Sunday, 9 November 2025
Tuesday, 7 October 2025
インドネシア、あかしろのわたしのくに
インドネシア、あかしろのわたしのくに
いんどねしあ、いんどねしあ
このくにで わたしは うまれ
このくにで わたしは そだち
このくにで わたしは つかむ
あらゆる ゆめ
あらゆる きぼう
あらゆる こころざし
そして あい
---
いんどねしあ、いんどねしあ
あなたは もっとも うつくしい にわ
やさしくて あたたかな はは
あいと いつくしみに みちて
よろこびの なかにも
かなしみの なかにも
---
いんどねしあ、いんどねしあ
ねむる まえの かしこき いのり
すべての しょくじや あまみの なかの さとう
ひかりを てらす ひかり
あかさも あいまいさも てらすもの
えや おりものの なかにある
すべての いろの ちょうてん
---
いんどねしあ、いんどねしあ
きずを いやす くすりの ように
やすらぎの とこ、しずかな やどり
かなしみを あらい ながす みずうみ
めの なかの ほほえみ
ひとみを とじても かがやく
---
いんどねしあ、いんどねしあ
かーにばるの ぎょうれつに つづく じょうねつ
はしりまわる こどもたち
さんばしの うえを かけぬけ
すべての すうはい、すべての かんげんを つつみこむ
いとしい ひとよ
---
いんどねしあ、いんどねしあ
わが ち は あかく
わが ほね は しろく
この からだ に
わたしたちは ひとつ に
ちょうわする
100 strand seeds of tasbih By M Raudah Jambak
100 strand seeds of tasbih
By M Raudah Jambak
I have arrange
100 strand seeds of tasbih
Dissolve your Asma
In deeds
In Ilahi anta maksudi
Wa ridhoka matlubi
I have arrange
100 strand seeds of tasbih
I have arrange
But the burst of this soul
Cannot only
Hold the drops of longingfor
That floods tears
Though I have waided the vastness
Of your very oceans
Though I have pedeld my canoe of prayers to your rahmad
I have arrange
100 seeds of tasbih
With takbir
With zikir
With water
With breezy
With needy
With poor
With Allah
Tuesday, 24 June 2025
Mazmur di Tengah Kerusakan dan Kenangan
Mazmur di Tengah Kerusakan dan Kenangan
(I – Tanah yang Tidak Lagi Ramah) Raudah menulis: "Kami menanak air mata bersama nasi, karena langit terlalu pelit menurunkan hujan."
Chairil menjawab: "Aku ini binatang jalang! Dari kumpulannya terbuang." Dan kami tahu: Indonesia tidak hanya melahirkan puisi, tapi juga luka yang tak bisa ditulis dengan kata-kata biasa.
(II – Tubuh Perempuan dan Tubuh Negara) Di Haranggaol, tubuh perempuan menyimpan tanah dan tanah menyimpan sejarah yang tak pernah ditulis di buku pelajaran.
Di Jakarta, Chairil menulis tubuhnya sendiri sebagai medan perang waktu dan maut: "Aku mau hidup seribu tahun lagi!" Tapi Raudah diam. Ia tahu, umur panjang tak menjamin suara akan didengar.
(III – Ketika Kata-Kata Tak Lagi Diucapkan) Chairil menggempur bahasa, memaksanya menyatakan yang tak bisa dimengerti. Raudah menyulam bahasa agar luka tetap berbentuk dan bisa diwariskan diam-diam.
Mereka bertemu di bait yang tak selesai dibaca: antara dentum dan bisik, antara “aku” yang menggeram dan “kami” yang terus berdoa.
(IV – Negeri yang Tidak Sempat Pulang) Apakah Indonesia ini benar milik kita, bila suara paling lantang justru dijebloskan? Chairil menulis puisi dengan tinta amarah dan napas terputus, Raudah menulis puisi di sela sendok dan cucian piring, sambil membungkus kemerdekaan ke dalam kotak bekal anaknya.
(V – Akhir yang Tak Pernah Diakhiri) Puisi ini tidak akan selesai. Karena negeri ini belum selesai dengan dirinya sendiri. Chairil telah pergi dengan puisi yang tetap berdarah, Raudah tetap di sini dengan kata-kata yang lebih pelan tapi tak pernah kalah menggugat.
RJ
Subscribe to:
Posts (Atom)









































































