Tuesday, 18 January 2011

Anugerah Puisi CSH 2010-2011

(CSH Poetry Award 2010-2011)


Anugerah Puisi CSH 2010-2011 mengundang para penyair Indonesia mengirimkan buku kumpulan puisi mereka dalam bahasa Indonesia yang terbit antara 1 Januari 2010 s.d. 31 Desember 2011, untuk diikutkan dalam penilaian buku kumpulan puisi terbaik 2010-2011.


Bertindak sebagai juri untuk Anugerah Puisi CSH 2010-2011 adalah penyair dan redaktur majalah sastra Horison, Cecep Syamsul Hari.


Juri hanya akan menilai buku kumpulan puisi yang dikirimkan melalui pos oleh penyairnya sendiri yang disertai surat pengantar penyair yang bersangkutan yang menyatakan bahwa bukunya dikirim untuk diikutkan dalam penilaian buku kumpulan puisi terbaik 2010-2011 (Anugerah Puisi CSH 2010-2011). Buku kumpulan puisi yang dikirimkan melalui pos bukan oleh penyairnya sendiri serta tidak disertai surat pengantar penyair yang bersangkutan tidak akan diikutkan dalam penilaian.


Beberapa ketentuan Anugerah Puisi CSH 2010-2011:

1. Anugerah Puisi CSH 2010-2011 terbuka untuk seluruh penyair berkewarganegaraan Indonesia yang menulis dalam bahasa Indonesia (baik berdomisili di dalam maupun di luar negeri). Anugerah Puisi CSH 2010-2011 tertutup bagi juri.

2. Anugerah Puisi CSH 2010-2011 hanya berlaku untuk buku kumpulan puisi tunggal yang ditulis dalam bahasa Indonesia, bukan buku antologi puisi maupun buku puisi terjemahan.

3. Para penyair Indonesia dipersilakan mengirimkan melalui pos lebih dari satu judul buku kumpulan puisi untuk diikutkan dalam penilaian buku kumpulan puisi terbaik 2010-2011 (Anugerah Puisi CSH 2010-2011) sepanjang terbit antara 1 Januari 2010 s.d. 31 Desember 2011.

4. Buku kumpulan puisi yang diikutkan dalam penilaian buku kumpulan puisi terbaik 2010-2011 (Anugerah Puisi CSH 2010-2011) diterima paling lambat 1 Februari 2012, dikirimkan melalui pos ke: ANUGERAH PUISI CSH 2010-2011, Jl. Raya Cibabat No. 357, Cimahi 40522, Jawa Barat.

5. Di dalam sampul depan amplop surat atau di dalam surat pengantar keikutsertaan penilaian buku kumpulan puisi terbaik 2010-2011 (Anugerah Puisi CSH 2010-2011) mohon disertakan alamat surat pengirim, email, nomor telefon/HP yang dapat dihubungi.

6. Buku kumpulan puisi yang dinilai juri sebagai buku kumpulan puisi terbaik 2010-2011 dan berhak sebagai pemenang Anugerah Puisi CSH 2010-2011 akan diumumkan pada bulan Mei 2012 melalui website: http://cecepsyamsulhari.webs.com, Facebook, dan media lain. Penilaian dan keputusan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.


Cimahi, Februari 2011

Cecep Syamsul Hari

Tuesday, 11 January 2011

Ragdi F. Daye

Taman Imajinasi Bernama Fiksi



Judul : Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian;

Cerpen Kompas Pilihan 2009

Penyunting : Ninuk M. Pambudy

Penerbit : Kompas, 2010

Tebal : xxxviii + 178 halaman

Peresensi : Ade Efdira







Hari Minggu, adalah hari yang melegakan bagi kalangan yang selama sepekan terkungkung oleh rutinitas. Hari Minggu dapat dimanfaatkan untuk penyegaran, istirahat, atau bercengkrama bersama keluarga. Hari libur itu dapat digunakan untuk bersantai di rumah, pergi wisata ke luar kota, atau bermain ke taman bersama anak-anak. Taman memang meriah di hari Minggu, seperti juga koran, pada hari Minggu, koran tak cuma menghidangkan berita yang kadang menaikkan tingkat stres, tapi juga dihiasai rubrik-rubrik menghibur, seperti aneka feature, hobi dan konsultasi, artikel kesehatan, humor, serta cerpen.

Cerpen, di tengah kompleksitas dunia yang penuh sesak, kehadirannya seperti taman kota di hari Minggu bagi koran harian. Setelah sepekan penuh dengan berita-berita yang berat, cerpen hadir memberi sedikit ruang relaks dengan fiksinya. Memang, kehadiran cerpen menyimpang dari prinsip koran yang memberikan informasi akurat dan faktual. Cerpen bersifat fiktif. Namun, kefiktifan itu menjadi refleksi atas informasi-informasi lugas yang dihantarkan berita. Berita menawarkan fakta untuk memperkaya pengetahuan, sedangkan cerpen atau fiksi menjanjikan pembebasan imajinasi bagi kepuasan jiwa.

Seperti dalam cerpen terbaik buku kumpulan ini, Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian (PSHAIR) yang ditulis oleh seorang arsitek bernama Avianti Armand, imajinasi mendapat ruang kebebasannya. Tema yang diangkat cerpen ini sebenarnya sudah sering muncul dalam berita-berita mengenai kekerasan dalam rumah tangga. Ada perseteruan ayah dan ibu yang mengorbankan kehidupan seorang anak. Di dalam berita telah sering kita temukan seorang istri menggorok suami, seorang suami memancung istri, seorang anak menggergaji ayah, seorang ayah memperkosa anak, atau seorang anak memutilasi ibunya. Berita-berita itu membuat kita bergidik dan mual ingin muntah. Namun dalam cerpen PSHAIR ini, ketika keinginan membunuh dan peristiwa balas dendam bergulat dengan riuh dalam imajinasi, kita mungkin jadi bisa menerima sikap seorang anak yang menancapkan pisau ke dada ayah yang selalu menyiksa ibunya.

Cerita itu hanya fiksi, hanya khayalan, bohong-bohongan. Sama halnya dengan pikiran liar kita yang berkecamuk dalam kepala; menghantamkan porselen ke kepala bos yang selalu mengintimidasi, menyumpalkan sendal ke mulut teman kerja yang suka cari muka, atau meloncat terbang dari jendela bak peterpan ketika mendapat salam mesra dari kekasih. Hanya imajinasi yang tak perlu dibuktikan kebenarannya. Namun, ketika imajinasi itu melintas dan raib tak berbekas, kita merasakan sedikit kelegaan, ada beban yang lepas meninggalkan rasa lapang seperti usai buang air besar.

Cerpen-cerpen—setidaknya beberapa buah—dalam kumpulan ini menawarkan pembebasan semacam itu. Jiwa yang sudah sumpek dibelenggu rutinitas yang bikin mumet, mendapat sedikit intermezo. Cerpen-cerpen itu tentu saja tidak serta merta berhasil mengesampingkan berita yang menyodorkan fakta, karena meskipun cerpen memainkan imajinasi, kenyataannya, fakta-fakta di masa ini begitu dahsyat, tidak terbayangkan, bahkan lebih tidak masuk akal dibanding fiksi paling ganjil. Sehingga ada sejumlah pengarang yang melontarkan pertanyaan bingung, apa lagi yang bisa ditulis cerpenis apabila fakta sudah sebegitu gila?

Kelebatan-kelebatan imajinasi dalam cerpen menjadi pori-pori yang membawa napas segar. Ada letupan kepedihan ibu dan anak dalam rumah yang penuh siksa, ada suami-istri kota besar yang mendapatkan obat kebekuan di kampung pelosok, ada seorang gadis yang menguliti kepala kucing untuk dijadikan hidangan spesial, ada senja berlumur darah di sebuah taman yang romantis, ada seorang istri brahmana yang menyiapkan kamar pengantin untuk suaminya yang dipaksa menikah lagi agar bisa jadi pendeta, dan ada tentang caleg yang membuat ‘ayat keempat’ agar bisa menjual tanah ulayat. Peristiwa-peristiwa unik itu seperti pecahan kemungkinan dalam fakta yang dapat tumbuh subur dalam cerita.

Cerita-cerita itu kemudian menjadi sebuah taman kecil. Kita dapat menghirup hawa getir atau riang ketika duduk di bawah pohon-pohonnya. Kita dapat memandang warna sentimentil atau gundah di langitnya. Kita dapat merasakan tegar pengorbanan, lincah kelicikan, atau sentakan kemarahan yang menari-nari di sana. Kita akan merasa miris, sedih, haru, atau geram. Jiwa kita tersentuh. Taman kecil itu adalah buku ini, kumpulan Cerpen Kompas Pilihan 2009.[]



>> surat kabar Haluan, Minggu 9 Januari 2011

Wednesday, 15 December 2010

Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan 2010


Judul: Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan 2010
Editor: Suyitno Ethexs
Kurator: Chamim Kohari-Saiful Bakri-Umi Salama
Desain cover: warung grafis indonesia
Lukisan cover: Joni Ramlan, Mojosari, Mojokerto
Layout: kang madrim
Cetakan pertama:Oktober 2010
ISBN: 978-602-97907-0-2
Tebal: 829 + xxxviii halaman
Penerbit: Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto Jl. Jayanegara 4 Kabupaten Mojokerto 61361

email : dewankeseniankabmojokerto@gmail.com, Hak cipta ada pada masing-masing penulis
Berikut catatan kurator:

PUISI DI GAPURA CANDI WRINGIN LAWANG

Sebuah Pengantar

“Ia tidak menulis untuk dibaca tetapi untuk didengar; nia tidak menghidangkan teka-teki, tetapi menulis untuk dimengerti” ( A. Teeuw ).

“Pikiran merubah kapas menjadi kain emas dan merubah batu menjadi cermin terang, namun penyair dengan pesona sajak yang dilakukan memerah minuman bermadu dari sengat kehidupan” (Iqbal, Tulip dari Sinai)

”Penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang dungu. Tidakkah kau lihat mereka menenggelamkan diri dalam sembarang lembah hayalan dan kata, dan mereka suka mengujarkan apa yang tak mereka kerjakan kecuali mereka yang beriman, beramal baik, banyak mengingat dan menyebut Allah dan melakukan pembelaan ketika dizalimi”. (Terjemahan QS. Asysyu’araa: 224-227)

Sungguh, kami harus tahu diri, dan kami mencoba meyakinkan bahwa tugas kurator yang hendak diamanatkan kepada kami sebenarnya salah alamat, dan kami menyodorkan beberapa nama yang layak mengemban tugas itu, tetapi ditolak dengan alasan bahwa nama-nama yang dimaksud memang layak, tetapi dianggap tidak “steeril” dari virus-virus “Primodialisme komunitas” yang justru akan menjadi “beban” bagi niat baik diselenggarakannya “Festival Bulan Purnama Majapahit”, memang selama ini jarang ada yang berani menerbitkan antologi puisi atau cerpen di luar “klik”nya.

Tugas kurator itu akhirnya tetap diamanatkan kepada kami yang “wong ndeso” yang dianggap belum terkontaminasi oleh “primordialisme komunitas” dan hirukpikuk sastra di media massa. Terus terang dengan “tergagap-gagap” kami terima amanat itu, dan betul setelah kami baca karya-karya sastra yang telah dikirim, dan kami buka lembaran-lembaran kertas yang menumpuk sekitar 7 rim, yang di dalamnya masih campur antara karya puisi dan karya cerpen, ternyata terdapat banyak nama-nama “beken” yang sudah terkenal di jagad sastra Indonesia, nyali kami menjadi semakin “mungkret”, tetapi dengan kesabaran dan keberanian yang diberani-beranikan, kami terus membenamkan diri dalam kubangan puisi-puisi dan cerpen-cerpen, ternyata semakin dalam kami menyelam semakin asyik.

Membaca puisi dan cerpen yang bertebaran dan yang hendak dikumpulkan dalam Antologi Festival Bulan Purnama Majapahit 2010 ini, sungguh sangat mendebarkan, kami semacam menapaki “Cahaya Tajalli” yang berjajar panjang penuh pesona, kami betul-betul diajak melayari aneka pelangi warna-warni keindahan Nusantara. Dari “puisi terang” sampai “puisi gelap”. Dari penyair yang sudah terkenal seperti Ahmadun Yosi Herfanda, sampai yang baru muncul seperti Mas Hikmatul Azimah yang lulusan setingkat Kejar Paket B, mereka semua berusaha menyuguhkan karya-karyanya yang terbaik, mereka telah “ijtihad” untuk melahirkan karya-karyanya dengan mempertaruhkan seluruh jiwa dan raganya kedalam “bentuk” dan “isi” puisi, tentu dengan caranya sendiri-sendiri. Meski sangat heterogin tetapi belum ada yang ingin “merusak” konvensi bahasa, dan ia juga tidak beranjak lebih jauh, tak ada keinginan dari para penyair itu untuk menyimpang, sebagaimana disinyalir oleh Cassier, yang pada umumnya menimpa para seniman. Mereka para penyair yang mengirimkan karya-karyanya belum ada yang berani menggunakan hak “licentia poetica” nya.

Berbeda dengan Chairil Anwar, atau setidak-tidaknya Sutardji Calzoum Bachri yang berani menentukan dan membuat jalannya sendiri, sehingga ia layak dijadikan pemimpin madzhab perpuisian di Indonesia, meski kami yakin suatu saat kelak akan lahir mujaddid (pembaharu) perpuisian di Indonesia. Kami berharap dari Gapura Wringin Lawang, Festival Bulan Purnama Majapahit 2010 ini mampu membuka pintu cakrawala sastra Indonesia, hingga melahirkan sastrawan-sastrawan terbaik Indonesia, walau pun Budi Darma menyatakan “Angkatan dalam sastra tidak semata-mata ditentukan oleh kekuatan dalam sastra itu sendiri. Suatu angkatan dalam sastra dapat ada, apa bila ada gejolak yang bersambung-gayung dengan dunia pemikiran”

Secara sederhana, menulis puisi itu mudah, apa bila hal itu dilihat dari persoalan teknis yang bisa dipelajari dan dilakukan oleh siapa pun. Menurut Afrizal Malna “apa sulitnya menulis puisi, tetapi menjadi seorang penyair seringkali lahir dari konstruksi kondisi-kondisi tertentu. Penghormatan terhadap puisi dan penyair justru berlangsung dalam ketegangan-ketegangan ini, karena itu tidak semua orang bisa menjadi penyair”.

Antologi Festival Bulan Purnama Majapahit 2010 ini, sengaja memberi ruang kepada siapa pun yang intens menulis karya sastra, sebuah ruang yang sangat luas untuk mereka-mereka yang sudah “tercemar” mau pun yang “terhambat” atau bahkan yang “terlempar” dari mass media, komunitas-komunitas, dan klik-klik sastra tertentu. Dan biarlah karya-karya puisi yang ada dalam Antologi Festival Bulan Purnama Majapahit 2010 ini, hidup bebas berdiri dan berbicara sendiri dengan eksistensi dan esensinya masing-masing. Sebagai kurator kami tidak ingin menghakimi. Para penyair dan puisi-puisinya yang lolos masuk dalam Antologi Festival Bulan Purnama Majapahit 2010 ini, semoga tidak hanya “kebetulan” atau hanya sekedar “numpang beken”, atau sekedar latah biar disebut penyair. Dan kami tidak ingin menggurui, sebab hidup adalah pilihan-pilihan nurani, yang demi kehormatan harus diseriusi, bila tidak, maka cap “pecundang” akan menempel terus dan menjadi bayang-bayang yang dapat menghantui di setiap langkahnya. Penyair romantik John Keats (1795-1821) mengatakan “Sebab utama kegagalan seniman, baik dalam menggarap obyek umum maupun obyek yang sudah dikenal identitas keindahannya adalah karena kurangnya intensitas pada diri senimannya”.

Harga diri dan eksistensi penyair terdapat pada karya dan kecintaannya terhadap apa yang digelutinya, tetapi kata D. Zawai Imron “Banyak penyair yang pada akhirnya tidak setia dengan kepenyairannya. Semula menggebu-gebu menulis puisi namun dengan mudahnya meninggalkan puisi begitu saja”

Dari Gapura Candi Wringin Lawang Trowulan Mojokerto, kami dan masyarakat sastra menggantungkan harapan, semoga Antologi Cerpen Festifal Bulan Purnama Majapahit 2010 ini, mampu membuka pintu cakrawala sastra Indonesia, meskipun kami sadar bahwa hal itu seperti mimpi, tidak mudah dan memerlukan kerja besar dari semua pihak.

Akhirnya, dari 1.524 judul puisi yang dikirimkan oleh 310 penyair, hanya 620 judul puisi yang dinyatakan lolos dan dapat ditampilkan di Antologi Puisi Festifal Bulan Purnama Majapahit tahun 2010 ini, dan selebihnya yang 1.214 judul puisi dinyatakan tidak lolos, bukan karena tidak baik, tetapi hanya persoalan keterbatasan tempat saja.

Dengan ketulusan dan kerendahan hati, kami mohon maaf atas keterbatasan kami, kami yakin tiada gading yang tak retak, karena itu tegur sapa dan sumbang saran dari semua pihak sangat diharapkan.

Sekian. Semoga bermanfaat.

Mojokerto, 20 Oktober 2010

Kurator, (1. Chamim Kohari , 2. Umi Salama, 3. Saiful Bakri)

Ujung Laut Pulau Marwah, Antologi Cerpen Temu Sastrawan Indonesia III

Ujung Laut Pulau Marwah, Antologi Cerpen Temu Sastrawan Indonesia III

"Cerpen-cerpen di dalam buku ini memiliki keragaman ekspresi yang sungguh jamak. Cerpen warna lokal di antaranya masih tampak dijadikan andalan lantaran memang memberi banyak kemungkinan, lihat saja cerpen bermuatan lokal Betawi, Melayu, Timor, Madura dan Minang di sini.

Meski masih belum terlalu jauh dieksplorasi, namun sudah cukup menunjukkan bahwa lokalitas memberi kegairahan penciptaan yang tak kunjung padam. Jika setia digeluti, perangkat semacam ini niscaya akan menjadi pembeda dengan cerpen umumnya. Apa yang mereka lakukan mencerminkan masih ada ruang eksplorasi yang luas bagi penulis Indonesia yang diuntungkan oleh, antara lain, ragam budaya kita yang kaya."

Begitulah tulisan pada bagian atas sampul belakang buku “Ujung Laut Pulau Marwah” yang diambil dari Pengantar Kuratorial, “Sastra Indonesia Mutakhir: Kritik dan Keragaman”.

Buku ini diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang dalam rangkaian sebuah hajatan budaya, “Temu Sastrawan Indonesia III” (TSI III) di Kota Gurindam Negeri Pantun itu, pada 28-31 Oktober lalu—setelah TSI I (Jambi, 2008) dan TSI II (Pangkalpinang, 2009).

Acara yang digelar bertepatan dengan Oktober sebagai bulan bahasa itu dihadiri para sastrawan dari kota-kota besar dan kecil di seluruh Indonesia, yang diundang oleh Pemerintah Kota Tanjungpinang, atas hasil rekomendasi tim kurator TSI III yang beranggotakan Abdul Kadir Ibrahim (Tanjungpinang), Hoesnizar Hood (Tanjungpinang), Joni Ariadinata (Yogyakarta), Mezra E. Polllondou (Kupang), Raudal Tanjung Banua (Yogyakarta), Said Parman (Tanjungpinang), Saut Situmorang (Yogyakarta), Syafaruddin (Tanjungpinang), Tan Lioe Ie (Bali), Triyanto Triwikromo (Semarang), dan Zen Hae (Jakarta).

Tampilnya Tanjungpinang sebagai tuan rumah bukan oleh sebab keberuntungan ataupun “sistem arisan”. Kota kecil nan indah ini dipilih lantaran sejak beratus tahun lalu mewariskan bahasa Melayu sebagai lingua franca (bahasa pengantar), yang dikenal kemudian hingga hari ini sebagai Bahasa Indonesia.

Dari Tanjungpinang pula lahir tokoh bahasa dalam sastra klasik Melayu, Raja Ali Haji (1708-1783), yang karya monumentalnya, “Gurindam Dua Belas” (1847), lalu disusul “Bustan’l Katibin” (1857), dan “Kitab Pengetahuan Bahasa” (1859), telah mengantarkan ia sebagai Bapak Bahasa Indonesia dan oleh Pemerintah RI kemudian dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2004.

Dan jauh sebelum TSI III digelar, tepatnya sejak akhir Juli 2010, Walikota Tanjungpinang, Hj. Suryatati A. Manan, dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, Drs. Abdul Kadir Ibrahim, MT, telah mengirimkan kepada 150 orang sastrawan yang diundang, surat pemberitahuan berisi perihal sisik-melik TSI III disertai himbauan untuk mengirimkan karya puisi atau cerpennya lantaran akan dibukukan setelah melalui proses seleksi tentunya.

Dan hasilnya, ketika acara berlangsung, para peserta yang hadir sudah memegang buku berisi karya-karya itu. Karya mereka sendiri, atau karya rekan sastrawan yang lain.

Adalah Joni Ariadinata, Raudal Tanjung Banua, Said Parman, dan Triyanto Triwikromo, yang menjadi kurator cerpen untuk “Ujung Laut Pulau Marwah”. Merekalah yang menetapkan 33 cerpen karya 33 orang penulis untuk dapat tampil di dalamnya. Karya-karya tersebut disusun di dalam buku berdasarkan abjad nama para penulisnya, yakni:

“Tuan Guru Sulaiman” (Adi Alimin Arwan, Mamuju, Sulawesi Barat), “Kemarau pun Singgah di Kampung Kami” (Agustinus Wahyono, Balikpapan, Kalimantan Timur), “Di Ujung Simpul Rafia” (Andri Medianyah, Tanjungpinang, Kepulauan Riau), “Kabut Kembahang” (Arman AZ, Bandarlampung, Lampung), “Seperti Natnitnole” (Benny Arnas, Lubuklinggau, Sumatera Selatan), “Babad Mejayan” (Beni Setia, Caruban, Madiun, Jawa Timur), “Djali-Djali Bintang Kedjora” (Chairil Gibran Ramadhan, DKI Jakarta).

“Kembalinya Anakku yang Hilang” (Endang Purnama Sari, Tanjungpinang, Kepulauan Riau), “Anggorok dan Anggodot” (Fahrudin Nasrulloh, Jombang, Jawa Timur), “Semburat Petang di Lagoi” (Fakhrunnas MA Jabbar, Pekanbaru, Riau), “Koleksi 932013: Fina Sato” (Fina Sato, Bandung, Jawa Barat), “Kisah si Pemotong Rumput [Seniman Plat Baja]” (Gol A. Gong, Serang, Banten).

“15 Hari Bulan” (Hasan Al Bana, Medan, Sumatera Utara), “Perempuan Petelur” (Igoy el Fitra, Padang, Sumatera Barat), “Setelah Rumah” (Indrian Koto, Yogyakarta, DI Yogyakarta), “Hamsat Mencuri Jambu Klutuk” (Idris Pasaribu, Medan, Sumatra Utara), “Lelaki dengan Kopiah Resam” (Koko P. Bhairawa, Sungailiat, Bangka-Belitung), “Senandung Perih Dendang Saluang” (M. Raudah Jambak, Medan, Sumatera Utara), “Ujung Laut Perahu Kalianget” (Mahwi Air Tawar, Yogyakarta, DI Yogyakarta), “Bai Liang” (Marsel Robot, Kupang, NTT), “Sandal Jepit Yong Dolah” (Maswito, Tanjungpinang, Kepulauan Riau).

“Pacar Elektrik” (Miral Shamsara Ratuloli, Kupang, NTT), “Melawan Rumput” (Mustofa W. Hasyim, Yogyakarta, DI Yogyakarta), “Lingkaran Luka” (Panda MT Siallagan, Pematang Siantar, Sumatera Utara), “Tanam Pinang Tumbuh Gading” (Pion Ratulolly, Kupang, NTT), “Kucing Tua” (Ragdi F. Daye, Padang, Sumatera Barat), “Bentan” (Riawani Elyta, Tanjungpinang, Kepulauan Riau), “Musim Ikan” (Sunlie Thomas Alexander, Belinyu, Bangka-Belitung).

“Aroma Bangkai di Depan Rumah Mantan Penghulu” (Tarmizi rumahhitam, Batam, Kepulauan Riau), “Kecapi Terakhir di Malam Minggu” (Thompson Hs, Pematang Siantar, Sumatera Utara), “Tetangga Baru” (Unizara, Tanjungpinang, Kepulauan Riau), “Malina Dalam Bus Tua” (Yetti A.KA, Padang, Sumatera Barat), dan “Air Mata Lelaki Tua di Barak Pengungsi” (Yoss Gerard Lema, Kupang, NTT).

Dari daftar di atas dapat terlihat bahwa daerah kedatangan masing-masing penulis tidaklah sama jumlahnya: Sulawesi Barat (1), Kalimantan Timur (1), Kepulauan Riau (6), Lampung (1), Sumatera Selatan (1), Jawa Timur (2), DKI Jakarta (1), Riau (1), Jawa Barat (1), Banten (1), Sumatera Barat (3), DI Yogyakarta (3), Sumatera Utara (5), Bangka-Belitung (2), dan NTT (4).

Lepas dari itu, “Ujung Laut Pulau Marwah” terbilang menarik lantaran memuat begitu banyak cerpen bernuansa lokal yang membawa nilai-nilai budaya etnik dari masing-masing sastrawan. Wajah keragaman Nusantara pun tercermin di dalam buku setebal 362 halaman ini. Maka buku ini sedikit-banyak berhasil menyodorkan fakta tentang sisi lain dunia kesusastraan Indonesia masa kini yang ternyata tak selalu dimenangi oleh cerpen-cerpen bernuansa nasional yang tidak kentara setting tempatnya.

Namun sangat disesalkan terjadinya ketidaktelitian dalam hal penggarapan isi, hingga terjadi kesalahan penulisan nama yang sangat fatal pada dua orang sastrawan. “Chairil Gibran Ramadhan” misalnya, pada daftar isi dan halaman dalam ditulis “Chairil Gilang Ramadhan” (penulisan secara benar, “Chairil Gibran Ramadhan”, hanya terjadi pada “kesempatan terakhir”, yang terdapat dalam bagian biodata). Sedangkan “Yoss Gerard Lema” yang pada daftar isi dan halaman dalam ditulis sama, ternyata pada bagian biodata ditulis “Yos Gamalama”.

Mungkinkah saat pengerjaannya nama kedua sastrawan ini mengingatkan penggarapnya pada drummer Gilang Ramadhan dan komedian Dorce Gamalama? Lantas dengan cara apa dan bagaimana orang-orang yang terlibat sebagai panitia dalam TSI III melakukan ralat atas hal ini?

Pada bagian bawah sampul belakang buku “Ujung Laut Pulau Marwah” terdapat kalimat yang diambil dari Pengantar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, Drs. Abdul Kadir Ibrahim, MT selaku Ketua Pelaksana TSI III: Temu Sastrawan Indonesia (TSI) III/2010 yang dilangsungkan di Kota Tanjungpinang, dapat dipandang sebagai upaya menyigi kembali kejayaan sastra Melayu yang pada era Kerajaan Riau pernah meninggi dan memucuk.

Raja Ali Haji adalah salah seorang tokoh, yang berbabit, dengan masa itu, dengan sejumlah karya pemuncak; ilham bagi masa kini. (Catatan CGR: menyigi adalah sisipan atau celah, berbabit adalah ikut serta/terlibat secara langsung atau tidak langsung)

Tuesday, 7 December 2010

Pion Ratulolly

ISYARAT;

Menerawang Senandung Perih Dendang Saluang[1])[2]

Karya M. Raudah Jambak[3] Dengan Lampu Pijar Semiotika



Pengantar



Pada kegiatan Temu Sastrawan Indonesia (TSI) III di Tanjung Pinang tanggal 28-31 Oktober 2010 lalu, seluruh sastrawan di Indonesia yang berniat mengikuti TSI III diprasyaratkan oleh penyelenggara untuk mengirim sebuah naskah puisi atau cerpen. Naskah-naskah ini pada akhirnya sudah dibukukan oleh penyelenggara setelah melewati kurasi tim kurator yang terdiri dari beberapa sastrawan senior (sebenarnya dalam sastra tidak ada senior dan junior namun pengklasifikasian yang saya lakukan ini semata untuk memudahkan pembeda antara sastrawan kurator dan sastrawan peserta TSI III). Naskah-naskah puisi dibukukan dalam Percakapan Lingua Franca: Antologi Puisi sedangkan naskah-naskah cerpen dibukukan dalam Ujung Laut Pulau Marwah: Antologi Cerpen. Semua sastrawan peserta kemudian dibagikan kedua buku ini oleh penyelenggara. Saya pun langsung melahap buku Ujung Laut Pulau Marwah: Antologi Cerpen membuka daftar isi. Cerpen yang pertama saya cari –untuk mengecek kepastian apakah naskah saya diterima atau tidak- tentunya adalah cerpen saya Tanam Pinang Tumbuh Gading. Dan ternyata cerpen saya juga ikut tergenang di atas Ujung Laut Pulau Marwah: Antologi Cerpen. Saya lalu membacanya -tepatnya membaca cepat.

Selepas mengkhatam Tanam Pinang Tumbuh Gading, saya kembali lagi ke daftar isi. Bagian nama sastrawan menjadi ekor mata saya. Dan M. Raudah Jambak adalah sastrawan yang ingin pertama saya baca karyanya, berhubung beliau adalah orang pertama yang saya kenal dalam kegiatan TSI III. Persis, cerpen Senandung Perih Dendang Saluang pun mulai saya lahap. Saya bahkan menghkhatam cerpen ini sampai beberapa kali. Akan tetapi, senandung perih dendang saluang itu terus saja terngiang-terngiang di telingaku. Ada apa gerangan?

Cerpen ini, sebagaimana cerpen lainnya, juga mengandung dua unsur dasar, estetika dan etika[4]. Keduanya hal ini bisa ditemukan dalam struktur atau tubuh cerpen (baik tema, alur, penokohan dan perwatakan, geya penceritaan, dll). Akan tetapi, yang membuat senandung perih dendang saluang itu terus saja terngiang-terngiang di telingaku lantaran saya dikejar beberapa pertanyaan misterius; mengapa judulnya harus Senandung Perih Dendang Saluang? Mengapa perih? Mengapa Saluang? Mengapa kejadiannya saat hujan, kilat guntur, langit muram (maksudnya tak ada cahaya bintang dan bulan). Sederetan pertanyaan-pertanyaan sejenis ini lalu berelindanan liar di kepala saya. Karena itu, demi meminimalisir –tidak bermaksud mengeliminir- senandung perih dendang saluang yang terus mengiang-ngiang di telinga ini dan demi menjinakkan pertanyaan-pertanyan misterius di kepala ini maka saya akan mencoba untuk menerawangnya. Meskipun jujur saya akui bahwa tulisan ini agak jauh dari sifat keilmiahan.



