Wednesday, 2 March 2011

PUISI-PUISI ISLAMI

M. Raudah Jambak

BISMILLAH

bismillahirrohmanirrohiim
demikian kumulakan segala permulaan

sesungguhnya segala perbuatan
dimulai dengan niat

bismillahirrohmanirrrohiim
mulailah dengan langkah kanan
bismillahirrohmanirrohiim
mulailah dengan tangan kanan
bismillahirrohmanirrohiim
perkuatlah dengan husnuzon
bismillahirrohmanirrahiim
enyahkanlah segala suuzon

bismillah adalah ucapan yakin melangkah
hapus segala hujjah, hapus segala resah
anak yang mengerahkan segala pada ibu
pertiwi yang selalu gelisah
lantas, alhamdulillahirobbil'alamiin,
pertanda syukur sepanjang umur
demikianlah, sejak lahirnya anak manusia
polos dan tanpa ikatan, tak ada sepotongpun
yang terbawa dibawah nisan
lantas, mengaca pada masa lalu perlu
tetapi bertindak untuk lebih maju, justru fardhu
dari tanah akan kembali ke tanah
dari air akan kembali ke air
dari angin akan kembali ke angin
innalillahi wa innailaihi roji'un
untuk apa lagi kita saling berbantah
niat ikhlash atas ridho dan rahmat
itu pencapaian memperoleh syafa'at

mari yakinkan langkah dengan bismillah
tanamkan segala pujian hanya pada Allah
semoga segala niat memperoleh rahmah

medan-2004/2005

SERATUS UNTAI BUJI TASBIH

Telah kurangkai seratus untai biji tasbih
Mengurai asmamu dalam amalan dalam ilahi
Anta maksudi waridhoka matlubi

Telah kuangkai seratus untai biji tasbih
Telah kurangkai tapi gejolak jiwa ini
Tak mampu jua menampung tumpahan kerinduan
Yang membanjir air mata
Padahal telah kuarungi keluasan laut semestamu
Padahal telah kukayuh sampan sajadahku
Menuju rahmatmu

Telah kurangkai seratus untai biji tasbih
Telah kurangkai
Bersama takbir
Bersama zikir
Bersama air
Bersama semilir
Bersama musafir
Bersama fakir
Bersama ALLAH.........


Lelaki yang Berdiri Itu

Lelaki yang berdiri
Antara rumah dan mimbarnya
Pada taman di antara
taman-taman di surga
berdiri atas gundukan tanah
bersandar pada sebatang
pohon kurma yang menangis
menyaksikannya naik
atas mimbar dari kayu
laksana unta yang menangis
kehilangan anak
lalu lelaki itu memeluknya
dan berkata
"Mana yang kau pilih
hidup subur dan rimbun
atau menjadi pohonan surga?"
lelaki itu lalu menguburnya
di bawah mimbar empat tingkat
yang kemudian menjadi puing
di peti mati
hanya tercium aroma wewangi
lelaki yang berdiri
antara rumah dan mimbarnya
pada taman di antara
taman-taman di surga
pada hari berbangkit, berdiri
pertama kali, lalu diteruskan
sahabat, imam dan wali
setelahnya yang mendapat
syafaat dan rahmat Ilahi

medan,11-12-04

PUISI M. RAUDAH JAMBAK

SAJADAH BATU

Pada sajadah batu menempel lukisan dahiku
Dengan zikir beribu waktu
Rabbi,
Telah meretas air mataku satu satu
Namun rindu begitu kelu

Pada sajadah batu kuukir ayat ayat cinta
Dari waktu ke waktu

2007-09-15

SAJADAH KAYU

Walau rayap rayap mengerat gigil tulang
Sujudku pada-Mu
Tapi takkan pernah lapuk sajadah kayu
Yang menjelma perahu
Mengarungi lautan do’a-do’a menuju
Dermaga rindu
Ah, akukah itu
Si penebang kayu yang dahaga
Akan embun rahmat-Mu

2007-09-15

SAJADAH API

Ibrahimlah itu yang dikuyupi api api rindu
Menganyam tembikar murka
Abrahah si pengumpul kayu
“Patung besar itulah yang memenggal leher
Tuhan-tuhan mu,” ujarnya berseru

Amuk Abrahah menyulut deru
Dan Ibrahimlah itu yang meng-Imami
Sujud pada sajadah api membiru

07

SAJADAH TANAH

Sunan Kalijaga membentangkan sajadah
Tanah membasah, menggetarkan dada Syekh Siti Jenar
“Telah menyatu aku dengan Tuhanku!”
Mengutil rimah-rimah amarahnya
yang berdarah darah

O, siapakah yang memautkan
Zikir cacing pada bebal leher terpenggal
Di bujur sujud yang tersungkur?

07

SAJADAH AIR

Digelembung zikir sajadah air, Musa
Menjambangi Khaidir sebelum menyeberangi
Laut senja, lalu kata-kata dipecah dalam
Bilah bilah
Dan perahu itu
Dan anak itu
Dan rumah itu
Pada sujud air sajadahpun air
Mengalir, membulir

07

SAJADAH UDARA

Menapaki Haram menuju Aqsa adalah
Hijaiyah bagi hati yang resah
Lalu, memebentanglah sajadah
Pada sujud udara menjemput cinta-Nya

Telah ku salatkan dunia merantai jahiliyah
Yang tak sudah sudah
Ya, Rabbi

07

Iqra’

:bacalah dengan nama Tuhan-mu yang menciptakan

Pada masa yang penuh benalu seluas tanpa batas
Allah,izinkan aku untuk tetap bernaung dalam asma-Mu
Setegar zikir rerumputan menyulam suara azan
Yang bergema di lingkaran semesta tak terhingga
Sebab dalam ketenangan yang mengambang
Dingin terasa meluluhlantakkan
Sebab dalam keheningan yang mengawang
Bisu begitu membekukan
Sebab dalam kehampaan yang menerawang
Api berkobar-kobar menghanguskan
Aku telah mengunyah-kunyah
Segala tipu daya yang meledakkan kebenaran
Dalam kesumat dan tak jelas batasnya
Dalam sujud aku arungi lautan taubat
Naungi dan peluk kami pada kehangatan
Illahi anta maksudi
Wa ridhoka matlubi
Tuhanku,
Pada masa yang berwarna abu-abu membekas
Di kanvas jiwa, perhelatan telahpun dikunjungi
Deraian air-mata yang mencekik nurani,
Menulikan telinga dari lantunan ayat-ayat cinta-Mu
Tentang sepotong pesawat bagai burung-burung yang
Menggapai-gapai makrifat di bandara surga-MU
Tentang sebongkah kapal, bagai lumba-lumba yang
Menelusuri maqom di pulau penuh sungai susu
Tentang sekeping kereta-api, bagai kura-kura yang
Bermunajat sepanjang stasiun hati ber-aura biru
Atau tentang muntahan, debaran, deburan, dan
Zikir dari perut-perut bumi
Bukan tak tersulam niat membungkus
Bongkahan syahwat dan karang muslihat
Membesar-memadat, membesar-memadat
Dalam sujud panjang tak berkesudahan
Naungi dan peluk kami pada kehangatan
Illahi anta maksudi wa ridhoka matlubi
Amboi,
Pada masa yang penuh belatung, virus
Dan kuman-kuman ini ajarilah kami meneguk
Setetes demi setetes embun keikhlasan dari
Segelas derai air-mata kami, derai air-mata
Kecintaan sepenuh nurani
Jangan lenakan kami dalam kebatilan
Yang membutakan
Jangan mabukkan kami dengan khamar
Yang meluluh-lantakkan
Jangan hilangkan segala kesadaran
Yang melenyapkan-tanpa bekas
Selalu kukayuh sampan sajadah
Mengarungi lautan penuh ombak,
Penuh onak, menghindari bongkahan
Karang-karang keangkuhan yang teramat tajam
Dalam sujud yang beringsut-ingsut
Naungi dan peluk kami pada kehangatan
Illahi anta maksudi wa ridhoka matlubi
Maka,
Setelah kubaca masa-masa penuh benalu
Berwarna abu-abu yang penuh belatung,
Virus dan kuman-kuman, dengan nama-Mu
Yang menciptakan: naungilah dan peluk kami
Dari teror kemaksiatan, serta persekutuan kesesatan
Agar tetap taffakur dalam syukur, dalam membaca
Rasa cinta sesama

Kutubul amin, 22 Januari 2007

PADA RUKUK AKU TERBUNGKUK PADA SUJUD AKU MAUJUD
Oleh : M.Raudah Jambak

Malam ini, sajadah telah dialiri sungai air mata, do’a-do’a
Berembun diujung lidah yang jatuh dari daun-daun tasbih
Sementara angin khusuk memeluk degap rindu yang hampir
Membeku. Entahlah, rapal kaji tak juga sampai ke hati atau
Cinta yang bertuba di jelaga

Pada setiap baris ayat, kabar pun telah disampaikan. Jiwa yang
Kosong hanyalah gudang tua yang kehilangan cahaya dan tempat
Bersemayamnya para pendosa. Tetapi butir-butir wudhu’ yang bergulir
Adalah kerjap cahaya yang siap berpijar pada taman yang telah lama
Tak bertuan

Dan malam ini, gelap hanya mengantar subuh yang selalu membasuh
Dahaga para pemburu nasuha, yang melentikkan setiap jentik zikir
Di setiap iring-iringan takbir. Harap hanya sebatas kerinduan yang
Mengawan, rindu adalah harap yang mengerjap dalam degap, sebab
Pada rukuk aku terbungkuk pada sujud aku maujud

Medan,2007

Kun

Jadilah!
maka jadilah ia
bukan batuknya ternyata
tapi degup jantung yang
mengeras tiba-tiba
dan muntahan dari bibir
yang menggila

Jadilah!
maka jadilah ia
dan do'a yang menjawab
segala

maka,
Kun!

medan,06

Demi Masa

Demi yang menguasai gugur daun daun
adakah hijau bersembunyi pada kerontang
pikiran?
Demi pemilik mata air mengalir
adakah kekeruhan terendap pada danau
hati?
Demi Sang Maha Pencipta manusia
adakah pria dan wanita diharuskan
bebas berbuat suka-suka?

Medan, 2006

LANGKAH – LANGKAH

Suara azan yang mengumandang di batas cakrawala
Adalah asap yang menggumpal – gumpal menjadi
Seonggok awan hitam , di antara
Mendung – mendung
Dan menjadi hujan dalam mataku.
Suara azan yang mengumandang di batas cakrawala
Adalah kemarau yang menyengatkan bisa – bisa
Teriknya dan menusuk jantung – jantung
Hingga berdarah , dan seketika detik – detik
Kematian menyelimuti jiwaku.
Suara azan yang mengumandang di batas cakrawala
Menjadi limbah pada pabrik – pabrik kemaksiatan
Adalah bibit penyakit yang mengatupkan
Segala urat syaraf dan nadi – nadi darahku
Menyumbat mulutku karena tak terbiasa
Melafaskan asma – Mu
Suara azan itu adalah
Langkah – langkah kakiku
Yang terseret satu – satu.

Puisi M. Raudah Jambak
AMSAL MUHARRAM

Allah ,
Hari – hari yang tersusun dalam hurup – hurup keabadian
Pada langit , pada bumi , pada bintang ,
Pada tanah kelahiran adalah
Hijaiyah pergantian musim ke musim
Bermula dari Adam yang mempersunting Hawa
Dalam surga
Lalu , lahirlah pasangan Kabil , lahirlah pasangan Habil
Dalam belantara dunia
Allah ,
Seperti hiasan langit yang gemerlapan
Menjadi cahaya alam semesta jiwa
Adalah Ibrahim yang mencari Sang Pencipta ,
Lalu menunggu kelahiran Ismail tiba
Yang hampir terbentur dalam usia senja Siti Hajar ,
Istrinya dan Allah kembali menguji ke – Imanan
Dalam qurbannya
Allah ,
Dalam lidah cakrawala yang terikat
Bendera – bendera curiga di antara batu karang nafsu
Dan keserakahan dunia lahirlah putra cahaya
Dari rahim Aminah berbapa Abdullah
Muhammad Rasulullah merobah peta suram dunia jahiliyah

Puisi M. Raudah Jambak
Melepas Do’a Air Mata


Sepeninggal tsunami
Kami rangkai do’a air mata tanpa tabur bunga
--sepanjang ziarah, seluas samudera
tetesnya tercipta
menyantuh lembut pipi para bocah
yang tengah mengundang cakrawala
tetesnya tercipta
melepas saudara – saudara kami
yang tertimpa bencana
tetesnya tercipta
menjelma busur zikir yang melesat,
meretas segala jarak
: dari banda sampai Mandrehe
dari kamala sampai barwalla
dari batin sampai perih mata
sepeninggal tsunami
kami lepas do’a air mata tanpa tabur bunga
kami hembuskan aroma surga – liwa
buat saudara – saudara yang tertipa bencana
-- sepanjang ziarah, seluas samudera


SEHABIS KHATAM HUJAN


Sehabis khatam hujan pada ayat terakhir perjalanan

Debudebu kota telahlama membatu, melafazkan

Gemertak almanak yang melangkah kaku sepanjang

Alif ba ta cinta

Lalu sepenuh daun kering menguning menyesakkan keranda

Luka di bawah deraknya pohon kamboja, dan kita bertanya

Kembali pada cuaca,”adakah kita tuliskan catatan-catatan

Surga?”

Medan,05


Ku Anyam Sebaris Do'a Dengan Hiasan Tahlil Sederhana


Ku anyam sebaris do'a dengan hiasan tahlil sederhana, di awal Ramadhan, pada november luka
bagi saudara-saudara yang tertimpa bencana
dan air mata membersihkan sisa-sisa cinta
yang sempat mengembang di Bukit Lawang
Pada derai air mata, aku rangkai berbagai
aneka bunga do'a, yang sempat mengangkasa
terbang di taman sajadahku bersama untaian
tasbih yang merindu
Ku anyam sebaris do'a dengan hiasan tahlil sederhana bagi saudara-saudara
yang mengeram di antara gelondongan
bersama sungai bukit lawang
dalam sujud panjang yang tak berkesudahan

Medan,03-04

Adalah rahasia dalam rahasia

mustika hati kasih adalah kata yang kau tenun
dan rasa dalam bulan purnama memecah sinar
dan binar angkara di jagad sengketa
adapun tamadun terbelah sudah,
adapun kurun berlelehan darah
dan sukma takberpantai, kekasih
selindang iman terpendam dalam-dalam
desir angin subuh membawa tualang
ke haribaan Ilahi bermakna wujud?
di sini terpampang hakikat langit
dan makrifat menyatu di purnama sabit
sayap musim dalam setaman angin terketar
membawa pusar tak bernama
tataplah cahaya dalam cahaya,
nur muhammad yang utuh, maka takkan kau bawa gaduh
dari musim ke musim, kau tak yakin bahwa
kemilau syahdunya merenggut gosong menungmu
tataplah rahasia dalam rahsia
Allah!

2006

Aliran Cahaya

tahan sengketa untuk sementara
mari kita bagi-bagi cahaya
alirannya sudah sampai pada iman
yang paling kelam
puasakan hati, pikiran dan lisan
dari dendam dan segala kemungkaran
niscaya jiwa terjaga segala satwasangka
terlindung cahaya yang paling benderang
tahan sengketa di bawah puncak
keabadian yang paling hitam
mari kita bagi-bagi cahaya
dari alirannya yang paling tentram
medan,2006

Ramadhan Ya Ramadhan

adalah hati yang lebih abadi
melahirkan cinta sang pencipta cinta
aduh, betapa tubuh begitu ringkih
jiwa usang berjuta melahirkan letih
ramadhan ya ramadhan
kemana resah do'a hendak ditumpah
selain di selembar sajadah basah?
kemana zikir terus digilir
selain pada biji tasbih yang berlebih?
kemana takbir diteriakkan dalam sir
selain tenggelam dalam derai tangis fakir?
adalah hati yang lebih abadi
melahirkan nur muhammad yang abadi
pada resah do'a di sajadah basah
pada gilir zikir pada biji tasbih berlebih
pada teriak takbir fakir-fakir
medan,2006

Suatu Hari Aku Bertemu Dengan Diri Sendiri

suatu hari aku bertemu dengan diriku sendiri, terpaku di atas sajadah basah. Tafakur menabur resah pada Allah tak ada sepotong kata gairah tak ada seiris kata bahagia tak ada setitik warna cahaya suatu hari aku bertemu dengan diri sendiri, betapa anehnya raudah di atas sajadah. Tafakur seperti orang-orang yang tergusur tak ada sepotong pun kata makmur tak ada seulas ceria tak ada sebutir apa-apa suatu hari aku bertemu dengan diri sendiri, rasa malu tak terbendung lagi. Tak terbendung lagi Subhanallah!
Medan, 06

REQUIEM KEBANGKITAN

Ruh saudara-saudara kami
ruhnya Muhajirin
yang hijrah
singgah
di negeri Anshor
Robbi,
betapa luka begitu menyayat
sepanjang hayat
seperti rintihan seudati
memapah saman
dari zaman ke zaman
seperti erangan hombo
melompati batu
dari waktu ke waktu
Saudaraku,
jangan pandangi cemas
yang menganga di tepi cadas
yang menguap di udara
yang hanyut di antara lumut
sebab,
akan kau temukan gairah keabadian
di pusaran warna-warna
maut hanyalah selimut
yang mendekap hangat
para Muhajirin
yang hijrah ke negeri angin
menggilir zikir
sepanjang takbir
Ruh saudara-saudara kami
ruhnya Muhajirin
yang meminjam jubah tsunami
menuju negeri tabi'-tabi'in
di antara nadi luka
di antara syair yang merintih
di antara erangan tertahan
Robbi,
betapa luka begitu menyayat
sepanajang hayat, tapi
bangkitkan semangat jiwa
saudara kami
agar terus melukis pelangi
pada kanvas hati
bersama
'Illahi anta maksudi
wa rdhoka matlubi...

medan , 2005

PERAHUKU BERDERAK DI HAMPARAN DO’A YANG TAK BERTEPIAN

perahuku berderak diketuk-ketuk riak,
diombang-ambingkan ombak, entahlah
kukembangkan jua layar do’a dalam elusan angin
yang menggebu

kukutip butir-butir embun dari daun-daun senja
udara terasa semakin menua pada keriput
awan kelam yang diam, lalu bersama rintik langit
yang menitik anginpun berhenti sejenak di tepian
pantai yang pasang menyambut malam, perahuku
masih berderak di ketuk-ketuk riak

ah, betapa harap ini memeras air mata, jatuh
di ribuan buih laut yang mengeram, perahuku
masih diombang-ambingkan ombak

pada ini
lukisan pantai semakin landai di rimbunan
pasir yang berambut sarat beban pada kanvas
gelombang petang dan biru yang tentram,
biru yang berpaham di hamparan do’a yang
tak bertepian

malam mengetuk-ketuk pintu dan jendela pada
ruang yang lengang, angin melahirkan sunyi
dari lorong-lorong tak bernama
rahimmnya berderak menerjang celah jendela kaca

purnama nyalang mata di rerimbunan pohon mangga
cahayanya menembus segala lara di malam siaga, mengenang
siang tak lama berpulang. angin masih menimang-timang
sunyi dalam gendongan bermotif bunga-bunga

ah, waktu hanya menghitung-hitung rindu di kalender cuaca
lalu satu persatu tanggal usia, angin pun semakin tua pada
pertumbuhan sunyi yang beranjak dewasa sepanjang perjalanan
do’a-do’a

medan, 2007

DAN SEGALA CINTA PUN MELEPASMU

Dan bertasbihlah burungburung bersama maut
yang menjemputmu menuju dunia keabadian

dan berzikirlah hamparan rerumputan bersama
sederet lukaluka ditubuhnya pada rebah tubuhmu

dan awanawan ikut taffakur menaungi segala suka
segala duka diiringiringan jenazah putihmu

dan mentiklah hujan disudutsudut mataku mengenang
segala cinta yang pernah berharap akan restumu

Nur Hilmi Daulay
MUHASABAH

Dan bukit-bukit mengecap sunyi pada keheningan terpekat,
Menunggu satu detik yang mengantarkannya pada satu tahun berikutnya

Dan detak jantung yang berjalan menggandeng jarum jam itupun bersaksi,
Pada ingatan yang teracik menjadi catatan kecil terbesar tahun ini.

Tahmidnya menggema menyibak malam,
Saat memorynya menghadiri pesta rakyat, kali ini tanpa darah
Karna Negri ini telah lama lelah, lidahnya tak ingin lagi latah menjilati tinta merah yang berkali-kali tumpah dari jiwa-jiwa penghuninya

Lalu bulu kuduknya berdiri,
Dengan enggan diketuknya memory tragis yang menyaksikan dirinya tertimbun pada puing-puing bangunan dengan airmata menembus lumpur, menyetubuhi air bah.
Dan jantungnya masih berjalan bergandengan dengan jarum jam
walau entah berapa ratus ribu jantung telah diam, bungkam

Ia terpekur,
Menengadahkan kepala menatap lurus menembus jantung cakrawala,
Tapi bulanpun terlihat keruh
dan bibirnya
dan hatinya
dan jiwanya
berpeluk erat pada muhasabah yang nyaris hanyut dalam laut yang gemeretak dengan amarah membirahi

Dan..
helaan nafasnya bertasbih menggaung tembus ke bukit-bukit yang mengecap sunyi pada keheningan terpekat.
Pada satu detik yang berlalu beberapa puluh detik yang lalu, mengantarnya duduk dalam I'tiraf membuka tahun berikutnya

Matanya nanar menatap bulan yang kian keruh-
Dan pemiliknya tak pernah keruh,
Ia luluh04-medan


Hasan Al Banna

BELUM JUGA, NAK
maka selamat jalan, anakku. selamat berjuang
sebab hari ini
kita belum juga merdeka
bukan, bukan belanda yang datang menyerang
tidak, tidak jepang yang kembali menerjang
tapi sanak sendiri yang mengangkang
menghadang
dengan senjata terkokang
tapi jangan takut, anakku. jangan surut
sebab kulahirkan kau
bukan sebagai pengecut
itu terik yang memanggang
itu hujan yang merajang
itu peluru yang mendesing-melintang
adalah buai-sayang yang membawamu pulang
ke rumah atau bahkan ke liang?
lantas jangan menyerah anakku, jangan kalah
sebab sepercik doa
telah kusulut di sumbu darahmu.
Medan, 2003-2004

Sajak Indrian Koto

Lebaran Untuk Seorang Perempuan

lebaran, suatu waktu saat di mana sajadahku
basah oleh sesal dan duka lara
- sungguhkah aku kembali suci sebagaimana matamu
yang bening dan kekanak-kanakkan?
setiap putaran waktu, akan mengembalikan sepenggal kisah
yang sama dan berulang;
dan lebaran.
tapi tidak kisah ini, serupa mimpi –duhai, bagaimana
aku memulai? ia, waktu yang berkelindan itu, suatu kali
mengungkungku dalam birahi –ramadhan, di mana
setan-setan istirah – kami menjelma sepasukan setan lain
yang sama liar, sama kurang ajar –apakah bernama setan?

lebaran saat di mana semua orang merasa suci, tapi aku
sedikit sangsi, adakah yang akan terkelupas
dari kenakalan remaja yang sedikit tolol ini?

pagi itu, adalah sebuah waktu yang kelak
akan kami kutuk. lebaran masih jauh, tapi sukacita
sedang kami rayakan dengan cara
yang paling dasyat. setelahnya, kami purapura melupakan
penyesalan tak begitu saja menyelesaikan
banyak kisah, setelahnya tuhan mengirimkan kami
bingkisan yang muram dan lebaran adakah dosadosa akan ditanggalkan?

dan kau, sepasang matamu yang bening dan kanakkanak
tak cukup menyelamatkanku dalam harubiru
“setiap soal, setiap beban adalah perihal yang
membesarkan.” aku tak cukup kuat menafsir ulang
banyak kisah; lebaran ini, kerinduanku dibalut gunda dan luka.

kau menafsirnafsir lukaku dan aku sedikit
berpurapura menceritakan kerinduan yang dangkal; wajah ibu,
aroma kampung, lemangtapai, ketupat dan irama takbir
tapi, rahasia itu tetaplah terus terjaga
yang barangkali kelak akan kau tau juga, saat di mana
aku tak bisa merangkulmu lagi
- jika kau benarbenar pergi.

“jangan pergi dulu,” kataku di malam itu. “ikutlah bersamaku
kita akan rayakan keriuhan di jalanjalan, di alunalun sampai
kita muak dan muntah dengan sedikit sesal yang tertunda”
ramadhan telah usai, adakah besok, waktu yang lain
akan mempertemukan kita serupa peristiwa ini?
sebab kelak, mungkin kita tidak akan menghabiskan waktu
di jalan ini lagi. barangkali aku akan berada di tempat tersunyi
dan kau sedang menyandarkan kepala di bahu entah siapa
"itu kau," katamu dengan mata yang serupa malam
tapi tidak, kita tak beranjak
kita samasama berdusta, ”tinggallah di rumah,” katamu,
“kita akan makan ketupat dan dari dalam akan kita dengan irama takbir.”
kali ini aku menjadi manusia yang sedikit patuh, setidaknya
untuk sepiring ketupat. dan kita bercerita sesuatu yang cengeng;
tentang rumah masa depan, kata seorang kawan.
jika kata adalah doa sunggukah ia akan ada?
oh, celaka! banyak hal yang begitu rahasia. dan kami
yang tak pernah kuceritakan padamu adalah peristiwa konyol
yang entah akan selesai di mana –katakanlah, bagaimana aku bisa
meninggalkanmu jika bau rambutmu terus mengejarku.

malam itu – setelah pesta kecil itu – kau menghibur
kecengenganku dan aku berdusta padamu tentang
semua kerinduan itu. “aku ditinggalkan banyak waktu,
ditinggalkan banyak kisah.” kataku.
“setiap orang tengah mencipta peristiwa lain
atau menyambung kisah yang lama.”
“dan aku ingin punya persoalan denganmu saja.”
kataku dan kau tertawa
inilah rahasianya: setiap orang, setiap kita punya peristiwa dengan
banyak orang. ini rumit dan ini jauh lebih rumit. dan kami, suatu waktu
-ah, betapa aku menjadi tolol– menjalin peristiwa kecil
yang menyesakkan.

dengarlah, aku tulis puisi ini untukmu
sebagai isyarat keberangkatanku. sebagaimana kau tak datang
di hari pertama lebaran ini. “menziarahi waktu. mengunjungi setiap orang yang
mencatat peristiwa denganku.”katamu.
“dan aku, tidakkah juga perlu sebuah ziarah?’
“ah, kau kan kisah yang lain, koto!” –atau tidak terlalu penting?
“enak aja! untukmu akan ada peristiwa lain yang sedikit berbeda.”
-ah, bukankah selalu berbeda. Serupa apa?
dan aku sakit. lalu rumah redup dari bayangku
masa kanak lindap oleh peristiwa kecil dan tuhan tengah mengucapkan
selamat lebaran padaku. tidakkah kau tahu?
ah, kau tak akan pernah tahu,
- atau adakah tengah menjelma kekasih wahai perempuan
yang kukenal lewat sebait puisi.

dan tuhan kembali mengirimkan kartu pos dan bingkisan;
dosa dan dirimu.
Di antara itu semua akan adakah kita?

poetika, 2006


Bayang-bayang Nabi
(Oleh Kang Jaz)
________________________________________
Ya Rasulullah, apa yang harus dilakukan para pemimpin ?
"Membela yang lemah dan membantu yang miskin" jawab Nabi.

Ya Rasulullah, apa yang harus dilakukan ulama ?
Memberi contoh yang baik dan mendukung pemimpin
YAng membela orang - arang lemah" jawabnya

Ya Rasulullah ... apa yang harus dilakukan orang-orang lemah dan miskin ?
"Bersabarlah, dan tetplah bersabar
Jangan kau lihat pemimpinmu yang suka harta
Jangan kau ikuti ulamamu yang mendekati mereka
Jangan kau temani orang-orang yang menjilat mereka
Jangan kau lepaskan pandanganmu dari para pemimpin dan ulama yang hidupnya juhud dari harta"

Ya RAsulullah... Pemimpin seperti itu sudah tidak ada
Ulama seperti itu sudah menghilang entah kemana
Yang tersisa adalah pemimpin serakah
Yang tertinggal adalah ulama-ulama yang tama'
Banyak rakyat yang mengikuti keserakahan mereka
Ummat banyak yang meneladani ketamakan mereka !
Apa yang harus aku lakukan, Ya... RAsulullah !
Siapa yang harus aku angkat jadi pemimpin ?
Siapa yang harus aku ikuti fatwa-fatwanya ?
Siapa yang harus aku jadikan teman setia ?

"Wahai ummatku...
Tinggalkan mereka semua
Dunia tidak akan bertambah baik sebab mereka
Bertemanlah dengan anak dan istrimu saja
Karena Allah menganjurkan, "Wa 'asiruhunna bil ma'ruf"
Ikutilah fatwa hatimu
Karena hadits mengatakan, "Istafti qalbaka, wa in aftaukan nas waftauka waftauka"
Dan angkatlah dirimu menjadi pemimpin
Bukankah, "Kullulkum Ra'in, ea kullukum masulun 'an ra'iyyatihi ?"

Wajahmu
(Kitab Cinta Rumi)
________________________________________


Mungkin kau berencana pergi,
seperti ruh manusia
tinggalkan dunia membawa hampir semua
kemanisan diri bersamanya

Kau pelanai kudamu

Kau benar-benar harus pergi
Ingat kau punya teman disini yang setia
rumput dan langit

Pernahkah kukecewakan dirimu ?
Mungkin kau tengah marah
Tetapi ingatlah malam-malam
yang penuh percakapan,
karya-karya bagus,
melati-melati kuning di pinggir laut

Krinduan, ujar Jibril
biarlah demikian
Syam-i Tabriz,
Wajahmu adalah apa yang coba diingat-ingat lagi oleh setiap agama

Aku telah mendobrak kedalam kerinduan,
Penuh dengan nestapa yang telah kurasakan sebelumnya
tapi tiada semacam ini

Sang inti penuntun pada cinta
Jiwa membantu sumber ilham

Pegang erat sakit istimewamu ini
Ia juga bisa membawamu pada Tuhan

Tugasku adalah membawa cinta ini
sebagai pelipur untukmereka yang kangen kamu,
untuk pergi kemanapun kaumelangkah
dan menatap lumpur-lumpur
yang terinjak olehmu

muram cahaya mentari,
pucat dingding ini

Cinta menjauh
Cahayanya berubah

Ternyata ku perlu keanggunan
lebih dari yang kupikirkan

Keindahan Fantasi Cinta
(Al Muktashim)
________________________________________

Riuh... ramai... gaduh... dan penuh kegembiraan
Taman hati berwarna warni
Panggung rumah paru-paru berdiri kokoh
Kolam cinta mengalir indah keawan kasih

Badan terasa sejuk...
Segar tak terkirakan
Rumput selaput nadi bergoyang lembut
Di tiup angin cinta sejati

Burung camar jantung menukik pelan
Hinggap di pohon tulang iga putih
Matanya melihat kearah taman hati
Pandangannya terpesona oleh pemandangan cantik

Bidadari cinta dan pangeran kasih sayang
Bersenda gurau diangan yang tinggi
Hati pun gembira...
Jiwa pun lega...

Ya Allah...
Abadikan keadaan ini
Agar menjadi pedoman
Bagi hati yang saling menyatu

Mentari sanubari tersenyum riang
Alam jiwa bergembira ria
Serentak...
Jiwa0jiwa riang berdansa di sekitar taman hati
Oooh...
Indahnya fantasi cinta
Keagungan Ilahi
(Al Muktashim)
________________________________________

Ratu malam sang rembulan
Raja siang sang matahari
Keduanya selalu bertentangan,

Tarik menarik
Dorong mendorong
Saling menguasai,
Seolah selalu bertanding tiada henti

Tiada yang kalah
Tak ada yang menag,
Karena dengan kedua sifat yang bertentangan ini
Seluruh alam semesta bergerak!

Dunia berputar,
Saling mengisi,
Yang satu melengkapi yang lain
Tanpa yang satu
Takkan ada yang lain,

Siang dan malam
Terang dan gelap
BAik dan jahat
Tanpa yang satu,
Apakah yang lain itu akan ada?
Tanpa adanya gelap,
Dapatkah kita mengenal terang?

Inilah sebuah kenyataan
Yang telah dikenhendaki Allah
Tanpa kehendaknya, takkan terjadi apa-apa


Dawai Sang Sufi
(Al Futuhat)
________________________________________
Hidup adalah ibadah
Dalam ayat-Nya Allah berfirman,
Wama kholaqtul jinna wal insa illa liya'bududun
Lama aku tidak percaya dengan ayat ini
Fikirku aku hanya disuruh shalat, puasa dan dzikir
Apalagiketika aku berfikir tentang ayat,
Wa'bud robbaka hatta ya'tiyakal yakin,
Demi Allah, aku tidak sanggup untuk beribadah terus menerus...
Aku bingung
Aku takut
Aku lari dari pendapatku sendiri
Suatu hari aku bertanya kepada guruku
Guruku mengatakan, "Tidak salah pendapatmu, tapi kurang".
Ketahuilah.....
Dalam ayat lain Allah juga berfirman
Wala tansa nasibaka minaddunya
Dan La yukallifullahu nafsan illa wus'aha
Jelas Allah tidak hanya menyuruh kitauntuksholat dan puasa
Allah juga menyuruh kita untukmencari dunia
Bahkan Allah melarang kita untuk membebani diri kita dengan beban yang berat
Sehingga kita tidak mampu memikulnya
Walaupun itu ibadah
Ketauhillah.....
Ibadahitu bukan bentuk lahirnya
Banyak perkara dunia yang berubah menjadi amal dunia karena niat
Banyak perkara yang kadang menurut kita tidak ada nilainya tetapi
Disisi Allah sangat berharga
Engkau makan,minum, tidur, cari nafkah, menikah
Tetapi di niati untuk menguatkan ibadah
Itulah arti Wama kholaqtul jinna wal insa illa liyakbudun
Dan engkau dapat istiqomah sholat, puasa, dzikir
Dengan bantuan makan, minum dan menikah
Itulah artiWa'bud robbaka hatta ya'tiyakal yaqin
Jikaengkau sholat, puasa tetapi tidak makan dan minum
Pasti engkau akan mati
bukankah ini bunuh diri dan jelas tidak ibadah ?
Engkau hanya sholat, puasa dan dzikir tetapi tidak menikah
Sehingga suatu ketika terjerumus zina, apakah arti semua ibadahmu ?
Ingatlah Allah pencipta manusia dengan ukuran dan aturan
Janganlah engkau mempertahankan kebodohanmu
Janganlah engkau hancur hanya karena pemahamanmu yang salah
Dan ingatlah pesan Allah Alladzina yastami'unal qoula
Fayattabi'una ahsanah.....
Orang-orang yang mendengarkan pendapat
Kemudian mengikuti pendapat yang paling bagus
Merekalah yang diberi petunjuk Allah
Dan merekalah orang-orang yang beruntung.....

FIRMANMU
Oleh:Aby Al Kahfie.

Ya ALLAH
Dua FirmanMU Yang Selalu Mengonyak Sobek
Pedih Perih Terasa Luka Dalam Menyayat Hati
Tak Mampu Ku Tahankan Gejolak Tangis
Terisak pilu Rindu AkanMU
Mengingat TuturMU Yang Kian Terabaikan

Satu Pilu Berjuta Resah Akan FIRMANMU

WAHAI SEKALIAN MANUSIA APA YANG MEMBUATMU
BERLAKU DURHAKA PADA TUHANMU

Sentak serontak Bergoncang Hati
Dalam Tangis Meratap Pilu

Satu Tangis Berjuta Pilu Akan QUDSIMU

WAHAI ANAK CUCU ADAM, KEBAIKANKU SELALU TURUN KEPADAMU
NAMUN KEJAHATANMU SELALU NAIK PADAKU

Refleks jiwa Meronta Hati
Memaki Diri Menuai Sedih

YA ALLAH
Nilailah Aku DAlam Dhoifku
Ku Ingin Kau Dalam Kesendirianku
Ku Rindu Kau Dalam Kesepianku
Ku Pilih Kau Di Antara mereka
Mendera Tangis Ketika Kau Abaikan.

YA ALLAH
Tersingkapnya Pelataran SinggasanaMU
Menjadi SAtu Pinta Tempat
Agar Ku Bisa Menyempurnakan SEMBAHKU
Ketika Tabir Mulai Terbuka Dari Segala KekuasaanMU

PINTAKU
YA ALLAH
Jadikan Aku Dalam RahmatMU Ketika KU Butuh
Jadikan Aku Dalam Sepiku Menjadi KawanMU
Jadikan Aku Dalam PETUNJUKMU KETIKA Ku Tersesat
Jadikan Aku Dalam IBADAHKU Menjadi kekasihMU

YA ALLAH
AKU dan PINTAKU
BERSERAH HARAP PADAMU.

Puisi-puisi Karya Pusriza



Sajadah Air Mata /1/

Ketika rusuk tubuh menggigil ngilu
dicambuk brikade pasukan langit
peluh mengucur berbau nanah
pada pori-pori nista
isi kepala semak dengan nafsu dunia
batin ternoda berteriak:
ampun Tuhan
jiwa-jiwa keruh berguling
merayap mengais raung:
kami insyaf Tuhan
lantas jiwa-jiwa keruh dengan sedunya
bersujud pada sajadah air mata
Tembung, September 2007

Sajadah Air Mata /2/

Tuhan, hamba-Mu larut dalam kelam
berjalan mencari penerang
pada sudut-sudut yang gamang
dalam perjalanan
maksiat tertelan menjadi sarapan
entah berapa dusta yang terkunyah
entah berapa nista yang menjadi darah
tapi, Tuhan
aku tetap mencarimu
walau di atas sajadah
menjadi telaga air mata
Bilal, September 2007


Sajadah Air Mata /3/

Pada malam bergelayut alunan
zikir di bibir basah
seorang muallaf yang merindu
buah makrifat
menganyam untaian tasbih
illahi dalam hatinya
dengan linangan air mata atas sajadah
menuju sujudnya.
Sunggal, September 2007

Puisi-puisi Karya Pusriza



Sajadah Air Mata /4/

Maka jatuhlah bulir-bulir
air mata di atas sajadah
pada akhir doa
seorang pemuda yang
memetik buah taubatnya
Medan, September 2007


Sajadah Air Mata /5/

Rizka, tidurlah
bentangkan air mata itu
di atas sajadah
kemarilah sayang
beri kecupan dengan bismillah
biarkan ayat-ayat Tuhan
membasuh tidur kita
berselimut Hamdalah
Medan, September 2007


Sajadah Air Mata /6/

telah kualirkan sungai air mata
pada muara sajadah yang resah
sebab Kau menyapa kami dalam lupa
lalu hadiahkan gempa berbalut gelisah
sebab Kau menegur kami dengan cinta
lalu titipkan bencana yang tak sudah-sudah

telah kualirkan sungai air mata
pada muara sajadah yang resah
tapi, kami hamba yang selalu
mengharapkan rahmat-Mu
tak sudah-sudah
Medan, September 2007




Puisi-puisi Karya Pusriza



Sajadah Air Mata /7/

kemana sajadah air mata kubentangkan
di simpang jalan anak kecil menengadah tangan
kemana sajadah air mata kubentangkan
di bawah lampu merah ibu renta yang
terbungkuk-bungkuk memegang mangkuk
Sunggal, September 2007


Sajadah Air Mata /8/

walau di atas sajadah
hujan air mata
membentuk telaga
walau di atas sajadah
waktu terus menggebuk
remuk
tetapi, Tuhan
di atas sajadah
aku merindu cinta-Mu
merengkuh tubuhku
Sunggal, September 2007


Sajadah Air Mata /9/

Takkan terganti sajadah air mataku
dengan 1000 dinar
walaupun api membakar tubuhku
menggelegar bagai nar
Takkan terganti sajadah air mataku
dengan 1000 dinar
walaupun istana kau bangun
dengan muslihat dunia
yang berbagai rupa
Sunggal, September 2007





Puisi-puisi Karya Pusriza



Sajadah Air Mata /10/

Ibu, diantara doa-doamu
kau menyebut nama anak-anakmu
lalu kau bersujud
diatas sajadah bersama
bulir-bulir air mata
tapi, ibu
biarlah aku mengganti
sujudmu pada sajadah air mataku

Sunggal, September 2007

Tuesday, 18 January 2011

Anugerah Puisi CSH 2010-2011

(CSH Poetry Award 2010-2011)


Anugerah Puisi CSH 2010-2011 mengundang para penyair Indonesia mengirimkan buku kumpulan puisi mereka dalam bahasa Indonesia yang terbit antara 1 Januari 2010 s.d. 31 Desember 2011, untuk diikutkan dalam penilaian buku kumpulan puisi terbaik 2010-2011.


Bertindak sebagai juri untuk Anugerah Puisi CSH 2010-2011 adalah penyair dan redaktur majalah sastra Horison, Cecep Syamsul Hari.


Juri hanya akan menilai buku kumpulan puisi yang dikirimkan melalui pos oleh penyairnya sendiri yang disertai surat pengantar penyair yang bersangkutan yang menyatakan bahwa bukunya dikirim untuk diikutkan dalam penilaian buku kumpulan puisi terbaik 2010-2011 (Anugerah Puisi CSH 2010-2011). Buku kumpulan puisi yang dikirimkan melalui pos bukan oleh penyairnya sendiri serta tidak disertai surat pengantar penyair yang bersangkutan tidak akan diikutkan dalam penilaian.


Beberapa ketentuan Anugerah Puisi CSH 2010-2011:

1. Anugerah Puisi CSH 2010-2011 terbuka untuk seluruh penyair berkewarganegaraan Indonesia yang menulis dalam bahasa Indonesia (baik berdomisili di dalam maupun di luar negeri). Anugerah Puisi CSH 2010-2011 tertutup bagi juri.

2. Anugerah Puisi CSH 2010-2011 hanya berlaku untuk buku kumpulan puisi tunggal yang ditulis dalam bahasa Indonesia, bukan buku antologi puisi maupun buku puisi terjemahan.

3. Para penyair Indonesia dipersilakan mengirimkan melalui pos lebih dari satu judul buku kumpulan puisi untuk diikutkan dalam penilaian buku kumpulan puisi terbaik 2010-2011 (Anugerah Puisi CSH 2010-2011) sepanjang terbit antara 1 Januari 2010 s.d. 31 Desember 2011.

4. Buku kumpulan puisi yang diikutkan dalam penilaian buku kumpulan puisi terbaik 2010-2011 (Anugerah Puisi CSH 2010-2011) diterima paling lambat 1 Februari 2012, dikirimkan melalui pos ke: ANUGERAH PUISI CSH 2010-2011, Jl. Raya Cibabat No. 357, Cimahi 40522, Jawa Barat.

5. Di dalam sampul depan amplop surat atau di dalam surat pengantar keikutsertaan penilaian buku kumpulan puisi terbaik 2010-2011 (Anugerah Puisi CSH 2010-2011) mohon disertakan alamat surat pengirim, email, nomor telefon/HP yang dapat dihubungi.

6. Buku kumpulan puisi yang dinilai juri sebagai buku kumpulan puisi terbaik 2010-2011 dan berhak sebagai pemenang Anugerah Puisi CSH 2010-2011 akan diumumkan pada bulan Mei 2012 melalui website: http://cecepsyamsulhari.webs.com, Facebook, dan media lain. Penilaian dan keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.


Cimahi, Februari 2011

Cecep Syamsul Hari

Tuesday, 11 January 2011

Ragdi F. Daye

Taman Imajinasi Bernama Fiksi



Judul : Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian;

Cerpen Kompas Pilihan 2009

Penyunting : Ninuk M. Pambudy

Penerbit : Kompas, 2010

Tebal : xxxviii + 178 halaman

Peresensi : Ade Efdira







Hari Minggu, adalah hari yang melegakan bagi kalangan yang selama sepekan terkungkung oleh rutinitas. Hari Minggu dapat dimanfaatkan untuk penyegaran, istirahat, atau bercengkrama bersama keluarga. Hari libur itu dapat digunakan untuk bersantai di rumah, pergi wisata ke luar kota, atau bermain ke taman bersama anak-anak. Taman memang meriah di hari Minggu, seperti juga koran, pada hari Minggu, koran tak cuma menghidangkan berita yang kadang menaikkan tingkat stres, tapi juga dihiasai rubrik-rubrik menghibur, seperti aneka feature, hobi dan konsultasi, artikel kesehatan, humor, serta cerpen.

Cerpen, di tengah kompleksitas dunia yang penuh sesak, kehadirannya seperti taman kota di hari Minggu bagi koran harian. Setelah sepekan penuh dengan berita-berita yang berat, cerpen hadir memberi sedikit ruang relaks dengan fiksinya. Memang, kehadiran cerpen menyimpang dari prinsip koran yang memberikan informasi akurat dan faktual. Cerpen bersifat fiktif. Namun, kefiktifan itu menjadi refleksi atas informasi-informasi lugas yang dihantarkan berita. Berita menawarkan fakta untuk memperkaya pengetahuan, sedangkan cerpen atau fiksi menjanjikan pembebasan imajinasi bagi kepuasan jiwa.

Seperti dalam cerpen terbaik buku kumpulan ini, Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian (PSHAIR) yang ditulis oleh seorang arsitek bernama Avianti Armand, imajinasi mendapat ruang kebebasannya. Tema yang diangkat cerpen ini sebenarnya sudah sering muncul dalam berita-berita mengenai kekerasan dalam rumah tangga. Ada perseteruan ayah dan ibu yang mengorbankan kehidupan seorang anak. Di dalam berita telah sering kita temukan seorang istri menggorok suami, seorang suami memancung istri, seorang anak menggergaji ayah, seorang ayah memperkosa anak, atau seorang anak memutilasi ibunya. Berita-berita itu membuat kita bergidik dan mual ingin muntah. Namun dalam cerpen PSHAIR ini, ketika keinginan membunuh dan peristiwa balas dendam bergulat dengan riuh dalam imajinasi, kita mungkin jadi bisa menerima sikap seorang anak yang menancapkan pisau ke dada ayah yang selalu menyiksa ibunya.

Cerita itu hanya fiksi, hanya khayalan, bohong-bohongan. Sama halnya dengan pikiran liar kita yang berkecamuk dalam kepala; menghantamkan porselen ke kepala bos yang selalu mengintimidasi, menyumpalkan sendal ke mulut teman kerja yang suka cari muka, atau meloncat terbang dari jendela bak peterpan ketika mendapat salam mesra dari kekasih. Hanya imajinasi yang tak perlu dibuktikan kebenarannya. Namun, ketika imajinasi itu melintas dan raib tak berbekas, kita merasakan sedikit kelegaan, ada beban yang lepas meninggalkan rasa lapang seperti usai buang air besar.

Cerpen-cerpen—setidaknya beberapa buah—dalam kumpulan ini menawarkan pembebasan semacam itu. Jiwa yang sudah sumpek dibelenggu rutinitas yang bikin mumet, mendapat sedikit intermezo. Cerpen-cerpen itu tentu saja tidak serta merta berhasil mengesampingkan berita yang menyodorkan fakta, karena meskipun cerpen memainkan imajinasi, kenyataannya, fakta-fakta di masa ini begitu dahsyat, tidak terbayangkan, bahkan lebih tidak masuk akal dibanding fiksi paling ganjil. Sehingga ada sejumlah pengarang yang melontarkan pertanyaan bingung, apa lagi yang bisa ditulis cerpenis apabila fakta sudah sebegitu gila?

Kelebatan-kelebatan imajinasi dalam cerpen menjadi pori-pori yang membawa napas segar. Ada letupan kepedihan ibu dan anak dalam rumah yang penuh siksa, ada suami-istri kota besar yang mendapatkan obat kebekuan di kampung pelosok, ada seorang gadis yang menguliti kepala kucing untuk dijadikan hidangan spesial, ada senja berlumur darah di sebuah taman yang romantis, ada seorang istri brahmana yang menyiapkan kamar pengantin untuk suaminya yang dipaksa menikah lagi agar bisa jadi pendeta, dan ada tentang caleg yang membuat ‘ayat keempat’ agar bisa menjual tanah ulayat. Peristiwa-peristiwa unik itu seperti pecahan kemungkinan dalam fakta yang dapat tumbuh subur dalam cerita.

Cerita-cerita itu kemudian menjadi sebuah taman kecil. Kita dapat menghirup hawa getir atau riang ketika duduk di bawah pohon-pohonnya. Kita dapat memandang warna sentimentil atau gundah di langitnya. Kita dapat merasakan tegar pengorbanan, lincah kelicikan, atau sentakan kemarahan yang menari-nari di sana. Kita akan merasa miris, sedih, haru, atau geram. Jiwa kita tersentuh. Taman kecil itu adalah buku ini, kumpulan Cerpen Kompas Pilihan 2009.[]



>> surat kabar Haluan, Minggu 9 Januari 2011

Wednesday, 15 December 2010

Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan 2010


Judul: Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan 2010
Editor: Suyitno Ethexs
Kurator: Chamim Kohari-Saiful Bakri-Umi Salama
Desain cover: warung grafis indonesia
Lukisan cover: Joni Ramlan, Mojosari, Mojokerto
Layout: kang madrim
Cetakan pertama:Oktober 2010
ISBN: 978-602-97907-0-2
Tebal: 829 + xxxviii halaman
Penerbit: Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto Jl. Jayanegara 4 Kabupaten Mojokerto 61361

email : dewankeseniankabmojokerto@gmail.com, Hak cipta ada pada masing-masing penulis
Berikut catatan kurator:

PUISI DI GAPURA CANDI WRINGIN LAWANG

Sebuah Pengantar

“Ia tidak menulis untuk dibaca tetapi untuk didengar; nia tidak menghidangkan teka-teki, tetapi menulis untuk dimengerti” ( A. Teeuw ).

“Pikiran merubah kapas menjadi kain emas dan merubah batu menjadi cermin terang, namun penyair dengan pesona sajak yang dilakukan memerah minuman bermadu dari sengat kehidupan” (Iqbal, Tulip dari Sinai)

”Penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang dungu. Tidakkah kau lihat mereka menenggelamkan diri dalam sembarang lembah hayalan dan kata, dan mereka suka mengujarkan apa yang tak mereka kerjakan kecuali mereka yang beriman, beramal baik, banyak mengingat dan menyebut Allah dan melakukan pembelaan ketika dizalimi”. (Terjemahan QS. Asysyu’araa: 224-227)

Sungguh, kami harus tahu diri, dan kami mencoba meyakinkan bahwa tugas kurator yang hendak diamanatkan kepada kami sebenarnya salah alamat, dan kami menyodorkan beberapa nama yang layak mengemban tugas itu, tetapi ditolak dengan alasan bahwa nama-nama yang dimaksud memang layak, tetapi dianggap tidak “steeril” dari virus-virus “Primodialisme komunitas” yang justru akan menjadi “beban” bagi niat baik diselenggarakannya “Festival Bulan Purnama Majapahit”, memang selama ini jarang ada yang berani menerbitkan antologi puisi atau cerpen di luar “klik”nya.

Tugas kurator itu akhirnya tetap diamanatkan kepada kami yang “wong ndeso” yang dianggap belum terkontaminasi oleh “primordialisme komunitas” dan hirukpikuk sastra di media massa. Terus terang dengan “tergagap-gagap” kami terima amanat itu, dan betul setelah kami baca karya-karya sastra yang telah dikirim, dan kami buka lembaran-lembaran kertas yang menumpuk sekitar 7 rim, yang di dalamnya masih campur antara karya puisi dan karya cerpen, ternyata terdapat banyak nama-nama “beken” yang sudah terkenal di jagad sastra Indonesia, nyali kami menjadi semakin “mungkret”, tetapi dengan kesabaran dan keberanian yang diberani-beranikan, kami terus membenamkan diri dalam kubangan puisi-puisi dan cerpen-cerpen, ternyata semakin dalam kami menyelam semakin asyik.

Membaca puisi dan cerpen yang bertebaran dan yang hendak dikumpulkan dalam Antologi Festival Bulan Purnama Majapahit 2010 ini, sungguh sangat mendebarkan, kami semacam menapaki “Cahaya Tajalli” yang berjajar panjang penuh pesona, kami betul-betul diajak melayari aneka pelangi warna-warni keindahan Nusantara. Dari “puisi terang” sampai “puisi gelap”. Dari penyair yang sudah terkenal seperti Ahmadun Yosi Herfanda, sampai yang baru muncul seperti Mas Hikmatul Azimah yang lulusan setingkat Kejar Paket B, mereka semua berusaha menyuguhkan karya-karyanya yang terbaik, mereka telah “ijtihad” untuk melahirkan karya-karyanya dengan mempertaruhkan seluruh jiwa dan raganya kedalam “bentuk” dan “isi” puisi, tentu dengan caranya sendiri-sendiri. Meski sangat heterogin tetapi belum ada yang ingin “merusak” konvensi bahasa, dan ia juga tidak beranjak lebih jauh, tak ada keinginan dari para penyair itu untuk menyimpang, sebagaimana disinyalir oleh Cassier, yang pada umumnya menimpa para seniman. Mereka para penyair yang mengirimkan karya-karyanya belum ada yang berani menggunakan hak “licentia poetica” nya.

Berbeda dengan Chairil Anwar, atau setidak-tidaknya Sutardji Calzoum Bachri yang berani menentukan dan membuat jalannya sendiri, sehingga ia layak dijadikan pemimpin madzhab perpuisian di Indonesia, meski kami yakin suatu saat kelak akan lahir mujaddid (pembaharu) perpuisian di Indonesia. Kami berharap dari Gapura Wringin Lawang, Festival Bulan Purnama Majapahit 2010 ini mampu membuka pintu cakrawala sastra Indonesia, hingga melahirkan sastrawan-sastrawan terbaik Indonesia, walau pun Budi Darma menyatakan “Angkatan dalam sastra tidak semata-mata ditentukan oleh kekuatan dalam sastra itu sendiri. Suatu angkatan dalam sastra dapat ada, apa bila ada gejolak yang bersambung-gayung dengan dunia pemikiran”

Secara sederhana, menulis puisi itu mudah, apa bila hal itu dilihat dari persoalan teknis yang bisa dipelajari dan dilakukan oleh siapa pun. Menurut Afrizal Malna “apa sulitnya menulis puisi, tetapi menjadi seorang penyair seringkali lahir dari konstruksi kondisi-kondisi tertentu. Penghormatan terhadap puisi dan penyair justru berlangsung dalam ketegangan-ketegangan ini, karena itu tidak semua orang bisa menjadi penyair”.

Antologi Festival Bulan Purnama Majapahit 2010 ini, sengaja memberi ruang kepada siapa pun yang intens menulis karya sastra, sebuah ruang yang sangat luas untuk mereka-mereka yang sudah “tercemar” mau pun yang “terhambat” atau bahkan yang “terlempar” dari mass media, komunitas-komunitas, dan klik-klik sastra tertentu. Dan biarlah karya-karya puisi yang ada dalam Antologi Festival Bulan Purnama Majapahit 2010 ini, hidup bebas berdiri dan berbicara sendiri dengan eksistensi dan esensinya masing-masing. Sebagai kurator kami tidak ingin menghakimi. Para penyair dan puisi-puisinya yang lolos masuk dalam Antologi Festival Bulan Purnama Majapahit 2010 ini, semoga tidak hanya “kebetulan” atau hanya sekedar “numpang beken”, atau sekedar latah biar disebut penyair. Dan kami tidak ingin menggurui, sebab hidup adalah pilihan-pilihan nurani, yang demi kehormatan harus diseriusi, bila tidak, maka cap “pecundang” akan menempel terus dan menjadi bayang-bayang yang dapat menghantui di setiap langkahnya. Penyair romantik John Keats (1795-1821) mengatakan “Sebab utama kegagalan seniman, baik dalam menggarap obyek umum maupun obyek yang sudah dikenal identitas keindahannya adalah karena kurangnya intensitas pada diri senimannya”.

Harga diri dan eksistensi penyair terdapat pada karya dan kecintaannya terhadap apa yang digelutinya, tetapi kata D. Zawai Imron “Banyak penyair yang pada akhirnya tidak setia dengan kepenyairannya. Semula menggebu-gebu menulis puisi namun dengan mudahnya meninggalkan puisi begitu saja”

Dari Gapura Candi Wringin Lawang Trowulan Mojokerto, kami dan masyarakat sastra menggantungkan harapan, semoga Antologi Cerpen Festifal Bulan Purnama Majapahit 2010 ini, mampu membuka pintu cakrawala sastra Indonesia, meskipun kami sadar bahwa hal itu seperti mimpi, tidak mudah dan memerlukan kerja besar dari semua pihak.

Akhirnya, dari 1.524 judul puisi yang dikirimkan oleh 310 penyair, hanya 620 judul puisi yang dinyatakan lolos dan dapat ditampilkan di Antologi Puisi Festifal Bulan Purnama Majapahit tahun 2010 ini, dan selebihnya yang 1.214 judul puisi dinyatakan tidak lolos, bukan karena tidak baik, tetapi hanya persoalan keterbatasan tempat saja.

Dengan ketulusan dan kerendahan hati, kami mohon maaf atas keterbatasan kami, kami yakin tiada gading yang tak retak, karena itu tegur sapa dan sumbang saran dari semua pihak sangat diharapkan.

Sekian. Semoga bermanfaat.

Mojokerto, 20 Oktober 2010

Kurator, (1. Chamim Kohari , 2. Umi Salama, 3. Saiful Bakri)

Ujung Laut Pulau Marwah, Antologi Cerpen Temu Sastrawan Indonesia III

Ujung Laut Pulau Marwah, Antologi Cerpen Temu Sastrawan Indonesia III

"Cerpen-cerpen di dalam buku ini memiliki keragaman ekspresi yang sungguh jamak. Cerpen warna lokal di antaranya masih tampak dijadikan andalan lantaran memang memberi banyak kemungkinan, lihat saja cerpen bermuatan lokal Betawi, Melayu, Timor, Madura dan Minang di sini.

Meski masih belum terlalu jauh dieksplorasi, namun sudah cukup menunjukkan bahwa lokalitas memberi kegairahan penciptaan yang tak kunjung padam. Jika setia digeluti, perangkat semacam ini niscaya akan menjadi pembeda dengan cerpen umumnya. Apa yang mereka lakukan mencerminkan masih ada ruang eksplorasi yang luas bagi penulis Indonesia yang diuntungkan oleh, antara lain, ragam budaya kita yang kaya."

Begitulah tulisan pada bagian atas sampul belakang buku “Ujung Laut Pulau Marwah” yang diambil dari Pengantar Kuratorial, “Sastra Indonesia Mutakhir: Kritik dan Keragaman”.

Buku ini diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang dalam rangkaian sebuah hajatan budaya, “Temu Sastrawan Indonesia III” (TSI III) di Kota Gurindam Negeri Pantun itu, pada 28-31 Oktober lalu—setelah TSI I (Jambi, 2008) dan TSI II (Pangkalpinang, 2009).

Acara yang digelar bertepatan dengan Oktober sebagai bulan bahasa itu dihadiri para sastrawan dari kota-kota besar dan kecil di seluruh Indonesia, yang diundang oleh Pemerintah Kota Tanjungpinang, atas hasil rekomendasi tim kurator TSI III yang beranggotakan Abdul Kadir Ibrahim (Tanjungpinang), Hoesnizar Hood (Tanjungpinang), Joni Ariadinata (Yogyakarta), Mezra E. Polllondou (Kupang), Raudal Tanjung Banua (Yogyakarta), Said Parman (Tanjungpinang), Saut Situmorang (Yogyakarta), Syafaruddin (Tanjungpinang), Tan Lioe Ie (Bali), Triyanto Triwikromo (Semarang), dan Zen Hae (Jakarta).

Tampilnya Tanjungpinang sebagai tuan rumah bukan oleh sebab keberuntungan ataupun “sistem arisan”. Kota kecil nan indah ini dipilih lantaran sejak beratus tahun lalu mewariskan bahasa Melayu sebagai lingua franca (bahasa pengantar), yang dikenal kemudian hingga hari ini sebagai Bahasa Indonesia.

Dari Tanjungpinang pula lahir tokoh bahasa dalam sastra klasik Melayu, Raja Ali Haji (1708-1783), yang karya monumentalnya, “Gurindam Dua Belas” (1847), lalu disusul “Bustan’l Katibin” (1857), dan “Kitab Pengetahuan Bahasa” (1859), telah mengantarkan ia sebagai Bapak Bahasa Indonesia dan oleh Pemerintah RI kemudian dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2004.

Dan jauh sebelum TSI III digelar, tepatnya sejak akhir Juli 2010, Walikota Tanjungpinang, Hj. Suryatati A. Manan, dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, Drs. Abdul Kadir Ibrahim, MT, telah mengirimkan kepada 150 orang sastrawan yang diundang, surat pemberitahuan berisi perihal sisik-melik TSI III disertai himbauan untuk mengirimkan karya puisi atau cerpennya lantaran akan dibukukan setelah melalui proses seleksi tentunya.

Dan hasilnya, ketika acara berlangsung, para peserta yang hadir sudah memegang buku berisi karya-karya itu. Karya mereka sendiri, atau karya rekan sastrawan yang lain.

Adalah Joni Ariadinata, Raudal Tanjung Banua, Said Parman, dan Triyanto Triwikromo, yang menjadi kurator cerpen untuk “Ujung Laut Pulau Marwah”. Merekalah yang menetapkan 33 cerpen karya 33 orang penulis untuk dapat tampil di dalamnya. Karya-karya tersebut disusun di dalam buku berdasarkan abjad nama para penulisnya, yakni:

“Tuan Guru Sulaiman” (Adi Alimin Arwan, Mamuju, Sulawesi Barat), “Kemarau pun Singgah di Kampung Kami” (Agustinus Wahyono, Balikpapan, Kalimantan Timur), “Di Ujung Simpul Rafia” (Andri Medianyah, Tanjungpinang, Kepulauan Riau), “Kabut Kembahang” (Arman AZ, Bandarlampung, Lampung), “Seperti Natnitnole” (Benny Arnas, Lubuklinggau, Sumatera Selatan), “Babad Mejayan” (Beni Setia, Caruban, Madiun, Jawa Timur), “Djali-Djali Bintang Kedjora” (Chairil Gibran Ramadhan, DKI Jakarta).

“Kembalinya Anakku yang Hilang” (Endang Purnama Sari, Tanjungpinang, Kepulauan Riau), “Anggorok dan Anggodot” (Fahrudin Nasrulloh, Jombang, Jawa Timur), “Semburat Petang di Lagoi” (Fakhrunnas MA Jabbar, Pekanbaru, Riau), “Koleksi 932013: Fina Sato” (Fina Sato, Bandung, Jawa Barat), “Kisah si Pemotong Rumput [Seniman Plat Baja]” (Gol A. Gong, Serang, Banten).

“15 Hari Bulan” (Hasan Al Bana, Medan, Sumatera Utara), “Perempuan Petelur” (Igoy el Fitra, Padang, Sumatera Barat), “Setelah Rumah” (Indrian Koto, Yogyakarta, DI Yogyakarta), “Hamsat Mencuri Jambu Klutuk” (Idris Pasaribu, Medan, Sumatra Utara), “Lelaki dengan Kopiah Resam” (Koko P. Bhairawa, Sungailiat, Bangka-Belitung), “Senandung Perih Dendang Saluang” (M. Raudah Jambak, Medan, Sumatera Utara), “Ujung Laut Perahu Kalianget” (Mahwi Air Tawar, Yogyakarta, DI Yogyakarta), “Bai Liang” (Marsel Robot, Kupang, NTT), “Sandal Jepit Yong Dolah” (Maswito, Tanjungpinang, Kepulauan Riau).

“Pacar Elektrik” (Miral Shamsara Ratuloli, Kupang, NTT), “Melawan Rumput” (Mustofa W. Hasyim, Yogyakarta, DI Yogyakarta), “Lingkaran Luka” (Panda MT Siallagan, Pematang Siantar, Sumatera Utara), “Tanam Pinang Tumbuh Gading” (Pion Ratulolly, Kupang, NTT), “Kucing Tua” (Ragdi F. Daye, Padang, Sumatera Barat), “Bentan” (Riawani Elyta, Tanjungpinang, Kepulauan Riau), “Musim Ikan” (Sunlie Thomas Alexander, Belinyu, Bangka-Belitung).

“Aroma Bangkai di Depan Rumah Mantan Penghulu” (Tarmizi rumahhitam, Batam, Kepulauan Riau), “Kecapi Terakhir di Malam Minggu” (Thompson Hs, Pematang Siantar, Sumatera Utara), “Tetangga Baru” (Unizara, Tanjungpinang, Kepulauan Riau), “Malina Dalam Bus Tua” (Yetti A.KA, Padang, Sumatera Barat), dan “Air Mata Lelaki Tua di Barak Pengungsi” (Yoss Gerard Lema, Kupang, NTT).

Dari daftar di atas dapat terlihat bahwa daerah kedatangan masing-masing penulis tidaklah sama jumlahnya: Sulawesi Barat (1), Kalimantan Timur (1), Kepulauan Riau (6), Lampung (1), Sumatera Selatan (1), Jawa Timur (2), DKI Jakarta (1), Riau (1), Jawa Barat (1), Banten (1), Sumatera Barat (3), DI Yogyakarta (3), Sumatera Utara (5), Bangka-Belitung (2), dan NTT (4).

Lepas dari itu, “Ujung Laut Pulau Marwah” terbilang menarik lantaran memuat begitu banyak cerpen bernuansa lokal yang membawa nilai-nilai budaya etnik dari masing-masing sastrawan. Wajah keragaman Nusantara pun tercermin di dalam buku setebal 362 halaman ini. Maka buku ini sedikit-banyak berhasil menyodorkan fakta tentang sisi lain dunia kesusastraan Indonesia masa kini yang ternyata tak selalu dimenangi oleh cerpen-cerpen bernuansa nasional yang tidak kentara setting tempatnya.

Namun sangat disesalkan terjadinya ketidaktelitian dalam hal penggarapan isi, hingga terjadi kesalahan penulisan nama yang sangat fatal pada dua orang sastrawan. “Chairil Gibran Ramadhan” misalnya, pada daftar isi dan halaman dalam ditulis “Chairil Gilang Ramadhan” (penulisan secara benar, “Chairil Gibran Ramadhan”, hanya terjadi pada “kesempatan terakhir”, yang terdapat dalam bagian biodata). Sedangkan “Yoss Gerard Lema” yang pada daftar isi dan halaman dalam ditulis sama, ternyata pada bagian biodata ditulis “Yos Gamalama”.

Mungkinkah saat pengerjaannya nama kedua sastrawan ini mengingatkan penggarapnya pada drummer Gilang Ramadhan dan komedian Dorce Gamalama? Lantas dengan cara apa dan bagaimana orang-orang yang terlibat sebagai panitia dalam TSI III melakukan ralat atas hal ini?

Pada bagian bawah sampul belakang buku “Ujung Laut Pulau Marwah” terdapat kalimat yang diambil dari Pengantar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, Drs. Abdul Kadir Ibrahim, MT selaku Ketua Pelaksana TSI III: Temu Sastrawan Indonesia (TSI) III/2010 yang dilangsungkan di Kota Tanjungpinang, dapat dipandang sebagai upaya menyigi kembali kejayaan sastra Melayu yang pada era Kerajaan Riau pernah meninggi dan memucuk.

Raja Ali Haji adalah salah seorang tokoh, yang berbabit, dengan masa itu, dengan sejumlah karya pemuncak; ilham bagi masa kini. (Catatan CGR: menyigi adalah sisipan atau celah, berbabit adalah ikut serta/terlibat secara langsung atau tidak langsung)

Tuesday, 7 December 2010

Pion Ratulolly

ISYARAT;

Menerawang Senandung Perih Dendang Saluang[1])[2]

Karya M. Raudah Jambak[3] Dengan Lampu Pijar Semiotika



Pengantar



Pada kegiatan Temu Sastrawan Indonesia (TSI) III di Tanjung Pinang tanggal 28-31 Oktober 2010 lalu, seluruh sastrawan di Indonesia yang berniat mengikuti TSI III diprasyaratkan oleh penyelenggara untuk mengirim sebuah naskah puisi atau cerpen. Naskah-naskah ini pada akhirnya sudah dibukukan oleh penyelenggara setelah melewati kurasi tim kurator yang terdiri dari beberapa sastrawan senior (sebenarnya dalam sastra tidak ada senior dan junior namun pengklasifikasian yang saya lakukan ini semata untuk memudahkan pembeda antara sastrawan kurator dan sastrawan peserta TSI III). Naskah-naskah puisi dibukukan dalam Percakapan Lingua Franca: Antologi Puisi sedangkan naskah-naskah cerpen dibukukan dalam Ujung Laut Pulau Marwah: Antologi Cerpen. Semua sastrawan peserta kemudian dibagikan kedua buku ini oleh penyelenggara. Saya pun langsung melahap buku Ujung Laut Pulau Marwah: Antologi Cerpen membuka daftar isi. Cerpen yang pertama saya cari –untuk mengecek kepastian apakah naskah saya diterima atau tidak- tentunya adalah cerpen saya Tanam Pinang Tumbuh Gading. Dan ternyata cerpen saya juga ikut tergenang di atas Ujung Laut Pulau Marwah: Antologi Cerpen. Saya lalu membacanya -tepatnya membaca cepat.

Selepas mengkhatam Tanam Pinang Tumbuh Gading, saya kembali lagi ke daftar isi. Bagian nama sastrawan menjadi ekor mata saya. Dan M. Raudah Jambak adalah sastrawan yang ingin pertama saya baca karyanya, berhubung beliau adalah orang pertama yang saya kenal dalam kegiatan TSI III. Persis, cerpen Senandung Perih Dendang Saluang pun mulai saya lahap. Saya bahkan menghkhatam cerpen ini sampai beberapa kali. Akan tetapi, senandung perih dendang saluang itu terus saja terngiang-terngiang di telingaku. Ada apa gerangan?

Cerpen ini, sebagaimana cerpen lainnya, juga mengandung dua unsur dasar, estetika dan etika[4]. Keduanya hal ini bisa ditemukan dalam struktur atau tubuh cerpen (baik tema, alur, penokohan dan perwatakan, geya penceritaan, dll). Akan tetapi, yang membuat senandung perih dendang saluang itu terus saja terngiang-terngiang di telingaku lantaran saya dikejar beberapa pertanyaan misterius; mengapa judulnya harus Senandung Perih Dendang Saluang? Mengapa perih? Mengapa Saluang? Mengapa kejadiannya saat hujan, kilat guntur, langit muram (maksudnya tak ada cahaya bintang dan bulan). Sederetan pertanyaan-pertanyaan sejenis ini lalu berelindanan liar di kepala saya. Karena itu, demi meminimalisir –tidak bermaksud mengeliminir- senandung perih dendang saluang yang terus mengiang-ngiang di telinga ini dan demi menjinakkan pertanyaan-pertanyan misterius di kepala ini maka saya akan mencoba untuk menerawangnya. Meskipun jujur saya akui bahwa tulisan ini agak jauh dari sifat keilmiahan.



Sekilas Tentang SPDS



Cerpen Senandung Perih Dendang Saluang (SPDS; pen) mengisahkan tentang kepanikan tokoh aku pada suatu malam saat hujan mengguyur rumah[5]nya. Ia khawatir akan terjadinya banjir. Kalau pun tidak banjir maka kebakaran. Kedua bencana ini sering hadir pada saat hujan dalam waktu yang relatif lama dan anehnya acap kali terjadi pada tiap bulan Ramadhan. Kepanikan tokoh aku tidak hanya habis sampai di situ. Ia juga menghawatirkan keberadaan rumah mertuanya yang ditinggal pergi oleh mertuanya ke Pariaman.

Cerita berlanjut, isrti tokoh aku yang sebelumnya sudah terlelap, tiba-tiba meraung-raung. Istrinya mimpi buruk. Mimpi tentang Mamak dan Bapak dari tokoh istri, terkubur dinding rumah Andung di kampung (baca: Pariaman). Dan setelah menenagkan istri, tokoh aku pergi ke rumah mertuanya untuk memastikan tak terjadi apa-apa. Betul saja, di rumah mertuanya tak terjadi apa-apa. Namun sekembali ke rumahnya, tokoh aku mendapati anak-anaknya menangis histeris. Di sisi anak-anak, istrinya tergeletak pingsan. Di tangan istrinya tergenggam subuah HP. Ternyata istri tokoh aku pingsan karena membaca pesan masuk di HP itu. Isi pesan masuknya adalah “Kak, Pariaman gempa. 7,6 SR. Rumah Andung hancur. Mamak….”.

Menariknya dalam beberapa peristiwa yang ada dalam cerpen SPDS selalu dimunculkan mengenai tokoh aku yang beberapa kali mendengar bunyi saluang dan suara sirine. Sejalan dengan itu, tokoh aku juga menyaksikan, awan yang terlihat buram, langit suram, hujan terus menerus mengguyur-menderas, banjir, lumpur, kilat serta guntur. Di samping itu, ada hal lain yang sempat disitir Raudah, yaitu kritik-kritik sosial. Baik terhadap masyarakat maupun pemerintah. Nah, bagi saya, beberapa hal inilah yang akan coba saya terawang. Tujuan dari proses penerawangan ini adalah agar bisa melihat salah satu aura cerpen Senandung Perih Dendang Saluang karya M. Raudah Jambak dalam rupa yang alternatif. Oleh karena itu, saya membutuhkan sebuah lampu pijar yang berkapasitas kuat untuk proses penerawangan. Dan lampu pijar yang saya gunakan adalah Semiotika de Saurse.



Lampu Pijar Semiotika Saurse



Yasraf Amir Piliang dalam bukunya Hipersemiotika mengutip definisi semiotika (semiotics) oleh Ferdinand de Saussure “bahwa semiotika adalah ilmu yang mengkaji tentang tanda sebagai bagian dalam kehidupan sosial”. Dengan kata lain, Saussure berpendapat bahwa semiotika sangat menyandarkan dirinya pada aturan main (rule) atau kode sosial (social rule) yang berlaku di dalam masyarakat, sehingga tanda dapat dipahami maknanya secara kolektif. (Piliang, 2003:256). Senada dengan itu, mengutip pernyataan penulis Perancis, Michael Butor, bahwa Aart van Zoest (1993) dalam bukunya Semiotika: Tentang Tanda, Cara Kerjanya, dan Apa yang Kita Lakukan Dengannya menyatakan bahwa masalah manusia adalah mencari arti dari yang tidak mempunyai arti. Dia juga menyatakan bahwa semua mempunyai arti, atau tidak satupun mempunyai arti. Titik tolak dari pernyataan ini adalah bahwa manusia mencari arti dalam benda-benda dan gejala-gejala yang mengelilinginya dan bahwa dia, tepat atau tidak tepat, benar atau salah, memberikan arti. Karena manusia mampu, maka ia dapat memberikan arti pada benda-benda dan gejala-gejala.

Dari pandangan ini maka saya akan mencoba mengklasifikasikan pembahasan ini dari dua aspek yang sudah saya garis bawahi di atas yakni, 1) benda-benda, dan 2) gejala-gejala.



1) Benda-benda

a) Saluang.

Benda yang pertama sekali hadir dalam cerpen ini tentu saja saluang lantaran ia nampang dalam judul dan kadar keberadaannya sangat mendukung kisah dalam cerpen SPDS. Berdasarkan makna denotatif, saluang adalah alat musik tiup sejenis seruling tradisional khas Minangkabau, Sumatra Barat. Biasanya dipakai dalam pertunjukan untuk mengiringi lagu-lagu lepas yang diceritakan secara spontan. Unsur spontanitas juga terdapat dalam syair-syair untuk lagu-lagu lepasnya. Sedangkan berdasarkan konotatif saluang ini dapat mewakili suara-suara perih, sedih, duka, dan segala hal yang berkaitan dengan duka cita (bisa pula kematian). Sebagaimana kehadiran saluang dalam cerpen ini yang selalu dikaitkan dengan musibah. Hal ini dapat dilihat pada kutipan cerpen, hal: 158, paragraf 1, sebagai berikut:



…..

LAMA mataku tidak mau terpejam. Dan memang aku tidak mau memejamkannya sedikit pun. Padahal, aku sudah mengantuk berat. Istri dan anak-anakku sudah lama terlelap. Sebelumnya mereka berusaha bercengkrama, sambil berjaga. Betapa tidak. Sudah hampir seminggu daerah tempat tinggal kami diguyur hujan. Awan terlihat buram. Langit terus-menerus muram. Seolah menebar kesedihan yang mendalam. Bukan hanya disebabkan jalan raya yang basah. Atau air yang menggenang sampai ke lutut orang dewasa, di beberapa tempat. Sebilah saluang seolah bersenandung di pikiranku, mengikuti irama rembesan air hujan dari langit-langit rumah kami yang rapuh itulah, yang paling mengganggu.

…..



Dalam paragraf ini diceritakan tentang kesedihan tokoh aku di suatu malam lantaran daerah tempat tinggalnya telah seminggu diguyur hujan. Dan ia merasakan kesedihan akibat itu. Namun anehnya, kesedihan yang lebih mendalam justru di saat tokoh aku mendengar sebilah seluang yang seolah bersenandung di pikirannya. Dapat dipekirakan bahwa ada sebuah berita duka yang dikabarkan atau diisyaratkan melalui bunyi saluang itu. Dan pada akhir cerita diketahui bahwa berita duka itu adalah kecelakaan (kematian? boleh jadi!) Mamak (dan Bapak? boleh jadi!) dari istri tokoh aku, karena rumah Andung (dari istri tokoh aku) hancur akibat gempa Pariaman.



b) Sirine.

Kalau saluang barangkali hanya dikenal di Pulau Sumatera umumnya. Sedangkan sirine hampir dikenal oleh seluruh warga Indonesia –boleh jadi dunia. Suara sirine ini biasanya muncul dari mobil ambulance. Mobil ambulance biasanya diasosiasikan dengan mobil jenazah. Dengan demikian, di saat tokoh aku mendengar suara sirine (meskipun dalam pikiran) maka di saat itulah kabar duka telah disuarakan oleh sirine. Hal ini bisa disandingkan pada kutipan cerpen, hal: 161, paragraf: 9, sebagai berikut:



…..

Mataku terus mengawasi sisi langit-langit yang merembeskan hujan. Aman, pikirku. Tetapi telingaku sayup-sayup mendengar sayup sirine yang melesat di antara deru irama hujan menembus gendang telingaku. Dan aku hanya bisa menelan ludah. Rumah siapa lagi, pikirku kembali.

…..



Tokoh aku mengkhawatirkan kalau-kalau bunyi sirine (yang masuk ke telinganya secara nyata atau melalui pikiran?) ini berasal dari rumah yang terbakar. Ia juga mencemaskan kalau-kalau suara sirine itu berasal dari rumah mertuanya yang kosong ditinggal pergi mertua tokoh aku ke Pariaman.



c) Rumah

Rumah secara makna denotasi adalah tempat tinggal, berteduh dari panas dan hujan, tempat prifasi, tempat segala suka dan duka ditanak di dalamnya, menjadi tempat yang vital dan sangat dibutuhkan setiap orang untuk menjalani segala urusannya di dunia ini. Singkatnya, rumah adalah surga. Maka makna konotasi rumah adalah jantung, nafas, paru-paru, nadi, urat, intinya segala sesuatu yang berkaitan dengan hidup matinya seseorang.

Dalam cerpen ini tokoh aku mengkhawatirkan keberadaan rumah mertuanya yang sedang dalam keadaan kosong, tanpa penghuni. Dan ketika menenangkan istrinya yang mendapatkan mimpi buruk tentang Mamak dan Bapak (dari istri tokoh aku) yang terkubur dinding rumah Andung (dari istri tokoh aku). Naasnya, tokoh aku memahami rumah (yang diisyaratkan oleh bayang wajah mertuanya) secara denotatif. Bukan secara konotatif. Dari salah tafsir ke salah tindak.



2) Gejala-gejala

a) Gejala dari alam

Gejala dari alam yang dimaksud berkaitan dengan peristiwa-peristiwa alam yang mendukung/ mempertegas kualitas cerita. Di antaranya, awan terlihat buram, langit suram, hujan mengucur deras, genangan air, kilat dan guntur. Peristiwa-peristiwa ini biasanya menimbulkan ketidaknyamanan bagi manusia. Ketidaknyamanan ini biasanya menimbulkan kecemasan (mungkin akan terjadi banjir atau kebakaran). Kecemasan inilah terkadang akan mengantarkan orang kepada tindakan-tindakan yang gegabah. Gejala-gejala dari alam seperti ini biasanya menyiratkan tentang kesedihan, kedukaan dan kelaraan. Bahkan menghantarkan orang kepada kepasrahan.



b) Gejala dari manusia

Gejala yang dimaksud seperti mata tidak mau terpejam, cemas, terbawa mimpi buruk, serta dada bergemuruh kencang. Gejala-gejala ini menandakan bahwa ada sesuatu yang akan terjadi. Biasanya berkaitan dengan berita duka. Contoh kasus yang sederhana adalah ketika sesorang mengalami kejadian mata yang tiba-tiba saja berkedip berulang-ulang. Hal ini mengisyaratkan akan adanya kabar buruk yang berkaitan dengan dirinya (kalau bukan dirinya maka orang-orang dekatnya). Dan kejadian-kejadian seperti ini lebih mengarah kepada mitos atau kepercayaan (bukan agama) tradisional.



Kritik Sosial



Dalam cerpen Senandung Perih Dendang Saluang juga ditemukan beberap kritik sosial. Sekali lagi demi kenyamanan telaah, saya terpaksa mengklasifikasikan kritik sosial ini ke dalam dua aspek, yakni 1) Kritik Sosial Terhadap Masyarakat dan 2) Kritik Sosial Terhadap Pemerintah.

1) Kritik Sosial Terhadap Masyarakat.

Kritik ini nampak pada beberapa kejadian yaitu: jalan raya yang basah (tentunya dalam kadar yang banyak), air yang menggenang sampai lutut orang dewasa, banjir, lumpur, kebakaran karena lilin kalau listrik padam dan petasan kalau musim Ramadhan serta gesekan arus pendek kalau liatrik menyala, lari sepeda motor yang kurang awas di saat hujan. Nah, Raudah ingin menyampaikan kritik kepada kita selaku masyarakat (sekaligus pemerintah) agar lebih memperhatikan persoalan di atas. Misalnya akibat dari jalan raya tergenang, air yang tergenang hingga lutut orang, banjir lumpur, dll, maka kebersihan harus dijaga. Buanglah sampah pada tempatnya. Kaitan dengan kebakaran agar kita lebih memperhatikan lagi posisi/ tempat lilin agar di saat tertiup angin tidak menyebabkan benda di sekitar terbakar. Begitu pun petasan yang dibakar oleh anak-anak sebaiknya penggunaannya diawasi oleh orang dewasa.



2) Kritik Sosial Terhadap Pemerintah

Selain kritik sosial terhadap masyarakat di atas juga mengena kepada pemerintah, ada kritik lainnya yang ikut mengena juga kepada pemerintah, yakni: banjir (termasuk kebakaran dan dan bencana di saat musim hujan umumnya) seharusnya mendapat perhatian serius dari pemerintah. Adapun perhatian yang dimaksud adalah kerja nyata dari pemerintah untuk mengatasi masalah banjir. Baik pada masa sebelumnya sebagai bentuk pencegahan (prefentife) atau pun pada masa terjadi (membersihkan selokan/parit yang terendam, memperlancar arus air) maupun pada saat sesudah terjadinya banjir. Dengan demikian maka kehidupan sosial masyarakat dapat berjalan dengan baik adanya sebagaimana yang diharapkan oleh setiap manusia.



Penutup



Dengan beberapa uraian di atas diharapkan mampu menjadi penerawang sederhana untuk memahami cerpen Senandung Perih Dendang Saluang karya M. Raudah Jambak berdasarkan pendekatan semiotik de Saurse. Tulisan ini bukanlah sebuah kebenaran yang pasti karena itu saya memohon kiranya kalau ada hal yang bisa diterawang, silahkan menyarankan. Tulisan ini semata pembacaan saya secara subjektif atas cerpen SPDS. Bagi yang ingin menerawangnya dari aspek yang lain, saya persilahkan. Selamat melanjutkan aktifitas selanjutnya dan selamat membaca isyarat.





Kupang, Malam, November 2010, besoknya hari raya qurban…





Pion Ratulolly; Penulis Novel “atma” Putih Cinta Lamahala Kupang, Peserta Temu Sastrawan Indonesia III di Tanjung Pinang.





[1] Saluang merupakan alat musik tiup yang tumbuh dan berkembang di Minangkabau. Terbuat dari potongan pohon bambu pilihan, berdiameter kira-kira 2-3 cm dengan panjang kurang lebih 90 cm. Bentuknya serupa dengan seruling atau flute, hanya saja pangkal potongan pohon bambu ini tidak ditutup seperti flute atau seruling pada umumnya, alias ujung dan pangkalnya bolong.



[2] Senandung Perih Dendang Saluang adalah salah satu cerpen yang ada dalam buku Ujung Laut Pulau Marwah: Antologi Cerpen Temu Sastrawan Indonesia III (TSI III di Tanjung Pinang, 28-31/10/2010).



[3] Raudah Jambak, sastrawan dari Medan, Sumatera Utara.



[4] Estetika dan Etika merupakan nilai-nilai yang ada dalam Aksiologi (Salah satu cabang ilmu Filsafat Pendidikan). Estetika bermakna nilai keindahan (baik bahasa, gaya cerita, tema, dll) sedangkan nilai etika lebih kepada nilai moral, kebaikan dan kebenaran. Keduanya selalu diperjuangkan oleh setiap penulis.



[5] Bila dilihat dari penamaan tokoh, seperti Mamak maka latar tempat cerpen ini ada di Sumatera, Minang, Medan; sesuai dengan asal sang cerpenis.

Sunday, 14 November 2010

Teater Monolog ‘Matinya Toekang Kritik’

KR, Lephen Purwaraharja : Catatan Budaya

PERISTIWA kematian tragis nan getir. Tukang kritik dan budaya itu wafat terkulai di kursi goyangnya. Ketika itu tahun 3005 pembantunya robot: Bambang Mangkukulkas XI kode mesin PRT 3005 GX telah mendapatkan surat yang ditunggu-tunggu majikannya. Kritikus legendaris mati kutu di kesunyian, kehidupan telah teratur, tertib, damai, humanis dan berbudaya, sepaham utopia Jawa: tata titi tentrem kerta raharja terwujud. Suatu titik nadir peradaban tanpa ada celah dikritik. Begitulah ujung teater monolog Butet Kartaredjasa, Matinya Toekang Kritik (MTK) karya Agus Noor yang dipentaskan di TIM Jakarta, 3 - 5 Februari, TBY 11-12 Februari.

Setelah hampir empat tahun Raja Monolog itu ‘terlena’ dalam hiruk-pikuk ‘industri hiburan’, tampaknya Butet Kertaredjasa (berjuang keras) memperkokoh legitimasinya: aktor monolog yang kritis, cerdas, komedis dan memikat. Kritis terhadap persoalan kontekstual dan aktual. Cerdas mengemas peristiwa teatrikal dengan logika realitas dan formula satir. Efek komedis digerakkan oleh daya kreatifnya yang kadang tak diduga. Ia berusaha tampil terbaik, memikat, nyaris tanpa cacat (perfek). Butet (masih) mampu tampil prima untuk pertunjukan berdurasi 90 menit tersebut. Ia mempersiapkan diri bersama tim kreatifnya secara intensif dan matang. Tak heran tontonannya nyaris tanpa cacat.

MTK mengisahkan kehidupan kritikus RM Suhikayatno. Ia hidup dari zaman mitologi pewayangan sampai tahun 3000-an. Tokoh rekaan itu bermakna sesuai akar kata pada namanya: su (Jawa Kuna: sangat, baik, bagus, cantik, besar); hika (Jawa Kuna = hiku ----> hiku: itu), yatna = (Jawa Kuna = hati-hati, seksama, teliti, ingat-ingat, awas dan waspada. Atau, dari kata hikayat = karya sastra berisi kisahan baik berupa sejarah maupun fiksi untuk membangkitkan patriotisme, dan renungan bersama. Memang, MKT berani mengkritisi berbagai fenomena kebudayaan; dari soal sejarah, politik, ekonomi, sampai sosial budaya. Dari ulah kritikus ini dapat melahirkan satir dan kritik baru dari yang nakal sampai yang konyol.

Agus Noor memilih penguatan pada alur pokok dengan menunggu kedatangan surat dari istana. Penantian tak kunjung usai hingga tahun 3000-an. Realitas menyelinap masuk-keluar dari masa lalu, masa kemarin, dan sesudah masa terkini sehingga fakta peristiwa menjadi ‘analog’ berbisa satir, ironi dan plesetan getir. Dibanding teks monolog yang dimainkan Butet sebelumnya, tampak lebih berbobot pada aspek rangkaian peristiwa, pengaluran, penokohan, karakter tokoh dan kemungkinan perkakas semiotika dalam teater seluruhnya meneguh dalam kebutuhan (unity). Kejutan, surprise berulang kali menyembul yang menjadikan penonton (apresiator) tetap terjaga.

Ketika Butet memerankan Suhikayatno tertidur mendengkur di kursi goyang, lalu muncul Butet sebagai Bambang, dengan karakter kontras menyerupai pembantu zaman kuna: berpeci, bersafari dan bercelana panjang mulai kekecilan. Lain itu, ketika Bambang mengisahkan ndara-nya tahun 2008 pernah ditawari jadi Ketua KPU tetapi tidak mau, sebab tidak melakukan tindakan korupsi berjamaah. Akhirnya Suhikayatno, 2009 dicalonkan sebagai Wakil Presiden berpasangan dengan SBY -- sebuah kecerdikan penulis teks -- menghindar dari fakta dan menghadirkan kejutan baru memenangkan Partai Panji Tengkorak dan Butet Kartaredjasa terpilih menjadi presiden. Kejutan lainnya program utama Presiden Butet bukan menaikkan devisa, tetapi defisit negara dan semacamnya. Mengganti nama jalan militeristik menjadi nama seniman. Ide brilian!

Sayang teks MTK, tokoh Suhikayatno dimatikan hanya karena tidak ada hal dapat dikritik lagi. Formula surprise seyogianya dapat diaplikasikan, misalnya RM Suhikayatno pun, misal, menjadi robot/hasil clonning, atau peristiwa chaos kembali tampak layar audiovisual, meski kritikus itu mati. Jika kritik robotik hidup maka permasalahan sosial politik menjelma lagi (secara visual). Cara alternatif ini mungkin pesan MTK lebih sublimatif.

Secara keseluruhan karakter Semar, Bambang, sosok Suhikayatno, Semar Gadjah Mada oleh Butet berhasil dijiwainya, dan pintar meyakinkan serta menyatukan peran dengan dirinya tanpa jarak. Butet tampak luluh dengan peran-perannya. Apalagi kisah Suhikayatno dan Bam-bang ini sejak awal sangat disukainya.

Panggung mampu memikat sejak awal hingga akhir. Interaksi penonton dan pemusik dengan aktor pun memperkaya pertunjukan monolog sebagai teater. Ini berkat penyutradaraan Whani Darmawan yang cermat dan pandai memilih serta memilah pengadegan. Musik garapan Djaduk Ferianto membingkai dan mengisi pertunjukan MTK cukup pas dan jumbuh. Demikian pula tata artistik (garapan Ong Harry Wahyu) efisien namun multifungsi: background, media tampilan audiovisual, dan setting. Ketiga fungsi itu dapat direspons aktor dan videograf (Jompet) senantiasa berkembang menyempurnakan seluruh visualisasi pertunjukan. Tata cahaya (Clink Sugiharto) dapat mengimbangi kebutuhan videograf, suasana pementasan, dan kebutuhan aktor di panggung.

Monolog MTK itu memang menarik dan unik. Teks membuka refarat berbeda dengan monolog Butet sebelumnya semacam Racun Tembakau, karya Jim Adilimas (1986), Lidah Pingsan, karya Indra Tranggono & Agus Noor (1997), Lidah (Masih) Pingsan, karya Indra T & Agus Noor 1998, Benggol Maling, karya Butet K (1998), Raja Rimba Jadi Pawang, karya Butet K dan Indra Tranggono (1999), Iblis Nganggur, karya Indra Tranggono 1999, Mayat Terhormat, karya Indra Tranggono & Agus Noor (200), Guru Ngambeg, karya Indra Tranggono (2000). Pembeda utama pada: pertama, penulis teks monolog (Agus Norr, saja), prosais memberi peluang bermain total karakter utama bagi aktor lebih menguat saat memerankan Bambang dan Suhikayatno. Kedua, teks menghendaki aspek visualisasi dan videograf menjadi jeda sekaligus magnet pemikat kaya gambar hologram mengisi tanda dan simbolisasi teks. Ketiga, teks membuka ruang pada sutradara dan tim lainnya menafsir lebih leluasa antara ‘teater serius’.... ‘kritik satir’.... dengan ‘komedi kontemplatif’.

Butet kembali meneguhkan dirinya sebagai ‘Aktor Toekang Kritik’ yang tak mati-mati ditelan euphoria Reformasi. Konsep estetika Butet dan timnya (kini) berhasil menyelinap dari bentuk kritik barbar, demonstrasi anarkis, dan kritikus yang ‘mulut’-nya terbeli oleh penguasa dan pengusaha, lalu berbagai meledek diri sendiri, bersama mereka dan bersama-sama agar masa depan peradaban (kita) lebih indah dan dinamis. Tak heran bila penonton terpesona tak beranjak meski isyarat usai pertunjukan telah diisi dengan adegan Robot Bambang menyampaikan surat. Memang, semua peristiwa dan kata menggelinding memikat nikmat/segar/mencerdaskan.

Biarpun dalam kisah MTK tokoh Suhikayatno wafat lunglai oleh faktor eksternal di titik nadir, bukan berarti akhir hikayat. Selama Butet dan tim ‘kenakalan bersama’ tetap solid terjaga, pasti kisah baru, teater monolog lainnya lahir tetap bersengat bagi semua insan yang belum bangun dari ‘mimpi busuk’-nya. q - s

*) Lephen Purwaraharja, Pengkaji teater Jurusan Teater ISI Yogyakarta.