Tuesday, 11 November 2014

BALADA GURU HONORER




Penulis: Muhammad Saleh

             BELUM lagi hilang lelahku sehabis mengajar. Istri ku, Ratih, dengan wajah masam sambil berkacak pinggang langsung berujar.
            “Kalau honor Mas mengajar di sekolah hanya 350 ribu sebulan, mana cukup untuk memenuhi kebutuhan kita. Sekarang, kita sudah punya anak, Mas,” ingatnya berapi-api.
            Hah..., sebenarnya aku sangat malas meladeni, bahkan bosan. Tiap kali aku menyerahkan honorku. Pasti dia ngomel tak karuan. Seharusnya dia ikut bersyukur. Bulan ini honorku dinaikkan pihak sekolah 50 ribu sebulan dari sebelumnya. Tapi, memang dasar tabiat istriku seperti itu. Bawaannya ngomel melulu. Salah ini diomelin. Salah itu juga diomelin. Nasib...! Nasib...!
            “Ya, mau gimana lagi, Bu. Pihak sekolah hanya mampu membayar Mas segitu.” ucapku dengan terpaksa.
            “Mas berhenti saja jadi guru,” sahut Ratih enteng. Masih dengan suara cemprengnya yang memekakkan gendang telinga. Kalau harus memilih, mungkin aku lebih suka mendengarkan musik-musik cadas. Dari pada suara Ratih.
            “Maksud Ibu?”
            “Mas cari kerjaan lain saja. Percuma jadi guru honorer. Sudah lima tahun mengabdi, belum juga di angkat jadi PNS.”
            Ah, baru sadar aku. Ternyata sudah lima tahun aku menjadi guru honorer, di sebuah sekolah dasar di kampungku. Aku mengajar sejak semester akhir kuliah. Di tahun ke-empat, ku putuskan untuk menikahi Ratih. Sebab dia mau menerima aku apa adanya.
Tetapi, niat hatinya menerimaku dengan apa adanya hanya sampai di tahun pertama. Di tahun ke-dua, apalagi setelah mempunyai anak. Ratih mulai mempermasalahkan penghasilan kecilku sebagai guru honorer. Ia terus menggerutu dan mengomel karena terus kekurangan uang untuk membeli keperluan rumah tangga dan dapur.
Aku tak tahu ini salahku atau salah pemerintah. Kenapa sampai sekarang aku masih belum menjadi PNS? Padahal aku tak pernah ketinggalan mengisi formulir yang diberikan kepala sekolah, untuk mengisi data yang akan dimasukkan ke dalam data base.
Mungkin tak hanya diriku yang bernasib seperti ini. Ratusan, bahkan ribuan guru honorer di daerah lain. Nasibnya juga tak berbeda jauh dariku. Hanya mengharap “Belas Kasihan” Pemerintah agar segera di angkat menjadi Pegawai Negeri Sipil, seperti harapan.
“Mau kerja apa? Mas bisanya cuma mengajar,” elakku.
Mengajar adalah panggilan jiwa. Aku sangat mencintai profesiku sebagai seorang guru. Aku juga punya harapan untuk memajukan kampung halamanku ini. Dengan menciptakan generasi-generasi yang cerdas melalui ilmu yang ku transfer di bangku sekolah.
“Kerja apa, kek, yang penting penghasilannya lebih besar dari ini.” Ratih menghempaskan uang yang tadi ku berikan ke atas meja. Lalu masuk ke kamar, sebab terdengar suara tangisan anakku yang tadi sedang tidur. Mungkin terbangun karena mendengar suaranya ibunya yang nyaring.
Sebelum punya anak, Ratih bekerja di warung makan Haji Bardi, sebagai pelayan. Upahnya cukup lumayan untuk menambah keuangan keluarga. Setelah punya anak, dia berhenti, karena harus merawat bayi kami. Kini hanya aku, satu-satunya menjadi tumpuan untuk menghidupi mereka.
Barulah aku tahu, alasan dia selalu marah-marah tak karuan. Ia ingin aku cari kerjaan lain rupanya. Ah, apakah aku terlalu bodoh selama ini? Sehingga tak mengerti keinginannya. Mungkin, ia ingin seperti tetangga yang lain. Yang segala kebutuhannya bisa terpenuhi. Bahkan lebih. Mereka bisa beli ini dan itu. Sedangkan istriku?
