Senin, 31 Mei 2010

Lomba Cipta Puisi Balada dan cerpen Berbahasa Indonesia

Puisi dapat didefinisikan sebagai :
“Hasil cipta manusia yang terdiri atas satu atau beberapa larik (baris) yang memperlihatkan pertalian makna dan membentuk bait. Keindahan puisi terletak pada persamaan bunyi (rima, sajak) dan iramanya” (Kamus lengkap Bahasa Indonesia, Hoetomo M.A, 2005).
Definisi puisi yang lain, silakan dilihat di sini.
Jenis puisi beraneka ragam, tergantung klasifikasinya.

Berdasarkan zamannya, puisi dibedakan atas puisi lama dan puisi baru.
1. Puisi Lama
Puisi yang sifatnya masih asli, belum terpengaruh oleh Barat.
a. Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya.
b. Disampaikan lewat mulut ke mulut, sehingga bisa juga disebut sastra lisan.
c. Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima.
2. Puisi baru
Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama, baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima.
Berdasarkan bentuk dan isinya, puisi lama dibedakan atas :
1. Mantra adalah ucapan-ucapan (kata-kata) yang mengandung hikmat, dan memiliki kekuatan gaib.
2. Bidal atau peribahasa, yang meliputi :
a. Pepatah : Kiasan yang dinyatakan dengan kalimat.
b. Ungkapan : kiasan yang dinyatakan dengan sepatah kata
c. Perumpamaan : mengungkapkan keadaan/kelakuan seseorang dengan mengambil perbandingan alam sekitarnya.
d. Tamsil/Ibarat : Perumpamaan yang diiringi dengan penjelasan
e. Pemeo : kata-kata/slogan yang menjadi popular karena sering diucapkan kembali, berisi dorongan semangat atau ejekan.
3. Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi.
Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/ nasihat, teka-teki dan jenaka.
Pembagian pantun menurut bentuknya :
a. Pantun biasa
b. Pantun berkait : Terdiri dari beberapa bait yang sambung-menyambung.
Disebut juga pantun berantai, atau seloka.
c. Talibun : terdiri dari 6, 8 atau 10 baris.
d. Pantun kilat (Karmina) : terdiri dari 2 baris (baris pertama sampiran, baris kedua isi). Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab (dari kata syu’ur=perasaan) yang berciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita. Menurut isinya, syair dibedakan menjadi : Syair dongeng, syair sindiran, syair hikayat, syair cerita kejadian, dan syair agama/budi pekerti.
4. Gurindam : puisi yang berisi nasehat, yang tiap bait 2 baris, bersajak a-a. Baris pertama merupakan syarat, baris kedua berisi akibat.
Berdasarkan isinya, puisi baru dibedakan menjadi:
1. Balada adalah puisi berisi kisah/cerita.
Rendra banyak sekali menulis balada tentang orang-orang tersisih, yang oleh penyairnya disebut “Orang-orang Tercinta”. Kumpulan baladanya yaitu, Balada Orang-orang Tercinta dan Blues Untuk Bonnie.
2. Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau orang yang dimuliakan
3. Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa dalam masyarakat (pahlawan).
Contohnya : “Teratai” karya Sanusi Pane, “Diponegoro” karya Chairil Anwar, dan “Ode Buat Proklamator” karya Leon Agusta.
4. Epigram, slogan,s emboyan atau sajak cetusan adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup.
5. Romance adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih.
Contohnya : “Empat Kumpulan Sajak” Karya WS Rendra.
6. Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan.
Misalnya “Elegi Jakarta” karya Asrul Sani yang mengungkapkan perasaan duka penyair di kota Jakarta.
7. Satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik atau kecaman.
Berdasarkan cara penyair mengungkapkan isi/gagasannya, puisi dibedakan menjadi:
1. Puisi Naratif
Puisi yang mengungkapkan cerita atau penjelasan penyair. Ada puisi naratif yang sederhana, ada yang sugestif, dan ada yang kompleks. Yang termasuk puisi-puisi naratif, misalnya: epik, romansa, balada, dan syair.
2. Puisi Lirik
Puisi yang mengungkapkan gagasan pribadi penyair (biasanya disebut juga aku lirik). Dalam puisi lirik, penyair tidak bercerita. Jenis puisi lirik, misalnya: elegi, ode, dan serenade (sajak percintaan yang bisa dinyanyikan).
3. Puisi Deskriptif
Penyair bertindak sebagai pemberi kesan terhadap keadaan / peristiwa, benda, atau suasana dipandang menarik perhatian penyair. Jenis puisi yang dapat diklasifikasikan dalam puisi deskriptif, misalnya puisi satire, kritik sosial (yang mengungkapkan perasaan tidak puas penyair terhadap suatu keadaan, dengan cara menyindir atau menyatakan keadaan sebaliknya), dan puisi-puisi impresionitik (yang mengungkapkan kesan penyair terhadap suatu hal).
Berdasarkan sifat dari isi yang dikemukakan (David Daiches), puisi dibedakan menjadi:
1. Puisi Fisikal
Puisi yang bersifat realistis, artinya menggambarkan kenyataan apa adanya. Yang dilukiskan adalah kenyataan dan bukan gagasan. Hal-hal yang didengar, dilihat, atau dirasakan merupakan obyek ciptaannya. Puisi-puisi naratif, balada, impresionistis, juga puisi dramatis biasanya merupakan puisi fisikal.
2. Puisi Platonik
Puisi yang sepenuhnya berisi hal-hal yang bersifat spiritual atau kejiwaan. Puisi-puisi ide atau cita-cita, religius, ungkapan cinta pada seorang kekasih, anak pada orang tuanya dan sebaliknya, dapat dimasukkan ke dalam klasifikasi puisi platonik.
3. Puisi Metafisikal
Puisi yang bersifat filosofis, mengajak pembaca untuk merenungkan kehidupan dan merenungkan Tuhan. Puisi religius dapat disebut sebagai puisi platonik (karena menggambarkan ide atau gagasan penyair), atau bisa juga digolongkan sebagai puisi metafisik (karena mengajak pembaca merenungkan kehidupan dan Tuhan), Karya Jalaludin Rumi dapat diklasifikasikan sebagai puisi metafisikal.
Berdasarkan obyek yang menjadi sumber gagasan, puisi dibedakan menjadi:

