Thursday, 7 January 2010

Lomba Mengarang Cerpen Anak oleh Guru

Lomba Mengarang Cerpen Anak oleh Guru
Menyambut Hari Ulang Tahun Ke-37 Majalah Bobo tanggal 14 April 2010 nanti, Majalah Bobo kembali menyelenggarakan Lomba Mengarang Cerpen oleh Guru. Kami mengundang Ibu dan Bapak Guru sekalian untuk ikut serta dalam lomba ini.

Majalah Bobo berharap, karya Ibu dan Bapak Guru bisa memberikan hiburan,

sekaligus panduan nilai moral kepada anak dalam kehidupan sehari-hari. Tema cerpen bebas. Boleh tentang apa saja. Yang penting cerita itu indah, menarik, dan sesuai untuk anak.

Untuk teman-teman pembaca Bobo, tolong, sampaikan pengumuman ini kepada Ibu dan Bapak Guru di sekolahmu, di sekolah temanmu, atau di sekolah saudaramu. Terima kasih, ya!

Syarat Lomba

1. Lomba ini untuk para guru.
2. Naskah ditulis dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
3. Naskah harus asli, bukan terjemahan, saduran, atau mengambil ide dari karya
orang lain yang sudah ada.
4. Naskah belum pernah diterbitkan di media massa, (cetak maupun elektronik),
dan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba lain.
5. Tema bebas, asalkan sesuai untuk anak.
6. Redaksi berhak menerbitkan karya yang menang di Majalah Bobo dan dalam bentuk
buku.
7. Redaksi berhak menerbitkan di Majalah Bobo atau dalam buku atas
naskah yang tidak menang lomba, tetapi memenuhi syarat untuk
diterbitkan. Penulis akan mendapat honor atas pemuatan naskah tersebut.
8. Naskah yang masuk menjadi hak Redaksi dan tidak dikembalikan.
9. Keputusan juri mengikat dan tidak bisa diganggu gugat.
10. Hadiah untuk pemenang sudah termasuk honorarium pemuatan di Majalah Bobo dan
buku.

Ketentuan Teknis

1. Setiap peserta boleh mengirimkan maksimal 2 naskah cerpen.
2. Naskah diketik di kertas berukuran folio dengan jarak 2 (dua) spasi. Panjang
tulisan maksimal 3 halaman.
3. Lampirkan di setiap naskah: biografi singkat penulis, surat
keterangan dari Kepala Sekolah serta cap sekolah, fotokopi KTP, nomor
telepon rumah/hp, nomor rekening bank, dan selembar foto terbaru ukuran
kartu pos (3R).
4. Naskah dimasukkan ke dalam amplop. Tuliskan: Lomba Mengarang Cerpen
Anak oleh Guru di sudut kiri atas amplop dan tempelkan kupon asli.

5. Karya dikirimkan ke: Panitia Lomba Mengarang Cerpen Anak oleh Guru, Redaksi
Majalah Bobo, Jl. Panjang No. 8A, Jakarta 11530.

6. Karya peserta diterima panitia paling lambat pada tanggal 25 Februari 2010


Hadiah:


TOTAL HADIAH 30 JUTA
Juara I: Rp8.000.000,00 (delapan juta rupiah)
Juara II: Rp6.500.000,00 (enam juta lima ratus ribu rupiah)
Juara III: Rp5.500.000,00 (lima juta lima ratus ribu rupiah)
10 (sepuluh) pemenang harapan, masing-masing berhadiah Rp1.000.000,00.
(satu juta rupiah)

Lain-Lain

1. Pengumuman Pemenang akan dimuat di Majalah Bobo No. 1/XXXVIII, yang terbit
tanggal 15 April 2009.
2. Hadiah akan dikirim melalui transfer lewat bank.
3. Pemenang akan mendapat surat pemberitahuan langsung dari Majalah Bobo, dan
tidak melalui agen/perantara lain.
4. Waspadalah dengan penipuan yang berkedok ingin membantu/mengurusi
pemenang. Jangan pernah melayani permintaan transfer uang sedikit pun.
Kalau ada hal yang mencurigakan, segeralah menelepon Redaksi Majalah
Bobo: (021) 5330150, (021) 5330170, pesw. 33201, 33206.

Thursday, 12 November 2009

Mbah Brata

Hantu jadi artis
Konsep Panggung
Konsep panggung dibagi dalam 2 konsep, karena ada 2 babak cerita. Pada babak pertama, latar panggung gelap gulita, tidak ada properti sama sekali, hanya ada 2 pemain saja. Pada babak kedua, mulai ada properti yaitu kuburan yang diletakkan di tengah panggung, di depannya ada kamera buatan. Sebelah sisi kanan panggung ada batu dan semak-semak. Pencahayaan sudah agak terang karena adanya sorot kamera.
Konsep Tata Rias dan Busana
Untuk para hantu :
Puci : memakai kostum putih dari ujung kepala hingga kaki (dibentuk seperti pocong). Untuk make up wajahnya diberi masker warna putih dan disekitar mata di make up hitam.
Sundi : memakai kostum hitam panjang. Riasan wajah hitam dan rambut dibuat acak-acakan. Di bagian punggung dibuat hiasan lubang seperti layaknya “sundel bolong”
Ki Kolor Ijo : memakai kostum kaos street warna hijau dan deker hitam. Mekai celana kolor warna hijau. Riasan wajah bernuansa hijau. Rambut diikat acak-acakan.
Kunti : memakai kostum serba putih panjang. Riasan layaknya hantu yang menjelma menjadi cantik.
Untuk para manusia :
Tarmo : memakai kaos besar warna biru. Celananya celana bola dengan kaos kaki panjang dan menggunakan sepatu bola. Memakai topi. Dirias layaknya seperti laki-laki.
Heni Panci : memakai pakaian serba hitam, dilengkapi dengan jaket hitam yang serba besar.
Bu Nyai : memakai baju taqwa, sarung, syurban, dan peci warna putih.
Konsep Penyutradaraan
Drama ini dibagi menjadi 2 babak. Pada babak yang pertama panggung akan dibuat menjadi gelap dan tanpa ada property sama sekali. Babak ini dimulai dengan pembacaan prolog kemudian pemain pertama yang ada diatas panggug adalah Puci dan Sundi, mereka posisinya ada ditengah panggung dengan keadaan tidur telentang seperti orang mati kemudian keduanya bangun dan bercakap – cakap. Dilanjutkan dengan prolog, kemudian babak kedua.
Pada babak kedua setting panggung tetap gelap namun agak diberi sedikit pencahayaan. Panggung juga dilengkapi dengan beberapa kuburan ditengah panggung batu besar / semak – semak disebelah kanan panggung. Pada babak kedua pemain pertama yang masuk panggung adalah Heri panci gosong dan Kyai dan mengambil setting tempat didepan kuburan yang kemudian disusul oleh kemunculan hantu Puci dan Sundi yang segera mengambil setting tempat disebelah semak – semak / batu besar. Pada adegan ini Sundi dan Puci yang bercakap – cakap, kemudian pak Kyai dan Heri panci gosong bercakap – cakap tanpa suara.
Selang beberapa menit pemain berikutnya masuk yaitu Kunti dengan berjalan perlahan – lahan, dia segera menuju tempat persembunyian Sundi dan Puci serta mengejutkan mereka berdua kemudian dilanjutkan dengan percakapan. Adegan akan dilanjutkan dengan dimulainya acara “ Menelusuri Alam Ghaib “ yang dibuka oleh Heri panci gosong yang didampingi oleh pak Kyai, sedangkan para hantu ditempat pengintaiannya mendengarkan dan memperhatikan kegiatan mereka tanpa ada percakapan. Setelah acara dibuka Heri panci gosong dan Kyai menunjuk salah satu penonton yang mengacungkan tangan untuk dijadikan peserta uji nyali. Peserta tersebut diminta naik ke panggung dan dan adegan dilanjutkan dengan percakapan ketiga orang tersebut. Selanjutnya peserta (Tarmo) akan ditinggal oleh Heri panci gosong dan Kyai setelah ditanyai kesanggupannya oleh Heri panci gosong. Pada adegan ini dipanggung ada 4 pemain Tarmo didepan kuburan dan 3 hantu ( Puci, Sundi dan Kunti ) yang mengintai dari tempat persembunyiannya tadi. Ketika Tarmo ditinggal semdirian, 3 hantu tadi mulai bercakap – cakap lagi yang kemudian diakhiri dengan kepergian Puci dan Sundi. Selanjutnya, Kunti berkeliling panggung dan mendekati Tarmo, Tarmo terkejut dan adegan dilanjutkan dengan percakapan keduanya. Tiba – tiba dari makam kramat Ki kolor ijuk bermunculan asap tebal yang dibarengi kemunculan Ki kolor ijuk dari makam tersebut dan mengagetkan mereka berdua. Adegan dilanjutkan dengan pertengkaran mulut yang kemudian dilanjutkan dengan pertarungan fisik antara Ki kolior ijuk dan Tarmo. Pertarungan akhirnya dimenangkan oleh Ki kolor ijuk dan Tarmo kalah terjatuh dengan menahan rasa sakit. Kemudian Ki kolor ijuk menarik Kunti pergi meninggalkan Tarmo yang sudah tak berdaya. Kemudian, adegan dilanjutkan dengan Tarmo yang meminta tolong pada para kru TV, kemudian Kyai dan Heri panci gosong menghampirinya dan pak Kyai mengobati Tarmo dengan menyalurkan tenaga dalamnya kepada Tarmo dengan duduk bersila seperti menyalurkan tenaga dalam. Setelah disembuhkan Tarmo panik dan mulai melarikan diri karena merasa ketakutan. Acara berakhir dan ditutup oleh Heri panci gosong bersama dengan Kyai tetapi dipanggung juga ada pemain lain yaitu hantu – hantu penghuni kuburan kramat tersebut ( Puci, Sundi dan Ki kolor ijuk ) yang menakut – nakuti Heni panci gosong dan Nyai. Drama ditutup dengan Heri panci gosong dan Kyai yang kabur karena ditakut – takuti oleh hantu – hantu tadi. Kemudian, acara ditutup dengan kemunculan semua pemain yang diiringi dengan lagu Afi “ Menuju Puncak “.


SINOPSIS CERITA
Di alam kubur komplek kuburan kramat, dua penghuni kuburan ( Sundi dan Puci ) kramat sangat terganggu dengan keadaan yang sangat ramai dan berisik sekali. Akhirnya, mereka berdua memutuskan keluar dari alam kubur mereka untuk melihat situasi diluar makam.
Sementara itu, diluar kuburan telah ramai oleh para kru TV, mereka disibukkan dengan acara yang akan mereka adakan yaitu acara “ Menelusuri Alam Ghaib “ kedua hantu penghuni makam kramat yang baru tiba diatas komplek kuburan merasa amat heran dan kebingungan, mereka berdua hanya bisa mengintai dari semak – semak disekitar komplek kuburan kramat. Ketika mereka berdua masih kebingungan, tiba – tiba mereka berdua dikejutkan dengan kehadiran seorang hantu cantik yang tidak dikenal namun agak sombong ( Kunti ). Kedua hantu polos tersebut tidak begitu menyukai kedatangan penghuni baru yang sok tahu ini. Mereka bertiga akhirnya mengintai kegiatan para kru TV tersebut. Tidak lama kemudian acara “ menelusuri Alam Ghaib “ dimulai, acara dibuka oleh pembawa acara dari acara ini yaitu Heri Panci gosong kemudian dilanjutkan dengan pencarian peserta diantara kerumunan penonton. Akhirnya, ditemukan seorang pemuda ( Tarmo beres slamet ) yang bersedia menjadi peserta, dengan alasan karena dia memang berniat mencari pacar dari alam ghaib alias hantu.
Uji nyalipun dimulai, peserta ditinggal dikomplek kuburan kramat tersebut sendirian. Kunti yang sedang mengintip dan mendengarkan aktvitas mereka sejak tadi, ingin mencoba berkenalan dengan sang pemuda. Namun, hal itu tidak disetujui oleh kedua penghuni makam kramat tersebut ( Puci dan Sundi ) karena hal itu melanggar peraturan yang ada. Tetapi, Kunti nekat ingin berkenalan dengan Tarmo. Akhirnya mereka berdua berkenalan, mereka asyik berbincang – bincang dan bersenda gurau tanpa menghiraukan sekitarnya. Namun, tiba – tiba dari kuburan kramat tersebut muncullah “ Ki kolor ijuk “ ( hantu penghuni makam kramat ) yang mengaku sebagai suami Kunti dan memaksa Kunti untuk ikut dengannya. Tarmo yang melihat pacar barunya dipaksa dengan kasar tidak terima dan menantang Ki kolor ijuk. Pertarungan sengit terjadi dan pertarungan tersebut dimenangkan oleh Ki kolor ijuk. Tarmo tidak dibunuh dia dijinkan untuk pergi namun, meninggalkan tempat tersebut dengan keadaan luka parah. Kemudian Tarmo berteriak minta tolong hingga bantuan dari Kru pun datang, Tarmo diselamatkan oleh Nyai. Dia sembuh namun dia mengalami shock berat sehingga tidak dapat menceritakan kejadia yang telah menimpanya.

NASKAH DRAMA
HANTU JADI ARTIS
Dengan diiringi suara-suara seram
Sundi : “ Aduh, berisik banget, sih ? Siapa sih yang mengganggu ketenangan disini. “
Puci : “ Iya nih. Aku jadi gak tenang. Gimana kalau kita lihat keluar saja ? “
Sundi : “ Oke. Siapa takut. “
( Akhirnya kedua hantu penghuni makam kramat itu memutuskan untuk keluar dari tempat peristirahatannya ).
Dengan diiringi suara-suara seram
Puci : “ Sun, mereka lagi ngapain sih ? “
Sundi : “ Emangnya kamu gak tau ya mereka itu para kru TV. Ya tentu saja mau syuting film. “
Puci : “ Syuting film kok disini. Emangnya gak ada tempat yang lebih bagus dari pada rumah kita. “
Sundi : “ Iya. manusia ini memang aneh, bukannya cari tempat yang bagus buat syuting film eh malah mengganggu kita yang sudah tenang disini. “
Puci : “ Sun, katanya mereka mau syuting film. Mana aktris dan aktornya ?”
Sundi : “ Iya kamu bener. Kok gak ada ya. “
Puci : “ Wah kesempatan nih siapa tau aku bisa jadi aktrisnya. Itukan cita – citaku sejak dulu. “
Sundi : “ Huss ngaco kamu, mana mau mereka ngajak kamu main film, kalau ngomong aja kamu kadang gak nyambung. “
( Tiba – tiba dari arah belakang muncul seorang hantu cantik yang mengejutkan mereka berdua )
Kunti : “ Hayooo……. kalian lagi ngapain ?”
Sundi & Puci : “ Hantuuu………..( terkejut).
Kunti : “ Hey easy man………Emangnya kalian berdua bukan hantu apa.”
Puci : “ Oh iya ya. Aku kok baru sadar kalau kita ini hantu.”
Sundi : ( Dengan nada marah ) Husss ngaco kamu. ( melihat kepada Kunti dengan rasa jengkel ) Hey..! kamu penghuni baru disini ya ?”
Kunti : “ Aku ini datang dari tempat nan jauh disana. Aku mau melihat pemandangan disekitar sini yang katanya sih bagus. Tetapi, ternyata tempatnya jelek apalagi penghuni disini yang jelek – jelek.”
Puci : “ Hey…! Ngomong lagi gue kepret lho.”
Kunti : “ Emangnya kamu bisa. Aku gak yakin tuh, kamu bisa.
Ayo coba pukul. Hah, tapi aku gak peduli tuh karena syutingnya udah mau mulai. Siapa tahu aku bisa ikut jadi pemainnya. “
Sundi : “ Emangnya mereka bisa ngeliat kamu apa ?”
Kunti : “ Emangnya kamu gak tahu mereka mau syuting apa ?”
Puci : “ Kita mana tahu acara TV, kita kan gak punya TV.”
Kunti : “ Kasihan deh lo, makanya yang gaul dong. Kalau bukan dari TV setidaknya kalian tau dari gosip yang santer beredar saat ini.”
Sundi : “ Gosip apa sih ?”
Kunti : “ Zaman sekarang ini manusia lebih suka berinteraksi dengan makhluk ghaib alias apa hayo ?”
Puci & Sundi : “ Hantuuu.”
Kunti : “ Iya , benar. Mereka itu ingin mengetahui tentang dunia kita ini.”
Puci : “ Manusia ini kok aneh, sih. Kita aja pengin jadi manusia dan menikmati kesenangan dunia, Eh malah mereka mau tau tentang dunia kita.”
( Tepat jam 11.00 malam acara menelusuri alam ghaib dimulai )
Heni Panci : “ Selamat malam, pemirsa. Kita bertemu lagi dalam acara “ Menelusuri Alam Ghaib “ bersama saya Heri Panci Gosong. Pemirsa pada episode kali ini kami telah mendapatkan tempat yang dianggap paling kramat ditempat ini yaitu kompleks kuburan kramat Ki kolor ijuk. Baiklah pemirsa sebelum acara uji nyali kita mulai, kami terlebih dahulu akan mencari peserta uji nyali yang berani kita tinggal sendirian ditempat ini selama 2 jam.”
( Heri Panci mulai mencari peserta uji nyali diantara kerumunan penonton, kemudian dia menunjuk seorang pemuda yang mengangkat tangannya ).
Heri panci : “ Ya, mas. Silahkan.”
( Peserta tadi naik ke panggung ).
Heni panci : “ Selamat malam, mas.”
Tarmo : “ Selamat malam, mas.”
Heni panci : “ Siapa nama anda ?”
Tarmo : “ Namanya saya Tarmo beres slamet. Tapi biasanya saya dipanggil Tarmo saja, mas.”
Heni panci : “ Anda berasal darimana Mas ?”
Tarmo : “ Saya berasal dari Madura asli, Mas.”
Heni panci : “ Apa alasan anda mengikuti acara ini ?”
Tarmo : “ Saya ingin mencari pacar dari alam ghaib, Mas. Siapa tau saya bisa kawin. Nanti Mas – mas ini saya undang.”
Heni panci : “ Baik Mas Tarmo, sebelum acara uji nyali kita mulai, mari kita tanyakan terlebih dahulu keadaan disini kepada ahlinya. Selamat malam pak Kyai !”
Nyai : “ Selamat malam, Mas.”
Heni panci : “ Menurut Kyai, bagaimana keadaan disekitar makam kramat ini ?”
Nyai : “ Kalau dilihat dan diperhatikan sepertinya tempat ini bersih, terawat, dan katanya sih pengunjungnya banyak. Tetapi, sayang Mas tempatnya jauh dan sulit dijangkau. Kaki saya sampai lecet nih, sedikit.”
Heni panci : “ Maaf, Kyai. Maksud saya bukan itu Kyai. Maksud saya bagaimana keadaan disini bila dilihat dari mata batin Kyai.”
Nyai : “ Oh itu, ngomong dong dari tadi. Jadi saya gak usah banyak ngomong. Baiklah, kalau dilihat dan dirasakan dari mata batin saya sepertinya tempat ini banyak sekali hantunya. Sepertinya hantunya menyebar dimana – mana. tetapi Mas, pusat kekuatan mistis terbesar terdapat dikuburan ini. Tempat ini juga merupakan tempat yang strategis untuk para hantu cangkruk bersama.”
Tarmo : “ Lho Kyai, hantu bisa cangkru’an juga ya ?”
Nyai : “ Oh jangan salah Mas. Sebenarnya paling suka cangkru’an itu adalah hantu karena mereka tidak punya kerjaan lain selain cangkru’an. Bisa mirip tante – tante genit gitu lho.”
Heni panci : “ Ah Kyai bisa aja. Baik Mas Tarmo, bagaimana apakah anda sudah siap ?”
Tarmo : “ Saya sudah siap dari tadi Mas.”
Heni panci : “ Baik Mas Tarmo. Kami akan meninggalkan anda disini selama 2 jam, jika anda berhasil anda akan mendapatkan hadiah dari kami. Tetapi jika anda menyerah, maka anda cukup bisa melambaikan tangan kepada kami, maka kru kami akan segera membantu anda. Tetapi, jika anda menyerah maka anda tidak akan mendapatkan hadiah.”
( Kemudian Pak Kyai dan Heri panci meninggalkan Tarmo di kompleks kuburan kramat itu sendirian, namun dari semak-semak tempat persembunyian ketiga hantu mulai berbincang-bincang lagi ).
Kunti : “ Tuh khan, kalian denger sendiri. Kalau cowok ganteng itu mau mencari pacar dari golongan kita.”
Puci : “ Tapi itu khan menyalahi aturan, kita khan sudah diberi batasan untuk tidak saling menganggu. Apalagi manusia itu sudah mengganggu kita yang sudah tenang disini.”
Kunti : “ Ah, aku gak peduli yang penting aku dapat pacar dari bangsa manusia yang cuakep dan suedep.”
Sundi : “ Ya, sudah kalau diomongin gak mau. Kamu rasakan sendiri akibatnya nanti. Ayo, Puci kita pergi.” ( menarik Puci )
Kunti : “ Pergi aja sana.”
( Hantu cantik ini kemudian mendekati Tarmo dan mengejutkannya ).
Kunti : “ Mas……. mas cakep.”
Tarmo : ( menoleh dan terkejut ) “ Ya ampun, cantik sekali ! Siapa namanya kamu ?”
Kunti : ( terseipu malu ) “ Nama saya Kunti Mas. Kalau Mas namanya siapa ?”
Tarmo : “ Nama saya Tarmo beres slamet. Tapi, biasanya saya dipanggil Tarmo saja.”
Kunti : “ Nama Mas bagus deh, sebagus orangnya.”
Tarmo : “ Nama kamu juga cantik sama seperti orangnya.”
( Kedua makhluk yang berbeda alam tersebut langsung akrab dan langsung asyik berbincang-bincang. Namun, tiba-tiba terdengar suara tawa yang mengerikan yang dinarengi dengan kumpulan asap yang mengepul yang berasal dari kuburan kramat Ki kolor ijuk ).
Diiringi suara-suara seram
Ki kolor ijuk : “ Ha…ha…ha….ha…. Hey, kalian apa yang kalian lakukan disini, Kunti kau sengaja membuat aku marah ya ?”
Kunti : ( terkejut ) “ A…a….aku Cuma………..”
Ki kolor ijuk : “ Dasar perempuan gatel, ayo ikut.” ( menarik tangan Kunti )
Tarmo : “ E…e…e Sembarangan sampeyan. Ini pacar saya jangan dibawa sembarangan dong.”
Ki kolor ijuk : “ Bocah semprul kamu. Dia ini istriku yang ke-16 mana mungkin dia bisa jadi pacarmu. Ayo ikut Kunti !” ( menarik tangan Kunti).
Tarmo : “ E…e…e…. jangan sembarangan dong, Mas. Tanya dulu sama dia, dia pilih saya atau kamu.”
Ki kolor ijuk : “ Dia istriku jelas pilih aku. Ayo Kunti !” (menarik Kunti).
Kunti : “ Aku gak mau, aku mau ikut Mas Tarmo.” ( Berlari kearah belakang Tarmo )
Ki kolor ijuk : “ Kunti, kamu melawan aku ?”
Kunti : “ Aku gak akan berani ngelawan kamu, Mas. Tapi aku bosan jadi istrimu kau selalu meninggalkan aku sendirian, kalau aku gak nurut aku kamu pukul, dan kau selalu memperlakukanku seolah-olah aku ini budakmu. Kau tidak pernah mencintaiku. Aku ingin mencari bangsa manusia yang dapat mengerti apa itu arti cinta.”
Ki kolor ijuk : “ Hantu edan kamu Kunti ! Baiklah aku tidak akan tinggal diam akan kubunuh manusia ini.” ( Bersiap menyerang Tarmo).
Kunti : “ Eh tunggu dulu ! sebelum bertarung kasih hormat dulu dong.”
( Pertarungan sengit antara Tarmo dan Ki kolor ijuk pun dimulai. Pertarungan tersebut sangatlah seru dan terbagi dalam 2 babak pertarungan. Namun sayang ternyata Tarmo kalah dalam pertarungan itu ).
Tarmo : ( terjatuh menahan sakit ) “ Ah…….agh…….agh.”
Kunti : ( Berteriak ) “ Mas Tarmooooo……”
Ki kolor ijuk : “ Baiklah. Aku tidak akan membunuhmu, tetapi jangan pernah datang kesini lagi. Ayo Kunti !” ( Menarik tangan Kunti dengan paksa )
Kunti : ( sambil menangis ) “ Mas Tarmo tolong mas………mas………”
Tarmo : ( Dengan suara lemah ) “ Kunti…………Kunti…..”
( Ki kolor ijuk dan Kunti pergi meninggalkan tempat itu dan kembali kealamnya ).
Tarmo : ( sambil melambaikan tangannya ) “ Tolong……..tolong……..tolong……”
Heni panci : “ Lho ada apa, Mas ?”
Nyai : “ Sepertinya anak muda ini terkena pukulan dari makhluk ghaib penghuni makam kramat disini.”
Heni panci : “ Apa bisa disembuhkan Kyai ?”
Nyai : “ Insya Allah “
( Kemudian Kyai tersebut menyalurkan tenaga dalamnya untuk menyembuhkan Tarmo)
Tarmo : “ Sakalangkong banyak, Kyai.”
Nyai : “ Ya, sama – sama.”
Heni panci : “ Baiklah, Mas Tarmo. Bisakah anda menceritakan pengalaman anda kepada pemirsa ?”
Tarmo : ( Panik dan buru – buru pergi ) “ Saya kapok mas ikut acara ini. Saya mau pulang saja.”
Heni panci : “ Lho Mas……..lho mas, tunggu Mas ! Maaf pemirsa rupanya peserta kita kali ini mengalami shock berat, sehingga tidak bisa menceritakan pengalamannya. Baiklah pemirsa cukup sampai disini acara kita hari ini, bila ada kritik atau saran dapat anda kirimkan melalui surat ke alamat dibawah ini ( Poster alamat dibawa oleh Puci dan Sundi ). Baik pemirsa sampai disini acara kita dan sampai ketemu di episode berikutnya dalam acara “ Menelusuri Alam Ghaib “ bersama saya Heri panci gosong. Sampai jumpa pemirsa. Terima kasih Kyai.”
Nyai : “ Oh, iya.”
( Tiba – tiba mereka telah dikelilingi oleh hantu – hantu penghuni makam kramat )
Heni panci & Nyai : ( sambil berlari ) “ HANTUUUUUUUUUUUUU “

Sajak-sajak Esha Tegar Putra, Koran Kompas, Minggu, 12 April 2009

Seretan Suara

suara siapakah yang menyeretmu hingga tergelepar di tepian pesisir

dengungnya tak seperti bunyi lebah, gaungnya tak seperti desiran angin

yang beradu kian-kemari di punggung lembah. suara siapakah

yang telah menelantarkan tubuhmu hingga tak sanggup lagi merapal

isyarat kerang pecah, tak sanggup membau amisnya lendir ikan

dan seperti menemu lubang dalam, kau tak sanggup menyuarakan

sakit pada badan yang diregang oleh jarak. di tepian pesisir tanganmu

digelipatkan, dan di lain jarak (mungkin di tengah laut) kakimu

diapungkan. seakan dijadikan umpan bagi ikan-ikan bergigi tajam

suara siapakah itu, yang menghelamu jadi makhluk pendiam yang

tak sanggup mengusap jejak pasir yang melekat di kening beningmu

Kandangpadati, 2009

Pohon Agung

1

kuamati sebatang tubuhmu

seperti mengamati sebatang pohon agung

di hari yang mendung

bola matamu kelihatan cekung

seakan menenung dan menghisapku

ke dalam tempurung yang mengapung

rambut yang terjalin dan berpilin

membayangkanku akan sumbulan akar

sehabis menusuk bebatuan lapuk dengan garangnya

dan di rengkah bibirmu itu

kayu-kayu belah di kemarau yang tak sudah

kemarau yang tak memberi pertukaran pada warna sungai

punggungmu entah berwarna apa

terlihat belang-belang dengan serat menebal

seperti bekas batang terpanggang

2

tubuhmu yang sebatang pohon agung

dengan buah lebat yang begitu nikmat dulunya

sering kali aku salah duga memaknai itu. ingatanku tak cukup kuat

menerjemahkan isyarat yang kau buat di kali kesekian hujan merambat

di suatu ketika aku hanya bisa berharap

tubuhmu yang sebatang pohon agung

dijadikan tempat bergelantung. dan akan melambungkan

keinginan beburung; mengarung langit lapang yang kini murung

cuma di kerisik daun jatuh

(barangkali itu tangismu turun) dapat kusaksikan

persetubuhan nikmatmu dengan badan angin. semacam

permainan, dan hanya lenguh burukmu yang bisa kutangkap

3

aku ingin mendekat dengan penuh harap

lalu mendekap tubuhmu yang sebatang pohon agung

sembari merapal doa-doa lama yang temurun diajarkan para tetua

agar senantiasa kau bisa memahami kesakitanku, kesakitan penebang

pohon rimba—sesekali aku merupa penggetah burung

siasat apakah yang bisa merubuhkanmu

sebatang pohon agung dalam mendung

aku begitu takjub pada tangkai dan surai lebatmu

yang mengucurkan getah mentah. harapku berjaga di antara patahan

ranting, di antara runtuhan lapuk dan terbangan gabukmu

4

agar di hari yang mendung

ketuban awan segera pecah dan tempias air dapat

berburu di kedudukan tanah

hingga tubuhmu, oh, yang sebatang pohon agung

menjadi pertanda dimulainya musim berpinak

bagi sepasukan semak

Kandangpadati, 2009

Sajak-sajak Esha Tegar Putra, Koran Kompas, Minggu, 12 April 2009

Seretan Suara

suara siapakah yang menyeretmu hingga tergelepar di tepian pesisir

dengungnya tak seperti bunyi lebah, gaungnya tak seperti desiran angin

yang beradu kian-kemari di punggung lembah. suara siapakah

yang telah menelantarkan tubuhmu hingga tak sanggup lagi merapal

isyarat kerang pecah, tak sanggup membau amisnya lendir ikan

dan seperti menemu lubang dalam, kau tak sanggup menyuarakan

sakit pada badan yang diregang oleh jarak. di tepian pesisir tanganmu

digelipatkan, dan di lain jarak (mungkin di tengah laut) kakimu

diapungkan. seakan dijadikan umpan bagi ikan-ikan bergigi tajam

suara siapakah itu, yang menghelamu jadi makhluk pendiam yang

tak sanggup mengusap jejak pasir yang melekat di kening beningmu

Kandangpadati, 2009

Pohon Agung

1

kuamati sebatang tubuhmu

seperti mengamati sebatang pohon agung

di hari yang mendung

bola matamu kelihatan cekung

seakan menenung dan menghisapku

ke dalam tempurung yang mengapung

rambut yang terjalin dan berpilin

membayangkanku akan sumbulan akar

sehabis menusuk bebatuan lapuk dengan garangnya

dan di rengkah bibirmu itu

kayu-kayu belah di kemarau yang tak sudah

kemarau yang tak memberi pertukaran pada warna sungai

punggungmu entah berwarna apa

terlihat belang-belang dengan serat menebal

seperti bekas batang terpanggang

2

tubuhmu yang sebatang pohon agung

dengan buah lebat yang begitu nikmat dulunya

sering kali aku salah duga memaknai itu. ingatanku tak cukup kuat

menerjemahkan isyarat yang kau buat di kali kesekian hujan merambat

di suatu ketika aku hanya bisa berharap

tubuhmu yang sebatang pohon agung

dijadikan tempat bergelantung. dan akan melambungkan

keinginan beburung; mengarung langit lapang yang kini murung

cuma di kerisik daun jatuh

(barangkali itu tangismu turun) dapat kusaksikan

persetubuhan nikmatmu dengan badan angin. semacam

permainan, dan hanya lenguh burukmu yang bisa kutangkap

3

aku ingin mendekat dengan penuh harap

lalu mendekap tubuhmu yang sebatang pohon agung

sembari merapal doa-doa lama yang temurun diajarkan para tetua

agar senantiasa kau bisa memahami kesakitanku, kesakitan penebang

pohon rimba—sesekali aku merupa penggetah burung

siasat apakah yang bisa merubuhkanmu

sebatang pohon agung dalam mendung

aku begitu takjub pada tangkai dan surai lebatmu

yang mengucurkan getah mentah. harapku berjaga di antara patahan

ranting, di antara runtuhan lapuk dan terbangan gabukmu

4

agar di hari yang mendung

ketuban awan segera pecah dan tempias air dapat

berburu di kedudukan tanah

hingga tubuhmu, oh, yang sebatang pohon agung

menjadi pertanda dimulainya musim berpinak

bagi sepasukan semak

Kandangpadati, 2009

Selamat Jalan Sang Pembaru

Selamat Jalan Sang Pembaru

Sabtu, 8 Agustus 2009 | 04:48 WIB

Oleh Bakdi Soemanto

Pada hemat saya, meski banyak disebut sebagai dramawan, WS Rendra pada dasarnya seorang penyair.

Dikatakan demikian bukan karena hampir pada setiap kegiatan kebahasaannya—berteater, orasi budaya, menulis esai, pidato penerimaan gelar doktor honoris causa, dan lain-lain semacam itu—selalu muncul puisinya. Namun, kepenyairan dalam arti seperti dikatakan Jacques Maritain: puisi bukan dipandang sebagai bentuk sastra, tetapi roh semua kesenian, yang oleh Plato disebut Mousikè.

Selain itu, Rendra—yang sangat sering dipanggil Mas Willy— pada dasarnya amat menghayati kebatinan Jawa atau Javanese mysticism. Ini dilaksanakan dengan bertapa di tengah masyarakat. Oleh Mas Janadi, guru kebatinan Rendra waktu kecil, disebut dengan istilah manjing ing sajroning kahanan, yakni senantiasa berada di tengah- tengah keadaan aktual.

Karya awal

Yang menarik, karya awalnya, misalnya sejumlah puisi yang terkumpul dalam ”Ballada Orang- orang Tercinta” (1960), yang dipandang sebagai puisi-puisi pembaruan, maupun lakonnya yang pertama, misalnya ”Orang-orang di Tikungan Jalan” (1954), tidak mencerminkan semangat manjing ing kahanan itu.

Namun, kalau kita membacanya dengan mendalam, suasana keberpihakan Rendra kepada orang-orang cukup terasa. Keberpihakan yang baru terasa dalam nuansa-nuansa itu, kemudian tidak terdengar lagi, karena Rendra, dalam puisinya sibuk dengan berpacaran, seperti tecermin dalam kumpulan ”Empat Kumpulan Sajak” dan ”Sajak-sajak Sepatu Tua”.

Dalam hal sebagai dramawan, Rendra tampak tak bisa menghindari dampak realisme dan modernisme yang melanda Indonesia. Ia menerjemahkan lakon Anton Chekov, antara lain ”Orang Kasar”, lakon satu babak karya Von Auerbach, ”Tiga Perempuan Basah”, juga lakon ”Arms and The Man”, sebuah komedi kocak, karya George Bernard Shaw. Meski lakon terjemahan tak menunjukkan kekhasan Rendra, tetapi dalam penyutradaraan menyentuh pengalaman.

Masalah sosial

Tahun 1963, Rendra berangkat ke Amerika Serikat. Semula, ia hanya menghadiri seminar internasional yang diselenggarakan oleh Henry Kissinger, tetapi kemudian ia mengikuti kuliah di The American Academy of Dramatic Art di New York. Beberapa bulan sesudah Mas Willy berangkat, Mbak Narti, istri pertamanya, menyusul.

Selama tiga tahun, surat-surat Mas Willy dan Mbak Narti biasa-biasa saja. Namun, setelah lulus dari Academy itu ia melanjutkan studi di Theatre Department di Stony Brook University, nada suratnya berubah. Ia mulai minta dikirimi potongan-potongan koran lokal dan nasional dari Tanah Air. Di harian Bersenjata, ada berita polisi memburu-buru pelacur; di Yogyakarta, Kedaulatan Rakyat juga memberitakan hal itu.

Dua bulan sesudah saya mengirimkan potongan-potongan koran itu, saya menerima amplop tebal dari Mbak Narti, yang isinya sajak panjang berjudul Bersatulah Pelacur-pelacur Ibu Kota. Ia minta agar sajak yang masih tulisan tangan itu diketik dan dikirimkan kepada HB Yassin untuk dimuat di majalah Horison. Namun, Yassin menolak memuatnya karena terlalu vulgar. Saya terdiam dan merenung. Yassin benar, pikir saya waktu itu. Ada yang berubah secara besar-besaran pada Mas Willy, terutama dalam bersajak.

Namun, yang tidak saya ketahui saat itu bahwa kepedulian puisi Rendra pada masalah sosial sebenarnya merupakan aktualisasi dari beberapa puisi dalam kumpulan ”Ballada Orang-orang Tercinta” yang membicarakan orang tersingkir, teraniaya, juga lelaki-lelaki kesepian seperti pada lakon awal yang ditulisnya.

Yang berubah besar adalah puitikanya, meski substansinya sama. Kebingungan ini menjadi jelas saat saya menerima surat terakhirnya, sebelum Mas Willy kembali ke Tanah Air.

Isinya menceritakan bahwa di sekolah teater yang baru, ia juga belajar sosiologi.

Apa yang terjadi kemudian, ajaran kebatinan manjing ing sajroning kahanan mendapatkan aktualisasinya secara keilmuan, yang oleh Rendra disebutnya sebagai menemukan ungkapan- ungkapan modern. Ketika tiba di Tanah Air pada September 1967, Indonesia sudah berubah. Adik Mas Willy yang bungsu, Sudibyanto, sudah bekerja sebagai wartawan Kompas.

Ia segera menukarkan dollar AS menjadi rupiah dan membeli rumah di Ketanggungan Wetan. Beberapa teman: Chaerul Umam, Azwar AN, Moortri Purnomo, dan saya, mendesak Rendra agar mendirikan sanggar teater, seperti dulu sebelum ke Amerika. Namun, Mbak Narti punya pikiran lain, berteater sama dengan buang-buang tenaga, susah mendapat uang. Mas Willy menerima warning istrinya.

Namun, pikiran Rendra berubah total setelah menyaksikan pementasan ”Hamlet” yang dimainkan oleh Studi Teater Arena, yang kebanyakan aktor dan aktrisnya lulusan Asdrafi. Ia menjadi semakin yakin bahwa ada sesuatu yang kurang sehat dalam jagat teater di Yogyakarta setelah menyaksikan pementasan ”Caligula” yang disutradarai dan dibintangi oleh Arifin C Noer.

”Kita harus membentuk grup, bukan untuk produksi sebagai tujuan pokok, tetapi semacam workshop. Kita harus menata diri: organ tubuh, indra, dan batin kita,” ungkapnya sambil menikmati bubur ketan hitam di Malioboro. Inilah awal lahirnya Bengkel Teater, sebuah grup teater yang lebih banyak mengurusi aktor ketimbang pentas; sebab baginya, aktor, si manusia, adalah roh pementasan. Inilah roh lahirnya Teater Mini Kata.

”Klilip” pemerintah

Situasi politik memanas. Dan puisi-puisi kritik sosial Rendra terus mengalir. Puisi tersebut perlu sosialisasi dengan cara lebih plastis: inilah awal lahirnya poetry reading gaya Rendra: puisi yang berbicara tentang manusia tertekan, tersingkirkan, tetapi menyentuh dan memukau. Tampak sekali semangat manjing ing sajroning kahanan hasil didikan Mas Janadi.

Setelah Bengkel Teater melahirkan Teater Mini Kata, lahir pula Sekda, Mastodon-Burung Kondor, Panembahan Reso Imung dan lakon bernuansa politik lainnya. Rendra tumbuh menjadi nurani bangsanya. Karena itu, ia selalu menjadi klilip pemerintah yang otoriter. Pada penerimaan gelar doktor honoris causa di Universitas Gadjah Mada, 2008, pidato Rendra tentang kelautan sangat memukau.

Sebagai seniman, ia tidak sibuk dengan art yang lebih merupakan artefak, tetapi lebih ber-concern dengan kehidupan, manusia, dan masyarakat. Dialah Guru Besar dari Universitas Kehidupan.

Selamat jalan, Mas Willy. Karyamu membisik terus….

Bakdi Soemanto Dosen UGM dan Universitas Sanata Dharma

Sastra (Koran) Semakin Diapresiasi

Sastra (Koran) Semakin Diapresiasi

Sabtu, 8 Maret 2008 | 02:13 WIB

Telah tiba masanya pengarang atau sastrawan kita bergelimang uang. Sebelumnya, sastrawan hanya sedikit yang kecipratan rezeki lumayan dari karya-karyanya. Namun, pascareformasi, buku-buku sastra beberapa pengarang ternyata laris, cetak ulang belasan kali, dan royaltinya bisa lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kesan yang bisa ditangkap, sastra semakin diapresiasi, semakin diminati.

Pemerintah belum mengapresiasi sastra seperti mengapresiasi olahraga sehingga mau menyediakan bonus ratusan juta rupiah. Prestasi di bidang sastra yang turut mengharumkan nama bangsa bagai angin lalu.

Untunglah, setelah Penghargaan Sastra Khatulistiwa (Khatulistiwa Literary Award), dengan hadiah Rp 100 juta untuk prosa dan puisi terbaik serta Rp 25 juta untuk penulis muda terbaik, kini ada Anugerah Sastra Pena Kencana. Penghargaan yang digagas PT Kharisma Pena Kencana ini menyediakan hadiah Rp 50 juta untuk puisi dan cerita pendek (cerpen) terbaik yang terbit di media cetak.

Untuk Anugerah Sastra Pena Kencana 2008, dewan juri Ahmad Tohari, Budi Darma, Sapardi Djoko Damono, Apsanti Djokosujatno, Sitok Srengenge, Joko Pinurbo, dan Djamal D Rahman memilih 20 cerpen dan 100 puisi nomine, yang karyanya dibukukan ke dalam 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 dan 100 Puisi Indonesia Terbaik 2008.

Buku terbitan PT Gramedia Pustaka Utama itu, Rabu (5/3) petang, diluncurkan di Toko Buku Gramedia, Jalan Matraman Raya, Jakarta Timur, dibedah Sapardi dan Djamal serta Radhar Panca Dahana.

Angkat martabat

Menurut Direktur Program Penyelenggara Anugerah Sastra Pena Kencana Triyanto Triwikromo, sastra Indonesia seperti sastra dunia, tak pernah hadir dalam ruang vakum sejarah, jatuh dari langit, atau muncul dari dunia antah-berantah. Ia juga tak pernah mungkin hidup tanpa peran, ideologi, industri, atau, yang paling penting, pembaca.

”Kebudayaan Yunani Kuno, ketika para pemikir besar sekelas Socrates, Plato, dan Aristoteles hidup, tidak mungkin lepas dari sumbangan sastra,” paparnya.

Anugerah Sastra Pena Kencana hadir untuk lebih memartabatkan sastrawan dan mengembangkan peran pembaca. Untuk 2008, puisi dan cerpen terbaik masing-masing mendapat Rp 50 juta.

Komisaris PT Kharisma Pena Kencana Nugroho S selaku penggagas Anugerah Sastra Pena Kencana mengatakan, ”Pemberian anugerah akan berkelanjutan dan ke depan hadiahnya diharapkan ditingkatkan.”

”Dengan melibatkan pembaca dalam penilaian sastra, kita akan mampu menjaring pendukung lebih luas,” tandas Triyanto, yang Januari 2008 menjadi peserta Gang Festival dan Residensi Sastra di Sydney, Australia.

Sastra koran

Sebanyak 20 cerpen terbaik Indonesia 2008 dan 100 puisi terbaik Indonesia 2008 adalah cerpen-cerpen dan puisi-puisi yang dimuat di koran Kompas, Suara Pembaruan, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Suara Merdeka, Jawa Pos, Lampung Pos, Bali Pos, Pontianak Pos, dan Pikiran Rakyat.

”Tak bisa dimungkiri betapa sastra hari ini adalah ’sastra koran’. Dan koran yang dipilih dianggap mewakili pemuatan karya sastra seluruh Indonesia,” ujar Direktur Program Triyanto.

Dalam bedah buku, Sapardi mengatakan, sajak-sajak koran dalam antologi 100 Puisi Indonesia Terbaik 2008 tidak ada yang berujud puisi konkret yang ekstrem yang mengubah seni kata menjadi seni visual.

Sapardi mengakui, sejumlah puisi tampak masih gagap, mengingatkan kita pada sebagian besar puisi dekade 1950-an ketika kebanyakan penyair dalam tahap awal memahami dan menghayati bahasa Indonesia.

Djamal mengatakan, kini koran menjadi kiblat sastra. ”Cuma yang menjadi masalah sastrawan adalah keterbatasan halaman koran,” katanya. Menurut dia, peran sastra ke depan adalah bagaimana memproyeksikan masa depan Indonesia.

Sedangkan Radhar yang mengkritisi cerpen dan puisi menilai dunia sastra atau fiksi Indonesia belum berhasil menyodorkan kepada publik, manusia, sejarah tentang pemahaman terhadap publik, manusia, dan sejarah itu sendiri.

”Pembaca tak mendapatkan trotoar untuk menjalani hidup ini. Cerpen dan juga puisi tampil untuk membaguskan bahasa, tidak dalam makna. Yang ditemui dunia yang ideal, tidak dunia nyata,” tandasnya. (YURNALDI)

Wednesday, 11 November 2009

TATA CAHAYA

Arsip untuk teater kategori
Tata Cahaya
Posted in teater on September 8, 2008 by endonesa



TATA CAHAYA







Fungsi Tata Cahaya

Secara umum, tata cahaya berfungsi untuk membentuk situasi, menyinari gerak pelaku, dan mempertajam ekspresi demi penciptaan karakter pelaku. Dengan demikian, imajinasi publik ke situasi tertentu, yang tragis, yang sublim, yang lepas dari dunia keseharian atau spesifik iluminasi.

Secara khusus, tata cahaya dapat berfungsi untuk

1. mengadakan pilihan bagi segala hal yang diperlihatkan

Hal yang sangat penting bagi cahaya lampu adalah dapat berperan di atas panggung untuk membiarkan penonton dapat melihat dengan enak dan jelas. Apa yang terlihat akan bergantung pada sejumlah penerangan, ukuran objek yang tersorot cahaya, sejumlah cahaya pantulan objek, kontrasnya dengan latar belakang, dan jarak objek dan pengamatnya.

1. mengungkapkan bentuk

Jika sebuah pementasan lakon disoroti dengan cahaya lampu biasa, maka para pemeran, dan peralatan (properti), dan semua bagian dari skeneri akan nampak datar atau flat, tidak menarik. Di sini tidak nampak sinar tajam (high-light), tidak ada bayangan, dan monoton. Agar objek yang terkena cahaya nampak dengan bentuk yang wajar, maka penyebaran sinar harus memiliki tinggi-rendah derajat pencahayaan yang memberikan keanekaragaman hasil perbedaan tinggi-rendahnya derajat pencahayaan itu.

Pengungkapan bentuk pada hakikatnya disempurnakan oleh pencahayaan. Sudut datang cahaya dan arah cahaya lampu khusus, harus diramu bersama dengan hati-hati sehingga menghasilkan pencahayaan yang seimbang hingga ada pembeda antara keremangan dan bayangan. Kontras dan keanekaragaman warna juga merupakan bagian-bagian yang harus dapat dibedakan sehingga dapat memikiat perhatian penonton.

1. membuat gambar wajar

Di dalam fungsi ini, juga termasuk cahaya lampu tiruan yang menciptakan gambaran cahaya wajar yang memberi petunjuk terhadap waktu sehari-hari, waktu setempat, dan musim.

1. membuat komposisi

Membuat komposisi dengan cahaya adalah sama dengan menggunakan cahaya sebagai elemen rancangan. Hal ini terkait dengan kebutuhan skeneri, objek mana yang harus disorot dengan intensitas yang rendah/tinggi hingga berkomposisi bagus, pola-pola bayangan juga harus diperhatikan.

1. menciptakan suasana (hati/jiwa)

Dengan pengaturan cahaya diharapkan dapat menciptakan suasana termasuk adanya perasaan atau efek kejiwaan yang diciptakan oleh pemeran dengan didukung oleh cahaya.



Macam-macam Lampu

Lampu tidak dapat berdiri sendiri dalam tata cahaya, melainkan wajib hukumnya untuk berpadu dengan listrik, kabel sebagai penghantar listrik, holder sebagai rumah lampu, dan dimmer sebagai pengontrol lampu.

Secara umum, terdapat tiga macam lampu, yaitu

1. lampu cahaya umum: jenis-jenis lampu biasa, lampu kerja, dan lampu “flood”
2. lampu cahaya khusus: jenis-jenis lampu spot, seperti “ellipsoidal”, “lekolites”, “spherical”, dan “mirror”
3. lampu cahaya campuran: jenis-jenis lampu strip, seperti lampi border, lampu kaki, lampu “backing”, lampu siklorama



Tiga macam lampu itu memiliki sifatnya masing-masing. Lampu cahaya memiliki sifat cahaya yang memencar, disebabkan oleh cahaya yang keluar dari lampu hanya dipantulkan melalui reflektor menembus cahaya pada kaca lampu. Sedangkan pada jenis lampu khusus, cahaya yang keluar dari lampu setelah dipantulkan melalui reflektor kemudian dibiaskan melalui lensa. Pembiasan melalui lensa tersebut menyebabkan sorotan cahayanya terpadu dan keluar dengan tajam. Pada lampu campuran sifatnya seperti lampu umum, hanya setelah cahaya terpantul melalui reflektor kemudian dibiaskan melalui kaca lampu yang berwarna-warni, satu lampu satu warna, biasanya merah, hijau, putih atau amber.

Beberapa jenis-jenis lampu secara khusus dijelaskan di bawah ini.

1. lampu cahaya umum
2. lampu cahaya campuran (strip)
3. lampu cahaya khusus(fresnellites)
4. lampu cahaya khusus (lekolites) (lihat lampiran 1)



Tipe-tipe lampu menurut petunjuk ukurannya, terapat tiga tipoe lensa yang berbeda.

a. lampu spot lensa konveks

1. lensa 20 cm 1000-2000 watt

2. lensa 9 cm 500-1000 watt

3. lensa 7,5 cm 250-400 watt

b. lampu spot lensa step (fresnell)

1. lensa 21/24 cm 5000 watt

2. lensa 12,5/18 cm 2000 watt

3. lensa 12 cm 1000-2000 watt

4. lensa 9 cm 250-750 watt

5. 4,5 cm 100 watt

c. 1. 18 cm 300-5000 watt 10-120 beam

2. 12 cm 1000-2000 watt 20-240 beam

3. 12 cm 250-750 watt 15-180 beam

4. 18 cm 250-750 watt 26-340 beam

5. 18 cm 300-5000 watt 10-450 beam (lihat lampiran)

Sarana Pengendali Lampu

Sarana pengendali lampu pada dasarnya terdapat empat hal penting, yaitu

1. intensitas

Untuk mengendalikan cahaya lampu dari terang ke gelap atau gelap ke terang biasanya dipergunakan alat yang disebut dimmer. Dengan alat ini, masing-masing satuan lampu yang diapsang di atas pentas dapat dikendalikan mulai dari pencahayaan penuh, perlahan-lahan surut, sampai mati sama sekali, dan sebaliknya. Yang menentukan intensitas cahaya lampu pentas selain dimmmer juga kekuatan lampunya (watt-nya) dan dimensi dari perumahan lampu itu.

Seorang penata cahaya dapat mengatur intensitas paling tinggi yang diperlukan bagi masing-masing daerah panggung yang dikehendaki pencahayaannya. Tiap-tipa saluran dimmer dapat digunakan untuk memberi keseimbangan intensitas cahay tersebut dari setiap sumbernya. Secara ideal diharapkan bahwa skeneri (suasana gerak-gerik di atas pentas) setiap adegan dapat dihasilkan dari pencahayaan masing-masing sumbernya. Adegan berikutnya mungkin akan terdiri dari hasil pencahayaan yang berbeda susunan intensitasnya meskipun sering dipergunakan dalam asluran dimmer yang sama.



2. warna

Warna juga penting peranannya sebagai alat pengendali intensitas cahaya. Di negara teklnologi maju yang telah lama menggunakan intensitas cahaya listrik sebagai alat utama cahaya panggung, pada abad XV tidak saja membedakan intensitas cahaya lampu antara komedi dan tragedi, akan tetapi juga membedakan tata wana cahayanya. Warna-warna hangat dipergunakan untuk cahaya komdei, sedangkan warna dingin dipergunakan untuk cahaya tragedi. Konsepsi warna demikian itu masih secara umum dan masih banyak dipergunakan hingga pada saat ini, namun juga banyak sekali kejutan-kejutan warna cahaya yang diciptakan secara cerdik yang menjadi tantangan.

Penggunaan warna cahaya di panggung sangat menarik oleh karena sifat-sifatnya yang unik. Di satu pihak ia memiliki sifat objektif oleh karena takarannya sudah pasti, misalnya, sumber cahayanya, kekuatan lampunya, perumahan lampunya, media atau filter (saringan) warnanya, semuanya sudah pasti. Namun, sorotan warna cahaya lampu itu ketika memantul dari benda atau pemeran yang kena sorot, pantulan warnanya yang sampai mata penonton bisa berubah.

Di lain pihak, warna memiliki sifat subjektif atau memiliki faktor psikologis karena kemauan sang sutradara yang lebih tertarik kepada pantulan warna-warna para pemeran di mata penonton. Dengan demikian, diperlukan kemahiran tersendiri bagi seorang penata cahaya untuk mengolah faktor-faktor objketif dan subjektif. Tidak saja diperlukan pengetahuan yang mendalam, akan tetapi juga pengalaman yang matang untuk mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya.



3. distribusi

Distribusi adalah kepekatan, penyebaran, dan arah cahaya lampu. Hal ini akan berhubungan pula dengan banyak sedikitnya jumlah lampu, banyak sedikitnya jummla tipe-tipe peralatan lampu, dan penempatan kedudukan lampu itu. Kualitas distribusi cahaya lampu teristimewa diberikan oleh masing-masing tipe peralatannya (lampu cahaya khusus atau lampu cahaya umum), besar kecilnya cahaya ditentukan oleh penggunaan dimmer, tajam atau lembutnya garis cahaya tergantung dari sudut datangnya cahaya ke sasaran, dan lain sebagainya. Masing-masing peralatan bergantung dari tipenya membentuk berbagai efek pencahayaan. Tempat kedudukan lampu-lampu itu terarah menurut kemamuan penata cahaya berdasarkan atas plot cahaya (light plot). Cahaya cerah diarahkan ke sana, cahaya redup di arahkan kemari, dan seterusnya yang semuanya diarahkan dan disusun menuju sasaran platis dan komposisi yang berefek visual.

Ada tiga perangkat pengendali distribusi cahaya lampu yang saling berhubungan, yaitu

1. perangkat pengendali lampu umum yang menghasilkan cahaya yang memencar

2. perangkat pengendali lampu khusus yang memiliki cahaya mengempal, dan

3. perangkat pengendali yang berada pada berbagai warna cahaya yang tersorot ke permukaan objek yang sama.

Fakta membuktikan bahwa skeneri, kostum, peralatan, dan bahkan tata rias para pemeran memiliki berbagai kemampuan menyerap danm memantulkan cahaya lampu yang perlu dipertimbangkan. Hal ini sangat penting untuk diperhitungkan dalam distribusi cahaya dalam sebuah peemntasan. Bahkan seorang pemeran yang bergerak di atas pentas dapat merubahj distribusi cahaya apabila tidak diperhitungkan sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh segenap tubuh, kostum, dan peralatan yang dibawanya aadalah pemantul cahaya seperti halnya bagian set yang lain.



4. gerakan

Sarana pengendali lampu yang terakhir adalah gerakan, yaitu perubahan satu atau lebih kualitas cahaya. Gerakan cahaya lampu ini bisa terjadi oleh karena beberapa hal. Gerakan cahaya lampu ini bisa terjadi oleh karena beberapa hal. Gerakan cahaya lampu yang sengaja digerakkan oleh awak panggung (manual) untuk mengikuti gerakan pemeran (biasanya disebut follow spot). Kemudian ada gerakan cahaya lampu yang diatur secara mekanis (banyak digunakan lampu disko). Di samping itu, ada pula gerakan cahaya lampu meremang (dim turun) dan emnerang (dim naik), yaitu kecenderungan pengaturan gerakan cahaya lampu melalui alat dimmer yang penanganannya hanya dapat dimungkinkan melalui induk mekanis atau alat elektris. Hanya dengan alat elektronis modern, hal ini bisa dilaksanakan dengan baik. Satu orang operator pengendali lampu (manual) dapat menangani tidak lebih dari tiga atau empat bilah tahanan (resistensi) atau autotransformer yang terdapat pada tangan-tangan (handle) dimmer dan itupun terletak dalam kelompok yang berdekatan. Gerakan cahaya pada saat pertunjukan sedang berjalan harus dikerjakan dengan cermat. Apabila tidak, dikhawatirkan akan menyesatkan dan luput dari nilai-nilai dramatik yang akan dicapai.

Selain itu, ruang operator lampu dengan orang yang mengendalikan lampu harus memiliki pandnagan penuh ke atas panggung. Dengan demikia, ia dapat mengoordinasikan gerakan-gerakan cahaya atau perubahan cahaya dengan gerak-geriknya. Gerakan cahaya lampu akan memberikan kualitas dinamis cahaya berbagai lakon apabila ia mengikuti pola-pola komposisi yang bagus yang dibuat berdasarkan nilai rasa puisi, musik, visual, serta kadar pertunjukkan (rasa teater).

Langkah-langkah Pemasangan Lampu

1. Sebelum memasang lampu, harus memahami dulu skenario dari drama yang akan dipentaskan. Setelah paham, maka akan diperoleh gerakan-gerakan panggung. Dengan demikian dapat diketahui daerah-daerah yang dipakai dalam pementasan tersebut.

2. Buatlah sketsa pergerakan para aktor dari skenario yang akan dipentaskan!

3. Tentukan plot cahaya dari fokus daerah-daerah yang dipakai.

4. Pilihlah warna-warna dari lampu sesuai dengan kebutuhan skenario.

5. Setelah itu, buatlah desain tata letak lampu berikut aliran listrik melalui kabel, termasuk paralel atau serinya.

6. Cek lampu yang akan digunakan berikut holder dan kabelnya. Pastikan semuanya dalam kondisi yang bagus. Jangan mengecek lampu dalam keadaan terpasang di atas panggung. Sebaiknya cek di bawah panggung.

7. Setelah semuanya dalam kondisi yang pasti, naikkan lampu dan fokuskan.

8. Perhitungkan juga skenerinya sehingga dalam penajaman atau peremangan cahaya dapat menghasilkan sesuai dengan kondisi dramatis yang diinginkan sutradara.

9. Cobalah dengan bayangan para pemeran berikut propertinya sehingga dapat diketahui suasana dramatisnya sesuai dengan arahan sutradara.

10. Lakukan gladi sebelum pementasan dimulai. Evaluasi dan perbaikilah. Selamat mencoba! (Lihat lampiran)



Contoh-contoh Tata Cahaya dalam beberapa Pementasan


































DAFTAR RUJUKAN



(didownload dari http://theater.harvard.edu/jobs/ld pada 21 Agustus 2005 pada pukul 01.00 WIB)

(didownload dari www.artangela.com/ images/photo/ pada 21 Agustus 2005 pada pukul 01.00 WIB)

(gambar didownload dari http://www.dekalb.k12.ga.us/~druidhills/uhry/uhrytheater.html pada 21 Agustus 2005 pada pukul 01.00 WIB)

(gambar didownload dari http://www.theyrecoming.com/leigh/portfolio/lighting/ParadoxGuardsCell.shtml pada 21 Agustus 2005 pada pukul 01.00 WIB)

(gambar didownload www.unclejeff.org/ Quills.html dari pada 21 Agustus 2005 pada pukul 01.00 WIB)

Padmodarmaya, Pramana. 1988. Tata dan Teknik Pentas. Jakarta: Balai Pustaka

Supriyanto, Henri. 1986. Pengantar Studi Teater. Surabaya: KOPMA IKIP Surabaya