Monday, 10 October 2011

Sajak-sajak Hasan Al Banna

BATU, LUKA DAN DERITA

maka sekalian saja menjadi batu kalau musti kunyatakan ini sendu sejak lalu gemuruh tangis di dada tidak kulabuhkan di kopak mata

perjalanan tidak dituntun garis tangan apalagi tunduk pada petunjuk ramalan sebab semua urusan Tuhan tentang itu jangan campur tangan!

ini luka adalah luka tidak musti kueja : derita!

Medan, 2003

TELEGRAM BUAT JAKARTA

kami sedang dahaga luar biasa maka tolong kirimkan secawan cinta segera!

Medan, 2004

TENTANG SENJA DAN PAGI

kau selalu bangga dengan penjelajahanmu, seperti aku yang juga mengagungkan petualanganku.

Hujan, Melon, dan Alkisah Cinta

aku membayangkan daun-daun

yang bersimbah hujan

semacam irisan melon

di dalam kulkas: malu-malu

tapi menebar kerling ke penjuru dada

menagih hangat rahang dan kerongkongan

serupa kau?

aku terkenang ketika kau pernah tiba

dengan pisau cinta yang ditumpulkan lelaki

di masa silam: riwayat cinta

yang senantiasa menetaskan telur-telur luka

tak lebih dari selingkar janji yang mengingkar jari

siapa kau?

aku tak menyimpan segenggam pelipur duka

karena tanganku pun berdarah

oleh duri mawar: kelopak bunga

cuma mampu menyelubungkan noda

tapi tak kuasa sewangi sorga

pergi kau! Medan, 2008

*

Sebuah Malam, Kasih Tak Sampai

ini tiang perahu patah didobrak angin

tombak badai melukai jantung layar

lenteraku kunang-kunang yang kelelahan

sepasang dayungku lengan-lengan

yang kedinginan

sedang laut adalah jalan

yang menanjak dan berliku

karang ialah perangkap berhati batu

dan ai, malam tak juga tergenggam tangan

pula ia laksana kerajaan pitam

itu bulan hanya cahaya angan-angan

itu bintang cuma kerling kunang-kunang

aku kini semakin paham

perahuku menuju ke alamat karam

ih, aku tak sampai pada pantai

yang semampai

ah, aku tak tiba pada dermaga yang jelita.

Medan, 2008

*

Sajak Cinta di Dermaga

angin laut memantul di tiang-tiang kapal

parau dan letih

napas garam adalah musafir

yang berputar-putar

langit menjelma gadis yang pendiam!

sedang nyala lampu-lampu dermaga

adakah semacam lelaki kumal yang kesepian?

sebatas mengabarkan matahari segera karam

ke dasar malam

demikianlah, sejak lampau aku ingin meniru ketabahan

jangkar kapal; patuh dalam tualang

setia dipanggil pulang

tapi hai, tubuhku masih juga dipahat dari alur api

menghanguskan kenangan di pencil kepala

memusnahkan asa di haribaan dada

adakah riwayat diri tinggal sekerat hari

atau sejengkal tali?

perempuan adalah pengacau hidup, kataku

lelaki cuma budak kelamin, balasmu

aku kutuk kalian sebagai tugu pertengkaran,

sindir camar

alah, perahu rinduku senantiasa terperangkap

di antara cinta dan dendam

terombang, gamang

seperti ombak yang acap ditolak

pundak dermaga

ke rahim samudera. Medan, 2008

*

Sajak Pertengkaran

engkau bertampang jelita

tapi bermata curiga

maka sebut saja itu angin malam

lebih lihai menjelajahi hatimu tinimbang diriku

bangku taman pemangku yang gemulai

aku perayu yang kaku

engkau bersenyum permata

tapi berlidah cuka

lantas katakan saja, aku pengkhianat kecil

pada tualang kasih, pada arung cinta

aku pecundang di tubuh rindu

di kujur janji. Medan, 07-08

Rindu|1

kekasih, dengan apa aku-kau mengukur jarak

selain dengan rindu?

aku terkenang saat langit jingga pernah menanggalkan

gerimis merah jambu

kita kehilangan setangkai payung

tubuh sewarna pudar

tapi degup cinta di celah dada

senyala saga

benar, tak pernah aku-kau mampu menebak

kapan secengkram jarak menyeret kita

dari bangku taman

uh, usia pertemuan tak lebih dari sepagut ciuman

yang tergesa

dan tak bergaram

kau tahu, betapa menakutkan tersuruk

di beranda rindu

tiada kibas lampu

tiada telunjuk waktu

siut daun akasia menjelma kelebat

sembilu

mengelupas kenangan dan cinta aku-kau

yang belum rampung

o, mengapa bulan sabit di langit malam

seperti lengkung senyum yang kecut

dingin dan menjengkelkan

ah, aku terperangkap di rimbun sepi

senantiasa

semacam candu

tak berpenawar

tak tertakar

kekasih, dengan apa aku-kau mengukur rindu

selain dengan jarak?

