Thursday, 25 April 2013

Jenis Karya Sastra Indonesia


Jenis karya sastra di Indonesia dibagi menjadi tiga, yaitu drama, prosa, dan puisi

Drama
Istilah drama berasal dari kata drame, sebuah kata dari Bahasa Perancis yang
diambil untuk menjelaskan lakon-lakon mereka tentang kehidupan kelas
menengah di Perancis.


Dalam buku Webster’s New Collegiate Dictionary, dinyatakan bahwa drama
merupakan karangan berbentuk prosa atau puisi yang direncanakan bagi
pertunjukkan teater (Henry Guntur, 1984). Drama (Yunani) merupakan
jenis karya sastra yang ada bagian tertentu yang diperankan oleh aktor/aktris.

Definisi drama
1. Drama adalah kualitas komunikasi. Situasi, dan action
2. Drama menurut Moulton adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak
(life presented in action)
3. Drama menurut Brander Mathews adalah konflik dari sifat manusia
merupakan sumber pokok drama
4. Drama menurut Ferdinand Brunetierre adalah melahirkan kehendak
manusia lewat action.

5. Drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog, yang
diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action di
hadapan penonton (audience).

Teori Asal Mula Drama menurut Brockett :
Drama berkembang dari upacara religius primitive yang dipentaskan untuk minta pertolongan dewa
Hymne pujian yang dinyanyikan bersama di depan makam seorang pahlawan. Pembicara memisahkan diri dari koor dan memperagakan perbuatan dalam kehidupan almarhum pahlawan itu.
Drama tumbuh dari kecintaan manusia untuk bercerita. Kisah tentang perburuan/peperangan atau perbuatan yang luar biasa seseorang pahlawan yang telah gugur.

Dalam pementasan sebuah drama, ada tiga unsur yang penting yang
mempengaruhi keberhasilan pementasan. Tiga unsur tersebut adalah sutradara,
pemain, dan penonton.

Pementasa drama dapat menggunakan berbagai media seperti panggung, film,
atau televisi. Kadang pementasannya dikombinasikan dengan musik dan tarian.

Naskah
Naskah lakon sebenarnya juga memiliki kekayaan tersembunyi untuk dianalisis
baik untuk kepentingan panggung (teater), maupun kepentingan sastra. Menurut
A. Teeuw (Pengamat sastra modern kita yang berasal dari Belanda /1984),
menggunakan analisis struktural guna membongkar dan memaparkan secara
cermat, teliti, detail aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makna
menyeluruh.

Penulis Drama di Indonesia
Para penulis drama Indonesia antara lain, Asrul Sani (satu diantara “Tiga Menguak
Takdir “). Selain Asrul Sani anggota Tiga Menguak takdir adalah Chairil Anwar
dan Rivai Apin. Asrul Sani hanya tampil sebagai sutradara panggung dan
penyusun naskah terjemahan dari Jean Paul Sartre atau Lorca. Asrul Sani
merupakan pelopor sastra angkatan 45. Penulis sastra lainnya adalah WS Rendra
dengan karyanya Kereta Kencana “ Eugene Ionesco atau Oedipus dari Sophokles),
Riantarno, Arifin C Noer, Iwan Simatupang, Utuy T Sontani, Motinggo Boesje, Sitor
Situmorang, Wisran Hadi (Malin Kundang).

Perbedaan Drama dan Teater
Drama adalah kisah kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas,

didasarkan pada naskah yang tertulis dengan atau tanpa musik, nyanyian atau
Tarian.
Teater adalah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak.
Misalnya teater, wayang orang, ketoprak,ludrug, topeng, lenong, sulap dll .

PROSA
Prosa adalah suatu jenis tulisan yang berbeda dengan puisi karena variasi ritme
(rhythm) yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan
arti leksikalnya. Kata prosa berasal dari bahasa Latin " prosa" yang artinya "terus
terang". Jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu
fakta atau ide. Karenanya, prosa dapat digunakan untuk surat kabar, majalah,
novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media lainnya. Prosa biasanya
dibagi menjadi empat jenis: prosa naratif, prosa deskriptif, prosa eksposisi, dan
prosa argumentatif.
Prosa dibagi menjadi dua, yaitu Roman dan Novel.
Roman adalah cerita yang mengisahkan tokoh sejak lahir sampai meninggal,
Sedangkan novel hanya mengisahkan sebagian kehidupan tokoh yang mengubah
nasibnya.

Istilah roman mulai berkembang sejalan dengan munculnya karya sastra
Indonesia modern sejak Balai Pustaka. Pada periode tersebut, terbit karya-karya
sastra yang monumental seperti Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Sengsara Membawa
Nikmat, dan sebagainya. Karya-karya prosa itu disebut roman-roman periode
Balai Pustaka. Pada periode selanjutnya yaitu periode Pujangga Baru, muncul
pula karya sastra prosa yang disebut roman seperti Layat Terkembang, Belenggu,
dan sebagainya.

Pada saat itu, istilah novel belum popular. Bahkan, karya-karya Hamka pun
seperti Di Bawah Lindungan Kabah dan Tenggelamnya kapal Van der Wijk yang terbit
setelah periode 1945 masih digolongkan ke dalam roman meskipun saat itu
istilah novel mulai dikenal. Buku-buku yang menggunakan istilah roman di
antaranya Roman dalam Masa Pertumbuhan Kesusastraan Indonesia Modern
karangan Aning Retnaningsih, Ikhtisar Sejalan Sastra Indonesia karya Ajip Rosidi,
Sastra Indonesia Pengantar Teori dan Apresiasi karangan Liberatus Tengsoe
Tjahyono. Sedangkan novel mulai banyak dibicarakan sekitar tahun 50-an.

Ciri Novel yang membedakannya dengan karya sastra lainnya :
1. Novel adalah karya sastra berjenis narasi.
2. Novel adalah karya sastra berbentuk prosa.

3. Novel adalah karya sastra yang bersifat realis, artinya menceritakan kehidupan
tokoh secara nyata, tanpa disertai peristiwa-peristiwa yang gaib dan ajaib.
Umumnya novel merupakan tanggapan pengarang terhadap lingkungan sosial
budaya sekelilingnya.
4. Novel adalah karya sastra yang berfungsi sebagai tempat menuangkan
pemikiran pengarangnya sebagai reaksinya atas keadaan sekitarnya. Dalam
aliran imprisionisme, pengarang menempatkan dirinya dalam kehidupan yang
diceritakan. Perenungan-perenungan pembaca setelah membaca sebuah novel
akan tiba pada sebuah pemikiran baru tentang makna hidup

PUISI
Adalah tulisan atau salah satu hasil karya sastra yang berisi pesan yang
memiliki arti yang luas. Untuk mengetahui makna yang terkandung di dalam
sebuah puisi, seseorang perlu mengartikan dan memahami betul secara detil
maksud kata-kata yang ada dalam bait-bait puisi.

Monday, 28 January 2013

SAYEMBARA TIM SUKSES CALON PANGLIMA RAJA

FK METRA SUMUT, adalah Forum Komunikasi Media Tradisional Sumatera Utara. Kepengurusannya, di Masa Bakti Tahun 2011-2016 diketuai oleh Ibu Dr.Ir.Hj.Hidayati, M.Si, yang pengukuhannya dilakukan oleh Plt Gubernur Sumatera Utara H.Gatot Pujonugroho, ST pada tanggal 21 Maret 2012 di Asrama Haji Medan. Ketua sebelumnya, H.Dahri Uhum Nasution, atau akrab disapa dengan Atok Ai, bangga bercampur haru dengan regenerasi ini. Artinya, Ibu Hidayati, yang semasa remajanya adalah salah satu dari sekian banyak anak didik Atok Ai di Teater Nasional (TENA) Medan, membuktikan dirinya mampu menerima kepercayaan untuk memimpin sebuah organisasi kesenian berbasis tradisi lokal berskala provinsi. Perlu diketahui, Atok Ai merupakan salah satu penggagas sekaligus pendiri FK METRA NASIONAL, yang ditetapkan pada tanggal 20 Mei 2005 di Jakarta bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, dengan harapan bangkit pula Media Tradisional di seluruh Indonesia. Dan diaktekan pada tanggal 5 Desember 2005 oleh Notaris Ratih Gondokusumo Siswono, SH di Jakarta.

FK METRA SUMUT merupakan wadah kemasyarakatan didalam menampung, mengurus dan membina seluruh komunitas/grup media tradisional di Sumatera Utara, termasuk media tatap muka, luar ruang dan pameran. Dengan kata lain, FK METRA yang kegiatannya bukan hanya media pertunjukan rakyat, tapi juga termasuk media komunikasi tatap muka, media luar ruang dan media pameran. Juga sebagai unsur utama kebudayaan Nasional pertunjukan rakyat atau kesenian tradisional yang komunikatif, yang ada dialognya, yang mempunyai pengaruh yang lebih besar terhadap masyarakat.

Media Tradisional adalah berbagai macam seni petunjukan yang secara tradisional dipentaskan di depan khalayak ramai terutama sebagai sarana hiburan yang memiliki sifat komunikatif, sehingga bentuk kesenian tersebut dapat dimanfaatkan sebagai media pembawa pesan-pesan pembangunan untuk kesejahteraan rakyat dalam penyelenggaraan pemerintah, non pemerintah ataupun swasta. Unsur tradisional dan sifat komunikatif dari seni pertunjukan tersebut memudahkan untuk dapat digunakan sebagai media komunikasi yang efektif tanpa harus kehilangan fungsinya sebagai media hiburan.


 DASAR PEMIKIRAN
Sumatera Utara atau Medan khususnya, yang dihuni oleh berbagai etnis serta agama, memiliki kultur budaya yang berbeda dengan daerah lain di Nusantara. Suku pendatang seperti Jawa maupun warga keturunan misalnya, yang dalam kurun waktu tertentu telah menetap di kota wisata kulineri ini, mau tidak mau terbaur dengan karakter masyarakat setempat serta ‘terkontaminasi’ dengan ciri yang ada. Kondisi tersebut lambat laun menjadi bagian tak terpisahkan dari karakter khas masyarakat Sumatera Utara. Kita sebut saja karakter yang cenderung berwatak keras dan dinamis dalam mempertahankan prinsip, tegas, terbuka, bahkan blak-blakan dalam berbicara maupun mengungkapkan pendapat. Istilah-istilah atau plesetannya pun kerap muncul dan terlahir secara spontan, sekenanya, berpantun, dan tak pernah mati, serta bergulir lancar didalam obrolan sehari-hari.


Dalam konteks berkesenian, muatan lokal atau corak kehidupan masyarakat Sumatera Utara tersebut telah menginspirasi kami sebagai penggiat seni pentas untuk mengekspresikannya dalam bentuk pertunjukan. Maka jadilah sebuah menu hiburan dan pesan – yang dalam hal ini kami sebut sebagai berkelakar dan berpesan lewat seni pertunjukan drama, tari, nyanyi dan musik. Dan didalam penggarapannya sengaja kami libatkan unsur (seni) tradisi yang terdapat di Sumatera Utara sebagai akar konsepnya. Dalam kesempatan kali ini, kami pilih Sandiwara Bangsawan, yang kental beraroma Melayu.

 KONSEP
OPERA METRA (OPETRA) adalah pertunjukan rakyat yang dikemas sarat hiburan dan gampang difahami karena didalam penyampaiannya banyak menggunakan bahasa sehari-hari. Selain itu, juga banyak menyelipkan pantun serta lagu yang kontekstual dan aktual sebagai variasi dialog guna kepentingan atau muatan humorisnya. Disamping itu, OPETRA meramu atau melibatkan unsur-unsur tradisi dari berbagai etnis atau budaya lokal yang terdapat di Sumatera Utara seperti Mandailing, Batak, Simalungun, Karo dan lain seterusnya, Tarian/nyanyian dengan sentuhan alat musik tradisional seperti Gendang/Pakpung, Akordion, Taganing, Gondang Dua, Tamborin, Keteng-Keteng, Hasapi, Biola, Gong dan lainnya, membentuk suatu kemasan tontonan atraktif serta dinamikanya mengajak penonton untuk ikut berdendang dan bergoyang tanpa mengenyampingkan unsur-unsur informatif dan edukatif. Dengan kata lain, OPETRA dapat dispesifikasikan sebagai Lagak Lagu Anak Medan (Sumatera Utara). ‘Kombur Malotup’ para penggiat seni pentas Sumut yang bergabung dalam OPETRA ini jangan buru-buru diartikan secara sempit dan negative. Karena dia adalah merupakan sebuah karya pertunjukan pentas yang dipersiapkan dan di tata secara khusus & khas, yang kontensnya merupakan tontonan dan tuntunan. Sejalan dengan fungsi ideal Media Tradisional kita yang telah digariskan oleh pemerintah. Seperti yang digambarkan si Pancarita (Dalang) dalam dialognya pada segment opening di setiap pementasannya ; … Satu sama lain kami membaur – dengan niat yang terukur – bukan sekedar bertutur dan menghibur – tapi ada pesan yang mau ditabur …

 DISAIN
Setiap cerita yang ditampilkan OPETRA dikemas dalam bentuk pertunjukan rakyat yang sarat hiburan dan mengandung pesan sosial, budaya, pendidikan, hukum dan lainnya. Penyampaiannya lugas, tangkas, bernas, kocak bombas. Kritik menggelitik, segmentik, etnik dan asyik.

 PERSONIL
Para personil OPETRA terdiri dari penggiat-penggiat seni drama, tari, nyanyi dan musik, yang notabene para pengurus FK METRA SUMUT. Dan masing-masing mereka telah berulangkali memperoleh penghargaan dalam berbagai ajang lomba baik di tingkat lokal, regional maupun nasional. Selain itu masing-masing personil dimaksud juga telah berulangkali dihunjuk sebagai Duta Seni Sumut ke even-even seni dan budaya didalam maupun luar negeri. Tersebutlah Dahri Uhum Nasution/Atok Ai ( Aktor/ Sutradara/


Pengarah sekaligus Penggagas/Pendiri FK METRA NASIONAL dan SUMUT); Yan Amarni Lubis (Aktor Drama Pentas Terbaik SUMUT 1976/Pemain Sinetron & Film
/Sutradara Film Pendek/Penulis Naskah/Kreator Pelakon/Tim Kreatif beberapa mata acara di TVRI Sumut maupun beberapa Instansi Pemerintah); M.Raudah Jambak (Aktor Terbaik Medan/Sastrawan Aktif Kreatif/Direktur Komunitas Home Poetry); Dayon Arora (Komedian/MC/Telangkai/Host beberapa mata acara di TVRI Sumut/ Penggiat Wadah Pendidikan); Munir Nasution (Komedian/MC Kondang/Finalis Audisi Pelawak atau API/TPI); Andy Mukly (Aktor/Sutradara Terbaik Drama Pentas/Pemain Sinetron/Film/Pemenang I di banyak Even Lomba Baca Puisi di Medan /Pengajar Seni Akting di beberapa SMP dan SMA di Medan/Komedian-8 Finalis API/TPI); Sofyan (Penyanyi/MC/Telangkai); Eva Gusmala Yanti (Penyanyi/Etnomusikolog/Aktris Terbaik I Lomba METRA NASIONAL Tahun 2011 di Solo); Liza Zahrina (Juara 1 Lomba Pemilihan Remaja Deli Berbakat 2008/Juara I Lomba Puisi Se-SUMUT/Juara I Puisi Remaja dalam acara Festival Seni Dakwah Islam Tahun 2010/Juara II Lomba Calon Penyiar Televisi TVRI Sumut dalam rangka HUT TVRI ke-41 Tahun 2011); Ade Fitri Nasution (Pemain Sinetron dan Drama Pentas yang sudah banyak pengalaman); Tafa Mustafa (Pemain Drama Pentas yang sudah banyak pengalaman dan bergabung dalam Tim METRA SUMUT, yang berhasil meraih Juara III dalam Lomba METRA NASIONAL Tahun 2012 di Manado); Ifan Minimalis (Pelakon seni drama yang sudah berulangkali dipercayakan sebagai goal getter dalam setiap penampilannya di pentas maupun televisi); Rubino (Pemusik yang sudah berulangkali bergabung dalam Tim Kesenian Sumut ke berbagai daerah di tanah air maupun luar negeri/Pengajar Seni Musik & Nyanyi); Samsidi (Pemusik yang sudah berulangkali bergabung idalam Tim Kesenian Sumut ke berbagai daerah di tanah air maupun ke Asia, Amerika dan Eropa/Pengajar Seni Musik); Ade Jabbal (Pemusik muda berbakat namun sudah diberi kepercayaan beberapa sutradara drama pentas untuk memberi sentuhan musik pada pementasan mereka/Pernah bergabung dalam sebuah Tim Kesenian Sumut dalam lawatannya ke negeri ‘kincir angin’ Belanda/Berandil besar dalam kelompok musiknya dalam menjuarai beberapa ajang lomba musik Islami di Medan/Aktor drama pentas); Jamal Dee Jee (Penata Panggung di banyak pementasan drama di Medan) serta beberapa seniman berpengalaman di berbagai bidang seni yang kami tempatkan sebagai nara sumber guna mendapatkan keakuratan materi untuk penguatan cerita yang hendak ditampilkan.

 PANDANGAN KE DEPAN
FK METRA SUMUT serta OPETRA-nya berkepentingan terus hadir ditengah lapisan masyarakat lewat pertunjukan berkemas pengembangan dari kesenian tradisional Sumatera Utara. Seperti kita ketahui, kesenian tradisional adalah sebuah karya budaya leluhur bangsa yang merupakan kekayaan dan aset bangsa yang harus dilestarikan, dikembangkan dan diberdayakan. Maka sudah seharusnya seluruh bangsa Indonesia (tanpa kecuali) menghormati perjuangan dan pengorbanan para pahlawan dan pendahulunya yakni leluhur bangsa. Sebagai anak bangsa yang cinta budaya kita wajib mensyukuri dan berbuat yang terbaik bagi rakyat, bangsa dan negara, dengan mewujudkan cita-cita kemerdekaan, mendayagunakan segenap potensi bangsa dan negara, termasuk potensi seni dan budaya nusantara yang merupakan hasil cipta, rasa dan karsa leluhur bangsa Indonesia.
Sandiwara Bangsawan

SAYEMBARA TIM SUKSES CALON PANGLIMA RAJA
Naskah drama M. Raudah Jambak

PARA PEMERAN
Panitia 1
Panitia 2
TS 1
TS 2
Rakyat 1
Rakyat 2
Warga 1
Warga 2
Beberapa Pendukung


Sinopsis
SUNGGUH sangat wajar kiranya, di sebuah negeri. Di manapun itu, selalu ingin memberikan yang terbaik. Diantaranya adalah memilih pemimpin. Rakyat bersemangat ingin memilih pemimpin yang terbaik, walaupun masih saja ada kekurangan di sana-sini. Sesuatu yang sangat wajar kiranya. Bagaimana kisahnya....Tabik....

Panitia1 : Pengumuman-pengumuman, diumumkan kepada umum bahwa
ada Pengumuman yang harus disampaikan kepada umum,bahwa
pengumumman Ini untuk umum agar diketahui umum.
Pengumuman ini dari raja untuk masyarat umum. (melirik ke kiri
ke kanan) wah, panitia pada kemana kok belum ngumpul. Inilah
kebiasaan yang harus diubah. Selalu menggunakan
jam karet alias jam molor.....

Panitia 2 : (muncul dengan make-up menor)
Panitia 1 : Ya, ampun. Neng, mau kemana……
Panitia 2 : katanya mau menyambut para TS…?
Panitia 1 ; iya, tapi kok dandanannya kayak donat gitu?
Panitia 2 : katanya suruh dandan.....?
Panitia 1 : kita ini mau menyambut TS. Bukan pergi ke sirkus...
Panitia 2 : Abang itu pakaiannya..?
Panitia 1 : kenapa?
Panitia 2 : Kaya KERA-KERA NINJA?
Panitia 1 : Maksudmu KURA KURA NINJA?
Panitia 2 : Itu kalau telungkup, Bang............
Panitia 1 : Ah, porno kau..... Pengumuman-pengumuman, diumumkan
kepada umum bahwa ada Pengumuman yang harus disam
paikan kepada umum,bahwa raja, akan memanggil seluruh TS
calon panglima untuk hadir ke pendopo tiara istana kerajaan ini.
Di harapkan masyarakat untuk hadir menyaksikan pertanggung
jawaban selama pesta para TS calon panglima. Yang akan
menjadi TS calon panglima selanjutnya yang menggantikan
panglima kerajaan yang telah pangsiun.
Panitia.2: Loh, kok Pangsiun, bukannya Pensiun...
Pantia 1 : itu kalau pangkat rendah. Kalau tinggi Pangsiun. Udah dengar
aja kau....
(MUSIK PENGANTAR)
TS.1 : Selamat siang!
Panitia.2: Selamat siang, bang udah datang satu TS. Silakan duduk.
TS. 1 : Dengan hormat,Maaf bapak, maaf ibuk, maksud kedatangan saya
kemari, tidak lain dan tidak bukan untuk memenuhi undangan
panitia.
Panitia.1: Silahkan duduk.
(MUSIK PENGANTAR)
TS.2 : ( Masuk )
TS.2 : Kacang bukan sembarang kacang, kacang melilit kayu delima.
Datang bukan sembarang datang, datang memenuhi undangan
panitia.
Rakyat.1: Tanam Pinang sirapat-rapat, agar puyuh tak dapat lari, kukenang
-kenang takdapat-dapat, naik becaklah aku kemari.
(MUSIK PENGANTAR).......R2 MASUK TERLAMBAT LARI ANJING.
Rakyat.2 : Kain rombengan kain keramat, maaf cowok rombengan
terlambat.
Panitia.2 : Kain rombengan dibelit-belit, jalannya kok kayak kesembelit....!
Silahkan ambil tempat.
Panitia.1 : Baiklah karena para TS sudah kumpul maka pertemuan kita
hari ini kita mulai. Saya akan sampaikan ketentuan yang harus
dipatuhi bagi semua TS, pertama ; tiap TS memperkenalkan
dirinya kemudian menyampaikan kegiatannya selama masa
kampanye. dan waktunya 5 menit. Kalau mendengar suara
seperti ini (bel) kesempatan menutup laporan selama 30 detik.
Selanjutnya akan ada sesi tanya jawab waktunya 7 menit. Ada
pertanyaan....? Mungkin belum jelas.
TS.1 : Bang, kirim-kirim salam boleh bang...?
Panitia.1 : Gaknyambung kau, ini bukan acara Ring dan Lagu,
TS.1 : Tapi itu ada kamera....
Panitia.1 : (mendatangi) Kuikat tali kamera maukau...!
Kalau tidak ada pertanyaan lagi acara kita mulai.
Panitia.2: (menarik gendut, memindahkan duduknya ) Bang Goninya tarok
dimana....
Panitia.1: (memindahkan gendut kembali) Jangan disini... nanti gulanya
basah.... Oke, sekarang acara kita mulai, silahkan TS yang awal
hadir perkenalkan diri.
TS.1 : Susudara-susudara yang berbahaya, nama saya CPNS, TS Calon
panglima necis, bukan panglima buncis. Catat. ! Seperti yang
selalu saya sampaikan dalam setiap acara pesta pemilihan calon
panglima kerajaan, bahwa setiap calon panglima harus memiliki
visi dan misi yang jelas dan tegas agar dapat dapat membangun
dengan terencana. Dan juga selalu juga saya sampaikan kepada
rakyat bahwa rakyat harus mengetahui, setiap visi dan misi setiap
calon panglima agar rakyat tidak merasa kecolongan. Dan tidak
seperti membeli kucing dalam sarung. Dan juga yang terpenting
setiap calon panglima harus jujur dan bertanggung jawab agar
rakyat mau dan ikhlas membantu serta mendukung visi dan misi
yang dimaksud. Saya tegaskan sebagai TS visi dan misi calon
panglima saya tidak sekedar tertulis, tidak sekedar selogan atau
janji-janji belaka. Karena calon panglima saya takut rakyat marah
dan beliau juga takut Tuhan Murka kepadanya. Dan calon saya
akan memberikan bukti itu kepada rakyat, karena suara rakyat
adalah suara Tuhan. Sekian dan demikian.
Panitia.1: TS,Berikutnya silahkan memperkenalkan diri.
TS.2 : Kalau aku takpalalah memperkenalkan diri, udahtaunya orang ini
kalau aku Seleberiti.
Panitia.2: Bang, kalau abang takmau memperkenalkan diri, paling tidak
selama jadi TS, berapa banyak abang dapat komisi.
TS.2 : Iya tau aku, kalau begitu kacang bukan sembarang kacang.......
Rakyat.1: Hei bung tak ada lagi pantun kau selain kacang!
TS.2 : Usah kau becakap duduk manis saja kau disitu. Kacang bukan
Sembarang Kacang, kacang melilit si kayu meranti, kalau kau
tanyak soal komisi itu bagian rahasia pribadi. Baiklah bapak-
bapak, ibu-ibu,ocik-ocik, wakngah, ….wak ulong…Kalau awak
udah tak begigi, usahlah lagi memakan nasi, kalau soal visi dan
misi, calon kami tak usah diragukan lagi, pokoknya lezat dan
bergizi.
TS 1 : Eh, Wak. Kacang bukan sembarang kacang.................
TS 2 : Stop. Itu pantun aku jangan main curi aja kau.....lagi pula aku
bukan uwak kau............ Yang lain......
TS 1 : Ok. Tanam pinang sirapat-rapat, agar puyuh tak dapat lari......
TS 2 : Stop lagi. Tadi sudah dipantunkan........nggak kreatif kau, yang
lain........
TS 1 : Yang lain pun jadi. Dalamnya laut dapat diduga. Dalamnya kali
apalagi...Nyaman mulut kalau bicara. Tapi, semuanya tak ada
bukti......
TS 2 : Bung, jangan menghitamkan kambing yang memang sudah
hitam ya....
TS 1 : Ada bunga di atas meja. Bunganya jatuh karena vasnya pecah.
Tak kuduga kau banyak bicara. Apa kepingin endasmu kubelah.......
TS 2 : Tak ikut aku membawa kelapa. Apalagi membelah dua. Tak takut
Aku laga digjaya. Sebelum darahku melepas raga. (memasang
kuda-kuda mengajak berkelahi)
TS 1 : Kalau makan Ikan bawal. Pastikan makan si ikan teri. Kalau tuan
mau menjual. Pasti aku beli (memasang gaya petinju)
Panitia 1: (Segera memisah dengan membunyikan sempritan) Stop.
Sekarang belum waktunya berdebat. (mengeluarkan kartu
kuning kepada TS 1) Sekarang TS 2 waktunya menyampaikan
pandangannya...........
TS 2 : (Bergaya) Baiklah. Bukan kacang sembarang kacang. Kacang enak
Kalau Dimakan. Bukan tandang sembarang bertandang. Sekarang
ada yang akan saya sampaikan. Para warga.... Ada hal terpenting
yang harus diperhatikan pilihan kita tentu pimpinan yang teladan.
Teladan di segala aspek, terutama di lingkungan dan keluarganya.
Pimpinan kita memiliki komitmen yang kuat, konsisten terhadap
apa yang telah diucapkan dan dijanjikannya. Di samping itu,
pengetahuan dan pemahaman yang luas tentang masyarakat
tentunya sudah makanan sehari-hari dari pimpinan kita.
Semuanya itu adalah sesuatu yang sangat mutlak menjadi
syarat seorang pemimpin yang baik. Dengan begitu ia bisa
menyusun rencana dan strategi dalam membangun sekian
tahun kedepan dan bukan hanya rencana-rencana kosong
apalagi sekadar slogan saja. Burung irian burung cedrawasih
cukup sekian dan terimaksih..............
Panitia I : Ya, sudah terimaksih. Selanjutnya kita akan adu
kecerdasan.....................
Warga 1 : (kesal) ini tidak bisa dibiarkan. Eh, lae apa tidak ada acara lain?
Hiburan, misalnya.....menari, menyanyi atau melawak misalnya
ngertinyaa kau maksudku, ha.
Warga 2 : Ya, apa tidak ada acara lain? Hiburan, misalnya.....menari,
menyanyi atau melawak misalnya. Tetapi, aku terserah kelen
aja yang penting menguntungkan!!!??
Warga 1 : Kau...sedikit-sedikit menguntungkan. Sedikit-sedikit
menguntungkan. Menguntungkan, kok sedikit-sedikit....?
TS 1 : Aku setuju. Maunya ada acara hiburan. Biar lebih segar dan
tidak terlalu Tegang .............
TS 2 : Aku tidak setuju. Ah, hiburan. Bagaimna kerajaan ini mau maju?
Hanya memikirkan hiburan? Basi ! Itukan hanya lipstik. Karya
nyata lebih baik daripada karya kata. Aplikasi jelas. Konjuksi
langsung berkomunikasi daripada audiensi.
Panitia 2 : Dua-duanya asyik……….
TS 1 : Ah, itukan katamu saja, karena pilihanmu itu gemetar kalau
cakap. Kata-kata dibalek-balek. Kalimat jungkir balek. Paragraf
terbalek. Sebentar lagi muka mu yang terbalek. Eh, bung.
Dengar kita harus memberi keyakinan kepada masyarakat,
bahwa pemilihan itu penting. Bagaimana menyatukan
pandangan. Bagaimana meningkatkan kebersamaan kita.
Bagaimana caranya untukmmemberi peluang terbuka demi
kesejahteraan rakyat. Termasuk juga mau turut serta dengan
ikhlas mendukung calon terpilih. Turut aktif dalam
pembangunan walaupun tidak terpilih. Siap menang-siap
kalah......Damai-damai......, Bung.... Dan ingat jangan
GOLPUT...........
TS 2 : Itukan teori. Bung, rakyat sekarang butuh yang kongkrit bukan
yang bacrit. Rakyat sekarang sudah tahu, yang mana yang
penipu, yang mana yang memang mau dan yang mana yang
sungguh-sungguh berbuat demi
kepentingan sosial, masyarakat dan publik.
TS 1 : Susudara-susudara, tidak bisa kita pungkiri pemimpin yang cerdas,
mumpuni, yang melindungi rakyatlah yang paling kita pilih. patuh
dan taat pada setiap ketentuan perundang-undangan selama
proses penyelenggaraan serta memedomani asas jujur dan adil
(jurdil), serta langsung, umum, bebas dan rahasia (luber) Saya
memilih kriteria yang seperti itu. Saya yakin Susudara-susudara
setuju dan sependapat dengan saya. Pilihan saya tentu pilihan
susudara-susudara juga. Bagaimana? Setuju?
TS 2 : Hai, Bung. Jangan mempengaruhi rakyat dengan janji-janji
kacangan. Apapun judul ceritanya, teori tetaplah teori. Tetapi, saya
haqqul yakin masyarakat tidak akan mau lagi bertepuk sebelah
tangan.
Panitia 2 : Stop, maaf Bang. Apa bisa………….?
TS 2 : Loh, yang bilang bisa bertepuk sebelah tangan siapasiapa? Panitia
saudara, saya komplain atas argumentasi daripada saudari panitia.
Tolong kontrusi saya jangan lagi diklarifikasi. Etika, etika, macam
mananya kalien....Mari kita menjunjung tinggi sportivitas dan
sekali lagi etika, serta berkompetisi secara sehat dan jujur. Setiap
permasalahan yang timbul dari penyelenggaraan itu akan ditem
puh secara terbuka melalui prosedur dan aturan, bukan melalui
tindakan anarkistis. Kita tidak mau kan anarkisasi di sini gara-gara
panitia bertepuk sebelah dada. Terima kasih.
Warga II : Aku setuju-setuju saja asal kucing dan dadanya menguntung
kan.
Warga I : Tolong sekali lagi. Kita di sini serius. Kami sebagai warga
jangan dibuat bingung lagi.
Warga II : Aku oke-oke saja, asal bingungnya bingung yang menguntung
kan
Panitia I : Maaf, beribu-ribu maaf. Kita sudah lari dari prosedur. Tolong
jangan melebar kemana-mana. Sekarang kita fokus pada titik
persoalan. Kita sayembara tergantung keahlian. Mari Kita
ciptakan suasana yang kondusif dalam seluruh proses yang
dilalui. Sesuai jaduaaal. Kita lomba memecahkan balon. Yang
terbanyak memcahkan balon. Dia lah yang terpilih sebagai
pemenang dan menjadi TS untuk Panglima selanjutnya.
Warga II : Aku nggak ada masalah kalau balonnya pun menguntungkan he
he he
Panitia 1 : Siap........... Untuk mengambil balon waktunya lima menit.
Selebihnya memcahkan balon waktunya 7 menit. Siap..............
mulai...............
PESERTA LALU DIBAGI-BAGIKAN BALON. DI SINI TINGKAH POLAH KONYOL DIPEERLIHATKAN. SAMPAI AKHIRNYA TERDENGAR SUARA BEL.
Warga 1 : Eee, Boboho ini punyaku main rampas aja...
Warga 2 : Jadi punyaku yang mana....?
Warga 1 : ya, terserah kau lah. Panitia bilang yang menang yang bisa
mengumpulkan sebanyak-banyaknya.
Warga 2 : Ya, tapi punyaku yang mana............?
Warga 1 : Eh, bung…….ku gulung kau nanti jadi risol. Mau kau…….
Warga 2 : Ada risol. Asyiiik. Mintalah….
Warga 1 : Sakit kau.
TS 2 : Eh, kau jangan suka mempermainkan. Apalagi menghina makhluk
lemah seperti ini.
Warga 1 : Lemah apanya? Tangannya aja sebesar pahakku.....
TS 2 : Berarti kau yang lemah. Sebagai orang yang lemah. Kau jangan
mengusik yang kuat....
Warga 1 : Tebalek kau cakap. Odong-odong.....
Warga 2 : Stop. Tolong. Kau boleh menghina aku. Tetapi, kau jangan
menghina dia. Dengar ya, jelek-jelek begitu masih manusia.
Warga 1 : Siapa yang bilang monyet....
Warga 2 : Ah, banyak kali cakap kau (mau memukul)
Panitia 2 : Stop. Tunggu. Gaya dulu saya mau memoto..(memoto dengan
segala gaya)
Panitia 1 : Sudah. Stop waktu habis. Yang terpenting di sini adalah kita
harus terima apapun hasilnya. Semua siap menang. Siap kalah.
Mari berkompetisi secara damai. Jangan saling salah menyalah
kan. Jangan sampai menimbulkan susuatu. Jangan suka
menciptakan perpecahan, apalagi sampai tawuran. Dan ingat
jangan lupa. Hari pemilihan, pukul tujuh pagi sampai jam satu
siang. Tanggal sekian bulan sekian tahun 2013. Harus ikut aktif
memilih. Jangan sampai GOLPUT. Dan karena besok minggu
tenang, lebih baik kita kerahkan tenaga untuk membongkar
atribut kampanye yang terpasang. Kita bersihkan kembali.
Apalagi yang dipohon-pohon itu. Dinding-dinding. Gerbong-
gerbong. Pokoknya dimana saja. Karena selain siap menang
siap kalah, PILKADA damai. Kita juga diharapkan tetap menjaga
kebersihan dan keindahan. PILKADA INDAH. Cocok. (semua
mengangguk) sekarang ayok kita bersihkan.
Ok.................Setuju...!
SELESAI
Medan, 2013
M. Raudah Jambak

Thursday, 27 September 2012

DAFTAR NAMA PESERTA LOMBA BACA PUISI KEPAHLAWANAN KOMUNITAS HOME POETRY No. Nama Alamat Tempat/Tanggal Lahir No. Hp E-mail Alamat. Fb Keterangan 1. Siti Chairani T. Merawa bebycantykcelalu@facebook.com 2. Abdul Rahman (KAKTUS UISU) Gg. UISU K. Tanjung, 8 Januari 1992 085275352347 Once2rahman@yahoo.com Abdul_kacang@yahoo.com 3. Arsatma Bangun (KOMPAK) Jl. Doro Wangi, Gg. Wangso 5 A Batu Karang, 6 Juli 1989 087768377825 Arsatmab@yahoo.com Arsatmabangun 4. Milta Febriansi Sembiring (KOMBAS Nomensen) Jl. Cendana No 2 Kabanjahe, 22 Februari 1993 085765168128 Milta_Febriansi@yahoo.com Febriansim@yahoo.co.id 5. Ceria Kristi Br Tarigan Jl. Timor No. 32 A Sialang, 6 Mei 1993 087868429367 ceriakristitarigan@roketmail.com ceriakristi@yahoo.com 6. Oktorido Heri Trisno Situmorang (KOMBAS Nomensen) Jl. Selup Gg. Damar No. 1 E Galang, 5 Oktober 1991 087869317164 oktoridhoheri@rocketmail.com 7. Gud Slamat (KOMBAS Nomensen) Jl. Bhayangkara Gg. Setia Jadi 1A Ambartala, 7 November 1992 085361813573 8. Paiman Pandiangan (KOMBAS Nomensen) Jl. Sejari Kampung Durian Sei Dua, 13 November 1992 081269380293 paizhapandiangan@yahoo.co.id paizhapandiangan@yahoo.co.id 9. Wiwik Simanjuntak Jl. Rela No. 112 Pancing P. Siborna, 8 September 1991 085760955542 wiwiksimanjuntak@gmail.com wiwik.simanjuntak@yahoo.co.id 10. Gresna R. Putri Simanjuntak Jl. Rela No. 112 Pancing P. Siborna, 31 Agustus 1993 085275139152 Geznaputrie@yahoo.com 11. Rizky Endang Sugiharti Jl. Medan - Tj. Merawa Km. 12 Gg. Benteng No. 122 Medan, 21 Juni 1989 081260659021 res_endank21@roketmail.com Rizky Endang Sugiharti 12. Tri harun Syafii Jl. Garu III Medan Medan, 16 Januari 1993 087748546646 13. Azizah Nur Fitriana Jl. Bunga Cempaka No. 64 E Padang Bulan Medan, 12 Juni 1993 085763970512 fitriana.azizahnur@yahoo.com 14 Rika Pebriyanti Jl. Veteran Psr 7 Gg. Puskesmas No. 55 A Medan Medan, 20 Februari 1994 083194362320 Veby_shita@yahoo.com Veby_shita@yahoo.com 15. Winda prihartini Jl. Paku Gg. Siku tanah 600 Marelan Medan, 28 September 1992 083197992118 winda.prihartini@roketmail.com windaprihartini@roketmail.com 16. Ade Sya Putra Jl. Setia Luhur Gg. Budi No. 174 a Medan, 1 Agustus 1992 085767657451 ade.syaputra26@yahoo.co.id ade.syaputra26@yahoo.co.id 17. Dewi Kartika Putri Hulu Perumnas Simalingkar A Cengkeh II Gunung Sitoli, 17 Maret 1995 082369993199 cute.iekha13@yahoo.co.id cute.iekha13@yahoo.co.id 18. Muklis Al-Anshor Gg. M. Yasin Dsn. XII B. Khalippah B. Kalippah, 11 Juni 1991 08576014415 muan_anshor@yahoo.co.id muan_anshor@yahoo.co.id 19. Dewi Agus Fernita Ginting Jl. Siang No. 118 Kabanjahe, 25 Agustus 1991 085830326272 dewiagusfernitaginshu@yahoo.com Deazt Brechet Ginshu 20. Robby Subrata Jl. Pelaksanaan 1 Dsn. IV Gg. Famili VI Medan, 24 Oktober 1991 085658100018 robby.sketsa24@gmail.com robby.sketsa10@gmail.com 21. Annisa Tri Sari Jl. DC Barito Komp. PPKS No. 7B Bandar Kuala, 22 Mei 2012 087868092122 annisatrisari@roketmail.com nisa_saosin@yahoo.com 22. Dessy Annisa Putri Jl. Pancing. Komp. Medan Estate No. 9/Meranti Medan, 8 Desember 1988 085372776339- 087766140991 dcy_cute_821@yahoo.com 23. Isnayanti Lubis Jl. Bringin Psr. VII Tembung Medan, 31 Januari 1991 087869233856 isna.yanti31@gmail.com na.muqerjy@gmail.com 24. Julaiha S Jl. Selar No. 4 D Medan Medan, 11 Juni 1993 083194444199 Julaihasembiring93@gmail.com Julaiha aiha 25. Nurwidasari Lubis Jl. Letda Sujono Medan, 26 Oktober 1991 082369424397 nur.wida357@gmail.com Nurwidasari Lubis 26. Rizka Walidain Harahap Jl. Sekata 99 Nusa Indah Medan, 16 Desember 1997 081269850047 Rizqawalidain@yahoo.co.id 27. Sri Wulandari Jl. Medan-Binjai Km. 12,5 Gg. Damai P. Siantar, 7 Juni 1995 085361625385 wulan.sweety96@yahoo.com Wulan claluw 28. Marsela Arfina Jl. Medan-Binjai Km. 13 Konggo Aceh, 10 September 1995 082364959209 ela_cop@yahoo.co.id Marsela Arfina 29. Siti Nurlailli Jl. Sederhana Desa Sambirejo Timur PSR XI Tembung medan/15 Mei 1996 083194390029 sitimurlailli@ymail.com Nurlailisiti76@yahoo.com 30. Nazmul Asri Jl. AR. Hakim Gg. Langgar No. 3 Medan, 10 Juli 1995 087867523371 Nazmul.Asri@yahoo.com Nazmul Asri 32. Aisyah Haura Dika Alsa Jl. Perjuangan Gg. Sedar No. 7 Medan Medan, 4 September 1995 085763254002 alla_haura@yahoo.co.id 33. Rispandi Adha Jl. Sutomo Ujung Komp. T. Wakaf Medan, 10 Mei 1995 085262464698 34. M. Chairin Nazlan Jl. Jati No. 60 Medan, 29 Juli 1994 085261263244 g-jail@yahoo.com 35. Bayu Pamungkas Galang Kab. Deli Serdang Petumbak, 10 Oktober 1996 082369011752 36. Diah Afifah Sriekandi Jl. Thamrin No. 45 L. Pakam Medan, 10 Maret 1992 087868683320 sriekandiafifah@yahoo.co.id afifah.arrahman@gmail.com 37. Rabiah Jl. Rawacangkung I Gg. Masjid No. 10 Medan, 31 Mei 1993 087869363548 Rae-biachunique@yahoo.co.id Biah Sixfemmesrevsie 38. Neni May Aida Lubis Jl. Denai Gg. Sepakat No. 7 Medan Denai Medan, 27 Mei 1997 085261301307 bintangserious@yahoo.com Neni Aida Lbizz 39. Tri Utami Raudani Jl. Pelajar Timur Gg. Kasih. Perumahan Puri Firdaus No. 04 C Ajamu, 25 April 1994 085763032376 trimie_tami@yahoo.com Tri Utami Raudani 40. Liza Zahrina Jl. Pukat III No. 55 Mandala By Pass Medan Medan, 6 November 1994 082364265804 zha_lizazahrina@yahoo.com Zahrini Zha Lizha 41. Ayu Syafitri Wulan Sari Jl. Thamrin Lubuk Pakam Deli Serdang, 19 Februari 1995 081370064496

Nihilisme Sampai Sampan Zulaiha

Damiri mahmud. Ketika membicarakan "Sampan Zulaiha" dalam tulisan yang lalu, saya tidak berpretensi sebagai guru dan Hasan Albana sebagai murid. Kalau dalam tanggapannya Mihar Harahap (MH) menyebut posisi kami seperti itu, itu tentulah asumsi MH saja. Dalam pembicaraan kali ini saya pun lebih memfokuskan diri kepada teks mungkin untuk melengkapi tesis saya terdahulu atau sekali gus sebagai respons terhadap Supri Harahap dan MH. Protagonis Tiurmaida adalah tokoh yag melankolik. Sebagaimana orang yang bersifat melankolik dia pendiam, berusaha mengisolasi diri, pemurung, sayu dan tidak nyambung dibawa bermusyawarah. Dia bukanlah prototipe perempuan di suatu daerah atau etnis tertentu. Dia bisa ditemui di mana saja tentu dengan mengubah nama dan aksesori yang melekat pada latar. Demikianlah serupa halnya dengan tokoh ibu dalam "Parompa Sadun…", Ompu Gabe dalam "Ceracau Ompu Gabe", Sarma dan Saipe dalam "Horja", Wak Bandi dalam "15 Hari Bulan", bapak Zulaiha dan Zulaiha dalam "Sampan Zulaiha". Mak Odah dalam "Hanya Angin…", Rabiah dalam "Rabiah", (Bukankah MH telah menemukan "Rabiah" di Mesir?) bahkan mungkin Risda dalam "Rumah Amang Boru" lebih jauh adalah seorang melankolia! Apa yang dapat dimainkan pengarang dengan prototipe seragam seperti ini? Melihat alur, gerak dan terutama narasi dengan gaya berlebih-lebihan dapat kita simpulkan bahwa buku ini berisi cerpen-cerpen melodrama. Demikianlah kita lihat semua kisah berakhir dengan kesialan, kesedihan dan kematian. Kisah-kisah melodrama yang dengan begitu pengarang selalu berusaha mengharu-birukan pembaca terasa berlebih-lebihan dan tidak wajar. Mengapa Ompu Gabe harus mati sungguhan saat berlakon di tiang gantungan? Bukankah dia telah membesarkan anak-anaknya selama 22 tahun menarik beca. Tentu hal itu telah menjadikannya matang sebagai manusia yang mempunyai sikap sebagaimana yang dikatakannya bahwa Teresia adalah pengkhianat? Jadi kalau dia harus mati di tali gantungan karena kecewa tak melihat bekas istrinya itu bukankah ini suatu yang cengeng? Tiurmaida yang dikutuk, kematian anak dan suami yang terpasung lalu bekerja sebagai pemecah batu. Tak cukup kesedihan itu dideritanya dia mati tertimbun tanah longsor. Tokoh Ibu dalam "Parompa Sadun…" mengapa harus mati "hanya" tak mendapat cucu lelaki? Dalam "Horja" tokoh Saipe akhirnya mau dijodohkan dengan Tunggul, membuat Saima, ibunya bukan main girangnya. Pesta besar-besaran pun disiapkan. Di hari H-nya, Saipe lari kawin dengan Gindo tak lupa "menilap" uang persiapan pesta. Tamu-tamu berdatangan, bukannya melihat penganten sebagai niat semula, tapi melayat Saima yang terkapar mati. Haji Sodung orang kaya, telah empat kali naik haji lalu kematian isteri. Niat hati mau "ganti tikar" tapi dihalang-halangi oleh Risda yang bermanis-manis, tapi habis-habisan mengerjai mertua. Bukannya Haji Sodung mendapat "kawan tidur’ di hari tua, harta pun amblas awak tinggal di rumah jompo! Mak Odah tak diberi kesempatan untuk hidup senang atau hanya sederhana. Suaminya mati, anak lelakinya hilang di perantauan, anak perempuannya pula tak pulang-pulang hidup berumah tangga di Jerman. Celah Mak Odah untuk hidup wajar akhir tertutup. Dia menampik pinangan seorang duda kaya dan hiduplah dia kesepian dan merana. Wak Bandi? Nasip pensiunan itu lebih tragis lagi. Niat sucinya untuk naik haji kandas karena tambak yang diusahakannya musnah ditelan banjir dan dia mati tenggelam. Cerita tragis ini mencapai puncaknya dalam "Sampan Zulaiha". Seorang anak dara yang cacat disiksa ayahnya sedemikian rupa tanpa ada yang memperhatikan, menggubris dan menolongnya seolah mereka hidup hanya berdua. Akhirnya matilah dia tenggelam di laut. Inilah kisah-kisah melodrama yang "memilukan dan menyayat hati" (dalam tanda petik). Kisah yang direkayasa pengarang seperti yang disebut oleh SH hampir semua cerpen dalam SZ berkisah kemurungan yang dinarasikan dengan panjang berjela-jela. Atau kata MH bahwa HB memasung para tokohnya, sehingga konflik tidak berkembang wajar menjadikan logika rendah. Pada sisi lain, cerpen-cerpen melodrama selalu menghadapi resiko. Oleh karena perhatian pengarang teristimewa menitikberatkan kepada alur dan narasi yang berlebih-lebihan sisi lemahnya adalah penokohan jadi terabaikan. Dalam semua cerpen SZ protagonis dan dramatis personae adalah mesin atau robot yang digerakkan oleh pengarang. Sebagai pembaca kita tidak ikut bersedih hati ketika Tiurmaida dirundung malang, tidak sempat terpana dengan nasib Ompu Gabe yang lehernya terjerat benaran di tali gantungan. Bahkan tak merasakan nasib malang Wak Bandi dan sadism yang dialami Zulaiha. Kita keenakan dan keasyikan oleh kesibukan pengarang dengan gayanya memukau sehingga hampir tak sadar akan nasib yang menimpa sang protagonis. Mestinya pada cerita dengan penokohan (characterization) yang berhasil kita harus ikut merasakan pahit-manisnya keadaan tokoh. Atau bersimpati kepada seseorang protagonis dan berantipati terhadap lawannya. Lebih jauh bahkan kita selalu cenderung mengidentifikasikan diri terhadapnya. Seperti disebut SupriHarahap (SH), cerpen-cerpen itu cenderung diam tak bergerak. Jika Hasan tidak lihai bermain dengan bahasa, maka pembaca menemui kelelahan dan kejenuhan, katanya. Saya setuju. Bahkan kepiawaian Hasan bermain dengan bahasa sampai pada tingkat riskan. Dari satu tokoh ke tokoh yang lain dari masing-masing ceritanya Hasan seperti menikmati permainan bahasanya. Dia seperti tersihir mengolah kata demi kata yang indah di saat protagonisnya mengalami nestapa! "Uwak Bandi kehabisan tenaga, kehilangan doa. Tubuhnya dilumpuhkan air pasang. Kepalanya terdongak ke langit. Ei, mengapa dalam gontai-kuyup pandangan, dia menyaksikan Haji Sazali melayang ke pekarangan langit, menuju bulan? Haji Sazali tersenyum sambil melambaikan tangan, semacam kibasan ajakan. Uwak Bandi ingin menyahut lambaian itu. Bentang tangannya tengah berjuang menjadi benteng. Air enyandera Uwak Bandi. Bahkan, memerosokkan tubuhnya ke nganga lubang. Tenaga Uwak Bandi tinggal ampas. Tubuhnya timbul tenggelam, dihisap dihembuskan air pasang. Ah, adakah yang mampu mendengar gelepar tangisnya di perut air? "Haji Sazali, tega nian kau meninggalkanku…" (SZ hal. 101-102) Tingkat permainan bahasa lengkap dengan berbagai partikel dan klise yang menggelikan menurut hemat saya sudah di atas ambang keprihatian terhadap tokoh yang dihadapinya dalam keadaan sekarat. Apakah ini sebuah gejala nihilisme? Mengingat dengan permainan kata seperti itu nilai-nilai kemanusiaan dan kesusilaan kita sebagai pembaca merasa terusik. Nihilisme yang menggalakkan kehidupan pesimisme, kematian dan bunuh diri serta senda gurau yang berlebihan sebagai ciri-cirinya. Semua cerpen Hasan dalam buku ini tokoh-tokohnya mengalami kehidupan yang buram, kematian dan bunuh diri yang dinarasikan dengan gaya yang indah dan kocak. Lagi pula nihilisme selalu menyalahi dalam berkehidupan sosial dan berkeluarga. Kita lihat dalam cerpen "15 hari Bulan" Uwak Bandi adalah seorang yang sudah sepuh, pensiunan. Mengapa untuk ambisinya naik haji dia dibiarkan seorang sendiri membanting tulang membuka tambak lagi yang memang punya resiko tinggi? Tak ada yang mencegahnya. Seolah dia hidup seorang diri padahal dia punya keluarga. Biasanya dalam sebuah cerpen realisme protagonis selalu dijaga oleh penulis untuk memenangkan misi atau moral cerita. Dalam cerpen Chairul Harun "Budi" adalah seorang pensiunan letkol yang miskin bernama Marzuki berkunjung ke Jakarta. Dalam bus kota dia dihimpit para pencopet, sehingga pingsan. Seorang penumpang menolongnya. Menurunkannya dan membawanya dengan taksi ke rumahnya. Dia dirawat dengan seksama. Setelah sembuh, si penolong menerangkan mengapa dia menolongnya. Ternyata Letkol Marzuki semasa PRRI pernah menjadi komandan yang sempat menyelamatkan nyawa si penolong. Letkol pensiunan itu bersimpati. Ketika akan pulang ke kediamannya dia diam-diam berjanji dalam hati untuk mengambilnya menjadi menantu. Tapi sebaik letkol Marzuki pulang, lelaki itu buru-buru pindah rumah. Dia takut jantung Marzuki akan copot kalau mengetahui bahwa penolongnya itu raja copet di Jakarta. Kalau kita telisik dalam cerpen "15 Hari Bulan" tokoh Uwak Bandi adalah orang baik-baik saja. Bahkan cita-citanya setelah pensiun pun sangat baik pula. Naik haji. Mengapa pengarang meruntuhkan keingingan protagonis dengan menghadapkannya bermuka-muka dengan alam sebagai tokoh durjana atau antagonis? Inilah keabsurdan cerita ini. Cerita-cerita absurd yang banyak dibuat oleh Sartre, Camus, Kafka sebagai pemuka sastra nihilisme. Di Indonesia kita kenal Budi Darma, Afrizal Malna, Nirwan Dewanto, Joko Pinurbo dan para sastrawan postmodernisme umumnya ikut menyuarakan nihilisme dalam karya-karyanya. Nihilisme yang mengoyak tatakrama dan tata kehidupan sosial diperjelas dalam cerita "Sampan Zulaiha". Di sini ironi permainan kata-kata pengarang dengan kesadisan antagonis mencapai puncaknya. Pengarang seperti keasyikan atau maniak keindahan. Setelah bapaknya menikamkan runcing cuban, pisau penyirat jala, ke kening Zulaiha yang bersimbah darah, muncul kutipan ini: "Angin berontak. Ombak berderak. Dermaga usang berguncang. Zulaiha sejak lampau, tak pernah menabung, takut. Langit pekat. Cuaca sekarat. Udara bertumbangan. Aroma garam bercampur anyir darah bertebar di atas kepala Zulaiha. Bunyi petir macam suara nenek sihir. Menakutkan. Zulaiha tak kecut. Dia tegak menghadap laut. Kilat melesatkan cahaya, seperti cambuk api yang melecut tengkuk laut. Angin mendaki menghempas. Rambut Zulaiha mengibas, seperti melambai apa, atau menyahut siapa? Laut meninggi ribuan senti. Tempiasnya mencipta hujan air garam, menguyupkan tubuh Zulaiha yang timpang. Dia tadahkan lekuk tangan ke laut. Aha, Zulaiha hendak mendekap siapa? Tidak mendekap siapa-siapa. Malam itu, bukan dendam kesumat yang Zulaiha tunaikan, melainkan cita-cita: melaut sendiri, sendiri! O, tengoklah, sampan Zulaiha adalah tubuh Zulaiha sendiri." (SZ hal. 69-70). Bukankah gaya dalam narasi itu malah memberi sugesti terhadap perbuatan bunuh diri. Apalagi kalau kita kaji bahwa cerpen ini telah mengoyak tatakrama kehidupan, kekerabatan dan kekeluargaan. Ayah, si tokoh durjana , begitu bebas melakukan penyiksaannya. Tak ada sistem yang bisa menghambatnya. Baik keluarga, padahal dia menyiksa di hadapan ibu dan anak-anaknya, ataupun kerabat dan masyarakat, yang ikut menyaksikannya membantai si anak di hadapan mereka.

...... Akhirnya, kita sepakat membangun rumah Sesudah lelah memimpikannya dalam sajak Dalam benak berlumut: rumah dengan dua pintu Ke dalam dan ke luar, rumah dengan dua kamar Dan sepasang lubang kunci, kau dan aku Kemudian kita jadi terlebih memahami rumah Rumah ternyata menyimpan begitu banyak lubang Begitu banyak kamar, kita pun tak paham kapan Kita bisa sampai di sana untuk sekadar rebah mati, atau Lewat lorong dan pintu yang mana sebaiknya masuk Sebab rumah adalah labirin, laut, dan pada setiap kelok Pojoknya menganga palung-palung bahasa .........

Wednesday, 6 June 2012

PUISI KEMERDEKAAN, KEBANGSAAN DAN KEPAHLAWANAN

M. Raudah Jambak, lahir di Medan-5 Januari 1972. Kegiatan terakhir mengikuti Temu Sastrawan III di Tanjung Pinang. Cukup banyak kegiatan yang digeluti sejak SD yang berkaitan dengan seni, sastra dan budaya. Lokal, nasional, maupun Asia Tenggara. Secara nasional dimulai pada event PEKSIMINAS di Jakarta (Teater, 1995), LMCP_LMKS di Bogor (sampai 2008), MMAS Guru-guru se-Indonesia di Bogor (200&), work shop cerpen MASTERA, di Bogor (2003), Festival Teater Alternatif GKJ Awards, di Jakarta (2003) dan workshop teater alternatif, di TIM Jakarta 2003), Pameran dan Pergelaran Seni Se-Sumatera, di Taman Budaya Banda Aceh-Monolog (2004). Menyutradarai monolog "Indonesia Undercover" dalam seleksi Monolog 2005, di Taman Budaya Sumatera dalam rangka monolog nasional di Graha Bakti, Taman Ismail Marzuki. Ikut membidani Cublis di Lampung (2009). Membacakan Puisi di Gedung Idrus Tintin Riau (2010),dll. Karyanya dimuat di berbagai surat kabar/maja lah Indonesia-malaysia. Saat ini bertugas sebagai guru sastra dan dosen filsafat Panca Budi Medan. Asyik membidani Komunitas Home Poetry. Alamat kontak-Taman Budaya Sumatera Utara, Jl.Perintis Kemerdekaan No.33Medan.HP.085830805157.E-Mail: mraudahjambak@yahoo.com. Selain itu beberapa buku yang memuat karyanya juga sudahterbit,misalanya:MUARATIGA (antologi cerpen-puisi/Indonesia-Malay sia), KECAMUK (antologi pusi bersama SyahrilOK), TENGOK (antologi pui si penyair Medan), Antologi Puisi MEDITASI (Sastra religius, 1999), Antologi Puisi Seratus Untai Biji Tasbih (Sastra religius, 2000), Antologi esay PARADE TEATER SEKOLAH (Aster, 2003), Antolgi Esay 25 Tahun Omong-Omong Sastra (2004), Antologi Puisi 50 Botol Infus (Teater LKK UNIMED:2002) , Antologi Puisi Amuk Gelombang (Star Indonesia Production :2005), Antologi Puisi Ragam Jejak Sunyi Tsunami (Balai Bahasa Medan:2005), Antologi Puisi Jogja 5,9 Skala Richter (Ben tang:2006), Antologi Puisi Medan Puisi (2007), Antologi Puisi TSI 1 Tanah Pilih (Disbudpar Jambi:2008), Antologi Pusi Penyair Muda Malaysia-Indonesia (PENA Malaysia:2009), Antologi Puisi, Cerpen, dan Naskah Drama Medan Sastra (TSS-TSSU:2007), Antologi Puisi Medan Internatio nal Poetry Gathering (2008), Antologi Puisi dan Cerpen Merantau ke Atap Langit (Teater LKK UNIMED:2008), Antologi Cerpen 30 Terbaik Lomba Cerpen Tingkat Nasional Fes tival Kreativitas Pemuda 2007: LOKTONG (CWI:2007), Antologi Cer pen Tembang Bukit Kapur (ESCAEVA Jakarta:2007), Antologi Puisi FLP Indone sia (2008), Penyair Urban Antologi Puisi Laboratarium Sastra (2008), Antologi Cerpen RANESI – RADIO NEDERLAND SIARAN IN DONESIA (GRASINDO: 2009), Antologi Cerpen Denting (DKM:2006), Antologi Cerpen Jalan Menikung ke Bukit Timah (Disbudpar Pangkalpinang:2009), Antologi Cerpen Dari Pemburu Sam pai Ke Teraupetik Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Pusat Bahasa: 2003), Novel Putri Run duk (Pusat Bahasa Jakarta, 2008), Antologi Cerpen LMCP Guru (2007-2008-2010), Antologi Cerpen TSI 2 Jalan Menikung ke Bukit Timah (Disbudpar Pangkal Pinang-BABEL,2009), Antologi Cerpen TSI 3 UJUNG LAUT PULAU MARWAH (Disbud par Tanjung Pinang : 2010),Antologi Puisi Narasi Tembuni- KSI Award, The Rocker (mengenang Murtidjono), dll, Unggulan I Tarung Penyair se-Asia Tenggara di Tanjung Pinang. Alamat Rumah : Jl. Murai Batu Kompleks Rajawali Indah E. 10 – sei Sikambing B – Sunggal – Medan – SUMUT – Indonesia 20122.

Sajak-sajak M. Raudah Jambak

INDONESIA, MERAH-PUTIHKU

Indonesia, Indonesia
di negeri ini aku dilahirkan
di negeri ini aku dibesarkan
di negeri ini aku menggapai
segala impian
segala harapan
segala cita
dan cinta


Indonesia, Indonesia
engkau adalah taman terindah
ibu yang paling ramah, penuh
kasih dan sayang
dalam suka
maupun duka

Indonesia, Indonesia
adalah do’a-do’a hikmat sebelum tidur,
adalah gula dalam setiap makanan maupun manisan
adalah cahaya penerang segala terang maupun yang kabur
adalah puncak segala warna dalam lukisan dan racik tenunan

Indonesia, Indonesia
laksana obat penghilang perih luka-luka
tilam paling nyaman setiap ketentraman berdiam
danau tempat membasuh tumpukan-tumpukan duka
dan senyuman dalam mata paling nyalang atau sebenam pejam

Indonesia, Indonesia
barisan semangat sepanjang carnaval
anak-anak yang berlari riang sepanjang jermal
kekasih segala pujaan, membenam segala gombal

Indonesia, Indonesia
merah darahku
putih tulangku
di tubuhku
kita menyatu
padu

medan, 10-12

MENJAGA INDONESIA

Mungkin tak pernah terpikirkan
entah berapa helai daun yang gugur di halaman rumah kita
dan membusuk, atau hangus begitu saja di gunungan sampah
yang berhari-hari kita biarkan. Pun, ketika ia terseret di arus banjir
dan terdampar di kehilangan pandangan kita

Adakah terbaca setumpukan debu
yang menebal di datar kaca jendela, bersebab
kemarau dan bising lalulalang jalan raya. Padahal
tanpa sadar ia selalu menari di hadapan kita, ketika kita
berpatut-patut diri sebelum berangkat kerja

Lalu sempatkah terhitung
berapa usia ruang depan rumah kita yang membiarkan
tetamu datang dan pergi, serta gelas yang terjatuh dikarenakan
keriangan anak-anak berkejaran di seputar meja. Termasuk perempuan
yang kemudian dikatakan istri, dikatakan ibu, berebut kisah laksana setrika, selalu berpindah
dari kasur, dapur dan sumur. Juga lelaki yang tercatat sebagai suami, tercatat sebagai bapak
memungut kisah dari rumah sampai rumah

begitulah Indonesia
ia menyediakan diri sebagai apa saja
dan mungkin tak pernah terpikirkan, terbaca, atau terhitung
tentang daun-daun, debu atau justru sebagai rumah, tempat orang-orang
memungut istrirah

Indonesia adalah rumah kita
yang penuh dengan sesak sampah
yang penuh dengan riuh debu-debu
yang penuh dengan tamu-tamu
datang dan pergi

Indonesia adalah rumah kita
yang berpagar, yang berubah-ubah warna dindingnya
yang bagian-bagiannya dihancurkan kemudian
dibangun kembali

Indonesia adalah rumah kita
yang menyimpan begitu banyak cerita
dan sepatutnyalah kita
jaga

medan, mei 2012

MASIH MERDEKAKAH KAU INDONESIA?

Masih merdekakah kau Indonesia
setelah kau rajut usia dari debu-debu jalan raya
dalam kaleng rombeng
recehan angka milik pengemis belia
yang mendendangkan kidung lara
bersama hembusan dupa dari opelet tua

masih merdekakah kau Indonesia
ketika musyawarah berubah dari mufakat
menjadi siasat
ketika wakil rakyat lebih mewakili penjahat
ketika gedung dewan lebih mirip kandang hewan
dan ketika pejabat negara tega menjadi pengkhianat bangsa

Masih merdekakah kau Indonesia
dalam kemerdekaan yang kau sendiri tak paham maknanya
karena matamu telah dibutakan
dan mulutmu disekat rapat-rapat
serta telinga cuma sekedar bunga tanpa rupa

Masih merdekakah kau Indonesia
padahal telah banyak disumbangkan darah dan air mata
dan berjuta nyawa yang akhirnya cuma sekedar wana luka

Masih merdekakah kau Indonesia?

Komunitas HP, 2002

INDONESIA BERKACA

telah lama indonesia terjebak dalam buramnya
kotak kaca, mulai dari wajah yang berdebu, sampai
tiga dimensi yang kaku, parabola tak lagi berguna
dikalahkan kecanggihan batok kelapa-
kejahatan, penipuan, kemunafikan-berlomba menjadi
pelaku utama-sementara kejujuran, keikhlasan,dan
kesabaran-cukup puas sebagai figuran biasa

telah lama indonesia terjebak dalam kumuhnya
media masa, mulai dari wajah yang penuh darah,
sampai bibir merah penuh gairah, headline kemanusiaan tak lagi berguna, politik haus kekuasaan di atas
segalanya-korupsi, prostitusi, anti ideologi-menjadi berita terkini-sementara harkat, martabat, dan
nurani-hanya penghias demi investasi

telah lama indonesia terjebak di atas panggung sandiwara, yang selalu kehilangan penonton setia
mulai dari fans tiba-tiba, sampai kelas utama
tiket pertunjukan tidak lagi berguna, sebab
undangan gagal membawa marwah cerita-pemain, penata, dan sutradara-saling curiga dengan honor
yang diterima-sementara proyek, eksebisi, dan
pertunjukan dalam rangka-menjadi penentu final
dalam berkarya

lihatlah aceh, ambon dan papua
lihatlah korupsi, prostitusi dan manipulasi negri
lihatlah segala amoral dan asusila
anak-anak bangsa

apa khabar munir yang menunggang garuda
apa khabar harry roesli dengan drs. arief-nya
apa khabar peter white dan sepakbola indonesia
apa khabar sby bersama seratus harinya
apa khabar hamid jabbar yang selalu menzikirkan puisinya, selalu tertawa gembira-walau dalam tangis indonesia
apa khabar tsunami yang selalu meneteskan
air mata

do'a takjim buat saudara-saudaraku,
yang mengawang di bukit lawang, menanam pusara badan di kuningan, menyerah di bandara adi sumarmo yang
gelisah, ambruk mengurusi nyamuk-nyamuk, menggigil digetarnya gempa tsunami
dan yang tiba-tiba pergi ke negeri entah
(tuhan mengarahkan langkah kalian menuju taman
di dalamnya mengalir sungai susu, tumbuh bunga-bunga indah, dan ranumnya beragam buah)

telah lama indonesia terjebak dalam lusuhnya cermin kaca, tapi yakinlah kami masih mampu
membaca makna-membersihkan wajah indonesia
indonesia bercermin
indonesia berkaca
dalam derita
kami akan terus berjuang untukmu
dalam bahagia
kami akan senantiasa mengharumkan
namamu,
indonesia berkaca-anak-anak bangsa berusaha
terangkai do'a, senantiasa

Medan, 2001

SEBAB PAHLAWAN NAMAKU

Di dalam negeri yang penuh rahasia, aku terlahir
Dari seorang ibu yang tak henti mengumpulkan
Segala tetes air mata di pualam pipinya
Tumbuh besar sampai sekarang menjaga usia
Setua misteri yang beralis segala teka teki
Dan memberi namaku Pahlawan

Bukan aku yang meminta nama segagah itu
Bukan aku yang memaksa untuk ditabalkan
Bukan aku yang terpaksa atau bahkan rela
Merengek-rengek agar semua orang tahu
Tidak ada Pahlawan selain aku

Aku tidak harus mati dulu
Apalagi mengumpulkan kartu tanda penduduk
Atau mengumpulkan kartu keluarga sekian ribu
Bahkan harus PEMILU agar ibu menuliskan
Kata Pahlawan di keningku

Ooi, Aku bangun jiwa raga ini
Aku bangun cita-cita ini
Aku bangun negeri ini
Dengan nurani
sebab pahlawan namaku

Ooi, Tak harus kutempuh cara yang sama
Tak harus kutempuh jalan membabi buta
Tak harus kutempuh menikung suka-suka
Tapi kususuri cara yang sesederhana jiwa
sebab pahlawan namaku

Ooi, Sebab aku terlahir
di dalam negeri penuh rahasia dari seorang ibu
yang tak henti mengumpulkan segala tetes air mata
di pualam pipinya,

Maka pahlawan namaku

Bogor, 2008

AKULAH WAKTU, KAULAH MASA, KITA CATAT SEJARAH

/1/
Akulah waktu menggaungkan takbir bersama titik embun
yang jatuh dari ujung daun-daun dan angin yang gagal menangkapnya
serta seekor ayam jantan di bubungan yang lepas satu bulunya
sesungging senyum Tongging

Akulah Waktu yang kehilangan makna beban
Sebab ia adalah jalan menuju Tuhan
Sebab ia adalah cermin buat berdandan

Akulah waktu penguasa segala musim basah maupun kering
panas dan juga dingin. Gemuruh maupun sunyi. Tapi tetap sujudku
tapi tetap zikirku tak hilang dari sajadah sepanjang sejarah.

Akulah waktu yang menyimpan lengking tangisan pertama
sampai pada halaman-halaman kehidupan yang tenggelam
sepanjang aliran sungai darah dan degup detak jantung berderak

/2/
Akulah waktu, maka kaulah masa dari puncak gunung tertinggi.
perlahan menurun, perlahan mendaki lalu memutar memungut lara.
mengitari perjalanan batu dan pepohonan alip ba ta segala cinta!

Dengarlah angin yang berhembus! Dengarlah! Siulannya meninabobokkan
Elusannya begitu melenakan menyulam mimpi sewarna udara
bertawaflah! Ber-Sa'ilah! mencari jiwamu yang terus menari
di seputar wajah danau toba

Akulah waktu, maka kaulah masa laksana Musa yang membelah laut.
Seperti Musa yang berjumpa Tuhan di bukit Tursina. Seperti Musa
yang berburu zikir bersama Khaidir
lalu Batu, lalu waktu, lalu lara, lalu masa!
Lalu adam, lalu Ibrahim, lalu Muhammad!
Laa ilaa hailallah, Muhammadurasulullah!

/3/
Akulah waktu, kaulah masa kita catat sejarah
Kerikil-kerikil tajam tafsiran-tafsiran kelam
yang tercatat di baris-baris halaman kitab keabadian.
di aliran waktu
di aliran rindu
di aliran cemburu
sederas sipiso-piso
sedingin sidompak

Komunitas Home Poetry, 2008-2010

Tuesday, 17 April 2012

FENOMENA SASTRA INDONESIA MUTAKHIR : KOMUNITAS DAN MEDIA

Seminar Nasional Sastra Indonesia Mutakhir

Sastra sebagai Sumber Inspirasi dan Pemberdayaan Masyarakat di Era Global

Kongres Komunitas Sastra Indonesia (KKSI) II akan digelar di Wisma Argamulya Depdikbud, Cisarua, Puncak, Bogor, pada 23-25 Maret 2012. Selain pemilihan ketua KSI periode 2012-2015 sebagai agenda utama, Kongres juga akan ditandai dengan Seminar Nasional Sastra Indonesia Mutakhir dengan tema, Sastra sebagai Sumber Inspirasi dan Pemberdayaan Masyarakat di Era Global. Diharapkan, Kongres akan dibuka oleh Mendikbud Prof. Dr. Muhammad Nuh, yang akan sekaligus akan menyampaikan orasi sastra.

Menurut ketua panitia Kongres, H. Bambang Widiatmoko, sejumlah sastrawan dan akademisi sastra terkemuka akan tampil sebagai pembicara, antara lain Prof. Dr. Abdul Hadi WM, Dr. Nursamad Kamba, Dr. Sudaryono (Dimas Arika Miharja), Dr. Wahyu Wibowo, Eka Budianta, dan Dr. Mujizah. Sedangkan sebagai moderator adalah Iwan Gunadi dan Micky Hidayat.

Kongres juga akan ditandai dengan pentas sastra, dan pergelaran “api unggun sastra”. Pentas sastra akan diisi pertunjukan baca puisi oleh sejumlah penyair ternama, dan musikalisasi puisi bersama Sanggar Sesaji pimpinan Rudi Karno dari Banjarmasin, Hasta Indrayana dari Yogyakarta, dan Sarang Matahari Penggiat Sastra pimpinan H. Shobir Pur dari Tangerang Selatan.

Para penyair nasional yang dijadwalkan akan tampil membacakan sajak-sajak mereka, antara lain Habiburrahman el Shirazy, Nana Rishki Susanti, Mustafa Ismail, Iman Budi Santosa, Mustowa W. Hasyim, Evi Idawati, Rukmi Wisnu Wardani, Anwar Putra Bayu, Fakhrunnas MA Jabbar, Chavcay Syaefullah, Micky Hidayat, Jumari HS, Toto St. Radik, Husnul Khuluqi, dan Sihar Ramses Simatupang. Sedangkan ”api unggun sastra” akan menampilkan semua peserta untuk membacakan sajak-sajak mereka dengan latar belakang api unggun.

Kongres yang diadakan bertepatan dengan usia 15 tahun KSI ini juga ditandai dengan Sayembara Penulisan Puisi KSI Awards 2012 yang pengumpulan naskahnya sudah dimulai sejak Maret 2011. Dewan juri KSI Awards, yang terdiri dari Ahmadun Yosi Herfanda, Bambang Widiatmoko, Diah Hadaning, Endo Senggono, dan Mujizah, telah memilih satu puisi terbaik penerima KSI Awards 2012, empat puisi unggulan yang akan menerima penghargaan khusus, dan 95 puisi pilihan untuk dibukukan bersama sajak-sajak pemenang. Penyerahan penghargaan dan peluncuran antologipuisi KSI Awards 2012 akan dilakukan pada malam pembukaan Kongres. Kegiatan ini diselenggarakan dengan dukungan dari Bakti Budaya Djarum Foundation, Denny JA, dan Badan Bahasa Depdikbud RI.

Menurut ketua umum KSI Pusat periode 2008-2011, Ahmadun Yosi Herfanda, sayembara tersebut merupakan pelaksanaan KSI Awards yang kelima. Untuk pertama kalinya KSI Awards diberikan pada tahun 2000 kepada Toto St. Radik dengan manuskrip puisi berjudul Indonesia Setengah Tiang, KSI Awards kedua (2001) diraih oleh Agus Hernawan dengan puisi berjudul “Narasi di Tiga Hari”, KSI Awards ketiga (2002) diraih oleh Zakh Syairum Majid Surono dengan cerpen mini berjudul “Elegi Gerimis Pagi”, dan KSI Awards keempat (2003) diraih oleh Heru Mugiarso dengan manuskrip buku kumpulan puisi berjudul Perjalanan Ziarah. Saat itu, Rukmi Wisnu Wardani, meraih posisi sebagai runner-up dengan buku manuskrip puisi berjudul Banyak Orang Bilang Aku Sudah Gila.

Dalam perkembangan sastra Indonesia mutakhir, peran komunitas sastra, termasuk KSI, sangat penting. Komunitas sastra tidak hanya menjadi wadah pembinaan calon penulis dan pengembangan apresiasi sastra masyarakat, tapi juga ikut memberi arah perkembangan corak estetika dan tematika kesastraan Indonesia mutakhir. Bahkan, secara ideologis, komunitas-komunitas sastra juga ikut mempengaruhi orientasi penciptaan para sastrawan Indonesia mutakhir.***

Jakarta, 28 Februari 2012
PANITIA KONGRES KSI II 2012
Bambang Widiatmoko
(Ketua Panitia Kongres)
Ahmadun Yosi Herfanda
(Ketua Umum KSI Pusat)

KKSI-II, Hangat dan Menyehatkan

Hidayat Banjar.

Suasana Cisarua, Puncak, Bogor yang sejuk tak membuat peserta Kongres Komunitas Sastra Indonesia (KSI) II jadi adem ayem saja. Dengan tema "Sastra sebagai Sumber Inspirasi dan Pemberdayaan Masyarakat di Era Global" Kongres KSI yang digelar di Wisma Argamulya Depdikbud, 23-25 Maret 2012, berjalan hangat serta menyehatkan.
Mengapa tidak, selain kongres yang memilih Ketua Umum, Sekjen, Bendahara Umum dan "kabinet" KSI periode 2012-2015, berjalan demoratis. Peserta juga mendapat asupan ‘gizi’ bagi jiwa dan raga. Asupan jiwa didapat dari seminar. Asupan raga didapat dari sajian makanan dan udara yang penuh oksigen. Sayang, kongres yang diharapkan dibuka oleh Mendikbud Prof Dr Muhammad Nuh sekaligus orasi sastra -karena sesuatu hal- tidak terlaksana.

Asupan gizi berikutnya didapat dari pentas sastra dan pergelaran "api unggun sastra". Pentas sastra diisi pertunjukan baca puisi oleh sejumlah penyair ternama dan musikalisasi puisi bersama Sanggar Sesaji pimpinan Rudi Karno dari Banjarmasin serta Sarang Matahari Penggiat Sastra pimpinan H. Shobir Pur dari Tangerang Selatan.

Para penyair nasional yang tampil membacakan sajak-sajaknya, antara lain Thomas Budi Santoso, Habiburrahman el Shirazy, Nana Rishki Susanti, Mustafa Ismail, Iman Budi Santosa, Mustowa W Hasyim, Evi Idawati, Rukmi Wisnu Wardani, Anwar Putra Bayu, Fakhrunnas MA Jabbar dan lainnya.

Tidak kurang 133 orang menghadiri acara kongres yang datang dari berbagai penjuru Indonesia. Peserta dari Medan hadir pada kegiatan yang didukung Bakti Budaya Djarum Foundation dan Badan Bahasa Depdikbud RI ini antara lain: Idris Pasaribu, Juhenri Chaniago, Selwa Kumar dan saya sendiri (Hidayat Banjar).

15 Tahun KSI

Kongres yang bertepatan dengan usia 15 tahun KSI, juga diisi dengan Sayembara Penulisan Puisi KSI Awards 2012. Pengumpulan naskahnya dimulai sejak Maret 2011. Dewan juri diambil dari berbagai lapisan yang sangat independen. Dalam sayembara itu dipilih satu puisi terbaik penerima KSI Awards 2012, empat puisi unggulan yang menerima penghargaan khusus dan puluhan puisi pilihan, dibukukan bersama sajak-sajak pemenang.

Penyerahan penghargaan dan peluncuran antologi puisi KSI Awards 2012 dilakukan pada malam pembukaan kongres. Puisi penyair Medan yang ada dalam kumpulan bertajuk "Narasi Tembuni" itu antara lain Maulana Satria Sinaga, Tina Aprida Marpaung, Damiri Mahmud, Idris Siregar dan M Raudah Jambak.

Kami sampai di tempat acara tepat hari pertama (Jumat, 23 Maret 2012) malam. Padahal kami berangkat dari Medan pukul 11.50. Sampai di Cengkareng, kami menuju stasiun Branangsiang dengan Damri. Dari Branangsiang, kami naik angkot menuju Ciawi. Tersendatnya perjalanan dari Ciawi menuju Cisarua yang menyebabkan kami tak sempat istirahat.

Begitu sampai, registrasi, makan malam dan terus menuju Auditorium Wisma Arga Mulya, tempat acara diselenggarakan. Pukul 19.30 WIB acara dibuka oleh Nurhayati. Kata-kata sumbutan pun meluncurlah dari: Ketua Panitia, Ketua Umum KSI, Ketua Yayasan KSI dan doa pembuka dipimpin oleh K.H. Arsyad Indradi.

Orasi Sastra

Pukul 20.00-20.30 WIB yang seharusnya diisi orasi sastra oleh Mendikbud RI Mohammad Nuh, sekaligus membuka Kongres, ditiadakan. Orasi kebudayaan diisi oleh Prof Dr Abdul Hadi WM dengan judul Krisis Kebudayaan.

Selanjutnya musikalisasi puisi dari Sanggar Sesaji KSI Banjarmasin. Kemudian peluncuran Buku Puisi KSI Awards yang berjudul Narasi Tambuni diambil dari puisi berjudul Ziarah Tembuni karya Iman Budhi Santosa. Tercatat 2.335 judul puisi dari 447 penyair yang masuk ke pantia dan terpilih hanya 73 puisi. Beruntunglah Medan (Sumut) terwakili oleh 5 puisi.

Acara berikutnya, pengumuman pemenang lomba oleh dewan juri. Dilanjutkan dengan penyerahan kenang-kenangan sebagai tanda ucapan terima kasih kepada: Djarum, Denny JA., Badan Bahasa, Efeo, KITLV, Kepala Dinas Parbud DKI, PDS HB Jassin dan Diah Hadaning (diwakilkan).

Pada hari kedua (Sabtu, 24 Maret 2012) seusai sarapan pagi diselenggarakan Seminar Sastra Indonesia Mutakhir. Sesi pertama dengan tema Meningkatkan Manfaat Sastra sebagai Sumber Inspirasi dan Pencerahan bagi Masyarakat menampilkan Dr Nursamad Kamba, Dr. Sudaryono dan Mu’jizah dengan moderator Micky Hidayat.

Pendorong

Seminar Sesi Kedua dengan tema Meningkatkan Peran Karya Sastra sebagai Pendorong Proses Perubahan Sosial. Tampil sebagai pembicara: Prof Dr Abdul Hadi WM. Prof Dr. Eka Budianta dan Dr Wahyu Wibowo dengan moderator Iwan Gunadi.

Usai istrahat diselenggrakan diskusi tentang KSI semua daerah bersama Idris Pasaribu KSI Medan (Ketua Sidang), Lukman Asya, Ali Syamsudin Arsyi, Gito Waluyo, Jumari HS, Syaefuddin Gani, Anwar Putra Bayu, Mustofa W Hasyim, Micky Hidayat, Dr Muhammad Abdullah, Budi Setyawan, Toto ST. Radik dengan moderator Wowok Hesti Prabowo.

Setelah istrahat diselenggarakan Kongres Komunitas Sastra Indonesia II, mendengarkan Laporan Pertanggungjawaban Ketua Umum KSI Pusat. Selanjutnya Sidang Komisi. Komisi I: AD/ART dengan pemimpin sidang Wowok Hesti Prabowo/Idris Pasaribu. Notulen: Shobir Poerwanto. Komisi 2: Program KSI, Pemimpin Sidang: Ahmadun Yosi Herfanda/Bambang W dengan notulen: Fatin Hamama.

Komisi 3: Rekomendasi dengan pemimpin sidang: Iwan Gunadi/Sosiawan Leak. Notulen: Ayid Suyitno.

Kemudian sidang pleno 2 dengan acara pemilihan Ketua Umum KSI Pusat 2012-1015 dan Pengurus Baru. Pemimpin Sidang: Wowok Hesti Prabowo (Ketua Yayasan KSI)/Sekretaris Idris Pasaribu (Ketua KSI Medan).

Medy Loekito Terpilih

Akhirnya kongres menetapkan Medy Loekito sebagai Ketua Umum KSI periode 2012-2015 dengan sekretaris Bambang Widiatmoko dan bendahara Iwan Gunadi. Perempuan pendiri KSI ini terpilih melalui pemungutan suara, dilakukan oleh 11 orang formatur terdiri dari 6 formatur yang mewakili perwakilan KSI di seluruh Indonesia dan 5 orang formatur dari Dewan Pendiri KSI.

"Medy terpilih mengantongi 6 suara dan 11 suara yang diperebutkan," ungkap Idris Pasaribu mewakili formatur saat membacakan hasil akhir. Formatur bersidang sangat alot, memakan waktu berjam-jam. Saat-saat menegangkan sebelum terpilihnya formatur, kehadikran Medan memang sangat diperhitungkan. Kepiawaian Medan dalam kongkres ini membuat suasana menjadi hangat. Satu suara menentukan, benar-benar KSI penuh rasa persaudaraan dan menang tipis itu, membuat semua bertepuk riuh. Hasilnya, Medy Loekito menjadi Ketua Umum, Bambang Widiyanto menjadi Sekjend dan Iwan Gunadi menjadi Bendahara Umum.

Setelah ketiganya terpilih oleh formatur, mereka meneruskan sidang untuk menetapkan para wakil ketua, wakil sekretaris dan wakil bendahara. Setelah terpilihnya para wakil dan beberapa koordinator, sidang ditunda selama seminggu untuk menetapkan komisi-komisi, oleh pengurus harian yang sudah terbentuk dalam kongres. Menurut desas-desus, Medan dalam Kongres KSI ini dalam bisik-bisik mendapat p;orsi sebagai salah Seorang Ketua yakni wakil Ketua Umum. Seorang lagi mendapat posisi sebagai koordinator KSI untuk wilayah Sumatera.

Pada Penutupan Kongres sebelum acara Malam Api Unggun dimulai di halaman Wisma Arga Mulya, diselenggarakan Peresmian Cabang-Cabang Baru KSI se-Indonesia dan luar negeri. Kini, seluruhnya KSI sudah memiliki 34 buah cabang dan setiap cabang memiliki sub cabang.

Selanjutnya musikalisasi puisi oleh Hasta Indriyana. Usai itu, peserta kongres menghadiri acara api ungun yang dirangkaikan dengan peluncuran buku antalogi puisi Bima Membara. Doa Penutup dipimpin oleh H Shobir Poerwanto.

Hari ketiga Minggu (25 Maret 2012) setelah senam pagi bersama dan sarapan, peserta diajak jalan-jalan menikmati panorama perkebunan teh Gunung Mas, Berkuda, Paralayang dan lainnya. Ya, Kongres KSI II ini benar-benar hangat serta menyehatkan.

Nanang Suryadi

Komunitas Sastra

Meneropong sastra Indonesia mutakhir, tidak cukup hanya berbicara perkembangan satu dua tahun terakhir. Walaupun mungkin selama setahun dua tahun terakhir ada suatu perkembangan hebat yang terjadi. Fenomena komunitas sastra, misalnya, sebenarnya bukan merupakan hal yang baru di jagad sastra Indonesia. Lebih dari sepuluh tahun lalu Komunitas Sastra Indonesia sudah mengidentifikasi berbagai komunitas sastra (seni dan budaya) yang ada di tanah air. Komunitas Sastra Indonesia memberikan definisi komunitas sastra sebagai:

“kelompok-kelompok yang secara sukarela didirikan oleh penggiat dan pengayom sastra atas inisiatif sendiri, yang ditujukan bukan terutama untuk mencari untung (nirlaba), melainkan untuk tujuan-tujuan lain yang sesuai dengan minat dan perhatian kelompok atau untuk kepentingan umum.” (Iwan Gunadi, 2006)

Dengan melihat definisi tersebut, jika kita tengok dari perjalanan sastra Indonesia baik yang tercatat maupun yang tidak sebenarnya komunitas-komunitas sastra ini sudah berkembang sejak dahulu, walupun mungkin tidak secara resmi menggunakan kata-kata “komunitas.” Menurut saya Pujangga Baru merupakan sebuah komunitas, walaupun nama Pujangga Baru adalah nama sebuah majalah sastra. Namun di situ antara redaksi, penulis dan pembacanya ada suatu keterikatan emosional, sehingga muncullah sebuttan angkatan “Pujangga Baru”. Pada tahun 1940-an Chairil Anwar dkk berinteraksi dalam Gelanggang Seniman Merdeka, yang melahirkan Surat Kepercayaan Gelanggang. Pada 1950-1960-an, kita juga bisa menemui Lekra, Lesbumi, yang walaupun berpatron pada partai atau ormas, bisa kita sebut sebagai komunitas juga. Kelompok diskusi Wiratmo Soekito yang diikuti oleh Goenawan Mohamad dkk merupakan sebuah komunitas, yang pada akhirnya melahirkan Manifesto Kebudayaan. Dari beberapa contoh yang kebetulan tercatat dalam sejarah sastra Indonesia itu, dapat dikatakan bahwa komunitas sastra apapun namanya sudah berkembang sejak dahulu.

Sebuah komunitas sastra, menurut saya, tidak harus memiliki struktur organisasi yang jelas. Saya memandang bahwa jika ada lebih dari satu orang melakukan aktivitas rutin bersama dengan minat yang sama yaitu “sastra” maka dapat dikatakan itulah komunitas sastra. Walaupun Afrizal Malna pernah juga mendirikan komunitas yang anggotanya dia sendiri, yaitu “Komunitas Sepatu Biru.”

Aktivitas menulis karya sastra merupakan hal yang sangat individual. Pengakuan atas karya sastra pada umumnya merupakan pengakuan terhadap karya individu penulis. Sebuah cerpen, puisi atau novel jarang sekali dibuat oleh lebih dari satu orang (jarang, bukan berarti tidak ada). Maka dimana peran atau pengaruh komunitas dalam penulisan karya sastra, jika menulis adalah aktivitas individu?
Pergesekan pemikiran dalam komunitas memberikan wawasan bagi para penulis yang terlibat di dalamnya. Kecakapan-kecakapan menulis dapat ditularkan dengan saling belajar pada rekan satu komunitas. Inilah peran dari adanya sebuah komunitas, saling belajar dan saling berbagi.

Komunitas-komunitas sastra yang ada memiliki ciri yang hampir sama, yaitu: komunitas itu akan terus hidup jika ada individu yang sukarela menggerakkan komunitasnya. Paling tidak ada satu sampai tiga orang yang memiliki semangat untuk menjalankan aktivitas komunitas, maka komunitas itu akan berjalan.
Sekarang kita lihat fenomena apa yang membedakan komunitas sastra pada beberapa tahun terakhir dengan komunitas-komunitas sastra di tahun 90-an dan sebelumnya. Teknologi informasi membawa dampak perubahan terhadap pola interaksi di masyarakat. Pada akhir 90-an teknologi informasi berupa internet memberikan peluang kepada masayarakat luas untuk dapat berkumpul dalam suatu komunitas tanpa harus hadir secara fisik. Melalui jaringan internet, para peminat sastra membentuk komunitas yang melintasi batas geografis. Komunitas komunitas sastra di dunia maya mulai muncul sejak akhir tahun 90an melalui mailing list. Contoh komunitas sastra melalui mailing list yang berdiri di akhir 90an adalah: penyair@yahoogroups.com, puisikita@yahoogroups.com, gedongpuisi@yahoogroups.com, bungamatahari@yahoogroups.com, bumimanusia@yahoogroups.com musyawarah_burung@yahoogroups.com, dan banyak mailing list lain yang menyusul di tahun 2000an, seperti sastra_pembebasan@yahoogroups.com dan apresiasi_sastra@yahoogroups.com.

Media Sastra Mutakhir
Gerakan Sastra Internet yang diusung pada akhir 90-an oleh cybersastra.net (Yayasan Multimedia Sastra) merupakan tonggak sejarah yang turut mewarnai perkembangan sastra di Indonesia. Banyak penulis sastra Indonesia saat ini merupakan penggiat sastra di internet, khususnya penulis-penulis yang pernah berinteraksi dengan cybersastra.net dan beberapa mailing list komuntas maya di atas.
Perkembangan sastra di internet saaat sangat luar biasa. Setelah cybersastra.net tidak aktif pada tahun 2005, banyak situs-situs sastra baru bermunculan seperti: fordisastra.com, kemudian.com, duniasastra.com, sastra-indonesia.com, mediasastra.com, jendelasastra.com,dan masih banyak lagi yang lain. Selain itu fasilitas gratis yang disediakan provider Twitter.com, Facebook.com, Multiply.com, Blogspot.com, WordPress.com menjadi media yang diminati beberapa tahun terakhir. Penulis sastra, baik yang terkenal maupun tidak, banyak menggunakan media-media tersebut.
Dari sekian banyak situs jaringan sosial, yang saya amati dan sekaligus menjalani adalah situs Facebook.com dan Twitter.com. Sepanjang pengamatan dan pengalaman saya dengan adanya kedua situs tersebut mendorong seseorang untuk kembali menulis, sebebas-bebasnya semau penulis. Saya akan berikan gambaran keduanya. Facebook memberikan ruang untuk membuat catatan yang lebih besar, selain sekedar membuat status yang 240 karakter. Twitter hanya memberikan ruang 140 karakter. Terlalu sering mengupdate status di facebook bisa dimarahi para friends. Sedangkan di twitter semakin sering update semakin disuka. Menulis karya di Facebook bisa panjang lebar. Jika di twitter harus dipotong-potong kalau karya puisi atau cerpennya panjang. Friends di facebook terbatas, sedangkan di Twitter bisa sebanyak-banyaknya. Di twitter ada mentions, di facebook ada tag. Sama-sama menarik perhatian rekan untuk membacanya. Mana yang lebih disukai? Bagi yang suka online terus menerus Twitter mungkin lebih disuka. Berkicau sepuasnya. Membaca Time line terus menerus. Bagi yang suka memajang foto, membuat catatan panjang, facebook mungkin lebih disukainya. Mengomentari catatan rekan dan tentu saja chat.Bagi seorang penulis yang akan memasarkan bukunya, mana yang lebih cocok? Twitter atau Facebook? Selama ini saya belum pernah menemukan iklan di twitter seperti di facebook. Kecuali dari teman yang kita follow, sesekali. Di facebook, seseorang bisa memasang foto produk yang akan dia jual. Kadang-kadang memaksa friends untuk melihatnya dengan men-tag. Di twitter tidak bisa memasang foto dan tulisan panjang. Maka follower diarahkan ke url di situs lain



Karya-karya yang muncul di Twitter, Facebook, blog, milist sangat mungkin muncul kembali di Koran, majalah dan buku. Kecenderungan itu sudah banyak. Misalnya:12 tahun lalu, milist bumimanusia yang diasuh Eka Kurniawan dan Linda Christanti telah menerbitkan beberapa buku. Pada masa yang sama, rekan-rekan di milist penyair, puisikita, gedongpuisi yang tergabung dalam cybersastra -YMS membuat antologi puisi. Buku serial antologi puisi “Dian Sastro for Presiden” (3 jilid) juga merupakan hasil interaksi dari berbagai mailing list. Buku untuk munir, peringatan gempa di Yogyakarta dan Padang, tsunami Aceh merupakan hasil interaksi dari para penulis di internet. Buku-buku yang lain, sangat mungkin merupakan hasil dari karya-karya yang muncul di fesbuk, twitter, milist dan blog.

Draft awal tulisan ini dibuat langsung di facebook.com dan twitter.com. Mungkin hal yang sama pernah dilakukan oleh banyak penggiat facebook dan twitter. Mereka langsung menulis dan pada beberapa menit berikutnya dipublish. Kecenderungan yang sama dapat dilihat pada sekitar sepuluh tahun lalu pada saat mailing-mailing list marak dan ramai digunakan, para anggota mailing list langsung menulis di emailnya masing-masing untuk saling menanggapi tulisan rekan-rekannya, bisa berupa opini atau karya puisi. Berbalas puisi di mailing list sudah terjadi sepuluh tahun lalu. Berbalas puisi dan menuangkan opini di kolom komentar facebook dan blog merupakan kecenderungan terbaru. Contoh komentar dari seorang penggiat sastra di facebook (yang saya amati sangat produktif menulis di facebook.com), yaitu Dimas Arika Miharadja:


“Komunitas semacam facebook, jika tak berhati-hati bisa bikin mabuk. Kenapa? Setiap mempublish puisi, esai, atau apapun juga terkesan dihadapi (diresepsi, diapresiasi) secara meriah dengan aneka puja-puji, minimal mengacungkan jempol tanpa kata-kata. Komunitas facebook harus dicermati antara ada dan tiada. Adanya komunitas itu baru berguna bila ada keseriusan dalam melakoni hidup dan kehidupan berkarya. Tiadanya komunitas di ruang maya ini bisa jadi disebabkan lantaran orang-orang yang berkerumun di situ tidak ada tali pengikatnya yang jelas (suka datang dan pergi tak kembali, suka-suka hati).

Apakah ruang maya ini menambah produktivitas, intensitas, dan kualitas karya? Sabar, nanti dulu mas, masak terburu-buru. Soal produktivitas, intensitas, dan kualitas karya tentu saja bergantung siapa personilnya. Ada lumayan banyak yang serius berkarya, menjaga produktivitas, memupuk intensitasnya, serta meningkatkan karyanya. Tetapi jika dikaitkan dengan ketersediaan data, mungkin sebatas 10% saja. Selebihnya, lebih banyak bermain-main keriangan penuh keisengan di ruang maya ini.

Melalui media maya ini juga mulai dapat diidentifikasi beberapa person yang bisaa memanfaatkan media ini sebagai sosialisasi-komunikasi-interaksi karya yang digubahnya. Lantaran karya sastra itu peronal atau individual sifatnya, aneka respon terhadap karya yang dipublish haruslah diiringi sikap berhati-hati. Puja-puji bisa memandegkan kreativitas, mabuk pujian, dn lepas kontrol. Sebaliknya, penyampaian kecaman atau asal kritik tanpa argumentasi yang jelas bisa jadi akan menghentikan produktivitas bagi yang tidk siap dan tidak tahan banting.

Intinya, Komunitas dan Media maya, keduanya sama-sama semu. Semua bergantung pada individu pelakunya”

Inilah salah satu contoh, bagaimana interaksi di dunia maya dapat berlangsung cepat. Opini bisa dibalas opini dalam waktu singkat. Sedangkan media konvensional seperti koran cetak, majalah cetak, jurnal cetak (segala yanmg harus dicetak) membutuhkan waktu yang cukup lama, paling tidak sehari. Komentar dari Dimas Arika Mihardja ini hanya sekitar 5-10 menit sejak artikel saya publikasikan di facebook.
Usulan Pengembangan Komunitas dan Media

Sebagai penutup tulisan ini, saya mengusulkan beberapa hal untuk pengembangan komunitas dan media saat ini dan di masa mendatang. Tanpa menafikan keberadaan koran, majalah dan buku sebagai media sastra, saya mencoba mengusulkan pengembangan sastra melalui komunitas sastra di internet. Teknologi internet yang semakin terjangkau oleh semua kalangan memberikan peluang yang besar untuk semakin menggairahkan para penulis sastra untuk menulis. Penulis sastra dari generasi yang lahir tahun 70-an dan 90-an merupakan generasi-generasi yang sangat melek internet. Mereka bisa online internet sepanjang hari menggunakan handphonenya.

Berdasar pengalaman berinteraksi di berbagai jaringan komunitas sastra di internet selama ini saya menemukan banyak penulis pemula yang ingin belajar menulis di internet. Para pemula ini mencari guru yang mau mengajari mereka menulis. Tapi para penulis “mapan” di dunia nyata susah untuk diminta ilmunya (pengalaman 10 tahun lalu, dan mungkin sekarang). Mungkin kesibukan para penulis “mapan” yang menyebabkan mereka susah untuk ditanya ini itu hal hal teknis tentang penulisan. Pengalaman waktu di cybersastra, ada suatu forum akhirnya para pemula ini saling membantai karya teman-temannya (tanpa guru!). Saya melihat pembantaian karya antar teman itu bisa menjadi gesekan kreatif yang mendorong menjadi lebih baik. Beberapa alumni forum cybersastra karya-karyanya sudah banyak tampil di pentas sastra Indonesia. Mungkin kalau saling membantai karya menjadi suatu yang mengerikan, bisa dicari format lain.
Tuntutan para sastrawan “mapan” 12 tahun lalu terhadap sastra di internet menurut saya terlalu cerewet. Mereka meminta karya sastra yang berbeda dengan karya sastra media koran, majalah dan buku. Mereka meminta untuk karya-karya yang selektif yang hadir di internet. Seperti karya yang muncul di koran dan majalah. Tapi tantangan itu harus diterima! Ada upaya rekan-rekan penggiat sastra di internet untuk memaksimalkan media yang ada, misalnya dengan mengotak atik HTML, script dll. tapi masih belum menemukan sesuatu yang benar-benar baru. Perkawinan berbagai media seperti video, audio, teks bisa menjadi arah pengembangan ke depan. Selain itu satu hal yang penting, yang mungkin jarang kita perhatikan, ketersediaan bahan bacaan dalam teks digital dari beberapa terbitan cetak sastra Indonesia masih sedikit ditemui. Saya mengimpikan suatu ketika kita memiliki perpustakaan maya (semacam PDS HB Jassin di dunia nyata) , juga database biografi dan karya-karya para penulis sastra di Indonesia, yang dapat diakses hanya menggunakan jaringan internet melalui handphone. Saya percaya, itu akan terjadi!

Malang, 2010

@ Musismail

Salah satu bagian acara dalam Kongres Komunitas Sastra Indonesia di Cisarua, Puncak, Jawa Barat, 23-25 ​​Maret 2012 adalah penyerahan penghargaan KSI Award. Pemenang penghargaan itu adalah Iman Budhi Santosa dengan puisi berjudul Ziarah Tembuni.

Sementara empat karya yang masuk "puisi unggulan" adalah Ritus Pisau (Anwar Putra Bayu, Palembang), Dari Utsmani ke Tsunami (Dimas Arika Miharja, Jambi), Aku, Kembarbatu, dan telago Rajo (Jumardi Putra, Jambi), dan "Di Tepi Benteng Somba Opu "(Hasta Indrayana, Yogyakarta).
Puisi-puisi itu dibukukan dalam antologi "Narasi Tembuni" bersama 95 puisi pilihan lainnya. Menurut panitia, puisi-puisi pemenang, unggulan dan pilihan yang masuk antologi itu disaring oleh tim juri dari 2.335 judul karya 447 penyair dari berbagai daerah di Indonesia. Tim jurinya adalah Ahmadun Yosi Herfanda, Endo Senggono, Bambang Widiatmoko, Diah Hadaning, dan Mujizah.

Pemenangnya, menurut dewan juri dalam catatannya di buku antologi, berasal dari berbagai usia dan generasi yang berbeda, datang dari berbagai komunitas di berbagai penjuru nusantara. "Dengan demikian antologi puisi Narasi Tembuni ini cukup representatif sebagai cermin atau gambaran perkembanan perpuisian Indonesia terakhir," tulis dewan juri.

Memang, melihat biodata mereka di bagian akhir buku ini, akan terlihat betapa beragamnya peserta lomba puisi KSI Award ini. Di sana kita akan menemukan nama-nama seperti Damiri Mahmud (penyair Sumatea Utara kelahiran 1945), Iman Budhi Santoso (penyair Yogyakarta kelahiran 1948), Mustofa W. Hasyim (Yogyakarta, 1954), juga Dinullah Rayes (penyair Sumbawa kelahiran 1939).

Penyair termuda adalah Hakimah Rahmah Sari dari Sumatera Barat. Hakimah lahir di Saning Bakar pada 11 Januari 1994.

Berikut adalah nama-nama penyair yang puisinya masuk dalam antologi Narasi Tembuni:

1. A. Musabbih (Muara Sebuah Kota)
2. A. Ganjar Sudibyo (Tugu Seratus Ribu Tahun)
3. Ayat Khalili (Narasi Pulau)
4. Achmad Faqih Manfudz (Prambanan)
5. Ahmad Kekal Hamdani (kolofon)
6. Alizar Tanjung (Malin Kundang di Pantai Air Manis)
7. Anwar Putra Bayu (Ritus Pesisir & Ritus Pisau)
8. Arif Fitra Kurniawan (Hikayat Sebungkus Tahu Gimbal)
9. Arif Hidayat (Yang Mengalir dalam Sungai Perahu)
10. Badrul Munir Chair (Selat Madura)
11. Beni Setia (Petaha)
12. Budhi Setyawan (Tua Tua Ibu Kota)
13. Budi Saputra (Rumah Gadang 1928)
14. Cahyadi Willy (majalaya)
15. Cho Chro Tri Laksono (Wiji)
16. Damiri Mahmud (Aku Berlari-lari Mencari Serumpun Serai & halakah Panggang)
17. Delvy Yendra (Bercakap-cakap dengan Sungai)
18. Dimas Arika Mihardja (Dari Ustmani ke Tsunami)
19. Dinullah Rayes (Sumbawa)
20. Dwi S. Wibowo (Kampung Nujuman)
21. Endang Supriyadi (Bogor)
22. Evi Idawati (Perempuan-perempuan Gerabah Kasongan &
Jejak di Nol Kilometer)
23. Evi Sefiani (Eyang Sakarembong)
24. F Rizal Alief (Madura, Sajakku bergemuruh di Tubuhmu)
25. Faizal Syahreza (Montase Kota dari Doa)
26. Fakhrunnas MA Jabbar (Maka Berangkatlah Malam Lewat Bertabur Duri Rindu Ini & Legenda Riau)
27. Faridz Yusuf (Tamasya ke Rimba Melankolia)
28. Frans Ekodhanto Purba (Tiga Percakapan dari Danau Toba)
29. Hakimah Rahmah Sari (Solok-Padang & Goa Lawa)
30. Hasta Indrayana (Di Tepi Beneng Somba Opu)
31. Heri Maja Kelana (Menuju Cikapundung)
32. Hudan Nur (Kalideres Suatu Pagi)
33. Husen Arifin (Perahu Sigigir)
34. Idris Siregar (Berguru ke Patimpus)
35. Iman Budhi Santosa (Ziarah Tanah Jawa dan Ziarah Tembuni)
36. Irwan Sofwan (Negeri Senja)
37. Jaka Satria (Di Kota Tua)
38. Jumardi Putra (Aku, Kembar Batu, dan Telagorajo & Balada Buyung Empelu)
39. Kiki Sulistyo (Kampung Nelayan Pondok Perasi)
40. Lukman Asya (Gunung Arca)
41. M. Taufan Musonip (Gapura Kota Mandiri)
42. M. Raudah Jambak (Gurindam Sepi Ompung Parturi & Pantun Wan Abun)
43. Mahdi Idris (Acehku ya Aceh)
44. Maulana Satrya Sinaga (Kampung Paling Ujung)
45. Muhlis Al-firmany (Sumur Kuning)
46. Mustofa W. Hasyim (Stasion Kota & Menteng Raya-Cikini Raya)
47. Nurochman Sudibyo YS (Reposisi Hujan)
48. Phaosan Jehwae (Wajah-wajah Patani)
49. Pringadi Abdi Surya (Semacam Tersien kegalauan)
50. Rifat Khan (Berteduh di Sembalun)
51. Rikzam Mohammad (Fragmentasi Penciptaan)
52. Rini Febriani Hauri (limbung di Ujung Lambung)
53. Sofyan RH Zaid (Banquet III)
54. Sunaryo Broto (Kutukan Kudungga)
55. Supali Kasim (Surat untuk Tome Pires)
56. Tina Aprida Marpaung (Dari Toging ke Parapat)
57. Tjahjono Widijanto (Senja di Benteng pendem)
58. Ulfatin CH (Yang Pergi dan Kembali)
59. Viddy AD Daery (Perjalanan Malam Balikpapan-Banjarmasin)
60. Wahyu Arya (Sebelum Kembali)
61. Wisnu Muhamad (Lagu Pantai Lamalera)
62. Yogira Yogaswara (Ciwidey)
63. Yori Kayama (Sebuah Kota dengan Narasi yang Panjang)