1. Puisi Subyektif / Puisi Personal
Puisi yang mengungkapkan gagasan, pikiran, perasaan, dan suasana dalam diri penyair sendiri. Puisi-puisi yang ditulis kaum ekspresionis dapat diklasifikasikan sebagai puisi subyektif, karena mengungkapkan keadaan jiwa penyair sendiri. Demikian pula puisi lirik dimana aku lirik berbicara kepada pembaca.
2. Puisi Obyektif/ Puisi Impersonal
Puisi yang mengungkapkan hal-hal di luar diri penyair itu sendiri. Puisi obyektif disebut juga puisi impersonal. Puisi naratif dan deskriptif kebanyakan adalah puisi obyektif, meskipun juga ada beberapa puisi yang subyektif.
Berdasarkan kedalaman maknanya, puisi dibedakan menjadi:
1. Puisi Diafan/ Puisi polos
Puisi yang kurang memiliki pencitraan, terutama dalam hal diksi yang terlalu ‘biasa’, sehingga mirip dengan bahasa sehari-hari. Puisi diafan sangat mudah dihayati maknanya.
Biasanya, puisi anak-anak atau puisi yang ditulis oleh orang yang baru belajar menulis puisi dapat diklasifikasikan dalam puisi diafan. Kelemahan utama pada karya-karya tersebut adalah, belum adanya harmonisasi bentuk fisik dalam mengungkapkan makna.
Takaran yang dibuat untuk kiasan (metafora), lambang, simbol masih kurang tepat, baik letak maupun komposisinya. Jika puisi dibuat terlalu banyak majas, maka puisi itu menjadi gelap dan sukar ditafsirkan. Sebaliknya jika puisi itu kering akan majas dan versifikasi, maka itu akan menjadi puisi yang bersifat prosaik dan terlalu gamblang untuk diartikan sehingga diklasifikasikan sebagai puisi diafan.
2. Puisi Prismatis
Puisi yang mampu menyelaraskan kemampuan menciptakan majas, versifikasi, diksi, dan pengimajian sedemikian rupa sehingga pembaca tidak terlalu mudah menafsirkan makna puisinya, namun tidak terlalu gelap. Pembaca tetap dapat menelusuri makna puisi itu. Namun makna itu bagaikan sinar yang keluar dari prisma.
Bisa jadi akan ada bermacam-macam makna yang muncul, karena memang bahasa puisi bersifat multi interpretable. Puisi prismatis kaya akan makna, namun tidak gelap. Makna yang aneka ragam itu dapat ditelusuri pembaca. Jika pembaca mempunyai latar belakang pengetahuan tentang penyair dan kenyataan sejarah, maka pembaca akan lebih cepat dan tepat menafsirkan makna puisi tersebut.
Penyair-penyair seperti Amir Hamzah dan Chairil Anwar dapat menciptakan puisi-puisi prismatis.
3. Puisi Gelap
Puisi yang sukar dimaknai. Terlampau banyak penggunaan majas, metafora, simbolisasi terkadang justru membenamkan arti/makna puisi itu sendiri. Mungkin hanya pengarangnya yang bisa membaca arti puisinya.
DASAR-DASAR ANALISIS PUISI