Medan, 2007

*

Rindu|2

pada tembok kenangan kita tak mampu

menggurat sekerat alamat-lihat, surat-surat cinta

terlantar, menjelma hujan

menjelma lumut

ah, aku sering merinding, menggelepar

dengar, lolong rinduku memanjang

dari dada yang berlubang

seperti sayup sayatan

semacam seretan luka

kekasih, kau tahu, kabut rindu kian menebal

jalan menuju bukit janji-masa bersua

menerjal, melulu batu

melulu ngarai

maka ketika derit engsel mengabarkan kecemasan

ke punggung pintu

aku paham mengapa ladang cinta

dipenuhi ilalang

juga bangkai belalang

begitulah kekasih, aku kini tugu rindu yang terbengkalai

pula kau adalah penziarah

yang dikhianati arah

yang ditinggalkan langkah!

Medan, 2007-2008

*

Rindu|3

demikianlah kekasih,

pada pusaran rindu yang kian memabukkan

aku senantiasa

menggigil

memanggil-manggil namamu

mengail-ngail

cintamu

melekacak-lacak wangi tubuhmu

cuma kenangan durhaka

yang tidak melahirkan kerinduan!

maka, hei, aku terkenang sepojok taman usang

di belakang kota

kursi-kursi gelisah, bunga-bunga basah

aku-kau lelah

menerjemahkan kerumitan cinta

dan betapa getir secangkir air mata

tapi dari mana muasal suara pecahan kaca

kalau tidak dari lorong dada?

dan ketika hujan kembali berderai

melerai pertengkaran

tanah-batu berpagut, rerumput bersidekap

aku-kau bergegas

menyingkirkan serpih kenangan

yang pernah mengoyak telapak kaki

tapi mengapa selekas itu matahari

menyalip hujan?

maka kekasih, pada kelokan

rindu yang makin licin

aku sering terjerembab

menafsir-nafsir

degup dadamu

menaksir-naksir

keranjang cintamu

menggapai-ngapai

lambai tanganmu.

Medan, 2007-2008

Rindu|4

demi air mata yang tergelincir malam ini, tolong

pulangkan saputangan ke sepintal benang

sebab isak ibarat puisi yang sedang menggali makna

lantas tinggal menunggu, seberapa tangguh aku-kau

menanggungkan tombak rindu yang menancap

di dada kelabu

kabut telah menjelma tungku

bulan seperti gorden yang camping

tidak semestinya aku-kau terperangkap dalam kebekuan

semacam ini. mulut jangan tertambat

bayangkan kau adalah sekerat kata yang terluka

betapa pedih terkunci di lembab laci

kau tahu, sepasang telingaku adalah dua goa

yang setia merangkul rahasia

percakapan musti mengangkut segala kalimat

meski tanpa titik koma

dan kekasih, bersegeralah aku-kau meracik

sebuah malam menjadi sungai rindu?

penuh kelok dan kicau air

kelak aku-kau mencebur diri, mandi kenangan

sambil menyaksikan lelehan hujan kabut

dan batu-batu yang berciuman.

Medan, 2008

BURUH 3

"sesungguhnya kamilah deru mesin itu yang menderu dari sabtu ke sabtu menyepuh ngilu!"

otot tulang yang soak adalah otot tulang kami nadi daging yang koyak adalah nadi daging kami puih resah yang serak adalah puih resah kami tapi sungut takut yang degup bukanlah sungut takut kami

ei, selalu kami dulang suara-suara yang segantang menjadi aum yang lantang namun selalu pula kami bernama: harimau tandus gigi puntung kaki!

lalu kami sebenar tahu sejauh mana pun kami kobarkan amarah perlawanan pasti pulang juga ke pantai almanak hampar pasir angka-angka seperti ribuan tadah tangan yang merogoh ceruk rompal saku sampai tandas, sampai kandas!

iya, setinggi apapun kami kibarkan slogan-slogan pasti terjungkal juga ke sangar kedai ada saja macam racau yang menagih segala tumpuk utang: tiga bulan sewa kontrakan entah berapa mok beras berbatu dan berantang lauk masam tak terbayar oi, rokok basi dan jamu pegalinu, berapa bungkus yang belum lunas?

tapi tidak, terus lantak tonggak zalim musti dirubuhkan ombak sewenang musti ditaklukkan sampai padam tungku badan sampai tumbang batang tubuh menuju ke hilang: segala penat perih berpulang

"sesungguhnya kamilah derak mesin itu yang berseru dari waktu ke waktu tapi acap dipaksa bisu!"

Medan, 2006

Ghaza

▪ Sitok Srengenge

Begitu gema rudal itu sampai padaku, segera kukirim email, menanyakan kabarmu. Seminggu kemudian, ketika kian banyak korban berjatuhan, kukirim lagi surat yang lebih cemas. Keduanya, hingga kini, tak kaubalas.

