Sunday, 29 September 2019

LOMBA BACA PUISI KOMUNITAS HOME POETRY


INDONESIA, MERAH-PUTIHKU
Karya M. Raudah Jambak

Indonesia, Indonesia
di negeri ini aku dilahirkan
di negeri ini aku dibesarkan
di negeri ini aku menggapai
segala impian
segala harapan
segala cita
dan cinta

Indonesia, Indonesia
engkau adalah taman terindah
ibu yang paling ramah, penuh
kasih dan sayang
dalam suka
maupun duka

Indonesia, Indonesia
adalah do’a-do’a hikmat sebelum tidur,
adalah gula dalam setiap makanan maupun manisan
adalah cahaya penerang segala terang maupun yang kabur
adalah puncak segala warna dalam lukisan dan racik tenunan

Indonesia, Indonesia
laksana obat penghilang perih luka-luka
tilam paling nyaman setiap ketentraman berdiam
danau tempat membasuh tumpukan-tumpukan duka
dan senyuman dalam mata paling nyalang atau sebenam pejam

Indonesia, Indonesia
barisan semangat sepanjang carnaval
anak-anak yang berlari riang sepanjang jermal
kekasih segala pujaan, membenam segala gombal

Indonesia, Indonesia
merah darahku
putih tulangku
di tubuhku
kita menyatu
padu

Medan, 10-12



MENJAGA INDONESIA
Karya M. Raudah Jambak

Mungkin tak pernah terpikirkan
entah berapa helai daun yang gugur di halaman rumah kita
dan membusuk, atau hangus begitu saja di gunungan sampah
yang berhari-hari kita biarkan. Pun, ketika ia terseret di arus banjir
dan terdampar di kehilangan pandangan kita

Adakah terbaca setumpukan debu
yang menebal di datar kaca jendela, bersebab
kemarau dan bising lalulalang jalan raya. Padahal
tanpa sadar ia selalu menari di hadapan kita, ketika kita
berpatut-patut diri sebelum berangkat kerja

Lalu sempatkah terhitung
berapa usia ruang depan rumah kita yang membiarkan
tetamu datang dan pergi, serta gelas yang terjatuh dikarenakan
keriangan anak-anak berkejaran di seputar meja. Termasuk perempuan
yang kemudian dikatakan istri, dikatakan ibu, berebut kisah laksana setrika, selalu berpindah
dari kasur, dapur dan sumur. Juga lelaki yang tercatat sebagai suami, tercatat sebagai bapak
memungut kisah dari rumah sampai rumah

begitulah Indonesia
ia menyediakan diri sebagai apa saja
dan mungkin tak pernah terpikirkan, terbaca, atau terhitung
tentang daun-daun, debu atau justru sebagai rumah, tempat orang-orang
memungut istrirah

Indonesia adalah rumah kita
yang penuh dengan sesak sampah
yang penuh dengan riuh debu-debu
yang penuh dengan tamu-tamu
datang dan pergi

Indonesia adalah rumah kita
yang berpagar, yang berubah-ubah warna dindingnya
yang bagian-bagiannya dihancurkan kemudian
dibangun kembali

Indonesia adalah rumah kita
yang menyimpan begitu banyak cerita
dan sepatutnyalah kita
jaga

Medan, Mei 2012



MASIH MERDEKAKAH KAU INDONESIA?
Karya M. Raudah Jambak

Masih merdekakah kau Indonesia
setelah kau rajut usia dari debu-debu jalan raya
dalam kaleng rombeng
recehan angka milik pengemis belia
yang mendendangkan kidung lara
bersama hembusan dupa dari opelet tua

masih merdekakah kau Indonesia
ketika musyawarah berubah dari mufakat
menjadi siasat
ketika wakil rakyat lebih mewakili penjahat
ketika gedung dewan lebih mirip kandang hewan
dan ketika pejabat negara tega menjadi pengkhianat bangsa

Masih merdekakah kau Indonesia
dalam kemerdekaan yang kau sendiri tak paham maknanya
karena matamu telah dibutakan
dan mulutmu disekat rapat-rapat
serta telinga cuma sekedar bunga tanpa rupa

Masih merdekakah kau Indonesia
padahal telah banyak disumbangkan darah dan air mata
dan berjuta nyawa yang akhirnya cuma sekedar wana luka

Masih merdekakah kau Indonesia?

Komunitas HP, 2002



INDONESIA BERKACA
Karya M. Raudah Jambak

telah lama indonesia terjebak dalam buramnya
kotak kaca, mulai dari wajah yang berdebu, sampai
tiga dimensi yang kaku, parabola tak lagi berguna
dikalahkan kecanggihan batok kelapa-
kejahatan, penipuan, kemunafikan-berlomba menjadi
pelaku utama-sementara kejujuran, keikhlasan,dan
kesabaran-cukup puas sebagai figuran biasa

telah lama indonesia terjebak dalam kumuhnya
media masa, mulai dari wajah yang penuh darah,
sampai bibir merah penuh gairah, headline kemanusiaan tak lagi berguna, politik haus kekuasaan di atas
segalanya-korupsi, prostitusi, anti ideologi-menjadi berita terkini-sementara harkat, martabat, dan
nurani-hanya penghias demi investasi

telah lama indonesia terjebak di atas panggung sandiwara, yang selalu kehilangan penonton setia
mulai dari fans tiba-tiba, sampai kelas utama
tiket pertunjukan tidak lagi berguna, sebab
undangan gagal membawa marwah cerita-pemain, penata, dan sutradara-saling curiga dengan honor
yang diterima-sementara proyek, eksebisi, dan
pertunjukan dalam rangka-menjadi penentu final
dalam berkarya

lihatlah aceh, ambon dan papua
lihatlah korupsi, prostitusi dan manipulasi negri
lihatlah segala amoral dan asusila
anak-anak bangsa

apa khabar munir yang menunggang garuda
apa khabar harry roesli dengan drs. arief-nya
apa khabar peter white dan sepakbola indonesia
apa khabar sby bersama seratus harinya
apa khabar hamid jabbar yang selalu menzikirkan puisinya, selalu tertawa gembira-walau dalam tangis indonesia
apa khabar tsunami yang selalu meneteskan
air mata

do'a takjim buat saudara-saudaraku,
yang mengawang di bukit lawang, menanam pusara badan di kuningan, menyerah di bandara adi sumarmo yang
gelisah, ambruk mengurusi nyamuk-nyamuk, menggigil digetarnya gempa tsunami
dan yang tiba-tiba pergi ke negeri entah
(tuhan mengarahkan langkah kalian menuju taman
di dalamnya mengalir sungai susu, tumbuh bunga-bunga indah, dan ranumnya beragam buah)

telah lama indonesia terjebak dalam lusuhnya cermin kaca, tapi yakinlah kami masih mampu
membaca makna-membersihkan wajah indonesia
indonesia bercermin
indonesia berkaca
dalam derita
kami akan terus berjuang untukmu
dalam bahagia
kami akan senantiasa mengharumkan
namamu,
indonesia berkaca-anak-anak bangsa berusaha
terangkai do'a, senantiasa

Medan, 2001



SEBAB PAHLAWAN NAMAKU
Karya M. Raudah Jambak

Di dalam negeri yang penuh rahasia, aku terlahir
Dari seorang ibu yang tak henti mengumpulkan
Segala tetes air mata di pualam pipinya
Tumbuh besar sampai sekarang menjaga usia
Setua misteri yang beralis segala teka teki
Dan memberi namaku Pahlawan

Bukan aku yang meminta nama segagah itu
Bukan aku yang memaksa untuk ditabalkan
Bukan aku yang terpaksa atau bahkan rela
Merengek-rengek agar semua orang tahu
Tidak ada Pahlawan selain aku

Aku tidak harus mati dulu
Apalagi mengumpulkan kartu tanda penduduk
Atau mengumpulkan kartu keluarga sekian ribu
Bahkan harus PEMILU agar ibu menuliskan
Kata Pahlawan di keningku

Ooi, Aku bangun jiwa raga ini
Aku bangun cita-cita ini
Aku bangun negeri ini
Dengan nurani
sebab pahlawan namaku

Ooi, Tak harus kutempuh cara yang sama
Tak harus kutempuh jalan membabi buta
Tak harus kutempuh menikung suka-suka
Tapi kususuri cara yang sesederhana jiwa
sebab pahlawan namaku

Ooi, Sebab aku terlahir
di dalam negeri penuh rahasia dari seorang ibu
yang tak henti mengumpulkan segala tetes air mata
di pualam pipinya,

Maka pahlawan namaku

Bogor, 2008



AKULAH WAKTU, KAULAH MASA, KITA CATAT SEJARAH
Karya M. Raudah Jambak

/1/
Akulah waktu menggaungkan takbir bersama titik embun
yang jatuh dari ujung daun-daun dan angin yang gagal menangkapnya
serta seekor ayam jantan di bubungan yang lepas satu bulunya
sesungging senyum Tongging

Akulah Waktu yang kehilangan makna beban
Sebab ia adalah jalan menuju Tuhan
Sebab ia adalah cermin buat berdandan

Akulah waktu penguasa segala musim basah maupun kering
panas dan juga dingin. Gemuruh maupun sunyi. Tapi tetap sujudku
tapi tetap zikirku tak hilang dari sajadah sepanjang sejarah.

Akulah waktu yang menyimpan lengking tangisan pertama
sampai pada halaman-halaman kehidupan yang tenggelam
sepanjang aliran sungai darah dan degup detak jantung berderak

/2/
Akulah waktu, maka kaulah masa dari puncak gunung tertinggi.
perlahan menurun, perlahan mendaki lalu memutar memungut lara.
mengitari perjalanan batu dan pepohonan alip ba ta segala cinta!

Dengarlah angin yang berhembus! Dengarlah! Siulannya meninabobokkan
Elusannya begitu melenakan menyulam mimpi sewarna udara
bertawaflah! Ber-Sa'ilah! mencari jiwamu yang terus menari
di seputar wajah danau toba

Akulah waktu, maka kaulah masa laksana Musa yang membelah laut.
Seperti Musa yang berjumpa Tuhan di bukit Tursina. Seperti Musa
yang berburu zikir bersama Khaidir
lalu Batu, lalu waktu, lalu lara, lalu masa!
Lalu adam, lalu Ibrahim, lalu Muhammad!
Laa ilaa hailallah, Muhammadurasulullah!

/3/
Akulah waktu, kaulah masa kita catat sejarah
Kerikil-kerikil tajam tafsiran-tafsiran kelam
yang tercatat di baris-baris halaman kitab keabadian.
di aliran waktu
di aliran rindu
di aliran cemburu
sederas sipiso-piso
sedingin sidompak

Komunitas Home Poetry, 2008-2010

PUISI-PUISI M.RAUDAH JAMBAK

MALAM YANG

Malam bertandang
Lampu jalanan menjajakan cahaya
Senyum para bocah tertinggal di simpang
Peradaban kota

Malam datang
Langit menawarkan jubah hangatnya
Kerdip mata para bocah tersangkut di awan
Gumpalan kata

Malam mencari siang
Di lampu jalan yang menjajakan cahaya
Di langit yang genit mengerdipkan matanya
Kata semakin asing
Dibising kota-kota
Dilelap mimpi para bocah
Yang mengunyah segala resah
Segala gelisah

Medan,2009

PENYAIR ADALAH

Penyair bukan sekadar
Bermain-main di kubangan kata-kata
Dia lebih kepada pencerahan ruang jiwa
Bagi peradaban demi peradaban
Bagi sejarah demi sejarah

Penyair adalah kamus kesaksian
Dari berjuta macam derita
Sepanjang bencana yang selalu
Datang bertandang tidak hanya di pusat-
Pusat peradaban manusia tetapi juga pusat jiwa

Penyair adalah sang pembawa pencerahan
Bagi siapa saja untuk siapa saja
Bukan sekadar bermain-main kata
Atau sekadar mengusung slogan-slogan
Yang beraura murka

Penyair adalah kita!
PUISI-PUISI M.RAUDAH JAMBAK

SEPASANG CICAK

Sepasang cicak kedapatan bersetubuh
Di atas periuk dapurku, sekali waktu
Ketika tutup tutupnya terbuka
Dia menjatuhkan kotorannya
Disaat istriku menjaring airmatanya
Yang mengalir deras untuk menghilangkan
Dahaga anakanakku

Sepasang cicak kedapatan bersetubuh
Di atas kuali tungku dapurku, sekali waktu
Ketika kutanak airmata istriku, dia terjatuh
Dan jadi lauk bagi anakanakku

Sepasang cicak yang pernah
Kedapatan bersetubuh di dapurku
Telah menjadi darah
Telah menjadi daging
Bagi lumat jiwa kami

medan, 2009

PUISI-PUISI M.RAUDAH JAMBAK

AKU PENARI
To. D. Kemalawati

Seulanga, Jeumpa, irisan pandan menyatu dalam perasan jeruk purut.
Pada wajahku terpaut
Aku telah kalah. Dan tarianku dibusur peracik sirih yang luka
Aku memilih seudati gemuruhnya kutepuk ke dada sendiri.
Dan tujuh penari dengan sanggul kerucut, dengan riak tumpul dililit melati menganyun puan di resah nganga. Seurune kale dan rapai dabus yang mendayu menawarkan gerak panjang yang gelisah. Para penari meracik sirih, tawarkan ranub masaknya.
Aku terpesona pada hijau daun sirih, pada pinang yang terkepit dan pada cengkeh yang memata. tertata dalam ceurana.
Entahlah, pinto Aceh angkuh menghalang pandang. Tanpa penyangga. Di lampu hias bergantung, rantai besi menyisip misteri.
Seulanga, Jeumpa, irisan pandan menyatu dalam perasan jeruk purut.
Pada rahasia terpaut
Walau kalah, aku tetap memilih seudati alirnya kukayuh di darah sendiri. Dan tarianku tarian peracik sirih yang bebas pada segala.
Ah!
Medan , 2007


Dalam rumah selalu saja terdengar
Suara angin yang mengetuk-ketuk pintu
Mengisyaratkan sebuah pertemuan
Melewati waktu-waktu merindu
Tentang meja perjamuan

Dalam rumah menitik tangis hujan
Dengan irama yang berbeda pada
Atap rumah atau jendela kaca
Membawa kita pada sebuah cerita
Yang tak sampai pada kesimpulan
Tak pula berkesudahan


Di jalan ini
Pasir menyisir pagi
Menyemai gigil kerikil
Ah, betapa angin mengganggu pintu-pintu
Tak berdaun dalam bangunan pikiranku
Pada sudut rumah daun-daun berguguran
Bunga-bunga telahpun melayu



Baru saja peluh mengaliri di sepanjang bantaran dahi
Menyusuri lubuk pori-pori yang memalung, menenung
Di gemuruhnya dada, di antara kita
Pada temaram taman hatimu menghembuskan
Aroma lelah melintasi rimbunan semak-semak basah
Alahai, kepak tik tak terbang melesap di sekujur isak
Meneteskan lara yang selalu kembara,
Membebaskan kata-kata


Sekeras deru nyanyian hujan kau tetap bertahan
Baris-baris debu menyembur mantra beraroma dupa
Karam di kornea mata, menghapus jejak perjalanan
Di setiap titik peron-peron lengang
Dan daun-daun yang melayang berpeluh
Pada jejak-jejak perjalanan


Mari menafsir malam dalam kelam
Mencatat sumringah senyum rembulan
Mencatat tiap kerdipan bintang-bintang
Membiaskan goresan cahaya
membariskan jejak kaki
Melintasi dedaunan dan ilalang
Lalu bermuara ke padang-padang
Berterbangan dihembus lembut angin kenangan



Bawakan aku sajak-sajak embunmu
Seperti pertama kali kita ber temu
Pada taman yang tak ber zaman
Pada waktu yang tak ber ruang
Kita bebaskan kembara bersama angin
Seperti kemarin

ada gerai rambutmu tertahan derap langkah
kaki hujan yang berlari menembus segala sepi
dan kau masih juga menunggu pada rindu
yang terus membatu dari waktu ke waktu
menggenggam hasrat di setiap titik-titik tertahan


Puisi-puisi M. Raudah Jambak

PULANG

Sedingin udara sekelam malam
Kau masih juga menyulam waktu
Menadahkan tangan dengan tubuh
Yang gemetaran dan gigil tulang
Menunggu pulang

Bulan menggantung awan mengambang
Hatimu masih sekeras batu karang
Sepanjang jalan dengan temaram cahaya
Kau tertahan pada beban dendam diam
Menuju pulang

CATATLAH

Catatlah berapa kali gelombang
Datang bertamu mendebur debar
Membuncah yang mengambang
Menahan segala menebar kabar

Catatlah berapa kali sajak
Menggelombangkan rindu
Menghamburkan kata-kata
Segala gelegak dada

Catatlah berapa kali do’a
Diterbangkan sengguk suara
Diteteskan berjuta butir air mata
Dari carut-marut wajah dunia

SURAT I

Kuterima suratmu saat embun
Menetes di pucuk-pucuk daun
Isinya selalu tentang bencana
Dan luka yang tak pernah usai
Datang dan pergi tanpa permisi
Jerit tangis gemuruhkan badai
Mengusung segala papa yang
Tiba-tiba saja datangnya



Puisi-puisi M. Raudah Jambak

SURAT II

Kuterima suratmu yang menjelma
Muara segala air mata dari aliran
Sungai sepanjang derita, padahal
Aku rindu danau kabarmu yang
Mengalirkan air dari telaga do’a
Sepenuh bahagia

JEJAK PERJALANAN

Lalu sebuah perjalanan kata menapakkan
Jejak pada tanah keterasingan
Di saat pena kehabisan tinta segala peristiwa
Yang catatannya sempat tertinggal di bawah
Pengab bantal
: temaram lampu teplok menarikan sepi
Angin yang tiba-tiba menampar daun jendela
Melepaskan geram pada riuh sengketa kata
Padahal waktu telah cukup lama merentangkan
Jaring-jaring kalender dan patuk pelatuk waktu
Yang seketika mendatangkan segala debar
: temaram lampu teplok membenam cahaya,
ah!

SUNGAI BARA

Di alir sungai sekering ini, bara
Mencatatkan amarah tak sudah-sudah
Mendekap segala peta beribu cerita
Ada rintik menetes di bukit pipimu
Dan sebentang kaca di telaga mata
Yang hampir meruahkan almanak
Dari dasar lepuh cemburu di didih
Jiwamu

TARIAN ANGIN

Dan tarian angin sedingin pagi
Telah pun membawa putik bunga
Bersama pucuk daun muda ke padang
Segala kembara


Puisi-puisi M. Raudah Jambak

DENGKUR MATAHARI

Matahari masih mendengkur seolah
Tafakkur di balik meditasi gemawan
Dari musim ke musim
Tapi, ia tak juga melahirkan tunas-tunas
Dari kehangatan setua lengang udara
Justru terbawa arus sungai yang lama
Kehilangan gairah telaga tempat berenangnya
Para pecinta di bawah gairah purnama

SEMERDU LAGU KEKASIH

Semerdu seruling
Kau bentang kan sejuk padang savana
Bersama terian semilir angin
Dan kelembutan lagu kasihmu

ANGIN KERING

Angin berlubang di sumbat telinga
Dan bara dada yang menyala
Warnanya merah saga
Gerah terasa

LUKA PENDOSA

Resah membau di dada para pendosa
Nada-nadanya terasa sumbang
Mengundang segala nyeri
Menggoda luka
Malam mengundang angin yang berlubang
Bersama resah yang membaui pendosa
Geram air mata meneteskan dendam
Menjelmakan pedang-pedang
airmata

HUJAN II

Hujan sedang bermain kejar-kejaran
Di halaman depan, disaksikan anakku
Yang terdiam di kusamnya kursi rotan
Ada dendam di matanya, sebab hujan
Telah mengusir teman-temannya pulang
Puisi-puisi M. Raudah Jambak

HUJAN III

Hari ini anakku sedang berdamai dengan hujan
Mereka bermain kejar-kejaran di halaman
Sebab, ia lelah menunggu temannya
Yang tak juga datang-datang bertandang
Aku terduduk di kusamnya kursi rotan
Dengan segala cemas yang tak berkesudahan



HUJAN IV

Hujan, anakku dan temannya saling kejar
Di halaman depan, begitu kuyub dan berlumpur
Mereka memang sudah sepakat sebelum pulang
Menunggu hujan datang bertandang,
Membiarkan ngangaku selebar cengang

HUJAN V

Hujan telah menyerangku dari belakang
Memukulku bertubi-tubi, ketika aku melarang
Anakku dan temannya sedang bermain kejar-kejaran
Sebelum hujan datang bertandang, persis ketika
Aku memindahkan jemuran ke ruang belakang


HUJAN VI

Hujan menderas di mataku, anakku, dan temannya
Ketika banjir telah mengepung dari halaman
Sampai ruang belakang, tak ada lagi kejar-kejaran
Apalagi jemuran yang tak sempat terpajang, dan
Kursi rotan yang kusam melayang di atas genang

HUJAN VII

Hujan meratap di halaman mengajak anakku
Bermain kejar-kejaran
Anakku menggerimiskan tangis ingin mengajak
Hujan bermain kejar-kejaran


Puisi-puisi M. Raudah Jambak

SEPASANG MATA I

Sepasang mata bertatapan
Mengalirkan sungai tak bertuan
Menuju muara penuh gejolak luka

SEPASANG MATA II

Sepasang mata bertatapan
Menggerimiskan hujan diam-diam
Menyeret gugur daun ke ujung selokan

SEPASANG MATA III

Sepasang mata bertatapan
Menciptakan galau segala danau
Membenamkan ikan-ikan ke dasarnya

SEPASANG MATA IV

Sepasang mata bertatapan
Meneteskan tangis tak habis-habis
Menghanyutkan penyesalan tak berkesudahan

SEPASANG MATA V

Sepasang mata bertatapan
Menciptakan telaga dari curah awan
Membiarkan kita diam-diam merindu dendam

DAN

Dan ia pun menulis sebait kenyataan
Tentang perjalanan hidupnya yang penuh dusta
membacakan dusta hidupnya secara nyata

DALAM RUMAH I

Dalam rumah selalu saja terdengar
Suara angin yang mengetuk-ketuk pintu
Mengisyaratkan sebuah pertemuan
Melewati waktu-waktu merindu
Tentang meja perjamuan

Puisi-puisi M. Raudah Jambak

DALAM RUMAH II

Dalam rumah menitik tangis hujan
Dengan irama yang berbeda pada
Atap rumah atau jendela kaca
Membawa kita pada sebuah cerita
Yang tak sampai pada kesimpulan

DENGAN SEIKAT ZIKIR MAWAR INI

apakah yang dapat kukatakan
selain mengungkapkannya dengan
seikat kembang atau setangkai zikir mawar, Kekasih
atau apakah cukup rasa cinta dengan kata-kata
berbaur ucapan penghambur bermakna kabur
ah, dengan seikat bunga ini kau akan
mengerti penanda hati
apakah yang dapat kulakukan
selain menyusun butir-butir rindu
menjadi segunung mengharu-membiru, Kekasih
entahlah warna cinta yang bagaimana lagi
yang patut kutorehkan di kanvas hati
ah, dengan seikat bunga ini kau akan
mengerti pecinta sejati

DALAM DIAM KU TASBIHKAN CINTA

mungkin ini hari dan minggu yang kesekian
ku tasbihkan cinta dalam diam, padahal
telah disiapkan perahu mengarungi do’a-do’a
adakah luka yang begitu menganga sehingga
tercipta jurang diantara perbedaan menganga
atau aku yang kurang pandai membaca
perjalanan cuaca?

mungkin ini pasir atau kerikil yang kesekian
ku tasbihkan cinta dalam diam, padahal
telah sama berjanji-sama mendaki
adakah dendam yang begitu membatu sehingga
terpahat lereng terjal dilangkah menganga
atau aku yang tak jeli melangkahkan kaki
dalam perjalanan hati?

Medan,08
Puisi-puisi M. Raudah Jambak

AKU RUKUNKAN CINTA KITA BUKAN SESIAPA

usah kau sulam segala ragu, sebab
aku rukunkan cinta kita bukan sesiapa
sebab, kita bukanlah sepasang kekasih
seperti Caesar dan Cleopatra
tetapi kita adalah sepasang burung
dara yang bebas terbang kemana suka

aha, aku yakin kau hanya menimbun cemburu
di lumbung kasih-sayang yang menggelora, sebab
aku hanya cinta kau bukan sesiapa
dan kau akan menjadi kekasih abadi
bagi para musafir lata yang kehausan cinta
dari perjalanan sebuah pencaharian yang tak jemu

sudahlah, Kekasih
walau aku seorang pecinta, tetapi tetap
aku cinta kau bukan sesiapa

medan, 08

TATAP MATAKU DENGAN SEGALA CINTA

jangan tunduk tatap mataku dengan segala cinta
ada rahasia ada segala suka-cita, dan hanya kaulah
yang dapat membaca atau mengeja segala makna
hapus beribu ragu dengan riasan rasa

jangan menghindar tatap mataku dengan segala cinta
ada taman yang penuh dengan segala bunga berbagai warna
dan hanyalah kaulah yang dapat menikmati-memetiknya
hapus segala bau dengan berjuta aroma

medan, 2008








Puisi-puisi M. Raudah Jambak

AKULAH SANG PENJAGA CINTA

akulah itu sang penjaga cinta yang menanam
segala bunga penuh warna-sesegar aroma
di taman hatimu seteguh asmara

akulah sang penjaga cinta yang menyiram
segala bunga menghapus kerontang jiwa
di taman hatimu yang paling suci

medan, 2008

MENJARING TASBIH AIR MATA

Telah pun kujaring tasbih air matamu
Pada kedalaman laut yang paling haru
Gemuruh di dadamu mengundang cemasku
Demi menahan terjangan-terjangan gelombang

Langit sekadar membagi nasihat
Bagaimana cara membaca gerak cuaca
Awan adalah musafir yang mencatat angin
Sepanjang rahasia kesunyian sebuah perjalanan

Medan,2008


PELAYARAN SAJADAH

Lantas layaknya terminal walau tempat persinggahan
Ia datang dan pergi sepanjang kurun yang tak pernah
Ditentukan. Tapi, ingatannya kuat. Maka, di sisa-sisa
Malam ini aku hanya berdo’a semoga kau tidak
Pernah lupa
dengan segala riwayat cerita
segala derita!
Medan, 2008


PUISI PUISI M. RAUDAH JAMBAK
DI TROTOAR PINGGIR PAJAK
Inang-inang berkumpul
tak mencium busuk
dan amuk debu jalan raya
dagangan menggelepar
sebab rezeki terkapar;
Ah, ada suara sirene
yang menampar-tampar
2008
PURNAMA MENELENTANG TELANJANG
Sepotong mata
menyelinap, menembus lubang kunci
meraba-raba tubuh purnama
yang telanjang di atas ranjang
angin menamparnya diam-diam
Sepotong mata
memaki angin, mengejar
menikam dengan dendam
yang paling tajam
2008
KEMARAU
Tanah mengering
dari sungai matanya
Rindunyapun mengering
Bebatuan menumpuk
di atas kerikil-kerikil pasir
Daun mengering
hidup tinggal menumpuk debu
2008


KEMARAU -2
sebab kering hujan enggan bertandang
sebab gugur daun-daun angin menapar garang
sebab gerah sejuk pun ogah ke rumah
maka, tersenyumlah di kemarau hatiku
tapi kau masih sekeras bebatuan
tapi kau masih mengunyah diam
dan kau bersukutu dengan debu
menyerangku
diam-diam
2008

SEGALANYA JADI puisi
Lewat kaca jendela,
aku melihat mega berlayar
arungi samudra sampai muara
Kulihat sejumlah peristiwa
Pertemuan hati;
Amir Hamzah nyanyi sunyi
dzikir mengeja Illahi
Hamzah Fansuri bercakap-cakap
dengan angin
perihal mustika puisi
sampai tirakat merpati
Tampak serombongan Santo melantunkan
puja-puji dan doa-doa bagi keselamatan dunia
Malaikat serta Bidadari
meniupkan gita hawa murni
Lewat tembang
para Resi, Sufi, Rahib, Bhiksu,
Pendeta dan Wiku menyatu jadi satu
Mengalunkan damai bagi semesta
mengikuti jalan rohani sambil meniti sepi
mengaliri udara menghidupi jagat raya
menelusuri jalan sutera para pencinta
memasuki kisah penyair pengembara
membuka kunci semesta, amboi
sambil menyapa penghuni nirwana
dan mengetuk pintu rahasia
langit Nya
"Tapi siapa yang tahu,
waktu saat itu membeku!"
(Melalui kisi-kisi diatas jendela
terpaan sinar pagi terangi hati
melalui cermin jiwa, hati berkaca
untuk mengaji hal ikhwal melati)
Asal mula segala amsal
segalanya jadi






KEBERANGKATAN YANG TERTUNDA
ada seribu tanda tanya menghujam di benak
ketika mendung lindap mengendap atas kota
setia menemani saat sendiri
menjelang keberangkatan yang tertunda
tak tahu mana yang mesti dialunkan:
kinanti, megatruh atau durma?
atau barangkali kita mesti kembali bungkam
seperti hari-hari yang telah berpacu


UNTUK KITA
Kita terlahir dari huruf yang dicipta sang Penyair
Digoreskan pena takdir dalam secarik kertas putih
Rumah kita adalah buku-buku yang dibaca dunia
Disimpan dengan rapih jauh dari kotoran debu
Kita berjumpa di antara himpitan sajak
Engkau menjadi kata aku menjadi kata
Dan bahasa cinta menjelma seketika
Kita berjumpa di antara himpitan sajak
Engkau menjadi bahasa aku menjadi bahasa
Kita terus dibaca dan dipelihara


MENUNGGU
telingamu ditumbuhi lumut
matamu juga mulutmu
setelah siang malam kau duduk diam di kursi itu
setelah berhari-hari hujan khusyuk mengguyurmu
selepas kudatangi kamu dalam mimpi malam lalu
mendekap tubuh dinginmu, mencium bibir bekumu
dan mengatakan sesuatu yang tak mampu kau dengar
membuatmu salah mengira
bahwa diriku, kekasih yang sejak dahulu
kerap meninggalkanmu
akan mendatangimu kembali
di sebuah taman yang sama dalam mimpi
mengulang asmara, bercinta dalam deras hujan
yang teramat kau suka
sia-sia
itulah sebenarnya kalimat
yang tak pernah kau duga
yang membuatmu kini menjelma lumut
menungguku di taman maut


MENUJU CAHAYA
Waktu yang kita daki
kadang jauh kadang rapuh
angin memiringkan keyakinan
pada setiap bibir anak tangga
meruah darah di rongga dada.
Hati kita labuh dengan waktu
direngkuh kisah yang jatuh
di sepanjang usia yang luka.
Waktu adalah jalan menuju cahaya
diiringi peluh juga air mata
sebagai ibu dari beribu doa.


MAKA BACALAH
Detakmu
Mengingatkan kematian
Rahasimu
Mengirimkan ketakutan
Wajahmu
Wajah kita
Yang saling mengalahkan!


PUISI PUISI M. RAUDAH JAMBAK

SEORANG GADIS WARNET

Seorang gadis busung dadanya duduk di sebelahku
Bajunya berwarna hitam, ketat, dan ah, mengkilat
Tatap matanya tajam menembus ruang tanpa batas
Kilatan cahaya menerkam-terkam birahi dendam

Seorang gadis busung dadanya melirik padaku
Bajunya berwarna hitam, tersingkap, dan ah, mengkilat
Tatap matanya tajam menembus degup gemas dadaku
Kilatan cahaya menggumuli nafsuku diam-diam



MUNTAH 1

Berkali kutelanjangi waktu sepagi ini
Kuguyuri dengan ramuan air bunga beraroma
Ah, ia tak tunduk juga

Mungkin dengan sentuhan sabun ia jatuh
Tapi, aku merasa tertantang dengan kegarangannya
Kupulas, kulibas, dan kubilas

Ah, akhirnya
Ia pun lemas


MUNTAH 2

Tubuh itu melintas tepat di pandangan mataku
Aku diam. Tetapi, mataku justru tak mau pejam
ikuti gelombang yang menendang-tendang perlahan
Rambutnya melambai hendak dibelai ditiup angin
Aku masih diam. Tetapi, tanganku liar di angan
raba pendakian yang terus mengguncang-guncang
Ampun, tubuh itu berhenti dan mempermainkan
Rambutnya di pandangan mataku dan tangan yang meraba
Tak berhenti diam. Ah, sekalian biar kuselesaikan.




FITRI
Telah kuterima benih rezeki
di baris-baris senandung takbir
memanen dan menuai segala amanah
walaupun dari sebutir rimah-rimah
para pongah
Di Kota Ini
Di kota ini, para migran menembus
Gunung-gunung salju dari sejarah
Yang paling dingin
Di kota ini, cahaya temaram dalam diam
Orang-orang kerontang berebut air
Sampai tetes paling akhir
Di kota ini, tahun bersambut pada
Suasana yang paling haru, rumah-rumah
Merapat mencari hangat
2008
Di Awal Lebaran
Di awal lebaran fakir miskin berbanjar
Orang-orang cemas, orang-orang gemas, sebab
zakat-zakat mungkin raib dari brankas
2008
Puisi puisi M. Raudah Jambak
Ketupat Lebaran
Kurayakan lebaran seteguh dada
Dan senandung takbir berirama
Pada rumah yang merapat berbanjar
Kurayakan lebaran bersihkan satwasangka
pada danau hati dan telaga jiwa
curiga membungkus kepala
Dan langit, dan bumi dan manusia
Tercatat pada telapak do’a
Begitu memesona
THR
Entah karena miskin atau gairah pesta
Di setiap hati para bocah
Genggam tangan dengan erat, maka
Akan kau genggam lembaran mata angka
Dan beberapa dekap paket cinta
2008
Minal Aidin Wal Faizin
Lama sudah kita menjaring cerita
atau mungkin dosa dan segala satwasangka
Tapi, tahukah kau hanya hati yang mampu
Menyatukan segala-menyatukan rasa
Ah, apalah artinya sebuah perayaan katamu
Dengan canda. Tapi, bagiku perayaan bukan sekadar ria
Tentang sebuah harkat maupun bahagia yang tertunda
tetapi ia adalah kesungguhan sebuah cinta.
maafkan aku kalau terlalu sering bercanda
minal aidin wal faizin
Ada Beda antara Kita
Usah resah maupun gundah tentang sebuah
Perbedaan antara kita. Apa itu salah?
Justru itulah kebanggaan adanya kesungguhan
Bukan topeng dari cinta yang dipaksakan
Kita memang lahir dari keluarga yang berbeda
Kita memang lahir dengan warna kulit yang berbeda
Kita memang lahir pada lingkungan budaya yang berbeda
Tapi, tahukah kau bahwa kita masih punya hati
Yang menyatukan segala beda antara kita
Dengan cinta
2008
Akhir Ramadhan
Setelah mendapatkan rahmat
setelah mendapatkan pengampunan
dan terbebas dari api neraka
maka,. atas nama cinta
Gunung-gunungpun berubah gudang-gudang
penuh makan dan minuman beraneka
Tanah, air dan api menyatu
Angin tergugu menunggu
Setelah mendapatkan pengampunan dosa
maka, sudah kodratnyalah dosa dipanen pendosa
tanpa basa-basi luka
2008-02-07
Selamat Hari Lebaran
Takbir diagungkan,
Mari samakan langkah
Membangun negeri tempat
Kita lahir dan dibesarkan
menyambut segala kemerdekaan Iman
7 Februari 2008
Berilah Air Dari Tangan Keikhlasan

berilah air dari tangan keikhlasan,maka
kita akan selalu dicurahkan kemudahan
sebab, kasih tanpa syarat adalah
hidup yang penuh kedamaian
pada manusia
juga Tuhan
medan,06

Aku Hanya Menitipkan Bunga Ini Untukmu, Sahabat
Sahabat,
hanya setangkai bunga inilah yang dapat
kutitipkan padamu. tanamlah ia pada vas
hatimu yang bersemu biru
sebab, hanya ia yang mampu mewarnai hidup
agar lebih indah dan merona
Sahabat,
hanya setangkai bunga inilah yang dapat
kutitipkan padamu. rawatlah ia dengan
segenap kasih sayangmu
sebab, hanya ia yang mampu memberi kesegaran bagi hidup yang mengharu biru
Sahabat,
hanya setangkai bunga inilah yang dapat
kutitipkan padamu, ya setangkai bunga
cinta berwarna kedamaian
medan,06
Masa Depan Manusia
masa depan manusia adalah
pucuk dedaunan di puncak pepohonan
yang menghijau
sebab energi pupuk kebersamaan
bersih dari racun curiga
dan satwasangka
masa depan manusia adalah
buah ranum di reranting pepohonan
yang rimbun
sebab siraman segar air kebersamaan
mengalir dari mata air yang bersih
dan bening
masa depan manusia adalah
angin sejuk berhembus pada
pepohonan hati kita, makhluk
penjaga sah kelestarian hidup
dan kehidupan
medan,06

Demi Masa

aku kejar matahari tenggelam agar aku
tidak merasakan malam,
aku kejar kehendak hatiku untuk
kebahagiaanku,
tanpa sadar sekelilingku bukan siang lagi
aku pandang esok hari dengan sebuah ambisi
padahal aku hidup hanya beberapa jam lagi,
aku lupa mengucap syukur pagi tadi,
sekarang aku sudah mati dan tidak mampu
untuk menata hari depanku sekali lagi
aku lupa tersenyum,
sekarang mulutku sudah terkatub
aku lupa bertegur sapa,
sekarang aku diam bahasa
kisahku sudah selesai
hari ini adalah masa depanku
seharusnya aku peluk istriku
dan mencium dahi kedua anakku
sambil berjalan mampir kerumah ayah, ibuku
tapi, kisahku sudah selesai
kisahmu belum,
saat kau baca jeritan hatiku ini
hari ini, hari esok, mungkin milikmu,
jangan sia-siakan
pakai lututmu, pejamkan matamu, teduhkan hatimu,
mintalah Tuhan menuntunmu.
Siklus

Pernah kita beria di gelinjang kekanakan yang menggemaskan dengan celoteh tak bermakna.
Lalu bergolak dengan decak nakal keremajaan hidup oleh setumpuk kejahilan;
Trus tegak berlenggok menapak detak waktu yang masih terus berjajar kian banyak menyusur kedewasaan batas -batas hari yang tak mau surut.
Selalu ada cerita bergilir melintas di lorong nafas hidup tanpa mau permisi karna dia memang punya ruang untuk berlakon.
Kau dan aku mungkin lelah melonggok ke kisi peristiwa dengan tanya yang tak bersahut.
Galau, cemas, bingung dan takut adalah geliat angin yang mengusap jemarinya sebentar lalu pergi karna tersapu tawa.
Kadang memang tinggal mengendap di dada menoreh atau malah mencabik rasa.
Tapi mereka bukan keabadian yang memberi janji.
Karna di tiap simpang hidup yang luput dari pelupuk asa, selalu ada kuntum dari suatu janji bergantung dilipatan lutut dan tangan yang bergumam pada renungan doa.
Janji itu guratan pena Kudus dari tangan yang pernah terpaku, berlumur darah penebusan.
Suatu janji "Aku menyertai engkau senantiasa sampai pada akhir jaman.



PUISI PUISI TINA APRIDA MARPAUNG

SIBOLGA, DI HARI YANG FITRI

kita seperti kehilangan alamat pulang
selalu kembali di jalan ini
bahkan setelah khutbah usai
kita bergegas menuntun tubuh kita
kembali ke muasal segala luka
ruang-ruang kerja
ruang-ruang yang kehilangan bahasa
ruang-ruang yang kehilangan rasa

SIBOLGA SELEPAS SUBUH

Burung-burung aneka suara
berkicau
menyambut matahari
yang terbit dalam diriku
beterbangan di kepalaku
beterbangan dalam hatiku
membuat ruang di dalam dada
untuk wadah wajahmu yang fana
jangan sampai terjadi lagi
semua ini
tertimbun longsoran gunung
dalam diri

DI SAMPING MUSHALLA, SIBOLGA

Janganlah kembali tidur
karena tidur lebih berbahaya
dalam tidur setan bisa menyusup sanubari
membisikkan kata-kata jahat
agar hati kita gelap, akal sehat terlelap
tuhan pun menjadi samar - antara ada dan tiada.
Tetaplah terjaga dan berdoa
teror yang membuat kita terlena
dan terasa mengeringkan darah kita
akan terbang dan musnah
setelah adzan subuh bergema
lantas kita banting daun pintu - berangka 13.




PUISI PUISI TINA APRIDA MARPAUNG


SIBOLGA, DI HARI YANG FITRI

kita seperti kehilangan alamat pulang
selalu kembali di jalan ini
bahkan setelah khutbah usai
kita bergegas menuntun tubuh kita
kembali ke muasal segala luka
ruang-ruang kerja
ruang-ruang yang kehilangan bahasa
ruang-ruang yang kehilangan rasa

RUMAH TANPA DZIKIR

Kapan tak ada cinta mengalir
Dalam rumah tanpa dzikir
Ikhlaskan hatimu berwudhu
Biar laku mantap tawadu
Cinta bukanlah eros semata
Bukan cuma nafsu dan dusta
Tapi juga dzikir dan pikir
Maka rumah adalah surga
Tempat rahman dan rahim
Allah diparkir

SEBUAH PERINGATAN

Kuberi kau jarak
Antara kenangan dan cinta
Antara maut dan syahwat
Kita meronta
Menerkam badai
Diterkam badai
Antara cinta dan syahwat
Mendekam harapan dan khianat
Kitapun gemetar. Kitapun gemetar
Di bibir surga dan neraka
Kita terkapar






PUISI PUISI TINA APRIDA MARPAUNG


TUAN CAHAYA BULAN

Tuan Cahaya Bulan, menyusuplah
ke saku bajuku. Hitunglah harga diriku
jangan kauhitung harga pakaianku
Buatlah tubuhku berkilau seperti sosokmu
Tuan Cahaya Bulan, petikkan
untukku sekuntum bintang
Bawalah padaku, semat di keningku
Aku yang mencintai sunyi, buatlah
gemerlap bagi bumi. Hingga bagiku
sendiri, tak ada yang lebih berarti
Dari kesetiaan dan istiqomah
di jalan ilahi

KASIDAH KETABAHAN

Sekian lama embun bertahan di pucuk daun
kini terpelanting, pecah ke udara gelisah
beribu tahun penyair menanti makna puitik
setetes embun yang sanggup berembesan
kekeringan yang lama melanda di jiwa
tetap tabah, berharap air memercik di hati
mengalir harapan kehidupan menyadari
Seperangkat senyum selalu menggelantung
di awang-uwung, lempar ke padang gersang
kemarau kemarin masih sisakan jerit perih
kini makin pekikkan rasa yang ternyata
hanyut dalam kesedihan demi kesedihan
terseret duka lara sangat menyayat, betapa
penyair tetap tabah: kata berubah makna












PUISI PUISI TINA APRIDA MARPAUNG

TARIAN SEMBAHAYANG

Seekor kupu-kupu dengan sayap bermotif cinta aisyah
sembahyang mengitari jagat perasaan yang tenang
Bunga kebaikan bermandikan
cahaya dhuha yang menari
di taman ibrahim
Seekor kupu-kupu menemukan isyarahnya
yang pasrah menjelang hinggap pada bunga
yang berkah itu, dinikahkan serbuk sari
doa-doa yang bertabur bagai mazmur
Dari luar pagar seorang lelaki yang pasti
mengintip geraknya, memahami senyum cahaya sebelum
kehidupan benar-benar milik sepasang pengantin
yang dirindukan hujan

SEPERTI SEMUT

Ibadah mereka ibadah semut-semut
yang berjalan di gelap malam
menangkap rahasia syair. Membaca cahaya
Rummi mengaji di atas batu. Khidir di laut
Hadi di dering jam
mengeja nama-nama. Kalimat cinta
yang berbinar bagai mata kanak-kanak
Ibadah mereka ibadah semut-semut
bersujud mengungkai kecewa
menyerahkan airmata. Nyawa di ujung rela
seperti Ismail menebus mimpi Ibrahim
Mereka tak takut pada malam. Tasbih sunyi
sambut datangnya sungai cahaya. Mencari
keharuman bumi ilahi
Ibadah mereka ibadah semut-semut
yang mengembara dan mencari
ayat-ayat kiamat di daun-daun di batu-batu
Jika hujan tiada merekalah yang menangis sama-sama
Jika cahaya tiada merekalah yang matanya awas sama-sama
membangun simpuh dan doa-doa
Ibadah mereka ibadah semut-semut
yang tak peduli pada angin. Simpati pada hembusan
rindu. Dingin cuma isyarah. Mereka tak takut
sejarah buruk kerna tergelincir dalam syair
sebab hati mereka damai menyalami dosa-dosa
Angkasa. Memahami tuhan yang mahagila

PUISI PUISI TINA APRIDA MARPAUNG


DI MAKAM

aku tumbuh
dari tanah yang hina
kelemahanlah kodratku
o kekasih
ziarahkan aku
kepada cahayamu
aku debu
mengabut di semestamu
mendung dan kemuraman
selalu menyertaiku
entah esok
akankah kulihat cahaya
kekasih,
bukalah ladang-ladang cahayamu
di sekeliling rumahku
aku ingin menanam cinta,
kasih dan kepasrahan
biar nanti tumbuh
jadi pohon rindang di mahsyar
tempat bereteduh manusia
yang kepayahan dan kepanasan
dan pohon-pohon itu
adalah wujud
kasih, cinta dan perlindunganmu
aku hanyalah debu
mengabut mengitari cahayamu
kekasih,
ziarahkanlah aku
kepada cahayamu!











PUISI PUISI TINA APRIDA MARPAUNG

WAKTU MARPANGIR

Bersijingkat naik, ke ubun-ubun,
segala kisah yang pernah kausebut
sebagai gairah, di luka sungai
yang burai satu-satu benang kebayanya.
Aku lebai, mengucap baris-baris sampan
sebagai alif, sebagai penunggu tuhan yang arif.
Bahkan untuk sedulang kembang,
telanjangmu bagiku hanya bayang,
hanya debar yang meregang di sendi,
di gerak sepi yang pura-pura mati.
Diamlah di sini,
untuk hari yang berlari dari genggaman,
dari ketakutanmu pada kecut malam.
Orang-orang di sekitar pasti terbenam,
memeluk petang sebagai bayi sawan
yang menagis di sepanjang pelabuhan.
Irama itu,
para lelaki bertahlil, kaudengar yang
diam-diam bersijingkat ke ubun-ubun?
Yang kita lawan adalah hitungan jam.
Seluruh ketakterdugaan melanun di
gemuruh putih yang bangkit dari
punggung pulau.
Mereka datang bergelombang,
mengusung patahan-patahan sauh
dari kekelaman yang jauh.
Bergoyanglah laut, dalam diri,
di dasar kabut birahi, di negeri
yang diselimuti setitik api.
Untuk terbelah, menjadi limau,
sepasang risau yang dihalau
ke tengah surau, kita gugup dalam
mimpi buruk yang kerap merayap
ke segenap gelap. Tak ada sebab
untuk merintih di pundak kekasih,
meracau pada masa depan yang
tersisih. Dan yang bersijingkat naik,
mulai menyusuri kerut sungai di
belahan kebayamu, satu-satu memburai
barisan alif yang bergoyang di jantungku.
Kau lihat, ada petang berlepasan
dari genggaman.



Membaca Wajah, Membaca Luka


Gelar Rangkai Puisi YS. Rat
Membaca Wajah, Membaca Luka
Program UPT Taman Budaya Sumatera Utara – Dinas Kebudayaan
dan Pariwisata Sumatera Utara, Mei 2011
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

DOA SEBELUM USAI

Allah, telah Kau ingatkan. Kami
pun sempat mengingatnya. Selebihnya entah
apa. Sekarang pastilah Kau saksikan
beginilah kami. Gelimang darah banjiri
sawah ladang yang Kau hampar
seluas ikhlas. Diretas nyawa sesama
tak sanggup kami menghitung jumlahnya
Suami menjadi duda. Istri dirundung
pilu menjanda. Orang tua merindu
anaknya. Anak-anak meratapi kesendiriannya
adalah sesak yang tak ada
habisnya. Allah, sebelum usai kami
percaya kerelaan-Mu. Mohon ingatkan lagi
kami tak berulang lupa semua
adalah saudara tak ada lain
kecuali kepada-Mu. Allah, maka hari
ini segala apa kami lakukan
Kaulah memberinya keindahan selamanya tanpa
peluru mengganas tanpa darah membuncah
kembali sawah ladang bertebar rezeki
Allah


WAJAH YANG TERSENYUM

Tinggal potret di dinding kamar
lelaki mungil dengan mata bening
dan petak sawah di belakang rumah
yang kini tak lagi melahirkan padi
tapi aku selalu mengingatnya
itulah yang selalu membuatku tak suka pulang
ketika Ibu memanggil untuk makan siang

Begitulah aku Ibu

Saat matahari diam-diam pergi
diam-diam pula aku menyelusup
tanpa mengetuk pintu
kau hanya menemukan di ember cucian
baju dan celanaku penuh lumpur dan debu
dan ketika kau tau aku sembunyi di balik pintu
cepat aku membela diri ;
bukan aku yang membuat baju dan celanaku sekotor itu
tapi kawan-kawanku yang nakal memaksaku ikut bermain!
kami bermain bola dan menangkap ikan,
kataku dengan wajah ketakutan
Ibu nenatapku ;
besok aku tak akan mengulanginya,
janjiku tanpa kau minta
tapi setiap kali metahari memanggil
dan ketika petang sampai di rumah
kembali baju dan celanaku
bergambar lumpur dan debu
kau pun kembali menatapku

Begitulah aku Ibu

Sebagai lelaki
dan ketika langkahku terasa semakin kuat
diam-diam aku ingin berjalan sendiri
kubiarkan kau menatapku di depan pintu
dengan bimbang
Ibu
aku tau kau merasakan
di perjalanan aku selalu terjatuh membentur batu
tapi aku yakin kau pun tau
itu membuatku semakin berani
dan tak mau pulang tanpa alas kaki

Inilah aku Ibu

Jauh darimu teringat lagi
jalan sempit di samping rumah tetangga
ketika aku dan kawan-kawan
setiap malam melintasinya
pergi dan pulang mengaji
Ibu
kenangan itu selalu kuingat
dan membuatku mengerti
kalau saja dulu tak kuturuti perintahmu
lantas aku ikut dengan kawan-kawan
yang selalu pergi dan pulang sama
tapi tak masuk ke dalam terangnya rumah pak guru
malah bersembunyi di rumah tetangga
nonton tivi yang waktu itu cuma ada satu
di kampung kita
pasti sekarang aku entah ada di mana
Ibu
karena sekarang aku semakin mengerti
arti tatap matamu dulu
aku malah tak tau bagaimana membalasnya
sedang potret di dinding kamar masih seperti dulu
lelaki mungil dengan mata bening
yang tak pernah bosan aku menatapnya
dan kepadanya selalu bubisikkan ;
lihatlah wajah Ibu
dia tak bosan tersenyum dan menatap kita
karena kita selalu saja membuat kesalahan
yang tak diingininya
Ibu


LELAKI EMPATPULUH LIMA

Empatpuluh lima ke depan
dihitung setiap langkah
lelaki membakar unggun
di bawah tiang perkasa
atasnya merah putih membelah awan
Indonesia Raya menggema dari sudut perkampungan
Indonesia Raya membahana ke tengah-tengah kota
ada padi rata ke tanah
ada debu rata ke wajah

Empatpuluh lima ke depan
terus menggunung hitungan
lelaki sudah jauh melangkah
luka bekas peluru di pundak
tetap saja tak berbalut
Indonesia Raya telah fasih dinyanyikan
Indonesia Raya berulang diajarkan generasi ke generasi
masih juga banyak yang lupa
masih saja banyak yang luka

Lelaki empatpuluh lima adalah dia
sambut kemerdekaan tancapkan tiang
pada tiap jejak kelahiran
merah putih atas kepala kian gagah
nyala unggun makin menjulang
luka bekas peluru di pundak
sudah tak ada obatnya

Nyala unggun menjilat langit
di bawah tiang perkasa
atasnya merah putih membelah awan
lelaki empatpuluh lima kembali
duduk tafakur di tanah kelahiran
ditulis syair lagu perjalanan
persembahan bagi negeri tercinta

“Di sinilah aku tengadahkan kepala
lelaki empatpuluh lima
luka di pundak penuh lalat
di sinilah aku kembali dari perjalanan
membawa catatan tak sepadan
tentang luka di mana-mana
lelaki empatpuluh lima
nasib tak sepadan baktinya”


MEMBACA PENUH PENGHAYATAN LUKA-LUKA KITA

Membaca matahari terbit dan terbenam
Seperti rombongan burung ketika pulang
Harus bersarang pada embun
Jadi terkulai di atas bebatuan mengering
Kalaupun menolak pengertian. Percuma
Waktu menggelepar sepanjang perjalanan
Ada yang melarang menghentikannya

Membaca bulan purnama dan tertutup awan
Seperti lingkaran kucing ketika lapar
Harus bersekutu pada tikus
Tak bisa lain kecuali memangsa mimpi
Kalaupun mengharap belas kasihan. Sia-sia
Pagi berlumur liur tak berkesudahan
Ada yang menghadang di setiap perbatasan

Membaca bintang berkedip dan diam
Seperti barisan ikan ketika menari riang
Harus menyerah pada gelombang
Napas berakhir di jala tak bertuan
Kalaupun mengejar tepian. Tak guna
Pasir memanas mengurung peristirahatan
Ada yang menghalau setiap permufakatan

Membaca matahari, bulan dan bintang
Adalah membaca penuh penghayatan luka-luka kita


MEDAN YANG HILANG

Sungaisungai mengalir tak memantul silau
menatapnya membangkit imaji indah gemulai
tarian air nuju muara dari
deli
babura
sikambing
denai
putih
badra
sulang saling
belawan
seluas tanah tiada sebekas langkah
terperangkap sesak menapakinya melintas penjuru
memesra perjalanan menemu kisah 171590
guru patimpus menyeruak rawa belukar
menetas kampung sebening udara tanpa
selintas bayang menghirupnya lapanglah dada
membersih pikir sejulang langit nol
awan hitam meruntuh hujan ngancam
detak jam menerawangnya meneguh sepenuh
yakin tak sesiapa secuil pun
rela berpesta luka membunuhkuburkan janji
purba menjaga kota tua bernama
medan

Begitulah bertahuntahun lalu hingga tak
terhingga kenal pun tak kutampak
serombongan orang menyelinap serempak
menimbunkeruhkan
sungaisungai sekalian merebahtutupkan tembok
mengecilsempitkan
tanah sekaligus menghapuslenyapkan batas
mengumuhgersangkan
udara seraya memanasganaskan angin
memanahkoyakkan
langit serenta menyungkilbutakan matahari bulan
bintang

Beginilah bertahuntahun sudah kini
menggeleparmatilah
ikanikan mengairlautlah jalanan pemukiman
menyempitsakitlah
napas mengaburasinglah jejak bangunan
bersejarah satusatu dirambah selebihnya menyisa
gundah titi gantung pun telah
limbung nasibnya lapangan semula merdeka
didaulat jadi lapangan mereka entah
kepada siapalah tempat mengadu sedangkan
guru patimpus cuma di catatan
berserak di sejengkal jalan di
seonggok tugu bisa disua


KUKIRA KALIAN ENTAH SIAPA,
RUPANYA KALIAN ENTAH SIAPA
(yang berebut duduk di gedung rakyat)

Kukira kalian entah siapa
tak pernah ada suara langkah
melintas pun tak pernah
tiba-tiba saja telah berdiri
di bawah payung seluas tak terhingga
tak berkeringat padahal matahari
menembus melelehkan aspal jalan
sekeliling kota
yang di bawahnya tertimbun
segunung keringat
sebelantara napas
selangit tangis
selaut manusia yang punya
Melangkah di lantai tak berdebu
terlihat gamang seperti penari
tak mengerti hitungan ke berapa
kaki diayunkan mengikut irama musik
gagap pula tangan
menyambar handphone di saku kemeja
nada panggil menyentak-nyentak
bingung pula ke telinga mana didengarkan
panggilan pertama yang entah apa dikatakan
tanpa pikir dijawab saja ;
“ya, ya, baru saja sampai!”
“oh, gedung ini?”
“wah, siapa pun betah!”
“pasti ingin selamanya di sini!”
Kemudian nada panggil seakan
tak mau berhenti
kemudian aku mengerti
rupanya kalian entah siapa


SECUIL PERANG

Lihat!
secuil perang meletup
di ubun-ubun

Matahari
bulan
bintang
panas
debu
mendung
hujan
datang dan pergi
pada Allah
lihatlah!

Hai!
secuil perang meletup
secuil perang

Matahari
bulan
bintang
panas
debu
mendung
hujan
ada dan diam
pada Allah
lihatlah!

Lihat!
hai!
secuil perang meletup
di ubun-ubun
secuil perang meletup
secuil perang
cuma secuil
perang!


----------------------------------------------------------------------------------------
Pengisi Pergelaran
- Hasan Al Banna
- M Raudah Jambak
- Abd Razak Nasution
- Joni

Penata Artistik
- Rudi Pama

Penata Lampu
- Irma Karyono



Daftar Puisi
1. Doa Sebelum Usai
10 Januari 2011, Medan

2. Wajah yang Tersenyum
11 Februari 1989, Medan

3. Lelaki Empatpuluh Lima
2010, Medan

4. Membaca Penuh Penghayatan Luka-luka Kita
1 Juli 1997, Medan

5. Medan yang Hilang
14 Oktober 2009, Medan

6. Kukira Kalian Entah Siapa, Rupanya Kalian Entah Siapa
(yang berebut duduk di gedung rakyat)
25 September 1999, Medan

7. Secuil Perang
20 Desember 1989, Medan

TENTANG RINDU


Sapardi Joko Damono

Kolam di Pekarangan

/1/
daun yang membusuk di dasar kolam itu masih juga tengadah ke ranting pohon jeruk yang dulu melahirkannya. Ia ingin sekali bisa merindukannya. Tak kan dilupakannya hari itu menjelang subuh hujan terbawa angin memutarnya perlahan, melepasnya dari ranting yang dibebani begitu banyak daun yang terus-menerus berusaha untuk tidak bergoyang. Ia tak sempat lagi menyaksikan matahari yang senantiasa hilang-tampak di sela-sela rimbunan yang kalau siang diharapkan lumut yang membungkus batu-batu dan menempel di dinding kolam itu. Ada sesuatu yang dirasakannya hilang di hari pertama ia terbaring di kolam itu, ada lembab angin yang tidak akan dirasakannya lagi di dalam kepungan air yang berjanji akan membusukkannya segera setelah zat yang dikandungnya meresap ke pori-porinya. Ada gigil matahari yang tidak akan bisa dihayatinya lagi yang berkas-berkasnya sinarnya suka menyentuh-nyentuhkan hangatnya pada ranting dan hanya berbisik jika angin lewat tanpa mengatakan apa-apa. Zat itu bukan angin. Zat itu bukan cahaya matahari. Zat itu menyebabkannya menyerah saja pada air yang tak pernah bisa berhenti bergerak karena ikan-ikan yang dikolam itu diperingatkan entah oleh siapa dulu ketika waktu masih sangat purba untuk tidak pernah tidur. Ia pun bergoyang. Ia pun bergoyang kesana-kemari di atas hamparan batu kerikil yang mengalasi kolam itu. Tak pernah terbayangkan olehnya bertanya kepada batu kerikil mengapa kamu selalu memejamkan mata. Ia berharap bisa mengenal satu demi satu kerikil itu sebelum sepenuhnya membusuk dan menjadi satu dengan air seperti daun-daun lain yang lebih dahulu jatuh ke kolam itu. Ia tak suka membayangkan daun lain yang kebetulan jatuh di kaki pohon itu, membusuk dan menjadi pupuk, kalau kebetulan luput dari sapu si tukang kebun.
*
ia ingin sekali bisa merindukan ranting pohon jeruk itu.
*
ingin sekali bisa merindukan dirinya sebagai kuncup.

/2/
ikan tidak pernah merasa terganggu setiap kali ada daun jatuh ke kolam, ia memahami bahwa air kolam tidak berhak mengeluh tentang apa saja yang jatuh di dalamnya. Air kolam, dunianya itu. Ia merasa bahagia ada sebatang pohon jeruk yang tumbuh di pinggir kolam itu yang rimbunannya selalu ditafsirkannya sebagai anugerh karena melindunginya dari matahari yang wataknya sulit ditebak. Ia senang bisa bergerak mengelilingi kolam itu sambil kelihatan sesekali menyambar lumut yang terjurai kalau beberapa hari lamanya si empunya rumah lupa menebarkan makanan. Mungkin karena tidak bisa berbuat lain, mungkin karena tidak akan pernah bisa memahami betapa menggetarkannya melawan arus sungai atau terjun dari ketinggian, mungkin karena tidak pernah merasakan godaan umpan yang dikaitkan di ujung pancing. Ia tahu ada daun jatuh. Ia tahu daun itu akan membusuk dan bersenyawa dengan dunia yang membebaskannya bergerak kesana kemari, ia tahu bahwa daun itu tidak akan bisa bergerak kecuali kalau air digoyang-goyangnya. Tidak pernah dikatakannya jangan ikut bergerak tinggal saja di pojok kolam itu sampai zat entah apa itu membusukkanmu. Ikan tidak pernah percaya bahwa kolam itu dibuat khusus untuk dirinya oleh sebab itu apa pun bisa saja berada disitu dan bergoyang-goyang seirama dengan gerak air yang disibakkannya yang tak pernah peduli ia meluncur kemana pun. Air tidak punya pintu.
*
kadang kala ia merasa telah melewati pintu demi pintu.
*
merasa lega telah meninggalkan suatu tempat dan tidak hanya tetap berada di situ.

/3/
air kolam adalah jendela yang suka menengada menunggu kalau-kalau matahari berkelebat lewat di sela rimbunan dan dengan cerdik menembusnya karena lumut merindukannya. Air tanpa lumut? Air, matahari, lumut. Ia tahu bahwa dirinya mengandung zat yang membusukkan daun dan menumbuhkan lumut, ia juga tahu bahwa langit tempat matahari berputar itu berada jauh di luar luar luar sana, ia bahkan tahu bahwa dongeng tentang daun, ikan, dan lumut yang pernah berziarah ke jauh sana itu tak lain siratan dari rasa gamang dan kuatir akan kesia-siaan tempat yang dihuninya. Langit tak pernah firdaus baginya. Dulu langit suka bercermin padanya tetapi sekarang terhalang rimbunan pohon jeruk dipinggirnya yang semakin rapat daunnya karena matahari dan hujan tak putus-putus bergantian menyayanginya. Ia harus merawat daun yang karena tak kuat lagi bertahan lepas dari tangkainya hari itu sebelum subuh tiba. Ia harus merawatnya sampai benar-benar busuk, terurai, dan tak bisa lagi dikenali terpisah darinya. Ia pun harus habis-habisan menyayangi ikan itu agar bisa terus-menerus meluncur dan menggoyangnya, kalau ada yang berterima kasih karena bisa bernapas di dalamnya. Ia sama sekali tak suka bertanya siapa gerangan yang telah mempertemukan kaian di sini. Ia tak peduli lagi apakah berasal dari awan di langit yang kadang tampak bagai burung kadang bagai gugus kapas kadang bagai langit-langit kelam kelabu. Tak peduli lagi apakah berasal dari sumber jauh dalam tanah yng dulu pernah dibayangkannya kadang bagai silangan garis-garis lurus, kadang bagai kelokan tak beraturan, kadang bagai labirin.
*
ia kini dunia.
*
tanpa ibarat.



Sajak karya : SapardinDjoko Damono










Surat Cinta

Kutulis surat ini
kala hujan gerimis bagai bunyi tambur yang gaib,
Dan angin mendesah
mengeluh dan mendesah,
Wahai, dik Narti,
aku cinta kepadamu !

Kutulis surat ini
kala langit menangis
dan dua ekor belibis
bercintaan dalam kolam
bagai dua anak nakal
jenaka dan manis
mengibaskan ekor
serta menggetarkan bulu-bulunya,
Wahai, dik Narti,
kupinang kau menjadi istriku !

Kaki-kaki hujan yang runcing
menyentuhkan ujungnya di bumi,
Kaki-kaki cinta yang tegas
bagai logam berat gemerlapan
menempuh ke muka
dan tak kan kunjung diundurkan.

Selusin malaikat
telah turun
di kala hujan gerimis
Di muka kaca jendela
mereka berkaca dan mencuci rambutnya
untuk ke pesta.

Wahai, dik Narti
dengan pakaian pengantin yang anggun
bunga-bunga serta keris keramat
aku ingin membimbingmu ke altar
untuk dikawinkan
Aku melamarmu,
Kau tahu dari dulu :
tiada lebih buruk
dan tiada lebih baik
dari yang lain ......
penyair dari kehidupan sehari-hari,
orang yang bermula dari kata
kata yang bermula dari
kehidupan, pikir dan rasa.

Semangat kehidupan yang kuat
bagai berjuta-juta jarum alit
menusuki kulit langit :
kantong rejeki dan restu wingit
Lalu tumpahlah gerimis
Angin dan cinta
mendesah dalam gerimis.
Semangat cintaku yang kuta
batgai seribu tangan gaib
menyebarkan seribu jaring
menyergap hatimu
yang selalu tersenyum padaku.
Engkau adalah putri duyung
tawananku
Putri duyung dengan
suara merdu lembut
bagai angin laut,
mendesahlah bagiku !
Angin mendesah
selalu mendesah
dengan ratapnya yang merdu.
Engkau adalah putri duyung
tergolek lemas
mengejap-ngejapkan matanya yang indah
dalam jaringku
Wahai, putri duyung,
aku menjaringmu
aku melamarmu

Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
kerna langit
gadis manja dan manis
menangis minta mainan.
Dua anak lelaki nakal
bersenda gurau dalam selokan
dan langit iri melihatnya
Wahai, Dik Narti
kuingin dikau
menjadi ibu anak-anakku !


Puisi : Ajip Rosidi

Sepasang mata biji saga
Tajam tangannya lelancip gobang
Berebahan tubuh-tubuh lalang dia tebang
Arkidam, Jante Arkidam

Dinding tembok hanyalah tabir embun
Lunak besi dilengkungkannya
Tubuhnya lolos di tiap liangsinar
Arkidam, Jante Arkidam

Di penjudian di peralatan
Hanyalah satu jagoan
Arkidam, Jante Arkidam

Malam berudara tuba
Jante merajai kegelapan
Disibaknya ruji besi pegadean

Malam berudara lembut
Jante merajai kalangan ronggeng
Ia menari, ia ketawa

'Mantri polisi lihat kemari!
Bakar meja judi dengan uangku sepenuh saku
Wedana jangan ketawa sendiri!
Tangkaplah satu ronggeng berpantat padat
Bersama Jante Arkidam menari
Telah kusibak rujibesi!

Berpandangan wedana dan mantra polisi
Jante, jante Arkidam!
Elah dibongkarnya pegadaean malam tadi
Dan kini ia menari'

'Aku, akulah Jante Arkidam
Siapa berani melangkah kutigas tubuhnya batang pisang
Tajam tanganku lelancip gobang
Telah kulipat rujibesi'

Diam ketakutan seluruh kalangan
Memandang kepada Jante bermata kembang sepatu

'Mengapa kalian memandang begitu?
Menarilah, malam senyampang lalu!'

Hidup kembali kalangan, hidup kembali penjudian
Jante masih menari berselempang selendang
Diteguknya seloki ke sembilan likur
Waktu mentari bangun, Jante tertidur

Kala terbangun dari mabuknya
Mantra polisi berdiri di sisi kiri:
'Jante, Jante Arkidam, Nusa Kambangan!'

Digisiknya mata yang sidik
'Mantri polisi, tindakanmu betina punya!
Membokong orang yang nyenyak'

Arkidam diam dirante kedua belah tangan
Dendamnya merah lidah ular tanah

Sebelum habis hari pertama
Terbenam tubuh mantra polisi di dasar kali

'Siapa lelaki menuntut bela?
Datanglah kala aku jag!'

Teriaknya gaung di lunas malam

Dan Jante di atas jembatan
Tak ada orang yang datang
Jante hincit menikam kelam

Janda yang lakinya terbunuh di dasar kali
Jante datang ke pangkuannya

Mulut mana yang tak direguknya
Dada mana yang tak diperasnya?

Bidang riap berbulu hitam
Ruas tulangnya panjang-panjang
Telah terbenam beratus perempuan
Di wajahnya yang tegap

Betina mana yang tk ditklukannya?
Mulutnya manis jeruk garut
Lidahnya serbuk kelapa puan
Kumisnya tajam sapu injuk
Arkidam, Jante Arkidam

Teng tiga di tangsi polisi
Jnte terbangun ketiga kali
Diremasnya rambut hitam janda bawahnya

Teng kelima di tngsi polisi
Jante terbangun dari lelapnya
Perempuan berkhianat, tak ada di sisinya
Berdegap langkah mengepung rumah
Didengarnya lelaki menantang
'Jante, bangun! Kami datang jika kau jaga!'

'Datang siapa yang datang
Kutunggu diatas ranjang'

'Mana Jante yang berani
Hingga tak keluar menemui kami?'

Tubuh kalian batang pisang
Tajam tanganku lelancip pedang'

Menembus genteng kaca Jante berdiri di atas atap
Memandang hina pada orang yang banyak
Dipejamkan matanya dan ia sudah berdiri di atas tanah
'He, lelaki mata badak lihatlah yang tegas
Jante Arkidam ada di mana?'

Berpaling seluruh mata ke belakang
Djante Arkidam lolos dari kepungan
Dan masuk ke kebun tebu

'Kejar jahanam yang lari!'
Jante dikepung lelaki satu kampong
Di lingkungan kebun tebu mulai berbunga
Jante sembunyi di lorong dalamnya

'Keluar Jante yang sakti!'

Digelengkannya kepala yang angkuh
Sekejap Jante telah bersanggul

'Alangkah cantik perempuan yang lewat
Adakah ketemu Jante di dalam kebun?'

'Jante? Tak kusua barang seorang
Masih samar dilorong dalam'

'Alangkah eneng bergegas
Adakah yang diburu?'

'Jangan hadang jalanku
Pasar kan segera usai!'

Sesudah jauh Jante dari mereka
Kembali dijelmakan dirinya

'he, lelaki sekampung bermata dadu
Apa kerja kalian mengantuk di situ?'

Berpaling lelaki kea rah Jante
Ia telah lolos dari kepungan

Kembali Jante diburu
Lari dalam gelap
Meniti muka air kali
Tiba di persembunyiannya
































Jante Arkidam
(Karya Ajip Rosidi)

Sepasang mata biji saga
Tajam tangannya lelancip gobang
Berebahan tubuh-tubuh lalang dia tebang
Arkidam, Jante Arkidam
Dinding tembok hanyalah tabir embun
Lunak besi di lengkungannya
Tubuhnya lolos di tiap liang sinar
Arkidam, Jante Arkidam
Di penjudian, di peralatan
Hanyalah satu jagoan
Arkidam, Jante Arkidam
Malam berudara tuba
Jante merajai kegelapan
Disibaknya ruji besi pegadaian
Malam berudara lembut
Jante merajai kalangan ronggeng
Ia menari, ia ketawa
‘mantri polisi lihat ke mari!
Bakar mejajudi dengan uangku sepenuh saku
Wedanan jangan ketawa sendiri!
Tangkaplah satu ronggeng berpantat padat
Bersama Jante Arkidam menari
Telah kusibak rujibesi!’
Berpandangan wedana dan mantripolisi
Jante, Jante; Arkidam!
Telah dibongkarnya pegadaian malam tadi
Dan kini ia menari!’
‘Aku, akulah Jante Arkidam
Siapa berani melangkah kutigas tubuhnya
Batang pisang,
Tajam tanganku lelancip gobang
Telah kulipat rujibesi’
Diam ketakutan seluruh kalangan
Memandang kepada Jante bermata kembang
Sepatu
‘mengapa kalian memandang begitu?
Menarilah, malam senyampang lalu!’
Hidup kembali kalangan, hidup kembali
Penjudian
Jante masih menari berselempang selendang
Diteguknya sloki kesembilanlikur
Waktu mentari bangun, Jante tertidur
Kala terbangun dari mabuknya
Mantripolisi berada di sisi kiri
‘Jante, Jante Arkidam, Nusa Kambangan!’
Digisiknya mata yang sidik
‘Mantripolisi, tindakanmu betina punya!
Membokong orang yang nyenyak’
Arkidam diam dirante kedua belah tangan
Dendamnya merah lidah ular tanah
Sebelum habis hari pertama
Jante pilin ruji penjara
Dia minggat meniti cahya
Sebelum tiba malam pertama
Terbenam tubuh mantripolisi di dasar kali
‘Siapa lelaki menuntut bela?
Datanglah kala aku jaga!’
Teriaknya gaung di lunas malam
Dan Jante berdiri di atas jembatan
Tak ada orang yang datang
Jante hincit menikam kelam
Janda yang lakinya terbunuh di dasar kali
Jante datang ke pangkuannya
Mulut mana yang tak direguknya
Dada mana yang tidak diperasnya?
Bidang riap berbulu hitam
Ruastulangnya panjang-panjang
Telah terbenam beratus perempuan
Di wajahnya yang tegap
Betina mana yang tak ditaklukkannya?
Mulutnya manis jeruk Garut
Lidahnya serbuk kelapa puan
Kumisnya tajam sapu injuk
Arkidam, Jante Arkidam
Teng tiga di tangsi polisi
Jante terbangun ketiga kali
Diremasnya rambut hitam janda bawahnya
Teng kelima di tangsi polisi
Jante terbangun dari lelapnya
Perempuan berkhianat, tak ada di sisinya
Berdegap langkah mengepung rumah
Didengarnya lelaki menantang:
‘Jante, bangun! Kami datang jika kau jaga!’
‘Datang siapa yang jantan
Kutunggu di atas ranjang’
‘Mana Jante yang berani
Hingga tak keluar menemui kami?’
‘Tubuh kalian batang pisang
Tajam tanganku lelancip pedang’
Menembus genteng kaca Jante berdiri di atas atap
Memandang hina pada orang yang banyak
Dipejamkan matanya dan ia sudah berdiri di atas tanah
‘hei, lelaki matabadak lihatlah yang tegas
Jante Arkidam ada di mana?’
Berpaling seluruh mata kebelakang
Jante Arkidam lolos dari kepungan
Dan masuk ke kebun tebu
‘Kejar jahanam yang lari!’
Jante dikepung lelaki satu kampung
Dilingkung kebun tebu mulai berbunga
Jante sembunyi di lorong dalamnya
‘Keluar Jante yang sakti!’
Digelengkannya kepala yang angkuh
Sekejap Jante telah bersanggul
‘Alangkah cantik perempuan yang lewat
Adakah ketemu Jante di dalam kebun?’
‘Jante tak kusua barang seorang
Masih samar, di lorong dalam’
‘Alangkah Eneng bergegas
Adakah yang diburu?’
‘Jangan hadang jalanku
Pasar kan segera usai!’
Sesudah jauh Jante dari mereka
Kembali dijelmakannya dirinya
‘Hei lelaki sekampung bermata dadu
Apa kerja kalian mengantuk di situ?’
Berpaling lelaki ke arah Jante
Ia telah lolos dari kepungan
Kembali Jante diburu
Lari dalam gelap
Meniti muka air kali
Tiba di persembunyiannya.
______________
Alkisah, Jante Arkidam adalah seorang jagoan (atau bisa disebut preman atau residivis) yang sangat disegani dan ditakuti. Dia adalah momok bagi si kaya dan institusi penyimpan harta. Meski disimpan serapat mungkin, tapi usaha itu tak berguna, karena dialah Jante Arkidam.
Dia sangat sakti, terbukti dari penggambaran, “Tajam tangannya lelancip gobang.” Bahkan, “Dinding tembok hanyalah tabir embun. Lunak besi di lengkungannya. Tubuhnya lolos di tiap liang sinar.”
Dan pada suatu malam, beraksilah dia. “Malam berudara tuba. Jante merajai kegelapan. Disibaknya ruji besi pegadaian.” Setelah itu, dia pun berpesta pora sambil sesumbar memanggil-manggil mantripolisi dan wedana.
Dengan takut-takut, mantripolisi dan wedana saling berpandangan. Dengan sedikit tak percaya, mereka berkata, “Telah dibongkarnya pegadaian malam tadi/Dan kini ia menari!” Bahkan selanjutnya Arkidam malah balik menantang, “Aku, akulah Jante Arkidam. Siapa berani melangkah kutigas tubuhnya batang pisang. Tajam tanganku lelancip gobang. Telah kulipat rujibesi.”
Meski demikian, tak ada yang berani menangkapnya. Pesta dan perjudian pun tetap berlanjut dengan dimeriahkan tarian ronggeng. Sloki demi sloki minuman keras ditenggaknya. Hingga ketika dia telah mabuk dan tak sadarkan diri, barulah maling sakti itu diringkus.
Kala terbangun dari mabuk, mantripolisi telah berada di sisi kirinya. Kedua tangannya telah diborgol dan dia pun hendak dijebloskan di bui Nusa Kambangan. Dendam Arkidam pun memuncak kepada mantripolisi yang telah menangkapnya secara tidak jantan.
Namun, sebelum habis hari pertama, Jante pilin ruji penjara. Dia minggat meniti cahya. Dan tak berselang berapa lama, terbenam tubuh mantripolisi di dasar kali. Mati. Sambil berdiri di atas jembatan, Jante berteriak lantang memecah pekatnya malam, “Siapa lelaki menuntut bela? Datanglah kala aku jaga!”
Jante adalah orang yang ditakuti bagi para lelaki. Tapi bagi kaum hawa, dia adalah pujaan. Bahkan, tak terkecuali janda mantripolisi yang baru saja dibunuhnya. Entah kenapa, hati janda yang baru ditinggal mati itu melunak kepada pembunuh suaminya. Dia rela memberikan semuanya kepada Jante, tak terkecuali kehormatannya.
Malam merambat pelan. Jante tampaknya tak bisa nyenyak tertidur, walaupun ada yang menemaninya. Tiap kali bunyi lonceng dari tangsi polisi berdentang, dia selalu terjaga. Dan pada dentang yang kelima, Jante tergeragap. Janda mantripolisi yang menemaninya semalaman tak rebah di sisinya. Dia berkhianat. Senyampang kemudian, berdegap langkah mengepung rumah. Didengarnya lelaki menantang, “Jante, bangun! Kami datang jika kau jaga!”
Maka saling tantang pun terjadi di antara dua kubu. “Datang siapa yang jantan. Kutunggu di atas ranjang.”
“Mana Jante yang berani hingga tak keluar menemui kami?”
“Tubuh kalian batang pisang. Tajam tanganku lelancip pedang.”
Setelah itu, suasana berubah senyap. Tak ada satu pun pengepung yang berani masuk rumah. Malam makin mencekam bagi mereka. Dan tiba-tiba, pecah suara dari lain arah, “Hei, lelaki matabadak lihatlah yang tegas. Jante Arkidam ada di mana?’
Berpaling seluruh mata ke belakang. Ternyata Jante Arkidam telah lolos dari kepungan. Ia berlari memasuki kebun tebu. Maka, lelaki sekampung yang tadi mengepung rumah pun berlari mengejarnya. Mereka berbalik mengepung kebun tebu itu.
Di lorong dalam kebun tebu, Jante bersembunyi. Dengan kelihaiannya dalam menyamar, kini dia telah berubah bersanggul menjelma gadis yang catik. “Alangkah cantik perempuan yang lewat,” kata salah seorang lelaki, “Adakah ketemu Jante di dalam kebun?”
“Jante?” dia buka suara, “Tak kusua barang seorang. Masih samar, di lorong dalam.”
“Alangkah Eneng bergegas. Adakah yang diburu?”
“Jangan hadang jalanku. Pasar kan segera usai!” ucap Jante dengan nada wanita.
Jante pun dapat lolos dari kepungan. Bak lolos dari lubang jarum. Setelah jauh Jante melangkah, kembali dijelmakannya dirinya. Dia pun berteriak mengejek orang sekampung, “Hei lelaki sekampung bermata dadu. Apa kerja kalian mengantuk di situ?”
Mereka terperanjat. Lagi-lagi maling itu bisa dengan mudah melepaskan diri dari kepungan. Jante lari dalam gelap, meniti muka air kali, dan tiba di persembunyiannya.



SAJAK-SAJAK M. RAUDAH JAMBAK

Kurban Ismail

seandainya aku tetap
menjadi kamu
maka, kunikmati percik
kilat pisau ayah
di leherku
sebab di tubuhmu,
pengorbanan bermula
semacam lorong waktu :
ia jembatan menuju surga
segala keikhlasan purba
seandainya Tuhan
tak menarik tubuhku
ia akan menjadi darah daging,
menjelma sajakku yang paling abadi
di aliran darah
yang paling sunyi
2013

Kisah kurban

adalah Ismail
menjelma Qibas
dihunus pisau

adalah Qibas menutupi,
ketelanjangan ismail
pasrah

adalah kurban,
yang membekaskan jejak
keikhlasan ibrahim
di pagi yang paling sexsi

adalah ibrahim,
membekaskan jejak
pada kilau pisau
dan simbah darah

adalah aku
yang berkisah, tentang
ismail yang menjelma Qibas
ibrahim yang menjelma Qibas
aku yang menjelma Qibas

pada pikirmu
yang Qibas

2013

Hujan Mata

Hujan meneteskan matat-mata.
Mata-mata menggenang dirinduku.

Berkecipak pada hulu.
Gemericik di hilir.
Mengantar perahu kertas.

Menuju Nuh.

(2013)

Mata Hujan

Ia terus mencari
Mata-mata kerontang
Melukiskan sungai
Pada kenang.
Pada Nuh
(2013)
SAJAK-SAJAK M. RAUDAH JAMBAK
Perahu Nuh /1

Nuh kehilangan perahu
yang tersisa hanya kertas.
Maka, atas kuasa Tuhan,
Ia sulap kertas itu.
Menjadi perahu

Perahu Nuh/2
Bila Kana’an datang
Katakan Nuh telah menunggunya.
Tak perlu mencari bukit.
Tak usah menetap di Gunung.
Sebab perahu telah selesai
Walau dari kertas yang masai.

(2013)

Bukit Kertas

Kana’an meracik bukit
dari kertas-kertas bekas
tempat ia berdiri
menantang
“Mana banjirmu!” nyala apinya,

Kana’an menyulap bukit
Jadi makanan, sebab banjir
Membuatnya kelaparan.

(2013)
SAJAK-SAJAK M. RAUDAH JAMBAK

Kata Hujan

Istri Nuh menderaskan kata
Hujan dan angin kencang
Menderu dari mulutnya.

Tak sempat ia berlari
Menyelamatkan diri;
Ia tenggelam
Dalam mulutnya.

(2013)

Angin Kencang

Angin mabuk
Memuntahkan hujan,
Hujan mabuk
Memuntahkan banjir

Banjir mabuk
memuntahkan sajak-sajak.
Yang tersangkut
Di perahu Nuh

(2013)




SAJAK-SAJAK M. RAUDAH JAMBAK

Doa Hujan

Tuhan yang baik
Jangan biarkan Nuh
Tenggelam dimataku.

(2013)

Keringat Hujan

Sebenarnya hujan telah lama henti
Tapi keringatnya tak pernah henti
Melayarkan perahu Nuh.

Sebenarnya hujan kelelahan,
Tapi keringatnya tak pernah segan
Menenggelamkan Kana’an.

Membekaskan sejarah
Pada tanah

(2013)

Siklus Hujan, Rindu Dan Kau

hujan berlari mencari perlindungan dimataku
tetapi, diam-diam mengalir membanjiri rindu

rindu membuncah dicelah-celah hujan mataku
tetapi, entah mengapa alirnya mencuri bayangmu

bayangmu terlukis pada kanvas bulan merah jambu
tetapi, ia menjelma sungai mengalirkan arusnya ke hulu


hulu hilir adalah titik permulaan dan awal perjumpaan
tetapi, di garis tertentu ia menguap di muara samudera awan

awan pada hulu, hulu pada bayang, bayang pada rindu, rindu pada hujan
hujan tak pernah lelah menumpahkan gerimis-gerimis waktu ke sekian
menemu kau, menemu Nuh

(2013)

M. Raudah Jambak, lahir di Medan, 5 Januari 1972. Dosen Ilmu Komunikasi Filsafat Panca Budi. Direktur Komunitas Home Poetry. Antologi Puisinya Seratus Untai Biji Tasbih (1999).








BERMULA DARI INTRINSIK LALU EKSTRINSIK Oleh : M. Raudah Jambak


BERMULA DARI INTRINSIK LALU EKSTRINSIK
Oleh : M. Raudah Jambak
Ketika seseorang bertanya pada saya, ketika acara Omong-Omong Sastra di UISU Jalan Puri (Minggu, 15/04) lalu, bagaimana karya sastra yang baik itu? Saya agak tercenung. Apalagi ketika ia mengisahkan sebuah hal tentang karyanya dikritik oleh seorang kritikus. Dan kritikus itu mengatakan bahwa karyanya belum fokus, masih mentah dan terkesan menggurui. Demi mendengar semua itu, saya mentransfer beberapa pesan padanya tentang sastra.
Sastra adalah bangunan besar bagi puisi, prosa dan naskah drama. Sebagai sebuah bangunan tentu ia harus memiliki fondasi yang terukur dan kuat. Jika fondasinya tidak terukur dan kuat, maka tentu kara sastra sebagai sebuah bangunan yang kuat itu akan rubuh, bahkan hancur.
Struktur atau fondasi dari bangunan sastra itu tentunya adalah unsur intrinsik dan ekstrinsik. Mungkin juga kita mengenalnya sebagai struktur batin dan fisik di dalamnya. Effendi mengungkapkan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli karya sastra secara sunguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra (Aminuddin, 2004:35). Cipta sastra sebenarnya mengandung berbagai unsur yang sangat kompleks, antara lain (1) unsur keindahan, (2) unsur kontemplatif yang berhubungan dengan nilai-nilai renungan keagamaan, filsafat, politik, serta berbagai kompleksitas permasalahan kehidupan; (3) media pemaparan, baik berupa media kebahasaan maupun struktur wacana, serta (4) unsur intrinsik yang berhubungan dengan karakteristik cipta sastra itu sendiri sebagai suatu teks (Aminuddin, 2004: 38).
Puisi misalnya, ia memiliki keambiguitasan yang luar biasa. Tidak semua orang dapat memahaminya dengan cara pandang yang sama. Maka unsur intrinsik (struktur batin) dan unsur ekstrinsik (struktur fisik) perlu dipahami lebih mendalam. Pradopo (1987:7) mengatakan bahwa puisi itu adalah karya sastra yang mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan,yang merangsang imajinasi pancaindra dalam susunan yang berirama. Puisi itu merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, digubah dalam wujud yang paling berkesan.
Waluyo (1987:25) mengatakan Jika dipaksa untuk memberikan definisi puisi yang sangat sukar dirumuskan, kira-kira seperti berikut. Puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa melalui pengkonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya.
Struktur adalah sesuatu yang disusun dengan cara atau pola tertentu untuk menjadikan suatu bentuk. Struktur puisi adalah sesuatu unsur yang disusun dengan cara tertentu sehingga menjadi sebuah puisi. Struktur fisik puisi adalah unsur-unsur yang disusun dengan sehingga membentuk puisi secara fisik atau yang dapat dilihat oleh mata.
Selanjutnya (Naskah) drama. Untuk yang satu ini kita harus mampu membedakan drama sebagai sebuah pertunjukan dengan teks-teks drama yang tertulis. Sebagai sebuah pertunjukan kita masih dapat meninjau dari segi artisktik dan non-artisitiknya. Sementara tinjauan teks ia memiliki wilayah yang berbeda.
Karya sastra prosa dan drama memiliki unsur intrinsik serta unsur ekstrinsik yang diperlukan untuk membangun ceritanya. Unsur intrinsik drama terdiri dari tema, plot, tokoh, dialog, karakter, serta latar.
Akhirnya, kita sebelum bergelut dan menentukan pilihan harus memahami secara kuat tentang pemahaman kita terhadap fondasi bangunan sastra ini. Mungkin kita akan lebih memilih puisi tinimbang prosa, atau malah lebih asyik menulis naskah drama.
Tidak ada yang lebih sulit atau lebih mudah. Atau merasa lebih baik puisi daripada cerpen, cerpen dibandingkan naskah drama, dst. Ia memiliki kekuatan masing-masing. Bukan hanya sekadar berdasarkan selera, tetapi ada hal-hal lain yang harus kita pertimbangkan. Pada intinya berkaryalah. Biarkan pembaca menilai atau mengkritik. Sebab, sebuah karya yang lahir dan telah dipublikasikan, berarti sudah menjadi hak pembaca untuk memberikan penilaiannya. Biarkan karya itu menemukan takdirnya sendiri. Apakah tercatat di etalase ‘megah’ sastra. Atau kemunginan paling buruk, di tong sampah yang berkarat dan lapuk sebelum waktunya. Yang penting belajar dan terus belajar. Bukankah belajar merupakan sebuah proses bagaimana kita bertahan hidup?
*Penulis adalah Guru Bahasa/Sastra dan Dosen Ilmu Komunikasi Filsafat Panca Budi

BUMI BICARA, BUKAN ANTOLOGI PUISI BIASA M. Raudah Jambak


BUMI BICARA, BUKAN ANTOLOGI PUISI BIASA
Oleh : M. Raudah Jambak
I hear something coming,/Something like a motor-cycle,/Something horrible with pistons awry,/With camshafts about to fill the air/With redhot razot-y shrapnel./At the window, I see nothing./Correction: I see two girls./Playing tennis, they have no/Voices, only the muted thump/Of the ball kissing the racket,/The souns of a snowball/Hitting a snowman, the sound//Of a snowman’s head rolling/Into a river, a snowman with/An alarm clock for a heart/Deep inside him. Listen:/Someone is bearthing.//Someone has a problem/Breathing. Someone is blowing/Somoke through a straw./Someone has stopped breathing./Amazing. Someone broke/His wrist this morning,/Broke it into powder./He did it intentionally./He had an accident//While breathing./He was exhaling/When his wrist broke./Actually//It’s a woman breathing./She’s not even thinking/About it. Shes’s thinking/About something else.
(Breathing, James Tate)
Suatu ketika, sebelum tidur, saya membuka buku para penyair dalam dan luar negeri. Setelah membuka lembar demi lembar tatapan saya bertubrukan dengan sebuah puisi BREATHING karya James Tate. Adapun James Tate lahir pada tahun 1943 di Kansas City, Amerika. Tahun 1967 ia menjadi juara pertama dalam Yale Younger Poets Competition dan menerbitkan antologi puisi pertamanya berjudul The Lost Pilot. Kemunculan Tate di akhir ’60-an bersamaan dengan merebaknya paham postmodernisme di Amerika, terutama yang berkenaan dengan manifesto dalam pop art (seni pop) yang mempertanyakan hakikat seni tinggi dan seni rendah . Oleh karena itu, tren yang berkembang ketika itu, neo surealisme, absurd, dan dadaisme, mempengaruhi karya-karya Tate—seorang penyair muda yang liar, imajinatif, dan intuitif untuk membebaskan bahasa dari sistem ketatabahasaan konvensional. Sejak 1970, Tate menjadi dosen sastra di Universitas Massachusetts di Amhert.
Berkali-kali saya baca untuk meyakinkan, bahwa Tate sebagai penyair yang liar belum saya temukan. Saya melihat kesederhanaan. Kesederhanaan cara pandang seorang penyair terhadap sesuatu yang kemudian ia tuangkan lewat karya yang namanya puisi. Sama halnya ketika Hamsad Rangkuti menuliskan sebuah cerpennya yang berjudul MAUKAH KAU MENGHAPUS BEKAS BIBIRNYA DI BIBIRKU DENGAN BIBIRMU. Pun MALAM LEBARAN-nya Sitor situmorang. Juga puisi-puisi Sapardi Djoko Damono yang menyebar ke seantero jagat sastra Indonesia, bahkan dunia.
KESEDERHANAAN, akhirnya saya menyimpulkan, adalah BOM.Bukankah BOM berasal dari unsur yang sangat sederhana? KESEDERHANAAN itu ZERO, dari kosong kembali ke kosong. Dan menurut KBBI, bahwa kesederhanaan itu adalah hal (keadaan, sifat) sederhana. Dalam linguistik berarti syarat pemerian kebahasaan yang didasarkan atas pendekatan uraian (dengan ketuntasan dan kehematan).
Lantas sebuah pertanyaan apakah keberhasilan sebuah karya dalam hal ini puisi adalah disebabkan oleh kesederhanaan ? Mungkin salah satunya. Karena Puisi adalah ungkapan rasa spontanitas dari penulisnya, sehingga dapat mengejutkan pembacanya karena merasakan hal yang sama dengan penulisnya. Itulah BOM. Persoalannya apakah kebutuhannya untuk perang atau perdamaian yang barang tentu tidak bisa dilepaskan. Semacam ungkapan Patriotisme adalah buah dari kejahatan. Tergantung sudut pandang kita tentunya.
Kesederhanaan itu tentunya tidak hanya sekadar konsistensi, arisan kata-kata, diksi, gaya bahasa, dsb. Mungkin bisa lebih dari itu, atau tidak lebih dari dua. Bisa saja justru ambiguitasnya yang terlalu wah. Sehingga muncul pernyataan, Aku mengerti perkataanmu, tetapi aku tidak mengerti maksudmu. Atau aku mengerti maksudnya, tetapi aku tidak bisa menjelaskannya (mengatakannya). Mungkin juga aku tak mengerti perkataanya, tetapi aku bisa menjelaskannya. Semacam perjalanan uap air dan menjadi hujan, Dalam perjalanannya dari atmosfer ke luar, air mengalami banyak interupsi. Sebagian dari air hujan yang turun dari awan menguap sebelum tiba di permukaan bumi, sebagian lagi jatuh di atas daun tumbuh-tumbuhan (intercception) dan menguap dari permukaan daun-daun. Air yang tiba di tanah dapat mengalir terus ke laut, namun ada juga yang meresap dulu ke dalam tanah (infiltration) dan sampai ke lapisan batuan sebagai air tanah.
Begitulah perjalanan kata-kata yang menunggang media bahasa menjadi sebuah puisi. Sebagai sebuah puisi saya melihat upaya itu dalam BUMI BICARA, antologi puisi empat (bukan) penyair perempuan (biasa) ini. Hal ini dapat kita lihat dari diksi, pencitraan, kata konkret, majas, bunyi (struktur fisik), perasaan, tema, nada, dan amanat (struktur batin). Dan itu terangkum pada puisi-puisi Soesi Sastro, Ria N. Telaumbanua, Martha Sinaga, dan Free Hearty.
Dari 25 buah puisi Soesi Sastro, kita melihat bagaimana kepribadian seorang Soesi Sastro yang energik, spontanitas dan blak-blakan. Tetapi sekali waktu ia ingin menjadi sesuatu-to be something. Kita lirik puisinya yang berjudul-Aku ingin menjadi pohon.
engkau melarangku hidup
lihatlah pijakan kakiku tertutup
beton menindih daratan

nadi akar terkatung-katung
perut bumi sepi belatung
batu tanah pasir tak jabat tangan

aku ingin menjadi pohon
memberi arti
meski tumbuh di awan dan lautan
Betapa kuat keinginan seorang Soesi, disebabkan besarnya kecintaan terhadap sesuatu, sehingga ia rela meski tumbuh di awan dan lautan. Ia pun merasa kepedihan dalam kerinduan, betapa batu tanah pasir tak jabat tangan. Kata-kata, seperti kaki, nadi, perut, tangan, tentu mengingatkan kita tentang kerinduan seorang tunanetra yang ingin hidup biasa dan wajar. Aku tahu kau ada di situ, tetapi mengapa kau tak tahu ada aku di sini. Siapa yang buta di antara kita. Sebuah paradoks kehidupan, kontradiktif perasaan.
Pun termasuk kita melihat, bahwa seorang Soesi tak pernah menyia-nyiakan setiap kesempatan. Baginya setiap waktu dan ruang adalah momen. Kita lihat puisinya yang berjudul, Layar Kaca Terkoyak. Ungkapan seperti pertempuran wicara, kenyang mata, atau layar kaca koyak, menandakan rasa geram yang luar biasa sehingga tidak diperlukan normatif kata-kata. Atau perobahan rasa kata semacam kenyang mata.
Spontanitas dan gelegak batin seorang Soesi pun tertuang pada puisi-puisi lainya, seperti : Di Ujung Daun Ada Cinta, Tuai Tua Cinta, Jangan Salahkan Aku, Sawah Tak bertanah, Nyanyi Rindu Tanah Jawa, Bumiku Bicara, Lupa Asal, Agra dan Cinta, Bandung Tanpa Api, Muara, Gangga Berbisik, Bulan Terbelah Tiga, Surau Kita Berbedakah, Kembalikan Tanah Rumput, Di Kelopak Tulip Cinta Terselip, Ketika Putih Meragu Merahmu, Laskar Tanpa Etika, Wajah Bangsa di Sudut Kelurahan, Asapa Kian Akrab, Malam Semakin Dewasa, Untuk Apa, Layar Kaca Koyak, Paskah Senyap, Pergi Mu, dan Aku Ingin Menjadi Pohon. Pada puisi-puisinya ini Soesi lebih memilih menampar dengan senyuman.
Lain kesederhanaan Soesi, lain pula kesederhanaan Ria N. Telaumbanua. Membaca puisi Ria mengingatkan saya pada Rabindranath Tagore. Tagore ada menulis, Bukalah mata tuan dan lihatlah. Di tempat petani melulu tanah yang keras. Di tempat pembuat jalan meratakan batu. Di situlah Tuhan. Bersama mereka Tuhan berpanas dan berhujan. Turunlah ke tanah berdebu itu, seperti Dia. Bangkitlah dari samadi. Hentikan meronce bunga dan membakar setanggi. Meski pakaian tuan lusuh dan kotor. Cari Dia dalam bekerja, dengan keringat di kening tuan.

Sajak gubahan Rabindranath Tagore, pujangga besar India, di atas merupakan cermin kepekaan terhadap hidup dan alam yang sarat dengan kebajikan teosofis. Kearifan teosofi mengajarkan bahwa Tuhan bisa ditemukan di mana-mana. Tuhan bisa dijumpai saat petani membajak dan menggaru sawah. Saat kuli bangunan memecah batu penjuru. Saat peternak menyabit rumput. Saat buruh bekerja di pabrik. Saat bakul berjualan di pasar. Pendeknya, kehadiran Tuhan mudah dirasakan dalam kegiatan riil eksistensial yang sepintas terkesan tidak ada kaitannya dengan hidup religius dan bakti.
Dalam beberapa pernyataan, misalnya, filsuf Nietzche ada mengatakan, bahwa , Segala sesuatu yang tidak membunuhku akan membuatku kuat. Berani menghadapi kepedihan yang disertai rasa malu. Memiliki daya pegas untuk tetap berkembang melampaui risiko sebagai konsekuensi pilihan hidup. Mengambil hikmah dari kemalangan menuntut pengakuan akan fakta tragis tapi indah: bahwa tidak semua masalah memiliki solusi dan tidak semua perbedaan bisa didamaikan.

Kehidupan manusia modern terlanjur dipenjara house (bangunan gedung yang sumpek dan gerah), bukan bersemayam di hunian yang membuat krasan dan betah (home). Termasuk dalam kerangka mistisisme konkret, mengandung sugesti perihal mendasarnya kebutuhan manusia akan ruang batin untuk hening. Dalam kata-kata William Shakespeare, Mampu menanggung penderitaan yang bersemayam di jantung kreativitas. Pendeknya, manusia yang senantiasa didera suasana hiruk pikuk gaduh, harus terlatih dan memiliki keberanian untuk melepas beban hidup.
Mari kita memelihara harapan, agar harapan itu tetap bersemayam. Bukankah harapan itu yang membuat kita tetap bertahan? Godspeed or Goodspeed, of course.
Puisi adalah wadah kecil yang mampu menampung semesta. Dan ketika ia sudah dilahirkan, maka ia adalah milik pembaca. Anakmu bukanlah anakmu, ia adalah milik Sang Hidup, kata Kahlil Gibran. Lalu bagaimana mengajak? Apakah dengan hujatan. Bagaimana memberi apresiasi? Apakah dengan kritikan (yang membabibuta?). Sebagai wadah yang kecil deskripsi dalam puisi juga menjadi jembatan bagi pembaca untuk masuk ke pulau pesan. Sebuah karya yang berhasil adalah karya yang pesannya sampai kepada pada pembaca, bukan sekadar gagah-gagahan, lalu bersembunyi di balik topeng licencia phoetica tentunya dengan pencitraan dan gaya bahasa di dalamnya.
Dari 25 puisi Ria N. Telaumbanua, acapkali kita temukan repetisi dan reduplikasi kata dan ungkapan. Misalnya, Berdamai dengan tanah/Berdamai dengan hutan/Berdamai dengan segala makhluk (Air, BB), dll. Ia menjadi semacam rapalan yang bukan mantra. Ia adalah penguatan. Ia adalah penegasan. Artinya, secara psikologi Ria lebih memilih sesuatu yang lebih pasti dan memastikan. Tak sekadar mendengar dan membaca, tetapi juga langsung masuk ke dalam wilayah kejadian, apakah ini reward atau punishment, bahkan mungkin katarsis. Sebab-akibat? Pameo yang telah mendarah daging. Atau apalah namanya. Kita serap puisinya yang berjudul, Abadi. Selagi masih ada kampung aceh/Tipu aceh masih ada.......//...selagi masih ada orang kampung keling/janji keling masih ada....
Ia akan menjadi sambungan baris kalimat yang panjang, misalnya, selagi masih ada cinta/cinta kasih masih ada. Selagi masih ada cinta/ cita-cita akan tetap sama. Selagi masih ada cinta/ mengapa kita harus bicara derita......dst. pun pada,.... Karena tubuh hanya serpihan debu/mengapa memilih menjadi batu? Tetapi Ria adalah seorang perindu. Rindu sesuatu yang begitu harmoni, kita simak Senandung Gelisah Si Anggrek Hutan.
Sayup terdengar suara dari loronglorong hutan
Berdenting magis mengaliri awan
Bagai alunan seruling si penggembala
Menggertak sanubari membakar sukma
Riak pilu berbias ratapan
Bagai suara peri bersedusedan
Berdendang gelisah membiuskan fikiran

Ada nyanyian dari balik pohon
Seolah berbicara diantara tepisan angin
Inilah aku
Lihatlah diriku
Hampirilah aku
Gelisahku kian liar menderu
Biarkan apimu membakar tubuhku yang membeku
Sentuhanmu merekatkan remuk tulangtulangku
Cintamu akan menyuburkan rahimku
Kekasihku, bukalah hatimu
Jangan biarkan maut menjemputku

Jiwaku menangkap bisikmu, hai bintang kecilku
Tetesan air tubuhmu mengaliri darahku
Engkau rangkaian lukisan Sang Bayu
Yang menggayut indah menutupi benalu
Ku kan datang menjawab panggilanmu
Membuka setiap celah gerbang rumahmu
Menyibakkan semua rumput liarmu
Agar gemilang cahayamu merasuki setiap kalbu
Agar setiap orang membasuhmu dengan madu
Dan melumurimu dengan sejuta rindu
Gelisahmu kini adalah gelisahku
Deskripsi suasana dan perasaan coba dihadirkan Riadalam Senandung Gelisah Si Anggrek Hutan. Ia ingin bercerita betapa manusia dan alam, saling membutuhkan. Bahkan bisa menjadi sebuah kesatuan, one for all, all for one. Diksi Jiwaku menangkap bisikmu, hai bintang kecilku seolah ia ingin bermonolog dan bercerita bahwa kita bisa saling berbagi. Bisa saling mengisi. Termasuk Engkau rangkaian lukisan Sang Bayu, kata yang berangkai dengan kata rangkaian, lukisan, dan Sang Bayu merupakann pilihan kata yang harus kita cermati benar-benar. Wah, betapa pada akhirnya kita harus berfikir kembali persoalan lisencia phoetica. Mungkin apakah persoalan pemakluman atau tidak. Atau malah ironi kata-kata dan bukan akrobatik kata-kata.
Penggunaan istilah terkadang membuat penulis atau pembicara selalu khilap dengan makna dasar dari kata-kata yang dituangkannya. Mungkin seorang pembaca atau pendengar mencoba memahami dan memaklumi pemaknaan yang tertuang itu. Bombastiskah? Atau ambigu? Dalam pembicaraan bahasa memang ada yang disebut dengan polisemi yang berarti satu kata banyak arti, tetapi dia tidak terlepas dari makna dasarnya. Berbeda dengan homonim yang memiliki pengucapan dan penulisan yang sama tetapi berbeda arti, hanya saja tidak ada hubungan dengan makna dasarnya. Ada juga yang kita sebut dengan sinestia yaitu perobahan nilai rasa pada pancaindera.

Hal-hal yang berkenaan dengan persoalan di atas tentu berdasarkan wilayah tata bahasa. Tetapi ketika kita masuk ke dalam tataran sastra, persoalan itu tentu memiliki pemahaman yang berbeda pula. Di wilayah sastra, terutama puisi, bahasa hanya sebagai media. Ia lebih cenderung kepada makna-makna tersirat dan tersuruk, bukan tersurat. Namun demikian etika, estetika, dinamika, dan logika tentu tidak bisa kita kesampingkan.

Wilayah-wilayah seperti ini yang menyebabkan seorang penulis atau pembicara selalu luput memahaminya. Misalnya, ketika seseorang membahas persoalan bahasa tentu ia harus masuk ke dalam wilyah tersurat dalam hal pemaknaan. Namun, ketika ia mengkaji persoalan sastra tentunya ia pun harus masuk ke dalam hal-hal tersirat, terutama persoalan ambiguitas. Jika terjadi hal yang sebaliknya, maka akan muncul pro-kontra pemahaman.
Pro-kontra pemahaman ini yang sering terjadi. Bahasa lisan tentu memiliki perannya sendiri, jika dibandingkan dengan bahasa tulisan. Berbeda lagi ketika kita berhadapan dengan bahasa isyarat. Metode berbahasa ini tentu berbeda wilayah pemahaman. Bahasa tulisan masuk kepada tataran konsep. Sementara bahasa lisan dan isyarat masuk kepada wilayah aksi atau tindakan. Nah, bahasa konsep dan bahasa tindakan ini tentu bisa kita pilah-pilah lagi ke wilayah yang berbeda pula.
Teks semu dalam sastra diibaratkan sebagai cerminan akrobatik kata-kata. Teks dituangkan dalam gagasan tanpa dipahami bahwa teks harus memberi pesan. Polemik Hamsad Rangkuti dengan F Rahardi dalam tajuk akrobatik kata-kata pernah jadi trend yang asyik dicermati, pada beberapa waktu yang lalu. Terlepas bahwa polemik itu berhenti pada batas wacana, tetapi hal itu memberi satu pesan bahwa teks sastra seharusnya tidak berhenti pada kata. Hamsad Rangkuti menulis, sastra adalah kebohongan.
Mungkin untuk memahami puisi-puisi ini kita perlu membaca A. Teew, tergantung pada kata, terlebih dahulu. Jika kita bicara persoalan postmodenism, hermeneutika, atau yang diusung Derrida, tentu sangat memusingkan. Nah, puisi-puisi Ria, seperti : Air, Fakta=Kepentingan, Sabda Ilahi, Ketika Bumi menangis, Malam Malam Jahanam, Tuhan pencipta Keseimbangan, Tidak Ada lagi, Aids Stadium Akhir, Ritual, Fenomena Ulat bulu, Danau Toba Bermuram Durja, Kisah Akumulasi Toksin, Anggur Dan Zaitun, Abadi, Derita Pohon Karet, Indonesia Kaya Bencana, Gagal Panen, Senandung Gelisah Si Anggrek hutan, Transformasi Sang Rajawali, Pray And Rain, Jangan Lari Dari Ku, Misteri Dibalik Gempa Nias, Bunaken, Berubahlah, dan Buang Kesombongan, lebih terasa mainstreamnya di lingkungan yang sangat dekat dengan penulisnya sebagai seorang dokter.
Dengan gayanya Soesi Sastro berjibaku dengan puisi-puisinya, Ria N, Telaumbanua menyetubuhi puisi-puisinya, begitupun dengan Martha Sinaga. Martha Sinaga berwisata kata. PUISI tentu kita semua mengenalnya. Minimal pernah membacanya. Tapi jangan lupa ada hal-hal terpenting disadari atau tidak harus ada pada puisi. Tema/makna (sense), Rasa (feeling-latar belakang sosial-psikologi), Amanat/tujuan/maksud (itention), dll. Sebagai struktur batinnya.

Bangunan puisi secara batin mungkin kurang lengkap rasanya jika tidak dilengkapi secara fisik. Misalnya, tipografi, diksi, imaji, dsb. Karakteristik akan memberi kekuatan-kekuatan lain atau muatan-muatan lain dalam puisi. Bisa saja dalam bentuk muatan lokal, aliran, eksperimen, dst. Selain itu etika, estetika, dinamika, atau logika tidak perlu dipungkiri akan mewarnai puisi itu.

Sartre pernah bertutur, seseorang disebut pengarang bukan karena ia telah mengatakan sesuatu, melainkan karena ia telah memilih untuk mengatakan dalam suatu cara tertentu. Seseorang dikatakan pengarang, bila ia telah memilih medium untuk mengatakan sesuatu (ide maupun intuisi).

Konsep Horace dulce dan utile merupakan landasan sikap bagi penulis. Para pembaca tidak saja dapat menarik manfaat (utile) dari karya yang dibacanya, juga dapat merasakan nikmat (dulce) – yang menurut saya – tidak sekadar profan. Nikmat di dalam karya itu dapat mencapai puncak imanen karena ia telah melalui proses katarsis.

Hal yang terpenting, karya itu dapat menggambarkan banyak hal tanpa harus menghujat. Karya sastra(puisi), meskipun bersifat sosial kontrol, tetap saja dengan pendekatan humanistis, sehingga memungkinkannya jadi universal. Sebab, sesugguhnyalah esensi sastra(puisi) untuk membawa pembacanya kepada proses katarsis (penyucian diri).

Beberapa waktu yang lalu begitu merebaknya harvest di kalangan remaja dalam puisi. Lalu sekarang kita diajak untuk masuk ke wilayah teenlit dalam cerpen sebagai pengganti short short story. Perkawinan mengatasnamakan inovasi atau kreativitaspun bermunculan. Apakah itu puisi sebagai puisi. Puisi berwajah cerpen. Cerpen berwajah puisi. Esay puisi. Puisi esay, dsb. Pun termasuk lokal, etnis, dsb, sehingga pembaharuan kata-kata klise semacam pameopun bermunculan sehingga istilah kontemporer meluncur ke permukaan. Hal itu sah-sah saja ketika diksi itu kita olah dengan daya ungkap yang khas milik penulisnya sendiri, tanpa harus terpengaruh daya ungkap penulis-penulis pendahulu yang telah menjadi ikon di tengah-tengah masyarakat (pembaca) sastra, terkhusus puisi. Gemuruh di gunung semua tahu/gemuruh dihatiku siapa yang tahu. Atau rambut sama hitam dalam hati siapa tahu.

Menarik kalau kita meninkmati prosodi tersendiri dari Martha Sinaga, tetapi ia begitu menikmati ‘kehati-hatiannya’ kita kutip bait puisinya,..... Gugus waktu menghampiri/susunan itu berlalu dalam sunyi/satu/dan satu..... (Kan Kau Kah?).

Kehati-hatian Martha sayangnya jadi cair dengan adanya diksi kata-kata atau kalimat di bait terakhir puisi-puisinya yang menurut saya terbilang kuat dalam bentuk semacam haiku daripada beraroma balada pada 25 puisi-puisinya. Apakah ini persoalan keniscayaan, subjektifitas, dan mungkin relativitas.

Pandangan relativitas begitu merasuk kepada persoalan selera. Sehingga muncul pernyataan, itukan menurut dia-bukan saya. Hm... Aku rindu rumah yang menyeruakkan bau tanah,/kala gerimis menetekinya/aku rindu jambu yang ibu beri pagar bambu/karena ibu jemu, buahnya selalu kuganggu/daun hijaunyapun harum kucumbu/....

Sebagai sebuah karya bermakna ganda, keambiguitasan puisi menjadi tantangan tersendiri bagi pekarya untuk menyampaikannya kepada pembaca. Bagaimana kursi tidak hanya sebagai kursi, tetapi ia bisa menjadi simbol kekuasaan. Atau kita ingin menulis tentang kursi tanpa harus mencatatkan kata-kata kursi di dalamnya. Dan tetap fokus. Begitu juga dengan merah, selain sebagai warna, bisa juga sebagai ungkapan marah, tanda berhenti, semangat, dsb.
Maman S. Mahayana ada menyinggung Sejumlah Masalah dalam Apresiasi Puisi. Maman mengatakan, bahwa Puisi yang baik lazimnya menawarkan serangkaian makna kepada pembacanya. Untuk menangkap rangkaian makna itu, tentu saja pembaca perlu masuk ke dalamnya dan mencoba memberi penafsiran terhadapnya. Langkah dasar yang dapat dilakukan untuk pe-mahaman itu adalah ikhtiar untuk mencari tahu makna teks. Sebagai sebuah teks, puisi menyodorkan makna eksplisit dan implisit. Makna eksplisit dapat kita tarik dari perwu-judan teks itu sendiri; pilihan katanya, rangkaian sintaksisnya, dan makna semantisnya. Pilihan kata atau diksi menyodorkan kekayaan nuansa makna; rangkaian sintaksis berhu-bungan dengan maksud yang hendak disampaikan, logika yang digunakan berkaitan de-ngan pemikiran atau ekspresi yang ditawarkan; makna semantis berkaitan dengan keda-laman makna setiap kata dan acuan-acuan yang disarankannya. Adapun makna implisit berkaitan dengan interpretasi dan makna yang menyertai di belakang puisi bersangkutan.
Berdasarkan pernyataan itu kita menulis untuk siapa? Diri sendiri atau masyarakat? Lantas bagaimana pilihan kata pada teks? Lalu bagaimana dengan puisi esai yang sedang digelontorkan itu? Perlukah catatan kaki pada puisi? Kemudian bagaimana dengan puisi-puisi Martha yang begitu meriah dengan istilah-istilah yang mungkin daerah tertentu tak begitu faham yang ingin menikmati puisi ini ? Saya menangkap justru Martha mencoba mentrans-misikan istilah-istilah itu menjadi dapat dipahami, iya ke? Mari kita teropong puisinya , Menyanyah.
Jelak-jelak di tatap hari
Galau merebak di setiap sisi
Meracau, mengumpat, menimbun alergi

Nuansa perih menyilet jati nafas negeri
Dari tingkap gedung nyanyian pemangsa mendayu
Di lantai yang lain debat usang mematahkan hati
Arif pikir,
Langkah santun
Mengembangkan payung kebajikan tak kunjung muncul
Terkulai menjadi jenasah di kastil tertutup

Solot hati merekah darah
Terburai kata di tiang surga
Mengobral janji di gardu hari
Menghambur teori di atas peluh si miskin

Menyanyah lagi menyanyah

Tak kuasa mengambil waktu untuk berdoa
Karena diri kuat di singgasana
Tak mampu mencintai
Tak celik itulah nikmat Sang Ilahi

Menyanyah terus menyanyah

Tak lagi memiliki kekuatan mendengar
Selain kata diri
Tirani persetubuhan kekuasaan dan harga marwah

Menyanyah lagi menyanyah

Menyanyah, pada puisi itu paling tidak mengisyaratkan sesuatu yang membungkus kekesalan. Demikian ungkapan yang bernada sama pada puisi : Terik Negri Santun, Bermarwahkah?, Kantong Kerakusan, KTP Nusantara, Perisai Itu, Geladak Ompong, Kantong Kerakusan, Kerlip Transaksi Tubuh, Senyum Keranda Negeriku, Derap Hujan Desember, Obral Birahi, Tirai Latar Altar, Jilat Api kemanusiaan, Lidah Bisa Lumpur, Pukau Sakau Bakau, Menyanyah, Adam Bukan Tuan-kah?, Gerimis Di Ujung Kaca, Kan Kau Kah?, Alfa dan Omega, Narwastu-Mas-Mur, Rongga Kebatilan Itu, Bumi Penuh KemuliaanNya, Remuk namun Tak Berkicai, dan Amsal Samosir untuk Ria Novida. Maka paling tidak,....topi-topi diangkat untuk karyamu/eulogi cawan emas patut untukmu......lalu Pinjar tanglung kau taburkan perempuan/Di aliran air jantung bumi ibumu.....

Tentu kita sepakat bahwa puisi sebagai karya fiksi tidaklah sama dengan berita. Daya ungkapnya tentu penuh dengan derai imajinasi. Tetapi bukan berarti ia menjadi gelap dengan hamburan diksi. Justru ia menjadi semakin kuat dengan bingkai kiasan sarat maknawi. Lantas, apakah kita harus membebaskan kata-kata untuk merenangi muara makna. Tergantung kata, boleh juga tergantung kita. Itulah gaya. Itulah daya. Intuisi penuh di dalamnya. Dan sebagai sebuah gaya, membuat kita boleh menusuk ke dada filsafat.

Bicara filsafat, memang, tidak dipungkiri lagi bahwa positivisme-empirik yang serba matematik, fisikal, reduktif dan free of value telah membuktikan kehebatan dan memperoleh kejayaannya, serta memberikan kontribusi yang besar dalam membangun peradaban manusia seperti sekarang ini.
Namun, dibalik keberhasilan itu, ternyata telah memunculkan persoalan-persoalan baru yang tidak sederhana, dalam bentuk kekacauan, krisis dan chaos yang hampir terjadi di setiap belahan dunia ini. Alam menjadi marah dan tidak ramah lagi terhadap manusia, karena manusia telah memperlakukan dan mengexploitasinya tanpa memperhatikan keseimbangan dan kelestariannya. Berbagai gejolak sosial hampir terjadi di mana-mana sebagai akibat dari benturan budaya yang tak terkendali.
Istilah filsafat mulai dikenal pada zaman Yunani kuno, berasal dari kata philo yang berarti cinta dan sophia yang berarti kebenaran. Jadi orang yang mempelajari filsafat adalah orang yang cinta kebenaran. Untuk mencapai kebenaran seseorang harus mempunyai pengetahuan. Sese-orang yang mengetahui sesuatu, dapat dikatakan telah mencapai kebenaran tentang sesuatu tersebut menurut dirinya sendiri, meskipun apa yang dianggapnya benar itu belum tentu benar menurut orang lain.

Masyarakat primitif menganut pemikiran mitosentris yang mengandalkan mitos guna menjelaskan fenomena alam. Perubahan pola pikir dari mitosentris menjadi logo-sentris membuat manusia bisa membedakan kondisi riil dan ilusi, sehingga mampu ke-luar dari mitologi dan memperoleh dasar pengetahuan ilmiah. Ini adalah titik awal manusia menggunakan rasio untuk meneliti serta mempertanyakan dirinya dan alam raya.
Mungkin demikian halnya pandangan Free Hearty memandang hal ini pada 26 puisinya. Katanya, bulan ini kita mematri/janji tanpa hati/kita akan baik-baik saja/semua terkendali/semua tak akan terkendala....(Bulan Berjanji Sepi). Kita bisa melihat ada bungkusan lain di sini, sebuah ironi atau sebuah ekspresi kelugasan.
Ekspresi kelugasan merupakan indikasi kepolosan, sekaligus merupakan karakter yang tumbuh berkembang di kelas sosialnya. Informasi dalam potret sosial masih dalam kawasan realita. Para penyair adalah pewarta informasi ini kepada masyarakat luas dari berbagai lapisan, termasuk para pemegang teguh kekuasaan. Juga sebagai juru bicara tentang suara masyarakat kebanyakan yang hidup dalam ketidak- berdayaan. Informasi yang disampaikan-pun tanpa ada penyamaran dan rekayasa. Investigatif seporting dengan sungguh-sunguh telah dilakukan, sehingga kadar akurasi berita tidak perlu diragukan, baru dan actual. Berita tentang pengundulan hutan, dsbnya, bukan hanya pemaparan kondisi budaya penyair dan kepenyairannya yang terlanjur identik dengan kehidupan kaum grassroot, namun telah mengglobal. Ketika kekecewaan men-jadi tema-tema actual, menjadi bahan diskusi, menjadi materi proyek pembangunan, bahkan menjadi harga diri suatu bangsa. Dan penyair pun mencoba berpartisipasi dengan membangun komunitas bahasa puisi penindasan dan ketidakberdayaan dengan inspirasi realitas keseharian.
Sayangnya, mayoritas orang awam mengatakan bahwa puisi hanya menawarkan secawan mimpi-mimpi penuh dusta. Sejak Plato, selalu saja anggapan itu menyatakan bahwa kegiatan menciptakan puisi melulu sebagai keisengan yang akan menjauhkan manusia dari kenyataan (Dahana,2001). Apa yang sebenarnya dapat dilakukan oleh sebuah (karya sastra)? Sebuah jawaban yang optimis barangkali juga hadir sejumput harapan dan realitas yang mendudukan puisi sebagai karya sastra penggerak. Bahkan, sastra juga dianggap sebagai sesuatu yang memiliki peran tertentu; sebagai agen perubahan (agent of change). Padahal puisi hadir tidak akan terlepas dari realitas yang telah melingkupi kehidupan dan latar belakang yang menyebabkan kelahirannya dari sastra yang diciptakan oleh seorang penyair.
Di sinilah kemudian muncul sebuah pretense yang kemudian menempatkan puisi sebagai sebuah media untuk memasukkan segala sesuatu yang menyebabkan puisi sarat dengan kepentingan. Padahal tidaklah demikian adanya. Meskipun puisi tidak akan pernah terlepas dari realitas kehidupan dan latar belakang serta kondisi-kondisi cultural pengarangnya, namun dalam kerangka yang lebih konkret, ia hadir dengan dua sisi: kenikmatan dan pendidikan (Mahayana dalam Isdriani, 2003). Dalam arti lain bahwa estetika tetap menempati posisi yang amat signifikan di dalamnya. Ia tidak bisa terlepas dan melepaskan diri begitu saja dari sastra (puisi). Seperti kata Free, Matahari Jatuh ke Pangkuan/Meredup dan melayu dalam pelukan/Melindur di senyapnya malam//Bulan menatap tajam/Cemburu kehilangan peran/Yang jatuh dipelukan malam/...
Sebagai alat perjuangan tak berdarah, puisi hanya berusaha dan berupaya menyentuh atau "membu-nuh" hati yang paling dalam. Sebab ketakberdayaan memang hal yang menjadi persoalan dasar bangsa kita. Angka perusakan dan pengundulan hutan tiap tahun kian meningkat, sehingga perlu jarak renung dengan mencerna realitas untuk meraih keutuhan kemanusian bahwa ketidakberdayaan yang menimpa kawasan hutan sudah sedemikian akut. Pada bagian inilah sebenarnya tugas penyair, terus menerus secara sukarela memperjuangkan nasib lingkungan hidup, masa depan hutan. Kita simak pada puisi, Nyanyian Pagi.
Pagi nan ramah. Aku melaju penuh gairah
Mataku nanar mencari arah
Seonggok besi yang dibentuk indah
Menghantarku melangkah membelah kemacetan ibukota
Aku tak hendak membandingkan

Bangsaku yang ramah tamah
Alamku yang menawan indah
Bumiku kaya melimpah ruah

Dengan negara yang sumringah,
Cerdik pandai dan penuh gairah,
Lewat nyanyian dan silat lidah
Lalu semua, kepada mereka berpindah

Ini negaraku, Bangsaku dan cintaku
Kalau tenggelam dan terbenam
Maka aku ada bersamanya
Karena cinta kadang memang aneh
Menjadi aneh di negeri Santo dan Santri
Rakyat tak kehilangan gairah
Meski ditipu mentah-mentah

Rima dan irama menjadi kekuatan lain ketika persajakan dikedepankan. Musikalitas puisi akan merasuk, menjadi kenikmatan sendiri bagi pembaca. Inilah pembungkus kata. Inilah gaya. Memilah dan memilih kata yang melahirkan estetika. Seperti puisi, Ada rindu. Aku rindu suara nenek/Yang menghalau ayam/Menjemur padi di halaman/Sambil riang berdendang/dalam syukur tak terbilang/Dan senyum tak pernah hilang....
Jika kita merasuk lebih ke dalam, maka kita akan menemukan bagaimana bulukuduk akan berdiri. Bagaimana anak-cucu kita nantinya pada suatu ketika akan melihat hamparan padi, kebun, hutan ,dsb, hanya ada pada lukisan. Hutan-hutan pohon akan berganti dengan hutan gedung pencakar langit. ...kusemai benih damai/agar tak kenal arti lerai//...kubawakan nenek bunga sekeranjang/senyumnya mengembang, polos dan senang....
Bangunan-bangunan puisi terasa lebih lengkap dan pariatif pada puisi-puisi Free Hearty. Seperti : Bulan Berjanji Sepi, Ajarkan Aku Agar Paham, Yang Jatuh, Platonik, Benih Damai, Selingkut Kata, Lukisan Alam, Bunga Setaman, Estafetlah, Rutinitas, Siulan Sunyi, Nyanyian Pagi, Aku Masih di Sini Menanti, Zombie, Kita Saling Butuh, Pergilah Bila Hati Tak Lagi Berarti, Rindu Kita, Anakku, Go Green, Akuilah dia, Ada Rindu, Tikam Jejak, Kembali ke Rahim Ibu, Sejarah Kita Dalam Kota, Pesona Melaka, Siklus, dan Lelah.
Pada akhirnya, kita dapat merasakan bagaimana antologi puisi BUMI BICARA ini bukan sebagai antologi puisi biasa dan ia sebenarnya tidak hanya sekadar bercerita tentang pengrusakan hutan, tetapi ia bisa bercerita tentang peperangan antara yang kuat dan lemah. Mungkin antara pejabat dengan masyarakat. Lelaki dan perempuan. Tua Muda, dsb. Maka seperti kata pantun, Bukan titik yang membuat tinta/tapi tinta yang membuat titik/Bukan cantik yang membuat cinta/tapi cinta yang mem-buat cantik. Atau gurindam, kalau anak tidak dilatih/sudah besar orangtuanya letih.

Demikian semoga bermanfaat.

Komunitas Home Poetry, 7 September 2012

Disajikan dalam bedah buku Antologi Puisi BUMI BICARA. Gedung Laboratorium USU Fak. Ilmu Budaya
Daftar Pustaka
Aminuddin. 1995. Stilistika: Pengantar dalam Memahami Bahasa Karya Sastra. Semarang: IKIP Semarang Press.
Aveling, Harry, terj. Wikan Satriati. 2003. Rahasia Membutuhkan Kata. Magelang: Indonesiatera.
Benson, Eugene, L.W. Conolly. 1994. Encyclopedia of Post-Colonial Literatures in English. London & New York: Routledge.
Damono, Sapardi Djoko. 2005. Pegangan Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Pusat Bahasa.
Eddy, Nyoman Tusthi. 1991. Kamus Istilah Sastra Indonesia. Ende: Nusa Indah.
Friebert, Stuart, David Young. 1989. The Longman Anthology of Contemporary American Poetry. New York & London: Longman.
Kostelanetz, Richard, ed. 1964. Contemporary Literature. New York: Avon Books.
Mahayana, Maman S. 2005. 9 Jawaban Sastra Indonesia. Jakarta: Bening.
Malna, Afrizal. 1990. Kumpulan Puisi: Yang Berdiam dalam Mikropon. Jakarta: Medan Sastra Indonesia.
——————. 1995. Kumpulan Puisi: Arsitektur Hujan. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.
Pradopo, Rachmat Djoko. 1990. Pengkajian Puisi: Analisis Strata Norma dan Analisis Struktural dan Semiotik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.



M. Raudah Jambak, lahir di Medan, 5 Januari 1972. Beberapa karyanya masuk dalam beberapa antologi, seperti Tanah Pilih (antologi puisi Temu Sastrawan Indonesia I, Jambi) dan Jalan Menikung ke Bukit Timah (antologi cerpen Temu Sastrawan Indonesia II, Bangkabelitung), Pulau Marwah (TSI Tanjung Pinang), Akulah Musi (Temu Penyair Nusantara, Palembang). Sinetron, Film, maupun IKLAN. Kegiatan yang di kuti selain di Medan-Sumatera Utara, PEKSIMINAS III di TIM Jakarta (1995), work shop cerpen MASTERA, di Bogor (2003), Festival Teater Alternatif Gedung Kesenian Jakarta Awards, di Jakarta (2003) dan workshop teater alternatif, di TIM Jakarta (2003), Pameran dan Pergelaran Seni Se-Sumatera, di Taman Budaya Banda Aceh-Monolog (2004). Menyutradarai monolog "Indonesia Undercover" dalam seleksi Monolog 2005, di Taman Budaya Sumatera dalam rangka monolog nasional di Graha Bakti, Taman Ismail Marzuki, Panggung Idrus Tintin, Riau, Taman Budaya Banda Aceh, Taman Budaya Lampung, Solo, Panggung Penyair Se-Asia Tenggara, Tanjung Pinang,dll. Karyanya selain di Medan juga pernah dimuat di Surat Kabar/Majalah Nasional/buku di Malaysia, Radio Nederland, Cyber sastra,dll. Sering menjuarai berbagai lomba selain lomba baca/cipta puisi, cerpen, lawak, dongeng, proklamasi dan juga Teater lokal, nasional maupun Asia tenggara. Tarung Penyair Asia Tenggara dinobatkan sebagai unggulan I. Termasuk lima besar Lomba Cipta Puisi Nasional, Bentara Bali Post. Selain masuk sebagai pengurus di beberapa organisasi seni, sastra dan budaya, ia aktif juga dalam kegiatan lainnya termasuk dunia politik. Sering didaulat sebagai Sutradara, juri dan pembicara, atau narasumber terkait. Saat ini bertugas di beberapa sekolah sebagai staf pengajar, Panca Budi,Budi Utomo dan UNIMED, juga sebagai Koordinator Omong-Omong Sastra Sumatera Utara dan Direktur di Komunitas Home Poetry. Alamat kontak-Taman Budaya SumateraUtara, Jl.Perintis Kemerdekaan No. 33 Medan. HP. 085830805157 Mail:mraudahjambak@plasa.com, mraudahjambak@yahoo.com















BUMI BICARA, BUKAN ANTOLOGI PUISI BIASA
M. Raudah Jambak

Disajikan dalam bedah buku antologi puisi Bumi Bicara Fakultas Ilmu Budaya USU























Medan
2012