Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV di Aceh berlangsung pada 22–28 Juni 2026, mengusung tema Puisi untuk Kemanusiaan: Dari Diksi Jadi Aksi. Acara dibuka di Gedung Wali Nanggroe dan ditutup di Gunongan, Banda Aceh, dengan melibatkan perwakilan sastrawan dari 14 negara.
Rangkaian Acara Pembukaan
Seremoni pembukaan dilaksanakan di Istana Wali Nanggroe dengan susunan sebagai berikut:
Seremoni pembukaan dilaksanakan di Istana Wali Nanggroe dengan susunan sebagai berikut:
- Prosesi Adat: Penyambutan tamu menggunakan tarian tradisional Seumapa dan Ranub Lampuan.
- Seremonial Resmi: Pembacaan ayat suci Al-Qur'an, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan Hymne Aceh.
- Sambutan: Laporan dari Direktur Pelaksana serta sambutan resmi dari Pemerintah Aceh, Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh, dan perwakilan Kemendikdasmen.
- Prosesi Adat Puncak: Pelaksanaan Ranub Sigapu oleh Wali Nanggroe dan penyerahan Anugerah Cakrawala Penyair Nusantara.
Rangkaian Acara Penutupan
Acara puncak dan malam penutupan digelar di kawasan cagar budaya Taman Sari Gunongan, Banda Aceh, dengan rangkaian acara meliputi:
Acara puncak dan malam penutupan digelar di kawasan cagar budaya Taman Sari Gunongan, Banda Aceh, dengan rangkaian acara meliputi:
- Pertunjukan Seni: Pembacaan puisi lintas negara dan penampilan teater monolog bertema kemanusiaan.
- Deklarasi & Rekomendasi: Pembacaan dan penyerahan tujuh rekomendasi PPN XIV untuk penguatan ekosistem dan kolaborasi sastra Nusantara.
- Penutup: Pidato penutupan resmi serta seremonial pelepasan para sastrawan.
Pada perhelatan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV di Aceh (22–28 Juni 2026), sastrawan dan budayawan senior asal Medan, M. Raudah Jambak, hadir sebagai salah satu tokoh sastra yang aktif menyumbangkan pemikiran dan karya dalam berbagai agenda:
- Pembukaan & Parade Puisi (22 Juni 2026): Berpartisipasi langsung dalam acara pembukaan di Istana Wali Nanggroe dan turut ambil bagian dalam Parade Puisi untuk Kemanusiaan dengan membacakan karya bertema refleksi kemanusiaan.
- Dialog & Bincang Sastra (24–25 Juni 2026): Hadir dalam kegiatan diskusi di wilayah dataran tinggi Gayo. Beliau ikut memberikan sumbangsih gagasan pada Dialog Kebudayaan bertema "Masa Depan Sastra Lisan Nusantara" yang bertempat di Temas River Park, serta berinteraksi dengan komunitas sastra di Galeri Kopi Indonesia.
- Pada perhelatan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh 2026, penampilan sastrawan M. Raudah Jambak menjadi sorotan. Ia sukses memukau audiens lewat pembacaan puisi berlatar kesejukan Dialog Kebudayaan bertema "Masa Depan Sastra Lisan Nusantara" di Temas River Park, Aceh Tengah, pada Rabu (24/6/2026).Pesona Pembacaan Puisi Raudah JambakMembawakan karya bertajuk "Mantra OtakAtikOtak", Raudah memadukan penghayatan teaterikal dengan kekuatan nilai spiritual dan kemanusiaan. Penampilannya di acara yang dihadiri delegasi dari berbagai negara serumpun ini menjadi momentum refleksi mendalam tentang pentingnya merawat Masa Depan Sastra Lisan Nusantara di tengah modernisasi. Penampilan memukau Raudah Jambak itu dalam dialog budaya Masa Depan Sastra Lisan Nusantara di Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh menjadi sorotan. Sebagai budayawan senior, ia menggabungkan kekuatan vokal, teatrikal, dan muatan kritik sosial yang menjadi ciri khasnya, menegaskan pentingnya melestarikan sastra lisan di tengah modernisasi
- Raudah Jambak tampil membawakan sajak yang sarat akan humanisme dan akar tradisi M. Raudah Jambak. Dalam diskusi tersebut, pembacaan puisinya tidak sekadar menjadi hiburan, melainkan sebagai manifesto hidup betapa sastra lisan dan klasik masih memiliki relevansi yang kuat untuk merajut identitas serta peradaban nusantara Sastra Klasik Aceh & Masa Depan Kebudayaan. Pembawaannya yang dinamis kerap memadukan unsur musikalisasi dan ritme tradisi yang berhasil menghipnotis ratusan penonton di Aceh M. Raudah Jambak
- Penutupan & Peluncuran Buku (28 Juni 2026): Menjadi bagian dari delegasi yang hadir hingga malam penutupan di Taman Sari Gunongan yang menandai berakhirnya seluruh rangkaian pertemuan.
Peran serta beliau mewarnai perhelatan sastra negara serumpun ini dari awal hingga akhir. Perhelatan akbar ini menghadirkan perwakilan penyair dari 14 negara dan berbagai penjuru nusantara, yang secara resmi didukung oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah PPN XIV Aceh, 14 Negara Hadir Bawa Suara Sastra Dunia. Panggung ini didedikasikan sebagai media diplomasi budaya, persahabatan, dan pelestarian nilai luhur leluhur di era kontemporer.





















.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)


