Wednesday, 13 May 2026

Cerpen-Cerpen karya Raudah Jambak

 PEREMPUAN OROK

Oleh : M. Raudah Jambak

 

Dan, malam ini ia harus menghadapi kenyataan untuk yang ke sekian kali. Kenya taan yang mungkin tidak pernah ia bayangkan. Kenyataan yang sangat mengerikan. Le bih mengerikan dari pekat malam. Baginya justru malam adalah sahabat. Ia lebih percaya pada malam daripada siang. Malam selalu menjaga kepercayaannya. Malam tidak pernah mengkhianatinya. Pada malam ia selalu berkeluh kesah, menitipkan setiap orok yang ia lahirkan dengan segala keterpaksaan. Malam adalah rumah tempat ia berkunjung. Rumah bagi orok, tempat berlindung sekaligus bermain. Tempat berlindung bagi sengatnya mata hari. Berlindung dari setiap tipu daya siang.   

Langkah, rezeki, pertemuan, dan maut merupakan rumus perjalanan usia. Di awali dari sebuah kelahiran yang akhirnya sampai kepada pintu kematian. Di antara jeda kelahi ran dan kematian itu, kita harus mampu menentukan sikap. Walau akhirnya tidak bersi kap adalah sebuah sikap. Lantas semua itu bergantung kepada kita bagaimana harus me langkah. Dan, ia sudah menentukan sebuah langkah yang memang terpaksa harus dijala ni dengan segala cinta. Hanya itu yang ia punya dalam menjalani hidup sepanjang usia. Usia yang perlahan mengejar gerbang waktu ke waktu.

Bersama segudang cinta, ia harus tertatih mengunjungi rumah malam. Menimang-timang orok sambil menyanyikan tembang kasih dan sayang. Menari ke sana ke mari. Mengumpulkan orok yang berebut hendak ditimang. Lalu bermain kejar-kejaran. Sung guh! Begitu riang. Memendam segala perih, segala pedih. Dan, ia bahagia. Bahagia dengan segalanya. Bahagia dengan segala kenyataan.

Perih dan pedih baginya adalah kenangan. Perih yang akhirnya memompakan semangat hidup dengan energi yang justru sangat berlebihan. Tetapi, ia begitu menikmati nya. Semakin ia ingat segala kenangan pedih itu, semakin menggila semangat itu.

Perih itu seperti tombak yang menghunjam ke jantung berkali-kali. Membekap sesak di dada. Memporak-porandakan segala harapan. Lalu ketika segala kehampaan itu hampir sampai pada puncaknya, malam pun akhirnya memberikan segala ketentraman. Segala kedamaian. Pada aliran kedamaian itulah ia reguk tetes air kebahagiaan. Memba suh lara. Malamlah yang selalu menyalurkan kekuatan, yang membuatnya mampu untuk terus bertahan. Lalu malampun dijadikannya ibu tempat yang paling nyaman untuk menu angkan segala keluh kesahnya. Meraih kekuatan-kekuatan baru untuk menimang-timang orok mungilnya. Bermain-main. Mendendangkan tembang kasih dan sayang.

Satu persatu orok itu berebut hendak ditimang, lalu sesekali berteriak dibiarkan berenang. Bergantian setiap malam-malam bertandang. Menyelam sampai di kedalaman. Menelusuri sampai dikejauhan. Mencari muara. Tapi, apa daya sebelum sampai pada muara, siang menghempang, menyangkutkannya pada arus yang mengambang. Ia pun harus pasrah, ketika siang menitipkan orok itu pada setiap orang, yang kemudian membe rikan rumah baru yang sepi di kedalaman bumi.

Siang, sepertinya memang sengaja memisahkannya dengan orok yang selalu ia timang. Diam-diam ia pun memusuhi siang yang terkadang membakarnya dengan terik yang garang.

Ia tak mau menyalahkan Tuhan. Bersebab tekanan ekonomi. Ia hanya perempuan yang lemah tak berdaya. Pikirannya hanya satu, ia ingin menggapai segala impian.  Me lanjutkan sekolah ke tempat yang lebih tinggi. Mengharap pembayaran uang sekolah yang mahal dari seorang ibu berstatus janda dan sakit-sakitan adalah sesuatu yang sung guh mustahil. Sebagai anak tunggal, impiannya hanya satu membahagiakan ibu yang telah melahirkan dan merawatnya hingga besar. Menjadi seorang gadis cantik yang pasti menggiurkan setiap hasrat setiap laki-laki.

Ia merasa kesadarannya mungkin terlambat. Bertahun ia terpaksa mengumpulkan lembar demi lembar uang yang kurang dari memungkinkan. Mengumpulkan segala kei nginan sekeras logam, menawarkan segala pesona kepada setiap hidung belang yang ber hasrat mencicipi setetes demi setetes madu ranumnya. Demi kenikmatan sementara. Tak terhitung lagi peluh setiap lelaki membasahi tubuh moleknya. Tak terhitung lagi lelaki-lelaki itu mencangkuli sawahnya. Menebarkan benih pada hamparan rahimnya. Tak ter hitung lagi ia harus memanen orok sebelum waktunya, demi mengejar segala cita-cita nya. Mungkin saja jika orok itu ia biarkan sampai pada kelahirannya, sudah berapa bayi yang melahap ranum puting susunya. Meninggalkan irama tangisan yang memenuhi ru ang telinganya. Tetapi, ia harus makan. Membelikan obat untuk ibunya yang sekarat. Membayarkan uang sekolah yang setiap bulan mencekik masa remajanya. Maka, ia tak ingin sebuah kehamilan memadamkan segalanya. Memadamkan keinginannya untuk men jadi seorang dokter. Merawat ibu yang tercinta sepanjang hidupnya.

Wajar jika ia memilih pelajaran IPA sebagai mata pelajaran paforitnya. Tetapi, ketika ia sampai pada pembahasan anatomi, hatinya perih. Perih membayangkan orok-orok itu belum sempurna tubuhnya. Perih membayangkan kesedihan janin dalam rahim nya diusir paksa cairan kimia. Perih membayangkan orok yang selalu ditimang itu menyalakan tatapan mata penuh kebencian. Menuduh ia sebagai perempuan jalang yang tidak mengerti kasih dan sayang. Lalu kebencian itu berubah menjadi sebuah tombak yang setiap saat menghunjam diam-diam dari belakang.

Sebenarnya, tak pernah sekalipun dalam setiap jengkal benaknya ada niat keji se perti itu. Ia hanya bisa berharap orok-orok itu mengerti, bagaimana himpitan hidup berka li-kali menderanya. Mendesaknya. Di usia yang seharusnya membawanya pada dunia ke gembiraan. Pada dunia penuh bunga. Di usia yang mengajarkannya meraih presatasi demi prestasi. Ia harus menjual kehormatannya untuk membayar uang sekolah yang mahal. Ia harus membayar uang buku cetak yang setiap tahun selalu saja baru. Memenuhi kebu tuhan sejengkal perut. Merawat ibunya yang janda. Walau toh, akhirnya ia selalu meraih juara umum. Mendapatkan beasiswa pengurangan uang sekolah.  Tetapi, apa boleh buat tekanan ekonomi memaksanya berbuat seperti yang tidak seharusnya. Ia harus terus-me nerus menjual kehormatannya.  

  Dan, malam ini tak ada yang lebih bahagia, selain ia harus menimang oroknya. Menghadapi kenyataan seperti malam-malam sebelumnya. Kembali bermain melepaskan segala kepenatan siang. Walau terlalu cepat untuk menjadi seorang ibu, justru ia merasa bangga dan bahagia. Bahagia memeluk, menimang, dan mendendangkan tembang kasih sayang. Bahagia menyuguhkan pancuran susu. Bahagia menyuapkan mereka. Bahagia memandikan mereka. Dan bahagia memandang wajah lelap mereka, setelah menikmati senandung lagu kasih-sayang. Awalnya, memang ini kenyataan yang mungkin tidak pernah ia bayangkan. Kenyataan yang sangat mengerikan. Lebih mengerikan dari pekat malam. Ternyata pada malam ia selalu berkeluh kesah, menitipkan setiap orok yang ia lahirkan dengan segala keterpaksaan. Malam adalah rumah tempat ia berkunjung. Rumah bagi orok, tempat berlindung sekaligus bermain. Tempat berlindung bagi sengatnya matahari. Berlindung dari setiap tipu daya siang.

Ia, seperti kembali ke masa lalu. Masa kanak-kanakanya. Mengenangkan ibu yang tidak pernah jera menemaninya setiap saat. Membayangkan wajah tirus ibu yang gelisah ketika ia dalam keadaan sakit. Wajah ibu yang gembira ketika ia berlari-lari ke sana ke mari. Melihatnya menari-tari dengan lenggok mungilnya. Mendengarkannya menyanyi kan lagu yang tak jelas artikulasinya. Betapa bahagianya ibu. Menggendongnya kemudi an. Dan tidak pernah lupa mendongengkannya kisah-kisah kepahlawanan. Sampai akhir nya, ia harus terlelap di pangkuan hangat ibu, dengan mulut mungil yang menjepit puting susu ibu.

Malam ini, persis seperti waktu itu. Ia merasakan kebahagiaan seorang ibu. Ia bernyanyi dan terus bernyanyi. Tak pernah henti sampai akhirnya orok yang menjadi bayi dalam benaknya itu pulas satu persatu. Bersamaan dengan itu, entah siapa yang mencipta kan telaga menyebabkan harunya tak terhingga. Tetapi, begitu sadar siang kembali me rampas oroknya satu persatu. Telaga itu berubah sungai yang mengalir deras dari kedua belah pipinya.  

Sungai yang mengalir itu seolah pertanda kasih dan sayangnya membawa orok itu pada muara waktu tak tentu. Pertalian kasih dan sayang itu seolah terputus-putus. Ia begi tu mencintai mereka. Mencintai orokorok yang belum sempurna benar fisiknya. Mencin tai mereka walau tak jelas benar bibit, bebet, dan bobotnya. Mungkin bibit seorang peja bat. Bebetnya, mungkin dari seorang yang paling ’suci’. Atau mungkin saja bobotnya berasal dari orang-orang kebanyakan. Ia tidak peduli, sebab mereka adalah anak-anak sur ga. Anak-anaknya. Walau kelahirannya dilumuri lumpur-lumpur kenistaan, dan kawah- kawah kegelapan.

Bagaimanapun, ia akan tetap menggenggam harap. Ia tetap percaya rumus hidup. Tentang sebuah pernyataan, semua pasti akan berakhir. Sedih pasti akan berakhir, me ngundang sebuah kegembiraan. Keyakinannya melebihi segalanya. Tinggal bagaimana, ia menyikapi hidup. Tinggal bagaimana memaknai usia. Membiarkannya mengalir seperti air. Mendapatkan muara kebahagiaan. Saat ini ia menimang orok. Setelahnya ia akan menimang sempurnanya orok. Seorang bayi mungil, seperti yang selalu diidamkannya.

Namun, ia merasa waktu merambat begitu lambat. Ia masih saja harus mengunju ngi malam. Sebuah rumah dengan beranda seluas kelam. Lalu ruang tamu sehitam pekat bayang-bayang. Walau tanpa lirik baris-baris cahaya, baginya malam adalah sebuah ta man yang penuh dengan aneka bunga. Beragam aroma segar dan lembut. Ia seolah ter bang menuju gerbang langit, melewati beratus bahkan beribu anak tangga dengan kenda raan cintanya. Kemudian kembali menimang-timang oroknya. Seolah malaikat kecil dengan lingkaran aura penuh cahaya. Sempurna. Ah.............!

Hanya saja memang waktu merangkak terlalu perlahan. Keinginan-keinginan itu masih tertahan. Ada yang memang harus berakhir. Ia tidak perlu lagi berkelana dari satu lelaki ke lelaki yang lain. Ia hampir mencapai titik penantian, setelah anak pemilik seko lah mengakhiri setengah penderitaan yang menghimpitnya. Seorang lelaki muda yang mencintainya apa adanya. Dan ia pun harus memasrahkan segalanya. Sampai pada suatu ketika mereka harus menyelami dalamnya samudera asmara sampai ke dasar-dasarnya. Membiarkan lelaki itu merekam permainan binal mereka. Merestui lelaki itu mengambil setiap inci gambar sensisitifitas kewanitaaannya. Sebuah catatan kebahagiaan abadi bagi nya

Ia memang mencintai lelaki itu, walau tidak melebihi cintanya kepada malam. Tidak melebihi cintanya kepada orok yang selalu ditimangnya pada bulan-bulan tema ram. Paling tidak ibunya berangsur-angsur menjemput kesembuhan. Tidak perlu lagi pu sing menghadapi tuntutan pangan. Lancar membayar uang buku pelajaran. Bahagia men jadi seorang anak, sekaligus ibu bagi bayi imajinasinya.Bahagia men jadi seorang gadis yang dicintai dan mencintai.  

Malam ini, ia merasakan kegundahan teramat dalam. Entah siapa yang merekaya sa wajah bulan begitu buram. Bintang-bintang bersembunyi di bilik kabut. Desau angin seperti beribu pisau mengiris galau. Orok dalam timangannya meronta. Di susul orok-orok lain yang berebut menggantunginya. Orok-orok yang selalu melumat puting susu nya. Menjerit histeris. Berteriak-teriak memekak. Berlompatan ke sana kemari. Ia beru saha berlari mengejar. Semakin dikejar orok itu semakin menjauh, dan akhirnya menghi lang. Ia terus berlari, mencari. Entah mengapa, ia merasa semua mulai menjauhinya. Se mua mulai membecinya.

Malam tiba-tiba berganti dengan wajah siang. Menghempaskannya habis-habisan. Orok-orok itu satu persatu muncul dengan wajah yang sungguh jauh berbeda, wajah malaikat awalnya, lalu berobah menjadi iblis yang sebenarnya. Orok-orok itu menyeringai garang dengan darah yang berlelehan dari taring-taring mereka. Ia berlari ketakutan. Orok-orok itu mengejar, mengepung dan dengan mudah melumpuhkannya. Ia histeris, menjerit sekuat-kuatnya. Tetapi mulutnyapun dibekap. Tidak ada lagi yang mendengar suaranya. Justeru ia yang mendengar suara-suara.

”Kamu berhak didampingi pengacara!” ujar salah seorang lelaki berseragam sam bil memasang gari di tangannya,”kami sudah mengumpulkan semua bukti-bukti video mesummu. Dan menghapus gambar mesummu yang ada di internet.”

Dan, ia semakin membenci siang. Membenci kilatan cahaya dari mulut-mulut ta jam kamera pemburu berita. Membenci ceracau hujatan pertanyaan. Benarkah Anda men jebak anak Ketua Yayasan? Mengapa begitu besar tuntutan yang Anda minta? Bagaima na perasaan Anda setelah dipecat dengan tidak hormat dari sekolah?  Lalu bagaimana dengan Ibu Anda? Bagaimana dengan janin-janin Anda? Bagaimana dengan..........

Ia bungkam. Tangisnya tertahan. Jiwanya terguncang. Dalam hatinya, ia berharap malam datang bertandang. Ia masih mencintai malam, tetap menggenggam segala harap. Pada malam ia selalu berkeluh kesah, menitipkan setiap orok yang ia lahirkan, yang ke mudian selalu ditimang-timang. Malam adalah rumah tempat ia berkunjung. Rumah bagi orok, tempat berlindung sekaligus bermain. Tempat berlindung bagi sengatnya matahari. Berlindung dari setiap tipu daya siang.

Medan, 20-11

 

 

M. Raudah Jambak

 

 

Mbirokateya

 

       Mbirokateya memegangi perutnya. Peluh mengucur deras dari dahi dan sekujur tubuhnya. Ia masih teringat pesan Ma. Perasaan menyesal seperti tiada guna, pikirnya. Ketika itu Ma hendak mengajaknya ke bevak ditengah hutan. Sebenarnya Ma harus sendiri, sebab itu memang sudah ketentuan adat. Tetapi, Ma sengaja mengajaknya diam-diam agar ia cepat mengerti tentang keberadaan perempuan di kampungnya.

       Angin berhembus pelan. Ranting-ranting pepohonan saling bergesekan. Awan tipis menutupi matahari yang perlahan merangkak. Bias cahaya di langit membentuk sebuah pantulan berjuta kilau permata sejauh mata memandang.

       Waktu fajar mulai menyingsingkan auranya menyinari seluruh kebekuan alam se mesta. Mbirokateya ingat dengan apa yang dilakukan Ma, sebelum mengajaknya menuju bevak , memulai rutinitas sebagai perempuan, sebagai ibu.

       Setiap kali bangun pagi selalu saja ada makanan didapur. Makanan yang dibungkus rapi dilipat daun pisang yang dipetik Ma setiap sore dikebun belakang atau menikmati ulat manggia atau koo, yang sudah dipanen dari sisa tebangan pohon sagu yang telah dipangkur sekitar dua minggu sebelumnya. Koo itu dimasukkan dalam bekal sagu yang telah dibulatkan seperti bola lalu dibakar. Tubuh koo akan melumer. Rasanya sangat gurih dan legit! Bagian kepala koo yang renyah berasa popcorn. Kebun itu adalah tempat Ma selalu menumpahkan hari-harinya, sambil merasakan segarnya batang tebu atau buluh bambu dan melesapi gula-gula. Ma senang bercocok tanam. Ma senang melakukan tugas itu sebagai perempuan yang merdeka. Menanam benih dan menunggu hasilnya, sampai waktu panen tiba.

       Makanan tersebut dibagi menjadi dua. Satu buat bekal dan yang lainnya sekedar sarapan seadanya antara Mbirokateya dan Ma. Sehabis makan kami segera berangkat diam-diam, menyisir perjalanan sepanjang hutan.

       Hutan inilah rumah sebenarnya bagi mereka. Berdinding belantara. Tempat kelahiran dan kematian. Hitungan ratusan tahun mereka diami tempat ini. Menghirup segala. Hidup kan segala. Menyatu dengan segala. Bermain dengan angin, dengan akar pepohonan, dengan semak belukar. Anak-anak, kaum perempuan, dan para lelaki telah terbiasa melukis kelam. Berpeluk pengab raya.

       Lingkaran api biasa mereka sulam pada malam. Memetik kerdipan bintang. Menjaring bulan. Mengunyah pituah para tetua. Menebalkan tambalan sejarah pada jiwa-jiwa. Dan sesekali menyemai tawa. Sesekali menuai duka ketika memamah sihir kata bak pujangga. Pada akhir sulaman cerita, gederap sukacita menuntun mimpi-mimpi menyam but  pagi.

       Gubug-gubug mereka adalah pepohonan yang bernyanyi. Seolah laut yang berpantai  damai. Seperti dermaga sebagai tempat penumpah lelah sehabis memerah tubuh-tubuh basah. O, betapa hidup dari waktu-ke waktu selalu mengelus berkah.

       Kegelapan inilah selimut hangat yang gemerlap. Mata hati adalah sebilah pisau tajam yang selalu terasah. Kelam bukanlah jaring-jaring perangkap yang membekap, tapi ia tapak-tapak kaki yang selalu mengatur jarak. Menancapkan jejak. Mereka tahu arah me langkah kemana hendak berpijak. Pulang dan pergi tak selalu bergantung pada matahari. Tak pula menunggu tuntunan bulan. Bukan menafikkan ciptaan Tuhan. Tapi, justru dengan gelap dan kelam anugerah itu didapatkan.

       Berjalan dan berlari adalah seringan hembusan angin menembus belukar dan semak berduri. Segala telah tersedia dalam rentang waktu yang tak dapat dihitung dengan rumusan angka-angka. Segala telah terjaga dengan aturan adat yang paling beradab. Amboi, masa-masa gemilang itu perlahan di gebuk gelombang. Menusukkan amuk, remuk.

       Mbirokateya diam. Ia merasa tidak punya cerita menarik pengganti kekakuan perjalanan. Berbeda dengan Ma, Ma sosok perempuan yang gigih, pantang menyerah dan penyabar. Walau terkadang agak sedikit egois dan keras juga. Itu perlu dimaklumi jika dikaitkan dengan masa Ma di waktu muda. Aktif menyerukan kemanusiaan. Antara kecintaan orang tua, kampung dan kebebasan perempuan menjadi titik utama perjuang annya, bersama teman-teman seangkatan mereka yang berasal dari luar kampung bahkan ada berasal dari luar pulau, dan luar negara.

       “Engkau tahu? Bunga bakung berwarna merah, bentuknya indah? Begitulah perempuan. Parasnya bak kembang. Merahnya laksana hati. Dan kau tahu? Bunga keris papua? Itulah kita yang sebenarnya,” ujar Ma.

       Dia hanya diam. Pikirannya hanya diselimuti cemas. Cemas melihat kondisi Ma.  “Kau tahu, Sali yang masih menjaga kehormatan keperempuanan kita, menghadang segala kejahatan yang berasal dari balik koteka kaum lelaki, di antara bidang telanjang dada mereka. Ketelanjangan kita, ketelanjangan yang terhormat. Ruas tulang yang meninggalkan bentuk dari kulit yang tipis dan hitam, bergerigi, di dada perempuan kampung kita yang membusung. Kehitaman anak-anak di kampung kita adalah kehitaman yang bersahaja. Mulai dari kaki sampai wajah. Rambut gimbal bergulung adalah gelombang yang tertahan dan siap dilontarkan. Perut anak-anak kampung kita yang menyimpan dan menjaga kesejarahan, membusung. Tulang punggung yang menonjol, pertanda kekuatan yang mengagumkan. Mereka tidak mengenal bangku sekolah, tetapi tanah, lumpur, bukit, dan hutan. Kita berhasil menjaga kehormatan keperempuanan kita dari bengisnya hutan. Biarlah nira kelapa, alkohol, dan tembakau kecintaan bagi laki-laki, menghempang dari kebiasaan mereka berperang, mengayau, ini sesuatu yang patut disyukuri. Dan memang sejak itu ayahmu tak bisa menunjukan kepiawaiannya memanah jantung musuh, atau menebas leher dan menggantung kepalanya di tangan, tidak lagi, Mbirokateya! Kita harus terus menjaga kehormatan perempuan di kampung kita!?”

       Mbirokateya masih membisu.”Perempuan adalah beyor atau burung nuri dan ir atau kakatua putih. Ini tergambar pada ukiran motif paruh burung sebagai hiasan kepala. Para suami tidak tahu, kalau nenek moyang kita tidak sekedar menempatkan simbol untuk perempuan itu diatas kepala. Ia harus dihormati dan dijunjung tinggi, Mbirokateya! Tapi nyatanya? Perempuan kita tertindas, terisolasi dari emansipasi atas kesetaraan gender, terkekang adat masa lalu. Ketika para lelaki kehilangan pekerjaan untuk berperang dan mengayau lalu merampas hak tanah atas hutan sagu dan babi, para lelaki tidak lagi punya pekerjaan kecuali hanya mengukir patung saja. Dan perempuan masih punya peran domestik yang bukan menjadi tanggung jawab suami, dan wajah para ibu selalu tampak lebih tua dari bapak. Kita mesti merevolusi sistem budaya yang ada dengan sistem baru yang lebih bisa menempatkan perempuan sewajarnya, Mbirokateya! Harus!”

       Mbirokateya terkesiap. Terkejut. Perasaan bersalah itu selalu menghantui. Kata-kata Ma, yang sempat ikut orang luar, dalam kegiatan LSM, seperti membekas, berkarat. Apa yang sekarang ini dialaminya cukup tidak adil. Ia setuju dengan apa yang dikatakan Ma.

       Ma selalu memikirkan segalanya. Memikirkan keperluan rumah tangga, terutama untuk anak-anaknya. Dan Mbirokateya merasa seperti diperlakukan istimewa. Ma pun tidak malu mencari upahan sampai jauh ke kota. Bekerja apa saja. Dari upah sedemikian rupa ia tidak lupa untuk menyisihkan sebagian uangnya, di tempat yang paling rahasia, sebuah potongan bambu berlubang di tiang penyangga Honai.       

                                                                * * *

       Senja bersama sinarnya yang kemerah-merahan menyapa di bilik teras dan rumah ke labu. Ma duduk lagi dekat daun pintu sedang Mbirokateya bermain-main sebisa mungkin apa yang membuat hati riang.

       "Mbirokateya ke sini sebentar!” Ma berseru,” Jangan sering bermain, kapan kamu akan belajarnya? Lekas ambil buku yang diajari gurumu di sekolah lalu duduklah di sampingku!” Dengan rasa kesal Mbirokateya segera mengambil buku di dalam tas dan berpura-pura membacanya sambil sedikit berkomat-kamit namun hatinya tak dapat dibohongi bahwa seusianya selalu saja ingin bermain-main.

       "Belajarlah yang rajin agar kelak kamu jadi orang pintar tidak seperti perempuan-perempuan di kampung kita,” Ma menambahkan. Suaranya terlintas manja bertanya pada Mbirokateya. ”Jika sudah besar nanti apakah gerangan yang kamu cita-citakan?”

       ”Guru!”

       ”Kenapa?” Sambil mengerutkan jidatnya yang memang sudah keriput.

       ”Kan enak, bisa membagi ilmu buat siapa saja. Bapak mungkin akan senang.”

       ”Bapakmu tidak akan kembali lagi karena dia telah memelihara burung merpati di sangkar lain?” Hanya itu yang keluar dari mulut Ma. Mbirokateya tak pernah tahu. Ia benar-benar tidak mengerti bapak di manakah rimbanya.

       Sehabis bicara seperti itu, kian mulai terasa. Dengan sigap Ma langsung menyergap Mbirokateya membekapnya dalam dekapan, memeluk erat diketiaknya. Tanpa sengaja tiba-tiba airmatanya meleleh jatuh di halaman buku yang masih terpegang. Entah apa yang telah terucapkan tadi sehingga membuat Ma menangis terseok-seok dan membawa nya larut dengan suasana yang semakin membingungkan. Suasana Itu berlangsung agak lama sampai tak tahu waktu mulai mengguratkan kelam perlahan.

       Alunan suara alam bersenandung di gendang telinga menyadarkan ingatan. Senja sengaja ditutupi halimun yang beraroma dingin mencolek tubuh yang gagap bersama waktu. Secuil harapan dikemudian hari merengkuh bagai sembilu untuk mempertaruhkan hidup dimasa tua bertarung sendiri demi hidup yang semakin terhimpit. Tentunya dalam nadinya tersebar memuat getaran-getaram yang keluar dari batinnya ialah untuk anak dan keutuhan keluarga.

       Selama itukah Ma dan Mbirokateya harus berkisah. Tentang hidup yang harus selalu di perjuangkan tanpa beban bukan semata-mata dijalankan.

       "Bukan lantaran nasib, tidak lebih. Kesabaran dalam memilih dan keteguhan sebagai manusia yang tabah adalah tameng yang kuat. Mungkinkah hanya hidup begini atau karena ditinggalkan seseorang kita harus menyerah. Alangkah naif manusianya.”

       Begitulah Ma menggunakan sisa-sisa hidupnya yang sering ditunggui waktu. Kini aku berada sendiri di sini meniti ke-dewasa-an berbaur bersama suaranya dengan bayang nya pula.                                                    ***

      ”Mbirokateya, Anakku! Kita harus memanusiakan manusia? Tidak hanya Ma seorang yang seharusnya merambah hutan, mendayung perahu, memangur sagu, menjaring ikan, dan bila ada sisanya, dijual dipasar, uangnya hanya sekedar untuk membeli rokok untuk suami, minyak tanah untuk lampu petromak. Tidak! Ma tidak memilih berdiam diri, dengan tidak melakukan pekerjaan itu, karena bapak siap saja dengan tombak, panah, atau apa saja yang bisa menakuti mata Ma.

       Ma hanya bisa menangis pada akhirnya, sedang kau hanya bisa meringkuk, tangis pecah dari bibir adik-adikmu, melihat bapak pernah menghantamkan benda tumpul kekepala Ma. Kau tahu Ma meraung, lalu mendarat lagi kaki bapak pada perut Ma yang sedang membuncit. Ma sedang hamil, Ma tidak bisa mengangkat kaki untuk sekedar meminum air mentah di dapur, Ma pingsan, dan darah mengalir dari liang, orok keluar dari rahim Ma, dan terlihat tali placenta melingkar.

       Tetapi bapakmu malah menjerit ketakutan, lalu minggat dari Honai, bukan karena Ma pingsan dan keguguran, melainkan setetes darah yang keluar merupakan pantangan, katanya bisa menimbulkan penyakit, kematian apalagi membasahi lantai Honai. Dan perempuan selalu melahirkan anaknya didalam bevak ditengah hutan, sendiri. Menu-rutmu! Hal ini yang menjadikan perempuan kita tidak seperti manusia, Mbirokateya! Ma tidak bermain lumpur, tidak berenang disungai, tidak menikmati hujan, kadang memban tu nenekmu memangur sagu.

       Ma selalu  ingin sekolah pada sekolah yang sudah lapuk itu. Ma sekolah hanya untuk merubah nasib; Nasib Ma, kau, adik-adikmu dan kaum perempuan. Ternyata, perjuangan Ma tetap sampai pada nasib Ma sendiri, tidak pada nasib orang lain, tidak nenekmu, kau, adik-adikmu, dan perempuan kita karena mereka punya nasib sendiri. Ma tidak kuasa mencampuri urusan para istri, sesaat perlakuan suami mereka tak kalah sama dengan ba pak dan kakekmu. Mereka tidak melahirkan di puskemas, tetapi ditengah hutan. Ma tak dapat menolak atau pura-pura tidak tahu tetapi Ma dan juga mereka tak dapat mencegahnya?”

       Mbirokateya menggamit tangannya, tidak lapuk, tua atau kasar seperti tangan Ma ketika seumurnya. Malahan masa mudanya, disaat alat reproduksi perempuan telah ranum, dan vagina yang harum itu tidak dibaluti oleh sali atau yokal untuk wanita bersuami. Ia tidak mengikuti pesta dansa tiap hari minggu, mencari pasangan, calon suami, dan sekenanya membakarkan sagu untuknya di Honai seperti apa yang dilakukan masa muda perempuan di kampungnya. Ia belajar, ia sekolah. Ia merasa sedikit berun tung dari Ma.

       Ma selalu mengajak Mbirokateya kemana-mana kecuali ke kota. Jarang sekali Ia diajak Ma untuk ikut ke kota, paling cuma di hari Minggu itu pun hanya beberapa kali. Ma suka melihat Mbirokateya sekolah. Suka mengantarkannya ke sekolah, walau jaraknya luar biasa jauhnya

       Ma harus melewati perbukitan dan jalanan setapak untuk mengantarkannya ke sekolah dulu dengan menggunakan sepeda butut. Jarak rumah dan sekolahku cukup jauh tapi Ma tidak pernah mengeluh dengan hal sepele seperti itu. Jalanan menurun dan mendaki maupun zig-zag tidak membuatnya lupa.

       Ma sudah hafal betul letak lokasi sekolahan Mbirokateya yang  dipasung kayu berpalang yang menjulang tinggi mencakar langit sebab dari kejauhan sudah tampak di mana tanda-tandanya. Setelah cukup dekat di depan sekolah, ia melepaskan dengan isyarat dan ciuman.

       "Ingat! Dengarkan semua ajaran guru dan ikuti keterangannya serta jalankan perintah guru agar kelak kamu menjadi orang berguna bagi keluarga dan bangsamu. Sepulang sekolah kamu tunggu di sini, sambil menunjuk ke pohon kapas tempat berhenti. Begitu lah miripnya suaranya sebelum meluncur cepat dan hilang sebab dihalang-halangi kabut untuk selanjutnya pergi.

       Siang terasa berlalu begitu saja. Apa yang diperoleh selama belajar tadi belum semua nya masuk ke otaknya. Banyak yang terbersit di telinga. Bersamaan dengan bel sekolah terdengar riang diiringi teriakan teman-teman menyambutnya gembira.

       Jam menunjukkan angka satu. Mbirokateya keluar dari ruang kelas dengan langkah gontai menuju pohon kapas seperti janji sebelumnya. Tidak terlalu lama harus menunggu menunggu sesosok tubuh yang kekar mengiringi derap ayunan yang berlipat-lipat dari kaki yang mulai cadas. Mbirokateya mendekat naik diboncengannya! Selama perjalanan mata Mbirokateya tertuju pada sekujur badan Ma dan tertegun meratapnya. Sekecil itu, Mbirokateya semakin merasa iba dengan keadaannya yang terus menerus seperti ini mengarungi bahtera kehidupan dengan segala peluh, jerih payah yang ada. Tidak tampak sedikitpun rasa gusar yang melingkar di tubuh Ma. Begitu lamunan itu sudah terbuai Mbirokateya tak mampu berbisik walau di dalam hati. Terdengar agak kabur bahwa Ma memblokir lamunan Mbirokateya.

       ”Mbirokateya! Engkau salah. Perjuangan tidak sampai disini. Kita melakukan gerak perubahan perlahan secara menyeluruh, dengan membangun yayasan pengembangan masyarakat terutama perempuan, menghidupkan puskesmas, mengadakan penyuluhan, memperkenalkan KB. Ma kira, beberapa tahun akan terjadi pergeseran sistem budaya?”
       Ma menarik Mbirokateya duduk di dekatnya. ”Mbirokateya, Anakku. Ma kira, Ma lelah. Ma, kakak tertua dengan banyak adik lelaki dan adik perempuan. Jarak kelahiran kami rapat sekali, hanya terpaut 1 tahun saja. Karena nenekmu tidak tahu KB. Enam orang adik Ma telah meninggal karena penyakit ispa dan malaria. Karena asap tembakau dari bibir orang tua di honai, juga asap perapian yang mengepul di langit-langit, tembus hanya sedikit saja dari atap rumbia, tidak lewat jendela karena Honai tak punya jendela, tidak lewat dinding gaba-gaba, tetapi sebagian lagi masuk lewat napas, dan simpan dalam paru-paru. Adik Ma terkena radang. Sementara adik Ma yang perempuan terus bermain di lumpur, kadang membantu memangur sagu. Mereka masih kecil-kecil saat itu, sehingga tak terlalu peduli untuk mencari makan.

       Hanya Ma yang tidak kerasan melihat nenekmu mesti memanggul bernoken-noken sagu, sering ada goresan taring nyamuk dan lalat babi berdarah, lengket di tiap kulitnya. Belum sempat ia mengatur napasnya yang terengah-engah, menyeka keringatnya yang muntah disekujur tubuh, mendiamkan sejenak tulang sendinya yang ngilu, memejamkan matanya, ia sudah berlalu lagi dengan sekeranjang ikan untuk dijual kepasar di desa seberang. Dan sebagian uangnya ditabung untuk biaya rumahtangga. Seketika airmatanya tumpah begitu saja, saat Ma mengutarakan keinginan Ma untuk sekolah.

       Ma tahu dalam airmata itu ada harap yang begitu besar untuk menjadi kan Ma orang besar, mengubah nasib, pola pikir masyarakat yang cenderung ke sistem patriarkhis. Ma tanya kadang terpejam satu persatu dengan nafas mulai semraut mungkin sekarang ia mulai berasa kepayahan. Selebihnya, entahlah! Ma tak sanggup mesti menyaksikan nenek mu bersusah payah merambah hutan sendiri, sedang kakekmu asyik saja bergumul de ngan nira kelapa, alkohol, judi dan perempuan lain, lalu setibanya di honai, kakekmu hanya menadahkan tangan, meminta jatah.

       Ma tidak sanggup melihat nenekmu menyayat kulitnya yang memar-memar dengan silet atau pisau sebagai cara untuk mengurangi rasa sakit, sembab sambil terisak, mena han perih, lalu darahpun mengucur mengaliri goresan yang memanjang. Bapak! Ibu sedang sakit! Jerit Ma, tetapi kakekmu tak peduli, ia tidak segan memukul sampai membunuh bila tidak menyediakan sagu dan rokok.

       Mbirokateya, Anakku. Yang harus dirubah, pertama ialah pendidikan bagi satuan unit terkecil ke tatanan makro, tidak hanya dengan melakukan lokakarya, membuka puskesmas, penyuluhan KB, sedang masyarakat sendiri tidak memiliki pendidikan dan pengetahuan yang cukup untuk itu. Siapa yang tahu kalau masih ada beberapa Ma yang suka merambah hutan, memangur sagu, sedang suami tetap menakuti mereka dengan sebilah parang?”

       Mbirokateya ingin menjerit jika mengenangkan hal itu. Kecerdesan Ma ternyata tak sebanding dengan keberingasan bapak. Bapak poligami. Mungkin memang sudah mendarah daging bagi perempuan di kampung kami. Satu-satunya impian perempuan di sini; Hari ini atau besok dijadikan istri yang sekian kali dari seorang pria. Ma menjerit sekenanya, tetapi tak kuasa berontak. Terlihat api cemburu meradang, emosinya meluap dan siap lepas dari puncak kepala, tetapi ambisi Ma selalu surut melihat sebilah kapak atau dayung yang tergantung di dekat bapak.

       Mbirokateya menghela napas,”Aku masih sekolah, Ma yang memperjuangkannya. Aku ingin menghidupkan teser, bahwa perempuan tetap sebagai makhluk sakral, lewat perwujudan kedua mama tua, ucukamoraot (roh pohon beringin) dan paskamoraot (roh kayu besi) yang dilahirkan oleh ibu bumi. Aku masih sekolah sampai masa haid pertama dan alat reproduksiku telah matang. Aku turun lalu melangkahi sekat-sekat papan yang berlubang di atas jembatan yang makin lapuk.”

       Dengan bekal sekedar nya, dengan pakaian yang tak layak untuk ke pesta, dengan sepasang sandal yang sudah usang, dengan ijazah sekolah rakyat yang diletakkan dalam noken, digamitnya erat-erat. Airmata Ma hanya tertahan, ia tidak ingin menangis melihat Mbirokateya sekolah. Mabahagia, menyodorkan sejumlah uang, dan menyuruh pergi ke desa Bis Agats, kerumah saudara perempuan Ma. Mbiorkateya memanggilnya mamak. Ma tersenyum, lalu satu tangannya mengusap wajahnya. Mbirokateya melihat di antara ujung-ujung jari Ma, ada yang terpotong, dan sebagian jari yang terpotong itu pasti dibungkus kulit kayu, disatukan dalam kantong berisi abu jenazah kakek, dan digantung pada honai bapak. Mungkin Ma melakukan mutilasi tanpa setahu Mbirokateya.

       ”Mbirokateya, Anakku. Kita harus berjuang. Tanah ini, masyarakat ini adalah tempat kelahiran kita, tempat kita pertama hidup. Tidak ada yang akan merubah sistem adat, budaya atau nilai kecuali kita saja, cucu-cucu Asmat. Engkau belum gagal karena engkau sendiri sudah berhasil sekolah. Sedang anak-anak lain, lelaki atau perempuan juga adikmu tidak mengerti saat itu, mereka tidak mengikuti jejakmu untuk tetap sekolah, sehingga mereka tetap terikat pada budaya masa lalu. Keterbatasan ilmu merendahkan pikiran seorang lelaki, ibu dan anak untuk keluar dari sistem patriarkhis, dan tak mengerti hakekat Tuhan. Masyarakat kita berada pada sebuah lingkaran yang tak punya lubang untuk keluar. Kita yang mesti menembus dinding lingkaran itu?”

       Mamak tidak sering melakukan pokomber atau usi, ia mempelajari cara perempuan Muyu berladang, menanam pisang, ubi, tebu, kangkung, dan hasilnya dijual kepasar. Ia sering menjaring ikan, dan sering menukarkan dengan beberapa noken sagu pada tetang ganya. Mamak tidak bisa membiayai sekolah Mbirokateya, mereka miskin dan Ma tidak selalu mengirimi uang. Karena niat sekolah telah mengakar, Mbirokateya rela saja ketika mamak menawarkannya untuk menjadi pembantu rumah tangga.

       Mbirokateya meringkuk sepi dalam honai, airmatanya mengalir jatuh ke lantai, jatuh pula ke lumpur pekat. Ia tidak ingin menuruti mamaknya mandi lumpur selama 40 hari, mencukuri rambutnya karena Ma meninggal. Ia tidak berpikir untuk memotong telinga seperti yang sering dilakukan penduduk di kampungnya maupun di kampung mamaknya. Ia memilih bisu, menutup bola matanya rapat-rapat, mendekap telinganya, lalu terisak.

       ”Mbirokateya! Engkau tidak ingin pulang ke kampung Ewer?”

       ”Tidak, Mak. Aku tidak ingin melihat bapak tertawa saja di depan abu Ma.?”

       ”Adik-adikmu?”

       ”Ya, Mak. Mereka sudah punya teman bermain. Anak-anak istri bapak yang baru.”

       Mamak tidak melanjutkan pertanyaannya, ia berjalan ke bilik perempuan, agak terbungkuk dan tulang lehernya tampak karena tinggi honai sekitar 1,5 meter saja. Mbirokateya masuk ke ebey. Mbirokateya tak lagi bisa menahan getir, ia mengambil pisau dan diletakkan di antara jarinya. Dan roh Ma lewat di depan matanya, ia ingat Ma masih tersenyum, bibir hitamnya tersunging, sumringah. Lesung pipi dari wajah yang sudah keriput terbentuk walau tak kentara, Ma mengingatkan sekolah, Mbirokateya mengurungkan niatnya. Ia lalu melempar jauh-jauh pisau itu, menutup matanya rapat-rapat sehingga airmata yang sejak tadi berlinang menetes perlahan.

       ”Aku tak bisa melanjutkan sekolah!”

       Mbirokateya melipat tangan keatas dadanya, dipandangnya lekat-lekat cahaya petromak yang begitu lemah, lalu beralih ke kaso-kaso. Matanya kosong, tidak ada tanda-tanda bahwa ia sedang berada di alam nyata. Ia bermimpi uang melingkar di mimpinya, dan uang itu hilang sampai ia tertidur pulas.
       ”Aku Mbirokateya! Aku bisa masuk SMA di Merauke berkat majikanku. Ia mengantarku dengan menumpang kapal perintis dan singgah di dermaga Merauke. Aku punya ijazah sekolah rakyat dan SMP, tetapi aku tak punya cukup uang untuk menye lesaikan SMA. Umurku hampir 18 tahun. Lelaki mana yang tidak tergiur pada tubuh indahku, dan naluri seorang gadis remaja yang juga menyukai seorang lelaki. Ah.. antara ingin sekolah atau tidak. Apakah sekolah pasti menjadikanku orang besar? Uang hasil jerih payahku mengalir begitu saja hanya untuk sebongkah ilmu. Aku pernah kelaparan lantaran uang makan untuk biaya sekolah. Karena aku masih hidup, Aku harus rela bekerja walau dalam keadaan sakit. Mengapa aku masih sekolah? Sederhana saja. Aku sudah terlanjur sekolah, aku sudah merangkak sampai tengah dan harus sampai ujungnya, tidak mungkin berhenti ditengah karena aku bakal turun kembali. Kedua, karena aku ingat Ma?”
       ”Bagaimana mungkin engkau masih bisa hidup tanpa uang dan menyelesaikan SMA?”

       ”Apa yang tidak mungkin? Aku masih punya tubuh yang sintal dan kuat, punya tenaga, tetapi jangan kira aku menjadi PSK bagi penebang kayu gaharu. Aku bisa tidur seperti pengemis, bisa menjadi pembantu, mencuci, memasak. Aku masih punya jiwa, dan jiwa itu mesti dihidupkan, bukan tanpa arti. Tidak, manusia tidak hanya sekedar hidup. Aku baru tahu kalau manusia tidak hanya sekedar hidup seperti apa yang dilaku kan Ma. Ya, Perempuan tidak mesti berada antara hutan, sungai dan pasar.”
       “Sekarang engkau mengakui, bahwa hidup adalah perjuangan. Bukan perjuangan untuk diri sendiri karena kita lahir, kita hidup, kita mati diantara masyarakat!”
       “Ya, karena perjuangan, aku sempat menghunus ayah yang mencoba memperkosaku! Aku tidak menjadi PSK!! Aku bisa menyelesaikan SMA dan menjadi guru, lalu punya ambisi untuk membangun, memberdayakan masyarakat terutama kaum perempuannya. Karena para lelaki tidak tahu, kalau ukiran patung mereka bernilai seni yang tinggi dan dikagumi oleh pecinta seni dunia.”
       Mbirokateya membayangkan, ia akhirnya menginjakkan tanah setapak yang agak berlumpur, diantara ilalang, dan langit masih biru, mentari baru sepenggalan naik. Mem bayangkan menempuh perkampungan Ewer, disini hanya ada satu sekolah saja, tidak ada gereja, tidak ada puskesmas. Mbirokateya bisa melihat sekolah yang sudah berumur itu, dinding kayunya tetap kokoh, struktur bangunannya kuat, dan mereka tidak tertegun ketika melihat seorang guru mengajar di atas lantai tanah. Ia tersenyum dan 10 pasang bola mata bulat, hitam, pekat, tajam diruang itu, tersungging lebar.
                                                                  ***

       Mbirokateya memegangi perutnya. Peluh mengucur deras dari dahi dan sekujur tubuhnya. Ia masih teringat pesan Ma. Perasaan menyesal seperti tiada guna, pikirnya. Ketika itu Ma mengajaknya ke   bevak ditengah hutan. Kini ia yang harus berada di dalam bevak sendirian. Sebab, suami mamak telah berhasil membobol pintu kamarnya diam-diam, setelah ia kelelahan pulang dari sekolah di perkampungan Ewer, dan membo bol pintu kegadisannya dengan ancaman. Dengan penuh beban dan rasa malu berbulan-bulan, ia akhirnya kembali ke kampung. Segera menuju bevak.

       ” Ma, mungkin tubuhku telah kotor. Tetapi pesanmu tetaplah suci. Aku akan tetap memperjuangkannya. Bukankah perjuangan memang butuh pengorbanan? Jadi, Ma tolong jaga cucu perempuanmu juga aku.”

Medan, 011  

 

 

Catatan Kaki
1 Bangunan di tengah hutan.
2 Rok dari serat kayu, kulit kayu, rumput yang dirangkai menjadi jumbi-jumbi yang dililitkan pada pinggul dan diikat, pada anak perempuan/ kaum wanita Asmat (Maulana, 1996 : 57).
3 Terbuat dari labu yang dikeringkan, menyerupai tabung silinder untuk menutupi penis (Maulana, 1996 : 57).
4 Bangunan berbentuk silindris yang dipergunakan sebagai tempat tinggal (Maulana, 1996 : 62)

5. Pemerintahan oleh para pria..
6. Tas anyaman dari serat melinjo (Sekarningsih, 2000. xv).
7.  Adat kebiasaan untuk mengungkapkan duka cita dengan mutilasi, misal mencukur rambut, memotong telinga, atau memotong ujung jari tangannya dengan parang atau pisau (Linggasari, 2004 : 31).
8.  Mencari makan di hutan dari pagi sampai sore (Linggasari, 2004 : 28).
9. Memangur sagu selama dua minggu sampai tiga bulan (Linggasari, 2004 : 28).
10. Struktur atap yang terdiri dari kaso-kaso dari kayu bulat yang menghubungkan pusat honai ke dinding (Agusto. W. M, 1996 : 193).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

M. Raudah Jambak

Cerita dari Bukit Dua Belas

 

   Segayo lari ke bukit, ia jatuh terjerembab. Tangannya menutupi perutnya yang koyak. Berlari menuju sesudungon, pondok dari bangunan kayu, berdinding kulit kayu. Dan beratap daun serdang benal. Matanya masih menatap sekitar hutan yang sepi. Sebagai keturunan langsung orang Maalau Sesat, Segayo harus bertahan.   

    Hutan inilah negeri kami. Berdinding belantara. Tempat kami dilahirkan. Hitungan

ratusan tahun kami mendiami tempat ini. Menghirup segala. Hidupkan segala. Menyatu dengan segala. Bermain dengan angin, dengan akar pepohonan, dengan semak belukar. Anak-anak, kaum perempuan, dan para lelaki telah terbiasa melukis kelam. Berpeluk pengab raya. Sebab kami adalah orang-orang rimba.

   Lingkaran api biasa kami sulam pada malam. Memetik kerdipan bintang. Menjaring bulan. Mengunyah pituah para tetua. Menebalkan tambalan sejarah pada jiwa kami. Sesekali menyemai tawa. Sesekali menuai duka ketika memamah sihir kata bak pujang-ga. Pada akhir sulaman cerita, gederap sukacita menuntun mimpi-mimpi kami menyam-but ke pagi yang temaram.

   Gubug-gubug kami adalah pepohonan yang bernyanyi. Seolah laut yang berpantai  damai. Seperti dermaga sebagai tempat penumpah lelah sehabis memerah tubuh-tubuh basah. O, betapa hidup dari waktu-ke waktu selalu mengelus berkah.

   Kegelapan inilah selimut hangat yang gemerlap. Mata hati kami adalah sebilah pisau tajam yang selalu terasah. Kelam bukanlah jaring-jaring perangkap yang membekap, tapi ia tapak-tapak kaki kami yang selalu mengatur jarak. Menancapkan jejak. Kami tahu arah langkah kemana hendak berpijak. Pulang dan pergi tak selalu bergantung pada matahari. Tak pula menunggu tuntunan bulan. Bukan berarti kami menafikkan ciptaan Tuhan. Tapi, justru dengan gelap dan kelam anugerah itu didapatkan.

   Berjalan dan berlari bagi kami seringan hembusan angin menembus belukar dan semak berduri. Segala telah tersedia dalam rentang waktu yang tak dapat dihitung dengan rumusan angka-angka. Segala telah terjaga dengan aturan adat yang paling beradab. Amboi, masa-masa gemilang itu perlahan di gebuk gelombang. Menusukkan amuk, remuk.

* * *

   “Kami bukan anjing. Jangan sebut kami orang kubu. Kami benci sebutan itu.” Segayo berteriak-teriak saat dimasukkan ke dalam sebuah ruangan. Ia disekap di sebuah pabrik pemotong kayu yang ada di tengah hutan. Ia bisa mendengar suara mesin gergaji yang memotong balok-balok kayu dengan jelas. Suara truk-truk yang mengangkut gelondongan kayu juga bisa didengar dari dalam ruangan itu.

      Tak ada gunanya lagi berteriak. Jika pun ada yang mendengar, mereka tak akan memperdulikannya. Mereka pun mungkin akan membunuhnya jika ia berusaha melarikan diri. Ia tidak boleh mati. Ia harus terus berjuang.

      Dulu ia merasa sangat bebas hidup di hutan. Membangun sesudungon, sebagai tempat berlindung atau rumah tinggal di dalam hutan. Tapi sekarang, ia merasa tidak sebebas dulu. Segayo tak mengerti kenapa bisa begitu. Yang ia tahu, hutan itu bukanlah milik siapa-siapa. Dari dulu ia hidup melangundi seluruh pelosok hutan. Bebas berkelana di dalam hutan. Namun kini kebebasan itu tidak lagi dimiliki, sebab orang kota dan desa adalah orang terang yang merasa mulai berkuasa. Segayo tak tahu sejak kapan orang-orang itu memiliki hutan. Yang ia tahu hutan sebagai anak sulung dari alam semesta adalah milik Tuhan yang harus dimanfaatkan dan dipelihara oleh manusia.

      Perlahan Segayo turun dari atas kursi. Tubuhnya terasa lelah, lebih baik menyimpan tenaga yang masih tersisa. Ia lalu merebahkan tubuhnya di atas tikar. Rencananya sudah bulat.Untuk sementara biarlah beristirahat dulu,pikirnya.

* * *

      Waktu berjalan meninggalkan petang. Segayo terbangun dari tidurnya. Pintu ruangan dibuka oleh seorang pria. Ia membawakan makanan.

      “Ini makananmu. Ingat baik-baik! Jangan coba-coba melarikan diri. Diam saja disini! Kalau tidak tanggung sendiri akibatnya!” Segayo menatap pria itu dalam diam. Ia tidak sanggup lagi melawan. Ia harus mengumpulkan tenaga untuk terus berjuang.

      Ditatapnya makanan itu. Sepiring nasi putih dan telur mata sapi. Perih hatinya. Seperti anjing saja, ia diperlakukan seperti itu. Ingin rasanya ia berontak tapi ia sudah tak kuasa. Tak ada yang mengerti perasaan orang rimba. Orang-orang di desa dan di kota menganggap mereka seperti binatang, tak beradab karena tinggal di hutan. Mereka menyebut orang rimba sebagai orang kubu. Padahal kubu itu bermakna terbelakang. Orang rimba tak suka dengan sebutan itu. Apakah hanya karena mereka tinggal di hutan lantas mereka disebut terbelakang? Apakah karena itu orang-orang desa dan kota merasa diri mereka lebih beradab daripada orang rimba?

      Sama sekali tidak! Orang-orang rimba juga manusia seperti orang-orang desa dan kota. Hanya cara hidupnya yang berbeda. Orang rimba hidup bergantung pada alam. Mereka beranak pinak di dalam hutan, makan sirih, berburu dan meramu obat alam. Tapi bukan berarti mereka tidak memiliki peradaban. Memang sehari-harinya mereka tak memakai baju kecuali cawat penutup kemaluan. Rumahnya hanyalah beratap rumbia dan dindingnya dari kayu. Makan buah-buahan dan berburu kijang, ayam hutan dan rusa. Cara hidup seperti itu memang tidak modern. Tapi apakah salah jika orang rimba memilih cara hidup seperti itu?

      Hatinya terus mendera sakit. Dia ingin marah tapi kepada siapa. Kepada orang-orang desa atau kota yang menganggap diri mereka lebih maju dari pada orang rimba? Huffhhh…! Segayo membuang nafas perlahan-lahan. Air matanya mengering karena ia terus membendung perih dalam hatinya.

      Ia masih ingat dulu ketika masih kecil ia dibawa ayahnya pergi ke kota. Ayahnya hendak menukarkan rusa dan ayam yang didapatkan dari hutan dengan tembakau. Saat tiba di pasar, banyak orang yang mencemooh mereka. Bahkan ada orang tua yang memegang anaknya erat-erat karena mereka takut anak-anaknya kena guna-guna. Segayo merasa sakit hati sewaktu ia mendekati seorang anak kecil. Anak kecil itu berlari kepada orang tuanya dan mengatakan kalau ia takut diculik oleh orang kubu seperti dirinya. Padahal segayo hanya ingin bermain-main dengan anak itu.

      Di pasar itu juga ia melihat ayahnya ditipu oleh pembeli. Ayam hutan dan rusa itu hanya dihargai dua kantung plastik tembakau. Bahkan ayahnya harus memberikan beberapa rupiah untuk membeli tembakau itu. Siapapun tahu, kalau itu tak pantas. Segayo marah, tapi ayahnya menahannya. Ia mengingatkan anaknya tentang seloka adat yang pernah diajarknannya. Tidak lapuk kareno hujan, tidak lekang kareno paneh. Biarlah mereka menipu, tapi kita harus bersabar. Harus kuat menahan cobaan.

      Ayahnya banyak mengajarkan seloka adat dan hukum rimba yang harus dipatuhi oleh semua orang rimba. Kata ayahnya, orang rimba memiliki hukum sendiri. Hukum orang rimba tidak jauh berbeda dengan hukum Minang yang disebut Pucuk Undang Nang Delapan. Aturan rimba sendiri melarang adanya pembunuhan, pencurian dan pemerkosaan. Itulah larangan yang paling berat. Jika orang rimba melanggarnya maka akan dikenai hukuman lima ratus lembar kain. Jumlah kain sebanyak itu dinilai sangat berat dan sangat sulit disanggupi, karenanya orang rimba berusaha untuk mematuhi. Bagi mereka, mereka cukup bertubuh onggok//berpisang cangko//beratap tikai//berdinding baner//melemak buah betatal//minum air dari bonggol kayu// atau berkambing kijang//berkerbau tenu//bersapi ruso//.

      Namun Segayo heran melihat orang-orang desa dan kota. Mereka memiliki hukum yang berbeda dengan orang rimba. Malah lebih lengkap daripada seloka adat. Tapi kenapa banyak dari mereka yang berani melanggar hukum yang dibuatnya sendiri? Mereka yang menganggap dirinya lebih beradab, suka merusak peradaban itu. Bagaimana bisa beradab jika hukumnya sendiri dilanggar?

      Dulu pernah ada teman Segayo yang bernama Tebo, memutuskan untuk meninggalkan hutan dan memilih hidup bermasyarakat di desa. Ia memilih hidup sebagai petani. Namun setelah beberapa tahun ia tinggal di desa, sesuatu masalah menimpa dirinya. Ia ditangkap polisi dan dipenjara. Segayo berusaha mencari tahu apa masalahnya. Ternyata Tebo dipenjara karena ia dituduh merusak properti milik sebuah pabrik yang baru dibangun oleh sebuah perusahaan di desa itu. Pabrik itu terletak di dekat ladangnya dan mereka mencaplok sebagian dari ladang milik Tebo. Sebuah papan nama perusahaan itu didirikan di ladangnya. Ia marah lalu mencabut papan nama itu dan membakarnya. Ia pun langsung ditangkap oleh polisi karena perbuatannya itu.

      Segayo heran. Padahal pengusaha pabrik itulah yang telah merampas ladang temannya itu. Tetapi kenapa ia tidak ditangkap. Malah temannya yang mengambil haknya kembali, ditangkap dan dipenjara oleh polisi. Ia bingung karena pengusaha itu tidak dihukum. Dimanakah hukum itu sebenarnya? Kenapa orang yang bersalah itu tidak ditangkap? Lagi-lagi Segayo menahan sakit hati karena ternyata orang-orang yang mengaku beradab bisa berbuat biadab.

      Rasa sakit hatinya pun larut bersama malam. Gelap sudah menyelimuti hari. Suara-suara mesin gergaji sudah berhenti. Tak ada lagi truk yang mengangkut gelondongan kayu. Sebagian pekerja sudah pulang. Sedangkan yang lainnya menginap di penginapan sekitar pabrik pemotongan kayu. Segayo masih sendirian mengingat-ingat kejadian yang selama ini menimpanya.

* * *

      Segayo terkejut saat sekumpulan orang bersenjata menyergap rumahnya. Ia hanya sendiri di rumahnya. Istri dan anak-anaknya sudah mengungsi ke Bukit Duabelas lebih dahulu. Begitu juga dengan tetangganya. Mereka sudah mengetahui bahwa sekelompok orang bersenjata akan datang ke lahan hutan yang baru mereka garap. Orang rimba sudah tahu kalau mereka hanya boleh mendiami hutan di Bukit Duabelas. Jika mereka menggarap hutan di luar kawasan itu, mereka akan disiksa oleh orang-orang bersenjata lalu dikembalikan lagi ke kawasan Bukit Duabelas.

      Ia dan keluarganya serta beberapa tetangganya memilih pindah dari bukit itu karena ingin membuka ladang baru. Kebiasaan hidup seminomaden orang rimba itulah yang dianggap merusak hutan. Dengan membuka hutan, maka banyak pohon yang akan ditebang. Padahal orang rimba hanya membuka lahan beberapa hektar saja. Sedangkan orang kota yang sering disebut cukong bisa menebas hutan beribu-ribu hektar. Malah mereka dibiarkan bebas begitu saja.

      Orang-orang kota berbuat tidak adil terhadap orang rimba. Mereka menangkapnya. Ia berontak. Tapi berkali-kali pukulan mendarat ditubuhnya. Segayo tak bisa lagi melawan. Dua orang pria mengikat tangannya. Ia akan dibawa ke salah satu pabrik pemotongan kayu. Di sana ada tempat untuk menyekap orang rimba yang keluar dari kawasan Bukit Duabelas.

      “Dasar orang kubu! Dibilang berkali-kali supaya jangan pindah dari kawasan Bukit Duabelas itu, tetap saja membangkang. Tempat kalian sudah disediakan disana. Jangan pindah-pindah lagi!” Seorang pria bersenjata memarahinya.

      “Tapi hutan itu adalah tempat kami. Tempat kalian itu di desa dan di kota. Kalian orang terang malah merusak tempat kami. Kami saja tak pernah merusak tempat kalian!” Teriak Segayo.

      “Sudah! Diam! Ayo terus jalan!” Pria yang lain membentaknya.

      Mereka berjalan menyusuri jalan tikus menuju pabrik. Mereka harus menyusuri lembah dan bukit. Jaraknya sekitar tujuh kilometer. Di tengah perjalanan mereka berhenti untuk beristirahat. Segayo meminta izin untuk buang air.

      “Baiklah! Kau, Willy! Jaga dia! Jangan sampai dia kabur!” Seseorang yang tampaknya seperti pemimpin dalam kelompok itu memerintahkan anggotanya untuk menjaga Segayo buang air. Seorang anggota yang bernama Willy itu membawanya ke lembah bukit. Di situ ada sebuah telaga kecil. Di sekelilingnya terdapat rimbunan ilalang setinggi orang dewasa. Willy melepaskan ikatan Segayo. Ia berdiri tak jauh dari Sega-yo sambil memegang senjata.

      “Sudah, disitu saja. Jangan coba-coba kabur!” Willy memperingatkannya. Namun Segayo melihat ada kesempatan untuk lari. Saat Willy lengah, disitulah diam-diam ia melarikan diri. Tak lama akhirnya Willy sadar kalau tawanannya sudah kabur.

      “Kurang ajar! Awas nanti kalau ketemu!” Willy akhirnya kembali ke kelompoknya. Segayo hilang dalam rimbunan ilalang. Sebagai orang rimba ia sudah mengetahui seluk beluk hutan. Ia dapat mengecoh Willy yang menjaganya. Pimpinan kelompok itu pun memarahi anak buahnya. Mereka lalu mencari Segayo lagi.

      Segayo mengendap-endap dalam rimbunan ilalang. Setelah posisinya agak jauh, ia berlari dalam rindangnya pohon-pohon di hutan. Ia bersembunyi di bawah pohon besar di balik bukit. Nafasnya terengah-engah. Ia melihat sekelilingnya untuk memastikan keadaan. Ia sudah tak sanggup berlari. Ia memutuskan untuk bersembunyi disitu dulu.

      Sementara itu matahari sudah tergelincir ke arah barat. Kelompok orang bersenjata itu mengerahkan bantuan untuk mencari Segayo. Mereka menyusuri seluruh hutan. Menyisir setiap bukit dan lembah. Hari sudah semakin sore dan mereka harus bisa menangkap Segayo kembali. 

      Derap langkah orang berjalan semakin dekat. Segayo segera berlari.Mereka melihat segayo berlari, lalu segera mengejar.Segayo berlari ke arah bukit. Mereka terus mengejar Mereka akhirnya mengepungnya. Segayo terkepung. Dia mencoba berlari, pukulan hantaman, dan tikaman berkali-kali tak dirasakan lagi. Dia terus saja berlari. Hutan seperti memeluknya. Tangannya membekap perutnya yang sudah tak berasa.

      Sepanjang perjalanan ia terus saja merenungkan hal-hal yang menimpa dirinya. Ia hanya ingin pindah dari Bukit Duabelas. Ingin mencari kehidupan yang lebih baik. Bukankah orang-orang di desa atau di kota juga pernah pindah ke desa atau kota yang lain? Bahkan bisa ke seberang pulau. Tapi mengapa orang rimba tidak boleh pindah ke kawasan hutan yang lain. Segayo merasa orang rimba seperti dikurung dalam Bukit Duabelas. Ia merasa seperti binatang yang dilindungi dalam sebuah cagar alam. Semua orang benar-benar memperlakukan mereka seperti binatang.

      Dari dulu memang orang rimba dan orang terang selalu saja bermusuhan. Ia pernah diceritakan ayahnya kalau dahulu sudah pernah terjadi perselisihan antara orang rimba dan orang terang. Pada saat itu nenek moyang orang rimba menderita kelaparan di hutan. Ia lalu mengambil padi di sawah milik penduduk desa. Terjadilah pertengkaran yang berujung pertempuran terbuka. Nenek moyang orang rimba lari ke bukit dan menggulingkan balok-balok kayu, hingga menewaskan penduduk desa. Beberapa penduduk desa yang selamat, membalaskan dendamnya pada suatu kesempatan. Mereka berhasil membunuh orang rimba itu. Sejak saat itu terbentanglah jarak antara orang rimba dan orang desa.

      Hingga saat ini permusuhan itu sebenarnya masih terjadi. Orang desa ataupun orang kota merasa hutan itu adalah miliknya. Hingga akhirnya orang rimba disingkirkan. Hutan semakin banyak ditebang. Orang rimba hanya diberikan tempat yang disebut Taman Nasional Bukit Duabelas untuk tempat mereka menjalani kehidupan mereka sehari-hari.

      Segayo tak suka diperlakukan tidak adil. Ia mengajak istri dan anak-anaknya serta tetangganya untuk meninggalkan Bukit Duabelas. Mencari kehidupan baru yang lebih baik. Namun ternyata usahanya tidak berhasil. Ia malah ditangkap dan akan dikembalikan ke Bukit itu.

* * *

      Malam larut. Udara malam mendinginkan hatinya yang perih. Suara hewan malam memenuhi ruang kepalanya. Dihutanlah kehidupanku, pikirnya. Namun hutan semakin sedikit. Jikalau semua orang rimba dikumpulkan di Bukit Duabelas, pada akhirnya nanti hutan di kawasan itu akan habis juga. Semakin banyak jumlah orang rimba yang akan membuka lahan di kawasan itu. Tak akan ada lagi pohon-pohon rindang yang tumbuh di kawasan itu.

      Sebagai orang rimba mereka harus menjaga dan melestarikan hutan. Mereka tidak meninggalkan lahan mereka yang lama begitu saja. Mereka akan menanami bibit-bibit pohon jika lahan itu tak bisa lagi digunakan. Pada akhirnya lahan itu akan rimbun kembali dipenuhi pepohonan.

      Tidak seperti cukong kayu. Mereka menebang hutan beribu-ribu hektar. Tapi tak mau menanaminya lagi karena lahan hutan yang gundul membutuhkan begitu banyak bibit pohon dan biaya yang besar. Dasar oranng! Segayo mengumpat dalam hatig tera. Hanya mau mengambil untung saja. Tak mau bertanggung jawab atas kerusakan yang dibuatnya.

      Mereka tak mau peduli akan banyaknya kehidupan didalam hutan. Dengan rusaknya hutan, akan memusnahkan beragam jenis kehidupan. Entah berapa banyak lagi kehidupan yang akan dimusnahkan oleh mereka. Padahal mereka sudah berpinang gayur//berumah tango//berdusun beralaman//beternak angso//.

      Segayo tak tahu sampai kapan keserakahan orang terang itu akan hilang. Ia tak mengerti kenapa seperti itu. Apakah kehidupan di desa atau di kota tidak bisa memberikan kepuasan dan kebahagiaan bagi mereka. Padahal cara hidup mereka lebih maju dari pada orang rimba.

      Ia bersyukur karena cara hidup orang rimba ternyata membuat mereka lebih menghargai alam. Cara hidup yang begitu sederhana membuat orang rimba tidak serakah. Mereka hidup dengan pemberian alam yang sudah tersedia di hutan. Dengan hidup seperti itu mereka sudah merasa bahagia.      

* * *

      Di dalam sesudungon di Bukit Duabelas, istri Segayo menangis terisak-isak. Ia mendapatkan kabar bahwa suaminya disekap di pabrik pemotongan kayu. Semuanya sudah hancur diterjang banjir. Tak ada gunanya mencari suaminya yang sudah tak jelas berimba di mana. Ia hanya bisa pasrah, bersama anak-anaknya kembali melangun.

   Orang-orang itu, orang-orang terang. Menghalau tenang. Menyilaukan pandang. Meniupkan seruling kematian, menabuh genderang perang. Dengan rasa kikir mereka sisir  semilir batin kami. Mereka koyak peradaban kami. Apakah ini memang garis hidup 

Yang dipahat pada nasib kami? Ataukah nisan yang sedia ditanam pada makam kami?

   Namun, entah siapa yang silap merangkai do’a. Bala bencana itu datang mengacungkan senjata. Satu persatu kami tenggelam dalam kawasan banjir air mata. Terjerambab pada wajah murka penuh sengsara. Teringat pituah para tetua akan tumbuhnya pohon derita  berbuah gundah gulana di masa yang tak sempat tercatat tanggalnya. Pituah tentang sebuah kesetiaan pada keteguhan adat.

   “Bacalah denting embun yang menitik dari ujung daun . Dengarlah lantunan angin yang mengalun di sela-sela pepohonan. Simaklah air yang mengalir yang menyibak cengkram-an akar yang tertanam . Atau dengung bebatuan pada geliat tanah di wajah bumi. Serta gema do’a rerumputan pada segala. Jika tidak, terang akan terasa mengahanguskan. Melumat segala peradaban yang telah lama terpelihara dari abad-abad  yang telah ter-pahat,” demikian siraman penyejuk jiwa dari tetua  di akhir kisah dalam sulaman kelam.

   Dan apakah memang suratan badan  atau memang kami yang berkhianat dari aturan garis adat yang telah ditancapkan. Orang-orang terang datang mengusung Tuhan pembaharuan. Melelang sejarah peradaban yang memabukkan. Kami terjebak dalam kotak-kotak tak berjejak. Terjerambab dalam lobang-lobang derita.

   Hutan kami mulai dilumatkan. Pepohonan tempat kami bernaung direbahkan. Roh-roh yang bersemayam dan jiwa yang tertanam diluluhlantakkan.

   “Kami adalah orang-orang dari negeri beribu cahaya yang mengusung peradaban. Dan kalian orang-orang gelap  bersiap-siaplah menggali  makam sebelum sampai pada zaman keemasan. Sebab, kami adalah penguasa setiap zaman.”

   Entahlah itu karena ramalan atau memang nasib yang sudah digariskan, para tetua sudah berkali-kali mengabarkan peringatan. Tentang orang-orang terang yang mengusung matahari. Menghanguskan dan menyilaukan pandang.

   “Tanamlah jiwa-jiwa kalian pada setiap pepohonan. Tanam pula jiwa-jiwa anak cucu dan seluruh garis keturunan kalian pada tanah dan air tempat berpijak. Pada akar rerumputan ataupun semak belukar, serta pasir dan bebatuan. Maka yakinlah hidup kalian akan selalu diselimuti ketentraman dan kedamaian. Jika tidak bersiap-siaplah kalian menghuni makam tak bertuan. Kalianlah yang paling mengerti  dengan hutan ini, maka pertahankan sampai titik darah penghabisan…”

    Dan nujum itu kini telah dimafhumkan. Ramalan itu kini telah ditafsirkan. Tak terbantahkan. Sejarah kami terjarah. Terbakar. Dihanguskan. Jiwa kami tercabik pada senandung gergaji, pada pepohonan yang ditumbangkan.. Buldozer-buldozer pembantai menyemai sangsai.

   Lelaki kami satu persatu merapal ajal. Perempuan kami satu persatu dilucuti. Anak-anak dan orang-orang tua kami satu persatu dibutakan dengan terang yang paling menyilaukan. Dari kosong kembali ke kosong. Dari hampa kembali ke hampa. Kami berada dalam ada dan tiada.

   Jika malam tiba kami kehilangan mutiara kata-kata. Hanya mampu merangkai lirih air mata tak berjiwa. Kami tangisi diri sendiri. Kami kutuk pengkhianatan kami pada nenek moyang. Kami ratapi jiwa kami yang melayang pada setiap pepohonan yang rebah ditum-bangkan. Tak lagi menyulam api pada kelam malam. Tak lagi memetik bintang dengan nyanyian riang. Tak lagi menjaring bulan lewat tari-tarian kemenangan. Tak lagi me-ngunyah pituah para tetua, sebab terlanjur dimuntahkan. Sejarah tercerabut sampai ke akar-akarnya. Sepanjang malam kami hanya bisa berpelukan, berdo’a agar tak lagi disi-laukan siang benderang, yang menghanguskan harapan. Segala telah dibungkam. Segala suka cita semakin samar. Segala duka lara semakin membara.

      Sementara itu udara semakin dingin. Gemuruh langit melenyapkan suara-suara malam. Segayo diam kali ini. Namun tak seperti biasanya. Ia sangat mengenal alam di hutan. Kali ini ia tak mendengar sedikitpun suara-suara binatang malam saat gemuruh terhenti. Ada sesuatu yang sepertinya bakal terjadi. Ia tahu sabda alam akan datang malam ini. Menumpahkan segala kekesalannya yang lama terpendam.

     Tak lama hujan lebat turun. Membasahi seluruh kawasan hutan. Ia diam membeku . Ia mengerti. Tak ada gunanya berteriak. Ia pasrah. Ia bisa merasakan getaran tanah. Ia pun dapat mendengar gemuruh yang bukan berasal dari langit. Ia bisa merasakan amarah alam yang sudah memuncak. Ya, perih hati ini telah menyatu dengan amarah semesta yang selama ini terbungkam, batinnya.

     Dan malam ini Segayo bertekad bercerai dalam ketiadaan. Menjadi sebatang lara pada sejarah yang terus menerus dijarah.  Segayo jatuh terjerembab. Tangannya terus menu-tupi perutnya yang koyak, terasa lelahnya selama berlari menuju sesudungon, pondok dari bangunan kayu, berdinding kulit kayu. Dan beratap daun serdang benal. Matanya terasa semakin samar menatap sekitar hutan yang perlahan menina-bobokkannya.       

Medan-Kutubul Amin,2007

 

   sesudungon ) : pondok-pondok, rumah tempat tinggal Orang Rimba (Suku Anak Dalam) yang terbuat dari kayu, berdinding kulit kayu, dan beratap daun serdang benal.melangun ) : pindah ke tempat lain karena ada warga yang meninggal, menghindari musuh, atau ingin membuka ladang baru. orang terang ) : orang-orang di luar rimba, orang-orang di desa dan di kota.seloka adat ) : aturan-aturan hidup ( hukum ) rimba yang dipakai Orang Rimba dalam kehidupan mereka sehari-hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

M. Raudah Jambak

 

Ketika Deru Bunyi Kereta

 

     Bel istirahat berbunyi. Siswa-siswa SMA Dalihan berhamburan. Sebagian bergegas menyerbu kantin, selebihnya mencari posisi sendiri-sendiri. Aku hanya terpaku di depan ruang kelas. Memandang tepat lurus ke depan, ke arah lintasan rel kereta. Di sisi kiri dan kanan rumah-rumah penduduk, merunduk.

     Dari lantai tiga sekolah kami, pandangan memang terasa lepas. Aku selalu menikmati pemandangan yang unik ini pada setiap bel-bel istirahat. Orang-orang yang melewati lin-tasan. Orang-orang yang menjemur pakaian. Dan orang-orang yang selalu menyulam ke-sibukan dengan beragam kegiatan.

     ”Gerrrrejekjekjek.........”

     Dari kejauhan suara kereta api perlahan meninggi. Persimpangan tergesa. Bunyi per-tanda pun mengudara. Palang kereta perlahan merebah. Berpuluh mata nyala. Pikiran pun meraba. Ah, suasana mulai terdengar gaduh. Klakson pun beradu suara.

     ”Gerrrrejekjekjek........”

     Suara kereta semakin menyayat. Melintasi kornea mata. Di lantai tiga, siswa-siswa memeram cengkrama. Sebelum berebut masuk  kelas, mereka sempatkan mengunyah laju kereta. Pemandangan yang seram, namun memesona.

     ”Pak!” seseorang datang menyapa. Aku tersenyum, mengangguk. Selebihnya hanya diam.

     Seorang anak laki-laki, mungkin murid baru. Aku baru kali ini melihatnya. Tapi beberapa murid yang lain seperti sudah sangat mengenalnya. Beberapa diantaranya me nyapa. Dia pun hanya tersenyum sekadarnya. Rambut cepaknya, terlihat menambah kegagahannya sebagai siswa yang mampu merengkuh perempuan mana saja.

     Sejak pertemuan itu, aku mulai mengajaknya bicara di sela-sela jam menunggu laju kereta. Ada kisah pahit yang cukup menyayat kemanusiaan. Ah, entahlah. Apakah hidup yang kurang bersahabat, atau manusia yang bangga memelihara segala khianat.

                                                             ***

     Dan siang ini, setelah usai sekolah, aku menyempatkan diri singgah menikmati segelas kopi dari warung kopi yang tidak begitu jauh dari lintasan kereta. Di sini, aku lebih lelu-asa menikmati laju kereta dengan segelas kopi dan beberapa potong ubi.

     ”Mau minum apa, PakWin?” lelaki penjaga warung menegurku.

     ”Seperti biasa, Bang?” Aku tersenyum.

     Lelaki itu berangsur pergi setelah bertanya. Aku menunggu. Di sekitarku beberapa abang becak menikmati kopi sambil menggelar canda. Hal itu dilakukan setelah meng-antar-jemput penumpang.

     ”Wah, ternyata jadi tukang becak itu enak. Kita tidak terkena program rasionalisasi sama sekali” seorang tukang becak bertubuh gendut, hitam, berujar.

     ”Lho, kowe kok ngerti? Apa itu yang kamu sebut? Program rasianalisasi? Apaan tuh!” seorang tukang becak yang duduk di sebelahnya, bertubuh kurus, menimpali. Aku Cuma bisa senyum mendengar pembicaraan mereka yang menjurus serius.

     ”Memang pemerintahan kita yang sudah rusak. Pejabat-pejabat sekarang tidak ada yang beres! Semuanya otak udang! Dari segala sudut dan lapisan sudah digrogoti dengan persoalan-persoalan yang begitulah....” arah sudut, dua orang tukang becak juga sedang berdebat.

     ”Betul kata kau itu. Dewan Perwakilan Rakyat pun sudah diisi oleh para mantan. Mantan tukang becak, mantan preman, mantan provokator, mantan macam-macamlah! Kadang aku kasihan sama anak-anak sekolah itu, tiap hari belajar yang kata gurunya demi masa depan. Ternyata, masa depan anak-anak sekolah itu diisi para mantan!” tukang becak sebelahnya menyambung pembicaraan.

     ”Eh, pandai juga kau ngomong, Din!” tukang kopi ikut bicara sambil mempersiapkan minuman.

     ”Ah, jangan sepele kau, Bang. Begini-begini, aku pernah masuk organisasi pemuda. Sekarang tidak mau aku teruskan. Kalau mau aku mungkin duduk jadi anggota dewan seperti kawan-kawan aku satu organisasi dulu.”

     ”Kenapa nggak kau teruskan?’ si gendut ikut bicara.

     ”Malas aku. Nuraniku tersentuh. Aku merasa terhina. Coba kau pikir, Bang. Aku makan uang rakyat, tapi aku tidak pernah memperjuangkan uang nasib rakyat. Macam mana menurut kalian? Gawatkan?”

     ”Wah, ini orang keblinger banget. Kamu nggak usah mikirin nasib rakyat. Nasib sendiri aja udah empot-empotan gitu kok, malah mau mikirin nasib wong cilik? Ya,sudah Jangan kebanyakan ngimpi.”

     ”Huss ngomongnya dipelankan, lihat tuh...” tukang kopi memberi kode. Suasana tiba-tiba hening. Semua mata tertuju hati-hati ke arah seberang. Seorang laki-laki muda berpangkas cepak duduk di atas sebuah batu besar di pinggir jalan, memandang ke arah rel.

     ”Sudah dua minggu dia duduk di situ. Satu jam-anlah, setelah itu pergi. Aku sudah sering bilang sama kalian, jangan sekali-kali bicara politik, pemerintahan atau apa saja yang menyinggung kebijaksanaan pemerintah. Kalian lihat orang itu sedang mengamati tempat ini!”

     ”Tapi dia cuma melihat ke arah rel!”

     ”Eh, pelan-palan kau ngomong itu strategi pengintaian. Kadang-kadang dia sering memakai seragam SMA,” beberapa orang memperhatikanku pelan-pelan,”Eh, kalau dia lain. Aku kenal dia. Langganan tetapku sejak dua tahun yang lalu. Dia guru di sekolah itu. Mengajar kelas tiga.”

     Aku mengnangguk pelan. Perasaanku tiba-tiba tegang. Tukang kopi masih tetap ber bisik-bisik dengan tukang-tukang becak langganannya. Mata mereka sesekali mencuri pandang ke arah lelaki muda yang berpangkas cepak itu.

     ”Tapi kok sedih kali mukanya kutengok!”

     ”Eh, ini anak masih nggak ngerti. Itu namanya strategi pengintaian. Biar orang yang sedang diintai tidak curiga. Gitu. Macam di tivi-tivi itulah.”

     Mataku tertuju agak serius ke arah laki-laki muda itu. Aku terperanjat. Aku mengenal nya. Kulihat wajahnya memang sedang murung. Dia seperti punya beban berat dan aku hanya bisa menduga-duga. Aku hanya merasa dia sama denganku punya kebiasaan menikmati laju kereta yang melintas, pintas.

     ”Mungkin orang seteres itu!”

     ”Alah, hati-hati. Pelan-pelan kau bicara. Kalau dia dengar, bisa gawat.”

     ”Takut kali lah kau, Bang. Tak tahunya dia itu.”

     ”Sudahlah. Pokoknya pelan-pelan aja cakapnya. Kalau laju kereta sudah lewat baru boleh kalian becakap. Sekuat apapun tak kularang.”

     ”Kenapa,Bang?”

     ”Itu tekab woi. Ada kode-kode tertentu yang tidak bisa kita pahammi. Sssst....”

     Semua berbicara pelan. Sesekali mata mereka juga mencuri pandang ke arah laki-laki muda itu. Tidak berapa lama kemudian suara laju kereta mulai terdengar dikejauhan. Aku berdiri, laki-laki itu berdiri. Kereta api melaju. Aku berjalan, pelan. Tapi aku kehilangan bayangan.

     Jam di tanganku menunjukkan pukul 14.30 WIB. Aku berjalan pelan menuju tempat lelaki itu duduk sebelum pergi. Tidak ada yang kudapatkan selain coretan di balok kayu lintasan kereta. Pembuat saluran air mengalirkan air, tukang panah meluruskan anak pa-nah, tukang kayu melengkungkan kayu, orang bijaksana mengendalikan pikirannya.

     Aku hanya terpaku. Tidak paham dengan maksud tulisan itu, sampai aku mening-galkan tempat itu.

                                                                    ***       

       Bel istirahat berbunyi. Siswa-siswa SMA Dalihan berhamburan. Sebagian bergegas menyerbu kantin, selebihnya mencari posisi sendiri-sendiri. Aku hanya terpaku di depan ruang kelas. Memandang tepat lurus ke depan, ke arah lintasan rela kereta. Di sisi kiri dan kanan rumah-rumah penduduk, merunduk.

     Dari lantai tiga sekolah kami, pandangan memang terasa lepas. Aku selalu menikmati pemandangan yang unik ini pada setiap bel-bel istirahat. Orang-orang yang melewati lin-tasan. Orang-orang yang menjemur pakaian. Dan orang-orang yang selalu menyulam ke-sibukan dengan beragam kegiatan.

     ”Woi, tengoktu! Ngapain si Agung duduk di situ,” seorang siswa berteriak,”pantaslah dia nggak masuk tadi. Rupanya dia cabut.!”

     ”Steres dia itu. Sebentar lagi mau dipecat,” sahut yang lain.

     ”Dia kan anak baru. Kok cepat kali dipecat?”

     ”Apalagi, ketauan gelek lah macam nggak ngerti aja .”

     Aku terkesiap. Sungguh yang satu itu aku tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa ibunya kawin lagi. Dia tidak setuju. Apalagi lelaki yang menjadi ayah barunya lebih pantas dipanggil dengan kakek daripada ayah. Apalagi dia anak satu-satunya. Dan diapun me-ngatakan, selau pergi ke diskotik untuk membuang segala muaknya. Selebihnya dia lebih senang menunggu laju kereta yang melintas. Bebannya seakan ikut lepas tergilas. Selan-jutnya dia sudah merasa sangat puas. Bebas.

     Dari kejauhan, aku melihat sebuah minibus daihatsu hijet 1000 keluaran tahun ’83 berhenti. Seorang tua dengan tongkat di tangan berjalan tertatih, datang mendekat. Tidak berapa lama setelahnya mereka sudah terlibat percakapan ’hebat’. Lelaki tua itu melutut. Suara Agung membelah angkasa.

     ”Gerrrejekjekjek.....”

    Dari kejauhan suara kereta api perlahan meninggi. Persimpangan tergesa. Bunyi per-tanda pun mengudara. Palang kereta perlahan merebah. Berpuluh mata nyala. Pikiran pun meraba. Ah, suasana mulai terdengar gaduh. Klakson pun beradu suara.

     ”Gerrrrejekjekjek........”

     Suara kereta semakin menyayat. Melintasi kornea mata. Di lantai tiga, siswa-siswa memeram cengkrama. Sebelum berebut masuk  kelas, mereka sempatkan mengunyah laju kereta. Pemandangan yang seram, namun memesona.

     ”Pak!” seseorang  berteriak sambil mengarahkan telunjuknya.

     ”Astagfirullah. Agung!” aku berteriak,”Jangan!”

     Yang lainpun ikut menyeru. Hampir seluruh siswa berteriak. Orang-orang di warung kopipun berteriak. Lelaki tua itu pun berteriak

     ”Gerrrejekjekjek.....”

     ”Krakkkkk..............”

 

Medan, 011

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

M. Raudah Jambak

Bulan, Anakku

 

 

Bulan,

Di atas kuburan

                    (sitor situmorang) 

 

   Bulan malam ini memancarkan cahanya yang paling terang. Merayap, merambat, mengalir, dan menembus ruang-ruang yang paling sempit sekalipun. Bulan itu juga menari bersama senandung puji-pujian. Senandung itu membahana ke segala penjuru dan pelosok. Berkendara di atas iring-iringan beduk dan lonceng yang mengangguk-angguk. Bergema. Berganti-ganti.

   Arus jalanan terampas dari cangkangnya, dicengkram oleh euphoria kegembiraan. Di langit kembang api telah pula melahirkan beribu sensasi bersamaan malam seribu bulan. Seluruh setasion radio dan televisi memberi suguhan dengan berbagai variasi. Bulan telah menjelma menjadi apa saja. Dan kini, ia adalah selebriti yang paling digandrungi.

   Mulai dari anak-anak, sampai orang dewasa. Dari yang miskin sampai yang kaya. Tidak hanya wanita juga pria. Siapa dan apa saja berebut bulan. Ingin bercinta dengan bulan. Tidur dipelukan bulan. Mimpi di taman bersama bulan. Makan bulan. Minum bulan. Mengenakan bulan. Segalanya adalah bulan.

   “Malam ini penuh bulan ya, Bu?”

   “Ya, Sayang.”

   “Cahayanya seperti pelangi.”

   “Ya, Sayang.”

   “ Ada di mana-mana. Ada di Mesjid. Ada di Gereja.”

   “Ya, Sayang.”

   “Lihat, Bu. Malam ini cahayanya juga ada di gedung-gedung yang menjulang itu. Berpijar juga pada sumbu-sumbu lilin.”

   “Mmmh..ya,ya, Sayang.”

   “Seandainya tiap malam seperti ini, indah juga ya, Bu.Wah, bulan itu bersenandung dan orang-orang itu membawanya. Aku mau satu.”

   “Ssst..sudahlah, Sayang.”

   Fitri meneteskan air mata. Pipinya yang cekung terasa begitu curamnya. Betapa tidak, lembar-lembar masa lalu terus memaksanya untuk dibaca. Pertanyaan-pertannyaan yang sama selalu berulang.

   “Bu, aku suka bulan.” Pandangannya mengunyah wajah langit, menelan bulan yang menggantung.Tangannya yang mungil terlihat menggapai-gapai.

   “Bu, mereka mempermainkan bulan!”

   Bulan seorang bocah perempuan berusia enam tahun terduduk. Sejenak ia diam, menunggu sahutan, karena suram membayangi kedua matanya. Kesuraman pikirannya juga melanglang pada 1.700 kepala yang bersembunyi di tempat perlindungan bawah tanah  yang pengap persis pada sebuah tempat parkir. Suara orang berebut, melempar  dan meledakkan bulan di atas permukaan tanah terdengar sudah seperti sebuah nyanyian kepedihan.

   “Bu, mereka saling meledakkan bulan!”

   Ia kembali terdiam, menunggu sahutan. Fitri, ibunya, berusaha menahan kesedihan. Perempuan yang berusia 30 tahun itu terenyuh. Matanya terus berkaca-kaca. Ia sudah kehilangan suami dan anak lelakinya. Hanya dia dan Bulan, si bungsu, yang masih hidup.

                                                            ******  

   Setahun yang lalu Bulan masih bermain bersama abang dan ayahnya pada temaram malam. Begitupun hari-hari setelahnya. Bulan merangkainya dengan derai tawa penuh manja dipelukan ayah. Bersembunyi dari kejaran abang yang berlari seolah layang-layang terbang. Fitri hibuk terus melinting do’a-do’a. Sungguh keluarga yang bahagia.

   Menjelang maghrib seminggu setelahnya. Fitri seperti membaca firasat luka. Air matanya selalu mengalir tiba-tiba. Biasanya setiap selesai mengurai do’a di atas sajadah basah, air mata itu biasa mengalir bagai sir. Debur hatinya kini terasa berombak.

   Senandung azan menggema. Suaranya membahana. Mengelus-elus perut bumi. Mem-belai wajah langit. Angin sepoi-sepoi mengayuh udara bersama sayap do’a. Bulan dengan wajah berseri berkejaran di antara kepungan awan. Selesai berbuka mereka salat maghrib berjama’ah. Ayah sebagai Imam. Biasa setelah salat berjema’ah ayah mengucurkan ceramah. Nasihat penyejuk jiwa mengalirkan bening-bening rasa. Lantas, sambil mengucap shalawat ,berpelukan adalah penanda siraman rohani telah usai dilakukan.

   Fitri segera membereskan sisa-sisa berbuka. Lalu, ayah pergi bersama abang ke Mesjid untuk mengusung Isya dan Tarawih berjama’ah. Fitri membiarkan Bulan asyik bermain boneka kelinci kesayangannya, sebelum menyusul Ayah dan Abang ke Mesjid.

   Berselang  beberapa menit mangkuk kaca di tangan Fitri terlepas. Benturannya di lantai mengakibatkan pecahannya menebar kemana-mana. Bersamaan dengan itu pula terde-

ngar suara ledakan yang memekakkan telinga.

   “Allah…,” Fitri menjerit pelan. Ledakan itu terdengar sekali saja dari arah Mesjid sebelah utara.

   Dari arah ruang tamu Bulan berlari kea rah Fitri dengan tergesa.

   “Bu, ada bulan jatuh. Cahayanya indah…”

   Fitri terdiam. Air matanya mengalir.

   “Tapi, Bu. Bulannya menjerit seperti kesakitan…”

   Fitri hanya mengelus dada. Segera ia raih Bulan, berlari kea rah Mesjid. Langkah kaki terseok dalam erangan batin luka. Di Mesjid orang-orang sedang menjeritkan do’a.

   “Bu, Ayah dan Abang mana?”

   Fitri sesenggukan dengan pilu tertelan.

   “Wah, Ayah pasti sedang mengobati bulan. Abang juga kan, Bu..?”

   Fitri hanya mengangguk, menahan beribu cambuk yang menggebuk. Mencabut beribu duri yang menusuk.

   Setelah itu Bulan selalu bertanya tentang Ayah dan Abangnya. Fitri hanya memberi jawaban tentang Ayah dan Abang sedang mengobati bulan di Surga dengan waktu yang tidak terhingga, sampai Bulan terbiasa dengan penantian yang maya.

   “Bu, Bulan ingin membantu Ayah dan Abang di Surga…”

   Fitri terdiam dari ribuan tanya tanpa koma.

                                                                   ***   

   Sudah 22 hari, ia berlindung di sana bersama keluarga yang lain, terutama sejak agresi militer yang kedua, yang meratakan sebahagian besar bangunan di pinggir jalan. Bungker dan Shelter tak lagi menjadi tempat perlindungan yang aman. Teror menyebar kemana-mana. Jet-jet bergemuruh di udara yang gaduh. Serta selebaran dengan tulisan yang keruh sebagai peringatan kepada warga sipil yang belum mati terbunuh.

   Tak ada yang menduga bahwa  tempat perlindungan itu menjadi tempat perlindungan yang aman sejak meletusnya perang. Tidak ada tanda-tanda kehidupan, kecuali sekuter yang diparkir di luar, dan debu-debu berseliweran di jalan. Sekuter itu selalu dipergunakan pasukan pejuang untuk mengawasi jalan di pinggir kota .

    “Bu, mereka saling meledakkan bulan!.”

   Bocah itu terus mengumbar gusar. Matanya terpaku pada bibir Fitri menunggu dengan tergugu. Sebuah gelengan kepala Fitri cukup membuat warna suram yang membayangi matanya, sedikit bercahaya.

   Usia belianya tak mampu meredam duka. Bulan hanya menebar suka. Segera ia berlari menuju ke jalan gelap, melalui tangga semen dari lantai lima bawah tanah yang suram terpampang pada kanvas, pada goretan-goretan buram yang memperlihatkan lautan keluarga di seluruh ruang lengang yang sangat lapang di tempat parkir itu. Bulan berlari-lari kecil di antara keluarga yang berkumpul di suatu ruangan parkir mobil yang ditandai dengan garis lurus merah, yang dicat  di lantai abu-abu yang berkilat. Meskipun ada penyejuk udara, kebanyakan orang yang berada di sana berkeringat karena kegerahan.

   Samah datang menyapa Bulan. Dia tinggal di B3 sekarang. Sementara seorang remaja sedang berselancar melintasi Bulan menuju ke lorong panjang. Bocah lainnya dorong-dorongan gerobak tak jauh dari Bulan. Bersamaan dengan cekikikan bocah perempuan berkepang dua. Mereka merasa begitu terhibur.

   Ali segera mendekati Bulan. Sekejap kemudian, Samah, Ali dan anak-anak yang lain sudah lebur bersama Bulan.

   Tidak jauh dari tempat Bulan bermain, beberapa pria tanpa baju berbaring di lantai, sambil mendengarkan berita melalui radio kecil yang diletakkan di atas dada, dan sebelah tangan menyangga kepala, sebelah lagi berada di atas kedua mata mereka untuk menghindari neon yang menyilaukan mata.

   “Awas, Bulan. Hati-hati..”

   Seorang bocah perempuan bercadar berteriak mengingatkan. Ia duduk diantara perempuan bercadar lainnya, melingkar. Ada yang asyik bercerita. Ada yang baru menyelesaikan khatamnya. Ada pula yang sibuk berganti piyama dengan ditutupi kain berkeliling, oleh saudara-saudaranya untuk menghalangi pandangan ngeri kelopak mata para lelaki.

   Ali dipanggil bersama Bulan. Seorang perempuan tua berteriak kepayahan, sesekali ia mengerang kesakitan pada tulang-tulang tubuhnya. Berbaring di tikar tipis di lantai.

                                                                *******

Hal ini memang selalu terulang. Sejak mereka hidup lima lantai di bawah tanah. Tidur di lantai, di tempat parkir umum. Tulang berasa sakit karena udara lembab. Siang hari pada saat bulan di langit terbakar. Mereka tidak bisa pulang ke rumah untuk mandi. Bahkan dengan kain basahpun, anak-anak mereka tidak bisa dibersihkan. Pada saat ingin menggunakan toilet di parkir umum itu, aksi saling rebut kerap terlihat.

   Ali dan Bulan, memijit-pijit lengan perempun tua itu. Lalu mengambilkannya minum untuk sekali teguk. Setelah menunggu perempuan itu beberapa saat, mereka pergi dan perempuan itu kembali tertidur.

   Di bawah tanda “Di larang Masuk” tempat biasa dirancang untuk mobil. Bulan dan teman-teman kembali lebur dengan anak-anak yang berteriak dengan gembira. Terutama pada saat mereka berlarian ke segala arah di seluruh lautan berwarna abu-abu itu. Tak ada suara suram yang tergambarkan. Mereka terus bermain sembunyi-sembunyian. Seorang gadis kecil dengan rambut diikat ekor kuda, tertawa terbahak-bahak.

                                                 ********

   “Dhuaaaar…!”

   Sebuah ledakan besar kembali terjadi, sebelah utara dari tempat perlindungan. Suaranya terdengar menyentak. Ali, anak-anak yang lain dan Bulan terhenyak.

   Suara ledakan seketika memburu, membabi-buta, menghantam apa saja. Debu-debu dan asap mengepul di mana-mana. Api terlihat mencakar. Gedung-gedung lebur. Sebahagiaan rata dengan tanah. Seorang ibu menahan luka, merangkak, mencari. Dengan sisa tenaga, ia singkirkan sampah bangunan yang ambruk. Darah bagai bah, mengalir dari kepala dan punggungnya  tak lagi dihiraukan. Air mata membasah. Suara jerit tertahan.

   Perempuan itu merayap di antara batu-batu. Darah kental meninggalkan tanda di mana-mana. Ada yang menggenang begitu saja pada tubuh renta yang asyik dengan tidur indah-nya. Ada yang bercampur debu diperut seorang lelaki berperut buncit yang sedang meng-genggam radio kecil dengan nyala lampu merah berkedip-kedip. Ada pula yang memba-sahi rambut gadis kecil berkepang dua, matanya terlihat redup dengan kepala yang telah terpisah dari badan. Ada pula yang tertumpuk di bawah gerobak dengan potongan tubuh tak karu-karuan. Selebihnya hanya debu berterbangan dan asap yang bekerjap-kerjap.  

   Segera perempuan itu memburu sosok tubuh yang terjepit  dan menyingkirkan sisa reruntuhan yang menghimpit bocah perempuan itu. Di tangan bocah itu masih ter-

genggam boneka kelinci kesayangannya.  Matanya masih terbuka memandang ke arah

langit. Begitu Damai. Perempuan itu segera menumpahkan kesakitan yang sedari tadi tertahan. Segera ia raih Bulan, bocah kecil dengan boneka kesayangan tergenggam di tangan. Dengan derai air mata yang membanjir, ia peluk Bulan.          

Medan, 011

No comments: