Friday, 24 April 2009

Alkisah,

Buah Kerja Rodi
Hasil penelusuran METRO dari berbagai sumber, dua Batu Lubang yang terletak di Desa Simaninggir ini, merupakan bukti peninggalan sejarah perjuangan rakyat Tapanuli. Dikisahkan, Batu Lubang dulunya dibuat dan dikerjakan oleh bangsa Indonesia sendiri. Mereka adalah para pejuang kemerdekaan RI yang ditawan oleh penjajah Belanda dan Jepang.

Sekitar tahun 1930, para penjajah Belanda dan Jepang menghadapi kesulitan melewati jalan ini, karena dihempang batu cadas dan hutan belantara. Buntutnya, kaum penjajah memaksa para pejuang Indonesia ini menjadi pekerja paksa (rodi), untuk memahat batu-batu cadas ini hingga jalan Tarutung-Sibolga (Tapanuli Tengah) bisa tembus.

Pada masa penjajahan Jepang, pembuatan Batu Lubang ini terus berlanjut hingga selesai dan dapat dilalui oleh kendaraan bermotor. Konon, pada waktu pembuatan Batu Lubang, banyak para pejuang yang menjadi korban dan tidak sedikit pejuang yang mati. Yang mati, mayatnya langsung dibuang ke jurang.

Selama bertahun-tahun dibiarkan tetap sempit, sekitar tahun 1991, akhirnya pemerintah akhirnya memutuskan untuk memperlebar terowongan. Tapi kali ini tak lagi dengan memahat, melainkan pakai dinamit.

Terpanggil Jadi Penjaga
Dulu, Batu Lubang terkesan seram, karena tidak ada lampu maupun penjaga. Namun saat ini, kesan itu sudah berkurang jauh. Sudah 15 tahun lamanya, Batu Lubang diawasi seorang penjaga, yang digaji Dinas Pekerjaan Umum Rp500 ribu per bulan.

“Dulu sejak tahun 1993, Batu Lubang ini dijaga dan diawasi mertua saya, Serep Simbolon (almarhum, red). Namun sejak mertua saya meninggal awal 2008, saya yang jaga,” kata Robert Tarihoran.

Ditanya kisah terpanggilnya mertua kemudian dirinya menjadi penjaga Batu Lubang, Robert menjelaskan, hal itu dimulai tahun 1991, saat ada pengeboman untuk pelebaran terowongan di di Batu Lubang.

“Tak lama setelah pengeboman, suatu malam saat tidur, mertua saya bermimpi. Ia bermimpi didatangi seseorang, yang mengatakan agar mertua saya membersihkan Batu Lubang. ‘Kau beserta anakmu akan kuberikan alat kompresor untuk membersihkan debu yang ada di Batu Lubang’ Itulah pesan yang diterima mertuaku dalam mimpinya,” kata ayah lima anak ini.

Beberapa hari setelah mimpi itu, mertuanya didatangi Pegawai Dinas PU, dan ditawari pekerjaan untuk merawat dan membersihkan jalan sepanjang Batu Lubang. Pekerjaan sebagai penjaga dilakoni mertuanya sejak tahun 1993 sampai tahun 2008, dengan gaji terakhir Rp500 ribu per bulan.

Sebelum mertuanya meninggal pada Pebruari 2008, pekerjaan sebagai penjaga terowongan diwariskannya kepada sang menantu, yaitu Robert sendiri. Gaji tetap sama, Rp500 ribu per bulan.

Cukupkah untuk menghidupi dan menyekolahkan kelima anaknya? “Yah, pesan mertua hanya satu, selama menjaga Batu Lubang, saya harus selalu memiliki niat baik. Dengan demikian, saya akan diberikan rejeki. Pesan itu saya pegang, dan sampai sekarang kelima anak saya masih sekolah,” katanya.

Rezeki dimaksud datang dari para sopir yang lewat Batu Lubang, yang kerap memberikan sekedar uang rokok kepadanya. “Rezeki itu khususnya sering datang dari kendaraan prbadi,” ungkapnya mensyukuri berkat yang diterimanya.

Objek Wisata
Bagi orang yang belum pernah melewati Batu Lubang, mungkin ingin tahu rasanya melewati Batu Lubang. Jujur, kesannya cukup mencekam. Untungnya, panjang terowongan hanya 10 meter ditambah 8 meter. Di terowongan 10 meter itu yang kesannya agak dramatis, karena terowongan menikung, dengan air menetes di sana sini. Jalan di terowongan itu sendiri sama sekali tidak mulus alias rusak berat. Maklum, tetesan air terus menerus merusak jalan.

Namun demikian, setelah Batu Lubang terang benderang dan tidak seram lagi, belakangan ini beberapa pengunjung sudah dari Kota Sibolga ada yang sengaja datang ke tempat ini untuk menikmati pemandangan dan sejuknya udara. Belum lagi para pelintas yang memilih istirahat sejenak menikmati pemnadangan, di gazebo di mulut terowongan.

“Mungkin kalau lebih ditata dengan membangun beberapa fasilitas, Batu Lubang akan menjadi lokasi wisata alam/sejarah yang lebih layak jual,” kata Robert. (data dibantu poltak tarihoran)

Simalungun merupakan salah satu suku asli dari Sumatera Utara, Indonesia. Simalungun juga merujuk pada nama sebuah kotamadya, yaitu Kotamadya Simalungun dengan ibukota Pematangsiantar. Dalam bahasa Simulungun, kata “simalungun” memiliki kata dasar “lungun” yang berarti “sunyi”. Diberikan nama demikian, karena penduduk daerah itu masih sedikit dan pemukiman mereka terletak saling berjauhan. Orang Batak Toba menyebutnya “Si Balungu”, sedangkan orang Karo menyebutnya “Batak Timur”, karena bertempat di sebelah timur mereka.
Kotamadya Simalungun memiliki ragam warisan tradisi, salah satunya adalah cerita rakyat. Di daerah ini, terdapat cerita rakyat yang sangat terkenal, yaitu Kisah Putri Ular. Cerita ini mengisahkan kegagalan seorang putri raja yang cantik jelita untuk dijadikan permaisuri oleh seorang raja muda yang tampan, karena sang putri tiba-tiba menjelma menjadi seekor ular. Peristiwa apa sebenarnya yang terjadi, sehingga sang putri cantik itu menjelma menjadi seekor ular? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita rakyat berikut ini!
* * *
Alkisah, di suatu negeri di kawasan Simalungun, Sumatera Utara, berdiri sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana. Sang Raja memiliki seorang putri yang kecantikannya sungguh luar biasa. Berita tentang kecantikan putri raja itu tersebar ke berbagai pelosok negeri. Berita tersebut juga didengar oleh seorang raja muda yang memerintah di sebuah kerajaan yang letaknya tidak jauh dari kerajaan ayah sang Putri.
Mendengar kabar tersebut, Raja Muda yang tampan itu berniat melamar sang putri. Sang raja kemudian mengumpulkan para penasehat kerajaan untuk memusyawarahkan keinginannya tersebut.
“Wahai, para penasehatku! Apakah kalian sudah mendengar berita kecantikan putri itu?” tanya sang raja kepada penasehatnya.
“Sudah, Tuan!” jawab para penasehat serantak.
“Bagaimana menurut kalian, jika sang putri itu aku jadikan sebagai permaisuri?” sang Raja kembali bertanya.
“Hamba setuju, Tuan!” jawab salah seorang penasehat.
“Iya, Tuan! Hamba kira, Tuan dan Putri adalah pasangan yang sangat serasi. Tuan seorang raja muda yang tampan, sedangkan sang putri seorang gadis yang cantik jelita,” tambah seorang penasehat.
“Baiklah kalau begitu. Segera persiapkan segala keperluan untuk meminang sang putri,” perintah sang raja.
“Baik, Baginda!” jawab seluruh penasehat serentak.
Keesokan harinya, tampak rombongan utusan raja muda meninggalkan istana menuju negeri tempat tinggal sang putri. Sesampainya di sana, mereka disambut dan dijamu dengan baik oleh ayah sang putri. Usai perjamuan, utusan sang raja muda pun menyampaikan maksud kedatangan mereka.
“Ampun, Baginda! Maksud kedatangan kami ke sini adalah hendak menyampaikan pinangan Raja kami,” jawab salah seorang utusan yang bertindak sebagai juru bicara.
“Kami menerima pinangan Raja kalian dengan senang hati, karena kedua kerajaan akan bersatu untuk mewujudkan masyarakat yang makmur, damai dan sejahtera,” jawab sang raja.
“Terima kasih, Baginda! Berita gembira ini segera kami sampaikan kepada Raja kami. Akan tetapi…, Raja kami berpesan bahwa jika lamaran ini diterima pernikahan akan dilangsungkan dua bulan lagi,” ujar utusan tersebut.
“Kenapa begitu lama?” tanya sang Raja tidak sabar.
“Raja kami ingin pernikahannya dilangsungkan secara besar-besaran,” jawab utusan itu.
“Baiklah kalau begitu, kami siap menunggu,” jawab sang Raja.
Usai berunding, utusan Raja Muda berpamitan kepada sang Raja untuk kembali ke negeri mereka. Setibanya di sana, mereka langsung melaporkan berita gembira itu kepada Raja mereka, bahwa pinangannya diterima. Sang Raja Muda sangat gembira mendengar berita itu.
“Kalau begitu, mulai saat ini kita harus menyiapkan segala keperluan untuk upacara pernikahan ini!” seru Raja Muda.
“Baiklah, Tuan! Segera kami kerjakan,” jawab seorang utusan.
Sementara itu, setelah para utusan Raja Muda kembali ke negeri mereka, ayah sang Putri menemui putrinya dan menyampaikan berita pinangan itu.
“Wahai, putriku! Tahukah engkau maksud kedatangan para utusan itu?” tanya sang Raja kepada putrinya.
“Tidak, ayah! Memangnya ada apa, yah?” sang putri balik bertanya.
“Ketahuilah, putriku! Kedatangan mereka kemari untuk menyampaikan pinangan raja mereka yang masih muda. Bagaimana menurutmu?” tanya sang Ayah.
“Jika ayah senang, putri bersedia,” jawab sang Putri malu-malu.
“Ayah sangat bangga memiliki putri yang cantik dan penurut sepertimu, wahai putriku!” sanjung sang Ayah.
“Putriku, jagalah dirimu baik-baik! Jangan sampai terjadi sesuatu yang dapat membatalkan pernikahanmu,” tambah sang ayah.
“Baik, ayah!” jawab sang putri.
Menjelang hari pernikahannya, sebagaimana biasa, setiap pagi sang putri pergi mandi dengan ditemani beberapa orang dayangnya di sebuah kolam yang berada di belakang istana. Di pinggir kolam disiapkan sebuah batu besar untuk tempat duduk sang putri. Usai berganti pakaian, sang putri segera masuk ke dalam kolam berendam sejenak untuk menyejukkan sekujur tubuhnya.
Setelah beberapa saat berendam, sang putri duduk di atas batu di tepi kolam. Sambil menjuntaikan kakinya ke dalam air, sang putri membayangkan betapa bahagianya saat pernikahan nanti, duduk bersanding di pelaminan bersama sang suami, seorang Raja Muda yang gagah dan tampan.
Di tengah-tengah sang putri asyik mengkhayal dan menikmati kesejukan air kolam itu, tiba-tiba angin bertiup kencang. Tanpa diduga, sebuah ranting pohon yang sudah kering mendadak jatuh tepat mengenahi ujung hidung sang putri.
“Aduuuh, hidungku!” jerit sang putri sambil memegang hidungnya.
Dalam sekejap, tangan putri yang malang itu penuh dengan darah. Sambil menahan rasa sakit, sang putri menyuruh dayang-dayangnya untuk diambilkan cermin. Betapa terkejut dan kecewanya sang putri saat melihat wajahnya di cermin. Hidungnya yang semula mancung itu tiba-tiba menjadi sompel (hilang sebagian) tertimpa ranting pohon yang ujungnya tajam. Kini wajah sang putri tidak cantik lagi seperti semula. Ia sangat sedih dan air matanya pun bercucuran keluar dari kelopak matanya.
“Celaka! Pernikahanku dengan raja muda akan gagal. Ia pasti akan mencari putri lain yang tidak memiliki cacat. Jika aku gagal menikah dengan raja muda, ayah dan ibu pasti kecewa dan malu di hadapan rakyatnya,” pikir sang putri.
Sang putri sangat tertekan. Pikiran-pikiran itu terus berkecamuk di kepalanya. Hatinya pun semakin bingung. Ia tidak ingin membuat malu dan kecewa kedua orang tuanya. Namun, ia tidak mampu mengatasi permasalahan yang sedang dihadapinya. Ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi, selain menyesali nasibnya yang malang itu.
Sang putri pun jadi putus asa. Sambil menangis, ia menengadahkan kedua tangannya ke atas, lalu berdoa:
“Ya, Tuhan! Hukumlah hambamu ini yang telah membuat malu dan kecewa orang tuanya!” doa sang putri dengan mata berkaca-kaca.
Baru saja doa itu terucap dari mulut sang putri, tiba-tiba petir menyambar-nyambar sebagai tanda doa sang putri didengar oleh Tuhan. Beberapa saat kemudian, tubuh sang putri mengalami perubahan yang sangat mengejutkan. Kakinya yang putih mulus tiba-tiba mengeluarkan sisik. Sisik tersebut semakin merambat ke atas. Dayang-dayangnya pun tersentak kaget saat melihat peristiwa itu. Ketika sisik itu mencapai dada, sang putri segera memerintahkan seorang dayang-dayangnya untuk memberi tahu ayah dan ibunya di dalam istana.
“Ampun, Tuan!” hormat sang dayang kepada raja.
“Ada apa, dayang-dayang?” tanya sang raja.
“Ampun, Tuan! Kulit tuan putri mengeluarkan sisik seperti ular,” lapor sang dayang.
“Apa…? Anakku mengeluarkan sisik!” tanya sang raja tersentak kaget.
“Benar, Tuan! Hamba sendiri tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi,” jawab sang dayang.
Setelah mendengar laporan itu, sang raja dan permaisuri segera menuju ke kolam permandian. Sesampainya di tempat itu, mereka sudah tidak melihat tubuh sang putri. Yang tampak hanya seekor ular besar yang bergelung di atas batu yang biasa dipakai sang putri untuk duduk.
“Putriku!” seru sang raja kepada ular itu.
Ular itu hanya bisa menggerakan kepala dan menjulurkan lidahnya dengan tatapan mata yang

Ular itu hanya bisa menggerakan kepala dan menjulurkan lidahnya dengan tatapan mata yang sayu. Ia seakan hendak berbicara, namun tak satu kata pun yang terucap dari mulutnya.
“Putriku! Apa yang terjadi denganmu?” tanya permaisuri cemas.
Meskipun permaisuri sudah berteriak memanggilnya, namun ular itu tetap saja tidak bisa berkata apa-apa. Tak lama kemudian, ular besar penjelmaan sang putri pergi meninggalkan mereka dan masuk ke dalam semak belukar. Sang raja dan permaisuri beserta dayang-dayang tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka sangat sedih dan menangis atas nasib malang yang menimpa sang putri.
Peristiwa penjelmaan sang putri menjadi seekor ular adalah hukuman dari Yang Kuasa atas permintaannya sendiri, karena keputusasaannya. Ia putus asa karena telah membuat malu dan kecewa kedua orang tuanya. Ia tidak berhasil menjaga amanah ayahnya untuk selalu jaga diri agar tidak terjadi sesuatu yang dapat membatalkan pernikahannya dengan Raja Muda yang tampan itu.
* * *












Parapat atau Prapat adalah sebuah kota kecil yang berada di wilayah Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Indonesia. Kota kecil yang terletak di tepi Danau Toba ini merupakan tujuan wisata yang ramai dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Kota ini memiliki keindahan alam yang sangat mempesona dan didukung oleh akses jalan transportasi yang bagus, sehingga mudah untuk dijangkau. Kota ini sering digunakan sebagai tempat singgah oleh para wisatawan yang melintas di Jalan Raya Lintas Sumatera (Jalinsum) bagian barat yang menghubungkan Kota Medan dengan Kota Padang.
Selain sebagai objek wisata yang eksotis, Parapat juga merupakan sebuah kota yang melegenda di kalangan masyarakat di Sumatera Utara. Dahulu, kota kecil ini merupakan sebuah pekan[1] yang terletak di tepi Danau Toba. Setelah terjadi suatu peristiwa yang sangat mengerikan, tempat itu oleh masyarakat diberi nama Parapat atau Prapat. Dalam peristiwa itu, muncul sebuah batu yang menyerupai manusia yang berada di tepi Danau Toba. Menurut masyarakat setempat, batu itu merupakan penjelmaan seorang gadis cantik bernama Seruni. Peristiwa apa sebenarnya yang pernah terjadi di pinggiran kota kecil itu? Kenapa gadis cantik itu menjelma menjadi batu? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Batu Gantung berikut ini!
* * *
Alkisah, di sebuah desa terpencil di pinggiran Danau Toba Sumatera Utara, hiduplah sepasang suami-istri dengan seorang anak perempuannya yang cantik jelita bernama Seruni. Selain rupawan, Seruni juga sangat rajin membantu orang tuanya bekerja di ladang. Setiap hari keluarga kecil itu mengerjakan ladang mereka yang berada di tepi Danau Toba, dan hasilnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Pada suatu hari, Seruni pergi ke ladang seorang diri, karena kedua orang tuanya ada keperluan di desa tetangga. Seruni hanya ditemani oleh seekor anjing kesayangannya bernama si Toki. Sesampainya di ladang, gadis itu tidak bekerja, tetapi ia hanya duduk merenung sambil memandangi indahnya alam Danau Toba. Sepertinya ia sedang menghadapi masalah yang sulit dipecahkannya. Sementara anjingnya, si Toki, ikut duduk di sebelahnya sambil menatap wajah Seruni seakan mengetahui apa yang dipikirkan majikannya itu. Sekali-sekali anjing itu menggonggong untuk mengalihkan perhatian sang majikan, namun sang majikan tetap saja usik dengan lamunannya.
Memang beberapa hari terakhir wajah Seruni selalu tampak murung. Ia sangat sedih, karena akan dinikahkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pemuda yang masih saudara sepupunya. Padahal ia telah menjalin asmara dengan seorang pemuda pilihannya dan telah berjanji akan membina rumah tangga yang bahagia. Ia sangat bingung. Di satu sisi ia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, dan di sisi lain ia tidak sanggup jika harus berpisah dengan pemuda pujaan hatinya. Oleh karena merasa tidak sanggup memikul beban berat itu, ia pun mulai putus asa.
“Ya, Tuhan! Hamba sudah tidak sanggup hidup dengan beban ini,” keluh Seruni.
Beberapa saat kemudian, Seruni beranjak dari tempat duduknya. Dengan berderai air mata, ia berjalan perlahan ke arah Danau Toba. Rupanya gadis itu ingin mengakhiri hidupnya dengan melompat ke Danau Toba yang bertebing curam itu. Sementara si Toki, mengikuti majikannya dari belakang sambil menggonggong.
Dengan pikiran yang terus berkecamuk, Seruni berjalan ke arah tebing Danau Toba tanpa memerhatikan jalan yang dilaluinya. Tanpa diduga, tiba-tiba ia terperosok ke dalam lubang batu yang besar hingga masuk jauh ke dasar lubang. Batu cadas yang hitam itu membuat suasana di dalam lubang itu semakin gelap. Gadis cantik itu sangat ketakutan. Di dasar lubang yang gelap, ia merasakan dinding-dinding batu cadas itu bergerak merapat hendak menghimpitnya.
“Tolooooggg……! Tolooooggg……! Toloong aku, Toki!” terdengar suara Seruni meminta tolong kepada anjing kesayangannya.
Si Toki mengerti jika majikannya membutuhkan pertolongannya, namun ia tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali hanya menggonggong di mulut lubang. Beberapa kali Seruni berteriak meminta tolong, namun si Toki benar-benar tidak mampu menolongnnya. Akhirnya gadis itu semakin putus asa.
“Ah, lebih baik aku mati saja daripada lama hidup menderita,” pasrah Seruni.
Dinding-dinding batu cadas itu bergerak semakin merapat.
“Parapat[2]… ! Parapat batu… Parapat!” seru Seruni menyuruh batu itu menghimpit tubuhnya..
Sementara si Toki yang mengetahui majikannya terancam bahaya terus menggonggong di mulut lubang. Merasa tidak mampu menolong sang majikan, ia pun segera berlari pulang ke rumah untuk meminta bantuan.
Sesampai di rumah majikannya, si Toki segera menghampiri orang tua Seruni yang kebetulan baru datang dari desa tetangga berjalan menuju rumahnya.
“Auggg…! auggg…! auggg…!” si Toki menggonggong sambil mencakar-cakar tanah untuk memberitahukan kepada kedua orang tua itu bahwa Seruni dalam keadaan bahaya.
“Toki…, mana Seruni? Apa yang terjadi dengannya?” tanya ayah Seruni kepada anjing itu.
“Auggg…! auggg…! auggg…!” si Toki terus menggonggong berlari mondar-mandir mengajak mereka ke suatu tempat.
“Pak, sepertinya Seruni dalam keadaan bahaya,” sahut ibu Seruni.
“Ibu benar. Si Toki mengajak kita untuk mengikutinya,” kata ayah Seruni.
“Tapi hari sudah gelap, Pak. Bagaimana kita ke sana?” kata ibu Seruni.
“Ibu siapkan obor! Aku akan mencari bantuan ke tetangga,” seru sang ayah.
Tak lama kemudian, seluruh tetangga telah berkumpul di halaman rumah ayah Seruni sambil membawa obor. Setelah itu mereka mengikuti si Toki ke tempat kejadian. Sesampainya mereka di ladang, si Toki langsung menuju ke arah mulut lubang itu. Kemudian ia menggonggong sambil mengulur-ulurkan mulutnya ke dalam lubang untuk memberitahukan kepada warga bahwa Seruni berada di dasar lubang itu.
Kedua orang tua Seruni segera mendekati mulut lubang. Alangkah terkejutnya ketika mereka melihat ada lubang batu yang cukup besar di pinggir ladang mereka. Di dalam lubang itu terdengar sayup-sayup suara seorang wanita: “Parapat… ! Parapat batu… Parapat!”
“Pak, dengar suara itu! Itukan suara anak kita! seru ibu Seruni panik.
“Benar, bu! Itu suara Seruni!” jawab sang ayah ikut panik.
“Tapi, kenapa dia berteriak: parapat, parapatlah batu?” tanya sang ibu.
“Entahlah, bu! Sepertinya ada yang tidak beres di dalam sana,” jawab sang ayah cemas.
Pak Tani itu berusaha menerangi lubang itu dengan obornya, namun dasar lubang itu sangat dalam sehingga tidak dapat ditembus oleh cahaya obor.
“Seruniii…! Seruniii… !” teriak ayah Seruni.
“Seruni…anakku! Ini ibu dan ayahmu datang untuk menolongmu!” sang ibu ikut berteriak.
Beberapa kali mereka berteriak, namun tidak mendapat jawaban dari Seruni. Hanya suara Seruni terdengar sayup-sayup yang menyuruh batu itu merapat untuk menghimpitnya.
“Parapat… ! Parapatlah batu… ! Parapatlah!”
“Seruniiii… anakku!” sekali lagi ibu Seruni berteriak sambil menangis histeris.
Warga yang hadir di tempat itu berusaha untuk membantu. Salah seorang warga mengulurkan seutas tampar (tali) sampai ke dasar lubang, namun tampar itu tidak tersentuh sama sekali. Ayah Seruni semakin khawatir dengan keadaan anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyusul putrinya terjun ke dalam lubang batu.
“Bu, pegang obor ini!” perintah sang ayah.
“Ayah mau ke mana?” tanya sang ibu.
“Aku mau menyusul Seruni ke dalam lubang,” jawabnya tegas.
“Jangan ayah, sangat berbahaya!” cegah sang ibu.
“Benar pak, lubang itu sangat dalam dan gelap,” sahut salah seorang warga.
Akhirnya ayah Seruni mengurungkan niatnya. Sesaat kemudian, tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Bumi bergoyang dengan dahsyatnya seakan hendak kiamat. Lubang batu itu tiba-tiba menutup sendiri. Tebing-tebing di pinggir Danau Toba pun berguguran. Ayah dan ibu Seruni beserta seluruh warga berlari ke sana ke mari untuk menyelamatkan diri. Mereka meninggalkan mulut lubang batu, sehingga Seruni yang malang itu tidak dapat diselamatkan dari himpitan batu cadas.
Beberapa saat setelah gempa itu berhenti, tiba-tiba muncul sebuah batu besar yang menyerupai tubuh seorang gadis dan seolah-olah menggantung pada dinding tebing di tepi Danau Toba. Masyarakat setempat mempercayai bahwa batu itu merupakan penjelmaan Seruni yang terhimpit batu cadas di dalam lubang. Oleh mereka batu itu kemudian diberi nama “Batu Gantung”.
Beberapa hari kemudian, tersiarlah berita tentang peristiwa yang menimpa gadis itu. Para warga berbondong-bondong ke tempat kejadian untuk melihat “Batu Gantung” itu. Warga yang menyaksikan peristiwa itu menceritakan kepada warga lainnya bahwa sebelum lubang itu tertutup, terdengar suara: “Parapat… parapat batu… parapatlah!”
Oleh karena kata “parapat” sering diucapkan orang dan banyak yang menceritakannya, maka Pekan yang berada di tepi Danau Toba itu kemudian diberi nama “Parapat”. Parapat kini menjadi sebuah kota kecil salah satu tujuan wisata yang sangat menarik di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia.
* * *

CUBLIS NASKAH HASAN AL BANNA SUTRADARA M.RAUDAH JAMBAK - HASAN AL BANNA AKAN DI USUNG PERTENGAHAN MEI 2009 DI LAMPUNG.

Tuesday, 7 April 2009

PRAKTEK KERJA INDUSTRI MENCETAK SISWA SMK PANCA BUDI - 2 SIAP PAKAI


Pelaksanaan Praktik Kerja Industri (Prakerin) merupakan bagian dari Pendidikan Sistem Ganda yang merupakan inovasi pada program SMK dimana peserta didik melakukan praktek kerja (magang) di perusahaan atau industri yang merupakan bagian integral dari proses pendidikan dan pelatihan di SMK. Pendidikan Sistem Ganda (PSG) diilhami oleh dua system (dual system) yang dilakukan di Jerman. Mulai diberlakukan di Indonesia berdasarkan kurikulum SMK tahun 1994, dipertajam dengan kurikulum SMK edisi 1999 dan dipertegas dengan kurikulum SMK edisi 2004.
Di Indonesia dalam penyelenggaraan Pendidikan Sistem Ganda, peserta diklat SMK menjalani magang di industri hanya beberapa bulan selama mereka menjalani sistem pendidikan tiga tahun atau empat tahun di SMK. Pendidikan Sistem Ganda melalui program praktik kerja industri merupakan suatu langkah nyata (substansial) untuk membuat sistem pendidikan dan pelatihan kejuruan lebih relevan dengan dunia kerja dalam rangka menghasilkan tamatan yang bermutu. Program yang dilaksanakan di industri atau dunia usaha meliputi:
1. Praktik dasar kejuruan yang dilaksanakan sebagian di sekolah dan sebagian lainnya di industri.
Praktik dasar kejuruan dapat dilaksanakan di industri apabila industri pasangan memiliki fasilitas pelatihan memadai. Namun apabila industri pasangan tidak memiliki fasilitas pelatihan maka kegiatan praktik dasar kejuruan sepenuhnya dilaksanakan di sekolah.
2. Praktik keahlian produktif dilaksanakan di industri dalam bentuk praktik kerja industri (on the job training) berbentuk kegiatan mengerjakan pekerjaan produksi atau jasa di industri atau perusahaan.
Praktek Kerja Industri (prakerin) merupakan program wajib yang harus diselenggarakan oleh sekolah khususnya sekolah menengah kejuruan dan pendidikan luar sekolah serta wajib diikuti oleh siswa/warga belajar. Upaya prakerin ini dimaksudkan agar siswa/warga belajar secara mental dan keterampilan nantinya siap bekerja di industri yang sesungguhnya. Menyelenggarakan prakerin bagi sekolah dan pendidikan luar sekolah menjadi kendala ketika institusi pasangan atau dunia usaha/dunia industri/instansi terkait yang diinginkan tidak secara kondusif mendukung program ini. Beberapa penyebab yang mungkin timbul adalah berkenaan dengan (i) kesesuaian waktu, program prakerin yang dijadwalkan oleh sekolah dan pendidikan luar sekolah tidak sesuai dengan waktu kerja yang dimiliki oleh Dunia Usaha/Dunia Industri/Instansi Terkait untuk menerima siswa/warga belajar; (ii) kesesuaian program, program prakerin yang dilaksanakan oleh sekolah dan pendidikan luar sekolah tidak secara spesifik dialokasikan oleh Dunia Usaha/Dunia Industri/Instansi Terkait; (iii) kesesuaian jumlah, jumlah peserta program prakerin yang dialokasikan oleh sekolah dan pendidikan luar sekolah dan kemampuan daya tampung oleh Dunia Usaha/Dunia Industri/Instansi Terkait; (iv) kompetensi siswa/warga belajar program prakerin yang tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh Dunia Usaha/Dunia Industri/Instansi Terkait; (v) asumsi Dunia Usaha/Dunia Industri/Instansi Terkait bahwa program prakerin hanya mengganggu aktifitas mereka.

PRAKTEK KERJA INDUSTRI MENCETAK SISWA SMK PANCA BUDI - 2 SIAP PAKAI




Pelaksanaan Praktik Kerja Industri (Prakerin) merupakan bagian dari Pendidikan Sistem Ganda yang merupakan inovasi pada program SMK dimana peserta didik melakukan praktek kerja (magang) di perusahaan atau industri yang merupakan bagian integral dari proses pendidikan dan pelatihan di SMK. Pendidikan Sistem Ganda (PSG) diilhami oleh dua system (dual system) yang dilakukan di Jerman. Mulai diberlakukan di Indonesia berdasarkan kurikulum SMK tahun 1994, dipertajam dengan kurikulum SMK edisi 1999 dan dipertegas dengan kurikulum SMK edisi 2004.
Di Indonesia dalam penyelenggaraan Pendidikan Sistem Ganda, peserta diklat SMK menjalani magang di industri hanya beberapa bulan selama mereka menjalani sistem pendidikan tiga tahun atau empat tahun di SMK. Pendidikan Sistem Ganda melalui program praktik kerja industri merupakan suatu langkah nyata (substansial) untuk membuat sistem pendidikan dan pelatihan kejuruan lebih relevan dengan dunia kerja dalam rangka menghasilkan tamatan yang bermutu. Program yang dilaksanakan di industri atau dunia usaha meliputi:
1. Praktik dasar kejuruan yang dilaksanakan sebagian di sekolah dan sebagian lainnya di industri.
Praktik dasar kejuruan dapat dilaksanakan di industri apabila industri pasangan memiliki fasilitas pelatihan memadai. Namun apabila industri pasangan tidak memiliki fasilitas pelatihan maka kegiatan praktik dasar kejuruan sepenuhnya dilaksanakan di sekolah.
2. Praktik keahlian produktif dilaksanakan di industri dalam bentuk praktik kerja industri (on the job training) berbentuk kegiatan mengerjakan pekerjaan produksi atau jasa di industri atau perusahaan.

Tuesday, 10 February 2009

SAJAK KEPADA AZIS ANGKAT

SAJAK KEPADA AZIS ANGKAT

dan kaulah itu
lelaki yang menyimpan perih
pada paripurna yang tak pernah selesai
sebab, luka rakyat begitu parah
memerah
dan kaulah itu
lelaki yang menjadi korban ketidak berdayaan
rakyat sebab lapar dan dahaga yang semakin
menua setua zaman ketidakberdayaan
ketidakpercayaan
dan kaulah lelaki itu
penebus dosadosa masa lalu pemimpin
yang tak pernah jera menggodam
ketidakberdayaan kami,
rakyatmu

PUISI M. RAUDAH JAMBAK

KAMI HANYA RAKYAT

Kami hanya rakyat yang bisanya hanya
Melumaskan seisi perut, tapi
Para buaya mengatakan rakyat hanya pelumas
Nafsu dalam perutperut panasnya
Kami hanya rakyat yang sekadar penikmat
Segelas air pada sebatas tenggorakkan, tapi
Para buaya berkata rakyat hanya penikmat
Raga mereka yang tak henti menguras keringat
Lalu, adakah diri mereka ketika rakyat
Membutuhkan setetes embun
Pada lapar dan haus kami?
(dan buaya itupun menerkam kepalamu,
mengunyah dan mencabiknya tanpa merasa
berdosa)


MARI BEREMBUK

Mari berembuk kata mereka sambil mengunyah
Sepotong roti dan dengus nafas yang
Memburu.
Mari, ujar kami
Pada aliran ludah yang tak berhenti menetes
Diujung bibir yang kering sekering rindu
Dalam bayangbayang semu

Mari berembuk kata mereka sambil mengayunkan
Godam ke kepala kami yang hanya kami
Pergunakan untuk mencari hidup untuk anak
Dan istri
Mari, ujar lirih kami
Pedih
(lalu mereka bersembunyi meninggalkanmu sendiri)


PENGEMIS BELIA DI SIMPANG JALAN RAYA

entah darimana angin menghembusnya
sepotong koran terjatuh tepat di kaki
seorang pengemis belia

ia membaca berpuluh santri disodomi
gurunya yang mengaku karena sayang
dan cinta

lalu di halaman utama dari sobekan
yang tersisa, ia membaca duka anak-anak
Palestina yang ditinggal mati ayah-ibu mereka

(sebaris anak sungai mengalir deras dari telaga
air matanya)

medan , awal januari 2009
DOA

Tuhan,
aku ingin boneka, untuk kujadikan teman
bermain dan berbagi cerita

Tuhan,
ibu terlalu sibuk menjajakan berbagai
cinderamata,tapi aku selalu dilupa

Tuhan,
ayah larang jangan tambah ibu baru lagi
sebab, kalau aku sudah punya boneka
aku tak perlu siapa-siapa

Tuhan,
berilah aku boneka
amin

medan , awal januari 2009

KEPADA KALIAN ANAK-ANAK PALESTINA


kepada kalian aku sampaikan jangan simpan
sebab kemanusiaan telah menjadi santapan
para hewan yang kelaparan

tidurlah, dik
mimpi indahlah
sebab ibu bidadari telah menanti
dengan senyum seharum kesturi

awal januari, 2009

SEORANG ANAK SEBELUM TIDUR

Tadi pagi seekor kucing tergilas truk
Dan seorang anak menangisinya
Lalu, ibu membujuk sekaligus mengajak
Doa bersama
(si anak berdoa sambil mengeluarkan air
mata)

Siang ini teman sebangkunya jatuh
Dari lantai tiga sekolah taman kanak-kanak
Si anak menangisinya, sebab sepertinya
Ia akan kehilangan kawan bicara
Lalu, Bu guru membujuk teman sekelas
Untuk doa bersama
(si anak berdoa sambil menangis dengan
air mata tersisa)

Malam ini, ia tidak bisa tidur, karena tanpa
Sengaja ia menukar chanel televisi yang
Sedang memberitakan tentang Palestina
Ibu membujuk setengah memaksa, sebab
Bapak tengah mengaum dari kamar tidur
(si anak berdoa sambil menangis kehabisan
air mata)

medan , awal januari 2009



TENTANG SAJAK CINTA 1

Sebuah cinta kau kalungkan menjadi
Seuntai puisi yang tak pernah habishabisnya
Di buku diarymu

Katakanlah sayang
Apakah cinta hanya sebatas katakata
Tanpa pengorbanan?


TENTANG SAJAK CINTA 2

Cinta seperti segelas air sejuk
Yang merambat pada kerontang
Tenggorokanku

Adakah rindu itu
Selain dari sekadar hasrat
Ingin berjumpa?


TENTANG SAJAK CINTA 3

Berlembar sudah surat cinta yang
Kau kirimkan padaku yang
Selama berharihari menunggu
Kecup mesramu di pipiku

Apakah hanya surat sebagai
Pelepas rindu atau kau yang
Tak memiliki waktu untuk menemu?


TENTANG SAJAK CINTA 4

Cintaku padamu bukanlah cinta semu
Cintaku padamu seperti sisipus
Yang selalu menghindar dari batubatu

Cintaku padamu adalah cinta selembut
Salju dan setetes embun penyejuk kalbu
Dalam rindu ada hasrat membara, menggelora

Wednesday, 4 February 2009

Sunday, 28 December 2008

Jones Gultom

Euforia Natal Pada Sebuah Kampung

Jones Gultom

SUARA meriam bambu dari seberang dolok * tetap saja berdentum- dentum, memecah sunyi pada malam yang berkabut di Samosir. Meski rumputan yang basah, mungkin pacet, juga lintah atau serangga- serangga malam lainnya, menempel di kaki yang mengerut, toh semangat dan keriangan anak- anak di kampung saya ketika menyambut Natal dan Tahun Baru, tak pernah surut.

Peristiwa itu adalah momen yang sangat berharga bagi mereka. Tak hanya bermakna religius, euphoria itu justru merupakan puncak dari rangkaian peristiwa gembira lain yang datang beruntun di kampung saya.

Natal dan Tahun Baru selalu ditandai dengan datangnya musim panen. Berbarengan pula dengan libur panjang anak- anak sekolah. Kepulangan mereka mengubah kampung yang biasa sunyi dan adem menjadi ramai dan meriah. Pada hari- hari terakhir, para perantau juga pulang untuk bersilatuhrahmi dengan sanak famili. Kepulangan para perantau, apalagi mereka yang sukses di perantauan biasanya disambut hangat sanak keluarga.
Tak jarang dengan sebuah pesta lengkap dengan iringan musiknya pula. Bisa dibayangkan, bila dua puluh keluarga saja yang melakukan itu, betapa setiap malam pesta tak henti- hentinya digelar. Malam- malam menjadi ramai, oleh musik,handai tolan, anak- anak yang bermain- main di halaman rumah yang berpesta, dan juga pedagang yang ikut ambil kesempatan.

Bagi para perantau, inilah saat yang tepat untuk memamerkan tajinya. Ada yang membawa mobil pribadi, tidak perduli apakah itu cuma rentalan, ada yang mengenakan segudang perhiasan, layaknya toko emas berjalan, ada yang pamer- pamer handphone terbaru dengan berpura- pura mengangkat telepon sekeras- kerasnya sembari berkecak pinggang dan menyebutkan sejumlah proyek.

Selain pamer- pamer harta, soal bahasa dan retorika juga ditata. Mereka yang merantau di kota Megapolitan, tiba- tiba jadi tak tahu berbahasa batak. Dialeknya menjadi kebetawi- betawian, dengan logat retro yang metropolis. Yang agak santun, mencoba tetap menujukkan kebatakannya.

Memang tak semuanya demikian. Ada juga yang biasa- biasa saja. Biasanya kelompok ini adalah mereka yang tak terlalu berhasil di perantauan. Nasibnya di perantauan juga tak jauh beda dengan di kampung. Masih juga mengandalkan tenaga. Soal logat biasa saja. Pun pergaulan, masih kerap mengatakan; “Horas bah!” atau “Bah hamu di lae!”

Kelompok ini masih mau ngumpul di parker tuak bersama teman- teman seangkatannya dulu. Masih tetap ngejreng… ngejreng… minum tuak sambil menyanyi oh inang… oh amang. Walau sesekali dengan latah mencoba lagu terbarunya Kerispatih………

Begitulah hiruk- pikuk Natal di kampung saya. Tidak hanya menyiratkan kemeriahan yang didasarkan kerinduan akan sebuah pesta, tapi juga memperlihatkan bagaimana pola sosial dan psikologi masyarakatnya. Sebenarnya momen ini bisa menjadi acuan untuk mendalami watak dan pola hidup masyarakatnya, seperti yang coba diungkap Baharuddin Aritonang dalam bukunya; “Orang Batak Berpuasa”

Lepas dari semua itu, saya tak mungkin lupa, ketika tiba harinya, pada pagi hari yang masih berembun, lonceng gereja berdentang- dentang, bersahut- sahutan dari satu kampung ke kampung lain. Dan tentu saja, sebarisan anak- anak kecil dengan mengenakan baju, sepatu, rok, celana, pita, dandanan yang baru, terlihat riang dan sedikit tergesa, bergandeng menuju gereja. Mereka bersiap menyambut Natal dengan wajah yang bersahaja! (0815 3328 8476)

* bukit.

Bercakap Dengan Skizopren
Jones Gultom

BEBERAPA waktu lalu saya berkunjung ke Rumah Sakit Jiwa, guna observasi psikologi di sana . Gentar juga, sebab kedatangan saya disambut insiden, ketika seorang pasien hendak melarikan diri dari bangsal. Syukurlah para petugas yang sempat kalang kabut, dengan sigap menyergap dan menangkapnya, kemudian “mengadilinya”

Saya agak tak enak hati, melihat perlakuan mereka. Tapi begitulah, menghadapi skizopren, kadang mesti tanpa simpati.

Saya yang tak punya bekal menghadapi para skizopren ini, sempat bingung, ketika dengan PD masuk ke bangsal, tempat skizopren berkumpul. Padahal lazimnya, observer cukup bercakap- cakap dari balik jeruji jendela; face by face, untuk menghindari kemungkinan yang tak diinginkan.

Saya bingung. Bagaimana saya mewawancarai salah satu dari mereka? Bagaimana caranya agar seorang yang sudah saya pilih sebagai objek, berpisah dari kerumunan itu? Bagaimana pula saya membuka percakapan dan memperkenalkan diri, sementara mereka telah mengerumuni saya? Saya jadi teringat Frodo dan Sam yang terjebak di antara monster pohon yang menakutkan, dalam film The Lord of The Rings.

Merasa terkepung, saya lantas perlu bersandiwara. Dengan serta merta, saya tepuk pundak salah seorang yang paling dekat, layaknya sahabat lama. Dia merespon. Saya Mulailah saya nanya ini- itu. Sementara yang lain masih mengerumuni. Saya merasa seperti sinterklas yang sedang membagikan hadiah natal kepada anak- anak Bosnia .

Saya tak merespon, pura- pura cuek. Saya hanya fokus kepadanya. Tapi mereka tetap saja melungu, seperti pengungsi menunggu sekardus mie dari dalam tenda.

Saya nyaris tak bisa membedakan normal dengan abnormal ketika bercakap- cakap dengannya. Apa yang saya tanyakan dijawabdengan porsi yang pas. Berkali- kali saya tanyakan pertanyaan sama, berkali pula dia menjawab dengan jawaban sama. Saya jadi kesulitan mendiagnosa. Bahkan ketika saya tanya bagaimana dia sampai di tempat ini, dengan jujur dan alur yang rapi dia mengisahkannya.

“Aku diajak bapak untuk melihat kakak yang akan diwisuda dengan menyewa mobil. Tapi nyatanya tiba- tiba aku sudah di sini, padahal aku sehat- sehat saja,” jelasnya.

Yang membuat heran, adalah kemampuannya berkisah dan mengingat satu peristiwa. Nyatalah orang skizopren, yang jiwanya terpecah, ingatannya malah makin kuat.
Berkali- kali dia mengisahkan kekecewaan kepada bapaknya tapi secara bersamaan mengaku rindu. Saya menduga, dia seorang dengan tipe; ‘rindu- rindu benci’ ingin disayangi, di sisi lain menyimpan benci.

Dalam percakapan itupun saya jadi banyak diamnya. Diam mendengar dia curhat. Tentang keluarganya, tentang pernikahannya yang berantakan, tentang anak- anaknya, bahkan tentang nasibnya di RSJ.

Saya mendengar kisahnya dengan khusuk. Saya baru mengintervensi bila dia mulai ngalur ngidul. Hingga tiba- tiba dia berkata; “Kata ibu itu (menyebut petugas) bapakku akan datang siang ini. Kami akan pulang. Tapi kurasa dia takkan datang.” Kalimat itu diucapkannya berkali- kali seperti berharap penegasan saya.

Saya jadi simpati. Saya jadi terpancing untuk berjanji (padahal ini paling dipantangkan bila berhadapan dengan skizopren)

“Datangnya nanti itu!” kata saya. Dia jadi bersemangat. Merasa sadar akan kekhilafan itu, saya langsung meninggalkan bangsal.

Tak berapa lama, ketika duduk- duduk di bangku luar bangsal, dia melintas bersama laki- laki tua. Dia menyapa bahkan menyalami saya. “Aku mau pulang!” katanya bangga. Saya sempat terpelongo. Yang saya tahu dari petugas, mereka hanya mau makan siang di luar. Tapi dia terlalu bersemangat. Dari belakang, saya lihat betapa bangganya dia berjalan saling bersebahuan dengan bapaknya. (0815 3328 8476)



Mati dan Hujan
Jones Gultom

BEBERAPA hari lalu saya melayat seorang sahabat. Bapaknya meninggal karena sakit yang kabarnya tak bisa didiagnosa medis. Tahulah kita, kalau sudah seperti itu, pasti akan muncul pandangan- pandangan beragam dari masyarakat.

Dia seorang pensiunan tentara. Sebagai prajurit, kefanatikannya terhadap satuan memang sangat kental. Beliau masih menyimpan beberapa longsong peluru dan granat di rumahnya. Dia sering menceritakan kisah- kisahnya kepada saya. Terus terang saya terharu, setiap kali, dengan berapi- api, alm bercerita. Hingga akhirnya Minggu pagi, beliau meninggal dan saya turut ikut dalam pemakamannya.

Menjelang kematian, beliau sempat minta dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, tetapi keluarga tidak sepakat, dengan alasan perawatan yang tak bisa dijamin. Beliau maklum dan akhirnya minta dikuburkan di kampung kelahirannya saja.
Inilah tabiat manusia, bahkan saat nafas sudah di ujung hidung saja, toh kita masih perlu tawar- menawar.

Yang lebih menarik perhatian saya ketika dalam perjalanan menuju pemakaman, tiba- tiba hujan turun dengan derasnya. Kondisi itu sempat membuat seisi penumpang dalam mobil jenazah panik. Spontan ada yang berdoa, ada pula yang tiba- tiba melantunkan lagu rohani. Saya lantas ingat fenomena mati dan hujan. Apa benar setiap ada yang mati pasti turun hujan?

Setelah dua jam perjalanan, kami tiba di sebuah kampung, di Tebingtinggi. Bayangan saya, pasti akan ada penyambutan bersedih- sedihan. Apalagi ketika memasuki gerbang kampung, Sang Istri kembali mangandungandung (meratap) katanya; “ Nunga ro hita bapa tu huta ni parsirangan ni (kita sudah sampai di kampung perpisahan)

Saya merinding setiap kali mendengar andungandung (ratapan) semacam ini. Biasanya dalam kematian orang batak, momen inilah yang paling mengaharu- biru. Apalagi jika dia berstatus saurmatua (anak- anaknya semua sudah menikah). Bapak sahabat saya ini statusnya sarimatua (anak laki dan perempuannya sudah menikah)

Saya jadi teringat ompung saya yang sudah saurmatua meninggal beberapa tahun lalu. Kami menghantarkan jenazahnya ke kampung asalnya, Limbong, sebuah desa di kaki Gunung Pusuk Buhit ( gunung yang dianggap tempat asal mula orang batak)

Ambulance yang meraung- raung sepanjang memasuki kampung, seperti mewakili kesedihan kami. Memasuki kampung, orang- orang sudah berbaris di pinggir jalan. Ada yang tertunduk, ada yang menangis tersedu- sedu, ada yang bisik- bisik, ada yang tertawa kecil, ada yang tanpa ekspresi cuma dibalut sarung.

Saya melihat ragam rupa itu dari balik kaca Ambulance. Dan ketika tiba di rumah yang dituju, orang- orang yang sudah berselempangkan ulos, menyambut dengan ledakan tangis, padahal belum lagi peti diturunkan. Betapa gampangnya mereka tersentuh, betapa solidnya hubungan kekeluargaan , meski beliau sudah meninggalkan kampung itu, ketika pertama kali berkeluarga, toh masih disambut hangat.

Entah siapa- siapa saja yang menangis. Adapula yang meraung- raung. Saya yakin mereka tak hanya sekedar menangisi ompung saya, tetapi secara bersamaan juga tengah menangisi dirinya sendiri. Karena dengan matinya ompung saya, mereka jadi terbayang kematiannya sendiri. Maka pada malam- malam berikutnya, mereka (khususnya yang satu angkatan dengan yang meninggal) berbincang- bincang tentang siapa kemudian yang akan menyusul. Mereka cemas. Mereka gelisah.

Sama dengan kematian bapak teman saya, waktu itu hujan juga turun. Bahkan ikut mengiringi pemakamannya sampai di liang kubur. Padahal waktu itu Bulan Mei yang notabene musim kemarau. Saya jadi makin bertanya ada hubungan apa kematian dengan sebuah hujan?

Akhirnya bapak sahabat saya itupun diturunkan. Hujan belum juga reda. Di dalam bus orang- orang saling menatap. Mungkin saling bertanya; “Siapa lagi sesudahnya?” (0815 3328 8476)


Cacing
Jones Gultom
PAGI hari sekali saya sudah memburu cacing- cacing di balik- balik tanah lembab ladang saya. Keponakan saya sakit. Kena gejala thypus. Menurut pengobatan tradisional, cacing merupakan salah obat yang ampuh untuk jenis penyakit itu. Tapi sampai nyaris satu jam, saya baru mendapati tidak lebih dari lima ekor yang kecil- kecil, merah- merah dan masih sangat belia. Padahal dalam bayangan saya, tiga- lima kali cangkul saja, saya akan mendapatkan setidaknya setengah cangkir binatang melata itu. Kenyataan itu membuat saya berpikir, “Kemana gerangan cacing- cacing pergi?”
Saya lantas teringat satu cerita tentang cacing yang ditulis Anthony de Mello, SJ, penulis yang juga seorang imam. Kalau tidak salah bukunya berjudul “Doa para binatang”
Saya tak pasti. Tapi dalam ceritanya itu, dikisahkan bagaimana para binatang berdoa dan mengadu kepada Sang Pemilik Semesta.
Doa si cacing kira- kira bunyinya begini, “Oh Tuhan aku adalah binatang yang paling lemah dan tak berdaya. Tidak punya kaki apalagi tangan. Aku sembunyi di balik- balik tanah. Dan aku tak pernah bisa menikmati sinar matahari. Hidupku tersuruk dari satu lubang ke lubang lain di dasar tanah. Meski begitu aku sangat bahagia dan patut bersyukur, karena meski demikian tugasku sungguh begitu mulia. Aku menggemburkan tanah sehingga menjadi subur, dan manusia bisa bercocok tanam di atasnya. Tapi aku juga sedih, akhir- akhir ini aku dan sahabat- sahabatku sedang diteror manusia untuk dijadikan umpan pancing mereka. Pernah aku melihat sahabatku dicucuk perutnya dengan mata kail. Aku melihat sahabatku itu menggelepar kesakitan. Yang tidak fair lagi, ketika manusia mengatakan, ‘dasar cacingan!” untuk mengejek saudarnya yang malas- malasan. Apa dikira manusia kami makhluk pemalas? Aku sadar Tuhan, bahwa kami diciptakan memang untuk mencukupi kebutuhan hidup manusia. Biarlah begitu asalkan manusia dapat tetap mempertahankan hidupnya. Dengan begitu manusia selalu bisa mengucap syukur padaMu.”
Saya sempat termenung. Apakah cacing- cacing saat ini, tepatnya pagi ini, lagi ngambek, lagi merajuk, sehingga tak mau keluar untuk membantu pengobatan ponakan saya?
Atau mereka sengaja melakukan itu untuk menyadarkan dan mengetuk hati, bahwa manusia, terutama saya akhir- akhir kurang bersyukur atas segala hidup yang telah saya terima?
Saya jadi malu. Saya merasa kecil dan tak lebih melata dari cacing. Mestinya saya sadar diri untuk segala yang telah saya terima dari alam, termasuk sumbangsih seekor cacing. Karenanya saya merasa perlu lebih bijak lagi, takdir saya sebagai manusia yang tercipta secara sempurna.
Maka pagi itu, di ladang itu, saya bernyanyi- nyanyi sendiri sambil terus mengayunkan cangkul, “Cacing- cacing janganlah bersembunyi. Saya membutuhkan kalian. Keluarlah mari kita saling berbagi dan melengkapi.” Tepat saja, setelah mendendangkan mantra itu, berkeluaranlah cacing- cacing dari onggokan tanah di mata cangkul saya. (MedanBisnis 9 Nopember 2008/ 0815 3328 8476)