Wednesday, 13 May 2026

Cerita Pendek karya Raudah Jambak

 Cerpen M. Raudah Jambak

PERISTIWA MAKAM

 

 

”Semoga ada yang mati hari ini...”

Lelaki itu terduduk diam. Saung sederhana dan dingin yang tengah ditempati-nya, menempel,  di antara dua pohon kamboja, setia menemani. Hari sepi sekali. Tetapi, siang ini cuaca terasa menyengat. Angin kering berhembus dari sela ranting-ranting pohon. Daun-daun yang gugur sejak pagi tadi sudah mulai menggunung. Sedangkan daerah sekitarnya lebih kepada kawasan semak tak berpenghuni. Ilalang ter lihat meninggi. Rumput-rumput membentuk permadani kusam, menutupi sebentang nisan.

        Tempat itu menjadi semakin angker, sebab ujung nisan seolah kepala-kepala  yang menyembul dari balik semaknya ilalang. Kesan angker bertambah dengan rimbunan pohon-pohon kamboja dan sawit di kiri kanan areal pemakaman yang agak tersembunyi itu. Hanya saja yang membuat sedikit nyaman adalah keberadaan seorang penjaga makam, sekaligus si penggali kubur. Waktu-waktu luang tak jarang ia member sihkan rerumputan yang membelukar.

        “Ah, belum ada yang mati.. “

Sengok, demikian nama lelaki itu. Itu adalah nama panggilan penduduk sekitar kampung kepadanya. Nama aslinya sampai saat ini masih belum juga diketahui. Dan orang-orang kampung pun tidak begitu peduli siapa nama aslinya. Dari mana asalnya, termasuk siapa keluarganya. Orang-orang kampung hanya tahu Sengok adalah lelaki setengah baya, bertubuh kurus, yang selalu membantu orang lain. Menyenangkan bagi siapa saja. Kekurangannya hanya pada saat bicara. Sengok persis seperti orang yang terkena ashma ketika bicara. Dan sudah puluhan tahun jadi penggali kubur merangkap penjaga makam.

        Sebab kebaikannya itu pulalah yang membuat orang selalu percaya padanya. Orang-orang juga sering mengantarkan makanan untuknya. Sengok tidak pernah meminta apalagi berharap belas-kasihan dengan dirinya yang memiliki satu istri dan satu gadis kecilnya yang lucu. Tetapi, ia selalu dengan sukarela membantu termasuk menguburkan sekaligus menjaga makam keluarga dari warga kampung yang meninggal dunia.

”Abang jangan pernah meminta,” begitu selalu istrinya berkata.”Walau kita miskin, yang penting jadilah manusia yang bermartabat. Demi Tuhan dan anak kita, Nisa, satu-satunya. Abang tak perlu menkuatirkan aku. Aku tetap menerima abang apa adanya.”

Tak ada yang lebih bahagia dari Sengok yang memiliki keluarga walau sederhana. Istri yang tabah. Terkadang sengok lebih sering menginap di saungnya tinimbang berada di rumah, menemani anak dan istrinya. Dan istrinya mafhum, sebab ia tahu bahwa yang dilakukan suaminya demi untuk keluarga juga.

        “Sengok, siapkan pemakaman ada warga yang meninggal dunia!”

        Selalu begitu, setiap pak Kepling memberitahu. Sengok lalu de ngan cekatan meng gali kubur dan menyelesaikannya, paling cepat dalam tempo satu jam. Sendiri saja. Tidak perduli apakah kubur un tuk orang dewasa atau anak-anak. Pada saat hujan atau panas terik. Orang-orangpun tidak segan-segan memberikan upah walau pun Se ngok tidak meminta. Sengokpun tidak kuasa menolak sebab orang-orang selalu memaksa.

        Upah yang diberikan pun bermacam-macam. Ada yang memberikan pakaian, makanan, maupun  uang. Sengokpun menerimanya dengan senang hati. Pakaian dan makanan yang ia terima tak jarang diberikan kepada gelandangan, pengemis dan pengamen yang sering melintas di areal pemakaman itu. Sedangkan uang selalu disimpannya, di bawah tikar pandan. Dikumpulkannya yang kemudian diserahkan kepada isitrinya sekali waktu. Ia mengumpulkan uang itu, di dalam saung yang dibangunnya untuk tempat tinggal keduanya setelah rumah sederhana yang tak jauh dari areal pemakaman.

        Pernah satu kali Sengok pergi. Hari begitu sepi sekali. Cuaca yang menyengat semakin laknat. Angin kering semakin mengeringkan ranting-ranting pohon. Daun yang gugur seolah tubuh-tubuh tak bernyawa yang kehilangan kubur. Areal pemakanaman itu terkesan lebih tak terururs, sejak kepergian Sengok. Ilalang menjulang. Rumput-rumput masih semaput. Meneng gelamkan ratusan nisan.

        Sengok meninggalkan areal pemakaman itu diam-diam, setelah warga menuduhnya membongkar salahsatu kuburan secara paksa. Salah seorang warga mengaku telah melihatnya sendiri.  Istrinya hanya pasrah berharap semoga Tuhan selalu melindungi suaminya.

        “Ya, Pak. Saya berani sumpah,” ujar Ceromot yakin,”Saya melihat sendiri Sengok yang telah membongkar kuburan Marni.”

        “Saya juga, Pak,” Markodet menimpali,”Saya juga pernah melihat Sengok hampir membongkar kuburan Sartini. Untung saya cegah, kalau tidak…”

        “Kalau tidak? Kalau tidak apa?” Tanya pak Kepling penasaran.

        “Kalau tidak Sartini yang cantik itu. Sartini yang sudah jadi mayat itu sudah disetubuhinya.”

        “Kamu yang benar. Jangan sampai menebar fitnah yang bukan-bukan!”