Namun, aku masih bersyukur. Ratih kuat menyimpan rahasia. Ia tak pernah bercerita ke tetangga akan keadaan rumah tangga kami. Ia selalu dapat berpura-pura, bahwa keluarga kami tak pernah kekurangan. Bahkan, terlihat sangat harmonis. Sehingga banyak keluarga lain yang terlihat iri.
Itu ku ketahui ketika aku mau membeli pisang goreng di warung Acil Rahmah. Tetapi, harus menunggu karena pisang gorengnya belum matang. Seraya menunggu, aku pun di ajak mengobrol warga lain.
“Kamu ini beruntung, Man,” kata Bang Salim. “Sudah istri cantik, pengertian lagi,” lanjutnya tampak iri.
“Maksud, Abang?” tanyaku bingung. Lalu duduk di sampingnya, di kursi panjang di dekat meja.
“Masa kamu tak paham sih, Man,” Acil Rahmah yang sedang membolak-balik pisang goreng dalam wajan langsung menyahut. “Istri kamu, tuh, tak seperti istrinya si Salim ini, yang suka marah-marah minta dibelikan ini dan itu...”
Hup..! Apakah jawaban Acil Rahmah yang spontan ini tak ada maksud untuk menyindirku juga?.
“Aku tak pernah mendengar kalian bertengkar, saat lewat depan rumahmu,” kata Bang Salim lagi. “Padahal aku tahu, penghasilanmu sebagai guru honorer, tak lebih besar dariku yang hanya penarik becak.....”
Ah, malu juga rasanya. Jadi guru, tetapi, penghasilannya lebih kecil dari penarik becak.
“Dari itu aku berkesimpulan, bahwa istrimu itu orang yang pengertian.” Bang Salim meniupkan asap rokoknya dengan kasar ke udara. “Kalau aku, hampir tiap hari bertengkar. Hanya gara-gara masalah duit.”
Oh, leganya juga rasanya. Ternyata selama ini tak pernah ada yang tahu keadaan dalam rumah tangga kami yang sebenarnya. Aku memang sering mengalah, bila Ratih sudah mulai mengomel. Ku ambil pancing, pergi ke pematang sawah. Memancing ikan papayu, ataupun saluwang. Bila beruntung, aku bisa dapat 20 ekor lebih. Itu sudah cukup untuk meredam kemarahan Ratih.
Seandainya, sikapku seperti Bang Salim–yang selalu meladeni istrinya bila marah. Dapat di pastikan, di rumahku bakal terjadi “Perang dunia ke-3” bahkan, sampai dua kali dalam sehari.
Ah, bagaimana ini? Apakah memang aku harus berhenti mengajar? Demi memenuhi keinginan Ratih. Pusing.....!.
Suara tangis anakku tak terdengar lagi. Ia sudah tertidur kembali. Tapi....ah, lebih baik aku pergi memancing saja. Kalau Ratih keluar kamar, pasti dia akan melanjutkan marahnya. Cepat ku ambil joran pancing di belakang rumah.
“Mas.....!” teriaknya.
Aku pura-pura tak mendengar. Terus ku kayuh langkah menuju pematang. Semoga saja aku dapat ikan banyak lagi kali ini.
***
            Sebelum berangkat ke sekolah, aku beranjak ke meja makan untuk sarapan. Saat ku buka tudung saji. Kosong. Tak ada masakkan apapun seperti biasanya. Ku lirik Ratih, dengan cueknya dia menyusui bayi kami.
            “Ibu tak masak?” ku hampiri Ratih. Tanpa senyum, ia langsung menyahut ketus.
            “Mau masak apa? Beras kita hanya tinggal setengah liter. Cukup untuk makan siang saja.”
            Aku tak lagi menyahut. Ku tinggalkan saja ia, lalu mengambil buku paket di atas meja. Kalau ku tanya lebih lanjut. Pasti jawabannya, mau beli beras pakai daun pisang. Dengan perut keroncongan, ku kayuh sepeda onthel-ku menuju sekolah.
            Pengeluaran semakin meningkat, seiring semakin besarnya anak kami. Dari mulai popok, susu, bubur, dan pakaian. Ternyata, honorku selama satu bulan, tak cukup lagi untuk membiayai keluargaku selama satu minggu.
***
            Di sekolah, aku mengajar dengan lemas. Perutku terasa sangat lapar. Melilit-lilit. Jam istirahat masih lama. Mau pergi ke kantor guru, untuk minum duluan, malu sama guru-guru yang lain. Dengan sangat terpaksa ku tahan rasa lapar ini.