Lembar komunikasi Bahasa dan Sastra Indonesia
SMU Stella Duce 2 Yogyakarta
Jl. Dr. Sutomo 16 Telp. (0274) 513129 Yogyakarta
Disusun oleh Agustinus Suyoto
I. PENGERTIAN
Secara etimologis istilah puisi berasal dari kata bahasa Yunani poites, yang berarti pembangun, pembentuk, pembuat. Dalam bahasa Latin dari kata poeta, yang artinya membangun, menyebabkan, menimbulkan, menyair. Dalam perkembangan selanjutnya, makna kata tersebut menyempit menjadi hasil seni sastra yang kata-katanya disusun menurut syarat tertentu dengan menggunakan irama, sajak dan kadang-kadang kata kiasan (Sitomorang, 1980:10).
Menurut Vicil C. Coulter, kata poet berasal dari kata bahasa Gerik yang berarti membuat, mencipta. Dalam bahasa Gerik, kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir menyerupai dewa-dewa atau orang yang amat suka pada dewa-dewa. Dia adalah orang yang mempunyai penglihatan yang tajam, orang suci, yang sekaligus seorang filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi (Situmorang, 1980:10)).
Ada beberapa pengertian lain.
a. Menurut Kamus Istilah Sastra (Sudjiman, 1984), puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait.
b. Putu Arya Tirtawirya (1980:9) mengatakan bahwa puisi merupakan ungkapan secara implisit, samar dengan makna yang tersirat di mana kata-katanya condong pada makna konotatif.
c. Ralph Waldo Emerson (Situmorang, 1980:8) mengatakan bahwa puisi mengajarkan sebanyak mungkin dengan kata-kata sesedikit mungkin.
d. William Wordsworth (Situmorang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah peluapan yang spontan dari perasaan-perasaan yang penuh daya, memperoleh asalnya dari emosi atau rasa yang dikumpulkan kembali dalam kedamaian.
e. Percy Byssche Shelly (Situmorang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah rekaman dari saat-saat yang paling baik dan paling senang dari pikiran-pikiran yang paling senang.
f. Watt-Dunton (Situmorang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah ekpresi yang kongkret dan yang bersifat artistik dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama.
g. Lescelles Abercrombie (Sitomurang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah ekspresi dari pengalaman imajinatif, yang hanya bernilai serta berlaku dalam ucapan atau pernyataan yang bersifat kemasyarakatan yang diutarakan dengan bahasa yang mempergunakan setiap rencana yang matang serta bermanfaat.
I. PERBEDAAN PUISI DAN PROSA
HB. Jassin (1953:54) mengatakan bahwa untuk mendefinisikan puisi, puisi itu harus dikaitkan dengan definisi prosa. Prosa merupakan pengucapan dengan pikiran, sedangkan puisi merupakan pengucapan dengan perasaan.
Rahmanto dan Dick Hartoko (1986) mengatakan bahwa puisi merupakan lawan terhadap prosa. Ungkapan bahasa yang terikat (puisi), lawan ungkapan bahasa yang tidak terikat (prosa). Keterikatan oleh paralelisme, metrum, rima, pola bunyi, dsb. Pada sastra modern perbedaan puisi dan prosa sangat kabur.
Luxemburg (1992) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan teks puisi adalah teks-teks monolog yang isinya tidak pertama-tama merupakan sebuah alur. Selain itu teks puisi bercirikan penyajian tipografik tertentu. Tipografik ini merupakan ciri yang paling menonjol dalam puisi. Apabila kita melihat teks yang barisnya tidak selesai secara otomatis kita menganggap bahwa teks tersebut merupakan teks puisi.
Rachmad Djoko Pradopo (1987) mengatakan bahwa dewasa ini orang mengalami kesulitan dalam membedakan puisi dan prosa hanya dari bentuk visualnya sebagai sebuah karya tertulis. Sampai-sampai sekarang ini dikatakan bahwa niat pembacalah yang menjadi ciri sastra utama.
Alterbern (dalam Pradopo, 1987) mengatakan bahwa puisi adalah pendramaan pengalaman yang bersifat penafsiran dalam bahasa berirama. Ada tiga unsur pokok dalam puisi yaitu pemikiran/ide/emosi, bentuk, dan kesan. Jadi puisi mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indra dalam susunan bahasa yang berirama.
Slametmulyana (1956:112) mengatakan bahwa ada perbedaan pokok antara prosa dan puisi. Pertama, kesatuan prosa yang pokok adalah kesatuan sintaksis, sedangkan kesatuan puisi adalah kesatuan akustis. Kedua puisi terdiri dari kesatuan-kesatuan yang disebut baris sajak, sedangkan dalam prosa kesatuannya disebut paragraf. Ketiga di dalam baris sajak ada periodisitas dari mula sampai akhir.
Pendapat lain mengatakan bahwa perbedaan prosa dan puisi bukan pada bahannya, melainkan pada perbedaan aktivitas kejiwaan. Puisi merupakan hasil aktivitas pemadatan, yaitu proses penciptaan dengan cara menangkap kesan-kesan lalu memadatkannya (kondensasi). Prosa merupakan aktivitas konstruktif, yaitu proses penciptaan dengan cara menyebarkan kesan-kesan dari ingatan (Djoko Pradopo, 1987).
Perbedaan lain terdapat pada sifat. Puisi merupakan aktivitas yang bersifat pencurahan jiwa yang padat, bersifat sugestif dan asosiatif. Sedangkan prosa merupakan aktivitas yang bersifat naratif, menguraikan, dan informatif (Pradopo, 1987)
Perbedaan lain yaitu puisi menyatakan sesuatu secara tidak langsung, sedangkan prosa menyatakan sesuatu secara langsung.
II. UNSUR-UNSUR PEMBENTUK PUISI
Ada beberapa pendapat tentang unsur-unsur pembentuk puisi. Salah satunya adalah pendapat I.A. Richard. Dia membedakan dua hal penting yang membangun sebuah puisi yaitu hakikat puisi (the nature of poetry), dan metode puisi (the method of poetry).
Hakikat puisi terdiri dari empat hal pokok, yaitu
1. Sense (tema, arti)
Sense atau tema adalah pokok persoalan (subyek matter) yang dikemukakan oleh pengarang melalui puisinya. Pokok persoalan dikemukakan oleh pengarang baik secara langsung maupun secara tidak langsung (pembaca harus menebak atau mencari-cari, menafsirkan).
2. Feling (rasa)
Feeling adalah sikap penyair terhadap pokok persoalan yang dikemukakan dalam puisinya. Setiap penyair mempunyai pandangan yang berbeda dalam menghadapi suatu persoalan.
3. Tone (nada)
Yang dimaksud tone adalah sikap penyair terhadap pembaca atau penikmat karyanya pada umumnya. Terhadap pembaca, penyair bisa bersikap rendah hati, angkuh, persuatif, sugestif.
4. Intention (tujuan)
Intention adalah tujuan penyair dalam menciptakan puisi tersebut. Walaupun kadang-kadang tujuan tersebut tidak disadari, semua orang pasti mempunyai tujuan dalam karyanya. Tujuan atau amanat ini bergantung pada pekerjaan, cita-cita, pandangan hidup, dan keyakinan yang dianut penyair
Untuk mencapai maksud tersebut, penyair menggunakan sarana-sarana. Sarana-sarana tersebutlah yang disebut metode puisi. Metode puisi terdiri dari
1. Diction (diksi)
Diksi adalah pilihan atau pemilihan kata yang biasanya diusahakan oleh penyair dengan secermat mungkin. Penyair mencoba menyeleksi kata-kata baik kata yang bermakna denotatif maupun konotatif sehingga kata-kata yanag dipakainya benar-benar mendukung maksud puisinya.
2. Imageri (imaji, daya bayang)
Yang dimaksud imageri adalah kemampuan kata-kata yang dipakai pengarang dalam mengantarkan pembaca untuk terlibat atau mampu merasakan apa yang dirasakan oleh penyair. Maka penyair menggunakan segenap kemampuan imajinasinya, kemampuan melihat dan merasakannya dalam membuat puisi.
Imaji disebut juga citraan, atau gambaran angan. Ada beberapa macam citraan, antara lain
a. citra penglihatan, yaitu citraan yang timbul oleh penglihatan atau berhubungan dengan indra penglihatan
b. Citra pendengaran, yaitu citraan yang timbul oleh pendengaran atau berhubungan dengan indra pendengaran
c. Citra penciuman dan pencecapan, yaitu citraan yang timbul oleh penciuman dan pencecapan
d. Citra intelektual, yaitu citraan yang timbul oleh asosiasi intelektual/pemikiran.
e. Citra gerak, yaitu citraan yang menggambarkan sesuatu yanag sebetulnya tidak bergerak tetapi dilukiskan sebagai dapat bergerak.
f. Citra lingkungan, yaitu citraan yang menggunakan gambaran-gambaran selingkungan
g. Citra kesedihan, yaitu citraan yang menggunakan gambaran-gambaran kesedihan
1. The concrete word (kata-kata kongkret)
Yang dimaksud the concrete word adalah kata-kata yang jika dilihat secara denotatif sama tetapi secara konotatif mempunyai arti yang berbeda sesuai dengan situasi dan kondisi pemakaiannya. Slametmulyana menyebutnya sebagai kata berjiwa, yaitu kata-kata yang telah dipergunakan oleh penyair, yang artinya tidak sama dengan kamus.
2. Figurative language (gaya bahasa)
Adalah cara yang dipergunakan oleh penyair untuk membangkitkan dan menciptakan imaji dengan menggunakan gaya bahasa, perbandingan, kiasan, pelambangan dan sebagainya. Jenis-jenis gaya bahasa antara lain
a. perbandingan (simile), yaitu bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain dengan mempergunakan kata-kata pembanding seperti bagai, sebagai, bak, seperti, semisal, umpama, laksana, dll.
b. Metafora, yaitu bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain tanpa mempergunakan kata-kata pembanding.
c. Perumpamaan epos (epic simile), yaitu perbandingan yang dilanjutkan atau diperpanjang dengan cara melanjutkan sifat-sifat perbandingannya dalam kalimat berturut-turut.
d. Personifikasi, ialah kiasan yang mempersamakan benda dengan manusia di mana benda mati dapat berbuat dan berpikir seperti manusia.
e. Metonimia, yaitu kiasan pengganti nama.
f. Sinekdoke, yaitu bahasa kiasan yang menyebutkan suatu bagian yang penting untuk benda itu sendiri.
g. Allegori, ialah cerita kiasan atau lukisan kiasan, merupakan metafora yang dilanjutkan.
1. Rhythm dan rima (irama dan sajak)
Irama ialah pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembutnya ucapan bunyi bahasa dengan teratur. Irama dibedakan menjadi dua,
a. metrum, yaitu irama yang tetap, menurut pola tertentu.
b. Ritme, yaitu irama yang disebabkan perntentangan atau pergantian bunyi tinggi rendah secara teratur.
Irama menyebabkan aliran perasaan atau pikiran tidak terputus dan terkonsentrasi sehingga menimbulkan bayangan angan (imaji) yang jelas dan hidup. Irama diwujudkan dalam bentuk tekanan-tekanan pada kata. Tekanan tersebut dibedakan menjadi tiga,
a. dinamik, yaitu tyekanan keras lembutnya ucapan pada kata tertentu.
b. Nada, yaitu tekanan tinggi rendahnya suara.
c. Tempo, yaitu tekanan cepat lambatnya pengucapan kata.
Rima adalah persamaam bunyi dalam puisi. Dalam rima dikenal perulangan bunyi yang cerah, ringan, yang mampu menciptakan suasana kegembiraan serta kesenangan. Bunyi semacam ini disebut euphony. Sebaliknya, ada pula bunyi-bunyi yang berat, menekan, yang membawa suasana kesedihan. Bunyi semacam ini disebut cacophony.
Berdasarkan jenisnya, persajakan dibedakan menjadi
a. rima sempurna, yaitu persama bunyi pada suku-suku kata terakhir.
b. Rima tak sempurna, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada sebagian suku kata terakhir.
c. Rima mutlak, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada dua kata atau lebih secara mutlak (suku kata sebunyi)
d. Rima terbuka, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada suku akhir terbuka atau dengan vokal sama.
e. Rima tertutup, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada suku kata tertutup (konsonan).
f. Rima aliterasi, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada bunyi awal kata pada baris yang sama atau baris yang berlainan.
g. Rima asonansi, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada asonansi vokal tengah kata.
h. Rima disonansi, yaitu persamaan bunyi yang terdapaat pada huruf-huruf mati/konsonan.
Berdasarkan letaknya, rima dibedakan
a. rima awal, yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada awal baris pada tiap bait puisi.
b. Rima tengah, yaitu persamaan bunyi yang terdapat di tengah baris pada bait puisi
c. Rima akhir, yaitu persamaan bunyi yang terdapat di akhir baris pada tiap bait puisi.
d. Rima tegak yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada bait-bait puisi yang dilihat secara vertikal
e. Rima datar yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada baris puisi secara horisontal
f. Rima sejajar, yaitu persamaan bunyi yang berbentuk sebuah kata yang dipakai berulang-ulang pada larik puisi yang mengandung kesejajaran maksud.
g. Rima berpeluk, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama antara akhir larik pertama dan larik keempat, larik kedua dengan lalrik ketiga (ab-ba)
h. Rima bersilang, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama antara akhir larik pertama dengan larik ketiga dan larik kedua dengan larik keempat (ab-ab).
i. Rima rangkai/rima rata, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama pada akhir semua larik (aaaa)
j. Rima kembar/berpasangan, yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama pada akhir dua larik puisi (aa-bb)
k. Rima patah, yaitu persamaan bunyi yang tersusun tidak menentu pada akhir larik-larik puisi (a-b-c-d)
Pendapat lain dikemukakan oleh Roman Ingarden dari Polandia. Orang ini mengatakan bahwa sebenarnya karya sastra (termasuk puisi) merupakan struktur yang terdiri dari beberapa lapis norma. Lapis norma tersebut adalah
1. Lapis bunyi (sound stratum)
2. Lapis arti (units of meaning)
3. Lapis obyek yang dikemukakan atau "dunia ciptaan"
a. Lapis implisit
b. Lapis metafisika (metaphysical qualities)
IV. PARAFRASE PUISI
Yang dimaksud parafrase adalah mengubah puisi menjadi bentuk sastra lain (prosa). Hal itu berarti bahwa puisi yang tunduk pada aturan-aturan puisi diubah menjadi prosa yang tunduk pada aturan-aturan prosa tanpa mengubah isi puisi tersebut.
Perlu diketahui bahwa parafrase merupakan metode memahami puisi, bukan metode membuat karya sastra. Dengan demikian, memparafrasekan puisi tetap dalam kerangka upaya memahami puisi.
Ada dua metode parafrase puisi, yaitu
a. Parafrase terikat, yaitu mengubah puisi menjadi prosa dengan cara menambahkan sejumlah kata pada puisi sehingga kalimat-kalimat puisi mudah dipahami. Seluruh kata dalam puisi masih tetap digunakan dalam parafrase tersebut.
b. Parafrase bebas, yaitu mengubah puisi menjadi prosa dengan kata-kata sendiri. Kata-kata yang terdapat dalam puisi dapat digunakan, dapat pula tidak digunakan. Setelah kita membaca puisi tersebut kita menafsirkan secara keseluruhan, kemudian menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri.
V. LEMBAR KEGIATAN SISWA
LATIHAN I
PERTANYAAN
a. Citraan apa yang dominan dalam penggalan puisi di bawah ini!
b. Gaya bahasa apakah yang dominan dalam penggalan puisi di bawah ini!
c. Rima jenis manakah yang terdapat dalam penggalan puisi di bawah ini!
d. Bagaimanakah feeling dalam penggalan puisi di bawah ini?
e. Bagaimanakah tone dalam penggalan puisi di bawah ini?
f. Apakah pokok persoalan yang ingin dikemukakan pengarang dalam penggalan puisi di bawah ini?
PENGGALAN PUISI
1. laksana bintang berkilat cahaya,
di atas langit hitam kelam,
sinar berkilau cahya matamu,
menembus aku ke jiwa dalam
(Sebagai Dahulu, Aoh Kartahadimadja)
2. Dua puluh tiga matahari
Bangkit dari pundakmu
Tubuhmu menguapkan bau tanah
(Nyanyian Suto untuk Fatima, Rendra)
3. Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
Menyinggung muram, desir hari lari benerang
Menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
Dan kini, tanah, air tidur, hilang ombak
(Senja di Pelabuhan Kecil, Chairil Anwar)
4. Betsyku bersih dan putih sekali
Lunak dan halus bagaikan karet busa.
Rambutnya merah tergerai
Bagai berkas benang-benang rayon warna emas.
Dan kakinya sempurna
Singsat dan licin
Bagaikan ikan salmon
(Rick dari Corona, Rendra)
5. Engkau ibarat kolam di tengah-tengah belukar
Berteriak-teriak tenang
Membiarkan nyiur sepasang
Berderminkan diri ke dalam
Airmu …
(Engkau, Walujati)
6. Aku sudah saksikan
Senja kekecewaan dan putus asa yang bikin tuhan Juga turut tersedu
Membekukan berpuluh nabi, hilang mimpi dalam kuburnya.
(Fragment, Chairil Anwar)
7. Seruling di pasir tipis, merdu
Antara gundukan pepohonan pina
Tembang menggema di dua kaki
Burangrang – Tangkaubanperahu
(Tanah Kelahiran, Ramadhan KH)
8. Tetapi istriku terus berbiak
Seperti rumput di pekarangan mereka
Seperti lumut di tembok mereka
Seperti cendawan di roti mereka
Sebab bumu hitam milik kami.
Tambang intan milik kami
Gunung natal milik kami
(Afrika Selatan, Subagio Sastrowardjoyo)
9. Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerlu lagu
Menarik menari seluruh aku
(Sajak Putih, Chairil Anwar)
10. Maka dalam blingsatan
Ia bertingkah bagai gorilla
Gorilla tua yang bongkok
Meraung-raung
Sembari jari-jari galak di gitarnya
Mencakar dan mencakar
Menggaruki rasa gatal di sukmanya
(Blues Untuk Bonnie, Rendra)
LATIHAN II
1. Parafraseikan puisi berikut ini dengan metode parafrase terikat!
2. Parafrasekan puisi berikut ini dengan metode parafrase bebas!
CERITA BUAT DIEN TAMAELA
(Chairil Anwar)
Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu.
Beta Pattirajawane
Kikisan laut
Berdarah laut.
Beta Pattirajawane
Ketika lahir dibawakan
Datu dayung sampan.
Beta pattirajawane, menjaga hutan pala.
Beta api di panta. Siapa mendekat
Tiga kali menyebut beta punya nama.
Dalam sunyi malam ganggang menari
Menurut beta punya tifa,
Pohon pala, badan perawan jadi
Hidup sampai pagi tiba.
Mari menari!
Mari beria!
Mari berlupa!
Awas jangan bikin beta marah
Beta bikin pala mati, gadis kaku
Beta kirim datu-datu!
Beta ada di malam, ada di siang
Irama ganggang dan api membakar pulau …
Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu.