        “Terserah, Bapak. Mau percaya atau tidak. Saya ragu, tetapi mung kin ini ada kaitannya dengan ilmu hitam. Kafan penutup mayat bisa menjadi media untuk melaksanakan niatnya untuk melakukan ritual ilmu hitam. Apalagi kalau tidak salah itu dilakukannya pada hari ka mis, menuju ke malam jum’at.”

        Orang-orang terhasut. Orang-orang mulai mengupat. Sengok tertunduk. Dia tidak tahu, bagaimana harus menjelaskannya. Penje lasannya tidak dipahami. Orang-orang lebih percaya kepada Ceromot dan Markodet, abang-adik, preman kampung yang pekerjaannya selalu bermain judi di areal pemakaman. Membawa beberapa teman mereka untuk minum-minuman keras. Lebih parahnya lagi, memba wa perempuan malam untuk melakukan perzinahan di antara dere tan nisan.

        Sengok tidak didengar, walau istrinya ikut membelanya, sebab dia bukan penduduk asli kampung itu. Sengok adalah orang lugu dan bodoh untuk berbuat macam-macam. Apalagi dalam hal melakukan kekerasan. Setiap ingin menjelas kan sebuah tamparan menghantam pipinya. Terutama tamparan yang berasal dari telapak tangan Ceromot dan Markodet. Akhirnya, Sengok hanya bisa diam. Diam terhadap kebinalan Ceromot dan Markodet yang kelakuan mereka pernah beberapakali pernah digagalkannya dengan bermacam cara, termasuk menyamar jadi apa saja ter masuk jadi hantu.

        “Sudah, Pak Kepling. Jangan Tanya lagi. Usir saja…!

        “Ya, kami setuju!” Teriak warga serentak.

        “Diam. Saya yang memutuskan. Saya baru akan mengusir Sengok jika bukti-bukti yang memberatkan cukup kuat. Saya akan menyelidiki!”

        Kali ini warga diam. Terlebih Ceromot dan Markodet. Mereka berdua hanya saling curi tatap. Sampai akhirnya warga bubar mening galkan pak Kepling dengan Sengok, berdua. Sementara dari  kejauh an Ceromot dan Markodet tetap mengawasi. Mereka tidak bisa ber buat banyak, apalagi pak Kepling yang notabene Paman mereka tidak mudah begitu saja percaya dengan penjelasan mereka berdua.

        Tetapi Sengok yang memutuskan sendiri. Seperti hari ini, dia pergi, tanpa sepengetahuan siapa-siapa termasuk istrinya. Awal kepergiannya memang tidak begitu berpengaruh. Hanya saja setelah meningginya rumput dan ilalang, orang-orang mulai ke hilangan. Orang-orang mulai rindu pada Sengok yang ringan tangan dan suka membantu. Rindu Sengok yang tidak pernah meminta upah atas segala pekerjaannya.

        Ketidak-beradaan Sengok ternyata sangat berpengaruh bagi penduduk kampung. Kampung jadi banyak sampah. Kampung jadi kotor. Lebih parahnya lagi, orang-orang kampung melihat areal pemakam an jadi tempat segala macam tindak kriminal. Perjudian, mabuk-mabukkan, dan tempat transaksi tali air. Tidak cukup sampai di situ, banyak kuburan yang dibongkar, mayatnya dibiarkan begitu saja.

        Tumpukan mayat menyebabkan timbulnya bau yang tidak sedap. Orang-orang kampung tidak berani bertindak. Mereka takut. Mereka jijik. Mereka telah lupa bagaimana cara menguburkan jenazah. Terle bih ketika mereka menemukan Ceromot mati sangat tragis sekali. Markodet berteriak begitu sadar tubuh Ceromot ditemukan sudah tidak bernyawa, menempel di tubuh seorang perempuan yang juga tak bernyawa.

        Orang-orang kasak-kusuk. Kampung gempar. Pemberitaan di surat-surat kabarpun menebar. Sengok pun seketika dielu-elukan. Sengokpun seketika dirindukan, dikarenakan pengakuan Markodet yang mengejutkan.  

        “Sengok tidak bersalah. Sengok tidak bersalah!” berkali-kali Markodet berteriak. Terus berteriak. Berlari ke sana ke mari. Mengitari seluruh kampung.

        Hari semakin sepi sekali. Termasuk siang ini, cuaca terasa menyengat. Angin kering berhembus dari sela ranting-ranting pohon. Daun-daun yang gugur sejak pagi tadi sudah mulai menggunung. Sedangkan daerah sekitarnya lebih kepada kawasan semak tak berpenghuni. Ilalang ter lihat meninggi. Rumput-rumput membentuk permadani kusam, menutupi sebentang nisan.

        Tempat itu menjadi semakin angker, sebab ujung nisan seolah ke pala-kepala  yang menyembul dari balik semaknya ilalang. Kesan angker bertambah dengan rimbunan pohon-pohpon sawit di kiri kanan areal pemakaman yang agak tersembunyi itu.

        “Sengok tidak bersalah!”   

 

                                                                                                        Medan, ramadhan

 

PEREMPUAN OROK

Oleh : M. Raudah Jambak

 

Dan, malam ini ia harus menghadapi kenyataan untuk yang ke sekian kali. Kenya taan yang mungkin tidak pernah ia bayangkan. Kenyataan yang sangat mengerikan. Le bih mengerikan dari pekat malam. Baginya justru malam adalah sahabat. Ia lebih percaya pada malam daripada siang. Malam selalu menjaga kepercayaannya. Malam tidak pernah mengkhianatinya. Pada malam ia selalu berkeluh kesah, menitipkan setiap orok yang ia lahirkan dengan segala keterpaksaan. Malam adalah rumah tempat ia berkunjung. Rumah bagi orok, tempat berlindung sekaligus bermain. Tempat berlindung bagi sengatnya mata hari. Berlindung dari setiap tipu daya siang.   

Langkah, rezeki, pertemuan, dan maut merupakan rumus perjalanan usia. Di awali dari sebuah kelahiran yang akhirnya sampai kepada pintu kematian. Di antara jeda kelahi ran dan kematian itu, kita harus mampu menentukan sikap. Walau akhirnya tidak bersi kap adalah sebuah sikap. Lantas semua itu bergantung kepada kita bagaimana harus me langkah. Dan, ia sudah menentukan sebuah langkah yang memang terpaksa harus dijala ni dengan segala cinta. Hanya itu yang ia punya dalam menjalani hidup sepanjang usia. Usia yang perlahan mengejar gerbang waktu ke waktu.

Bersama segudang cinta, ia harus tertatih mengunjungi rumah malam. Menimang-timang orok sambil menyanyikan tembang kasih dan sayang. Menari ke sana ke mari. Mengumpulkan orok yang berebut hendak ditimang. Lalu bermain kejar-kejaran. Sung guh! Begitu riang. Memendam segala perih, segala pedih. Dan, ia bahagia. Bahagia dengan segalanya. Bahagia dengan segala kenyataan.

Perih dan pedih baginya adalah kenangan. Perih yang akhirnya memompakan semangat hidup dengan energi yang justru sangat berlebihan. Tetapi, ia begitu menikmati nya. Semakin ia ingat segala kenangan pedih itu, semakin menggila semangat itu.

Perih itu seperti tombak yang menghunjam ke jantung berkali-kali. Membekap sesak di dada. Memporak-porandakan segala harapan. Lalu ketika segala kehampaan itu hampir sampai pada puncaknya, malam pun akhirnya memberikan segala ketentraman. Segala kedamaian. Pada aliran kedamaian itulah ia reguk tetes air kebahagiaan. Memba suh lara. Malamlah yang selalu menyalurkan kekuatan, yang membuatnya mampu untuk terus bertahan. Lalu malampun dijadikannya ibu tempat yang paling nyaman untuk menu angkan segala keluh kesahnya. Meraih kekuatan-kekuatan baru untuk menimang-timang orok mungilnya. Bermain-main. Mendendangkan tembang kasih dan sayang.

Satu persatu orok itu berebut hendak ditimang, lalu sesekali berteriak dibiarkan berenang. Bergantian setiap malam-malam bertandang. Menyelam sampai di kedalaman. Menelusuri sampai dikejauhan. Mencari muara. Tapi, apa daya sebelum sampai pada muara, siang menghempang, menyangkutkannya pada arus yang mengambang. Ia pun harus pasrah, ketika siang menitipkan orok itu pada setiap orang, yang kemudian membe rikan rumah baru yang sepi di kedalaman bumi.

Siang, sepertinya memang sengaja memisahkannya dengan orok yang selalu ia timang. Diam-diam ia pun memusuhi siang yang terkadang membakarnya dengan terik yang garang.

Ia tak mau menyalahkan Tuhan. Bersebab tekanan ekonomi. Ia hanya perempuan yang lemah tak berdaya. Pikirannya hanya satu, ia ingin menggapai segala impian.  Me lanjutkan sekolah ke tempat yang lebih tinggi. Mengharap pembayaran uang sekolah yang mahal dari seorang ibu berstatus janda dan sakit-sakitan adalah sesuatu yang sung guh mustahil. Sebagai anak tunggal, impiannya hanya satu membahagiakan ibu yang telah melahirkan dan merawatnya hingga besar. Menjadi seorang gadis cantik yang pasti menggiurkan setiap hasrat setiap laki-laki.

Ia merasa kesadarannya mungkin terlambat. Bertahun ia terpaksa mengumpulkan lembar demi lembar uang yang kurang dari memungkinkan. Mengumpulkan segala kei nginan sekeras logam, menawarkan segala pesona kepada setiap hidung belang yang ber hasrat mencicipi setetes demi setetes madu ranumnya. Demi kenikmatan sementara. Tak terhitung lagi peluh setiap lelaki membasahi tubuh moleknya. Tak terhitung lagi lelaki-lelaki itu mencangkuli sawahnya. Menebarkan benih pada hamparan rahimnya. Tak ter hitung lagi ia harus memanen orok sebelum waktunya, demi mengejar segala cita-cita nya. Mungkin saja jika orok itu ia biarkan sampai pada kelahirannya, sudah berapa bayi yang melahap ranum puting susunya. Meninggalkan irama tangisan yang memenuhi ru ang telinganya. Tetapi, ia harus makan. Membelikan obat untuk ibunya yang sekarat. Membayarkan uang sekolah yang setiap bulan mencekik masa remajanya. Maka, ia tak ingin sebuah kehamilan memadamkan segalanya. Memadamkan keinginannya untuk men jadi seorang dokter. Merawat ibu yang tercinta sepanjang hidupnya.

Wajar jika ia memilih pelajaran IPA sebagai mata pelajaran paforitnya. Tetapi, ketika ia sampai pada pembahasan anatomi, hatinya perih. Perih membayangkan orok-orok itu belum sempurna tubuhnya. Perih membayangkan kesedihan janin dalam rahim nya diusir paksa cairan kimia. Perih membayangkan orok yang selalu ditimang itu menyalakan tatapan mata penuh kebencian. Menuduh ia sebagai perempuan jalang yang tidak mengerti kasih dan sayang. Lalu kebencian itu berubah menjadi sebuah tombak yang setiap saat menghunjam diam-diam dari belakang.

Sebenarnya, tak pernah sekalipun dalam setiap jengkal benaknya ada niat keji se perti itu. Ia hanya bisa berharap orok-orok itu mengerti, bagaimana himpitan hidup berka li-kali menderanya. Mendesaknya. Di usia yang seharusnya membawanya pada dunia ke gembiraan. Pada dunia penuh bunga. Di usia yang mengajarkannya meraih presatasi demi prestasi. Ia harus menjual kehormatannya untuk membayar uang sekolah yang mahal. Ia harus membayar uang buku cetak yang setiap tahun selalu saja baru. Memenuhi kebu tuhan sejengkal perut. Merawat ibunya yang janda. Walau toh, akhirnya ia selalu meraih juara umum. Mendapatkan beasiswa pengurangan uang sekolah.  Tetapi, apa boleh buat tekanan ekonomi memaksanya berbuat seperti yang tidak seharusnya. Ia harus terus-me nerus menjual kehormatannya.  