Aku berharap kau sedang tidak berada di kota itu, Ghaza. Seperti tahun lalu, ketika berkali-kali aku mengontakmu, hanya sekretarismu yang selalu menjawab santun, mengabarkan bahwa kau sedang melakukan perjalanan di sebuah gurun. Tapi, ketika lebih dari tujuh ratus jiwa telah melayang sebagai korban kekejian, alangkah muskil berandai-andai bahwa kau sedang jauh dari kota kecintaan. Setiap kali kusaksikan seseorang tewas atau terluka dalam kecamuk perang tak seimbang itu, aku kembali teringat kamu. Entah mengapa. Barangkali lantaran perasaan, sedih atau senang, senantiasa membutuhkan nama.

Dan aku terkenang bagaimana pertama kali kauperkenalkan namamu. Ketika itu musim sedang gugur di Midwest, Amerika. Tiga puluh penulis dari dua puluh empat negara berkumpul di sebuah ruang bernama Common Ground, bagian dari hotel apik di pusat negara bagian Iowa. Pada dinding ruang itu terpampang peta dunia berukuran besar, agar para peserta dapat mengenalkan diri sambil menunjukkan di mana letak negeri mereka. Seorang demi seorang maju dan selalu berakhir dengan gemuruh tepuk tangan. Sampai pembawa acara memanggilmu. Oh, bukan. Ia memanggil seorang peserta dari West Bank, nama wilayah sebagaimana tercantum di kertasnya dan di peta dunia versi Amerika.

Kau beranjak ke bagian depan ruang dan berkata, “Kalian bisa memanggilku Ghaza, cara lebih mudah dibanding melafalkan nama lengkapku: Ghassan Zaqtan.” Setelah menyebut dirimu penyair, kau pun meralat penamaan yang keliru untuk tanah airmu. “Aku tidak berasal dari West Bank. Tanah airku bernama Palestina!”

Digerakkan oleh ikatan emosional, simpul gaib yang juga menautkan batin begitu banyak orang muslim di negeriku dengan warga negaramu, aku pun maju mendahuluimu mendekati peta di dinding itu. Dengan spidol merah, aku coret kata West Bank dan menggantinya dengan Palestine. Orang-orang serentak bertempik sambil tertawa. Kau memeluk dan memanggilku saudara.

Bahkan sesuatu yang tak kita bayangkan terjadi. Etgar Keret, peramu cerita dan pembuat film dari Israel, mengacungkan tangan dan mendukungmu. “Ghaza benar!” serunya. “Kita harus mengakui keberadaan negara Palestina.” Sejumlah orang Amerika yang hadir di ruangan itu seolah tak berdaya. Tak seorang pun menyanggah ketika Etgar maju berkeluh-kesah. “Politik,” katanya, “telah mengubah kedamaian di benak warga Palestina dan Israel menjadi konflik yang kian pelik.” Lalu, ia pun bercerita.

Di masa kanak dulu, sempat ia nikmati suasana damai itu. Di kotanya, Hebron, orang Arab dan orang Yahudi berhubungan layaknya handaitaulan. Di kelas ia pun belajar Quran dan bahasa Arab. Tapi, “Sekarang tidak lagi. Di banyak sekolah diajarkan bahwa orang Palestina adalah musuh, dan kami hanya boleh menggunakan bahasa Ibrani.”

Saat itu aku seakan melihat percik harapan. Kelak, ketika orang berpikir kritis tentang ajaran Hasan Al-Banna, tak lagi memuji patriotisme Amin Al-Husseini, mungkin mereka tak akan mudah terhasut oleh radikalisme Hamas, tak hanyut dalam haluan politik Benjamin Netanyahu atau Ariel Sharon yang ganas. Diperlukan seratus atau lebih banyak lagi Etgar Keret di Israel, juga seratus atau lebih banyak lagi Ghassan Zaqtan di Palestina, untuk memulihkan kerukunan cucu-cicit Ibrahim.

Tapi barangkali benar keyakinanmu, Ghaza, seteru bebuyutan itu tak mudah disudahi dengan sekian perjanjian dan genjatan senjata. “Gairah perang terus mengarus di urat nadi kami. Secara genetik gairah itu akan menurun ke sel-sel syaraf anak-cucu kami.” Dan kau pun berkisah tentang perlawanan Intifadah. Anak-anak belia Palestina yang, dengan bebutir batu dalam genggaman, gagah menghadang tank-tank Israel yang digerakkan oleh amarah dan kekejian.

“Kami adalah bangsa yang tak kunjung usai mengalami proses mimikri,” tuturmu lagi. Dulu, lanjutmu, Daud—moyang bangsa Israel—melawan raksasa Goliath seolah tanpa takut. Kini Israel telah menjelma Goliath yang lebih kuat dan orang Palestina mengandaikan diri sebagai Daud. Perang, katamu, tak melulu perkara kalah-menang, melainkan terkait erat dengan keyakinan dan harga diri—apa pun tafsir kita tentang keyakinan dan harga diri itu.

“Seperti rabuk, setiap pejuang yang gugur akan merangsang tunas-tunas baru tumbuh subur.” Tapi, sebagaimana kautulis dalam sajakmu, perang juga kenangan kelam yang muskil kaulupa.

Aku ingin mengenangmu
seperti lagu yang kuhafal di sekolah dasar dulu
lagu yang kuhafal secara lengkap tanpa kesalahan
cadel, kepala condong, sumbang
kaki-kaki kecil penuh semangat menapaki jalanan bersemen
tangan-tangan terbuka yang menepuki bangku-bangku

Mereka semua tewas dalam perang,
sahabat-sahabat dan teman-teman sekelasku
kaki-kaki kecil mereka/ tangan-tangan lincah mereka.

Mereka masih menapaki lantai setiap ruangan
menepuki meja-meja
dan masih menapaki trotoar-trotoar jalan,
menepuki punggung orang-orang lewat, pundak-pundak mereka
Ke mana pun aku pergi
aku masih mendengar mereka
aku masih melihat mereka

Di lain kesempatan, kutemukan kau tercenung di kamar hotelmu. Sebetik berita buruk baru saja kauterima. Rumah dan kantormu di Ghaza dihancurkan serdadu Israel dengan serbuan udara. “Aku sedang membangun rumah di Ramallah.”

Di atas mejaku di Ramallah
surat-surat yang belum selesai
dan foto teman-teman lamaku,
tulisan tangan seorang penyair muda dari Ghaza,
jam pasir
Larik pembuka yang mengepak di kepalaku seperti sayap

“Saya sampaikan hormat dan terima kasih atas simpati dan solidaritas kaum muslim di negerimu,” katamu. “Tapi, katakan kepada mereka, perang kami bukan perang agama. Di Palestina, orang Islam berjuang bersama orang Kristen, bahkan mereka yang ateis; melawan Israel.”

Andai kausampaikan kalimat itu sekarang. Andai kau mengabarkan keadaanmu, juga aktivitasmu, dalam bengis perang itu. Ah. Aku hanya bisa berharap kau selamat. Kubayangkan saat ini kau sedang gelisah di sebuah bukit di Ramallah, di rumah barumu yang katamu punya panggung kecil, di mana suatu waktu, ketika dunia damai, kau ingin mengundangku membaca sajak sambil memandang ke arah lembah.

Rumah Seorang Perempuan

JIMMY MARULI ALFIAN

perempuan yang baru memotong rambutnya
ingin berumah dalam sajak-sajakku
katanya ia sudah tak betah
oleh rambut panjang
dan ruang tunggu pelabuhan yang membuatnya gerah
maka kubiarkan saja ia membawa televisi,
kipas angin
dan matahari sendiri
tak lupa
ia menyempatkan membeli bibit palma
dan sebuah bel
yang akan memanggilnya ke halaman setiap senja
tapi ia terkejut
betapa gelapnya ruangan dalam kalimat-kalimatku:
tak ada tiang listrik
ataupun pijar lampu taman plastik
namun lihatlah,
sebuah kata menyala dalam kamar
merupa cahaya yang menarik tubuhnya menjauhi hingar bingar

2003

Perempuan Terluka

KRISHNA PABICHARA

perempuan itu baru saja belajar mencinta.
aku letih menjadi sarang luka, katanya.
petaka tak memberinya jeda.

ceruk di matanya menjelma telaga,
tempat nestapa riuh berdansa. oi, ingin
sekali aku menghiburnya dengan lagu
paling jenaka. sayang, dia sudah lupa
bagaimana caranya tertawa.

sudah, bersandarlah di bahuku!

Bogor, Januari 2009


Batu Penanda

aku ingin berlari ke puncak sajak. melipat jalan setapak di matamu yang berkabung. merentang telaga lengang: biar ikan-ikan dan nestapa berenang dengan bebas. menanti perempuan penyair berambut kabut, yang selalu berselisih dengan waktu, berusaha menemu bahasa suasana paling bisu. kita pernah jadi nelayan di laut itu. berenang meninggalkan semenanjung kata: tempat kita merancang istana riang.

ayo, perempuanku, kita ziarah ke makam pantun. mata kita basah mencium hujan berkali-kali. lihatlah, perempuanku, lihat: kayu nisan, huruf-huruf dan nyeri itu makin biru. sudah lama kita ingin berguru bagaimana bisa menahan gelinjang rindu, sambil memanggil masa-masa haru dan tersedu dengan pilu. sungguh, perempuanku, sungguh. tak perlu keluh-kesah. kita harus mencari penanda cinta: dalam kata, dalam makna.

Bogor, Januari 2009

Kepada Lelaki yang Mengucapkan Da
bagi Hasan Al Banna

SAJAK ILHAM WAHYUDI

Penjahit

ternyata, o, ternyata. Tak mampu kujahit ia. Baik yang baik.

Baik yang buruk sekalipun. "Mungkin harus lebih sungguh-sungguh,"

kata mereka. Adakah yang lebih sederhana dari sungguh-sungguh?

