuk misi kemanusiaan pasca tsunami, tapi untuk mengawasi perjanjian damai yang telah disepakati antara Gerakan Aceh Merdeka dengan Republik ini.

Rakyat Serambi Makkah selama bertahun-tahun berperang mengusir penjajah dan setelah di era merdeka kawasan itu diterpa konflik yang berkepanjangan dan banyak menelan korban. Banyak warga lari ke hutan dan memanggul senjata. Hampir setiap saat terdengar suara peluru meletus dan korban-korban berjatuhan tersungkur di tanah. Rakyat tidak berdosa juga banyak yang menjadi korban, roboh dicium bumi. Janda semakin banyak di wilayah ini.

Rakyat Serambi Makkah tidak pernah hidup tentram. Warga Tanah Rencong seakan tidak pernah hidup nyaman dan tidak pernah menikmati kebahagiaan seutuhnya. Orang-orang yang lari kehutan dengan membawa bedil dari hari ke hari semakin banyak. Istri tentara disandera, wartawan pun diculik hingga tewas. Peluru pun lebih sering meletus. Rakyat Aceh selama bertahun-tahun terusik kehidupannya, terbelenggu oleh konflik sesama anak bangsa.

Tapi sekarang suasana sudah berubah sejak dua kelompok yang saling berseteru itu mengikat kesepakatan damai yang dilakukan jauh di Eropa, jauh di Helsinki yang bersalju. Sekarang tidak ada lagi peluru yang meletus.

Luka lebar yang amat lama meruyak, sekarang telah terobati dan benar-benar sembuh. Bertahun-tahun Nangroe Aceh Darussalam bersimbah darah. Sekarang suasana sudah berubah, sekarang Serambi Makkah bersimbah rahmat.

Orang-orang yang membawa bedil kini sudah turun dari hutan belantara, kini sudah keluar dari hutan tanpa rasa takut. Mereka menyerahkan senjatanya. TNI dan Polri juga sudah menyumbat senapannya. Aparat sudah merantai mesin perangnya seperti tank dan panser serta memasukkannya ke kandang. Ribuan pasukan yang berada di Serambi Makkah kini sudah dipulangkan ke markasnya masing-masing.

Pesawat yang ditumpangi Alice baru saja tinggal landas, dan masih terlihat olehnya seorang nenek bersujud mencium tanah.

“Bersyukurlah nenek, Nangroe Aceh Darussalam telah mendapat rahmat yang amat besar. Negeri ini telah terlepas dari konflik yang membelenggu selama bertahun-tahun. Bersyukurlah nenek anak dan cucu nenek yang ditawan telah diberi pengampunan dan dikembalikan kepada keluarganya,” sepasang bibir perempuan berambut pirang itu berkomat-kamit.

Lama perempuan berambut pirang itu memandang daratan dan yang tampak adalah hutan-hutan hijau lalu dari dalam hutan itu tampak barisan orang-orang membawa bedil untuk diserahkan kepada para bule yang bertindak sebagai badan pengawas kesepakatan damai itu. Aceh benar-benar damai, aman dan bersimbah rahmat. Tidak ada lagi perang. Tidak ada lagi konflik. Yang ada adalah suasana damai, nyaman dan bahagia.

“Sekarang Serambi Makkah dalam suasana damai. Damai dimana-mana. Terimalah rahmat itu,” bisik perempuan bermata biru itu di perut pesawat yang terus meninggi menembus awan.

Namun meski sudh jauh menembus awan, tapi di telinganya seakan terdengar Rapha’ terus ditabuh dimana-mana, di seluruh Serambi Makkah, tandanya adalah seluruh rakyat Nangroe Aceh Darussalam amat bergembira dan bersyukur mendapatkan rahmat terlepas dari belenggu konflik. Dimana-mana tampak wajah kegembiraan dan bersyukur.

Yang tampak sedih dan air matanya terus berderai seperti hujan lebat hanya seorang ayah dan putrinya, yakni Agam dan Zahra.

Ketika pesawat itu semakin tinggi dan daratan Nangroe Aceh Darussalam tidak terlihat lagi, dari celah sepasang bibir perempuan berambut pirang itu tergetar baris-baris puisi. Namun setelah dikhianati suaminya, lidahnya seakan keluh berkata-kata dalam Aceh. Lidahnya juga terasa kaku untuk berkata-kata dalam bahasa Indonesia. Itulah sebabnya yang terdengar dari celah bibirnya adalah bait-bait puisi dalam bahasa leluhurnya, Belanda. Perempuan yang mengalami kehancuran karena dikhianati suaminya itu melantunkan puisi berjudul”WOLKEN” karya Matinus Nijhoff sesama bangsa Belanda yang ditulis hampir seabad silam:

Ik droeg nog kleine kleren, en ik lag

Lang uit met moeder in de warme hei

De wolken shoven ons voorbij

En moeder vroeg wat ‘k in de wolken

Zag

En ik riep:Scandanavie, en:eenden

Daar gaat een dame, schapen met een

herder

De wond ren werden woord en dreven

verder

en ‘k zag dat moeder meet een glimlach

Weende

Teen kwamde tijd, dat’ k niet naar boven

Keek

Ofschoon de hemel vol van wolken hing

Ik greep niet naar de vlucht van’t

Vreemde ding

Dat met zijn shaduw langs mijn leven

Streek

Nu light mijn jongen naast mij in de heide

En wijs me wat hij in de wolken ziet

Nu schrei ik zelf, en zie in het verschiet

De verre wolken waarom moeder

schreide

aku masih pakai baju, dan aku terbaring

terlentang dengan ibu di rumput hangat

awan bergeser melewati kami

dan ibu bertanya apa yang kulihat di

awan

dan aku berseru: Skandinavia dan itik

ada ibu-ibu berjalan, kambing dan gembala

pesona menjadi kata, dan lewat

melayang

dan kulihat ibu sambil tersenyum

menangis

tibalah masa aku tidak melihat diatas

walaupun udara penuh awan

akupun tidak menggapai ke barang asing

yang menyentuh hidupku dengan bayangnya

kini si Buyung terbaring disisiku di rumput

dan menunjukkan apa yang dia lihat di awan

kini aku menangis melihat di kejauhan

awan jauh yang ditangisi ibu

Tidak ada emas berlian yang membawanya pulang ke negerinya yang terletak di Eropa Barat. Satu-satunya benda yang dibawanya adalah sebilah rencong Aceh bergagang emas. Senjata itu telah menewaskan puluhan serdadu Belanda ketika terjadi pertempuran amat dahsyat di depan Mesjid Baiturrahman pada pagi hari 10 April 1873. Saat itu seorang Jenderal Belanda, J.H.R. Kohler ikut terbunuh dan darahnya memerahi bumi Serambi Makkah.

Rencong Aceh itu mampu mengusir penjajah, tapi tidak mampu melawan ganasnya tsunami hingga hanyut teramat jauh. Namun seperti sebuah mukjizat, seseorang menemukannya kembali dalam lumpur.

BIO DATA H.MAULANA SYAMSURI

Lahir 13 Maret 1943 di Perdagangan Simalungun Sumatera Utara. Tamat SMA tahun 1962 langsung menekuni sastra,terutama novel dan cerpen yang dimuat diberbagai media di Medan,Jakarta, Yogyakarta dan Malaysia. 15 karyanya telah terbit dalam bentuk buku:

1. Mutiata Berserakan, Malaysia 1988
2. Mereka Yang Menebus Dosa, Malaysia, 1989
3. Derai Tangis, Malaysia 1990
4. Sepanjang Kaki Langit, Malaysia 1991
5. Gita Sendu Sepanjang Malam, Medan 2000
6. Rintik Hujan Di Pintu Marwah, Novel Reliji, Medan,2001
7. A P I , Medan, 2003
8. L A U T, Medan, 2004
9. P U S A R A, Medan, 2005
10. Tasbih Untuk Ibu, Medan 2002
11. Seteguk Air Zam-Zam, Medan, 2005
12. Perempuan Merajut Gelombang, Yogyakarta 2006
13. Pintu-Pintu Keampunan, Novel Reliji , Medan 2006
14. Pernak-Pernik Puisi, Medan, 2007
15. Itshuko, Kumpulan Cerpen , Medan 2010

Cerpennya berjudul GERBONG, dimuat dalam antaloji cerpen yang diterbitkan bersama Indonesia-Malaysia. Satu lagi cerpennya dimuat dalam antaloji cerpen Majalah Kartini. Cerpen Jakarta-Beijing, dimuat dalam antaloji cerpen yang diterbitkan oleh Jakarta Internatioanl Literary. Drama “Mereka Teriak Merdeka” pernah ditayangkan oleh TVRI Sumut.

Khusus novel PEREMPUAN MERAJUT GELOMBANG, menjadi dokumentasi di Konninklijk Instituut of Southest Asian and Carribien Studies (KITLV), Leiden juga didokemntasikan di Universiteitsbibliotheek, Universitas Leiden, Belanda.

Sastrawan ini menunaikan ibadah haji tahun 2001 dan Umroh tahun 2008. Hingga saat ini (2011) masih tetap setia kepada penanya .

1 komentar:

Imanuel Ginting mengatakan...

salam kenal Abanganda, saya adalah penyuka puisi dan pengagum Anda...kalau sempat lihat blog puisi saya...www.puisinoeelg.blogspot.com terima kasih.