  Dan, malam ini tak ada yang lebih bahagia, selain ia harus menimang oroknya. Menghadapi kenyataan seperti malam-malam sebelumnya. Kembali bermain melepaskan segala kepenatan siang. Walau terlalu cepat untuk menjadi seorang ibu, justru ia merasa bangga dan bahagia. Bahagia memeluk, menimang, dan mendendangkan tembang kasih sayang. Bahagia menyuguhkan pancuran susu. Bahagia menyuapkan mereka. Bahagia memandikan mereka. Dan bahagia memandang wajah lelap mereka, setelah menikmati senandung lagu kasih-sayang. Awalnya, memang ini kenyataan yang mungkin tidak pernah ia bayangkan. Kenyataan yang sangat mengerikan. Lebih mengerikan dari pekat malam. Ternyata pada malam ia selalu berkeluh kesah, menitipkan setiap orok yang ia lahirkan dengan segala keterpaksaan. Malam adalah rumah tempat ia berkunjung. Rumah bagi orok, tempat berlindung sekaligus bermain. Tempat berlindung bagi sengatnya matahari. Berlindung dari setiap tipu daya siang.

Ia, seperti kembali ke masa lalu. Masa kanak-kanakanya. Mengenangkan ibu yang tidak pernah jera menemaninya setiap saat. Membayangkan wajah tirus ibu yang gelisah ketika ia dalam keadaan sakit. Wajah ibu yang gembira ketika ia berlari-lari ke sana ke mari. Melihatnya menari-tari dengan lenggok mungilnya. Mendengarkannya menyanyi kan lagu yang tak jelas artikulasinya. Betapa bahagianya ibu. Menggendongnya kemudi an. Dan tidak pernah lupa mendongengkannya kisah-kisah kepahlawanan. Sampai akhir nya, ia harus terlelap di pangkuan hangat ibu, dengan mulut mungil yang menjepit puting susu ibu.

Malam ini, persis seperti waktu itu. Ia merasakan kebahagiaan seorang ibu. Ia bernyanyi dan terus bernyanyi. Tak pernah henti sampai akhirnya orok yang menjadi bayi dalam benaknya itu pulas satu persatu. Bersamaan dengan itu, entah siapa yang mencipta kan telaga menyebabkan harunya tak terhingga. Tetapi, begitu sadar siang kembali me rampas oroknya satu persatu. Telaga itu berubah sungai yang mengalir deras dari kedua belah pipinya.  

Sungai yang mengalir itu seolah pertanda kasih dan sayangnya membawa orok itu pada muara waktu tak tentu. Pertalian kasih dan sayang itu seolah terputus-putus. Ia begi tu mencintai mereka. Mencintai orokorok yang belum sempurna benar fisiknya. Mencin tai mereka walau tak jelas benar bibit, bebet, dan bobotnya. Mungkin bibit seorang peja bat. Bebetnya, mungkin dari seorang yang paling ’suci’. Atau mungkin saja bobotnya berasal dari orang-orang kebanyakan. Ia tidak peduli, sebab mereka adalah anak-anak sur ga. Anak-anaknya. Walau kelahirannya dilumuri lumpur-lumpur kenistaan, dan kawah- kawah kegelapan.

Bagaimanapun, ia akan tetap menggenggam harap. Ia tetap percaya rumus hidup. Tentang sebuah pernyataan, semua pasti akan berakhir. Sedih pasti akan berakhir, me ngundang sebuah kegembiraan. Keyakinannya melebihi segalanya. Tinggal bagaimana, ia menyikapi hidup. Tinggal bagaimana memaknai usia. Membiarkannya mengalir seperti air. Mendapatkan muara kebahagiaan. Saat ini ia menimang orok. Setelahnya ia akan menimang sempurnanya orok. Seorang bayi mungil, seperti yang selalu diidamkannya.

Namun, ia merasa waktu merambat begitu lambat. Ia masih saja harus mengunju ngi malam. Sebuah rumah dengan beranda seluas kelam. Lalu ruang tamu sehitam pekat bayang-bayang. Walau tanpa lirik baris-baris cahaya, baginya malam adalah sebuah ta man yang penuh dengan aneka bunga. Beragam aroma segar dan lembut. Ia seolah ter bang menuju gerbang langit, melewati beratus bahkan beribu anak tangga dengan kenda raan cintanya. Kemudian kembali menimang-timang oroknya. Seolah malaikat kecil dengan lingkaran aura penuh cahaya. Sempurna. Ah.............!

Hanya saja memang waktu merangkak terlalu perlahan. Keinginan-keinginan itu masih tertahan. Ada yang memang harus berakhir. Ia tidak perlu lagi berkelana dari satu lelaki ke lelaki yang lain. Ia hampir mencapai titik penantian, setelah anak pemilik seko lah mengakhiri setengah penderitaan yang menghimpitnya. Seorang lelaki muda yang mencintainya apa adanya. Dan ia pun harus memasrahkan segalanya. Sampai pada suatu ketika mereka harus menyelami dalamnya samudera asmara sampai ke dasar-dasarnya. Membiarkan lelaki itu merekam permainan binal mereka. Merestui lelaki itu mengambil setiap inci gambar sensisitifitas kewanitaaannya. Sebuah catatan kebahagiaan abadi bagi nya

Ia memang mencintai lelaki itu, walau tidak melebihi cintanya kepada malam. Tidak melebihi cintanya kepada orok yang selalu ditimangnya pada bulan-bulan tema ram. Paling tidak ibunya berangsur-angsur menjemput kesembuhan. Tidak perlu lagi pu sing menghadapi tuntutan pangan. Lancar membayar uang buku pelajaran. Bahagia men jadi seorang anak, sekaligus ibu bagi bayi imajinasinya.Bahagia men jadi seorang gadis yang dicintai dan mencintai.  

Malam ini, ia merasakan kegundahan teramat dalam. Entah siapa yang merekaya sa wajah bulan begitu buram. Bintang-bintang bersembunyi di bilik kabut. Desau angin seperti beribu pisau mengiris galau. Orok dalam timangannya meronta. Di susul orok-orok lain yang berebut menggantunginya. Orok-orok yang selalu melumat puting susu nya. Menjerit histeris. Berteriak-teriak memekak. Berlompatan ke sana kemari. Ia beru saha berlari mengejar. Semakin dikejar orok itu semakin menjauh, dan akhirnya menghi lang. Ia terus berlari, mencari. Entah mengapa, ia merasa semua mulai menjauhinya. Se mua mulai membecinya.

Malam tiba-tiba berganti dengan wajah siang. Menghempaskannya habis-habisan. Orok-orok itu satu persatu muncul dengan wajah yang sungguh jauh berbeda, wajah malaikat awalnya, lalu berobah menjadi iblis yang sebenarnya. Orok-orok itu menyeringai garang dengan darah yang berlelehan dari taring-taring mereka. Ia berlari ketakutan. Orok-orok itu mengejar, mengepung dan dengan mudah melumpuhkannya. Ia histeris, menjerit sekuat-kuatnya. Tetapi mulutnyapun dibekap. Tidak ada lagi yang mendengar suaranya. Justeru ia yang mendengar suara-suara.

”Kamu berhak didampingi pengacara!” ujar salah seorang lelaki berseragam sam bil memasang gari di tangannya,”kami sudah mengumpulkan semua bukti-bukti video mesummu. Dan menghapus gambar mesummu yang ada di internet.”

Dan, ia semakin membenci siang. Membenci kilatan cahaya dari mulut-mulut ta jam kamera pemburu berita. Membenci ceracau hujatan pertanyaan. Benarkah Anda men jebak anak Ketua Yayasan? Mengapa begitu besar tuntutan yang Anda minta? Bagaima na perasaan Anda setelah dipecat dengan tidak hormat dari sekolah?  Lalu bagaimana dengan Ibu Anda? Bagaimana dengan janin-janin Anda? Bagaimana dengan..........

Ia bungkam. Tangisnya tertahan. Jiwanya terguncang. Dalam hatinya, ia berharap malam datang bertandang. Ia masih mencintai malam, tetap menggenggam segala harap. Pada malam ia selalu berkeluh kesah, menitipkan setiap orok yang ia lahirkan, yang ke mudian selalu ditimang-timang. Malam adalah rumah tempat ia berkunjung. Rumah bagi orok, tempat berlindung sekaligus bermain. Tempat berlindung bagi sengatnya matahari. Berlindung dari setiap tipu daya siang.

Medan, 2009

DI SOPO GODANG

 

   Orang-orang telah berkumpul menyambut malam. Hiruk pikuk kian mengetuk, seolah riuh pesta perkawinan saja. Ada debar terdengar. Bagas Godang semakin sesak. Alaman Bolak terasa menyemak. Gordang mulai dipalu, Gordang Sambilan membahana. Sembilan buah gendang dengan ukuran berbeda-beda. Terbuat dari kayu dan kulit lembu. Dimainkan tujuh orang pemusik. Variasi pukulan dipadu sedemikian rupa, sehingga menghasilkan gelombang irama yang khas. Seperti suara alam. Tampak penabuh gordang paling ujung menari-nari. Sesekali matanya terpejam, larut dalam irama. Bagai digerakkan kekuatan misitis, ia melompat-lompat. Terkadang menunggangi gendang sambil memukul. Seperti kesurupan. Meski atraktif begitu, pukulannya tak pernah sumbang. Berbeda dengan Onang-onang.

    Di Sopo Godang para petinggi kampung telah hadir. Juga Kepala Kuria. Aku ada diantara mereka. Duduk di atas tikar pandan berlapis dua , kedua ujungnya disatukan dengan menjahitkan kain warna merah pada keempat sisinya. Dalam bahasa adat , ini disebut amak lampisan.

    “Ambilkan Pangupa!” perintah bayo datu. Seseorang datang menating nyiru. Kepala kerbau diletakkan di atasnya, beralas daun pisang. Di sampingnya, seseorang lagi menating piring besar bernama pinggan pasu, berisi bahan pangupa lainnya: nasi putih, tiga buah telur ayam, garam, ikan garing, udang, dan daun ubi. Juga ditutup dengan daun pisang. Paling atas ditutup dengan kain adat Tonunan Patani.

    ”Turupa-upa...turupa-upa...turupa-upa...” ratap bayo datu memulai acara mangupa.

    Seseorang memutar-mutarkan nyiru di atas kepalaku. Begitu panjang kalimat pangupa tersebut. Juga dibacakan beberapa mantra. Kakiku kesemutan. Tentu saja kutahan. Menurut adat, seseorang yang berpergian jauh harus diupa-upa untuk memberi kekuatan dan keberanian.

    Setelah itu aku disuapi dengan makanan yang berada di Pinggan Pasu. Dicicipi satu persatu. Bayo datu menjelaskan maksud dari setiap jenis makanan. Prosesi berlangsung alot. Juga sakral.            

     “Nanti malam kau ikut Umak manortor, Amang!” ujar Umak beberapa waktu yang lalu. Aku masih kelas lima esde. Dan Amang sudah lama meninggal, sebulan setelah aku dilahirkan.  

     “Manortor? Apa itu manortor’ Umak?” Umak tersenyum.

    “Manortor itu yang begini, Amang’” Umak melakukan beberapa gerakan, yang masih asing bagiku.

    “Oh, menari, Umak?” Umak kembali tersenyum. Dia menarikku, lalu menyuruhku duduk di kursi kayu yang dibuat Amang dari bamboo.

    “Manortor, ya, manortor, Amang,” Umak membelai rambutku pelan.” Tapi kalau kau bilang menari boleh juga. Bedanya manortor tidak seperti menari biasa. Kalau menari hanya sebagai hiburan’ Manortor itu sudah termasuk dalam adat istiadat kita. Dan nanti semuanya harus menari, tanpa terkecuali.”

    “Aku laki-laki’ Umak. Aku tak pandai menari.”

    “Ingat ! Tanpa terkecuali.” Aku masih kebingungan, Umak hanya tersenyum mengambang.

    “Nanti juga kau akan paham, Amang.” Gordang kian ramai dipalu. Hentakannya terdengar bertalu-talu. Jari-jemari terus digerakkan sesuai irama. Begitu juga dengan kaki dan tangan. Gerakan laki-laki dan perempuan ada sedikit perbedaan. Gerakan jari-jemari diluruskan seperti menjepit sesuatu secara serentak. Gerakkan perempuan terasa lebih gemulai. Sementara yang laki-laki terkesan lebih gagah.

   “Manortor itu untuk apa, Umak?”

    “Ya, untuk acara-acara tertentu, Menyambut tamu, mengantar bagi yang berpergian  ke tempat yang jauh atau ajang mencari jodoh.” Suasana sore begitu kontras dengan hamparan sawah depan rumah. Umak berbicara padaku panjang lebar, bercerita tentang apa saja. Termasuk cerita tentang tanah leluhur ini. Selalu menarik dan memancing rasa ingin tahu. Angin yang berhembus selalu menghadirkan ketenangan dan rasa damai.

    Cerita Umak semakin melebar kemana-mana. Tentang Amang yang jadi pengembala kerbau ketika kecilnya. Aku tersentuh membayangkan Amang kecil bersama rombongannya melintasi sore bersama kerbau mereka. Alangkah bahagianya, merasakan kegembiraan bersama matahari yang perlahan menuju peraduan di tengah-tengah hamparan sawah yang begitu luas.

    Sambil mendengarkan cerita Umak, aku teringat kembali kisah Umak yang sempat ia beberkan padaku, beberapa waktu yang lalu. Aku berpikir apakah aku akan sampai pada kisah seperti ini.

                                                                ***

     Umak terduduk, memeluk kedua borunya. Suasana yang tenang dan damai itupun berubah menjadi lautan air mata, ketika Masniari mengingatkan kembali bagaimana awal mula rumah tangga yang damai itu dipertahankan. Suasana tegang sedikit mencair melihat si kecil halomoan yang bermain-main, mengoceh tak tentu arah.

    Masniari tersadar. Masa lalu itu selalu menghantui pikirannya. Ia lalu duduk di atas sofa empuk sambil memandangi kedua buah hatinya yang juga sedang bermain-main. Dering telepon kembali menghantam lamunan Masniari. Hatinya berdebar. Tangannya tergetar. Suara di telepon yang begitu dirinduinya, lantang bersuara.

    “Inang, dua poken nai anggimu giot marbagas,’’ terdengar suara umak bahagia. Masniari diharuskan dating menyaksikan acara yang dianggap sakral itu. Apalagi Masniari adalah kakak tertua dari dua bersaudara. Ayah mereka sudah lama tiada sewaktu Masnauli duduk dibangku SD. Tinggallah umak yang membesarkan mereka dengan berjualan toge (makanan khas panyabungan). Sambil membantu umak berjualan Masniari kuliah disalah satu perguruan tinggi swasta di Padangsidempuan. Disanalah ia mengenal seorang yang telah menjadi ayah dari anaknya kini.

    Dua minggu kemudian Masniari dan keluarganya pulang ke kampung. Acara pernikahan dengan adat yang cukup sakral dilaksanakan, dengan petuah-petuah yang sakral pula (Markobar). Di tengah keramaian suasana itu yang dihadiri seluruh keluarga  dan snak famili Masniari terhempas dalam gelombang yang meluluhlantakkan hatinya, diantara kegembiran yang tergambar diwajah semua orang Masniari teringat akan masa lalunya yang menghantam keras perasaannya. Pertemuan dengan Parlindungan yang ditentang keras oleh umak.sulit rasanya umak melupakan bagaimana perlakuan orangtua Parlindungan yang terkenal sitoke beras pada saat Masniari masih berumur satu tahun.   Ayah  Masniari yang waktu itu hanya sebagai buruh angkut di pabrik orangtua Parlindungan membutuhkan pertolongan pinjaman uang disaat keluarga terhimpit untuk biaya berobat Masniari yang sakit muntaber, ditolak oleh umak si Parlindungan dengan alasan beribu alasan.

Umak hanya memendam itu dalam hatinya tanpa diketahui oleh anak-anaknya agar tidak terbawa dendam oleh mereka, cukup hanya dia yang merasakannya. Bagai disambar petir umak mendengar pengakuan Masniari bahwa ia ingin menikah dengan parlindungan. “umak’ bang Parlindungan giot (mau) manyapai au mak (melamar aku mak) Masniari mengutarakan maksud mereka pada umak.lama umak terdiam hanya memendangi wajah cantik anaknya dan dengan bijak sambil menahan semua perasaan umak menyabarkan Masniari agar memikirkan lagi maksudnya. “inang(nak) nape do sidung sikolahmu (belum siap lagi sekolahmu),” itu alasan yang diberikan umak agar Masniari tidak memikirkan itu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan Masniari tetap pada pendiriannya ingin menikah dengan Parlindungan karena mereka sudah siap berumahtangga apalagi kuliah mereka sudah selesai. Masniari kembali menyampai

kan maksud berdua pada umak. Tetapi masih sama dengan yang lalu-lalu beribu alasan yang dilontarkan umak.

Pada akhirnya Parlindungan memberanikan diri langsung datang menghadap umak Masniari. Suasana hening dan senyap saat Parlindungan membuka pembicaraan “umak madung leleng au mardongan dohot Masniari (mak sudah lama aku berteman dengan Masniari) jadi maksudku mau melamar boruni umak (anak perempuan umak).” Parlindungan langsung menyatakan maksud kepada umak. Umak hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya. Lama mereka menunggu jawaban olo (iya) dari mulut umak. Sambil bersimpuh dikaki umaknya sambil memohon tak ada satu katapun yang terlontar dari mulut umak. Hanya air mata yang jatuh membanjiri pipi tua umak.”mak bolehksn mak,” Masniari terus memohon ,” mak bolehkan umak jawablah mak,” Masniari terus memohon.

Sesak terasa hati Masniari berlinang air mata membanjiri kelopak matanya mendengar jawaban umak. “inda (tidak) tidak akan pernah kubolehkan anakku marbagas (berumahtangga) dengan anaknya si raja toke beras itu. Inda inang(tidak nak),” umak menangis sambil berteriak histeris. Masniari tertunduk air matanya berlinang tak terbendung lagi. Hancur sudah harapan mereka berdua untuk mendapatkan restu dari umak. Parlindungan pulang dengan hati yang hancur. Masniari terus menangis sambil bertanya ,”kenapa mak, kenapa? Pertanyaan yang tidak ada jawabannya hanya berkecamuk di dalam hati yang paling dalam. Mulai saat itu Masniari menjadi gadis yang pendiam dan tertutup.

    Dua  insan yang berlainan jenis itu tetap bertekad untuk mewujudkan cinta mereka, melanjutkan hubungan mereka meskipun tanpa restu dari orang yang sangat dicintai. Marlojong (kawin lari) itu salah satu pilihan yang mereka tempuh sebagai bukti kekuatan cinta mereka.   Di antara galau hati umak memikirkan anak sulungnya yang membuat hancur hatinya, Masniari menikmati kebahagiaan bersama suaminya, walaupun bayangan umak selalu hadir di saat Masniari mulai merasakan adanya gerakan lembut buah cinta mereka dalam perutnya. Masniari selalu berkata pada suaminya.   

“Bang alangkah enaknya kalau umak mau melihat keadaan kita ya, Bang?”

“Sudahlah, Niar. Tidak usah berpikir yang macam-macam,”suaminya menarik napas panjang,”Mudah-mudahan anak kita yang bakal lahir ini bisa membuat hati opungnya lembut dan mau menerima kita.”

    “Mudah-mudahan, Bang.” Masniari menyambut lembut.

    Masniari masih terduduk di atas sofa. Pandangannya menatap tajam ke arah telepon yang ada di hadapannya. Menunggu-merindu. Mak, ini cucu umak akan lahir. Datanglah, Mak. Aku rindu,gumamnya. Tangannya mengelus lembut perut yang semakin membesar saja.

    Hari ini Parlindungan terlihat menikmati suasana santai di rumah dengan menonton acara televisi. Memang ini sudah kebiasaan rutinnya selama menunggu kelahiran si kecil, pada hari Minggu. Sementara Masniari masih disibuki dengan kegiatannya mengurusi popok bayi yang sudah disiapkannya jauh-jauh hari sebelumnya. Tiba-tiba Masniari seperti menahan rasa sakit yang tak tertahankan.

    “Bang, aduh cepat. Sakit…”

    Parlindungan, suaminya bergegas. Ada perasaan gembira sekaligus cemas. Dia merasa tanda-tanda kelahiran sudah mulai tiba. Merekapun bergegas ke rumah sakit“Bang, aku ingin menelepon Umak,”ujar Masniari seketika,”Tolong, Bang. Hubungi Umak. Aku ingin bicara sekaligus meminta maaf.”

    Parlindungan segera memberikan HP. Masniari bicara tanpa jeda. Panjang lebar mengusung kata-kata. Umak diseberang sana hanya mendengar tanpa kehadiran sepotong suara, begitupun Masniari sudah merasa sangat puas..Detik berikutnya Parlindungan sudah berteriak kegirangan. Tepatnya setelah sejam pembicaraan Masniari dengan Umak berlangsung.

    “Wah, laki-laki, Niar,” bisik Parlindungan girang ke telinga Masniari, Istri nya,”Namanya Halomoan. Ya, Halomoan.”

     Parlindungan sengaja memberi nama anaknya dengan nama almarhum mertuanya. Ayah Masniari. Sosok lelaki yang kebapakan, yang sangat dicintai dan dikagumi Masniari sejak dari kecil. Memiliki tanggung jawab dan sayang pada keluarga.   Sesuai dengan perjalanan waktu, Halaomoan kecilpun mulai sudah memahami pengaruh yang didapat. Masniari selalu mengirim foto Halomoan untuk Umak di kampung. Dengan harapan Umak mau melihat pahopu (cucunya).”

    Bel berbunyi. Masniari bergegas. Di depan pintu tukang Pos berdiri di depan pintu sambil menyerahkan paket yang bertuliskan namanya Masniari.

    “Umak…”tanpa sadar Masniari memekik menyambut gembira paket tersebut. Dengan rasa tidak sabar Masniari menggendong Halomoan dan membaringkannya di tempat tidur sambil membuka apa gerangan  isi paket umak ini. Tanpa terasa pipi mulus Masniari basah oleh air mata yang mengalir. Parompa(kain gendong) yang bertuliskan nama Halomoan dan sepucuk surat yang bertuliskan “mulakma hamu inang”(pulanglah kamu nak). Masniari berteriak histeris terimakasih umak. Sambil menggendong Halomoan dengan kain parompa(kain gendong) kiriman umak Masniari berbisik di telinga mungil Halomoan,”ini parompa kiriman opung boru(nenek) nak.

   Alangkah bahagia Masniari tanda restu dari umak yang sudah lama dinanti akhirnya jadi kenyataan. Mulai hari ini lengkaplah sudah kebahagiaan keluarga mereka. “kak…kak Niar,”Tiba-tiba Masniari dikejutkan dengan suara halus ditelinganya. Masniari tersentak ternyata dihadapannya adiknya Masnauli memeluknya sambil berkata”maafkan aku ya,kak”. “maafkan aku … maafkan aku ya,kak,”Masnauli mengulang perkataannya. “iya anggi(adik) kakak juga minta maaf,” sahut Masniari sambil memeluk erat Masnauli. Umak yang duduk di sebelah Masniari memeluk kedua borunya(anak perempuannya) sambil berkata kepada Masnauli”inang”(nak) pandai-pandailah kau membawa diri di rumah boumu(mertua perempuan).Terimakasih mak… terimakasih tangis bahagia bercampur haru mengiringi langkah kaki Masnauli mengarungi bahtera hidupnya.   

“Umak selalu diberi kesempatan untuk duduk dipunggung kerbau, menikmati sore yang indah,” Umak menarik nafas panjang,” Dan setelah dewasa Umak selempangkan ulos tenunan sendiri melingkari leher Amangmu di acara manortor waktu itu.” Juga di acara semeriah ini. Setelah pembicaraan tentang Umak yang manortor dengan Amang ,tanpa sadar Umak tertidur di kursi bamboo buatan Amang. Sejak itu aku tak tahu Umak berada dimana. Aku baru tahu Umak sudah meninggal dunia, ketika aku duduk dibangku SMA lalu tersadar mengapa Tulang memaksaku untuk tinggal bersamanya di Jakarta.   Sebagai anak tunggal, aku inginmengunjungi pusara Amang dan Umak. Tulang selalu mengajakku jalan-jalan, setiap selasai dari pemakaman. Termasuk menikmati acara Manortor yang selalu diceritakan Umak. Dan malam ini, jelas aku berada disini.

    Orang-orang segera mengenaliku, ketika Tulang mengajakku berkunjung ke tempat para handai taulan. Rasa kagum dan kasihan seperti melebur, membatu. Setelah leleh kami pun pulang ke rumah opung, tempat aku dan Tulang menginap untuk beberapa minggu. Amang bersaudara hanya bertiga. Dua laki-laki, dan satu perempuan. Kami selalu saja berkumpul-kumpul menyambut malam.

    Hiruk pikuk kian mengetuk, seolah riuh pesta perkawinan saja. Ada debar terdengar. Gordang mulai dipalu.  Dalam pikiran dan hatiku yang kian tak menentu.

    Dan sebelum kembali ke kota akupun diupa-upa. Orang-orang telah berkumpul menyambut malam. Hiruk pikuk kian mengetuk, seolah riuh pesta perkawinan saja. Ada debar terdengar. Bagas Godang semakin sesak. Alaman Bolak terasa menyemak. Gordang mulai dipalu, Gordang Sambilan membahana. Sembilan buah gendang dengan ukuran berbeda-beda. Terbuat dari kayu dan kulit lembu. Dimainkan tujuh orang pemusik. Variasi pukulan dipadu sedemikian rupa, sehingga menghasilkan gelombang irama yang khas. Seperti suara alam. Tampak penabuh gendang paling ujung menari-nari. Sesekali matanya terpejam, larut dalam irama. Bagai digerakkan kekuatan misitis, ia melompat-lompat. Terkadang menunggangi gendang sambil memukul. Seperti kesurupan. Meski atraktif begitu, pukulannya tak pernah sumbang. Berbeda dengan Onang-onang.

    Di Sopo Godang para petinggi kampung telah hadir. Juga Kepala Kuria. Aku ada diantara mereka. Duduk di atas tikar pandan berlapis dua , kedua ujungnya disatukan dengan menjahitkan kain warna merah pada keempat sisinya. Dalam bahasa adat , ini disebut amak lampisan.

    “Ambilkan Pangupa!” perintah bayo datu. Seseorang datang menating nyiru. Kepala kerbau diletakkan di atasnya, beralas daun pisang. Di sampingnya, seseorang lagi menating piring besar bernama pinggan pasu, berisi bahan pangupa lainnya: nasi putih, tiga buah telur ayam, garam, ikan garing, udang, dan daun ubi. Juga ditutup dengan daun pisang. Paling atas ditutup dengan kain adat Tonunan Patani.   ”Turupa-upa...turupa-upa...turupa-upa...” ratap bayo datu memulai acara mangupa.   Seseorang memutar-mutarkan nyiru di atas kepalaku. Begitu panjang kalimat pangupa tersebut. Juga dibacakan beberapa mantra. Kakiku kesemutan. Tentu saja kutahan. Menurut adat, seseorang yang berpergian jauh harus diupa-upa untuk memberi kekuatan dan keberanian.

    Setelah itu aku disuapi dengan makanan yang berada di Pinggan Pasu. Dicicipi satu persatu. Bayo datu menjelaskan maksud dari setiap jenis makanan. Prosesi berlangsung alot. Juga sakral.

    Sebelum pulang seorang gadis misterius mengirimkan hodong, bulung nipau, mare-mare, sontang dan pining. Sebuah isyarat cinta melalui bahasa daun, pertanda kesetiaan, cinta yang tak terpadamkan. Sebuah markusip penuh misteri. Biasanya seorang lelaki mengendap di antara pohon kopi, di bawah sinar purnama. Lalu di dinding kamar perempuan dibisikkan beberapa bait pantun asmara. Medan, 007

 

1. Bagas Godang, rumah adat suku batak mandailing

2. Alaman Bolak, alun-alun

3. Gordang Sambilan, alat musik bersjumlah sembilan gendang dengan ukuran yang   

     berbeda

4. Onang-onang, lagu bernada lirih tentang romantisme hidup dan kemiskinan

5. Sopo Godang, gedung yang berada di depan Bagas Godang

6. Pangupa, semacam upacara keselamatan-doa selamat

7. Bayo datu, orang yang bertugas meminpin acara ”mangupa”

8. Turupa-upa..., kalimat pembuka dalam acara ”mangupa”

 

No comments: