Monday, 4 October 2010

Menulis

KATA

Subagyo Sastrowardoyo

Asal mula adalah kata
Jagat tersusun dari kata
Di balik itu hanya
ruang kosong dan angin pagi
Kita takut kepada momok karena kata
Kita cinta kepada bumi karena kata
Kita percaya kepada Tuhan karena kata
Nasib terperangkap dalam kata
Karena itu aku
bersembunyi di belakang kata
Dan menenggelamkan
diri tanpa sisa

“Didiklah anak-anakmu untuk masa yang bukan masamu”Ungkapan di atas tidak kurang dari 13 abad yang lalu disampaikan Ali Bin Abi Thalib R.A. bahwa masa-masa kita mengenyam pendidikan dulu tidak sama dengan pendidikan masa sekarang dan di masa yang akan datang. Barangkali kata-kata ini diadaptasi oleh para pengambil kebijakan pendidikan ditingkat elit sehingga timbul pergantian dan pengembangan kurikulum. Saya mencatat tidak kurang dari delapan kali kurikulum pendidikan kita berubah-ubah, yakni kurikulum 1947, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, dan kurikulum 2006 yang kita kenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dengan alasan mutu, relevansi, efisiensi, dan pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan.

GURU yang menjadikan tradisi tulis-menulis sebagai kegiatan sehari-hari mungkin sama langkanya dengan tradisi membaca yang juga rendah. Dapat diperkirakan, ini tak lepas dari budaya baca-tulis kita yang memang buruk.

Suasana sekolah-sekolah kita berbeda jauh dari sekolah-sekolah di negara-negara Asia tetangga kita, bahkan dengan Vietnam yang baru merdeka dan belum sedekade bergabung dengan ASEAN.

Pula berbeda dari universitas maupun sentra-sentra pengkajian ilmu zaman dulu yang digambarkan penuh pemandangan orang menenteng buku, berdiskusi, berorasi, dan kegiatan-kegiatan ilmiah lainnya.

Sekolah dan universitas masa kini diwarnai berita tawuran antarpelajar/mahasiswa, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, video porno, tuntutan guru untuk diangkat menjadi pegawai negeri, kenaikan honor, serta Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang monoton dan membosankan.

Menulis adalah kegiatan yang memang seharusnya dilakukan para guru. Selain untuk mendokumentasikan kegiatan pribadinya sebagai agen perubahan, menulis juga dalam rangka mempertanggungjawabkan pengajarannya yang mesti diselaraskan dengan kurikulum.

Administrasi yang diisi guru di antaranya absensi murid, daftar nilai, leger (kumpulan nilai selama semester yang bersangkutan), rencana pelaksanaan pembelajaran, selain administrasi tambahan yang digariskan sekolah tempatnya mengajar.
Pengembangan Keilmuan

Kegiatan menulis (dan membaca) pulalah yang memungkinkan terjadinya pengembangan keilmuan. Meski Einstein, misalnya, ketika duduk di bangku sekolah dasar disebut gurunya sebagai ”Herr Langweil” (Si Bodoh), komitmennya terhadap pengembangan ilmu dan potensi diri menjadikannya melahap habis sebuah buku geometri yang diberikan oleh seorang teman ayahnya (Suranto Adi Wirawan, Aku Tahu Tahu: Gemar Membaca, 2009).

Kerajinannya belajar (Jawa: niteni), membuatnya mengadakan dokumentasi—berupa tulisan—atas pengetahuan yang diperolehnya dari kegiatan membaca hingga menemukan teori relativitas yang terkenal itu dan dunia pun mengenangnya sebagai Bapak Sains Modern.

Atau Isaac Newton, yang ketika duduk-duduk santai di bawah pohon apel dan kejatuhan buahnya menemukan teori gravitasi bumi, kemudian didokumentasikannya menjadi buku Philosophie Naturalis Principia Mathematica yang dianggap sebagai karya ilmiah terbaik sepanjang masa (Suranto Adi Wirawan, Aku Tahu: Orang-orang Besar, 2009)

Apa yang terjadi bila orang-orang cerdas ini tak mencatat temuannya? Apa jadinya kalau seorang guru tak pernah mendokumentasikan kegiatan sehari-hari serta pengajarannya untuk murid-murid?

Akankah kita mendapat murid berprestasi jika guru tak mampu mencatat apa-apa yang dibutuhkan murid agar berprestasi? Tentu saja kebutuhan para pelajar lebih diketahui gurunya ketimbang oleh para penulis yang khusus dikontrak penerbit buku.

Pantas saja, guru yang menjadi penulis (buku) dapat dihitung dengan jari. Memang, memadamkan lampu lebih mudah ketimbang menyalakan sebatang lilin.
Kata siapa menulis itu sulit?
Dan siapa yang bilang menulis itu mudah?
Bila Anda menemui permasalahan atas pertanyaan tersebut di atas, simaklah tulisan ini. Bagi Anda yang berprofesi menjadi guru tentu hal ini akan menjadi semakin berguna karena setiap hari Anda bergumul dengan dunia tulis menulis. Kuncinya terletak pada kebiasaan. Kebiasaan bagi seorang petani yang terbiasa mencangkul di sawah akan lebih mudah mencangkul daripada orang yang pakai dasi di kantoran yang kerjanya di belakang meja. Seorang nelayan akan mudah menebar dan membuat jala dibandingkan dengan pekerjaan lain, karena itu memang kebiasaannya. Dulu saya terbiasa ikut bapak ke laut mencari ikan di laut, maka saya terbiasa dengan kehidupan laut. Tapi lambat laun kebiasaan itu hilang ketika saya tidak membiasakan diri ke laut.
• Teruslah berlatih menulis. Jangan pernah berhenti menulis. Sebab menulis itu seperti menyetir mobil. Semakin tinggi jam terbang Anda, maka keahlian Anda pun insya Allah semakin baik.
• Rajin-rajinlah membaca buku-buku yang berkualitas. Jika tubuh kita diibaratkan “pabrik penulis”, maka inputnya – antara lain adalah bacaan, dan outputnya (atau produk yang dihasilkan) adalah tulisan. Dengan demikian, kegiatan membaca bagi seorang penulis sangat penting. Tulisan kita akan banyak diwarnai oleh jenis bacaan yang kita lahap. Bila Anda rajin membaca teenlit, maka Anda akan menjadi seorang penulis teenlit. Bila Anda rajin membaca opini di surat kabar, maka Anda akan menjadi seorang penulis opini. Demikian seterusnya.
Tulisan yang berkualitas, pastilah didahului dulu dengan proses membaca. Tak ada tulisan berkualitas yang langsung mengalir begitu saja bila anda tak membiasakan diri dalam membaca dan menulis. Pada intinya bahwa menulis itu menyenangkan, menulis itu mengasyikkan, menulis itu membebaskan, menulis itu menata pikiran.

1. menulis sebelum tidur
2. menulis catatan harian
3. jangan pernah menunda menulis
4. jangan pernah berhenti menulis
5. menulis itu berjuang

Tak usah dari yang njelimet-njelimet dulu. Menulislah dari hal-hal sederhana; hal-hal yang sering kita alami, pengalaman sendiri, teman-teman, hasil menjadi pendengar yang baik bagi orang-orang yang berkeluh-kesah kepada kita, atau fenomena yang tengah terjadi di sekitar kita.

Ada beberapa strategi penting menembus media mulai dari cara nonteknis seperti, banyak membaca, kenali karakteristik media, kenali pembaca sampai pada cara teknis penulisan yang pada intinya tidak mempersulit tugas redaktur. “Permudah tugas redaktur” ungkapnya menjelang akhir penyampaian materi.

Menulis resensi atau kritik buku sebenarnya nggak sulit. Kalau mau,
kamu juga bisa. Nah, berikut ini ada beberapa tips agar kamu piawai
menulis resensi.
* Tulisan resensi yang menggambarkan sinopsis harus sesuai dengan isi
buku. Banyak peserta yang terdaftar dalam kompetisi ini ternyata kurang
memahami isi buku sehingga sinopsis mereka berbeda dengan isi buku.
* Ketajaman analisa. Setelah memahami isi buku, kamu harus bisa menilai
apakah isi buku bermanfaat atau tidak ? Jika memang bagus, beri
penjelasan di mana letak sisi bagus itu. Begitu pun sebaliknya. Di samping
itu, kamu harus pula menguasai pengetahuan lain sebagai bahan pembanding
isi buku yang hendak kamu kritisi itu, termasuk di dalamnya menyikapi
masalah yang ditampilkan buku tersebut.
Asal kamu tahu, prosentase terbesar kriteria penilaian ada pada
ketajaman analisa. Di sini, kamu harus bisa mengaitkan masalah lain yang ada
dengan masalah yang diangkat buku itu. Dari sini, gagasan kamu dan isi
buku mengenai masalah yang sama, bisa bertemu. Tentu saja kamu bisa
mengungkapkan ketidaksetujuan atas gagasan penulis buku yang bersangkutan.
Pada saat yang sama, kamu juga harus menawarkan argumen untuk mendukung
pendapatmu.
* Gunakan bahasa yang terstruktur, lugas, dan jelas sehingga memudahkan
pembaca memahami maksud kamu. Melalui bahasa semacam itu, kamu bisa
menulis ulang isi atau materi yang terkandung dalam buku, kemudian
mengkritisi isinya jika ada yang dinilai kurang tepat. Selain itu, penulis
resensi juga harus memiliki kemampuan memahami isi buku secara benar.
* Terakhir, hindari penggunaan kalimat yang panjang dan bertele-tele.
Kalimat panjang bisa mengaburkan pesan yang akan disampaikan. Jangan
lupa, pilih kata-kata yang tepat untuk merangkai tulisan resensimu. Dengan
cara ini, niscaya pembaca akan gampang memahami maksud kamu. Tidak
sulit, kan? Oke deh, selamat mencoba.
KIAT PENULISAN LAKON
Untuk menyusun naskah lakon, yang diperlukan mula-mula adalah gagasan. Tidak semua hasrat atau keinginan adalah sebuah gagasan. Gagasan atau ide dalam menulis lakon, adalah hasil perenungan dan pemikiran.. Dalam hubungan dengan kerja kreatif, gagasan atau ide adalah apa yang biasa disebut “inspirasi”.

Kita hindari istilah inspirasi atau ilham untuk sementara, karena apa yang disebut ilham sering dihubung-hubungkan dengan karunia Tuhan. Akibatnya banyak orang terkecoh lalu hanya menunggu untuk mendapatkannya. Padahal semua yang ada di dunia ini adalah karunia Tuhan. Yang disebutkan dengan gagasan di sini adalah hasil perenungan, hasil pemikiran, hasil kontemplasi. Bahkan mungkin hasil diskusi dan rembugan-rembugan, baik dengan diri sendiri, denganm orang lain atau pemahaman kebenaran yang lain.

Di dalam gagasan ada sesuatu yang baru, yang berbeda, yang lain dari yang sudah ada dikenal. Itulah yang menyebabkan seorang penulis lakon perlu melahirkan, mendeklarasikannya, agar dikenal oleh orang lain. Apakah gagasannya bagus dan berguna atau sebaliknya, sangat tergantung pada benturannya dengan sekitar setelah lahir sebagai lakon.
Jadi gagasan, walau pun merupakan cakal-bakal, tetapi yang kemudian menentukan adalah pengembaraannya sebagai naskah. Untuk itu diperlukan ketrampilan untuk mewujudkan gagasan itu menjadi lakon yang baik. Lakon yang baik, bukan saja gagasannya bagus, tetapi juga memenuhi persyaratan sebagai sebuah lakon, yakni punya daya pukau sebagai tontonan.
Tema adalah wilayah yang menunjuk, sudut kehidupan yang mana yang akan digarap. Ke dalam tema yang menjadi flatform dari naskah itu kemudian dipancangkan gagasan yang merupakan hasil pemikiran penulisnya. Lalu dicari batang tubuhnya berupa cerita.
Cerita tidak selamanya berjalan lurus, runtun. Dapat acak, sama sekali tanpa aturan atau kacau, sehingga nyaris bukan cerita tetapi hanya suasana-suasana. Cerita yang bertutur membuat lakon menjadi potret atau representasi kehidupan. Yang tidak bertutur, adalah pemikiran, sikap dan rumusan-rumusan yang mengandung nilai-nilai yang dipakai dalam menghadapi fenomena-fenomena kehidupan yang baru.
Dalam membangun cerita akan muncul berbagai kebutuhan terhadap: waktu, tempat, tokoh-tokoh, kemudian alur, plot, konflik dan sebagainya. Juga akan timbul masalah-masalah teknis yang mungkin akan dijumpai dalam pelaksanaannya, sehingga penulis mesti memikirkan jalan keluarnya. Sedangkan untuk rumusan-rumusan nilai yang diperlukan adalah statemen-statemen tajam yang menggugah yang sering berbau pemberontakan dan pembaruan, agar lebih menggigit.
Terakhir adalah pesan moral. Muatan apa yang mau disampaikan oleh penulis, baik secara langsung maupun tak langsung. Watak, idiologi, pandangan hidup, filosofi penulis naskah dapat dibaca dari isi pesan moral dan cara menyampaikannya. Naskah yang tak memiliki pesan moral pun adalah sebuah pesan moral.
Seperti dalam proses pembuatan bangunan, penulis adalah seorang arsitek sekaligus pemborong proyek. Ia berpikir tentang konstruksi bagaimana membuat sesuatu yang kuat dan indah. Ia memikirkan dengan cermat wujud naskah itu.
Bila gagasannya memerlukan wadah besar yang spektakuler, berarti naskah itu akan terdiri dari banyak babak sehingga durasinya sampai beberapa jam. Atau sudah cukup satu babak, sekitar satu jam, sehingga padat dan tajam. Di sini seorang penulis menentukan strategi dan konsepnya.
Konsep adalah strategi untuk menerapkan gagasan. Inilah pergulatan yang sebenarnya bagi setiap penulis lakon: bagaimana memindahkan gagasannya menjadi sebuah tontonan. Untuk itu ia harus memahami benar seluk-beluk seni pertunjukan. Ia perlu menguasai teknik-teknik penulisan, sehingga ia bebas untuk menuangkan gagasannya. Ia tidak terhalang oleh persoalan-persoalan teknis, sehingga konsentrasinya pada usaha menuangkan ide tidak terhambat.
Di dalam menuangkan gagasan menjadi lakon juga diperlukan “gagasan-gagasan”. Jadi bukan hanya isi, kemasan lakon pun harus memberikan “gigitan”. Bentuk, struktur, cara menyampaikan pesan, bahasa, gaya, jenis tontonan yang hendak dicapai, semua itu bukan hanya sekedar alat, tetapi bisa menjadi isi itu sendiri. Bahkan pesan yang klise dan sangat sederhana, tentang pengorbanan, misalnya, bisa menjadi baru karena cara menyampaikannya berbeda dari apa yang biasa dilakukan.
Naskah yang menggigit baik isi maupun kemasannya disebut “berdarah” atau “memiliki daya tendang”. Artinya lakon itu tidak hanya sekedar bualan kosong. Bukan semata-mata memukau karena pasang surut ceritanya. Tetapi karena mengandung sesuatu yang benar-benar penting, jitu atau baru. Pengemasan yang pas, tajam atau unik membuat naskah itu punya nilai lebih. Unsur pembaruan menyebabkan isinya yang sebenarnya biasa, bisa menjadi luar biasa.
Mengubah sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, umumnya dicapai dengan melakukan penggalian dan pendalaman. Persoalan cinta biasa antara dua remaja, bila digali lebih mendalam lagi, dimunculkan kompleksitasnya, tiba-tiba menyeruak menjadi masalah kemanusiaan yang universal. Cerita Romeo Dan Juliet karya Shakespearre , misalnya, bukan hanya masalah percintaan tetapi menampilkan masalah-masalah mendasar kemanusiaan.
Cara lain adalah dengan menukar sudut pandang. Sebuah pembunuhan dalam negara hukum akan berakhir dengan terhukumnya pembunuhnya. Tetapi dengan menggeser sudut pandang, pembunuh itu bukan dipenjarakan, tapi malah dinobatkan menjadi pahlawan. Kenapa? Sebab pembunuh itu sudah berhasil menggoyang hukum yang tidur untuk beringas dan aktip kembali menegakkan keadilan.
Sudut pandang adalah bagian penting di dalam apa yang semula kita sebut gagasan. Diperlukan keberanian dan juga kejujuran untuk memandang sesuatu keluar dari kebiasaan umum. Tujuannya bukan hanya sekedar keluar, bukan hanya untuk berbeda, tetapi karena ada keyakinan, bahwa dengan mampu melihat dari sudut pandang yang lain, kebenaran lebih terburai atau muncrat.
Bila sebuah lakon tak hanya menghibur, tak hanya menarik, tapi dapat membawa penonton pada kebenaran yang lain, dia menjadi penting. Naskah tidak hanya akan menjadi sebuah persiapan untuk sebuah pementasan, tetapi pengetahuan dan pencapaian kultural. Sebagaimana yang terjadi pada “Waiting For Godot”. Karya Samule Beckett yang memenangkan hadiah nobel itu adalah sebuah penemuan yang fenomenal. Beckett mencatat bahwa di samping lahir dan mati, pada hakekatnya semua manusia adalah menunggu.
Gagasan yang bagus dapat hancur berantakan apabila tidak terkemas dengan baik. Karena itu sebelum menulis lakon, seseorang harus mengenal dulu teknik penulisan lakon. Umumnya pengemasan lakon memerlukan beberapa unsur yang membuat hasilnya pas sebagai tontonan. Karena untuk itulah lakon dibuat. Lakon yang ditulis hanya untuk dibaca biasa disebut drama “kloset”.
Sebagai tontonan, lakon harus memikat. Cerita akan memikat kalau memiliki plot. Plot akan memukau bila mengandung empathi. Empathi akan menjadi sempurna kalau dibumbui dengan ketegangan, konflik dan humor. Ada juga yang menyelipkan kritik-kritik sosial, konteks dari lingkungannya, sehingga lakon menjadi membumi dan memiliki komitmen sosial.
Naskah lakon dibuat untuk kemudian dipentaskan sebagai pertunjukan. Kemungkinan-kemungkinan tontonan yang ada di dalam naskah itu menjadi penting. Kemungkinan tersebut ada yang sudah dicantumkan secara tertulis oleh penulisnya, tapi ada juga yang lahir akibat persentuhan dengan sutradara dan pemain. Semakin banyak kandungan kemungkinan yang ada dalam sebuah naskah, membuat naskah itu semakin kaya.
Sebuah naskah lakon yang kaya memberikan kesempatan kepada sutradara, pemain serta penata artistik mengembangkan lakon itu sehingga ia menjadi seperti tambang emas yang tak habis-habisnya digali. Di dalamnya juga termasuk ruang-ruang yang diberikan kepada penonton. Naskah yang bagus akan membuat penonton tak hanya penikmat yang pasif. Penonton akan hidup dan ikut mencipta di dalam imajinasinya, sehingga pertunjukan benar-benar merupakan sebuah dialog gencar antara tontonan dengan penonton sehingga menciptakan pengalaman spiritual.
Sebuah naskah lakon yang baik akan menciptakan pengalaman batin yang membuat penonton mengalami ekstase. Naskah yang kuat memberikan rangsangan kreatif pada semua yang terlibat di dalam pementasan. Baik naskah standar yang konvensional atau naskah kontemporer yang multi iterpretasi, kalau ia berdarah, mengandung kekayaan sebagai seni pertunjukan, ia tidak akan bersifat temporer, tetapi abadi. Naskah lakon yang baik tetap berdarah di segala zaman dalam konteks dan referensi yang berbeda-beda. Setiap kali dipentaskan ia akan mentransformasikan dirinya menjadi aktual dan baru.
II.CATATAN DARI LAPANGAN
Berikut catatan dapur saya di lapangan untuk perbandingan:
Saya menulis lakon sejak saya masih SMA. Tetapi lakon-lakon itu masih merupakan ,ide-ide mentah yang belum disentuhkan dengan pengalaman lapangan. Naskah-naskah yang saya tulis adalah drama kloset. Drama yang hanya untuk dibaca, miskin dari kemungkinan pemanggungan.
Setelah saya mulai main drama (Badak:Anton Chekov, Barabah:Motinggo Boesye dan Selamat Jalan Anak Kufur:Utuy Tatang Sontany, Pelacur:Sartre), baru saya memahami hubungan naskah dengan pementasan, memahami hubungan naskah dengan penonton. Sejak itu saya mulai menulis naskah di Jogja tidak lagi untuk dibaca tetapi untuk dimainkan. Dalam periode itu saya menulis Bila Malam Bertambah Malam, Dalam Cahaya Bulan (1964). Kemudian Lautan Bernyanyi (1967), Tak Sampai Tiga Bulan (1965), Orang-Orang Malam (1966). Semuanya ditulis dan kemudian saya mainkan.
Pada tahun 1966, ketika membuat parade drama di gedung BTN Jogja, saya melakukan monolog spontan berjudul Matahari Yang Terakhir. Berlangsung bagus. Sesudah main baru naskahnya dituliskan. Menjadi lebih jelas lagi bahwa lakon ditulis bukan untuk dibaca tetapi untuk dimainkan. Kini saya sering memainkan monolog lebih dahulu dan sesudahnya baru ditulis. Misalnya Merdeka dan Zmar.
Setelah menulis naskah untuk kebutuhan pementasan, saya ikut pementasan Waiting For Godot (1969) Bengkel Teater, bermain sebagai Pozzo. Terpengaruh oleh naskah itu, antara tahun 1971 s/d 1980 saya mulai menulis naskah untuk berekspresi. (Aduh, Edan, Anu, Dag-Dig-Dug, Hum-PimPah). Kecuali Dag-Dig-Dug, semuanya juga saya mainkan dengan Teater Mandiri di Jakarta.
Pada tahun 1975 dan 1976 saya membuat pementasan tanpa memakai naskah (Lho, Entah, Nol). Tidak ada cerita. Yang ada hanya suasana dan gambar-gambar. Pementasan Lho yang dipersiapkan selama 4 bulan, sangat visual, mengagetkan penonton dan mendapat sambutan bagus sekali. Pengunjung sampai membludak selama 3 hari di Teater Arena TIM. Tetapi pementasan selanjutnya penonton menipis dan akhirnya sangat kurang waktu NOL. Waktu itu saya menyimpulkan yang dibutuhkan oleh penonton adalah cerita. Saya kembali kepada kata-kata.
Setelah itu saya kembali membuat naskah yang penuh kata-kata untuk pementasan (Dor, Blong, Awas, Los, Gerr, Zat, Tai, Front, Awas, Aib, Wah). Di dalamnya ada cerita, karakter dan konflik. Tetapi saya tidak berkiblat kepada realisme. Teater saya cenderung menjadi teater seni rupa.
Pada 1985 – 1988, saya berada di Amerika dan membuat naskah, hanya untuk membuat naskah (Aeng, Aut, Jreng-Jreng-Jreng, Bah, Hah). Naskah-naskah itu sampai sekarang belum pernah saya pentaskan.
Pada 1991 s/d 2003 saya sama sekali tidak membuat naskah dan hanya melakukan pementasan-pementasan (Wesleyan, New York, Cal Art, Seatle, Brunai Darusssalam, Tokyo, Hong Kong, Taipeh, Singapura, Kyoto, Hamburg, Cairo) tanpa naskah (Yel, Yel II, Bor, The Coffin is too Bif for The Hole, War, Zoom, Zero). Saya membuat sekumpulan monolog yang terhimpun dalam buku DAR-DER-DOR.
Sejak 2003 saya mulai lagi menulis dan memainkan monolog (Kemerdekaan, Demokrasi, Mulut, Merdeka, Memek, Perempuan, Pahlawan, Surat Kepada Zetan, Zmar) selanjutnya sejak 2004 saya kembali menulis lakon untuk pementasan (Jangan Menangis Indonesia, Zetan, TVRI). Dalam perjalanan saya sebagai penulis, gagasan yang ada dalam setiap naskah terlahir didorong oleh beberapa kebutuhan. Pertama kebutuhan untuk memiliki naskah sendiri. Dengan naskah sendiri kebebasan mengembangkan tontonan akan lebih leluasa. Di samping itu selesai pementasan, hasilnya akan tetap ada berupa naskah. Jadi sekali kerja dua hal tercapai.
Kebutuhan lain yang mendorong adalah hasrat untuk berekspresi, berdialog dengan penonton, memberikan kesaksian-kesaksian yang personal tentang kejadian di sekitar. Saya merasa punya sudut pandang yang lain dengan umumnya pandangan di sekitar. Tak ada maksud untuk memenangkan pandangan sendiri, hanya ingin berbagi, mengutarakan kepada masyarakat bahwa perbedaan itu harmoni yang dinamis.
Yang juga mewarnai gagasan itu adalah kompromi terhadap kondisi pemain, keadaan sarana serta keterbatasan biaya produksi yang semuanya kemudian membentuk sikap dasar saya dan Teater Mandiri (berdiri tahun 1971 di Jakarta) untuk berkiblat pada : Bertolak Dari Yang Ada. Yakni usaha untuk memanipulasi kekurangan menjadi kekuatan dengan mengoptimalkan apa yang dimiliki. Dengan cara itu tak ada yang tak mungkin dalam setiap produksi.
Pemain-pemain saya sebenarnya bukan pemain tapi orang-orang biasa. Mereka bukan aktor. Ada tukang sapu dan maling kecil yang tak bisa membaca. Orang cacad. Ibu rumah tangga. Bahkan pernah suami-sitri pemulung ikut dalam produksi ( Kasan dan Kamisah dalam lakon Anu, 1974) Keterlibatannya pada teater hanya karena senang. Keterbatasan mereka yang juga membatasi produksi, saya balikkan menjadi kekuatan, sejak dari pembuatan naskah. Naskah saya buat sesuai dengan potensi mereka.
Saya sangat terganggu dengan tidak adanya desiplin dan komitmen dalam berlatih. Para pemain jarang datang lengkap dan selalu merepotkan jadwal. Akhirnya saya menulis naskah yang membuat pemain sekali masuk ke dalam adegan, untuk seterusnya tidak bisa keluar sampai lakon berakhir. Ini yang membuat saya sampai ke naskah-naskah yang mengetengahkan kelompok manusia sebagai sebuah karakter. Struktur itulah yang menjadi formula semua naskah yang saya buat sampai 1989.
Pesan moral yang saya pegang dalam setiap pembuatan naskah adalah usaha untuk melakukan “teror mental”. Upaya untuk mengganggu, membangunkan, mengingat, membimbangkan, menggoda, menteror batin penonton. Tujuannya agar penonton terbangun, tergugah dan berpikir lagi setelan mendusin dari tidurnya.
Saya lihat akibat berbagai macam bentuk penjajahan (politik, ekonomi, sosial, budaya), banyak orang setelah membuat keputusan tidak mau berpikir lagi. Banyak orang karena dibius oleh sesuatu yang dahysat ( idiologi, paham, agama, kecendrungan, pendapat, ilmu) mengunci dirinya dalam satu kesimpulan yang membuat ia seperti mati dalam kehidupan. Banyak manusia menjadi mummi. Saya ingin mengajak ia bimbang dan memikirkan lagi posisinya, tetapi tanpa berusaha untuk mempengaruhinya. Buat saya kebimbangan adalah suci.
Karena pesan moral itulah saya mengawali setiap naskah dengan langsung menggebrak. Dan kemudian mengakhirinya dengan mengambang. Tak ada kesimpulan. Kesimpulkan yang terbuka. Pertanyan berakhir sebagai pertanyaan. Pertanyaan, jawabanya pertanyaan yang lain. Lakon adalah sebuah PR kepada setiap penonton yang mengajak mereka berdialog dan kemudian mengambil keputusan-keputusan untuk hidupnya sendiri.
Saya tidak memberikan banyak petunjuk di dalam naskah (yang saya lakukan juga dalam membuat skrip film) karena berharap mereka yang membaca/mempergunakan naskah itu akan melakukan penafsiran. Saya mengambil posisi, saya sendiri belum tentu lebih tahu tentang naskah itu dari penggunanya. Karenanya naskah-naskah itu mengapung, bersifat multi interpretasi. Dapat dimaknakan ke mana saja, tergantung pembaca, pelaku atau penontonnya.
Maksud saya untuk memberikan ruang kepada sutradara. Tetapi hasilnya agak menyedihkan, karena kebanyakan penggunanya kemudian mempergunakan seenak perutnya. Di samping itu naskah itu bagi yang belum pernah menyaksikan pementasannya menjadi sulit dimengerti.
Dalam membuat naskah teater saya merasa tak pernah mendapat hambatan. Sensor dan batasan dari berbagai aspek di sekitar saya adalah tantangan, adalah kesempatan yang justru menolong saya mampu melompat. Pengalaman dalam mengelak, menyiasati hambatan-hambatan itu, membuat saya percaya bahwa kreativitas membuat tak ada yang tak mungkin di atas pentas. Dengan cara memandang seperti itu, wilayah pentas adalah wilayah yang yang tak terbatas. Kita bebas mengekspresikan apa saja.
Sebuah tulisan yang baik tidak selalu harus benar-benar “tulisan pribadi” atau yang sering kita bayangkan sebagai karya asli/original, meluncur dari kata-kata sendiri, buah pikiran asli, murni.
Ada memang naskah yang lebih enak ditulis dengan cara “mengarang“, yaitu yang keluar dari hati nurani atau pikiran sendiri. Misalnya saat menulis surat pribadi atau surat pembaca, menulis essay/opini, menulis hasil pengamatan, pengalaman atau observasi. Akan tetapi untuk tulisan jurnalistik, cara “ngarang” ini harus dipakai hati-hati. Jangan sampai kebablasan.
Kekuatan naskah karya jurnalistik sebenarnya bukan lagi terletak pada “cara atau skill anda menulis” melainkan pada isi atau materi alias substansi. Dan ini tidak mungkin dihasilkan hanya mengandalkan pikiran sendiri apalagi melulu suara hati penuh emosi. Pembaca berita tidak akan peduli dengan pikiran anda, juga perasaan anda. Yang mereka mau, fakta-fakta apa yang anda temukan dan laporkan. Fokuslah pada fakta itu.
Jadi intinya, kalau mau menulis untuk media-massa, rahasianya cuma satu. BAHAN! Skill menulis apapun yang anda miliki saat ini, pakai sajalah. Asal bisa menulis kalimat yang orang lain ngerti, sudah cukup itu. Soal bagus atau jelek, biarkan saja. Ntar juga diperbaiki sama editor/redaktur, asalkan memang isinya “layak terbit”. Sambil terus berjalan, saking seringnya menulis, lama-lama skill atau cara kita menulis itu akan baik juga secara otomatis. Pasti akan berlaku teori “kuantitas akan melahirkan kualitas“.
Menulis Tanpa Beban
Cara menulis yang sering saya sarankan bagi kalangan penulis pemula adalah FreeWriting dan Re-Writing.
Dengan teknik Free Writing berarti kita menulis secara bebas, tanpa mempedulikan bagus tidaknya tulisan yang sedang digarap. Pokoknya terus saja menulis sampai capek, sampai tidak ada lagi yang mau ditulis. Sekalipun nggak urut biarkan saja. Tidak bagus cuekin saja. Bahkan karena bingung, akhirnya kita hanya menulis: “… apa ya? Aku tak tahu mau nulis apa? Ah gimana nih? Dst”. Yang ada dalam pikiran kita cuma: what next, next, next!
Perhatikan saja kalau kita lagi emosi (khususnya marah atau gembira), atau dalam pengaruh tekanan (seperti lagi ujian essay). Naturalnya sebagian besar kita akan menulis dengan cara free writing, ya ‘kan?
Anda yang dalam keadaan normal ngakunya tidak bisa menulis, saya yakin sekali dalam dua keadaan itu dengan ajaib tiba-tiba bisa lancar menulis. Apalagi jika yang mau disampaikan begitu banyak. Bisa sampai pegel.
Lha, setelah selesai menulis, tentu hasilnya wow… jelek sekali ya. Semua serba ada. Banyak yang asal-asalan, atau juga urutannya bisa jadi ngaco.
Disinilah saatnya anda mulai menyunting, mulai dari membuang yang tidak perlu, menyusun lagi urutannya serta membaguskan bahasanya. Bisa bolak-balik berkali-kali, sampai akhirnya anda suka dengan hasil akhirnya.
Cara lain adalah menulis dengan teknik Re-Writing atau menulis ulang. Ini sangat ampuh digunakan dan sangat mudah bagi para pemula. Yang kita lakukan hanyalah mengumpulkan bahan-bahan (tertulis atau hasil wawancara) lalu kemudian menuliskan-ulang kembali bahan tersebut dengan tentu saja memakai gaya bahasa sendiri. Sebut sajalah hasilnya sebagai naskah-ramuan.
Ramuan yang baik biasanya selalu berupa pernyataan yang disusun dengan kalimat lain, yang berbeda dengan kalimat sumber informasi yang asli. Sedang ramuan yang buruk seringnya berbentuk kumpulan kalimat sama dengan sumber aslinya. Kadang-kadang malah ada semacam ramuan atau rangkuman yang tidak merangkum, tapi mengutip berbagai pernyataan sesuai dengan aslinya, walaupun dengan kata-kata yang disana-sini diganti dengan kata lain, agar agak berbeda.
Selama naskah-ramuan itu tidak menunjukkan hasil pengumpulan berbagai informasi (lebih dari satu sumber), ia belum dapat disebut naskah-ramuan namanya, tapi itu jiplakan yang ringkas.
Sebaiknya dalam menulis naskah ramuan gunakan gaya bebas saja, seperti sedang menyampaikan informasi kepada seorang teman akrab. Apa yang ditulis biasanya memakai kata lain yang berbeda dengan kata dalam informasi aslinya. Hanya idenya saja yang sama.
Sesudah ramuan itu selesai ditulis, tetap saja sebaiknya naskah itu disunting lagi minimal mengedit bahasanya, atau paling tidak ya judul dan leadnya. Bila perlu, agar lebih gurih rasanya, mungkin masih bisa kita selipkan dan perbaiki intonasinya, nadanya, gaya bahasanya, atau bahkan sedikit digarami dengan humor-humor jenaka.
Menulis adalah kegiatan yang mengasyikkan sekaligus mencerahkan. Banyak orang berkeinginan untuk bisa menulis secara teratur namun terhalang tidak adanya waktu karena kesibukan pekerjaan.
Apakah karena halangan tersebut kegiatan menulis harus terhenti? Jawabnya tidak. Semua orang tetap dapat menyalurkan pemikiran dan perenungannya lewat tulisan sesibuk apapun jika menemukan kiat yang tepat.
Tulisan berikut akan memberikan beberapa kiat buat orang-orang yang sibuk agar bisa menulis secara teratur dan konsisten.
1. Teguhkan niat menulis
Segala sesuatu berawal dari niat. Dengan menetapkan niat yang kuat untuk menulis, maka akan ada dorongan yang memaksa diri untuk melakukannya. Sama halnya dengan menulis, tetapkan target yang jelas misalnya 1 tulisan per minggu atau 2 tulisan per bulan. Dengan cara ini secara mental kita akan merasa berhutang jika belum melakukannya dan secara aktif akan mencari cara agar bisa menyelesaikan hutang tersebut.
Saya pribadi menetapkan target 2 tulisan per minggunya dan sejauh ini masih bisa memenuhinya, meskipun dengan berbagai tantangan kesibukan yang ada.
2. Temukan waktu produktif Anda
Tiap orang memiliki waktu produktif yang berbeda-beda. Ada yang sangat produktif di pagi hari ketika banyak orang belum bangun. Ada yang produktif di tengah malam ketika semua orang tengah terlelap. Ada pula yang menikmati waktu di tengah hari ketika semua orang sedang sibuk bekerja.
Menemukan waktu yang tepat akan membantu produktivitas tinggi dalam menulis. Memanfaatkan waktu yang tepat dan nyaman secara natural, seseorang dapat menyelesaikan beberapa tulisan sekaligus.
Saya sendiri paling suka menulis di tengah malam sampai pagi hari setelah tidur beberapa jam sebelumnya. Pada waktu tersebut, segala sesuatunya menjadi sangat lancar dan berbagai ide bermunculan. Tak jarang saya menulis 2-3 tulisan sekaligus untuk diterbitkan di hari yang berbeda dalam blog ini.
3. Manfaatkan waktu senggang dengan baik
Jika Anda memiliki pekerjaan full time yang menuntut perhatian penuh, maka memanfaatkan waktu dengan baik adalah kunci agar Anda bisa menulis. Sepulang kerja, coba perhatikan kegiatan apa saja yang Anda lakukan. Mandi, makan malam, sholat, bercengkrama dengan keluarga, menonton TV, istirahat dan lain-lain. Kurangi kegiatan yang kurang bermanfaat dan gunakan untuk menulis. Jika Anda terlalu lelah, maka segeralah beristirahat untuk kemudian bangun dengan segar sehingga dapat menulis.
Selain itu, Anda juga dapat memanfaatkan waktu istirahat di kantor dengan menulis. Gunakan waktu istirahat kerja secara efektif sehingga masih ada sisa untuk menulis. Atau Anda dapat membuat draft tulisan dalam perjalanan pergi dan pulang dari kantor. Tentunya hal ini baru bisa dilakukan jika Anda tidak membawa kendaraan sendiri.
Jangan lupa manfaatkan pula waktu akhir pekan ketika libur dari pekerjaan. Saya sering memanfaatkan waktu akhir pekan ini terutama di pagi hari. Jika beruntung, dalam dua jam bisa menyelesaikan beberapa tulisan sekaligus.
4. Kurangi waktu istirahat
Jika Anda benar-benar ingin konsisten menulis sementara Anda juga orang yang sibuk, mau tidak mau harus ada waktu istirahat yang harus dikorbankan. Sebagai contoh sepulang kerja mungkin Anda harus bercengkrama dengan keluarga sampai waktunya tidur malam. Setelah anggota keluarga tertidur, Anda dapat memanfaatkan waktu untuk menulis. Atau sebaliknya, Anda bisa ikutan tidur dan bangun di tengah malam untuk menyelesaikan tulisan.
Mengurangi waktu istirahat adalah cara paling akhir jika memang Anda benar-benar tidak punya waktu. Lantas bagaimana dengan kewajiban kerja keesokan harinya? Jika sudah terbiasa, maka tubuh akan membiasakan diri. Jadi cukup dengan tidur 3-4 jam sehari sudah membuat Anda segar untuk melaksanakan tugas keesokan harinya.
5. Catat ide tulisan
Ide dapat muncul kapan saja. Sama seperti Newton yang mendapat ide gravitasi ketika melihat sebuah apel jatuh. Oleh karena itu segera catat segala ide yang melintas di kepala Anda. Menundanya akan membuat lupa dan menghabiskan energi ketika berusaha mengingatnya kembali.
Catatan ide ini sangat berguna ketika Anda punya waktu senggang untuk menulis. Seringkali orang yang tidak membuat catatan kehabisan waktu mencari ide ketika sebenarnya dia punya waktu yang cukup untuk membuat tulisan.
Saya pribadi memiliki catatan khusus untuk semua ide tentang tulisan yang ingin saya buat. Total ada 50 judul dan ide di sana. Setiap kali saya terpikir akan suatu ide, kutipan, frase yang menarik, akan segera saya catat. Ketika nanti punya waktu luang, saya tinggal membaca daftar tersebut dan menulis yang paling menarik dan nyaman buat saya saat itu.
IDE sudah mantap, menulis sudah dilakukan, tulisan sudah jadi, tapi … takut mempostingnya. Nah lho. Kalau menemukan pesharing berperilaku demikian tanpa banyak komentar dikatakan: “Mas, tulisan itu tulisan siapa? Blog itu punya siapa? FB itu milik siapa? Punya Sampeyan kan?”
“Ya”, katanya pendek. “Tapi, saya tidak PD. Minder”, jelasnya mantap. “Begini saja. Coba mindset Sampeyan di upgrade”. “Maksudnya?”, tanyanya bingung. “Begini”, kata saya sesabar mungkin sekaligus ‘menyinggung’ agar rasa percaya dirinya bangkit.
“Sampeyan itu berpikir, orang lain jahat semua. Tidak baik itu. ‘Curigation’ boleh, namun kalau berlebihan merugikan diri sendiri, dan menumpuk dosa”. Dikuliahi sekalian biar lebih mantap: “Hilangkan kecurigaan, biasakan berprasangka baik”. Pikiran buruk itu bersarang di batok kepala Sampeyan.
Wajar saja dia kurang berterima. “Saya tidak …”. Langsung dipotong. “Coba. Anggap saya, juga teman-teman blogger atau Facebooker saudaramu. Orang yang mau menolong. Kalau salah, tidak akan ditertawakan, tetapi dibetulkan. Kalau sesama saudara, mana ada istilah malu. Kekurangan dijadikan bahan perbaikan agar lebih baik”.
Setelah kuliah agak ‘ganas’ pesahring tersebut mengalami kemajuan menulis sangat baik. Dia tidak takut lagi salah. Tidak membesarkan kesalahan, tidak menganggap salah dan kesalahan aib besar. Sekalipun dikatakan: “Kalau salahnya itu-itu saja, salah yang berulang, itu bodoh namanya”.
SALAH KOK DIPELIHARA
Yap, salah adalah hak kita, milik kita. Nabi Adam AS saja melakukan ‘kesalahan’ agar menjadi pelajaran buat manusia sampai hari kiamat. Apalagi menulis. Salah? Ya, bagus itu. Kalau sadar salah, perbaiki. Kalau diketahui teman, ditunjukkan dimana salahnya, perbaiki. Enteng saja kok. Bersalah (dosa) kepada Allah SWT boleh-boleh saja. Makanya dibukakan pintu minta ampun, pintu tobat.
Apalagi, ya apalagi, kalau belajar menulis, baru penulis pemula. Saya pikir, semua penulis pernah melakukan kesalahan. Tetapi, jangan dituduh semua penulis bersalah. Itu lain lagi maknanya. Dari kesalahan itu belajar dengan mantap. Kenapa harus malu? Salah dan kesalahan dipahami agar tidak bersalah pada kesempatan berikutnya.
Hanya mereka yang sok perfeksionis saja yang tidak menoleransi salah, apalagi pada awal belajar. Baru belajar saja sombong, sok hebat. Tapi, kalau menulis untuk lomba, kompetisi, atau karya keilmuan atau sederajatnya, ya tidak mungkin ditolerir. Pada hal sedemikian kualitas prima yang dipertaruhkan.
Dengan kata lain, turunkan kadar kesombongan. Salah, biar saja. Namanya juga belajar. Baru belajar menulis tulisan disepadankan dengan karya Sitor Situmorang, yo opo rek.
Mari lawan takut salah dengan mempublikasikan tulisan, dan dari situ belajar, menapak tulisan agar tidak salah. Salah adalah jalan menuju betul. Mari lakukan, dan dari situ tancapkan percaya diri alias PD. Tidak PD kok dipelihara dengan bangga. Aya-aya wae.

Wednesday, 29 September 2010

Tujuh Sastrawan Sumut ke TSI III Tanjungpinang

Sebanyak 200 sastrawan Indonesia dari berbagai daerah akan berkumpul di Kota Tanjungpinang dalam acara Temu Sastrawan Indonesia III, tanggal 28-31 Oktober mendatang. Tema yang diusung adalah Sastra Indonesia Mutakhir: Kritik dan Keragaman.

Dari Medan atau Sumatera Utara, panitia mengundang tujuh sastrawan untuk mengikuti perhelatan akbar tersebut. Mereka adalah Idris Pasaribu, Thompson HS, Hasan Al Banna, Suyadi San, M Raudah Jambak, Panda MT Siallagan, dan Zulkarnain Siregar.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang Abdul Kadir Ibrahim MT baru-baru ini menjelaskan, perhelatan akbar sastrawan itu merupakan upaya meningkatkan kualitas karya sastra Indonesia ke arah yang lebih modern. Penetapan jumlah sastrawan 200 orang merupakan hasil keputusan rapat antara kurator dengan pihak Pemerintah Kota Tanjungpinang diwakili Kadisbudpar yang berlangsung di Yogyakarta baru-baru ini.

Menurut Akib, panggilan Abdul Kadir Ibrahim, dalam waktu dekat Pemerintah Kota Tanjungpinang selaku penyelenggara Temu Sastra Indonesia 2010 akan mengundang resmi para sastrawan sebagai peserta. Mereka akan diundang langsung oleh Wali Kota Tanjungpinang Hj Suryatati A Manan, yang juga terkenal sebagai penyair.

Peserta yang akan diundang perwakilan Aceh Nanggroe Darussalam adalah lima orang, Sumut tujuh orang (Hasan Al Banna, Idris Pasaribu, M.Raudah Jambak,Panda MT. Sialagan, Suyadi San, Thomson HS, dan Zulkarnain Siregar), Sumbar 10 orang, Riau delapan orang, Sumsel enam orang, Bengkulu dua orang, Jambi lima orang, Bangka Belitung enam orang, Lampung tujuh orang, Banten enam orang, DKI Jakarta 16 orang, Jawa Barat sembilan orang, Jawa Tengah 12 orang, Jogyakarta 15 orang, Jawa Timur 12 orang, Bali 10 orang, NTB tiga orang, NTT delapan orang, Kalimantan 12 orang, Sulawesi 11 orang, Maluku enam orang, dan Papua satu orang. Seterusnya, perwakilan dari delapan kabupaten/ kota se-Provinsi Kepulauan Riau pasti diundang.

Secara khusus, Pemerintah Kota Tanjungpinang dipastikan mengundang sastrawan asal Kepulauan Riau. Antara lain Sutardji Calzoum Bachri (Presiden Penyair Indonesia), Rida K Liamsi, dan Hasan Junus. Akib mengungkapkan, TSI pertama 2008 diselenggarakan oleh Pemerintah Jambi dan kedua pada tahun 2009 di Bangka Belitung.
Untuk TSI ke-3 tahun 2010 di Kota Tanjungpinang, para kurator telah menetapkan tema “Sastra Indonesia Mutahir, Kritik dan Keragaman.” Akan hadir sebagai pemakalah: Budi Dharma, Gunawan Muhammad, Sapardi Djoko Damono, Hasanuddin WS, dan Al Azhar, Melani Budianta, Faruq HT, Keitch Foulcer, Halim HD, dan Asep Sambodja.

Pemakalah nantinya dibagi empat kelompok, yaitu Budi Dharma, Gunawan Muhammad, dan Sapardi untuk membahas topik Sastra Indonesia Mutahir. Kemudian Hasanuddin, Al Azhar, membahas “Tinjauan Sastra Indonesia dari aspek Kemelayuan dan Keindonesiaan”. Lalu, Melani Budianta, Faruq HT, Keitch Poulcer dengan bahasan “Teks Sastra Indonesia Mutahir.” Terakhir, Halim HD dan Asep Sambodja membicarakan “Fenomena Sastra Indonesia”.
Akib menambahkan, di samping seminar, turut diadakan pentas sastra untuk baca puisi dan visualisasi puisi. Bengkel sastra pun akan ditampilkan khusus bagi pelajar di Tanjungpinang, tetapi jumlah peserta dibatasi hanya 20 orang.
Akib berharap, Pemerintah Kota Tanjungpinang sebagai tuan rumah TSI 2010 mengharapkan hasil pertemuan itu dapat mengantar sastra Indonesia menjadi lebih modern dan mutakhir.

Tuesday, 28 September 2010

Pantun dan Teks Pelajaran

Anak-anak sekolah di Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, dari tingkat SD sampai SMA, menggalakkan pantun pada berbagai kegiatan. Pantun telah menjadi salah satu cabang pendidikan tambahan.

Guru besar Universitas Negeri Medan (Unimed), Prof Dr Lince Sihombing, Mpd, mengatakan, dewasa ini seni berpantun telah hilang dari sebagian besar isi buku teks Bahasa Indonesia.

"Padahal pantun sangat berpotensi untuk menyosialisasikan kesantunan berbahasa sekaligus menyantunkan pengguna bahasa Indonesia," katanya di Medan, Sabtu (2/1/2010).

Pantun adalah cara seseorang untuk menyampaikan maksud atau isi hati kepada orang lain secara sopan, santun, dan tidak dengan kata-kata yang kasar. Disebut santun sebab maksud hati tidak disampaikan secara langsung tetapi dialihkan melalui penyertaan sampiran yang sesungguhnya lebih sering tidak berhubungan dengan isi pantun yang terdapat pada baris-baris berikutnya.

"Artinya dengan pantun, orang diajarkan untuk menyampaikan maksudnya dengan cara yang sopan, halus dan santun meskipun apa yang akan disampaikannya itu sebenarnya bentuk protes ataupun kecaman," katanya.

Ia mencontohkan, ketika seseorang pembuat pantun duduk merenung atau memikirkan bagaimana menautkan kata-kata yang terdapat dalam baris-baris sampiran dengan kata-kata yang berada dalam baris-baris berikutnya, maka secara tidak langsung dia telah melakukan seleksi atau memilih kata-kata yang digunakan, mana yang layak dan mana pula yang tidak layak.

Selain itu pembuat pantun juga harus memikirkan rima ataupun harmonisasi bunyi dari kata-kata terakhir dari dua baris sampiran dan dua baris isi yang membentuk pantun.

Tidak tertutup kemungkinan pembuat pantun terpaksa mengganti salah satu dari kata yang ada di baris-baris sampiran maupun di baris-baris isi agar ketika diucapkan tercapai harmonisasi bunyi dan ketika dikaji secara tidak langsung akan melatih pembuat pantun santun menggunakan kata-kata .

Sebaliknya, seorang penikmat pantun juga akan merekam dalam benaknya untuk tidak sembarangan menggunakan kata-kata ketika akan menyampaikan maksud hati. Jika pantun diajarkan di sekolah, akan membuat siswa menjadi santun dalam berbahasa sehari-hari," katanya.

Monday, 6 September 2010

Temu Sastrawan III di Tanjungpinang

Laporan wartawan KOMPAS Yurnaldi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, akan menjadi tempat digelarnya perhelatan besar Temu Sastrawan Indonesia III, tanggal 28-31 Oktober mendatang. Tema yang diusung adalah Sastra Indonesia Mutakhir: Kritik dan Keragaman.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, Abdul Kadir Ibrahim mengatakan, ada enam jenis kegiatan utama yang akan diikuti ratusan sastrawan, yaitu stadium general dan seminar dengan pembicara Budi Darma, Katrin Bandel, Nanang Suryadi, Putu Wijaya, Akmal Nassery Basral, Faruk HT, Keitch Foulcer, Hasanuddin WS, Amien Sweeny, dam Al Azhar.
Kemudian malam apresiasi pentas sastra, yang akan menampilkan tari, musik, ciloteh pantun dan sebagainya, baik yang berupa tradisional maupun kontemporer. Forum dan bazar buku , penerbitan buku antologi sastra, dan bengkel sastra dengan narasumber Agus R Sarjono, Joko Pinurbo, AS Laksana, dan Hamsad Rangkuti.
"Juga ada wisata budaya, mengunjungi bekas pusat Kerajaan Melayu Riau-Johor-Pahang-Lingga di Hulu Sungai Carang dengan kawasan wisata hutan bakau, peninggalan Tiong Hua berusia 300 tahun di Senggarang, dan sejumlah tempat lainnya," kata Abdul Kadir Ibrahim, Minggu (5/9/2010).
Keterangan lebih lanjut bisa menghubungi kutaror dan panitia di: memorabledestination@yahoo.com atau akib_penyair@yahoo.com, atau fax (0771) 7000212.
Temu Sastra Indonesia II di Pangkalpinang, Bangka-Belitung

sayyid — April 5, 2009 / 12:23 pm
Topik: Seputar Dunia Sastra Indonesia
Sehubungan akan diselenggarakannya “Temu Sastrawan Indonesia II” di Pangkalpinang, Bangka-Belitung pada bulan Juli 2009 (Tanggal akan diumumkan kemudian), maka kepanitiaan TSI II mengundang Anda sekalian untuk bergabung bersama dalam event sastra tahunan yang merupakan terusan dari event serupa (Temu Sastrawan Indonesia I) yang telah berlangsung di kota Jambi tahun lalu, dengan mengirimkan karya berupa cerpen dan puisi.
Karya-karya yang masuk–sebagaimana kesepakatan sidang di Jambi–nantinya akan dikurasi oleh sejumlah rekan sastrawan.
Adapun ketentuan pengiriman karya tersebut adalah sbb:
• Karya berupa cerpen atau puisi.
• Diketik 1/2 spasi menggunakan MS.Word dan disimpan dalam format RTF.
• Masing-masing mengirimkan 5 (lima) buah karya.
• Karya dikirimkan ke email: tsibabel@yahoo.com
• Karya masuk paling lambat: Akhir April 2009.
Salam dari Panitia TSI II Bangka-Belitung.
Post to: delicious, Digg, ma.gnolia, Stumbleupon
Temu Sastrawan di Jambi Dibuka
Berlangsung Hingga 11 Juli
Laporan: Yurnaldi & Irma Tambunan/Wartawan Kompas
Sumber: Tribun Pekan Baru Online [Senin 07/07/08, 22:30:19]
JAMBI, TRIBUN – Pertunjukan baca puisi, tarian dan lagu oleh anak-anak yang diiringi musik kolintang kayu, gendang, dan akordeon yang dimainkan anak-anak, Senin (7/7) malam, memukau sekitar 200 lebih sastrawan. Pertunjukan anak-anak itu mengawali prosesi pembukaan Temu Sastrawan Indonesia I di Kota Jambi, Provinsi Jambi.
Gubernur Jambi diwakili Staf Ahli Gubernur, Junaidi T Noor, mengatakan, Temu Sastrawan Indonesia ini membuka ruang interaksi pemikiran dari beragam etnis, kultur, yang sarat dengan akar budaya, warna budaya daerah masing-masing.
“Karya sastra yang digali dari subkultur yang ada di Indonesia akan memberi rona keberagaman yang manunggal dalam keindonesiaan (Bhinneka Tunggal Ika). Keberagaman warna lokal saat globalisasi sekarang ini menjadi penting sebab dengan keberagaman itu pula identitas lokal terwadahi,” katanya.
Menurut dia, keberagaman itu dalam konteks keindonesiaan perlu mendapatkan ruang ekspresi seluas-luasnya untuk capaian estetis sastra Indonesia di masa kini dan masa yang akan datang. Usai memberikan kata sambutan Staf Ahli Gubernur melanjutkan pembacaan puisi karya Dimas Arika Mihardja berjudul Pucuk Jambi Sembilan Lurah Batangnyo Alam Barajo.
Koreografer Tom Ibnur juga mempertunjukan koreografi terbarunya. Ketua Panitia Temu Sastrawan Indonesia Sudaryono mengatakan, bahwa satrawan yang datang hampir dari seluruh pulau di Indonesia. Tampak hadir antara lain Putu Wijaya, Harris Effendi Tahar, Jose Rizal Manua, Diah Hadaning, Yvonne de Fretes, Afrizal Malna, Hamsad Rangkuti, Dinullah Rayes, Irmansyah, Asrizal Nur, dan Ahmadun Yosi Herfanda.
Temu Sastrawan yang berlangsung hingga 11 Juli mendatang, menggelar enam kegiatan, yaitu Dialog Sastra dan Musyawarah Sastrawan Indonesia, Workshop Penulisan Esai dan Kritik Sastra, Panggung Apresiasi, Peluncuran Buku Kumpulan Cerpen dan Puisi, Pameran dan Bazar, dan Wisata Budaya ke Situs Candi Muaro.
Pembukaan sekaligus peluncuran buku puisi Tanah Pilih dan buku kumpulan cerpen Senarai Batanghari, yang diserahkan secara simbolis kepada Putu Wijaya dan Hamsad Rangkuti. “Temu Sastrawan Indonesia selain ajang silaturahmi, juga tukar pemikiran sastra Indonesia yang diharapkan berkembang dinamis untuk membenahi rumah tangga sastra Indonesia,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi, Mualimah Radhiana.(*)
200 Sastrawan Kumpul di Jambi
Kompas, Minggu, 6 Juli 2008 | 10:29 WIB
JAKARTA, MINGGU – Sedikitnya 200 sastrawan Indonesia, Senin sampai Jumat (7-11/7), bertemu di Kota Jambi. Mereka selain mengadakan dialog sastra dan musyawarah juga menggelar panggung apresiasi, wisata budaya ke situs Candi Muaro, serta peluncuran buku antologi puisi dan cerpen sastrawan Indonesia.
Ketua Panitia Temu Sastrawan Indonesia I Sakti Alam Watir mengatakan, perkembangan karya sastra Indonesia sepeninggal Paus Sastra HB Jassin tidak diiringi oleh kinerja sastra. Kritik sastra seperti kerakap di atas batu, hidup enggan mati tak mau.
“Langkanya kritikus yang peduli terhadap perkembangan sastra dan minimnya apresiasi masyarakat terhadap perkembangan sastra membuat ekologi sastra tidak harmonis. Idealnya, kehidupan sastra menunjukkan ekologi sastra yang sehat, beragam, harmonis, dan dinamis,” kata Sakti Alam Watir, Minggu (6/7).
Pada sesi dialog pembicara yang tampil di antaranya mantan Ketua Dewan Kesenian Sumatera Barat Ivan Adilla, guru besar satra Indonesia dari Universitas Negeri Padang Hasanuddin WS, sastrawan Sunartono Basuki, Acep Zamzam Noor, dan Abdul Bari Bazed.
Panggung Apresiasi akan menampilkan pembacaan puisi, keragaman seni di setiap kota/kabupaten di Jambi. Panitia juga memamerkan aneka corak serta bentuk karya sastra sebagai manifestasi adanya keberagaman, kedinamisan, dan keharmonisan. Yurnaldi
—-
Menyongsong Temu Sastrawan Indonesia
Sumber: WASPADA ONLINE, Minggu, 29 Juni 2008 03:09 WIB
Pemerintah Provinsi Jambi pada 7 hingga 11 Juli 2008, menggelar Temu Sastrawan Indonesia (TSI).Sejumlah sastrawan dari seluruh penjuru tanah air akan mengikuti hajatan tersebut. Lalu, siapakah sastrawan Sumatera Utara yang diundang?
Bocoran yang diperoleh dari panitia TSI, Sumatera Utara akan mengutus enam orang sastrawan. Yakni, (secara alfa-betis) Afrion, Hasan Al Banna, M. Raudah Jambak, S. Ratman Suras, Suyadi San, dan Thompson HS.
Bagi saya, TSI ini perlu dijadikan forum rekonsiliasi. Ia (baca: TSI) diharapkan mampu menjadi perekat, ajang silaturahmi antarsastrawan, dan revitalisasi peran sastrawan itu sendiri.
Jika kita lihat, kondisi kesusastraan Indonesia masih berada di persimpangan. Buram. Retak-retak menunggu pecah. Dan, serpihannya bakal menusuk-nusuk anak bangsa.
Keberagaman sastra Indonesia jika tidak terpelihara, bakal menjadi kutub-kutub yang saling serang. Menjadi sekat-sekat yang saling sikut, saling sikat. Jika terbiarkan berlarut-larut, bakal menjadi bom waktu – yang ledakannya kemungkinan mengimbangi bom atom Hiroshima-Nagasaki.
Lihat saja, hampir dua dasawarsa belakangan, banyak hajatan sastra tergelar. Masing-masing membawa hegemoni sektoral. Ada Temu Sastrawan se-Jawa-Bali. Ada pula Temu Sastrawan Sumatera, Temu Penyair Sumatera, Kongres Cerpen, Kongres KSI. Dan sebagainya. Namun,tidak hanya menuntaskan kebuntuan, malah menghasilkan percekcokan. Semua berjalan pada rel masing-masing. Memang, kita selalu mempertentangkan keberagaman dan bukan mengunggulkan kesatuan?
Ada beberapa agenda penting yang perlu kita perhatikan terkait (TSI) 2008 di Jambi. Agenda itu secara fundamental berkaitan dengan beberapa persoalan yang mendesak dicarikan solusinya. Rumah tangga sastra Indonesia yang dihuni oleh sastrawan (penyair, Cerpenis, novelis, penulis skenario), kritisi, media, dan masyarakat pembaca memberikan gambaran sebagai ekologi yang tidak sehat.
Artinya, masing-masing ranah sastra (kreator, kritisi, media, dan masyarakat pembaca) terkesan berjalan sendiri-sendiri dan terpisah oleh adanya jurang yang membatasi kebersamaan dan saling pengertian. Bahkan, ‘bentrok’ dan perselisihan paham di antara mereka melahirkan kegelisahan tersendiri.
Ingatlah perseteruan antar-komunitas sastra akhir-akhir ini, polemik yang melibatkan media massa, langkanya kritikus yang peduli terhadap perkembangan sastra, dan minimnya apresiasi masyarakat terhadap perkembangan sastra. Tidak sehatnya
ekologi sastra Indonesia merupakan pekerjaan rumah yang harus dijadikan wacana penting dalam mengurus rumah tangga sastra Indonesia mutakhir.
Dalam perkembangan sastra pernah muncul humanisme universal, sastra kontekstual, sastra (dominasi) pusat, sastra pedalaman, sastra dekaden, sastra independen, sastra pedalaman, sastra arus bawah. Dan seterusnya. Dan seterusnya. Hal ini wajar lantaran sastrawan memiliki progres, visi dan misi dalam berkarya.
Hal yang tidak wajar apabila perbedaan pandangan/aliran/isme dll memunculkan konflik berkepanjangan. Nah, akankah TSI 2008 mampu mewadahi dan menyediakan fasilitas untuk membangun rumah tangga sastra Indonesia yang menjunjung tinggi keberagaman, kedinamisan, dan keharmonisan sehingga tercipta ekologi sastra Indonesia yang kondusif.
Keberagaman corak budaya daerah perlu diberikan ruang yang leluasa untuk dieksplorasi dalam penciptaan sastra dan diangkat di atas panggung wacana dalam iklim yang demokratis. Karya sastra yang digali dari tradisi subkultur yang ada di Indonesia akan memberikan rona keberagaman yang manunggal dalam keindonesiaan (“Bhineka Tunggal Ika”).
Keberagaman warna lokal saat globalisasi sekarang ini menjadi penting sebab dengan keberagaman itu pula identitas lokal terwadahi. Dengan tampilnya identitas lokal yang beragam. sastra Indonesia mutakhir akan memberikan tawaran-tawaran tematis dan capaian estetis yang menyemarakkan denyut kehidupan sastra Indonesia. Identitas keindonesiaan dapat dibangun berdasarkan kekayaan tradisi lokal yang ada di Indonesia. Selain keberagaman, anggota rumah tangga sastra Indonesia (sastrawan, kritikus, media, dan masyarakat) masing-masing perlu memiliki kedinamisan yang mandiri.
Kedinamisan dan kemandirian ini memiliki arti penting ketika, misalnya, ada sebagian sastrawan yang ‘ditelikung’, diintimidasi, dikekang kebebasan kreatifnya, dipinggirkan oleh pihak-pihak lain (pemerintah, pimpinan redaktur koran, organisasi tertentu, pemilik media) memiliki kekuatan advokasi dan pembelaan secara adil dan berimbang. Kedinamisan dan kemandirian anggota rumah tangga sastra Indonesia akan memberikan iklim kondusif kedinamisan kehidupan sastra secara demokratis dan jauh dari sikap-sikap otoriter yang kelewat batas.
Lalu, apa yang bisa dicapai untuk menyatukan keberagaman sehingga menghasilkan kedinamisan dalam bersastra? Ya, mungkin saja akan muncul gagasan, para sastrawan bersatu dalam suatu wadah seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Aliansi Jurnalistik Independent (AJI), Ikatan Keluarga Pengarang Indonesia (IKAPI) yang memiliki keharmonisan? Dengan keharmonisan, dimungkinkan sastrawan Indonesia memiliki bargaining power dan bargaining position yang lebih baik.Mungkin para sastrawan perlu melakukan kongres untuk membicarakan “wadah” dan sekaligus menuntaskan ketidakharmonisan.
Dalam kaitan ini, melalui TSI yang – konon – akan dihadiri para pelaku sastra (kreator, kritisi, media, dan masyarakat pembaca) minimal dapat disepakati perlunya agenda forum sastrawan secara kontinu. Ekologi sastra tidak sehat, antara lain disebabkan tidak berfungsinya kritik sastra. Realitas menunjukan bahwa kuantitas penerbitan karya sastra tidak diiringi oleh kinerja kritik sastra. Kritik sastra hadir dalam bentuk catatan pengantar atau catatan penutup sebuah buku sastra.
Saat berada di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin 21 Mei lalu, penulis merasakan, sepeninggal H.B. Jassin kinerja kritik sastra belum menampilkan hasil maksimal. Dalam hubungannya dengan minimnya kritikus sastra, dipandang perlu melaksanakan workshop penulisan esai/kritik sastra yang diikuti penulis muda berbakat, guru, mahasiswa yang telah biasa menulis di media massa.
Rendahnya apresiasi masyarakat terhadap karya sastra perlu dijembatani melalui Panggung Apresiasi, Pameran, dan Bazar. Panggung Apresiasi, Pameran, dan Bazar dapat menampilkan atraksi keberagaman, kemandirian, kedinamisan dan keharmonisan sastra Indonesia dalam paket performance. Lalu, apa saja agenda penting TSI 2008 itu? Bocoran yang didapat dari panitia TSI, agenda TSI 2008 di Jambi ada beberapa macam.
Pertama, Kongres Sastrawan. Kongres? Ya. Agendanya membicarakan kemungkinan dibentuknya wadah atau forum bersama (sastrawan, kritikus, media, penerbit, apresiator), pemetaan capaian estetik sastra Indonesia, keberagaman genre, gaya ungkap, dan kreativitas, dan regenerasi sastrawan. Pesertanya adalah sastrawan (3 generasi), Kritikus, media massa, penerbit, dan undangan khusus.
Kedua, Workshop penulisan esai/kritik sastra: memfasilitasi para penulis muda berbakat, guru sastra, dan mahasiswa untuk mampu menulis kritik/esai sastra. Menurut rekan dari Kantor Bahasa Provinsi Jambi, workshop akan digelar di instansi bahasa malik pemerintah tersebut. orang.
Ketiga, Panggung Apresiasi. Aacara ini akan menampilkan sastrawan undangan khusus (penyair dan cerpenis Indonesia terpilih), menampilkan keberagaman seni di setiap kota/kabupaten dalam provinsi Jambi, dan sanggar-sanggar seni di kota Jambi. Selain itu, memberi ruang bagi olah kreativitas sastrawan kota lain (Medan, Padang, Riau, dll) yang dibatasi jumlahnya.
Keempat, Wisata Budaya. Wisata budaya ini dimaksudkan untuk memberikan sajian keberagaman yang dimiliki Provinsi Jambi kepada peserta. Mereka misalnya diajak ke situs Candi Muaro Jambi, Pusat batik/kerajinan, kawasan batanghari, Museum, Monumen, dsb. Penulis sendiri pernah melihat peninggalan candi Muaro tahun 2006 lalu.
Kelima, Penerbitan Buku Antologi. Pihak panitia akan : menerbitkan 2 buku, yakni: (1) Puisi, cerpen, dan esai sastrawan Indonesia yang dipilih berdasarkan seleksi dan (2) buku puisi sastrawan muda Sumatera. Buku-buku ini dijadikan cenderamata bagi seluruh peserta TSI.
Keenam, Pameran dan Bazar. Pameran dan bazar ini dimaksudkan untuk menampilkan keberagaman karya sastra didukung oleh penerbit-penerbit buku di Indonesia.
Jadi, begitulah. Mudah-mudahan TSI ini bisa menghasilkan formula jitu untuk menyelamatkan sastra Indonesia.
Suyadi San, Staf teknis Balai Bahasa Medan

Tuesday, 17 August 2010

Lomba Menulis Cerita Pendek (LMCP) 2010

Deadline: 22 Juni 2010

MOTTO
Menyelami Sastra, meningkatkan tradisi membaca-menulis dan memperluas cakrawala bangsa.

TEMA CERPEN
Cinta Kemanusiaan, Kebangsaan, Lingkungan, Perdamaian, Bencana Alam, dan Kearifan Lokal.

PERSYARATAN PESERTA
1. Peserta adalah guru SMA/SMK/MA
2. Belum pernah menjadi pemenang LMCP sebelumnya

PERSYARATAN CERPEN
1. Cerpen adalah karya asli dan belum pernah dipublikasikan di media apapun
2. Panjang cerpen 5 – 20 halaman kuarto, 1,5 spasi (1500 – 6000 kata)
3. Peserta boleh mengirim lebih dari 1 (satu) naskah, dengan catatan hanya satu naskah terbaik yang akan dipertimbangkan menjadi pemenang.
4. Di halaman akhir tulisan (halaman terpisah) ditulis identitas dan alamat lengkap penulis serta nomor telepon/HP yang dapat dihubungi

PENGIRIMAN CERPEN
1. Cerpen sebanyak 3 rangkap dimasukkan amplop, pada bagian luar ditulis ”LMCP PROGRAM REGULER 2010” diantar langsung atau dikirim paling lambat tanggal 22 Juni 2010 (stempel pos)
2. Cerpen dikirim ke alamat:

Kementerian Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Kegiatan Pembinaan Pendidikan Estetika pada Subbag RT, Bagian Umum, Set Ditjen Mandikdasmen, Kompleks Kemendiknas Senayan Gedung E Lantai 5, Jl. Jend. Sudirman, Senayan, Jakarta 10270.

PENGUMUMAN PEMENANG
1. Panitia akan memilih 15 peserta terbaik untuk mengikuti seleksi final di Jakarta
2. Selama mengikuti seleksi final di Jakarta, panitia menyediakan biaya transportasi dan akomodasi bagi tiap peserta
3. Pemenang LMCP 2010 ini akan diumumkan pada tanggal 10 Oktober 2010

HADIAH

1. Panitia menyediakan hadiah berupa uang tunai sebagai berikut:
Pemenang 1 Rp. 6.500.000,-
Pemenang 2 Rp. 6.000.000,-
Pemenang 3 Rp. 5.500.000,-
Pemenang 4 Rp. 5.000.000,-
Pemenang 5 Rp. 4.500.000,-
Pemenang 6 s.d 10 @ Rp. 4.000.000,-
Pemenang 11 s.d 15 @ Rp. 3.500.000,-

2. Pajak hadiah sebesar 15% (PPH Psl 21) yang ditanggung pemenang
3. Kepada semua peserta akan diberikan piagam penghargaan

KETENTUAN PANITIA
1. Kementerian Pendidikan Nasional berhak menerbitkan dan menggandakan naskah yang terpilih
2. Keputusan panitia bersifat mutlak dan tidak dapat di ganggu gugat

LAIN-LAIN
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi panitia
Kegiatan Pembinaan Pendidikan Estetika Jakarta, Subbag RT, Bagian Umum Set Ditjen Mandikdasmen, Telp. (021) 5725616, atau 57851730 , Email : estetika.mandikdasmen@yahoo.co.id.

LOMBA MENGULAS KARYA SASTRA (LMKS) 2010

MOTTO Menyelami Sastra, meningkatkan tradisi membaca-menulis dan memperluas cakrawala bangsa.

PERSYARATAN PESERTA

1. Peserta adalah guru SMA/SMK/MA
2. Belum pernah menjadi pemenang LMKS sebelumnya.

PERSYARATAN TULISAN
1. Tulisan adalah karya asli dan belum pernah dipublikasikan di media manapun.
2. Bentuk ulasan dapat berupa esai dengan penyajian yang jelas, enak dibaca dan ditunjang kepustakaan yang memadai.
3. Panjang tulisan 5-20 halaman kuarto, 1,5 spasi (1500-6000 kata).
4. Tulisan merupakan ulasan terhadap salah satu buku sastra yang telah ditetapkan (lihat daftar).
5. Peserta diharuskan mengulas sebuah buku sastra secara utuh, tidak hanya satu puisi/cerpen. Membandingkan dengan karya lain diizinkan.
6. Peserta boleh mengirim lebih dari 1 (satu) naskah, dengan catatan hanya 1 (satu) naskah terbaik yang akan dipertimbangkan menjadi pemenang.
7. Di halaman akhir tulisan (halaman terpisah), ditulis identitas dan alamat lengkap penulis serta no. telepon/HP yang dapat dihubungi.

PENGIRIMAN TULISAN
1. Tulisan sebanyak 3 rangkap dimasukan amplop, pada bagian luar ditulis “LMKS PROGRAM REGULER 2010” diantar langsung atau dikirim paling lambat tanggal 22 Juni 2010 (stempel pos).
2. Tulisan dikirim ke alamat:
Kementerian Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Kegiatan Pembinaan Pendidikan Estetika pada Subag RT, Bagian Umum, Set Ditjen Mandikdasmen, Kompleks Kemendiknas Senayan Gedung E Lantai 5, Jl. Jend. Sudirman, Senayan, Jakarta 10270.

PENGUMUMAN PEMENANG

1. Panitia akan memilih 15 peserta terbaik untuk mengikuti seleksi final di Jakarta.
2. Selama mengikuti seleksi final di Jakarta, panitia menyediakan biaya transportasi dan akomodasi.
3. Pemenang LMKS 2010 akan diumumkan pada tanggal 10 Oktober 2010.

HADIAH

1. Panitia menyediakan hadiah berupa uang tunai sebagai berikut:
- Pemenang 1 Rp6.500.000,-
- Pemenang 2 Rp6.000.000,-
- Pemenang 3 Rp5.500.000,-
- Pemenang 4 Rp5.000.000,-
- Pemenang 5 Rp4.500.000,-
- Pemenang 6 s.d. 10 Rp4.000.000,-
- Pemenang 11 s.d. 15 Rp3.500.000,-

2. Pajak hadiah sebesar 15% (PPH psl 21) ditanggung pemenang.
3. Kepada semua peserta akan diberikan piagam penghargaan.

KETENTUAN PANITIA

1. Kementerian Pendidikan Nasional berhak menerbitkan dan menggandakan naskah yang terpilih.
2. Keputusan panitia bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

LAIN-LAIN

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi panitia penyelenggara:

Kegiatan Pembinaan Pendidikan Estetika Jakarta Subag RT,
Bagian Umum Set Ditjen Mandikdasmen.
Telp. (021) 5725616, atau 57851730
Email : estetika.mandikdasmen@yahoo.co.id
Website: http://depdiknas.go.id

BERIKUT INI DAFTAR PILIHAN BUKU UNTUK DIULAS OLEH PESERTA LMKS 2010:

PUISI:
99 untuk Tuhanku, Emha Ainun Nadjib
Aku Ini Binatang Jalang, Chairil Anwar
Asmaradana, Goenawan Muhammad
Ayat-ayat Api, Sapardi Djoko Damono
Derai-derai Cemara, Chairil Anwar
Diterbangkan Kata-Kata, Agus R. Sarjono
Dunia Semata Wayang, Iman Budhi Santoso
Efrosina, Cecep Syamsul Hari
Empat Kumpulam Sajak, WS Rendra
Garam-Garam Hujan, Jamal D. Rahman
Hujan Bulan Juni, Sapardi Djoko Damono
“Indonesia, Masihkah Engkau Tanah Airku, Husni Djamaluddin”
Indonesiaku, Hamid Jabbar
Kalung Dari Teman, Afrizal Maina
Kepada Cium, Joko Pinurbo
Kolam, Sapardi Djoko Damono
Kota Cahaya, Isbedy Stiawan ZS
Lautan Jilbab, Emha Ainun Nadjib
Luang Prahang, Adul Hadi WM
Madura Akulah Darahmu, D. Zawawi Imron
Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Taufiq Ismail
Menjadi Penyair Lagi, Acep Zam-zam Noor
Mimpi Gugur Zaitun, Dorothea Rosa Herliany
Tirani dan Benteng, Taufik Ismail
Nyanyian dalam Kelam, Sutikno WS
Nyanyian Tanah Air, Saini KM
O Amuk Kapak, Sutardji Calzoum Bachri
Padamu Jua, Amir Hamzah
Potret Pembangunan dalam Sajak, WS Rendra
Puisi-puisi dari Penjara, S. Anantaguna
Reruntuhan Cahaya, Jamal D. Rahman
Secangkir Teh, Sono Farid Maulana
Sembahyang Rumputan, Ahmadun Yosi Herfanda
Sebelum Senja Selesai, Moh. Wan Anwar
Patiwangi, Oka Rusmini
Suatu Cerita dari Negeri Angin, Agus R. Sardjono

