Friday, 5 February 2010

Drama reaLIS

REALISME dalam drama atau teater sangat berhubungan erat dengan tradisi drama atau teater realis di Barat. Drama atau teater realis lahir dari dinamika sejarah masyarakat Barat dan berhasil mencapai taraf proses konvensionalisasi yang mapan. Di Inggris, drama realis tumbuh dan berkembang sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat Inggris pada abad XII yang dimotori kelas borjuasi.Berkaitan dengan seni peran dapat diamati pada periode besar teater Elizabethan. Perkembangan dan pertumbuhan imperius-Inggris membuka kesempatan bagi kelompok saudagar dan pemilik-pemilik toko untuk berkembang secara ekonomis dan politis. Makin lama mereka semakin kuat dan akhirnya tumbuh pula harga dirinya sebagai kelas tersendiri. Di dalam dunia teater, pada suatu ketika kelas borjuasi tidak lagi ingin menonton lakon raja-raja, bangsawan-bangsawan; mereka ingin melihat diri mereka sendiri. Maka tidak sia-sia, George Lillo (1731) menulis lakon tentang magang, pelacur, dan saudagar dalam karyanya Saudagar London. Jelas dalam lakon ini tokoh-tokoh kerajaan tidak hadir.

Kebangkitan kelas borjuasi merupakan salah satu sebab munculnya realisme. Daya lain yakni Ilmu Pengetahuan: teori Evolusi Darwin, teori psikologi sebelum Sigmund Freud, maupun masalah-masalah sosial yang menantang pendekatan ilmiah pada masa-masa itu mendorong tumbuhnya suatu sikap dan cara memandang kehidupan secara khas. Sikap dan pandangan ini secara tak langsung menyatakan bahwa kehidupan dan dunia dapat dipahami melalui pengamatan dan penggambaran obyektif. Para Raja dan kaum bangsawan sudah tersisih dari kehidupan, maka mereka pun tersisih dari pentas pula.

Kebangkitan borjuasi ternyata juga membangkitkan individualisme. Tokoh-tokoh pemikir yang mewakili kelas borjuasi seperti Hobbes, Montesquieu dan Rousseau langsung atau tidak langsung mengungkapkan pandangan tentang supremasi individu dalam masyarakat dan menekankan pentingnya pengaturan hubungan (politis) individu dengan masyarakat dan negara. Pandangan demikian dikenal dalam masyarakat yang menentang dan membebaskan diri dari pandangan komunal-feodal.

Secara mudah dapat dipahami mengapa dalam realisme individu demikian menonjol; justru individu sebagai protagonis yang dengan tindakannya menimbulkan konflik dengan lingkungannya, dengan masyarakatnya yang melahirkan drama.Sehingga tidak terlalu berlebihan kalau dikatakan bahwa realisme adalah teater tokoh, teater individu. Realisme berbicara Dr. Stocmann dalam Musuh Masyarakat karya Hendrik Ibsen, Willy Loman dalam Matinya Pedagang Keliling karya Arthur Miller, Jane, Fritz, Corrie, Willem dalam Perhiasan Gelas karya Tennesse William. Penulis pernah memainkan tokoh Fritz, Doni Kus Indarto memeranan Willem, Sari Nainggolan sebagai Corrie dan Sekar Pamungkas sebagai Jane waktu studi Penyutradaraan II pada Jurusan Teater ISI Yogyakarta di Kampus Utara Karangmalang (1987).

Individu-individu yang hadir di atas pentas mewakili dirinya sendiri, mereka hadir dalam keamungan atau keunikan di dalam pikiran, perasaan, temperamen dan pandangan hidup. Mereka adalah manusia darah daging yang dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam realisme, protagonis dan antagonis merupakan sarana pelaksana konflik. Ia adalah tokoh yang bertentangan dengan setengah pihak lainnya, baik lingkungan sosial, spiritual atau alam. Ia berusaha mengalahkan, menundukkan lawannya dan menyadari keterbatasan, kelemahannya dengan tabah dan agung maka terjadilah tragedi. Jika mereka dapat menerima kelemahan dan keterbatasannya dengan tertawa maka lahir komedi. Apapun yang terjadi pihak protagonis dan antagonis merupakan individu yang menentukan.

Teater realisme sifatnya sastrawi (literrer). Bahasa sangat menonjol sehingga terkesan verbal. Hal ini dapat dimengerti karena hanya dengan bahasalah cocok untuk mengungkapkan yang bersifat intelektual dan analitik. Seperti halnya kegiatan masyarakat Eropa. Kecenderungan intelektualitas ini diwakili tokoh realisme dari Inggris, Shaw dimana ia menulis dialog sebagai disksi dan debat. Gambaran obyektif tentang dunia, kecenderungan menempatkan kedudukan individu pada tempat yang sangat dominan serta kecenderungan memandang hakikat drama sebagai konflik telah menggerakkan suatu proses konvensionalisasi terhadap para penata panggung (stage, propertys dsbnya), gaya berperan dan cara menulis naskah, proses konvensionalisasi ini mencapai kemapanannya pada pertengahan akhir abad XIX, melalui -tokoh-tokoh seperti Ibsen, Chekov dan Stanislavsky (Ferguson, 1956).Untuk itu dapat ditangkap bahwa realisme memuat pandangan dunia, yang memandang dunia dan alam sebagai sesuatu sasaran untuk ditaklukkan dan ditundukkan. Kemudian dimanfaatkan, dieksploatasi. Awal abad XX terjadi perkembangan baru dalam kehidupan teater di Eropa. Tokoh seperti Brecht, Artaud menolak aliran realisme.
Latar Kebangkitan

Realisme bangkit seiring dengan tumbuh dan berkembang kelas, burjuis di Eropa. Sejak jaman Renesan, dunia perdagangan di Eropa mulai maju. Perlahan-lahan pengaruh dan kekuasan berpindah dari golongan aristokrat pemilik tanah dan pedagang. Dampak yang muncul pada dunia teater, kelas burjuasi tak ingin lagi menonton lakon raja-raja, pangeran dan putri-putri Mereka ingin melihat diri mereka sendiri. Fenomena ini menggerakan George Lillo menulis tentang magang, pelacur dan saudagar dalam naskah saudagar dari London, atau Tragedi George Barnwell (1731). Naskah ini tidak menghadirkan satria-satria, putri-putri serta pahlawan-pahlawan dengan zirah mengkilap dan pedang bergemerincing.

Kebangkitan kelas burjuasi merupakan salah satu sebab yang mendukung munculnya realisme. Ada juga kekuatan lain yaitu perkembangan Ilmu pengetahuan. Teori evolusi Darwin, Positivisme Auguste Comnte, serta teori-teori psikologi Freud dan masalah-masalah sosial yang menentang pendekatan secara ilmiah, menimbulkan suatu cara pandang yang khas pada kehidupan.

Sikap dan cara pandang ini secara tidak langsung menyatakan bahwa kehidupan dan dunia dapat dipahami melalui pengamatan dan penggambaran obyektif. Peri-peri dan tukang tenung berada di luar dunia obyektif. Dengan sendirinya para pangeran dan para putri sudah saatnya tersisih dalam kehidupan panggung.

Munculnya kelas burjuasi dan perkembangan llmu Pengetahuan abad XIX, akhirnya membangkitkan suatu pola hidup individualisme. Tokoh-tokoh pemikir yang mewakili kelas burjuasi seperti Hobbes, Montesquieu dan Rousseau, langsung atau tidak langsung mengungkapkan pandangan tentang supremasi individu dalam masyarakat. Mereka menekankan pentingnya pengaturan hubungan (politis) individu dengan masyarakat dan negara. Pandangan ini bukan saja tidak dikenal dalam masyarakat komunal-feodal, akan tetapi justru menentang dan membebaskan diri dari pandangan komunal-feodal tentang individu. Oleh karena itu mudah dipahami jika dalam pentas realisme, individu-individu dibuat sangat menonjol keberadaannya. Individu sebagai tokoh protagonis dalam tindakannya bisa menimbulkan konflik dengan lingkungannya. Hal ini berbeda dengan tokoh-tokoh dalam drama Klasik dan Romantik yang dilandasi semangat mitis ingin menegakkan moral dan kebenaran. Para tokoh yang dimunculkan dalam drama Romatis bisa dikatakan sebagai manusia setengah dewa

Romantikisme secara mencolok menampilkan konflik antara kejahatan dan kebaikan, yang kelihatannya diwarisi dari mitos-mitos Yunani Kuno sebagai tragedi kehidupan. Dalam Romantikisme diciptakan sikap yang kontras dalam menanggapi kebenaran dan dosa, antara roh dan nafsu kedagingan. Cinta juga selalu menjadi bagian yang terus dipertahankan ketika berhadapan dengan kekhaosan hidup. Romantikisme tidak ragu untuk mengafirmasikan cinta dan pengorbanan sebagai tindakan heroik. Manusia semacam Robin Hood yang hidup di hutan dengan kawan rampoknya, yang dikejar-kejar penguasa tapi tetap memperjuangkah rakyat miskin, adalah gagasan tokoh dari abad Romantikisme.
Realisme Konvensional

Setelah digambarkan bahwa realisme lahir dari dinamika kehidupan masyarakat Barat yang menekankan obyektifitas pengamatan, maka yang nampak di atas panggung kemudian ialah sebuah kehidupan yang diusahakan sesuai dengan aslinya. Dinyatakan oleh Kernodle bahwa realisme menyajikan gagasan untuk menampilkan suatu bagian dari kehidupan. Di atas panggung akan terbayang sepotong kehidupan, sehingga jagad panggung merupakan penyajian kembali kehidupan indrawi. Secara teknis pementasan di atas panggung diusahakan menggambarkan kehidupan sering mungkin. Pentas dan perlengkapan panggung menggambarkan ruang duduk suatu keluarga, atau ruang kantor dan ruang lain yang paling umum dilihat oleh penonton. Kalau cerita mengenai sejarah, misalnya tentang Sultan Agung, Pangeran Diponegoro, maka ruang dan keseluruhan perlengkapan pentas disesuaikan sedekat mungkin dengan bentuk dan gaya zaman itu. Pertunjukan teater semacam ini dikatakan oleh Saini (1991) sebagai model teater realisme konvensional.

Selain properties, setting dan kostum yang secara pasti berkorespondensi dengan realita, realisme konvensional juga menolak gaya akting yang berlebihan. Pencetus utama untuk gaya berperan realis adalah Konstantin Sergeyevich Stanislavsky (1865-1938). Stanislavsky menekankan arti penting gaya berperan yang wajar, tidak dibuat-buat dan menolak gaya bicara deklamatoris. Dasar dari pemeranan ini mengungkapkan tingkah laku manusia sesuai dengan penernuan-penernuan di bidang psikologi.

Pendekatan pemeranan Stanislavsky dengan metode psikologi sangat sesuai untuk menganalisa tokoh-tokoh yang diciptakan dalam lakon realisme. Tokoh-tokoh dalam drama ini hadir sebagai individu-individu yang ada dalam keseharian dengan karakter penuh kontradiksi. Mereka bukan lagi para pangeran dan putri yang hidup dalam suasana glamour istana. Mereka adalah manusia darah daging yang harus berjuang keras dalam situasi sosial abad XIX dengan adanya revolusi industri.

Pada masa itu kemiskinan dan kejahatan telah merajalela lebih hebat daripada masa sebelumnya. Ide-ide tentang kebebasan dan persaudaraan kaum romantik telah runtuh. Akhirnya para tokoh yang diciptakan dalam lakon- lakon realisme adalah mereka yang bertentangan dengan lingkungan sosial, spiritual, maupun alam.

Dr. Stockman, dalam Musuh Masyarakat karya Henrik Ibsen, adalah salah satu contoh tokoh yang harus terpojok karena melawan lingkungan sosialnya. Meskipun ia benar narnun hukum masyarakat dan pemerintah menentukan lain. Penemuan adanya virus yang menyebar dalam pemandian kota oleh Dr. Stockman telah membuat resah masyarakat dan pemerintah Tempat pemandian itu adalah sumber pendapatan daerah. Jika benar bahwa air telah tercemar maka pemandian tersebut harus ditutup. Usaha ini dengan sendirinya merugikan pemerintah dan masyarakat. Akhirnya kebenaran yang diternukan oleh Dr. Stockman diangap fitnah, dan dia harus disingkirkan.

Drama-drama Ibsen menekankan gambaran watak manusia. Obsesinya sekitar pengaruh nilai-nilai palsu dalam masyarakat terhadap kehidupan pribadi yang harus berbuat secara palsu pula. Contoh kepalsuan ini sangat nampak dalam naskahnya yang lain, yaitu Hantu-Hantu. Naskah ini mengisahkan usaha Ny. Alving untuk menutupi masa lalu suaminya yang penuh noda. la berusaha menghilangkan noda dengan mendirikan RumahYatim dan menyumbang Gereja. Narnun bisakah hal ini menghapus kebobrokan suaminya? Ternyata tidak. Anak Ny. Alving tetap hadir sebagai pemuda yang mentalnya terbelakang. la terserang penyakit sipilys, turunan dan bapaknya. Bayang-bayang hitam masa lalu ternyata tak bisa dihilangkan dengan mudah.

Cukup beralasan jika akhirnya Saini K.M beranggapan bahwa teater realisme adalah teater tokoh, teater individu. Individu sebagai protagonis dengan segala tindakannya menimbulkan konflik dengan Lingkungannya, masyarakatnya, yang menimbulkan drama. Begitu pentingnya protagonis-individu ini, hingga dalam realisme ia mengambil setengah dari pentas sebagai ajang konflik.

Realisme konvensional juga menanarnkan ciri-cirinya pada gaya penulisan sastra lakon. Lakon realisme konvensional dituntut untuk menggunakan struktur yang terjalin dengan pola sebab-akibat. Tuntutan tersebut cukup beralasan karena lakon realis harus menampilkan peristiwa secara rasional. Alur cerita semacam ini cenderung mewujudkan struktur yang dikenal dengan nama Struktur Piramida Aristoteles. Struktur ini memiliki unsur- unsur yang berturut-turut meliputi eksposisi (pembukaan), komplikasi (keruwetan), krisis (penggawatan), klimaks (puncak kegawatan), resolusi (penguraian), konklusi (kesimpulan). Jika digambarkan dalam sebuah diagram, maka rumusan di atas berbentuk seperti bangun segitiga, dengan klimaks sebagai puncaknya.

Setelah dirintis oleh George Lillo, Henrik Ibsen menempati kedudukan yang terhormat dalam hubungannya dengan realisme konvensional. Dialah puncak terpenting aliran realisme. Pada Ibsen metode dan tujuan realisme diterapkan sebaik-baiknya. Pada tahun 1875 Ibsen mulai menulis naskah dan tahun tersebut dianggap sebagai permulaan teater modern.

Naskah-naskah Ibsen sangat berbeda dengan kecenderungan penulisan naskah sebelumnya. Pada Musuh Masyarakat atau Hantu-Hantu misalnya, tidak terlihat adanya penulisan yang bertele-tele, dipenuhi bumbu-bumbu khotbah dan kata-kata romantis lainnya. Dialog-dialog tertulis seperti percakapan keseharian. Pola ini akan mengarahkan pemeran untuk berbicara tidak seperti berdeklamasi. Akhirnya model penulisan semacam itu disyahkan sebagai gaya realisme konvensional. Dapatlah dipahami kalau Ibsen tidak saja dianggap sebagai Bapak Realisme tetapi juga sebagai Bapak Teater Modern, karena realisme konvensional adalah salah satu gejala modernisme.

Realisme dan Naturalisme

Ternyata pemahaman orang pada realisme sangat beragam dan memancing perdebatan. Tidak selamanya kehidupan nyata dapat ditransformasikan ke atas panggung. Hal ini berangkat dari suatu kesadaran bahwa pandangan dan interpretasi terhadap dunia nyata harus diseleksi. Konsep realisme tenis bergulir dan perlu didefinisikan kembali. Kemudian muncullah berbagai varian dari realisme. Salah satu varian itu ialah naturalisme.

Menurut Jakob Sumardjo, naturalisme merupakan sisi ekstrim dari Gerakan Realisme. Pada dasarnya naturalisme mempercayai bahwa kebenaran dunia dapat diketahui dengan lima indra manusia. Tetapi naturalisme, selain menuntut pendekatan ilmiah juga percaya bahwa kondisi manusia sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan keturunan.

Seiring dengan merebaknya gerakan naturalisme tumbuh pula kota-kota besar yang menjadi tempat pernukiman kaum urban yang kumuh (slum) akibat ekploitasi industri. Kemiskinan, kesengsaraan, kemelaratan serta kemerosotan moral menjadi persoalan yang kompleks. Kondisi ini memicu para naturalis untuk mengungkapkan kemerosotan dan kebobrokan masyarakat golongan bawah. Drama-drama mereka penuh dengan kebusukan manusia dan hal-hal yang tidak menyenangkan dalam kehidupan.

Naturalisme menolak tampilan drama yang hanya didasarkan pada perkiraan terhadap kehidupan nyata. Setiap sajian drama naturalis adalah usaha mempraktekkan kehidupan nyata itu sendiri, bukan idealisasi kenyataan hidup. Drama naturalis adalah sepotong kehidupan nyata yang didasarkan pada kenyataan hidup yang keras dan kasar. Kenyataan yang ditranformasikan dalam pentas naturalisme misalnya drama sebabak Andre Antoine, Tukang Jagal, menghias pentas dengan daging-daging sapi sebenarnya seperti toko daging para penjagal dalam realita.

Meskipun disebut sebagai varian dari realisme, naturalisme mempunyai kecenderungan estetika yang sangat berbeda dengan realisme Realisme dipandang lebih obyektif daripada naturalisme. Dalam realisme segalanya digambarkan seperti keadaan yang sebenarnya, seperti yang dilihat oleh mata, tidak kurang tidak lebih. Pada seni rupa, seniman seolah-olah suatu cermin yang membayangkan kembali kehidupan sekitar dengan wama-wama, garis-garis dan gerak-geriknya. Seorang pengarang realis melukiskan tokoh-tokohnya dengan perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran sampai pada yang sekecil-kecilnya, dengan tidak memihak memberikan simpati atau antipati pada tokoh-tokohnya. la membayangkan tokoh-tokohnya seperti yang sungguh-sungguh dikenalnya. Pengarang atau pelukis adalah penonton yang obyektif. la tidak memperbagus dan memperjelek orang-orang dan keadaan-keadaan yang dilukisnya

Sedangkan oleh kaum naturalis, alam dilihat melalui kehangatan rasa. Dunia luar tak bisa dilukiskan seperti apa adanya. Pusat pribadi

seniman harus turut bicara. Singkat kata dalam naturalisme sangat berkuasa pandangan dan visi seniman sendiri atas alam. Suatu pandangan yang mengandung nafsu hidup yang besar.

Membahas naturalisme mengingatkan kita pada karya-karya Raden Saleh atau Basuki Abdullah yang sering menggambarkan figur perempuan secara erotis. Pernah timbul suatu rumusan bahwa naturalisme sebagai realisme cenderung pada hal kemesuman. Ini didasarkan pada beberapa pelukisan mesum atas karya Emile Zola yang dianggap sebagai pengarang naturalis terbesar. Jika ditelusuri sebenarnya roman-roman Zola isinya tidak sernuanya serba mesum.

Dalam teater, tema-tema drama naturalis adalah tampilan kenyataan naluri-naluri dasar yang berbahaya, seperti penyimpangan seksual, ketamakan, kerakusan dan berbagai fenomena kelaparan dan kemiskinan yang kompleks. Maxim Gorky dalam dramanya Lower Depth (1920) melukiskan tokoh-tokoh yang disergap kemelaratan, hidup di gudang bawah tanah. Mereka hanya bisa hidup dengan angan-angan dan khayalan.

Kemudian Henrik Ibsen dalam A Doll House melukiskan penyimpangan seksual seorang istri bernama Nora. Tetapi suaminya yang bernama Torvald justru memaafkan perbuatan istrinya yang mencemarkan itu. Drama ini pada intinya menggambarkan pertarungan antara kebenaran melawan hipokrisi. Para tokoh realisme abad ke IX menurut Ernst Cassirer, memiliki wawasan yang lebih cermat mengenai proses seni bila dibandingkan dengan lawan-lawan mereka, para tokoh romantikisme. Mereka meyakini naturalisme yang radikal dan tak kenal kompromi. Tetapi justru naturalisme inilah yang membuat mereka memiliki konsepsi mendalam mengenai bentuk artistik. Mereka membuat pelukisan-pelukisan amat detail tentang alam dan watak-watak manusia. Terlihat juga adanya daya imajinasi yang sangat kuat, meski mereka mundur kembali pada definisi usang bahwa seni ialah imitasi alam.

Naturalisme dalam gerakan teater, ternyata hanya sanggup bertahan sampai tahun 1900. Setelah itu hanya realismelah yang berpengaruh. Realisme justru makin berpengaruh karena perkembangan teknologi yang menunjangnya, seperti diketemukannya listrik.
Realisme dan Impresionisme

Impresionisme merupakan varian lain dari realisme. Jika drama naturalis ingin memberikan lukisan pikiran-pikiran yang berat, kejadian-kejadian yang menggetarkan jiwa, tidak demikianlah dengan drama impresionis. Drama impresionis hanya berusaha melukiskan kesannya yang sepintas pada suatu hal. Kesan tersebut tidak akan didramatisasikan secara berlebih, sebab hal itu justru akan menghilangkan kesan penglihatan dan perasaan pada mula pertama.

Drama impresionis mempunyai hubungan yang implisit dengan seni rupa. Para impresionis lebih tertarik pada pemandangan yang seolah-olah ringan dan sepele. Claude Monet menernukan impresi dalam lukisannya berupa katedral yang hilang dalam kekaburan pagi buta. Demikian pula impresi sebuah jembatan dalam senja berkabut di London. Cahaya, cuaca, kabut, waktu yang merangkak dalam hari, dan warna lokal sangat penting dalam impresionisme. Latar depan lenyap, yang muncul adalah latar belakang.

Drama impresionistik menawarkan konflik yang tersamar dan berupa persoalan-persoalan yang sepele. Kecenderungan ini menjadikan karakter tokohnya terkesan tidak mengalami perubahan watak yang jelas. Alur yang menunjang drama ini juga tidak pernah menunjukkan eksposisi dan progresi yang jelas serta klimaks yang menentukan. Ini sangat berbeda dengan drama naturalis yang tokoh, alur, konflik dan persoalannya jelas. Contoh yang cukup representatif dari kecenderungan impresionistik terdapat pada karya Anton Chekov.

Drama-drama Chekov diilhami dari kehidupan masyarakat Rusia jaman ia hidup. Tokoh-tokohnya memimpikan hidup yang berguna dan berbahagia, tetapi selalu terbentur oleh lingkungan, kepribadian dirinya dan keinginan-keinginan tokoh lain. Kejadian-kejadian yang diciptakan Chekov seakan-akan tak menentu arahnya, seperti karakter tokoh-tokohnya yang juga tak menentu. Nampaknya drama-dramanya memberi kesan murung tetapi di dalamnya banyak mengandung humor. Kemurungan dan humor muncul secara simultan dalam drama-dramanya. Ini bisa dilihat misalnya pada The Cherry Orchad (Kebun Chery, 1904).

The Cherry Orchad merupakan drama Chekov yang terkesan sangat impresionistik. Drama ini berkisah tentang sekelompok tokoh yang mencoba bertahan pada makna sebidang tanah perkebunan bangsawan. Mereka masih meyakini status kebangsawanannya karena m»sih tinggal di sebuah tanah dengan berdirinya tumbuhan Chery yang merupakan pohon simbol kebangsawanan di Rusia. Keberadaan mereka dalam realita sebenarnya telah digeser oleh hadirnya orang kaya baru dari kalangan pedagang. Kekalahan mereka akhirnya ditandai dengan ditumbangkannya pohon Chery oleh pemilik baru dari tanah bangsawan tersebut.

The Moscow Art Theatre di bawah arahan sutradara Stanislavsky mementaskan drama tersebut dengan penuh melankoli dan impresi yang mendalam. Tetapi Chekov ketika itu meminta dengan tegas bahwa drama itu adalah komedi. Ternyata aktor-aktor yang memerankan tokoh-tokoh dalam drama tersebut berhasil menciptakan karakter-karakter unik yang menggelikan, tokoh-tokoh yang bodoh tetapi lucu, tanpa harus kehilangan simpati mendalam atas penderitaan yang dialami tokoh-tokoh tersebut. Kombinasi tragik-komik memang senantiasa menjadi ciri-ciri yang menonjol dalam drama impresionistik. Begitu banyak persoalan yang ditimbulkan manusia karena ketamakannya, kerakusan, khayalan yang merusak diri sendiri, serta kepicikannya. Oleh karena itu yang muncul kemudian adalah sebentuk drama kehidupan yang penuh ironi.

Realisme Sosial

Aliran realisme tidak sepenuhnya diterima dalam abad XX Pemberontakan terhadap realisme timbul, antara lain oleh Symbolisme, Ekspresionisme dan Teater Epik. Konsepsi seni aliran di atas menentang realisme konvensional secara mendesar. Kaum symbolis beranggapan bahwa intuisi meruapakan dasar yang tepat untuk memahami realitas. Keyakinan tersebut berangkat dari suatu anggapan bahwa kenyataan tak bisa dipahami secara logis, maka kebenaran juga tak mungkin diungkapkan secara logis. Oleh karena itu kenyataan harus diperlihatkan dengan simbol-simbol. Sebuah drama symbolis cenderung bersifat samar, misterius dan membingungkan.

Sementara ekspresionisme, mendasarkan kebenaran bukan pada kenyataan-kenyataan luar seperti dalam realisme. Menurut kaum ekpresioms, kebenaran harus dicari dalam visi pribadi. Kebenaran terletak dalam jiwa, pikiran dan batin. Apa yang dianggap seseorang benar menurut batinnya harus diekspresikan meskipun tidak bersesuaian dengan dunia nyata di luarnya. Pandangan ini terasa sangat subyektif, bertentangan dengan realisme yang berusaha untuk selalu obyektif.

Sedang teater epik, meski dipertimbangkan sebagai gaya yang memberontak realisme, namun bentuk dramanya jika dicermati justru memperluas konsep realisme. Pemrakarsa teater epik ialah Bertolt Brecht (1898-1956). la mulai aktif dalam teater ketika Jerman tengah berada dalam puncak jaman ekspresionisme. Narnun jika kita melihat beberapa karya dramanya terlihat adanya kecenderungan menampilkan realita secara obyektif.

Realita yang ditampilkan oleh Brecht tidak sejalan dengan realisme konvensional. Pandangan Brecht pada fenomena sosial tidak bisa dipisah-kan dari sikap ideologinya sebagai penganut Marxisme. Brecht adalah seorang pengecam kapitalisme. Seperti telah dipaparkan di atas, realisme konvensional di antaranya tumbuh dan berkembang berkat pertumbuhan dan perkembangan masyarakat burjuasi. Sementara Brecht sebagai seorang Marxis beranggapan bahwa kelas pekerja membutuhkan gaya teater yang lain, yaitu yang menyampaikan pesan-pesan yang politis. Karena pesan-pesan politisnya inilah teater Brecht bisa digolongkan ke dalam Arealisme sosialisa. Di samping itu karena bertujuan mengajar masyarakat untuk melihat realitas sesuai dengan pandangan yang marxistis itu, maka teater Brecht adalah juga bersifat didaktis.

Walaupun seorang marxis, Brecht tidaklah menulis lakon-lakon murahan. Sebagai seorang jenius ia dapat mengatasi kegagalan-kegagalan di bidang artistik. la kemudian tampil dengan karya-karya yang cemerlang, baik dalam bidang pemikiran, penulisan sastra lakon maupun penyutradaraan.Karena kejeniusannya dan kemampuannya di bidang artistik, ada yang beranggapan bahwa teater epik Brecht bukanlah Arealisme sosialis tapi lebih tepat digolongkan sebagai Arealisme sosial A. Ada perbedaan yang hakiki di antara ke duanya.

Realisme Sosialis, pada awalnya muncul tahun 1932 sesudah Konferensi Partai Komunis Uni Sovyet pada tanggal 30 Januari - 4 Februari 1932. Josep Stalin mengadakan perombakan besar-besaran pada seluruh aspek kehidupan, yakni perombakan dari watak proletar menuju watak sosialis. Perombakan itu termasuk dalam aktivitas budaya dan sastra yang harus memainkan peranan sebagai corong propaganda fase sosialis dalam segala bidang.

Sementara itu yang disebut dengan realisme sosial sama sekali tidak ada hubungannya dengan realisme sosialis. Pada prinsipnya realisme sosial merupakan suatu pandangan atau suatu keyakinan pengarang yang tertuang ke dalam prosa yang cermat, teliti, rinci, jujur dan obyektif dalam menampilkan seluruh kejadian kehidupan, termasuk kebobrokan yang terjadi dan dialami oleh pengarang. Dalam realisme sosial seorang pengarang dengan sadar melakukan kritik dengan tujuan penonton menjadi kritis. Aliran ini dikenal pula dengan sebutan realisme kritikal, suatu realisme sosial yang mengandung kritikan sekaligus membangkitkan reaksi kritis penonton.

Kalau diperhatikan secara teliti, realisme sosial bukanlah bagian dari struktur partai seperti dalam realisme sosialis. Aliran realisme sosial hanya menyajikan sebuah penilaian terhadap kenyataan sosial, tidak mempunyai ambisi lain kecuali menyodorkan suatu gambaran nyata yang terjadi di tengah masyarakat. Karya seni realisme sosial lebih cenderung sebagai gagasan pribadi yang mewakili golongan intelektual.

Munculnya sebutan teater epik sebetulnya untuk tujuan membedakan bentuk dan teori teateroya dengan realisme konvensional. Gaya teater epik menginginkan terjadinyajarak antara penonton, pemain dan pentas sehingga tercipta suasana kritis. Untuk menciptakan jarak ini, Brecht menciptakan prinsip V-Effect (VerfremdungsefTekt), yaitu efek pengasingan atau alienasi. Melalui efek alienasi ini baik penonton maupun pemain harus tetap mengambil jarak kritis terhadap masalah yang disajikan pengarang Penonton maupun pemain harus tetap sadar bahwa apa yang sedang mereka lihat dan alami bukanlah kehidupan, melainkan teater.

Teater Brecht bukanlah teater illusionos seperti teater realisme konvensional. Untuk itu dalam drama Brecht tidak diternukan pola penokohan yang bisa menimbulkan efek identifikasi. Sangat dihindari proses yang menjadikan penonton larut pada tokoh yang ada di panggung. Pemahaman pemeranan dalam teater epik tidaklah menuntut aktor untuk menjiwai tokoh dalam cerita yang diperankan, seperti halnya yang dianjurkan oleh Stanislavsky dalam realisme konvensional. Pemeran dalam teater epik hadir dengan sadar untuk mendemontrasikan pikiran, perasaan dan hasrat, cita-cita dan sebagainya. Walau di dalam praktek pemeranan tidaklah mudah menernukan batas-batas yang tegas antara pelaksanaan teori Stanislavsky dan teori Brecht, tapi ciri-ciri pemeranan Brecht cukup kentara. Dalam pemeranan teater epik para pemain lebih banyak mempergunakan daya ungkap gerak-gerik (gestikulasi). Pementasan sandiwara-sandiwara Brecht dan para pengikutnya biasanya ditandai dengan pemandangan pentas yang sibuk (sering ada nyanyian dan tarian) untuk tujuan alienasi.

Sastra lakon Brecht juga berbeda dengan sastra lakon realisme konvensional yang menganut faham Aristotelian. Brecht menyebut gaya lakonnya non-Aristotelian. Peristiwa-peristiwa dalam lakon Brecht tidak secara ketat dihubungkan oleh hukum sebab-akibat. Adegan demi adegan dalam lakon teater epik lebih berupa tempelan-tempelan (montage) Kesatuan lakon diciptakan dengan mengaitkan adegan satu dan yang lainya dengan menjaga keutuhan tema. Adegan- adegan tersebut biasanya disambung dengan suatu narasi yang dalam pertunjukan dilakukan oleh narator (pembawa acara).

Tata-pentas, tata-busana dan tata-perlengkapan (properties) diusahakan untuk berbeda dengan apa yang ada dalam kehidupan Sebagai contoh, kalau dalam pementasan diperlukan perlengkapan yang dibuat dari kotak-kotak bekas pembungkus sabun, maka perlengkapan itu dibiarkan seperti apa adanya. Jika kotak tersebut digunakan sebagai kursi, maka kotak tersebut tak perlu dicat. Papan-papan kotak sabun diperlihatkan seperti apa adanya agar penonton tetap sadar bahwa itu kotak sabun yang digunakan sebagai kursi.

Realisme sosial Brecht tidak muncul begitu saja. Upaya mencari gaya teater yang tidak illusionis sebagai altematif terhadap realisme konvensional telah dilakukan orang sebelumnya. Simbolisme dan Ekspresionisme yang dirintis oleh Stindberg dan tokoh-tokoh di Jerman tahun 1920-an adalah bagian dari upaya itu. Meski demikian, upaya mereka masih memberi peluang bagi keterlibatan emosional dan identifikasi penonton terhadap tokoh-tokoh yang ada di atas pentas. Hal ini sangat berbeda dengan gaya teater Brecht yang menginginkan terjadinya jarak antara penonton, pemeran dan pentas, hingga penonton bisa tetap kritis.

Dalam hubungan ini pengaruh Erwin Piscator yang bekerjasama dengan Brecht pada awal perkembangan Brecht sendiri, terasa sangat penting. Piscator yang juga seorang marxis, adalah orang pertama yang mempergunakan istilah teater epik di samping istilah sastra langsung (direct literarure). Baik teater epik maupun sastra langsung ialah sastra yang membahas masalah-masalah politik dan ekonomi secara langsung, menuntut sikap kritis pembaca dan penonton. Tuntutan ini pada gilirannya meminta bentuk dan gaya pentas, pemeranan dan sastra lakon yang berbeda dengan realisme konvensional. Demi kepentingan itu Piscator memadukan poster, slide, film dengan tata-pentas, mamadukan pemeranan dengan demagogi dan memadukan sastra, diskusi dan reportase. Pada awalnya eksperimentasi ini dianggap gagal oleh banyak kritikus tapi kemudian menjadi bentuk yang solid karena kejeniusan Brecht.

Realisme di Indonesia

Telah disinggung di depan bahwa realisme lahir dari dinamika sejarah masyarakat Barat dan berhasil mencapai taraf proses konvensionalisasi yang mantap dan mapan. Realisme menyebar ke Timur termasuk ke Indonesia sebagai gelombang pemikiran dan ilmu. Sehingga cukup logis jika pendukung faham realisme tumbuh di kalangan cendikiawan. Mereka bukan para burjuasi tetapi pribadi-pribadi yang mengenyam pendidikan Barat yang dipandang modern. Para pemrakarsa realisme dalam sastra, seni rupa, dan teater adalah mereka dari golongan berpendidikan Eropa.

Untuk memahami perkembangan teater modern di Indonesia, perlu kiranya kita memahami situasi sosial pada zaman penjajahan Belanda, saat di mana teater modern Indonesia mulai tumbuh. Zaman itu masyarakat Indonesia masih terbagi-bagi dalam golongan-golongan sosial. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa ada golongan Belanda yang mempergunakan bahasa Belanda, golongan feodal dan priyayi yang menggunakan sebagian bahasa daerah dan bahasa Belanda serta bahasa Melayu-rendah. Kemudian golongan Timur-Asing yang nota bene golongan terbesarnya adalah Cina-peranakan yang menggunakan bahasa Melayu-Rendah dalam keseharian.Dengan menyadari adanya pembagian sosial, maka perkembangan teater modern Indonesia zaman itu tidaklah berada dalam satu garis lurus Terdapat perkembangan pergolongan yang ternyata pada proses selanjutnya sering terjadi persilangan.

Pada awalnya teater modern Indonesia justru berkembang dari lingkungan kurang terpelajar, yakni jenis teater bangsawan dan stamboel yang banyak mendapatkan pengaruh dari gaya teater Persia atau India di Penang, Malaysia. Rombongan pertama dari teater jenis ini muncul sekitar tahun 1891 dengan nama Komedi Stamboel. Pendiri kelompok ini adalah August Mahieu, seorang Indo-Perancis kelahiran Surabaya (1860-1906). Sedang penyedia modal untuk Komedi Stamboel ialah seorang Cina-peranakan bernama Yap Goan Tay dan Cassim, pembantunya.

Repertoir yang dipilih Komedi stamboel mula-mula berasal dari Cerita 1001 Malam, seperti Aladin dengan Lampu Wasiatnya, Ali Baba dengan 40 Penyarnun dan lain sebagainya. Juga dipentaskan Jula Juli Bintang tiga yang merupakan kegemaran teater bangsawan. Mengapa cerita-cerita Arab, Turki dan Parsi amat digemari penonton? Hal ini dimungkinkan karena daya tarik spectacle-nya yang berupa kostum yang bersulam fantasi gilang-gemilang. Penonton bisa melihat raja, pangeran dan bidadari, puteri serta Jin dengan pakaian rupa-warna yang sangat menarik. Kecenderungan semacam ini diteruskan oleh rombongan-rombongan sejenis seperti Komedi Opera Stamboel, Wilhelmina, Sinar Bintang Hindia dal lain sebagainya.

Pada tahun 1908 di kalangan masyarakat Cina muncul kegiatan teater yang disebut Opera-derma atau Tjoe Tee Hie. Yang menank dari kegiatan ini adalah mulai dipakainya naskah tertulis dalam bentuk dialog. Para pendukung opera tersebut bukanlah orang-orang profesional yang terbiasa bermain improvisasi. Mereka adalah para amatir yang mengantungkan dialog dari naskah.Ternyata naskah yang mereka tulis tidak hanya mengenai cerita lama Cina, tetapi justru bersifat realisme, yakni menggambarkan keadaannya masyarakat Cina-peranakan pada jaman itu untuk diambil suri-tauladannya. Narnun dalam segi pemanggungan, mereka masih mengikuti gaya komedi stamboel. Oleh karena itu timbul kemudian kecaman atas opera tersebut dari Lauw Giok Lan dan Kwee Tek Hoay Lauw Giok Lan dari golongan Cina terpelajar. Pertunjukan mereka dianggap sebagai bukan seni atau tooneelkunst.

Giok Lan justru menaruh hormat terhadap kegiatan teater yang dilakukan oleh kaum terpelajar yang tergabung dalam kelompok amatir siswa Asekola dokter Djawa, sekola menak dan sekola calon. Tujuan dari Giok Lan dan Kwee Tek Hoay jelas, yakni ingin menaikkan mutu teater semacam opera derma menjadi teater yang agak terpelajar, yakni main berdasarkan naskah, sehingga permainan lebih teratur, terencana dan rapi.Inilah sebabnya mereka berdua bertindak menulis naskah drama yang betul-betui baik . Lauw Giok Lan pada tahun 1913 menerjemahkan naskah Victor Ido, Karma-Adinda, sedangkan Kwee Tek Hoay pada tahun 1919 menyadur cerita pendek Oppenheim, The False Good, menjadi Allah yang Palsu.

Pada dasarnya kedua pengeritik di atas bertolak dari idiom teater Barat yang mereka baca dari buku-buku sastranya. Lebih jauh mereka berdua juga mengisi kekurangan dengan menulis naskah terjemahan, maka sejak saat itu teater Indonesia mendapatkan pengaruh dari unsur-unsur teater Barat. Pengaruh idiom teater Barat ini (baik dilihat dari naskah maupun pementasannya) mulai masuk ke dalam bentuk teater baru di Indonesia secara nyata pada tahun 1925. Ini ditandai dengan berdirinya rombongan Orion yang diprakarsai oleh pemilik modal yang sekaligus seorang terpelajar, yakni T.D. Tio Jr. atau Tio Tik Djien. la kemudian bersama Nyoo Cheong Seng (seorang wartawan peranakan Cina) mengembangkan Orion dengan lakon-lakon buatan sendiri yang cukup realistis.

Tonggak selanjutnya dalam perjalanan teater modern Indonesia ditandai dengan berdirinya Maya. Teater komersial ini tidak hanya dipertunjukan sebagai sarana hiburan, tetapi sudah menjadi alat kebudayaan. Kegiatan teater menjadi kegiatan intelektual karena para penggeraknya adalah golongan terpelajar. Mereka yang tergabung dalam Maya diantaranya: Usmar Ismail,D. Djajakusuma, Surjo Sumanto, Rosihan Anwar dan Abu Hanifah. Untuk mengembangkan Maya, mereka mempelajari teater secara teoritik. Kegiatan ini dilakukan secara intensif dan memicu mereka untuk mendirikan Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) setelah kemerdekaan.

ATNI berdiri di Jakarta pada pertengahan 1950-an dengan pencetusnya Usmar Ismail, D. Djajakusuma dan Asrul Sani. Bersamaan dengan itu berdiri juga ASDRAFI (Akademi seni Drama dan Film) di Yogyakarta. Narnun dari dua akademi teater ini, ATNI dipandang lebih menonjol. Bukan saja karena ATNI telah mengentaskan tokoh-tokoh teater yang cukup berpengaruh seperti: Steve Lim (Teguh Karya), Wahyu Sihombing, Sukamo M. Noor, Galib Husain dan sebagainya, tetapi juga karena banyaknya pementasan (23 kali) yang paling dibicarakan kaum terpelajar pada jamannya (1957-1963).

Kiblat kepada seni dan ilmu teater Barat tentu saja sebuah kenyataan yang tak mungkin dielakkan. Jika kegiatan teater sebelumnya adalah teater profesional yang komersial dengan tujuan menghibur, maka seni teater menduduki masanya sebagai kajian ilmu dan penjelajahan artistik. Buku-buku seni peran karangan Richard Boleslavsky dan Stanislavsky diterjemahkan untuk dijadikan pegangan. Ini berarti para siswa ATNI mempelajari teori peran realisme konvensional. Realisme secara konseptual diterapkan dalam teater modern Indonesia.Pengaruh ATNI cukup besar dalam kehidupan teater waktu itu ini dilihat dari pengaruh gaya realisme dengan permainan dalam cara Stanislavsky dan Boleslavsky (yang bukunya diterjemahkan oleh Asrul Sani) yang banyak dianut oleh group-group lain. Meskipun demikian nampak juga adanya reaksi terhadap realisme ATNI, misalnya gaya Brechtian dari Studikiub Teater Bandung (STB).

Dari paparan di atas terlihat adanya tranformasi gaya realis yang diambil dari kebudayaan Barat ke Indonesia. Kecenderungan yang dilakukan oleh para pernuka teater modern Indonesia hanyalah sebatas pada pengungkapan gaya. Secara ideologis mereka bukanlah para kaum realis. Mereka memahami realisme lewat pemikiran-pemikiran yang diserap dari sejarah dan teori-teori Barat.

Pada suatu masa faham realisme sosialis juga pernah diterapkan di Indonesia. Kesenian dalam kasus ini digunakan sebagai alat partai, untuk kepentingan propaganda 1960-1965). Dalam bidang teater, mereka berhasil menarik tokoh besar tahun 1950-an dan 1960-an, yaitu Utuy Tatang Sontani. Drama Utuy, Sayang Ada Orang lain yang ditulisnya sebelum masuk Lekra, diberi penekanan anti-haji. Drama-daramanya setelah itu. Si Kampeng dan Si Sapar adalah bermisikan anti-ulama. Lebih jauh lagi Lekra memasuki organisasi-organisasi teater rakyat, seperti Ludruk dan Ketoprak yang banyak mementaskan lakon-lakon anti agama dan antheistis. Sebuah pementasan yang paling sensasional pada waktu itu bei-judul Matinya Tiihan

Dalam “Sebuah Pembelaan Untuk Teater Indonesia Mutakhir” Goenawan Mohamad menanggapi ceramah Rustandi Kartakusumah yang menilai teater mutakhir sebagai kebarat-baratan dan sok absurd. Tulisan ini menjadi penting karena Gunawan berusaha mendudukkan proses teater modern Indonesia berlangsung dalam suasana dialektik antara hal-hal yang diharapkan dan yang tak disangka-sangka.Menurut Gunawan, beberapa ciri teater mutakhir adalah: berambisi menuju teater puisi yang utuh, unsur humor yang menonjol, masuknya unsur-unsur teater rakyat, serta banyak mengambil latar belakang kehidupan kaum gelandangan atau underdog yang diperlakukan secara intelektual, kemudian munculnya teater-sutradara yang berciri khas pada kepribadian sutradara.

Dari tulisan Gunawan tersirat bahwa teater modern (mutakhir) Indonesia merupakan perternuan dari berbagai gagasan. Hal ini cukup beralasan karena teater modern Indonesia adalah teater kota yang menurut istilah Umar kayam merupakan teater yang unik karena kedudukan dan fungsinya sebagai teater yang belum selesai. Teater Indonesia tumbuh dalam masyarakat yang tengah digiring menuju kepada suatu acuan budaya kota dan industri. Di sisi yang lain, mereka para pendukung teater modern juga belum sepenuhnya tercerabut dari budaya asalnya yang bermuatan tradisional. Hal inilah yang menjadikan teater modern Indonesia berwajah seperti mozaik.

Karena itu sangatlah sulit untuk memberi ciri atau nama pada bentuk teater modern Indonesia seperti yang kita kenal di dunia Barat. Tidak mudah kita mengatakan bahwa presentasi drama Kapai-Kapai Arifin C. Noer sebagai pertunjukan bergaya surealistik. Lakon tersebut memang bukan sekedar lakon verbal. Narnun dalam pemanggungannya ada terselip warna Lenong. Sedang para aktornya mengembangkan teori berperan secara psikologis dari Stanislavsky. Demikian juga pada pementasan Teater Mandiri arahan Putu Wijaya yang dikatakan oleh para kritisi sebagai tetaer mutakhir dengan roh Barong atau Rangda.

Pentas-pentas Riantiarno (Teater Koma) terlihat sekali terpengaruh bentuk teater epik Bertolt Brecht. Sastra lakon dan pemanggungan Teater Koma, seperti misalnya dalam Opera Burisrawa, Opera Primadona, Semar Gugat dan yang lainnya, terlihat ada usaha untuk mengasingkan penonton, pemain dan pentas. V-Effect betul-betui diterapkan oleh Riantiarno. Tetapi kita juga memangkap ada muatan tradisional di dalamnya, seperti memakai pantun-pantun Melayu-Rendah.

Kasus ini tidak berbeda pada Teater Gandrik atau Teater Gapit. Kedua teater ini sangat kental mengambil nuansa budaya Jawa, bahkan untuk Gapit dialognya menggunakan bahasa Jawa. Tetapi tema yang mereka sampaikan adalah realisme sosial. Sedang dekorasi panggung Gandrik pada pementasan Proyek memberi kesan simbolik. Untuk Gapit lebih sering menggunakan setting naturalistik. Lebih kesulitan lagi jika menganalisa metode pemeranan aktor-aktornya. Mereka bermain sangat spontan seperti pemain-pemain Srimulat, Ludruk ataupun Kethoprak. Narnun mereka sangat ceradas dalam menyampaikan dialog-dialog seperti tokoh-tokoh dalam drama Brecht. Pada kenyataannya pendukung kedua teater tersebut memang mendalami teater modern (Barat).

Bagaimana dengan realisme di Indonesia? Lakon Moesoenya Orang Banyak hasil terjemahan Jan-Goan dari lakon Ibsen menurut Bakdi Soemanto (2001:295) secara formal konsep realisme telah menyusup ke dalam jagat teater Indonesia. Hal itu dapat dilihat dalam lakon era Poedjangga Baru yang menunjukkan sikap tanggap kepada jiwa zaman baru. Lakon Manoesia Baroe (1940) karya Sanoesi Pane menurut Hirwan Kwardhani (1991:10) dipandang sebagai penjelmaan Faust dengan Arjuna melalui tokoh Suredranath Das-nya. Hal ini memang menarik sebagai rumusan akan tetapi yang lebih penting adanya “loncatan” dari jagat pikir mitis ke jagat pikir analitis (Bakdi Soemanto, 2001:301). Karya ini lahir sesudah Sandyakala Ning Majapahit (1933) gubahan Sanoesi Pane yang dikritik pedas oleh Sutan Takdir Alisyahbana melalui tokoh Tutty dalam Roman Layar Terkembang (1988:81-90). Dalam roman ini bagaimana Tutty, Maria dan Yusuf mengulas lakon Sendyakala Ning Majapahit dianggap tidak memuaskan. Lakon ini bernada pesimistik bagi seorang aktivis.

Jagat pikir realisme Indonesia pun semakin kuat ketika budaya tulis dibawanya. Zaman Jepang (1942-1945) yang membentuk Pusat Kebudayaan Jepang dengan salah satu badannya Poesat Sandiwara mendorong kegiatan teater sekaligus menyensor karya seni dengan ketat memberi makna penting bagi perkembangan teater. Itu semua tampak dalam lakon yang bertemakan masalah hidup sehari-hari denga tokoh-tokoh orang biasa. Masa ini Dr. Aboe Hanifah menulis lakon Taufan di atas Asia, Intelek Istimewa, Dewi Reni, Insan Kamil, Rogaya, Bambang Laut. Oesmar Ismail menulis lakon Tjitra, Liburan Seniman, Api, dll.(Boen S. Oemarjati, 1971:41-43). Kemudian Sri Murtono (1916-1986) salah seorang seniman teater Indonesia, pendiri ASDRAFI Yogyakarta telah menulis sekitar 52 lakon, dalam masa penjajahan Jepang (1943-1945) menulis lakon: Jasa Keibodan, Hotel Nusantara, dan Ditepinya Bengawan Solo (Nur Iswantara, 2001:96-103). Sri Murtono memegang teguh jiwa nasionalis, ia bergabung sebagai sutradara dalam Pusat Kebudayaan Jepang (Sendenbu) dan menyembunyikan semangat nasionalisnya dibalik kegiatan-kegiatan teater. Kerjasama ini kadang-kadang menyulitkan, dan nasionalismenya yang sangat menonjol banyak kendala baginya (Farida Soemargono, 1979:92-93).

Menurut Bakdi Soemanto (2001:305-306) titik kulminasi faham realisme di Indonesia terjadi di dua kota, yakni di Yogyakarta pada tahun 1948 berdiri Cine Drama Institute atas prakarsa Menteri Penerangan. Kemudian tahun 1949 berdirilah Institut Kebudayaan Indonesia (IKI) Jogyakarta yang diprakarsai oleh Prof. Ir. S. Purbodiningrat, Dr. Abu Hanifah, Ny. Suryadarma, Mr. Kuntjoro Purbopranoto, Ny. Ali Sastroamidjojo, King Notowijono, Mtahar, Tubir, dan Sri Murtono. Dari institusi IKI Jogyakarta pada tanggal 1 Nopember 1951 lahirlah Sekolah Seni Drama dan Film (SSDRAF) dengan pimpinannya Sri Murtono. Kemudian sekolah ini pada tanggal 5 Mei 1955 berubah status menjadi Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI) Yogyakarta, dengan direktur pertamanya Sri Murtono (Nur Iswantara,2001:172-211). Dan di Jakarta pada tanggal 5 September 1955 berdiri Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI).

Di dua akademi ini , seni teaterdipelajari secara keilmuan, artinya di studi dengan pengamatan kritis, didukung teori dan data serta direfleksikan secar cendekia. Studi akademik seperti ini merupakan pola proses kesadaran teatrawan akan lingkungan, yang kemudian ditiru di sanggar-sanggar (Bakdi Soemanto,2001:306). Tentunya terrmasuk dalam menstudi seni berperan memutuhkan bahasa drama yang mudah dipahami.

DAFTAR PUSTAKA

* Gunawan Mohamad, Seks, Sastra, Kita, Sinar Harapan, Jakarta, 1980. Jakob Sumardjo, lkhtisar Sejarah Teater Barat, Angkasa, Bandung, 1986.

* Djakob Soemardjo, Perkembangan Teater Modern dan Sastra Drama Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1992.

* Jassin, H.B., Tifa Penyair dan Derahnya, PT Gunung Agung, Jakarta, 1977.

* Kernodle, George R., Invitation to The Theatre, Harcourt Brace and World, Inc., New York, 1967.

* Mac Graw, Hill, Ensyclopedia of World Drama Vol. 2, Mytield Publishing and Co., California, 1963.

* Soedarso Sp., Sejarah Perkembangan Seni Rupa Modern, Saku Dayar Sana, Yogyakarta, 1990.

* Soedarsono, ed., Pengantar Apresiasi Seni, Balai Pustaka, Jakarta, 1992.Tomy F. Awuy, Romantisme, Schiller, dan Rampok Horison, TahunXXVIII, Jakarta, 1993, pp. 50-54.

* Tuti Indra Malaon, et al., Menengok Tradisi Sebuah Alternatif Bagi Teater Modern, Dewan Kesenian Jakarta, Jakarta, 1986.


Oleh:Nu Iswantara

Anugerah Sastra Pena Kencana

* Media
* Karya Terbaik
* Juri
* Cerita Pendek
* Puisi
* Tentang
* Beranda

Skip to content
Media
Anugerah Sastra Pena Kencana 2009





# Media 2008

Â
DAFTAR SURAT KABAR
SUMBER ANUGERAH SASTRA PENA KENCANA 2009

* Bali Post
* Koran Seputar Indonesia
* Jawa Pos
* Kompas
* Koran Tempo
* Lampung Post
* Riau Pos
* Pikiran Rakyat
* Kedaulatan Rakyat
* Republika
* Suara Merdeka
* Suara PembaruanÂ

*
Kabar Terbaru
o Pengumuman Pemenang dan Peluncuran Buku Pena Kencana 2010
o Perpanjangan Program SMS Hingga 31 Januari 2010
o Kedua Buku Pena Kencana 2009 Cetak Ulang
o Telah Terbit Buku Pena Kencana 2009
o Sampul Buku 2009
o Pengumuman Pemenang Kuis SMS Pembaca
o Pengumuman Pemenang Cerpen & Puisi Terbaik Pilihan Pembaca
o Tabulasi Pemenang
o Foto-Foto Diskusi Lampung
o Foto-Foto Diskusi Bandung
o Diskusi Buku Pena Kencana di Lampung
o Foto-Foto Diskusi Surabaya
o Foto-Foto Peluncuran Dua Buku Anugerah Sastra Pena Kencana, Jakarta
o Sastra Juga Komoditas
o Penghargaan Dapat Memacu Karya

Copyright © 2007-2008 by Anugerah Sastra Pena Kencana, unless otherwise noted. All rights reserved. Berlangganan: Kabar Terbaru, Komentar Terbaru.
PT. Kharisma Pena Kencana: Mega Kuningan, Kantor Taman E9, Jakarta. Telp. +62 021 215764140. Design by Eka Kurniawan.

Hikayat Penebang

Puis-puisi Dody Kristianto
Hikayat Penebang

kami memilah sebatang demi sebatang kayu

di hadapan kami, tak peduli kelak mereka menjelma

sebatang korek api

-- yang memberi kami sepercik

jejarum api nan menyambar segala tubuh, atau malah

berubah musim paling terang di antara cecabang hujan

yang tak kunjung kami rasakan

-- atau selembar kertas--

tempat sajak kelak dilahirkan, tempat kata-kata kami

biasa berpinak, berbiak, bergerak mendesak tatap demi tatap

yang biasa memandang huruf, kata, dan kitab yang kian alpa

kami lantunkan--

tapi sungguh, kami tak kenal sajak

kami hanya mengenal kampak yang tak mampu membedakan

batang leher dan urat kayu: wujud yang sama,

wujud yang sekejap menipu mata

2009

---

Madah Orang Kusta

tuan, kami mudah terluka. kami selalu mendengar

kata-kata dusta: kata yang perlahan merasuk dalam tubuh kami

menggeliat di lingkar kulit kami, lantas meminta lepas,

perlahan menjelma burung terbang ke ketinggian

2009

---

Doa tentang Rumah

jendela :

kami lebih senang memandangi gambar rembulan

tak alpa kami aturkan salam baginya maupun bagi

semua pengelana yang melenggang di depan altar

dari doa mereka, kami menyampaikan warna hati kami

yang tenang, walau sesekali tatap kami dihadang suram

pintu:

dua langkah pejalan, sembari mereka menerka

mana awal atau akhir menuju jantung kami

sebab dari mereka, kata-kata atau mantra dusta

kerap meluncur, memencar, berpendar

kami tak ingin mantra-mantra itu bertebar,

membisiki telinga para bayi yang dibalut lelap

kami ingin menjaga senyap di penjuru ruang

atap:

terkadang kami bersahabat dengan hujan,

namun tak jarang kami menghalang kelebat air

yang lupa pada ketinggian itu

sungguh, kami ingin terbebas dari jejarum tajam

matahari yang hendak menjeram lembut matahati

kami. sebab kami hanyalah sang penghadang,

yang menyelubung mimpi tuan dan puan kami

beranda:

selamat datang, selamat jalan bagi tapak

yang senantiasa bertandang. salam sekian

salam bagi sekian bebayang yang tak bosan

menjadi penampakan bagi hati kami:

-kami selalu terbuka bagi jiwa-jiwa kelaparan

atau semua perasaan yang gentayang-

2009

---

Mantra Pengelana

tuan, buka pintu, kami pengelana kelaparan. berabad sudah kami

berjalan. tetapak kami kuat menjejak, tapi tak kunjung kami jumpai

ia, sang penunggu-yang menunggu kami di kala bulan purna tiba.

kami kelaparan tuan, setiap pintu yang kami datangi menutup diri,

setiap mata yang menatap kami menaruh benci. bahkan bebayang kami

kian tak sudi menguntit tubuh lusuh ini. buka pintu tuan, kami pengelana

yang lupa jalan pulang. segala rumah nampak sama dalam pandang kami.

semua peta jalan kami menjelma sepi. belukar duri pelan membebat panjang

langkah kami. sebab kami sudah alpa pada wajah kami. kami sudah lupa

nama kami. kami tak ingat lagi siapa kami. tuan, buka pintu tuan, kami

pengelana kelaparan

2009

---

Si Bayangan

ampunilah kami yang hanya mampu menjadi penguntit abadi,

bahkan kami tak dapat menatap tubuh kami, kami hanya bias

meratap, sebab tak ada liang yang mencipta kami.

Jugamengucap nama kami perlahan. kami kian menjelma si pejalan,

yang mengawal ia : sang sempurna. meski satu ketika, ia tak lebih

dari si siam, ketika sepasang pandangnya mulai ditutup dan tubuhnya

yang purna lamat-lamat angslup

2009

---

Mata Batu

aku mengampuni engkau yang sungguh tak mampu membedakan aku

dan bayangan. bahkan sepasang tatapmu lebih gemar mengenang malam

ketika seekor gagak bertandang, melepas sebadan dan sekerat tai

di keras lengang badanmu yang menghujam. tapi aku mengingatmu

serupa si pemburu, yang pandai bersiasat, yang pelan menguntit dan bersiap

menghunus sebilah pedang di gugup jantungku

2009

Dody Kristianto , lahir di Surabaya, 3 April 1986. Lulus Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya. Giat di Komunitas Rabo Sore (KRS) dan Sastra Alienasi Rumput Berbasis Independen (SARBI)


Korsakov!
KEPADA sahabatku: Jay

Seperti pernah kukatakan padamu, hari inilah aku mencatat sejarah dalam hidupku. Kan kulintasi beberapa benua, beberapa lautan, beberapa negara. Trip ini juga jauh lebih menegangkan dari Ekspedisi Kilimanjaro, karena dalam misi ini terdapat pertarungan hati dan masa depan, dengan memakan waktu 12 jam penerbangan, menyinggahi empat bandara.

Jay, temanku yang selalu kurindukan.

Masih sanggupkah seorang laki-laki menjeratku sedemikian rupa? Sering kukatakan padamu bahwa hidup kita ini misterius. Begitu banyak hal terjadi di luar rencana. Itulah keajaiban. Meskipun kau bilang tidak pernah ada kebetulan atau keajaiban di dunia ini. Semua hal terjadi karena ada perencanaan dan ada kemauan untuk mencapai atau melampauinya. Kau katakan pula bahwa hidup ini dipenuhi hal-hal rasional yang mendasari perilaku dan tata kehidupan sehari-hari. Hanya manusia primitif saja yang percaya pada keajaiban. Menurutmu, kebetulan adalah bertemunya dua faktor secara bersamaan, yaitu harapan dan kesempatan.

Jay, kau sama seperti dia.

Ketika kukatakan padanya bahwa nasib percintaan kami bukanlah sebuah kepastian, dia menolaknya. Hidup kita adalah milik kita. Kita sendirilah perencana dan sekaligus pembuat keputusan bagi seluruh hidup kita, begitu katanya. Dan kami pun bersitegang karena itu. Aku percaya pada kemustahilan-kemustahilan yang kemudian menjelma menjadi kenyataan. Tuhan menciptakan semuanya demikian detail dan sempurna. Dan bagi Tuhan, sungguh tak ada satu hal pun yang sulit. Hanya dengan bersabda kun fayakun, maka jadilah kehendak-Nya. Sedangkan dia menilai bahwa sebuah peristiwa adalah hasil perbuatan kita sendiri. Baik dan buruk itu adalah hasil yang kita petik dari keuletan dan usaha kita sebelumnya.

Tetapi, apa pun kesimpulan dari persitegangan itu toh akhirnya aku memutuskan pergi jauh menemuinya. Kesepakatan kami adalah: cinta mesti diperjuangkan, tidak sekadar ditunggu lalu terjadilah itu.

Januari masih terlalu dingin di kota Korsakov. Menurutku, dingin itu soal persepsi. Manusia dibekali banyak kemampuan untuk beradaptasi dengan segala cuaca. Bagiku tak masalah seberapa dingin cuaca di kotanya yang aneh itu, yang konon kehidupannya sungguh monoton, dengan makanan yang hanya keju dan susu, hiburan yang hanya penari telanjang di kelab-kelab malam. Maka, kehadiranku bakal menjadi semacam musim semi di tengah gerai salju.

Jay sahabatku yang tak pernah bosan pada cerita-ceritaku...

Ku mulai perjalanan mendebarkan ini. Hidupku, masa depanku, sisa usiaku, tergantung pada perjalanan ini. Dan aku tak mampu melukiskan seperti apa gegas dalam diriku ketika aku memandangnya dalam jarak tanpa batas. Keputusan ini berawal pada pengumuman yang mencantumkan namanya dalam sebuah program S3 di St. Petersburg, membuatnya tak mampu memenuhi janji datang padaku di bulan Januari.

''Maukah kamu datang dan menemaniku sampai saatnya aku masuk kelas di St. Petersburg?'' Suaranya merdu dan seksi. Melambai-lambai.

Aku shock! Telepon yang kugenggam waktu itu hampir terpental.

''Setelah itu kita akan buat sebuah pembaruan hidup bagi kita.''

Kita? Pembaruan hidup? Kalimat itu, kalimat tantangan sekaligus hiburan bagi pengembara di padang tandus semacam diriku. Yap! Korsakov! Bayangkan Jay... Korsakov!

Pagi buta menyeretku tergopoh-gopoh menuju Bandara Internasional Changi yang sibuk luar biasa. Pernahkah ada ketenangan dalam hati yang tergesa-gesa ingin menemui kekasihnya? Tidak juga aku. Dan juga ketika aku harus tidur semalam di Bandara Narita, itulah penyiksaan paling buruk dalam sejarah penantianku. Namun aku menguatkan diriku bahwa semuanya segera berakhir. Dan begitu aku bertemu dengannya, maka lunaslah segala derita panjang ini.

Jay, kau tahu bagaimana rasanya bisa memandang sosoknya dalam bentuk nyata?

Dengan feri aku meninggalkan Wakkanai, Hokkaido, membelah teluk Aniva menuju dermaga Korsakov di mana dia berdiri. Dari kejauhan mataku segera dapat mengenalinya, wajah tampan perpaduan dari Dmitry Korsakov dan RA Rahajeng Kusumastuti. Dia melambai disertai senyum aristokrat yang diwariskan ibunya. Dadaku serasa hendak meledak oleh lesakan rasa gembira yang membusung secara tiba-tiba, membutuhkan aliran untuk meleleh dengan segera, sebelum aku meledak bersama rasa suka cita.

Jay, kau pasti tahu bagaimana rasanya.

Aku bahkan tak peduli pada dingin bibirnya yang mencium pipiku bertubi-tubi. Bukankah Januari seharusnya memang masih dingin? Dan ingatlah bahwa aku segera menghangatkannya.

Memandang kedua matanya yang berwarna hijau dan bibirnya yang merona kemerahan membuat luluh lantak seluruh format hatiku. Dia membuat hard disk-ku tak dapat dikenali lagi partisinya. Mana jantung, mana hati, mana lambung, tidak jelas lagi fungsinya.

Jay, inilah surga itu! Sekarang aku berdiri di halaman rumahnya yang menyerupai gedung Grahadi dalam skala kecil. Halaman rumput yang luas dan pohon-pohon maple di sekelilingnya, dan juga cemara-cemara. Rumah yang megah pada sebuah kota kecil yang hanya dihuni 35.000 jiwa dengan latar depan laut dan teluk dan latar belakang hutan-hutan cemara. Sungguh dia tak membual bahwa kota ini hampir seperti kota mati di musim dingin seperti ini. Hanya sesekali saja terdengar lalu lalang kendaraan, itu pun lebih sering mobil pencair salju. Dari dalam jendela istana yang besar dan bertirai warna putih tulang, butiran salju yang turun bagaikan buliran stereofome yang dihamburkan dari langit. Pohon-pohon di luar sana tak lagi terlihat hijaunya, seluruhnya putih. Tetapi aku tergulung bahagia. Tak ada penamaan untuk bahagia yang bertubi-tubi kecuali bahagia itu saja.

Jay, temanku yang tak pernah pudar oleh masa.

Siang hari terasa masih terlalu pagi ketika dia menawarkan menu makan siang untuk kami. Tetapi bagiku yang lebih menarik adalah sebuah grand piano di tengah ruang keluarga itu. Tiba-tiba dia duduk di depan piano dengan anggunnya.

''Sambil menanti daging kita siap disantap, mari kutunjukkan padamu bagaimana sebuah simponi dimainkan untuk sebuah cinta,'' katanya seraya memintaku duduk di sampingnya.

Jemarinya yang halus menyentuh lembut tuts piano peninggalan buyutnya itu, lalu mengalunlah Nocturne yang menyayat bilik hatiku. Pantulan energi klasiknya menyusupi rongga-rongga dalam jiwaku yang terpanggang sepi di antara hiruk-pikuknya dunia. Begitu sempurnanya hingga aku tak dapat membedakan apakah itu Nickolay Erlangga Korsakov ataukah Frederick Chopin yang memainkannya. Aku berdiri dalam jarak beberapa depa untuk memastikan itu benar permainan dia, dan ketika permainan sampai di ujung penghabisan, aku merasa inilah sesungguhnya sosok laki-laki yang kurindukan untuk menggenapi dahagaku.

Tetapi mengapa Nocturne?

''Kau suka?'' Dia menoleh dengan senyum teduh yang membuatku jatuh cinta dari menit ke menit. Kukatakan, ''Tidak, aku tidak menyukainya...tapi aku tergila-gila padamu.'' Dia merengkuhku dengan hangat. Seperti selembar selimut menghangatkan seluruh tubuh di bulan yang dingin ini.

''Mengapa Nocturne?'' tanyaku, ''Bukankah lagu ini dicipta oleh komposernya akibat rasa sedih dan sepi yang menyayat di malam hari?''

''Ya, tetapi sebuah komposisi tercipta tak akan mampu menghadirkan roh dari ciptaan itu jika tak disertai cinta yang dalam ketika proses penciptaannya.''

''Tetapi menurutku Nocturne itu lagu sedih,'' sanggahku, ''Tidak sesuai dengan suasana hati kita yang sedang bahagia.''

''Tetapi kau hanyut ketika aku memainkan?'' Aku mengangguk.

''Karena di dalam permainan dan penikmatan ada cinta yang saling memberikan energi, dan energi positif dari dua orang yang saling mencintai bukan sekadar menyehatkan, melainkan juga menghidupkan. Ia seperti air yang disiramkan pada sebatang pohon setelah melewati musim kering yang panjang.''

Jay, apakah ada alasan bagiku untuk tak bahagia dalam suasana semacam itu?

Sekarang, tak ada bedanya siang dan sore di kota ini, tetapi malam dapat ditandai dengan gelap yang perlahan-lahan merengkuh bumi dengan warna putih salju tetap menghiasi seluruh permukaannya. Agenda besok pagi telah tersusun rapi: mengunjungi grocery store satu-satunya dengan dagangan yang didominasi blueberry, dan tentu saja menikmati restoran yang hanya dua buah, dengan makanan ala Rusia.

Surga itu telah kugenggam Jay, aku tak akan melepasnya lagi, untuk alasan apa pun. Dan benar belaka bahwa cinta harus diperjuangkan, lalu malam itu aku terlelap di atas kasur bulu angsa yang empuk dan selimut yang terlalu lembut hingga tak kusadari pagi menjelang dan suara gaduh mengetuk pintu kamarku.

Jay, episode yang berbeda mendadak harus dimulai dari sini.

Seorang pria Rusia mengenakan topi kerja dengan celemek di tubuhnya berdiri melotot di depan pintu ketika aku membukanya. Dia berusaha menyapa dengan bahasa yang tak kukenali. Aku celingukan mencari-cari di mana Nick, kekasihku. Pria itu terus berusaha berkata-kata, aku juga berkata-kata dalam bahasa Inggris. Tetapi kami tidak menemukan titik temu. Dengan baju tidur dan sleeper aku berusaha mencari dan berteriak memanggil Nick, ke ruang makan, ke perpustakaan, ke halaman belakang dan pria itu terus membuntutiku. Setengah menangis aku menjeritkan namanya secara lengkap: Nickolay Erlangga Korsakov....!!!!!!

Laki-laki itu memegangi pundakku dengan tekanan. Aku mulai ingin menangis....

''Speak in English please...,'' pintaku. Lalu pria itu mendekati telepon, aku terduduk lesu di sofa yang semalam kunikmati berdua. Ke mana gerangan Nick?

Beberapa menit kemudian datanglah dua polisi berseragam. Oh Tuhan, mereka pikir aku penyusup? Jay, wajahku pasti sudah pucat pasi karenanya. Seluruh tulangku rasanya melemah. Ada apa ini?

''Good morning, can I help you Miss...,'' polisi yang masih muda menyapaku.

''Sri Sulastri,'' jawabku bingung.

''Your passport, please...'' Dengan wajah pilon aku berjalan ke kamar dan menarik day pack yang belum sempat kurapikan.

Setelah membaca pasporku berkali-kali, membolak-balik, akhirnya dua polisi itu memintaku duduk. Dengan lembut ia bertanya untuk apa aku di sini, dan dengan kejujuran dan keluguan aku katakan aku datang untuk menemui Nick, yang saat ini tiba-tiba raib entah di mana.

Jay, sekarang aku seperti seorang pesakitan yang menghadapi tiga penuntut umum, dua polisi dan seorang pekerja di rumah ini. Surga dan neraka tiba-tiba begitu dekat jaraknya. Aku tak tahu akan ke mana sebentar lagi. Seumur hidup aku tak pernah berurusan dengan polisi, tiba-tiba sekarang aku harus berhadapan polisi di negeri orang. Jay, aku ingin menangis sejadi-jadinya.

Lalu polisi muda itu memandangku dengan iba.

''Are you sure you've been with him last night?" Aku mengangguk, menahan air mata.

''It's impossible...''

''No!!" sergahku. ''He played that piano, we got twice meal...talked in this sofa and we plan to get out to day...''

''Miss Sulastri...Mr Nickolay Korsakov is in hospital, since 5 days ago..''

''Noooooooooo!!!!" teriakku. Selama lima hari itu dia selalu berkomunikasi denganku via messenger, e-mail dan SMS. Mengapa mereka mengatakan Nick koma di rumah sakit karena kecelakaan?

Jay, benarkah surga dan nereka itu berdekatan hingga kita tak dapat menerka di mana garis batasnya?

Pagi itu tentu saja masih dingin, tetapi aku ingin berlari menerjang butiran salju untuk mengejarnya di Korsakov Rayon Hospital yang berjarak sekitar satu kilometer. Masih dengan baju tidur dan sleeper aku berlari sekuat tenaga menapaki halaman luas itu. Tetapi mereka mengejarku, petugas house keeping itu memakaikan mantel bulu pada tubuhku dengan wajah dingin dan mata kebingungan. Pak polisi menunggu seperti hendak memasangkan borgol di kedua tanganku. Maka, begitu mantel itu terpasang, aku segera berlari sambil menahan derai tangis. Mereka ikut berlari di belakangku, sambil meneriakkan namaku dalam aksen yang aneh.

Di halaman rumah sakit yang lengang itu mereka berhasil mengejarku. Aku menggigil kedinginan. Air mataku tumpah tanpa mampu kukendalikan lagi. Dua polisi itu berbicara dengan petugas house keeping, lalu menggandeng tanganku. Tetapi petugas house keeping itu menyuruhku duduk dan menyerahkan sepasang sepatu. Ketika aku diam saja tak berbuat sesuatu, ia mengangkat kakiku dan memasukkan ke dalam sepatu longgar itu. Semuanya berjalan bergelombang dan seperti di atas kapal yang berayun-ayun, aku hanya mengikuti ke mana polisi itu membawaku.

Jay, aku benar-benar menangis dengan suara sekarang.

Di sebuah ruangan ICU dia tergolek di situ, memejamkan mata, dengan berbagai peralatan terpasang di tubuhnya. Benar Jay, dia Nick, kekasihku yang tampan itu, yang seharusnya bermata hijau dan berbibir merah. Tetapi dia pucat, dia tidur, bahkan ketika aku menyentuh tangannya dan menggenggamnya erat sekali, seraya menyebutkan namanya berkali-kali. Aku berharap keajaiban itu datang, malaikat yang baik hati membuka mata Nick lalu dia bangun dan memelukku, seperti tadi malam.

Tetapi polisi dan para medis itu bersikeras bahwa Nick sudah lima hari tergeletak di sini. Lalu siapa yang bersamaku kemarin dan semalam? Jay, siapakah yang tidak waras di antara kami? Aku yang sedang menumpahkan seluruh rasa cinta atau para dokter dan polisi yang dingin dan tak punya perasaan itu? ***

Surabaya, Desember 2009: Untuk Firman Chaniago


Tentang Ayam Jantan yang Jatuh Cinta pada Bulan
(Kepada: Sujiwo Tejo, Ags Arya Dipayana, dan Nanang Hape)

''BULAN purnama,'' begitu bisik seekor musang, sesaat ketika hendak menggigit leher ayam jantan muda itu, ''...memberimu pesona luar biasa. Sungguh malang, makhluk di bumi ini yang tak bisa bahkan menyaksikan cahayanya. Seperti kau ini...'' Lalu musang pun tergelak-gelak penuh kemenangan.

''Dunia ini sungguh adil. Di malam hari, kau dibutakan, sementara mataku dinyalangkan. Alam menjadikanmu sebagai santapanku. Hahahahaha... Sejak matahari tenggelam, kau buta. Dan aku yakin benar bahwa kisah tentang rembulan yang kini tengah bertengger megah, cantik, mempesona itu, belum pernah kau dengar sama sekali.

Makhluk malang. Tapi, barangkali saja, kau sedikit lebih beruntung daripada cacing. Dia bahkan tak bisa membedakan cahaya matahari dan bulan... Hahahahahahahaa...''

Mendidih darah muda ayam jantan itu, demi mendengar penghinaan yang melumuri jiwanya. Dia, keturunan ketujuh Sawung Galih, ayam petarung paling ditakuti dan disegani di zamannya, tak bisa menerima kenyataan dihina oleh seekor musang. Darahnya mendesir, menjalari seluruh tubuhnya.

Dan pelahan, kekuatannya pulih, setelah beberapa saat lalu bagai remuk ditubruk si musang celaka. Tajiku, taji Sawung Galih dan di sana menderas daya penghancur lawan. Jika dalam sekali tendang, kau tak hancur, jangan sebut aku keturunan Sawung Galih.

***

Maka, kisah taji Sawung Galih pun kembali mengharum di antara mereka. Jago-jago petarung dari berbagai daerah merasa gentar setiap mendengar kisah bagaimana sepasang taji itu berhasil mencungkil sepasang mata musang. Ke mana pun dia pergi, tak ada yang berani menatapnya, kecuali --tentu saja-- para betina, yang diam-diam berharap dapat menikmati kejantanannya.

Kokoknya akan membangunkan matahari dan kepak sayapnya membuat jago-jago lain memilih mencari kutu. Lehernya besar, kokoh dengan bulu-bulu merah darah berkilau-kilau ditimpa cahaya matahari. Paruhnya runcing, nyaris tak ada lekukan. Sepasang matanya nyalang, seakan menyelidik siapa yang bersikap menantang. Seekor ayam kate, diam-diam telah menyiapkan sebuah balada untuknya, namun yang selalu merasa gagal menemukan kata-kata.

***

Namun, itu semua dinikmatinya hanya ketika matahari masih menguasai bumi. Manakala senja turun, dan hanya keremangan yang melingkupi sepasang matanya, Sawung Galih --akhirnya nama itulah yang dikenakan kepadanya-- merasa kesepian. Aneh, kisah rembulan purnama yang dituturkan si musang beberapa waktu silam itu, selalu hadir ketika senja membayang.

Mungkinkah ini semacam kutukan? Bangsa ayam tak bisa menikmati indahnya purnama? Diam-diam, dia mencoba mengingat-ingat dongeng induknya, yang selalu berkisah tentang siapa Sawung Galih dan bagaimana kehebatan ayam jantan petarung itu di zamannya. Dongeng itu akan mengantarkannya pada mimpi indah, di balik kehangatan sayap induknya.

Namun, memang sangat jarang kata ''bulan'' muncul dari mulut induknya. Kalau pun ada, tentu hanya digunakannya sebagai bahan ejekan bagi kaum pungguk.

''Tapi, apakah ibu pernah melihat bulan?'' tanyanya suatu kali dulu.

''Untuk apa? Apakah matahari tak cukup baik bagimu? Tidur! Kau harus malu jika saat ini matahari masih mendengar suaramu,'' ujar induknya seraya merapatkan sayap-sayapnya.

Bangsa ayam ditakdirkan untuk hanya mengenal matahari dan meniadakan bulan dalam hidupnya. Itu sebabnya dia menjadi terheran-heran ketika suatu ketika --tanpa sengaja-- mendengar percakapan dua tikus muda dari balik reruntuhan kayu, yang berkisah tentang gemerlapnya bintang-bintang mengelilingi bulan. Dia sendiri tak paham setiap kata yang diucapkan, namun anehnya, keindahan yang diungkapkan para tikus itu seperti mendapatkan jalannya sendiri hingga sampai di pemahamannya yang paling dalam. Ayam jantan itu menghela napas.

Entah mengapa, Sawung diam-diam merasa iri pada kaum jangkrik, yang selalu menyanyi memuja-muji purnama. Setiap malam, begitu senja lenyap digantikan gelap, kaum jangkrik dengan riang gembira menyanyikan lagu. Mungkin juga mantra bagi hadirnya rembulan.

Pernah dia bertanya kepada seekor jangkrik yang saat itu nyasar.

Setelah paham bahwa si Sawung tak mungkin bisa mematuknya, timbullah keberanian si jangkrik. Dia pun menjawab setiap pertanyaan Sawung --yang dirasakannya sebagai ketololan kaum ayam.

''Kau pikir, kami menyanyi setiap malam untuk apa, kalau bukan demi munculnya purnama?''

''Apakah dengan begitu dia akan muncul?''

''Hahahaha... bodoh betul kau Sawung. Tentu saja tidak. Itu sebabnya kami terus menyanyi. Dan akan tetap menyanyi ketika pada hari ke empatbelas dia menampilkan keindahannya yang sempurna. Ah, aku harus mengirimkan bunga duka cita untuk kebodohanmu. Hahahahahaha...krik!''

''Jaga mulutmu! Kalau saja...''

''Apa? Kau mau apa? Di arena laga --aku tahu-- kaulah pemenangnya. Namamu mengharum di seantero dunia... ya, aku tahu. Tapi, bagiku, kau tak ada artinya, karena kau bahkan tak tahu apa itu keindahan. Hahaha... krik...krik...krik...''

''Ajari aku,'' gumamnya.

Si jangkrik terdiam tiba-tiba. Bagaimana mungkin sesosok jagoan mau tahu tentang keindahan, apalagi belajar dari seekor jangkrik? Di kejauhan, nyanyian jangkrik melaut bunyinya, menusukkan sepi di jiwa sang petarung.

***

Sejak pertemuannya dengan jangkrik, Sawung makin kelihatan murung. Ada yang tiba-tiba dirasakannya sebagai sebuah tusukan. Puluhan bahkan ratusan kali robekan taji lawan pernah dirasakannya, namun tak ada yang menyamai rasa sakit yang disebut kesepian.

Si ayam kate berusaha menghiburnya, dia pun menyanyi, ''O pahlawan, kepak sayapmu benteng bagi kaum betinaaaaa... keeok!'' Si kate menjerit, Sawung menggamparnya.

''Apa yang salah Sawung?''

''Berisik!''

''Oh, aku tahu, aku tahu... Mmmm... Sunyiiii... Keook!" Si kate terjungkal, kepalanya berkunang-kunang, namun dia tak bisa mengatakan bahwa kunang-kunang saat itu indah.

***

Keindahan rembulan, yang tak pernah disaksikannya, tiba-tiba menguasainya. Seperti sesuatu yang sebenarnya sudah ada namun tak pernah dipedulikannya. Sejak hari itu Sawung seperti linglung, di arena sabung dia seperti limbung. Tajinya sesekali mungkin merepotkan lawan, namun itu karena lawannya sudah gentar sebelum bertanding. Sawung sendiri pikirannya melambung, mencoba mencari sesuatu yang belum pernah disaksikannya. Dia seperti meninggalkan raganya, melayang jiwanya entah ke mana.

Cahaya yang tak pernah kusaksikan itu, yang memancar dari cerita mereka, menghancurkanku, meremukkanku hingga tak bisa kukenali siapa diriku lagi. Akan kucari kau, akan kutemukan kau, tak peduli walau sembunyi di kerak bumi sekalipun.

Akan kutelusuri malam demi malam, dengan segenap kebutaanku, seumur hidupku, mencari dan menemukanmu. Jika kau bersembunyi di balik matahari, maka akan kuhancurkan dia dengan tajiku. Jika kau berlindung di balik mendung, akan kusapu mendung dengan sepasang sayapku. Kokokan panjangku akan membelah petir dan membuatnya tak lebih dari sekadar percikan api tungku.

***

''Sawung, Sawung, Sawung!" teriakan-teriakan itu menggema memberinya semangat bertarung. Beberapa betina memamerkan pinggulnya, memberinya gairah kehidupan.

Sesaat Sawung seperti kembali ke bumi, dan sepijar kekuatannya menyala.

Tubuhnya melompat, sayapnya membutakan mata dan sepasang tajinya bergantian menembus leher lawan. Sorak-sorai menggema, si lawan sekarat.

Sawung tegak, mengepakkan sayap dan berkokok panjang. Dia dengan gairah kemenangannya melompat tinggi nyaris terbang. Melayang tubuhnya, sebelum akhirnya hinggap di semak-semak.

Akan kucari kau, jika perlu kubalik seisi dunia ini.

''Sudah kau temukan, apa yang kau cari?'' Tiba-tiba sebuah suara berat, tua dan putus asa menegurnya.

Sawung terhenyak. Hanya selangkah di depannya, seekor musang tua dengan sepasang mata butanya tengah duduk di kerimbunan semak. ''Aku tak bisa melihatmu, tetapi bukan berarti aku tak bisa mengendusmu.''

''Haha... musang tua, dendammu belum padam juga.''

''Apa pedulimu? Apakah sudah kau padamkan dendammu dalam mencari keindahan itu?''

''Bulan?''

''Lidahmu sudah cukup fasih mengeja namanya. Namun, kurasa, kau baru sebatas mengeja dengan benar, kau belum siap menghadapi keindahan itu sendiri.''

''Akan kucari di mana pun dia bersembunyi!''

''Tak mungkin kau mampu.''

''Jelaskan, mengapa aku tak mampu.''

Musang menarik napas dalam-dalam, menoleh ke kiri. Sepi. ''Dengar, anak tolol. Apa yang kau gunakan untuk mencarinya? Coba jawab pertanyaan sederhana ini.''

''Tajiku akan mengoyak semua yang melindunginya. Sayapku akan menyibak segala yang melingkupinya.''

''Hmm... angkuh sekali. Kau pikir keindahan yang memancar dari bulan purnama adalah sebutir beras? Sawung, Sawung... ternyata kau bahkan lebih dungu dari yang kukira.''

''Apa maksudmu?''

''Kau pikir bisa kau taklukkan jarak semesta ini dengan sepasang sayapmu, yang bahkan tak sekuat pipit ketika melayang? Kau anggap bisa kau belah tabir keindahan dengan sepasang tajimu? Kau bahkan tak tahu apa-apa tentang sesuatu yang kau hadapi, tetapi suaramu seakan mampu membelah langit! Sadarlah bangsa rabun, kau tak akan bisa menemukan keindahan jika masih menggunakan cara bodohmu itu.''

***

Untuk kesekian kalinya, Sawung termenung. Tak disangkanya sama sekali, dia mendapat pelajaran penting dari bangsa pemangsanya.

''Ajari aku menemukan keindahan itu,'' ucapnya lirih dan putus asa.

Musang tergelak, tegak, dan lari menjauh --tentu setelah beberapa kali menabrak sesuatu. Dari kejauhan tiba-tiba musang berteriak, ''Carilah di balik keangkuhan jiwamu. Sanggupkah kau menghancurkan ke-aku-anmu?''

***

Sejak pertemuannya dengan musang tujuh hari lalu, Sawung makin murung, terlalu suka merenung dan mengurung dalam kesunyiannya. Telinganya mulai ditulikan dari teriak tantangan, bahkan tajinya diam-diam dikeratnya. Dia tak makan dan tak minum, tubuhnya merapuh, sayapnya melumpuh. Dalam usia keemasannya, dia seperti lebih tua seratus tahun. Seluruh bulu merah yang membuat para betina termimpi-mimpi, kini tampak seperti puluhan lintah gemuk yang menggelayuti leher kurusnya. Dia tengah menghancurkan dirinya sendiri, mencoba mencari keindahan yang bersembunyi di balik keangkuhannya.

Suatu malam, di hari keempat belas, keindahan itu datang menjemputnya. Sawung tak bisa berbuat apa-apa. Jiwanya kosong, dan karenanya dia mampu menerima keindahan itu seutuhnya. Air matanya berlinang, dia pun merasaan kebahagiaan yang belum pernah dialami sebelumnya.

***

Bangsa ayam berduka. Mereka menemukan jasad Sawung tergolek merana. Si ayam kate menyanyikan baladanya, ''Telah gugur jagoankuuuuuu.... Tu... keook!''

''Berisik!''

Dan malamnya, jutaan jangkrik melantunkan kidungnya, kaum musang menebarkan keharuman tubuhnya, dan bangsa pungguk terdiam seribu bahasa, menatap entah apa di atas sana. ***

Pinang, 982

Oleh Yanusa Nugroho

Hujan di Atas Ciuman
Tato

Sekarang sudah memasuki musim penghujan. Biasanya setiap hari langit akan berwarna abu-abu lalu memuntahkan biji-biji air. Jalanan akan basah, banjir, dan macet terjadi di mana-mana. Aku tidak mengerti kenapa Lin begitu tergila-gila pada sebuah musim yang hanya bisa menjanjikan basah, pikirku sambil memandang kanvas besar di hadapanku.

Aku merasa kanvas besar ini lebih menarik daripada abu-abu yang tergantung di langit. Abu-abu? Hei, mendadak aku merasa perlu untuk menyakinkan kalau langit memang sedang berwarna abu-abu. Aku melemparkan pandangan keluar jendela dan ternyata langit memang sedang abu-abu. Tiba-tiba aku teringat sekujur novel Lin yang terbaru. Ciuman di Bawah Hujan, judulnya. Cukup menarik tetapi kenapa begitu abu-abu?

Lin

Aku mempercepat laju motorku. Angin menabrak dadaku. Aku mengetatkan geraham menahan rasa yang asing. Bukan rasa gigil. Tetapi dadaku seakan terbakar sampai bolong. Padahal aku tidak merokok. Mungkin panaslah yang akan kita rasakan jika terlalu kedinginan. Misalnya, seperti saat kita menggenggam es batu.

Sementara itu wajah langit tampak semakin murung. Aku yakin sebentar lagi pasti turun hujan. Ternyata benar. Mulai ada yang menimpaku setitik demi setitik. Motor pun semakin kupacu. Aku tidak mau basah kuyup di jalanan. Terbayang secangkir teh sepat panas di studio lukis Tato. Pasti hangatnya melegakan dada. Aku pun membayangkan diriku sedang flu kemudian seseorang mengosokkan balsam ke dadaku. Seseorang yang menurut Tato terlalu abu-abu: Rafi.

Tato

Bulan sudah menyembul. Tetapi tidak lama karena jarum-jarum perak telah dicucurkan langit. Curahnya rapat sampai tampak seperti tirai yang selalu patah bila disibakkan.

Aneh, Lin belum datang juga. Padahal Lin paling tidak suka dengan kebiasaan jam karet. Aku sudah tidak sabar hendak menunjukkan lukisanku padanya.

''Merah?!'' seru Lin ketika kuceritakan lukisanku berwarna merah. ''Apakah kau tidak mempunyai pilihan warna lain? Karena aku sudah terlalu akrab dengan merah. Tiang-tiang di kelenteng, tubuh naga, ikan koi, bunga peony, baju baru ketika perayaan Imlek, angpau, lampion, semua itu merah...'' Suaranya terdengar mengambang.

''Tetapi ini merah yang lain, Lin.''

Aku memang tidak melukis semua yang disebut Lin. Tidak ada tiang-tiang kelenteng, tubuh naga, baju merah, angpau atau lampion di atas kanvasku. Yang ada hanya merah. Aku mengambil kuas dan menambahkan merahnya. Aku masih menunggu Lin.

Lin

Tato pasti sedang menungguku. Semoga saja ia tidak kesal karena keterlambatanku. Aku sedang mengalami sedikit masalah di jalan. Hujan membuat jalanan terlalu licin untuk diriku yang sedang ditunggu. Dan entah ke mana sinar bulan. Ups, motorku...

Kemarin Tato memberi tahu tentang lukisannya yang hampir selesai. Lukisan merah yang disiapkannya untuk kami. Maksudku, lukisan merah itu disiapkan Tato untuk pameran lukisannya sekaligus terinspirasi dari novel terbaruku yang berjudul Ciuman di Bawah Hujan.

Tetapi kenapa harus merah?

''Aku ingin warna lain,'' cetusku.

''Abu-abu?'' tanyanya dengan nada yang sangat datar sehingga aku tidak bisa mengartikan apa maksudnya.

Oh, aku tidak mengerti kenapa kami jadi berdebat mengenai warna. Mungkin warna dan segala ronanya bukan masalah bagi pelukis seperti Tato. Setiap hari ia bergumul dengan warna. Tetapi berbicara tentang warna selalu membuatku mulas. Rasanya seperti sedang membicarakan warna bendera partai politik saja. Atau warna kaos kampanye.

Aku jadi teringat kepada seorang rahib Buddha Tantra dari Taiwan. Ia selalu mengibarkan bendera panca warna: merah, biru, hijau, kuning dan putih secara berjajar. Menurutnya, semua kuil-kuil di Taiwan, Tibet, Nepal dan sebagian India, selalu mengibarkan bendera panca warna itu. Dari suara yang ditimbulkan kelepak sayap bendera-bendera itu, kita bisa mendengar kabar berita yang dibawa angin dari seluruh penjuru. Nah, bukankah sebenarnya banyak warna menjadikan hidup lebih kaya?

''Bagaimana kalau cokelat saja? Cokelat rasanya lebih nyaman,'' akhirnya kupilih sebuah warna sebelum mulasku menjadi-jadi. ''Cokelat warna kayu...''

''Juga warna daun layu...,'' potongnya.

Tetapi kenapa tiba-tiba aku semakin merah?

Tato

Curah dari langit semakin bertubi. Tetes-tetesnya seperti berlomba lari dari atap. Kucoba untuk menerka apakah sebenarnya warna hujan? Bening? Lalu bagaimana kebeningan itu harus kulukiskan ke atas kanvas?

''Sinar mata Rafi bening sekali, Tato! Seperti bulan...'' seru Lin. ''Rafi pernah menatapku lama sekali. Aku juga menatapnya. Tahukah kau seperti apa rasanya? Aku seperti dihujani cinta!''

Lalu ia menyanyi dengan suara sumbangnya yang merusak telingaku. Aku ingin menyuruhnya berhenti. Tetapi ternyata lagunya syahdu sekali.

Ni wen wo ai ni you duo shen

Wo ai ni you ji fen

Wo de qing ye zhen

Wo de ai ye zhen

Yue liang dai biao wo de xin

''Itu lagu Teng Lie Chin, Yue Liang Dai Biao Wo De Xin,'' ia menjelaskan tanpa kuminta dengan pipi berhiaskan merah yang menjadi-jadi.

Apalagi ketika ia mengatakan bahwa Rafi seperti Shah Rukh Khan, bintang film India tersohor itu. Dan pujiannya meluncur deras seperti hujan ketika menceritakan Shah Rukh Khan saat mem¬bintangi Kuch Kuch Hotta Hai, Kabhi Kushi Kabhie Gham, Asokh sampai Devdas.

Olala, aku tidak menyangka novelis seperti Lin ternyata penggemar film India. Dalam hati, aku mulai bertanya-tanya, sebenarnya Lin sedang jatuh cinta kepada Rafi atau Shah Rukh Khan?

Tetapi kepada siapa pun ia jatuh cinta, rupanya Lin sedang membawa warna merah muda.

Lin

''Kau gila!'' kata Tato saat kukatakan bahwa diriku jatuh cinta kepada Rafi karena ia secokelat Shah Rukh Khan. Menurutnya, aku lebih pantas menggilai Andy Lau, Chow Yun Fa, atau Jet Lee saja.

Tetapi begitulah kenyataannya.

Aku hanya melihat warna cokelat ketika bersisian dengan Rafi. Ia meletakkan lengannya di atas meja sehingga bisa kulihat dengan jelas kuku-kukunya yang cemerlang. Bentuk siku lengannya indah sekali. Dan mataku langsung menyimpan memori tentang warna kulitnya yang tampak seperti es krim cokelat. Begitu menggiurkan.

Saat itu juga kubayangkan bagaimana seandainya jika es krim cokelat yang kujilati itu mencelomoti bibirku. Kira-kira apa yang akan dilakukan Rafi? Apakah ia akan membersihkan celemotan di bibirku itu dengan bibirnya?

Aiiii...Tiba-tiba kurasakan tubuhku terlempar tinggi. Aku berusaha menghentikan tubuhku yang meluncur deras. Tetapi hujan adalah basah yang tidak bisa dicegah.

Kenapa sekarang cokelat berubah menjadi merah? Awalnya merah muda, merah dadu, lalu...bulan menghilang...

Ni wen wo ai ni you duo shen

Wo ai ni you ji fen

Wo de qing bu yi

Wo de qing bu yi

Wo de ai bu bian

Yue liang dai biao wo de xin

Tato

Lin masih belum juga datang sementara hujan semakin deras. Mendadak aku cemas ketika menyadari Lin sama sekali belum mengirim SMS. Apakah Lin tersesat karena sinar bulan menghilang?

Lin

Merah.

Tato

Biji-biji hujan tempias di lantai studio sampai menjadi genangan bercak. Aku terkejut ketika ada butir-butir yang memerciki kanvasku sehingga melembab. Tetapi aku yakin itu bukan karena pulasan kuasku. Angin kian menerbangkan basah.

Aku seperti mendengar suara Lin, ''kalau jatuh cinta itu merah muda, lalu apa warna patah hati?''

Aneh, bukankah seharusnya yang kudengar adalah suara hujan?

Ah, itu dia Lin!

Aku melihatnya sedang berusaha menerabas hujan. Tetapi tetap saja tirai basah itu tidak bisa ditembusnya. Ia menguakkan selapis tetapi sebelum ia keluar dari sana, selapis yang lain sudah menimpanya lagi.

Tubuhnya kuyup. Matanya sayup. Suaranya surup...

Ni wen wo ai ni you duo shen

Wo ai ni you ji fen

Ni qu xiang yi xiang

Ni qu kan yi kan

Yue liang dai biao wo de xin

''Patah hati tidak pernah dilukiskan. Tidak ada yang suka mengalami patah hati. Eh, siapa yang sedang patah hati?'' sahutku sambil berusaha menerka kegilaan apalagi yang akan didongengkan Lin.

''Aku,'' itu suara hujan atau suara Lin?

''Kau?'' aku kian meragukan pendengaranku. ''Kau tidak tampak seperti patah hati. Orang patah hati tidak pernah memberikan pengumuman kalau ia sedang patah hati. Dan hanya perempuan tidak tahu malu yang melakukan itu,'' sahutku sambil berusaha menyakinkan diri bahwa aku sedang berbicara dengan Lin.

''Itu karena aku sudah profesional mengelola rasa patah hatiku. Sama profesionalnya seperti ketika aku jatuh cinta,'' jawabannya membuatku merasa cacat di otaknya semakin sulit untuk disembuhkan.

''Patah hati kepada siapa?''

''Rafi.''

''Shah Rukh Khan itu?!'' aku tersengat. Oh, Lin...

''Bagaimana kalau patah hati dilukiskan dengan warna hijau?'' Ia menyergah tanpa ada rona merah lagi di pipinya. Aku melihatnya bergelombang. Ia ada di balik hujan rapat yang disapu angin.

''Lin, hijau itu untuk daun, untuk rumput, untuk padi, untuk kehidupan...''

Kucoba mencolek sedikit warna hijau untuk menyempurnakan tetes-tetes air di atas kanvas merah.

Untuk Lin. Untuk Rafi. Untuk kehidupan.

Lin

Tato tidak percaya ketika kuceritakan bahwa aku sedang patah hati. Ia bahkan tertawa sambil memelintir rambut gondrongnya yang dikepang kecil-kecil. Ia gembira seperti sedang mendengar kelanjutan novelku untuk memberikan sentuhan akhir pada lukisannya.

''Rafi mencampakkan diriku seperti sampah,'' aku berusaha untuk tidak menangis di hadapan Tato. Aku tidak mau ia melukis warna air mataku.

''Wah, segitu amat? Memangnya kau dihamili Rafi?''

''Masalahnya, justru aku belum dihamili Rafi! Seandainya aku sudah dihamilinya tentu ia tidak akan setega itu,'' tiba-tiba aku tersakiti ketika mengatakan hal itu.

Aku mau mati saja.

Tato

Hijau.

Lin

Aku tidak tahu sekarang terjebak di mana. Yang kutahu, sekujur diriku dibasahi merah. Hei...apa itu yang sedang menetes?

Tato

Aku seperti mendengar Lin sedang menceritakan sebuah episode baru tentang patah hati. Rafi yang digilainya setengah mati itu membuangnya seperti ingus. Aku senang mendengar bagian cerita ini. Setidaknya ini bukan cerita merah muda yang berbunga-bunga lagi.

''Apakah kau sudah yakin kalau sekarang Rafi tidak mencintaimu lagi? Atau dulu kau saja yang terlalu yakin kalau Rafi mencintaimu?'' Aku membutuhkan kepastian Lin untuk menyelesaikan lukisanku. Bukankah sebuah novel pun harus mempunyai akhir?

Tetapi Lin seperti tahu apa yang kupikirkan.

''Sebuah cerita tidak harus diakhiri dengan titik. Sebuah cinta juga tidak harus dipastikan seperti apa.''

''Kalau begitu, kenapa Rafi meninggalkanmu?'' mendadak aku ingin tahu. Bukankah semua sebab selalu menimbulkan akibat. Dan segala akibat selalu didahului oleh sebab.

''Karena Rafi menyamakan perasaanku seperti baju safari. Aku tidak menyangka ternyata ia menghargai perasaanku semurah itu. Jadi sekarang ia sibuk mempertuhankan baju safari dan mempersetankan diriku.''

Astaga! Cerita gilanya yang mana lagi ini?

Aku meyakini bahwa hidup memang penuh pilihan. Seperti aku memilih menjadi pelukis dan Lin memilih menjadi pengarang. Lalu ada yang lain memilih jadi wali kota, gubernur, menteri, presiden atau politisi. Itu pilihan yang sama terhormatnya dengan memilih jadi guru, wartawan, pedagang kelontong, seniman atau petani. Karena manusia harus memilih salah satu di antaranya. Kalau tidak, maka hidup yang menentukan pilihan untuk manusia. Dan manusia harus sama-sama menangis ketika merayakan kegagalan dan keberhasilannya. Kurasa karena alasan itu, Tuhan menciptakan air mata untuk manusia.

Tetapi bagaimana dengan pilihan-pilihan Lin?

Shah Rukh Khan atau Rafi?

Baju safari atau Lin?

Astaga...Pilihan-pilihan model apa itu?

Terus terang saja, aku tidak bisa menakar seberapa berharganya Rafi untuk Lin. Aku juga tidak tahu di sekat sebelah mana Lin menyembunyikan Rafi. Tetapi Lin meratapi Rafi seperti menangisi kecupan hujan untuk bangkai-bangkai bunga yang akan membusuk hari ini. Lin membuatku teringat kata-kata pujangga lama, ''hujan tercipta dari air mata cinta.'' Andaikan saja Rafi mengerti jika air mata Lin begitu mistis, apakah ia masih menyamakan Lin dengan baju safari yang juga banyak digelar di pasar loak?

Uuuffff... tetapi kupikir dalam episode ini ada baiknya juga jika Rafi melepeh Lin. Apa yang bisa diharapkan Rafi dari perempuan yang tidak bisa bangun pagi itu? Tidak ada. Dan aku tahu pasti kalau Lin tidak pandai membuat kopi. Lin cuma bisa menjadi tukang dongeng sambil menggigiti tepi-tepi kukunya. Lin lebih menyerupai tikus betina yang mengerikiti remah-remah makanan. Bukan karena ia kelaparan. Melainkan karena takdir binatang pengerat seperti tikus adalah mengerikiti.

Sssttt... aku tidak sampai hati mengatakannya terus terang pada Lin. Sebab aku melihat setetes sakit menggelinding dari matanya. Dengan cepat dihapusnya sebelum sakit-sakit yang lain susul-menyusul rontok dari sana. Diam-diam, aku sempat melihat apa warnanya.

Lin

Aku ingin menyakinkan Tato bahwa yang kukatakan padanya adalah sebuah kejujuran. Bukan sekadar cerita karanganku. Maka kukibaskan seluruh basahku sampai Tato terkejut ketika melihat sebagian kanvasnya terciprati olehku.

Ada bercak hijau di atas merah seperti hujan di atas ciuman.

Qing qing de yi ge wen

Yi jing da dong wo de xin

Shen shen de yi duan qing

Jiao wo si nian dao ru jin

''Lin...apakah kita berpakaian atau tidak saat berciuman di bawah hujan?'' Aku tak akan pernah bisa melupakan suara Rafi. Suaranya kuingat baik dalam keadaan bangun, tidur, atau mimpi. Karena kalaupun saat ini aku sekarat, hanya suara Rafi yang bisa memanggilku hidup kembali. ***

(Hidup bukan perjuangan menghadapi badai. Tetapi bagaimana agar tetap bisa menari di tengah hujan.)

Terompet Jam Gadang
RINDU pada kota ini harus dituntaskan hingga tahun baru tiba. Telah menebal rinduku tersusun. Satu tahun memang tak lama, waktu begitu cepat melipat kenangan.

Jingga mulai jatuh satu-satu. Malam beringsut. Ini malam tahun baru. Terompet dijual di kaki lima. Sedari tadi telah menyalak di mana-mana. Seperti tiada jeda untuk menghela napas. Anak-anak, orang dewasa, meniupnya tanpa peduli apa pun. Pesta menuju tahun baru telah dimulai.

Simpang Kantin sudah ramai. Musik dari sebuah pentas hiburan terdengar hingar-bingar. Aku memarkirkan kendaraan di tempat yang sudah sangat akrab. Telah biasa kulakukan sejak masih remaja dulu.

Senja mengatap Kota Bukittinggi yang sejuk. Aku belum mau mencari tempat duduk. Masih ingin mengitari kota ini semampu kakiku.

Aku menyukai Jam Gadang karena lahir dan dibesarkan di kota sejuk ini. Seperti orang-orang Milwaukee, Amerika Serikat, mencintai menara jam Allen-Bradley. Seperti orang-orang Mumbai, India, mencintai menara jam Rajabai. Dan, seperti orang-orang mengenal Big Ben, menara jam di Westminster, Inggris Raya, itu.

Menara jam, penunjuk waktu, detik yang berlalu, pendulum yang bergerak, adalah pertanda penting. Walau sering dianggap tidak penting, aku selalu memikirkannya akhir-akhir ini. Sebab, betapa cepat waktu berlalu selalu melipat kenangan, sedangkan masa depan datang bagai pedang. Aku belajar menghargai waktu, namun kadang juga aku tak mampu melawan waktu berlalu. Aku sering kalah dengan waktu.

***

Berjalan sendirian memang rawan. Tetapi aku perempuan yang tak peduli itu. Dari dulu punya keyakinan sebagai perempuan pemberani. Setidaknya, itu menurutku. Lebih-lebih ini kampung halaman sendiri. Apa salahnya. Dan aku memang sedang ingin sendiri, tak mau ikut bersama sanak saudara yang juga sudah punya jadwal tahun baru berbeda-beda.

Menyambut tahun baru kali ini ada sedikit kecewa. Jam Gadang diselimuti kain berwarna hitam, kuning, dan merah. Seperti bendera Jerman. Tidak kelihatan angka Romawi yang unik pada muka Jam Gadang itu. Angka Romawi ''IV'' sebagai angka empat, di sini ditulis dengan ''IIII''. Soal ini aku pernah bertanya kepada guru sekolah dasar dulu, tapi ia tak mau menjawabnya. Heran. Membiarkan keunikan menjadi misteri yang tak perlu jawaban adalah sebuah kenikmatan dalam bentuk lain.

***

Setiap tahun baru aku selalu kembali ke pangkuan kota ini. Pulang kampung. Sekadar melepas penat setelah satu tahun bertugas. Aku selalu menjadwalkan perjalanan. Sendirian. Menghilang dari peredaran. Suasana kantor, masalah pekerjaan, diusahakan untuk melupakannya. Begitulah, jika punya keinginan untuk kembali ke kota kelahiran. Seperti ada sesuatu yang menarik untuk mengajak pulang. Biar tak ada lagi ayah dan ibu, aku tetap kembali. Sebab, masih banyak saudara-saudara, kaum kerabat, yang masih tinggal di sini. Apalagi kerinduan terhadap bocah-bocah, keponakanku, selalu menggoda, mengajak pulang.

''Tante Diana datang, tante Diana datang,'' begitu mereka bersorak. Demikianlah mereka yang lugu menatapku penuh harapan.

***

Lima tahun lalu aku menikmati malam tahun baru berdua dengan seorang laki-laki. Laki-laki yang pernah singgah di belahan hati. Dia berasal dari sebuah kota yang tak punya menara jam. Tetapi, di tahun baru Islam, kotanya selalu meriah dengan atraksi Tabuik. Sebuah tradisi dari kaum Syiah Iran yang mendukung kepemimpinan Ali Bin Abi Thalib. Kaum yang mencintai Hasan dan Husen, putra Ali Bin Abi Thalib. Selebih itu aku tak mengerti prosesi budaya Tabuik. Yang aku tahu, satu kali ikut di dalam perayaan masal itu, membuat aku mengenal laut dari dekat. Laut kadang menyimpan dendam. Dendam tak sudah.

Empat tahun lalu kami berpisah. Berpisah ketika cawan sudah berada di tepi bibir. Saat semua serasa telah direguk pasti, tiba-tiba cawan lepas dan pecah berantakan. Jalan kami bersimpang nasib. Jalan buntu dari perundingan adat dan budaya yang dipahami kaum kerabat kedua belah pihak. Adat dan budaya yang dipisah oleh gunung.

Seperti garis asimtot. Dua garis yang tak pernah ditakdirkan bertemu, apalagi memotong garis sumbu. Begitulah kami akhirnya.

Keluarganya mengharapkan keluargaku yang melamar. ''Memang begitu. Dalam adat keluargaku, perempuan yang melamar,'' penjelasan yang awalnya sangat aneh terasa. Tapi itulah kenyataannya.

Sedangkan keluargaku bertahan pada prinsip, perempuanlah yang dilamar. ''Keluarga kita saling bertahan di garis kebenaran masing-masing. Kita tampaknya tidak bisa meneruskan langkah selanjutnya," ungkapan jauh lebih dahsyat dari lengking terompet malam ini. Memecah gendang takdir harap.

Seluruh istana impian yang dibangun, berantakan! Dan kami ternyata tidak berani mengambil keputusan apa pun untuk menyelamatkan istana itu. Semua berlalu dengan pahit. Di simpang jalan kami berpisah.

Kini, puing-puing itu masih berantakan. Terbiarkan begitu saja. Hingga malam ini aku kembali ke sini, sendiri, tanpa harus seperti beberapa tahun silam. Aku tak mengubur kenangan itu, membiarkannya menganga didera hujan, angin, dingin, panas, dan seterusnya digerus waktu. Seperti Menhir yang berantakan di Luhak Lima Puluh Kota sana.

***

Lima tahun lalu kami meniup terompet sepuas-puasnya, berdua saja di tengah gemuruh lengking terompet malam tahun baru. Sepanjang malam menuntaskan seluruh keindahan tahun baru. Sejak senja berarak pulang hingga pagi meniti tahun yang masih berseri.

Malam ini, lengking itu terasa lain. Kecewa pada bangunan tua yang terbungkus kain itu makin terasa menikam. Jika aku menjadi pendiri Jam Gadang layaknya Yazid Sutan Gigi Ameh, aku akan marah besar. Apalagi menara jam yang didirikan ini adalah hadiah dari Ratu Belanda kepada Sekretaris Kota (Controleur) Bukittinggi Rook Maker pada masa Pemerintahan Hindia Belanda dulu. Bukankah Jam Gadang sebuah bangunan paling megah setelah didirikan 1926? Sekarang, sudah banyak bangunan lain yang menenggelamkannya. Dulu, sepanjang tahun, Jam Gadang termegah dapat dilihat dari mana pun. Dan bukanlah dana yang sedikit, 3.000 Gulden, untuk membangun menara penunjuk waktu itu. Apalagi pada masa di mana tanah ini dijajah. Lihatlah hasilnya, di atas bukit, dengan tinggi 26 meter, Jam Gadang tak sedikit pun memperlihatkan keangkuhan. Ia anggun dan bermarwah.

***

Jam Gadang diselimuti dengan kain, karena ada yang tak merestui tahun baru berlalu di sini. Sebuah sikap aneh di tengah arus wisata yang terus digalakkan. Katanya, tak merestui kota ini jadi kota maksiat. Ah, maksiat, apa bisa dicegah dengan menutup Jam Gadang? Buktinya, setiap tahun baru datang, pengunjung kota tetap tiba dari berbagai kota untuk menikmati pergantian tahun. Maksiat pada dasarnya keluar bukan karena tempat, tapi karena niat orang untuk melakukannya. Dan itu bisa dilakukan di mana saja. Entahlah!

***

Aku tetap mencoba untuk melawan hawa dingin malam. Terompetku masih di tangan. Belum ada kekuatan untuk meniupnya. Aku berencana untuk meniupkannya di sebuah tempat, sebuah sudut, di mana aku pernah berdua dengan seorang lelaki. Dan aku akan membayangkan lelaki itu ada di sampingku. Aku setidaknya mampu membahagiakan diri sendiri dengan itu. Sebentar lagi, tempat yang aku tuju itu akan sampai.

Menatap Jam Gadang yang berselimut itu, aku mengingat banyak sejarah menara jam di jantung kota. Ingat Kerajaan Saudi Arabia yang akan mendirikan menara jam di Masjidil Haram. Masjid yang dikunjungi setiap tahun oleh umat muslim untuk menunaikan ibadah haji. Diam-diam aku mendoakan, semoga itu terkabul. Betapa indahnya setiap tahun bisa ke sana, seperti layaknya ketika aku menetapkan tahun baru selalu pulang ke Bukittinggi. Duh, begitu dahsyat terjadi, jika setiap tahun bisa pergi ke Tanah Suci untuk merayakan tahun baru. Lebih-lebih kalau benar-benar menunaikan ibadah haji.

''Menara jam di Masjidil Haram itu akan mengalahkan menara jam Allen-Bradley, Amerika Serikat, menara termegah di dunia saat ini,'' begitu aku mendengar sebuah berita.

Aku heran juga, ternyata antarkota selalu punya ambisi untuk saling meninggi, saling mengalahkan. Ingat Twin Towers di Kuala Lumpur, beberapa tahun lalu pernah aku naiki. Juga Monumen Nasional di Jakarta. Tapi, kenapa di sini justru Jam Gadang diselimuti? Apakah dengan begitu bisa menahan laju hasrat manusia untuk berbuat maksiat? Heran.

***

Lengking terompet makin tinggi. Aku sampai pada sisi yang paling aku suka melihat Jam Gadang. Orang-orang menanti dentang pertama tahun baru. Arena hiburan mulai menghitung detik demi detik. Aku berdiri terkesima menghadap Jam Gadang. Membayangkan di sebelahku ada seseorang yang sedang melingkarkan tangannya ke bahuku. Tangan yang kekar. Menjemput semua bayangan masa lalu. Lalu menoleh ke samping. Dan aku terperangah, dengan jelas mataku menangkap sepasang anak Adam yang sedang bermesraan. Laki-laki itu, sulit untuk dipercaya. Ternyata...

***

Lengking terompet! Gemuruh musik! Meniadakan keheningan. Tak ada renungan. Pesta tahun baru makin meriah. Orang-orang berpasangan. Bertepuk tangan. Duduk berdua. Bergerombolan. Duduk bersama-sama. Melingkar. Duduk bebas. Tak beraturan. Melompat-lompat. Berlari. Tawa mereka lepas. Malam benar-benar mereka lumat sampai pagi.

Gemuruh di dada makin meyakini tentang dia. Dialah yang pernah menggandeng tanganku! Seseorang yang mampu membuat aku merasakan sebagai perempuan.

Mujurlah mereka tak memperhatikan aku yang tolol menikmati kehangatan yang mereka lakoni. Cepat-cepat aku berlari di antara kerumunan. Menerabas keramaian. Sekencang-kencangnya. Tak peduli dengan orang-orang yang hampir tertabrak. Mereka mengelak sekenanya. Begitu jauh tempat parkir itu terasa. Habis napas sesak, terompet lepas dari tangan.

Betapa malu dan tak punya harga dirinya aku, jika mereka tahu aku sedang menikmati dengan cemburu yang berkobar pada dingin malam. Mereka berpelukan hangat menunggu dentang Jam Gadang yang berselimut kain.

Keseimbanganku hilang. Lariku mengambang. Terus mendekatkan ke tempat parkir diiringi irama terompet tahun baru sahut-menyahut. Lama-lama suara terompet mengecil dan lindap. Aku merasakan sedang melayang-layang. Aku tak menjejak tanah lagi. Dan di depanku, aku melihat Jam Gadang, Rumah Gadang, di tengah kegelapan. Samar-samar. Aku berhenti dan terkejut. Dentum kembang api tahun baru membahana, mengalahkan terompet-terompet yang ditiupkan sejak senja berangkat pulang.

Di udara, aku melihat kembang api indah, letupan dahsyat, gemuruh tepuk tangan, lengking terompet. Begitu utuh semuanya menggenapkan gemuruh kebencian hatiku. Memecah hatiku yang telah luluh lantak beberapa menit sebelumnya. Aku tak sadar, pada lengking yang mana, tahun baru tiba. ***

Balaibaru, 19 Desember 2008-Oktober 2009

*) Abdullah Khusairi , lahir di pedalaman Sumatera. Magister Filsafat Islam IAIN Imam Bonjol Padang. Tulisan dalam bentuk reportase, esai, puisi, cerpen, tercecer di media nasional dan lokal. Menetap di Padang, sebagai tukang kata, menunggu kabar dari pener

Puisi-Puisi D. Zawawi Imron
ODE BUAT GUS DUR

I

Aku tak tahu, kata apa yang pantas kami ucapkan

untuk melepaskan, setelah engkau bulat

menjadi arwah

Setiap daun kering pasti terlepas dari tangkai

bersama takdir Tuhan

Untuk itu kami resapi Al-Ghazali

bahwa tak ada yang lebih baik

daripada yang telah ditakdirkan Allah

Karena itu kami rela

mesti tak sepenuhnya mengerti

karena yang terindah adalah rahasia

II

Bendera dinaikkan setengah tiang

Tapi angin seakan enggan menyentuhnya

apalagi mengibarkannya

Biarkan bendera itu merenung

menafakkuri kehilangan ini

yang bukan sekadar kepergian

Bendera itu diam-diam meneteskan juga

air mata, yang didahului tetesan embun di ujung daunan

Semua membisikkan doa

seperti yang kucapkan setelah kau dikuburkan

Bendera itu seperti tak punya alasan

untuk berkibar, seperti kami yang tak punya alasan

untuk meragukan cintamu

kepada buruh pencangkul yang tak punya tanah

atau kepada nelayan yang tidak kebagian ikan

Cintamu akan terus merayap

ke seluruh penjuru angin

dan tak mengenal kata selesai

III

Di antara kami ada yang mengenalmu

sebagai pemain akrobat yang piawai

sehingga kami kadang bersedih

dan yang lain tersenyum

Yang kadang terluput kulihat

adalah kelebat mutiara

yang membias sangat sebentar

Hanya gerimis dan sesekali hujan

yang menangisi momentum-momentum yang hilang

padahal kami tahu

momentum tak kan kembali

dan tidak akan pernah kembali

IV

Matahari besok akan terbit

mengembangkan senyummu

lalu dilanjutkan

oleh bibir bayi-bayi yang baru lahir

Merekalah nanti yang akan bangkit

membetulkan arah sejarah

V

Selamat jalan, Gus Dur!

Selamat berjumpa dengan orang-orang suci

Selamat berkumpul dengan para pahlawan

Karena engkau sendiri

memang pahlawan

*) D. Zawawi Imron, penyair, tinggal di Sumenep, Madur

Adat Orang Sentani

"Obee" Rumah untuk Balai Adat Orang Sentani
Rabu, 3 Februari 2010 | 23:01 WIB
"Obee" merupakan salah satu rumah tradisional yang memiliki fungsi sosial budaya sebagai balai adat masyarakat Sentani, Kabupaten Jayapura.
"Sebagai balai adat, obee berfungsi sebagai tempat penyelesaian berbagai kesepakatan atau perjanjian, pembayaran mas kawin untuk pengantin perempuan dan konflik yang terjadi di tengah-tengah masyarakat," ujar Peneliti Balai Arkeologi Jayapura, M.Irfan Mahmud,MSi di Jayapura, Rabu.
Menurut dia, seiring dengan perubahan kehidupan sosial masyarakat, sekarang obee tidak hanya sebagai tempat melangsungkan upacara adat, tetapi juga untuk upacara kematian, pernikahan dan kegiatan sosial keagamaan lainnya.
"Bahkan, beberapa kampung di Sentani juga memanfaatkan obee untuk tempat rapat warga secara teratur," kata Irfan yang juga merupakan Kepala Balai Arkeologi Jayapura.
Dia mengatakan, dengan fungsi sosial budaya tersebut, obee memang didirikan dengan tujuan memenuhi kepentingan masyarakat. Hal tersebut sesuai dengan arti "obee", yang menurut bahasa setempat berarti "untuk semua."
Oleh sebab itu, obee biasanya didirikan di dekat rumah ondofolo atau ondoafi (pemimpin para kepala suku) baik di depan atau di samping rumah orang yang memiliki status sosial tertinggi dalam adat sebagai simbol harga diri adat.
Pada umumnya, satu ondofolo memiliki satu obee yang pengelolaan dan pemeliharaannya sehari-hari berada di bawah wewenang koselo (kepala suku).
Obee dapat dikenali dengan mudah dari ukurannya yang besar, berbentuk rumah panggung tanpa dinding, bersifat publik dan berada di tengah kampung.
Selanjutnya Irfan menjelaskan, dalam konsep budaya Sentani, obee sangat sakral dan berdasarkan ketentuan adat, perempuan dan anak-anak yang belum dewasa tidak boleh memasuki rumah tersebut. "Sekarang, sering kali ada juga yang naik pada hari-hari biasa," katanya.
Selain obee, masyarakat Sentani mengenal rumah "kombo" sebagai pusat pendidikan bagi remaja laki-laki dan "khogo" untuk rumah tinggal.
Masyarakat Sentani Bangun "Khogo" Sebagai Tempat Tinggal
Kamis, 4 Februari 2010 | 00:35 WIB
Masyarakat Sentani, khususnya yang mendiami Kampung Babrongko, Kabupaten Jayapura, secara bergotong royong membangun rumah tradisional "Khogo" sebagai tempat tinggal.
"Khogo adalah salah satu dari rumah tradisional masyarakat Sentani, khususnya Kampung Babrongko. Rumah tinggal ini biasanya didirikan di atas air yang ditopang tiang yang ditancapkan pada lubang," kata Peneliti Balai Arkeologi Jayapura, M Irfan Mahmud MSi di Jayapura, Rabu.
Menurut dia, arsitektur Khogo sangat sederhana dan rata-rata dibangun hanya dalam waktu seminggu jika bahan dan tenaga kerja telah siap.
Pada masa lalu, lanjut Irfan yang juga Kepala Balai Arkeologi Jayapura, konstruksi rumah tinggal keluarga Sentani dibangun tanpa dinding. Sebenarnya dinding rumah tersebut merupakan atap yang terbuat dari daun sagu, disusun berbentuk prisma dengan kedua ujungnya bertemu lantai.
Adapun ruangan di dalam rumah orang Sentani cukup terbuka. "Pembagian ruangan belum terlalu tegas antara ruang tamu, ruang tidur dan ruang makan. Jadi, anggota keluarga bisa makan dan tidur di beberapa tempat kecuali dapur," ujar Irfan.
Secara tradisional, konstruksi rumah tinggal masyarakat Sentani menempatkan bagian depan rumah tepat di bibir danau, menghadap ke daratan. Sedangkan bagian belakang rumah berada di atas air dengan dapur dengan dapur yang dibangun terpisah.
Irfan mengatakan, rumah masyarakat Sentani pada masa sekarang telah mengalami banyak perubahan sesuai dengan perkembangan kehidupan.
"Sekarang ini sudah banyak masyarakat yang mengganti atap rumah tinggal dengan seng. Ruangan dalam rumah juga sudah dibagi dan dibatasi dengan dinding tipis yang terbuat dari tikar kulit kayu," ujarnya.
Walaupun bahan konstruksi dan arsitektur rumah tinggal masyarakat Sentani cukup banyak berubah, kebiasaan saling menolong secara bergantian dalam membangunnya tetap menjadi tradisi yang terpelihara sampai sekarang.
Selain Khogo, masyarakat Sentani mengenal rumah "Kombo" sebagai pusat pendidikan bagi remaja laki-laki dan "obee" yang berfungsi sebagai balai adat.
Pesta Adat Tulude Bangkitkan Rasa Kebersamaan
Sabtu, 30 Januari 2010 | 01:33 WIB

google.com
MANADO, KOMPAS.com — Gubernur Sulawesi Utara Sinyo Sarundajang mengatakan, pesta adat tulude membangkitkan rasa persatuan dan kebersamaan dalam membangun bangsa.
"Kegiatan ini mempererat tali kebersamaan dan persaudaraan serta akan menggelorakan semangat untuk membangun," kata Sarundajang pada acara Tulude di Manado, Jumat (29/1/2010) malam.
Kegiatan Tulude sebagai ucapan syukur masyarakat Nusa Utara, yakni Kabupten Sangihe dan Talaud, yang ada di Manado tersebut dilaksanakan di Lapangan Tikala Manado, dihadiri antara lain tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pejabat di daerah itu.
Sarundajang mengatakan, tulude sarat dengan nilai-nilai keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta nilai-nilai yang akan memberikan motivasi bagi masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif dalam melaksanakan pembangunan.
"Pesta adat ini merupakan kewajiban kita semua untuk terus melestarikannya karena sebagai aset daerah maupun bangsa," katanya.
Dia memberikan apresiasi yang positif serta bangga kepada masyrakat Nusa Utara karena mampu mempertahankan budaya lokal yang sarat dengan religius itu.
Ketua umum pelaksana Tulude Nusa Utara 2010, Lederik Takaendengan, mengatakan, tulude merupakan ucapan syukur warga Nusa Utara kepada Tuhan karena berhasil melawati tahun 2009 serta memohon perlindungan penyertaan Tuhan pada tahun 2010 supaya diberikan keselamatan dan kesejahteraan.
Kegiatan ini dijadikan momentum warga Nusa Utara untuk ikut aktif membangun Sulawesi Utara menuju kesejahteraan bersama.