BALADA TERBUNUHNYA ATMO KARPO
(WS Rendra)
Dengan kuku-kuku besi kuda menebah perut bumi
Bulan berkhianat gosok-gosokkan tubuhnya di pucuk-pucuk para
Mengepit kuat-kuat lutut menunggang perampok yang diburu
Surai bau keringat basah, jenawi pun telanjang
Segenap warga desa mengepung hutan itu
Dalam satu pusaran pulang balik Atmo Karpo
Mengutuki bulan betina dan nasibnya yang malang
Berpancaran bunga api, anak panah di bahu kiri
Satu demi satu yang maju terhadap darahnya
Penunggang baja dan kuda mengangkat kaki muka.
---Nyawamu barang pasar, hai orang-orang bebal!
Tombakmu pucuk daun dan matiku jauh orang papa.
Majulah Joko Pandan! Di mana ia?
Majulah ia kerna padanya seorang kukandung dosa.
Anak panah empat arah dan musuh tiga silang
Atmo Karpo tegak, luka tujuh liang.
---Joko Pandan! Di mana ia!
Hanya padanya seorang kukandung dosa.
Bedah perutnya atapi masih setan ia
Menggertak kuda, di tiap ayun menungging kepala
Joko Pandan! Di manakah ia!
Hanya padanya seorang kukandung dosa.
Berberita ringkik kuda muncullah Joko Pandan
Segala menyibak bagi reapnya kuda hitam
Ridla dada bagi derinya dendam yang tiba.
Pada langkah pertama keduanya sama baja.
Pada langkah ketiga rubuhlah Atmo Karpo
Panas luka-luka, terbuka daging kelopak-kelopak angsoka.
Malam bagai kedok hutan bopeng oleh luka
Pesta abulan, sorak sorai, anggur darah
Joko Pandan menegak, menjilat darah di pedang
Ia telah membunuh bapanya.

