Wednesday, 13 May 2026

Cerpen karya Raudah Jambak

 CERPEN M. RAUDAH JAMBAK

 

LELAKI YANG MEMERAM GERAM

     

      

      “Anton, namamu?!”

“Ya, Pak.”

“Tega kau ya?! Orang yang sudah meninggalpun kau bilang penipu!!”

“Tunggu dulu, Pak. Saya tidak bermaksud….”

“Alah, banyak kali cerita kau…!”

“Tunggu dulu, Pak. Maksud saya…”

“Nggak ada maksud-maksud….!”

Semua terdiam. Terpaku pada posisinya masing-masing. Entah siapa yang akan dibela. Entah siapa pula yang patut dikasihani. Ini persidangan, pikirku.

***

       Subuh-subuh aku telah  bangun. Suasana hening. Dingin terasa menusuk-tusuk tu-lang. Suara azan dikejauhan pelan-pelan meredam. Jangkrik dan seluruh binantang te-maram hibuk sepanjang kelam. Setelah menyelesaikan tugas ritualku. Aku pun membe-reskan pekerjaan rumah.

       Hari ini memang aku harus segera menyelesaikan semuanya, sebelum berangkat. Mulai dari menyapu rumah dengan ukuran yang biasa-biasa saja. Tidak luas memang.

Mencuci pakaian dengan bantuan mesin cuci. Dan membereskan sisa piring-gelas bekas sisa makan tadi malam. Bersebab kelelahan, tak sempat dibereskan.

       Jelasnya, siang nanti aku akan mengikuti seminar cerita rakyat. Ini momen terpenting buatku untuk menambah wawasan dan pengetahuan, sebab tokoh yang akan dibicarakan adalah tokoh penting di dunia sastra, terutama komik.

       “Pak Anton, ada surat.” Bang Seno, si tukang kantin, menyodorkan amplop biru muda padaku, ketika aku baru sampai, selesai mengajar.

       Aku segera meraihnya. Betapa girangnya hatiku. Mulai dari penyelenggara,yang me-nyelenggarakan, maupun pembicara, serta tempat penyelenggaraannya, terkesan sempur na.

       Beberapa teman sedikit tersenyum. Aku tidak perlu ambil pusing untuk menerje-mahkan arti senyum mereka.

       “Iyalah, orang-orang penting saja yang dapat.” Salah seorang dari mereka nyeletuk, memberatkan senyumnya.

       Aku hanya tertawa. Langsung duduk dan bergabung dengan mereka. Biasa pikirku, seniman! Kalau tidak kuat mental bisa mental. Kadang-kadang kita yang seniman jadi senewen. Dan aku sudah terbiasa mendengar kata-kata pedas mereka. Biasanya ada yang lebih parah lagi. Yah, biarlah. Toh, hati mereka tetap baik.

       Panjang lebar kami produksi kata-kata. Mulai dari yang mengandung sampah, sam-pai yang mengandung berkah. Tak tentu. Entah kemana arahnya. Sebatang rokok dan segelas kopi semakin terasa menghangatkan suasana.

       Maka, subuh-subuh  sekali aku bangun.Di luar, masih terasa kelam. Matahari masih terasa bermalas-malasan. Satupersatu deru sepedamotor terdengar beradu. Tubuhku tera-sa bergairah. Entah mengapa, jujur, aku sangat bersemangat. Tanpa sisa kuselesaikan se-

Muanya.

       Istriku hanya tersenyum-senyum saja. Dia sudah sangat faham dengan apa yang se-dang kulakukan.

       “Sudahlah, Bang. Biar nanti kuselesaikan.”

       Aku terdiam.

       Acara belum dimulai, ketika aku sampai. Matahari limabelas derajat lagi sampai di atas kepala. Semua tampak ceria. Seolah reuni dari  bertahun-tahun tak jumpa. Saling menyodorkan salam dan melempar senyum. Aku lalu berbaur, merapal basa-basi. Sem-purna! Betul, betul sempurna, pikirku.

       Lama menapakkan basi-basi sambil berdiri, terasa juga lelah sekujur kaki. Aku pun mendaratkan diri di salah satu kursi. Pilihan yang tepat. Bersebelahan dengan jendela dan berhadapan dengan pintu yang terbuka. Angin yang berhembus sejuk terasa. Sebatang kretek melengkapi suasana.

       Orang-orang masih sibuk bertukar informasi, sampai sesorang masuk. Langkahnya pasti. Tatapan mata yang ada di balik kaca mantap. Dihiasi kumis hitam dan tebal mem-buat langkahnya berisi dan tegap, kokoh. Orang-orang berhenti sejenak. Terdiam sambil memberi jalan.

      “Bang acara sudah bisa kita mulai?!”

      Laki-laki itu mengangguk. Dengan tubuhnya yang sedikit tinggi dan kekar, menam-bah jelas kewibawaannya. Panitiapun sibuk pada posnya masing-masing.

       “Pak, acara sudah bisa kita mulai!” seseorang mendatangiku,”sebaiknya Bapak ma-suk.”

       Aku mengangguk. Sambil menunjukkan sisa kretek yang kuhisap. Dia mengangguk dan langsung pergi meminta yang lain untuk masuk ke dalam ruangan seminar.

       Sambil menikmati sisa kretek, pikiranku mulai bergelayut. Berpuluh pertanyaan ber-loncatan di dahan-dahan pikiranku. Siapa dia? Ah, entahlah. Segera kubuang semuanya jauh-jauh.

       Subuh-subuh sekali aku bangun, untuk sampai ke tempat ini. Besar rasanya hati ber-ada di acara seperti ini. Tertib acarapun dibacakan satupersatu oleh pembawa acara. Di-lanjutkan dengan acara kedua pengantar acara.

       “Kepada Bapak, dipersilahkan dengan hormat!”

       Seseorang berdiri, bergerak maju ke depan pelantang. Aku terkejut. Ah, laki-laki itu lagi. Siapa dia? Pasti orang penting, pikirku. Sial memang, aku tidak mengenalnya. Pada-hal sudah lebih tigapuluhtahun aku tinggal dan berkeluarga di kota ini. Hanya sedikit in-formasi yang akhirnya kuterima. Ooo, ini anak tokoh yang sedang diseminarkan ini. Wah pasti acara ini lebih menarik lagi.

       Tajuk acaranya sungguh luar biasa, mengangkat masalah kepahlawanan. Biasa, pi-kirku. Sarat menjadi seorang Pahlawan, biasanya identik dengan pengorbanan jiwa, raga, harta, nyawa, maupun perasaan. Wah! Acara ini semakin menarik sebab acara seperti ini didasari atas keilmuan dan kepakaran. Mengedepankan aspek logika, bukan perasaan.

       Pemakalahpun  mulai memaparkan analisisnya, setelah pembawa acara menyerahkan pelantang kepada moderator. Aduh! Detak jantungku. Aku tida salah baca atau salah de-ngar, atau aku berada di tempat yang salah?

       Tak satupun dari pembicara yang menyinggung masalah kepahlawanan yang menjadi tema seminar. Ada yang sekadar menulis biografi dengan menyinggung sedikit karya ber dasarkan proses kreatif saja. Ada yang sekadar menyinggung persoalan jenis-jenis, sementara yang lain menyampaikan contoh-contoh. Aih, aih.

       Aku berusaha mengendalikan perasaan, setelah aku membaca dibagian kesimpulan. Aku harus sebagai pendengar saja, pikirku. Aku hampir lupa membedakan antara seminar dan reuni. Seminar mengedepankan logika dan keilmuan, pikirku. Reuni jelas melepas rindu, menghadirkan subjektifitas, yang terkadang sampai berlebihan. Air mata dipaksa jatuh bercucuran.

       Subuh-subuh sekali aku bangun, menyelesaikan tahajud yang lama tak terwujud. Bersambung subuh yang teduh. Aku selesaikan semua pekerjaan, untuk sampai di tempat ini. Seminar tentang tokoh besar yang cukup dikagumi. Hampir lebih dari separuh perca-kapan. Ah, aku belum mendapatkan apa-apa. Aku harus bertanya.

       “Kepada Bapak kami persilahkan!”

       Aku berdiri. Berjalan menuju pelantang. Pikiranku tidak ada maksud apa-apa kletika itu selain untuk menambah wawasan dan ilmu. Aku bertanya, sedikit panjang lebar me-mang

       “Maaf, Bapak ada menuliskan di makalah, terutama dibagian kesimpulan, yang mengatakan karya tokoh kita itu menyimpang jauh dari karya aslinya, di sinilah muncu-lnya ketokohan tokoh kita itu, dst. Yang akan saya tanyakan menyimpang berarti sudah tidak benar, berarti menipu. Apakah tokoh kita ini penipu? Mohon penjelasannya dari Bapak pemakalah.”

       Orang-orang di ruangan itu mulai kasak-kusuk. Aku masih tidak memikirkan yang macam-macam, sampai seorang laki-laki yang selalu hadir dalam puluhan tanyaku, berteriak dari duduknya yang paling depan.

       “Mana Anton tadi!!” pandangannya kali ini lain. Seolah menerkam. Aku masih tidak berpikir apa-apa. Tanpa prasangka sampai ia mengacungkan telunjuk ke arah tempat dudukku. Masih tidak berpikir apa-apa sampai ia melakukan gerakan menghardik, me-ngacungkan telunjuknya ke arahku.

       “Tega Kau, ya!!!”

       Subuh  benar aku bangun. Istighfarku berkali-kali. Aku lupa kalau acara ini hanya reuni. Istighfarku menjadi setelah salam maafku ditepis berkali-kali, maafku tidak dite-rima.

       “Anton, namamu?!”

“Ya, Pak.”

“Tega kau ya?! Orang yang sudah meninggalpun kau bilang penipu!!”

“Tunggu dulu, Pak. Saya tidak bermaksud….”

“Alah, banyak kali cerita kau…!”

“Tunggu dulu, Pak. Maksud saya…”

“Nggak ada maksud-maksud….!”

       Semua terdiam. Terpaku pada posisinya masing-masing. Entah siapa yang akan dibela. Entah siapa pula yang patut dikasihani.

       Siapa dia, pikirku. Sikapnya yang terpelajar dan berwibawa seperti hilang seketika. Perseteruan seakan meruncing. Ini persidangan, pikirku. Aku kalap. Aku istighfar.

       Entahlah, belakangan, akhirnya aku tahu siapa dia. Semua wartawan mengenalnya. Semua sastrawan mungkin mengenalku.Tapi, ternyata kami tidak saling mengenal, ah. Kini berkali-kali aku istighfar, tepat di subuh-subuh sekali yang kali ini.  

 

 

 

 

 

 

Cerpen M. Raudah Jambak

KETIKA BEL ISTIRAHAT

 

     Bel istirahat berbunyi. Siswa-siswa SMA Dalihan berhamburan. Sebagian bergegas menyerbu kantin, selebihnya mencari posisi sendiri-sendiri. Aku hanya terpaku di depan ruang kelas. Memandang tepat lurus ke depan, ke arah lintasan rela kereta. Di sisi kiri dan kanan rumah-rumah penduduk, merunduk.

     Dari lantai tiga sekolah kami, pandangan memang terasa lepas. Aku selalu menikmati pemandangan yang unik ini pada setiap bel-bel istirahat. Orang-orang yang melewati lin-tasan. Orang-orang yang menjemur pakaian. Dan orang-orang yang selalu menyulam ke-sibukan dengan beragam kegiatan.

     ”Gerrrrejekjekjek.........”

     Dari kejauhan suara kereta api perlahan meninggi. Persimpangan tergesa. Bunyi per-tanda pun mengudara. Palang kereta perlahan merebah. Berpuluh mata nyala. Pikiran pun meraba. Ah, suasana mulai terdengar gaduh. Klakson pun beradu suara.

     ”Gerrrrejekjekjek........”

     Suara kereta semakin menyayat. Melintasi kornea mata. Di lantai tiga, siswa-siswa memeram cengkrama. Sebelum berebut masuk  kelas, mereka sempatkan mengunyah laju kereta. Pemandangan yang seram, namun memesona.

     ”Pak!” seseorang datang menyapa. Aku tersenyum, mengangguk. Selebihnya hanya diam.

     Seorang anak laki-laki, mungkin murid baru. Aku baru kali ini melihatnya. Tapi beberapa murid yang lain seperti sudah sangat mengenalnya. Beberapa diantaranya me nyapa. Dia pun hanya tersenyum sekadarnya. Rambut cepaknya, terlihat menambah kegagahannya sebagai siswa yang mampu merengkuh perempuan mana saja.

     Sejak pertemuan itu, aku mulai mengajaknya bicara di sela-sela jam menunggu laju kereta. Ada kisah pahit yang cukup menyayat kemanusiaan. Ah, entahlah. Apakah hidup yang kurang bersahabat, atau manusia yang bangga memelihara segala khianat.

                                                             ***

     Dan siang ini, setelah usai sekolah, aku menyempatkan diri singgah menikmati segelas kopi dari warung kopi yang tidak begitu jauh dari lintasan kereta. Di sini, aku lebih lelu-asa menikmati laju kereta dengan segelas kopi dan beberapa potong ubi.

     ”Mau minum apa, PakWin?” lelaki penjaga warung menegurku.

     ”Seperti biasa, Bang?” Aku tersenyum.

     Lelaki itu berangsur pergi setelah bertanya. Aku menunggu. Di sekitarku beberapa abang becak menikmati kopi sambil menggelar canda. Hal itu dilakukan setelah meng-antar-jemput penumpang.

     ”Wah, ternyata jadi tukang becak itu enak. Kita tidak terkena program rasionalisasi sama sekali” seorang tukang becak bertubuh gendut, hitam, berujar.

     ”Lho, kowe kok ngerti? Apa itu yang kamu sebut? Program rasianalisasi? Apaan tuh!” seorang tukang becak yang duduk di sebelahnya, bertubuh kurus, menimpali. Aku Cuma bisa senyum mendengar pembicaraan mereka yang menjurus serius.

     ”Memang pemerintahan kita yang sudah rusak. Pejabat-pejabat sekarang tidak ada yang beres! Semuanya otak udang! Dari segala sudut dan lapisan sudah digrogoti dengan persoalan-persoalan yang begitulah....” arah sudut, dua orang tukang becak juga sedang berdebat.

     ”Betul kata kau itu. Dewan Perwakilan Rakyat pun sudah diisi oleh para mantan. Mantan tukang becak, mantan preman, mantan provokator, mantan macam-macamlah! Kadang aku kasihan sama anak-anak sekolah itu, tiap hari belajar yang kata gurunya demi masa depan. Ternyata, masa depan anak-anak sekolah itu diisi para mantan!” tukang becak sebelahnya menyambung pembicaraan.

     ”Eh, pandai juga kau ngomong, Din!” tukang kopi ikut bicara sambil mempersiapkan minuman.

     ”Ah, jangan sepele kau, Bang. Begini-begini, aku pernah masuk organisasi pemuda. Sekarang tidak mau aku teruskan. Kalau mau aku mungkin duduk jadi anggota dewan seperti kawan-kawan aku satu organisasi dulu.”

     ”Kenapa nggak kau teruskan?’ si gendut ikut bicara.

     ”Malas aku. Nuraniku tersentuh. Aku merasa terhina. Coba kau pikir, Bang. Aku makan uang rakyat, tapi aku tidak pernah memperjuangkan uang nasib rakyat. Macam mana menurut kalian? Gawatkan?”

     ”Wah, ini orang keblinger banget. Kamu nggak usah mikirin nasib rakyat. Nasib sendiri aja udah empot-empotan gitu kok, malah mau mikirin nasib wong cilik? Ya,sudah Jangan kebanyakan ngimpi.”

     ”Huss ngomongnya dipelankan, lihat tuh...” tukang kopi memberi kode. Suasana tiba-tiba hening. Semua mata tertuju hati-hati ke arah seberang. Seorang laki-laki muda berpangkas cepak duduk di atas sebuah batu besar di pinggir jalan, memandang ke arah rel.

     ”Sudah dua minggu dia duduk di situ. Satu jam-anlah, setelah itu pergi. Aku sudah sering bilang sama kalian, jangan sekali-kali bicara politik, pemerintahan atau apa saja yang menyinggung kebijaksanaan pemerintah. Kalian lihat orang itu sedang mengamati tempat ini!”

     ”Tapi dia cuma melihat ke arah rel!”

     ”Eh, pelan-palan kau ngomong itu strategi pengintaian. Kadang-kadang dia sering memakai seragam SMA,” beberapa orang memperhatikanku pelan-pelan,”Eh, kalau dia lain. Aku kenal dia. Langganan tetapku sejak dua tahun yang lalu. Dia guru di sekolah itu. Mengajar kelas tiga.”

     Aku mengnangguk pelan. Perasaanku tiba-tiba tegang. Tukang kopi masih tetap ber bisik-bisik dengan tukang-tukang becak langganannya. Mata mereka sesekali mencuri pandang ke arah lelaki muda yang berpangkas cepak itu.

     ”Tapi kok sedih kali mukanya kutengok!”

     ”Eh, ini anak masih nggak ngerti. Itu namanya strategi pengintaian. Biar orang yang sedang diintai tidak curiga. Gitu. Macam di tivi-tivi itulah.”

     Mataku tertuju agak serius ke arah laki-laki muda itu. Aku terperanjat. Aku mengenal nya. Kulihat wajahnya memang sedang murung. Dia seperti punya beban berat dan aku hanya bisa menduga-duga. Aku hanya merasa dia sama denganku punya kebiasaan menikmati laju kereta yang melintas, pintas.

     ”Mungkin orang seteres itu!”

     ”Alah, hati-hati. Pelan-pelan kau bicara. Kalau dia dengar, bisa gawat.”

     ”Takut kali lah kau, Bang. Tak tahunya dia itu.”

     ”Sudahlah. Pokoknya pelan-pelan aja cakapnya. Kalau laju kereta sudah lewat baru boleh kalian becakap. Sekuat apapun tak kularang.”

     ”Kenapa,Bang?”

     ”Itu tekab woi. Ada kode-kode tertentu yang tidak bisa kita pahammi. Sssst....”

     Semua berbicara pelan. Sesekali mata mereka juga mencuri pandang ke arah laki-laki muda itu. Tidak berapa lama kemudian suara laju kereta mulai terdengar dikejauhan. Aku berdiri, laki-laki itu berdiri. Kereta api melaju. Aku berjalan, pelan. Tapi aku kehilangan bayangan.

     Jam di tanganku menunjukkan pukul 14.30 WIB. Aku berjalan pelan menuju tempat lelaki itu duduk sebelum pergi. Tidak ada yang kudapatkan selain coretan di balok kayu lintasan kereta. Pembuat saluran air mengalirkan air, tukang panah meluruskan anak pa-nah, tukang kayu melengkungkan kayu, orang bijaksana mengendalikan pikirannya.

     Aku hanya terpaku. Tidak paham dengan maksud tulisan itu, sampai aku mening-galkan tempat itu.

                                                                    ***       

       Bel istirahat berbunyi. Siswa-siswa SMA Dalihan berhamburan. Sebagian bergegas menyerbu kantin, selebihnya mencari posisi sendiri-sendiri. Aku hanya terpaku di depan ruang kelas. Memandang tepat lurus ke depan, ke arah lintasan rela kereta. Di sisi kiri dan kanan rumah-rumah penduduk, merunduk.

     Dari lantai tiga sekolah kami, pandangan memang terasa lepas. Aku selalu menikmati pemandangan yang unik ini pada setiap bel-bel istirahat. Orang-orang yang melewati lin-tasan. Orang-orang yang menjemur pakaian. Dan orang-orang yang selalu menyulam ke-sibukan dengan beragam kegiatan.

     ”Woi, tengoktu! Ngapain si Agung duduk di situ,” seorang siswa berteriak,”pantaslah dia nggak masuk tadi. Rupanya dia cabut.!”

     ”Steres dia itu. Sebentar lagi mau dipecat,” sahut yang lain.

     ”Dia kan anak baru. Kok cepat kali dipecat?”

     ”Apalagi, ketauan gelek lah macam nggak ngerti aja .”

     Aku terkesiap. Sungguh yang satu itu aku tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa ibunya kawin lagi. Dia tidak setuju. Apalagi lelaki yang menjadi ayah barunya lebih pantas dipanggil dengan kakek daripada ayah. Apalagi dia anak satu-satunya. Dan diapun me-ngatakan, selau pergi ke diskotik untuk membuang segala muaknya. Selebihnya dia lebih senang menunggu laju kereta yang melintas. Bebannya seakan ikut lepas tergilas. Selan-jutnya dia sudah merasa sangat puas. Bebas.

     Dari kejauhan, aku melihat sebuah minibus daihatsu hijet 1000 keluaran tahun ’83 berhenti. Seorang tua dengan tongkat di tangan berjalan tertatih, datang mendekat. Tidak berapa lama setelahnya mereka sudah terlibat percakapan ’hebat’. Lelaki tua itu melutut. Suara Agung membelah angkasa.

     ”Gerrrejekjekjek.....”

    Dari kejauhan suara kereta api perlahan meninggi. Persimpangan tergesa. Bunyi per-tanda pun mengudara. Palang kereta perlahan merebah. Berpuluh mata nyala. Pikiran pun meraba. Ah, suasana mulai terdengar gaduh. Klakson pun beradu suara.

     ”Gerrrrejekjekjek........”

     Suara kereta semakin menyayat. Melintasi kornea mata. Di lantai tiga, siswa-siswa memeram cengkrama. Sebelum berebut masuk  kelas, mereka sempatkan mengunyah laju kereta. Pemandangan yang seram, namun memesona.

     ”Pak!” seseorang  berteriak sambil mengarahkan telunjuknya.

     ”Astagfirullah. Agung!” aku berteriak,”Jangan!”

     Yang lainpun ikut menyeru. Hampir seluruh siswa berteriak. Orang-orang di warung kopipun berteriak. Lelaki tua itu pun berteriak

     ”Gerrrejekjekjek.....”

     ”Krakkkkk..............”

 

Medan, 08-12

 

 

 

 

M. Raudah Jambak, S. Pd, lahir di Medan, 5 Januari 1972. Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMK Panca Budi – 2 Medan. Alamat Sekolah: Jalan Jenderal Gatot Subroto km 4,5 Medan, Sumatera Utara. Alamat Rumah: Jalan Murai Batu Kompleks Rajawali Indah E-10 Medan, Sumatera Utara. Hp. 085830805157

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 CERPEN M. RAUDAH JAMBAK

 

LELAKI YANG MEMERAM GERAM

     

      

      “Anton, namamu?!”

“Ya, Pak.”

“Tega kau ya?! Orang yang sudah meninggalpun kau bilang penipu!!”

“Tunggu dulu, Pak. Saya tidak bermaksud….”

“Alah, banyak kali cerita kau…!”

“Tunggu dulu, Pak. Maksud saya…”

“Nggak ada maksud-maksud….!”

Semua terdiam. Terpaku pada posisinya masing-masing. Entah siapa yang akan dibela. Entah siapa pula yang patut dikasihani. Ini persidangan, pikirku.

***

       Subuh-subuh aku telah  bangun. Suasana hening. Dingin terasa menusuk-tusuk tu-lang. Suara azan dikejauhan pelan-pelan meredam. Jangkrik dan seluruh binantang te-maram hibuk sepanjang kelam. Setelah menyelesaikan tugas ritualku. Aku pun membe-reskan pekerjaan rumah.

       Hari ini memang aku harus segera menyelesaikan semuanya, sebelum berangkat. Mulai dari menyapu rumah dengan ukuran yang biasa-biasa saja. Tidak luas memang.

Mencuci pakaian dengan bantuan mesin cuci. Dan membereskan sisa piring-gelas bekas sisa makan tadi malam. Bersebab kelelahan, tak sempat dibereskan.

       Jelasnya, siang nanti aku akan mengikuti seminar cerita rakyat. Ini momen terpenting buatku untuk menambah wawasan dan pengetahuan, sebab tokoh yang akan dibicarakan adalah tokoh penting di dunia sastra, terutama komik.

       “Pak Anton, ada surat.” Bang Seno, si tukang kantin, menyodorkan amplop biru muda padaku, ketika aku baru sampai, selesai mengajar.

       Aku segera meraihnya. Betapa girangnya hatiku. Mulai dari penyelenggara,yang me-nyelenggarakan, maupun pembicara, serta tempat penyelenggaraannya, terkesan sempur na.

       Beberapa teman sedikit tersenyum. Aku tidak perlu ambil pusing untuk menerje-mahkan arti senyum mereka.

       “Iyalah, orang-orang penting saja yang dapat.” Salah seorang dari mereka nyeletuk, memberatkan senyumnya.

       Aku hanya tertawa. Langsung duduk dan bergabung dengan mereka. Biasa pikirku, seniman! Kalau tidak kuat mental bisa mental. Kadang-kadang kita yang seniman jadi senewen. Dan aku sudah terbiasa mendengar kata-kata pedas mereka. Biasanya ada yang lebih parah lagi. Yah, biarlah. Toh, hati mereka tetap baik.

       Panjang lebar kami produksi kata-kata. Mulai dari yang mengandung sampah, sam-pai yang mengandung berkah. Tak tentu. Entah kemana arahnya. Sebatang rokok dan segelas kopi semakin terasa menghangatkan suasana.

       Maka, subuh-subuh  sekali aku bangun.Di luar, masih terasa kelam. Matahari masih terasa bermalas-malasan. Satupersatu deru sepedamotor terdengar beradu. Tubuhku tera-sa bergairah. Entah mengapa, jujur, aku sangat bersemangat. Tanpa sisa kuselesaikan se-

Muanya.

       Istriku hanya tersenyum-senyum saja. Dia sudah sangat faham dengan apa yang se-dang kulakukan.

       “Sudahlah, Bang. Biar nanti kuselesaikan.”

       Aku terdiam.

       Acara belum dimulai, ketika aku sampai. Matahari limabelas derajat lagi sampai di atas kepala. Semua tampak ceria. Seolah reuni dari  bertahun-tahun tak jumpa. Saling menyodorkan salam dan melempar senyum. Aku lalu berbaur, merapal basa-basi. Sem-purna! Betul, betul sempurna, pikirku.

       Lama menapakkan basi-basi sambil berdiri, terasa juga lelah sekujur kaki. Aku pun mendaratkan diri di salah satu kursi. Pilihan yang tepat. Bersebelahan dengan jendela dan berhadapan dengan pintu yang terbuka. Angin yang berhembus sejuk terasa. Sebatang kretek melengkapi suasana.

       Orang-orang masih sibuk bertukar informasi, sampai sesorang masuk. Langkahnya pasti. Tatapan mata yang ada di balik kaca mantap. Dihiasi kumis hitam dan tebal mem-buat langkahnya berisi dan tegap, kokoh. Orang-orang berhenti sejenak. Terdiam sambil memberi jalan.

      “Bang acara sudah bisa kita mulai?!”

      Laki-laki itu mengangguk. Dengan tubuhnya yang sedikit tinggi dan kekar, menam-bah jelas kewibawaannya. Panitiapun sibuk pada posnya masing-masing.

       “Pak, acara sudah bisa kita mulai!” seseorang mendatangiku,”sebaiknya Bapak ma-suk.”

       Aku mengangguk. Sambil menunjukkan sisa kretek yang kuhisap. Dia mengangguk dan langsung pergi meminta yang lain untuk masuk ke dalam ruangan seminar.

       Sambil menikmati sisa kretek, pikiranku mulai bergelayut. Berpuluh pertanyaan ber-loncatan di dahan-dahan pikiranku. Siapa dia? Ah, entahlah. Segera kubuang semuanya jauh-jauh.

       Subuh-subuh sekali aku bangun, untuk sampai ke tempat ini. Besar rasanya hati ber-ada di acara seperti ini. Tertib acarapun dibacakan satupersatu oleh pembawa acara. Di-lanjutkan dengan acara kedua pengantar acara.

       “Kepada Bapak, dipersilahkan dengan hormat!”

       Seseorang berdiri, bergerak maju ke depan pelantang. Aku terkejut. Ah, laki-laki itu lagi. Siapa dia? Pasti orang penting, pikirku. Sial memang, aku tidak mengenalnya. Pada-hal sudah lebih tigapuluhtahun aku tinggal dan berkeluarga di kota ini. Hanya sedikit in-formasi yang akhirnya kuterima. Ooo, ini anak tokoh yang sedang diseminarkan ini. Wah pasti acara ini lebih menarik lagi.

       Tajuk acaranya sungguh luar biasa, mengangkat masalah kepahlawanan. Biasa, pi-kirku. Sarat menjadi seorang Pahlawan, biasanya identik dengan pengorbanan jiwa, raga, harta, nyawa, maupun perasaan. Wah! Acara ini semakin menarik sebab acara seperti ini didasari atas keilmuan dan kepakaran. Mengedepankan aspek logika, bukan perasaan.

       Pemakalahpun  mulai memaparkan analisisnya, setelah pembawa acara menyerahkan pelantang kepada moderator. Aduh! Detak jantungku. Aku tida salah baca atau salah de-ngar, atau aku berada di tempat yang salah?

       Tak satupun dari pembicara yang menyinggung masalah kepahlawanan yang menjadi tema seminar. Ada yang sekadar menulis biografi dengan menyinggung sedikit karya ber dasarkan proses kreatif saja. Ada yang sekadar menyinggung persoalan jenis-jenis, sementara yang lain menyampaikan contoh-contoh. Aih, aih.

       Aku berusaha mengendalikan perasaan, setelah aku membaca dibagian kesimpulan. Aku harus sebagai pendengar saja, pikirku. Aku hampir lupa membedakan antara seminar dan reuni. Seminar mengedepankan logika dan keilmuan, pikirku. Reuni jelas melepas rindu, menghadirkan subjektifitas, yang terkadang sampai berlebihan. Air mata dipaksa jatuh bercucuran.

       Subuh-subuh sekali aku bangun, menyelesaikan tahajud yang lama tak terwujud. Bersambung subuh yang teduh. Aku selesaikan semua pekerjaan, untuk sampai di tempat ini. Seminar tentang tokoh besar yang cukup dikagumi. Hampir lebih dari separuh perca-kapan. Ah, aku belum mendapatkan apa-apa. Aku harus bertanya.

       “Kepada Bapak kami persilahkan!”

       Aku berdiri. Berjalan menuju pelantang. Pikiranku tidak ada maksud apa-apa kletika itu selain untuk menambah wawasan dan ilmu. Aku bertanya, sedikit panjang lebar me-mang

       “Maaf, Bapak ada menuliskan di makalah, terutama dibagian kesimpulan, yang mengatakan karya tokoh kita itu menyimpang jauh dari karya aslinya, di sinilah muncu-lnya ketokohan tokoh kita itu, dst. Yang akan saya tanyakan menyimpang berarti sudah tidak benar, berarti menipu. Apakah tokoh kita ini penipu? Mohon penjelasannya dari Bapak pemakalah.”

       Orang-orang di ruangan itu mulai kasak-kusuk. Aku masih tidak memikirkan yang macam-macam, sampai seorang laki-laki yang selalu hadir dalam puluhan tanyaku, berteriak dari duduknya yang paling depan.

       “Mana Anton tadi!!” pandangannya kali ini lain. Seolah menerkam. Aku masih tidak berpikir apa-apa. Tanpa prasangka sampai ia mengacungkan telunjuk ke arah tempat dudukku. Masih tidak berpikir apa-apa sampai ia melakukan gerakan menghardik, me-ngacungkan telunjuknya ke arahku.

       “Tega Kau, ya!!!”

       Subuh  benar aku bangun. Istighfarku berkali-kali. Aku lupa kalau acara ini hanya reuni. Istighfarku menjadi setelah salam maafku ditepis berkali-kali, maafku tidak dite-rima.

       “Anton, namamu?!”

“Ya, Pak.”

“Tega kau ya?! Orang yang sudah meninggalpun kau bilang penipu!!”

“Tunggu dulu, Pak. Saya tidak bermaksud….”

“Alah, banyak kali cerita kau…!”

“Tunggu dulu, Pak. Maksud saya…”

“Nggak ada maksud-maksud….!”

       Semua terdiam. Terpaku pada posisinya masing-masing. Entah siapa yang akan dibela. Entah siapa pula yang patut dikasihani.

       Siapa dia, pikirku. Sikapnya yang terpelajar dan berwibawa seperti hilang seketika. Perseteruan seakan meruncing. Ini persidangan, pikirku. Aku kalap. Aku istighfar.

       Entahlah, belakangan, akhirnya aku tahu siapa dia. Semua wartawan mengenalnya. Semua sastrawan mungkin mengenalku.Tapi, ternyata kami tidak saling mengenal, ah. Kini berkali-kali aku istighfar, tepat di subuh-subuh sekali yang kali ini.  

 

 

 

 

 

 

Cerpen M. Raudah Jambak

KETIKA BEL ISTIRAHAT

 

     Bel istirahat berbunyi. Siswa-siswa SMA Dalihan berhamburan. Sebagian bergegas menyerbu kantin, selebihnya mencari posisi sendiri-sendiri. Aku hanya terpaku di depan ruang kelas. Memandang tepat lurus ke depan, ke arah lintasan rela kereta. Di sisi kiri dan kanan rumah-rumah penduduk, merunduk.

     Dari lantai tiga sekolah kami, pandangan memang terasa lepas. Aku selalu menikmati pemandangan yang unik ini pada setiap bel-bel istirahat. Orang-orang yang melewati lin-tasan. Orang-orang yang menjemur pakaian. Dan orang-orang yang selalu menyulam ke-sibukan dengan beragam kegiatan.

     ”Gerrrrejekjekjek.........”

     Dari kejauhan suara kereta api perlahan meninggi. Persimpangan tergesa. Bunyi per-tanda pun mengudara. Palang kereta perlahan merebah. Berpuluh mata nyala. Pikiran pun meraba. Ah, suasana mulai terdengar gaduh. Klakson pun beradu suara.

     ”Gerrrrejekjekjek........”

     Suara kereta semakin menyayat. Melintasi kornea mata. Di lantai tiga, siswa-siswa memeram cengkrama. Sebelum berebut masuk  kelas, mereka sempatkan mengunyah laju kereta. Pemandangan yang seram, namun memesona.

     ”Pak!” seseorang datang menyapa. Aku tersenyum, mengangguk. Selebihnya hanya diam.

     Seorang anak laki-laki, mungkin murid baru. Aku baru kali ini melihatnya. Tapi beberapa murid yang lain seperti sudah sangat mengenalnya. Beberapa diantaranya me nyapa. Dia pun hanya tersenyum sekadarnya. Rambut cepaknya, terlihat menambah kegagahannya sebagai siswa yang mampu merengkuh perempuan mana saja.

     Sejak pertemuan itu, aku mulai mengajaknya bicara di sela-sela jam menunggu laju kereta. Ada kisah pahit yang cukup menyayat kemanusiaan. Ah, entahlah. Apakah hidup yang kurang bersahabat, atau manusia yang bangga memelihara segala khianat.

                                                             ***

     Dan siang ini, setelah usai sekolah, aku menyempatkan diri singgah menikmati segelas kopi dari warung kopi yang tidak begitu jauh dari lintasan kereta. Di sini, aku lebih lelu-asa menikmati laju kereta dengan segelas kopi dan beberapa potong ubi.

     ”Mau minum apa, PakWin?” lelaki penjaga warung menegurku.

     ”Seperti biasa, Bang?” Aku tersenyum.

     Lelaki itu berangsur pergi setelah bertanya. Aku menunggu. Di sekitarku beberapa abang becak menikmati kopi sambil menggelar canda. Hal itu dilakukan setelah meng-antar-jemput penumpang.

     ”Wah, ternyata jadi tukang becak itu enak. Kita tidak terkena program rasionalisasi sama sekali” seorang tukang becak bertubuh gendut, hitam, berujar.

     ”Lho, kowe kok ngerti? Apa itu yang kamu sebut? Program rasianalisasi? Apaan tuh!” seorang tukang becak yang duduk di sebelahnya, bertubuh kurus, menimpali. Aku Cuma bisa senyum mendengar pembicaraan mereka yang menjurus serius.

     ”Memang pemerintahan kita yang sudah rusak. Pejabat-pejabat sekarang tidak ada yang beres! Semuanya otak udang! Dari segala sudut dan lapisan sudah digrogoti dengan persoalan-persoalan yang begitulah....” arah sudut, dua orang tukang becak juga sedang berdebat.

     ”Betul kata kau itu. Dewan Perwakilan Rakyat pun sudah diisi oleh para mantan. Mantan tukang becak, mantan preman, mantan provokator, mantan macam-macamlah! Kadang aku kasihan sama anak-anak sekolah itu, tiap hari belajar yang kata gurunya demi masa depan. Ternyata, masa depan anak-anak sekolah itu diisi para mantan!” tukang becak sebelahnya menyambung pembicaraan.

     ”Eh, pandai juga kau ngomong, Din!” tukang kopi ikut bicara sambil mempersiapkan minuman.

     ”Ah, jangan sepele kau, Bang. Begini-begini, aku pernah masuk organisasi pemuda. Sekarang tidak mau aku teruskan. Kalau mau aku mungkin duduk jadi anggota dewan seperti kawan-kawan aku satu organisasi dulu.”

     ”Kenapa nggak kau teruskan?’ si gendut ikut bicara.

     ”Malas aku. Nuraniku tersentuh. Aku merasa terhina. Coba kau pikir, Bang. Aku makan uang rakyat, tapi aku tidak pernah memperjuangkan uang nasib rakyat. Macam mana menurut kalian? Gawatkan?”

     ”Wah, ini orang keblinger banget. Kamu nggak usah mikirin nasib rakyat. Nasib sendiri aja udah empot-empotan gitu kok, malah mau mikirin nasib wong cilik? Ya,sudah Jangan kebanyakan ngimpi.”

     ”Huss ngomongnya dipelankan, lihat tuh...” tukang kopi memberi kode. Suasana tiba-tiba hening. Semua mata tertuju hati-hati ke arah seberang. Seorang laki-laki muda berpangkas cepak duduk di atas sebuah batu besar di pinggir jalan, memandang ke arah rel.

     ”Sudah dua minggu dia duduk di situ. Satu jam-anlah, setelah itu pergi. Aku sudah sering bilang sama kalian, jangan sekali-kali bicara politik, pemerintahan atau apa saja yang menyinggung kebijaksanaan pemerintah. Kalian lihat orang itu sedang mengamati tempat ini!”

     ”Tapi dia cuma melihat ke arah rel!”

     ”Eh, pelan-palan kau ngomong itu strategi pengintaian. Kadang-kadang dia sering memakai seragam SMA,” beberapa orang memperhatikanku pelan-pelan,”Eh, kalau dia lain. Aku kenal dia. Langganan tetapku sejak dua tahun yang lalu. Dia guru di sekolah itu. Mengajar kelas tiga.”

     Aku mengnangguk pelan. Perasaanku tiba-tiba tegang. Tukang kopi masih tetap ber bisik-bisik dengan tukang-tukang becak langganannya. Mata mereka sesekali mencuri pandang ke arah lelaki muda yang berpangkas cepak itu.

     ”Tapi kok sedih kali mukanya kutengok!”

     ”Eh, ini anak masih nggak ngerti. Itu namanya strategi pengintaian. Biar orang yang sedang diintai tidak curiga. Gitu. Macam di tivi-tivi itulah.”

     Mataku tertuju agak serius ke arah laki-laki muda itu. Aku terperanjat. Aku mengenal nya. Kulihat wajahnya memang sedang murung. Dia seperti punya beban berat dan aku hanya bisa menduga-duga. Aku hanya merasa dia sama denganku punya kebiasaan menikmati laju kereta yang melintas, pintas.

     ”Mungkin orang seteres itu!”

     ”Alah, hati-hati. Pelan-pelan kau bicara. Kalau dia dengar, bisa gawat.”

     ”Takut kali lah kau, Bang. Tak tahunya dia itu.”

     ”Sudahlah. Pokoknya pelan-pelan aja cakapnya. Kalau laju kereta sudah lewat baru boleh kalian becakap. Sekuat apapun tak kularang.”

     ”Kenapa,Bang?”

     ”Itu tekab woi. Ada kode-kode tertentu yang tidak bisa kita pahammi. Sssst....”

     Semua berbicara pelan. Sesekali mata mereka juga mencuri pandang ke arah laki-laki muda itu. Tidak berapa lama kemudian suara laju kereta mulai terdengar dikejauhan. Aku berdiri, laki-laki itu berdiri. Kereta api melaju. Aku berjalan, pelan. Tapi aku kehilangan bayangan.

     Jam di tanganku menunjukkan pukul 14.30 WIB. Aku berjalan pelan menuju tempat lelaki itu duduk sebelum pergi. Tidak ada yang kudapatkan selain coretan di balok kayu lintasan kereta. Pembuat saluran air mengalirkan air, tukang panah meluruskan anak pa-nah, tukang kayu melengkungkan kayu, orang bijaksana mengendalikan pikirannya.

     Aku hanya terpaku. Tidak paham dengan maksud tulisan itu, sampai aku mening-galkan tempat itu.

                                                                    ***       

       Bel istirahat berbunyi. Siswa-siswa SMA Dalihan berhamburan. Sebagian bergegas menyerbu kantin, selebihnya mencari posisi sendiri-sendiri. Aku hanya terpaku di depan ruang kelas. Memandang tepat lurus ke depan, ke arah lintasan rela kereta. Di sisi kiri dan kanan rumah-rumah penduduk, merunduk.

     Dari lantai tiga sekolah kami, pandangan memang terasa lepas. Aku selalu menikmati pemandangan yang unik ini pada setiap bel-bel istirahat. Orang-orang yang melewati lin-tasan. Orang-orang yang menjemur pakaian. Dan orang-orang yang selalu menyulam ke-sibukan dengan beragam kegiatan.

     ”Woi, tengoktu! Ngapain si Agung duduk di situ,” seorang siswa berteriak,”pantaslah dia nggak masuk tadi. Rupanya dia cabut.!”

     ”Steres dia itu. Sebentar lagi mau dipecat,” sahut yang lain.

     ”Dia kan anak baru. Kok cepat kali dipecat?”

     ”Apalagi, ketauan gelek lah macam nggak ngerti aja .”

     Aku terkesiap. Sungguh yang satu itu aku tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa ibunya kawin lagi. Dia tidak setuju. Apalagi lelaki yang menjadi ayah barunya lebih pantas dipanggil dengan kakek daripada ayah. Apalagi dia anak satu-satunya. Dan diapun me-ngatakan, selau pergi ke diskotik untuk membuang segala muaknya. Selebihnya dia lebih senang menunggu laju kereta yang melintas. Bebannya seakan ikut lepas tergilas. Selan-jutnya dia sudah merasa sangat puas. Bebas.

     Dari kejauhan, aku melihat sebuah minibus daihatsu hijet 1000 keluaran tahun ’83 berhenti. Seorang tua dengan tongkat di tangan berjalan tertatih, datang mendekat. Tidak berapa lama setelahnya mereka sudah terlibat percakapan ’hebat’. Lelaki tua itu melutut. Suara Agung membelah angkasa.

     ”Gerrrejekjekjek.....”

    Dari kejauhan suara kereta api perlahan meninggi. Persimpangan tergesa. Bunyi per-tanda pun mengudara. Palang kereta perlahan merebah. Berpuluh mata nyala. Pikiran pun meraba. Ah, suasana mulai terdengar gaduh. Klakson pun beradu suara.

     ”Gerrrrejekjekjek........”

     Suara kereta semakin menyayat. Melintasi kornea mata. Di lantai tiga, siswa-siswa memeram cengkrama. Sebelum berebut masuk  kelas, mereka sempatkan mengunyah laju kereta. Pemandangan yang seram, namun memesona.

     ”Pak!” seseorang  berteriak sambil mengarahkan telunjuknya.

     ”Astagfirullah. Agung!” aku berteriak,”Jangan!”

     Yang lainpun ikut menyeru. Hampir seluruh siswa berteriak. Orang-orang di warung kopipun berteriak. Lelaki tua itu pun berteriak

     ”Gerrrejekjekjek.....”

     ”Krakkkkk..............”

 

Medan, 08-12

 

 

 

 

M. Raudah Jambak, S. Pd, lahir di Medan, 5 Januari 1972. Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMK Panca Budi – 2 Medan. Alamat Sekolah: Jalan Jenderal Gatot Subroto km 4,5 Medan, Sumatera Utara. Alamat Rumah: Jalan Murai Batu Kompleks Rajawali Indah E-10 Medan, Sumatera Utara. Hp. 085830805157

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

No comments: