Kumpulan
Cerita Pendek :
Baharuddin Saputra
Lagu
Dari Medan
LAGU DARI
Kado buat ;
Bang Dillah
Menjelang
berakhirnya masa mudaku, aku mau semua yang pernah menjadi rahasia hidup tidak
terungkap dalam satu fase yang memilukan. Sebab sepanjang perjalanan ini, ada
banyak tersisa cerita duka dan suka yang saling bertautan. Aku hidup diantara
berjuta himpitan persoalan yang tumpang tindih, tapi bukan tumpukan sampah yang
tiada arti.
Sebalikya, setiap
kali matahari memancarkan sinar merahnya diufuk timur, dan rerumputan ditinggalkan
oleh embun berkelana. Maka akupun merasakan betapa beban itu menimpahku. Tapi
bukan hutang, atau dosa berkepanjangan. Sekali lagi bukan.
Menangis
pernah aku lakukan, untuk membuktikan bahwa aku punya nurani. Tapi tidak nangis
sesenggukan seperti anak kecil minta permen. Atau tangisan sinetron yang
menggambarkan adegan ditinggal mati kekasih.
Berakting
aku pernah dalam membawakan lakon teater sebagai Letnan kenil dalam “Jiwa Tanah
Air” bersama Dahri yang kini juga di penjara karena dikorannya ia mengungkap
kasus dugaan korupsi. Kalau ingat pentas teater, terbayang wajah Darwis, Buoy,
Yan dan Burhan.
Aku
menangis sejadi-jadinya, sampai semua orang tidak percaya aku sedang manangis.
Mereka bilang aku sedang menyanyi lagu merdu. Tembang kehidupan yang orang lain tidak pernah dengar syair dan
iramanya. Aku menciptakan sendiri sesuatu yang orang lain terdiam, berdecak
kagum.
Tapi yang
terlontar selalu tembang dari
Tapi
pilihanku masih yang satu ini … “jauh di saying”. Yang pernah dilantunkan oleh
Charles Hutagalung
“Rindukah hatimu pada diriku…yang kini jauh
dari dirimu… Walau diriku ingat selalu …kekasih hati yang kini jauh ….Kalaulah
kita dapat bertemu …saat begini alangkah indah …. Sayang di sayang di pulau
seberang … kekasih jauh dirantau orang ….”
“Jangan
katakan aku suka !”
Tiba-tiba
langit terbelah dengan cahaya merah menyambar dan bersautan. Suara bergemuruh
menggelinding dari segala penjuru. Sejurus kemudian awan menggumpal hitam.
Kabut putih bermain disekitar kelopak mataku. Kolap.
“Orang itu
mengenal betul, siapa kau sebenarnya !”
Lagi, seperti
ada benturan hebat menerjang dadaku. Bagai pukulan telak seorang petinju
mengantarku terhempas kepojok dinding kamar. Seketika hitam menyelimuti
pikiranku. Ribuan kunang-kunang berkejaran menari dan berdendang.
“Kau
kehilangan arah !”
Ssssttt
…sepi selanjutnya sepi tapi berubah jadi sunyi. Sesunyi-sunyinya malam tanpa
cahaya dan suara ngengatpun.
“Kau masih
bisa bangkit dan berteriak, lakukanlah. Aku akan bimbing kau pada cahaya menunjuk
puncak kenikmatan !”
Bisikan itu
selalu datang dan datang. Aku berusaha tegar seperti batu karang yang menahan
hempasan ombak dibibir pantai. Duh, bila
aku terjaga dari mimpi. Aku masih lelaki sejati yang punya mimpi-mimpi ketika
tidur dan terbangun.
“Mari,
melangkahlah dengan pasti !”
“Siapa kau
?”
“Sudahlah
!”
“Maksudmu
?”
“Jangan katakan
aku suka !”
“Artinya ?”
“Waduh, kok
jadi tolol begitu !”
“Jangan
menghina ya !”
“Dasar,
goblok !”
“Kurang
ajar kau. Enak saja kau bilang aku goblok !”
“Sok !”
“Apanya
yang sok !”
“Kau sok
hebat !”
“Suka
hatiku-lah !”
“Sombong !”
“Apa-apaan
kau ini ?”
“Mentang-mentang
!”
“Apa ?”
“Aku tahu
dari mana kau dapatkan uang banyak itu
!”
“Oh … gitu
aja kok repot !”
“Introspeksi,
sadar bung !”
“Jangan
ngatur kau !”
“Dasar
bodat !”
“Eh, kamu
sudah keterlaluan, menghina aku”
“Biarin !”
“Terus kamu
mau apa ?”
“Apapun
jadi !”
“Aku lapor
kau ke polisi, kerena telah menghinaku, dan kau telah menuduhku yang bukan-bukan.Kau
mencemarkan nama baikku. Aku tidak sudi. Aku mau tunjukkan pada dunia bahwa aku
tidak bersalah. Jangan seenak perutmu kau berprasangka. Itu suhuzzon namanya,
menuduh yang tidak-tidak. Aku protes. Sebab seumur hidupku tak ada yang berani
menghinaku. Dasar kau penghianat !”
“Kau tidak
akan pernah bisa menangkapku, atau menjebloskanku kepenjara. Sebab kau sekarang
didalam penjara !”
Aku menatap
langit-langit kamar sempit ini. Terasa berputar kencang. Tiba tiba beribu wajah
bergantian menghampiri dan berteriak-teriak memanggil namaku.
“Bertahan
bang … bertahan bang … apapun ceritanya abanglah yang terbaik !”
Suara itu
saling berbenturan memekakkan gendang telingaku. Mengalahkan indahnya syair lagu ungu yang menjadi pavoritku, “
…andaiku tahu, kapan tiba ajalku, kuakan bermohon, Tuhan tolong panjangkan
umurku …”
Derak suara
laras sepatu opsir penjaga penjara bergemuruh. Mereka melangkah semaunya,
menyeret paksa seorang tersangka korupsi yang telah menelan lembahran rupiah
rakyatnya. Aku mendengar lamat-lamat saura bisikan itu menerjang telingaku
lagi.
“Diam saja
kau. Jangan sok jago !”
“Aduh, kok
aku yang kau bilang sok jago!”
“Dulu , kau
sok jago, sok suci, sok paten, sok hebat, sok jujur, sok-sok lainnya!”
“Kau salah
menilaiku, lay !”
“Sejak
kapan aku jadi lay-mu. Sok akrab !”
“Sialan
kau. Aku sudah bilang kau salah menilaiku !”
Bam !.
Suara pintu kamar berjeruji besi padu terhempas, suaranya mengiang.
“Saatnya
makan siang !”
“Aku tidak
lapar !”
“Jangan kau
bohongi dirimu sendiri”
“Sudah dua
hari aku puasa !
“Jangan mengada-ngada. Nanti
kalau Ramadhan tiba saja kau puasa, lebih afdol”
“Sudahlah,
aku sedang puasa !”
“Bagus !
Itu artinya kau telah menyadari bahwa perjalananmu masih panjang !”
“Jangan katakan
aku suka ! “
“Aku tidak
pernah mengatakan itu”
“Tapi kau
seakan memaksaku untuk mengakuinya !”
“Apa
sebenarnya yang telah kau lakukan ?”
“Aku
menjadi imam korupsi berjamaah”
“Ah, yang
betul kau ?”
“Itulah
kesimpulannya !”
“Tidak, itu
salah !”
“Kok Salah
?”
Lalu diam.
Itulah yang kulakukan. Menundukkan kepala, menatap sajadah panjang yang
terbentang dilantai kamar. Menghadap kiblat. Menyerahkan diri kepada Allah
Subhanawataallah.
Tiba-tiba
kerinduan itu begitu jauh terbang keangkasa biru. Bertemu bidadari bersayap
putih, mengitari sorgawi. Aku tak tahan menahan air mata rindu. Rindu pada
mereka yang kini bertahta dibalik nama-nama yang berubah-ubah. Aku menangis
lagi.
Suara
tersendat mengharap jawab. Tapi tak ada yang datang. Sepi seperti mati. Walau
sesungguhnya aku tegar setegar batu karang yang menahan ombak ditepi pantai.
Ternyata mengundang tarian anak dara yang melenggang
“ …kalaulah kita dapat bertemu …saat begini
alangkah indah …sayang disayang dipulau seberang …kekasih jauh dirantau orang
….”
Tet
…tereret …tereret ….tereret…tereret …tereret ….tereret …tereret ..
Suara
seksofone menggetarkan tanah deli. Lantunan syair yang selalu kudendangkan,
terus berkejaran melepas rindu.
Rindu kepada para staf, Kabag,
Kadis, Camat,Lurah dan para Kepling. Rindu pada jaka dara manis yag selalu
menjadi pagar ayuku. Rindu pada kecipak
ikan sapu kaca di sungai deli. Rindu pada gedung bertingkat yang menghalangi
jalur pesawat terbang. Rindu pada makanan ringan yang dijajakan ditepi lapangan
merdeka. Rindu pada pedagang pasar tradisional yang menjajakan dagangannya
sampai memenuhi jalanan. Rindu pada para pedagang buku bekas di sebelah timur lapangan merdeka.
Rindu orasi para buruh yang berunjuk rasa, rindu klakson dan makian supir angkot yang bersautan mengejar setoran.
Juga rindu
pada jalan Raden Saleh yang dikembalikan
menjadi dua arah setelah gagal dicoba satu arah. Soalnya macet di kesawan tak
kepalang tanggung, tapi malah sekarang dipasang polisi tidur.
Juga rindu pada anak-anak PSMS yang
hanya meraih raner-up pada Liga
Dan paling rindu pada raungan mobil
pemadam kebakaran, yang tiba-tiba menjerit-jerit dan menyemprotkan airnya
kesegala penjuru arah dan menghempaskan jidatku bersujud. Aku terendam air bah.
Padahal ketika itu tak ada yang kebakaran jenggot.
Aku tersenyum lagi ketika matahari tertawa renyah. Dan
langit memerah darah, mengantarkan gemuruh cinta didada. Melakukan
perselingkuhan pada nanah. Aku terpana berdiri tegak menunggu sahabatku yang
bernama nasib.
Sudah dimuat pada Tabloid Media Mitra Kamtibmas, Edisi 19/Oktober
2009 dan Majalah “Horas” edisi perdana Maret 2008.
Namaku Jagurdul
Orang orang disekitar terminal
Mentang-mentang aku pulang dari arah Binjai,
mungkin mereka kira aku baru pulang dari Aceh, mereka pikir aku bawa ganja. Ah,
tiba-tiba aku berprasangka buruk dengan setiap orang yang melirik.
Padahal
didalam tas itu cuma dua potong baju kotor yang kemarin aku pakai kerja jadi
tukang di Stabat Langkat. Aku bukan dari tanah rencong. Mereka semua salah
menduga.
"Hai
kamu yang duduk didekat pos itu, ngapain kau disitu ?", tiba-tiba seorang
bertubuh kekar memakai kacamat hitam bertanya dan mendekat kearahku. Belum
sempat aku menjawab, orang itu sudah tanya lagi.
"Kamu
Bogel ya ?," katanya.
"Bukan
bang .."
"Ah,
nggak ngaku pula kau. Ada yang lihat kau lompat dari truk didekat jembatan Kampung
lalang, terus naik sudako kesini, betulkan ?"
"Salah
bang, aku naik Angkot dari stabat"
"Jangan
banyak cincong kau, ayo ikut naik kemobil itu," kata lelaki yang tak
kukenal itu.
"Tidak
mau bang, namaku Jagurdul ... bukan Bogel. Maaf mungkin abang salah
lihat".
"Jangan
banyak cerita, naik saja. Nanti disana kita bicara", lelaki itu memegang
kerah bajuku sambil menyeretku seenaknya.
Aku
sampai terjerebab, terhempas ke jok mobil. Si Sopir langsung tancap gas.
"Bang
, aku mau dibawa kemana ?" kataku. Tapi orang-orang didalam mobil itu
semua diam.
"Bang,
namaku Jagurdul, bukan Bogel ....eh bang tasku ketinggalan di terminal." Seketika
mereka menoleh memandangiku dengan mata seperti geram.
"Goblok
... tas itu lebih penting dari dirimu, tau kau ? Ayo balik kanan," Salah seorang yang pakai jaket hitam menyuruh
sopirnya balik kanan.
Aku
heran. Dalam hatiku bertanya-tanya, kok tas itu pula yang lebih penting dari
aku. Padahal isinya cuma baju kotor. Wah pasti orang ini salah tangkap. Siapa
pula yang bernama Bogel, apa wajahnya mirip denganku. Macam-macam pertanyaan
datang silih berganti dibatok kepalaku. Tiba-tiba aku berteriak sekuat-kuatnya
'
"Woooiiii
..... namaku Jagurdul".
"Bangsat,
bagudung kau .... sampai pekak kupingku kau buat. Ngapain pulak kau menjerit
seperti kesetanan , ah ...?” Lelaki yang menyeretku tadi marah-marah.
Mobil yang membawa kami sudah sampai
diterminal itu kembali, aku melihat dari jauh ketempat aku duduk tadi. Kulihat
seseorang menukar tas itu, lalu orang itu cabut naik sepeda motor. Waduh, siapa
orang itu. Gerakannya menukar tas itu begitu cepat. Orang-orang yang tak
kukenal didalam mobil ini bahkan tidak melihat kejadian itu. Aku diam saja.
Ternyata benar mereka tidak tahu kalau tas itu sudah ditukar oleh orang lain.
Sejenak
aku tertegun, jangan-jangan aku yang memang tidak tahu apa yang sebenarnya
sedang terjadi. Yang pasti lelaki yang menukar tas itu memakai baju warna
kuning, sama dengan warna baju yang aku pakai.Wah, pasti mereka sudah salah,
mereka pikir aku Bogel.
"Sekarang
cepat kau ambil tas itu," Aku
segera turun dan memberikan tas itu pada orang-orang didalam mobil itu.Sejenak
kurasakan isinya berbeda, terasa lebih berat dan padat.
"Oke,
kau boleh pergi sekarang, kami mau cabut. Nah ... ini bagianmu, minggu depan
kita jumpa lagi", lelaki yang pakai jaket memberiku amplop.