Balada Terbunuhnya Atmo Karpo
Dengan kuku-kuku besi kuda menebah perut bumi
bulan berkhianat gosok-gosokkan tubuhnya
di pucuk-pucuk para
mengepit kuat-kuat lutut penunggang perampok
yang diburu
surai bau keringat basah, jenawi pun telanjang

Segenap warga desa mengepung hutan itu
dalam satu pusaran pulang balik Atmo Karpo
mengutuki bulan betina dan nasibnya yang malang
berpancaran bunga api, anak panah di bahu kiri.

Satu demi satu yang maju tersadap darahnya
penunggang baja dan kuda mengangkat kaki muka

- Nyawamu barang pasar, hai orang-orang bebal!
Tombakmu pucuk daun dan matiku jauh orang papa

Majulah Joko Pandan! Di mana ia?
Majulah ia kerna padanya seorang kukandung dosa

Anak panah empat arah dan musuh tiga silang
Atmo Karpo masih tegak, luka tujuh liang

- Joko Pandan! Di mana ia?
Hanya padanya seorang kukandung dosa.

Bedah perutnya tapi masih setan ia!
menggertak kuda, di tiap ayun menungging kepala

- Joko Pandan! Di mana ia?
Hanya padanya seorang kukandung dosa.

Berberita ringkik kuda muncullah Joko Pandan
segala menyibak, bagi derapnya kuda hitam
ridla dada, bagi derunya dendam yang tiba

Pada langkah pertama keduanya sama baja
Pada langkah ketiga rubuhlah Atmo Karpo
Panas luka-luka, terbuka daging kelopak-kelopak angsoka

Malam bagai kedok hutan bopeng oleh luka
pesta bulan, sorak-sorai, anggur darah.

Joko Pandan menegak, menjilat darah di pedang
Ia telah membunuh bapaknya.

Lomba Cipta Puisi Balada dan cerpen Berbahasa Indonesia
I. Nama Kegiatan:
Lomba Cipta Cerpen Berbahasa Indonesia Siswa SMP Kabupaten Kendal Tahun 2010.
II. Maksud dan Tujuan
• Membina dan meningkatkan kreativitas siswa SMP dalam bidang sastra, khususnya cerpen;
• Menanamkan dan membina apresiasi sastra, khususnya terhadap nilai-nilai tradisi yang berakar pada budaya bangsa;
• Mengembangkan sikap kompetitif dalam diri siswa yang berwawasan global;
• Melakukan seleksi terhadap peserta untuk diikutsertakan dalam lomba di tingkat Prov. Jawa Tengah.
III. Tema
Tema lomba cipta cerpen muatan lokal berkisar pada kehidupan bermasyarakat yang mengungkapkan dan mempercakapkan nilai-nilai kehidupan tradisional (muatan lokal), seperti mitologi, legenda, fabel, kepercayaan, serta adat-istiadat daerah/etnik setempat dengan “sentuhan baru” atau teknik penyajian yang khas.
IV. Persyaratan Tulisan
• Cerpen ditulis dalam bahasa Indonesia;
• Cerpen harus asli, bukan terjemahan/saduran, dan belum pernah dilombakan/dipublikasikan;
• Isi cerpen sesuai dengan tata nilai agama dan norma kehidupan dalam masyarakat;
• Cerpen ditulis rapi dalam kertas bergaris sebanyak 1.000-1.200 kata atau 5-6 halaman;
• cerpen ditulis pada saat lomba berlangsung;
• Sampul depan diberi identitas seperti berikut ini:
1) Judul Cerpen
2) Nama siswa
3) Jenis kelamin
4) Tempat dan tanggal lahir
5) Kelas
6) Sekolah
7) Alamat sekolah, kode pos, dan telepon
8) Alamat rumah, kode pos, dan telepon
9) email
V. Peserta
Peserta lomba adalah siswa SMP, baik negeri maupun swasta, dengan syarat sebagai berikut:
• Siswa kelas VII dan atau kelas VIII saat mengikuti lomba;
• Terpilih sebagai peserta terbaik berdasarkan seleksi di tingkat sekolah.
VI. Mekanisme Lomba
• Setiap sekolah wajib mendaftarkan 2-3 peserta terbaik (laki-laki/perempuan) setelah melalui proses seleksi di tingkat sekolah;
• Pendaftaran peserta dilakukan mulai tanggal 19 s.d. 24 April 2010 melalui MGMP Seni Budaya SMP dengan membawa surat keterangan dari kepala sekolah, foto kopi rapor semester terakhir sebanyak 1 lembar yang telah dilegalisir oleh kepala sekolah, dan persyaratan lain yang telah ditentukan.
VII. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Lomba dilaksanakan pada hari Selasa, 27 April 2010 (pukul 08.00 WIB s.d. selesai) di SMP Negeri 1 Kendal.
VIII. Juri
• Dewan juri terdiri atas 3 orang (guru SMA/MA/SMK) yang dinilai memenuhi syarat, yaitu minimal sarjana pendidikan bahasa atau praktisi yang berkompeten, pernah menjadi juri sekurang-kurangnya pada tingkat rayon, dan mampu bersikap adil (independen).
IX. Penilaian
Lomba cerpen dinilai berdasarkan aspek: tokoh/penokohan, alur, latar, bahasa, isi, kreativitas, serta kesesuaian isi dengan tema seperti pada tabel berikut:
LEMBAR PENILAIAN
LOMBA CIPTA CERPEN BERBAHASA INDONESIA SISWA SMP
KAB. KENDAL TAHUN 2010
No. Aspek yang Dinilai Nilai
(10-100) Bobot Jumlah
1 Kesesuaian isi dengan tema 1
2 Tokoh/penokohan 1
3 Alur 1
4 Latar 1
5 Bahasa 2
6 Isi 1
7 Kreativitas 3
Total
X. Ketentuan Pemenang
• Ketentuan dewan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
• Dewan juri akan menentukan 3 (tiga) pemenang terbaik. Pemenang terbaik I berhak mewakili Kab. Kendal ke tingkat Prov. Jawa Tengah.
Lomba Cipta Puisi Balada
I. Nama Kegiatan:
Lomba Cipta Puisi Balada Siswa SMP Kabupaten Kendal Tahun 2010.
• II. Maksud dan Tujuan
• Membina dan meningkatkan kreativitas siswa SMP dalam bidang sastra, khususnya puisi;
• Menanamkan dan membina apresiasi sastra, khususnya terhadap nilai-nilai tradisi yang berakar pada budaya bangsa;
• Mengembangkan sikap kompetitif dalam diri siswa yang berwawasan global;
• Melakukan seleksi terhadap peserta untuk diikutsertakan dalam lomba di tingkat Prov. Jawa Tengah.
III. Tema
Tema lomba cipta puisi balada bersifat terbuka/bebas dan disarankan untuk mengangkat nilai kejuangan dan keteladanan dari tokoh-tokoh lokal di wilayah Kabupaten Kendal.
IV. Persyaratan Tulisan
• Puisi ditulis dalam bahasa Indonesia;
• Isi tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945 serta sesuai dengan tata nilai dan norma kehidupan dalam masyarakat;
• Puisi harus asli, bukan terjemahan/saduran, dan belum pernah dilombakan/dipublikasikan;
• Diketik rapi dalam kertas HVS ukuran kuarto/A4 dengan jarak 1,5 spasi sebanyak 1-2 halaman atau ditulis rapi dalam kertas bergaris sebanyak 1-2 halaman;
• Sampul karangan: cap sekolah, tanda tangan kepala sekolah yang bersangkutan; sekolah boleh mengirimkan tiga karangan terbaik;
• Naskah lomba diserahkan kepada panitia paling lambat 22 April 2010 di Dinas Dikpora Kab. Kendal (Sie SMP Bidang Dikdas).
V. Peserta
Peserta lomba adalah siswa SMP, baik negeri maupun swasta, dengan syarat sebagai berikut:
• Siswa kelas VII dan atau kelas VIII saat mengikuti lomba;
• Terpilih sebagai peserta terbaik berdasarkan seleksi di tingkat sekolah.
VI. Mekanisme Lomba
• Setiap sekolah wajib mendaftarkan 2-3 peserta terbaik (laki-laki/perempuan) setelah melalui proses seleksi di tingkat sekolah;
• Pendaftaran peserta dilakukan mulai tanggal 19 s.d. 24 April 2010 melalui MGMP Seni Budaya SMP dengan membawa surat keterangan dari kepala sekolah, foto kopi rapor semester terakhir sebanyak 1 lembar yang telah dilegalisir oleh kepala sekolah, dan persyaratan lain yang telah ditentukan.
VII. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Lomba dilaksanakan pada hari Selasa, 27 April 2010 (pukul 08.00 WIB s.d. selesai) di SMP Negeri 1 Kendal.
VIII. Juri
Dewan juri terdiri atas 3 orang (guru SMA/MA/SMK) yang dinilai memenuhi syarat, yaitu minimal sarjana pendidikan bahasa atau praktisi yang berkompeten, pernah menjadi juri sekurang-kurangnya pada tingkat rayon, dan mampu bersikap adil (independen).
IX. Penilaian
Lomba puisi dinilai berdasarkan aspek: kesesuaian dengan tema, pemakaian bahasa, sarana retorika, isi/makna, dan kreativitas.
• Kesesuaian dengan tema:
• Kesesuaian isi dengan judul puisi;
• Kesesuaian isi dengan tema atau topik yang telah ditentukan.
• Pemakaian bahasa:
• Ketepatan pemilihan kata, rima, ungkapan, dan kalimat;
• Kegunaan pemilihan kata dan kalimat dalam pewujudan gagasan dan pengembangan imajinasi;
• Sarana retorika:
• Kekuatan menghidupkan imajinasi (citraan, bayangan) melalui pemakaian bahasa;
• Kesesuaian dan ketepatan pemakaian majas (metafora) atau makna spesifik yang mempunyai daya bayang bagi pembaca.
• Isi/makna:
• Kesesuaian gagasan dengan tema;
• Kewajaran pengembangan gagasan;
• Nilai-nilai kehidupan/budaya.
• Kreativitas:
• Gagasan baru (khas) dan cara pengungkapan gagasan yang dikemukakan;
• Bentuk (tipografi) dan aspek lain yang memperlihatkan adanya inovasi.
LEMBAR PENILAIAN
LOMBA CIPTA PUISI BALADA SISWA SMP
KAB. KENDAL TAHUN 2010
No. Aspek yang Dinilai Nilai
(10-100) Bobot Jumlah
1 Isi 3
5 Bahasa 3
6 Daya puitis 2
7 Penyajian 2
Total
X. Ketentuan Pemenang
• Ketentuan dewan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
• Dewan juri akan menentukan 3 (tiga) pemenang terbaik. Pemenang terbaik I berhak mewakili Kab. Kendal ke tingkat Prov. Jawa Tengah.