Agar mulai kujahit yang kupikir pernah kujahit.

O, betapa sakit menjadi penjahit ini!



Medan. 2010







Yang Selalu Sakit



Sakit memang sakit, memang! Sebab itu ia gulai pedih dalam

kuali waktu. Saban terus saban kali ia putar otak di kaki; kaki di otak.

Begitu pun ternyata si peramu pedih pula yang merengek-rengek

menyedihkan, minta minyak wangi, katanya. "Minyak wangi dari lubang

buaya katanya harum," kata salah satunya. "Tidak itu Cuma mitos!"

Kata satunya lagi penuh siasat.

O, tidakkah yang pedih juga yang ‘kan menanggungnya? Lalu

kemanakah perginya si peramu pedih…



Medan. 2010







Prajurit Hujan



Prajurit hujan

Datang dalam bimbang

Dalam kemurungan

Pagi



O, aku sakit

Adakah yang mahir menerjemahkan sakit

Semahir ia menerjemahkan kebahagian?

O, aku kehilangan

Adakah yang lebih menyedihkan

Melebihi kehilangan?



Prajurit hujan

Datang tibatiba

Tibatiba hilang

Seketika



Medan. 2010







Hati



ambillah pisau; belah!

iris setipis gerimis

cuci sebersih sprei pengantin

hidangkan pagipagi.



Medan, 2010







Beri Aku Sajakmu



beri aku sajakmu

rerimbun daun

butir hujan

kesegaran hidup



yang di dalamnya ribuan

planet saling memandang

jutaan bintang

saling berbincang



Medan. 2009

secarik fotomu ingin kubasuh
air kenangan yang mengenang
sajakku terbang menyunting bulan
sepanjang musim yang terus berulang
ini rindu ‘dah macam hantu
melintang panjang di jalan pulang
lutut bergetar tercemar kabar
tentang pujaan seberang angan
wahai kau pejalan sunyi
sudikah mengulang pora
selamat datang?

Medan, 2009

Suatu Malam

Di puncak kecemasan kutemui wajahmu yang basah. Yang mengajakku berlari menyusuri ceruk sepi. Angin sepoi yang menyamar kemudian menyusup di dinding-dinding batinku yang berkarat setelah terbenam sekian ribu tahun adalah bau tubuhmu, perempuanku. Bau yang terus memaksaku menerjemahkanmu ke dalam sebentuk sajak yang ganjil deretannya. Tapi sajak, sayangku, sungguh telah lama meninabobokkanku kepada persoalan-persoalan yang terus-menerus semakin tak menentu. Dan kembali hanya kecemasanlah yang setia menyelimuti tidurku malam ini. Seperti liur yang berkarat di kasur. Seperti senyummu yang memanu di bibirku.

Medan, 2009

Bola

Mungkin aku adalah bola kulit yang licin. Aku menggelinding menuju
cerukmu. Meraba kemungkinan-kemungkinan seraya bermunajat,
“Semoga hujan hanya numpang lewat.” Tapi jendelamu terlalu lebar terbuka
dan angin terlalu polos menyampaikan rahasia malam. Sebenarnya
aku ingin lebih lama lagi di sana. Tapi tidak untuk tertidur atau menelurkan
cemas ini sekejap. Tidak untuk mabuk atau mandi bunga mawar. Aku hanya
ingin berkunjung. Ya, berkunjung saja. Esok bila aku menggelinding kembali
maukah kau menari untukku dan menepikan biji pasir ini?

Medan, 2009

Sepanjang Jalan

“bersumpahlah untuk tetap menungguku kembali!” katamu
sedikit serak saat bus antarkota itu memisahkan bau mulutmu
dengan hidungku.
dan sejak itu, ya sejak itu! tak ada lagi yang menggodaku
bergelut dirapatnya gigi putihmu atau sekadar menumpahkan
kopi di kaos kutangku yang menguning.
mungkin kita terlalu buru-buru bertemu sehingga semua
menjadi terlalu lama mengendap. atau mungkin kau memang
sengaja meminangku dengan rindu tetapi kau lupa kapan
mempersetubuh hatiku.
dadaku terasa makin dingin. suara-suara ganjil memenuhi
lambungku; asam sekaligus pahit. kaukah yang mencangkulnya?
kemudian mencungkilnya pula?
seperti pemabuk, tak ada lagi yang bisa aku tuangkan
dalam kecemasan ini. “o, anggurku yang diteguk bulan,”
teriak rohku sepanjang jalan yang malam, sumpah!

Medan, 2009

Suatu Sore yang Setelahnya Gerimis Berhamburan

Aku teringat kau, perempuanku:
suatu sore yang setelahnya gerimis berhamburan
serupa serbuk sari yang di terbangkan angin: hidungku
pucat kau todongkan segelas kopi; baunya memenuhi selasar,
seketika huruf-huruf dalam kolom olahraga menjelma
baris-baris sajak yang aneh.
“Bagaimana jika aku tak kembali?” Bisikmu mengejutkanku;
buru-buru kubersihkan tumpahan kopi di koran; pelan-pelan
kuhapus juga sesuatu; kubuang jauh jauh.
“Apakah kau tetap akan menungguku?” tanyamu curiga;
aku meraba-raba nomor telepon biro perjalanan; diam-diam aku
hafal angka-angka ganjil yang berenang di mataku.
Ahk, aku megap menghabiskan kopi ini sendirian, perempuanku;
mabuk menelan huruf-huruf yang berbisik-bisik menggoda;
merayuku untuk menuliskan sesuatu untukmu yang jauh.
Aku teringat kau, perempuanku.
Berulang kali kutelepon nomor biro perjalanan itu;
Maaf, nomor yang anda tuju belum terpasang!
entahlah, apakah aku yang salah menghafal
atau aku yang keliru memencetnya?
Aku teringat kau, perempuanku:
suatu sore yang setelahnya gerimis berhamburan.
Sungguh!

Medan, 2009

——–
Ilham Wahyudi, lahir di Medan, Sumatera Utara, 22 November 1983. Alumnus FISIP Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Saat ini bergiat di Komunitas Hape (Home Poetry) dan Komunitas Kun. Aktif menulis puisi, cerpen, esai di beberapa media. Puisinya termaktup dalam antologi Penyair Muda Malaysia-Indonesia(2009).

Sajak M. Raudah Jambak

SUNGAI PENGEMIS

1.

Seorang pengemis duduk di pusat kota

menggenggam terompet yang dibuang

oleh pemiliknya. Jalanan mulai sunyi.

Seorang pengemis duduk di simpang kota

meniup terompet yang basah terimbas

air hujan. Suaranya tersekat.

Seorang pengemis duduk di tiang

lampu jalan raya yang mati arusnya,

pengendara satu-satu. Bibirnya membiru.

2.

Pada malam tahun baru ini, para pengemis

mengais rezeki dari sisa terompet yang ditinggalkan

para pejalan kaki. Hujan baru saja reda, meninggalkan

segala sisa.

sepanjang malam pengemis itu menahan

gigil tulang, memungut segala bekas di jalanan.

Pesta baru saja usai, menjejakkan segala mimpi

yang terburai.

Lalu perlahan ia pergi meninggalkan sisa nasib

yang tak sempat dikutip. Di simpang jalan,

lampu merah tak jua padam di antara langkah

yang tertahan

3.

dan perlahan suara malam senyap

meninabobokkan bulan di peraduan.

Suara terompet dan jerit petasan sedari

tadi telah dibungkam.

Menjelang pagi seorang pengemis

membangun kepingan mimpi. Bersama

tumpukan sisa hujan yang perlahan

meninggalkannya di sepanjang selokan

4.

Di antara pagi

Pengemis kecil duduk sendiri

Mendekap sisa hujan

Di dadanya

Sementara waktu terus berpacu

Kendaraan terus melaju

Satu per satu

Pengemis kecil duduk sendiri

menumpukkan sisa nasib

mengumpulkan kepingan mimpi

dalam nyenyak tidurnya

5.

Pulanglah, Dik

Tinggalkan segala tipu daya dunia yang membujukmu

Membawa kepada segala kenistaan

Dan persekongkolan

Debu dan asap knalpot yang memburumu adalah

Ular kepala dua yang siap membenamkan segala rindu

Di kepalamu yang murni

Pulanglah, Dik

Pulang. Masih ada esok yang akan menyulam

Wajah burammu menjadi senyuman

6.

Pengemis kecil bertubuh dekil

menyanyikan senandung sunyi

lagu dari segala kepedihan

Berhenti di traffic-light

Simpang jalan raya

Kencringan di tangan kanan

Merangkai harapan

Pengemis kecil bertubuh dekil

Menghalau masa lampau

Tentang bulan dan matahari

Terjebak arus pikiran belia

Yang terbang bersama debu

Sepanjang jalan raya

7.

Di simpangsimpang jalan raya

Seorang pengemis kecil menunggu rindu

Sisa mati lampu dan deru segala hujan

Entah tanggal yang ke berapa

Zikir mengalir

Di simpangsimpang jalan raya

Seorang pengemis kecil menunggu ragu

Pada pilu hati yang kuyu

Entah ngilu yang ke berapa

Sendu memalu

8.

Di jalan ini

Pasir menyisir pagi

Menyemai gigil kerikil

Ah, betapa angin mengganggu pintu-pintu

Tak berdaun dalam bangunan pikiran

Pada sudut rumah daun-daun berguguran

Bunga-bunga telahpun melayu

Sekeras deru nyanyian hujan kau tetap bertahan

Baris-baris debu menyembur mantra beraroma dupa

Karam di kornea mata, menghapus jejak perjalanan

Di setiap titik peron-peron lengang

Dan daun-daun yang melayang berpeluh

Pada jejak-jejak perjalanan

9.

Di pintu tahun baru

Seorang pengemis kecil mengumpulkan sampah

Yang ditinggalkan peradaban kata-kata

Entah muntahan yang ke berapa

Serapah yang ia rasakan

Di pintu tahun baru

Seorang pengemis kecil mengutip sampah kata

Pada pilu hati yang kuyu, lugu

Entah ngilu yang ke berapa

Sendu memalu

MENYUSURI KOTA KOTA SUNGAI

1.

Menyusuri sungai, ketekketek bersin

Menggeram pada isak gemuruh mesin

riakriaknya menari pada perih segala sedih

rindu muara penawar tubuh segala ringkih

di gemuruh hati yang gaduh ada luka membawa cerita

di sepanjang alirannya ada sesuatu yang belum terbaca

tentang sebuah pemandian putriputri raja yang menari

melintasi perkampungan dan pabrikpabrik yang berdiri

bagai raksasa pada tepiannya, serta sejarah terkubur

yang tersusun sempurna menutupi kubangan lumpur

di bawah kayukayu penyangga dari kidung buaian

ah, apakah dayangdayang tengah menarikan tarian

selamat datang atau sekelebat ibuibu yang tengah mencuci

di depan jamban kayu sepanjang tepian perigi segala sepi

Eit, sepasang camar saling bertatap mesra, di atas sampan

yang melintas pelan. Wajah mereka terlihat kelelahan.

Angin berhembus sangat lamban mengantar ke sebuah kota

yang bernama kenangan setua usia benda-benda purbakala

Sambil meneguk setetes air membawa ingatan tertahan

dari sebuah perjalanan pergi dan kembali sebuah kenangan

sepanjang hari awan merangkak pelan

mengabarkan permulaan salam perjumpaan

2.

Menyusuri sungai, terbayang segala kenang

tongkang menerjang. Berlari kencang garang

Permukaannya membelah memberi jalan Musa

dari kejaran raja Fir'aun yang memendam luka

Pada peta hayalku yang aduh terdaftar ragam cinderamata

Serta hadiah perpisahan upah sebuah pelukan sepanjang kota

Warnanya menggambar sebuah kecemasan juga

rahasia yang belum sempat terpecahkan semesta

laksana kendaraan Musa, lajunya menikam-tikam

terjebak monopoli minyak Fir'aun sepenuh dendam

yang usianya melampaui batas keserakahan

tentang sebuah keimanan dan keyakinan

anak angkat kepada Tuhan yang terpendam nyaman

kerakusan ayah angkat yang ingin melampaui kekuasaan

saat gelombang terbawa pulang. Riaknya yang tenang

begitu meninabobokkan. Di depan terpampang kenang

sebuah kanvas perjalanan yang kita susuri

yang bergoyang kita seolah diajak menari

3.

Menyusuri sungai, pengeruk klutuk pasir menyisir

Laiknya seorang gadis yang menunggu penyair

permukaanya menggelombang sesekali

di tepiannya bocahbocah telanjang menari

Menyusuri sungai, kota-kota seolah menyendiri

Menyusuri sungai, kota-kota seperti sepi

SUARA MENYERUAK DARI DASAR SUNGAI

1.

pada aliran sungai bangkai melintasi bebatu

tak kuharap kau senandungkan debu-debu

pun mungkin ceracau bajaj yang berlari

hiruplah aroma kesumat birahi ini

di hirukpikuk pengendara

atau pengguna jalan raya

2.

disesaki asongan dan gelandang

kau bukanlah pemakaman tanpa kenang

hanya saja kau selalu hembuskan aroma bangkai pada air menggenang

aku haru pada pekat airmu, haru pada senandung lapar zikir terbuang

menarikan sampan sampah bersama goyang riak pelepah

yang menghanyutkan suara-suara dari mulut penuh serapah

3.

dan rauplah cuka

lalulalang aroma

segala pembusukkan

segala pembusukkan

2008

UJUNG PENA SUNGAI TINTA

1.

Sepenuh musim kugali kata dari ujung pena sungai tinta.

Sepanjang musim itu pula kusemai lembar kota,

menusuk--merasuk di rampak tik tak tik tak jarum jam

yang berdetak. Seutuh musim ke musim mewarta dendam

peta sengketa, menceracau bak pemabuk berdiplomasi.

Menguras sumur alkisah dengan segala menu basi,

berakhir suka atau duka. Seluas musim- musim melayarkan

perahu galau, pulau demi pulau, bersama kemudi kecemasan.

Menembus segala musim membebas ruang kuli tinta,

menggali sumur kata-kata pengab rahasia.

dan, di titik penentuan, beragam ujung pena-

musafir, mereguk cinta dari sumur kata-kata.

2.

Setelahnya prosesi sunyi. Kemudian kehadiranmu persis

sekadar kemunculan yang tak beraturan di setiap desis

Menunggumu pun tercipta ritual ujung pena.

sebuah pesta dari segala napas peristiwa

cahaya matahari menghadirkan madu makna

menetes dari mata air jiwa dan para kuli tinta

terus menguras sumur kata pada lembah segala wacana,

menyisir-ranjaunya di setiap titik perhentian langkah pena

Yang tertinggal mungkin tapak-tapak kaki juru bicara,

bertopengkan segala wawancara para dasamuka

Pun lenyapkan segala jejak tapak-tapak para musafir gagak

yang berwajah kuda berbulu serigala. Lesapkan segala gerak

3.

langkah yang mengonak Pada tubuh, peluh mulai terasa

membasuh lesatkan aroma sesak segala muak ke udara.

Lalu orkestra zaman menggumuli musim berkali,

meninabobokkan sepenuh istirah. Lalu sunyi,

lalu sepi, menutup diri. Bibirpun meloncatkan segala

rahasia sumur kata, ladang menggemuruh-hutan belantara

Para pemburu sempat kehilangan panah dan busurnya,

memburu di setiap perhentian kata menggumulinya

untuk kemudian dilahirkan pada cerita

gerbang penghabisan para jagal maupun casanova.

Pada ujung pena kuli tinta menggali sumur kata-kata.

Ada mata air yang terus melimpahkan peristiwa.

4.

Pada limpahan peristiwa, orasi kata menghambur makna.

Sumur kata-kata adalah petanya. Menetapkan warta

Kita pun dapat memahat atau mengukir wajah kita,

mengukur seberapa bersihnya. Di pisau bedah, kata

Juru bicara pun mengukir abadi rasa, membulat harap

pada keyakinan menyimpannya-menumpuk dekap

di etalase kaca bersama sekumpulan perompak yang lupa

membajak, ketika kita membaca rahasia cuaca.

Cermin-cermin retak merupakan sekumpulan arak-arakan

yang melontar, menghunus, menghujat dan meninabobokkan

Yakinku mewarna rindu, bersimpul pena, para kuli tinta

Dengan ujung pena, para kuli tinta menggali sumur kata-kata,

Mewarta segala peristiwa.

Mewarta segala cuaca

2008

DOA SUNGAI KESEPIAN

1.

Di dalam ruang dadaku ada irama degup

yang menarikan jantung dengan irama tertahan.

Mendesah seperti tangkai ranting patah.

Irama itu kadang naik-kadang turun

menembus lorong-lorong di ujung telinga

mengiringi larik terakhir sebelum senandung

yang lesap terbawa angin.

Irama itu berhamburan pada sesak irama

pada degup dada yang menembus lorong

di ujung telinga yang berseberangan. Ada

isak yang mendesak butir embun jatuh

pada lembar waktu dan cucaca.

Lalu suhu udara yang berbeda membawa

irama itu seolah nyanyian nina-bobo yang

akan mengantarkanmu pada alam, alam

yang sulit kau baca.

Dan akhirnya seperti yang telah kau duga

sebelumnya irama itu adalah lagu

dengan irama tembang kenangan

sebagai sebuah salam perpisahan.

2.

Aku tersedak dadaku menafsirkan detak

seluruh irama dari degup yang berbeda

menyatukan irama debar pada tembang

yang hampir tak terbaca

Aku tersedak merindukan lagu sukacita

memenuhi segala rasa bahagia yang pernah

dipenuhi irama dari degup yang tertahan. Dan

aku ingin membisikkan sesuatu, tapi irama

kelumu menghardik harapku,

aku ingin membisikkan ke telingamu, tapi

mulutku begitu kaku.

Aku hilang suara. Aku hilang cahaya.

3.

Tubuhku tak berasa, udara dingin yang kau

kabarkan seperti sekawanan daun

yang gugur ke bumi.

udara dingin itu melahirkan beribu gunung es

di sekujur tubuhku, menutupi rongga pori kulitku

yang pernah mengalirkan ribuan sungai-sungai kecil

tempat para nelayan menebarkan jala untuk menangkap

ikan-ikan kecil yang pernah kau pelihara.

Lalu bongkahan es itu perlahan mencair

Dihancurkan ceracau kemarau yang menghambur

Dari mulutmu. Laut matamu membuncah.

Sungai-sungaimu pecah. Irama lain memainkan

sendiri nadanya dari degup yang lain. Menghantarkan

suara lain ke langit yang lain. Membawa cahaya

yang lain ke negeri yang lain.

Entahlah, aku tak tahu apakah irama yang

lahir dari degupmu adalah doadoa sebagai

penghantar tidur abadiku. Atau doa-doaku

yang menghantarkannya pada degup isak

dari irama kebadian.

M. Raudah Jambak, lahir di Medan, 5 Januari 1972. Saat ini bertugas di beberapa sekolah sebagai staf pengajar Panca Budi, Budi Utomo dan UNIMED. SAAT ini aktif di Komunitas Home Poetry, sebagai Direktur Art. Alamat kontak Taman Budaya Sumatera Utara Jl. Perintis Kemerdekaan no. 33 Medan-Sumatera Utara

1 comment:

safitri andriani nst said...

terimakasih pak, saya sangat bersyukur menemukan blog bapak