M. Raudah Jambak adalah seorang sastrawan, penyair, dramawan, dan budayawan senior asal Kota Medan, Sumatera Utara. Lahir pada 5 Januari 1972, ia dikenal secara luas di kancah sastra nasional maupun regional (ASEAN) lewat karya-karya puisinya yang sarat akan kritik sosial, budaya, dan humanisme. Kegiatan saat ini secara Internasional di 2026 mengikuti Pertemuan Penyair Nusantara XIV di Aceh. [1, 2, 3, 4]
Berikut adalah rekam jejak, kontribusi, dan karya penting dari M. Raudah Jambak:
1. Karya Sastra dan Antologi Penting
Karya-karya tulisnya, baik berupa puisi, cerpen, maupun naskah drama, telah diterbitkan dalam berbagai buku kompilasi sastra nasional: [1, 2, 3]
- "Masih Merdekakah Kau, Indonesia?": Salah satu puisi monumentalnya yang paling sering dibacakan dan dipentaskan dalam berbagai pertunjukan teaterikal bertema nasionalisme. [1, 2]
- "Senandung Perih Dendang Saluang": Karya cerpennya yang mendapat tempat dalam peta kesusastraan nusantara. [1, 2]
- Antologi Temu Sastrawan Indonesia (TSI): Karya-karyanya masuk ke dalam antologi Tanah Pilih (TSI I di Jambi), Jalan Menikung ke Bukit Timah (TSI II di Bangka Belitung), serta Pulau Marwah (TSI III di Tanjungpinang). [1, 2]
- Antologi Internasional: Puisinya juga tergabung dalam Antologi Puisi Serumpun (ASEAN) serta proyek sastra Puisi-Puisi Covid-19: Bersama Melawan Bencana. [1]
- Buku Teater: Terlibat sebagai editor dan penulis dalam buku kumpulan drama, salah satunya Tikar: Antologi Cerita Pendek bersama Laboratorium Sastra Medan. [1]
2. Aktivitas Teater dan Komunitas Seni
Selain menulis, ia aktif menggerakkan seni pertunjukan dan mengelola ruang kreatif: [1]
- Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) Awards: Pernah mengikuti Festival Teater Alternatif di GKJ dan workshop teater alternatif di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta pada tahun 2003.
- Pesta Kesenian Mahasiswa: Berpartisipasi sejak muda dalam ajang Pekan Seni Mahasiswa Nasional (PEKSIMINAS) III di Jakarta (1995).
- Workshop MASTERA: Menjadi bagian dari lokakarya cerpen Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA) di Bogor. [1]
3. Kontribusi sebagai Juri dan Pengajar Budaya
Hingga saat ini, Raudah Jambak mendedikasikan waktunya untuk mengedukasi generasi muda dan menilai kompetensi seni: [1]
- Juri Kompetensi Nasional: Kerap dipercaya menjadi juri lomba baca puisi, cipta puisi, dan festival teater di berbagai universitas dan instansi (seperti Festival Lomba Seni Siswa Nasional/FLS2N dan lomba nasional di Universitas Malikussaleh).
- Pembicara & Budayawan: Sering diundang sebagai narasumber dalam pelatihan kepemimpinan, seminar kebudayaan, serta dialog interaktif di televisi lokal untuk membahas perkembangan karakter pemuda berbasis budaya. [1]