Mereka
terus ngebut.Tapi didepan pintu gerbang Terminal mereka terjebak macet.
Tiba-tiba beberapa orang berpakaian preman mengepung mobil mereka sambil
menodongkan senjata api.Aku terkesima, spontan aku bergeser kebalik tembok,
bersembunyi. Tiba-tiba dadaku berdegup kencang, dengan tangan gemetar aku buka
amplop pemberian orang itu. Astaga, ternyata uang 2 juta lebih. Mereka terlalu
mahal membayar baju bekasku yang cuma dua potong. Padahal aku beli itu di
Orang-orang
disekitar pintu gerbang berkerumun mendekati mobil yang dikepung. Secepat kilat
informasi nya aku dengar ternyata mereka dikepung Polisi. Ternyata mereka
kawanan pengedar ganja. Dari tangan mereka disita barang bukti ganja kering
seberat tiga kilogram yang terbungkus rapi dalam tas plastik berwarna hitam.
Omak
jang, rupanya bajuku yang dua potong itu sudah berubah menjadi ganja kering.
Aku ingat sekarang. Pasti lelaki berbaju kuning yang menukar tas itu bernama
Bogel. Tapi kawanan pengedar ganja itu menduga aku orangnya. Untunglah aku
mereka usir dan mereka suruh turun dari mobil. Kalau tidak, pasti aku ikut
masuk penjara. Apa kata dunia ?.
Esok
pagi aku lihat ketiga orang yang ditangkap polisi, wajahnya terpampang dikoran.
Dalam beritanya disebutkan polisi saat ini sedang memburu kawanan pengedar ganja berinisial
"B".
Aku
tiba-tiba ragu dengan namaku , Bogel atau Jagurdul. Perlahan aku buka dompet,
aku ambil KTP ku. Ternyata namaku Jagurdul alias Bogel. Amangoiiiii ....matilah
aku .... kok bisa begini ?..... aku berteriak sekuat kuatnya
....wooiiiii....namaku Jagurdul.
P I S T O L
Aku terkejut sangat.
Ketika pagi hari saat terbangun dari tidur, kulihat sepucuk pistol terletak di
meja kecil sebelah tempat tidur. Pistol ?.Siapa punya ini, apa tidak salah ?
Pertanyaan timbul dibenakku.
Apalah arti sepucuk
Pistol bagi seorang lelaki pengangguran seperti aku. Yang pasti aku takut
melihatnya. Apalagi memegangnya. Barangkali ini mimpi.
“Mak, siapa yang masuk ke kamarku
tadi “ Aku memanggil Emak. Tapi tak ada
sahutan.
“Maaak …siapa yang masuk ke kamarku
tadiii ?” Kali ini agak panjang .Tapi tak ada juga jawaban.. Aku keluar kamar
melongok di pintu dan memanggil Emak beberapa kali. Tapi sepi. Jam dinding
peninggalan Bapak diruang tamu menunjukkan pukul 10.30WIB.
Astaga , sudah siang . Kalau begitu
Emak sedang ke kedai membeli sayuran, pikirku. Pelan-pelan aku mengintip keluar
rumah dari balik jendela. Sepi. Tidak ada orang melintas. Suarapun senyap.
Telingaku seperti pekak tak mendengar apa-apa.
Pelan langkahku untuk kemabali ke kamar.
Sisa kantuk di pelupuk mata masih enak untuk di pejamkan. Tapi tidak bisa.
Sebab pistol itu lebih berkuasa menari-nari dikepalaku dan membayangi setiap
kerdipan mataku.
Mungkin ini pistol mainan. Atau
paling tidak apa ya ? bingung aku. Di kamarku kok ada pistol ?
Aku jadi ingat Bandot, kawanku yang
sekarang terpaksa berkaki satu. Sebab kaki kirinya diamputasi akibat tembakan
polisi, saat kepergok merampok orang cina di pinggir rel kereta api.
Rupanya Bandot memang biang kerok perampokan yang sering
terjadi dikawasan ini. Anehnya kini Bandot tidak pernah kelihatan minder dengan
kakinya itu. Dengan tongkat tunggal yang memakai penyanggah di ketiak, ia masih
garang,masih bisa cekakakan diwarung tuak. Masih bisa duduk semalaman dengan
kartu domino ditangannya, main judi dengan rekan-rekan sampai lupa makan dan
lupa tidur.
Uniknya lagi, Bandot juga doyan
“jajan” dan paling gila dia punya banyak
kekasih gelap. Bahkan dengan bangga Bandot sanggup membuka aib istri temannya yang
tergila-gila dengannya hanya karena penasaran kepingin tidur dengan lelaki berkaki
satu. Senjata api organik repolver milik polisi yang telah memecahkan tempurung
kaki kiri Bandot.
“Jang bergerak. Kau sudah kami kepung.
Angkat tangan dan jangan coba-coba menyentuh senjata api itu,kalau kau masih ingin
hidup”
Tiba-tiba suara mengegelar menyambar
gendang telingaku. Hanya suara. Tanpa wujud. Ujung mataku melirik pistol itu.
Masih ada. Pelan-pelan aku coba berputar ke arah jendela.
“Jangan bergerak. Ku tembak kau
nanti !” Suara itu terdengar lagi. Aku tidak meliahat siapapun. Jendela yang masih
terkunci itu belum sempat aku buka.
“Sekarang duduk menghadap pintu.
Letakkan tangan dipungguk dan jongkok, cepat !”
Perintah suara itu aku turuti,
sambil terus mencari-cari dari mana datangnya.
“Sekarang katakan sejujurnya. Mengapa hanya karena
kelaparan dan karena tak memiliki uang untuk mabok, kau sanggup membunuhku ?”
Suara itu bertanya.
Sekarang aku sadar, itu suara wanita
yang sudah mati. Elisa, ya benar . Perempuan berparas ayu yang senang dengan
kehidupan duniawi. Hidup baginya adalah kesenangan,hingga siapapun yang
mengancam hidupnya dijadikan tantangan. Tidak pelak lagi, ia menjadi wanita
malam, pindah dari pelukan lelaki ke lelaki lainnya. Dan aku pernah begitu
tergila-gila , dengan goyang mautnya. Dengan basuhan liurnya yang memiliki
aroma tersendiri. Elisa terlalu membanggakan aku. Aku baginya adalah
pahlawan kehidupan, hingga seluruh
penghasilannya dipersembahkan untukku. Dan ketika ia butuh kemerdekaan, ia
pergi begitu saja tanpa pesan.
Setahun lebih aku tak ketemu Elisa.
Selama itu pula aku bagai kehilangan tongkat. Tidak tahu harus berbuat apa.
Ketika tiba-tiba disebuah tempat hiburan malam, Elisa muncul dan mendekapku
erat-erat. Mencurahkan isi hatinya yang sedang limbung karena tersiksa keadaan.
Ia mengira aku masih seperti dulu. Padahal aku sangat membencinya dan pernah
berniat membunuhnya kalau bertemu.
Aku ikuti apa maunya Elisa dalam
permainan maut itu. Sampai pada sebuah kamar hotel, Elisa masih saja mendekapku
erat sekali.
“Aku pasrah. Menurut dokter
penyakitku sudah tak terobati. Sekarang terserah kau saja, kalau bisa bunuh
aku” kata Elisa saat itu. Aku diam saja berdiri disisi ranjang, sementara ia
duduk memeluk pinggangku. Ia tidak melihat wajahku yang geram dan melotot ke
arahnya.
“Kenapa sekarang baru kau katakan,
setelah kau tularkan kuman itu ke tubuhku. Bangsat !. Dasar perempuan murahan,
mati sajalah kau sekarang !”
Aku ingat. Lehernya kucekik hingga
nafasnya terhenti dan nyawanya terlepas dari tubuhnya. Elisa jadi seonggok
daging berbentuk manusia yang tak memiliki arti.
Orang lain tidak pernah tahu kalau
aku sudah membunuhnya. Aku cicing. Pergi dari satu
Aku pulang kampung. Selain rindu
dengan Emak, sekalian mencari obat kampung yang memungkinkan bisa mengurangi
sakit yang kuderita.
Emak tampak senang karena aku
pulang. Tapi ia sedih karena tak dilihatnya lagi kecerahan seperti masa
kecilku. Dasar perempuan baik, ia tidak bisa marah. Dengan ekspresi yang
lembut, tetap saja Emak menunjukkan kasih sayang. Kalau Emak marah biasanya
cukup dengan diam. Aku tahu betul soal itu.
Seperti dulu Emak masih pergi belanja kalau pukul sepuluh pagi. Biasanya
lalap-lalapan tak lupa dibelinya, selain ikan asin dan belacan untuk sambalnya.
Aku suka masakanEmak. Aku suka
Bapakmemberikan kebebasan yang
kusalah artikan. Sementara Emak terlalu lembut untuk mempengaruhi kenakalanku.
Konon saat aku kecil, aku pernah dengar Bapak punya pistol. Tapi sekalipun aku
tak pernah melihatnya, apalagi memegangnya.
Barangkali pistol dikamarku itu
peninggalan Bapak, yang di simpan Emak. Biar nanti aku tanya Emak.
Langit di kamarku tiba-tiba berwarna
pelangi. Sesekali kabut hitam melintas. Dan setumpukan pasir masuk kemataku. Aku
sempoyongan. Tubuhku seakan tak bertulang, lumpuh. Dan saat itu pistol diatas
meja kecil sudah pindah kegenggamanku.
“Dor…. !!!!”
Letusan senjata api disusul
tumpahnya darah segar bercampur otak, berserak di kamarku. Lalu sepi. Emak
belum juga pulang belanja. Tetangga berdatangan satu persatu. Mereka
bisik-bisik, katanya Emak sedang cari pembeli senjata api. Emak bilang pada
tetangga pistol itu akan dihadiahkan untukku, jika aku berhasil di perantauan
dan jadi orang penting serta berduit. Untuk melindungi diri, alasannya. Tapi
bisa juga untuk obat seperti yang aku derita. Emak telah menolong aku.
Sudah di Muat pada
Rubrik “Seni Budaya” Harian Analog
Terpiliah sebagai
cerpen Satrawan Dua Negara Indonesia dan Malaysia
Dimuat dalam antologi
“Muara”pada pertemuan sastarwan “Dialog Utara IV”tahun 2001.
MALAM DI GUYUR HUJAN
ORANG-orang lari
mencari tempat berteduh. Seiring petir menyambar. “zzzz….zzzzz……cctarrrrr” lalu
“bummm” Pohon mahoni di tepi jalan protokol roboh ke arah badan jalan. Menimpah
sebuah mobil sedan merk ternama. Kaca belakangnya pecah dan bagasi peot hingga
kedua ban depan terangkat.
Pengemudinya seorang wanita cantik
menjerit minta tolong. Betapa terkejutnya ia. Jarak semeter lebih kedua ban depan
mobil itu tergantung di udara, tidak berputar lagi. Tapi kedua tangan wanita itu
membelok-belokkan setirnya, sehingga kedua ban itu seakan menoleh ke kiri dan
ke kanan.
Mobil yang berada dibelakangnya sempat berhenti
mandadak. Waktu itu aku sampat spontan memijak pedal rem. Meskipun bomber depan
sedanku tercium sedikit batang mahoni karena terseret dijalan yang basah itu.
Tapi aku tidak fatal seperti sedan yang tertimpah pohon mahoni.
Waktu itu jalan agak sunyi. Untung
saja jalan protokol itu satu arah. Kalau aku tidak salah hanya ada
Aku turun dan berlari melihat dari
dekat kondisi sedan dan seorang didalamnya. Hujan sangat deras. Sambaran petir masih
tersisa. Tapi tidak se dyahsat ketika angin bertiup kencang mencabut akar pohon
mahoni yang sudah berumur puluhan tahun itu.
“Tolong pak …. Bagaimana ini ?” Wanita
pengemudi sedan itu berteriak, setelah menurunkan kaca pintunya.
“Tenang non, sebaiknya jangan turun.
Saya segera cari bantuan “ Kataku dalam keadaan basah kuyup.
“Saya mau turun …tolong …bagaimana
ini ?”
“Oke … silahkan buka pintunya dan
turunlah, saya Bantu”
“Ini, tolong pegang payungnya “ Wanita
itu memberikan payung yang diambil dari bawah tempat duduknya.
“Ayo .. turunlah … secepatnya kita
minta bantuan polisi “ Wanita itu membuka pintu mobilnya dan keluar ragu-ragu.
Sambil meraih tas sandang berwarna coklat.
“Mari saya bantu, pegang tangan
saya” Aku menyodorkan kedua tanganku sambil memegang payung milik wanita itu.
Aku sangat terkejut. Wanita itu
melompat dan memelukku erat-erat. Astagfirullah ….., tubuhnya gemetar ketakutan.
Amboi… siapa sebenarnya wanita
ini. Kok begitu berani dia memelukku. Aku sungguh tak menyangka. Bukan apa-apa.
Yang pasti dia bukan muhrimku.
“Sudah tenang, sekarang kita cari
tempat yang aman” kataku berusaha menyeberang jalan.
“Bagaimana, supirnya tidak apa-apa
?” Tiba-tiba suara seorang lelaki berjaket hitam bertanya. Lelaki itu turun
dari mobil VW yang berhenti dibelakang mobilku.
“Nona ini yang menyetir, dia tidak
apa-apa” kataku.
“syukurlah …kalau begitu saya segera
hubungi polisi lalu lintas” Lelaki itu kembali kemobilnya. Lewat telepon gengam
ia melapor ke Polisi.
Hujan masih deras. Angin berhembus
kencang. Sesekali petir menyelingi.
Malam di guyur hujan.Kunang-kunang
tak berani terbang indah. Tapi kodok berpesta, mulai bersahutan bernyanyi
merdu.Wanita itu masih saja mendekapku. Kami duduk berteduh dihalte sekitar
sepuluh meter seberang jalan.
“Yang penting Nona selamat, mobil
yang rusak bisa di perbaiki” Kataku menghibur agak berbisik ditelinga wanita
berambut sebahu itu.
“Ya … terima kasih. Bukan mobil itu yang
saya pikirkan.Tapi kejadian itu yang tidak dapat saya bayangkan. Seandainya
pohon itu menimpah kepala saya, mungkin saya sudah mati …oh… terima kasih ya
Alllah, Kau telah melindungi dari mara bahaya” Wanita itu menangis. Aku jadi
ikut sedih.
Aku tidak bisa melihat wajah itu
dengan jelas karena gelapnya.Biasanya kawasan itu jika malam terang benderang
dengan lampu mercury.Tapi malam itu lampu padam, sebab tiang mercury yang
diseberang mohon mahoni itu patah kena ranting dan dedaunan rimbun hingga
terhempas kejalan.
Sesaat malam terasa lengang. Satu
dua mobil yang terjebak pohon tumbang langsung balik kanan Lelaki berbadan tambun yang tadi melapor ke
polisi juga telah meninggalkan tempat kejadian.
“Non, bagaimana kalau kita berteduh
di dalam mobil saya. Soalnya angin terlalu kencang di sini” Aku menawarkan
kehangatan lain. Wanita itu mengangguk setuju, sementara ia menggigil bibirnya pusat pasih.Kami
berlari-lari kecil dibawah payung menuju mobilku.
Se saat kami sudah didalam mobil.
“Maaf saya harus ganti baju” Aku
mengambil tas olahraga yang berada di jok belakang. Ada dua potong t-shirt
didalamnya, selain raket tennis, handuk kecil dan tiga bola tennis yang masih
baru, juga permen mint kesukaanku.
“Pakai handuk ini “
“Terima kasih Bang saya jadi
sungkan. Untung ada abang menolong saya”
“Ah, ini kebetulan saja. Tapi yang
pasti malam ini saya dapat teman baru. Ini permen enak, ambillah” Sambil
ngomong aku sudah ganti baju yang basah dengan t-shirt warna putih.
Sementara mobil patroli polantas dan
sebuah mobil derek sudah tiba. Hujan berkurang lebatnya, tapi angin sesekali
berhembus kencang. Lampu rotator mobil patroli terus hidup berputar dan
meraung-raung, kelebatan sinar warna biru itu sesekali menerpa wajahku. Seorang
petugas memakai mantel putih mendekati kami.
“Selamat malam pak. Apakah sopir
atau penumpang mobil sedan itu ada yang cedera ?”
“Tidak pak. Nona ini yang mengemudikan mobil itu.
Kebetulan hanya sendirian,” Sambil turun dan memakai payung, aku memberikan
kesaksian. Petugas itu mendekatkan wajahnya melongok sambil menyenter wajah
wanita itu.
“Maaf non, anda benar-benar tidak
sakit ?. Oya siapa nama nona ?” Dua pertanyaan sekaligus dilontarkan oleh petugas.
Aku memasang telinga. Soalnya pertanyaan itu mewakili keinginanku untuk sekedar
tahu siapa namanya.
“Ya, saya nggak apa apa, Cuma
terkejut. Namaku Sri Suharningsih, panggilanku Nining”. Kata wanita itu dengan
senang hati.
“Baiklah Dik Nining, Mobil anda kami
gerek kekantor. Besok pagi temui saya di
Aku sempat terpelongo. Kok petugas
Polantas itu tidak menanyaiku sedikitpun. Mungkin dia pikir aku sudah kenal
dengan Nining. Padahal dari dia aku tahu bahwa wanita itu bernama Nining.
“Maaf bang, jadi merepotkan”
“Nggak apa-apa” Aku duduk dibelakang setir. Kedua tanganku
membasuh wajahku dan kuusapkan ke kepala, mendorong rambutku yang masih basah.
Nining menyodorkan handuk kecilku
yang masih ia pegang. Aku gagap, lalu mengambil dan mengeringkan rambut dengan
handuk itu.
“Oya, nama saya Nining. Nama abang
siapa ?” ia menyodorkan tangannya.
“Bahar …biasa nya temanku selalu
memanggil, har saja” kami bersalaman.
Hangat terasa. Seperti ada aliran listrik yang menyengat. Aku cepat manarik
tanganku, mengalihkannya kehanduk dan mengusap rambut.
“Besok, setelah selesai urusan
dengan polisi, sebaiknya segera bawa ke bengkel. Sayang mobil itu” aku coba
memecahkan keheningan.
Nining sepertinya terus memandang ke
arahku. Aku berusaha tersenyum.
“Kenapa, ada yang aneh, sehingga
nona memandangku seperti itu ?”
“Bukan aneh, tapi luar biasa”
“Nggak juga,biasa-biasa saja”
“Maksudku pertemuan ini luar biasa”
“Ini namanya kebetulan”
“Terus ?”
“Maksudnya ?”
Nining tersenyum manis. Baris
giginya yang putih terlihat. Aku berusaha menguasai diri. Sok paten, padahal
akupun salah tingkah.
“Sekarang bagaimana ?. Apakah Nona
Nining mau di antar pulang ?. Oya rumahnya di mana ya ?”
“Nggak usah diantar, nanti
merepotkan abang”
“Lalu, bagaimana sekarang ?”
“Kita makan bakso yok “
“Boleh”
Tidak jauh dari tempat kejadian itu,
ada sebuah warung bakso yag banyak pembelinya. Kami singgah dan memesan dua
porsi. Seperti sudah berkenalan lama, kami duduk berhadapan menikmati bakso dan
segelas teh manis hangat.
Di warung itu, barulah tampak jelas
wajah Nining. Wajahnya begitu bersih, lehernya jenjang menopang rambutnya yang
sebahu. Sesekali ia menyibakkannya dengan ujung jemarinya. Aku tak berani
menatapnya lama-ama, cuma curi pandang saja.
Nining memakai t-shit warna merah
bata, pada bagian dalamnya terbungkus manshet ketat lengan panjang warna
orange. Ditelinganya ada anting bulat
terjuntai indah. Blue jeans ketat dipadu sepatu kate, mendukung penampilanya,
terlihat sempurna.
“Bang, terimakasih sekali lagi ya.
Aku tidak tahu harus bilang apa. Soalnya abang telah meluangkan waktu untuk menolongku”
“Ya, sama-sama. Terimakasih juga
sudah mau menemani makan bakso” kataku enteng, sambil senyum sedikit.
“Ah,abang humoris juga. Dia yang
ngajak makan kemari, kok” Nining sambil tertawa renyah.
“Nanti kalau ada waktu, abang kontak
aku”, Kata Nining sambil memberikan kartu namanya.
Aku baca. Cuma ada namanya, nomor
hapenya dan emailnya. Itu saja.
“Terima kasih, Insya Allah abang
bisa kontak adik Nining” Kataku datar saja.
Tapi ia seperti tertegun, menatapku.
Ah, aku jadi malu.Ia lalu senyum penuh arti.
“Setelah makan, mau diantar pulang
?”
“Tidak usah, biar nanti aku cari
taxi saja”
“Sungguh ?”
Nining cuma mengangguk lembut dan
tersenyum manis. Duh, senyuman maut, luar biasa indah dan menawan. Tapi
secepatnya aku berpaling, untuk menghindar dari pikiran macem-macem yang bikin
pusing kepala. Kamipun berpisah.
***
Sekitar sepekan berlalu. Ketika
melitas didepan kantor Polantas, aku teringat Nining. Aku masuk kehalaman kantor
itu, memperhatikan mobil ringsek yang
menjadi korban kecelakaan lalu lintas. Tak ada mobil sedan.
“Maaf pak, mobil sedan yang
tertimpah pohon mahoni waktu hujan lebat
seminggu yang lalu, sudah diambil pemiliknya ?”
“Sedan tertimpah pohon mahoni, rasanya
nggak ada. Lagi pula seminggu ini tidak pernah hujan kok. Apa nggak salah ?”
Kata petugas Polisi yang sedang piket.
“Itu loh, yang minggu lalu.
“Nggak, disini nggak hujan sudah
hampir dua bulan” kata polisi itu.
Aku tercengang. Aku buka dompet
mencari kartu nama Nining. Aku kontak nomor hapenya, nggak nyambung. Tanpa
banyak cerita, aku pergi meninggalkan polisi itu, ia tampak keheranan dengan
sikapku yang terburu-buru.
Tidak hujan ?. Yang betul saja. Aku
tancap gas menuju Tempat Kejadian Perkara dijalan protokol yang pohon mahoninya
tumbang. Ternyata benar. Tidak ada pohon mahoni yang akarnya tercerabut dan
tumbang.
Aku terjerebab di jok, menggenggam
setir erat-erat. Menatap kosong kedepan,sementara kendaraan lalu lalang dengan
kencang.
Pelan, mobilku merangkak, menelusuri
ruas jalan itu, lalu membelok kekiri, mencari warug bakso tempat kami berpisah.
Tidak ada. Tepat ditempat yang aku yakin sebagai warung bakso, ternyata berdiri
bengkel sepeda motor merangkap tempel ban.Aku berhenti.
“Tambah angin bang ?” orang disitu
menawarkan dagangannya.
“Ya, ban belakang sebelah kanan”.
Aku terhenyak, memperhatikan lokasi itu. Rasanya tidak mungkin dalam tempo
sepekan, sudah berubah.
“Numpang tanya dik, apakah disekitar
sini ada warung bakso ?” kataku sambil memberikan uang recehan seribu rupiah,
bayar angin.
“Warung bakso nggak ada bang”
“Seminggu yang lalu, saya makan
disekitar sini, waktu hujan deras”
“Salah bang, disini sudah hampir dua
bulan tidak hujan. Lihat itu debu dijalan beterbangan kalau ada mobil dan truk
melintas”.
“Jadi betul nggak ada warung bakso
disekitar sini ?”
“Masih rencana bang, seminggu yang
lalu memang ada sepasang pengantin baru yang ingin membuka warung bakso di
sekitar sini. Katanya sih, disitu di dekat pohon mahoni yang di depan kuburan
itu. Tapi sampai sekarang orang itu nggak pernah datang lagi bang”
Aku tertegun. Diam. Menatap jauh
kearah yang ditunjuk tukang tempel ban itu. Sebatang pohon mahoni berdiri tegar
didepan perkuburan muslim. Sepasang pengantin katanya ingin membuka warung bakso
disana.Ning dimana kau. Aku jadi rindu. Siapa kau sebenarnya.
Sudah di Muat pada Rubrik “Resam”
Harian Andalas,tahun 2005
.
A I R S U C I
Mimpi kali ini bagiku adalah sebuah malapetaka. Sebab
tenagaku seperti terkuras, lelah dan
membuatku terkulai. Akupun menarik nafas panjang, mengambil
ancang-ancang untuk kembali memulihkan tenaga. Tapi tidak bisa. Ternyata aku
baru saja melampaui perjalanan panjang melintasi
Terlalu lama aku mendambakan mimpi itu. Terlalu lama aku
mengekang birahi, menjaga kesucian ini. Hanya ingin membuktikan pada diriku
sendiri, tubuhku sendiri, rahasiaku sendiri, pikiranku sendiri,ruh-ku sendiri, sebagai sebuah dunia yang menyimpan benih
kehidupan bernama air suci.
Jangan main-main dengan spermamu. Jangan kau hancurkan kesucian
yang terkandung dalam spermamu. Jangan sekalipun kau memuntahkannaya disembarang tempat. Jangan, sekali
lagi jangan. Sebab disitulah kehidupan anak cucumu.
Amboi enaknya menyimpan rahasia ini. Tak seorangpun tahu,
betapa kejantananku selalu memuncak, namun aku mampu mengendalikan arah,
sehingga aku tetap bisa terbang tinggi. Aku menjadi pilot yang sejati.
Menguasai penerbangan hidup yang kian penuh tantangan dari hari kehari.
Akulah
nahkoda bahtera yang mampu menerjang badai, menaklukkan gelora gelombang yang
menghempas setiap jenggal lautan. Memecah buih, menyingkirkan segala perasangka
yang datang silih berganti. Menepiskan khayal pada nuansa yang menggiring
birahi terbang keawan.
Jagat ini sebuah bola panas yang menggelinding kencang,
hingga tak kentara putarannya. Tak menggeser posisi duduk dan berdiri segala
yang berada diatasnya.Aku merasakan betapa berat beban yang kugenggam, sehingga
aku menyimpan beban itu pada sebuah tempat yag sangat terjamin keselamatannya.
Tak ingin orang lain tahu, bahwa kesucianku diatas segala yang aku punya.
Kemarin orang berkata bahwa perjalanan hdup tak lebih dari
langkah, rezeki, pertemuan dan maut. Akupun mengangguk dan tertunduk.
Menghitung setiap persendianku, menemui 204 sambungan yang kusisipkan dengan
zikir menyebut nama Allah.
Ya Rabb, aku menghadapkan wajah sebagai hamba yang hina.
Sejumput harap kupinta dengan tulus. Hening dan menghujam kejantung, hingga
qolbu meretas kesucian, putih seperti kapas tanpa noda, lembut sebening embun pagi.
Hari ini kuacungkan jemari telunjukku, memilih jalan untuk
memimpin petualangan indah, menelusuri perjalanan panjang, tanpa batas.Menempuh
titian yang berkabut, membelah gunung salju, dan menaklukkan tebing terjal
tanpa pepohonan. Di mana setiap jengkal perjalanan diiringi tetesan keringat
perjuangan.
Jauh mata memandang menembus awan hitam dikaki langit. Aku
menepis lambaian tangan bidadari bersayap putih. Menyentuh setiap penghuni
jagat raya yang tersenyum dan berputar pada garis orbitnya. Berpelukan dengan
pelangi yang membingkai indahnya garis khatulistiwa. Dimana kesepian mampu
kuatasi dengan senyum ikhlas.
Pada setiap denyut nadiku, bersatu namaMU. Kutelusuri
keimanan yang semula liar dan tak bergetar. Perlahan ku giring keyakinan menuju
satu titik disudut qalbu yang paling dalam. Aku tercengang. Aku terhenyak. Diam seribu bahasa. Tak dapat
menghitung setiap angka. Tak dapat mengeja setiap kata. Sendiri akhirnya
kutemui apa yang aku cari.
LELAKI PEMBERANI
Sudahlah
jangan kau tangisi perpisahan ini.Bukankah sudah kukatakan semua perasaan isi
hatiku. Bahwa kau yang terbaik, kau yang paling mengerti akan perasaanku. Jadi
sudahlah biarkan semua berlalu di telan waktu.
Entah
apalagi yang harus kukatakan kepada orang orang yang ku cintai. Bahwa hari ini
sesungguhnya merupakan perjalanan waktu yang tidak obahnya seperti hari
kemarin. Tapi memang jika dirasakan, ternyata ada sesuatu yang hilang dari
pandangan, hilang dari perasaan, hilang dari belaian, hilang dari pelukan,
hilang pula dari ciuman.
Tapi
ketika kusadari bahwa sesungguhnya itulah sebuah keindahan. Maka derai tawa,
canda dan perasaan saling mencinta yang pernah tumbuh di antara kita tidak
dapat ku pendam. Betapa hari-hari yang lalu begitu mempesona. Oh, rasnya aku
ingin berlari ke pantai, mengajak semua orang yang kucintai untuk bersatu di atas perahu impian.
Berlayar bersama mengarungi gelombang laut yang tidak pernah dendam.
“Sebaiknya kita pergi juga
meninggalkan
“Kau
mau ikut ?” Ronggo bertanya padaku dengan pandangan berharap cemas.
“Tidak.
Terlalu cengeng kalau kita harus ikut pergi. Itu berarti
Ronggo
diam. Ia merogoh saku celana jeansnya yang sudah kumal. Sedikit senyuan ketika
tangannya meraih sebatang rokok bentul, pemberian Irawan kemarin sore.
“Kau
masih merokok ? Tapi kau janji tidak akan merokok”
“Ini
mu gkin yang terakhir, pemberian Irawan,sahabat kita. Lelaki pemberani itu
telah memaksaku untuk mengisapnya kemarin sore.Tapi aku tak mau. Jadi rokok ini
aku terima sebagai cendera mata” Kata Ronggo. Aku geli mendengarnya.
Ronggo
begitu menikmati rokok itu. Sebelum dibakar dan di hisapnya, ia sempat menciumnya
dalam-dalam dengan cara menggesek-gesekkan kelubang hidung.
Sejurus
kemudian Ronggo berceloteh. Ia bilang bahwa
sekian banyak temannya yang telah lama menetap di
Ronggo
juga bilang kalau suatu hari ia pernah berjalan dengan Irawan menelusuri
lorong-lorong
Aku
sangat tertarik dengan cerita Rongo. Sebab aku juga pernah jalan dengan Irawan
suatu malam. Sekedar cari angin dan minum kopi di warkop. Sebab selain merokok
bentol, lelaki itu juga senang minum kopi.
Soal
temperamennya yang keras dan anti dengan kejahatan memang terlihat dari
sikapnya yang selalu merasah risih, kalau melihat orang lain memandang bengis
ke arah kami. Apa lagi seakan hendak melakukan kejahatan, dengan cepat aku
diminta waspada dan menjaga diri. Rasanya semua orang ketika itu bisa menjadi
teman. Namun detik berikutnya menjelma menjadi musuh paling mengerihkan.
Tingkat kewaspadaan itu sangat tinggi, sehingga ia tidak mudah percaya begitu
saja dengan orang lain.
Aku
jadi teringat Syamsul dan Prawoto. Kedua lelaki itu pernah begitu dekat dengan
Irawan, tapi keduanya lebih dahulu pergi meninggalkannya merantau ke luar
“Sebenarnya
dia biasa-biasa saja seperti kita juga.
Tapi memang situasi saat ini sangat cocok dengan sikapnya yang cuek dan
ternyata banyak betulnya” Kata Ronggo.
“Maksudnya
situasi saat ini ? Kenapa rupanya ?”
“Ya
sekarang inikan berbeda dengan dua tahun yang lalu.Ketika itu sebagain besar
lelaki di
Mendengar
cerita itu, aku memilih diam sebab Ronggo sudah mulai menyinggung perasaanku.
Ia menyindir, dan aku merasakan juga
betapa mengerihkan saat itu. Tapi sudahlah.
Aku
ajak Ronggo main catur. Sebab permainan itu dapat menenangkan pikiran yang
ruwet. Tapi Ronggo menolak, sebaliknya dia bilang itu itu justru permaiann yang
akan bikin kepala tambah pening.
Aku
ajak ia main tennis meja. Ia menolak mentah-mentah, alasannya macem-macem.
Padahal ia tak pernah menolak kalau Irawan yang mengajaknya sekedar cari keringat.
“Sudah
jangan kau paksa aku mengingat semua kebiasaan yang selalu dilakukan Irawan. Kita
carilah permainan lain, biar aku bisa menerima kepergiaannya” Kata Ronggo
berbisik.
“Dia
tidak pergi kemana-mana kok. Kapan saja bisa kalau dia mau balik ke
“Bukan
itu persoalannya, justru aku takut
“Kamu
jangan cengeng. Siapa saja bisa memiliki keberanian seperti yang ia tunjukkan selama ini. Persoalannya
kita mau nggak ?”
Ronggo
diam lagi. Ia menatap lorong-lorong
hitam di inti
Ronggo
menerawang dan memusatkan pikirannya dalam titik itu. Ia masuk kedalam suasana
baru. Terbang di atas
“Ya
sudahlah, kamu sekarang harus bisa jadi dirimu sendiri. Biar tidak mudah di
tindas oleh orang lain” Tiba-tiba suara itu terdengar dari langit menusuk
gendang telinganya. Ronggo melompat dan berhasil meraih bintang di langit, lalu menyerahkannya kepada Irawan.
Sahabatnya yang pemberani.
JANGAN BILANG AKU PREMAN
Petir menyambar dahsyat dan menghantam tiang listrik di
depan warung kopi. Seketika susulan suara ledakan terdengar, buummmm. Ternyata
travo listrik yang di topang dua tiang beton itu meledak. Orang-orang terkesima
sejenak. Gelap menyusul. Lampu padam, tapi orang-orang tidak kelabakan. Sebab
mereka terbiasa dengan kegelapan yang acapkali terjadi ketika “musim mati lampu”
di
“Sudah
tenang saja, nanti petugas PLN juga datang membetulkan”
“Tenang
ya tenang , tapi kita harus cari lilin. Korek api di mana tadi?”
Memang
tidak terlalu gaduh pembicaraan yang menyangkut soal gelap itu. Apalagi hujan
turun cukup deras. Hanya dalam hitungan menit, ruas jalan didepan warung itu
sudah tergenang.
Aku masih
sempat menghirup kopi. Tapi tiba-tiba aku ingat istri dan anakku di rumah pasti
mereka kegelapan. Atau paling tidak si
kecil terkejut dan menjerit
karena suara ledakan tadi.
Aku
melompat bergegas menyambar sepeda motor
RX King yang kuparkir di samping warung, mengengkolnya dan terus cabut menuju
rumah. Sengaja kopinya tidak ku bayar karena besok aku nongkrong lagi di warung
Mang Jukri tempat mangkal para penarik ojek.
Di
perjalanan pada simpang kedua sebelum sampai kerumah, aku ketemu Jarot, sahabatku
yang selalu teler dan memiliki keberanan berlebihan kalau sudah menenggak alkohol.
“Nagapain
kau di situ ?” kataku.
“Jon
tolong pinjamkan keretamu, malam ini aku mau merampok !” katanya. Yang dimaksud
kereta adalah sepeda motor, biasa orang
“Aneh
kau, mau merampok kok bilang-bilang. Ya jelas aku nggak kasih. Lain kali kalau
mau merampok jangan terlalu jujur.
Bilang mau keperluan yang lain, pasti akau pinjamkan”
“Jon,
kau ingat Babah Cun di seberang sungai
“Maaf
rot. Aku harus pulang. Kau pinjam saja kereta orang lain” Aku berusaha
meninggalka Jarot.
“Ah,
sok kalipun kau. Tuggu dululah, ku tepuk pula moncongmu itu, baru kau tahu”
“Bagus-bagus
kau cakap ….jagan sok preman, jangan ngemop-ngemop begitu”
“Jadi
belum tau kau rupanya siapa aku ? Tapi jangan bilang siapa-siapa kalau aku
preman. Gawat nanti. Kalau ada yang kibus, terus di SMS ke Polisi, matilah aku
di tangkap Tim Pemburu Preman”
“Kau
mabuk kok ingat tim pemburu preman pula. Dasar bagudung kau”
“Tunggulah
Jon. Aku serius ini. Babah Cun lagi banyak uang, Sedangkan aku bokek tak punya
uang, apa salahnya kau berbaik hati pinjamkan keretamu itu. Sebentar lagi malam
tahun baru, kalau bokek alias kantong kempes, mana bisa enjoy kita nanti”
“Jangan
pikir macam-macam, itu namanya menghayal.
Sudalah aku cabut dulu !”
“Kau
nggak percaya ya sudahlah. Pelit kalipun kau …” Jarot gusar, sementara aku
pulang kerumah.
Hujan
malam itu ternyata tajam-tajam, buktinya mampu menembus atap nipah rumahku yang
mulai rapuh dan bocor. Roni anakku yang lelaki cuma bilang kalau ia sudah
menyisip atap yang bocor dengan kertas karton, sehinga di kamar dan ruang tamu
tidak basah. Sedangkan adiknya Rina tertidur pulas di kamar.
“Mamak
kemana ?”
“Tadi
katanya mau kerumah Wak Anto, mau pinjam beras,” kata Roni enteng saja.
“Pinjam
beras ?” Aku langsung ke dapur dan
membuka ember plastik tempat menyimpan
beras, kosong. Aduh !
Aku
menarik nafas panjang. Hari ini memang apes betul, tidak ada sewa ojek.Uang
untuk modal beli bensin hanya cukup untuk besok. Aku berusaha tenang, memang
kalau pinjam dengan abangnya, istriku selalu dapat pinjaman. Biarlah,kenapa
mesti malu, toh kalau ada uang nanti aku ganti.
Suasana
gelap di rumahku. Hanya diterangi dengan lampu sentir dari botol munuman
suplemen.
“Pak,
kok listriknya mati lagi ya ?”
“Bukan
salah PLN, tapi travo yang di simpang
Sejurus
kemudian Ranti istriku pulang dengan
membopong sekilo beras didalam pelastik keresek . Aku menatapnya haru. Ranti
senyum dan langsung ke dapur..
Sampai
tengah malam, belum ada petugas yang datang memperbaiki travo yang meledak.Aku
memastikan besok baru mereka memperbaikinya.
Selepas
hujan turun, bulan mulai menampakkan diri di langit. Malam itu agak terang di
banding malam sebelumya.Setidaknya menerangi jalanan yang tanpa pohon rindang. Dengan jarak sepuluh meter terlihat
orang-orang yang melintas.
Setelah
Roni dan Rani tidur, aku coba keluar rumah, berdiri di tepi jalan mengisap
rokok keretek yang tinggal sebatang.
Tiba-tiba sekelebat bayangan mendekati aku.
“Kok
di luar sendiri ?” ternyata Jarot yang datang.
“Mau
kemana kau ?’ tanyaku sedikit terkejut dengan kehadiranny yang tiba-tiba.
“Ayolah,
kita mainkan Babah Cun, kita sikat uangnya. Telak kali ini, aku jamin kita
pasti berhasil”
“Jangan
rot, kau jangan coba-coba kembali membangkitkan kenangan masa laluku.Sudahlah
cukup aku saja yang merasakan pahitnya hidup
menjalani hukuman di lembaga pemasyarakatan. Sejak kawin dengan Ranti aku sudah
bertobat. Aku sangat menghargai kesetiaannya. Apa lagi ia selalu merahasiakan kepada anakku bahwa bapaknya mantan perampok
sadis yang penah di hukum”
“Kalau
kita senang dan punya duit banyak, aku tidak pernah mengajakmu seperti ini.
Tapi sekarang kita sedang susah, sementara Babah Cun punya banyak uang. Kalau
kita minta , tidak mungkin dia kasih. Jadi apa salahnya kita rampok saja. Terus
kalau berhasil, uangnya kita bagi-bagi sama saudara kita yang miskin dan
kelaparan”
“Jangan
sok jadi pahlawan. Sekarang bukan zaman si Pitung atau zamannya Robinhood. Sekarang bukan zaman kuda makan besi, tapi kuda
sekarang bisa main catur dan main computer. Sekarang saatnya bangkit dari kemiskinan dengan cara bekerja. Pokokmya aku ngak mau.
Sudahlah pergi dan tinggalkan aku sendiri” Aku masih berusaha lembut.
“Ya
sudahlah kalau kau tidak mau. Biar aku sendiri yang melibasnya. Kau jangan menyesal kalau aku
berhasil nanti ya !”
Jarot
pergi begitu saja . Berjalan kaki menuju ke arah sungai, sempoyongan karena sudah mabuk berat. Mungkin akan melintasi
jembatan dan menuju rumah Babah Cun, lalu ia akan merampoknya.
-0-
Pagi
aku bangun kesiangan . Tidur terlelap di atas kursi tamu membuat Ranti tidak
berani membangunkan aku. Tapi aku tersentak ketika ku dengar orang-orang di
sekitar rumahku berkerumun dan bergegas menuju arah sungai.
“Pak,
orang-orang sibuk ke sungai, katanya
melihat Bang Jarot bunuh diri . Mayatnya tersangkut di semak-semak belakang rumah Babah Cun.
Aku
seperti di sambar petir. Tiba-tiba suara Jarot seperti berteriak menggelegar
menghentakkan gendang telingaku.”jangan bilang aku preman !” Kata-kata itu
membutakan mataku.Memekakkan pendengaranku. Ranti memelukku, keheranan.
“Kalau
tadi malam dia abang antar, mungkin tidak mati,” kataku.
“Dia
minta antar untuk bunuh diri ?”
“Hus
..sssttt,” aku minta Ranti tidak bertanya lagi dan dia patuh. Sebab aku telah
berjanji pada diriku sendiri tidak akan mengatakan pada siapapun kalau Jarot itu bajingan.
Bahkan aku masih merahasiakan bahwa orang yang membunuh dan memperkosa istri
toke roti 15 tahun lalu diseberang kampung, adalah Jarot.
Wakti
itu aku ikut mengantarnya naik kereta
“astuti” alias astrea tujuh tiga. Ketika kepergok di kepung
har_adexinal@yahoo.co.id
No comments:
Post a Comment