            “Pak, soal nomor 1, saya tak mengerti,” kata salah seorang muridku yang duduk di bangku depan.
            Untuk saat ini, aku jauh lebih senang kalau tak ada satu murid pun yang bertanya, dengan begitu aku tak perlu membuang energiku yang hampir drop ini. Tapi, apa mau di kata, sebagai seorang guru aku harus dengan sabar menjelaskan pada murid-murid agar mereka mengerti.
            “Pak, kok, enggak di jawab, sih!” kata muridku lagi. Kelihatannya dia mau merajuk.
            “I-iya, Bapak akan jelaskan.”
            Dengan sisa tenaga yang masih ada, ku mencoba menjelaskan secara perlahan bagaimana cara menyelesaikan tugas latihan yang tadi ku berikan. Semakin lama menjelaskan, suaraku semakin lemah. Sehingga murid-muridku yang duduk paling belakang langsung protes.
            “Pak, nyaringin sedikit dong suaranya. Enggak kedengeran.....”
            Kembali ku coba mengangkat suaraku. Agar semuanya bisa mendengar. Kali ini lebih parah lagi. Pandanganku mulai menguning. Berkunang-kunang. Bahkan, huruf dan angka yang ku tulis di whiteboard terlihat buram.
            Krrrrruuuukk! Suara perutku.
            Seiring dengan tawa murid-muridku yang langsung membahana menghantam dinding-dinding  kelas. Aku ambruk ke lantai, dan semuanya gelap.
***
            Bau minyak angin menusuk rongga hidungku. Ku buka kelopak mataku pelan. Warna putih langit-langit ruangan langsung menyapa retinaku. Ku coba mengenali aku berada di mana. Apakah di rumah sakit? Atau di rumah?.
            “Alhamdulillah, Pak Herman sudah sadar, Bapak ada di ruang UKS.” suara Kepala Sekolah menjawab keingintahuanku.
            Walaupun masih terasa pusing, ku coba untuk bangun. Duduk di bibir ranjang. Bu Tini, langsung menyodorkan teh panas ke hadapanku.
            “Minum, lah, dulu, biar badanmu bertenaga kembali”
            Tanpa membantah, langsung ku tenggak separo gelas. Ah, sedikit tenang rasanya cacing-cacing dalam perutku.
            “Ini nasi bungkusnya, Pak” Pak Raji tergopoh-gopoh memasuki ruangan. Menyerahkan sesuatu dalam kresek hitam kepada Kepala Sekolah.
            Kepala Sekolah tersenyum, kembali menghampiriku. “Kata murid-murid, Pak Herman pingsan mungkin gara-gara kelaparan. Jadi kami belikan nasi bungkus ini untuk Bapak.”
            Ragu-ragu ku sambut nasi bungkus itu. Ku tatap semua yang ada di ruangan. Semua tersenyum. Ah, jadi malu sendiri. Ketahuan pingsan gara-gara kelaparan.
            Bel jam pelajaran baru kembali berbunyi. Semua guru dan Kepala Sekolah kembali untuk mengajar. Tinggalah aku sendiri di ruang UKS sambil menghabiskan nasi bungkus ini.
            Tiba-tiba aku aku tertegun, teringat wajah Ratih dan anakku. Sanggupkah mereka menahan lapar? Sedangkan aku saja pingsan. Ini baru sehari, bagaimana dengan hari-hari -->?. Pasti akan lebih sering kejadian seperti ini terulang padaku.
            Mungkin, aku harus mengingkari panggilan jiwa. Aku tak boleh egois. Ratih dan anakku merupakan amanah. Tak tega, membiarkan mereka harus mendera lapar karena tak dapat membeli beras dan susu. Sebagai seorang suami tentu tak menginginkan itu terjadi.
            Ratih benar, lebih baik aku berhenti mengajar dan mencari kerjaan lain. Tak ada yang bisa di harapkan dari gaji seorang guru honorer untuk bisa menghidupi keluarga.
Di otakku kini sudah bertebaran kata-kata yang akan ku susun dalam surat pengunduran diri.

Barabai, 27 Maret 2011
Dari Ibnu Mas'ud RA dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Apabila seseorang memberi nafkah untuk keluarganya dengan niat mengharap pahala maka baginya (pahala) sedekah.” (HR. Bukhari)  

Harapan Guru Zulkifli




Cerpen Muftirom Fauzi Aruan* (Republika, 30 Maret 2014)
Harapan Guru Zulkifli ilustrasi Rendra Purnama
BARU saja Guru Zulkifli pulang dari mengajar di sekolah tempat ia mengabdi. Sekarang, ia sedang berbaring di atas ranjangnya dan masih mengenakan seragam yang sama. Ia menatap langit-langit kamar. Pikirannya melayang pada sesuatu yang begitu ingin digapainya pada pertengahan tahun ini.
Adalah seorang perempuan, kekasih dari Guru Zulkifli, yang selalu meminta agar ia segera menikahinya. Tapi, betapa berat bagi Guru Zulkifli untuk mendapatkan biaya pernikahan yang telah ia kumpulkan tiga tahun belakangan ini. Begitu juga, uang tabungan dari hasil mengajar sebagai guru honorer, tetap tak cukup untuk ongkos perkawinannya. 
Demikianlah Guru Zulkifli. Pikirannya begitu berat memikirkan gaji sebagai guru honorer. Membeli bahan bakar sepeda motornya pun tiap harinya bila diperhitungkan per bulannya hampir tak memadai. Belum lagi, uang cicilan kredit sepeda motor tiap bulannya. Uang yang mana lagi yang mau disisihkannya untuk menabung? Maka, ia harus lebih hemat dan mempertimbakan segala sesuatunya untuk mengeluarkan uang dari dalam dompetnya.
“Tak sampai sejuta, Pak. Namun, dari pada dua tahun lalu, lumayanlah yang sekarang ini.” begitulah jawaban Guru Zulkifli tempo hari ketika calon mertuanya bertanya tentang gajinya sebagai guru honorer.
“Tak apa Zul! Butuh proses itu. Tapi, kau usahakanlah pertengahan tahun ini kau nikahi Azizah. Maklumlah, kalau perempuan memang selalu tak sabar.”
“Insya Allah, Pak. Saya pun sudah menabung.”
Dua keluarga dari pihak Guru Zulkifli dan Azizah telah setuju atas hubungan mereka. Begitupun, keluarga Guru Zulkifli selalu mendesak.
“Sudah cocok kalian itu. Manis si Azizah itu, tampaknya salehah pula dia, suka Ayah menengoknya! Janganlah lama-lama Zul! Nanti diserobot orang pula dia!” begitu pesan ayah Guru Zulkifli ketika Azizah diperkenalkan pada ayah dan ibunya di rumah mereka.
Namun, semua orang hanya tahu di luarnya saja, sedangkan tekanan batin dan pikiran Guru Zulkifli orang-orang tak mau peduli. Hanya sesama guru honorerlah yang mengerti perasaan satu sama lain.
“Memang begitu Zul kalau jadi Guru honorer! Abang pun setelah ada sertifikasi ini baru bisa bernapas. Kalau enggak, makan telur dan mi instan saja kami tiap hari. Bisa-bisa, bisul pun bertumbuhan di mana-mana! Begitupun kau, harus sabar dulu. Ada saja jalan rezeki itu, Zul.”
***
Beberapa tahun lalu, Guru Zulkifli mengikuti ujian calon pegawai negeri sipil (PNS).  Tetapi, nihil hasilnya. Bukan ia kalah dalam mengerjakan tes ujian, melainkan sesuatu yang mengucur ke saku oknum-oknum bejat yang tak mementingkan orang-orang pintar yang layak menjadi PNS menyebabkan Guru Zulkifli harus tersingkir dari persaingan yang tak lagi sehat. Begitulah bila tak memiliki uang di negeri kita ini!  Keluh Guru Zulkifli pada sesama teman yang gagal lulus menjadi PNS.
Tak hanya menjadi guru honorer, Guru Zulkifli pun pernah membuka usaha kecil-kecilan menjual pulsa “berjalan”. Tapi, menjadi tak lancar ketika orang-orang lebih banyak memilih utang. Dan, akhirnya pun Guru Zulkifli memilih tak lagi berjualan.
“Tunggu gajian ya Pak Guru, baru saya bayar.”
“Ya sudah tak apa-apa.” Begitu jawab Guru Zulkifli ketika masih mencari pelanggan.
Sempat pula Guru Zulkifli mengikuti program multi-level marketing (MLM). Tapi, itu tak berapa lama.
“Semakin tak jelas pula programnya! Masa, disuruhnya aku beli produk- produk mereka. Ah, meskipun diiming-imingi melancong ke luar negeri, sudah cukup sampai di sini sajalah usaha marketing-marketing ini!” keluh Guru Zulkifli pada Azizah, tempo hari.
“Kalau begitu menurut Abang. Tak usahlah lagi dilanjutkan, Bang!”
Banyak usaha Guru Zulkifli untuk mendapatkan uang tambahan supaya ditabung sebagai modal segala keperluan pernikahannya dengan Azizah. Tapi, Guru Zulkifli belum pernah berhasil mendapatkan dari usaha lain, selain menjadi guru honorer.
***
Guru Zulkifli bangkit dari rebahannya, ia berjalan keluar kamar menuju meja makan. Ia mendapati di meja makan itu tempe goreng dan mi instan yang dimasak tadi pagi untuk sarapan. Memang, hampir tiap hari ibunya memasak seperti itu.
Apa saja yang dimasak untuk sarapan, itu pula lauk ketika makan siang. Pun, jarang sekali mereka memasak ikan, apalagi daging. Tapi, betapa Guru Zulkifli tahu, mendapatkan uang begitu susah. Apa pun lauk yang tersaji, itulah yang harus dinikmati dan disyukuri.
Tiba-tiba, ibu dari Guru Zulkifli menghampirinya di meja makan.
“Zul, uang listrik dan air sudah dua bulan tertunggak. Keperluan dapur pun mulai habis. Ayahmu itu minta dibelikan rokok.” lapor ibu pada Guru Zulkifli.
Memang, semenjak ayahnya pensiun dari pekerjaannya dan gaji pensiunannya pun tak seberapa, Guru Zulkifli-lah yang menanggung biaya kebutuhan keluarganya.
“Iya Mak, nanti Zul bayar. Tapi, mengapa pula ayah minta belikan rokok?”
“Entah! Makin tua ayahmu itu makin deras dia merokok. Macam asap knalpot lah!Dilarang tak bisa!”
“Iya, nanti Zul belikan juga rokok ayah.”
Sebenarnya, Guru Zulkifli, pekan ini, tak memiliki cukup uang membayar uang listrik dan air, pun dengan rokok ayahnya. Pada pekan depan, tepat awal bulan, baru Guru Zulkifli gajian. Tapi, untuk rokok bisa saja Guru Zulkifli utang terlebih dulu di kedai tetangga. Untuk uang listrik dan air, awal bulan depan jugalah dibayarnya.
“Jangan lupa Zul!” pesan ibunya.
“Iya!”
***
Malam ini, Guru Zulkifli berkujung ke rumah Azizah. Mereka bercakap-cakap di beranda rumah. Di atas langit sana bulan purnama menaungi malam.
Ada hal serius yang ingin dibicarakan Guru Zulkifli pada Azizah. Maka, percakapan malam ini menjadi tegang. Tampak jelas di raut wajah Guru Zulkifli dan Azizah.
“Memang tak bisa diundur lagi Dik Zizah?! Tahun depan sajalah!” Kata Guru Zulkifli.
“Bang! Dari tahun ke tahun, Abang selalu bilang begitu. Selalu diundur! Selalu diundur! Lama-lama Zizah bisa jadi perawan tua, Bang!” kata Azizah sedikit marah.
“Bukanlah begitu maksud hati abang, Dik! Tapi, Dik Zizah tahu sendirilah, selama menabung ini, belum cukup uang abang, Dik! Mungkin tahun depan sudah cukuplah!”
“Untuk tahun depan, abang pun belum yakin! Masih abang bilang, mungkin! Misalnya, tahun ini tak jadi, di tahun depannya pun abang bilang, belum cukup tabungan abang Dik Zizah, di tahun depan sajalah! Berilah kepastian sama adik, Bang! Tak mudah menahan rasa menunggu dan terus menunggu, Bang!” kata Azizah ketus.
Guru Zulkifli hanya bisa diam. Ia benar- benar dilema. Ia tahu perasaan Azizah dan ia juga tahu dengan kondisi keuangannya sendiri.
“Iyalah Dik Zizah! Di pertengahan tahun ini pun kita nikah. Bagaimana pun abang usahakan. Abang sayang sama Dik Zizah!”
***
Tepat di pertengahan tahun. Acara resepsi pernikahan.
“Cantik sekali Azizah hari ini!”
“Iya. Memang selalu cantik dia. Serasi pula dengan laki-lakinya! Ganteng!”
“Serasi pun dengan pelaminnya!”
“Iya. Komplitlah sudah!”
Mendengar percakapan para undangan itu, Guru Zulkifli hanya tersenyum. Betapa ia menyadari bahwa Azizah memang cantik. Maka dari itu pula ia mencintai Azizah sampai saat ini. Meskipun, ia hanya bagian dari tamu undangan.
“Selamat ya Azizah! Beruntung kali Paribanmu itu!” kata Guru Zulkifli dalam hati. Ia tersenyum ketika menyalami kedua mempelai di atas pelaminan.
Guru Zulkifli pulang ke rumahnya dengan hati yang hampa.

*Alumnus Fakultas Tarbiyah IAIN Suma tra Utara Tahun 2012. Aktif di FLP Sumatra Utara.

Kang Guru




Giyato***
Pak Broto tersenyum. Dibayangkannya mantan muridnya yang sekarang jadi bupati akan menyambutnya dengan hangat. Prasojo, murid kesayangannya dulu, kini telah menjadi bupati. Terik matahari menyengat tubuhnya. Angin musim kemarau yang mendesau membawa debu tak dihiraukannya. Ia terus mengayuh sepeda tuanya sepanjang 45 kilometer. Dengan satu tujuan, bertemu Prasojo dan minta bantuannya agar memperjuangkan nasibnya menjadi PNS. Sudah 25 tahun ia menjadi guru wiyata bakti, tak juga diangkat menjadi PNS. Malah sekarang karena sudah usia 45 tidak bisa menjadi PNS. Selamanya menjadi guru wiyata bakti.
Menjadi guru adalah cita-cita Pak Broto sejak kecil. Siang malam dia belajar sungguh-sungguh untuk mewujudkan impiannya. Usahanya tidak sia-sia. Setamat dari SPG, dia menjadi guru di SD Kangsi. Di usianya yang masih sangat muda, ia sudah menjadi guru. Tentu dengan sebutan “Mas Guru”, bukan “Pak Guru”. Sebutan yang sangat prestisius. Tak heran jika banyak orang yang mengaguminya bahkan berniat menjadikannya sebagai menantu. Termasuk Lurah Kangsi, ayahnya Nur, yang sekarang jadi mertua Pak Broto.
Wong jujur, sak tiba malange mujur. Itulah yang diyakini Pak Broto. Memang zaman sekarang sulit mencari orang jujur. Bagai mencari jarum dalam jerami. Banyak orang pinter tapi keblinger.  Pak Broto memang sangat menjaga kejujuran. Itulah sebabnya ia masih menyandang status sebagai guru wiyata bakti. Ketika dulu dia ditawari menjadi PNS dengan syarat membayar sepuluh juta, dia tidak mau. Alasannya jelas, bertentangan dengan hati nurani, terlebih lagi dilarang oleh agama. Pernah mertuanya memberi saran agar dirinya bisa menjadi PNS.
”Broto, kalau kamu benar-benar ingin menjadi PNS, kamu harus punya sertifikat.” ujar Lurah Kangsi sambil leyeh-leyeh di kursi goyang di pendapa.
”Nggih Pak, saya sudah punya sertifikat Akta II. Jadi, saya sah dan layak mengajar di SD.” jawab Broto sambil menikmati teh buatan istrinya.
”Bukan itu Broto. Kalau sertifikat semacam itu, banyak yang punya. Ini beda.”
”Beda Pak? Maksud Bapak?”
”Broto.. Broto.. jadi orang jangan terlalu lugu. Jangan terlalu jujur. Sertifikat yang kumaksud sertifikat tanah, bukan sertifikat yang kamu peroleh di kampus. Asal kamu bawa sertifikat tanah ke pejabat-pejabat itu, pasti kamu bisa jadi PNS. Kamu pakai saja sertifikat tanah milikku di sebelah timur desa. Ladang tebu itu.”
”Tapi itu tidak halal Pak. Sama saja menyuap. Apa Bapak mau anak-anakku, cucu-cucu Bapak, diberi makan makanan yang tidak halal? Tidak barokah Pak.”
”Benar juga kamu. Zaman sekarang sulit menemukan orang seperti kamu, Broto. Bapak bangga. Ya sudah, dilakoni  apa adanya saja. Wolo-wolo kuwato. Gusti ora sare.”
***
Pak Broto telah sampai di kantor kabupaten. Sepeda tuanya ditaruh di bawah pohon mangga dekat parkiran sepeda motor. Dilepaskannya topi yang sudah butut itu dari kepalanya. Dikipas-kipaskan sebentar, lalu diletakkan di sadel. Ia meghirup napas dalam-dalam. Wajah tua penuh keringat itu mengguratkan perjuangan yang terlalu berat. Ia tersenyum. Meski usia sudah hampir setengah abad, gigi Pak Broto masih terawat. Dia melihat mobil-mobil yang berjejer satu demi satu.
”Semua mobil mewah ini berplat merah. Semua model terbaru. Ini dibeli dengan uang rakyat. Uang saya juga. Sepertinya enak juga jadi pejabat. Ke mana-mana pergi dengan mobil mewah. Asal ada SPPD, Surat Perintah Perjalanan Dinas, biaya ditanggung negara. Ditanggung rakyat jelata. Apalagi jadi bupati seperti Prasojo. Ah, mungkin yang hitam itu mobil Prasojo. Nomor platnya 1.” gumamnya dalam hati.
Dia menduga-duga mobil mantan muridnya. Kembali ia teringat pada Prasojo. Sejak kecil anak yatim itu memang berotak encer. Meski Prasojo berasal dari kampung yang sangat miskin, prestasinya sangat cemerlang. Memang untuk biaya SPP saja ibunya  tidak mampu membayar. Tapi karena cerdas, semua guru simpati padanya. Termasuk Pak Broto yang waktu itu masih bujang. Diapun bersedia menanggung biaya sekolah Prasojo. Dengan gaji yang sangat kecil, Pak Broto sebenarnya merasa berat. Tetapi dia ingin anak didiknya berhasil. Dia pun meyakini kalau menolong orang lain, suatu saat ia akan ditolong. Sejak itu Prasojo sudah dianggap sebagai adik sendiri dan Pak Broto pun mendapat panggilan baru. ”Kang Guru” bukan ”Mas Guru” .
Ketika lulus SD, ibunya  Prasojo meninggal terkena TBC. Untuk bisa melanjutkan belajar ke kota, Pak Broto yang pontang-panting mengurus beasiswa. Sampai akhirnya bisa sekolah di kota, kemudian menjadi anak angkat seorang camat. Kabar selanjutnya, Prasojo mendapat beasiswa ke prancis. Setelah itu Pak Broto tidak tahu kabar Prasojo lagi. Tahu-tahu ada kabar Prasojo telah menjadi bupati di kabupatennya.
Pak Broto sudah berada di Kantor Sekretariat Daerah, kantor milik Prasojo.  Dibayangkannya nanti Prasojo akan menyambutnya dengan pelukan dan berkata, ”Kang Guru, pripun kabare? Bagaimana kabar Ibu, Dik Siti, Dik Rohmah? Wah, Kang Guru masih tetap gagah. Ayo Kang, silakan duduk dulu!” Dibayangkannya pula Prasojo akan buru-buru menyuruh ajudannya untuk mengambilkan minuman dan makanan. Dan dia akan memberikan lukisan ”Senja di Desa” karyanya kepada mantan muridnya itu.
Seorang pemuda yang kira-kira berusia  25 tersenyum pada Pak Broto. Di dadanya tertera nama ”Raharjo”. Ajudan Bupati.
”Silakan Pak, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya ramah
”Saya mau bertemu Pak Bupati, Mas?”
”O, Pak Bupati masih ada tamu. Silakan isi buku tamu dulu Pak.  Nama, alamat, dan keperluan.  Setelah itu Bapak bisa menunggu di kursi itu.” tangan ajudan itu menunjuk deretan kursi yang disediakan di ruang tunggu.
Pak Broto mengisi daftar tamu itu. Timbul keinginannya untuk iseng. Ia ingin Prasojo langsung ingat dia adalah gurunya dulu. Ditulisnya nama ”Kang Guru” alamat ”Kangsi, Karangsari” keperluan ”Bertemu Anak Hilang”. Ajudan itu terbengong-bengong melihat tulisan di buku tamu itu.
Satu jam sudah Pak Broto menunggu. Tamu-tamu keluar masuk ke ruang bupati. Tamu Pak Bupati semua orang besar. Kepala-kepala dinas dan pengusaha-pengusaha kaya. Tiga jam berlalu. Dia bertanya-tanya dalam hati mengapa belum dipanggil juga.
”Pak, giliran Anda.” ajudan itu mempersilakan Pak Broto.
Pak Broto berdebar-debar. Dia bayangkan Prasojo yang dulu kucel dan kurus  sekarang berjas rapi dan sudah jadi gemuk. Dia ragu mau mengetuk pintu. Diliriknya kaca besar di dinding. Dia ingin pastikan dandanannya rapi. Bismillah… dimantapkannya hatinya. Pintu dia ketuk kemudian dia dorong hingga terbuka.
”Prasojo…! ”
”Pak Broto, senang berjumpa dengan Anda. Ada yang bisa saya bantu?”
Lelaki tambun yang ada di hadapan Pak Broto itu tidak beranjak dari tempat duduknya. Dia hanya mengulurkan tangan. Pak Broto menyambut uluran tangan Prasojo. Keduanya berjabat tangan. Pak Broto yang telah lama menjadi guru menangkap ketidakwajaran dalam senyuman Prasojo. Harapan Pak Broto untuk mendapat sambutan yang hangat, sia-sia. Dia tak akan pernah mendengar mulut Prasojo mengucap ”Kang Guru” lagi. Dia pun tidak akan memanggil Prasojo lagi, sebutan Prasojo sekarang adalah Yang Terhormat Bapak Bupati.
”Begini Pak Bupati, kedatangan saya ini mau menyampaikan keluhan. Ini terkait nasib saya Pak, juga guru-guru yang lain. Bapak kan tahu saya sudah lama menjadi guru. Sudah 25 tahun. Tapi saya tidak bisa diangkat sebagai PNS gara-gara usia saya sudah 45 tahun. Apa kebijakan itu tidak bisa diubah Pak?”
”O, masalah itu Pak. Ya, nanti saya koordinasikan dengan kepala-kepala dinas dan anggota dewan untuk menemukan solusi terbaik. Dan mohon maaf, saya sebentar lagi ada pertemuan dengan Bapak Gubernur.”
Pak Broto sadar kedatangannya tak diharapkan dan mengganggu pekerjaan Prasojo. Buru-buru dia pamit. Ketika di ruang tunggu, ditatapnya ajudan bupati itu. Pak Broto mengeluarkan lukisan yang dibungkus koran. Diberikannya pada pemuda itu.
”Untukmu, lukisan ”Senja di Desa”. Di dalamnya  terukir goresan cinta seorang guru pada muridnya. Rasa kasih yang terpatri di hati dan doa yang tak pernah kering untuk keberhasilan seorang bocah desa.”
Pak Broto keluar mengambil sepedanya. Dikayuhnya sepeda tua itu meninggalkan kantor mantan muridnya. Panas menyengat. Keringat membasahi tubuh dan dahi Pak Broto. Ada sesuatu yang merembes dari matanya. Mengalir ke pipinya. Terasa hangat. Tiba-tiba dia tersenyum.
” duh Gusti, Alkhamdulillah, matur nuwun. Muridku telah menjadi bupati.”

*** Guru Bahasa Indonesia SMP N 2 Jatiyoso. Ketua Umum Komunitas Pembaca Kabupaten Karanganyar

Thursday, 27 March 2014

JAGOAN BALASAN JANDA HPP


BALASAN JANDA HOM PIM PAH - SUTRADARA M. RAUDAH JAMBAK

BALASAN JANDA HOM PIM PA Berhasil merekrut lebih 3000 penonton. Pementasan teater ini ditampilkan di Gedung Utama Taman Budaya Sumatera Utara. Pertunjukan ini tampil enam kali selama dua hari memberi pesan kepada khalayak bahwa selera masyarakat penonton terhadap teater masih menggeliat. Dan pesan kepada penentu kebijakan bahwa Gedung Kesenian masih DIBUTUHKAN. Apalagi calon legislatif (CALEG) serta pemimpin negeri ini bercita-cita untuk memajukan negeri ini dengan dasar pembentukan character dan budi pekerti, serta akhlaqul karimah bangsa, hal ini jangan sampai terlupa. Pertunjukan ini berhasil memuncaki pertunjukan teater yang pernah ada. Ingat POLITIK ITU KEJAM, MAKA SENI YANG AKAN MENGHALUSKANNYA.