Wednesday, 13 May 2026

Cerpen Baharuddin Saputra

 

 Kumpulan 

Cerita Pendek :

Baharuddin Saputra

 

Lagu

Dari  Medan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAGU DARI MEDAN

Kado buat ; Bang Dillah

 

 

       Menjelang berakhirnya masa mudaku, aku mau semua yang pernah menjadi rahasia hidup tidak terungkap dalam satu fase yang memilukan. Sebab sepanjang perjalanan ini, ada banyak tersisa cerita duka dan suka yang saling bertautan. Aku hidup diantara berjuta himpitan persoalan yang tumpang tindih, tapi bukan tumpukan sampah yang tiada arti.

            Sebalikya, setiap kali matahari memancarkan sinar merahnya diufuk timur, dan rerumputan ditinggalkan oleh embun berkelana. Maka akupun merasakan betapa beban itu menimpahku. Tapi bukan hutang, atau dosa berkepanjangan. Sekali lagi bukan.

            Menangis pernah aku lakukan, untuk membuktikan bahwa aku punya nurani. Tapi tidak nangis sesenggukan seperti anak kecil minta permen. Atau tangisan sinetron yang menggambarkan adegan ditinggal mati kekasih. 

            Berakting aku pernah dalam membawakan lakon teater sebagai Letnan kenil dalam “Jiwa Tanah Air” bersama Dahri yang kini juga di penjara karena dikorannya ia mengungkap kasus dugaan korupsi. Kalau ingat pentas teater, terbayang wajah Darwis, Buoy, Yan dan Burhan.

            Aku menangis sejadi-jadinya, sampai semua orang tidak percaya aku sedang manangis. Mereka bilang aku sedang menyanyi lagu merdu. Tembang kehidupan yang  orang lain tidak pernah dengar syair dan iramanya. Aku menciptakan sendiri sesuatu yang orang lain terdiam, berdecak kagum.

            Tapi yang terlontar selalu tembang dari Medan yang cukup kuhapal lagunya, berirama melayu dan mendayu-dayu. Aku jadi ingat Erwin yang gigih menggelar panggung akbar kesenian islami dan berbagai hiburan lainnya. Yang suka melantunkan lagu “Bentonya” Iwan Fals.

            Tapi pilihanku masih yang satu ini … “jauh di saying”. Yang pernah dilantunkan oleh Charles Hutagalung

            “Rindukah hatimu pada diriku…yang kini jauh dari dirimu… Walau diriku ingat selalu …kekasih hati yang kini jauh ….Kalaulah kita dapat bertemu …saat begini alangkah indah …. Sayang di sayang di pulau seberang … kekasih jauh dirantau orang ….”

            “Jangan katakan aku suka !”

            Tiba-tiba langit terbelah dengan cahaya merah menyambar dan bersautan. Suara bergemuruh menggelinding dari segala penjuru. Sejurus kemudian awan menggumpal hitam. Kabut putih bermain disekitar kelopak mataku. Kolap.

            “Orang itu mengenal betul, siapa kau sebenarnya !”

            Lagi, seperti ada benturan hebat menerjang dadaku. Bagai pukulan telak seorang petinju mengantarku terhempas kepojok dinding kamar. Seketika hitam menyelimuti pikiranku. Ribuan kunang-kunang berkejaran menari dan berdendang.

            “Kau kehilangan  arah !”

            Ssssttt …sepi selanjutnya sepi tapi berubah jadi sunyi. Sesunyi-sunyinya malam tanpa cahaya dan suara ngengatpun.

            “Kau masih bisa bangkit dan berteriak, lakukanlah. Aku akan bimbing kau pada cahaya menunjuk puncak kenikmatan !”

            Bisikan itu selalu datang dan datang. Aku berusaha tegar seperti batu karang yang menahan hempasan ombak  dibibir pantai. Duh, bila aku terjaga dari mimpi. Aku masih lelaki sejati yang punya mimpi-mimpi ketika tidur dan terbangun.

            “Mari, melangkahlah dengan pasti !”

            “Siapa kau ?”

            “Sudahlah !”

            “Maksudmu ?”

            “Jangan katakan aku suka !”

            “Artinya ?”

            “Waduh, kok jadi tolol begitu !”

            “Jangan menghina ya !”

            “Dasar, goblok !”

            “Kurang ajar kau. Enak saja kau bilang aku goblok !”

            “Sok !”

            “Apanya yang  sok !”

            “Kau sok hebat !”

            “Suka hatiku-lah !”

            “Sombong !”

            “Apa-apaan kau ini ?”

            “Mentang-mentang !”

            “Apa ?”

            “Aku tahu dari mana kau dapatkan  uang banyak itu !”

            “Oh … gitu aja kok repot !”

            “Introspeksi, sadar bung !”

            “Jangan ngatur kau !”

            “Dasar bodat !”

            “Eh, kamu sudah keterlaluan, menghina aku”

            “Biarin !”

            “Terus kamu mau apa ?”

            “Apapun jadi !”

            “Aku lapor kau ke polisi, kerena telah menghinaku, dan kau telah menuduhku yang bukan-bukan.Kau mencemarkan nama baikku. Aku tidak sudi. Aku mau tunjukkan pada dunia bahwa aku tidak bersalah. Jangan seenak perutmu kau berprasangka. Itu suhuzzon namanya, menuduh yang tidak-tidak. Aku protes. Sebab seumur hidupku tak ada yang berani menghinaku. Dasar kau penghianat !”

            “Kau tidak akan pernah bisa menangkapku, atau menjebloskanku kepenjara. Sebab kau sekarang didalam penjara !”

            Aku menatap langit-langit kamar sempit ini. Terasa berputar kencang. Tiba tiba beribu wajah bergantian menghampiri dan berteriak-teriak memanggil namaku.

            “Bertahan bang … bertahan bang … apapun ceritanya abanglah yang terbaik !”

            Suara itu saling berbenturan memekakkan gendang telingaku. Mengalahkan indahnya  syair lagu ungu yang menjadi pavoritku, “ …andaiku tahu, kapan tiba ajalku, kuakan bermohon, Tuhan tolong panjangkan umurku …”

 

            Derak suara laras sepatu opsir penjaga penjara bergemuruh. Mereka melangkah semaunya, menyeret paksa seorang tersangka korupsi yang telah menelan lembahran rupiah rakyatnya. Aku mendengar lamat-lamat saura bisikan itu menerjang telingaku lagi.

            “Diam saja kau. Jangan sok jago !”

            “Aduh, kok aku yang kau bilang sok jago!”

            “Dulu , kau sok jago, sok suci, sok paten, sok hebat, sok jujur, sok-sok lainnya!”

            “Kau salah menilaiku, lay !”

            “Sejak kapan aku jadi lay-mu. Sok akrab !”

            “Sialan kau. Aku sudah bilang kau salah menilaiku !”

            Bam !. Suara pintu kamar berjeruji besi padu terhempas, suaranya mengiang.

            “Saatnya makan siang !”

            “Aku tidak lapar !”

            “Jangan kau bohongi dirimu sendiri”

            “Sudah dua hari aku puasa !
            “Jangan mengada-ngada. Nanti kalau Ramadhan tiba saja kau puasa, lebih afdol”

            “Sudahlah, aku sedang puasa !”

            “Bagus ! Itu artinya kau telah menyadari bahwa perjalananmu masih panjang !”

            “Jangan katakan aku suka ! “

            “Aku tidak pernah mengatakan itu”

            “Tapi kau seakan memaksaku untuk mengakuinya !”

            “Apa sebenarnya yang telah kau lakukan ?”

            “Aku menjadi imam korupsi berjamaah”

            “Ah, yang betul kau ?”

            “Itulah kesimpulannya !”

            “Tidak, itu salah !”

            “Kok Salah ?”

            Lalu diam. Itulah yang kulakukan. Menundukkan kepala, menatap sajadah panjang yang terbentang dilantai kamar. Menghadap kiblat. Menyerahkan diri kepada Allah Subhanawataallah.

            Tiba-tiba kerinduan itu begitu jauh terbang keangkasa biru. Bertemu bidadari bersayap putih, mengitari sorgawi. Aku tak tahan menahan air mata rindu. Rindu pada mereka yang kini bertahta dibalik nama-nama yang berubah-ubah. Aku menangis lagi.

            Suara tersendat mengharap jawab. Tapi tak ada yang datang. Sepi seperti mati. Walau sesungguhnya aku tegar setegar batu karang yang menahan ombak ditepi pantai. Ternyata mengundang tarian anak dara yang melenggang

            “ …kalaulah kita dapat bertemu …saat begini alangkah indah …sayang disayang dipulau seberang …kekasih jauh dirantau orang ….”

            Tet …tereret …tereret ….tereret…tereret …tereret ….tereret …tereret ..

            Suara seksofone menggetarkan tanah deli. Lantunan syair yang selalu kudendangkan, terus berkejaran melepas rindu.

Rindu kepada para staf, Kabag, Kadis, Camat,Lurah dan para Kepling. Rindu pada jaka dara manis yag selalu menjadi pagar ayuku.  Rindu pada kecipak ikan sapu kaca di sungai deli. Rindu pada gedung bertingkat yang menghalangi jalur pesawat terbang. Rindu pada makanan ringan yang dijajakan ditepi lapangan merdeka. Rindu pada pedagang pasar tradisional yang menjajakan dagangannya sampai memenuhi jalanan. Rindu pada para pedagang  buku bekas di sebelah timur lapangan merdeka. Rindu orasi para buruh yang berunjuk rasa, rindu klakson dan makian supir  angkot yang bersautan mengejar setoran.

            Juga rindu pada jalan Raden Saleh yang  dikembalikan menjadi dua arah setelah gagal dicoba satu arah. Soalnya macet di kesawan tak kepalang tanggung, tapi malah sekarang dipasang polisi tidur.

Juga rindu pada anak-anak PSMS yang hanya meraih raner-up pada Liga Indonesia setelah kalah dari Sriwijaya PC.Meskinya mereka bisa menang kalau aku ikut mendampingi mereka dan memberikan support.Kasihan mereka menjadiyam kinantan yang kehilangan induknya.Kedepan aku selalu berjanji akan carikan sponsor untuk kejayaan mereka kelak.

Dan paling rindu pada raungan mobil pemadam kebakaran, yang tiba-tiba menjerit-jerit dan menyemprotkan airnya kesegala penjuru arah dan menghempaskan jidatku bersujud. Aku terendam air bah. Padahal ketika itu tak ada yang kebakaran jenggot.

            Aku tersenyum lagi ketika matahari tertawa renyah. Dan langit memerah darah, mengantarkan gemuruh cinta didada. Melakukan perselingkuhan pada nanah. Aku terpana berdiri tegak menunggu sahabatku yang bernama nasib.

 

                                                            Medan, 24 Februari, 2008.

Sudah dimuat pada Tabloid Media Mitra Kamtibmas, Edisi 19/Oktober 2009 dan Majalah “Horas” edisi perdana Maret 2008.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

              Namaku Jagurdul

 

         

          Orang orang disekitar terminal Pinang baris yang hilir mudik, ternyata selalu mencuri pandang kearahku. Mereka seperti menaruh curiga dengan barang bawaan yang aku pegang dalam tas plastik berwarna hitam.

Mentang-mentang aku pulang dari arah Binjai, mungkin mereka kira aku baru pulang dari Aceh, mereka pikir aku bawa ganja. Ah, tiba-tiba aku berprasangka buruk dengan setiap orang yang melirik.

            Padahal didalam tas itu cuma dua potong baju kotor yang kemarin aku pakai kerja jadi tukang di Stabat Langkat. Aku bukan dari tanah rencong. Mereka semua salah menduga.

            "Hai kamu yang duduk didekat pos itu, ngapain kau disitu ?", tiba-tiba seorang bertubuh kekar memakai kacamat hitam bertanya dan mendekat kearahku. Belum sempat aku menjawab, orang itu sudah tanya lagi.

            "Kamu Bogel ya ?," katanya.

            "Bukan bang .."

            "Ah, nggak ngaku pula kau. Ada yang lihat kau lompat dari truk didekat jembatan Kampung lalang, terus naik sudako kesini, betulkan ?"

            "Salah bang, aku naik Angkot dari stabat"

            "Jangan banyak cincong kau, ayo ikut naik kemobil itu," kata lelaki yang tak kukenal itu.

            "Tidak mau bang, namaku Jagurdul ... bukan Bogel. Maaf mungkin abang salah lihat".

            "Jangan banyak cerita, naik saja. Nanti disana kita bicara", lelaki itu memegang kerah bajuku sambil menyeretku seenaknya.

            Aku sampai terjerebab, terhempas ke jok mobil. Si Sopir langsung tancap gas.

            "Bang , aku mau dibawa kemana ?" kataku. Tapi orang-orang didalam mobil itu semua diam.

            "Bang, namaku Jagurdul, bukan Bogel ....eh bang tasku ketinggalan di terminal." Seketika mereka menoleh memandangiku dengan mata seperti geram.

            "Goblok ... tas itu lebih penting dari dirimu, tau kau ? Ayo balik kanan,"  Salah seorang yang pakai jaket hitam menyuruh sopirnya balik kanan.

            Aku heran. Dalam hatiku bertanya-tanya, kok tas itu pula yang lebih penting dari aku. Padahal isinya cuma baju kotor. Wah pasti orang ini salah tangkap. Siapa pula yang bernama Bogel, apa wajahnya mirip denganku. Macam-macam pertanyaan datang silih berganti dibatok kepalaku. Tiba-tiba aku berteriak sekuat-kuatnya '

            "Woooiiii ..... namaku Jagurdul".

            "Bangsat, bagudung kau .... sampai pekak kupingku kau buat. Ngapain pulak kau menjerit seperti kesetanan , ah ...?” Lelaki yang menyeretku tadi marah-marah.

             Mobil yang membawa kami sudah sampai diterminal itu kembali, aku melihat dari jauh ketempat aku duduk tadi. Kulihat seseorang menukar tas itu, lalu orang itu cabut naik sepeda motor. Waduh, siapa orang itu. Gerakannya menukar tas itu begitu cepat. Orang-orang yang tak kukenal didalam mobil ini bahkan tidak melihat kejadian itu. Aku diam saja. Ternyata benar mereka tidak tahu kalau tas itu sudah ditukar oleh orang lain.

            Sejenak aku tertegun, jangan-jangan aku yang memang tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Yang pasti lelaki yang menukar tas itu memakai baju warna kuning, sama dengan warna baju yang aku pakai.Wah, pasti mereka sudah salah, mereka pikir aku Bogel.

            "Sekarang cepat kau ambil tas itu,"  Aku segera turun dan memberikan tas itu pada orang-orang didalam mobil itu.Sejenak kurasakan isinya berbeda, terasa lebih berat dan padat.

            "Oke, kau boleh pergi sekarang, kami mau cabut. Nah ... ini bagianmu, minggu depan kita jumpa lagi", lelaki yang pakai jaket memberiku amplop.

            Mereka terus ngebut.Tapi didepan pintu gerbang Terminal mereka terjebak macet. Tiba-tiba beberapa orang berpakaian preman mengepung mobil mereka sambil menodongkan senjata api.Aku terkesima, spontan aku bergeser kebalik tembok, bersembunyi. Tiba-tiba dadaku berdegup kencang, dengan tangan gemetar aku buka amplop pemberian orang itu. Astaga, ternyata uang 2 juta lebih. Mereka terlalu mahal membayar baju bekasku yang cuma dua potong. Padahal aku beli itu di Monza jalan Pancing cuma 15 ribu rupiah saja.

            Orang-orang disekitar pintu gerbang berkerumun mendekati mobil yang dikepung. Secepat kilat informasi nya aku dengar ternyata mereka dikepung Polisi. Ternyata mereka kawanan pengedar ganja. Dari tangan mereka disita barang bukti ganja kering seberat tiga kilogram yang terbungkus rapi dalam tas plastik berwarna hitam.

            Omak jang, rupanya bajuku yang dua potong itu sudah berubah menjadi ganja kering. Aku ingat sekarang. Pasti lelaki berbaju kuning yang menukar tas itu bernama Bogel. Tapi kawanan pengedar ganja itu menduga aku orangnya. Untunglah aku mereka usir dan mereka suruh turun dari mobil. Kalau tidak, pasti aku ikut masuk penjara. Apa kata dunia ?.

            Esok pagi aku lihat ketiga orang yang ditangkap polisi, wajahnya terpampang dikoran. Dalam beritanya disebutkan polisi saat ini sedang memburu  kawanan pengedar ganja berinisial "B".

            Aku tiba-tiba ragu dengan namaku , Bogel atau Jagurdul. Perlahan aku buka dompet, aku ambil KTP ku. Ternyata namaku Jagurdul alias Bogel. Amangoiiiii ....matilah aku .... kok bisa begini ?..... aku berteriak sekuat kuatnya ....wooiiiii....namaku Jagurdul.

 

                                                                                    Medan, 2007

 

 

 

 

 

                                         P I S T O L

 

Aku terkejut sangat. Ketika pagi hari saat terbangun dari tidur, kulihat sepucuk pistol terletak di meja kecil sebelah tempat tidur. Pistol ?.Siapa punya ini, apa tidak salah ? Pertanyaan timbul dibenakku.

 

Apalah arti sepucuk Pistol bagi seorang lelaki pengangguran seperti aku. Yang pasti aku takut melihatnya. Apalagi memegangnya. Barangkali ini mimpi.

            “Mak, siapa yang masuk ke kamarku tadi “ Aku memanggil Emak. Tapi  tak ada sahutan.

            “Maaak …siapa yang masuk ke kamarku tadiii ?” Kali ini agak panjang .Tapi tak ada juga jawaban.. Aku keluar kamar melongok di pintu dan memanggil Emak beberapa kali. Tapi sepi. Jam dinding peninggalan Bapak diruang tamu menunjukkan pukul 10.30WIB.

            Astaga , sudah siang . Kalau begitu Emak sedang ke kedai membeli sayuran, pikirku. Pelan-pelan aku mengintip keluar rumah dari balik jendela. Sepi. Tidak ada orang melintas. Suarapun senyap. Telingaku seperti pekak tak mendengar apa-apa.

            Pelan langkahku untuk kemabali ke kamar. Sisa kantuk di pelupuk mata masih enak untuk di pejamkan. Tapi tidak bisa. Sebab pistol itu lebih berkuasa menari-nari dikepalaku dan membayangi setiap kerdipan mataku.

            Mungkin ini pistol mainan. Atau paling tidak apa ya ? bingung aku. Di kamarku kok ada pistol ?

            Aku jadi ingat Bandot, kawanku yang sekarang terpaksa berkaki satu. Sebab kaki kirinya diamputasi akibat tembakan polisi, saat kepergok merampok orang cina di pinggir rel kereta api.

            Rupanya Bandot  memang biang kerok perampokan yang sering terjadi dikawasan ini. Anehnya kini Bandot tidak pernah kelihatan minder dengan kakinya itu. Dengan tongkat tunggal yang memakai penyanggah di ketiak, ia masih garang,masih bisa cekakakan diwarung tuak. Masih bisa duduk semalaman dengan kartu domino ditangannya, main judi dengan rekan-rekan sampai lupa makan dan lupa tidur.

            Uniknya lagi, Bandot juga doyan “jajan”  dan paling gila dia punya banyak kekasih gelap. Bahkan dengan bangga  Bandot sanggup membuka aib istri temannya yang tergila-gila dengannya hanya karena penasaran kepingin tidur dengan lelaki berkaki satu. Senjata api organik repolver milik polisi yang telah memecahkan tempurung kaki kiri Bandot.

            “Jang bergerak. Kau sudah kami kepung. Angkat tangan dan jangan coba-coba menyentuh senjata api itu,kalau kau masih ingin hidup”

            Tiba-tiba suara mengegelar menyambar gendang telingaku. Hanya suara. Tanpa wujud. Ujung mataku melirik pistol itu. Masih ada. Pelan-pelan aku coba berputar ke arah jendela.

            “Jangan bergerak. Ku tembak kau nanti !” Suara itu terdengar lagi. Aku tidak meliahat siapapun. Jendela yang masih terkunci itu belum sempat aku buka.

            “Sekarang duduk menghadap pintu. Letakkan tangan dipungguk dan jongkok, cepat !”

            Perintah suara itu aku turuti, sambil terus mencari-cari dari mana datangnya.

            “Sekarang  katakan sejujurnya. Mengapa hanya karena kelaparan dan karena tak memiliki uang untuk mabok, kau sanggup membunuhku ?” Suara itu bertanya.

            Sekarang aku sadar, itu suara wanita yang sudah mati. Elisa, ya benar . Perempuan berparas ayu yang senang dengan kehidupan duniawi. Hidup baginya adalah kesenangan,hingga siapapun yang mengancam hidupnya dijadikan tantangan. Tidak pelak lagi, ia menjadi wanita malam, pindah dari pelukan lelaki ke lelaki lainnya. Dan aku pernah begitu tergila-gila , dengan goyang mautnya. Dengan basuhan liurnya yang memiliki aroma tersendiri. Elisa terlalu membanggakan aku. Aku baginya adalah pahlawan  kehidupan, hingga seluruh penghasilannya dipersembahkan untukku. Dan ketika ia butuh kemerdekaan, ia pergi begitu saja tanpa pesan.  

            Setahun lebih aku tak ketemu Elisa. Selama itu pula aku bagai kehilangan tongkat. Tidak tahu harus berbuat apa. Ketika tiba-tiba disebuah tempat hiburan malam, Elisa muncul dan mendekapku erat-erat. Mencurahkan isi hatinya yang sedang limbung karena tersiksa keadaan. Ia mengira aku masih seperti dulu. Padahal aku sangat membencinya dan pernah berniat membunuhnya kalau bertemu.

            Aku ikuti apa maunya Elisa dalam permainan maut itu. Sampai pada sebuah kamar hotel, Elisa masih saja mendekapku erat sekali.

            “Aku pasrah. Menurut dokter penyakitku sudah tak terobati. Sekarang terserah kau saja, kalau bisa bunuh aku” kata Elisa saat itu. Aku diam saja berdiri disisi ranjang, sementara ia duduk memeluk pinggangku. Ia tidak melihat wajahku yang geram dan melotot ke arahnya.

            “Kenapa sekarang baru kau katakan, setelah kau tularkan kuman itu ke tubuhku. Bangsat !. Dasar perempuan murahan, mati sajalah kau sekarang !”

            Aku ingat. Lehernya kucekik hingga nafasnya terhenti dan nyawanya terlepas dari tubuhnya. Elisa jadi seonggok daging berbentuk manusia yang tak memiliki arti.

            Orang lain tidak pernah tahu kalau aku sudah membunuhnya. Aku cicing. Pergi dari satu kota ke kota lain mencari kehidupan yang lain. Dan ternyata penyakit yang ditularkannya juga ikut kemana aku pergi.

            Aku pulang kampung. Selain rindu dengan Emak, sekalian mencari obat kampung yang memungkinkan bisa mengurangi sakit yang kuderita.