Berikut ini kami informasikan hasil Lomba Cipta Puisi Balada dan Cerpen Siswa SMP Kab. Kendal Tahun 2010 yang berlangsung pada hari Selasa, 27 April 2010 di SMP 1 Kendal.
LOMBA CIPTA PUISI
No Nama Sekolah Judul
1 Dyan Suci P SMP 1 Boja Balada Kakek Wirogimin
2 Fina Rocmatul Izzah SMP 1 Brangsong Balada Seorang Wanita
3 Ririn Juli Hardianti SMP 2 Pegandon Gelombang Kasihmu Tuk Alam
4 Nur Chayati Abadiyah SMP 2 Kendal Balada Buruh Cuci
5 Anik Purnamawati SMP 2 Limbangan Balada Seorang Penyadap Karet
6 Dhita Silvia A SMP 2 Plantungan Balada Tukang Kebun

LOMBA CIPTA CERPEN
No Nama Sekolah Judul
1 Paramestri SK SMP 1 Boja Sekunir
2 Arif Kafitri SMP 1 Limbangan Makam Keramat
3 Alifah Utami AP SMP PMS Kendal Malam yang Sangat Membahayakan
4 Rita Ayu Ika Y SMP 2 Kendal Amarah Dewi Lanjar
5 Darul Laraswati P SMP 1 Boja Larangan
6 Rahmawati P SMP PMS Kendal Anugerah Terindah di Bulan Syawal
Peserta yang dinyatakan sebagai Juara I, baik Lomba Cipta Puisi Balada maupun Cerpen, berhak mewakili Kab. Kendal di tingkat Provinsi Jawa Tengah.
BALADA TANAH MERAH

Oleh: Dini Setyowati

Kenapa tanah disini merah?
Begitu aku bertanya ketika kami tiba dari Rusia..
Ayah tersenyum penuh rahasia
Inilah salju Jakarta
Tanah disini
Banyak mengandung besi
Berarti kuat dong, aku tertegun
Iya nak, kuat untuk dibangun
Lihatlah sekelilingmu
Dimana-mana generasi muda dan tua
Membawa map dan buku guna menuntut ilmu
Untuk membangun bersama
Indonesia,
repulik yang masih muda
tak peduli apakah pemuda rakyat atau hmi
yang penting kita bersama berdiri
diatas tanah merah ini.
Bahkan banyak yang rela untuk pergi
Ke luarnegeri, demi belajar serta
Rasa hormat dunia untuk pertiwi
Anakku, jangan kau lupa
Tanah airmu itu kaya
Harta karun tak terhingga
Terkandung di dalam perutnya
Dan hanya dengan ilmu
Kami simpan untuk generasimu
Demikian aku mulai hidup
Di atas tanah merah jakarta
Mencari diri dan membentuk
Seperti pemuda dimana-mana
Menempa besi menjadi baja.
Tetapi aku masih terlalu kecil
Ketika tiba-tiba terjadi
Peristiwa yang aku belum mengerti
Di suatu hari yang cerah
masih nampak biru
Warna langit pagi
Tanah menjadi lebih merah
Karena terkuak gerigi
Roda tank- tank yang menderu
Dan tanpa disangka
Kampungku Gang Rambutan
Di pinggir jalan pasar Minggu
Masuk kedalam neraka
Kakiku masih melangkah
Tak sadar ke arah sekolah..
Tetapi di kiri kanan jalanan
Oh Tuhan..
Kenapa ini boleh terjadi
Seperti mimpi yang ngeri..
Mengapa Engkau pergi
Meninggalkan tempat ini?
Sementara itu terlihat
Dari segala penjuru
Bergerombol banyak pemuda
Berbaju pencak silat
Dengan menabuh gendang
Dan berteriak Allahu Akbar!
Seketika itu suasana keruh
Rumah penduduk setempat diserbu
Gendang masih terdengar ditabuh
Kali ini tercampur teriakan pilu!
Wanita dan pria diseret keluar
Ditendang,digebuk,rambut terurai dicambuk
Rumah-rumah sudah siap dibakar
Sambil berteriak Allahu Akbar..!
Aku seperti terpaku berdiri
Tak tahu harus terus atau kembali
Tiba tiba seorang ibu berlari padaku
Tiarap! Tiarap neng, jangan tegak begitu!
Ia tutupi aku dengan selendang
Selendang yang panjang dan agak usang..
Tak tahu berapa lama kami bongkok sembunyi
Aku sempat melihat satuan PM datang
Mencoba mengembalikan ketertiban
Dari jauh terdengar tangisan bayi
Mungkin tanpa ibu, ditinggal sendiri..
Suasana jadi sangat sunyi
Dari jauh terdengar azan menyanyi
Seakan tak ada suatu terjadi
Begitu damai membelai di hati
Aku beranikan diri keluar dan lari
Lari dan lari tanpa nengok ke belakang
Kanan kiri sepanjang jalan
Nampak hanya reruntuhan
Didepan rumah orang-orang berkerumun
Hatiku terasa pilu bergetar
Dari mereka aku mendengar
Penggerebekan di sekitar kampung
Masih terus berlangsung
Penangkapan mulai terjadi
Aku nangis didada ibu
Pucat dengan rambut kusut
Airmata panas mengalir menyengat pipi
Mengapa Malam Kristal terjadi disini?
Rumah kami pula hancur
Buku campur alat dapur
Porakporanda dihalaman
Kapuk putih bagaikan salju
Bertebangan dari kuakan kasur
Orang tuaku hari itu dijemput
Bisu, gelapnya malam bagai selimut
Berhenti dua truk,seperti bayangan
Sosok-sosok bertopi baja mengepung halaman
Ibunda masih sempat berbisik mesra
Kuatlah anakku Dinusjka
Ini hanya sementara
Pasti kami pergi tak lama
Kita tak salah, kebenaran ada dipihak kita!
Tersedu susah melepas pelukan
Aku dan kakak ditinggal ditengah malam
Didepan rumah yang sudah hancur
Dengan hanya berbekal: harapan
Satu hal lagi pesan ibu
Jangan mudah membuka pintu
Kalau ada kenalan kami datang
Lebih baik kalian diam
Kini berkuasa jaman edan
Teman sendiri menjadi lawan
Dan diluar betul kata ibu
Suasana semakin tidak tentu
Tank-tank berdiri ditiap sudut jalan
Patroli PM kontrol terus jam malam
Di siang hari tank-tank menderu berang
Truk-truk penuh tentara bertopi baja
Senapan-senapan terhunus mengancam
Sambil bergelak ketawa seram
Menembak keatas, anjing dan ayam
Seolah-olah ini tanah
Masih kurang berwarna merah
Sehingga perlu ditambah
dengan
Lebih banyak tumpahan darah
Tak terasa empat bulan berlalu
Kami tetap di rumah mencoba survive
Dan tetap menunggu
Mengharap saat kembalinya ayah ibu
Tetangga banyak membantu
Kami ditampung beberapa waktu
Tukang sayur selalu datang
Dengan gratis memberi sayuran
Dan aku selalu menyesal
Aduh Bang belum ada uang..
Ngga apa Neng, gampang, bayar kapan-kapan..
Tetapi pada suatu hari
Pintu degedor bertubi-tubi
Rumah ini telah disita, kamu harus keluar segera!
Jangan coba membawa barang suatu apa,
Ini semua telah milik negara!
Begitu cetus ia menghardik
Seorang kapten bernama Basuki
Terasa matanya ciut membidik
Badanku yang belum mulai puber
Ia komando pada mereka
Yang bersesak penuh dalam truk tentara
Semua pemuda berbaju hitam
Ini masih kecil kok, nggak perlu dihantam!
Awasi saja jangan mereka bawa barang
dan jaga ketat pintu belakang!
Dan kalian, anak-anak orang PKI
Jangan kira terlepas dari kami
Komunisme, seperti syphilis
Sampai tujuh turunan harus dibasmi!

Aku terduduk lemas, harus kemanakah kami?
Sedangkan sanak famili dengan panik lari
Menjauh, tak berani, meskipun aku bisa mengerti
Tiba-tiba kami jadi paria, anak-anak penjahat
Jari telunjuk menunjuk, menusuk
Jauhi mereka, jangan dekat
Mereka telah dikutuk Tuhan!
Gara-gara ikut Komunis, ilmu setan!

Jaman memang berubah, tidak seperti dulu
Moral berjungkir balik dalam sekejap mata
Apa yang dulu baik, kini menjadi tercela
Mode ‘orang kaya baru’
merajalela
Muncul di mana-mana tante bergaya girang
Bibir bergincu merah dan berbadan sintal
Memakai celana jengki, rambut disasak tinggi
Jalan melenggang dengan bedinde belanja di pasar pagi
Om-om senang menyelusur jalanan dengan jip kantor
pada waktu kantor, ini memang moral koruptor
Matanya buas mencari mangsa
Gadis-gadis yang belum dewasa
Isteri tentara,kopral dan sersan
Mendadak kaya,bergaya nyonya besar
Isteri jendral dan overste berlomba-lomba
Membeli titel aristokrat
berdarah biru, seakan malu,
Kalau merah berarti merakyat
Tanah merah aku tetap teringat
Tanah Jakarta yang semakin padat
Makin sedikit buatnya untuk merasa bebas
Semakin sedikit ia bisa bernafas
Sampai kini kubertanya setiap hari
Mengapa tanah merah yang aku ingat
Tidak buat manusia menjadi kuat?
Kuat untuk terus semangat, mencari jatidiri
Dan tidak saling membenci dan khianat?

Amsterdam, 30 september 2007.

Balada Perompak Mando

1
Bulan purnama memantul pasi
di ombak pelan tenang bergoyang
Gerimis turun malam ini
memecah bayang yang mengambang

Mando angkat tangan kanan
empat anak buah kenakan topeng
Mando si kepala rompak mimpin kawanan
teguk minuman tepuk pipinya bopeng

Mesin perahu tengah malam meraung
laut tersibak geram, bukan senandung
pekik Mando menuju mendung
memantul jadi gaung

Kawanan rompak menyulut obor
empat lidah api menggeliat, bagai gincu menor
Dan sebotol besar minyak di tangan kiri
menanti, menanti perahu rompak henti

Babah Mehong terjaga ngeri
Pelacurnya terjengkang keluar ranjang
meringis, ikut berlari
Babah Mehong dan tiga awak kapal mengerang
Di geladak mereka saling pandang
Babah Mehong lututnya nyaris copot
kolornya melorot, juga nyalinya:
“Melawan perompak adalah percuma.
Menghindar bisa jadi sate
menurut artinya kere!”

Sahut si pelacur: “Berikan separuhnya, segera!
Jangan tunggu mereka lompat padaku!”

Dan Mando telah kenakan topeng
mencabut dua pedang. Bagai lonceng
suara bilah dan bilah saling tempa
tandanya perahu rompak mendekat
dan kawanan selincah tupai siap meloncat

Si pelacur beringsut, gemetar menuju kamar
meringkuk di kolong ranjang
merapal doa yang lama ia lupakan

Di geladak tiada doa, harap belaka
Babah Mehong dan tiga cecunguk bengong
Keempatnya melutut, dirajam takut
Tak seperti gerimis langit mencurah tipis
Mata Babah Mehong tebal menangis
Didengarnya suara kepala rompak menggelegak:
“Kau tahu apa yang diminta rompak?
Coba tebak apa dalam sebalik kain terpalmu!”

Dan perompak gendut dan perompak jangkung
membuka kain terpal tudung

Amboi! Ratusan kayu gelondong
hutan-hutan tlah jadi jerangkong!

O, Babah Mehong sepotong siput
tanpa cangkang pastilah kalut!
Dibantai gentar ia berkata:
“Bukankah sesama maling tak boleh mangsa?”

Mando menyebar seringai, siapkan tikai
“Oho! Kami bukan maling.
Malahan kami musuh para maling;
tikus-tikus pengecut mengerat jaring!”

Gemetar Babah Mehong dan awak kapal
Jawabnya: “Baik kalian ambil separuh kayu
dan biarkan kami segera laju.”

Kawanan rompak terbahak
Perompak gendut meludahkan dahak
“Dapatkah kujual lagi padamu kayu-kayu itu?”

Babah Mehong wajahnya mohon:
“Aku hanya pencuri kayu.
Maka ambillah kayuku.”

Mando sarungkan lagi pedang-pedang
tapi matanya merentang tegang
“Perompak tak merampas barang curian.
Tapi membakar kayu-kayu dalam kapalmu
kini jadi mauku.”

Wahai, Babah Mehong! Wahai, tikus ompong!
Di mana hendak kausembunyikan lolong
padahal laut tiada gorong-gorong!

Dan obor-obor teracung
Dan botol-botol minyak melambung
Maka berkobar api di tengah laut
menjadi lawan bagi mendung
menjadi sebab Babah Mehong nyaris semaput

Dari balik celah jendela kamar
pelacur melihat kawanan rompak kabur
bersama pekik sangar dalam samar
tinggalkan kapal yang bakal hancur
“Aku tahu mereka! Aku tahu mereka!”
jerit pelacur, berdiri, lalu berkelebat
menemu Babah Mehong yang digotong
awak kapal tak mau terlambat
Mereka mencebur ke laut
berbekal segelondong kayu tempat berpaut

Sambil meratap memeluk gelondong kayu
saksikan api membumbung, asap berkawan
pada mendung pada malam, yang kuyu.
“Fajar masih jauh. Derita semalaman!”
Pelacur menangis
oleh sebab tak tahu persis
arahnya nasib. Arahnya bakal menuju maut
lesap dari dunia; betapa carut marut
adalah nikmat milik ular penuh desis

Akal Babah Mehong masih koyak
tapi dendam mulai berderak
“Di sinilah kayu-kayuku mesti dijemput
dan segepok uang menyambut.”

Mendung makin tebal
kobar api tak lagi binal
bau asap bau laut
Babah Mehong lebarkan mulut
tertawa bagai raja:
“Tak sampai fajar derita terasa
kecuali Koman khianati kita!”

Pelacur mendengar suara mesin perahu
menderu cepat, masih sayup
Dan ia kan segera bagai kuncup
harap dan dendam jadi bongkah batu
“Siapa Koman?”

Perahu motor mutari Babah Mehong
Seorang lelaki berdiri di ujung perahu
bukan keris dan tombak dalam genggaman

Dialah Koman. Lelaki pegang senapan

2
Babah Mehong tak dapat uang
Koman menyimpan berang
dan Pelacur ngomong tanpa luang:
“Lima orang. Aku yakin mereka.
Minum di kedai tempat lacuran.
Yang mimpin pipinya bopeng
yang jangkung lehernya berkoreng
yang gendut suaranya cempreng.”

Sambil natap liuk api kapal bantaian
yang tenggelam pelan
Koman penuhkan kepal tangan
ada nyawa dalam genggaman!
“Tahukah kau di mana kutemukan mereka?”

3
Kawanan rompak melaju pulang
tuju seberang, pada tepi hutan rimba
Tak ada siapa di sana
cuma gubug kayu rapuh
lumut dan lintah jadi sepuh
Dari sana perompak berkuda seusai subuh
benar-benar pulang pada rumah
tapi kini fajar tak mudah ditempuh
Laut resah. Badai kambuh
Mendung kian tebal menyandera
Bulan mandul sinar meski tlah purnama
Bintang ikut khianat pula

“Kemana larinya orang macam kita?”
Kecuali Mando, mereka belalakkan mata

Tapi Mando bukan anak kecil
hati dan pikir tak mudah kecut
keberanian tak gampang surut dan kerdil
meski laut dan kesempatan tampak menciut

“Kita tahu laut tak ada batas.”
Teriak serak Mando serupa pecahan gelas

Perompak gendut menyahut cepat:
“Tapi laut tahu kita khianat
sedang kita tak tahu seberapa berat
laut telah melaknat!”

O, Mando yang perkasa!
Iblis mana bertengger dalam dada?

“Jika memang benar katamu
kenapa tak dari semula laut beri tahu?
Jika memang kita tak boleh menjamah laut
betapa debur ombak ini kumpulan pengecut!”

Mando tantang gelegak ombak
perahu motor dan badai saling tabrak
Dan Mando tahu bakalan menang

4
Semburat merah menyembul
di atas ukiran selaput mendung
pada horison pagi

Hiu, bocahnya Mando, nunggui bapaknya
masih berkuda dan lantas meloncat
begitu rupa. Begitu terpana.
“Oleh sebab apa kamu tegun di pantai?”

Ke ufuk timur telunjuk menuding
Dengan bapaknya Hiu ingin berunding:
“Dapatkah kulihat pagi dari lautan?
Dapatkah kusimak pantaiku
di tengah desah ombak kecipak sampan?”

Dan Perahu sampan menjauh
Hiu memutar kepala, berkata:
“Aku tak ingin cepat berlabuh
Betapa indah pagi. Merahnya tembaga.
Andaikan ibu tak cepat mati, Bapak.”

Selarik rindu merongrong dada
Adalah kelabu yang tebal
Kata Mando: “Kini tlah kaukenal
desah ombak, kecipak sampan
dan warna pantaimu dari kejauhan.”

Tapi Hiu belum lelah
“Betapa indah bapak, betapa indah.
Jangan dulu memutar arah!”

5
Gelak tawa dalam warung
O, malam dingin!
O, malam buih pantai!
Leleh busa bir ‘kan segera usai.

Koman datang seorang saja
“Kalian perompak jangan mengelak!”
Bukan. Bukan gertak belaka
Senjata siap dipicu
Ia tak mungkin keliru
ke arah mana peluru memburu

Perompak gendut maju. Lalu tersungkur
Yang lainnya mundur siap kabur
Tapi Mando bukan pengecut
Mendepak meja warung ia bangkit
Seorang kawan tak boleh sakit
di depannya. Apalagi mati.

O, para rompak dan pencoleng
Lihatlah Mando serupa celeng
songsong Koman tanpa tedeng!

Bulan memukul mendung
tapi langit tetap legam
Lelaki bopeng keluar warung
mendedah kelam berteriak geram:

“Koman! Koman! Koman!
terjangkan pelurumu ke dadaku!”

Maka malam menderas genting
bukan sebab dawai berdenting
tapi timah berdesing

“Koman! Koman! Koman!
terjangkan pelurumu ke dadaku!”

Maka malam berkeriap kering
bukan sebab alunan suling
tapi pekik lolong melengking

“Wahai, Perompak! Penjara menolakmu
nerakalah kemana dirimu menuju!”
Koman menatap larian bocah
yang tersedu dan bersimpuh
dan menutup pancar darah
pada dada milik sang bapak.

“Bukannya kamu membunuh perompak.
Kamu membunuh seorang bapak!”
Suara Hiu pelan datar
tapi alam turut bergetar

O, Koman! Tunggulah saja sebentar
hingga saat Hiu tak ada gentar!

Balada pak Bejo
Pak bejo membentak bininya
“hari ini sepi!
Mbok bejo tak mau kalah:
“anak-anak minta baju seragam!
Pak bejo juga:
“aku sudah keliling kota
aku sudah kerja keras
tapi kalah dengan bis kota
hari ini aku cuma dapat uang setoran
mbok bejo tak mau mendengar
mbok bejo tetap marah
mbok bejo terus ngomel!
Pak bejo kesal
nyaut sarung kabur ke warung
nenggak ciu-berkonang
minum segelas
lalu sehelas lagi
kemudian hanyut bersama gending sarung jagung
bersama pak Kromo
bersama pak Wiryo
bersama pak Kerto
njoget tertawa mabuk
benak yang sumpeg dikibaskan
lepas bebas
lupa anak lupa hutang
lupa sewa rumah
lupa bayaran sekolah
lepas bebas
lenggak-lenggok gumpalan awan
bersama bintang-bintang
ketika bulan miring
Pak bejo mendengkur didepan pintu
sampai terang pagi
lalu istrinya melotot lagi
Solo, Juli 88

Tidak ada komentar: