Oleh: M. Raudah Jambak
(Harian Analisa, Minggu 29 April 2012)
Malam pekat. Bulan masih sembunyi di bilik awan. Laju kendaraan meluncur satu-satu. Perempuan itu masih berdiri, bersandar pada tiang traffic light. Samar-samar, dia masih mendengarkan suara orang mengaji dari puncak menara masjid. Ada pedih yang tergores di dadanya. Masih terngiang jerit tertahan anaknya yang melihat kepergiannya. Meronta dari pelukan Sumiati, ibu kosnya. Sesak dadanya, tapi dia harus pergi. Dia harus bekerja. Sudah tiga hari anaknya tidak menikmati susu.
Tadi pagi suhu tubuh anaknya memanas. Sampai terakhir tadi sebelum kepergiannya, suhu tubuh anaknya tidak juga turun. Malah cenderung naik. Dia tetap memutuskan untuk pergi.
Jika sudah seperti itu, acap kali dia memaki dirinya sendiri. Tidak pernah sekalipun terpikirkan olehnya akan menjadi seperti ini. Tidak pernah sekalipun dia bercita-cita menjadi seorang pelacur. Puih! Apalagi ketika wajah seorang lelaki yang pernah dicintainya, melintas begitu saja.
Kalau tidak karena lelaki itu, mungkin dia sudah menjadi direktris pada salah satu perusahaan cabang milik ayahnya. Kalau saja lelaki itu tidak membuat ulah, mungkin ayahnya juga akan menyerahkan perusahaan yang lain kepadanya. Apa daya dia terlanjur salah langkah. Dia lebih memilih lelaki itu daripada ayahnya.
"Kau harus tahu, Anakku," ujar ayahnya,"Rizal tidak sepadan untukmu. Kau anak orang terhormat, sedangkan Rizal?"
"Aku sangat mencintainya, Ayah."
"Lelaki yang selalu mengganggu rumah tangga orang lain. Lelaki yang selalu mengumbar nafsunya pada orang lain. Lelaki yang menghancurkan perusahaan kita, keluarga kita. Lelaki seperti itu yang kau pilih?!"
"Aku sudah membuat keputusan, Ayah."
"Baik. Kalau memang itu sudah tekadmu. Ayah juga akan membuat keputusan!"
Ayahnya tepaksa membuat keputusan. Dengan suara berat dan berwibawa, ayahnya terpaksa memberikan pilihan yang sulit. Memenjarakan lelaki itu, yang menghancurkan perusahaan ayahnya atau tetap menjadi bagian dari keluarga besar Sudirman, ayahnya. Apa, lacur. Dia lebih memilih lelaki yang jelas-jelas telah menghancurkan keluarganya. Sejak saat itu ayahnyapun secara tegas tidak lagi mengakuinya sebagai seorang anak. Dia tetap memutuskan untuk pergi.
Pernah sekali waktu, dia mengunjungi ayahnya yang sedang keadaan sakit keras. Itupun karena ibunya berkali-kali meneleponnya, memintanya untuk pulang. Ayahnya selalu mengigau menyebut namanya. Begitu ia sampai, bukan kerinduan yang dia rasakan, justru makian bertubi-tubi yang dia dapatkan. Padahal, dia telah menghiba-hiba bermohon untuk dimaafkan. Demi melihat kondisi kesehatan ayahnya yang semakin parah melihat kehadirannya, dia memutuskan untuk pergi. Dia pergi ditingkahi suara tangis ibunya yang memintanya untuk tetap bertahan. Dia memutuskan untuk tetap pergi.
Memang ada penyesalan mendalam. Hanya saja, tekadnya sudah bulat. Keputusannya tidak bisa diganggu gugat. Sepanjang perjalanan, dia renungi segalanya. Semua terasa gelap. Dia tidak menemukan jalan keluar. Persis seperti kelengangan jalan. Persis seperti kepekatan malam. Dia memutuskan untuk hidup bersama tanpa ikatan bersama Rizal, kekasihnya. Itupun karena janji Rizal akan menikahinya secara resmi, jika dia sudah mendapatkan pekerjaan.
Bersama Rizal, dia menyewa sebuah rumah sederhana. Dia bisa menerima. Selama menunggu Rizal mendapatkan pekerjaan, dia yang mengatasi uang sewa rumah. Termasuk segala kebutuhan hidup mereka berdua. Juga segala kebutuhan Rizal. Untunglah tabungannya lebih dari cukup. Ayahnya selalu memberikan apa yang dia inginkan. Sejak memutuskan hubungan keluarga ayahnya juga memutuskan segalanya. Termasuk urusan uang.
Hampir setahun mereka hidup bersama. Keresahan dan kebahagiaan semakin terasa tipis batasannya. Terutama ketika dia menyampaikan kabar gembira, dia sudah telat bulan. Sudah satu bulan mengandung calon anak mereka. Rizal terdiam. Rizal malah menyarankan, menggugurkan kandungan itu. Dia bertahan, sebab dia merasa bahagia. Rizal memberi solusi lain. Rizal meminjam uang lima puluh juta, untuk dibayarkan kepada sebuah perusahaan yang akan menerimanya bekerja, jika Rizal bisa menyetor uang sejumlah lima puluh juta.
Perempuan itu ragu, tetapi Rizal mampu meyakinkannya. Akhirnya, isi tabungan perempuan itu hanya menyisakan lima juta. Selebihnya berpindahtangan ke Rizal. Tak berpanjang kalam, Rizalpun segera meluncur ke perusahaan yang dia maksud. Dengan segala cinta dan doa, perempuan itu melepas Rizal. Entah karena waktu meluncur terlalu cepat atau karena hasrat yang tak terbendungkan, perempuan itu seperti tak sabar menunggu kabar berita dari Rizal.
Belum berbilang minggu, kabar tentang Rizalpun terdengar. Tubuhnya seperti hancur, sehancur-hancurnya. Lelaki yang melebihi segala hatinya, telah menikah dengan perempuan lain. Dengan seorang menejer perusahaan tempat rencana Rizal bekerja. Dia harus bertahan. Dia bertekad harus tetap bertahan hidup. Itu filosofi yang diajarkan oleh ayahnya. Bertahan hidup.
Malam pekat. Bulan masih sembunyi di bilik malam. Perempuan itu masih bersandar di tiang traffic light. Suara orang mengaji dari menara masjid, masih terdengar samar ditingkahi laju kendaraan yang meluncur satu-satu. Kebahagiaannya sempat membuncah ketika jerit lengking si bayi mungil di pelukannya. Sepeninggal Rizal, dia pindah dari kota J ke kota M. Bekerja di sebuah pabrik. Memutuskan cuti melahirkan. Menganggur menghabiskan simpanan setelah pabrik tempat dia bekerja tidak menerimanya lagi, dengan alasan yang tak jelas. Menghabiskan simpanan, setelah semua tempat menolak lamarannya. Mengatur semua kebutuhan dia dan anaknya.
Dia tidak pernah bercita-cita ingin seperti ini. Dia tidak pernah sekalipun berharap menjadi seorang pelacur. Puih! Karena lelaki itu. Bukan. Bukan karena lelaki itu. Demi anaknya, yang kini terbaring sakit. Anaknya yang menjerit tertahan melihat kepergiaannya. Dia harus pergi. Memutuskan untuk pergi.
Jujur, dia kikuk, ragu. Dia hanya memberanikan diri. Selama ini, dia masih tetap bisa bertahan walau mandor pabrik tempat dia bekerja dulu sempat memintanya menjadi istri simpanan. Memaksanya menikah siri. Memaksanya menjadi istri dengan janji menceraikan istri sahnya. Termasuk bertahan ketika sang mandor berusaha memperkosanya. Dia meyakinkan dirinya, Tuhan tak akan pernah meninggalkannya. Yakin Tuhan akan selalu menjaga dia dan anaknya.
Malam sepekat ini. Keyakinannya seakan buyar. Pertahanannya seakan ditembus peluru keraguan. Dia merasa Tuhan seakan membiarkannya. Sesamar suara orang mengaji dari menara masjid di ujung jalan sana. Segelap malam yang pekat. Sesunyi laju kendaraan yang meluncur satu-satu. Sepedih hatinya yang koyakmoyak. Sepanas suhu tubuh anaknya yang terbaring sakit. Dia lapar, haus. Tubuhnya gemetar.
Dalam beberapa kesempatan, dia belum juga memberanikan diri menawarkan diri. Mulai dari anak jalanan sampai lelaki hidung belang. Mulai dari penarik becak sampai pembawa gerobak. Dia juga belum berani mengiyakan beberapa tawaran dari laki-laki yang hobi jajan. Termasuk segerombolan lelaki yang berusaha memaksakan hasratnya.
Perempuan itu meronta. Perempuan itu memberontak. Gerombolan lelaki itu berusaha mendekap. Berusaha membekapnya. Dengan beringas gerombolan lelaki itu melucuti pakaian perempuan itu satu persatu, sampai akhirnya polos tanpa sehelai benangpun. Perempuan itu pasrah. Samar-samar dia masih mendengar suara mengaji dari menara masjid. Samar-samar terbayang wajah bayinya yang menjerit, ditingkahi suara tertawa penuh nafsu gerombolan laki-laki itu. Samar-samar wajah gerombolan lelaki itu tak lagi tampak olehnya. Yang ada hanya gelap pekat. Terdengar seperti suara letusan senjata api menggema di udara diselingi samar-samar suara orang mengaji dari puncak menara masjid di ujung jalan sana. Mung kin Tuhan belum sempat menjenguknya.
Perempuan itu tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Perempuan itu hanya tahu, dia sekarang berada di sebuah ruangan yang sangat menyenangkan. Serba putih. Aromanya begitu semerbak. Dia berada di atas sebuah tempat tidur yang begitu lembut dan bersih. Di sebelah kanan atas sebuah pesawat telepon. Tidak jauh dari arah kakinya di atas sebuah bufet, sebuah pesawat televisi. Perabotan lain yang berada dalam ruangan itu. Lengkap sangat lengkap.
Belum hilang keterkejutannya dengan suasana ruangan yang begitu nyaman. Dia terpesona dan takjub ketika melihat ke arah cermin. Seolah seorang putri tengah menatapnya. Ada perasaan malu bukan kepalang. Apalagi dibandingkan dengan kondisinya saat ini. Ketika dia melihat, ternyata perempuan dalam cermin itu adalah dirinya. Da lebih terkejut lagi. Ada rasa bahagia sekaligus sedih bersamaan. Bahagia karena akhirnya dia menjadi seorang putri. Sedih karena dia teringat anaknya. Perempuan itu merasa Tuhan telah menjeputnya. Tuhan telah menempatkannya di Surga.
Dia menari gembira di depan cermin. Dia berjanji suatu waktu nanti, dia akan mengunjungi anaknya. Belum sempat dia meluapkan kegembiraannya, sebuah ketukan keras di pintu mengejutkannya. Begitu dia bergerak hendak membuka pintu, seseorang telah masuk begitu saja. Sebelum dia mengeluarkan pertanyaan, dia mendengar sebuah perintah mengejutkan.
"Persiapkan dirimu. Layani Bos dengan baik!"
Perempuan itu tersentak, begitu dia menyadari situasinya, dia menangis sejadi-jadinya. Dia menjatuhkan diri di atas tempat tidur. Telungkup. Terisak. Menghardik Tuhan. Memanggil nama anaknya. Memanggil nama ibunya. Memanggil nama ayahnya. Berteriak histeris. Aliran ketakutan seketika menjalar di nadinya. Terdiam tertahan, ketika sebuah bentakan seolah memecahkan telinganya.
"Diam!" nafas lelaki itu terdengar memburu,"Tak ada gunanya kau menangis. Kau milikku sepenuhnya. Tugasmu melayaniku. Tugasku merasakan kepuasan darimu..."
Perempuan itu terdiam. Dia merasakan aura penuh nafsu dari nafas lelaki itu. Di balik itu, dia begitu mengenal suara berat dan berwibawa dari laki-laki itu. Suara yang begitu dikenalnya selama bertahun-tahun. Mirip suara dari orang yang begitu melindungi dan menyayanginya. Mirip suara orang yang begitu menjunjung tinggi kehormatan. Segera dia membalikkan badan. Perempuan itu terkejut begitu mengetahui lelaki separuh baya yang ada di hadapannya. Bersamaan dengan itu, lelaki separuh baya yang nyaris bugil itu, lebih terkejut lagi.
"Sumbi?!" (*)
Komunitas Home Poetry, 2011
Thursday, 25 April 2013
Jenis Karya Sastra Indonesia

Jenis karya sastra di Indonesia dibagi menjadi tiga, yaitu drama, prosa, dan puisi
Drama
Istilah drama berasal dari kata drame, sebuah kata dari Bahasa Perancis yang
diambil untuk menjelaskan lakon-lakon mereka tentang kehidupan kelas
menengah di Perancis.
Dalam buku Webster’s New Collegiate Dictionary, dinyatakan bahwa drama
merupakan karangan berbentuk prosa atau puisi yang direncanakan bagi
pertunjukkan teater (Henry Guntur, 1984). Drama (Yunani) merupakan
jenis karya sastra yang ada bagian tertentu yang diperankan oleh aktor/aktris.
Definisi drama
1. Drama adalah kualitas komunikasi. Situasi, dan action
2. Drama menurut Moulton adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak
(life presented in action)
3. Drama menurut Brander Mathews adalah konflik dari sifat manusia
merupakan sumber pokok drama
4. Drama menurut Ferdinand Brunetierre adalah melahirkan kehendak
manusia lewat action.
5. Drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog, yang
diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action di
hadapan penonton (audience).
Teori Asal Mula Drama menurut Brockett :
Drama berkembang dari upacara religius primitive yang dipentaskan untuk minta pertolongan dewa
Hymne pujian yang dinyanyikan bersama di depan makam seorang pahlawan. Pembicara memisahkan diri dari koor dan memperagakan perbuatan dalam kehidupan almarhum pahlawan itu.
Drama tumbuh dari kecintaan manusia untuk bercerita. Kisah tentang perburuan/peperangan atau perbuatan yang luar biasa seseorang pahlawan yang telah gugur.
Dalam pementasan sebuah drama, ada tiga unsur yang penting yang
mempengaruhi keberhasilan pementasan. Tiga unsur tersebut adalah sutradara,
pemain, dan penonton.
Pementasa drama dapat menggunakan berbagai media seperti panggung, film,
atau televisi. Kadang pementasannya dikombinasikan dengan musik dan tarian.
Naskah
Naskah lakon sebenarnya juga memiliki kekayaan tersembunyi untuk dianalisis
baik untuk kepentingan panggung (teater), maupun kepentingan sastra. Menurut
A. Teeuw (Pengamat sastra modern kita yang berasal dari Belanda /1984),
menggunakan analisis struktural guna membongkar dan memaparkan secara
cermat, teliti, detail aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makna
menyeluruh.
Penulis Drama di Indonesia
Para penulis drama Indonesia antara lain, Asrul Sani (satu diantara “Tiga Menguak
Takdir “). Selain Asrul Sani anggota Tiga Menguak takdir adalah Chairil Anwar
dan Rivai Apin. Asrul Sani hanya tampil sebagai sutradara panggung dan
penyusun naskah terjemahan dari Jean Paul Sartre atau Lorca. Asrul Sani
merupakan pelopor sastra angkatan 45. Penulis sastra lainnya adalah WS Rendra
dengan karyanya Kereta Kencana “ Eugene Ionesco atau Oedipus dari Sophokles),
Riantarno, Arifin C Noer, Iwan Simatupang, Utuy T Sontani, Motinggo Boesje, Sitor
Situmorang, Wisran Hadi (Malin Kundang).
Perbedaan Drama dan Teater
Drama adalah kisah kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas,
didasarkan pada naskah yang tertulis dengan atau tanpa musik, nyanyian atau
Tarian.
Teater adalah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak.
Misalnya teater, wayang orang, ketoprak,ludrug, topeng, lenong, sulap dll .
PROSA
Prosa adalah suatu jenis tulisan yang berbeda dengan puisi karena variasi ritme
(rhythm) yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan
arti leksikalnya. Kata prosa berasal dari bahasa Latin " prosa" yang artinya "terus
terang". Jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu
fakta atau ide. Karenanya, prosa dapat digunakan untuk surat kabar, majalah,
novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media lainnya. Prosa biasanya
dibagi menjadi empat jenis: prosa naratif, prosa deskriptif, prosa eksposisi, dan
prosa argumentatif.
Prosa dibagi menjadi dua, yaitu Roman dan Novel.
Roman adalah cerita yang mengisahkan tokoh sejak lahir sampai meninggal,
Sedangkan novel hanya mengisahkan sebagian kehidupan tokoh yang mengubah
nasibnya.
Istilah roman mulai berkembang sejalan dengan munculnya karya sastra
Indonesia modern sejak Balai Pustaka. Pada periode tersebut, terbit karya-karya
sastra yang monumental seperti Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Sengsara Membawa
Nikmat, dan sebagainya. Karya-karya prosa itu disebut roman-roman periode
Balai Pustaka. Pada periode selanjutnya yaitu periode Pujangga Baru, muncul
pula karya sastra prosa yang disebut roman seperti Layat Terkembang, Belenggu,
dan sebagainya.
Pada saat itu, istilah novel belum popular. Bahkan, karya-karya Hamka pun
seperti Di Bawah Lindungan Kabah dan Tenggelamnya kapal Van der Wijk yang terbit
setelah periode 1945 masih digolongkan ke dalam roman meskipun saat itu
istilah novel mulai dikenal. Buku-buku yang menggunakan istilah roman di
antaranya Roman dalam Masa Pertumbuhan Kesusastraan Indonesia Modern
karangan Aning Retnaningsih, Ikhtisar Sejalan Sastra Indonesia karya Ajip Rosidi,
Sastra Indonesia Pengantar Teori dan Apresiasi karangan Liberatus Tengsoe
Tjahyono. Sedangkan novel mulai banyak dibicarakan sekitar tahun 50-an.
Ciri Novel yang membedakannya dengan karya sastra lainnya :
1. Novel adalah karya sastra berjenis narasi.
2. Novel adalah karya sastra berbentuk prosa.
3. Novel adalah karya sastra yang bersifat realis, artinya menceritakan kehidupan
tokoh secara nyata, tanpa disertai peristiwa-peristiwa yang gaib dan ajaib.
Umumnya novel merupakan tanggapan pengarang terhadap lingkungan sosial
budaya sekelilingnya.
4. Novel adalah karya sastra yang berfungsi sebagai tempat menuangkan
pemikiran pengarangnya sebagai reaksinya atas keadaan sekitarnya. Dalam
aliran imprisionisme, pengarang menempatkan dirinya dalam kehidupan yang
diceritakan. Perenungan-perenungan pembaca setelah membaca sebuah novel
akan tiba pada sebuah pemikiran baru tentang makna hidup
PUISI
Adalah tulisan atau salah satu hasil karya sastra yang berisi pesan yang
memiliki arti yang luas. Untuk mengetahui makna yang terkandung di dalam
sebuah puisi, seseorang perlu mengartikan dan memahami betul secara detil
maksud kata-kata yang ada dalam bait-bait puisi.
Monday, 28 January 2013
SAYEMBARA TIM SUKSES CALON PANGLIMA RAJA
FK METRA SUMUT, adalah Forum Komunikasi Media Tradisional Sumatera Utara. Kepengurusannya, di Masa Bakti Tahun 2011-2016 diketuai oleh Ibu Dr.Ir.Hj.Hidayati, M.Si, yang pengukuhannya dilakukan oleh Plt Gubernur Sumatera Utara H.Gatot Pujonugroho, ST pada tanggal 21 Maret 2012 di Asrama Haji Medan. Ketua sebelumnya, H.Dahri Uhum Nasution, atau akrab disapa dengan Atok Ai, bangga bercampur haru dengan regenerasi ini. Artinya, Ibu Hidayati, yang semasa remajanya adalah salah satu dari sekian banyak anak didik Atok Ai di Teater Nasional (TENA) Medan, membuktikan dirinya mampu menerima kepercayaan untuk memimpin sebuah organisasi kesenian berbasis tradisi lokal berskala provinsi. Perlu diketahui, Atok Ai merupakan salah satu penggagas sekaligus pendiri FK METRA NASIONAL, yang ditetapkan pada tanggal 20 Mei 2005 di Jakarta bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, dengan harapan bangkit pula Media Tradisional di seluruh Indonesia. Dan diaktekan pada tanggal 5 Desember 2005 oleh Notaris Ratih Gondokusumo Siswono, SH di Jakarta.
FK METRA SUMUT merupakan wadah kemasyarakatan didalam menampung, mengurus dan membina seluruh komunitas/grup media tradisional di Sumatera Utara, termasuk media tatap muka, luar ruang dan pameran. Dengan kata lain, FK METRA yang kegiatannya bukan hanya media pertunjukan rakyat, tapi juga termasuk media komunikasi tatap muka, media luar ruang dan media pameran. Juga sebagai unsur utama kebudayaan Nasional pertunjukan rakyat atau kesenian tradisional yang komunikatif, yang ada dialognya, yang mempunyai pengaruh yang lebih besar terhadap masyarakat.
Media Tradisional adalah berbagai macam seni petunjukan yang secara tradisional dipentaskan di depan khalayak ramai terutama sebagai sarana hiburan yang memiliki sifat komunikatif, sehingga bentuk kesenian tersebut dapat dimanfaatkan sebagai media pembawa pesan-pesan pembangunan untuk kesejahteraan rakyat dalam penyelenggaraan pemerintah, non pemerintah ataupun swasta. Unsur tradisional dan sifat komunikatif dari seni pertunjukan tersebut memudahkan untuk dapat digunakan sebagai media komunikasi yang efektif tanpa harus kehilangan fungsinya sebagai media hiburan.
DASAR PEMIKIRAN
Sumatera Utara atau Medan khususnya, yang dihuni oleh berbagai etnis serta agama, memiliki kultur budaya yang berbeda dengan daerah lain di Nusantara. Suku pendatang seperti Jawa maupun warga keturunan misalnya, yang dalam kurun waktu tertentu telah menetap di kota wisata kulineri ini, mau tidak mau terbaur dengan karakter masyarakat setempat serta ‘terkontaminasi’ dengan ciri yang ada. Kondisi tersebut lambat laun menjadi bagian tak terpisahkan dari karakter khas masyarakat Sumatera Utara. Kita sebut saja karakter yang cenderung berwatak keras dan dinamis dalam mempertahankan prinsip, tegas, terbuka, bahkan blak-blakan dalam berbicara maupun mengungkapkan pendapat. Istilah-istilah atau plesetannya pun kerap muncul dan terlahir secara spontan, sekenanya, berpantun, dan tak pernah mati, serta bergulir lancar didalam obrolan sehari-hari.
Dalam konteks berkesenian, muatan lokal atau corak kehidupan masyarakat Sumatera Utara tersebut telah menginspirasi kami sebagai penggiat seni pentas untuk mengekspresikannya dalam bentuk pertunjukan. Maka jadilah sebuah menu hiburan dan pesan – yang dalam hal ini kami sebut sebagai berkelakar dan berpesan lewat seni pertunjukan drama, tari, nyanyi dan musik. Dan didalam penggarapannya sengaja kami libatkan unsur (seni) tradisi yang terdapat di Sumatera Utara sebagai akar konsepnya. Dalam kesempatan kali ini, kami pilih Sandiwara Bangsawan, yang kental beraroma Melayu.
KONSEP
OPERA METRA (OPETRA) adalah pertunjukan rakyat yang dikemas sarat hiburan dan gampang difahami karena didalam penyampaiannya banyak menggunakan bahasa sehari-hari. Selain itu, juga banyak menyelipkan pantun serta lagu yang kontekstual dan aktual sebagai variasi dialog guna kepentingan atau muatan humorisnya. Disamping itu, OPETRA meramu atau melibatkan unsur-unsur tradisi dari berbagai etnis atau budaya lokal yang terdapat di Sumatera Utara seperti Mandailing, Batak, Simalungun, Karo dan lain seterusnya, Tarian/nyanyian dengan sentuhan alat musik tradisional seperti Gendang/Pakpung, Akordion, Taganing, Gondang Dua, Tamborin, Keteng-Keteng, Hasapi, Biola, Gong dan lainnya, membentuk suatu kemasan tontonan atraktif serta dinamikanya mengajak penonton untuk ikut berdendang dan bergoyang tanpa mengenyampingkan unsur-unsur informatif dan edukatif. Dengan kata lain, OPETRA dapat dispesifikasikan sebagai Lagak Lagu Anak Medan (Sumatera Utara). ‘Kombur Malotup’ para penggiat seni pentas Sumut yang bergabung dalam OPETRA ini jangan buru-buru diartikan secara sempit dan negative. Karena dia adalah merupakan sebuah karya pertunjukan pentas yang dipersiapkan dan di tata secara khusus & khas, yang kontensnya merupakan tontonan dan tuntunan. Sejalan dengan fungsi ideal Media Tradisional kita yang telah digariskan oleh pemerintah. Seperti yang digambarkan si Pancarita (Dalang) dalam dialognya pada segment opening di setiap pementasannya ; … Satu sama lain kami membaur – dengan niat yang terukur – bukan sekedar bertutur dan menghibur – tapi ada pesan yang mau ditabur …
DISAIN
Setiap cerita yang ditampilkan OPETRA dikemas dalam bentuk pertunjukan rakyat yang sarat hiburan dan mengandung pesan sosial, budaya, pendidikan, hukum dan lainnya. Penyampaiannya lugas, tangkas, bernas, kocak bombas. Kritik menggelitik, segmentik, etnik dan asyik.
PERSONIL
Para personil OPETRA terdiri dari penggiat-penggiat seni drama, tari, nyanyi dan musik, yang notabene para pengurus FK METRA SUMUT. Dan masing-masing mereka telah berulangkali memperoleh penghargaan dalam berbagai ajang lomba baik di tingkat lokal, regional maupun nasional. Selain itu masing-masing personil dimaksud juga telah berulangkali dihunjuk sebagai Duta Seni Sumut ke even-even seni dan budaya didalam maupun luar negeri. Tersebutlah Dahri Uhum Nasution/Atok Ai ( Aktor/ Sutradara/
Pengarah sekaligus Penggagas/Pendiri FK METRA NASIONAL dan SUMUT); Yan Amarni Lubis (Aktor Drama Pentas Terbaik SUMUT 1976/Pemain Sinetron & Film
/Sutradara Film Pendek/Penulis Naskah/Kreator Pelakon/Tim Kreatif beberapa mata acara di TVRI Sumut maupun beberapa Instansi Pemerintah); M.Raudah Jambak (Aktor Terbaik Medan/Sastrawan Aktif Kreatif/Direktur Komunitas Home Poetry); Dayon Arora (Komedian/MC/Telangkai/Host beberapa mata acara di TVRI Sumut/ Penggiat Wadah Pendidikan); Munir Nasution (Komedian/MC Kondang/Finalis Audisi Pelawak atau API/TPI); Andy Mukly (Aktor/Sutradara Terbaik Drama Pentas/Pemain Sinetron/Film/Pemenang I di banyak Even Lomba Baca Puisi di Medan /Pengajar Seni Akting di beberapa SMP dan SMA di Medan/Komedian-8 Finalis API/TPI); Sofyan (Penyanyi/MC/Telangkai); Eva Gusmala Yanti (Penyanyi/Etnomusikolog/Aktris Terbaik I Lomba METRA NASIONAL Tahun 2011 di Solo); Liza Zahrina (Juara 1 Lomba Pemilihan Remaja Deli Berbakat 2008/Juara I Lomba Puisi Se-SUMUT/Juara I Puisi Remaja dalam acara Festival Seni Dakwah Islam Tahun 2010/Juara II Lomba Calon Penyiar Televisi TVRI Sumut dalam rangka HUT TVRI ke-41 Tahun 2011); Ade Fitri Nasution (Pemain Sinetron dan Drama Pentas yang sudah banyak pengalaman); Tafa Mustafa (Pemain Drama Pentas yang sudah banyak pengalaman dan bergabung dalam Tim METRA SUMUT, yang berhasil meraih Juara III dalam Lomba METRA NASIONAL Tahun 2012 di Manado); Ifan Minimalis (Pelakon seni drama yang sudah berulangkali dipercayakan sebagai goal getter dalam setiap penampilannya di pentas maupun televisi); Rubino (Pemusik yang sudah berulangkali bergabung dalam Tim Kesenian Sumut ke berbagai daerah di tanah air maupun luar negeri/Pengajar Seni Musik & Nyanyi); Samsidi (Pemusik yang sudah berulangkali bergabung idalam Tim Kesenian Sumut ke berbagai daerah di tanah air maupun ke Asia, Amerika dan Eropa/Pengajar Seni Musik); Ade Jabbal (Pemusik muda berbakat namun sudah diberi kepercayaan beberapa sutradara drama pentas untuk memberi sentuhan musik pada pementasan mereka/Pernah bergabung dalam sebuah Tim Kesenian Sumut dalam lawatannya ke negeri ‘kincir angin’ Belanda/Berandil besar dalam kelompok musiknya dalam menjuarai beberapa ajang lomba musik Islami di Medan/Aktor drama pentas); Jamal Dee Jee (Penata Panggung di banyak pementasan drama di Medan) serta beberapa seniman berpengalaman di berbagai bidang seni yang kami tempatkan sebagai nara sumber guna mendapatkan keakuratan materi untuk penguatan cerita yang hendak ditampilkan.
PANDANGAN KE DEPAN
FK METRA SUMUT serta OPETRA-nya berkepentingan terus hadir ditengah lapisan masyarakat lewat pertunjukan berkemas pengembangan dari kesenian tradisional Sumatera Utara. Seperti kita ketahui, kesenian tradisional adalah sebuah karya budaya leluhur bangsa yang merupakan kekayaan dan aset bangsa yang harus dilestarikan, dikembangkan dan diberdayakan. Maka sudah seharusnya seluruh bangsa Indonesia (tanpa kecuali) menghormati perjuangan dan pengorbanan para pahlawan dan pendahulunya yakni leluhur bangsa. Sebagai anak bangsa yang cinta budaya kita wajib mensyukuri dan berbuat yang terbaik bagi rakyat, bangsa dan negara, dengan mewujudkan cita-cita kemerdekaan, mendayagunakan segenap potensi bangsa dan negara, termasuk potensi seni dan budaya nusantara yang merupakan hasil cipta, rasa dan karsa leluhur bangsa Indonesia.
Sandiwara Bangsawan
SAYEMBARA TIM SUKSES CALON PANGLIMA RAJA
Naskah drama M. Raudah Jambak
PARA PEMERAN
Panitia 1
Panitia 2
TS 1
TS 2
Rakyat 1
Rakyat 2
Warga 1
Warga 2
Beberapa Pendukung
Sinopsis
SUNGGUH sangat wajar kiranya, di sebuah negeri. Di manapun itu, selalu ingin memberikan yang terbaik. Diantaranya adalah memilih pemimpin. Rakyat bersemangat ingin memilih pemimpin yang terbaik, walaupun masih saja ada kekurangan di sana-sini. Sesuatu yang sangat wajar kiranya. Bagaimana kisahnya....Tabik....
Panitia1 : Pengumuman-pengumuman, diumumkan kepada umum bahwa
ada Pengumuman yang harus disampaikan kepada umum,bahwa
pengumumman Ini untuk umum agar diketahui umum.
Pengumuman ini dari raja untuk masyarat umum. (melirik ke kiri
ke kanan) wah, panitia pada kemana kok belum ngumpul. Inilah
kebiasaan yang harus diubah. Selalu menggunakan
jam karet alias jam molor.....
Panitia 2 : (muncul dengan make-up menor)
Panitia 1 : Ya, ampun. Neng, mau kemana……
Panitia 2 : katanya mau menyambut para TS…?
Panitia 1 ; iya, tapi kok dandanannya kayak donat gitu?
Panitia 2 : katanya suruh dandan.....?
Panitia 1 : kita ini mau menyambut TS. Bukan pergi ke sirkus...
Panitia 2 : Abang itu pakaiannya..?
Panitia 1 : kenapa?
Panitia 2 : Kaya KERA-KERA NINJA?
Panitia 1 : Maksudmu KURA KURA NINJA?
Panitia 2 : Itu kalau telungkup, Bang............
Panitia 1 : Ah, porno kau..... Pengumuman-pengumuman, diumumkan
kepada umum bahwa ada Pengumuman yang harus disam
paikan kepada umum,bahwa raja, akan memanggil seluruh TS
calon panglima untuk hadir ke pendopo tiara istana kerajaan ini.
Di harapkan masyarakat untuk hadir menyaksikan pertanggung
jawaban selama pesta para TS calon panglima. Yang akan
menjadi TS calon panglima selanjutnya yang menggantikan
panglima kerajaan yang telah pangsiun.
Panitia.2: Loh, kok Pangsiun, bukannya Pensiun...
Pantia 1 : itu kalau pangkat rendah. Kalau tinggi Pangsiun. Udah dengar
aja kau....
(MUSIK PENGANTAR)
TS.1 : Selamat siang!
Panitia.2: Selamat siang, bang udah datang satu TS. Silakan duduk.
TS. 1 : Dengan hormat,Maaf bapak, maaf ibuk, maksud kedatangan saya
kemari, tidak lain dan tidak bukan untuk memenuhi undangan
panitia.
Panitia.1: Silahkan duduk.
(MUSIK PENGANTAR)
TS.2 : ( Masuk )
TS.2 : Kacang bukan sembarang kacang, kacang melilit kayu delima.
Datang bukan sembarang datang, datang memenuhi undangan
panitia.
Rakyat.1: Tanam Pinang sirapat-rapat, agar puyuh tak dapat lari, kukenang
-kenang takdapat-dapat, naik becaklah aku kemari.
(MUSIK PENGANTAR).......R2 MASUK TERLAMBAT LARI ANJING.
Rakyat.2 : Kain rombengan kain keramat, maaf cowok rombengan
terlambat.
Panitia.2 : Kain rombengan dibelit-belit, jalannya kok kayak kesembelit....!
Silahkan ambil tempat.
Panitia.1 : Baiklah karena para TS sudah kumpul maka pertemuan kita
hari ini kita mulai. Saya akan sampaikan ketentuan yang harus
dipatuhi bagi semua TS, pertama ; tiap TS memperkenalkan
dirinya kemudian menyampaikan kegiatannya selama masa
kampanye. dan waktunya 5 menit. Kalau mendengar suara
seperti ini (bel) kesempatan menutup laporan selama 30 detik.
Selanjutnya akan ada sesi tanya jawab waktunya 7 menit. Ada
pertanyaan....? Mungkin belum jelas.
TS.1 : Bang, kirim-kirim salam boleh bang...?
Panitia.1 : Gaknyambung kau, ini bukan acara Ring dan Lagu,
TS.1 : Tapi itu ada kamera....
Panitia.1 : (mendatangi) Kuikat tali kamera maukau...!
Kalau tidak ada pertanyaan lagi acara kita mulai.
Panitia.2: (menarik gendut, memindahkan duduknya ) Bang Goninya tarok
dimana....
Panitia.1: (memindahkan gendut kembali) Jangan disini... nanti gulanya
basah.... Oke, sekarang acara kita mulai, silahkan TS yang awal
hadir perkenalkan diri.
TS.1 : Susudara-susudara yang berbahaya, nama saya CPNS, TS Calon
panglima necis, bukan panglima buncis. Catat. ! Seperti yang
selalu saya sampaikan dalam setiap acara pesta pemilihan calon
panglima kerajaan, bahwa setiap calon panglima harus memiliki
visi dan misi yang jelas dan tegas agar dapat dapat membangun
dengan terencana. Dan juga selalu juga saya sampaikan kepada
rakyat bahwa rakyat harus mengetahui, setiap visi dan misi setiap
calon panglima agar rakyat tidak merasa kecolongan. Dan tidak
seperti membeli kucing dalam sarung. Dan juga yang terpenting
setiap calon panglima harus jujur dan bertanggung jawab agar
rakyat mau dan ikhlas membantu serta mendukung visi dan misi
yang dimaksud. Saya tegaskan sebagai TS visi dan misi calon
panglima saya tidak sekedar tertulis, tidak sekedar selogan atau
janji-janji belaka. Karena calon panglima saya takut rakyat marah
dan beliau juga takut Tuhan Murka kepadanya. Dan calon saya
akan memberikan bukti itu kepada rakyat, karena suara rakyat
adalah suara Tuhan. Sekian dan demikian.
Panitia.1: TS,Berikutnya silahkan memperkenalkan diri.
TS.2 : Kalau aku takpalalah memperkenalkan diri, udahtaunya orang ini
kalau aku Seleberiti.
Panitia.2: Bang, kalau abang takmau memperkenalkan diri, paling tidak
selama jadi TS, berapa banyak abang dapat komisi.
TS.2 : Iya tau aku, kalau begitu kacang bukan sembarang kacang.......
Rakyat.1: Hei bung tak ada lagi pantun kau selain kacang!
TS.2 : Usah kau becakap duduk manis saja kau disitu. Kacang bukan
Sembarang Kacang, kacang melilit si kayu meranti, kalau kau
tanyak soal komisi itu bagian rahasia pribadi. Baiklah bapak-
bapak, ibu-ibu,ocik-ocik, wakngah, ….wak ulong…Kalau awak
udah tak begigi, usahlah lagi memakan nasi, kalau soal visi dan
misi, calon kami tak usah diragukan lagi, pokoknya lezat dan
bergizi.
TS 1 : Eh, Wak. Kacang bukan sembarang kacang.................
TS 2 : Stop. Itu pantun aku jangan main curi aja kau.....lagi pula aku
bukan uwak kau............ Yang lain......
TS 1 : Ok. Tanam pinang sirapat-rapat, agar puyuh tak dapat lari......
TS 2 : Stop lagi. Tadi sudah dipantunkan........nggak kreatif kau, yang
lain........
TS 1 : Yang lain pun jadi. Dalamnya laut dapat diduga. Dalamnya kali
apalagi...Nyaman mulut kalau bicara. Tapi, semuanya tak ada
bukti......
TS 2 : Bung, jangan menghitamkan kambing yang memang sudah
hitam ya....
TS 1 : Ada bunga di atas meja. Bunganya jatuh karena vasnya pecah.
Tak kuduga kau banyak bicara. Apa kepingin endasmu kubelah.......
TS 2 : Tak ikut aku membawa kelapa. Apalagi membelah dua. Tak takut
Aku laga digjaya. Sebelum darahku melepas raga. (memasang
kuda-kuda mengajak berkelahi)
TS 1 : Kalau makan Ikan bawal. Pastikan makan si ikan teri. Kalau tuan
mau menjual. Pasti aku beli (memasang gaya petinju)
Panitia 1: (Segera memisah dengan membunyikan sempritan) Stop.
Sekarang belum waktunya berdebat. (mengeluarkan kartu
kuning kepada TS 1) Sekarang TS 2 waktunya menyampaikan
pandangannya...........
TS 2 : (Bergaya) Baiklah. Bukan kacang sembarang kacang. Kacang enak
Kalau Dimakan. Bukan tandang sembarang bertandang. Sekarang
ada yang akan saya sampaikan. Para warga.... Ada hal terpenting
yang harus diperhatikan pilihan kita tentu pimpinan yang teladan.
Teladan di segala aspek, terutama di lingkungan dan keluarganya.
Pimpinan kita memiliki komitmen yang kuat, konsisten terhadap
apa yang telah diucapkan dan dijanjikannya. Di samping itu,
pengetahuan dan pemahaman yang luas tentang masyarakat
tentunya sudah makanan sehari-hari dari pimpinan kita.
Semuanya itu adalah sesuatu yang sangat mutlak menjadi
syarat seorang pemimpin yang baik. Dengan begitu ia bisa
menyusun rencana dan strategi dalam membangun sekian
tahun kedepan dan bukan hanya rencana-rencana kosong
apalagi sekadar slogan saja. Burung irian burung cedrawasih
cukup sekian dan terimaksih..............
Panitia I : Ya, sudah terimaksih. Selanjutnya kita akan adu
kecerdasan.....................
Warga 1 : (kesal) ini tidak bisa dibiarkan. Eh, lae apa tidak ada acara lain?
Hiburan, misalnya.....menari, menyanyi atau melawak misalnya
ngertinyaa kau maksudku, ha.
Warga 2 : Ya, apa tidak ada acara lain? Hiburan, misalnya.....menari,
menyanyi atau melawak misalnya. Tetapi, aku terserah kelen
aja yang penting menguntungkan!!!??
Warga 1 : Kau...sedikit-sedikit menguntungkan. Sedikit-sedikit
menguntungkan. Menguntungkan, kok sedikit-sedikit....?
TS 1 : Aku setuju. Maunya ada acara hiburan. Biar lebih segar dan
tidak terlalu Tegang .............
TS 2 : Aku tidak setuju. Ah, hiburan. Bagaimna kerajaan ini mau maju?
Hanya memikirkan hiburan? Basi ! Itukan hanya lipstik. Karya
nyata lebih baik daripada karya kata. Aplikasi jelas. Konjuksi
langsung berkomunikasi daripada audiensi.
Panitia 2 : Dua-duanya asyik……….
TS 1 : Ah, itukan katamu saja, karena pilihanmu itu gemetar kalau
cakap. Kata-kata dibalek-balek. Kalimat jungkir balek. Paragraf
terbalek. Sebentar lagi muka mu yang terbalek. Eh, bung.
Dengar kita harus memberi keyakinan kepada masyarakat,
bahwa pemilihan itu penting. Bagaimana menyatukan
pandangan. Bagaimana meningkatkan kebersamaan kita.
Bagaimana caranya untukmmemberi peluang terbuka demi
kesejahteraan rakyat. Termasuk juga mau turut serta dengan
ikhlas mendukung calon terpilih. Turut aktif dalam
pembangunan walaupun tidak terpilih. Siap menang-siap
kalah......Damai-damai......, Bung.... Dan ingat jangan
GOLPUT...........
TS 2 : Itukan teori. Bung, rakyat sekarang butuh yang kongkrit bukan
yang bacrit. Rakyat sekarang sudah tahu, yang mana yang
penipu, yang mana yang memang mau dan yang mana yang
sungguh-sungguh berbuat demi
kepentingan sosial, masyarakat dan publik.
TS 1 : Susudara-susudara, tidak bisa kita pungkiri pemimpin yang cerdas,
mumpuni, yang melindungi rakyatlah yang paling kita pilih. patuh
dan taat pada setiap ketentuan perundang-undangan selama
proses penyelenggaraan serta memedomani asas jujur dan adil
(jurdil), serta langsung, umum, bebas dan rahasia (luber) Saya
memilih kriteria yang seperti itu. Saya yakin Susudara-susudara
setuju dan sependapat dengan saya. Pilihan saya tentu pilihan
susudara-susudara juga. Bagaimana? Setuju?
TS 2 : Hai, Bung. Jangan mempengaruhi rakyat dengan janji-janji
kacangan. Apapun judul ceritanya, teori tetaplah teori. Tetapi, saya
haqqul yakin masyarakat tidak akan mau lagi bertepuk sebelah
tangan.
Panitia 2 : Stop, maaf Bang. Apa bisa………….?
TS 2 : Loh, yang bilang bisa bertepuk sebelah tangan siapasiapa? Panitia
saudara, saya komplain atas argumentasi daripada saudari panitia.
Tolong kontrusi saya jangan lagi diklarifikasi. Etika, etika, macam
mananya kalien....Mari kita menjunjung tinggi sportivitas dan
sekali lagi etika, serta berkompetisi secara sehat dan jujur. Setiap
permasalahan yang timbul dari penyelenggaraan itu akan ditem
puh secara terbuka melalui prosedur dan aturan, bukan melalui
tindakan anarkistis. Kita tidak mau kan anarkisasi di sini gara-gara
panitia bertepuk sebelah dada. Terima kasih.
Warga II : Aku setuju-setuju saja asal kucing dan dadanya menguntung
kan.
Warga I : Tolong sekali lagi. Kita di sini serius. Kami sebagai warga
jangan dibuat bingung lagi.
Warga II : Aku oke-oke saja, asal bingungnya bingung yang menguntung
kan
Panitia I : Maaf, beribu-ribu maaf. Kita sudah lari dari prosedur. Tolong
jangan melebar kemana-mana. Sekarang kita fokus pada titik
persoalan. Kita sayembara tergantung keahlian. Mari Kita
ciptakan suasana yang kondusif dalam seluruh proses yang
dilalui. Sesuai jaduaaal. Kita lomba memecahkan balon. Yang
terbanyak memcahkan balon. Dia lah yang terpilih sebagai
pemenang dan menjadi TS untuk Panglima selanjutnya.
Warga II : Aku nggak ada masalah kalau balonnya pun menguntungkan he
he he
Panitia 1 : Siap........... Untuk mengambil balon waktunya lima menit.
Selebihnya memcahkan balon waktunya 7 menit. Siap..............
mulai...............
PESERTA LALU DIBAGI-BAGIKAN BALON. DI SINI TINGKAH POLAH KONYOL DIPEERLIHATKAN. SAMPAI AKHIRNYA TERDENGAR SUARA BEL.
Warga 1 : Eee, Boboho ini punyaku main rampas aja...
Warga 2 : Jadi punyaku yang mana....?
Warga 1 : ya, terserah kau lah. Panitia bilang yang menang yang bisa
mengumpulkan sebanyak-banyaknya.
Warga 2 : Ya, tapi punyaku yang mana............?
Warga 1 : Eh, bung…….ku gulung kau nanti jadi risol. Mau kau…….
Warga 2 : Ada risol. Asyiiik. Mintalah….
Warga 1 : Sakit kau.
TS 2 : Eh, kau jangan suka mempermainkan. Apalagi menghina makhluk
lemah seperti ini.
Warga 1 : Lemah apanya? Tangannya aja sebesar pahakku.....
TS 2 : Berarti kau yang lemah. Sebagai orang yang lemah. Kau jangan
mengusik yang kuat....
Warga 1 : Tebalek kau cakap. Odong-odong.....
Warga 2 : Stop. Tolong. Kau boleh menghina aku. Tetapi, kau jangan
menghina dia. Dengar ya, jelek-jelek begitu masih manusia.
Warga 1 : Siapa yang bilang monyet....
Warga 2 : Ah, banyak kali cakap kau (mau memukul)
Panitia 2 : Stop. Tunggu. Gaya dulu saya mau memoto..(memoto dengan
segala gaya)
Panitia 1 : Sudah. Stop waktu habis. Yang terpenting di sini adalah kita
harus terima apapun hasilnya. Semua siap menang. Siap kalah.
Mari berkompetisi secara damai. Jangan saling salah menyalah
kan. Jangan sampai menimbulkan susuatu. Jangan suka
menciptakan perpecahan, apalagi sampai tawuran. Dan ingat
jangan lupa. Hari pemilihan, pukul tujuh pagi sampai jam satu
siang. Tanggal sekian bulan sekian tahun 2013. Harus ikut aktif
memilih. Jangan sampai GOLPUT. Dan karena besok minggu
tenang, lebih baik kita kerahkan tenaga untuk membongkar
atribut kampanye yang terpasang. Kita bersihkan kembali.
Apalagi yang dipohon-pohon itu. Dinding-dinding. Gerbong-
gerbong. Pokoknya dimana saja. Karena selain siap menang
siap kalah, PILKADA damai. Kita juga diharapkan tetap menjaga
kebersihan dan keindahan. PILKADA INDAH. Cocok. (semua
mengangguk) sekarang ayok kita bersihkan.
Ok.................Setuju...!
SELESAI
Medan, 2013
M. Raudah Jambak
FK METRA SUMUT merupakan wadah kemasyarakatan didalam menampung, mengurus dan membina seluruh komunitas/grup media tradisional di Sumatera Utara, termasuk media tatap muka, luar ruang dan pameran. Dengan kata lain, FK METRA yang kegiatannya bukan hanya media pertunjukan rakyat, tapi juga termasuk media komunikasi tatap muka, media luar ruang dan media pameran. Juga sebagai unsur utama kebudayaan Nasional pertunjukan rakyat atau kesenian tradisional yang komunikatif, yang ada dialognya, yang mempunyai pengaruh yang lebih besar terhadap masyarakat.
Media Tradisional adalah berbagai macam seni petunjukan yang secara tradisional dipentaskan di depan khalayak ramai terutama sebagai sarana hiburan yang memiliki sifat komunikatif, sehingga bentuk kesenian tersebut dapat dimanfaatkan sebagai media pembawa pesan-pesan pembangunan untuk kesejahteraan rakyat dalam penyelenggaraan pemerintah, non pemerintah ataupun swasta. Unsur tradisional dan sifat komunikatif dari seni pertunjukan tersebut memudahkan untuk dapat digunakan sebagai media komunikasi yang efektif tanpa harus kehilangan fungsinya sebagai media hiburan.
DASAR PEMIKIRAN
Sumatera Utara atau Medan khususnya, yang dihuni oleh berbagai etnis serta agama, memiliki kultur budaya yang berbeda dengan daerah lain di Nusantara. Suku pendatang seperti Jawa maupun warga keturunan misalnya, yang dalam kurun waktu tertentu telah menetap di kota wisata kulineri ini, mau tidak mau terbaur dengan karakter masyarakat setempat serta ‘terkontaminasi’ dengan ciri yang ada. Kondisi tersebut lambat laun menjadi bagian tak terpisahkan dari karakter khas masyarakat Sumatera Utara. Kita sebut saja karakter yang cenderung berwatak keras dan dinamis dalam mempertahankan prinsip, tegas, terbuka, bahkan blak-blakan dalam berbicara maupun mengungkapkan pendapat. Istilah-istilah atau plesetannya pun kerap muncul dan terlahir secara spontan, sekenanya, berpantun, dan tak pernah mati, serta bergulir lancar didalam obrolan sehari-hari.
Dalam konteks berkesenian, muatan lokal atau corak kehidupan masyarakat Sumatera Utara tersebut telah menginspirasi kami sebagai penggiat seni pentas untuk mengekspresikannya dalam bentuk pertunjukan. Maka jadilah sebuah menu hiburan dan pesan – yang dalam hal ini kami sebut sebagai berkelakar dan berpesan lewat seni pertunjukan drama, tari, nyanyi dan musik. Dan didalam penggarapannya sengaja kami libatkan unsur (seni) tradisi yang terdapat di Sumatera Utara sebagai akar konsepnya. Dalam kesempatan kali ini, kami pilih Sandiwara Bangsawan, yang kental beraroma Melayu.
KONSEP
OPERA METRA (OPETRA) adalah pertunjukan rakyat yang dikemas sarat hiburan dan gampang difahami karena didalam penyampaiannya banyak menggunakan bahasa sehari-hari. Selain itu, juga banyak menyelipkan pantun serta lagu yang kontekstual dan aktual sebagai variasi dialog guna kepentingan atau muatan humorisnya. Disamping itu, OPETRA meramu atau melibatkan unsur-unsur tradisi dari berbagai etnis atau budaya lokal yang terdapat di Sumatera Utara seperti Mandailing, Batak, Simalungun, Karo dan lain seterusnya, Tarian/nyanyian dengan sentuhan alat musik tradisional seperti Gendang/Pakpung, Akordion, Taganing, Gondang Dua, Tamborin, Keteng-Keteng, Hasapi, Biola, Gong dan lainnya, membentuk suatu kemasan tontonan atraktif serta dinamikanya mengajak penonton untuk ikut berdendang dan bergoyang tanpa mengenyampingkan unsur-unsur informatif dan edukatif. Dengan kata lain, OPETRA dapat dispesifikasikan sebagai Lagak Lagu Anak Medan (Sumatera Utara). ‘Kombur Malotup’ para penggiat seni pentas Sumut yang bergabung dalam OPETRA ini jangan buru-buru diartikan secara sempit dan negative. Karena dia adalah merupakan sebuah karya pertunjukan pentas yang dipersiapkan dan di tata secara khusus & khas, yang kontensnya merupakan tontonan dan tuntunan. Sejalan dengan fungsi ideal Media Tradisional kita yang telah digariskan oleh pemerintah. Seperti yang digambarkan si Pancarita (Dalang) dalam dialognya pada segment opening di setiap pementasannya ; … Satu sama lain kami membaur – dengan niat yang terukur – bukan sekedar bertutur dan menghibur – tapi ada pesan yang mau ditabur …
DISAIN
Setiap cerita yang ditampilkan OPETRA dikemas dalam bentuk pertunjukan rakyat yang sarat hiburan dan mengandung pesan sosial, budaya, pendidikan, hukum dan lainnya. Penyampaiannya lugas, tangkas, bernas, kocak bombas. Kritik menggelitik, segmentik, etnik dan asyik.
PERSONIL
Para personil OPETRA terdiri dari penggiat-penggiat seni drama, tari, nyanyi dan musik, yang notabene para pengurus FK METRA SUMUT. Dan masing-masing mereka telah berulangkali memperoleh penghargaan dalam berbagai ajang lomba baik di tingkat lokal, regional maupun nasional. Selain itu masing-masing personil dimaksud juga telah berulangkali dihunjuk sebagai Duta Seni Sumut ke even-even seni dan budaya didalam maupun luar negeri. Tersebutlah Dahri Uhum Nasution/Atok Ai ( Aktor/ Sutradara/
Pengarah sekaligus Penggagas/Pendiri FK METRA NASIONAL dan SUMUT); Yan Amarni Lubis (Aktor Drama Pentas Terbaik SUMUT 1976/Pemain Sinetron & Film
/Sutradara Film Pendek/Penulis Naskah/Kreator Pelakon/Tim Kreatif beberapa mata acara di TVRI Sumut maupun beberapa Instansi Pemerintah); M.Raudah Jambak (Aktor Terbaik Medan/Sastrawan Aktif Kreatif/Direktur Komunitas Home Poetry); Dayon Arora (Komedian/MC/Telangkai/Host beberapa mata acara di TVRI Sumut/ Penggiat Wadah Pendidikan); Munir Nasution (Komedian/MC Kondang/Finalis Audisi Pelawak atau API/TPI); Andy Mukly (Aktor/Sutradara Terbaik Drama Pentas/Pemain Sinetron/Film/Pemenang I di banyak Even Lomba Baca Puisi di Medan /Pengajar Seni Akting di beberapa SMP dan SMA di Medan/Komedian-8 Finalis API/TPI); Sofyan (Penyanyi/MC/Telangkai); Eva Gusmala Yanti (Penyanyi/Etnomusikolog/Aktris Terbaik I Lomba METRA NASIONAL Tahun 2011 di Solo); Liza Zahrina (Juara 1 Lomba Pemilihan Remaja Deli Berbakat 2008/Juara I Lomba Puisi Se-SUMUT/Juara I Puisi Remaja dalam acara Festival Seni Dakwah Islam Tahun 2010/Juara II Lomba Calon Penyiar Televisi TVRI Sumut dalam rangka HUT TVRI ke-41 Tahun 2011); Ade Fitri Nasution (Pemain Sinetron dan Drama Pentas yang sudah banyak pengalaman); Tafa Mustafa (Pemain Drama Pentas yang sudah banyak pengalaman dan bergabung dalam Tim METRA SUMUT, yang berhasil meraih Juara III dalam Lomba METRA NASIONAL Tahun 2012 di Manado); Ifan Minimalis (Pelakon seni drama yang sudah berulangkali dipercayakan sebagai goal getter dalam setiap penampilannya di pentas maupun televisi); Rubino (Pemusik yang sudah berulangkali bergabung dalam Tim Kesenian Sumut ke berbagai daerah di tanah air maupun luar negeri/Pengajar Seni Musik & Nyanyi); Samsidi (Pemusik yang sudah berulangkali bergabung idalam Tim Kesenian Sumut ke berbagai daerah di tanah air maupun ke Asia, Amerika dan Eropa/Pengajar Seni Musik); Ade Jabbal (Pemusik muda berbakat namun sudah diberi kepercayaan beberapa sutradara drama pentas untuk memberi sentuhan musik pada pementasan mereka/Pernah bergabung dalam sebuah Tim Kesenian Sumut dalam lawatannya ke negeri ‘kincir angin’ Belanda/Berandil besar dalam kelompok musiknya dalam menjuarai beberapa ajang lomba musik Islami di Medan/Aktor drama pentas); Jamal Dee Jee (Penata Panggung di banyak pementasan drama di Medan) serta beberapa seniman berpengalaman di berbagai bidang seni yang kami tempatkan sebagai nara sumber guna mendapatkan keakuratan materi untuk penguatan cerita yang hendak ditampilkan.
PANDANGAN KE DEPAN
FK METRA SUMUT serta OPETRA-nya berkepentingan terus hadir ditengah lapisan masyarakat lewat pertunjukan berkemas pengembangan dari kesenian tradisional Sumatera Utara. Seperti kita ketahui, kesenian tradisional adalah sebuah karya budaya leluhur bangsa yang merupakan kekayaan dan aset bangsa yang harus dilestarikan, dikembangkan dan diberdayakan. Maka sudah seharusnya seluruh bangsa Indonesia (tanpa kecuali) menghormati perjuangan dan pengorbanan para pahlawan dan pendahulunya yakni leluhur bangsa. Sebagai anak bangsa yang cinta budaya kita wajib mensyukuri dan berbuat yang terbaik bagi rakyat, bangsa dan negara, dengan mewujudkan cita-cita kemerdekaan, mendayagunakan segenap potensi bangsa dan negara, termasuk potensi seni dan budaya nusantara yang merupakan hasil cipta, rasa dan karsa leluhur bangsa Indonesia.
Sandiwara Bangsawan
SAYEMBARA TIM SUKSES CALON PANGLIMA RAJA
Naskah drama M. Raudah Jambak
PARA PEMERAN
Panitia 1
Panitia 2
TS 1
TS 2
Rakyat 1
Rakyat 2
Warga 1
Warga 2
Beberapa Pendukung
Sinopsis
SUNGGUH sangat wajar kiranya, di sebuah negeri. Di manapun itu, selalu ingin memberikan yang terbaik. Diantaranya adalah memilih pemimpin. Rakyat bersemangat ingin memilih pemimpin yang terbaik, walaupun masih saja ada kekurangan di sana-sini. Sesuatu yang sangat wajar kiranya. Bagaimana kisahnya....Tabik....
Panitia1 : Pengumuman-pengumuman, diumumkan kepada umum bahwa
ada Pengumuman yang harus disampaikan kepada umum,bahwa
pengumumman Ini untuk umum agar diketahui umum.
Pengumuman ini dari raja untuk masyarat umum. (melirik ke kiri
ke kanan) wah, panitia pada kemana kok belum ngumpul. Inilah
kebiasaan yang harus diubah. Selalu menggunakan
jam karet alias jam molor.....
Panitia 2 : (muncul dengan make-up menor)
Panitia 1 : Ya, ampun. Neng, mau kemana……
Panitia 2 : katanya mau menyambut para TS…?
Panitia 1 ; iya, tapi kok dandanannya kayak donat gitu?
Panitia 2 : katanya suruh dandan.....?
Panitia 1 : kita ini mau menyambut TS. Bukan pergi ke sirkus...
Panitia 2 : Abang itu pakaiannya..?
Panitia 1 : kenapa?
Panitia 2 : Kaya KERA-KERA NINJA?
Panitia 1 : Maksudmu KURA KURA NINJA?
Panitia 2 : Itu kalau telungkup, Bang............
Panitia 1 : Ah, porno kau..... Pengumuman-pengumuman, diumumkan
kepada umum bahwa ada Pengumuman yang harus disam
paikan kepada umum,bahwa raja, akan memanggil seluruh TS
calon panglima untuk hadir ke pendopo tiara istana kerajaan ini.
Di harapkan masyarakat untuk hadir menyaksikan pertanggung
jawaban selama pesta para TS calon panglima. Yang akan
menjadi TS calon panglima selanjutnya yang menggantikan
panglima kerajaan yang telah pangsiun.
Panitia.2: Loh, kok Pangsiun, bukannya Pensiun...
Pantia 1 : itu kalau pangkat rendah. Kalau tinggi Pangsiun. Udah dengar
aja kau....
(MUSIK PENGANTAR)
TS.1 : Selamat siang!
Panitia.2: Selamat siang, bang udah datang satu TS. Silakan duduk.
TS. 1 : Dengan hormat,Maaf bapak, maaf ibuk, maksud kedatangan saya
kemari, tidak lain dan tidak bukan untuk memenuhi undangan
panitia.
Panitia.1: Silahkan duduk.
(MUSIK PENGANTAR)
TS.2 : ( Masuk )
TS.2 : Kacang bukan sembarang kacang, kacang melilit kayu delima.
Datang bukan sembarang datang, datang memenuhi undangan
panitia.
Rakyat.1: Tanam Pinang sirapat-rapat, agar puyuh tak dapat lari, kukenang
-kenang takdapat-dapat, naik becaklah aku kemari.
(MUSIK PENGANTAR).......R2 MASUK TERLAMBAT LARI ANJING.
Rakyat.2 : Kain rombengan kain keramat, maaf cowok rombengan
terlambat.
Panitia.2 : Kain rombengan dibelit-belit, jalannya kok kayak kesembelit....!
Silahkan ambil tempat.
Panitia.1 : Baiklah karena para TS sudah kumpul maka pertemuan kita
hari ini kita mulai. Saya akan sampaikan ketentuan yang harus
dipatuhi bagi semua TS, pertama ; tiap TS memperkenalkan
dirinya kemudian menyampaikan kegiatannya selama masa
kampanye. dan waktunya 5 menit. Kalau mendengar suara
seperti ini (bel) kesempatan menutup laporan selama 30 detik.
Selanjutnya akan ada sesi tanya jawab waktunya 7 menit. Ada
pertanyaan....? Mungkin belum jelas.
TS.1 : Bang, kirim-kirim salam boleh bang...?
Panitia.1 : Gaknyambung kau, ini bukan acara Ring dan Lagu,
TS.1 : Tapi itu ada kamera....
Panitia.1 : (mendatangi) Kuikat tali kamera maukau...!
Kalau tidak ada pertanyaan lagi acara kita mulai.
Panitia.2: (menarik gendut, memindahkan duduknya ) Bang Goninya tarok
dimana....
Panitia.1: (memindahkan gendut kembali) Jangan disini... nanti gulanya
basah.... Oke, sekarang acara kita mulai, silahkan TS yang awal
hadir perkenalkan diri.
TS.1 : Susudara-susudara yang berbahaya, nama saya CPNS, TS Calon
panglima necis, bukan panglima buncis. Catat. ! Seperti yang
selalu saya sampaikan dalam setiap acara pesta pemilihan calon
panglima kerajaan, bahwa setiap calon panglima harus memiliki
visi dan misi yang jelas dan tegas agar dapat dapat membangun
dengan terencana. Dan juga selalu juga saya sampaikan kepada
rakyat bahwa rakyat harus mengetahui, setiap visi dan misi setiap
calon panglima agar rakyat tidak merasa kecolongan. Dan tidak
seperti membeli kucing dalam sarung. Dan juga yang terpenting
setiap calon panglima harus jujur dan bertanggung jawab agar
rakyat mau dan ikhlas membantu serta mendukung visi dan misi
yang dimaksud. Saya tegaskan sebagai TS visi dan misi calon
panglima saya tidak sekedar tertulis, tidak sekedar selogan atau
janji-janji belaka. Karena calon panglima saya takut rakyat marah
dan beliau juga takut Tuhan Murka kepadanya. Dan calon saya
akan memberikan bukti itu kepada rakyat, karena suara rakyat
adalah suara Tuhan. Sekian dan demikian.
Panitia.1: TS,Berikutnya silahkan memperkenalkan diri.
TS.2 : Kalau aku takpalalah memperkenalkan diri, udahtaunya orang ini
kalau aku Seleberiti.
Panitia.2: Bang, kalau abang takmau memperkenalkan diri, paling tidak
selama jadi TS, berapa banyak abang dapat komisi.
TS.2 : Iya tau aku, kalau begitu kacang bukan sembarang kacang.......
Rakyat.1: Hei bung tak ada lagi pantun kau selain kacang!
TS.2 : Usah kau becakap duduk manis saja kau disitu. Kacang bukan
Sembarang Kacang, kacang melilit si kayu meranti, kalau kau
tanyak soal komisi itu bagian rahasia pribadi. Baiklah bapak-
bapak, ibu-ibu,ocik-ocik, wakngah, ….wak ulong…Kalau awak
udah tak begigi, usahlah lagi memakan nasi, kalau soal visi dan
misi, calon kami tak usah diragukan lagi, pokoknya lezat dan
bergizi.
TS 1 : Eh, Wak. Kacang bukan sembarang kacang.................
TS 2 : Stop. Itu pantun aku jangan main curi aja kau.....lagi pula aku
bukan uwak kau............ Yang lain......
TS 1 : Ok. Tanam pinang sirapat-rapat, agar puyuh tak dapat lari......
TS 2 : Stop lagi. Tadi sudah dipantunkan........nggak kreatif kau, yang
lain........
TS 1 : Yang lain pun jadi. Dalamnya laut dapat diduga. Dalamnya kali
apalagi...Nyaman mulut kalau bicara. Tapi, semuanya tak ada
bukti......
TS 2 : Bung, jangan menghitamkan kambing yang memang sudah
hitam ya....
TS 1 : Ada bunga di atas meja. Bunganya jatuh karena vasnya pecah.
Tak kuduga kau banyak bicara. Apa kepingin endasmu kubelah.......
TS 2 : Tak ikut aku membawa kelapa. Apalagi membelah dua. Tak takut
Aku laga digjaya. Sebelum darahku melepas raga. (memasang
kuda-kuda mengajak berkelahi)
TS 1 : Kalau makan Ikan bawal. Pastikan makan si ikan teri. Kalau tuan
mau menjual. Pasti aku beli (memasang gaya petinju)
Panitia 1: (Segera memisah dengan membunyikan sempritan) Stop.
Sekarang belum waktunya berdebat. (mengeluarkan kartu
kuning kepada TS 1) Sekarang TS 2 waktunya menyampaikan
pandangannya...........
TS 2 : (Bergaya) Baiklah. Bukan kacang sembarang kacang. Kacang enak
Kalau Dimakan. Bukan tandang sembarang bertandang. Sekarang
ada yang akan saya sampaikan. Para warga.... Ada hal terpenting
yang harus diperhatikan pilihan kita tentu pimpinan yang teladan.
Teladan di segala aspek, terutama di lingkungan dan keluarganya.
Pimpinan kita memiliki komitmen yang kuat, konsisten terhadap
apa yang telah diucapkan dan dijanjikannya. Di samping itu,
pengetahuan dan pemahaman yang luas tentang masyarakat
tentunya sudah makanan sehari-hari dari pimpinan kita.
Semuanya itu adalah sesuatu yang sangat mutlak menjadi
syarat seorang pemimpin yang baik. Dengan begitu ia bisa
menyusun rencana dan strategi dalam membangun sekian
tahun kedepan dan bukan hanya rencana-rencana kosong
apalagi sekadar slogan saja. Burung irian burung cedrawasih
cukup sekian dan terimaksih..............
Panitia I : Ya, sudah terimaksih. Selanjutnya kita akan adu
kecerdasan.....................
Warga 1 : (kesal) ini tidak bisa dibiarkan. Eh, lae apa tidak ada acara lain?
Hiburan, misalnya.....menari, menyanyi atau melawak misalnya
ngertinyaa kau maksudku, ha.
Warga 2 : Ya, apa tidak ada acara lain? Hiburan, misalnya.....menari,
menyanyi atau melawak misalnya. Tetapi, aku terserah kelen
aja yang penting menguntungkan!!!??
Warga 1 : Kau...sedikit-sedikit menguntungkan. Sedikit-sedikit
menguntungkan. Menguntungkan, kok sedikit-sedikit....?
TS 1 : Aku setuju. Maunya ada acara hiburan. Biar lebih segar dan
tidak terlalu Tegang .............
TS 2 : Aku tidak setuju. Ah, hiburan. Bagaimna kerajaan ini mau maju?
Hanya memikirkan hiburan? Basi ! Itukan hanya lipstik. Karya
nyata lebih baik daripada karya kata. Aplikasi jelas. Konjuksi
langsung berkomunikasi daripada audiensi.
Panitia 2 : Dua-duanya asyik……….
TS 1 : Ah, itukan katamu saja, karena pilihanmu itu gemetar kalau
cakap. Kata-kata dibalek-balek. Kalimat jungkir balek. Paragraf
terbalek. Sebentar lagi muka mu yang terbalek. Eh, bung.
Dengar kita harus memberi keyakinan kepada masyarakat,
bahwa pemilihan itu penting. Bagaimana menyatukan
pandangan. Bagaimana meningkatkan kebersamaan kita.
Bagaimana caranya untukmmemberi peluang terbuka demi
kesejahteraan rakyat. Termasuk juga mau turut serta dengan
ikhlas mendukung calon terpilih. Turut aktif dalam
pembangunan walaupun tidak terpilih. Siap menang-siap
kalah......Damai-damai......, Bung.... Dan ingat jangan
GOLPUT...........
TS 2 : Itukan teori. Bung, rakyat sekarang butuh yang kongkrit bukan
yang bacrit. Rakyat sekarang sudah tahu, yang mana yang
penipu, yang mana yang memang mau dan yang mana yang
sungguh-sungguh berbuat demi
kepentingan sosial, masyarakat dan publik.
TS 1 : Susudara-susudara, tidak bisa kita pungkiri pemimpin yang cerdas,
mumpuni, yang melindungi rakyatlah yang paling kita pilih. patuh
dan taat pada setiap ketentuan perundang-undangan selama
proses penyelenggaraan serta memedomani asas jujur dan adil
(jurdil), serta langsung, umum, bebas dan rahasia (luber) Saya
memilih kriteria yang seperti itu. Saya yakin Susudara-susudara
setuju dan sependapat dengan saya. Pilihan saya tentu pilihan
susudara-susudara juga. Bagaimana? Setuju?
TS 2 : Hai, Bung. Jangan mempengaruhi rakyat dengan janji-janji
kacangan. Apapun judul ceritanya, teori tetaplah teori. Tetapi, saya
haqqul yakin masyarakat tidak akan mau lagi bertepuk sebelah
tangan.
Panitia 2 : Stop, maaf Bang. Apa bisa………….?
TS 2 : Loh, yang bilang bisa bertepuk sebelah tangan siapasiapa? Panitia
saudara, saya komplain atas argumentasi daripada saudari panitia.
Tolong kontrusi saya jangan lagi diklarifikasi. Etika, etika, macam
mananya kalien....Mari kita menjunjung tinggi sportivitas dan
sekali lagi etika, serta berkompetisi secara sehat dan jujur. Setiap
permasalahan yang timbul dari penyelenggaraan itu akan ditem
puh secara terbuka melalui prosedur dan aturan, bukan melalui
tindakan anarkistis. Kita tidak mau kan anarkisasi di sini gara-gara
panitia bertepuk sebelah dada. Terima kasih.
Warga II : Aku setuju-setuju saja asal kucing dan dadanya menguntung
kan.
Warga I : Tolong sekali lagi. Kita di sini serius. Kami sebagai warga
jangan dibuat bingung lagi.
Warga II : Aku oke-oke saja, asal bingungnya bingung yang menguntung
kan
Panitia I : Maaf, beribu-ribu maaf. Kita sudah lari dari prosedur. Tolong
jangan melebar kemana-mana. Sekarang kita fokus pada titik
persoalan. Kita sayembara tergantung keahlian. Mari Kita
ciptakan suasana yang kondusif dalam seluruh proses yang
dilalui. Sesuai jaduaaal. Kita lomba memecahkan balon. Yang
terbanyak memcahkan balon. Dia lah yang terpilih sebagai
pemenang dan menjadi TS untuk Panglima selanjutnya.
Warga II : Aku nggak ada masalah kalau balonnya pun menguntungkan he
he he
Panitia 1 : Siap........... Untuk mengambil balon waktunya lima menit.
Selebihnya memcahkan balon waktunya 7 menit. Siap..............
mulai...............
PESERTA LALU DIBAGI-BAGIKAN BALON. DI SINI TINGKAH POLAH KONYOL DIPEERLIHATKAN. SAMPAI AKHIRNYA TERDENGAR SUARA BEL.
Warga 1 : Eee, Boboho ini punyaku main rampas aja...
Warga 2 : Jadi punyaku yang mana....?
Warga 1 : ya, terserah kau lah. Panitia bilang yang menang yang bisa
mengumpulkan sebanyak-banyaknya.
Warga 2 : Ya, tapi punyaku yang mana............?
Warga 1 : Eh, bung…….ku gulung kau nanti jadi risol. Mau kau…….
Warga 2 : Ada risol. Asyiiik. Mintalah….
Warga 1 : Sakit kau.
TS 2 : Eh, kau jangan suka mempermainkan. Apalagi menghina makhluk
lemah seperti ini.
Warga 1 : Lemah apanya? Tangannya aja sebesar pahakku.....
TS 2 : Berarti kau yang lemah. Sebagai orang yang lemah. Kau jangan
mengusik yang kuat....
Warga 1 : Tebalek kau cakap. Odong-odong.....
Warga 2 : Stop. Tolong. Kau boleh menghina aku. Tetapi, kau jangan
menghina dia. Dengar ya, jelek-jelek begitu masih manusia.
Warga 1 : Siapa yang bilang monyet....
Warga 2 : Ah, banyak kali cakap kau (mau memukul)
Panitia 2 : Stop. Tunggu. Gaya dulu saya mau memoto..(memoto dengan
segala gaya)
Panitia 1 : Sudah. Stop waktu habis. Yang terpenting di sini adalah kita
harus terima apapun hasilnya. Semua siap menang. Siap kalah.
Mari berkompetisi secara damai. Jangan saling salah menyalah
kan. Jangan sampai menimbulkan susuatu. Jangan suka
menciptakan perpecahan, apalagi sampai tawuran. Dan ingat
jangan lupa. Hari pemilihan, pukul tujuh pagi sampai jam satu
siang. Tanggal sekian bulan sekian tahun 2013. Harus ikut aktif
memilih. Jangan sampai GOLPUT. Dan karena besok minggu
tenang, lebih baik kita kerahkan tenaga untuk membongkar
atribut kampanye yang terpasang. Kita bersihkan kembali.
Apalagi yang dipohon-pohon itu. Dinding-dinding. Gerbong-
gerbong. Pokoknya dimana saja. Karena selain siap menang
siap kalah, PILKADA damai. Kita juga diharapkan tetap menjaga
kebersihan dan keindahan. PILKADA INDAH. Cocok. (semua
mengangguk) sekarang ayok kita bersihkan.
Ok.................Setuju...!
SELESAI
Medan, 2013
M. Raudah Jambak
Thursday, 27 September 2012
DAFTAR NAMA PESERTA LOMBA BACA PUISI KEPAHLAWANAN
KOMUNITAS HOME POETRY
No. Nama Alamat Tempat/Tanggal Lahir No. Hp E-mail Alamat. Fb Keterangan
1. Siti Chairani T. Merawa bebycantykcelalu@facebook.com
2. Abdul Rahman (KAKTUS UISU) Gg. UISU K. Tanjung, 8 Januari 1992 085275352347 Once2rahman@yahoo.com
Abdul_kacang@yahoo.com
3. Arsatma Bangun (KOMPAK) Jl. Doro Wangi, Gg. Wangso 5 A Batu Karang, 6 Juli 1989 087768377825 Arsatmab@yahoo.com
Arsatmabangun
4. Milta Febriansi Sembiring (KOMBAS Nomensen) Jl. Cendana No 2 Kabanjahe, 22 Februari 1993 085765168128 Milta_Febriansi@yahoo.com
Febriansim@yahoo.co.id
5. Ceria Kristi Br Tarigan Jl. Timor No. 32 A Sialang, 6 Mei 1993 087868429367 ceriakristitarigan@roketmail.com
ceriakristi@yahoo.com
6. Oktorido Heri Trisno Situmorang (KOMBAS Nomensen) Jl. Selup Gg. Damar No. 1 E Galang, 5 Oktober 1991 087869317164 oktoridhoheri@rocketmail.com
7. Gud Slamat (KOMBAS Nomensen) Jl. Bhayangkara Gg. Setia Jadi 1A Ambartala, 7 November 1992 085361813573
8. Paiman Pandiangan (KOMBAS Nomensen) Jl. Sejari Kampung Durian Sei Dua, 13 November 1992 081269380293 paizhapandiangan@yahoo.co.id paizhapandiangan@yahoo.co.id
9. Wiwik Simanjuntak Jl. Rela No. 112 Pancing P. Siborna, 8 September 1991 085760955542 wiwiksimanjuntak@gmail.com wiwik.simanjuntak@yahoo.co.id
10. Gresna R. Putri Simanjuntak Jl. Rela No. 112 Pancing P. Siborna, 31 Agustus 1993 085275139152 Geznaputrie@yahoo.com
11. Rizky Endang Sugiharti Jl. Medan - Tj. Merawa Km. 12 Gg. Benteng No. 122 Medan, 21 Juni 1989 081260659021 res_endank21@roketmail.com
Rizky Endang Sugiharti
12. Tri harun Syafii Jl. Garu III Medan Medan, 16 Januari 1993 087748546646
13. Azizah Nur Fitriana Jl. Bunga Cempaka No. 64 E Padang Bulan Medan, 12 Juni 1993 085763970512 fitriana.azizahnur@yahoo.com
14 Rika Pebriyanti Jl. Veteran Psr 7 Gg. Puskesmas No. 55 A Medan Medan, 20 Februari 1994 083194362320 Veby_shita@yahoo.com Veby_shita@yahoo.com
15. Winda prihartini Jl. Paku Gg. Siku tanah 600 Marelan Medan, 28 September 1992 083197992118 winda.prihartini@roketmail.com windaprihartini@roketmail.com
16. Ade Sya Putra Jl. Setia Luhur Gg. Budi No. 174 a Medan, 1 Agustus 1992 085767657451 ade.syaputra26@yahoo.co.id ade.syaputra26@yahoo.co.id
17. Dewi Kartika Putri Hulu Perumnas Simalingkar A Cengkeh II Gunung Sitoli, 17 Maret 1995 082369993199 cute.iekha13@yahoo.co.id cute.iekha13@yahoo.co.id
18. Muklis Al-Anshor Gg. M. Yasin Dsn. XII B. Khalippah B. Kalippah, 11 Juni 1991 08576014415 muan_anshor@yahoo.co.id muan_anshor@yahoo.co.id
19. Dewi Agus Fernita Ginting Jl. Siang No. 118 Kabanjahe, 25 Agustus 1991 085830326272 dewiagusfernitaginshu@yahoo.com Deazt Brechet Ginshu
20. Robby Subrata Jl. Pelaksanaan 1 Dsn. IV Gg. Famili VI Medan, 24 Oktober 1991 085658100018 robby.sketsa24@gmail.com robby.sketsa10@gmail.com
21. Annisa Tri Sari Jl. DC Barito Komp. PPKS No. 7B Bandar Kuala, 22 Mei 2012 087868092122 annisatrisari@roketmail.com nisa_saosin@yahoo.com
22. Dessy Annisa Putri Jl. Pancing. Komp. Medan Estate No. 9/Meranti Medan, 8 Desember 1988 085372776339- 087766140991 dcy_cute_821@yahoo.com
23. Isnayanti Lubis Jl. Bringin Psr. VII Tembung Medan, 31 Januari 1991 087869233856 isna.yanti31@gmail.com na.muqerjy@gmail.com
24. Julaiha S Jl. Selar No. 4 D Medan Medan, 11 Juni 1993 083194444199 Julaihasembiring93@gmail.com Julaiha aiha
25. Nurwidasari Lubis Jl. Letda Sujono Medan, 26 Oktober 1991 082369424397 nur.wida357@gmail.com Nurwidasari Lubis
26. Rizka Walidain Harahap Jl. Sekata 99 Nusa Indah Medan, 16 Desember 1997 081269850047 Rizqawalidain@yahoo.co.id
27. Sri Wulandari Jl. Medan-Binjai Km. 12,5 Gg. Damai P. Siantar, 7 Juni 1995 085361625385 wulan.sweety96@yahoo.com Wulan claluw
28. Marsela Arfina Jl. Medan-Binjai Km. 13 Konggo Aceh, 10 September 1995 082364959209 ela_cop@yahoo.co.id Marsela Arfina
29. Siti Nurlailli Jl. Sederhana Desa Sambirejo Timur PSR XI Tembung medan/15 Mei 1996 083194390029 sitimurlailli@ymail.com Nurlailisiti76@yahoo.com
30. Nazmul Asri Jl. AR. Hakim Gg. Langgar No. 3 Medan, 10 Juli 1995 087867523371 Nazmul.Asri@yahoo.com Nazmul Asri
32. Aisyah Haura Dika Alsa Jl. Perjuangan Gg. Sedar No. 7 Medan Medan, 4 September 1995 085763254002 alla_haura@yahoo.co.id
33. Rispandi Adha Jl. Sutomo Ujung Komp. T. Wakaf Medan, 10 Mei 1995 085262464698
34. M. Chairin Nazlan Jl. Jati No. 60 Medan, 29 Juli 1994 085261263244 g-jail@yahoo.com
35. Bayu Pamungkas Galang Kab. Deli Serdang Petumbak, 10 Oktober 1996 082369011752
36. Diah Afifah Sriekandi Jl. Thamrin No. 45 L. Pakam Medan, 10 Maret 1992 087868683320 sriekandiafifah@yahoo.co.id afifah.arrahman@gmail.com
37. Rabiah Jl. Rawacangkung I Gg. Masjid No. 10 Medan, 31 Mei 1993 087869363548 Rae-biachunique@yahoo.co.id Biah Sixfemmesrevsie
38. Neni May Aida Lubis Jl. Denai Gg. Sepakat No. 7 Medan Denai Medan, 27 Mei 1997 085261301307 bintangserious@yahoo.com Neni Aida Lbizz
39. Tri Utami Raudani Jl. Pelajar Timur Gg. Kasih. Perumahan Puri Firdaus No. 04 C Ajamu, 25 April 1994 085763032376 trimie_tami@yahoo.com Tri Utami Raudani
40. Liza Zahrina Jl. Pukat III No. 55 Mandala By Pass Medan Medan, 6 November 1994 082364265804 zha_lizazahrina@yahoo.com Zahrini Zha Lizha
41. Ayu Syafitri Wulan Sari Jl. Thamrin Lubuk Pakam Deli Serdang, 19 Februari 1995 081370064496
Nihilisme Sampai Sampan Zulaiha
Damiri mahmud.
Ketika membicarakan "Sampan Zulaiha" dalam tulisan yang lalu, saya tidak berpretensi sebagai guru dan Hasan Albana sebagai murid. Kalau dalam tanggapannya Mihar Harahap (MH) menyebut posisi kami seperti itu, itu tentulah asumsi MH saja.
Dalam pembicaraan kali ini saya pun lebih memfokuskan diri kepada teks mungkin untuk melengkapi tesis saya terdahulu atau sekali gus sebagai respons terhadap Supri Harahap dan MH.
Protagonis Tiurmaida adalah tokoh yag melankolik. Sebagaimana orang yang bersifat melankolik dia pendiam, berusaha mengisolasi diri, pemurung, sayu dan tidak nyambung dibawa bermusyawarah. Dia bukanlah prototipe perempuan di suatu daerah atau etnis tertentu. Dia bisa ditemui di mana saja tentu dengan mengubah nama dan aksesori yang melekat pada latar. Demikianlah serupa halnya dengan tokoh ibu dalam "Parompa Sadun…", Ompu Gabe dalam "Ceracau Ompu Gabe", Sarma dan Saipe dalam "Horja", Wak Bandi dalam "15 Hari Bulan", bapak Zulaiha dan Zulaiha dalam "Sampan Zulaiha". Mak Odah dalam "Hanya Angin…", Rabiah dalam "Rabiah", (Bukankah MH telah menemukan "Rabiah" di Mesir?) bahkan mungkin Risda dalam "Rumah Amang Boru" lebih jauh adalah seorang melankolia!
Apa yang dapat dimainkan pengarang dengan prototipe seragam seperti ini? Melihat alur, gerak dan terutama narasi dengan gaya berlebih-lebihan dapat kita simpulkan bahwa buku ini berisi cerpen-cerpen melodrama. Demikianlah kita lihat semua kisah berakhir dengan kesialan, kesedihan dan kematian. Kisah-kisah melodrama yang dengan begitu pengarang selalu berusaha mengharu-birukan pembaca terasa berlebih-lebihan dan tidak wajar.
Mengapa Ompu Gabe harus mati sungguhan saat berlakon di tiang gantungan? Bukankah dia telah membesarkan anak-anaknya selama 22 tahun menarik beca. Tentu hal itu telah menjadikannya matang sebagai manusia yang mempunyai sikap sebagaimana yang dikatakannya bahwa Teresia adalah pengkhianat? Jadi kalau dia harus mati di tali gantungan karena kecewa tak melihat bekas istrinya itu bukankah ini suatu yang cengeng?
Tiurmaida yang dikutuk, kematian anak dan suami yang terpasung lalu bekerja sebagai pemecah batu. Tak cukup kesedihan itu dideritanya dia mati tertimbun tanah longsor. Tokoh Ibu dalam "Parompa Sadun…" mengapa harus mati "hanya" tak mendapat cucu lelaki? Dalam "Horja" tokoh Saipe akhirnya mau dijodohkan dengan Tunggul, membuat Saima, ibunya bukan main girangnya. Pesta besar-besaran pun disiapkan. Di hari H-nya, Saipe lari kawin dengan Gindo tak lupa "menilap" uang persiapan pesta. Tamu-tamu berdatangan, bukannya melihat penganten sebagai niat semula, tapi melayat Saima yang terkapar mati. Haji Sodung orang kaya, telah empat kali naik haji lalu kematian isteri. Niat hati mau "ganti tikar" tapi dihalang-halangi oleh Risda yang bermanis-manis, tapi habis-habisan mengerjai mertua. Bukannya Haji Sodung mendapat "kawan tidur’ di hari tua, harta pun amblas awak tinggal di rumah jompo!
Mak Odah tak diberi kesempatan untuk hidup senang atau hanya sederhana. Suaminya mati, anak lelakinya hilang di perantauan, anak perempuannya pula tak pulang-pulang hidup berumah tangga di Jerman. Celah Mak Odah untuk hidup wajar akhir tertutup. Dia menampik pinangan seorang duda kaya dan hiduplah dia kesepian dan merana.
Wak Bandi? Nasip pensiunan itu lebih tragis lagi. Niat sucinya untuk naik haji kandas karena tambak yang diusahakannya musnah ditelan banjir dan dia mati tenggelam. Cerita tragis ini mencapai puncaknya dalam "Sampan Zulaiha". Seorang anak dara yang cacat disiksa ayahnya sedemikian rupa tanpa ada yang memperhatikan, menggubris dan menolongnya seolah mereka hidup hanya berdua. Akhirnya matilah dia tenggelam di laut.
Inilah kisah-kisah melodrama yang "memilukan dan menyayat hati" (dalam tanda petik). Kisah yang direkayasa pengarang seperti yang disebut oleh SH hampir semua cerpen dalam SZ berkisah kemurungan yang dinarasikan dengan panjang berjela-jela. Atau kata MH bahwa HB memasung para tokohnya, sehingga konflik tidak berkembang wajar menjadikan logika rendah.
Pada sisi lain, cerpen-cerpen melodrama selalu menghadapi resiko. Oleh karena perhatian pengarang teristimewa menitikberatkan kepada alur dan narasi yang berlebih-lebihan sisi lemahnya adalah penokohan jadi terabaikan. Dalam semua cerpen SZ protagonis dan dramatis personae adalah mesin atau robot yang digerakkan oleh pengarang. Sebagai pembaca kita tidak ikut bersedih hati ketika Tiurmaida dirundung malang, tidak sempat terpana dengan nasib Ompu Gabe yang lehernya terjerat benaran di tali gantungan. Bahkan tak merasakan nasib malang Wak Bandi dan sadism yang dialami Zulaiha. Kita keenakan dan keasyikan oleh kesibukan pengarang dengan gayanya memukau sehingga hampir tak sadar akan nasib yang menimpa sang protagonis. Mestinya pada cerita dengan penokohan (characterization) yang berhasil kita harus ikut merasakan pahit-manisnya keadaan tokoh. Atau bersimpati kepada seseorang protagonis dan berantipati terhadap lawannya. Lebih jauh bahkan kita selalu cenderung mengidentifikasikan diri terhadapnya.
Seperti disebut SupriHarahap (SH), cerpen-cerpen itu cenderung diam tak bergerak. Jika Hasan tidak lihai bermain dengan bahasa, maka pembaca menemui kelelahan dan kejenuhan, katanya. Saya setuju. Bahkan kepiawaian Hasan bermain dengan bahasa sampai pada tingkat riskan. Dari satu tokoh ke tokoh yang lain dari masing-masing ceritanya Hasan seperti menikmati permainan bahasanya. Dia seperti tersihir mengolah kata demi kata yang indah di saat protagonisnya mengalami nestapa!
"Uwak Bandi kehabisan tenaga, kehilangan doa. Tubuhnya dilumpuhkan air pasang. Kepalanya terdongak ke langit. Ei, mengapa dalam gontai-kuyup pandangan, dia menyaksikan Haji Sazali melayang ke pekarangan langit, menuju bulan? Haji Sazali tersenyum sambil melambaikan tangan, semacam kibasan ajakan. Uwak Bandi ingin menyahut lambaian itu. Bentang tangannya tengah berjuang menjadi benteng. Air enyandera Uwak Bandi. Bahkan, memerosokkan tubuhnya ke nganga lubang. Tenaga Uwak Bandi tinggal ampas. Tubuhnya timbul tenggelam, dihisap dihembuskan air pasang. Ah, adakah yang mampu mendengar gelepar tangisnya di perut air?
"Haji Sazali, tega nian kau meninggalkanku…" (SZ hal. 101-102)
Tingkat permainan bahasa lengkap dengan berbagai partikel dan klise yang menggelikan menurut hemat saya sudah di atas ambang keprihatian terhadap tokoh yang dihadapinya dalam keadaan sekarat.
Apakah ini sebuah gejala nihilisme? Mengingat dengan permainan kata seperti itu nilai-nilai kemanusiaan dan kesusilaan kita sebagai pembaca merasa terusik. Nihilisme yang menggalakkan kehidupan pesimisme, kematian dan bunuh diri serta senda gurau yang berlebihan sebagai ciri-cirinya. Semua cerpen Hasan dalam buku ini tokoh-tokohnya mengalami kehidupan yang buram, kematian dan bunuh diri yang dinarasikan dengan gaya yang indah dan kocak.
Lagi pula nihilisme selalu menyalahi dalam berkehidupan sosial dan berkeluarga. Kita lihat dalam cerpen "15 hari Bulan" Uwak Bandi adalah seorang yang sudah sepuh, pensiunan. Mengapa untuk ambisinya naik haji dia dibiarkan seorang sendiri membanting tulang membuka tambak lagi yang memang punya resiko tinggi? Tak ada yang mencegahnya. Seolah dia hidup seorang diri padahal dia punya keluarga.
Biasanya dalam sebuah cerpen realisme protagonis selalu dijaga oleh penulis untuk memenangkan misi atau moral cerita. Dalam cerpen Chairul Harun "Budi" adalah seorang pensiunan letkol yang miskin bernama Marzuki berkunjung ke Jakarta. Dalam bus kota dia dihimpit para pencopet, sehingga pingsan. Seorang penumpang menolongnya. Menurunkannya dan membawanya dengan taksi ke rumahnya. Dia dirawat dengan seksama. Setelah sembuh, si penolong menerangkan mengapa dia menolongnya. Ternyata Letkol Marzuki semasa PRRI pernah menjadi komandan yang sempat menyelamatkan nyawa si penolong. Letkol pensiunan itu bersimpati. Ketika akan pulang ke kediamannya dia diam-diam berjanji dalam hati untuk mengambilnya menjadi menantu. Tapi sebaik letkol Marzuki pulang, lelaki itu buru-buru pindah rumah. Dia takut jantung Marzuki akan copot kalau mengetahui bahwa penolongnya itu raja copet di Jakarta.
Kalau kita telisik dalam cerpen "15 Hari Bulan" tokoh Uwak Bandi adalah orang baik-baik saja. Bahkan cita-citanya setelah pensiun pun sangat baik pula. Naik haji. Mengapa pengarang meruntuhkan keingingan protagonis dengan menghadapkannya bermuka-muka dengan alam sebagai tokoh durjana atau antagonis? Inilah keabsurdan cerita ini. Cerita-cerita absurd yang banyak dibuat oleh Sartre, Camus, Kafka sebagai pemuka sastra nihilisme. Di Indonesia kita kenal Budi Darma, Afrizal Malna, Nirwan Dewanto, Joko Pinurbo dan para sastrawan postmodernisme umumnya ikut menyuarakan nihilisme dalam karya-karyanya.
Nihilisme yang mengoyak tatakrama dan tata kehidupan sosial diperjelas dalam cerita "Sampan Zulaiha". Di sini ironi permainan kata-kata pengarang dengan kesadisan antagonis mencapai puncaknya. Pengarang seperti keasyikan atau maniak keindahan. Setelah bapaknya menikamkan runcing cuban, pisau penyirat jala, ke kening Zulaiha yang bersimbah darah, muncul kutipan ini: "Angin berontak. Ombak berderak. Dermaga usang berguncang. Zulaiha sejak lampau, tak pernah menabung, takut. Langit pekat. Cuaca sekarat. Udara bertumbangan. Aroma garam bercampur anyir darah bertebar di atas kepala Zulaiha. Bunyi petir macam suara nenek sihir. Menakutkan. Zulaiha tak kecut. Dia tegak menghadap laut. Kilat melesatkan cahaya, seperti cambuk api yang melecut tengkuk laut. Angin mendaki menghempas. Rambut Zulaiha mengibas, seperti melambai apa, atau menyahut siapa?
Laut meninggi ribuan senti. Tempiasnya mencipta hujan air garam, menguyupkan tubuh Zulaiha yang timpang. Dia tadahkan lekuk tangan ke laut. Aha, Zulaiha hendak mendekap siapa?
Tidak mendekap siapa-siapa. Malam itu, bukan dendam kesumat yang Zulaiha tunaikan, melainkan cita-cita: melaut sendiri, sendiri! O, tengoklah, sampan Zulaiha adalah tubuh Zulaiha sendiri." (SZ hal. 69-70).
Bukankah gaya dalam narasi itu malah memberi sugesti terhadap perbuatan bunuh diri. Apalagi kalau kita kaji bahwa cerpen ini telah mengoyak tatakrama kehidupan, kekerabatan dan kekeluargaan. Ayah, si tokoh durjana , begitu bebas melakukan penyiksaannya. Tak ada sistem yang bisa menghambatnya. Baik keluarga, padahal dia menyiksa di hadapan ibu dan anak-anaknya, ataupun kerabat dan masyarakat, yang ikut menyaksikannya membantai si anak di hadapan mereka.
......
Akhirnya, kita sepakat membangun rumah
Sesudah lelah memimpikannya dalam sajak
Dalam benak berlumut: rumah dengan dua pintu
Ke dalam dan ke luar, rumah dengan dua kamar
Dan sepasang lubang kunci, kau dan aku
Kemudian kita jadi terlebih memahami rumah
Rumah ternyata menyimpan begitu banyak lubang
Begitu banyak kamar, kita pun tak paham kapan
Kita bisa sampai di sana untuk sekadar rebah mati, atau
Lewat lorong dan pintu yang mana sebaiknya masuk
Sebab rumah adalah labirin, laut, dan pada setiap kelok
Pojoknya menganga palung-palung bahasa
.........
Wednesday, 6 June 2012
PUISI KEMERDEKAAN, KEBANGSAAN DAN KEPAHLAWANAN
Sajak-sajak M. Raudah Jambak
INDONESIA, MERAH-PUTIHKU
Indonesia, Indonesia
di negeri ini aku dilahirkan
di negeri ini aku dibesarkan
di negeri ini aku menggapai
segala impian
segala harapan
segala cita
dan cinta
Indonesia, Indonesia
engkau adalah taman terindah
ibu yang paling ramah, penuh
kasih dan sayang
dalam suka
maupun duka
Indonesia, Indonesia
adalah do’a-do’a hikmat sebelum tidur,
adalah gula dalam setiap makanan maupun manisan
adalah cahaya penerang segala terang maupun yang kabur
adalah puncak segala warna dalam lukisan dan racik tenunan
Indonesia, Indonesia
laksana obat penghilang perih luka-luka
tilam paling nyaman setiap ketentraman berdiam
danau tempat membasuh tumpukan-tumpukan duka
dan senyuman dalam mata paling nyalang atau sebenam pejam
Indonesia, Indonesia
barisan semangat sepanjang carnaval
anak-anak yang berlari riang sepanjang jermal
kekasih segala pujaan, membenam segala gombal
Indonesia, Indonesia
merah darahku
putih tulangku
di tubuhku
kita menyatu
padu
medan, 10-12
MENJAGA INDONESIA
Mungkin tak pernah terpikirkan
entah berapa helai daun yang gugur di halaman rumah kita
dan membusuk, atau hangus begitu saja di gunungan sampah
yang berhari-hari kita biarkan. Pun, ketika ia terseret di arus banjir
dan terdampar di kehilangan pandangan kita
Adakah terbaca setumpukan debu
yang menebal di datar kaca jendela, bersebab
kemarau dan bising lalulalang jalan raya. Padahal
tanpa sadar ia selalu menari di hadapan kita, ketika kita
berpatut-patut diri sebelum berangkat kerja
Lalu sempatkah terhitung
berapa usia ruang depan rumah kita yang membiarkan
tetamu datang dan pergi, serta gelas yang terjatuh dikarenakan
keriangan anak-anak berkejaran di seputar meja. Termasuk perempuan
yang kemudian dikatakan istri, dikatakan ibu, berebut kisah laksana setrika, selalu berpindah
dari kasur, dapur dan sumur. Juga lelaki yang tercatat sebagai suami, tercatat sebagai bapak
memungut kisah dari rumah sampai rumah
begitulah Indonesia
ia menyediakan diri sebagai apa saja
dan mungkin tak pernah terpikirkan, terbaca, atau terhitung
tentang daun-daun, debu atau justru sebagai rumah, tempat orang-orang
memungut istrirah
Indonesia adalah rumah kita
yang penuh dengan sesak sampah
yang penuh dengan riuh debu-debu
yang penuh dengan tamu-tamu
datang dan pergi
Indonesia adalah rumah kita
yang berpagar, yang berubah-ubah warna dindingnya
yang bagian-bagiannya dihancurkan kemudian
dibangun kembali
Indonesia adalah rumah kita
yang menyimpan begitu banyak cerita
dan sepatutnyalah kita
jaga
medan, mei 2012
MASIH MERDEKAKAH KAU INDONESIA?
Masih merdekakah kau Indonesia
setelah kau rajut usia dari debu-debu jalan raya
dalam kaleng rombeng
recehan angka milik pengemis belia
yang mendendangkan kidung lara
bersama hembusan dupa dari opelet tua
masih merdekakah kau Indonesia
ketika musyawarah berubah dari mufakat
menjadi siasat
ketika wakil rakyat lebih mewakili penjahat
ketika gedung dewan lebih mirip kandang hewan
dan ketika pejabat negara tega menjadi pengkhianat bangsa
Masih merdekakah kau Indonesia
dalam kemerdekaan yang kau sendiri tak paham maknanya
karena matamu telah dibutakan
dan mulutmu disekat rapat-rapat
serta telinga cuma sekedar bunga tanpa rupa
Masih merdekakah kau Indonesia
padahal telah banyak disumbangkan darah dan air mata
dan berjuta nyawa yang akhirnya cuma sekedar wana luka
Masih merdekakah kau Indonesia?
Komunitas HP, 2002
INDONESIA BERKACA
telah lama indonesia terjebak dalam buramnya
kotak kaca, mulai dari wajah yang berdebu, sampai
tiga dimensi yang kaku, parabola tak lagi berguna
dikalahkan kecanggihan batok kelapa-
kejahatan, penipuan, kemunafikan-berlomba menjadi
pelaku utama-sementara kejujuran, keikhlasan,dan
kesabaran-cukup puas sebagai figuran biasa
telah lama indonesia terjebak dalam kumuhnya
media masa, mulai dari wajah yang penuh darah,
sampai bibir merah penuh gairah, headline kemanusiaan tak lagi berguna, politik haus kekuasaan di atas
segalanya-korupsi, prostitusi, anti ideologi-menjadi berita terkini-sementara harkat, martabat, dan
nurani-hanya penghias demi investasi
telah lama indonesia terjebak di atas panggung sandiwara, yang selalu kehilangan penonton setia
mulai dari fans tiba-tiba, sampai kelas utama
tiket pertunjukan tidak lagi berguna, sebab
undangan gagal membawa marwah cerita-pemain, penata, dan sutradara-saling curiga dengan honor
yang diterima-sementara proyek, eksebisi, dan
pertunjukan dalam rangka-menjadi penentu final
dalam berkarya
lihatlah aceh, ambon dan papua
lihatlah korupsi, prostitusi dan manipulasi negri
lihatlah segala amoral dan asusila
anak-anak bangsa
apa khabar munir yang menunggang garuda
apa khabar harry roesli dengan drs. arief-nya
apa khabar peter white dan sepakbola indonesia
apa khabar sby bersama seratus harinya
apa khabar hamid jabbar yang selalu menzikirkan puisinya, selalu tertawa gembira-walau dalam tangis indonesia
apa khabar tsunami yang selalu meneteskan
air mata
do'a takjim buat saudara-saudaraku,
yang mengawang di bukit lawang, menanam pusara badan di kuningan, menyerah di bandara adi sumarmo yang
gelisah, ambruk mengurusi nyamuk-nyamuk, menggigil digetarnya gempa tsunami
dan yang tiba-tiba pergi ke negeri entah
(tuhan mengarahkan langkah kalian menuju taman
di dalamnya mengalir sungai susu, tumbuh bunga-bunga indah, dan ranumnya beragam buah)
telah lama indonesia terjebak dalam lusuhnya cermin kaca, tapi yakinlah kami masih mampu
membaca makna-membersihkan wajah indonesia
indonesia bercermin
indonesia berkaca
dalam derita
kami akan terus berjuang untukmu
dalam bahagia
kami akan senantiasa mengharumkan
namamu,
indonesia berkaca-anak-anak bangsa berusaha
terangkai do'a, senantiasa
Medan, 2001
SEBAB PAHLAWAN NAMAKU
Di dalam negeri yang penuh rahasia, aku terlahir
Dari seorang ibu yang tak henti mengumpulkan
Segala tetes air mata di pualam pipinya
Tumbuh besar sampai sekarang menjaga usia
Setua misteri yang beralis segala teka teki
Dan memberi namaku Pahlawan
Bukan aku yang meminta nama segagah itu
Bukan aku yang memaksa untuk ditabalkan
Bukan aku yang terpaksa atau bahkan rela
Merengek-rengek agar semua orang tahu
Tidak ada Pahlawan selain aku
Aku tidak harus mati dulu
Apalagi mengumpulkan kartu tanda penduduk
Atau mengumpulkan kartu keluarga sekian ribu
Bahkan harus PEMILU agar ibu menuliskan
Kata Pahlawan di keningku
Ooi, Aku bangun jiwa raga ini
Aku bangun cita-cita ini
Aku bangun negeri ini
Dengan nurani
sebab pahlawan namaku
Ooi, Tak harus kutempuh cara yang sama
Tak harus kutempuh jalan membabi buta
Tak harus kutempuh menikung suka-suka
Tapi kususuri cara yang sesederhana jiwa
sebab pahlawan namaku
Ooi, Sebab aku terlahir
di dalam negeri penuh rahasia dari seorang ibu
yang tak henti mengumpulkan segala tetes air mata
di pualam pipinya,
Maka pahlawan namaku
Bogor, 2008
AKULAH WAKTU, KAULAH MASA, KITA CATAT SEJARAH
/1/
Akulah waktu menggaungkan takbir bersama titik embun
yang jatuh dari ujung daun-daun dan angin yang gagal menangkapnya
serta seekor ayam jantan di bubungan yang lepas satu bulunya
sesungging senyum Tongging
Akulah Waktu yang kehilangan makna beban
Sebab ia adalah jalan menuju Tuhan
Sebab ia adalah cermin buat berdandan
Akulah waktu penguasa segala musim basah maupun kering
panas dan juga dingin. Gemuruh maupun sunyi. Tapi tetap sujudku
tapi tetap zikirku tak hilang dari sajadah sepanjang sejarah.
Akulah waktu yang menyimpan lengking tangisan pertama
sampai pada halaman-halaman kehidupan yang tenggelam
sepanjang aliran sungai darah dan degup detak jantung berderak
/2/
Akulah waktu, maka kaulah masa dari puncak gunung tertinggi.
perlahan menurun, perlahan mendaki lalu memutar memungut lara.
mengitari perjalanan batu dan pepohonan alip ba ta segala cinta!
Dengarlah angin yang berhembus! Dengarlah! Siulannya meninabobokkan
Elusannya begitu melenakan menyulam mimpi sewarna udara
bertawaflah! Ber-Sa'ilah! mencari jiwamu yang terus menari
di seputar wajah danau toba
Akulah waktu, maka kaulah masa laksana Musa yang membelah laut.
Seperti Musa yang berjumpa Tuhan di bukit Tursina. Seperti Musa
yang berburu zikir bersama Khaidir
lalu Batu, lalu waktu, lalu lara, lalu masa!
Lalu adam, lalu Ibrahim, lalu Muhammad!
Laa ilaa hailallah, Muhammadurasulullah!
/3/
Akulah waktu, kaulah masa kita catat sejarah
Kerikil-kerikil tajam tafsiran-tafsiran kelam
yang tercatat di baris-baris halaman kitab keabadian.
di aliran waktu
di aliran rindu
di aliran cemburu
sederas sipiso-piso
sedingin sidompak
Komunitas Home Poetry, 2008-2010
Subscribe to:
Posts (Atom)

