CERPEN M. RAUDAH JAMBAK
LELAKI YANG MEMERAM GERAM
“Anton, namamu?!”
“Ya, Pak.”
“Tega kau ya?! Orang yang sudah meninggalpun kau bilang penipu!!”
“Tunggu dulu, Pak. Saya tidak bermaksud….”
“Alah, banyak kali cerita kau…!”
“Tunggu dulu, Pak. Maksud saya…”
“Nggak ada maksud-maksud….!”
Semua terdiam. Terpaku pada posisinya masing-masing. Entah siapa yang akan dibela. Entah siapa pula yang patut dikasihani. Ini persidangan, pikirku.
***
Subuh-subuh aku telah bangun. Suasana hening. Dingin terasa menusuk-tusuk tu-lang. Suara azan dikejauhan pelan-pelan meredam. Jangkrik dan seluruh binantang te-maram hibuk sepanjang kelam. Setelah menyelesaikan tugas ritualku. Aku pun membe-reskan pekerjaan rumah.
Hari ini memang aku harus segera menyelesaikan semuanya, sebelum berangkat. Mulai dari menyapu rumah dengan ukuran yang biasa-biasa saja. Tidak luas memang.
Mencuci pakaian dengan bantuan mesin cuci. Dan membereskan sisa piring-gelas bekas sisa makan tadi malam. Bersebab kelelahan, tak sempat dibereskan.
Jelasnya, siang nanti aku akan mengikuti seminar cerita rakyat. Ini momen terpenting buatku untuk menambah wawasan dan pengetahuan, sebab tokoh yang akan dibicarakan adalah tokoh penting di dunia sastra, terutama komik.
“Pak Anton, ada surat.” Bang Seno, si tukang kantin, menyodorkan amplop biru muda padaku, ketika aku baru sampai, selesai mengajar.
Aku segera meraihnya. Betapa girangnya hatiku. Mulai dari penyelenggara,yang me-nyelenggarakan, maupun pembicara, serta tempat penyelenggaraannya, terkesan sempur na.
Beberapa teman sedikit tersenyum. Aku tidak perlu ambil pusing untuk menerje-mahkan arti senyum mereka.
“Iyalah, orang-orang penting saja yang dapat.” Salah seorang dari mereka nyeletuk, memberatkan senyumnya.
Aku hanya tertawa. Langsung duduk dan bergabung dengan mereka. Biasa pikirku, seniman! Kalau tidak kuat mental bisa mental. Kadang-kadang kita yang seniman jadi senewen. Dan aku sudah terbiasa mendengar kata-kata pedas mereka. Biasanya ada yang lebih parah lagi. Yah, biarlah. Toh, hati mereka tetap baik.
Panjang lebar kami produksi kata-kata. Mulai dari yang mengandung sampah, sam-pai yang mengandung berkah. Tak tentu. Entah kemana arahnya. Sebatang rokok dan segelas kopi semakin terasa menghangatkan suasana.
Maka, subuh-subuh sekali aku bangun.Di luar, masih terasa kelam. Matahari masih terasa bermalas-malasan. Satupersatu deru sepedamotor terdengar beradu. Tubuhku tera-sa bergairah. Entah mengapa, jujur, aku sangat bersemangat. Tanpa sisa kuselesaikan se-
Muanya.
Istriku hanya tersenyum-senyum saja. Dia sudah sangat faham dengan apa yang se-dang kulakukan.
“Sudahlah, Bang. Biar nanti kuselesaikan.”
Aku terdiam.
Acara belum dimulai, ketika aku sampai. Matahari limabelas derajat lagi sampai di atas kepala. Semua tampak ceria. Seolah reuni dari bertahun-tahun tak jumpa. Saling menyodorkan salam dan melempar senyum. Aku lalu berbaur, merapal basa-basi. Sem-purna! Betul, betul sempurna, pikirku.
Lama menapakkan basi-basi sambil berdiri, terasa juga lelah sekujur kaki. Aku pun mendaratkan diri di salah satu kursi. Pilihan yang tepat. Bersebelahan dengan jendela dan berhadapan dengan pintu yang terbuka. Angin yang berhembus sejuk terasa. Sebatang kretek melengkapi suasana.
Orang-orang masih sibuk bertukar informasi, sampai sesorang masuk. Langkahnya pasti. Tatapan mata yang ada di balik kaca mantap. Dihiasi kumis hitam dan tebal mem-buat langkahnya berisi dan tegap, kokoh. Orang-orang berhenti sejenak. Terdiam sambil memberi jalan.
“Bang acara sudah bisa kita mulai?!”
Laki-laki itu mengangguk. Dengan tubuhnya yang sedikit tinggi dan kekar, menam-bah jelas kewibawaannya. Panitiapun sibuk pada posnya masing-masing.
“Pak, acara sudah bisa kita mulai!” seseorang mendatangiku,”sebaiknya Bapak ma-suk.”
Aku mengangguk. Sambil menunjukkan sisa kretek yang kuhisap. Dia mengangguk dan langsung pergi meminta yang lain untuk masuk ke dalam ruangan seminar.
Sambil menikmati sisa kretek, pikiranku mulai bergelayut. Berpuluh pertanyaan ber-loncatan di dahan-dahan pikiranku. Siapa dia? Ah, entahlah. Segera kubuang semuanya jauh-jauh.
Subuh-subuh sekali aku bangun, untuk sampai ke tempat ini. Besar rasanya hati ber-ada di acara seperti ini. Tertib acarapun dibacakan satupersatu oleh pembawa acara. Di-lanjutkan dengan acara kedua pengantar acara.
“Kepada Bapak, dipersilahkan dengan hormat!”
Seseorang berdiri, bergerak maju ke depan pelantang. Aku terkejut. Ah, laki-laki itu lagi. Siapa dia? Pasti orang penting, pikirku. Sial memang, aku tidak mengenalnya. Pada-hal sudah lebih tigapuluhtahun aku tinggal dan berkeluarga di kota ini. Hanya sedikit in-formasi yang akhirnya kuterima. Ooo, ini anak tokoh yang sedang diseminarkan ini. Wah pasti acara ini lebih menarik lagi.
Tajuk acaranya sungguh luar biasa, mengangkat masalah kepahlawanan. Biasa, pi-kirku. Sarat menjadi seorang Pahlawan, biasanya identik dengan pengorbanan jiwa, raga, harta, nyawa, maupun perasaan. Wah! Acara ini semakin menarik sebab acara seperti ini didasari atas keilmuan dan kepakaran. Mengedepankan aspek logika, bukan perasaan.
Pemakalahpun mulai memaparkan analisisnya, setelah pembawa acara menyerahkan pelantang kepada moderator. Aduh! Detak jantungku. Aku tida salah baca atau salah de-ngar, atau aku berada di tempat yang salah?
Tak satupun dari pembicara yang menyinggung masalah kepahlawanan yang menjadi tema seminar. Ada yang sekadar menulis biografi dengan menyinggung sedikit karya ber dasarkan proses kreatif saja. Ada yang sekadar menyinggung persoalan jenis-jenis, sementara yang lain menyampaikan contoh-contoh. Aih, aih.
Aku berusaha mengendalikan perasaan, setelah aku membaca dibagian kesimpulan. Aku harus sebagai pendengar saja, pikirku. Aku hampir lupa membedakan antara seminar dan reuni. Seminar mengedepankan logika dan keilmuan, pikirku. Reuni jelas melepas rindu, menghadirkan subjektifitas, yang terkadang sampai berlebihan. Air mata dipaksa jatuh bercucuran.
Subuh-subuh sekali aku bangun, menyelesaikan tahajud yang lama tak terwujud. Bersambung subuh yang teduh. Aku selesaikan semua pekerjaan, untuk sampai di tempat ini. Seminar tentang tokoh besar yang cukup dikagumi. Hampir lebih dari separuh perca-kapan. Ah, aku belum mendapatkan apa-apa. Aku harus bertanya.
“Kepada Bapak kami persilahkan!”
Aku berdiri. Berjalan menuju pelantang. Pikiranku tidak ada maksud apa-apa kletika itu selain untuk menambah wawasan dan ilmu. Aku bertanya, sedikit panjang lebar me-mang
“Maaf, Bapak ada menuliskan di makalah, terutama dibagian kesimpulan, yang mengatakan karya tokoh kita itu menyimpang jauh dari karya aslinya, di sinilah muncu-lnya ketokohan tokoh kita itu, dst. Yang akan saya tanyakan menyimpang berarti sudah tidak benar, berarti menipu. Apakah tokoh kita ini penipu? Mohon penjelasannya dari Bapak pemakalah.”
Orang-orang di ruangan itu mulai kasak-kusuk. Aku masih tidak memikirkan yang macam-macam, sampai seorang laki-laki yang selalu hadir dalam puluhan tanyaku, berteriak dari duduknya yang paling depan.
“Mana Anton tadi!!” pandangannya kali ini lain. Seolah menerkam. Aku masih tidak berpikir apa-apa. Tanpa prasangka sampai ia mengacungkan telunjuk ke arah tempat dudukku. Masih tidak berpikir apa-apa sampai ia melakukan gerakan menghardik, me-ngacungkan telunjuknya ke arahku.
“Tega Kau, ya!!!”
Subuh benar aku bangun. Istighfarku berkali-kali. Aku lupa kalau acara ini hanya reuni. Istighfarku menjadi setelah salam maafku ditepis berkali-kali, maafku tidak dite-rima.
“Anton, namamu?!”
“Ya, Pak.”
“Tega kau ya?! Orang yang sudah meninggalpun kau bilang penipu!!”
“Tunggu dulu, Pak. Saya tidak bermaksud….”
“Alah, banyak kali cerita kau…!”
“Tunggu dulu, Pak. Maksud saya…”
“Nggak ada maksud-maksud….!”
Semua terdiam. Terpaku pada posisinya masing-masing. Entah siapa yang akan dibela. Entah siapa pula yang patut dikasihani.
Siapa dia, pikirku. Sikapnya yang terpelajar dan berwibawa seperti hilang seketika. Perseteruan seakan meruncing. Ini persidangan, pikirku. Aku kalap. Aku istighfar.
Entahlah, belakangan, akhirnya aku tahu siapa dia. Semua wartawan mengenalnya. Semua sastrawan mungkin mengenalku.Tapi, ternyata kami tidak saling mengenal, ah. Kini berkali-kali aku istighfar, tepat di subuh-subuh sekali yang kali ini.
SENANDUNG SENJA
Oleh : M. Raudah Jambak
Pada resah daun jendela.. Wajahmu bergambar duka.. Sedari pagi matamu menikam. langit Sampai matahari lari bersembunyi. Yang tertinggal hanya senyap. Yang tertinggal hanya gelap. Sekadar hanya menyisakan kenangan. Tertutup debu tertahan. Ada gairah yang tak kunjung nyala, rindu pada sebuah kerinduan yang nyata.
Selalu ada saja yang mengetuk-ketuk daun pintu. Tapi nyatanya hanya angin yang mengelus wajahmu perlahan. Dan malam sekadar meninggalkan rimah-rimah kalam
Dengan setengah butir bulan. Di sebelah rumah, anak tetangga mengaji. Merapal doa sepanjang magrib tiba menyusun isya. Selalu saja ada yang mengetuk-ketuk pintu. Kau-kah itu atau jantungku yang bertalu-talu. Menggemuruhkan irama rindu?
Datuk kembali terkesiap. Irama dadanya berdegap matanya menebar pandang ke undangan. Seorang anak muda sambil menyeruput kopi dan menghisap sebatang rokok telah menggugah raganya. Alunan saluang mulai gagap. Pikirannya menguap.
“Ah, kaukah itu? Atau aku yang terlalu menggunung rindu?”
***
“Mari kita gugat Tuhan!” hentak geraham berdentam dari mulut Gambing yang sedikit sumbing. Malam satu menit lagi mencapai nol- nol-we-i-be. Hadirin yang hadir terhe-nyak pada pikiran yang semakin mengonak
“Sudah saatnya kita menggugat Tuhan!” teriak Gambing sekali lagi dengan kepalan mulut yang semakin meruncing,”Bagaimana Datuk?”
Datuk terkesiap. Dia belum siap mengatur napas. Sepuluh jam yang lalu Gambing meneleponnya dengan tanpa pretensi apa-apa.
Ketika itu ia sedang mengatur rasa di beranda. Sebuah saluang di tangan lengkap dengan baju hitam dan celana galembong.
Senandung laruik sanjo kerap dilantunkannya bersama saluang.
“Kalau tidak ada acara penutup malam saya undang Datuk bertandang ke rumah,” suara Gambing menggebu deru,” sebaskom kerang rebus dan ikan bakar sudah me-nunggu.
Angin menampar-tampar menusuk ke celah-calah pintu. Pikiran Datuk bermain-main di halaman masa lalu, ketika pertama kali menapakkan kaki di Medan.
Kebaradaannya di Medan pun bersebab, ia dianggap manusia tak ber-“Tuhan”, di kampungnya, Tamtaman, orang Tanjung Batang Damar di Minang Kabau, sebuah desa kecil di lereng bukit.
Ia kenangkan kembali peristiwa pemberontakan sarikat sekerja Sawah Lunto di akhir tahun 20-an itu.
Siapa yang tak mengenal? Di kampung itu dia adalah Parewa yang cukup disegani. Senang bergaul dan suka bergurau. Ahli bermain saluang, mahir berdendang, lincah berpencak apalagi berandai, dan jagonya bermain tonel.
Di beranda ini ia lisankan Kaba Magekmanandin, berlanjut dengan si untuang sudah, Malin Deman, Rancak di Labuah dan sebagainya.
“Mungkin ada sedikit renungan budaya!” kobar Gambing lagi sepedih api.
Ah, ia hanyalah seorang Parewa, manusia aneh yang kebiasaannya tidak sama dengan orang-orang disekitarnya. Sejak usia anak-anak dia sudah menguasai berbagai hal petatah-petitih adat, bertutur, berpantun, bersyair. Ia kuasai sejarah Bundo Kanduang, Cindua Mato, maupun Tuanku Nan Renceh yang membawa budaya Timur Tengah lalu diteruskan oleh Haji Rasul, Sheik Arasuli dan Jamil Jambek. Karena keserbatahuannya itu ia menjadi lebih “berani” dalam segala hal termasuk mempertanyakan keberadaan Tuhan.
Orang-orang pun yang selama ini mengaguminya mulai menjauhi, termasuk Sidi Jambak, sahabatnya. Ibarat pepatah di mana ada gula di situ ada semut. Begitulah mereka selalu bersama kemana dan dimana saja.
“Awaklah Tuhan nansabananyo!” ujar Datuk sehabis melantunkan si untuang sudah. Duduk bersila dengan Galembongnya yang kedodoran di depan Sidi Jambak.
“Di mana Tuhan ketika kita membutuhkan?” ujar Datuk melanjutkan,” Kata-Nya Ia Maha Pengasih dan Penyayang. Ayo, Sidi, kecek-an di ma Tuhan?”
Sidi Jambak hanya terdiam. Ia menyibuki dirinya dengan melinting rokok daun, di tempat mereka terduduk melepas gundah. Sebuah balai-balai beralaskan tikar pandan. Kemudian menghidupkan rokok daun dengan sebatang korek api, kemudian menghisap-nya dalam-dalam. Wajahnya mengabut dengan kening berkerut. Biji matanya-pun ikut mengerucut.
“Katanya Tuhan telah mengutus manusia sebagai perwakilan dirinya di dunia. Ah, densangko kitokolah Tuhan itu nan sabana-bananyo!”
Hari semakin melarut. Saluang Datuk mulai ditingkahi irama jangkrik dan juga acapella katak. Angin hanya bersiul perlahan mengiringi tarian pepohonan. Rancak dilabuah-pun terasa menggugah.
“Kenapa diam, Sidi? Padahal diammu itu tidak benar sama sekali…” ujar Datuk mengutip baris kalimat sebuah naskah drama.
Sidi Jambak menarik rokoknya dalam-dalam. Matanya yang tajam memandang dalam ke pusaran mata Datuk.Tersenyum sebentar. Ia lanjutkan baris kalimat Datuk.
“Adenko bisanya marah ka sia? Setiap manusia selalu memelihara kebinatangan pada dirinya masing-masing. Selalu saja kita sesalkan Tuhan dalam setiap kekalahan kita. Kita salahkan Tuhan dalam setiap kelemahan kita. Kita pojokkan Tuhan, disetiap kebodohan kita. Ah, aku bisanya marah sama siapa?”
Datuk terdiam. Dia hentikan senandung Malin Deman. Ada rasa enggan dalam anggukan.
“Selalu saja kita menanyakan dimana Tuhan disetiap kegagalan, tapi selalu juga kita melupakan Tuhan disetiap keberhasilan kita,” urai Sidi Jambak melanjutkan,” Terlalu tinggi bahasan kita menanyakan keberadaan Tuhan. Itu urusan iman dan keyakinan jangan dicampur adukkan. Datuk percaya bagus. Datuk tidak percaya itu juga hak Datuk. Tapi jangan ajak orang lain, jangan pengaruhi orang lain, jangan himpun orang lain untuk mengikuti jejak Datuk!”
“Ya, tetapi Tuhan itu terlalu sombong!”
“Wajar! Dan itu memang sudah pantas,” ujar Sidi securam tebing, “ Anak cantik wajar sombong karena cantik, orang kaya masih pantas sombong bersebab kaya, apalagi Sang pencipta bumi wajar sombong sebab Ia telah menciptakan alam semesta beserta isinya. Termasuk kita dari setetes air hina.”
“Aku menolak!”
“Aku tidak melarang!”
“Mana bukti kalau memang Tuhan itu ada!”
Sidi Jambak hanya menarik naps. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Dalam hati sebenarnya ia sangat mengagumi kepintaran sahabatnya ini. Tidak hanya seni dan budaya, tetapi sahabatnya ini juga menguasai tafsir dan hadits. Juga filsafat. Tetapi ketinggian pemikiran menyebabkan ia lupa pada hakikat yang paling dasar.
“Datuk melihat Tuhan dengan apa?”
“Dengan mata tentu juga pikiran. Dan sampai sekarang aku tidak pernah melihatnya setitik pun!”
“Kalau begitu coba jelaskan dengan rinci, dengan, hati apakah Datuk pernah melihat mata, lubang hidung, telinga atau mungkin isi kepala Datuk dengan mata sendiri. Jangan-jangan awak tak memiliki semua itu, jika tidak melihat dengan alat Bantu. Atau jelaskan padaku, bagaimana bentuk lubang kotoranmu sendiri!”
Datuk terdiam. Sidi Jambak berdiri. Ia perlahan pergi. Ketika pagi mulai mengintip hari. Sejak itu Datuk tak jua menjaring sua. Kabar terakhir ia dengar Sidi Jambak merajut dakwah ke daerah-daerah. Lalu membangun jamaah di Medan. Sedangkan Datuk gerilya dengan nuansa pikirannya. Ia sulam kekuatan dengan pemikiran bersama referensi yang tajam, sampai terdampar di Medan.
Selama di Medan Datuk menjadi penarik becak sekadar berbagi kalam. Hingga suatu ketika akhirnya berjumpa dengan Gambing yang punya cita-cita masih berbanding.
“Mari kita gugat Tuhan” hentak geraham berdentam dari mulut Gambing yang sedikit sumbing,” Sudah satnya kita menggugat, Tuhan!”
Datuk terkesiap. Ia alunkan saluang. Senandung laruik sanjo terlantun kembali. Kali ini lebih menyayat mengiris hati.
Malam hampir mencapai titik nol we-i-be ketika salah seorang undangan menjawab dengan sangat biasa diwarnai aura memesona.
“Jelaskan dulu padaku bentuk lubang kotoranmu, sebelum kita menggugat Tuhan!”
Datuk kembali terkesiap. Irama dadanya berdegap matanya menebar pandang ke undangan. Seorang anak muda sambil menyeruput kopi dan menghisap sebatang rokok telah menggugah raganya. Alunan saluang mulai gagap. Pikirannya menguap.
Dalam pikiran yang gersang. Pepohonan apa yang hendak ditanam. Tak ada bunga. Apalagi buah. Bertebar bibit di bulan sabit. Bertabur harap dalam makrifat. Jerit hati yang sakit. Berharap menjaring semangat. Wahai, apakah Tuhan ada dalam ada dan tiada?
Bayangan Sidi Jambak melintas-pintas. Dengan lintingan tasbihnyanya, di tempat mereka biasa terduduk melepas gundah. Sebuah balai-balai beralaskan tikar pandan. Me-rapalkan zikir, lalu mengurai do’a-do’a. Wajahnya membening dengan dahi semakin bersih. Bola matanya-pun kini seperti membiaskan cahaya.
“Ah, kaukah itu? Atau aku yang terlalu menggunung rindu?”
Medan,07-11
RIWAYAT AMBANG FAJAR
OLEH : M. RAUDAH JAMBAK
Subuh baru saja jatuh. Senandung ayat suci mengaduk-aduk malasku. Suara azan setelah itu, membimbing aku mengambil wudhu,. Setelah itu, aku bersiap-siap ke Masjid. Biasanya, aku masih sempat melaksanakan tahajjud. Tapi, entah mengapa lelahku menghipnotis nyalang mataku. Aku hanya bisa bersyukur masih sempat menunaikan subuh. Biasanya istri dan anakku turut serta, tapi kali ini tidak. Dia sedang marah.
“Papa telah mempermalukan aku, dengan menolak penjualan rumah yang sudah kusetujui. Juga orang-orang di Gang ini. Brengsek!”
“Papa bukannya menentang, tapi kepentingannya apa?”
“Ah, sudahlah tak perlu beralasan. Aku pergi. Anak-anak kubawa ke rumah Ibu!”
Ah, isteriku. Aku hanya berdo’a semoga Allah menyadarkan segala kekeliruannya. Dia tidak sadar, kalau dia sudah diperalat. Ah, semoga ada hikmah yang dapat diambil, pikirku.
Segera kulangkahkan kaki. Biasanya di Masjid tak banyak orang. Kalau tidak Pak Abu, si nazir Masjid yang sudah renta itu. Paling juga Amin, anak yatim yang diizinkan menempati sebuah ruangan Mesjid, sebagai tempat tinggal sementara.
Gelap masih terasa. Dingin menusuk tulang. Kulangkahkan kaki setapak demi setapak. Listrik satu setengah jam yang lalu mengulah. Lampu jalan hanya satu yang menyala, tepat tiga rumah dari rumahku. Gang kami masih begitu sepi. Orang-orang mungkin sedang menggelar sajadah di rumahnya masing-masing. Sebab, rumah-rumah masih terlihat menutup diri. Hanya aku sendiri terlihat di gang ini.
Gang kami bernama gang baru. Aku sendiri heran, mengapa disebut dengan nama seperti itu. Padahal menurutku tidak pantas disebut begitu. Sepanjang jalan aku hanya menemukan jalan yang becek dan berlumpur yang tidak surut dari sisa-sisa hujan.
Gang ini pun panjangnya tidak lebih dari lima ratus meter. Hanya dihuni tidak lebih dari sepuluh rumah yang saling merapat. Istimewanya, gang ini tembus ke sebuah perumahan elit. Tepat di depan maupun di belakang gang. Serta sebuah Masjid tua yang hampir dirubuhkan karena dianggap mengganggu areal perumahan. Syukurnya niat merubuhkan Masjid itu tidak kesampaian sampai sekarang, sebab masyarakat yang tinggal di gang itu mempertahankannya dengan ancaman akan merusuhi kompleks yang didirikan di dekat gang mereka.
”Assalamu`alaikum, Bang.”
Aku terkejut lamunanku buyar. Seorang lelaki melintas dengan cepat. Lelaki itu berpakaian hitam, kepalanyapun dibungkus kain hitam yang diikat. Aku tak sempat mengamatinya dengan seksama, sebab secepat itu pula tubuhnya ditelan temaram di tikungan gang.
Belum sempat tuntas keherananku, sebuah suara terdengar berteriak. Di ujung gang belakang. Beberapa orang terlihat menuju arah lelaki yang baru saja melintasiku.
”Maaf, Bang., Orang yang melintas dari gang ini berbelok ke arah mana?”
Aku terpaku, hanya tanganku saja yang bergerak menuju arah kiri tempat lelaki itu berbelok. Udara semakin menusuk tulang. Bersamaan hembusan angin orang-orang itu telah menghilang menuju kelokan.
Ah, entah apa yang terjadi aku tidak tahu pasti. Segera saja aku menuju ke Masjid tanpa menoleh ke mana-mana lagi. Di Masjid, seperti biasa Pak Abu, Aku dan Amin melaksanakan subuh dengan suasana yang aduh.
*****
”Permisi, Pak, Assalamu`alaikum.”
Seorang perempuan tua, menggendong bayi dalam pengkuannya, bediri di depan pagar rumahku. Aku memperhatikannya dengan seksama dari tirai jendela. Dengan mengenakan penutup kepala yang diikat seadanya dan warna yang sangat buram. Begitu pula dengan baju dan rok yang dikenakannya. Beralaskan sendal jepit dan wajah yang memelas, perempuan tua itu memanggil-manggil. Di gendongannya, bayi itu menangis-nangis. Perih.
”Pak, Bu, Assalamu`alaikum.”
Ini sudah kesepuluh kali untuk hari ini. Ada yang menjual buku-buku agama. Ada yang minta sumbangan. Ada yang kehabisan ongkos hendak pulang ke kampung. Ada yang mengaku belum makan lima hari. Ada yang mengatasnamakan keamanan. Ada yang, ah, banyak lagi. Semuanya kuberikan dengan seikhlas hati. Mungkin melalui aku, rezeki mereka di titipkan Allah, pikirku. Segera kubukakan pintu.
”Pak, Assalamu`alaikum. Kasihan...”perempuan tua itu lebih terisak dari sebelumnya, ”Anak saya sakit, Pak. Ingin ke dokter uangnya kurang.”
”Kurang berapa, Nek. Eh, Bu ?”
”Klinik bilang tiga ratus lagi, tapi terserah Bapak mau kasih saya berapa saja.”
Ah, pikirku. Kalau dengan logika, maka banyak sekali hal-hal yang tidak logika yang kurasakan saat ini. Tapi, Allah selalu hadir dalam hal yang tidak hanya logika tapi juga dengan hal-hal diluar logika berpikir kita juga. Sedahlah. Bagiku ikhlas saja. Rezeki hanya Allah yang mengaturnya. Terlalu banyak perhitungan bisa-bisa jadi kikir. Segera kurogoh sejumlah uang dari sakuku. Jumlahnya pun aku tidak tahu berapa. Lalu kuserahkan kepada perempuan tua itu.
”Nih, Bu. Sekedarnya saja. Maaf.”
Entahlah, sejak isteriku dengan si kecil yang masih berusia lima tahun ke rumah mertuaku sejak seminggu yang lalu, selalu saja rumahku di datangi orang yang tidak dikenal. Melintas begitu saja di sepanjang gang kami.
”Om !” teriak seorang gadis kecil, tetangga sebelah rumah kami, ”Nenek itu sudah pergi ya?”
“Iya. Ada apa rupanya, Susi ?”
“Iya, Om. Semalam nenek itu datang ke rumah Susi.”
“Oh iya?”
“Katanya semalam dia nggak punya ongkos pulang ke Stabat.”
“Terus dikasih?”
“Nggak, Om. Kata mamak, itu penipu,” Lalu dia berteriak, “Om kasih nenek itu?”
Aku menganguk. Gadis kecil itu ternganga, dengan perasaan kecewa dia lalu masuk ke dalam rumah.
Akupun segera masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang entah. Berbagai peristiwa begitu saja hilir mudik. Ah, ya waktu zuhur telah tiba, tapi azan belum berkumandang. Belum sempat aku menyelesaikan wudhu, sayup-sayup kudengar orang-orang berteriak dan tidak berapa lama setelahnya terdengar ledakan.
Dhuaaar !
“Kebakaran! Kebakaran! Kebakaran! Selamatkan anak-anak dan keluarga. Ayo. Cepat!”
Aku tersentak. Suara itu jelas terdengar dari arah Masjid. Orang-orang menyahut berteriak-teriak. Suasana panik memenuhi gang kami.
”Om! Om! Cepat! Apinya mulai membakar rumah Om!”
Suara itu. Ah, bukan hanya suara Susi. Aku segera keluar dari kamar anakku. Terlambat. Asap sudah memenuhi ruangan. Aku terjebak. Pandanganku mengabur, asap terhirup. Aku terjatuh. Tidak bisa bergerak. Seseorang sepertinya menyeretku. Ah, nenek..
Bayanganku, perempuan tua itu meraihku. Menjauhkan aku dari api yang mulai menjilati dapur rumahku. Kurasakan tenaganya begitu kuat. Bayinya masih dalam gendongan. Begitu nyaman.
Betapa peristiwa demi peristiwa mengalir dalam gang pikiranku. Jelas terlintas. Lelaki tak dikenal dikejar kelompok orang juga tidak dikenal. Masjid yang selalu senyap dalam setiap gelaran shalat. Para peminta-minta yang datangnya entah dari mana. Sampai istriku yang pergi ke rumah mertuaku membawa anak kami.
Persoalannya sebenarnya sangat sederhana, aku tidak setuju istriku menjual rumah kami tanpa persetujuanku. Nah, ketika si pembeli datang membawa sejumlah uang yang sudah disepakati dengan isteriku, aku menolak. Mungkin karena malu atau apa, aku tidak tahu pasti. Jelasnya rumah itu tidak jadi di jual.
Belakangan, ternyata tidak hanya aku yang menolak menjual rumah. Rumah-rumah di sepanjang gang kami juga menolak. Aku menolak, alasannya sangat jelas. Rumah itu adalah satu-satunya warisan orangtuaku untukku, anaknya satu-satunya. Kurasa penolakan yang kulakukan sangat wajar dan beralasan.
”Om, Bangun!”
Ah, itu suara Susi. Suaranya sangat jelas terdengar di telingaku. Kali ini suaranya serak bercampur tangis. Perlahan mataku kubuka. Sudah malam. Aku tersentak, teringat belum salat.
”Om, Bangun !”
”Susi ? Ada apa ?” belum sempat ia menjawab, air matanya sudah berderai. Aku pun terkejut setelah melihat sepanjang gang kami, “Masyaallah. Rumah-rumah kita ? Ibumu ? Ayahmu ?”
Gang kami rata. Tidak hanya kehilangan harta juga nyawa. Beberapa orang tidak berhasil diselamatkan, termasuk ayah dan ibu Susi. Sedangkan aku mereka temukan sedang tertelungkup di atas sajadah. Orang-orang hanya bisa menangis pasrah. Susi telah tertidur lelah menahan isak di pahaku.
Betul-betul tidak ada lagi yang tersisa. Selain suara sirene dan blitz lampu kamera, serta orang-orang kompleks yang ingin menyaksikan kebakaran dari dekat. Di Masjid pengumuman orang-orang yang nyawa tidak terselamatkan.
”Maaf, Pak.” seseorang yang pernah aku kenal bertanya. ”Bapak rumahnya yang ikut terbakar?”
Aku mengangguk
”Eh, begini, Pak. Kami bermaksud mendata warga yang rumahnya ikut terbakar. Maaf, Pak. Jangan tersinggung. Besok Bapak bisa datng ke kantor Kepala Desa. Pukul sepuluh. Di sana kami akan memberikan sumbangan ala kadarnya kepada warga yang ikut terkena musibah. Ya, kami hanya bisa membantu ala kadarnya saja.” Aku terdiam, lelaki itu segera beranjak. “Oh,ya, Pak. Nama Bapak Abdullah kan ? jangan lupa besok bawa juga KTP dan Kartu Keluarga serta surat keterangan dari kepolisian semacam SKBB-lah. Ah, hanya formalitas, kok. Mencegah adanya penipuan dari oknum yang tidak bertangung jawab. Sudah ya, Pak.”
“Astagfirullah. Ah, orang itukan. Duh, istriku.”
Subuh baru saja jatuh. Senandung ayat suci terlantun dari mulut Susi. Sebentar lagi aku akan menyuarakan azan, setelah puas menunaikan tahajjud. Do`a ku hanya satu ketika itu. Alhamdulillah, ya Allah, masih engkau berikan kesempatan padaku mengagungkan nama-Mu. Amin.
Medan,07-11
Cerpen M.Raudah Jambak
PERSETERUAN
Di ruas ranting perjalanan semut semut beriringan. Hari sekuning cahaya. Embun yang terus menerus menitik tadi pagi, sudah lama mengering. Melahirkan debu. Di antara semut yang beriringan, seekor di antaranya, terpeleset jatuh. Tepat di atas daun yang berlayar bersama air mengalir. Arusnya sangat perlahan, seperti seekor ulat yang merayap di patahan-patahan ranting. Ini Ramadhan yang ke sekian.
Lelaki itu tercenung. Tatapan matanya menahun. Tak lepas memandang ranting, daun, semut, ulat, maupun aliran air yang mengalir. Hari masih sekuning cahaya. Pada dahi lelaki itu telah tercatat baris-baris beban. Begitu buram.
Pikirannya kembali terbang di pinggir ranjang. Perempuan itu, istrinya, menangis tersedu-sedu. Lelaki itu seperti kehilangan kata. Tak mampu harus berbuat apa.
“Pokoknya, aku mau pisah. Aku minta cerai. Titik!”
Lelaki itu diam. Hatinya semakin kelam.
“Kalau Abang tidak mau, jangan salahkan kalau nanti rumah ini penuh dengan nisan.”
Lelaki itu hanya terduduk di pinggir ranjang. Bibirnya masih tetap terkatup. Perlahan tangan sebelah kirinya membuka laci yang terletak tidak jauh di dekatnya. Mengambil sebatang rokok, membakarnya, lalu menghisapnya dalam-dalam.
Tatapan matanya memaku di dinding. Pada sebuah poto perkawinan yang tergantung. Ada kebahagiaan yang tergurat jelas di sana. Bingkainya yang keemasan itu, menambah lengkapnya kebahagiaan kedua tokoh yang tergambar abadi di sana.
Lelaki itu masih terdiam. Hanya tatapan matanya yang menyebar ke setiap sisi dan sudut ruangan kamar. Dia masih ingat, betapa kamar ini telah menjadi saksi yang paling layak dipercaya. Demi mengingat itu hatinya memanas.
Demi Perempuan itu segalanya rela ia korbankan. Tetapi apa yang ia dapatkan. Lacur dasar lacur. Perempuan yang paling dicintai melebihi segalanya itu, telah meng-hancurkannya begitu rupa.
“Aku hamil, Bang.” Perempuan itu memeluknya penuh gembira. Lelaki itu melepaskan pelukan itu dengan tiba-tiba.
“Kenapa, Bang?” mata Perempuan itu mulai berkaca. Kebahagiaan yang paling diimpikannya seolah raib begitu saja. ”Apa ada yang salah?”
“Abang tidak bahagia dengan kehadiran anak kita?’ Perempuan itu mengguncang tubuh lelaki itu. “Atau Abang berpikir yang tidak-tidak tentang aku?”
Lelaki itu hanya diam. Ada beban yang tak sanggup ia ucapkan. Ada kata-kata yang terbelah menjadi serpihan-serpihan tak berbentuk. Sejak itu ia lebih memilih mengakrabkan diri dengan sebatang pohon jarak yang tumbuh tepat di pinggir parit di belakang rumahnya. Berdialog dengan kesunyian. Bercengkrama dengan kesepian. Hatinya kosong begitu kosong.
Berhari-hari, bahkan sudah melewati bulan ke delapan, ia selalu seperti itu, jika tidak ada kesibukan lain yang memaksanya untuk berburu dengan waktu. Lalu teriakan, jeritan, tangisan perempuan itu selalu membakar segala ketidak berdayaannya.
“Ayo kita ke dokter, periksa DNA,” ujar perempuan itu terbata.
Lelaki itu masih juga terdiam.
“Aku tidak akan pernah memeriksa kandungan ini,” air matanya menderas,” jika Abang tidak mau ikut memeriksakan diri juga!”
Plak! Kata-kata itu seperti menamparnya bertubi-tubi. Tapi ia juga tidak mau bicara. Rasa malu, marah dan kecewa berganti-ganti.
“Abang tidak bisa selamanya terus begini,” ujar perempuan itu sambil menyeka air mata,”Diam tidak akan pernah menyelesaikan segalanya!”
Lelaki itu masih terdiam.
“Bicara!” Perempuan itu berteriak sekuat-kuatnya,”Bicara!”
Perempuan itu terus menceracau. Berteriak. Menjerit. Berlari ke sana kemari. Ia terus dan terus menjambak-jambak rambutnya. Menangis sejadi-jadinya.
“Jika kehamilan ini yang menjadi persoalan, maka aku akan menggugurkannya. Walau usia kandunganku ini sudah masuk bulan kelahiran. Atau kita sebaiknya berce-rai!” Perempuan itu terus berteriak,”Pengecut! Banci! Kita cerai! Dengar! Aku mintai cerai!”
“Diam!”
Lelaki itu mengerang. Gundahnya meledak. Rokok yang sedari tadi bergantung di sela-sela jarinya, terloncat begitu saja. Nyaris mengenai perempuan itu. Perempuan itu meradang.
“Aku minta cerai! Titik!”
“Diam! Kalau aku bilang diam, diam!”
“Aku tidak akan pernah diam, jika Abang tidak jelaskan kepadaku tentang sikap Abang selama ini. Kebencian Abang yang begitu tiba-tiba kepadaku, terutama kepada calon anak kita. Dan Aku tidak akan pernah diam, kecuali Abang menceraikan aku. Aku minta cerai!”
“Aku benci padamu! Aku benci pada anak yang di kandungamu! Aku benci diri ku sendiri!”
“Kenapa? Apanya yang salah?” desak perempuan itu,”seharusnya Abang bangga. Bangga dengan kehadiran anak kita. Anakmu, Bang!.”
“Itu bukan anakku. Dengar itu bukan anakku!”
“Jadi, secara tidak langsung aku melakukannya dengan orang lain. Abang pikir, aku telah berzinah, aku selingkuh?!”
“Pokoknya anak itu bukan anakku. Titik!”
Lelaki itu lalu pergi begitu saja. Jiwanya mengerang. Dia pergi dengan berjuta kekalahan, meninggalkan perempuan itu. Perempuan yang ditumpuk-tumpuk amuk.
Di ruas ranting perjalanan semut semut beriringan. Hari sekuning cahaya. Embun yang terus menerus menitik tadi pagi, sudah lama mengering. Melahirkan debu. Di antara semut yang beriringan, seekor di antaranya, terpeleset jatuh. Tepat di atas daun yang berlayar bersama air mengalir. Arusnya kadang deras, kadang sangat perlahan, seperti seekor ulat yang merayap di patahan-patahan ranting.
Angin berhembus di sela-sela daun. Melintas begitu saja. Hari semakin beranjak jingga. Sayup dari kejauhan suara seseorang mengundang cemas.
“Kakak pingsan, Bang. Cepat. Operasinya lagi berjalan!”
Secepat angin, begitulah ia terbang. Menembus segala kegelisahan. Rasa malunya menjalar. Betapa tidak, sudah lama ia ingin mengatakan bahwa ia sudah tidak mampu memberikan keturunan kepada istrinya. Batinnya terus berontak. Rasa senang memiliki anak sudah dibuangnya jauh-jauh. Tetapi sekarang istrinya hamil? Istrinya tengah diope-rasi. Istrinya, ah. Dan istrinya tidak pernah sekalipun berkonsultasi ke dokter ahli kan-dungan. Dia pun ada rasa takut yang bukan kepalang, jika ketahuan. Secepat angin, begitulah ia datang. Menyambut dokter yang keluar dari ruang operasi seperti takut dan senang.
“Selamat!”
“Terimakasih, Dok. Apa anaknya, Dok. Sehatkan, Dok?”
“Anak siapa?” dahi dokter berkerut. Ia lantas tersenyum,”Ooo, bukan. Istri Bapak tidak mengandung. Istri Bapak terkena tumor. Dan kami berhasil mengangkatnya. Seka-rang sedang beristirahat.”
“Tapi katanya…hamil?”
Secepat arus air mengalir, begitu ia tergelincir. Secepat datang, secepat itu pula ia pergi. Senang dan benci begitu saja hadir silih berganti. Dan ini memang ramadhan ke sekian.
Medan, 06-11
Cerpen M. Raudah Jambak
KETIKA BEL ISTIRAHAT
Bel istirahat berbunyi. Siswa-siswa SMA Dalihan berhamburan. Sebagian bergegas menyerbu kantin, selebihnya mencari posisi sendiri-sendiri. Aku hanya terpaku di depan ruang kelas. Memandang tepat lurus ke depan, ke arah lintasan rela kereta. Di sisi kiri dan kanan rumah-rumah penduduk, merunduk.
Dari lantai tiga sekolah kami, pandangan memang terasa lepas. Aku selalu menikmati pemandangan yang unik ini pada setiap bel-bel istirahat. Orang-orang yang melewati lin-tasan. Orang-orang yang menjemur pakaian. Dan orang-orang yang selalu menyulam ke-sibukan dengan beragam kegiatan.
”Gerrrrejekjekjek.........”
Dari kejauhan suara kereta api perlahan meninggi. Persimpangan tergesa. Bunyi per-tanda pun mengudara. Palang kereta perlahan merebah. Berpuluh mata nyala. Pikiran pun meraba. Ah, suasana mulai terdengar gaduh. Klakson pun beradu suara.
”Gerrrrejekjekjek........”
Suara kereta semakin menyayat. Melintasi kornea mata. Di lantai tiga, siswa-siswa memeram cengkrama. Sebelum berebut masuk kelas, mereka sempatkan mengunyah laju kereta. Pemandangan yang seram, namun memesona.
”Pak!” seseorang datang menyapa. Aku tersenyum, mengangguk. Selebihnya hanya diam.
Seorang anak laki-laki, mungkin murid baru. Aku baru kali ini melihatnya. Tapi beberapa murid yang lain seperti sudah sangat mengenalnya. Beberapa diantaranya me nyapa. Dia pun hanya tersenyum sekadarnya. Rambut cepaknya, terlihat menambah kegagahannya sebagai siswa yang mampu merengkuh perempuan mana saja.
Sejak pertemuan itu, aku mulai mengajaknya bicara di sela-sela jam menunggu laju kereta. Ada kisah pahit yang cukup menyayat kemanusiaan. Ah, entahlah. Apakah hidup yang kurang bersahabat, atau manusia yang bangga memelihara segala khianat.
***
Dan siang ini, setelah usai sekolah, aku menyempatkan diri singgah menikmati segelas kopi dari warung kopi yang tidak begitu jauh dari lintasan kereta. Di sini, aku lebih lelu-asa menikmati laju kereta dengan segelas kopi dan beberapa potong ubi.
”Mau minum apa, PakWin?” lelaki penjaga warung menegurku.
”Seperti biasa, Bang?” Aku tersenyum.
Lelaki itu berangsur pergi setelah bertanya. Aku menunggu. Di sekitarku beberapa abang becak menikmati kopi sambil menggelar canda. Hal itu dilakukan setelah meng-antar-jemput penumpang.
”Wah, ternyata jadi tukang becak itu enak. Kita tidak terkena program rasionalisasi sama sekali” seorang tukang becak bertubuh gendut, hitam, berujar.
”Lho, kowe kok ngerti? Apa itu yang kamu sebut? Program rasianalisasi? Apaan tuh!” seorang tukang becak yang duduk di sebelahnya, bertubuh kurus, menimpali. Aku Cuma bisa senyum mendengar pembicaraan mereka yang menjurus serius.
”Memang pemerintahan kita yang sudah rusak. Pejabat-pejabat sekarang tidak ada yang beres! Semuanya otak udang! Dari segala sudut dan lapisan sudah digrogoti dengan persoalan-persoalan yang begitulah....” arah sudut, dua orang tukang becak juga sedang berdebat.
”Betul kata kau itu. Dewan Perwakilan Rakyat pun sudah diisi oleh para mantan. Mantan tukang becak, mantan preman, mantan provokator, mantan macam-macamlah! Kadang aku kasihan sama anak-anak sekolah itu, tiap hari belajar yang kata gurunya demi masa depan. Ternyata, masa depan anak-anak sekolah itu diisi para mantan!” tukang becak sebelahnya menyambung pembicaraan.
”Eh, pandai juga kau ngomong, Din!” tukang kopi ikut bicara sambil mempersiapkan minuman.
”Ah, jangan sepele kau, Bang. Begini-begini, aku pernah masuk organisasi pemuda. Sekarang tidak mau aku teruskan. Kalau mau aku mungkin duduk jadi anggota dewan seperti kawan-kawan aku satu organisasi dulu.”
”Kenapa nggak kau teruskan?’ si gendut ikut bicara.
”Malas aku. Nuraniku tersentuh. Aku merasa terhina. Coba kau pikir, Bang. Aku makan uang rakyat, tapi aku tidak pernah memperjuangkan uang nasib rakyat. Macam mana menurut kalian? Gawatkan?”
”Wah, ini orang keblinger banget. Kamu nggak usah mikirin nasib rakyat. Nasib sendiri aja udah empot-empotan gitu kok, malah mau mikirin nasib wong cilik? Ya,sudah Jangan kebanyakan ngimpi.”
”Huss ngomongnya dipelankan, lihat tuh...” tukang kopi memberi kode. Suasana tiba-tiba hening. Semua mata tertuju hati-hati ke arah seberang. Seorang laki-laki muda berpangkas cepak duduk di atas sebuah batu besar di pinggir jalan, memandang ke arah rel.
”Sudah dua minggu dia duduk di situ. Satu jam-anlah, setelah itu pergi. Aku sudah sering bilang sama kalian, jangan sekali-kali bicara politik, pemerintahan atau apa saja yang menyinggung kebijaksanaan pemerintah. Kalian lihat orang itu sedang mengamati tempat ini!”
”Tapi dia cuma melihat ke arah rel!”
”Eh, pelan-palan kau ngomong itu strategi pengintaian. Kadang-kadang dia sering memakai seragam SMA,” beberapa orang memperhatikanku pelan-pelan,”Eh, kalau dia lain. Aku kenal dia. Langganan tetapku sejak dua tahun yang lalu. Dia guru di sekolah itu. Mengajar kelas tiga.”
Aku mengnangguk pelan. Perasaanku tiba-tiba tegang. Tukang kopi masih tetap ber bisik-bisik dengan tukang-tukang becak langganannya. Mata mereka sesekali mencuri pandang ke arah lelaki muda yang berpangkas cepak itu.
”Tapi kok sedih kali mukanya kutengok!”
”Eh, ini anak masih nggak ngerti. Itu namanya strategi pengintaian. Biar orang yang sedang diintai tidak curiga. Gitu. Macam di tivi-tivi itulah.”
Mataku tertuju agak serius ke arah laki-laki muda itu. Aku terperanjat. Aku mengenal nya. Kulihat wajahnya memang sedang murung. Dia seperti punya beban berat dan aku hanya bisa menduga-duga. Aku hanya merasa dia sama denganku punya kebiasaan menikmati laju kereta yang melintas, pintas.
”Mungkin orang seteres itu!”
”Alah, hati-hati. Pelan-pelan kau bicara. Kalau dia dengar, bisa gawat.”
”Takut kali lah kau, Bang. Tak tahunya dia itu.”
”Sudahlah. Pokoknya pelan-pelan aja cakapnya. Kalau laju kereta sudah lewat baru boleh kalian becakap. Sekuat apapun tak kularang.”
”Kenapa,Bang?”
”Itu tekab woi. Ada kode-kode tertentu yang tidak bisa kita pahammi. Sssst....”
Semua berbicara pelan. Sesekali mata mereka juga mencuri pandang ke arah laki-laki muda itu. Tidak berapa lama kemudian suara laju kereta mulai terdengar dikejauhan. Aku berdiri, laki-laki itu berdiri. Kereta api melaju. Aku berjalan, pelan. Tapi aku kehilangan bayangan.
Jam di tanganku menunjukkan pukul 14.30 WIB. Aku berjalan pelan menuju tempat lelaki itu duduk sebelum pergi. Tidak ada yang kudapatkan selain coretan di balok kayu lintasan kereta. Pembuat saluran air mengalirkan air, tukang panah meluruskan anak pa-nah, tukang kayu melengkungkan kayu, orang bijaksana mengendalikan pikirannya.
Aku hanya terpaku. Tidak paham dengan maksud tulisan itu, sampai aku mening-galkan tempat itu.
***
Bel istirahat berbunyi. Siswa-siswa SMA Dalihan berhamburan. Sebagian bergegas menyerbu kantin, selebihnya mencari posisi sendiri-sendiri. Aku hanya terpaku di depan ruang kelas. Memandang tepat lurus ke depan, ke arah lintasan rela kereta. Di sisi kiri dan kanan rumah-rumah penduduk, merunduk.
Dari lantai tiga sekolah kami, pandangan memang terasa lepas. Aku selalu menikmati pemandangan yang unik ini pada setiap bel-bel istirahat. Orang-orang yang melewati lin-tasan. Orang-orang yang menjemur pakaian. Dan orang-orang yang selalu menyulam ke-sibukan dengan beragam kegiatan.
”Woi, tengoktu! Ngapain si Agung duduk di situ,” seorang siswa berteriak,”pantaslah dia nggak masuk tadi. Rupanya dia cabut.!”
”Steres dia itu. Sebentar lagi mau dipecat,” sahut yang lain.
”Dia kan anak baru. Kok cepat kali dipecat?”
”Apalagi, ketauan gelek lah macam nggak ngerti aja .”
Aku terkesiap. Sungguh yang satu itu aku tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa ibunya kawin lagi. Dia tidak setuju. Apalagi lelaki yang menjadi ayah barunya lebih pantas dipanggil dengan kakek daripada ayah. Apalagi dia anak satu-satunya. Dan diapun me-ngatakan, selau pergi ke diskotik untuk membuang segala muaknya. Selebihnya dia lebih senang menunggu laju kereta yang melintas. Bebannya seakan ikut lepas tergilas. Selan-jutnya dia sudah merasa sangat puas. Bebas.
Dari kejauhan, aku melihat sebuah minibus daihatsu hijet 1000 keluaran tahun ’83 berhenti. Seorang tua dengan tongkat di tangan berjalan tertatih, datang mendekat. Tidak berapa lama setelahnya mereka sudah terlibat percakapan ’hebat’. Lelaki tua itu melutut. Suara Agung membelah angkasa.
”Gerrrejekjekjek.....”
Dari kejauhan suara kereta api perlahan meninggi. Persimpangan tergesa. Bunyi per-tanda pun mengudara. Palang kereta perlahan merebah. Berpuluh mata nyala. Pikiran pun meraba. Ah, suasana mulai terdengar gaduh. Klakson pun beradu suara.
”Gerrrrejekjekjek........”
Suara kereta semakin menyayat. Melintasi kornea mata. Di lantai tiga, siswa-siswa memeram cengkrama. Sebelum berebut masuk kelas, mereka sempatkan mengunyah laju kereta. Pemandangan yang seram, namun memesona.
”Pak!” seseorang berteriak sambil mengarahkan telunjuknya.
”Astagfirullah. Agung!” aku berteriak,”Jangan!”
Yang lainpun ikut menyeru. Hampir seluruh siswa berteriak. Orang-orang di warung kopipun berteriak. Lelaki tua itu pun berteriak
”Gerrrejekjekjek.....”
”Krakkkkk..............”
Medan, 08-11
M. Raudah Jambak
SESAL
Suara azan magrib sudah berhenti. Rojali masih belum beranjak dari duduknya. Mata nya terus memandang kea rah pintu terali besi. Satu persatu polisi terlihat hilir mudik me ngawal tahanan yang diantar untuk menjumpai sanak saudaranya yang datang menje nguk, untuk kembali masuk ke dalam terali. Mulai dari pembunuh, pemerkosa, pengedar sekaligus pengguna narkoba, termasuk koruptor. Sisa rokok yang terbakar sudah penuh di sudut ruangan penjara. Tenggorokannya terasa semakin kering. Wajahnya yang lembam masih menyisakan duka dan penyesalan yang teramat dalam.
Hari ini dadanya terasa sesak. Berkali-kali Rojali terlihat mendesah. Matanya terlihat semakin semakin kosong. Air matanya seakan mengering. Matanya kosong, hatinya kosong.
Kepalanya tertunduk. Dalam ingatanya merasuk perempuan paruh baya. Janda kaya. Perempuan yang hobi menyisir rambutnya sambil bernyanyi-nyanyi sendiri. Perempuan yang sangat suka berdandan selama berjam-jam di depan meja rias. Waktu yang dipergunakan selalu habis berjam-jam demi hobi uniknya.
Rojali mendongakkan kepalanya memandang langit-langit penjara. Bibirnya yang hi tam mengukir senyum. Beberapa orang pernah mengepungnya. Mengancamnya. Mere ka meminta agar Rojali menjauhi perempuan paruh baya itu. Mereka tidak terima kalau Roja li menikahi perempuan paruh baya itu. Mereka akan bertindak lebih jauh kalau Rojali ti dak mengindahkan ucapan-ucapan mereka.
Rogayah, perempuan paruh baya itu untung saja datang. Kalau tidak, mungkin Rojali sudah babak belur. Jika satu atau dua orang mungkin saja masih di atasi, ini tidak, ada lima orang. Ditambah badannya yang besar-besar serta berisi. Rojali hanya diam menyaksikan adegan itu.
Rojali mendengar bagaimana Rogayah memarahi orang-orang yang mencoba menye rang Rojali. Mereka mencoba membela diri. Mereka tidak mau Rogayah bersuamikan Rojali, seorang pemuda yang usianya hampir seusia dengan mereka. Mereka tidak ingin Rogayah membuat malu mereka. Mereka takut Rojali akan mempermainkan Rogayah, ibu mereka. Apapun alasannya mereka tetap tidak mau, tetapi Rogayah ternyata tetap pada pendiriannya.
Rojali menghisap rokoknya dalam-dalam. Sifatnya yang pendiam tidak mampu memberi penjelasan kepada Rogayah. Rojali juga tidak bisa menyakiti perasaan Rogayah dengan mengatakan tidak ketika Rogayah mengatakan perasaan cintanya kepada Rojali.
”Iyalah, awak ini jelek. Jadi Rojali tidak mau sama awak.”
”Bukan begitu...” Rojali bingung. Tenggorokannya terkunci. Dia enggan menyebutkan kata yayang kepada Rogayah. Tetapi ketika Rojali menyapa dengan kata Mbak giliran Rogayah yang mengamuk.
”Anu, yang..”
”Kalau gitu bulan depan kita harus nikah!”
Alah mak! Rogayah begtu cepat memutuskan. Rojali sekali lagi tidak bisa membantah. Mereka akhirnya menikah juga di KUA. Mereka hanya mengundang beberapa orang saja. Anak-anak Rogayah tidak bisa menentang keinginan ibu mereka. Begitu juga mantan suami Rogayah, hanya bisa geleng-geleng kepala.
Perkawinan mereka akhirnya berlangsung juga. Begitu acara sudah selesai dan mereka sudah berada di rumah, mulailah acara perintah-perintah. Rogayah yang jauh lebih tua dari Rojali terlihat nampak dominan. Rogayah selalu memberi perintah kepada Rojali seperti memerintah anak-anaknya. Rojali yang pendiam hanya bisa menurut dan seperti sebelumnya tidak pernah bisa membantah.
Untunglah Rojali bekerja sebagai guru di sebuah sekolah swasta dengan gaji yang hanya pas-pasan. Kesempatan mengajar itulah yang dimanfaatkannya untuk menghindr dari sang ”nenek sihir.” Dan ketakutan Rojali kembali muncul apabila les terakhir berakhir. Rogayah sudah mengultimatum agar Rojali sehabis kerja jangan kemana-mana. Harus pulang terus ke rumah. Tidak ada alasan apapun.
Begitu pulang, Rojali segera saja disuruh melakukan kerjaan ini dan itu sementara capeknya belum lagi hilang. Menyapu halaman depan. Menyiram bunga-bunga. Memberi makan ayam. Memberi makan ikan bahkan menanak nasi serta mencuci. Rogayah cukup memberi perintah sambil mengunyah sirih.Jika sudah selesai, maka Rojali segera diberi hadiah pelukan dan ciuman yang bukan hanya pada pipi tapi juga pada bibir.
Rojali dengan kengeriannya sendiri hanya menerima pasrah serangan-serangan Rogayah yang begitu bernafsu. Dan kalau sudah begitu, genitnya Rogayahpun muncul. Dia akan menjurus pada permintaan yang satu itu. Rogayah ingin ”berlayar”. Lalu Rojali dengan langkah terbungkuk-bungkuk melaksanakan tugas yang terpaksa. Ini pemerkosa-an! jerit batinnya.
Kengerian Rojali bukan hanya sirih yang belum dibersihkan. Tetapi ketika melihat Rogayah yang seperti nenek sihir terlentang pasrah dengan senyum genit di bibirnya. Rojali mau muntah rasanya . Dalam pikiran Rojali hanya ingin menyelesaikan tugas ’gawat darurat’ itu dengan segera . Dan setelah itu Rojali akan menjerit sekeras-kerasnya melihat Rogayah tertidur pulas dengan dengkuran-dengkurannya.
Nasib memang belum berpihak kepada Rojali . Belum lagi angan-angannya ingin mendapatkan anak dari Rogayah yang hampir renta . Dia pun mendapat bencana baru. Rojali dipecat sari sekolah. Kelas yang seharusnya empat kelas, tahun ini jadi dua kelas saja. Siswa baru yang masuk tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini siswa yang mendaftar hanya sedikit, sehingga terjadi pengurangan guru. Dan Rojali masuk dalam daftar PHK dengan pesangon yang sangat kecil.
Rogayah tidak lantas memarahi Rojali. Rogayah justru sangat senang. Rojali tidak perlu kemana-mana lagi. Sialnya, Rojali, kontinuitas perintah semakin meningkat. Rogayah tidak perlu memanggil tukang untuk memperbaiki seng yang bocor. Tidak perlu memanggil tukang ledeng, atau tukang pemotong rumput. Cukup memberikan pe-rintah kepada Rojali. Hemat pulus.
***
Malam ini Rojali menggali siasat. Malam ini malam ke seratus delapan puluh Rojali menjaring kesumat. Seperti biasa, tepat pada perhitungan semula, malam mengantuk di saat mata purnama tengah menyala-menyala di sela-sela bias cahaya yang menembus jendela kamar. Memberi sedikit ruang cahaya bagi kamar tidur yang temaram. Tepat di saat Rogayah menyelesaikan ritual sisir rambutnya. Lalu menuju ranjang yang sedang membekap Rojali dengan posisi telentang.
Ruang kamar tak sesunyi biasanya. Ranjang sedang menyusun segala rahasia. Udara membentangkan lengang. Seperti menyampaikan isyarat kelam. Rogayah tidak membaca tanda-tanda kemayaan buram. Ia hanya terbiasa memerintah dengan segala kemanjaan purba. Memberi instruksi kepada Rojali. Hal yang harus dilakukan Rojali untuk mencapai puncak pendakian yang meyakinkan.
Rojali tak lagi menunggu. Ia telah meramu segala cara, tak sekadar mendaki, tetapi cara sempurna mengangkasa. Rojali segera membumi setelah yakin Rogayah tengah disibuki segala suka cita di timbunan bunga semesta.
Rojali merasa telah memperoleh segala kebebasannya yang tak berlangsung lama. Beberapa orang Polisi datang menciduknya. Rojali dituduh telah membunuh. Anak-anak Rogayah telah mengajukan pengaduan. Rojali tidak mengelak, ia mengaku. Pengakuan nya disertai dengan pukulan bertubi-tubi mendarat di seluruh wajah dan tubuhnya.
”Dari dulu kami tidak pernah setuju ibu kami menikah dengan bajingan tengik itu!” ujar anak-anak Rogayah,”Dasar pembunuh. Binantang itu hanya menginginkan harta ibu kami. Dasar orang yang tidak tahu diri. Puih!”
Suara azan subuh sudah berhenti. Rojali masih mulai beranjak dari duduknya. Mata nya tak lagi memandang kea rah pintu terali besi. Satu persatu polisi mulai sunyi dari hilir mudik mengawal tahanan yang diantar untuk menjumpai sanak saudaranya yang datang menjenguk, untuk kembali masuk ke dalam terali. Mulai dari pembunuh, pemerkosa, pe ngedar sekaligus pengguna narkoba, termasuk koruptor. Sisa rokok yang terbakar sudah menggunung di sudut ruangan penjara. Tenggorokannya terasa semakin kering. Wajah nya yang lembam masih menyisakan duka dan penyesalan yang teramat dalam.
Dia merasa rindu dengan Rogayah. Rojali ingin meminta maaf, dengan menemui Ro gayah. Seutas tali sudah ia siapkan sekadar untuk bertemu-muka. Rojali tak sabar ingin segera terbang. Tak lupa pula ia menuliskan rasa penyesalan dan permintaan maaf kepada semuanya termasuk anak-anak Rogayah di atas secarik kertas sebelum ia terbang.
”Rogayah, Sayang. Tunggu. Abang datang....”
Kutubul Amin, 2011
Cerpen M. Raudah Jambak
PERISTIWA MAKAM
Hari sepi sekali. Tetapi, siang ini cuaca terasa menyengat. Angin kering berhembus dari sela ranting-ranting pohon. Daun-daun yang gugur sejak pagi tadi sudah mulai menggunung. Sedangkan daerah sekitarnya lebih kepada kawasan semak tak berpenghuni. Ilalang ter lihat meninggi. Rumput-rumput membentuk permadani kusam, me nutupi sebentang nisan.
Tempat itu menjadi semakin angker, sebab ujung nisan seolah ke pala-kepala yang menyembul dari balik semaknya ilalang. Kesan ang ker bertambah dengan rimbunan pohon-pohpon sawit di kiri ka nan areal pemakaman yang agak tersembunyi itu. Hanya saja yang mem buat sedikit nyaman adalah keberadaan seorang penjaga makam, se kaligus si penggali kubur. Waktu-waktu luang tak jarang ia member sihkan rerumputan yang membelukar.
Sengok, demikian nama si penjaga makam itu. Itu adalah nama panggilan penduduk sekitar kampung kepadanya. Nama aslinya sam pai saat ini masih belum juga diketahui. Dan orang-orang kampung pun tidak begitu peduli siapa nama aslinya. Dari mana asalnya, ter masuk siapa keluarganya. Orang-orang kampung hanya tahu Sengok adalah lelaki setengah baya, bertubuh kurus, yang selalu membantu orang lain. Menyenangkan bagi siapa saja. Kekurangan nya hanya pada saat bicara. Sengok persis seperti orang yang terkena ashma ketika bicara.
Sebab kebaikannya itu pulalah yang membuat orang selalu perca ya padanya. Orang-orang juga sering mengantarkan makanan untuk nya. Sengok tidak pernah meminta apalagi berharap belas-kasihan dengan dirinya yang sebatang kara. Tetapi, ia selalu dengan sukarela membantu termasuk menguburkan sekaligus menjaga salah seorang keluarga dari warga kampung yang meninggal dunia.
“Sengok, siapkan pemakaman ada warga yang meninggal dunia!”
Selalu begitu, setiap pak Kepling memberitahu. Sengok lalu de ngan cekatan meng gali kubur dan menyelesaikannya, paling cepat dalam tempo satu jam. Sendiri saja. Tidak perduli apakah kubur un tuk orang dewasa atau anak-anak. Pada saat hujan atau panas terik. Orang-orangpun tidak segan-segan memberikan upah walau pun Se ngok tidak meminta. Sengokpun tidak kuasa menolak sebab orang-orang selalu memaksa.
Upah yang diberikan pun bermacam-macam. Ada yang membe rikan pakaian, makanan, maupun uang. Sengokpun menerimanya dengan senang hati. Pakaian dan makanan yang ia terima tak jarang diberikan kepada anak-anak pengamen yang sering melintas di areal pemakaman itu. Sedangkan uang selalu disimpannya, di bawah tikar pandan. Di dalam rumah pohon yang dibangunnya untuk tempat tinggal.
Tetapi, hari ini sepi sekali. Cuaca yang menyengat semakin laknat. Angin kering semakin mengeringkan ranting-ranting pohon. Daun yang gugur adalah tubuh-tubuh tak bernyawa yang kehilangan kubur. Areal pemakanaman itu terkesan lebih tak terururs, sejak kepergian Sengok. Ilalang menjulang. Rumput-rumput masih semaput. Meneng gelamkan ratusan nisan.
Sengok meninggalkan areal pemakaman itu diam-diam, setelah warga menuduhnya membongkar salahsatu kuburan secara paksa. Salah seorang warga mengaku telah melihatnya sendiri.
“Ya, Pak. Saya berani sumpah,” ujar Ceromot yakin,”Saya melihat sendiri Sengok yang telah membongkar kuburan Marni.”
“Saya juga, Pak,” Markodet menimpali,”Saya juga pernah melihat Sengok hampir membongkar kuburan Sartini. Untung saya cegah, kalau tidak…”
“Kalau tidak? Kalau tidak apa?” Tanya pak Kepling penasaran.
“Kalau tidak Sartini yang cantik itu. Sartini yang sudah jadi mayat itu sudah disetubuhinya.”
“Kamu yang benar. Jangan sampai menebar fitnah yang bukan-bukan!”
“Terserah, Bapak. Mau percaya atau tidak. Saya ragu, tetapi mung kin ini ada kaitannya dengan ilmu hitam. Kafan penutup mayat bisa menjadi media untuk melaksanakan niatnya untuk melakukan ritual ilmu hitam. Apalagi kalau tidak salah itu dilakukannya pada hari ka mis, menuju ke malam jum’at.”
Orang-orang terhasut. Orang-orang mulai mengupat. Sengok tertunduk. Dia tidak tahu, bagaimana harus menjelaskannya. Penje lasannya tidak dipahami. Orang-orang lebih percaya kepada Ceromot dan Markodet, abang-adik, preman kampung yang pekerjaannya selalu bermain judi di areal pemakaman. Membawa beberapa teman mereka untuk minum-minuman keras. Lebih parahnya lagi, memba wa perempuan malam untuk melakukan perzinahan di antara dere tan nisan.
Sengok tidak didengar, sebab dia bukan penduduk asli kampung itu. Sengok adalah orang lugu dan bodoh untuk berbuat macam-ma cam. Apalagi dalam hal melakukan kekerasan. Setiap ingin menjelas kan sebuah tamparan menghantam pipinya. Terutama tamparan yang berasal dari telapak tangan Ceromot dan Markodet. Akhirnya, Sengok hanya bisa diam. Diam terhadap kebinalan Ceromot dan Mar kodet yang kelakuan mereka pernah beberapakali pernah digagalkan nya dengan bermacam cara, termasuk menyamar jadi apa saja ter masuk jadi hantu.
“Sudah, Pak Kepling. Jangan Tanya lagi. Usir saja…!
“Ya, kami setuju!” Teriak warga serentak.
“Diam. Saya yang memutuskan. Saya baru akan mengusir Sengok jika bukti-bukti yang memberatkan cukup kuat. Saya akan menyeli diki!”
Kali ini warga diam. Terlebih Ceromot dan Markodet. Mereka ber dua hanya saling curi tatap. Sampai akhirnya warga bubar mening galkan pak Kepling dengan Sengok, berdua. Sementara dari kejauh an Ceromot dan Markodet tetap mengawasi. Mereka tidak bisa ber buat banyak, apalagi pak Kepling yang notabene Paman mereka tidak mudah begitu saja percaya dengan penjelasan mereka berdua.
Tetapi Sengok yang memutuskan sendiri. Seperti hari ini, dia pergi. Awal kepergiannya memang tidak begitu berpengaruh. Hanya saja setelah meningginya rumput dan ilalang, orang-orang mulai ke hilangan. Orang-orang mulai rindu pada Sengok yang ringan tangan dan suka membantu. Rindu Sengok yang tidak pernah meminta upah atas segala pekerjaannya.
Ketidak-beradaan Sengok ternyata sangat berpengaruh bagi pen duduk kampung. Kampung jadi banyak sampah. Kampung jadi kotor. Lebih parahnya lagi, orang-orang kampung melihat areal pemakam an jadi tempat segala macam tindak kriminal. Perjudian, mabuk-ma bukkan, dan tempat transaksi tali air. Tidak cukup sampai di situ, ba nyak kuburan yang dibongkar, mayatnya dibiarkan begitu saja.
Tumpukan mayat menyebabkan timbulnya bau yang tidak sedap. Orang-orang kampung tidak berani bertindak. Mereka takut. Mereka jijik. Mereka telah lupa bagaimana cara menguburkan jenazah. Terle bih ketika mereka menemukan Ceromot mati sangat tragis sekali. Markodet berteriak begitu sadar tubuh Ceromot ditemukan sudah tidak bernyawa, menempel di tubuh seorang perempuan yang juga tak bernyawa.
Orang-orang kasak-kusuk. Kampung gempar. Pemberitaan di surat-surat kabarpun menebar. Sengok pun seketika dielu-elukan. Sengokpun seketika dirindukan, dikarenakan pengakuan Markodet yang mengejutkan.
“Sengok tidak bersalah. Sengok tidak bersalah!” berkali-kali Mar kodet berteriak. Terus berteriak. Berlari ke sana ke mari. Mengitari seluruh kampung.
Hari semakin sepi sekali. Termasuk siang ini, cuaca terasa menye ngat. Angin kering berhembus dari sela ranting-ranting pohon. Daun-daun yang gugur sejak pagi tadi sudah mulai menggunung. Sedang kan daerah sekitarnya lebih kepada kawasan semak tak berpenghuni. Ilalang ter lihat meninggi. Rumput-rumput membentuk permadani kusam, menutupi sebentang nisan.
Tempat itu menjadi semakin angker, sebab ujung nisan seolah ke pala-kepala yang menyembul dari balik semaknya ilalang. Kesan ang ker bertambah dengan rimbunan pohon-pohpon sawit di kiri kanan areal pemakaman yang agak tersembunyi itu.
“Sengok tidak bersalah!”
Medan, ramadhan
Cerpen M. Raudah Jambak
Halomoan
”Sahur. Sahur...”
”Bang Lomo, Sahur....”
Beberapa orang remaja masjid sibuk menggedor pintu rumah Halomoan. Seorang duda yang ditinggal mati anak-istrinya bersebab Tsunami, beberapa waktu yang lalu di pantai Alue Naga, Banda Aceh. Lelaki yang sepanjang hidupnya senang hura-hura. Le laki yang kurang peduli dengan lingkungan sekitarnya. Tetapi seminggu sebelum Rama dhan penduduk kampung dikejutkan dengan perubahan mendadak dari Halomoan. Ia ikut gotong-royong. Ikut membersihkan selokan dan parit-parit. Semua sapu bersih. Dan dia juga mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk keperluan segala perbaikan, dan kon sumsi naposo nauli bulung, perkumpulan muda-mudi di kampung itu.
”Abang mau marpangir di Bulan!” guraunya spotan.
Pagi-pagi sekali Halomoan sudah bangun. Udara masih begitu dinginnya. Hari itu adalah hari yang begitu penting. Sebegitu pentingnya membuat Halomoan tidak begitu menghiraukan udara yang dingin itu. Segera saja ia mengambil sapu dan alat-alat pembersih lainnya. Hari ini harus segera selesai, pikirnya.
Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, ia segera mulai dari bagian dapur. Membersihkan piring-piring kotor, kompor minyak, dan seluruh dapur tanpa kecuali. Setelah menyelesaikan bagian dapur, segera ia bersihkan bagian tengah, sampai berlanjut sampai ruang tamu. Semua ia bersihkan, misalnya alas lantai. Amak sebuah tikar yang terbuat dari anyaman bayuaon (tanaman air yang dipipihkan dan dikeringkan) yang dikombinasikan dengan pandan berduri (pandan pudak), diambil pelepahnya dipotong-potong dan dijemur hingga kering, tak luput dari perhatiannya untuk dibersihkan.
Pekerjaan yang dimulai setelah selesai shalat subuh itu berakhir juga pada pukul sem bilan pagi. Tidak hanya rumahnya, tetapi juga di lingkungan kampung itu. Halomoan ke mudian segera bergegas ke sungai. Hari ini Halomoan hendak marpangir. Segalanya juga sudah dia siapkan mulai dari limau atau jeruk purut, daun pandan, ampas kelapa, bunga mawar, bunga kenanga atau akar wangi yang dipergunakan untuk mandi.
”Bang, mau ke mana?”
”Ke Tanggal.”
”Pagi kali, Bang?”
Halomoan mengangguk. Dia berjalan terus. Sepanjang perjalanan, semua mata memandangnya dengan penafsiran yang berbeda. Ada yang mengangguk-angguk. Dan tak sedikit yang geleng-geleng kepala. Ada yang simpati, juga menahan geli.
Halomoan tidak perduli. Dia justru merasa sangat berbahagia. Inilah mungkin kesempatan satu-satunya. Memang, diakuinya selama ini tak pernah terpikirkan olehnya untuk melakukan hal-hal seperti ini. Sejak dari dulu, sampai istri dan anak-anaknya direngut Tsunami. Dan baru Ramadhan inilah ia membulatkan tekad untuk membersih kan dirinya luar dan dalam.
Menyambut Ramadhan Halomoan aktif membantu membersihkan lingkungan warga. Mulai dari membersihkan jalanan, langgar, surau, atau masjid. Membantu membersihkan areal pemakaman, bagi para penziarah yang datang. Membabat semakbelukar yang menu tupi kuburan. Termasuk selokan-selokan yang dipenuhi timbunan sampah-sampah.
Halomoan sudah bertekad usahanya kali ini membuahkan hasil. Ia ingin menghapus segala dosa-dosa yang sudah dilakukannya selama ini. Tidak perduli dengan lingkungan. Tidak peduli dengan keluarga dan saudara. Sehingga orang-orang yang paling mencintai nyapun akhirnya satu persatu menjauh meninggalkannya. Ada yang pergi begitu saja. Ada yang pergi dipanggil Yang Kuasa, termasuk anak dan istrinya.
Pernah satu kali ia melakukan tindakan bunuh diri, menusuk perutnya dengan sebilah pisau dapur. Orang-orang yang mengetahui segera membawanya ke rumah sakit. Begitu di rumah sakit, ia cabut selangnya berkali-kali. Orang-orang bosan. Orang-orang muak. Orang-orang satu persatu meninggalkannya. Sampai kini.
Sepanjang perjalanan Halomoan terus menerus berdo’a. Ia berharap dengan cara Marpangir ini, bersih segala dosa-dosanya. Ia juga berharap Ramadhan kali ini ibadahnya lancar dan mendapatkan Ridho Allah. Walaupun orang-orang masih tetap menjauhinya, ia terus berusaha. Dalam hatinya ia hanya berharap semoga Allah tak pernah pergi dari sisinya.
Setibanya di Tanggal, sebuah sungai di Padangmatinggi dekat kebun Batutippul, Sadabuan di utara, Halomoan turun. Bahan-bahan yang sudah dipersiapkan dari rumah, dikeluarkan. Halomoan termenung beberapa saat. Melihat sungai, dia teringat anak-istrinya. Alue Naga terpampang lagi. Angannya melompat. Dulu, begitu sering Halomoan, Uli, dan anak-anaknya menikmati malam di beranda.
Mereka suka memandang rembulan. Terlebih jika ia purnama. Mereka ngobrol apa saja. Bahkan suka melantur kemana-mana. Termasuk membicarakan rembulan yang sedang menggantung di langit malam.
"Apakah warna rembulan?" Uli pernah bertanya.
"Kuning emas!" jawab anak mereka yakin dan mantap.
"Kuning agak jingga," sangkal Halomoan kalem.
"Menurutku, bulan berwarna merah jambu," ujar Uli disambut penolakan dari Halomoan dan anak-anak.
Bagaimana mungkin bulan berwarna merah jambu. Halomoan menunjuk pohon jambu di seberang jalan yang kebetulan sedang berbuah. Warnanya merah. Dan bulan tak sewarna dengan warna merah buah itu. Namun Uli justru bersenandung: bulan merah jambu, luruh di kotamu, kuayun sendiri langkah-langkah sepi, menikmati angin, menabuh daun-daun, mencari gambaranmu di waktu lalu, sisi ruang batinku hampa rindukan pagi, tercipta nelangsa, merengkuh sukma.*)
Selanjutnya, berkali-kali mereka di beranda. Dan tetap saja Uli katakan bahwa bulan berwarna merah jambu meski Halomoan dan anak-anak selalu menolaknya. Agh, Uli, anak-anakku. Sedang apa kalian malam ini? Apakah di sana juga sedang terlihat rembulan? Dan apakah akan kalian katakan pada orang-orang bahwa warnanya merah jambu? Bukan kuning emas atau kuning agak jingga? Sudah marpangirnya kalian di sana?
Selesai marpangir, Halomoan segera pulang kali ini agak tergesa. Dalam pikirannya, ia ingin marpangir di bulan. Bersama Uli. Bersama anak-anaknya.
”Dari mana, Bang?”
”Dari Tanggal.”
”Oihdah, marpangirnya, Abang?”
”Ya.” jawabnya tersenyum,”Abang juga mau marpangir di bulan. Ikut kalian?”
Demi mendengar itu, tak pelak ledak tawa merebak. Halomoan terdiam. Halomoan mempercepat langkah, menjauh. Sayup-sayup masih didengarnya sindiran-sindiran yang menyakitkan. Kalau sudah kotor, ya kotor. Air paret, ya paret ha ha ha. Halomoan terus melangkah mendekap diam.
***
”Sahur..”
”Bang Lomo, Sahur...”
Berkali-kali dipanggil tak juga ada sahutan. Beberapa orang remaja masjid penasar an. Berhati-hati mereka masuk ke dalam rumah Halomoan. Suasana di dalam rumah ma sih temaram. Mereka telusuri mulai dari ruang tamu, ruang tidur, sampai ruang belakang. Sejak ditinggal sendiri memang Halomoan jarang mengunci pintu rumahnya rapat-rapat. Sehingga membuat siapa saja bisa saja masuk. Dan seandainya ada yang berkeinginan malingpun sangat mudah dilakukan.
“Hei, Lihat. Bukankah itu Bang Lomo?”
Kampung geger. Kampung gempar. Tubuh Halomoan ditemukan sedang bersujud di atas sajadah. Tak bergerak. Tubuh itu kaku. Beberapa orang remaja masjid sebelumnya menggedor pintunya. Beberapakali teriakan sahur tidak disahuti. Lantas mereka membe ranikan diri masuk. Awalnya mereka tak menyangka, sebab ketika masuk mereka mene mukan Halomoan tengah bersujud di atas sajadah. Berkendara menuju semesta dan mendapatkannya tengah marpangir di bulan.
*) Potongan lirik lagu Tak Bisa ke Lain Hati Kla Project.
PEREMPUAN OROK
Oleh : M. Raudah Jambak
Dan malam ini ia harus menghadapi kenyataan untuk yang ke sekian kali. Kenyataan yang mungkin tidak pernah ia bayangkan. Kenyataan yang sangat mengerikan. Lebih mengerikan dari pekat malam. Baginya justru malam adalah sahabat. Ia lebih percaya pada malam daripada siang. Malam selalu menjaga kepercayaannya. Malam tidak pernah mengkhianatinya. Pada malam ia selalu berkeluh kesah, menitipkan setiap orok yang ia lahirkan dengan segala keterpaksaan. Malam adalah rumah tempat ia berkunjung. Rumah bagi orok, tempat berlindung sekaligus bermain. Tempat berlindung bagi sengatnya matahari. Berlindung dari setiap tipu daya siang.
Langkah, rezeki, pertemuan, dan maut merupakan rumus perjalanan usia. Di awali dari sebuah kelahiran yang akhirnya sampai kepada pintu kematian. Di antara jeda kelahiran dan kematian itu, kita harus mampu menentukan sikap. Walau akhirnya tidak bersikap adalah sebuah sikap. Lantas semua itu bergantung kepada kita bagaimana harus melangkah. Dan ia sudah menentukan sebuah langkah yang memang terpaksa harus dijalani dengan segala cinta. Hanya itu yang ia punya dalam menjalani hidup sepanjang usia. Usia yang perlahan mengejar gerbang waktu ke waktu.
Bersama segudang cinta, ia harus tertatih mengunjungi rumah malam. Menimang-timang orok sambil menyanyikan tembang kasih dan sayang. Menari ke sana ke mari. Mengumpulkan orok yang berebut hendak ditimang. Lalu bermain kejar-kejaran. Sungguh! Begitu riang. Memendam segala perih, segala pedih. Dan, ia bahagia. Bahagia dengan segalanya. Bahagia dengan segala kenyataan.
Perih dan pedih baginya adalah kenangan. Perih yang akhirnya memompakan semangat hidup dengan energi yang justru sangat berlebihan. Tetapi, ia begitu menikmatinya. Semakin ia ingat segala kenangan pedih itu, semakin menggila semangat itu.
Perih itu seperti tombak yang menghunjam ke jantung berkali-kali. Membekap sesak di dada. Memporak-porandakan segala harapan. Lalu ketika segala kehampaan itu hampir sampai pada puncaknya, malam pun akhirnya memberikan segala ketentraman. Segala kedamaian. Pada aliran kedamaian itulah ia reguk tetes air kebahagiaan. Membasuh lara. Malamlah yang selalu menyalurkan kekuatan, yang membuatnya mampu untuk terus bertahan. Lalu malampun dijadikannya ibu tempat yang paling nyaman untuk menuangkan segala keluh kesahnya. Meraih kekuatan-kekuatan baru untuk menimang-timang orok mungilnya. Bermain-main. Mendendangkan tembang kasih dan sayang.
Satu persatu orok itu berebut hendak ditimang, lalu sesekali berteriak dibiarkan berenang. Bergantian setiap malam-malam bertandang. Menyelam sampai di kedalaman. Menelusuri sampai dikejauhan. Mencari muara. Tapi, apa daya sebelum sampai pada muara, siang menghempang, menyangkutkannya pada arus yang mengambang. Ia pun harus pasrah, ketika siang menitipkan orok itu pada setiap orang, yang kemudian memberikan rumah baru yang sepi di kedalaman bumi.
Siang, sepertinya memang sengaja memisahkannya dengan orok yang selalu ia timang. Diam-diam ia pun memusuhi siang yang terkadang membakarnya dengan terik yang garang.
Ia tak mau menyalahkan Tuhan. Bersebab tekanan ekonomi. Ia hanya perempuan yang lemah tak berdaya. Pikirannya hanya satu, ia ingin menggapai segala impian. Melanjutkan sekolah ke tempat yang lebih tinggi. Mengharap pembayaran uang sekolah yang mahal dari seorang ibu berstatus janda dan sakit-sakitan adalah sesuatu yang sungguh mustahil. Sebagai anak tunggal, impiannya hanya satu membahagiakan ibu yang telah melahirkan dan merawatnya hingga besar. Menjadi seorang gadis cantik yang pasti menggiurkan setiap hasrat setiap laki-laki.
Ia merasa kesadarannya mungkin terlambat. Bertahun ia terpaksa mengumpulkan lembar demi lembar uang yang kurang dari memungkinkan. Mengumpulkan segala keinginan sekeras logam, menawarkan segala pesona kepada setiap hidung belang yang berhasrat mencicipi setetes demi setetes maduranumnya. Demi kenikmatan sementara. Tak terhitung lagi peluh setiap lelaki membasahi tubuh moleknya. Tak terhitung lagi lelaki-lelaki itu mencangkuli sawahnya. Menebarkan benih pada hamparan rahimnya. Tak ter hitung lagi ia harus memanen orok sebelum waktunya, demi mengejar segala cita-cita nya. Mungkin saja jika orok itu ia biarkan sampai pada kelahirannya, sudah berapa bayi yang melahap ranum puting susunya. Meninggalkan irama tangisan yang memenuhi ruang telinganya. Tetapi, ia harus makan. Membelikan obat untuk ibunya yang sekarat. Membayarkan uang sekolah yang setiap bulan mencekik masa remajanya. Maka, ia tak ingin sebuah kehamilan memadamkan segalanya. Memadamkan keinginannya untuk men jadi seorang dokter. Merawat ibu yang tercinta sepanjang hidupnya.
Wajar jika ia memilih pelajaran IPA sebagai mata pelajaran paforitnya. Tetapi, ketika ia sampai pada pembahasan anatomi, hatinya perih. Perih membayangkan orok-orok itu belum sempurna tubuhnya. Perih membayangkan kesedihan janin dalam rahimnya diusir paksa cairan kimia. Perih membayangkan orok yang selalu ditimang itu menyalakan tatapan mata penuh kebencian. Menuduh ia sebagai perempuan jalang yang tidak mengerti kasih dan sayang. Lalu kebencian itu berubah menjadi sebuah tombak yang setiap saat menghunjam diam-diam dari belakang.
Sebenarnya, tak pernah sekalipun dalam setiap jengkal benaknya ada niat keji seperti itu. Ia hanya bisa berharap orok-orok itu mengerti, bagaimana himpitan hidup berkali-kali menderanya. Mendesaknya. Di usia yang seharusnya membawanya pada dunia kegembiraan. Pada dunia penuh bunga. Di usia yang mengajarkannya meraih presatasi demi prestasi. Ia harus menjual kehormatannya untuk membayar uang sekolah yang mahal. Ia harus membayar uang buku cetak yang setiap tahun selalu saja baru. Memenuhi kebutuhan sejengkal perut. Merawat ibunya yang janda. Walau toh, akhirnya ia selalu meraih juara umum. Mendapatkan beasiswa pengurangan uang sekolah. Tetapi, apa boleh buat tekanan ekonomi memaksanya berbuat seperti yang tidak seharusnya. Ia harus terus-menerus menjual kehormatannya.
Dan malam ini tak ada yang lebih bahagia, selain ia harus menimang oroknya. Menghadapi kenyataan seperti malam-malam sebelumnya. Kembali bermain melepaskan segala kepenatan siang. Walau terlalu cepat untuk menjadi seorang ibu, justru ia merasa bangga dan bahagia. Bahagia memeluk, menimang, dan mendendangkan tembang kasih sayang. Bahagia menyuguhkan pancuran susu. Bahagia menyuapkan mereka. Bahagia memandikan mereka. Dan bahagia memandang wajah lelap mereka, setelah menikmati senandung lagu kasih-sayang. Awalnya, memang ini kenyataan yang mungkin tidak pernah ia bayangkan. Kenyataan yang sangat mengerikan. Lebih mengerikan dari pekat malam. Ternyata pada malam ia selalu berkeluh kesah, menitipkan setiap orok yang ia lahirkan dengan segala keterpaksaan. Malam adalah rumah tempat ia berkunjung. Rumah bagi orok, tempat berlindung sekaligus bermain. Tempat berlindung bagi sengatnya matahari. Berlindung dari setiap tipu daya siang.
Ia seperti kembali ke masa lalu. Masa kanak-kanakanya. Mengenangkan ibu yang tidak pernah jera menemaninya setiap saat. Membayangkan wajah tirus ibu yang gelisah ketika ia dalam keadaan sakit. Wajah ibu yang gembira ketika ia berlari-lari ke sana ke mari. Melihatnya menari-tari dengan lenggok mungilnya. Mendengarkannya menyanyikan lagu yang tak jelas artikulasinya. Betapa bahagianya ibu. Menggendongnya kemudi an. Dan tidak pernah lupa mendongengkannya kisah-kisah kepahlawanan. Sampai akhirnya, ia harus terlelap di pangkuan hangat ibu, dengan mulut mungil yang menjepit puting susu ibu.
Malam ini, persis seperti waktu itu. Ia merasakan kebahagiaan seorang ibu. Ia bernyanyi dan terus bernyanyi. Tak pernah henti sampai akhirnya orok yang menjadi bayi dalam benaknya itu pulas satu persatu. Bersamaan dengan itu, entah siapa yang menciptakan telaga menyebabkan harunya tak terhingga. Tetapi, begitu sadar siang kembali merampas oroknya satu persatu. Telaga itu berubah sungai yang mengalir deras dari kedua belah pipinya.
Sungai yang mengalir itu seolah pertanda kasih dan sayangnya membawa orok itu pada muara waktu tak tentu. Pertalian kasih dan sayang itu seolah terputus-putus. Ia begitu mencintai mereka. Mencintai orokorok yang belum sempurna benar fisiknya. Mencintai mereka walau tak jelas benar bibit, bebet, dan bobotnya. Mungkin bibit seorang pejabat. Bebetnya, mungkin dari seorang yang paling ’suci’. Atau mungkin saja bobotnya berasal dari orang-orang kebanyakan. Ia tidak peduli, sebab mereka adalah anak-anak surga. Anak-anaknya. Walau kelahirannya dilumuri lumpur-lumpur kenistaan, dan kawah- kawah kegelapan.
Bagaimanapun, ia akan tetap menggenggam harap. Ia tetap percaya rumus hidup. Tentang sebuah pernyataan, semua pasti akan berakhir. Sedih pasti akan berakhir, mengundang sebuah kegembiraan. Keyakinannya melebihi segalanya. Tinggal bagaimana, ia menyikapi hidup. Tinggal bagaimana memaknai usia. Membiarkannya mengalir seperti air. Mendapatkan muara kebahagiaan. Saat ini ia menimang orok. Setelahnya ia akan menimang sempurnanya orok. Seorang bayi mungil, seperti yang selalu diidamkannya.
Namun, ia merasa waktu merambat begitu lambat. Ia masih saja harus mengunjungi malam. Sebuah rumah dengan beranda seluas kelam. Lalu ruang tamu sehitam pekat bayang-bayang. Walau tanpa lirik baris-baris cahaya, baginya malam adalah sebuah taman yang penuh dengan aneka bunga. Beragam aroma segar dan lembut. Ia seolah terbang menuju gerbang langit, melewati beratus bahkan beribu anak tangga dengan kendaraan cintanya. Kemudian kembali menimang-timang oroknya. Seolah malaikat kecil dengan lingkaran aura penuh cahaya. Sempurna. Ah.............!
Hanya saja memang waktu merangkak terlalu perlahan. Keinginan-keinginan itu masih tertahan. Ada yang memang harus berakhir. Ia tidak perlu lagi berkelana dari satu lelaki ke lelaki yang lain. Ia hampir mencapai titik penantian, setelah anak pemilik sekolah mengakhiri setengah penderitaan yang menghimpitnya. Seorang lelaki muda yang mencintainya apa adanya. Dan ia pun harus memasrahkan segalanya. Sampai pada suatu ketika mereka harus menyelami dalamnya samudera asmara sampai ke dasar-dasarnya. Membiarkan lelaki itu merekam permainan binal mereka. Merestui lelaki itu mengambil setiap inci gambar sensisitifitas kewanitaaannya. Sebuah catatan kebahagiaan abadi baginya
Ia memang mencintai lelaki itu, walau tidak melebihi cintanya kepada malam. Tidak melebihi cintanya kepada orok yang selalu ditimangnya pada bulan-bulan temaram. Paling tidak ibunya berangsur-angsur menjemput kesembuhan. Tidak perlu lagi pusing menghadapi tuntutan pangan. Lancar membayar uang buku pelajaran. Bahagia menjadi seorang anak, sekaligus ibu bagi bayi imajinasinya. Bahagia menjadi seorang gadis yang dicintai dan mencintai.
Malam ini, ia merasakan kegundahan teramat dalam. Entah siapa yang merekayasa wajah bulan begitu buram. Bintang-bintang bersembunyi di bilik kabut. Desau angin seperti beribu pisau mengiris galau. Orok dalam timangannya meronta. Di susul orok-orok lain yang berebut menggantunginya. Orok-orok yang selalu melumat puting susunya. Menjerit histeris. Berteriak-teriak memekak. Berlompatan ke sana kemari. Ia berusaha berlari mengejar. Semakin dikejar orok itu semakin menjauh, dan akhirnya menghilang. Ia terus berlari, mencari. Entah mengapa, ia merasa semua mulai menjauhinya. Semua mulai membecinya.
Malam tiba-tiba berganti dengan wajah siang. Menghempaskannya habis-habisan. Orok-orok itu satu persatu muncul dengan wajah yang sungguh jauh berbeda, wajah malaikat awalnya, lalu berobah menjadi iblis yang sebenarnya. Orok-orok itu menyeringai garang dengan darah yang berlelehan dari taring-taring mereka. Ia berlari ketakutan. Orok-orok itu mengejar, mengepung dan dengan mudah melumpuhkannya. Ia histeris, menjerit sekuat-kuatnya. Tetapi mulutnyapun dibekap. Tidak ada lagi yang mendengar suaranya. Justeru ia yang mendengar suara-suara.
”Kamu berhak didampingi pengacara!” ujar salah seorang lelaki berseragam sambil memasang gari di tangannya,”kami sudah mengumpulkan semua bukti-bukti video mesummu. Dan menghapus gambar mesummu yang ada di internet.”
Dan, ia semakin membenci siang. Membenci kilatan cahaya dari mulut-mulut tajam kamera pemburu berita. Membenci ceracau hujatan pertanyaan. Benarkah Anda menjebak anak Ketua Yayasan? Mengapa begitu besar tuntutan yang Anda minta? Bagaimana perasaan Anda setelah dipecat dengan tidak hormat dari sekolah? Lalu bagaimana dengan Ibu Anda? Bagaimana dengan janin-janin Anda? Bagaimana dengan..........
Ia bungkam. Tangisnya tertahan. Jiwanya terguncang. Dalam hatinya, ia berharap malam datang bertandang. Ia masih mencintai malam, tetap menggenggam segala harap. Pada malam ia selalu berkeluh kesah, menitipkan setiap orok yang ia lahirkan, yang ke mudian selalu ditimang-timang. Malam adalah rumah tempat ia berkunjung. Rumah bagi orok, tempat berlindung sekaligus bermain. Tempat berlindung bagi sengatnya matahari. Berlindung dari setiap tipu daya siang.
Medan, 2009
Mbirokateya
Mbirokateya memegangi perutnya. Peluh mengucur deras dari dahi dan sekujur tubuhnya. Ia masih teringat pesan Ma. Perasaan menyesal seperti tiada guna, pikirnya. Ketika itu Ma hendak mengajaknya ke bevak ditengah hutan. Sebenarnya Ma harus sendiri, sebab itu memang sudah ketentuan adat. Tetapi, Ma sengaja mengajaknya diam-diam agar ia cepat mengerti tentang keberadaan perempuan di kampungnya.
Angin berhembus pelan. Ranting-ranting pepohonan saling bergesekan. Awan tipis menutupi matahari yang perlahan merangkak. Bias cahaya di langit membentuk sebuah pantulan berjuta kilau permata sejauh mata memandang.
Waktu fajar mulai menyingsingkan auranya menyinari seluruh kebekuan alam se mesta. Mbirokateya ingat dengan apa yang dilakukan Ma, sebelum mengajaknya menuju bevak , memulai rutinitas sebagai perempuan, sebagai ibu.
Setiap kali bangun pagi selalu saja ada makanan didapur. Makanan yang dibungkus rapi dilipat daun pisang yang dipetik Ma setiap sore dikebun belakang atau menikmati ulat manggia atau koo, yang sudah dipanen dari sisa tebangan pohon sagu yang telah dipangkur sekitar dua minggu sebelumnya. Koo itu dimasukkan dalam bekal sagu yang telah dibulatkan seperti bola lalu dibakar. Tubuh koo akan melumer. Rasanya sangat gurih dan legit! Bagian kepala koo yang renyah berasa popcorn. Kebun itu adalah tempat Ma selalu menumpahkan hari-harinya, sambil merasakan segarnya batang tebu atau buluh bambu dan melesapi gula-gula. Ma senang bercocok tanam. Ma senang melakukan tugas itu sebagai perempuan yang merdeka. Menanam benih dan menunggu hasilnya, sampai waktu panen tiba.
Makanan tersebut dibagi menjadi dua. Satu buat bekal dan yang lainnya sekedar sarapan seadanya antara Mbirokateya dan Ma. Sehabis makan kami segera berangkat diam-diam, menyisir perjalanan sepanjang hutan.
Hutan inilah rumah sebenarnya bagi mereka. Berdinding belantara. Tempat kelahiran dan kematian. Hitungan ratusan tahun mereka diami tempat ini. Menghirup segala. Hidup kan segala. Menyatu dengan segala. Bermain dengan angin, dengan akar pepohonan, dengan semak belukar. Anak-anak, kaum perempuan, dan para lelaki telah terbiasa melukis kelam. Berpeluk pengab raya.
Lingkaran api biasa mereka sulam pada malam. Memetik kerdipan bintang. Menjaring bulan. Mengunyah pituah para tetua. Menebalkan tambalan sejarah pada jiwa-jiwa. Dan sesekali menyemai tawa. Sesekali menuai duka ketika memamah sihir kata bak pujangga. Pada akhir sulaman cerita, gederap sukacita menuntun mimpi-mimpi menyam but pagi.
Gubug-gubug mereka adalah pepohonan yang bernyanyi. Seolah laut yang berpantai damai. Seperti dermaga sebagai tempat penumpah lelah sehabis memerah tubuh-tubuh basah. O, betapa hidup dari waktu-ke waktu selalu mengelus berkah.
Kegelapan inilah selimut hangat yang gemerlap. Mata hati adalah sebilah pisau tajam yang selalu terasah. Kelam bukanlah jaring-jaring perangkap yang membekap, tapi ia tapak-tapak kaki yang selalu mengatur jarak. Menancapkan jejak. Mereka tahu arah me langkah kemana hendak berpijak. Pulang dan pergi tak selalu bergantung pada matahari. Tak pula menunggu tuntunan bulan. Bukan menafikkan ciptaan Tuhan. Tapi, justru dengan gelap dan kelam anugerah itu didapatkan.
Berjalan dan berlari adalah seringan hembusan angin menembus belukar dan semak berduri. Segala telah tersedia dalam rentang waktu yang tak dapat dihitung dengan rumusan angka-angka. Segala telah terjaga dengan aturan adat yang paling beradab. Amboi, masa-masa gemilang itu perlahan di gebuk gelombang. Menusukkan amuk, remuk.
Mbirokateya diam. Ia merasa tidak punya cerita menarik pengganti kekakuan perjalanan. Berbeda dengan Ma, Ma sosok perempuan yang gigih, pantang menyerah dan penyabar. Walau terkadang agak sedikit egois dan keras juga. Itu perlu dimaklumi jika dikaitkan dengan masa Ma di waktu muda. Aktif menyerukan kemanusiaan. Antara kecintaan orang tua, kampung dan kebebasan perempuan menjadi titik utama perjuang annya, bersama teman-teman seangkatan mereka yang berasal dari luar kampung bahkan ada berasal dari luar pulau, dan luar negara.
“Engkau tahu? Bunga bakung berwarna merah, bentuknya indah? Begitulah perempuan. Parasnya bak kembang. Merahnya laksana hati. Dan kau tahu? Bunga keris papua? Itulah kita yang sebenarnya,” ujar Ma.
Dia hanya diam. Pikirannya hanya diselimuti cemas. Cemas melihat kondisi Ma. “Kau tahu, Sali yang masih menjaga kehormatan keperempuanan kita, menghadang segala kejahatan yang berasal dari balik koteka kaum lelaki, di antara bidang telanjang dada mereka. Ketelanjangan kita, ketelanjangan yang terhormat. Ruas tulang yang meninggalkan bentuk dari kulit yang tipis dan hitam, bergerigi, di dada perempuan kampung kita yang membusung. Kehitaman anak-anak di kampung kita adalah kehitaman yang bersahaja. Mulai dari kaki sampai wajah. Rambut gimbal bergulung adalah gelombang yang tertahan dan siap dilontarkan. Perut anak-anak kampung kita yang menyimpan dan menjaga kesejarahan, membusung. Tulang punggung yang menonjol, pertanda kekuatan yang mengagumkan. Mereka tidak mengenal bangku sekolah, tetapi tanah, lumpur, bukit, dan hutan. Kita berhasil menjaga kehormatan keperempuanan kita dari bengisnya hutan. Biarlah nira kelapa, alkohol, dan tembakau kecintaan bagi laki-laki, menghempang dari kebiasaan mereka berperang, mengayau, ini sesuatu yang patut disyukuri. Dan memang sejak itu ayahmu tak bisa menunjukan kepiawaiannya memanah jantung musuh, atau menebas leher dan menggantung kepalanya di tangan, tidak lagi, Mbirokateya! Kita harus terus menjaga kehormatan perempuan di kampung kita!?”
Mbirokateya masih membisu.”Perempuan adalah beyor atau burung nuri dan ir atau kakatua putih. Ini tergambar pada ukiran motif paruh burung sebagai hiasan kepala. Para suami tidak tahu, kalau nenek moyang kita tidak sekedar menempatkan simbol untuk perempuan itu diatas kepala. Ia harus dihormati dan dijunjung tinggi, Mbirokateya! Tapi nyatanya? Perempuan kita tertindas, terisolasi dari emansipasi atas kesetaraan gender, terkekang adat masa lalu. Ketika para lelaki kehilangan pekerjaan untuk berperang dan mengayau lalu merampas hak tanah atas hutan sagu dan babi, para lelaki tidak lagi punya pekerjaan kecuali hanya mengukir patung saja. Dan perempuan masih punya peran domestik yang bukan menjadi tanggung jawab suami, dan wajah para ibu selalu tampak lebih tua dari bapak. Kita mesti merevolusi sistem budaya yang ada dengan sistem baru yang lebih bisa menempatkan perempuan sewajarnya, Mbirokateya! Harus!”
Mbirokateya terkesiap. Terkejut. Perasaan bersalah itu selalu menghantui. Kata-kata Ma, yang sempat ikut orang luar, dalam kegiatan LSM, seperti membekas, berkarat. Apa yang sekarang ini dialaminya cukup tidak adil. Ia setuju dengan apa yang dikatakan Ma.
Ma selalu memikirkan segalanya. Memikirkan keperluan rumah tangga, terutama untuk anak-anaknya. Dan Mbirokateya merasa seperti diperlakukan istimewa. Ma pun tidak malu mencari upahan sampai jauh ke kota. Bekerja apa saja. Dari upah sedemikian rupa ia tidak lupa untuk menyisihkan sebagian uangnya, di tempat yang paling rahasia, sebuah potongan bambu berlubang di tiang penyangga Honai.
* * *
Senja bersama sinarnya yang kemerah-merahan menyapa di bilik teras dan rumah ke labu. Ma duduk lagi dekat daun pintu sedang Mbirokateya bermain-main sebisa mungkin apa yang membuat hati riang.
"Mbirokateya ke sini sebentar!” Ma berseru,” Jangan sering bermain, kapan kamu akan belajarnya? Lekas ambil buku yang diajari gurumu di sekolah lalu duduklah di sampingku!” Dengan rasa kesal Mbirokateya segera mengambil buku di dalam tas dan berpura-pura membacanya sambil sedikit berkomat-kamit namun hatinya tak dapat dibohongi bahwa seusianya selalu saja ingin bermain-main.
"Belajarlah yang rajin agar kelak kamu jadi orang pintar tidak seperti perempuan-perempuan di kampung kita,” Ma menambahkan. Suaranya terlintas manja bertanya pada Mbirokateya. ”Jika sudah besar nanti apakah gerangan yang kamu cita-citakan?”
”Guru!”
”Kenapa?” Sambil mengerutkan jidatnya yang memang sudah keriput.
”Kan enak, bisa membagi ilmu buat siapa saja. Bapak mungkin akan senang.”
”Bapakmu tidak akan kembali lagi karena dia telah memelihara burung merpati di sangkar lain?” Hanya itu yang keluar dari mulut Ma. Mbirokateya tak pernah tahu. Ia benar-benar tidak mengerti bapak di manakah rimbanya.
Sehabis bicara seperti itu, kian mulai terasa. Dengan sigap Ma langsung menyergap Mbirokateya membekapnya dalam dekapan, memeluk erat diketiaknya. Tanpa sengaja tiba-tiba airmatanya meleleh jatuh di halaman buku yang masih terpegang. Entah apa yang telah terucapkan tadi sehingga membuat Ma menangis terseok-seok dan membawa nya larut dengan suasana yang semakin membingungkan. Suasana Itu berlangsung agak lama sampai tak tahu waktu mulai mengguratkan kelam perlahan.
Alunan suara alam bersenandung di gendang telinga menyadarkan ingatan. Senja sengaja ditutupi halimun yang beraroma dingin mencolek tubuh yang gagap bersama waktu. Secuil harapan dikemudian hari merengkuh bagai sembilu untuk mempertaruhkan hidup dimasa tua bertarung sendiri demi hidup yang semakin terhimpit. Tentunya dalam nadinya tersebar memuat getaran-getaram yang keluar dari batinnya ialah untuk anak dan keutuhan keluarga.
Selama itukah Ma dan Mbirokateya harus berkisah. Tentang hidup yang harus selalu di perjuangkan tanpa beban bukan semata-mata dijalankan.
"Bukan lantaran nasib, tidak lebih. Kesabaran dalam memilih dan keteguhan sebagai manusia yang tabah adalah tameng yang kuat. Mungkinkah hanya hidup begini atau karena ditinggalkan seseorang kita harus menyerah. Alangkah naif manusianya.”
Begitulah Ma menggunakan sisa-sisa hidupnya yang sering ditunggui waktu. Kini aku berada sendiri di sini meniti ke-dewasa-an berbaur bersama suaranya dengan bayang nya pula. ***
”Mbirokateya, Anakku! Kita harus memanusiakan manusia? Tidak hanya Ma seorang yang seharusnya merambah hutan, mendayung perahu, memangur sagu, menjaring ikan, dan bila ada sisanya, dijual dipasar, uangnya hanya sekedar untuk membeli rokok untuk suami, minyak tanah untuk lampu petromak. Tidak! Ma tidak memilih berdiam diri, dengan tidak melakukan pekerjaan itu, karena bapak siap saja dengan tombak, panah, atau apa saja yang bisa menakuti mata Ma.
Ma hanya bisa menangis pada akhirnya, sedang kau hanya bisa meringkuk, tangis pecah dari bibir adik-adikmu, melihat bapak pernah menghantamkan benda tumpul kekepala Ma. Kau tahu Ma meraung, lalu mendarat lagi kaki bapak pada perut Ma yang sedang membuncit. Ma sedang hamil, Ma tidak bisa mengangkat kaki untuk sekedar meminum air mentah di dapur, Ma pingsan, dan darah mengalir dari liang, orok keluar dari rahim Ma, dan terlihat tali placenta melingkar.
Tetapi bapakmu malah menjerit ketakutan, lalu minggat dari Honai, bukan karena Ma pingsan dan keguguran, melainkan setetes darah yang keluar merupakan pantangan, katanya bisa menimbulkan penyakit, kematian apalagi membasahi lantai Honai. Dan perempuan selalu melahirkan anaknya didalam bevak ditengah hutan, sendiri. Menu-rutmu! Hal ini yang menjadikan perempuan kita tidak seperti manusia, Mbirokateya! Ma tidak bermain lumpur, tidak berenang disungai, tidak menikmati hujan, kadang memban tu nenekmu memangur sagu.
Ma selalu ingin sekolah pada sekolah yang sudah lapuk itu. Ma sekolah hanya untuk merubah nasib; Nasib Ma, kau, adik-adikmu dan kaum perempuan. Ternyata, perjuangan Ma tetap sampai pada nasib Ma sendiri, tidak pada nasib orang lain, tidak nenekmu, kau, adik-adikmu, dan perempuan kita karena mereka punya nasib sendiri. Ma tidak kuasa mencampuri urusan para istri, sesaat perlakuan suami mereka tak kalah sama dengan ba pak dan kakekmu. Mereka tidak melahirkan di puskemas, tetapi ditengah hutan. Ma tak dapat menolak atau pura-pura tidak tahu tetapi Ma dan juga mereka tak dapat mencegahnya?”
Mbirokateya menggamit tangannya, tidak lapuk, tua atau kasar seperti tangan Ma ketika seumurnya. Malahan masa mudanya, disaat alat reproduksi perempuan telah ranum, dan vagina yang harum itu tidak dibaluti oleh sali atau yokal untuk wanita bersuami. Ia tidak mengikuti pesta dansa tiap hari minggu, mencari pasangan, calon suami, dan sekenanya membakarkan sagu untuknya di Honai seperti apa yang dilakukan masa muda perempuan di kampungnya. Ia belajar, ia sekolah. Ia merasa sedikit berun tung dari Ma.
Ma selalu mengajak Mbirokateya kemana-mana kecuali ke kota. Jarang sekali Ia diajak Ma untuk ikut ke kota, paling cuma di hari Minggu itu pun hanya beberapa kali. Ma suka melihat Mbirokateya sekolah. Suka mengantarkannya ke sekolah, walau jaraknya luar biasa jauhnya
Ma harus melewati perbukitan dan jalanan setapak untuk mengantarkannya ke sekolah dulu dengan menggunakan sepeda butut. Jarak rumah dan sekolahku cukup jauh tapi Ma tidak pernah mengeluh dengan hal sepele seperti itu. Jalanan menurun dan mendaki maupun zig-zag tidak membuatnya lupa.
Ma sudah hafal betul letak lokasi sekolahan Mbirokateya yang dipasung kayu berpalang yang menjulang tinggi mencakar langit sebab dari kejauhan sudah tampak di mana tanda-tandanya. Setelah cukup dekat di depan sekolah, ia melepaskan dengan isyarat dan ciuman.
"Ingat! Dengarkan semua ajaran guru dan ikuti keterangannya serta jalankan perintah guru agar kelak kamu menjadi orang berguna bagi keluarga dan bangsamu. Sepulang sekolah kamu tunggu di sini, sambil menunjuk ke pohon kapas tempat berhenti. Begitu lah miripnya suaranya sebelum meluncur cepat dan hilang sebab dihalang-halangi kabut untuk selanjutnya pergi.
Siang terasa berlalu begitu saja. Apa yang diperoleh selama belajar tadi belum semua nya masuk ke otaknya. Banyak yang terbersit di telinga. Bersamaan dengan bel sekolah terdengar riang diiringi teriakan teman-teman menyambutnya gembira.
Jam menunjukkan angka satu. Mbirokateya keluar dari ruang kelas dengan langkah gontai menuju pohon kapas seperti janji sebelumnya. Tidak terlalu lama harus menunggu menunggu sesosok tubuh yang kekar mengiringi derap ayunan yang berlipat-lipat dari kaki yang mulai cadas. Mbirokateya mendekat naik diboncengannya! Selama perjalanan mata Mbirokateya tertuju pada sekujur badan Ma dan tertegun meratapnya. Sekecil itu, Mbirokateya semakin merasa iba dengan keadaannya yang terus menerus seperti ini mengarungi bahtera kehidupan dengan segala peluh, jerih payah yang ada. Tidak tampak sedikitpun rasa gusar yang melingkar di tubuh Ma. Begitu lamunan itu sudah terbuai Mbirokateya tak mampu berbisik walau di dalam hati. Terdengar agak kabur bahwa Ma memblokir lamunan Mbirokateya.
”Mbirokateya! Engkau salah. Perjuangan tidak sampai disini. Kita melakukan gerak perubahan perlahan secara menyeluruh, dengan membangun yayasan pengembangan masyarakat terutama perempuan, menghidupkan puskesmas, mengadakan penyuluhan, memperkenalkan KB. Ma kira, beberapa tahun akan terjadi pergeseran sistem budaya?”
Ma menarik Mbirokateya duduk di dekatnya. ”Mbirokateya, Anakku. Ma kira, Ma lelah. Ma, kakak tertua dengan banyak adik lelaki dan adik perempuan. Jarak kelahiran kami rapat sekali, hanya terpaut 1 tahun saja. Karena nenekmu tidak tahu KB. Enam orang adik Ma telah meninggal karena penyakit ispa dan malaria. Karena asap tembakau dari bibir orang tua di honai, juga asap perapian yang mengepul di langit-langit, tembus hanya sedikit saja dari atap rumbia, tidak lewat jendela karena Honai tak punya jendela, tidak lewat dinding gaba-gaba, tetapi sebagian lagi masuk lewat napas, dan simpan dalam paru-paru. Adik Ma terkena radang. Sementara adik Ma yang perempuan terus bermain di lumpur, kadang membantu memangur sagu. Mereka masih kecil-kecil saat itu, sehingga tak terlalu peduli untuk mencari makan.
Hanya Ma yang tidak kerasan melihat nenekmu mesti memanggul bernoken-noken sagu, sering ada goresan taring nyamuk dan lalat babi berdarah, lengket di tiap kulitnya. Belum sempat ia mengatur napasnya yang terengah-engah, menyeka keringatnya yang muntah disekujur tubuh, mendiamkan sejenak tulang sendinya yang ngilu, memejamkan matanya, ia sudah berlalu lagi dengan sekeranjang ikan untuk dijual kepasar di desa seberang. Dan sebagian uangnya ditabung untuk biaya rumahtangga. Seketika airmatanya tumpah begitu saja, saat Ma mengutarakan keinginan Ma untuk sekolah.
Ma tahu dalam airmata itu ada harap yang begitu besar untuk menjadi kan Ma orang besar, mengubah nasib, pola pikir masyarakat yang cenderung ke sistem patriarkhis. Ma tanya kadang terpejam satu persatu dengan nafas mulai semraut mungkin sekarang ia mulai berasa kepayahan. Selebihnya, entahlah! Ma tak sanggup mesti menyaksikan nenek mu bersusah payah merambah hutan sendiri, sedang kakekmu asyik saja bergumul de ngan nira kelapa, alkohol, judi dan perempuan lain, lalu setibanya di honai, kakekmu hanya menadahkan tangan, meminta jatah.
Ma tidak sanggup melihat nenekmu menyayat kulitnya yang memar-memar dengan silet atau pisau sebagai cara untuk mengurangi rasa sakit, sembab sambil terisak, mena han perih, lalu darahpun mengucur mengaliri goresan yang memanjang. Bapak! Ibu sedang sakit! Jerit Ma, tetapi kakekmu tak peduli, ia tidak segan memukul sampai membunuh bila tidak menyediakan sagu dan rokok.
Mbirokateya, Anakku. Yang harus dirubah, pertama ialah pendidikan bagi satuan unit terkecil ke tatanan makro, tidak hanya dengan melakukan lokakarya, membuka puskesmas, penyuluhan KB, sedang masyarakat sendiri tidak memiliki pendidikan dan pengetahuan yang cukup untuk itu. Siapa yang tahu kalau masih ada beberapa Ma yang suka merambah hutan, memangur sagu, sedang suami tetap menakuti mereka dengan sebilah parang?”
Mbirokateya ingin menjerit jika mengenangkan hal itu. Kecerdesan Ma ternyata tak sebanding dengan keberingasan bapak. Bapak poligami. Mungkin memang sudah mendarah daging bagi perempuan di kampung kami. Satu-satunya impian perempuan di sini; Hari ini atau besok dijadikan istri yang sekian kali dari seorang pria. Ma menjerit sekenanya, tetapi tak kuasa berontak. Terlihat api cemburu meradang, emosinya meluap dan siap lepas dari puncak kepala, tetapi ambisi Ma selalu surut melihat sebilah kapak atau dayung yang tergantung di dekat bapak.
Mbirokateya menghela napas,”Aku masih sekolah, Ma yang memperjuangkannya. Aku ingin menghidupkan teser, bahwa perempuan tetap sebagai makhluk sakral, lewat perwujudan kedua mama tua, ucukamoraot (roh pohon beringin) dan paskamoraot (roh kayu besi) yang dilahirkan oleh ibu bumi. Aku masih sekolah sampai masa haid pertama dan alat reproduksiku telah matang. Aku turun lalu melangkahi sekat-sekat papan yang berlubang di atas jembatan yang makin lapuk.”
Dengan bekal sekedar nya, dengan pakaian yang tak layak untuk ke pesta, dengan sepasang sandal yang sudah usang, dengan ijazah sekolah rakyat yang diletakkan dalam noken, digamitnya erat-erat. Airmata Ma hanya tertahan, ia tidak ingin menangis melihat Mbirokateya sekolah. Mabahagia, menyodorkan sejumlah uang, dan menyuruh pergi ke desa Bis Agats, kerumah saudara perempuan Ma. Mbiorkateya memanggilnya mamak. Ma tersenyum, lalu satu tangannya mengusap wajahnya. Mbirokateya melihat di antara ujung-ujung jari Ma, ada yang terpotong, dan sebagian jari yang terpotong itu pasti dibungkus kulit kayu, disatukan dalam kantong berisi abu jenazah kakek, dan digantung pada honai bapak. Mungkin Ma melakukan mutilasi tanpa setahu Mbirokateya.
”Mbirokateya, Anakku. Kita harus berjuang. Tanah ini, masyarakat ini adalah tempat kelahiran kita, tempat kita pertama hidup. Tidak ada yang akan merubah sistem adat, budaya atau nilai kecuali kita saja, cucu-cucu Asmat. Engkau belum gagal karena engkau sendiri sudah berhasil sekolah. Sedang anak-anak lain, lelaki atau perempuan juga adikmu tidak mengerti saat itu, mereka tidak mengikuti jejakmu untuk tetap sekolah, sehingga mereka tetap terikat pada budaya masa lalu. Keterbatasan ilmu merendahkan pikiran seorang lelaki, ibu dan anak untuk keluar dari sistem patriarkhis, dan tak mengerti hakekat Tuhan. Masyarakat kita berada pada sebuah lingkaran yang tak punya lubang untuk keluar. Kita yang mesti menembus dinding lingkaran itu?”
Mamak tidak sering melakukan pokomber atau usi, ia mempelajari cara perempuan Muyu berladang, menanam pisang, ubi, tebu, kangkung, dan hasilnya dijual kepasar. Ia sering menjaring ikan, dan sering menukarkan dengan beberapa noken sagu pada tetang ganya. Mamak tidak bisa membiayai sekolah Mbirokateya, mereka miskin dan Ma tidak selalu mengirimi uang. Karena niat sekolah telah mengakar, Mbirokateya rela saja ketika mamak menawarkannya untuk menjadi pembantu rumah tangga.
Mbirokateya meringkuk sepi dalam honai, airmatanya mengalir jatuh ke lantai, jatuh pula ke lumpur pekat. Ia tidak ingin menuruti mamaknya mandi lumpur selama 40 hari, mencukuri rambutnya karena Ma meninggal. Ia tidak berpikir untuk memotong telinga seperti yang sering dilakukan penduduk di kampungnya maupun di kampung mamaknya. Ia memilih bisu, menutup bola matanya rapat-rapat, mendekap telinganya, lalu terisak.
”Mbirokateya! Engkau tidak ingin pulang ke kampung Ewer?”
”Tidak, Mak. Aku tidak ingin melihat bapak tertawa saja di depan abu Ma.?”
”Adik-adikmu?”
”Ya, Mak. Mereka sudah punya teman bermain. Anak-anak istri bapak yang baru.”
Mamak tidak melanjutkan pertanyaannya, ia berjalan ke bilik perempuan, agak terbungkuk dan tulang lehernya tampak karena tinggi honai sekitar 1,5 meter saja. Mbirokateya masuk ke ebey. Mbirokateya tak lagi bisa menahan getir, ia mengambil pisau dan diletakkan di antara jarinya. Dan roh Ma lewat di depan matanya, ia ingat Ma masih tersenyum, bibir hitamnya tersunging, sumringah. Lesung pipi dari wajah yang sudah keriput terbentuk walau tak kentara, Ma mengingatkan sekolah, Mbirokateya mengurungkan niatnya. Ia lalu melempar jauh-jauh pisau itu, menutup matanya rapat-rapat sehingga airmata yang sejak tadi berlinang menetes perlahan.
”Aku tak bisa melanjutkan sekolah!”
Mbirokateya melipat tangan keatas dadanya, dipandangnya lekat-lekat cahaya petromak yang begitu lemah, lalu beralih ke kaso-kaso. Matanya kosong, tidak ada tanda-tanda bahwa ia sedang berada di alam nyata. Ia bermimpi uang melingkar di mimpinya, dan uang itu hilang sampai ia tertidur pulas.
”Aku Mbirokateya! Aku bisa masuk SMA di Merauke berkat majikanku. Ia mengantarku dengan menumpang kapal perintis dan singgah di dermaga Merauke. Aku punya ijazah sekolah rakyat dan SMP, tetapi aku tak punya cukup uang untuk menye lesaikan SMA. Umurku hampir 18 tahun. Lelaki mana yang tidak tergiur pada tubuh indahku, dan naluri seorang gadis remaja yang juga menyukai seorang lelaki. Ah.. antara ingin sekolah atau tidak. Apakah sekolah pasti menjadikanku orang besar? Uang hasil jerih payahku mengalir begitu saja hanya untuk sebongkah ilmu. Aku pernah kelaparan lantaran uang makan untuk biaya sekolah. Karena aku masih hidup, Aku harus rela bekerja walau dalam keadaan sakit. Mengapa aku masih sekolah? Sederhana saja. Aku sudah terlanjur sekolah, aku sudah merangkak sampai tengah dan harus sampai ujungnya, tidak mungkin berhenti ditengah karena aku bakal turun kembali. Kedua, karena aku ingat Ma?”
”Bagaimana mungkin engkau masih bisa hidup tanpa uang dan menyelesaikan SMA?”
”Apa yang tidak mungkin? Aku masih punya tubuh yang sintal dan kuat, punya tenaga, tetapi jangan kira aku menjadi PSK bagi penebang kayu gaharu. Aku bisa tidur seperti pengemis, bisa menjadi pembantu, mencuci, memasak. Aku masih punya jiwa, dan jiwa itu mesti dihidupkan, bukan tanpa arti. Tidak, manusia tidak hanya sekedar hidup. Aku baru tahu kalau manusia tidak hanya sekedar hidup seperti apa yang dilakukan Ma. Ya, Perempuan tidak mesti berada antara hutan, sungai dan pasar.”
“Sekarang engkau mengakui, bahwa hidup adalah perjuangan. Bukan perjuangan untuk diri sendiri karena kita lahir, kita hidup, kita mati diantara masyarakat!”
“Ya, karena perjuangan, aku sempat menghunus ayah yang mencoba memperkosaku! Aku tidak menjadi PSK!! Aku bisa menyelesaikan SMA dan menjadi guru, lalu punya ambisi untuk membangun, memberdayakan masyarakat terutama kaum perempuannya. Karena para lelaki tidak tahu, kalau ukiran patung mereka bernilai seni yang tinggi dan dikagumi oleh pecinta seni dunia.”
Mbirokateya membayangkan, ia akhirnya menginjakkan tanah setapak yang agak berlumpur, diantara ilalang, dan langit masih biru, mentari baru sepenggalan naik. Mem bayangkan menempuh perkampungan Ewer, disini hanya ada satu sekolah saja, tidak ada gereja, tidak ada puskesmas. Mbirokateya bisa melihat sekolah yang sudah berumur itu, dinding kayunya tetap kokoh, struktur bangunannya kuat, dan mereka tidak tertegun ketika melihat seorang guru mengajar di atas lantai tanah. Ia tersenyum dan 10 pasang bola mata bulat, hitam, pekat, tajam diruang itu, tersungging lebar.
***
Mbirokateya memegangi perutnya. Peluh mengucur deras dari dahi dan sekujur tubuhnya. Ia masih teringat pesan Ma. Perasaan menyesal seperti tiada guna, pikirnya. Ketika itu Ma mengajaknya ke bevak ditengah hutan. Kini ia yang harus berada di dalam bevak sendirian. Sebab, suami mamak telah berhasil membobol pintu kamarnya diam-diam, setelah ia kelelahan pulang dari sekolah di perkampungan Ewer, dan membo bol pintu kegadisannya dengan ancaman. Dengan penuh beban dan rasa malu berbulan-bulan, ia akhirnya kembali ke kampung. Segera menuju bevak.
” Ma, mungkin tubuhku telah kotor. Tetapi pesanmu tetaplah suci. Aku akan tetap memperjuangkannya. Bukankah perjuangan memang butuh pengorbanan? Jadi, Ma tolong jaga cucu perempuanmu juga aku.”
Medan,2008
Catatan Kaki
1 Bangunan di tengah hutan.
2 Rok dari serat kayu, kulit kayu, rumput yang dirangkai menjadi jumbi-jumbi yang dililitkan pada pinggul dan diikat, pada anak perempuan/ kaum wanita Asmat (Maulana, 1996 : 57).
3 Terbuat dari labu yang dikeringkan, menyerupai tabung silinder untuk menutupi penis (Maulana, 1996 : 57).
4 Bangunan berbentuk silindris yang dipergunakan sebagai tempat tinggal (Maulana, 1996 : 62)
5. Pemerintahan oleh para pria..
6. Tas anyaman dari serat melinjo (Sekarningsih, 2000. xv).
7. Adat kebiasaan untuk mengungkapkan duka cita dengan mutilasi, misal mencukur rambut, memotong telinga, atau memotong ujung jari tangannya dengan parang atau pisau (Linggasari, 2004 : 31).
8. Mencari makan di hutan dari pagi sampai sore (Linggasari, 2004 : 28).
9. Memangur sagu selama dua minggu sampai tiga bulan (Linggasari, 2004 : 28).
10. Struktur atap yang terdiri dari kaso-kaso dari kayu bulat yang menghubungkan pusat honai ke dinding (Agusto. W. M, 1996 : 193).
Cerita dari Bukit Dua Belas
Segayo lari ke bukit, ia jatuh terjerembab. Tangannya menutupi perutnya yang koyak. Berlari menuju sesudungon, pondok dari bangunan kayu, berdinding kulit kayu. Dan beratap daun serdang benal. Matanya masih menatap sekitar hutan yang sepi. Sebagai keturunan langsung orang Maalau Sesat, Segayo harus bertahan.
Hutan inilah negeri kami. Berdinding belantara. Tempat kami dilahirkan. Hitungan ratusan tahun kami mendiami tempat ini. Menghirup segala. Hidupkan segala. Menyatu dengan segala. Bermain dengan angin, dengan akar pepohonan, dengan semak belukar. Anak-anak, kaum perempuan, dan para lelaki telah terbiasa melukis kelam. Berpeluk pengab raya. Sebab kami adalah orang-orang rimba.
Lingkaran api biasa kami sulam pada malam. Memetik kerdipan bintang. Menjaring bulan. Mengunyah pituah para tetua. Menebalkan tambalan sejarah pada jiwa kami. Sesekali menyemai tawa. Sesekali menuai duka ketika memamah sihir kata bak pujangga. Pada akhir sulaman cerita, gederap sukacita menuntun mimpi-mimpi kami menyambut ke pagi yang temaram.
Gubug-gubug kami adalah pepohonan yang bernyanyi. Seolah laut yang berpantai damai. Seperti dermaga sebagai tempat penumpah lelah sehabis memerah tubuh-tubuh basah. O, betapa hidup dari waktu ke waktu selalu mengelus berkah.
Kegelapan inilah selimut hangat yang gemerlap. Mata hati kami adalah sebilah pisau tajam yang selalu terasah. Kelam bukanlah jaring-jaring perangkap yang membekap, tapi ia tapak-tapak kaki kami yang selalu mengatur jarak. Menancapkan jejak. Kami tahu arah langkah kemana hendak berpijak. Pulang dan pergi tak selalu bergantung pada matahari. Tak pula menunggu tuntunan bulan. Bukan berarti kami menafikkan ciptaan Tuhan. Tapi, justru dengan gelap dan kelam anugerah itu didapatkan.
Berjalan dan berlari bagi kami seringan hembusan angin menembus belukar dan semak berduri. Segala telah tersedia dalam rentang waktu yang tak dapat dihitung dengan rumusan angka-angka. Segala telah terjaga dengan aturan adat yang paling beradab. Amboi, masa-masa gemilang itu perlahan di gebuk gelombang. Menusukkan amuk, remuk.
* * *
“Kami bukan anjing. Jangan sebut kami orang kubu. Kami benci sebutan itu.” Segayo berteriak-teriak saat dimasukkan ke dalam sebuah ruangan. Ia disekap di sebuah pabrik pemotong kayu yang ada di tengah hutan. Ia bisa mendengar suara mesin gergaji yang memotong balok-balok kayu dengan jelas. Suara truk-truk yang mengangkut gelondongan kayu juga bisa didengar dari dalam ruangan itu.
Tak ada gunanya lagi berteriak. Jika pun ada yang mendengar, mereka tak akan memperdulikannya. Mereka pun mungkin akan membunuhnya jika ia berusaha melarikan diri. Ia tidak boleh mati. Ia harus terus berjuang.
Dulu ia merasa sangat bebas hidup di hutan. Membangun sesudungon, sebagai tempat berlindung atau rumah tinggal di dalam hutan. Tapi sekarang, ia merasa tidak sebebas dulu. Segayo tak mengerti kenapa bisa begitu. Yang ia tahu, hutan itu bukanlah milik siapa-siapa. Dari dulu ia hidup melangundi seluruh pelosok hutan. Bebas berkelana di dalam hutan. Namun kini kebebasan itu tidak lagi dimiliki, sebab orang kota dan desa adalah orang terang yang merasa mulai berkuasa. Segayo tak tahu sejak kapan orang-orang itu memiliki hutan. Yang ia tahu hutan sebagai anak sulung dari alam semesta adalah milik Tuhan yang harus dimanfaatkan dan dipelihara oleh manusia.
Perlahan Segayo turun dari atas kursi. Tubuhnya terasa lelah, lebih baik menyimpan tenaga yang masih tersisa. Ia lalu merebahkan tubuhnya di atas tikar. Rencananya sudah bulat.Untuk sementara biarlah beristirahat dulu, pikirnya.
* * *
Waktu berjalan meninggalkan petang. Segayo terbangun dari tidurnya. Pintu ruangan dibuka oleh seorang pria. Ia membawakan makanan.
“Ini makananmu. Ingat baik-baik! Jangan coba-coba melarikan diri. Diam saja disini! Kalau tidak tanggung sendiri akibatnya!” Segayo menatap pria itu dalam diam. Ia tidak sanggup lagi melawan. Ia harus mengumpulkan tenaga untuk terus berjuang.
Ditatapnya makanan itu. Sepiring nasi putih dan telur mata sapi. Perih hatinya. Seperti anjing saja, ia diperlakukan seperti itu. Ingin rasanya ia berontak tapi ia sudah tak kuasa. Tak ada yang mengerti perasaan orang rimba. Orang-orang di desa dan di kota menganggap mereka seperti binatang, tak beradab karena tinggal di hutan. Mereka menyebut orang rimba sebagai orang kubu. Padahal kubu itu bermakna terbelakang. Orang rimba tak suka dengan sebutan itu. Apakah hanya karena mereka tinggal di hutan lantas mereka disebut terbelakang? Apakah karena itu orang-orang desa dan kota merasa diri mereka lebih beradab daripada orang rimba?
Sama sekali tidak! Orang-orang rimba juga manusia seperti orang-orang desa dan kota. Hanya cara hidupnya yang berbeda. Orang rimba hidup bergantung pada alam. Mereka beranak pinak di dalam hutan, makan sirih, berburu dan meramu obat alam. Tapi bukan berarti mereka tidak memiliki peradaban. Memang sehari-harinya mereka tak memakai baju kecuali cawat penutup kemaluan. Rumahnya hanyalah beratap rumbia dan dindingnya dari kayu. Makan buah-buahan dan berburu kijang, ayam hutan dan rusa. Cara hidup seperti itu memang tidak modern. Tapi apakah salah jika orang rimba memilih cara hidup seperti itu?
Hatinya terus mendera sakit. Dia ingin marah tapi kepada siapa. Kepada orang-orang desa atau kota yang menganggap diri mereka lebih maju dari pada orang rimba? Huffhhh…! Segayo membuang nafas perlahan-lahan. Air matanya mengering karena ia terus membendung perih dalam hatinya.
Ia masih ingat dulu ketika masih kecil ia dibawa ayahnya pergi ke kota. Ayahnya hendak menukarkan rusa dan ayam yang didapatkan dari hutan dengan tembakau. Saat tiba di pasar, banyak orang yang mencemooh mereka. Bahkan ada orang tua yang memegang anaknya erat-erat karena mereka takut anak-anaknya kena guna-guna. Segayo merasa sakit hati sewaktu ia mendekati seorang anak kecil. Anak kecil itu berlari kepada orang tuanya dan mengatakan kalau ia takut diculik oleh orang kubu seperti dirinya. Padahal segayo hanya ingin bermain-main dengan anak itu.
Di pasar itu juga ia melihat ayahnya ditipu oleh pembeli. Ayam hutan dan rusa itu hanya dihargai dua kantung plastik tembakau. Bahkan ayahnya harus memberikan beberapa rupiah untuk membeli tembakau itu. Siapapun tahu, kalau itu tak pantas. Segayo marah, tapi ayahnya menahannya. Ia mengingatkan anaknya tentang seloka adat yang pernah diajarknannya. Tidak lapuk kareno hujan, tidak lekang kareno paneh. Biarlah mereka menipu, tapi kita harus bersabar. Harus kuat menahan cobaan.
Ayahnya banyak mengajarkan seloka adat dan hukum rimba yang harus dipatuhi oleh semua orang rimba. Kata ayahnya, orang rimba memiliki hukum sendiri. Hukum orang rimba tidak jauh berbeda dengan hukum Minang yang disebut Pucuk Undang Nang Delapan. Aturan rimba sendiri melarang adanya pembunuhan, pencurian dan pemerkosaan. Itulah larangan yang paling berat. Jika orang rimba melanggarnya maka akan dikenai hukuman lima ratus lembar kain. Jumlah kain sebanyak itu dinilai sangat berat dan sangat sulit disanggupi, karenanya orang rimba berusaha untuk mematuhi. Bagi mereka, mereka cukup bertubuh onggok//berpisang cangko//beratap tikai//berdinding baner//melemak buah betatal//minum air dari bonggol kayu// atau berkambing kijang//berkerbau tenu//bersapi ruso//.
Namun Segayo heran melihat orang-orang desa dan kota. Mereka memiliki hukum yang berbeda dengan orang rimba. Malah lebih lengkap daripada seloka adat. Tapi kenapa banyak dari mereka yang berani melanggar hukum yang dibuatnya sendiri? Mereka yang menganggap dirinya lebih beradab, suka merusak peradaban itu. Bagaimana bisa beradab jika hukumnya sendiri dilanggar?
Dulu pernah ada teman Segayo yang bernama Tebo, memutuskan untuk meninggalkan hutan dan memilih hidup bermasyarakat di desa. Ia memilih hidup sebagai petani. Namun setelah beberapa tahun ia tinggal di desa, sesuatu masalah menimpa dirinya. Ia ditangkap polisi dan dipenjara. Segayo berusaha mencari tahu apa masalahnya. Ternyata Tebo dipenjara karena ia dituduh merusak properti milik sebuah pabrik yang baru dibangun oleh sebuah perusahaan di desa itu. Pabrik itu terletak di dekat ladangnya dan mereka mencaplok sebagian dari ladang milik Tebo. Sebuah papan nama perusahaan itu didirikan di ladangnya. Ia marah lalu mencabut papan nama itu dan membakarnya. Ia pun langsung ditangkap oleh polisi karena perbuatannya itu.
Segayo heran. Padahal pengusaha pabrik itulah yang telah merampas ladang temannya itu. Tetapi kenapa ia tidak ditangkap. Malah temannya yang mengambil haknya kembali, ditangkap dan dipenjara oleh polisi. Ia bingung karena pengusaha itu tidak dihukum. Dimanakah hukum itu sebenarnya? Kenapa orang yang bersalah itu tidak ditangkap? Lagi-lagi Segayo menahan sakit hati karena ternyata orang-orang yang mengaku beradab bisa berbuat biadab.
Rasa sakit hatinya pun larut bersama malam. Gelap sudah menyelimuti hari. Suara-suara mesin gergaji sudah berhenti. Tak ada lagi truk yang mengangkut gelondongan kayu. Sebagian pekerja sudah pulang. Sedangkan yang lainnya menginap di penginapan sekitar pabrik pemotongan kayu. Segayo masih sendirian mengingat-ingat kejadian yang selama ini menimpanya.
* * *
Segayo terkejut saat sekumpulan orang bersenjata menyergap rumahnya. Ia hanya sendiri di rumahnya. Istri dan anak-anaknya sudah mengungsi ke Bukit Duabelas lebih dahulu. Begitu juga dengan tetangganya. Mereka sudah mengetahui bahwa sekelompok orang bersenjata akan datang ke lahan hutan yang baru mereka garap. Orang rimba sudah tahu kalau mereka hanya boleh mendiami hutan di Bukit Duabelas. Jika mereka menggarap hutan di luar kawasan itu, mereka akan disiksa oleh orang-orang bersenjata lalu dikembalikan lagi ke kawasan Bukit Duabelas.
Ia dan keluarganya serta beberapa tetangganya memilih pindah dari bukit itu karena ingin membuka ladang baru. Kebiasaan hidup seminomaden orang rimba itulah yang dianggap merusak hutan. Dengan membuka hutan, maka banyak pohon yang akan ditebang. Padahal orang rimba hanya membuka lahan beberapa hektar saja. Sedangkan orang kota yang sering disebut cukong bisa menebas hutan beribu-ribu hektar. Malah mereka dibiarkan bebas begitu saja.
Orang-orang kota berbuat tidak adil terhadap orang rimba. Mereka menangkapnya. Ia berontak. Tapi berkali-kali pukulan mendarat ditubuhnya. Segayo tak bisa lagi melawan. Dua orang pria mengikat tangannya. Ia akan dibawa ke salah satu pabrik pemotongan kayu. Di sana ada tempat untuk menyekap orang rimba yang keluar dari kawasan Bukit Duabelas.
“Dasar orang kubu! Dibilang berkali-kali supaya jangan pindah dari kawasan Bukit Duabelas itu, tetap saja membangkang. Tempat kalian sudah disediakan disana. Jangan pindah-pindah lagi!” Seorang pria bersenjata memarahinya.
“Tapi hutan itu adalah tempat kami. Tempat kalian itu di desa dan di kota. Kalian orang terang malah merusak tempat kami. Kami saja tak pernah merusak tempat kalian!” Teriak Segayo.
“Sudah! Diam! Ayo terus jalan!” Pria yang lain membentaknya.
Mereka berjalan menyusuri jalan tikus menuju pabrik. Mereka harus menyusuri lembah dan bukit. Jaraknya sekitar tujuh kilometer. Di tengah perjalanan mereka berhenti untuk beristirahat. Segayo meminta izin untuk buang air.
“Baiklah! Kau, Willy! Jaga dia! Jangan sampai dia kabur!” Seseorang yang tampaknya seperti pemimpin dalam kelompok itu memerintahkan anggotanya untuk menjaga Segayo buang air. Seorang anggota yang bernama Willy itu membawanya ke lembah bukit. Di situ ada sebuah telaga kecil. Di sekelilingnya terdapat rimbunan ilalang setinggi orang dewasa. Willy melepaskan ikatan Segayo. Ia berdiri tak jauh dari Sega-yo sambil memegang senjata.
“Sudah, disitu saja. Jangan coba-coba kabur!” Willy memperingatkannya. Namun Segayo melihat ada kesempatan untuk lari. Saat Willy lengah, disitulah diam-diam ia melarikan diri. Tak lama akhirnya Willy sadar kalau tawanannya sudah kabur.
“Kurang ajar! Awas nanti kalau ketemu!” Willy akhirnya kembali ke kelompoknya. Segayo hilang dalam rimbunan ilalang. Sebagai orang rimba ia sudah mengetahui seluk beluk hutan. Ia dapat mengecoh Willy yang menjaganya. Pimpinan kelompok itu pun memarahi anak buahnya. Mereka lalu mencari Segayo lagi.
Segayo mengendap-endap dalam rimbunan ilalang. Setelah posisinya agak jauh, ia berlari dalam rindangnya pohon-pohon di hutan. Ia bersembunyi di bawah pohon besar di balik bukit. Nafasnya terengah-engah. Ia melihat sekelilingnya untuk memastikan keadaan. Ia sudah tak sanggup berlari. Ia memutuskan untuk bersembunyi disitu dulu.
Sementara itu matahari sudah tergelincir ke arah barat. Kelompok orang bersenjata itu mengerahkan bantuan untuk mencari Segayo. Mereka menyusuri seluruh hutan. Menyisir setiap bukit dan lembah. Hari sudah semakin sore dan mereka harus bisa menangkap Segayo kembali.
Derap langkah orang berjalan semakin dekat. Segayo segera berlari.Mereka melihat segayo berlari, lalu segera mengejar.Segayo berlari ke arah bukit. Mereka terus mengejar Mereka akhirnya mengepungnya. Segayo terkepung. Dia mencoba berlari, pukulan hantaman, dan tikaman berkali-kali tak dirasakan lagi. Dia terus saja berlari. Hutan seperti memeluknya. Tangannya membekap perutnya yang sudah tak berasa.
Sepanjang perjalanan ia terus saja merenungkan hal-hal yang menimpa dirinya. Ia hanya ingin pindah dari Bukit Duabelas. Ingin mencari kehidupan yang lebih baik. Bukankah orang-orang di desa atau di kota juga pernah pindah ke desa atau kota yang lain? Bahkan bisa ke seberang pulau. Tapi mengapa orang rimba tidak boleh pindah ke kawasan hutan yang lain. Segayo merasa orang rimba seperti dikurung dalam Bukit Duabelas. Ia merasa seperti binatang yang dilindungi dalam sebuah cagar alam. Semua orang benar-benar memperlakukan mereka seperti binatang.
Dari dulu memang orang rimba dan orang terang selalu saja bermusuhan. Ia pernah diceritakan ayahnya kalau dahulu sudah pernah terjadi perselisihan antara orang rimba dan orang terang. Pada saat itu nenek moyang orang rimba menderita kelaparan di hutan. Ia lalu mengambil padi di sawah milik penduduk desa. Terjadilah pertengkaran yang berujung pertempuran terbuka. Nenek moyang orang rimba lari ke bukit dan menggulingkan balok-balok kayu, hingga menewaskan penduduk desa. Beberapa penduduk desa yang selamat, membalaskan dendamnya pada suatu kesempatan. Mereka berhasil membunuh orang rimba itu. Sejak saat itu terbentanglah jarak antara orang rimba dan orang desa.
Hingga saat ini permusuhan itu sebenarnya masih terjadi. Orang desa ataupun orang kota merasa hutan itu adalah miliknya. Hingga akhirnya orang rimba disingkirkan. Hutan semakin banyak ditebang. Orang rimba hanya diberikan tempat yang disebut Taman Nasional Bukit Duabelas untuk tempat mereka menjalani kehidupan mereka sehari-hari.
Segayo tak suka diperlakukan tidak adil. Ia mengajak istri dan anak-anaknya serta tetangganya untuk meninggalkan Bukit Duabelas. Mencari kehidupan baru yang lebih baik. Namun ternyata usahanya tidak berhasil. Ia malah ditangkap dan akan dikembalikan ke Bukit itu.
* * *
Malam larut. Udara malam mendinginkan hatinya yang perih. Suara hewan malam memenuhi ruang kepalanya. Dihutanlah kehidupanku, pikirnya. Namun hutan semakin sedikit. Jikalau semua orang rimba dikumpulkan di Bukit Duabelas, pada akhirnya nanti hutan di kawasan itu akan habis juga. Semakin banyak jumlah orang rimba yang akan membuka lahan di kawasan itu. Tak akan ada lagi pohon-pohon rindang yang tumbuh di kawasan itu.
Sebagai orang rimba mereka harus menjaga dan melestarikan hutan. Mereka tidak meninggalkan lahan mereka yang lama begitu saja. Mereka akan menanami bibit-bibit pohon jika lahan itu tak bisa lagi digunakan. Pada akhirnya lahan itu akan rimbun kembali dipenuhi pepohonan.
Tidak seperti cukong kayu. Mereka menebang hutan beribu-ribu hektar. Tapi tak mau menanaminya lagi karena lahan hutan yang gundul membutuhkan begitu banyak bibit pohon dan biaya yang besar. Dasar orang! Segayo mengumpat dalam hatig tera. Hanya mau mengambil untung saja. Tak mau bertanggung jawab atas kerusakan yang dibuatnya.
Mereka tak mau peduli akan banyaknya kehidupan didalam hutan. Dengan rusaknya hutan, akan memusnahkan beragam jenis kehidupan. Entah berapa banyak lagi kehidupan yang akan dimusnahkan oleh mereka. Padahal mereka sudah berpinang gayur//berumah tango//berdusun beralaman//beternak angso//.
Segayo tak tahu sampai kapan keserakahan orang terang itu akan hilang. Ia tak mengerti kenapa seperti itu. Apakah kehidupan di desa atau di kota tidak bisa memberikan kepuasan dan kebahagiaan bagi mereka. Padahal cara hidup mereka lebih maju dari pada orang rimba.
Ia bersyukur karena cara hidup orang rimba ternyata membuat mereka lebih menghargai alam. Cara hidup yang begitu sederhana membuat orang rimba tidak serakah. Mereka hidup dengan pemberian alam yang sudah tersedia di hutan. Dengan hidup seperti itu mereka sudah merasa bahagia.
* * *
Di dalam sesudungon di Bukit Duabelas, istri Segayo menangis terisak-isak. Ia mendapatkan kabar bahwa suaminya disekap di pabrik pemotongan kayu. Semuanya sudah hancur diterjang banjir. Tak ada gunanya mencari suaminya yang sudah tak jelas berimba di mana. Ia hanya bisa pasrah, bersama anak-anaknya kembali melangun.
Orang-orang itu, orang-orang terang. Menghalau tenang. Menyilaukan pandang. Meniupkan seruling kematian, menabuh genderang perang. Dengan rasa kikir mereka sisir semilir batin kami. Mereka koyak peradaban kami. Apakah ini memang garis hidup
Yang dipahat pada nasib kami? Ataukah nisan yang sedia ditanam pada makam kami?
Namun, entah siapa yang silap merangkai do’a. Bala bencana itu datang mengacungkan senjata. Satu persatu kami tenggelam dalam kawasan banjir air mata. Terjerambab pada wajah murka penuh sengsara. Teringat pituah para tetua akan tumbuhnya pohon derita berbuah gundah gulana di masa yang tak sempat tercatat tanggalnya. Pituah tentang sebuah kesetiaan pada keteguhan adat.
“Bacalah denting embun yang menitik dari ujung daun . Dengarlah lantunan angin yang mengalun di sela-sela pepohonan. Simaklah air yang mengalir yang menyibak cengkram-an akar yang tertanam . Atau dengung bebatuan pada geliat tanah di wajah bumi. Serta gema do’a rerumputan pada segala. Jika tidak, terang akan terasa mengahanguskan. Melumat segala peradaban yang telah lama terpelihara dari abad-abad yang telah ter-pahat,” demikian siraman penyejuk jiwa dari tetua di akhir kisah dalam sulaman kelam.
Dan apakah memang suratan badan atau memang kami yang berkhianat dari aturan garis adat yang telah ditancapkan. Orang-orang terang datang mengusung Tuhan pembaharuan. Melelang sejarah peradaban yang memabukkan. Kami terjebak dalam kotak-kotak tak berjejak. Terjerambab dalam lobang-lobang derita.
Hutan kami mulai dilumatkan. Pepohonan tempat kami bernaung direbahkan. Roh-roh yang bersemayam dan jiwa yang tertanam diluluhlantakkan.
“Kami adalah orang-orang dari negeri beribu cahaya yang mengusung peradaban. Dan kalian orang-orang gelap bersiap-siaplah menggali makam sebelum sampai pada zaman keemasan. Sebab, kami adalah penguasa setiap zaman.”
Entahlah itu karena ramalan atau memang nasib yang sudah digariskan, para tetua sudah berkali-kali mengabarkan peringatan. Tentang orang-orang terang yang mengusung matahari. Menghanguskan dan menyilaukan pandang.
“Tanamlah jiwa-jiwa kalian pada setiap pepohonan. Tanam pula jiwa-jiwa anak cucu dan seluruh garis keturunan kalian pada tanah dan air tempat berpijak. Pada akar rerumputan ataupun semak belukar, serta pasir dan bebatuan. Maka yakinlah hidup kalian akan selalu diselimuti ketentraman dan kedamaian. Jika tidak bersiap-siaplah kalian menghuni makam tak bertuan. Kalianlah yang paling mengerti dengan hutan ini, maka pertahankan sampai titik darah penghabisan…”
Dan nujum itu kini telah dimafhumkan. Ramalan itu kini telah ditafsirkan. Tak terbantahkan. Sejarah kami terjarah. Terbakar. Dihanguskan. Jiwa kami tercabik pada senandung gergaji, pada pepohonan yang ditumbangkan.. Buldozer-buldozer pembantai menyemai sangsai.
Lelaki kami satu persatu merapal ajal. Perempuan kami satu persatu dilucuti. Anak-anak dan orang-orang tua kami satu persatu dibutakan dengan terang yang paling menyilaukan. Dari kosong kembali ke kosong. Dari hampa kembali ke hampa. Kami berada dalam ada dan tiada.
Jika malam tiba kami kehilangan mutiara kata-kata. Hanya mampu merangkai lirih air mata tak berjiwa. Kami tangisi diri sendiri. Kami kutuk pengkhianatan kami pada nenek moyang. Kami ratapi jiwa kami yang melayang pada setiap pepohonan yang rebah ditum-bangkan. Tak lagi menyulam api pada kelam malam. Tak lagi memetik bintang dengan nyanyian riang. Tak lagi menjaring bulan lewat tari-tarian kemenangan. Tak lagi me-ngunyah pituah para tetua, sebab terlanjur dimuntahkan. Sejarah tercerabut sampai ke akar-akarnya. Sepanjang malam kami hanya bisa berpelukan, berdo’a agar tak lagi disi-laukan siang benderang, yang menghanguskan harapan. Segala telah dibungkam. Segala suka cita semakin samar. Segala duka lara semakin membara.
Sementara itu udara semakin dingin. Gemuruh langit melenyapkan suara-suara malam. Segayo diam kali ini. Namun tak seperti biasanya. Ia sangat mengenal alam di hutan. Kali ini ia tak mendengar sedikitpun suara-suara binatang malam saat gemuruh terhenti. Ada sesuatu yang sepertinya bakal terjadi. Ia tahu sabda alam akan datang malam ini. Menumpahkan segala kekesalannya yang lama terpendam.
Tak lama hujan lebat turun. Membasahi seluruh kawasan hutan. Ia diam membeku . Ia mengerti. Tak ada gunanya berteriak. Ia pasrah. Ia bisa merasakan getaran tanah. Ia pun dapat mendengar gemuruh yang bukan berasal dari langit. Ia bisa merasakan amarah alam yang sudah memuncak. Ya, perih hati ini telah menyatu dengan amarah semesta yang selama ini terbungkam, batinnya.
Dan malam ini Segayo bertekad bercerai dalam ketiadaan. Menjadi sebatang lara pada sejarah yang terus menerus dijarah. Segayo jatuh terjerembab. Tangannya terus menu-tupi perutnya yang koyak, terasa lelahnya selama berlari menuju sesudungon, pondok dari bangunan kayu, berdinding kulit kayu. Dan beratap daun serdang benal. Matanya terasa semakin samar menatap sekitar hutan yang perlahan menina-bobokkannya.
Medan-Kutubul Amin,2007
sesudungon ) : pondok-pondok, rumah tempat tinggal Orang Rimba (Suku Anak Dalam) yang terbuat dari kayu, berdinding kulit kayu, dan beratap daun serdang benal.melangun ) : pindah ke tempat lain karena ada warga yang meninggal, menghindari musuh, atau ingin membuka ladang baru. orang terang ) : orang-orang di luar rimba, orang-orang di desa dan di kota.seloka adat ) : aturan-aturan hidup ( hukum ) rimba yang dipakai Orang Rimba dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Ketika Deru Bunyi Kereta
Bel istirahat berbunyi. Siswa-siswa SMA Dalihan berhamburan. Sebagian bergegas menyerbu kantin, selebihnya mencari posisi sendiri-sendiri. Aku hanya terpaku di depan ruang kelas. Memandang tepat lurus ke depan, ke arah lintasan rel kereta. Di sisi kiri dan kanan rumah-rumah penduduk, merunduk.
Dari lantai tiga sekolah kami, pandangan memang terasa lepas. Aku selalu menikmati pemandangan yang unik ini pada setiap bel-bel istirahat. Orang-orang yang melewati lin-tasan. Orang-orang yang menjemur pakaian. Dan orang-orang yang selalu menyulam ke-sibukan dengan beragam kegiatan.
”Gerrrrejekjekjek.........”
Dari kejauhan suara kereta api perlahan meninggi. Persimpangan tergesa. Bunyi per-tanda pun mengudara. Palang kereta perlahan merebah. Berpuluh mata nyala. Pikiran pun meraba. Ah, suasana mulai terdengar gaduh. Klakson pun beradu suara.
”Gerrrrejekjekjek........”
Suara kereta semakin menyayat. Melintasi kornea mata. Di lantai tiga, siswa-siswa memeram cengkrama. Sebelum berebut masuk kelas, mereka sempatkan mengunyah laju kereta. Pemandangan yang seram, namun memesona.
”Pak!” seseorang datang menyapa. Aku tersenyum, mengangguk. Selebihnya hanya diam.
Seorang anak laki-laki, mungkin murid baru. Aku baru kali ini melihatnya. Tapi beberapa murid yang lain seperti sudah sangat mengenalnya. Beberapa diantaranya me nyapa. Dia pun hanya tersenyum sekadarnya. Rambut cepaknya, terlihat menambah kegagahannya sebagai siswa yang mampu merengkuh perempuan mana saja.
Sejak pertemuan itu, aku mulai mengajaknya bicara di sela-sela jam menunggu laju kereta. Ada kisah pahit yang cukup menyayat kemanusiaan. Ah, entahlah. Apakah hidup yang kurang bersahabat, atau manusia yang bangga memelihara segala khianat.
***
Dan siang ini, setelah usai sekolah, aku menyempatkan diri singgah menikmati segelas kopi dari warung kopi yang tidak begitu jauh dari lintasan kereta. Di sini, aku lebih lelu-asa menikmati laju kereta dengan segelas kopi dan beberapa potong ubi.
”Mau minum apa, PakWin?” lelaki penjaga warung menegurku.
”Seperti biasa, Bang?” Aku tersenyum.
Lelaki itu berangsur pergi setelah bertanya. Aku menunggu. Di sekitarku beberapa abang becak menikmati kopi sambil menggelar canda. Hal itu dilakukan setelah meng-antar-jemput penumpang.
”Wah, ternyata jadi tukang becak itu enak. Kita tidak terkena program rasionalisasi sama sekali” seorang tukang becak bertubuh gendut, hitam, berujar.
”Lho, kowe kok ngerti? Apa itu yang kamu sebut? Program rasianalisasi? Apaan tuh!” seorang tukang becak yang duduk di sebelahnya, bertubuh kurus, menimpali. Aku Cuma bisa senyum mendengar pembicaraan mereka yang menjurus serius.
”Memang pemerintahan kita yang sudah rusak. Pejabat-pejabat sekarang tidak ada yang beres! Semuanya otak udang! Dari segala sudut dan lapisan sudah digrogoti dengan persoalan-persoalan yang begitulah....” arah sudut, dua orang tukang becak juga sedang berdebat.
”Betul kata kau itu. Dewan Perwakilan Rakyat pun sudah diisi oleh para mantan. Mantan tukang becak, mantan preman, mantan provokator, mantan macam-macamlah! Kadang aku kasihan sama anak-anak sekolah itu, tiap hari belajar yang kata gurunya demi masa depan. Ternyata, masa depan anak-anak sekolah itu diisi para mantan!” tukang becak sebelahnya menyambung pembicaraan.
”Eh, pandai juga kau ngomong, Din!” tukang kopi ikut bicara sambil mempersiapkan minuman.
”Ah, jangan sepele kau, Bang. Begini-begini, aku pernah masuk organisasi pemuda. Sekarang tidak mau aku teruskan. Kalau mau aku mungkin duduk jadi anggota dewan seperti kawan-kawan aku satu organisasi dulu.”
”Kenapa nggak kau teruskan?’ si gendut ikut bicara.
”Malas aku. Nuraniku tersentuh. Aku merasa terhina. Coba kau pikir, Bang. Aku makan uang rakyat, tapi aku tidak pernah memperjuangkan uang nasib rakyat. Macam mana menurut kalian? Gawatkan?”
”Wah, ini orang keblinger banget. Kamu nggak usah mikirin nasib rakyat. Nasib sendiri aja udah empot-empotan gitu kok, malah mau mikirin nasib wong cilik? Ya,sudah Jangan kebanyakan ngimpi.”
”Huss ngomongnya dipelankan, lihat tuh...” tukang kopi memberi kode. Suasana tiba-tiba hening. Semua mata tertuju hati-hati ke arah seberang. Seorang laki-laki muda berpangkas cepak duduk di atas sebuah batu besar di pinggir jalan, memandang ke arah rel.
”Sudah dua minggu dia duduk di situ. Satu jam-anlah, setelah itu pergi. Aku sudah sering bilang sama kalian, jangan sekali-kali bicara politik, pemerintahan atau apa saja yang menyinggung kebijaksanaan pemerintah. Kalian lihat orang itu sedang mengamati tempat ini!”
”Tapi dia cuma melihat ke arah rel!”
”Eh, pelan-palan kau ngomong itu strategi pengintaian. Kadang-kadang dia sering memakai seragam SMA,” beberapa orang memperhatikanku pelan-pelan,”Eh, kalau dia lain. Aku kenal dia. Langganan tetapku sejak dua tahun yang lalu. Dia guru di sekolah itu. Mengajar kelas tiga.”
Aku mengnangguk pelan. Perasaanku tiba-tiba tegang. Tukang kopi masih tetap ber bisik-bisik dengan tukang-tukang becak langganannya. Mata mereka sesekali mencuri pandang ke arah lelaki muda yang berpangkas cepak itu.
”Tapi kok sedih kali mukanya kutengok!”
”Eh, ini anak masih nggak ngerti. Itu namanya strategi pengintaian. Biar orang yang sedang diintai tidak curiga. Gitu. Macam di tivi-tivi itulah.”
Mataku tertuju agak serius ke arah laki-laki muda itu. Aku terperanjat. Aku mengenal nya. Kulihat wajahnya memang sedang murung. Dia seperti punya beban berat dan aku hanya bisa menduga-duga. Aku hanya merasa dia sama denganku punya kebiasaan menikmati laju kereta yang melintas, pintas.
”Mungkin orang seteres itu!”
”Alah, hati-hati. Pelan-pelan kau bicara. Kalau dia dengar, bisa gawat.”
”Takut kali lah kau, Bang. Tak tahunya dia itu.”
”Sudahlah. Pokoknya pelan-pelan aja cakapnya. Kalau laju kereta sudah lewat baru boleh kalian becakap. Sekuat apapun tak kularang.”
”Kenapa,Bang?”
”Itu tekab woi. Ada kode-kode tertentu yang tidak bisa kita pahammi. Sssst....”
Semua berbicara pelan. Sesekali mata mereka juga mencuri pandang ke arah laki-laki muda itu. Tidak berapa lama kemudian suara laju kereta mulai terdengar dikejauhan. Aku berdiri, laki-laki itu berdiri. Kereta api melaju. Aku berjalan, pelan. Tapi aku kehilangan bayangan.
Jam di tanganku menunjukkan pukul 14.30 WIB. Aku berjalan pelan menuju tempat lelaki itu duduk sebelum pergi. Tidak ada yang kudapatkan selain coretan di balok kayu lintasan kereta. Pembuat saluran air mengalirkan air, tukang panah meluruskan anak pa-nah, tukang kayu melengkungkan kayu, orang bijaksana mengendalikan pikirannya.
Aku hanya terpaku. Tidak paham dengan maksud tulisan itu, sampai aku mening-galkan tempat itu.
***
Bel istirahat berbunyi. Siswa-siswa SMA Dalihan berhamburan. Sebagian bergegas menyerbu kantin, selebihnya mencari posisi sendiri-sendiri. Aku hanya terpaku di depan ruang kelas. Memandang tepat lurus ke depan, ke arah lintasan rela kereta. Di sisi kiri dan kanan rumah-rumah penduduk, merunduk.
Dari lantai tiga sekolah kami, pandangan memang terasa lepas. Aku selalu menikmati pemandangan yang unik ini pada setiap bel-bel istirahat. Orang-orang yang melewati lin-tasan. Orang-orang yang menjemur pakaian. Dan orang-orang yang selalu menyulam ke-sibukan dengan beragam kegiatan.
”Woi, tengoktu! Ngapain si Agung duduk di situ,” seorang siswa berteriak,”pantaslah dia nggak masuk tadi. Rupanya dia cabut.!”
”Steres dia itu. Sebentar lagi mau dipecat,” sahut yang lain.
”Dia kan anak baru. Kok cepat kali dipecat?”
”Apalagi, ketauan gelek lah macam nggak ngerti aja .”
Aku terkesiap. Sungguh yang satu itu aku tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa ibunya kawin lagi. Dia tidak setuju. Apalagi lelaki yang menjadi ayah barunya lebih pantas dipanggil dengan kakek daripada ayah. Apalagi dia anak satu-satunya. Dan diapun me-ngatakan, selau pergi ke diskotik untuk membuang segala muaknya. Selebihnya dia lebih senang menunggu laju kereta yang melintas. Bebannya seakan ikut lepas tergilas. Selan-jutnya dia sudah merasa sangat puas. Bebas.
Dari kejauhan, aku melihat sebuah minibus daihatsu hijet 1000 keluaran tahun ’83 berhenti. Seorang tua dengan tongkat di tangan berjalan tertatih, datang mendekat. Tidak berapa lama setelahnya mereka sudah terlibat percakapan ’hebat’. Lelaki tua itu melutut. Suara Agung membelah angkasa.
”Gerrrejekjekjek.....”
Dari kejauhan suara kereta api perlahan meninggi. Persimpangan tergesa. Bunyi per-tanda pun mengudara. Palang kereta perlahan merebah. Berpuluh mata nyala. Pikiran pun meraba. Ah, suasana mulai terdengar gaduh. Klakson pun beradu suara.
”Gerrrrejekjekjek........”
Suara kereta semakin menyayat. Melintasi kornea mata. Di lantai tiga, siswa-siswa memeram cengkrama. Sebelum berebut masuk kelas, mereka sempatkan mengunyah laju kereta. Pemandangan yang seram, namun memesona.
”Pak!” seseorang berteriak sambil mengarahkan telunjuknya.
”Astagfirullah. Agung!” aku berteriak,”Jangan!”
Yang lainpun ikut menyeru. Hampir seluruh siswa berteriak. Orang-orang di warung kopipun berteriak. Lelaki tua itu pun berteriak
”Gerrrejekjekjek.....”
”Krakkkkk..............”
Medan, 08
Bulan
Bulan,
Di atas kuburan
(sitor situmorang)
Bulan malam ini memancarkan cahanya yang paling terang. Merayap, merambat, mengalir, dan menembus ruang-ruang yang paling sempit sekalipun. Bulan itu juga menari bersama senandung puji-pujian. Senandung itu membahana ke segala penjuru dan pelosok. Berkendara di atas iring-iringan beduk dan lonceng yang mengangguk-angguk. Bergema. Berganti-ganti.
Arus jalanan terampas dari cangkangnya, dicengkram oleh euphoria kegembiraan. Di langit kembang api telah pula melahirkan beribu sensasi bersamaan malam seribu bulan. Seluruh setasion radio dan televisi memberi suguhan dengan berbagai variasi. Bulan telah menjelma menjadi apa saja. Dan kini, ia adalah selebriti yang paling digandrungi.
Mulai dari anak-anak, sampai orang dewasa. Dari yang miskin sampai yang kaya. Tidak hanya wanita juga pria. Siapa dan apa saja berebut bulan. Ingin bercinta dengan bulan. Tidur dipelukan bulan. Mimpi di taman bersama bulan. Makan bulan. Minum bulan. Mengenakan bulan. Segalanya adalah bulan.
“Malam ini penuh bulan ya, Bu?”
“Ya, Sayang.”
“Cahayanya seperti pelangi.”
“Ya, Sayang.”
“ Ada di mana-mana. Ada di Mesjid. Ada di Gereja.”
“Ya, Sayang.”
“Lihat, Bu. Malam ini cahayanya juga ada di gedung-gedung yang menjulang itu. Berpijar juga pada sumbu-sumbu lilin.”
“Mmmh..ya,ya, Sayang.”
“Seandainya tiap malam seperti ini, indah juga ya, Bu.Wah, bulan itu bersenandung dan orang-orang itu membawanya. Aku mau satu.”
“Ssst..sudahlah, Sayang.”
Fitri meneteskan air mata. Pipinya yang cekung terasa begitu curamnya. Betapa tidak, lembar-lembar masa lalu terus memaksanya untuk dibaca. Pertanyaan-pertannyaan yang sama selalu berulang.
“Bu, aku suka bulan.” Pandangannya mengunyah wajah langit, menelan bulan yang menggantung.Tangannya yang mungil terlihat menggapai-gapai.
“Bu, mereka mempermainkan bulan!”
Bulan seorang bocah perempuan berusia enam tahun terduduk. Sejenak ia diam, menunggu sahutan, karena suram membayangi kedua matanya. Kesuraman pikirannya juga melanglang pada 1.700 kepala yang bersembunyi di tempat perlindungan bawah tanah yang pengap persis pada sebuah tempat parkir. Suara orang berebut, melempar dan meledakkan bulan di atas permukaan tanah terdengar sudah seperti sebuah nyanyian kepedihan.
“Bu, mereka saling meledakkan bulan!”
Ia kembali terdiam, menunggu sahutan. Fitri, ibunya, berusaha menahan kesedihan. Perempuan yang berusia 30 tahun itu terenyuh. Matanya terus berkaca-kaca. Ia sudah kehilangan suami dan anak lelakinya. Hanya dia dan Bulan, si bungsu, yang masih hidup.
******
Setahun yang lalu Bulan masih bermain bersama abang dan ayahnya pada temaram malam. Begitupun hari-hari setelahnya. Bulan merangkainya dengan derai tawa penuh manja dipelukan ayah. Bersembunyi dari kejaran abang yang berlari seolah layang-layang terbang. Fitri hibuk terus melinting do’a-do’a. Sungguh keluarga yang bahagia.
Menjelang maghrib seminggu setelahnya. Fitri seperti membaca firasat luka. Air matanya selalu mengalir tiba-tiba. Biasanya setiap selesai mengurai do’a di atas sajadah basah, air mata itu biasa mengalir bagai sir. Debur hatinya kini terasa berombak.
Senandung azan menggema. Suaranya membahana. Mengelus-elus perut bumi. Mem-belai wajah langit. Angin sepoi-sepoi mengayuh udara bersama sayap do’a. Bulan dengan wajah berseri berkejaran di antara kepungan awan. Selesai berbuka mereka salat maghrib berjama’ah. Ayah sebagai Imam. Biasa setelah salat berjema’ah ayah mengucurkan ceramah. Nasihat penyejuk jiwa mengalirkan bening-bening rasa. Lantas, sambil mengucap shalawat ,berpelukan adalah penanda siraman rohani telah usai dilakukan.
Fitri segera membereskan sisa-sisa berbuka. Lalu, ayah pergi bersama abang ke Mesjid untuk mengusung Isya dan Tarawih berjama’ah. Fitri membiarkan Bulan asyik bermain boneka kelinci kesayangannya, sebelum menyusul Ayah dan Abang ke Mesjid.
Berselang beberapa menit mangkuk kaca di tangan Fitri terlepas. Benturannya di lantai mengakibatkan pecahannya menebar kemana-mana. Bersamaan dengan itu pula terde-
ngar suara ledakan yang memekakkan telinga.
“Allah…,” Fitri menjerit pelan. Ledakan itu terdengar sekali saja dari arah Mesjid sebelah utara.
Dari arah ruang tamu Bulan berlari kea rah Fitri dengan tergesa.
“Bu, ada bulan jatuh. Cahayanya indah…”
Fitri terdiam. Air matanya mengalir.
“Tapi, Bu. Bulannya menjerit seperti kesakitan…”
Fitri hanya mengelus dada. Segera ia raih Bulan, berlari kea rah Mesjid. Langkah kaki terseok dalam erangan batin luka. Di Mesjid orang-orang sedang menjeritkan do’a.
“Bu, Ayah dan Abang mana?”
Fitri sesenggukan dengan pilu tertelan.
“Wah, Ayah pasti sedang mengobati bulan. Abang juga kan, Bu..?”
Fitri hanya mengangguk, menahan beribu cambuk yang menggebuk. Mencabut beribu duri yang menusuk.
Setelah itu Bulan selalu bertanya tentang Ayah dan Abangnya. Fitri hanya memberi jawaban tentang Ayah dan Abang sedang mengobati bulan di Surga dengan waktu yang tidak terhingga, sampai Bulan terbiasa dengan penantian yang maya.
“Bu, Bulan ingin membantu Ayah dan Abang di Surga…”
Fitri terdiam dari ribuan tanya tanpa koma.
***
Sudah 22 hari, ia berlindung di sana bersama keluarga yang lain, terutama sejak agresi militer yang kedua, yang meratakan sebahagian besar bangunan di pinggir jalan. Bungker dan Shelter tak lagi menjadi tempat perlindungan yang aman. Teror menyebar kemana-mana. Jet-jet bergemuruh di udara yang gaduh. Serta selebaran dengan tulisan yang keruh sebagai peringatan kepada warga sipil yang belum mati terbunuh.
Tak ada yang menduga bahwa tempat perlindungan itu menjadi tempat perlindungan yang aman sejak meletusnya perang. Tidak ada tanda-tanda kehidupan, kecuali sekuter yang diparkir di luar, dan debu-debu berseliweran di jalan. Sekuter itu selalu dipergunakan pasukan pejuang untuk mengawasi jalan di pinggir kota .
“Bu, mereka saling meledakkan bulan!.”
Bocah itu terus mengumbar gusar. Matanya terpaku pada bibir Fitri menunggu dengan tergugu. Sebuah gelengan kepala Fitri cukup membuat warna suram yang membayangi matanya, sedikit bercahaya.
Usia belianya tak mampu meredam duka. Bulan hanya menebar suka. Segera ia berlari menuju ke jalan gelap, melalui tangga semen dari lantai lima bawah tanah yang suram terpampang pada kanvas, pada goretan-goretan buram yang memperlihatkan lautan keluarga di seluruh ruang lengang yang sangat lapang di tempat parkir itu. Bulan berlari-lari kecil di antara keluarga yang berkumpul di suatu ruangan parkir mobil yang ditandai dengan garis lurus merah, yang dicat di lantai abu-abu yang berkilat. Meskipun ada penyejuk udara, kebanyakan orang yang berada di sana berkeringat karena kegerahan.
Samah datang menyapa Bulan. Dia tinggal di B3 sekarang. Sementara seorang remaja sedang berselancar melintasi Bulan menuju ke lorong panjang. Bocah lainnya dorong-dorongan gerobak tak jauh dari Bulan. Bersamaan dengan cekikikan bocah perempuan berkepang dua. Mereka merasa begitu terhibur.
Ali segera mendekati Bulan. Sekejap kemudian, Samah, Ali dan anak-anak yang lain sudah lebur bersama Bulan.
Tidak jauh dari tempat Bulan bermain, beberapa pria tanpa baju berbaring di lantai, sambil mendengarkan berita melalui radio kecil yang diletakkan di atas dada, dan sebelah tangan menyangga kepala, sebelah lagi berada di atas kedua mata mereka untuk menghindari neon yang menyilaukan mata.
“Awas, Bulan. Hati-hati..”
Seorang bocah perempuan bercadar berteriak mengingatkan. Ia duduk diantara perempuan bercadar lainnya, melingkar. Ada yang asyik bercerita. Ada yang baru menyelesaikan khatamnya. Ada pula yang sibuk berganti piyama dengan ditutupi kain berkeliling, oleh saudara-saudaranya untuk menghalangi pandangan ngeri kelopak mata para lelaki.
Ali dipanggil bersama Bulan. Seorang perempuan tua berteriak kepayahan, sesekali ia mengerang kesakitan pada tulang-tulang tubuhnya. Berbaring di tikar tipis di lantai.
*******
Hal ini memang selalu terulang. Sejak mereka hidup lima lantai di bawah tanah. Tidur di lantai, di tempat parkir umum. Tulang berasa sakit karena udara lembab. Siang hari pada saat bulan di langit terbakar. Mereka tidak bisa pulang ke rumah untuk mandi. Bahkan dengan kain basahpun, anak-anak mereka tidak bisa dibersihkan. Pada saat ingin menggunakan toilet di parkir umum itu, aksi saling rebut kerap terlihat.
Ali dan Bulan, memijit-pijit lengan perempun tua itu. Lalu mengambilkannya minum untuk sekali teguk. Setelah menunggu perempuan itu beberapa saat, mereka pergi dan perempuan itu kembali tertidur.
Di bawah tanda “Di larang Masuk” tempat biasa dirancang untuk mobil. Bulan dan teman-teman kembali lebur dengan anak-anak yang berteriak dengan gembira. Terutama pada saat mereka berlarian ke segala arah di seluruh lautan berwarna abu-abu itu. Tak ada suara suram yang tergambarkan. Mereka terus bermain sembunyi-sembunyian. Seorang gadis kecil dengan rambut diikat ekor kuda, tertawa terbahak-bahak.
********
“Dhuaaaar…!”
Sebuah ledakan besar kembali terjadi, sebelah utara dari tempat perlindungan. Suaranya terdengar menyentak. Ali, anak-anak yang lain dan Bulan terhenyak.
Suara ledakan seketika memburu, membabi-buta, menghantam apa saja. Debu-debu dan asap mengepul di mana-mana. Api terlihat mencakar. Gedung-gedung lebur. Sebahagiaan rata dengan tanah. Seorang ibu menahan luka, merangkak, mencari. Dengan sisa tenaga, ia singkirkan sampah bangunan yang ambruk. Darah bagai bah, mengalir dari kepala dan punggungnya tak lagi dihiraukan. Air mata membasah. Suara jerit tertahan.
Perempuan itu merayap di antara batu-batu. Darah kental meninggalkan tanda di mana-mana. Ada yang menggenang begitu saja pada tubuh renta yang asyik dengan tidur indah-nya. Ada yang bercampur debu diperut seorang lelaki berperut buncit yang sedang meng-genggam radio kecil dengan nyala lampu merah berkedip-kedip. Ada pula yang memba-sahi rambut gadis kecil berkepang dua, matanya terlihat redup dengan kepala yang telah terpisah dari badan. Ada pula yang tertumpuk di bawah gerobak dengan potongan tubuh tak karu-karuan. Selebihnya hanya debu berterbangan dan asap yang bekerjap-kerjap.
Segera perempuan itu memburu sosok tubuh yang terjepit dan menyingkirkan sisa reruntuhan yang menghimpit bocah perempuan itu. Di tangan bocah itu masih ter-
genggam boneka kelinci kesayangannya. Matanya masih terbuka memandang ke arah
langit. Begitu Damai. Perempuan itu segera menumpahkan kesakitan yang sedari tadi tertahan. Segera ia raih Bulan, bocah kecil dengan boneka kesayangan tergenggam di tangan. Dengan derai air mata yang membanjir, ia peluk Bulan.
CERITA YANG TAK SELESAI
Orang-orang telah berkumpul menyambut malam. Hiruk pikuk kian mengetuk, seolah riuh pesta perkawinan saja. Ada debar terdengar. Bagas Godang semakin sesak. Alaman Bolak terasa menyemak. Gordang mulai dipalu, Gordang Sambilan membahana. Sembilan buah gendang dengan ukuran berbeda-beda. Terbuat dari kayu dan kulit lembu. Dimainkan tujuh orang pemusik. Variasi pukulan dipadu sedemikian rupa, sehingga menghasilkan gelombang irama yang khas. Seperti suara alam. Tampak penabuh gordang paling ujung menari-nari. Sesekali matanya terpejam, larut dalam irama. Bagai digerakkan kekuatan misitis, ia melompat-lompat. Terkadang menunggangi gendang sambil memukul. Seperti kesurupan. Meski atraktif begitu, pukulannya tak pernah sumbang. Berbeda dengan Onang-onang.
Di Sopo Godang para petinggi kampung telah hadir. Juga Kepala Kuria. Aku ada diantara mereka. Duduk di atas tikar pandan berlapis dua , kedua ujungnya disatukan dengan menjahitkan kain warna merah pada keempat sisinya. Dalam bahasa adat , ini disebut amak lampisan.
“Ambilkan Pangupa!” perintah bayo datu. Seseorang datang menating nyiru. Kepala kerbau diletakkan di atasnya, beralas daun pisang. Di sampingnya, seseorang lagi menating piring besar bernama pinggan pasu, berisi bahan pangupa lainnya: nasi putih, tiga buah telur ayam, garam, ikan garing, udang, dan daun ubi. Juga ditutup dengan daun pisang. Paling atas ditutup dengan kain adat Tonunan Patani.
”Turupa-upa...turupa-upa...turupa-upa...” ratap bayo datu memulai acara mangupa.
Seseorang memutar-mutarkan nyiru di atas kepalaku. Begitu panjang kalimat pangupa tersebut. Juga dibacakan beberapa mantra. Kakiku kesemutan. Tentu saja kutahan. Menurut adat, seseorang yang berpergian jauh harus diupa-upa untuk memberi kekuatan dan keberanian.
Setelah itu aku disuapi dengan makanan yang berada di Pinggan Pasu. Dicicipi satu persatu. Bayo datu menjelaskan maksud dari setiap jenis makanan. Prosesi berlangsung alot. Juga sakral.
“Nanti malam kau ikut Umak manortor, Amang!” ujar Umak beberapa waktu yang lalu. Aku masih kelas lima esde. Dan Amang sudah lama meninggal, sebulan setelah aku dilahirkan.
“Manortor? Apa itu manortor’ Umak?” Umak tersenyum.
“Manortor itu yang begini, Amang’” Umak melakukan beberapa gerakan, yang masih asing bagiku.
“Oh, menari, Umak?” Umak kembali tersenyum. Dia menarikku, lalu menyuruhku duduk di kursi kayu yang dibuat Amang dari bamboo.
“Manortor, ya, manortor, Amang,” Umak membelai rambutku pelan.” Tapi kalau kau bilang menari boleh juga. Bedanya manortor tidak seperti menari biasa. Kalau menari hanya sebagai hiburan’ Manortor itu sudah termasuk dalam adat istiadat kita. Dan nanti semuanya harus menari, tanpa terkecuali.”
“Aku laki-laki’ Umak. Aku tak pandai menari.”
“Ingat ! Tanpa terkecuali.” Aku masih kebingungan, Umak hanya tersenyum mengambang.
“Nanti juga kau akan paham, Amang.” Gordang kian ramai dipalu. Hentakannya terdengar bertalu-talu. Jari-jemari terus digerakkan sesuai irama. Begitu juga dengan kaki dan tangan. Gerakan laki-laki dan perempuan ada sedikit perbedaan. Gerakan jari-jemari diluruskan seperti menjepit sesuatu secara serentak. Gerakkan perempuan terasa lebih gemulai. Sementara yang laki-laki terkesan lebih gagah.
“Manortor itu untuk apa, Umak?”
“Ya, untuk acara-acara tertentu, Menyambut tamu, mengantar bagi yang berpergian ke tempat yang jauh atau ajang mencari jodoh.” Suasana sore begitu kontras dengan hamparan sawah depan rumah. Umak berbicara padaku panjang lebar, bercerita tentang apa saja. Termasuk cerita tentang tanah leluhur ini. Selalu menarik dan memancing rasa ingin tahu. Angin yang berhembus selalu menghadirkan ketenangan dan rasa damai.
Cerita Umak semakin melebar kemana-mana. Tentang Amang yang jadi pengembala kerbau ketika kecilnya. Aku tersentuh membayangkan Amang kecil bersama rombongannya melintasi sore bersama kerbau mereka. Alangkah bahagianya, merasakan kegembiraan bersama matahari yang perlahan menuju peraduan di tengah-tengah hamparan sawah yang begitu luas.
Sambil mendengarkan cerita Umak, aku teringat kembali kisah Umak yang sempat ia beberkan padaku, beberapa waktu yang lalu. Aku berpikir apakah aku akan sampai pada kisah seperti ini.
***
Umak terduduk, memeluk kedua borunya. Suasana yang tenang dan damai itupun berubah menjadi lautan air mata, ketika Masniari mengingatkan kembali bagaimana awal mula rumah tangga yang damai itu dipertahankan. Suasana tegang sedikit mencair melihat si kecil halomoan yang bermain-main, mengoceh tak tentu arah.
Masniari tersadar. Masa lalu itu selalu menghantui pikirannya. Ia lalu duduk di atas sofa empuk sambil memandangi kedua buah hatinya yang juga sedang bermain-main. Dering telepon kembali menghantam lamunan Masniari. Hatinya berdebar. Tangannya tergetar. Suara di telepon yang begitu dirinduinya, lantang bersuara.
“Inang, dua poken nai anggimu giot marbagas,’’ terdengar suara umak bahagia. Masniari diharuskan dating menyaksikan acara yang dianggap sakral itu. Apalagi Masniari adalah kakak tertua dari dua bersaudara. Ayah mereka sudah lama tiada sewaktu Masnauli duduk dibangku SD. Tinggallah umak yang membesarkan mereka dengan berjualan toge (makanan khas panyabungan). Sambil membantu umak berjualan Masniari kuliah disalah satu perguruan tinggi swasta di Padangsidempuan. Disanalah ia mengenal seorang yang telah menjadi ayah dari anaknya kini.
Dua minggu kemudian Masniari dan keluarganya pulang ke kampung. Acara pernikahan dengan adat yang cukup sakral dilaksanakan, dengan petuah-petuah yang sakral pula (Markobar). Di tengah keramaian suasana itu yang dihadiri seluruh keluarga dan snak famili Masniari terhempas dalam gelombang yang meluluhlantakkan hatinya, diantara kegembiran yang tergambar diwajah semua orang Masniari teringat akan masa lalunya yang menghantam keras perasaannya. Pertemuan dengan Parlindungan yang ditentang keras oleh umak.sulit rasanya umak melupakan bagaimana perlakuan orangtua Parlindungan yang terkenal sitoke beras pada saat Masniari masih berumur satu tahun. Ayah Masniari yang waktu itu hanya sebagai buruh angkut di pabrik orangtua Parlindungan membutuhkan pertolongan pinjaman uang disaat keluarga terhimpit untuk biaya berobat Masniari yang sakit muntaber, ditolak oleh umak si Parlindungan dengan alasan beribu alasan.
Umak hanya memendam itu dalam hatinya tanpa diketahui oleh anak-anaknya agar tidak terbawa dendam oleh mereka, cukup hanya dia yang merasakannya. Bagai disambar petir umak mendengar pengakuan Masniari bahwa ia ingin menikah dengan parlindungan. “umak’ bang Parlindungan giot (mau) manyapai au mak (melamar aku mak) Masniari mengutarakan maksud mereka pada umak.lama umak terdiam hanya memendangi wajah cantik anaknya dan dengan bijak sambil menahan semua perasaan umak menyabarkan Masniari agar memikirkan lagi maksudnya. “inang(nak) nape do sidung sikolahmu (belum siap lagi sekolahmu),” itu alasan yang diberikan umak agar Masniari tidak memikirkan itu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan Masniari tetap pada pendiriannya ingin menikah dengan Parlindungan karena mereka sudah siap berumahtangga apalagi kuliah mereka sudah selesai. Masniari kembali menyampai
kan maksud berdua pada umak. Tetapi masih sama dengan yang lalu-lalu beribu alasan yang dilontarkan umak.
Pada akhirnya Parlindungan memberanikan diri langsung datang menghadap umak Masniari. Suasana hening dan senyap saat Parlindungan membuka pembicaraan “umak madung leleng au mardongan dohot Masniari (mak sudah lama aku berteman dengan Masniari) jadi maksudku mau melamar boruni umak (anak perempuan umak).” Parlindungan langsung menyatakan maksud kepada umak. Umak hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya. Lama mereka menunggu jawaban olo (iya) dari mulut umak. Sambil bersimpuh dikaki umaknya sambil memohon tak ada satu katapun yang terlontar dari mulut umak. Hanya air mata yang jatuh membanjiri pipi tua umak.”mak bolehksn mak,” Masniari terus memohon ,” mak bolehkan umak jawablah mak,” Masniari terus memohon.
Sesak terasa hati Masniari berlinang air mata membanjiri kelopak matanya mendengar jawaban umak. “inda (tidak) tidak akan pernah kubolehkan anakku marbagas (berumahtangga) dengan anaknya si raja toke beras itu. Inda inang(tidak nak),” umak menangis sambil berteriak histeris. Masniari tertunduk air matanya berlinang tak terbendung lagi. Hancur sudah harapan mereka berdua untuk mendapatkan restu dari umak. Parlindungan pulang dengan hati yang hancur. Masniari terus menangis sambil bertanya ,”kenapa mak, kenapa? Pertanyaan yang tidak ada jawabannya hanya berkecamuk di dalam hati yang paling dalam. Mulai saat itu Masniari menjadi gadis yang pendiam dan tertutup.
Dua insan yang berlainan jenis itu tetap bertekad untuk mewujudkan cinta mereka, melanjutkan hubungan mereka meskipun tanpa restu dari orang yang sangat dicintai. Marlojong (kawin lari) itu salah satu pilihan yang mereka tempuh sebagai bukti kekuatan cinta mereka. Di antara galau hati umak memikirkan anak sulungnya yang membuat hancur hatinya, Masniari menikmati kebahagiaan bersama suaminya, walaupun bayangan umak selalu hadir di saat Masniari mulai merasakan adanya gerakan lembut buah cinta mereka dalam perutnya. Masniari selalu berkata pada suaminya.
“Bang alangkah enaknya kalau umak mau melihat keadaan kita ya, Bang?”
“Sudahlah, Niar. Tidak usah berpikir yang macam-macam,”suaminya menarik napas panjang,”Mudah-mudahan anak kita yang bakal lahir ini bisa membuat hati opungnya lembut dan mau menerima kita.”
“Mudah-mudahan, Bang.” Masniari menyambut lembut.
Masniari masih terduduk di atas sofa. Pandangannya menatap tajam ke arah telepon yang ada di hadapannya. Menunggu-merindu. Mak, ini cucu umak akan lahir. Datanglah, Mak. Aku rindu,gumamnya. Tangannya mengelus lembut perut yang semakin membesar saja.
Hari ini Parlindungan terlihat menikmati suasana santai di rumah dengan menonton acara televisi. Memang ini sudah kebiasaan rutinnya selama menunggu kelahiran si kecil, pada hari Minggu. Sementara Masniari masih disibuki dengan kegiatannya mengurusi popok bayi yang sudah disiapkannya jauh-jauh hari sebelumnya. Tiba-tiba Masniari seperti menahan rasa sakit yang tak tertahankan.
“Bang, aduh cepat. Sakit…”
Parlindungan, suaminya bergegas. Ada perasaan gembira sekaligus cemas. Dia merasa tanda-tanda kelahiran sudah mulai tiba. Merekapun bergegas ke rumah sakit“Bang, aku ingin menelepon Umak,”ujar Masniari seketika,”Tolong, Bang. Hubungi Umak. Aku ingin bicara sekaligus meminta maaf.”
Parlindungan segera memberikan HP. Masniari bicara tanpa jeda. Panjang lebar mengusung kata-kata. Umak diseberang sana hanya mendengar tanpa kehadiran sepotong suara, begitupun Masniari sudah merasa sangat puas..Detik berikutnya Parlindungan sudah berteriak kegirangan. Tepatnya setelah sejam pembicaraan Masniari dengan Umak berlangsung.
“Wah, laki-laki, Niar,” bisik Parlindungan girang ke telinga Masniari, Istri nya,”Namanya Halomoan. Ya, Halomoan.”
Parlindungan sengaja memberi nama anaknya dengan nama almarhum mertuanya. Ayah Masniari. Sosok lelaki yang kebapakan, yang sangat dicintai dan dikagumi Masniari sejak dari kecil. Memiliki tanggung jawab dan sayang pada keluarga. Sesuai dengan perjalanan waktu, Halaomoan kecilpun mulai sudah memahami pengaruh yang didapat. Masniari selalu mengirim foto Halomoan untuk Umak di kampung. Dengan harapan Umak mau melihat pahopu (cucunya).”
Bel berbunyi. Masniari bergegas. Di depan pintu tukang Pos berdiri di depan pintu sambil menyerahkan paket yang bertuliskan namanya Masniari.
“Umak…”tanpa sadar Masniari memekik menyambut gembira paket tersebut. Dengan rasa tidak sabar Masniari menggendong Halomoan dan membaringkannya di tempat tidur sambil membuka apa gerangan isi paket umak ini. Tanpa terasa pipi mulus Masniari basah oleh air mata yang mengalir. Parompa(kain gendong) yang bertuliskan nama Halomoan dan sepucuk surat yang bertuliskan “mulakma hamu inang”(pulanglah kamu nak). Masniari berteriak histeris terimakasih umak. Sambil menggendong Halomoan dengan kain parompa(kain gendong) kiriman umak Masniari berbisik di telinga mungil Halomoan,”ini parompa kiriman opung boru(nenek) nak.
Alangkah bahagia Masniari tanda restu dari umak yang sudah lama dinanti akhirnya jadi kenyataan. Mulai hari ini lengkaplah sudah kebahagiaan keluarga mereka. “kak…kak Niar,”Tiba-tiba Masniari dikejutkan dengan suara halus ditelinganya. Masniari tersentak ternyata dihadapannya adiknya Masnauli memeluknya sambil berkata”maafkan aku ya,kak”. “maafkan aku … maafkan aku ya,kak,”Masnauli mengulang perkataannya. “iya anggi(adik) kakak juga minta maaf,” sahut Masniari sambil memeluk erat Masnauli. Umak yang duduk di sebelah Masniari memeluk kedua borunya(anak perempuannya) sambil berkata kepada Masnauli”inang”(nak) pandai-pandailah kau membawa diri di rumah boumu(mertua perempuan).Terimakasih mak… terimakasih tangis bahagia bercampur haru mengiringi langkah kaki Masnauli mengarungi bahtera hidupnya.
“Umak selalu diberi kesempatan untuk duduk dipunggung kerbau, menikmati sore yang indah,” Umak menarik nafas panjang,” Dan setelah dewasa Umak selempangkan ulos tenunan sendiri melingkari leher Amangmu di acara manortor waktu itu.” Juga di acara semeriah ini. Setelah pembicaraan tentang Umak yang manortor dengan Amang ,tanpa sadar Umak tertidur di kursi bamboo buatan Amang. Sejak itu aku tak tahu Umak berada dimana. Aku baru tahu Umak sudah meninggal dunia, ketika aku duduk dibangku SMA lalu tersadar mengapa Tulang memaksaku untuk tinggal bersamanya di Jakarta. Sebagai anak tunggal, aku inginmengunjungi pusara Amang dan Umak. Tulang selalu mengajakku jalan-jalan, setiap selasai dari pemakaman. Termasuk menikmati acara Manortor yang selalu diceritakan Umak. Dan malam ini, jelas aku berada disini.
Orang-orang segera mengenaliku, ketika Tulang mengajakku berkunjung ke tempat para handai taulan. Rasa kagum dan kasihan seperti melebur, membatu. Setelah leleh kami pun pulang ke rumah opung, tempat aku dan Tulang menginap untuk beberapa minggu. Amang bersaudara hanya bertiga. Dua laki-laki, dan satu perempuan. Kami selalu saja berkumpul-kumpul menyambut malam.
Hiruk pikuk kian mengetuk, seolah riuh pesta perkawinan saja. Ada debar terdengar. Gordang mulai dipalu. Dalam pikiran dan hatiku yang kian tak menentu.
Dan sebelum kembali ke kota akupun diupa-upa. Orang-orang telah berkumpul menyambut malam. Hiruk pikuk kian mengetuk, seolah riuh pesta perkawinan saja. Ada debar terdengar. Bagas Godang semakin sesak. Alaman Bolak terasa menyemak. Gordang mulai dipalu, Gordang Sambilan membahana. Sembilan buah gendang dengan ukuran berbeda-beda. Terbuat dari kayu dan kulit lembu. Dimainkan tujuh orang pemusik. Variasi pukulan dipadu sedemikian rupa, sehingga menghasilkan gelombang irama yang khas. Seperti suara alam. Tampak penabuh gendang paling ujung menari-nari. Sesekali matanya terpejam, larut dalam irama. Bagai digerakkan kekuatan misitis, ia melompat-lompat. Terkadang menunggangi gendang sambil memukul. Seperti kesurupan. Meski atraktif begitu, pukulannya tak pernah sumbang. Berbeda dengan Onang-onang.
Di Sopo Godang para petinggi kampung telah hadir. Juga Kepala Kuria. Aku ada diantara mereka. Duduk di atas tikar pandan berlapis dua , kedua ujungnya disatukan dengan menjahitkan kain warna merah pada keempat sisinya. Dalam bahasa adat , ini disebut amak lampisan.
“Ambilkan Pangupa!” perintah bayo datu. Seseorang datang menating nyiru. Kepala kerbau diletakkan di atasnya, beralas daun pisang. Di sampingnya, seseorang lagi menating piring besar bernama pinggan pasu, berisi bahan pangupa lainnya: nasi putih, tiga buah telur ayam, garam, ikan garing, udang, dan daun ubi. Juga ditutup dengan daun pisang. Paling atas ditutup dengan kain adat Tonunan Patani. ”Turupa-upa...turupa-upa...turupa-upa...” ratap bayo datu memulai acara mangupa. Seseorang memutar-mutarkan nyiru di atas kepalaku. Begitu panjang kalimat pangupa tersebut. Juga dibacakan beberapa mantra. Kakiku kesemutan. Tentu saja kutahan. Menurut adat, seseorang yang berpergian jauh harus diupa-upa untuk memberi kekuatan dan keberanian.
Setelah itu aku disuapi dengan makanan yang berada di Pinggan Pasu. Dicicipi satu persatu. Bayo datu menjelaskan maksud dari setiap jenis makanan. Prosesi berlangsung alot. Juga sakral.
Sebelum pulang seorang gadis misterius mengirimkan hodong, bulung nipau, mare-mare, sontang dan pining. Sebuah isyarat cinta melalui bahasa daun, pertanda kesetiaan, cinta yang tak terpadamkan. Sebuah markusip penuh misteri. Biasanya seorang lelaki mengendap di antara pohon kopi, di bawah sinar purnama. Lalu di dinding kamar perempuan dibisikkan beberapa bait pantun asmara. Medan, 007
1. Bagas Godang, rumah adat suku batak mandailing
2. Alaman Bolak, alun-alun
3. Gordang Sambilan, alat musik bersjumlah sembilan gendang dengan ukuran yang
berbeda
4. Onang-onang, lagu bernada lirih tentang romantisme hidup dan kemiskinan
5. Sopo Godang, gedung yang berada di depan Bagas Godang
6. Pangupa, semacam upacara keselamatan-doa selamat
7. Bayo datu, orang yang bertugas meminpin acara ”mangupa”
8. Turupa-upa..., kalimat pembuka dalam acara ”mangupa”
No comments:
Post a Comment