            Emak tampak senang karena aku pulang. Tapi ia sedih karena tak dilihatnya lagi kecerahan seperti masa kecilku. Dasar perempuan baik, ia tidak bisa marah. Dengan ekspresi yang lembut, tetap saja Emak menunjukkan kasih sayang. Kalau Emak marah biasanya cukup dengan diam. Aku tahu betul soal itu.

            Seperti dulu Emak masih pergi  belanja kalau pukul sepuluh pagi. Biasanya lalap-lalapan tak lupa dibelinya, selain ikan asin dan belacan untuk sambalnya.

            Aku suka masakanEmak. Aku suka gaya Emak bicara. Tidak seperti mendiang Bapak yang bertempramen keras dan sangat tidak ingin mau kalah dengan orang lain. Maklum saja Bapak ku serdadu yang menerapkan disiplin di atas segalanya. Sementara aku tidak bisa mengikuti jejaknya. Jiwaku selalu ingin bebas, tidak suka di atur orang lain.

            Bapakmemberikan kebebasan yang kusalah artikan. Sementara Emak terlalu lembut untuk mempengaruhi kenakalanku. Konon saat aku kecil, aku pernah dengar Bapak punya pistol. Tapi sekalipun aku tak pernah melihatnya, apalagi memegangnya.

            Barangkali pistol dikamarku itu peninggalan Bapak, yang di simpan Emak. Biar nanti aku tanya Emak.

            Langit di kamarku tiba-tiba berwarna pelangi. Sesekali kabut hitam melintas. Dan setumpukan pasir masuk kemataku. Aku sempoyongan. Tubuhku seakan tak bertulang, lumpuh. Dan saat itu pistol diatas meja kecil sudah pindah kegenggamanku.

            “Dor…. !!!!”

            Letusan senjata api disusul tumpahnya darah segar bercampur otak, berserak di kamarku. Lalu sepi. Emak belum juga pulang belanja. Tetangga berdatangan satu persatu. Mereka bisik-bisik, katanya Emak sedang cari pembeli senjata api. Emak bilang pada tetangga pistol itu akan dihadiahkan untukku, jika aku berhasil di perantauan dan jadi orang penting serta berduit. Untuk melindungi diri, alasannya. Tapi bisa juga untuk obat seperti yang aku derita. Emak telah menolong aku.

 

                                                                        Medan, 2001.

Sudah di Muat pada Rubrik “Seni Budaya” Harian Analog Medan, tahun 2001

Terpiliah sebagai cerpen Satrawan Dua Negara Indonesia dan Malaysia

Dimuat dalam antologi “Muara”pada pertemuan sastarwan “Dialog Utara IV”tahun 2001.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MALAM DI GUYUR HUJAN

 

 

ORANG-orang lari mencari tempat berteduh. Seiring petir menyambar. “zzzz….zzzzz……cctarrrrr” lalu “bummm” Pohon mahoni di tepi jalan protokol roboh ke arah badan jalan. Menimpah sebuah mobil sedan merk ternama. Kaca belakangnya pecah dan bagasi peot hingga kedua ban depan terangkat.

            Pengemudinya seorang wanita cantik menjerit minta tolong. Betapa terkejutnya ia. Jarak semeter lebih kedua ban depan mobil itu tergantung di udara, tidak berputar lagi. Tapi kedua tangan wanita itu membelok-belokkan setirnya, sehingga kedua ban itu seakan menoleh ke kiri dan ke kanan.

            Mobil  yang berada dibelakangnya sempat berhenti mandadak. Waktu itu aku sampat spontan memijak pedal rem. Meskipun bomber depan sedanku tercium sedikit batang mahoni karena terseret dijalan yang basah itu. Tapi aku tidak fatal seperti sedan yang tertimpah pohon mahoni.

            Waktu itu jalan agak sunyi. Untung saja jalan protokol itu satu arah. Kalau aku tidak salah hanya ada lima mobil yag berhenti dibelakang mobilku.

            Aku turun dan berlari melihat dari dekat kondisi sedan dan seorang didalamnya. Hujan sangat deras. Sambaran petir masih tersisa. Tapi tidak se dyahsat ketika angin bertiup kencang mencabut akar pohon mahoni yang sudah berumur puluhan tahun itu.

            “Tolong pak …. Bagaimana ini ?” Wanita pengemudi sedan itu berteriak, setelah menurunkan kaca pintunya.

            “Tenang non, sebaiknya jangan turun. Saya segera cari bantuan “ Kataku dalam keadaan basah kuyup.

            “Saya mau turun …tolong …bagaimana ini ?”

            “Oke … silahkan buka pintunya dan turunlah, saya Bantu”

            “Ini, tolong pegang payungnya “ Wanita itu memberikan payung yang diambil dari bawah tempat duduknya.

            “Ayo .. turunlah … secepatnya kita minta bantuan polisi “ Wanita itu membuka pintu mobilnya dan keluar ragu-ragu. Sambil meraih tas sandang berwarna coklat.

            “Mari saya bantu, pegang tangan saya” Aku menyodorkan kedua tanganku sambil memegang payung milik wanita itu.

            Aku sangat terkejut. Wanita itu melompat dan memelukku erat-erat. Astagfirullah ….., tubuhnya gemetar ketakutan.

 Amboi… siapa sebenarnya wanita ini. Kok begitu berani dia memelukku. Aku sungguh tak menyangka. Bukan apa-apa. Yang pasti dia bukan muhrimku.

            “Sudah tenang, sekarang kita cari tempat yang aman” kataku berusaha menyeberang jalan.

            “Bagaimana, supirnya tidak apa-apa ?” Tiba-tiba suara seorang lelaki berjaket hitam bertanya. Lelaki itu turun dari mobil VW yang berhenti dibelakang mobilku.

            “Nona ini yang menyetir, dia tidak apa-apa” kataku.

            “syukurlah …kalau begitu saya segera hubungi polisi lalu lintas” Lelaki itu kembali kemobilnya. Lewat telepon gengam ia melapor ke Polisi.

            Hujan masih deras. Angin berhembus kencang. Sesekali petir menyelingi.

            Malam di guyur hujan.Kunang-kunang tak berani terbang indah. Tapi kodok berpesta, mulai bersahutan bernyanyi merdu.Wanita itu masih saja mendekapku. Kami duduk berteduh dihalte sekitar sepuluh meter seberang jalan.

            “Yang penting Nona selamat, mobil yang rusak bisa di perbaiki” Kataku menghibur agak berbisik ditelinga wanita berambut sebahu itu.

            “Ya … terima kasih. Bukan mobil itu yang saya pikirkan.Tapi kejadian itu yang tidak dapat saya bayangkan. Seandainya pohon itu menimpah kepala saya, mungkin saya sudah mati …oh… terima kasih ya Alllah, Kau telah melindungi dari mara bahaya” Wanita itu menangis. Aku jadi ikut sedih.

            Aku tidak bisa melihat wajah itu dengan jelas karena gelapnya.Biasanya kawasan itu jika malam terang benderang dengan lampu mercury.Tapi malam itu lampu padam, sebab tiang mercury yang diseberang mohon mahoni itu patah kena ranting dan dedaunan rimbun hingga terhempas kejalan.

            Sesaat malam terasa lengang. Satu dua mobil yang terjebak pohon tumbang langsung balik kanan  Lelaki berbadan tambun yang tadi melapor ke polisi juga telah meninggalkan tempat kejadian.

            “Non, bagaimana kalau kita berteduh di dalam mobil saya. Soalnya angin terlalu kencang di sini” Aku menawarkan kehangatan lain. Wanita itu mengangguk setuju, sementara ia  menggigil bibirnya pusat pasih.Kami berlari-lari kecil dibawah payung menuju mobilku.

            Se saat kami sudah didalam mobil.

            “Maaf saya harus ganti baju” Aku mengambil tas olahraga yang berada di jok belakang. Ada dua potong t-shirt didalamnya, selain raket tennis, handuk kecil dan tiga bola tennis yang masih baru, juga permen mint kesukaanku.

            “Pakai handuk ini “

            “Terima kasih Bang saya jadi sungkan. Untung ada abang menolong saya”

            “Ah, ini kebetulan saja. Tapi yang pasti malam ini saya dapat teman baru. Ini permen enak, ambillah” Sambil ngomong aku sudah ganti baju yang basah dengan t-shirt warna putih.

            Sementara mobil patroli polantas dan sebuah mobil derek sudah tiba. Hujan berkurang lebatnya, tapi angin sesekali berhembus kencang. Lampu rotator mobil patroli terus hidup berputar dan meraung-raung, kelebatan sinar warna biru itu sesekali menerpa wajahku. Seorang petugas memakai mantel putih mendekati kami.

            “Selamat malam pak. Apakah sopir atau penumpang mobil sedan itu ada yang cedera ?”

            “Tidak  pak. Nona ini yang mengemudikan mobil itu. Kebetulan hanya sendirian,” Sambil turun dan memakai payung, aku memberikan kesaksian. Petugas itu mendekatkan wajahnya melongok sambil menyenter wajah wanita itu.

            “Maaf non, anda benar-benar tidak sakit ?. Oya siapa nama nona ?” Dua pertanyaan sekaligus dilontarkan oleh petugas. Aku memasang telinga. Soalnya pertanyaan itu mewakili keinginanku untuk sekedar tahu siapa namanya.

            “Ya, saya nggak apa apa, Cuma terkejut. Namaku Sri Suharningsih, panggilanku Nining”. Kata wanita itu dengan senang hati.

            “Baiklah Dik Nining, Mobil anda kami gerek kekantor. Besok pagi temui saya di sana. Pinjam SIM anda, besok ambil sekalian” Petugas menoleh kearahku, aku berusaha senyum. Tapi ia terlihat serius dan terburu. Setelah menerima SIM Nining, ia langsung mengarahkan mobil Derek untuk memboyong ke kantornya.

            Aku sempat terpelongo. Kok petugas Polantas itu tidak menanyaiku sedikitpun. Mungkin dia pikir aku sudah kenal dengan Nining. Padahal dari dia aku tahu bahwa wanita itu bernama Nining.

            “Maaf  bang, jadi merepotkan”

            “Nggak apa-apa”  Aku duduk dibelakang setir. Kedua tanganku membasuh wajahku dan kuusapkan ke kepala, mendorong rambutku yang masih basah.

            Nining menyodorkan handuk kecilku yang masih ia pegang. Aku gagap, lalu mengambil dan mengeringkan rambut dengan handuk itu.

            “Oya, nama saya Nining. Nama abang siapa ?” ia menyodorkan tangannya.

            “Bahar …biasa nya temanku selalu memanggil,  har saja” kami bersalaman. Hangat terasa. Seperti ada aliran listrik yang menyengat. Aku cepat manarik tanganku, mengalihkannya kehanduk dan mengusap rambut.

            “Besok, setelah selesai urusan dengan polisi, sebaiknya segera bawa ke bengkel. Sayang mobil itu” aku coba memecahkan keheningan.

            Nining sepertinya terus memandang ke arahku. Aku berusaha tersenyum.

            “Kenapa, ada yang aneh, sehingga nona memandangku seperti itu ?”

            “Bukan aneh, tapi luar biasa”

            “Nggak juga,biasa-biasa saja”

            “Maksudku pertemuan ini luar biasa”

            “Ini namanya kebetulan”

            “Terus ?”

            “Maksudnya ?”

            Nining tersenyum manis. Baris giginya yang putih terlihat. Aku berusaha menguasai diri. Sok paten, padahal akupun salah tingkah.

            “Sekarang bagaimana ?. Apakah Nona Nining mau di antar pulang ?. Oya rumahnya di mana  ya ?”

            “Nggak usah diantar, nanti merepotkan abang”

            “Lalu, bagaimana sekarang ?”

            “Kita makan bakso yok “

            “Boleh”

            Tidak jauh dari tempat kejadian itu, ada sebuah warung bakso yag banyak pembelinya. Kami singgah dan memesan dua porsi. Seperti sudah berkenalan lama, kami duduk berhadapan menikmati bakso dan segelas teh manis hangat.

            Di warung itu, barulah tampak jelas wajah Nining. Wajahnya begitu bersih, lehernya jenjang menopang rambutnya yang sebahu. Sesekali ia menyibakkannya dengan ujung jemarinya. Aku tak berani menatapnya lama-ama, cuma curi pandang saja.

            Nining memakai t-shit warna merah bata, pada bagian dalamnya terbungkus manshet ketat lengan panjang warna orange. Ditelinganya ada anting  bulat terjuntai indah. Blue jeans ketat dipadu sepatu kate, mendukung penampilanya, terlihat sempurna.

            “Bang, terimakasih sekali lagi ya. Aku tidak tahu harus bilang apa. Soalnya abang telah meluangkan waktu untuk menolongku”

            “Ya, sama-sama. Terimakasih juga sudah mau menemani makan bakso” kataku enteng, sambil senyum sedikit.

            “Ah,abang humoris juga. Dia yang ngajak makan kemari, kok” Nining sambil tertawa renyah.

            “Nanti kalau ada waktu, abang kontak aku”, Kata Nining sambil memberikan kartu namanya.

            Aku baca. Cuma ada namanya, nomor hapenya dan emailnya. Itu saja.

            “Terima kasih, Insya Allah abang bisa kontak adik Nining” Kataku datar saja.

            Tapi ia seperti tertegun, menatapku. Ah, aku jadi malu.Ia lalu senyum penuh arti.

            “Setelah makan, mau diantar pulang ?”

            “Tidak usah, biar nanti aku cari taxi saja”

            “Sungguh ?”

            Nining cuma mengangguk lembut dan tersenyum manis. Duh, senyuman maut, luar biasa indah dan menawan. Tapi secepatnya aku berpaling, untuk menghindar dari pikiran macem-macem yang bikin pusing kepala. Kamipun berpisah.

                                                ***

            Sekitar sepekan berlalu. Ketika melitas didepan kantor Polantas, aku teringat Nining. Aku masuk kehalaman kantor itu, memperhatikan mobil ringsek yang  menjadi korban kecelakaan lalu lintas. Tak ada mobil sedan.

            “Maaf pak, mobil sedan yang tertimpah pohon mahoni  waktu hujan lebat seminggu yang lalu, sudah diambil pemiliknya ?”

            “Sedan tertimpah pohon mahoni, rasanya nggak ada. Lagi pula seminggu ini tidak pernah hujan kok. Apa nggak salah ?” Kata petugas Polisi yang sedang piket.

            “Itu loh, yang minggu lalu. Kan di sini hujan deras”

            “Nggak, disini nggak hujan sudah hampir dua bulan” kata polisi itu.

            Aku tercengang. Aku buka dompet mencari kartu nama Nining. Aku kontak nomor hapenya, nggak nyambung. Tanpa banyak cerita, aku pergi meninggalkan polisi itu, ia tampak keheranan dengan sikapku yang terburu-buru.

            Tidak hujan ?. Yang betul saja. Aku tancap gas menuju Tempat Kejadian Perkara dijalan protokol yang pohon mahoninya tumbang. Ternyata benar. Tidak ada pohon mahoni yang akarnya tercerabut dan tumbang.

            Aku terjerebab di jok, menggenggam setir erat-erat. Menatap kosong kedepan,sementara kendaraan lalu lalang dengan kencang.

            Pelan, mobilku merangkak, menelusuri ruas jalan itu, lalu membelok kekiri, mencari warug bakso tempat kami berpisah. Tidak ada. Tepat ditempat yang aku yakin sebagai warung bakso, ternyata berdiri bengkel sepeda motor merangkap tempel ban.Aku berhenti.

            “Tambah angin bang ?” orang disitu menawarkan dagangannya.

            “Ya, ban belakang sebelah kanan”. Aku terhenyak, memperhatikan lokasi itu. Rasanya tidak mungkin dalam tempo sepekan, sudah berubah.

            “Numpang tanya dik, apakah disekitar sini ada warung bakso ?” kataku sambil memberikan uang recehan seribu rupiah, bayar angin.

            “Warung bakso nggak ada bang”

            “Seminggu yang lalu, saya makan disekitar sini, waktu hujan deras”

            “Salah bang, disini sudah hampir dua bulan tidak hujan. Lihat itu debu dijalan beterbangan kalau ada mobil dan truk melintas”.

            “Jadi betul nggak ada warung bakso disekitar sini ?”

            “Masih rencana bang, seminggu yang lalu memang ada sepasang pengantin baru yang ingin membuka warung bakso di sekitar sini. Katanya sih, disitu di dekat pohon mahoni yang di depan kuburan itu. Tapi sampai sekarang orang itu nggak pernah datang lagi bang”

            Aku tertegun. Diam. Menatap jauh kearah yang ditunjuk tukang tempel ban itu. Sebatang pohon mahoni berdiri tegar didepan perkuburan muslim. Sepasang pengantin katanya ingin membuka warung bakso disana.Ning dimana kau. Aku jadi rindu. Siapa kau sebenarnya.

 

            Sudah di Muat pada Rubrik “Resam” Harian Andalas,tahun 2005

              ( har_adexinal@yahoo.co.id )

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

.

                   A I R    S U C I

 

 

 

          Mimpi kali ini bagiku adalah sebuah malapetaka. Sebab tenagaku seperti terkuras, lelah dan  membuatku terkulai. Akupun menarik nafas panjang, mengambil ancang-ancang untuk kembali memulihkan tenaga. Tapi tidak bisa. Ternyata aku baru saja melampaui perjalanan panjang melintasi padang pasir yang luas terbentang.Mengarungi lautan samudra yang bergelombang Mendaki gunung yang berhutan lebat dan hijau. Menikmati anugerah Allah yang maha agung.

          Terlalu lama aku mendambakan mimpi itu. Terlalu lama aku mengekang birahi, menjaga kesucian ini. Hanya ingin membuktikan pada diriku sendiri, tubuhku sendiri, rahasiaku sendiri, pikiranku sendiri,ruh-ku sendiri,  sebagai sebuah dunia yang menyimpan benih kehidupan bernama air suci.

          Jangan main-main dengan spermamu. Jangan kau hancurkan kesucian yang terkandung dalam spermamu. Jangan sekalipun kau  memuntahkannaya disembarang tempat. Jangan, sekali lagi jangan. Sebab disitulah kehidupan anak cucumu.

          Amboi enaknya menyimpan rahasia ini. Tak seorangpun tahu, betapa kejantananku selalu memuncak, namun aku mampu mengendalikan arah, sehingga aku tetap bisa terbang tinggi. Aku menjadi pilot yang sejati. Menguasai penerbangan hidup yang kian penuh tantangan dari hari kehari.

          Akulah nahkoda bahtera yang mampu menerjang badai, menaklukkan gelora gelombang yang menghempas setiap jenggal lautan. Memecah buih, menyingkirkan segala perasangka yang datang silih berganti. Menepiskan khayal pada nuansa yang menggiring birahi terbang keawan.

          Jagat ini sebuah bola panas yang menggelinding kencang, hingga tak kentara putarannya. Tak menggeser posisi duduk dan berdiri segala yang berada diatasnya.Aku merasakan betapa berat beban yang kugenggam, sehingga aku menyimpan beban itu pada sebuah tempat yag sangat terjamin keselamatannya. Tak ingin orang lain tahu, bahwa kesucianku diatas segala yang aku punya.

          Kemarin orang berkata bahwa perjalanan hdup tak lebih dari langkah, rezeki, pertemuan dan maut. Akupun mengangguk dan tertunduk. Menghitung setiap persendianku, menemui 204 sambungan yang kusisipkan dengan zikir menyebut nama Allah.

          Ya Rabb, aku menghadapkan wajah sebagai hamba yang hina. Sejumput harap kupinta dengan tulus. Hening dan menghujam kejantung, hingga qolbu meretas kesucian, putih seperti kapas tanpa noda, lembut  sebening embun pagi.

          Hari ini kuacungkan jemari telunjukku, memilih jalan untuk memimpin petualangan indah, menelusuri perjalanan panjang, tanpa batas.Menempuh titian yang berkabut, membelah gunung salju, dan menaklukkan tebing terjal tanpa pepohonan. Di mana setiap jengkal perjalanan diiringi tetesan keringat perjuangan.

          Jauh mata memandang menembus awan hitam dikaki langit. Aku menepis lambaian tangan bidadari bersayap putih. Menyentuh setiap penghuni jagat raya yang tersenyum dan berputar pada garis orbitnya. Berpelukan dengan pelangi yang membingkai indahnya garis khatulistiwa. Dimana kesepian mampu kuatasi dengan senyum ikhlas.

          Pada setiap denyut nadiku, bersatu namaMU. Kutelusuri keimanan yang semula liar dan tak bergetar. Perlahan ku giring keyakinan menuju satu titik disudut qalbu yang paling dalam. Aku tercengang. Aku  terhenyak. Diam seribu bahasa. Tak dapat menghitung setiap angka. Tak dapat mengeja setiap kata. Sendiri akhirnya kutemui apa yang aku cari.

         

         

           

 

 

 

 

LELAKI PEMBERANI

 

Sudahlah jangan kau tangisi perpisahan ini.Bukankah sudah kukatakan semua perasaan isi hatiku. Bahwa kau yang terbaik, kau yang paling mengerti akan perasaanku. Jadi sudahlah biarkan semua berlalu di telan waktu.

 

Entah apalagi yang harus kukatakan kepada orang orang yang ku cintai. Bahwa hari ini sesungguhnya merupakan perjalanan waktu yang tidak obahnya seperti hari kemarin. Tapi memang jika dirasakan, ternyata ada sesuatu yang hilang dari pandangan, hilang dari perasaan, hilang dari belaian, hilang dari pelukan, hilang pula dari ciuman.

 

Tapi ketika kusadari bahwa sesungguhnya itulah sebuah keindahan. Maka derai tawa, canda dan perasaan saling mencinta yang pernah tumbuh di antara kita tidak dapat ku pendam. Betapa hari-hari yang lalu begitu mempesona. Oh, rasnya aku ingin berlari ke pantai, mengajak semua orang yang  kucintai untuk bersatu di atas perahu impian. Berlayar bersama mengarungi gelombang laut yang tidak pernah dendam.

          “Sebaiknya kita pergi juga  meninggalkan kota ini. Sebab orang-orang yang paling kusayangi sudah pasti akan pergi”, kata Ronggo padaku. Aku menatapnya dingin, sedingin ucapan Ronggo yang terbata-bata.

“Kau mau ikut ?” Ronggo bertanya padaku dengan pandangan  berharap cemas.

“Tidak. Terlalu cengeng kalau kita harus ikut pergi. Itu berarti kota ini  akan tidak memiliki orang-orang pemberani seperti kita” kataku.

Ronggo diam. Ia merogoh saku celana jeansnya yang sudah kumal. Sedikit senyuan ketika tangannya meraih sebatang rokok bentul, pemberian Irawan kemarin sore.

“Kau masih merokok ? Tapi kau janji tidak akan merokok”

“Ini mu gkin yang terakhir, pemberian Irawan,sahabat kita. Lelaki pemberani itu telah memaksaku untuk mengisapnya kemarin sore.Tapi aku tak mau. Jadi rokok ini aku terima sebagai cendera mata” Kata Ronggo. Aku geli mendengarnya.

Ronggo begitu menikmati rokok itu. Sebelum dibakar dan di hisapnya, ia sempat menciumnya dalam-dalam dengan cara menggesek-gesekkan kelubang hidung.

Sejurus kemudian Ronggo berceloteh. Ia bilang bahwa  sekian banyak temannya yang telah lama menetap di kota ini, tidak ada yang  memiliki karakter seperti Irawan. Selain berani, lelaki itu menurutnya memiliki kemampuan meramal situasi yang akan datang. Sehingga ia tahu apa yang  harus dilakukannya hari ini untuk menghadapi tantangan di masa depan.

Ronggo juga bilang kalau suatu hari ia pernah berjalan dengan Irawan menelusuri lorong-lorong kota yang kumal. Bertemu dengan para begundal dan pengangguran yang membuat semakin semak kota ini. Ia menyimpulkan bahwa begundal-begundal itu tidak obahnya seperti sampah. Tidak lebih dari sekelompok orang-orang pemalas, yang selalu ingin mudah mendapatkan uang dari orang lain. Mereka adalah pengemis yang tidak tahu malu. Membawa-bawa nama kelompok organisasi tertentu. Mengatas namakan seseorang yang di anggap pahlawan di kota ini. Lalu seenak udelnya memeras dan berlaku kasar sekaligus sok jagoan.

Kata Ronggo, ia terkesima ketika di ajak oleh Irawan akan memberantas begundal-begundal itu. Aje gile, macam betul aja, pikirnya saat itu. Mustahil mereka di berantas, sebab sudah terlanjur komunitas itu ada dan mendarah daging, pikir Ronggo. Tapi ternyata tekad Irawan justru makin kuat akan mengikis habis para begundal tengik itu.

Aku sangat tertarik dengan cerita Rongo. Sebab aku juga pernah jalan dengan Irawan suatu malam. Sekedar cari angin dan minum kopi di warkop. Sebab selain merokok bentol, lelaki itu juga senang minum kopi.

Soal temperamennya yang keras dan anti dengan kejahatan memang terlihat dari sikapnya yang selalu merasah risih, kalau melihat orang lain memandang bengis ke arah kami. Apa lagi seakan hendak melakukan kejahatan, dengan cepat aku diminta waspada dan menjaga diri. Rasanya semua orang ketika itu bisa menjadi teman. Namun detik berikutnya menjelma menjadi musuh paling mengerihkan. Tingkat kewaspadaan itu sangat tinggi, sehingga ia tidak mudah percaya begitu saja dengan orang lain.

Aku jadi teringat Syamsul dan Prawoto. Kedua lelaki itu pernah begitu dekat dengan Irawan, tapi keduanya lebih dahulu pergi meninggalkannya merantau ke luar kota. Aku yakin kedua temannya itu telah mendapatkan  sesuatu dari Irawan. Sebab konon kabarnya  keberanian dan penuh percaya diri serta kemampuan mengambil keputusan dengan baik mereka dapatkan dari sosok Irawan.

“Sebenarnya dia  biasa-biasa saja seperti kita juga. Tapi memang situasi saat ini sangat cocok dengan sikapnya yang cuek dan ternyata banyak betulnya” Kata Ronggo.

“Maksudnya situasi saat ini ? Kenapa rupanya ?”

“Ya sekarang inikan berbeda dengan dua tahun yang lalu.Ketika itu sebagain besar lelaki di kota ini suka mengkhayal, mimpi bisa jadi kaya mendadak setelah mengotak-atik angka-angka. Namun kenyataannya  meraka justru terperosok  dijurang kemiskinan” kata Ronggo.

Mendengar cerita itu, aku memilih diam sebab Ronggo sudah mulai menyinggung perasaanku. Ia menyindir, dan aku merasakan juga  betapa mengerihkan saat itu. Tapi sudahlah.

Aku ajak Ronggo main catur. Sebab permainan itu dapat menenangkan pikiran yang ruwet. Tapi Ronggo menolak, sebaliknya dia bilang itu itu justru permaiann yang akan bikin kepala tambah pening.

Aku ajak ia main tennis meja. Ia menolak mentah-mentah, alasannya macem-macem. Padahal ia tak pernah menolak kalau Irawan yang mengajaknya sekedar cari keringat.

“Sudah jangan kau paksa aku mengingat semua kebiasaan yang selalu dilakukan Irawan. Kita carilah permainan lain, biar aku bisa menerima kepergiaannya” Kata Ronggo berbisik.

“Dia tidak pergi kemana-mana kok. Kapan saja bisa kalau dia mau balik ke kota ini. Apalagi sekarang jarak tempuh kekota kita dapat ditempuh dengan berbagai transportasi,mau darat, laut dan udara. Ayo.. mau apa lagi ?” kataku.

“Bukan itu persoalannya, justru aku takut kota ini jadi kembali hancur di obrak-abrik para begundal yang penyakitnya kambuh”.

“Kamu jangan cengeng. Siapa saja bisa memiliki keberanian  seperti yang ia tunjukkan selama ini. Persoalannya kita mau nggak ?”

Ronggo diam lagi. Ia menatap lorong-lorong  hitam di inti kota yang dulu di kuasai anak jalanan bebas berkeliaran sesuka hati. Tiba-tiba sepi dan bersih. Lantas kembali semrawut karena tumpukan sampah di sana sini. Waduh Ronggo seperti kehilangan sesuatu. Ia berlari ke arah stasiun kereta api dan menatap ujung rel menjadi satu titik hitam.

Ronggo menerawang dan memusatkan pikirannya dalam titik itu. Ia masuk kedalam suasana baru. Terbang di atas kota yang modern, melompat dari satu gedung tinggi ke gedung tinggi lainnya. Seakan  tak pernah ingat justru ia sedang belajar menjadi seorang pemberani.

“Ya sudahlah, kamu sekarang harus bisa jadi dirimu sendiri. Biar tidak mudah di tindas oleh orang lain” Tiba-tiba suara itu terdengar dari langit menusuk gendang telinganya. Ronggo melompat dan berhasil meraih bintang  di langit, lalu menyerahkannya kepada Irawan. Sahabatnya yang pemberani. 

                                                         

 Medan, 26 Maret 2007.

 

 

 

 

 

JANGAN BILANG AKU PREMAN

 

Petir menyambar dahsyat dan menghantam tiang listrik di depan warung kopi. Seketika susulan suara ledakan terdengar, buummmm. Ternyata travo listrik yang di topang dua tiang beton itu meledak. Orang-orang terkesima sejenak. Gelap menyusul. Lampu padam, tapi orang-orang tidak kelabakan. Sebab mereka terbiasa dengan kegelapan yang acapkali terjadi ketika “musim mati lampu” di kota ini.

“Sudah tenang saja, nanti petugas PLN juga datang membetulkan”

“Tenang ya tenang , tapi kita harus cari lilin. Korek api di mana tadi?”

Memang tidak terlalu gaduh pembicaraan yang menyangkut soal gelap itu. Apalagi hujan turun cukup deras. Hanya dalam hitungan menit, ruas jalan didepan warung itu sudah tergenang. Para pemakai jalan memperlambat kendaraannya.

Aku masih sempat menghirup kopi. Tapi tiba-tiba aku ingat istri dan anakku di rumah pasti mereka kegelapan. Atau paling tidak si  kecil  terkejut dan menjerit karena suara ledakan tadi.

Aku melompat bergegas  menyambar sepeda motor RX King yang kuparkir di samping warung, mengengkolnya dan terus cabut menuju rumah. Sengaja kopinya tidak ku bayar karena besok aku nongkrong lagi di warung Mang Jukri tempat mangkal para penarik ojek.

Di perjalanan pada simpang kedua sebelum sampai kerumah, aku ketemu Jarot, sahabatku yang selalu teler dan memiliki keberanan berlebihan kalau sudah menenggak alkohol.

“Nagapain kau di situ ?” kataku.

“Jon tolong pinjamkan keretamu, malam ini aku mau merampok !” katanya. Yang dimaksud kereta adalah sepeda motor, biasa orang Medan menyebut begitu.

“Aneh kau, mau merampok kok bilang-bilang. Ya jelas aku nggak kasih. Lain kali kalau mau merampok jangan  terlalu jujur. Bilang mau keperluan yang lain, pasti akau pinjamkan”

“Jon, kau ingat Babah Cun di seberang sungai sana ? Tadi baru menjual hasil panennya sekitar satu truk padi kering. Makanya aku mau rampok dia, kalau perlu malam ini ku gorok lehernya biar mampus, lalu aku ambil uangnya. Kita bisa poya-poya ke kafe bawah pohon melinjo, joget dengan cewek-cewek montok”

“Maaf rot. Aku harus pulang. Kau pinjam saja kereta orang lain” Aku berusaha meninggalka Jarot.

“Ah, sok kalipun kau. Tuggu dululah, ku tepuk pula moncongmu itu, baru kau tahu”

“Bagus-bagus kau cakap ….jagan sok preman, jangan ngemop-ngemop begitu”

“Jadi belum tau kau rupanya siapa aku ? Tapi jangan bilang siapa-siapa kalau aku preman. Gawat nanti. Kalau ada yang kibus, terus di SMS ke Polisi, matilah aku di tangkap Tim Pemburu Preman”

“Kau mabuk kok ingat tim pemburu preman pula. Dasar bagudung kau”

“Tunggulah Jon. Aku serius ini. Babah Cun lagi banyak uang, Sedangkan aku bokek tak punya uang, apa salahnya kau berbaik hati pinjamkan keretamu itu. Sebentar lagi malam tahun baru, kalau bokek alias kantong kempes, mana bisa enjoy kita nanti”

“Jangan pikir macam-macam, itu  namanya menghayal. Sudalah aku cabut dulu !”

“Kau nggak percaya ya sudahlah. Pelit kalipun kau …” Jarot gusar, sementara aku pulang kerumah.

Hujan malam itu ternyata tajam-tajam, buktinya mampu menembus atap nipah rumahku yang mulai rapuh dan bocor. Roni anakku yang lelaki cuma bilang kalau ia sudah menyisip atap yang bocor dengan kertas karton, sehinga di kamar dan ruang tamu tidak basah. Sedangkan adiknya Rina tertidur pulas di kamar.

“Mamak kemana ?”

“Tadi katanya mau kerumah Wak Anto, mau pinjam beras,” kata Roni enteng saja.

“Pinjam beras ?” Aku langsung ke dapur  dan membuka ember  plastik tempat menyimpan beras, kosong. Aduh !

Aku menarik nafas panjang. Hari ini memang apes betul, tidak ada sewa ojek.Uang untuk modal beli bensin hanya cukup untuk besok. Aku berusaha tenang, memang kalau pinjam dengan abangnya, istriku selalu dapat pinjaman. Biarlah,kenapa mesti malu, toh kalau ada uang nanti aku ganti.

Suasana gelap di rumahku. Hanya diterangi dengan lampu sentir dari botol munuman suplemen.

“Pak, kok listriknya mati lagi ya ?”

“Bukan salah PLN, tapi travo yang di simpang sana  meledak di sambar petir. Sudahlah jangan kau pikirkan itu” Aku jelaskan begitu, Roni terus diam. Ia memang anak yang penurut dan tahu diri akan keadaan bapaknya yang susah.

Sejurus kemudian  Ranti istriku pulang dengan membopong sekilo beras didalam pelastik keresek . Aku menatapnya haru. Ranti senyum dan langsung ke dapur..

Sampai tengah malam, belum ada petugas yang datang memperbaiki travo yang meledak.Aku memastikan besok baru mereka memperbaikinya.

Selepas hujan turun, bulan mulai menampakkan diri di langit. Malam itu agak terang di banding malam sebelumya.Setidaknya menerangi jalanan yang tanpa pohon  rindang. Dengan jarak sepuluh meter terlihat orang-orang yang melintas.

Setelah Roni dan Rani tidur, aku coba keluar rumah, berdiri di tepi jalan mengisap rokok keretek yang  tinggal sebatang. Tiba-tiba sekelebat bayangan mendekati aku.

“Kok di luar sendiri ?” ternyata Jarot yang datang.

“Mau kemana kau ?’ tanyaku sedikit terkejut dengan kehadiranny yang tiba-tiba.

“Ayolah, kita mainkan Babah Cun, kita sikat uangnya. Telak kali ini, aku jamin kita pasti berhasil”

“Jangan rot, kau jangan coba-coba kembali membangkitkan kenangan masa laluku.Sudahlah cukup aku saja yang merasakan  pahitnya hidup menjalani hukuman di lembaga pemasyarakatan. Sejak kawin dengan Ranti aku sudah bertobat. Aku sangat menghargai kesetiaannya. Apa lagi ia selalu merahasiakan  kepada anakku bahwa bapaknya mantan perampok sadis yang penah di hukum”

“Kalau kita senang dan punya duit banyak, aku tidak pernah mengajakmu seperti ini. Tapi sekarang kita sedang susah, sementara Babah Cun punya banyak uang. Kalau kita minta , tidak mungkin dia kasih. Jadi apa salahnya kita rampok saja. Terus kalau berhasil, uangnya kita bagi-bagi sama saudara kita yang miskin dan kelaparan”

“Jangan sok jadi pahlawan. Sekarang bukan zaman si Pitung atau zamannya Robinhood.  Sekarang bukan zaman kuda makan besi, tapi kuda sekarang bisa main catur dan main computer. Sekarang saatnya bangkit dari kemiskinan  dengan cara bekerja. Pokokmya aku ngak mau. Sudahlah pergi dan tinggalkan aku sendiri”  Aku masih berusaha lembut.

“Ya sudahlah kalau kau tidak mau. Biar aku sendiri yang  melibasnya. Kau jangan menyesal kalau aku berhasil nanti ya !”

Jarot pergi begitu saja . Berjalan kaki menuju ke arah sungai, sempoyongan  karena sudah mabuk berat. Mungkin akan melintasi jembatan dan menuju rumah Babah Cun, lalu ia akan merampoknya.

 

          -0-

 

Pagi aku bangun kesiangan . Tidur terlelap di atas kursi tamu membuat Ranti tidak berani membangunkan aku. Tapi aku tersentak ketika ku dengar orang-orang di sekitar rumahku berkerumun dan bergegas menuju arah sungai.

“Pak, orang-orang  sibuk ke sungai, katanya melihat Bang Jarot bunuh diri . Mayatnya tersangkut di semak-semak  belakang rumah Babah Cun.

Aku seperti di sambar petir. Tiba-tiba suara Jarot seperti berteriak menggelegar menghentakkan gendang telingaku.”jangan bilang aku preman !” Kata-kata itu membutakan mataku.Memekakkan pendengaranku. Ranti memelukku, keheranan.

“Kalau tadi malam dia abang antar, mungkin tidak mati,” kataku.

“Dia minta antar untuk bunuh diri ?”

“Hus ..sssttt,” aku minta Ranti tidak bertanya lagi dan dia patuh. Sebab aku telah berjanji pada diriku sendiri tidak akan mengatakan  pada siapapun kalau Jarot itu bajingan. Bahkan aku masih merahasiakan bahwa orang yang membunuh dan memperkosa istri toke roti 15 tahun lalu diseberang kampung, adalah Jarot.

Wakti itu aku ikut mengantarnya  naik kereta “astuti” alias astrea tujuh tiga. Ketika kepergok di kepung massa, Jarot berhasil lolos bagai belut. Sedangkan aku tertangkap tangan dan menjalani hukuman sendiri, tanpa pernah membuka rahasia bahwa Jarot adalah biang keroknya.

 

Medan, Desember 2006.

 

har_adexinal@yahoo.co.id

No comments: