Tuesday, 7 July 2026

Raudah Jambak Hadir di Pertemuan Penyair Nusantara XIV Aceh-Indonesia 2026



























Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV di Aceh berlangsung pada 22–28 Juni 2026, mengusung tema Puisi untuk Kemanusiaan: Dari Diksi Jadi Aksi. Acara dibuka di Gedung Wali Nanggroe dan ditutup di Gunongan, Banda Aceh, dengan melibatkan perwakilan sastrawan dari 14 negara.
Rangkaian Acara Pembukaan
Seremoni pembukaan dilaksanakan di Istana Wali Nanggroe dengan susunan sebagai berikut: 
  • Prosesi Adat: Penyambutan tamu menggunakan tarian tradisional Seumapa dan Ranub Lampuan.
  • Seremonial Resmi: Pembacaan ayat suci Al-Qur'an, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan Hymne Aceh.
  • Sambutan: Laporan dari Direktur Pelaksana serta sambutan resmi dari Pemerintah Aceh, Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh, dan perwakilan Kemendikdasmen.
  • Prosesi Adat Puncak: Pelaksanaan Ranub Sigapu oleh Wali Nanggroe dan penyerahan Anugerah Cakrawala Penyair Nusantara.
Rangkaian Acara Penutupan
Acara puncak dan malam penutupan digelar di kawasan cagar budaya Taman Sari Gunongan, Banda Aceh, dengan rangkaian acara meliputi: 
  • Pertunjukan Seni: Pembacaan puisi lintas negara dan penampilan teater monolog bertema kemanusiaan.
  • Deklarasi & Rekomendasi: Pembacaan dan penyerahan tujuh rekomendasi PPN XIV untuk penguatan ekosistem dan kolaborasi sastra Nusantara.
  • Penutup: Pidato penutupan resmi serta seremonial pelepasan para sastrawan.
Pada perhelatan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV di Aceh (22–28 Juni 2026), sastrawan dan budayawan senior asal Medan, M. Raudah Jambak, hadir sebagai salah satu tokoh sastra yang aktif menyumbangkan pemikiran dan karya dalam berbagai agenda:
  • Pembukaan & Parade Puisi (22 Juni 2026): Berpartisipasi langsung dalam acara pembukaan di Istana Wali Nanggroe dan turut ambil bagian dalam Parade Puisi untuk Kemanusiaan dengan membacakan karya bertema refleksi kemanusiaan.
  • Dialog & Bincang Sastra (24–25 Juni 2026): Hadir dalam kegiatan diskusi di wilayah dataran tinggi Gayo. Beliau ikut memberikan sumbangsih gagasan pada Dialog Kebudayaan bertema "Masa Depan Sastra Lisan Nusantara" yang bertempat di Temas River Park, serta berinteraksi dengan komunitas sastra di Galeri Kopi Indonesia.
  • Pada perhelatan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh 2026, penampilan sastrawan M. Raudah Jambak menjadi sorotan. Ia sukses memukau audiens lewat pembacaan puisi berlatar kesejukan Dialog Kebudayaan bertema "Masa Depan Sastra Lisan Nusantara" di Temas River Park, Aceh Tengah, pada Rabu (24/6/2026).
    Pesona Pembacaan Puisi Raudah Jambak
    Membawakan karya bertajuk "Mantra OtakAtikOtak", Raudah memadukan penghayatan teaterikal dengan kekuatan nilai spiritual dan kemanusiaan. Penampilannya di acara yang dihadiri delegasi dari berbagai negara serumpun ini menjadi momentum refleksi mendalam tentang pentingnya merawat Masa Depan Sastra Lisan Nusantara di tengah modernisasi. Penampilan memukau Raudah Jambak itu dalam dialog budaya Masa Depan Sastra Lisan Nusantara di Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh menjadi sorotan. Sebagai budayawan senior, ia menggabungkan kekuatan vokal, teatrikal, dan muatan kritik sosial yang menjadi ciri khasnya, menegaskan pentingnya melestarikan sastra lisan di tengah modernisasi 
  • Raudah Jambak tampil membawakan sajak yang sarat akan humanisme dan akar tradisi M. Raudah Jambak. Dalam diskusi tersebut, pembacaan puisinya tidak sekadar menjadi hiburan, melainkan sebagai manifesto hidup betapa sastra lisan dan klasik masih memiliki relevansi yang kuat untuk merajut identitas serta peradaban nusantara Sastra Klasik Aceh & Masa Depan Kebudayaan. Pembawaannya yang dinamis kerap memadukan unsur musikalisasi dan ritme tradisi yang berhasil menghipnotis ratusan penonton di Aceh M. Raudah Jambak 
  • Penutupan & Peluncuran Buku (28 Juni 2026): Menjadi bagian dari delegasi yang hadir hingga malam penutupan di Taman Sari Gunongan yang menandai berakhirnya seluruh rangkaian pertemuan.
Peran serta beliau mewarnai perhelatan sastra negara serumpun ini dari awal hingga akhir. Perhelatan akbar ini menghadirkan perwakilan penyair dari 14 negara dan berbagai penjuru nusantara, yang secara resmi didukung oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah PPN XIV Aceh, 14 Negara Hadir Bawa Suara Sastra Dunia. Panggung ini didedikasikan sebagai media diplomasi budaya, persahabatan, dan pelestarian nilai luhur leluhur di era kontemporer.


 

Wednesday, 17 June 2026

Biodata Singkat Raudah Jambak sebagai Akademisi sekaligus Praktisi Seni Sastra dan Budaya Indonesia










 M. Raudah Jambak adalah seorang sastrawan, penyair, dramawan, dan budayawan senior asal Kota Medan, Sumatera Utara. Lahir pada 5 Januari 1972, ia dikenal secara luas di kancah sastra nasional maupun regional (ASEAN) lewat karya-karya puisinya yang sarat akan kritik sosial, budaya, dan humanisme. Kegiatan saat ini secara Internasional di 2026 mengikuti Pertemuan Penyair Nusantara XIV di Aceh. [1, 2, 3, 4]

Berikut adalah rekam jejak, kontribusi, dan karya penting dari M. Raudah Jambak:
1. Karya Sastra dan Antologi Penting
Karya-karya tulisnya, baik berupa puisi, cerpen, maupun naskah drama, telah diterbitkan dalam berbagai buku kompilasi sastra nasional: [1, 2, 3]
  • "Masih Merdekakah Kau, Indonesia?": Salah satu puisi monumentalnya yang paling sering dibacakan dan dipentaskan dalam berbagai pertunjukan teaterikal bertema nasionalisme. [1, 2]
  • "Senandung Perih Dendang Saluang": Karya cerpennya yang mendapat tempat dalam peta kesusastraan nusantara. [1, 2]
  • Antologi Temu Sastrawan Indonesia (TSI): Karya-karyanya masuk ke dalam antologi Tanah Pilih (TSI I di Jambi), Jalan Menikung ke Bukit Timah (TSI II di Bangka Belitung), serta Pulau Marwah (TSI III di Tanjungpinang). [1, 2]
  • Antologi Internasional: Puisinya juga tergabung dalam Antologi Puisi Serumpun (ASEAN) serta proyek sastra Puisi-Puisi Covid-19: Bersama Melawan Bencana. [1]
  • Buku Teater: Terlibat sebagai editor dan penulis dalam buku kumpulan drama, salah satunya Tikar: Antologi Cerita Pendek bersama Laboratorium Sastra Medan. [1]
2. Aktivitas Teater dan Komunitas Seni
Selain menulis, ia aktif menggerakkan seni pertunjukan dan mengelola ruang kreatif: [1]
  • Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) Awards: Pernah mengikuti Festival Teater Alternatif di GKJ dan workshop teater alternatif di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta pada tahun 2003.
  • Pesta Kesenian Mahasiswa: Berpartisipasi sejak muda dalam ajang Pekan Seni Mahasiswa Nasional (PEKSIMINAS) III di Jakarta (1995).
  • Workshop MASTERA: Menjadi bagian dari lokakarya cerpen Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA) di Bogor. [1]
3. Kontribusi sebagai Juri dan Pengajar Budaya
Hingga saat ini, Raudah Jambak mendedikasikan waktunya untuk mengedukasi generasi muda dan menilai kompetensi seni: [1]
  • Juri Kompetensi Nasional: Kerap dipercaya menjadi juri lomba baca puisi, cipta puisi, dan festival teater di berbagai universitas dan instansi (seperti Festival Lomba Seni Siswa Nasional/FLS2N dan lomba nasional di Universitas Malikussaleh).
  • Pembicara & Budayawan: Sering diundang sebagai narasumber dalam pelatihan kepemimpinan, seminar kebudayaan, serta dialog interaktif di televisi lokal untuk membahas perkembangan karakter pemuda berbasis budaya. [1]