Tuesday, 28 January 2014

NASKAH DRAMA TV RAUDAH JAMBAK

Drama Pendek
(KOCAN)
Muhammad Raudah Jambak
TABUNG GAS KU SAYANG

ADEGAN SATU
Ext. Teras depan rumah Tigor. Rumah sederhana. Pagi hari
Terlihat orang-orang berbondong-bondong, pergi ke suatu tempat. Tigor baru bangun. Heran. Bangkit memanggil orang-orang.

Tigor : Oi, mau kemana?
Orang 1 : (berhenti sejenak memandang heran pada Tigor, lalu pergi)
Tigor : (memanggil orang kedua) Bang, mau kemana kelien?
Orang 2 : (berhenti sejenak, menggeleng, lalu pergi…)
Tigor : (menggaruk-garuk kepala kembali duduk) Bah, ditanya manggeleng-
geleng ho …
Paijo : (melintas di antara rombongan, melihat Tigor dan menyapanya) Hei,
Bang Tigor nggak ikut Abang ke Balai Desa?
Tigor : (bersemangat) He, Jo. Pai, ah entah siapalah nama kau. Cocok kalilah
ada kau. Ha, ada apa di Balai Desa?
Paijo : (heran) Jadi, Abang nggak tau?
Tigor : (menggaruk kepala lagi) Manalah aku tau. Cobaklah kau pikir, dari
tadi aku tanya orang-orang itu. Iya, orang-orang yang lewat itu
satupun tak ada yang menjawab.
Paijo : Makanya, Abang ikut aku aja. Sambil jalan aku jelaskan. Cocok
Abang rasa?
Tigor : Ih, cocok kalilah. Tapi nggak kau apa-apakan aku di tengah jalankan.
Paijo : (menggeleng) ya, nggaklah, Bang.
Tigor : Yang betul kau...,Jo.
Paijo : Betul, Bang. Ayoklah...
Tigor : (berpikir agak lama) Ayoklah kalau begitu.

CUT

ADEGAN DUA.
Int. Ruang tamu rumah. Rumah kelas menengah. Pagi hari
Istri Sangkot, Minah terlihat bersiap-siap hendak mandi. Sangkot masih duduk santai sambil membaca koran. Istri Sangkot hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya.
Sangkot : (membaca koran dengan suara keras) Ketagihan Play Stasion, Bocah
Curi Tabung Gas. (mencari yang lain) Kepergok Gasak Tabung Gas,
Pengantin Baru Disel. (geleng-geleng kepala) Tabung Gas Meledak,
Dua Karyawan Luka. (membaca yang lain) Tabung Gas Tukang
Balon Meledak. (membaca di halaman lain) Tabung Gas Meledak,
Ibu dan 2 Anak Terbakar. (Tukar posisi duduk) Ih, beritanya ngeri.
Bagusnya awak baca yang lucu-lucu. Biar segar sikit utaktu he he he.
(membuka halaman lain) A, ini dia. Kolom PILU, pikiran lucu. Hm.
Judul kolomnya aja sudah lucu. Ha, ini awak baca. (membaca) Lima
Pelaut Kecebur ke Laut. Terjadi percakapan antara Nahkoda dengan
para bawahannya. "Lima pelaut kecebur ke laut, tapi hanya satu yang
rambutnya basah." "Kok bisa begitu?", tanya Nahkoda. "Karena yang
empat itu kepalanya botak licin." (membaca yang lain) Mau tau siapa
orang paling sial di dunia? Dia adalah orang yang lahir di BALIK
PAPAN,besar di PALU,dan meninggal di SORONG. (membaca yang
Lain) Kenapa kucing kalau menyeberang rel kereta api harus melom
pat ? Jawabannya : Sebab kalau memutar kejauhan.
Minah : (sudah selesai berpakaian, lantas menatap suaminya yang masih ber-
Malas-malasan.) Katanya mau ke Balai desa? Bapak kok belum siap?
Cepatlah! Nanti jatah kita hilang....
Sangkot : (Panik) Eh, jatah? Jatah apa?
Minah : (berkacak pinggang) Eh, pakek nanya lagi. Pak Kades mau bagi-bagi
Kan tabung gas.
Sangkot : (panik) Alah, Mak. Eee, anu. Tidak usahlah. Tak jadi. Kita kan sudah
Punya kompor minyak tanah?
Minah : (marah) Ih, bodohnya bapak ini. Itulah kalau orang tidak ngerti bisnis
Cepat. Kugas bapak nanti.....
Sangkot : (Ketakutan) Oke, oke cinta. Jangan marah lah. Nanti lipstiknya lun...
Minah : (marah) Cepat.......!!!(Sangkot terbirit-birit) CUT
ADEGAN TIGA
Int. Ruang Balai Desa. Pagi.
Orang-orang sudah berkumpul. Mereka asyik dengan diri mereka sendiri. Ada yang terdiam di tempat duduknya. Ada yang berbincang serius. Ada yang bercanda. Ada yang duduk. Ada yang berdiri, dsb. Suasana tengah menunggu dan mengharap sesuatu. Tidak berapa lama kemudian Minah muncul dengan Sangkot. Minah lalu mengambil posisi di depan mengabsensi.

Minah : (memandang ke hadirin) Bapak-bapak, Ibu-ibu, hadirin para penerima
Bantuan tabung gas yang saya hormati. Sambil menunggu kedatangan
Pak Kades, ada baiknya saya data dulu nama-nama para penerima ban
Tuan. Mudah-mudahan semuanya hadir. Tetapi juga sebelum itu per
Lu sedikit saya jelaskan latarbelakang adanya bantuan ini.........
Orang 1 : (memotong) Maaf, Bu Minah. Bukan maksud saya menyinggung pera
Saan Bu Minah. Tapi, maaf. Saya juga tidak bermaksud melangkahi
Kewibawaan Bu Minah. Jadi Maaf, Bu....
Minah : (memotong) langsung saja, Bu..
Orang 1 : (sambil memegang perut) Maaf, Bu. Saya kebelet pipis......(pergi)
Orang-orang heboh. Ada yang tertawa. Ada yang geram, dsb.
Minah : (menggeleng sambil memandang ke arah orang 1) Tenang. Kita
lanjut...
Orang 2 : (memotong) Bu, sudah langsung saja. Kami sudah hampir tiga jam
Menunggu di sini.
Orang 3 : (menambahkan) Ya, Bu. Saya setuju. Kami masih banyak kerjaan
Yang harus kami selesaikan.
Orang-orang kembali heboh. Bu Minah berusaha menenangkan. Bu Minah kembali berbicara setelah semuanya tenang.
Minah : (tegang) Baik. Saya hanya mengabsen saja. Pak Sangkot, Bu Santi.
Bang Tigor, Bu Darmi, Mas Paijo (Minah terus mengabsen, yang namanya di panggil ada yang bersuara. Ada yang mengacungkan tangannya. Sejak dari nama Pak Sangkot dipanggil, orang-orang sudah mulai berbisik. Diantaranya ada wajah-wajah yang penuh dengan rasa curiga.
CUT

ADEGAN EMPAT
Int. Ruang tamu rumah Tigor. Siang.
Di ruang tamu Tigor sedang bingung. Pandangannya tidak lepas ke arah tabung gas yang baru diterimanya dari Balai Desa. Tabung gas itu terletak begitu saja di atas meja ruang tamunya yang sempit.

Tigor : (bingung) Mau kuapakan besi ini. Sudah hilang duitku duapuluh ribu
Dibuatnya. Aneh, aneh saja kelakuan Pak Gunawan itu kurasa. (meni
Rukan ucapan pak Gunawan) Bapak-bapak. Ibu-ibu yang saya horma
Ti. Sebelum tabung gas dibagikan secara langsung oleh Pak Kades.
Kami berharap Bapak-Ibu mengikhlaskan biaya perawatan tabung
Gas ini sebesar dua puluh ribu rupiah. Adapun biaya itu kita perguna
Kan untuk mengurus administrasi dan transportasi pengangkutan ta
Bung gas ini sendiri. Bah!
Tigor kembali diam. Dipandanginya tabung gas itu dengan seksama.
(tersentak) Aku tahu sekarang, he he he. Cocoknya kujadikan pot
Bunga saja. Cocok. Cocok. Eh, tunggu dulu. Aku tak punya bunga.
Lagi pula nanti dibilang pulak sama si Paijo aku banci. Ah, tak jadi.
Tigor kembali diam. Tabung gas itu dibawa-bawanya keliling ruangan, sesekali di letakkannya di sembarang tempat. Ketika merasa lelah, tabung itu dijadikannnya bantal untuk tidurnya di atas kursi panjang.
(menepuk kening tiba-tiba) Alah, alah..Bodoh kalipun kurasa. Jadi
Bantal aja cocoknya kurasa. (seperti teringat sesuatu) Ai, mak. Sakit
Lah kepalaku nanti. Sudahlah kujadikan kaki untuk tempat akuarium
Ikan-ikan ku lah cocoknya. Aaah, cocoklah itu. Cocok kali kurasa.
Tigor dengan semangat memindahkan akuarium sederhana di atas tabung gas itu. Memandang dari berbagai arah. Kemudian dia menari kecil, sebagai ungkapan rasa gembiranya.
(menggeleng kemudian) masih tak cocok kurasa. Kalau begitu kule-
Takkan saja dulu di luar. Mana tahu si Paijo lewat, jadi aku bisa berta-
Nya sama dia. Mana tahu dia bisa menunjukkan jalan keluar. Paling ti-
Dak aku tahu harus kuapakan benda ini. Ah, cocok kali kurasa.
Tigor ke luar ruangan menuju teras depan. Tabung gas masih dibopong-bopongnya.
CUT
ADEGAN LIMA
Tigor masih duduk melirik ke kiri dan ke kanan. Beberapa orang melintas di depannya memandang heran melihat Tigor yang memeluk tabung gas nya. Tidak berapa lama Paijo muncul dengan menenteng tabung gasnya juga.
Tigor : (riang) Jo, ah... sini kau dulu. Coocok kali kau datang. (Paijo men
Dekat) Duduk. A, duduk kau dulu. (meneruskan pembicaraan tanpa
Memeperdulikan wajah Paijo yang cemberut) Begini, Jo. Aku bi
Ngung mau kuapakan benda ini. Kujadikan pot bunga, tak cocok.
Kujadikan kaki akuariumku. Tak cocok. Kujadikan bantal apalagi...
Juga tak cocok. Kujadikan apapun tak cock. Bingung aku. Nah, seka
Rang apa pendapatmu. Kasi aku saran dulu.
Paijo : (diam)
Tigor : Eh, aku bertanya sama kau. Tak kau perdulikan aku, bah. Eh, kutanya
Kau dulu apa saran kau. Biasanya saranmu paten-paten. Ha, macamm
Mana?
Paijo : Uh, keblinger koe. Apanya macammana? Wong edan. Aku juga bi
Ngung. Mau kuapakan tabung ini. Katanya bisa untuk keperluan ru
Mah tangga. Bisa untuk ini itu. Aku makenya nggak ngerti. Keperlu
An rumah tangga opo....!?
Tigor : Aaa, kalau begitu. Daripada kita yang bingung. Bagusnya kita pu
Langkan saja. Terus uang duapuluh ribu yang dikutip kita minta lagi
Macammana.
Paijo : (tertawa tebahak-bahak) Oalah, Gor. Gor. Dasar bocah gendeng.
Orang sedesa yang malah bingung. Lebih bagus kita jual.....
Tigor : (tersentak girang) Cocok kali. Itulah yang membuat aku senang
Berkawan sama kau. Ide cemerlangmu selalu tidak terduga. Wah,
Mantap. Paten.
Paijo : Cocok, mantap, paten apanya? Eh, Gor. Sekarang aku yang nanya
Sama kau. Di desa ini siapa yang mau beli? Siapa?!
Tigor : Ya, kita cari lah, kawan. Begini banyaknya manusia di tempat kita
Ini, masak tidak ada yang bisa diandalkan. Kita data saja orang-orang
Kaya di tempat ini. Mudah-mudahan ada yang berminat. Cocok?
Paijo : Ah, kelamaan. Macammana kalau Bu Minah? Cocok. Cocok!
FADE OUT
Tidak berapa lama Minah dan Sangkot datang menghampiri mereka. Tigor dan Paijo memasang wajah senang.
Minah : (tersenyum) Kebetulan sekali. Kebetulan bang Tigor sama Mas Paijo
Ada di sini.
Sangkot : Ya, kebetulan sekali.
Minah : Kalian mau tidak membeli tabung gas kami? Murah.
Sangkot : Ya, murah.
Minah : Pokoknya kalian tidak menyesal.
Sangkot : ya, tidak menyesal.
Minah : Jangan takut, rahasia di jamin be.....
Tigor : (memotong) tunggu dulu Bu Minah. Sudah terbalek dunia kurasa. Oo
Bu Minah. Dari tadi aku sama si Paijo justru berencana menjualnya
Ke Bu Minah. Bukan membeli.
Paijo : Yo, Bu Minah. Kami bingung. Waktu di balai desa ndak dijelaskan
Cara pemakaiannnya secara jelas.
Tigor : Terus aku bingung mau diapakan besi ini.
Paijo : Aku juga. Setiap kupandang tabung ini bingungku terus bertambah
Minah : Kok, bingung. Justru kami kemari maksudnya mau menjual tabung
Kami sama kalian. Eeh, tiba-tiba kalian mau menjualnya ke kami.
Seharusnya kami yang bingung. Bukan kalian. (berpikir) Sekarang be
Gini saja. Bagaimana kalau kita jual sama-sama?
Sangkot : Yap, jual sama-sama.
Tigor : Aku setuju
Paijo : Aku paling setuju
Tigor : Sekarang kita kumpulkan di mana?
Minah : Di rumahku saja...
Sangkot : Eit, tunggu dulu, jangan. Jangan di rumah kita.
Minah : (geram) bodoh, bodoh. Abang memang bodoh nggak ngerti bisnis.
Sangkot : Ini bukan persoalan bisinis. Ini persoalan keselamatan.
Minah : Keselamatan. Keselamatan apanya. Rumah kita selama ini aman-
Aman saja kok. Selamat- selamat aja kok.
Sangkot ; Bukan itu yang kumaksudkan.
Minah : Jadi apanya?
Sangkot : (menarik tangan Minah agak menjauh) Tabungnya.
Minah : Ya, kenapa tabungnya?
Sangkot : Tabungnya.
Minah : Kenapa tabungnya?
Sangkot : Aku takut tabungnya meledak.
Minah : Terus?
Sangkot : Aku takut rumah kita terbakar
Minah : Terus?
Sangkot : Terus, terus. Pokoknya aku tidak setuju. Apapun ceritanya.
Minah : Uh, banci. Sudahlah (mendatangi Tigor dan Paijo)
Tigor : Sekarang bagaimana, Bu Minah?
Paijo : Pokoke aku setuju-setuju saja.
Sangkot : Aku tidak setuju.
Tigor : Kenapa, Pak Sangkot?
Paijo : Aneh Pak Sangkot ini. Ide ini kan datangnya dari istri sampean sendi
Ri. Idenya Bu Minah. Lho, kenapa justru sampen ndak mendukung.
Oalah, kepribenn iki.
Sangkot : (menarik Paijo) Sini, Jo. Sekarang aku mau tanya sama kau. Kau mau
Rumahmu terbakar.
Paijo : Oalah, Pak sangkot, Pak Sangkot. Mana ada orang yang mau rumah
Nya terbakar? Apa Pak Sangkot mau?
Sangkot : Uuh, dasar kunyuk. Justru itu. Aku bertanya. Mau tidak rumahmu ter
Bakar?
Paijo : Ya, ndak maulah.
Sangkot : Justru itu. Aku setuju tabung itu dijual. Tapi aku tidak setuju kalau ta
Bung itu dikumpulkan di rumahku
Paijo : Jadi...
Sangkot : Jadi, kalau meledak di rumahku kalian mau mengganti?
Paijo : Terus apa tabung itu gampang meledak?
Sangkot : Ya, siapa tau?
Paijo : (mendatangi Tigor) Aku batal, Gor.
Tigor : Macammananya, Jo. Tak jelas kau. Kadang setuju. Kadang tak setuju.
Minah ; Ya, sudah. Kalau paijo tidak setuju, tidak apa-apa. Kamu setujukan,
Gor?
Tigor ; Aku setuju.
Paijo : (berbisik) Gor, kamu mau rumahmu meledak.
Tigor ; Eh, dodol. Mau kau bom rumahku? Kalau kau tidak setuju jangan pa
Ke mengancam. Mau meledakkan rumahku pulak. Mau jadi teroris
Kau?
Paijo : Bukan itu. Tabung itu mudah meledak. Mau rumahmu tebakar.
Tigor : Eh, cacing. Kubilang sekali lagi sama kau. Jangan mengancam. Tadi
Mau kau ledakkan rumahku. Sekarang mau kau bakar rumahku.
Paijo : Bukan. Bukan itu. Kalau tabungnya meledak rumah kita terbakar. Ka
Ta Pak Sangkot tabungnya gampang meledak. Aku takut rumahku ter
Bakar. Kau?
Tigor : Ah, tak mau aku.
Paijo : Jadi?
Tigor : (berbisik)
Paijo : (menatap sungkan) Bu Minah. Kami sudah memutuskan.
Minah : (heran) Memutuskan. Memutuskan kalau kalian setuju?
Paijo : Memutuskan. Memutuskan kalau kami tidak setuju.
Minah : Ya, tidak apa-apa. Saya bisa sendiri kok.
Paijo : Satu lagi, Bu Minah. Kami memutuskan.
Minah : Memutuskan apa lagi?
Paijo : Kami berencana.
Minah : Berencana apa?
Paijo : Berencana mau menyerahkan tabung ini ke Bu Minah saja. Untuk Bu
Minah saja. Apa Ibu setuju?
Minah : (sumringah) Nah, kalau yang begitu saya paling setuju. Terimakasih...
Sangkot : (ketakutan) Saya tidak setuju.
Minah : Setuju !
Sangkot : Tidak!
Minah : Setuju. Kamu setuju, Jo?
Paijo : Setuju!
Minah : Kamu, Gor?
Tigor : Setuju. Paling setuju pun.
Sangkot : Aku tidak setuju. Aku tidak setuju. Aku tidak mau rumahku meledak.
Aku tidak mau rumahku terbakar. Aku tidak setuju. Pokoknya aku ti
Dak setuju. Titik.
Pada saat ribut-ribut itu terjadi, Pak Kades melintas. Kemudiann mendatangi mere
Ka.
Pak Kades : (memberi salam) Assalammualaikum... Ada apa ini Bu Minah? Ba
Pak-bapak?
Minah : O, tidak apa-apa, Pak. Ya kan Pak (mengguit Sangkot)
Sangkot : Ada, Pak. Ada apa-apa, Pak.
Minah : Bapak.....
Sangkot : Saya takut rumah saya meledak, Pak. Saya takut rumah saya terbakar.
Pak Kades : Meledak apanya? Terbakar bagaimana?
Sangkot ; Tabung gasnya, Pak...
Pak Kades : Ooo, saya mengerti. Begini Pak Sangkot. Tabung gas itu tidak akan
Meledak kalau kita bisa merawatnya, misalnya agar acara memasak
lebih nyaman tanpa rasa waswas , ada beberapa cara merawatnya
berikut ini. 1. KONDISI, Pada saat membeli, pilihlah yang
kondisinya baik dan perhatikan tanggal kedaluwarsanya. 2. CEK
SELANG, Untuk mencegah kebocoran, periksalah selangnya,
minimal sebulan sekali. 3. REGULATOR, Sebaiknya gunakan
regulator yang ada meterannya agar memudahkan mengetahui berapa
banyak gas yang tersisa. 4. CINCIN KARET, Ketika memasang
regulator, perhatikan apakah ada suara mendesis atau tercium bau
gas! Jika ya, segera lepaskan regulator dan cek cincin karet pada tutup
gas. 5. STOK, Mintalah beberapa buah cincin karet sekaligus kepada
penjualnya untuk stok. Karena, terkadang ada tabung gas yang tidak
disertai cincin karet atau ukuran cincinnya tak sesuai sehingga gas
mudah keluar atau bocor. 6. POSISI, Letakkan tabung gas pada posisi
berdiri tegak agar regulator dapat mengunci dengan baik.
Berhati-hatilah ketika menerima tabung LPG dari penjual manapun.
Cara memeriksa masa kadaluwarsa dari tabung LPG adalah: tanggal
kadaluwarsa ditulis dalam alfa code sesuai nomornya sebagai A atau
B atau C atau D dan sekitar dua digit angka mengikutinya.
Contohnya: C09. Abjad mewakili empat bulanan (1 kwartal), A untuk
bulan maret, B Juni, C Sept dan D Desember. Dua digit angka
berikutnya merupakan tahun kadaluwarsa. Makanya "C09 berarti
September 2009".
Sangkot : Jadi kalau kita tidak merawatnya bisa bahaya ya, Pak?
Pak Kades : Ya, jelaslah Pak Sangkot. Badan Pak Sangkot saja kalau tidak dirawat
Bu Minah pasti panik, ya, Bu Minah?
Bu Minah : Tapi ini kan tabung gas bantuan, Pak?
Pak Kades : Justru itu. Kita harus lebih aktif lagi merawatnya.
Paijo : Pak Kades, sekadar ingin tahu saja. Kemarin tidak sempat bertanya.
Kenapa musti ada bantuan tabung gas, Pak. Terus mengapa tidak se
Mua warga yang dapat?
Pak Kades : Ooo, itu. Bantuan tabung gas elpiji dari pemerintah untuk program
konversi minyak tanah (mitan) ke gas elpiji di daerah kita ini masih
sangat sedikit. Dari jumlah warga sebanyak 75 KK (kepala keluarga),
jatah bantuan yang diterima hanya 17 buah. Daripada bantuan tabung
gas itu jadi rebutan hingga memancing keributan antar warga, lebih
baik dibagikan dengan cara dikocok seperti arisan. Bahkan cara itu
sudah disetujui dan disepakati oleh semua warga. Paling tidak perwa
kilan dari warga.
Paico : Katanya juga warga pendatang tidak boleh dan tidak bisa mendapat
Bantuan ya, Pak. Maksudanya apa?
Pak Kades : Disepakati masyarakat penerima tabung gas gratis ini adalah warga
yang menggunakan minah dan juga usaha kecil yang menggunakan
minah. Kita harus sepakat kriteria penerima paket tabung gas
berdasarkan prosedur dan ketetapan (protap) yang ada berdasarkan
kesepakatan bersama antara Dirjen Migas dan Pertamina.
Kesepakatan itu tidak mengklasifikasi tingkat ekonomi, tetapi semua
warga yang menggunakan minah dan usaha kecil menggunakan
minah. Kepada warga pendatang menyangkut konversi gas tidak di
berikan, karena sebentar lagi pemerintah akan melakukan
penertiban administrasi kependudukan (Operasi Yustisia). Soalnya
banyak warga pendatang yang sudah menetap bertahun-tahun
termasuk mahasiswa ingin mengurus KTP, tapi tidak bisa diberikan
karena berkasnya tidak lengkap. Diasumsikan pendistribusian tahap
pertama disiapkan sebanyak 200 ribu tabung gas, tetapi estela
dilakukan pencacahan tahap kedua jumlahnya sudah mencapai 400
ribu. Pada awalnya pendistribusian akan dilakukan setelah
pencacahan dilaksanakan yaitu pada April lalu, tapi karena suatu hal,
pencacahan baru bisa dilanjutkan bulan ini, dan sekarang sudah
mencapai 52 persen. Namun keberhasilan konversi minah ke gas tanpa
dukungan pemerintah, tidak akan berjalan lancar. Dan untuk
sementara ini Pertamina belum melakukan pengurangan minah di dae
rah kita. Pengurangan nantinya juga akan dilakukan secara bertahap
setelah masyarakat menerima tabung gas. Minah sendiri tetap ada di
pasaran tetapi harganya tidak di subsidi lagi, yaitu sekitar Rp7.500 per
liter.
Paijo : Ada tidak sanksi jika terjadi ketidak beresan dalam pendistibusian ta
Bung gas itu, Pak?
Pak Kades : Itu sebenarnya persoalan kejujuran saja. Si pelaku dengan Tuhan.
Tetapi kalau mencuri tabung gas bisa dijerat Pasal 363 KUHP tentang
Pencurian dengan ancaman hukuman maksimal 7 tahun penjara.
Tigor : Tapi, Pak. Saya tidak pandai mempergunakannnya, macammana, Pak
Pak Kades : Kalau begitu sekarang ayo ke rumah saya. Semua akan saya ajari. Ok.

Tigor, Paijo, Sangkot dan Minah mengangguk-angguk tanda senang.
CUT

SELESAI


Medan, Sept. 2009
Muhammad Raudah jambak, S.Pd








PUISI-PUISI RAUDAH JAMBAK


Puisi-Puisi M. Raudah Jambak




INDONESIA, MERAH-PUTIHKU

Indonesia, Indonesia
di negeri ini aku dilahirkan
di negeri ini aku dibesarkan
di negeri ini aku menggapai
segala impian
segala harapan
segala cita
dan cinta

Indonesia, Indonesia
engkau adalah taman terindah
ibu yang paling ramah, penuh
kasih dan sayang
dalam suka
maupun duka

Indonesia, Indonesia
adalah do’a-do’a hikmat sebelum tidur,
adalah gula dalam setiap makanan maupun manisan
adalah cahaya penerang segala terang maupun yang kabur
adalah puncak segala warna dalam lukisan dan racik tenunan

Indonesia, Indonesia
laksana obat penghilang perih luka-luka
tilam paling nyaman setiap ketentraman berdiam
danau tempat membasuh tumpukan-tumpukan duka
dan senyuman dalam mata paling nyalang atau sebenam pejam

Indonesia, Indonesia
barisan semangat sepanjang carnaval
anak-anak yang berlari riang sepanjang jermal
kekasih segala pujaan, membenam segala gombal

Indonesia, Indonesia
merah darahku
putih tulangku
di tubuhku
kita menyatu
padu

medan, 10-12


MENJAGA INDONESIA

Mungkin tak pernah terpikirkan
entah berapa helai daun yang gugur di halaman rumah kita
dan membusuk, atau hangus begitu saja di gunungan sampah
yang berhari-hari kita biarkan. Pun, ketika ia terseret di arus banjir
dan terdampar di kehilangan pandangan kita

Adakah terbaca setumpukan debu
yang menebal di datar kaca jendela, bersebab
kemarau dan bising lalulalang jalan raya. Padahal
tanpa sadar ia selalu menari di hadapan kita, ketika kita
berpatut-patut diri sebelum berangkat kerja

Lalu sempatkah terhitung
berapa usia ruang depan rumah kita yang membiarkan
tetamu datang dan pergi, serta gelas yang terjatuh dikarenakan
keriangan anak-anak berkejaran di seputar meja. Termasuk perempuan
yang kemudian dikatakan istri, dikatakan ibu, berebut kisah laksana setrika, selalu berpindah
dari kasur, dapur dan sumur. Juga lelaki yang tercatat sebagai suami, tercatat sebagai bapak
memungut kisah dari rumah sampai rumah

begitulah Indonesia
ia menyediakan diri sebagai apa saja
dan mungkin tak pernah terpikirkan, terbaca, atau terhitung
tentang daun-daun, debu atau justru sebagai rumah, tempat orang-orang
memungut istrirah

Indonesia adalah rumah kita
yang penuh dengan sesak sampah
yang penuh dengan riuh debu-debu
yang penuh dengan tamu-tamu
datang dan pergi

Indonesia adalah rumah kita
yang berpagar, yang berubah-ubah warna dindingnya
yang bagian-bagiannya dihancurkan kemudian
dibangun kembali

Indonesia adalah rumah kita
yang menyimpan begitu banyak cerita
dan sepatutnyalah kita
jaga

medan, mei 2012

MASIH MERDEKAKAH KAU INDONESIA?

Masih merdekakah kau Indonesia
setelah kau rajut usia dari debu-debu jalan raya
dalam kaleng rombeng
recehan angka milik pengemis belia
yang mendendangkan kidung lara
bersama hembusan dupa dari opelet tua

masih merdekakah kau Indonesia
ketika musyawarah berubah dari mufakat
menjadi siasat
ketika wakil rakyat lebih mewakili penjahat
ketika gedung dewan lebih mirip kandang hewan
dan ketika pejabat negara tega menjadi pengkhianat bangsa

Masih merdekakah kau Indonesia
dalam kemerdekaan yang kau sendiri tak paham maknanya
karena matamu telah dibutakan
dan mulutmu disekat rapat-rapat
serta telinga cuma sekedar bunga tanpa rupa

Masih merdekakah kau Indonesia
padahal telah banyak disumbangkan darah dan air mata
dan berjuta nyawa yang akhirnya cuma sekedar wana luka

Masih merdekakah kau Indonesia?

Komunitas HP, 2002

INDONESIA BERKACA

telah lama indonesia terjebak dalam buramnya
kotak kaca, mulai dari wajah yang berdebu, sampai
tiga dimensi yang kaku, parabola tak lagi berguna
dikalahkan kecanggihan batok kelapa-
kejahatan, penipuan, kemunafikan-berlomba menjadi
pelaku utama-sementara kejujuran, keikhlasan,dan
kesabaran-cukup puas sebagai figuran biasa

telah lama indonesia terjebak dalam kumuhnya
media masa, mulai dari wajah yang penuh darah,
sampai bibir merah penuh gairah, headline kemanusiaan tak lagi berguna, politik haus kekuasaan di atas segalanya-korupsi, prostitusi, anti ideologi-menjadi berita terkini-sementara harkat, martabat, dan nurani-hanya penghias demi investasi

telah lama indonesia terjebak di atas panggung sandiwara, yang selalu kehilangan penonton setia
mulai dari fans tiba-tiba, sampai kelas utama
tiket pertunjukan tidak lagi berguna, sebab
undangan gagal membawa marwah cerita-pemain, penata, dan sutradara-saling curiga dengan honor
yang diterima-sementara proyek, eksebisi, dan
pertunjukan dalam rangka-menjadi penentu final
dalam berkarya

lihatlah aceh, ambon dan papua
lihatlah korupsi, prostitusi dan manipulasi negri
lihatlah segala amoral dan asusila
anak-anak bangsa

apa khabar munir yang menunggang garuda
apa khabar harry roesli dengan drs. arief-nya
apa khabar peter white dan sepakbola indonesia
apa khabar sby bersama seratus harinya
apa khabar hamid jabbar yang selalu menzikirkan puisinya, selalu tertawa gembira-walau dalam tangis indonesia
apa khabar tsunami yang selalu meneteskan
air mata

do’a takjim buat saudara-saudaraku,
yang mengawang di bukit lawang, menanam pusara badan di kuningan, menyerah di bandara adi sumarmo yang gelisah, ambruk mengurusi nyamuk-nyamuk, menggigil digetarnya gempa tsunami
dan yang tiba-tiba pergi ke negeri entah
(tuhan mengarahkan langkah kalian menuju taman
di dalamnya mengalir sungai susu, tumbuh bunga-bunga indah, dan ranumnya beragam buah)

telah lama indonesia terjebak dalam lusuhnya cermin kaca, tapi yakinlah kami masih mampu
membaca makna-membersihkan wajah indonesia
indonesia bercermin
indonesia berkaca
dalam derita
kami akan terus berjuang untukmu
dalam bahagia
kami akan senantiasa mengharumkan
namamu,
indonesia berkaca-anak-anak bangsa berusaha
terangkai do’a, senantiasa

Medan, 2001

SEBAB PAHLAWAN NAMAKU

Di dalam negeri yang penuh rahasia, aku terlahir
Dari seorang ibu yang tak henti mengumpulkan
Segala tetes air mata di pualam pipinya
Tumbuh besar sampai sekarang menjaga usia
Setua misteri yang beralis segala teka teki
Dan memberi namaku Pahlawan

Bukan aku yang meminta nama segagah itu
Bukan aku yang memaksa untuk ditabalkan
Bukan aku yang terpaksa atau bahkan rela
Merengek-rengek agar semua orang tahu
Tidak ada Pahlawan selain aku

Aku tidak harus mati dulu
Apalagi mengumpulkan kartu tanda penduduk
Atau mengumpulkan kartu keluarga sekian ribu
Bahkan harus PEMILU agar ibu menuliskan
Kata Pahlawan di keningku

Ooi, Aku bangun jiwa raga ini
Aku bangun cita-cita ini
Aku bangun negeri ini
Dengan nurani
sebab pahlawan namaku

Ooi, Tak harus kutempuh cara yang sama
Tak harus kutempuh jalan membabi buta
Tak harus kutempuh menikung suka-suka
Tapi kususuri cara yang sesederhana jiwa
sebab pahlawan namaku

Ooi, Sebab aku terlahir
di dalam negeri penuh rahasia dari seorang ibu
yang tak henti mengumpulkan segala tetes air mata
di pualam pipinya,

Maka pahlawan namaku
Bogor, 2008





MULUT
ia adalah surga bagi hamba-hamba yang faham
tentang makna keabadian dan siap mengusir
segala kefanaan, seperti adam dan hawa yang
belum mengerti keberadaan diri
entahlah mungkin juga karena kelihaian iblis
mengaisngais segala najis

ia adalah neraka bagi pendosa yang dihanguskan
keakuannya dengan bara api dari dasar
paling jahanam, seperti anak-cucu adam dan hawa
yang terlalu berlebih memaknai diri
entahlah mungkin juga karena kelelahan iblis
mengiris-iris segala bengis

ia adalah jalan menuju segala pilihan
medan, 2012



M. Raudah Jambak, lahir di Medan-5 Januari 1972. Kegiatan terakhir mengikuti Temu Sastrawan III di Tanjung Pinang. Cukup banyak kegiatan yang digeluti sejak SD yang berkaitan dengan seni, sastra dan budaya. Lokal, nasional, maupun Asia Tenggara. Secara nasional dimulai pada event PEKSIMINAS di Jakarta (Teater, 1995), LMCP_LMKS di Bogor (sampai 2008), MMAS Guru-guru se-Indonesia di Bogor (200&), work shop cerpen MASTERA, di Bogor (2003), Festival Teater Alternatif GKJ Awards, di Jakarta (2003) dan workshop teater alternatif, di TIM Jakarta 2003), Pameran dan Pergelaran Seni Se-Sumatera, di Taman Budaya Banda Aceh-Monolog (2004). Menyutradarai monolog “Indonesia Undercover” dalam seleksi Monolog 2005, di Taman Budaya Sumatera dalam rangka monolog nasional di Graha Bakti, Taman Ismail Marzuki. Ikut membidani Cublis di Lampung (2009). Membacakan Puisi di Gedung Idrus Tintin Riau (2010),dll. Karyanya dimuat di berbagai surat kabar/maja lah Indonesia-malaysia. Saat ini bertugas sebagai guru sastra dan dosen filsafat Panca Budi Medan. Asyik membidani Komunitas Home Poetry. Alamat kontak-Taman Budaya Sumatera Utara, Jl.Perintis Kemerdekaan No.33Medan.HP.085830805157.E-Mail: mraudahjambak@yahoo.com. Selain itu beberapa buku yang memuat karyanya juga sudahterbit,misalanya:MUARATIGA (antologi cerpen-puisi/Indonesia-Malay sia), KECAMUK (antologi pusi bersama SyahrilOK), TENGOK (antologi pui si penyair Medan), Antologi Puisi MEDITASI (Sastra religius, 1999), Antologi Puisi Seratus Untai Biji Tasbih (Sastra religius, 2000), Antologi esay PARADE TEATER SEKOLAH (Aster, 2003), Antolgi Esay 25 Tahun Omong-Omong Sastra (2004), Antologi Puisi 50 Botol Infus (Teater LKK UNIMED:2002) , Antologi Puisi Amuk Gelombang (Star Indonesia Production :2005), Antologi Puisi Ragam Jejak Sunyi Tsunami (Balai Bahasa Medan:2005), Antologi Puisi Jogja 5,9 Skala Richter (Ben tang:2006), Antologi Puisi Medan Puisi (2007), Antologi Puisi TSI 1 Tanah Pilih (Disbudpar Jambi:2008), Antologi Pusi Penyair Muda Malaysia-Indonesia (PENA Malaysia:2009), Antologi Puisi, Cerpen, dan Naskah Drama Medan Sastra (TSS-TSSU:2007), Antologi Puisi Medan Internatio nal Poetry Gathering (2008), Antologi Puisi dan Cerpen Merantau ke Atap Langit (Teater LKK UNIMED:2008), Antologi Cerpen 30 Terbaik Lomba Cerpen Tingkat Nasional Fes tival Kreativitas Pemuda 2007: LOKTONG (CWI:2007), Antologi Cer pen Tembang Bukit Kapur (ESCAEVA Jakarta:2007), Antologi Puisi FLP Indone sia (2008), Penyair Urban Antologi Puisi Laboratarium Sastra (2008), Antologi Cerpen RANESI – RADIO NEDERLAND SIARAN IN DONESIA (GRASINDO: 2009), Antologi Cerpen Denting (DKM:2006), Antologi Cerpen Jalan Menikung ke Bukit Timah (Disbudpar Pangkalpinang:2009), Antologi Cerpen Dari Pemburu Sam pai Ke Teraupetik Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Pusat Bahasa: 2003), Novel Putri Run duk (Pusat Bahasa Jakarta, 2008), Antologi Cerpen LMCP Guru (2007-2008-2010), Antologi Cerpen TSI 2 Jalan Menikung ke Bukit Timah (Disbudpar Pangkal Pinang-BABEL,2009), Antologi Cerpen TSI 3 UJUNG LAUT PULAU MARWAH (Disbud par Tanjung Pinang : 2010),Antologi Puisi Narasi Tembuni- KSI Award, The Rocker (mengenang Murtidjono), dll, Unggulan I Tarung Penyair se-Asia Tenggara di Tanjung Pinang. Alamat Rumah : Jl. Murai Batu Kompleks Rajawali Indah E. 10 – sei Sikambing B – Sunggal – Medan – SUMUT – Indonesia 20122.

SUMBI PADA SUATU HARI


Oleh: M. Raudah Jambak
(Harian Analisa, Minggu 29 April 2012)

Malam pekat. Bulan masih sembunyi di bilik awan. Laju kendaraan meluncur satu-satu. Perempuan itu masih berdiri, bersandar pada tiang traffic light. Samar-samar, dia masih mendengarkan suara orang mengaji dari puncak menara masjid. Ada pedih yang tergores di dadanya. Masih terngiang jerit tertahan anaknya yang melihat kepergiannya. Meronta dari pelukan Sumiati, ibu kosnya. Sesak dadanya, tapi dia harus pergi. Dia harus bekerja. Sudah tiga hari anaknya tidak menikmati susu.

Tadi pagi suhu tubuh anaknya memanas. Sampai terakhir tadi sebelum kepergiannya, suhu tubuh anaknya tidak juga turun. Malah cenderung naik. Dia tetap memutuskan untuk pergi.

Jika sudah seperti itu, acap kali dia memaki dirinya sendiri. Tidak pernah sekalipun terpikirkan olehnya akan menjadi seperti ini. Tidak pernah sekalipun dia bercita-cita menjadi seorang pelacur. Puih! Apalagi ketika wajah seorang lelaki yang pernah dicintainya, melintas begitu saja.

Kalau tidak karena lelaki itu, mungkin dia sudah menjadi direktris pada salah satu perusahaan cabang milik ayahnya. Kalau saja lelaki itu tidak membuat ulah, mungkin ayahnya juga akan menyerahkan perusahaan yang lain kepadanya. Apa daya dia terlanjur salah langkah. Dia lebih memilih lelaki itu daripada ayahnya.

"Kau harus tahu, Anakku," ujar ayahnya,"Rizal tidak sepadan untukmu. Kau anak orang terhormat, sedangkan Rizal?"

"Aku sangat mencintainya, Ayah."

"Lelaki yang selalu mengganggu rumah tangga orang lain. Lelaki yang selalu mengumbar nafsunya pada orang lain. Lelaki yang menghancurkan perusahaan kita, keluarga kita. Lelaki seperti itu yang kau pilih?!"

"Aku sudah membuat keputusan, Ayah."

"Baik. Kalau memang itu sudah tekadmu. Ayah juga akan membuat keputusan!"

Ayahnya tepaksa membuat keputusan. Dengan suara berat dan berwibawa, ayahnya terpaksa memberikan pilihan yang sulit. Memenjarakan lelaki itu, yang menghancurkan perusahaan ayahnya atau tetap menjadi bagian dari keluarga besar Sudirman, ayahnya. Apa, lacur. Dia lebih memilih lelaki yang jelas-jelas telah menghancurkan keluarganya. Sejak saat itu ayahnyapun secara tegas tidak lagi mengakuinya sebagai seorang anak. Dia tetap memutuskan untuk pergi.

Pernah sekali waktu, dia mengunjungi ayahnya yang sedang keadaan sakit keras. Itupun karena ibunya berkali-kali meneleponnya, memintanya untuk pulang. Ayahnya selalu mengigau menyebut namanya. Begitu ia sampai, bukan kerinduan yang dia rasakan, justru makian bertubi-tubi yang dia dapatkan. Padahal, dia telah menghiba-hiba bermohon untuk dimaafkan. Demi melihat kondisi kesehatan ayahnya yang semakin parah melihat kehadirannya, dia memutuskan untuk pergi. Dia pergi ditingkahi suara tangis ibunya yang memintanya untuk tetap bertahan. Dia memutuskan untuk tetap pergi.

Memang ada penyesalan mendalam. Hanya saja, tekadnya sudah bulat. Keputusannya tidak bisa diganggu gugat. Sepanjang perjalanan, dia renungi segalanya. Semua terasa gelap. Dia tidak menemukan jalan keluar. Persis seperti kelengangan jalan. Persis seperti kepekatan malam. Dia memutuskan untuk hidup bersama tanpa ikatan bersama Rizal, kekasihnya. Itupun karena janji Rizal akan menikahinya secara resmi, jika dia sudah mendapatkan pekerjaan.

Bersama Rizal, dia menyewa sebuah rumah sederhana. Dia bisa menerima. Selama menunggu Rizal mendapatkan pekerjaan, dia yang mengatasi uang sewa rumah. Termasuk segala kebutuhan hidup mereka berdua. Juga segala kebutuhan Rizal. Untunglah tabungannya lebih dari cukup. Ayahnya selalu memberikan apa yang dia inginkan. Sejak memutuskan hubungan keluarga ayahnya juga memutuskan segalanya. Termasuk urusan uang.

Hampir setahun mereka hidup bersama. Keresahan dan kebahagiaan semakin terasa tipis batasannya. Terutama ketika dia menyampaikan kabar gembira, dia sudah telat bulan. Sudah satu bulan mengandung calon anak mereka. Rizal terdiam. Rizal malah menyarankan, menggugurkan kandungan itu. Dia bertahan, sebab dia merasa bahagia. Rizal memberi solusi lain. Rizal meminjam uang lima puluh juta, untuk dibayarkan kepada sebuah perusahaan yang akan menerimanya bekerja, jika Rizal bisa menyetor uang sejumlah lima puluh juta.

Perempuan itu ragu, tetapi Rizal mampu meyakinkannya. Akhirnya, isi tabungan perempuan itu hanya menyisakan lima juta. Selebihnya berpindahtangan ke Rizal. Tak berpanjang kalam, Rizalpun segera meluncur ke perusahaan yang dia maksud. Dengan segala cinta dan doa, perempuan itu melepas Rizal. Entah karena waktu meluncur terlalu cepat atau karena hasrat yang tak terbendungkan, perempuan itu seperti tak sabar menunggu kabar berita dari Rizal.

Belum berbilang minggu, kabar tentang Rizalpun terdengar. Tubuhnya seperti hancur, sehancur-hancurnya. Lelaki yang melebihi segala hatinya, telah menikah dengan perempuan lain. Dengan seorang menejer perusahaan tempat rencana Rizal bekerja. Dia harus bertahan. Dia bertekad harus tetap bertahan hidup. Itu filosofi yang diajarkan oleh ayahnya. Bertahan hidup.

Malam pekat. Bulan masih sembunyi di bilik malam. Perempuan itu masih bersandar di tiang traffic light. Suara orang mengaji dari menara masjid, masih terdengar samar ditingkahi laju kendaraan yang meluncur satu-satu. Kebahagiaannya sempat membuncah ketika jerit lengking si bayi mungil di pelukannya. Sepeninggal Rizal, dia pindah dari kota J ke kota M. Bekerja di sebuah pabrik. Memutuskan cuti melahirkan. Menganggur menghabiskan simpanan setelah pabrik tempat dia bekerja tidak menerimanya lagi, dengan alasan yang tak jelas. Menghabiskan simpanan, setelah semua tempat menolak lamarannya. Mengatur semua kebutuhan dia dan anaknya.

Dia tidak pernah bercita-cita ingin seperti ini. Dia tidak pernah sekalipun berharap menjadi seorang pelacur. Puih! Karena lelaki itu. Bukan. Bukan karena lelaki itu. Demi anaknya, yang kini terbaring sakit. Anaknya yang menjerit tertahan melihat kepergiaannya. Dia harus pergi. Memutuskan untuk pergi.

Jujur, dia kikuk, ragu. Dia hanya memberanikan diri. Selama ini, dia masih tetap bisa bertahan walau mandor pabrik tempat dia bekerja dulu sempat memintanya menjadi istri simpanan. Memaksanya menikah siri. Memaksanya menjadi istri dengan janji menceraikan istri sahnya. Termasuk bertahan ketika sang mandor berusaha memperkosanya. Dia meyakinkan dirinya, Tuhan tak akan pernah meninggalkannya. Yakin Tuhan akan selalu menjaga dia dan anaknya.

Malam sepekat ini. Keyakinannya seakan buyar. Pertahanannya seakan ditembus peluru keraguan. Dia merasa Tuhan seakan membiarkannya. Sesamar suara orang mengaji dari menara masjid di ujung jalan sana. Segelap malam yang pekat. Sesunyi laju kendaraan yang meluncur satu-satu. Sepedih hatinya yang koyakmoyak. Sepanas suhu tubuh anaknya yang terbaring sakit. Dia lapar, haus. Tubuhnya gemetar.

Dalam beberapa kesempatan, dia belum juga memberanikan diri menawarkan diri. Mulai dari anak jalanan sampai lelaki hidung belang. Mulai dari penarik becak sampai pembawa gerobak. Dia juga belum berani mengiyakan beberapa tawaran dari laki-laki yang hobi jajan. Termasuk segerombolan lelaki yang berusaha memaksakan hasratnya.

Perempuan itu meronta. Perempuan itu memberontak. Gerombolan lelaki itu berusaha mendekap. Berusaha membekapnya. Dengan beringas gerombolan lelaki itu melucuti pakaian perempuan itu satu persatu, sampai akhirnya polos tanpa sehelai benangpun. Perempuan itu pasrah. Samar-samar dia masih mendengar suara mengaji dari menara masjid. Samar-samar terbayang wajah bayinya yang menjerit, ditingkahi suara tertawa penuh nafsu gerombolan laki-laki itu. Samar-samar wajah gerombolan lelaki itu tak lagi tampak olehnya. Yang ada hanya gelap pekat. Terdengar seperti suara letusan senjata api menggema di udara diselingi samar-samar suara orang mengaji dari puncak menara masjid di ujung jalan sana. Mung kin Tuhan belum sempat menjenguknya.

Perempuan itu tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Perempuan itu hanya tahu, dia sekarang berada di sebuah ruangan yang sangat menyenangkan. Serba putih. Aromanya begitu semerbak. Dia berada di atas sebuah tempat tidur yang begitu lembut dan bersih. Di sebelah kanan atas sebuah pesawat telepon. Tidak jauh dari arah kakinya di atas sebuah bufet, sebuah pesawat televisi. Perabotan lain yang berada dalam ruangan itu. Lengkap sangat lengkap.

Belum hilang keterkejutannya dengan suasana ruangan yang begitu nyaman. Dia terpesona dan takjub ketika melihat ke arah cermin. Seolah seorang putri tengah menatapnya. Ada perasaan malu bukan kepalang. Apalagi dibandingkan dengan kondisinya saat ini. Ketika dia melihat, ternyata perempuan dalam cermin itu adalah dirinya. Da lebih terkejut lagi. Ada rasa bahagia sekaligus sedih bersamaan. Bahagia karena akhirnya dia menjadi seorang putri. Sedih karena dia teringat anaknya. Perempuan itu merasa Tuhan telah menjeputnya. Tuhan telah menempatkannya di Surga.

Dia menari gembira di depan cermin. Dia berjanji suatu waktu nanti, dia akan mengunjungi anaknya. Belum sempat dia meluapkan kegembiraannya, sebuah ketukan keras di pintu mengejutkannya. Begitu dia bergerak hendak membuka pintu, seseorang telah masuk begitu saja. Sebelum dia mengeluarkan pertanyaan, dia mendengar sebuah perintah mengejutkan.

"Persiapkan dirimu. Layani Bos dengan baik!"

Perempuan itu tersentak, begitu dia menyadari situasinya, dia menangis sejadi-jadinya. Dia menjatuhkan diri di atas tempat tidur. Telungkup. Terisak. Menghardik Tuhan. Memanggil nama anaknya. Memanggil nama ibunya. Memanggil nama ayahnya. Berteriak histeris. Aliran ketakutan seketika menjalar di nadinya. Terdiam tertahan, ketika sebuah bentakan seolah memecahkan telinganya.

"Diam!" nafas lelaki itu terdengar memburu,"Tak ada gunanya kau menangis. Kau milikku sepenuhnya. Tugasmu melayaniku. Tugasku merasakan kepuasan darimu..."

Perempuan itu terdiam. Dia merasakan aura penuh nafsu dari nafas lelaki itu. Di balik itu, dia begitu mengenal suara berat dan berwibawa dari laki-laki itu. Suara yang begitu dikenalnya selama bertahun-tahun. Mirip suara dari orang yang begitu melindungi dan menyayanginya. Mirip suara orang yang begitu menjunjung tinggi kehormatan. Segera dia membalikkan badan. Perempuan itu terkejut begitu mengetahui lelaki separuh baya yang ada di hadapannya. Bersamaan dengan itu, lelaki separuh baya yang nyaris bugil itu, lebih terkejut lagi.

"Sumbi?!" (*)

Komunitas Home Poetry, 2011

Capucika Versus Indonesiana



Aku jadi teringat dengan Warung Kopi De Vide Et Impera di depan rumahku. Agak ke simpang empat ada juga WarungKopi Propaganda namanya. Biasanya ketika aku bertandang, tak ada persoalan yang datang. Cuma beberapa waktu belakangan ini Perusahaan Kopi Akalbika menanam saham di Warung Kopi Devide Et Impera. Lalu, terjadi percekcokan yang bersumber dari pengusaha kopi Capucika. Sengit. Beberapa penduduk ada yang pro dan kontra. Pengusaha Kopi Capucika menghasut penduduk dan pemilik warung kopi propaganda untuk tetap setia dengan kopi Indonesiaka. Begitu getol kebencian pengusaha itu, sampai pengemis dan pengamen lewat tetap ia pengaruhi, agar jangan pergi ke warung peninggalan zaman Kederland itu. Aku sempat bingung dan sangsi. Padahal aku sudah mulai maniak kopi. Di saat termenung itu, seorang tukang kopi keliling lewat dan bertanya, "Manga wa'ang tamanuang yuang?" Aku gagap dan menjawab,"Eh, anu...Engak, Jo. Aku heran, ngeri kali pertengkaran orang ini.... sampek awak mo minum kopi sangsi." Ajo itu tersenyum. "Indak usah binguang. Badunsanak sadonyo tu. Lagaknyo se..." Aku penasaran."Ajo kok tau....?" Ajo terpingkal-pingkal. "Nan bacakak tu, acok minum kopi ambo........" Aku geleng-geleng kepala sambil bernyanyi,"Marketing.......politik datang. Marketing.....politik datang. tretet...tretet....tretet......................."

Scene 1 Take 1 Int. and Ext.... Action and Cut....!


Saturday, 13 July 2013

Friday, 12 July 2013

Perselingkuhan Berdarah di Kampung Petalangan

Ahmad Ijazi H

Sebuah cerita pendek (Cerpen) akan tampak berpenampilan lebih feminin dan melankolis ketika seorang sastrawan mampu menyuarakan suasana yang romantis dan puitis dalam karya sastra yang digagasnya. Hal tersebut dapat dicermati dari pilihan diksi yang unik dan aneh (yang di luar dari kebiasaan), selain karena kepiawaian penulisnya yang mampu mengakrobatik kata-kata sehingga kalimat-kalimat yang ia tuangkan menjadi kemasan yang menakjubkan. Kiranya, seperti itulah kesan pertama yang membekas saat membaca paragraf awal sebuah Cerpen apik karya M Raudah Jambak (MRJ) bertajuk Cerita dari Kampung Petalangan (CDKP), yang terangkum dalam Dari Seberang Perbatasan, kumpulan Cerpen Pilihan Riau Pos tahun 2012. Membaca paragraf-paragraf selanjutnya, diksi-diksi yang dilemparkan MRJ dalam Cerpen tersebut semakin terasa tajam dan meruncing. Simak saja penggalan Cerpen berikut: hatinya gulana. Semacam beliung yang tak henti-henti Menderes batang padi. Mengoyak bilah-bilah dada. Lalu simak pula: sehingga ia tak lagi sanggup mengunyah defenisi-defenisi setia. Tak sanggup meneguk tuak-tuak nisbi, Mardiah, istrinya. Dilihat sekilas, kalimat-kalimat tersebut lebih mirip dengan penggalan-penggalan sajak yang berserakan, yang sengaja disisipkan penulisnya dalam tubuh Cerpen, sehingga fragmen-fragmen yang terangkum di dalamanya menjadi tampak tidak biasa (berbeda) dari Cerpen-Cerpen kebanyakan. Tema yang digagas MRJ dalam Cerpen ini cukup menarik. Berbicara tentang perselingkuhan. Sebuah tema yang sejatinya sangat rentan terjadi dalam wilayah internal keluarga. Banyak hal yang melatarbelakangi terjadinya perselingkuhan, diantaranya; tidak adanya kecocokan satu sama lain sampai hubungan yang terjalin menjadi terasa dingin dan hambar, pertengkaran yang sering terjadi yang bersumber dari keegoisan masing-masing, masalah finansial yang tidak stabil dalam keluarga, atau hal-hal intim lainnya seperti penyakit yang diderita (mandul, impotensi, cacat fisik, dll). Hal itu pula yang agaknya mematik konflik dalam Cerpen CDKP ini. Akibat perselingkuhan, tragedi berdarah pun terjadi di sebuah kampung Petalangan. Dikisahkan (sejak pada bagian awal cerita), aroma perselingkuhan itu tercium sangat kental di hidung 'Abangda' (panggilan sayang sang istri, Mardiah, kepada si pria, suaminya). Usai Mardiah berpamitan untuk berjualan jamu, Abangda menguntit kepergian sang istri dari belakang. Sudah menjadi kebiasan, Mardiah akan pulang ketika hari beranjak maghrib. Pulang dengan senyuman yang paling hangat, kendati otak-otak yang ia jajakan hari itu hanya sedikit yang terjual. Namun kemesraan di antara keduanya seperti tak pernah memudar. Satu sama lain saling memperlihatkan rasa cintanya yang begitu besar. Kecupan sayang tak pernah terlupakan, selalu seperti pengantin baru, kendati usia pernikahan mereka sudah terbilang cukup lama. Tetapi, pada suatu ketika, Abangda tak mampu menahan untuk tidak melontarkan sebuah pertanyaan yang begitu menohok jantung Mardiah, bahwa: ia sering menyaksikan istri yang teramat ia cintai itu dipeluk seorang cowok dari belakang-di sebuah pelabuhan. Tanpa bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya, Mardiah berusaha berkilah. '' Pria itu hanya pelanggan,'' begitu Mardiah menjawab. Tetapi Abangda terus mengejarnya dengan rentetan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan. Sampai pertengkaran sengit pun tak dapat dihindari. Keduanya sama-sama keras mempertahankan argumen mereka masing-masing. Mardiah yang kian tersudut akhirnya mengeluarkan senjata pamungkasnya:'' Abangda, dengar, seburuk apa pun aku di pikiranmu, aku tidak akan menodai mahligai perkawinan kita.'' Begitulah cara Mardiah mengeksekusi kondisi. Telak. Mendengar kata Mardiah itu, ledakan amarah di jantung Abangda pun seketika meleleh. Mereka kemudian larut dalam irama desah, lumatan, pagutan, serta gairah yang semakin memuncak. Sementara hujan bermain dengan suasana beku yang kian intim mewarnai malam-malam keduanya yang semakin panjang. Tapi Abangda tetap tak mampu menepis rasa gamang yang sejak lama telah merasuk dalam lingkar kepalanya. Sebagai seorang pengangguran, Abangda sering merasa rendah diri di hadapan istrinya. Ia begitu mengimpikan memperoleh pekerjaan tetap serta menjalani kehidupan dengan penghasilan yang cukup, tetapi semua harapannya itu seperti enggan menghampirinya. Abangda sungguh merasa sangat sedih dan kecewa. Ia terlampau jemu menyaksikan sang istri bekerja menjajakan otak-otak kepada setiap pelanggannya setiap hari, sementara ia hanya meringkuk dalam kontes tanpa bisa melakukan apa-apa. Terlebih saat kenyaatan aneh tentang buah hati yang tak kunjung datang. '' Kita belum punya anak,'' begitu Abangda melontarkan risau yang berkecamuk di hatinya. Tetapi Mardiah hanya menanggapinya dingin. Ia tak ingin kesedihan itu kembali menggerayangi rongga dadanya. Ia tak ingin hari-harinya kembali diwarnai dengan bentrokan-bentrokan yang tak kunjung terselesaikan. '' Abangda, dengarkan aku. Tidak ada setitik pun dalam pikiranku untuk merendahkanmu. Kau adalah pahlawanku. Sebagai seorang pahlawan, aku ingin berbuat sesuatu untukmu. Dan aku hanya bisa melakukan itu. Aku hanya bisa sebagai penjual otak-otak. Aku tidak bisa lebih dari itu. Percayalah.'' Kembali Mardiah mampu mendinginkan suasana dengan kata-katanya yang meluluhkan. Bila dicermati, kata-kata tersebut seperti terkesan berlebihan. Tapi itulah senjata yang digunakan Mardiah agar suaminya tetap mempercayainya. Sejatinya, setiap orang yang merasa terancam, (karena telah ketahuan selingkuh) akan berperilaku sedikit tak wajar, di luar dari kebiasaan. Seperti halnya Mardiah yang memperlihatkan perhatian lebih dari biasanya. Tujuannya tidak lain adalah agar ia tak dipandang tercela di mata sang suami, kendati perbuatan hina (selingkuh) itu benar-benar telah ia lakukan. Kata maaf terkadang terlalu murah untuk diucapkan. Apalagi jika kesalahan yang sama kembali dilakukan, bahkan sampai berulang-ulang. Dan situasi itulah yang agaknya dihadapi Abangda. Hari itu, Mardiah tak bisa bekerja seperti biasanya lantaran sakit. Abangda tak menaruh curiga sedikit pun. Ia percaya saja jika istrinya itu memang benar-benar sedang sakit. Abangda pun pergi, bekerja menyusuri kampung Petalangan, menggantikan sang istri. Seperti yang dilakukan Mardiah, Abangda pulang sebelum maghrib menjelang. Langkahnya yang jenjang menapaki jalan pulang dengan penuh kerinduan. Ia ingin memberi kebahagian pada Mardiah yang sedang tebaring lemah dalam kontes. Namun harapan itu kemudian lebur menjadi malapetaka yang begitu mengerikan. Tepat saat Abangda telah menjejak pintu rumahnya, ia dikejutkan oleh sebuah pemandangan yang sangat menjijikkan. Ranjang di rumahnya kini dipenuhi desah, keringat, serta birahi, tetapi bukan desah, keringat, serta birahi miliknya, melainkan milik laki-laki lain. Sesak di jantung Abangda sungguh tak dapat tertahankan lagi. Perbuatan hina yang dilakukan Mardiah dengan laki-laki selingkuhannya itu membuat amarahnya meledak. Seperti kerasukan iblis, Abangda menikamkan belati di tangannya, hingga ranjang itu seketika memerah dibanjiri darah. Begitulah kisah diakhiri, tanpa ada penjelasan bagaimana nasib para tokoh selanjutnya. Belati yang ditikamkan pun masih terkesan samar, tak jelas siapa yang tertikam belati; apakah Mardiah, laki-laki selingkuhannya, atau Abangda justru menikamkan belati di tangannya itu ke tubuhnya sendiri. Tetapi jika dicermati dari tampilan di ending cerita, tikaman belati itu mengacu pada tubuh Mardiah atau laki-laki yang menjadi selingkuhannya. Gambaran itulah kiranya yang paling logis setelah merunut konflik, serta sebab-akibat yang terjadi dalam Cerpen ini. Melalui Cerpen CDKP ini, MRJ mencoba membidik ranah sensitif keluarga miskin yang tidak harmonis. Perselingkuhan adalah kebiasaan buruk yang menjadi faktor terbesar pemicu kehancuran dalam rumah tangga. Ikatan suci pernikahan yang direkatkan dengan ijab kabul yang sakral seketika akan menjadi tak bernilai lagi bila kesetiaan telah dinodai oleh sebuah pengkhianatan. Kendati rentetan-rentetan masalah kerap mewarnai dalam kehidupan berumah tangga, tidak lantas melunturkan rasa cinta kita terhadap pasangan, tetapi justru membuatnya semakin kokoh dan kuat. *** Ahmad Ijazi H menulis esai, puisi, Cerpen dan novel. Bergiat di FLP Riau, serta mengajar di Ponpes Al-Uswah Pekanbaru.