Sekilas Tentang SPDS



Cerpen Senandung Perih Dendang Saluang (SPDS; pen) mengisahkan tentang kepanikan tokoh aku pada suatu malam saat hujan mengguyur rumah[5]nya. Ia khawatir akan terjadinya banjir. Kalau pun tidak banjir maka kebakaran. Kedua bencana ini sering hadir pada saat hujan dalam waktu yang relatif lama dan anehnya acap kali terjadi pada tiap bulan Ramadhan. Kepanikan tokoh aku tidak hanya habis sampai di situ. Ia juga menghawatirkan keberadaan rumah mertuanya yang ditinggal pergi oleh mertuanya ke Pariaman.

Cerita berlanjut, isrti tokoh aku yang sebelumnya sudah terlelap, tiba-tiba meraung-raung. Istrinya mimpi buruk. Mimpi tentang Mamak dan Bapak dari tokoh istri, terkubur dinding rumah Andung di kampung (baca: Pariaman). Dan setelah menenagkan istri, tokoh aku pergi ke rumah mertuanya untuk memastikan tak terjadi apa-apa. Betul saja, di rumah mertuanya tak terjadi apa-apa. Namun sekembali ke rumahnya, tokoh aku mendapati anak-anaknya menangis histeris. Di sisi anak-anak, istrinya tergeletak pingsan. Di tangan istrinya tergenggam subuah HP. Ternyata istri tokoh aku pingsan karena membaca pesan masuk di HP itu. Isi pesan masuknya adalah “Kak, Pariaman gempa. 7,6 SR. Rumah Andung hancur. Mamak….”.

Menariknya dalam beberapa peristiwa yang ada dalam cerpen SPDS selalu dimunculkan mengenai tokoh aku yang beberapa kali mendengar bunyi saluang dan suara sirine. Sejalan dengan itu, tokoh aku juga menyaksikan, awan yang terlihat buram, langit suram, hujan terus menerus mengguyur-menderas, banjir, lumpur, kilat serta guntur. Di samping itu, ada hal lain yang sempat disitir Raudah, yaitu kritik-kritik sosial. Baik terhadap masyarakat maupun pemerintah. Nah, bagi saya, beberapa hal inilah yang akan coba saya terawang. Tujuan dari proses penerawangan ini adalah agar bisa melihat salah satu aura cerpen Senandung Perih Dendang Saluang karya M. Raudah Jambak dalam rupa yang alternatif. Oleh karena itu, saya membutuhkan sebuah lampu pijar yang berkapasitas kuat untuk proses penerawangan. Dan lampu pijar yang saya gunakan adalah Semiotika de Saurse.



Lampu Pijar Semiotika Saurse



Yasraf Amir Piliang dalam bukunya Hipersemiotika mengutip definisi semiotika (semiotics) oleh Ferdinand de Saussure “bahwa semiotika adalah ilmu yang mengkaji tentang tanda sebagai bagian dalam kehidupan sosial”. Dengan kata lain, Saussure berpendapat bahwa semiotika sangat menyandarkan dirinya pada aturan main (rule) atau kode sosial (social rule) yang berlaku di dalam masyarakat, sehingga tanda dapat dipahami maknanya secara kolektif. (Piliang, 2003:256). Senada dengan itu, mengutip pernyataan penulis Perancis, Michael Butor, bahwa Aart van Zoest (1993) dalam bukunya Semiotika: Tentang Tanda, Cara Kerjanya, dan Apa yang Kita Lakukan Dengannya menyatakan bahwa masalah manusia adalah mencari arti dari yang tidak mempunyai arti. Dia juga menyatakan bahwa semua mempunyai arti, atau tidak satupun mempunyai arti. Titik tolak dari pernyataan ini adalah bahwa manusia mencari arti dalam benda-benda dan gejala-gejala yang mengelilinginya dan bahwa dia, tepat atau tidak tepat, benar atau salah, memberikan arti. Karena manusia mampu, maka ia dapat memberikan arti pada benda-benda dan gejala-gejala.

Dari pandangan ini maka saya akan mencoba mengklasifikasikan pembahasan ini dari dua aspek yang sudah saya garis bawahi di atas yakni, 1) benda-benda, dan 2) gejala-gejala.



1) Benda-benda

a) Saluang.

Benda yang pertama sekali hadir dalam cerpen ini tentu saja saluang lantaran ia nampang dalam judul dan kadar keberadaannya sangat mendukung kisah dalam cerpen SPDS. Berdasarkan makna denotatif, saluang adalah alat musik tiup sejenis seruling tradisional khas Minangkabau, Sumatra Barat. Biasanya dipakai dalam pertunjukan untuk mengiringi lagu-lagu lepas yang diceritakan secara spontan. Unsur spontanitas juga terdapat dalam syair-syair untuk lagu-lagu lepasnya. Sedangkan berdasarkan konotatif saluang ini dapat mewakili suara-suara perih, sedih, duka, dan segala hal yang berkaitan dengan duka cita (bisa pula kematian). Sebagaimana kehadiran saluang dalam cerpen ini yang selalu dikaitkan dengan musibah. Hal ini dapat dilihat pada kutipan cerpen, hal: 158, paragraf 1, sebagai berikut:



…..

LAMA mataku tidak mau terpejam. Dan memang aku tidak mau memejamkannya sedikit pun. Padahal, aku sudah mengantuk berat. Istri dan anak-anakku sudah lama terlelap. Sebelumnya mereka berusaha bercengkrama, sambil berjaga. Betapa tidak. Sudah hampir seminggu daerah tempat tinggal kami diguyur hujan. Awan terlihat buram. Langit terus-menerus muram. Seolah menebar kesedihan yang mendalam. Bukan hanya disebabkan jalan raya yang basah. Atau air yang menggenang sampai ke lutut orang dewasa, di beberapa tempat. Sebilah saluang seolah bersenandung di pikiranku, mengikuti irama rembesan air hujan dari langit-langit rumah kami yang rapuh itulah, yang paling mengganggu.

…..



Dalam paragraf ini diceritakan tentang kesedihan tokoh aku di suatu malam lantaran daerah tempat tinggalnya telah seminggu diguyur hujan. Dan ia merasakan kesedihan akibat itu. Namun anehnya, kesedihan yang lebih mendalam justru di saat tokoh aku mendengar sebilah seluang yang seolah bersenandung di pikirannya. Dapat dipekirakan bahwa ada sebuah berita duka yang dikabarkan atau diisyaratkan melalui bunyi saluang itu. Dan pada akhir cerita diketahui bahwa berita duka itu adalah kecelakaan (kematian? boleh jadi!) Mamak (dan Bapak? boleh jadi!) dari istri tokoh aku, karena rumah Andung (dari istri tokoh aku) hancur akibat gempa Pariaman.



b) Sirine.

Kalau saluang barangkali hanya dikenal di Pulau Sumatera umumnya. Sedangkan sirine hampir dikenal oleh seluruh warga Indonesia –boleh jadi dunia. Suara sirine ini biasanya muncul dari mobil ambulance. Mobil ambulance biasanya diasosiasikan dengan mobil jenazah. Dengan demikian, di saat tokoh aku mendengar suara sirine (meskipun dalam pikiran) maka di saat itulah kabar duka telah disuarakan oleh sirine. Hal ini bisa disandingkan pada kutipan cerpen, hal: 161, paragraf: 9, sebagai berikut:



…..

Mataku terus mengawasi sisi langit-langit yang merembeskan hujan. Aman, pikirku. Tetapi telingaku sayup-sayup mendengar sayup sirine yang melesat di antara deru irama hujan menembus gendang telingaku. Dan aku hanya bisa menelan ludah. Rumah siapa lagi, pikirku kembali.

…..



Tokoh aku mengkhawatirkan kalau-kalau bunyi sirine (yang masuk ke telinganya secara nyata atau melalui pikiran?) ini berasal dari rumah yang terbakar. Ia juga mencemaskan kalau-kalau suara sirine itu berasal dari rumah mertuanya yang kosong ditinggal pergi mertua tokoh aku ke Pariaman.



c) Rumah

Rumah secara makna denotasi adalah tempat tinggal, berteduh dari panas dan hujan, tempat prifasi, tempat segala suka dan duka ditanak di dalamnya, menjadi tempat yang vital dan sangat dibutuhkan setiap orang untuk menjalani segala urusannya di dunia ini. Singkatnya, rumah adalah surga. Maka makna konotasi rumah adalah jantung, nafas, paru-paru, nadi, urat, intinya segala sesuatu yang berkaitan dengan hidup matinya seseorang.

Dalam cerpen ini tokoh aku mengkhawatirkan keberadaan rumah mertuanya yang sedang dalam keadaan kosong, tanpa penghuni. Dan ketika menenangkan istrinya yang mendapatkan mimpi buruk tentang Mamak dan Bapak (dari istri tokoh aku) yang terkubur dinding rumah Andung (dari istri tokoh aku). Naasnya, tokoh aku memahami rumah (yang diisyaratkan oleh bayang wajah mertuanya) secara denotatif. Bukan secara konotatif. Dari salah tafsir ke salah tindak.



2) Gejala-gejala

a) Gejala dari alam

Gejala dari alam yang dimaksud berkaitan dengan peristiwa-peristiwa alam yang mendukung/ mempertegas kualitas cerita. Di antaranya, awan terlihat buram, langit suram, hujan mengucur deras, genangan air, kilat dan guntur. Peristiwa-peristiwa ini biasanya menimbulkan ketidaknyamanan bagi manusia. Ketidaknyamanan ini biasanya menimbulkan kecemasan (mungkin akan terjadi banjir atau kebakaran). Kecemasan inilah terkadang akan mengantarkan orang kepada tindakan-tindakan yang gegabah. Gejala-gejala dari alam seperti ini biasanya menyiratkan tentang kesedihan, kedukaan dan kelaraan. Bahkan menghantarkan orang kepada kepasrahan.



b) Gejala dari manusia

Gejala yang dimaksud seperti mata tidak mau terpejam, cemas, terbawa mimpi buruk, serta dada bergemuruh kencang. Gejala-gejala ini menandakan bahwa ada sesuatu yang akan terjadi. Biasanya berkaitan dengan berita duka. Contoh kasus yang sederhana adalah ketika sesorang mengalami kejadian mata yang tiba-tiba saja berkedip berulang-ulang. Hal ini mengisyaratkan akan adanya kabar buruk yang berkaitan dengan dirinya (kalau bukan dirinya maka orang-orang dekatnya). Dan kejadian-kejadian seperti ini lebih mengarah kepada mitos atau kepercayaan (bukan agama) tradisional.



Kritik Sosial



Dalam cerpen Senandung Perih Dendang Saluang juga ditemukan beberap kritik sosial. Sekali lagi demi kenyamanan telaah, saya terpaksa mengklasifikasikan kritik sosial ini ke dalam dua aspek, yakni 1) Kritik Sosial Terhadap Masyarakat dan 2) Kritik Sosial Terhadap Pemerintah.

1) Kritik Sosial Terhadap Masyarakat.

Kritik ini nampak pada beberapa kejadian yaitu: jalan raya yang basah (tentunya dalam kadar yang banyak), air yang menggenang sampai lutut orang dewasa, banjir, lumpur, kebakaran karena lilin kalau listrik padam dan petasan kalau musim Ramadhan serta gesekan arus pendek kalau liatrik menyala, lari sepeda motor yang kurang awas di saat hujan. Nah, Raudah ingin menyampaikan kritik kepada kita selaku masyarakat (sekaligus pemerintah) agar lebih memperhatikan persoalan di atas. Misalnya akibat dari jalan raya tergenang, air yang tergenang hingga lutut orang, banjir lumpur, dll, maka kebersihan harus dijaga. Buanglah sampah pada tempatnya. Kaitan dengan kebakaran agar kita lebih memperhatikan lagi posisi/ tempat lilin agar di saat tertiup angin tidak menyebabkan benda di sekitar terbakar. Begitu pun petasan yang dibakar oleh anak-anak sebaiknya penggunaannya diawasi oleh orang dewasa.



2) Kritik Sosial Terhadap Pemerintah

Selain kritik sosial terhadap masyarakat di atas juga mengena kepada pemerintah, ada kritik lainnya yang ikut mengena juga kepada pemerintah, yakni: banjir (termasuk kebakaran dan dan bencana di saat musim hujan umumnya) seharusnya mendapat perhatian serius dari pemerintah. Adapun perhatian yang dimaksud adalah kerja nyata dari pemerintah untuk mengatasi masalah banjir. Baik pada masa sebelumnya sebagai bentuk pencegahan (prefentife) atau pun pada masa terjadi (membersihkan selokan/parit yang terendam, memperlancar arus air) maupun pada saat sesudah terjadinya banjir. Dengan demikian maka kehidupan sosial masyarakat dapat berjalan dengan baik adanya sebagaimana yang diharapkan oleh setiap manusia.



Penutup



Dengan beberapa uraian di atas diharapkan mampu menjadi penerawang sederhana untuk memahami cerpen Senandung Perih Dendang Saluang karya M. Raudah Jambak berdasarkan pendekatan semiotik de Saurse. Tulisan ini bukanlah sebuah kebenaran yang pasti karena itu saya memohon kiranya kalau ada hal yang bisa diterawang, silahkan menyarankan. Tulisan ini semata pembacaan saya secara subjektif atas cerpen SPDS. Bagi yang ingin menerawangnya dari aspek yang lain, saya persilahkan. Selamat melanjutkan aktifitas selanjutnya dan selamat membaca isyarat.





Kupang, Malam, November 2010, besoknya hari raya qurban…





Pion Ratulolly; Penulis Novel “atma” Putih Cinta Lamahala Kupang, Peserta Temu Sastrawan Indonesia III di Tanjung Pinang.





[1] Saluang merupakan alat musik tiup yang tumbuh dan berkembang di Minangkabau. Terbuat dari potongan pohon bambu pilihan, berdiameter kira-kira 2-3 cm dengan panjang kurang lebih 90 cm. Bentuknya serupa dengan seruling atau flute, hanya saja pangkal potongan pohon bambu ini tidak ditutup seperti flute atau seruling pada umumnya, alias ujung dan pangkalnya bolong.



[2] Senandung Perih Dendang Saluang adalah salah satu cerpen yang ada dalam buku Ujung Laut Pulau Marwah: Antologi Cerpen Temu Sastrawan Indonesia III (TSI III di Tanjung Pinang, 28-31/10/2010).



[3] Raudah Jambak, sastrawan dari Medan, Sumatera Utara.



[4] Estetika dan Etika merupakan nilai-nilai yang ada dalam Aksiologi (Salah satu cabang ilmu Filsafat Pendidikan). Estetika bermakna nilai keindahan (baik bahasa, gaya cerita, tema, dll) sedangkan nilai etika lebih kepada nilai moral, kebaikan dan kebenaran. Keduanya selalu diperjuangkan oleh setiap penulis.



[5] Bila dilihat dari penamaan tokoh, seperti Mamak maka latar tempat cerpen ini ada di Sumatera, Minang, Medan; sesuai dengan asal sang cerpenis.

Sunday, 14 November 2010

Teater Monolog ‘Matinya Toekang Kritik’

KR, Lephen Purwaraharja : Catatan Budaya

PERISTIWA kematian tragis nan getir. Tukang kritik dan budaya itu wafat terkulai di kursi goyangnya. Ketika itu tahun 3005 pembantunya robot: Bambang Mangkukulkas XI kode mesin PRT 3005 GX telah mendapatkan surat yang ditunggu-tunggu majikannya. Kritikus legendaris mati kutu di kesunyian, kehidupan telah teratur, tertib, damai, humanis dan berbudaya, sepaham utopia Jawa: tata titi tentrem kerta raharja terwujud. Suatu titik nadir peradaban tanpa ada celah dikritik. Begitulah ujung teater monolog Butet Kartaredjasa, Matinya Toekang Kritik (MTK) karya Agus Noor yang dipentaskan di TIM Jakarta, 3 - 5 Februari, TBY 11-12 Februari.

Setelah hampir empat tahun Raja Monolog itu ‘terlena’ dalam hiruk-pikuk ‘industri hiburan’, tampaknya Butet Kertaredjasa (berjuang keras) memperkokoh legitimasinya: aktor monolog yang kritis, cerdas, komedis dan memikat. Kritis terhadap persoalan kontekstual dan aktual. Cerdas mengemas peristiwa teatrikal dengan logika realitas dan formula satir. Efek komedis digerakkan oleh daya kreatifnya yang kadang tak diduga. Ia berusaha tampil terbaik, memikat, nyaris tanpa cacat (perfek). Butet (masih) mampu tampil prima untuk pertunjukan berdurasi 90 menit tersebut. Ia mempersiapkan diri bersama tim kreatifnya secara intensif dan matang. Tak heran tontonannya nyaris tanpa cacat.

MTK mengisahkan kehidupan kritikus RM Suhikayatno. Ia hidup dari zaman mitologi pewayangan sampai tahun 3000-an. Tokoh rekaan itu bermakna sesuai akar kata pada namanya: su (Jawa Kuna: sangat, baik, bagus, cantik, besar); hika (Jawa Kuna = hiku ----> hiku: itu), yatna = (Jawa Kuna = hati-hati, seksama, teliti, ingat-ingat, awas dan waspada. Atau, dari kata hikayat = karya sastra berisi kisahan baik berupa sejarah maupun fiksi untuk membangkitkan patriotisme, dan renungan bersama. Memang, MKT berani mengkritisi berbagai fenomena kebudayaan; dari soal sejarah, politik, ekonomi, sampai sosial budaya. Dari ulah kritikus ini dapat melahirkan satir dan kritik baru dari yang nakal sampai yang konyol.

Agus Noor memilih penguatan pada alur pokok dengan menunggu kedatangan surat dari istana. Penantian tak kunjung usai hingga tahun 3000-an. Realitas menyelinap masuk-keluar dari masa lalu, masa kemarin, dan sesudah masa terkini sehingga fakta peristiwa menjadi ‘analog’ berbisa satir, ironi dan plesetan getir. Dibanding teks monolog yang dimainkan Butet sebelumnya, tampak lebih berbobot pada aspek rangkaian peristiwa, pengaluran, penokohan, karakter tokoh dan kemungkinan perkakas semiotika dalam teater seluruhnya meneguh dalam kebutuhan (unity). Kejutan, surprise berulang kali menyembul yang menjadikan penonton (apresiator) tetap terjaga.

Ketika Butet memerankan Suhikayatno tertidur mendengkur di kursi goyang, lalu muncul Butet sebagai Bambang, dengan karakter kontras menyerupai pembantu zaman kuna: berpeci, bersafari dan bercelana panjang mulai kekecilan. Lain itu, ketika Bambang mengisahkan ndara-nya tahun 2008 pernah ditawari jadi Ketua KPU tetapi tidak mau, sebab tidak melakukan tindakan korupsi berjamaah. Akhirnya Suhikayatno, 2009 dicalonkan sebagai Wakil Presiden berpasangan dengan SBY -- sebuah kecerdikan penulis teks -- menghindar dari fakta dan menghadirkan kejutan baru memenangkan Partai Panji Tengkorak dan Butet Kartaredjasa terpilih menjadi presiden. Kejutan lainnya program utama Presiden Butet bukan menaikkan devisa, tetapi defisit negara dan semacamnya. Mengganti nama jalan militeristik menjadi nama seniman. Ide brilian!

Sayang teks MTK, tokoh Suhikayatno dimatikan hanya karena tidak ada hal dapat dikritik lagi. Formula surprise seyogianya dapat diaplikasikan, misalnya RM Suhikayatno pun, misal, menjadi robot/hasil clonning, atau peristiwa chaos kembali tampak layar audiovisual, meski kritikus itu mati. Jika kritik robotik hidup maka permasalahan sosial politik menjelma lagi (secara visual). Cara alternatif ini mungkin pesan MTK lebih sublimatif.

Secara keseluruhan karakter Semar, Bambang, sosok Suhikayatno, Semar Gadjah Mada oleh Butet berhasil dijiwainya, dan pintar meyakinkan serta menyatukan peran dengan dirinya tanpa jarak. Butet tampak luluh dengan peran-perannya. Apalagi kisah Suhikayatno dan Bam-bang ini sejak awal sangat disukainya.

Panggung mampu memikat sejak awal hingga akhir. Interaksi penonton dan pemusik dengan aktor pun memperkaya pertunjukan monolog sebagai teater. Ini berkat penyutradaraan Whani Darmawan yang cermat dan pandai memilih serta memilah pengadegan. Musik garapan Djaduk Ferianto membingkai dan mengisi pertunjukan MTK cukup pas dan jumbuh. Demikian pula tata artistik (garapan Ong Harry Wahyu) efisien namun multifungsi: background, media tampilan audiovisual, dan setting. Ketiga fungsi itu dapat direspons aktor dan videograf (Jompet) senantiasa berkembang menyempurnakan seluruh visualisasi pertunjukan. Tata cahaya (Clink Sugiharto) dapat mengimbangi kebutuhan videograf, suasana pementasan, dan kebutuhan aktor di panggung.

Monolog MTK itu memang menarik dan unik. Teks membuka refarat berbeda dengan monolog Butet sebelumnya semacam Racun Tembakau, karya Jim Adilimas (1986), Lidah Pingsan, karya Indra Tranggono & Agus Noor (1997), Lidah (Masih) Pingsan, karya Indra T & Agus Noor 1998, Benggol Maling, karya Butet K (1998), Raja Rimba Jadi Pawang, karya Butet K dan Indra Tranggono (1999), Iblis Nganggur, karya Indra Tranggono 1999, Mayat Terhormat, karya Indra Tranggono & Agus Noor (200), Guru Ngambeg, karya Indra Tranggono (2000). Pembeda utama pada: pertama, penulis teks monolog (Agus Norr, saja), prosais memberi peluang bermain total karakter utama bagi aktor lebih menguat saat memerankan Bambang dan Suhikayatno. Kedua, teks menghendaki aspek visualisasi dan videograf menjadi jeda sekaligus magnet pemikat kaya gambar hologram mengisi tanda dan simbolisasi teks. Ketiga, teks membuka ruang pada sutradara dan tim lainnya menafsir lebih leluasa antara ‘teater serius’.... ‘kritik satir’.... dengan ‘komedi kontemplatif’.

Butet kembali meneguhkan dirinya sebagai ‘Aktor Toekang Kritik’ yang tak mati-mati ditelan euphoria Reformasi. Konsep estetika Butet dan timnya (kini) berhasil menyelinap dari bentuk kritik barbar, demonstrasi anarkis, dan kritikus yang ‘mulut’-nya terbeli oleh penguasa dan pengusaha, lalu berbagai meledek diri sendiri, bersama mereka dan bersama-sama agar masa depan peradaban (kita) lebih indah dan dinamis. Tak heran bila penonton terpesona tak beranjak meski isyarat usai pertunjukan telah diisi dengan adegan Robot Bambang menyampaikan surat. Memang, semua peristiwa dan kata menggelinding memikat nikmat/segar/mencerdaskan.

Biarpun dalam kisah MTK tokoh Suhikayatno wafat lunglai oleh faktor eksternal di titik nadir, bukan berarti akhir hikayat. Selama Butet dan tim ‘kenakalan bersama’ tetap solid terjaga, pasti kisah baru, teater monolog lainnya lahir tetap bersengat bagi semua insan yang belum bangun dari ‘mimpi busuk’-nya. q - s

*) Lephen Purwaraharja, Pengkaji teater Jurusan Teater ISI Yogyakarta.

Tuesday, 12 October 2010

Idris Siregar; Menulis, Memberikan Setitik Manfaat buat Orang lain

Rina Mahfuzah Nst

Saat berhadapan dengannya, kesan pendiam lebih menonjol dalam diri lelaki yang bekerja sebagai PNS di Pemkab Deli Serdang ini. Sebaliknya, dia tidak pernah diam dengan kreatifitas dan karya-karyanya.

Baginya, pekerjaaan, kehidupan berumah tangga dan persoalan kehidupan lainnya, tidak menghalangi semangat menulis yang tetap terus bersemi di dalam hatinya. Selain menulis untuk dipublikasikan di media cetak, lelaki penyuka traveling, musik, film dan olahraga catur ini, juga rajin menulis di Blog dan mengikuti kegiatan-kegiatan lomba menulis di Blog.

Di sela-sela kesibukannya menyusun Tesis di Pasca Sarjana UMN Medan, Idris menulis novel, skrip film dan sinetron. Idris juga menulis lagu, bermain musik dan hobi fotografi. Bibit menulis sudah terlihat dalam diri lelaki kelahiran Medan, 2 Januari 1968 ini sejak masih di sekolah dasar. Bungsu dari tujuh bersaudara ini, selalu mendapatkan nilai pelajaran mengarang paling tinggi dari teman-temannya yang lain.

Kegembiraan sebagai seorang penulis mulai dirasakan Idris, ketika cerpen pertamanya dimuat di majalah HAI tahun 1986. Betapa senangnya dia kala itu. Honor yang dia dapatkan tidak disia-siakan. Idris membeli sepasang baju dan celana. Setiapkali dia memakainya, dia merasa kepercayaan dirinya bertambah.

Seolah ingin berkata, baju dan celana ini hasil dari menulis. Begitu juga saat masih tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Hukum USU Medan. Idris bersama teman sekampus bernama Jenny. G menulis naskah fragmen penyuluhan hukum, shooting di TVRI Medan. Idris merasa senang bisa melakukan hal seperti itu.

Sejak itu, Idris menancapkan keinginan untuk terus menulis. Melepaskan berbagai ide yang menyesaki kepala, pikiran maupun hatinya. Dia mengagumi Arswendo Atmowiloto, lewat bukunya ‘cara gampang menulis cerpen’. Sedikit banyak telah memotivasinya untuk lebih giat lagi menulis. Idris juga menyukai Seno Gumira Ajidarma, dengan teknik bercerita yang mewarnai cerpen-cerpennya.

Dalam berkarya Idris tidak membatasi tema tulisannya. Dia menulis tema Anak-anak, remaja, politik, sastra, budaya dan lain lain. Sejumlah karyanya pernah dimuat di Majalah Dewan Sastera Malaysia, Majalah Bahana Brunei Darussalam, Majalah Annida, Analisa, Harian Bisnis Indonesia, Suara Pembaruan, Sumatra, Taruna Baru, SIB, Koran Tempo, Waspada, Garuda Minggu, Medan Bisnis, Global, Swadesi, Sinar Pagi, Persada, Bukit Barisan, Mimbar Umum, Radio Jepang NHK, Radio Jerman DW, dan lainlain.

Bersama rekan sesama penulis, Lely Zailani, Idris menulis buku bertajuk Merajut Bersama. Buku ini diterbitkan HAPSARI dengan dukungan HIVOS Jakarta Tahun 2008. Di samping itu sejumlah puisi dan cerpennya telah terangkum dalam berbagai Antologi Puisi bersama maupun tungggal.

Dalam perkembangan karir menulisnya di berbagai media, Idris tidak melupakan beberapa tokoh yang telah memberikan nasehat dan dorongan buatnya dalam berkarya. Sebut saja almarhum Wildan Nasution, redaktur harian Garuda Minggu. Beberapa tokoh lainnya, Idris Pasaribu, YS Rat, Adi Mujabir, Sulaiman Sambas, Harta Pinem, Bersihar Lubis dan Ristata S, ketika masih aktif berdiskusi di TBSU.

Untuk menunjang ide-ide sekaligus menambah wawasan, Idris kerap mengunjungi perpustakaan dan beberapa toko buku di Medan. Ketika menulis, dia ingin tumbuh dalam kewajaran semata. Menulis, menjadi jembatan pentransformasian gagasan yang ada dengan kondisi yang terjadi dalam kehidupan nyata kepada para pembaca. Menulis tidak lagi sekedar mendapatkan honor atau nama, melainkan tanggung jawab sebagai seorang manusia yang dianugerahi Allah SWT talenta atau keterampilan menulis.

Untuk itu ayah empat anak lelaki ini, terus mengasah keterampilannya dengan terus belajar, banyak membaca buku-buku dan latihan terus menerus. Sebenarnya sudah lama Idris mendambakan adanya sebuah wadah di Sumatera Utara yang representatif, memberikan apresiasi tahunan kepada penulis kreatif atau penulis berbakat di Sumatera Utara, seperti anugerah Sagang di Riau.

“Seni khususnya sastra tetap memberikan warna dalam kehidupan ini, walaupun masih saja penghargaan untuk sastra belum begitu maksimal. Bandingkan saja dengan sebuah kuis di salah satu televisi. Dengan sekedar menjawab pertanyaan atau melakukan sesuatu bisa memperoleh hadiah uang 2 sampai 3 juta. rupiah.

Bahkan jika beruntung bisa membawa mobil mewah. Beberapa organisasi seni memang sudah mencoba untuk membangun penghargaan kepada para penulis melalui lomba lomba dengan hadiah yang cukup significan tetapi sifatnya masih insidentil,” ujarnya.

“Menulis berbeda dengan main film, di mana pemerannya bisa dilihat para penonton. Terkadang pembaca tidak merasa penting untuk mengetahui bagaimana sosok seorang penulis yang dibaca karyanya. Belakangan ini memang ada trend tulisan dilengkapi dengan wajah penulisnya. Begitu juga dengan buku buku yang kerap memuat wajah si penulis. Tidak ada korelasi wajah seorang penulis dengan hasil tulisannya,” lanjutnya.

Dari keterampilannya menulis, sejumlah prestasi menulis telah diperolehnya antara lain:
Juara II Lomba Karya Tulis yang diselenggarakan BP-7 Kota Medan Tahun 1995. Juara II Lomba Menulis Pusi yang diselenggarakan Studio Seni Indonesia Medan 1995. Juara Lomba Cipta Cerpen yang diselenggarakan LKK Unimed 1995. Juara III Lomba Karya Tulis yang diselenggarakan KNPI Deli Serdang 199. Juara II Lomba Karya Tulis yang diselenggarakan Pemprovsu Tahun 2000. Pemenang Harapan Krakatau Award (Puisi) Tahun 2000. Pemenang Harapan Lomba Menulis Puisi yang diselenggarakan INTI Jakarta Tahun 2007. Pemenang Harapan Lomba Menulis di Blog yang diselenggarakan BNI Tahun 2009.

Kalau ingat perjuangannya ketika mengandalkan mesin tik, sangat memerlukan konsentrasi agar tidak salah mengetik. Idris merasa perkembangan teknologi yang ada di zaman sekarang, sangat mendukungnya dalam mengembangkan karya. Dengan adanya media blog dan facebook, Idris merasa dapat lebih mengembangkan, menyalurkan dan mempromosikan karya-karyanya. Bahkan dengan kemampuan berbahasa asing seperti bahasa Inggeris, menurutnya seorang penulis bisa menyalurkan karya atau mengikuti kegiatan writing contest melalui internet.

Menulis memang bukan merupakan cita-cita lelaki penyuka nasi goreng dan kopi susu ini. Idris juga tidak ingin berhenti dari kegiatan menulis. Dia merasa harus mensinergikan antara pekerjaan dengan kegiatan menulis yang sudah ditekuninya sejak lama.

Dia justru menyayangkan beberapa teman, harus berhenti menulis sama sekali ketika memiliki profesi di dalam kehidupan yang dijalankannya. Menurutnya, dia bercita cita menjadi orang yang berguna saja dan mampu memberikan meskipun setitik manfaat bagi orang lain. Menulis atau berkarya dan berkerja merupakan sarananya untuk mewujudkan hal itu.