CERPEN:
Adam Ma’rifat, Danarto
Antara Wilis dan Gunung Kelud, Toha Mohtar
Bali, Putu Wijaya
Berhala, Danarto
Bibir dalam Pispot, Hamsad Rangkuti
Bidadari Meniti Pelangi, S. Prasetyo Utamo
Blok, Putu Wijaya
Bromocorah, Mochtar Lubis
Bunga Jepun, Putu Fajar Arcana
Godlob, Danarto
Hampir Sebuah Subversi, Kuntowijoyo
Hikayat Batu-Batu, Taufik Ikram Jamil
Hujan Menulis Ayam, Sutardji Chalzoum Bachri
Kali Mati, Joni Ariadinata
Kayu Naga, Korrie Layun Rampan
Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta, Gus tf Sakai
Kritikus Adinan, Budi Darma
Kuda Terbang Mario Pinto, Lina Christanty
Lebaran di Karet, Umar Kayam
Malaikat Tak Datang Malam Hari, Joni Ariadinata
Mandi Api, Gde Soethama
Membaca Hang Jebat, Tufik Ikram Jamil
Membunuh Orang Gila, Sapardi Djoko Damono
Menuju Kamar Durhaka, Utuy Tatang Sontani
Orang Sakit, Hudan Hidayat
Orang-orang Bloomington, Budi Darma
Parang Tak Berulu, Raudal Tanjung Banua
Rumah Kawin, Zen Hae
Saksi Mata, Seno Gumira Ajidarma
Sampah Bulan Desember, Hamsad Rangkuti
Sang Artis, Rosihan Anwar
Sebatang Ceri Di Halaman, Fakhrunnas MA. Jabbar
Senapan Cinta, Kurnia Effendi
Senyum Karyamin, Ahmad Tohari
Sepasang MAut, Wan Anwar
Si PAdang, Harris Effendi TAhar
Tegak Lurus dengan Langit, Iwan SImatupang

NOVEL:
Anak Semua Bangsa, Pramoedya Ananta Toer
Ayat-ayat Cinta, Habiburahman Al Syirazy
Bulan Susut, Ismet Fanany
Bulang Cahaya, Rida K. Liamsi
Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer
Burung-burung Manyar, YB Mangunwijaya
Ca-bau-kan, Remy Silado
Cantik Itu Luka, Eka Kurniawan
Di Batas Angin, Yanusa Nugroho
Gadis Tangsi, Suparto Brata
Geni Jora, Abidah El – Khailiegy
Gerhana, AA Navis
Harimau! Harimau!, Mochtar Lubis
Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa, YB Mangunwijaya
Jejak Langkah, Pramoedya Ananta Toer
Kalatidha, Seno Gumira Ajidarma
Ketika Lampu Berwarna Merah, Hamsad Rangkuti
Kitab Omong Kosong, Seno Gumira Ajidarma
Laskar Pelangi, Andrea Hirata
Maut dan Cinta, Mochtar Lubis
Manyora, Yanusa Nugroho
Naga Bumi, Seno Gumira Ajidarma
Namaku Tiweraut, Ari Sekarningsih
Olenka, Budi Darma
Orang-Orang Proyek, Ahmad Tohari
Pada Sebuah Kapal, Nh Dini
Pasar, Kuntowijoyo
Perang, Putu Wijaya
Perempuan Berkalung Sorban, Abidah El Khalieqy
Rumah Kaca, Pramoedya Ananta Toer
Sedimen Senja, SN RAtmana
Tabularasa, Ratih Kumala
Tamu, Wisran HAdi
TAngan-tangan Kehidupan, Titis Basino PI
Wasripin dan Satinah, Kuntowijoyo
Ziarah, Iwan Simatupang

DRAMA:
Aduh, Putu Wijaya
Alia Luka Serembi Mekah, Ratna Sarumpaet
Atas Nama Cinta, Agus R. Sarjono
Awal dan Mira, Utuy Tatang Santony
Dag Dig Dug, Putu Wijaya
Empat Sandiwara Orang Melayu, Wisran Hadi
Iblis, Mohammad Diponegoro
Kapai-Kapai, Arifin C. Noer
Ken Arok, Saini KM
Mahkamah, Asrul Sani
Malam Jahanam, Montinggo Busye
Opera Kecoa, Nano Riantiarno
Orkes Madun, Arifin C. Noer
Panembahan Reso, Rendra
Sekelumit Nyanyian Sunda, Nasjah Djamin
Serikat KAcamata Hitam, Saini KM
Suksesi, N Riantiarno
“5 Naskah Drama Pemenang Sayembara Dewan Kesenian Jakarta 2003”

Budaya Pantun Rekatkan Perbedaan

Pantun dan Pencerahan Budaya Melayu

Leon Agusta-Penyair dan pengamat sastra

Inilah kami. Kami ada dan mengada di Negeri Pantun, Kota Gurindam. Di negeri kami telah lahir Raja Ali Haji, pendekar gurindam yang melegenda. Juga, Raja Mantara, Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri. Suaranya serak nyaring menggelegar di panggung-panggung para penyair dunia dan nusantara.
Kami juga punya Raja Pantun, Tengku Nasyaruddin S Effendy, terkenal sebagai Tenas Effendy, yang telah menulis sekitar 65 buku tentang bahasa, seni dan budaya serta sejarah Melayu, 45 naskah ceramah dan diskusi. Ia Doktor Honorus Causa Universitas Kebangsaan Malaysia.
Kami juga punya Ratu Pantun, Hj Suryatati A Manan, walikota Tanjungpinang. Pemimpin yang menaburkan cinta terhadap pantun, pusat pesona dan semangat hidupnya. Anak-anak muda berada dalam rangkum pelukannya penuh kebanggaan.
Kami masih punya banyak nama, para pakar dan pencipta pantun. Karya mereka adalah buah dari pohon budaya kami yang bernama Bahasa Melayu -- bahasa yang kini menjadi karunia peradaban bangsa Indonesia.
Begitulah, kurang lebih, yang tertangkap dari Festival Pantun Serumpun, 25-29 April 2008, di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, yang diselenggarakan oleh Yayasan Panggung Melayu (YPM) atas dukungan pemerintah Kota Tanjungpinang. Oleh sang walikota, Tanjungpinang pun dideklarasikan sebagai Negeri Pantun.
Tak kurang dari peserta Malaysia dan Brunei Darussalam pun ikut berpartisipasi. Ada pula opera pantun yang disutradarai Asrizal Nur, dan pantun majelis yang menampilkan Deputi I Menpora Sahyan Asmara, beberapa walikota serta Dubes Malaysia. Ini merupakan festival pantun pertama dengan partisipasi yang sedemikian luas.
Bicara tentang budaya Melayu akan selalu disusul dengan kata serumpun: Melayu Serumpun. Ini menunjukkan kawasan budaya Melayu begitu luas. Bukan sebatas kepulauan Riau. Tetapi, juga warga Minangkabau, Jambi, Palembang, Lampung, Deli Serdang, Malaysia, Brunei Darussalam, Kalimantan dan bagian selatan Thailand.
Bahkan, lebih luas lagi sampai beberapa kawasan Asia Tenggara seperti Kamboja dan Vietnam. Untuk mencakup semua maka disebut Serumpun Melayu. Dalam peta politik pemerintahan masa kini simpul-simpull keserumpunan itu sama sekali tidak terlihat. Diabaikan.
Budaya Melayu memperlihatkan keragaman sekaligus kekhasannya masing-masing. Ada masyarakat matrilineal Minangkabau, yang tradisi pantunnya juga kuat, dan punya tari serampang dua belas Melayu Deli, dan zapin. Ada juga Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji yang sangat dibanggakan.
Ketika kita hendak mencari sebuah ikon yang dapat dianggap merepresentasikan ruh kebudayaan Melayu, boleh jadi kita akan sampai kepada pantun (Maman S Mahayana, 2008). Suatu hal yang cukup terpercaya, mengingat kenyataan pantun tersebar di seluruh kawasan negeri Melayu Serantau.
Masyarakat Melayu zaman dulu tidak meninggalkan jejak sejarah yang memadai untuk dijadikan rujukan. Bila ada yang bertanya sejak kapan budaya pantun lahir dan tumbuh dalam budaya Melayu, pasti tidak ditemukan jawaban. Kecuali jawaban: pantun sudah ada sejak nenek moyang kita.
Menurut Hoesein Djajadiningrat, pantun sudah menarik perhatian para peneliti Barat sejak tahun 1688 (Poejangga Baroe, No 6, Th 1, November 1933). Artinya, pantun sudah terkenal sejak sebelum itu. Setidaknya ada 20 tulisan yang dibahasnya dan dia berhasil menunjukkan adanya kecenderungan yang keliru dalam pemahaman pantun karena ukuran yang dipakai tidak lain dari persajakan Barat.
Beberapa penulis lain juga menunjukkan pandangan yang kurang lebih sama. Mereka menolak anggapan Barat bahwa pantun tidak lebih dari hasil improvisasi (karangan dadakan) dan isinya amoreus (berhubungan dengan percintaan).
Ahli sastra (pantun), Hasan Junus, makin menekankan bahwa usaha untuk memahami pantun mestinya berdasarkan pemikiran, ukuran dan sudut pandang pantun itu sendiri, tidak terlepas dari lingkungan sosial budaya yang melahirkannya.
Sejak 1688, saat buku Studies on Malay Pantun karya Francois-Rene Daillie hingga saat ini sudah lahir satu deretan panjang buku yang merupakan hasil studi para peneliti asing dan dari kawasan Melayu tentang pantun. Ini menunjukkan, bahwa pesona pantun kian meluas, khususnya di kalangan peneliti bukan Melayu.
Pantun menjadi ikon, menurut Maman S Mahayana, karena pantun tidak terikat oleh batasan tempat, usia, jenis kelamin, stratifikasi sosial, dan hubungan darah. Pantun juga dapat digunakan di sembarang tempat, waktu dan suasana. Seorang pejabat negara dalam pidato resminya atau seorang khatib selagi berkhotbah elok saja menyelipkan pantun di dalamnya.
Dalam pengertian umum pantun merupakan salah satu bentuk sastra rakyat yang menyuarakan nilai-nilai dan kritik budaya masyarakat. Biasa digunakan dalam fokslore yang bersifat lisan sebagaimana terlihat dalam dendang yang diiringi berbagai alat musik seperti salung dan rebab di Minanghkabau atau gendang dan kecapi serta berbagai alat musik tradisional Melayu lainnya.
Pantun juga digunakan dalam upacara adat atau dalam berbagai dialog dengan ciri masing-masing, seperti pantun percintaan, pantun nasehat, pantun bercanda tau pantun jenaka (lelucon), dan pantun teka-teki.
Pantun juga digunakan untuk menyampikan pesan-pesan sosial secara sederhna seperti Keluarga Berencana, modernisasasi secara sekilas. Tidak mendalam. Terakhir sekali, pantun bahkan juga dimamfaatkan untuk kampanye pemilihan kepala daerah.
Hal itu menunjukkan bahwa pantun memang merupakan satu bentuk seni sastra rakyat yang bukan saja tekstual tetapi juga kontekstual, dan fleksibel, hingga selalu mampu mengikuti perkembangan zaman dan menghibur:
Pengamat Barat cenderung mengatakan dua baris awal dari pantun (sampiran) sebagai nonsens semata. Sementara dalam budaya Melayu sampiran itu menyimpan kekuatan estetik bahkan juga kerifan dan keterampilan dalam berbahasa dan berkomunikasi.
Para petinggi adat di Minangkabau, misalnya, beranggapan bahwa sampiran merupakan bahasa cerdik pandai atau cendekiawan, sementar isi adalah bahasa untuk orang kebanyakan. Penciptaan yang sesungguhnya berlangsung waktu sampiran dibuat. Sementara isi hanya mengikuti pola sampiran dengan muatan yang disesuaikan. Kata-kata pada sampiran sangat kaya dengan tanda-tanda budaya, flora dan fauna yang merupakan bagian kehidupan masyarakat.
Dalam artikel Revitalisasi Tradisi Perpantun (Negeri Pantun, 2008), Ahmadun Yosi Herfanda melihat kuatnya semangat kebangkitan budaya Melayu saat ini karena masyarakat Melayu memiliki daya resistensi yang cukup tinggi terhadap ancaman budaya global. Kesadaranan ini pulalah yang menghidupkan proses revitalisasi tradisi dimaksud.
Spirit kultural masyarakat Melayu tampaknya sedang mengalami pencerahan dan dengan lantang menyatakan jati dirinya di hadapan sejarah zaman ini.

Bagi Anak Jambi, mudah-mudahan dengan Ajang Balas Pantun Anak Melayu ini akan menghidupkan kembali salah satu budaya melayu negeri jambi tanah pilih pesako betuah. Begitupun melayu nusantara lainnya.

Apa sih guna belajar pantun ?
Dengan berpantun, kita bisa menyampaikan sesuatu dengan kiasan, menyampaikan maksud dengan sopan. Di situlah letak seninya pantun.

Apakah anak jambi masih mengenal dengan pantun ini? so pastilah, pantun ini khan sudah dilagukan.
Batanghari aeknyo tenang
Sungguhpun tenang deras ke tepi
Anak Jambi jangan dikenang
Kalo dikenang merusak hati

Satu lagi adat melayu jambi yang biasa digunakan dalam acara adat perkawinan (parno), yaitu saling berbalas pantun antara pengantar (laki-laki) dengan si penerima (perempuan).

Penyair pengantar yang sedang berada di depan halaman rumah sang pengantin
Berangkai kami iko kok berjalan lah sampai ke batas,
berlayar lah sampai pulo ke pulau.
Kalu berjalan lah sampai ke batas kok berlayar lah
sampai pulo ke pulau ia boleh kami ko berkato
sepatah berunding agak sebaris, sebab bak pantun anakmudo,

jauh-jauh kapal melintang
tampak bendera puan kemudi
Dari jauh kami ko datang
ado niat dalam hati
Lalu dibalas oleh yang menyambut
Ooo macam itu maksudnyo, mako datuk kato-kato
Petuah orang tuo-tuo kito, idak elok becakap di tengah
laman kok berunding sepanjang jalan, apo bunyi
petuah orang-orang tuo-tuo kito yang sebagaimano
dalam pantun seloko.

Batang belimbing ditengah laman
Uratnya menyuluk ke bawah rumah
Idak elok kito brunding ditengah laman,
Elok kito naik ke atas rumah.
* Kalau Pantun Melayu Riau terkenal dengan petuah nasihat dan dakwahnya.
apa guna pantun dibuat, pantun dibuat mengajari umat
mengajari ilmu dunia akhirat
mengajari syarak beserta adat
mengajari orang mengenal kiblat
mengajari amal serta ibadat
supaya hidup tidak tersesat
bila mati beroleh rahmat

apa guna pantun dipakai, menunjuk mengajar orang ramai
supaya beragama tiada merampai
supaya beramal tiada lalai
supaya budi elok perangai
supaya memakai pada yang sesuai
supaya hidup rukun dan damai
Sumber : Mengenal Tuah Pantun Melayu

Atau... Pantun dari kampungku sendiri, Semurup-Kerinci *chiyaaa promosi.... *
Rasulumminallah
Rasulumminannabi
Asal datang dari pado Allah
Usul datang dari pado Nabi

Bukan lebah sembarang lebah
lebah disusun di muko buluh
bukan sembah sembarang sembah
sembah bususun tangan sipuluh

Hahay... lama-lama jadi pakar pantun nih.
Cukup ah... pengenalan pantunnya, nanti bosan kalau terlalu banyak pengantarnya
Ok??? Setuju dengan acara berbalas pantun melayu???
Saya buka dulu ya acara berbalas pantunnya. Biar lebih meriah, silahkan ditambah di kolom komentar.

Sirih berlipat sirih pinang,
Sirih dari pulau mutiara,
Pemanis kata selamat datang,
Awal Bismillah pembuka acara.

Kalau kayu hendak berbuah,
Daunnya jangan dicincang-cincang,
Kalau Melayu hendak bertuah,
Pantunnya jangan dibuang-buang.

Budaya Pantun Rekatkan Perbedaan
Jumat, 13 Agustus 2010 | 02:01 WIB

Kompas/Yurnaldi
Anak-anak sekolah di Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, dari tingkat SD sampai SMA, menggalakkan pantun pada berbagai kegiatan. Pantun telah menjadi salah satu cabang pendidikan tambahan.
JAKARTA, KOMPAS.com--Barang siapa tiada memegang agama, sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama. Barang siapa mengenal yang empat, maka ia itulah orang ma’rifat. Barang siapa mengenal Allah, suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Itulah sebagian petikan dari pasal pertama Gurindam 12, hikayat berisi petuah yang dirangkai Raja Ali Haji yang sampai saat ini masih abadi di bumi Kepulauan Riau.
Pantun seakan tidak lepas dari kehidupan sehari-hari masyarakat di Kepulauan Riau. Meski beragam suku bangsa yang hidup disana namun patun melekat dalam setiap kegiatan mereka tidak terkecuali pada acara-acara formal.
Terlebih lagi di Pulau Penyengat tempat Raja Ali Haji dilahirkan dan juga rumah abadinya setelah berpulang, Gurindam 12 masih menjadi pegangan penduduk yang seluruhnya muslim dalam kehidupan sehari-hari.
Pantun tidak hanya populer di kalangan masyarakat Melayu, suku asli di Kepulauan Riau, tapi juga menjadi bagian dari suku-suku lain yang berbaur disana seperti Tionghoa, Jawa, Flores dan Batak.
Keragaman suku yang juga membawa perbedaan agama tidak menjadi penghalang dalam menciptakan kerukunan beragama. Hampir tidak pernah terjadi permasalahan yang dapat mencederai kerukunan antar pemeluk agama.
Menurut Plt Gubernur Propinsi Kepulauan Riau, HM Sani, budaya Melayu mempersatukan masyarakat Kepulauan Riau yang terdiri dari beragam etnis.
"Keanekaragaman etnis di Kepri menjadi suatu kekuatan dan budaya Melayu memayungi seluruh aktivitas kehidupan masyarakat," kata HM Sani.
HM Sani menjelaskan, implikasi dari itu, budaya Melayu dijumpai dalam seluruh aktivitas untuk semua etnis. Ia mencontohkan seperti etnis China memakai baju Melayu dan ada juga etnis lain yang menggunakan upacara perkawinan ala Melayu.
Budaya Melayu sudah merasuk kehidupan masyarakat sebab inti budaya melayu adalah kebersamaan, toleransi dalam kemajemukan. Budaya Melayu yang terbuka dengan ciri-ciri lebih suka menghindari konflik dalam interaksi sosial, lebih suka menyampaikan sesuatu secara tidak langsung misalnya menggunakan pantun.
Pada setiap acara hampir selalu dibuka dan ditutup dengan pantun. Ciri-ciri lain orang Melayu lebih suka menahan diri dalam banyak hal, memiliki sifat sentimental. Secara umum orang Melayu juga suka damai dan toleran.
Kearifan Lokal Perkuat Kerukunan
Untuk tetap memperkuat kerukunan beragama, Pemerintah melalui Kementerian Agama mendorong kearifan lokal yang hidup dalam masyarakat salah satunya seperti pantun yang tetap hidup di Kepulauan Riau.
"Kita kaya dengan kearifan lokal dan ternyata kerukunan beragama selama ini terjaga dengan kearifan lokal itu," kata Kepala Bidang Litbang dan Diklat Kementerian Agama, Prof. Dr. Atho Mudzhar saat audiensi dengan Gubernur, Dewan Penasehat Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan pengurus se Propinsi Kepulauan Riau di Tanjungpinang, Rabu (3/8) lalu.
Menurut Atho, kerarifan lokal saat ini masih berfungsi di masyarakat yang lebih homogen seperti di pedesaan. Namun ada tantangan baru ketika penduduk mejadi heterogen sehingga diperlukan kearifan tambahan yang merupakan kesepakatan bersama pemimpin agama.
Ia mencontohkan seperti di Bali, ada kesepakatan bersama dimana di suatu acara cukup dengan satu salam saja dan dianggap sudah menghormati seluruhnya yang dikenal dengan kearifan baru.
Pemerintah juga membuat kearifan baru berupa surat peraturan bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri nomor 9-8 tahun 2006 tentang kerukunan umat beragama.
"Kearifan lokal yang sudah ada berabad-abad itu sekarang kita perkuat dengan kearifan baru dalam bentuk kesepakatan bersama pemerintah maupun tokoh-tokoh agama," tambahnya.
Namun masih ada permasalahan utama yang dapat mengganggu kerukunan yaitu kurangnya komunikasi antara umat suatu agama dengan agama lainnya, seperti yang disebutkan Kepala Puslitbang Kehidupan Keagamaan Kementerian Agama, Abdur Rahman Mas’ud.
"Masalah komunikasi antara satu umat agama dengan agama lainnya selama ini kurang intensif sehingga melahirkan persepsi yang salah," katanya.
Menurut Mas’ud permasalahan komunikasi antara umat beragama begitu juga komunikasi pemerintah dengan umat beragama yang kurang intensif menjadi masalah dalam kerukunan. Karena kurangnya komunikasi, terjadi ketidaktahuan tentang agama lain akhirnya melahirkan ketidakpercayaan.
Maka menjadi upaya bersama untuk mencari solusi agar permasalahan kerukunana agama bisa diselesaikan salah satunya dengan menghidupkan kearifan lokal.
Seperti yang dikatakan Pendeta Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) Bethel Tanjungpinang Propinsi Kepulauan Riau, LB Tappe meskipun mereka pendatang namun harus mengikuti budaya setempat yang hobi berpantun.
Mereka memegang teguh pepatah, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Meski pendatang dengan agama yang berbeda mereka tetap bersatu dan hidup rukun tanpa melupakan pantun.
Warisan Budaya Pantun Melayu (Pantun Berkait)
Berikut ini adalah berbagai contoh Pantun Berkait yang menjadi salah satu warisan budaya nenek moyang masyarakat Merangin ;
Pantun Berkait 1
• Angin Barat bertiup nyaman
Burung gagak terbang ke rimba
Tanamkan kudrat pada keazaman
Bulan tidak jatuh ke riba
• Bunga melur cempaka biru
Bunga rampai di dalam puana
Tujuh malam semalam rindu
Belum sampai padamu tuan
• Bunga rampai di dalam puan
Ruku-ruku dari Peringgit
Belum sampai padamu tuan
Rindu saya bukan sedikit
• Ruku-ruku dari Peringgit
Teras jati bertalam-talam
Rindu saya bukan sedikit
Nyaris mati semalam-malam
• Teras jati bertalam-talam
Kapal berlabuh di lautan sisi
Nyaris mati semalam-malam
Bantal dipeluk saya tangisi
• Kapal berlabuh di lautan sisi
Patah puteri naga-naganya
Bantal dipeluk saya tangisi
Hendak mati rasa-rasanya
• Patah puteri naga-naganya
Sentakkan layar ke Inderagiri
Hendak mati rasa-rasanya
Air ditelan serasa duri
• Sentakkan layar ke Inderagiri
Ikan todak dalam perahu
Air ditelan serasa duri
Tidur tak hendak makan tak mahu.
Pantun Berkait 2
• Orang berpadi di tanah liat
Di Mekah banyak buah pedada
Mayat tiada dapat dilihat
Seperti merekah rasanya dada
• Di Mekah banyak buah pedada
Bunga tanjung di atas rakit
Seperti merekah rasanya dada
Terkenangkan untung dan nasib
• Bunga tanjung di atas bukit
Serabi di muka pintu
Terkenangkan untung dengan nasib
Maka sampai sehingga situ
• Serabi di muka pintu
Pergi ke parit hendak merayau
Maka sampai sehingga situ
Ratu Amas berbalik ke Riau
• Pergi ke Parit hendak merayau
Situlah banyak ubi kemili
Ratu Amas berbalik ke Riau
Duduk mendiam-diamkan diri
Pantun Berkait 3
• Pokok beringin, di tepi huma
Pucuk melampai menghala ke belukar
Hati ingin melihat bunga
Bunga dilengkung ular yang besar
• Pucuk melampai menghala ke belukar
Mati dililit ribu-ribu
Bunga dilengkung ular yang besar
Carilah akal dengannya tipu
• Mati dililit ribu-ribu
Laksamana tukang tutuhnya
Carilah akal dengannya tipu
Bagaimana akan membunuhnya?
• Laksamana tukang tutuhnya
Sandar-menyandar di batang pinang
Bagaimana akan membunuhnya?
Tembak dengan peluru bertunang
• Sandar-menyandar di batang pinang
Timpa menimpa di batang padi
Tembak dengan peluru bertunang
Kena tak kena, ularpun mati
• Timpa-menimpa di batang padi
Padi dibawa dari balok
Kena tak kena, ularpun mati
Bunga pun dapat kita nan jolok
• Padi dibawa dari balok
Tiba di kuala pecah perahunya
Bungapun dapat kita nan jolok
Sampai di kepala pecah baunya
• Tiba di kuala pecah perahunya
Jurumudi menyorong sampan
Sampai di kepala pecah baunya
Tujuh hari saya tak makan
Pantun Berkait 4
• Candek-candek pisang di Jambi
Menjulai saja yang belum
Bertanah sudahlah kami
Menggulai saja yang belum
• Menjulai pisang di Jambi
Berseludung saja yang belum
Menggulai sudahlah kami
Bertanak saja yang belum
• Berseludung pisang di Jambi
Bersikat saja yang belum
Bertanak sudahlah kami
Berhidang saja yang belum
• Bersikat pisang di Jambi
Mengkal saja yang belum
Berhidang sudahlah kami
Bersantap saja yang belum
Pantun Berkait 5
• Tanam pinang rapat-rapat
Biar senang puyuh berlari
Kalau kupinang, pinang tak dapat
Kupujuk-pujuk, ku bawa lari
• Biar senang puyuh berlari
Pinang ditanam rapat-rapat
Mengapa mesti dibawa lari
Bukankan baik mengikut adat?
• Pinang ditanam rapat-rapat
Agar dapat puyuh berlari
Kalau sanggup melanggar adat
Tak usah kahwin hingga ke mati
• Agar puyuh dapat berlari
Makan pinang ditanam rapat
Adat melayu jangan cemari
Kalau berusaha pastikan dapat
• Maka pinang ditanam rapat
Puyuh kini berlari-lari
Samalah kita menjunjung adat
Tunggak budaya semai dihati

Pantun bagi masyarakat di kawasan Nusantara ibarat sesuatu yang begitu dekat, tetapi kini terasa jauh ketika budaya populer (low culture) makin menjadi primadona dalam industri hiburan. Dalam kondisi itu, pantun kini laksana pepatah, tak kenal maka tak sayang. Itulah yang terjadi pada pantun. Seolah-olah, ia hanya produk masa lalu yang sudah usang dan tiada berguna. Bahkan, bagi anak-anak muda di Jakarta dan beberapa kota besar di Jawa, pantun seperti tidak lebih dari sekadar produk budaya Melayu, dan oleh karena itu, dianggap hanya milik orang Melayu.
Tentu saja pemahaman itu tidaklah benar. Betul, pantun sepertinya berasal dari tradisi Melayu yang sudah begitu kuat mengakar dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Pantun boleh jadi penyebarannya sejalan dengan perkembangan bahasa Melayu yang menjadi lingua franca di kawasan Nusantara. Boleh jadi karena itu pula, dibandingkan dengan masyarakat di daerah lain, pantun bagi masyarakat Melayu sudah begitu kukuh menyatu dan sebagai media penting dalam menyampaikan nasihat berkenaan dengan tata pergaulan dalam kehidupan bermasyarakat. Telusuri saja ceruk pantai dan pelosok desa di kawasan Riau, Bengkalis, Tanjungpinang, dan terus memasuki wilayah semenanjung Melayu hingga ke Malaysia, maka kita akan melihat betapa pantun telah menyatu dengan kehidupan keseharian masyarakat di sana. Dikatakan Tenas Effendy, “Orang tua-tua Melayu mengatakan, rendang kayu kerana daunnya, terpandang Melayu kerana pantunnya. Ungkapan ini mencerminkan betapa besarnya peranan pantun dalam kehidupan orang Melayu.”
Di berbagai daerah lain di Nusantara ini, pantun sudah pun dikenal masyarakat dengan sangat baik. Boleh jadi karena pantun mengandungi sampiran dan isi, serta dapat dimanfaatkan dalam berbagai kesempatan dan disampaikan dalam sembarang masa, dalam kegiatan apa pun, dan dilakukan oleh sesiapa pun juga, pantun pada gilirannya paling banyak diminati oleh masyarakat tanpa terikat oleh status sosial, agama, dan usia. Pantun menjadi sarana yang efektif yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Itulah salah satu kelebihan pantun dibandingkan gurindam atau syair. Pantun mudah saja diciptakan oleh setiap anggota masyarakat dengan latar belakang budayanya sendiri. Maka, sesiapa pun dari etnis dan latar belakang budaya mana pun, boleh saja membuat pantun.
Semangatnya sederhana. Pantun dapat digunakan sebagai alat komunikasi, untuk menyelusupkan nasihat atau wejangan, atau bahkan untuk melakukan kritik sosial, tanpa mencederai perasaan siapa pun. Itulah kelebihan pantun. “Pantun bukan sahaja digunakan sebagai alat hiburan, kelakar, sindiran, melampiaskan rasa rindu dendam antara bujang dengan dara, tetapi yang lebih menarik ialah peranannya sebagai media dalam menyampaikan tunjuk ajar.”
Sesungguhnya, jika ditelusuri lebih jauh, pantun merupakan salah satu produk budaya masyarakat Nusantara yang merepresentasikan wilayah geografi, kebudayaan, dan “potret” masyarakatnya. Maka, ketika pantun itu muncul di wilayah budaya Melayu, Batak, Sunda, Madura, Betawi, atau Jawa, tak terhindarkan petatah-petitih, nama-nama tempat dan sejumlah istilah yang berkaitan dengan budaya tempatan dengan berbagai aspek lokalitasnya, akan hadir dalam pantun yang dilahirkannya.
Pantun, seperti telah disinggung, memang seperti sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari budaya Melayu. Sebagian besar orang beranggapan bahwa pantun sudah menjadi bagian dari kehidupan keseharian orang Melayu. Maka pantun yang dihasilkannya itu disebut sebagai pantun Melayu. Tetapi, pantun dikenal juga secara baik oleh masyarakat yang tersebar di wilayah Nusantara ini. Lalu bagaimana dengan pantun yang dihasilkan oleh orang Madura, Jawa, Betawi, Sunda, dan seterusnya. Apakah pantun yang dihasilkan mereka itu disebut juga pantun Melayu? Apakah ciri-ciri pantun—dua larik pertama sebagai sampiran dan dua larik berikutnya sebagai isi— melekat juga pada pantun yang dihasilkan anggota masyarakat di luar kebudayaan Melayu? Apakah juga jumlah kata dalam setiap lariknya sama dengan pantun Melayu? Sebagai pantun, tentu saja ciri khasnya yang mengandungi sampiran dan isi, hendaknya tidak ditinggalkan begitu saja. Tetapi, menyebutkan pantun yang dihasilkan di luar wilayah Melayu sebagai pantun Melayu, tentu juga tidaklah tepat. Itulah kekhasan pantun. Ia menjadi milik masyarakat budaya yang melahirkannya, tetapi sekaligus menjadi milik warga yang berada di wilayah Nusantara.
Penelitian yang telah dilakukan oleh para pakar atau para ahli tentang pantun menunjukkan, bahwa pantun termasuk produk budaya yang paling luas penyebarannya, paling dekat dengan masyarakat tanpa terbentur stratifikasi sosial, usia, dan agama. Sejauh pengamatan, penelitian Klinkert (1868) dan kemudian Pijnappel (1883) laksana pembuka pintu bagi peneliti lain dalam coba mengungkapkan berbagai hal berkenaan dengan pantun. Kemudian Ch. A. van Ophuysen membincangkan pantun secara luas dan mendalam yang disampaikannya sebagai pidato pengukuhan guru besar bahasa Melayu di Leiden tahun 1904. Orang Indonesia pertama yang membicarakan pantun tidak lain adalah Prof. Dr. R.A. Hoesein Djajadiningrat dalam pidatonya pada Peringatan 9 Tahun berdirinya Sekolah Hakim Tinggi di Betawi, 28 Oktober 1933.
Dikatakan Hoesein Djajadiningrat, bahwa sejak tahun 1688 pantun telah banyak menarik perhatian peneliti Barat. Sedikitnya 20-an tulisan mereka yang dibicarakan Djajadiningrat cenderung keliru memahami pantun, karena ukuran yang digunakannya tidak lain dari persajakan Barat. Kini, perbincangan pantun seperti tiada habisnya, dan di luar perbincangan itu, tidak sedikit pula orang yang coba menulis pantun, baik untuk sekadar hiburan, maupun yang sengaja ditulis untuk berbagai keperluan. Maka, tidaklah mengherankan jika di antara mereka yang menulis pantun itu, tidak sedikit pula yang sebenarnya tidak memahami konsep pantun yang benar. Pada gilirannya, yang terjadi adalah banyaknya orang membuat pantun sesuka hati, sebagaimana contoh berikut ini:
Buah salak buah kedondong
Jangan marah dong!
Ember plastik mobil bodong
Geser dikit dong
Ada pula yang diplesetkan seperti ini:
Ikan bawal dan ikan kakap
Itulah nama-nama ikan
Buah nangka dan buah mangga
Itulah nama-nama buah
Perhatikan juga catatan Daniel Dhakidae tentang pantun yang dimanfaatkan dalam kegiatan politik tahun 1993. Berikut dikutip pantun yang dimaksud:
Ujungpandang kota bestari
Banyak wisatawan luar negeri
Surabaya tempat KLB PDI
Mbak Megawati pemersatu PDI
Pantun lain yang juga berisi dukungan pada Megawati adalah berikut ini:
Batam kota industri
Singapura di depan mata
Jika ingin mendapat idola hati
Maka Mbak Mega-lah pilihannya.
Ketika Pilihan Kepala Daerah (Pilkada) diselenggarakan di Tanjungpinang (2007), pantun-pantun sejenis itu juga bermunculan. Berikut dikutip sebait pantun yang dimaksud:
Indrasakti pulau sejarah
Pulau Penyengat indah dilihat
Jika kembali diberi amanah
Kesejahteraan rakyat jadi matlamat
(Pantun Pilkada Suryatati A. Manan)
Perhatikan juga pantun berikut ini:
Pulau Bayan Pulau Penyengat
Bulang Linggi berlayar ke samudra
Kalau tuan bijak dan cermat
Pilihan pasti di nomor tiga
Dawai kawat dalam laci
Terikat-ikat sarang tabuan
Tatik-Edward pasangan serasi
Kepentingan rakyat jadi tumpuan
Jika kedua plesetan pantun di atas dan pantun “politik” memang sengaja dimaksudkan sebagai kelakar dengan membuat sesuatu yang seolah-olah pantun atau pantun yang memang digunakan untuk tujuan kampanye untuk mendukung kandidat kepala daerah, maka ada pula yang secara serius hendak membuat pantun dan menerbitkannya sebagai buku tanpa pemahaman yang benar tentang pantun. Akibatnya, selain terjadi begitu banyak kesalahan, juga dapat menimbulkan pemahaman yang keliru tentang substansi pantun itu sendiri.
***
Sebagai objek kajian, pantun memang seperti tidak pernah kehilangan pesonanya. Selalu saja ada yang coba melakukan penelitian tentang pantun dari berbagai aspek. Boleh jadi, sejak tahun 1688 sampai sekarang, perbincangan tentang pantun mencapai ribuan tulisan.
Mengingat pantun tidak terikat oleh batas usia, status sosial, agama atau suku bangsa, maka pantun, dapat dihasilkan atau dinikmati semua orang, dalam situasi apa pun, dan untuk keperluan yang bermacam-macam sesuai kebutuhan. Berbagai suku bangsa di wilayah Nusantara ini mengenal pantun dan kemudian memproduksi sendiri dengan menggunakan bahasanya, idiom-idiomnya, dan nama-nama tempat yang berada di sekitarnya. Maka, selain pantun Melayu yang sudah sangat terkenal itu, kita juga mengenal pantun Madura, Jawa, Sunda, Batak, Minangkabau, Betawi, dan sederet panjang suku-suku bangsa yang mendiami wilayah Nusantara. Orang Jawa menyebutnya parikan atau ada pula yang memasukkannya sebagai wangsalan. Masyarakat Tapanuli (Batak) menyebutnya ende-ende, sedangkan orang Madura, kadang kala menyebut pantun sebagai paparegan. Ada pula yang menyebutnya kèjhung, karena ekèjhunganghi berarti dikidungkan. Tetapi secara umum masyarakat Madura lebih sering menggunakan istilah pantun. Masyarakat Betawi juga menyebutnya pantun, meskipun bahasa yang digunakannya adalah bahasa Melayu Betawi. Semangat dan isinya pun dalam beberapa hal, agak berbeda dengan pantun Melayu pada umumnya.
Begitulah, masyarakat di wilayah Nusantara ini mengenal pantun tanpa meninggalkan ciri budaya tempatannya. Perkara lokalitas, terutama yang menyangkut nama tempat, istilah, dan ungkapan tempatan itulah yang sesungguhnya membedakan pantun dari satu daerah dengan pantun dari daerah yang lain. Meskipun di dalamnya tetap terungkapkan bahwa pantun yang dihasilkan masyarakat di berbagai daerah itu sebagai produk khas budaya mereka, mereka juga umumnya memahami konsepsi pantun dengan tetap mmempertahankan adanya sampiran dan isi dengan pola persajakan a-b-a-b. Lalu ciri apa lagi yang membedakan pantun dari satu daerah dengan pantun dari daerah lain?
Pantun adalah bentuk puisi lama yang tampak luarnya sederhana, tetapi sesungguhnya mencerminkan kecerdasan dan kreativitas si pemantun. Ciri utama pantun adalah bentuknya yang dalam setiap baitnya terdiri dari empat larik (baris) dengan pola persajakan a-b-a-b. Dua larik pertama disebut sampiran, dua larik berikutnya disebut isi. Itulah ciri utama sebuah pantun, meskipun ada pula yang disebut sebagai pantun kilat yang terdiri dari dua larik.
***
Dengan mendasari konsep pantun yang terdiri dari empat larik dalam setiap baitnya, mengandung sampiran (dua larik pertama) dan isi (dua larik berikutnya) dengan pola bunyi atau persajakan a-b-a-b, usaha mencermati pantun yang terdapat dalam masyarakat Jawa, Madura, dan Betawi di Indonesia dilakukan dengan coba melihat beberapa parikan Jawa, pantun Madura, dan terutama pantun Betawi yang sebagian masih hidup di tengah masyarakat dan kerap dipentaskan di depan masyarakatnya. Dengan cara itu, kita akan dapat melihat adakah perbedaan substansial dalam pantun-pantun di wilayah budaya itu atau tidak ada perbedaan signifikan, kecuali penggunaan bahasanya yang memang berbeda.
***
Parikan atau ada pula yang menyebutnya wangsalan berikut ini, datanya dikutip dari buku yang disusun John Gawa. Pilihan data diambil dari buku itu untuk menegaskan kembali betapa pantun yang berasal dari daerah tertentu erat kaitannya dengan warna lokal, kultur tempatan, dan nama geografi. Perhatikan parikan di bawah ini berikut terjemahannya yang ditulis John Gawa:
Kuntul wulung, kuntul wulung
Penclokanne gubug suwung
Jengengekan, jengengekan
Wong mbarang kentrung golek sanakan
Kultul wulung, kultul wulung
Di gubug kosong tempatmu hinggap
Suara tinggi melambung-lambung
Ngamen kentrung cari kenalan
Sapa weruh mobat-mabite
Wong baita kaisen toya
Sapa weruh bibit kawite
Wong sak donya ra ana sing liya
Siapa tahu gerak-geriknya
Perahu diisi dengan air
Siapa tahu asal-usulnya
Di dunia tak ada duanya
Tak-ibaratna lampune lilin
Mobat-mabit kesilir angin
Ora gampang menjadi pemimpin
Dikoreksi rakyat sing miskin
Ibarat seperti lampu lilin
Gerak-geriknya ditiup angin
Tak mudah menjadi pemimpin
Dikoreksi rakyat yang miskin
Sambil mencermati terjemahan John Gawa yang agak menyimpang, parikan itu sesungguhnya hendak memperkenalkan para pelakon (seniman) kentrung. Bait pertama yang pola persajakannya a-a-b-b dan bait kedua a-b-a-b memperlihatkan adanya kandungan sampiran dan isi. Jadi tak menyalahi konvensi pantun. Tetapi sampiran pada kedua bait itu punya makna simbolik, dan makna simbolik itu berkaitan dengan isi yang hendak memperkenalkan seniman kentrung. Bait pertama misalnya: Kultul wulung, kultul wulung/Di gubug kosong tempatmu hinggap/Suara tinggi melambung-lambung/Ngamen kentrung cari kenalan, sesungguhnya terjemahannya tidaklah seperti itu, melainkan begini: Kultul wulung, kultul wulung/hinggapannya di gubug suwung /Tingkah polah tak keruan/Orang main kentrung cari persaudaraan//
Burung yang hinggap di tempat angker (suwung) adalah simbol orang Jawa yang akan memperdalam ilmu, hendak melakukan tapabrata untuk meningkatkan kualitas keilmuan dan spiritualitasnya (sampiran). Jadi, dua larik pertama sebagai sampiran dalam bait itu sesungguhnya bermakna simbolik. Pemaknaan ini penting sebab para seniman kentrung sering kali dianggap berperilaku tidak keruan, aneh, atau tidak seperti perilaku masyarakat pada umumnya. Jadi, dalam konteks itu, seniman kentrung bermaksud menegaskan, bahwa anggapan itu sesungguhnya lebih disebabkan oleh profesinya sebagai seniman, dan untuk menjadi seniman (kentrung), ia harus melewati syarat-syarat tertentu dalam penguasaan ilmu kanuragan atau yang berkaitan dengan kualitas spiritual. Meskipun demikian, pentas keliling (manggung) seniman kentrung tidaklah semata-mata mencari nafkah atau sekadar menghibur, melainkan silaturahmi, mencari persaudaraan, menyampaikan ajaran-ajaran moral keagamaan: Tingkah polah tak keruan/Orang main kentrung cari persaudaraan. Jadi, tingkah polah yang dianggap tidak keruan itu semata-mata lantaran profesinya sebagai seniman, sebagai pendakwah yang hendak menyampaikan ajaran keagamaan. Oleh karena itu, ia harus berkeliling dari satu tempat ke tempat lain sebagai wujud silaturahmi dan tugas sebaai pendakwah.
Bait kedua makin jelas usaha penegasan seniman kentrung tentang keberadaan dan profesinya. Sapa weruh mobat-mabite/Wong baita kaisen toya/Sapa weruh bibit kawite/Wong sak donya ra ana sing liya yang diterjemahkan John Gawa sebagai: Siapa tahu gerak-geriknya/Perahu diisi dengan air/Siapa tahu asal-usulnya/Di dunia tak ada duanya//. Tampak di sini, Gawa gagal memahami spiritualitas orang Jawa. Mestinya terjemahnya sebagai berikut: siapa yang tahu kesemrawutannya /(laksana) orang naik kapal (yang) terisi air/siapa yang tahu asal-muasalnya/orang sedunia tak ada yang lain// Larik ini hendak menegaskan bahwa barang siapa yang memahami tingkah polah (seniman kentrung) laksana seseorang yang naik perahu atau kapal yang terisi air. Bukankah orang yang naik perahu yang di dalamnya terisi air memerlukan keberanian dan tanggung jawab. Ia harus membuang air itu agar perahu atau kapal itu tidak tenggelam. Dan kapal atau perahu merupakan simbol kehidupan. Hal tersebut ditegaskan lagi pada larik berikutnya: siapa yang memahami asal-muasalnya/orang sedunia tak ada yang beda. Artinya, hanya orang yang tahu sebab-musabab kekacauan itu, ia akan sampai pada pemahaman, bahwa manusia di dunia ini hakikatnya sama.
Bait ketiga: Tak-ibaratna lampune lilin/Mobat-mabit kesilir angin/Ora gampang dadi pemimpin/Dikoreksi rakyat sing miskin yang diterjemahkan Gawa sebagai berikut: Ibarat seperti lampu lilin/Gerak-geriknya ditiup angin/Tak mudah menjadi pemimpin/ Dikoreksi rakyat yang miskin// Seharusnya terjemahannya begini: Diibaratkan api lilin/Bergerak-gerak tertiup angin/Tak mudah menjadi pemimpin/Dikoreksi rakyat yang miskin// Jadi, kehidupan seniman kentrung atau kehidupan manusia pada umumnya laksana api lilin yang tertiup angin. Penuh cobaan, tantangan, cabaran. Maka, ketika seniman kentrung atau siapa pun, tampil sebagai anutan (pemimpin dalam arti luas), ia harus siap menerima kritik dan aspirasi rakyat.
Begitulah, ketiga bait parikan itu sesungguhnya dimaksudkan sebagai sindiran kepada masyarakat atas keberadaan seniman (kentrung). Sejumlah parikan Jawa pada umumnya memang digunakan untuk menyampaikan pesan moral. Maka, di sana, muncul kearifan lokal (local genius), karena erat berkaitan dengan dunia di sekitarnya dan kultur tempatan. Oleh karena itu, sejumlah istilah dan nama-nama tertentu sering kali tak mewakili makna yang sesungguhnya ketika ia diterjemahkan ke bahasa lain. Periksalah beberapa parikan berikut ini:
Lelene mati dithutuk
Gawa mrene tak-sujenane
Yen rene ran ate pethuk
Ndang mrene tak-entenane
Ikan lele mati dipukul
Bawa kemari kan kutusuk
Jika kemari tidak pernah bertemu
Segera ke sini kan kutunggu
Demikian parikan Jawa—sebagai pantun—sesungguhnya tidak sekadar mengandungi sampiran sebagai isyarat untuk memasuki isi tentang ajaran moral atau ajaran etik, tetapi juga memperlihatkan kehidupan sosial budaya tempatan. Jika dalam pantun Melayu sampiran tidak ada kaitannya dengan isi, maka dalam parikan Jawa, sampiran dalam beberapa kasus menyampaikan makna simbolik. Jadi ia berfungsi memberi tekanan pada isi. Hal yang hampir sama terjadi pada pantun Madura yang disebut paparegan atau ada pula yang menyebutnya kèjhung, karena ekèjhunganghi berarti dikidungkan. Seperti juga pantun bagi masyarakat Melayu dan Jawa, paparegan digunakan orang Madura untuk menasihati anak-anaknya, agar rajin bekerja, tidak malas, dan punya rasa malu jika mengemis, meminta, dan tidak pernah memberi. Pentingnya bekerja keras, membanting tulang, bagi orang Madura adalah perbuatan yang mendapat penghargaan begitu tinggi, sebab hanya dengan cara itu, ia akan memperoleh penghasilan lebih baik; ia akan dapat menafkahi keluarganya, bahkan juga dapat membantu sanak-saudaranya. Maka, bekerja keras digambarkan dengan olléna pello koning, peluh berwarna kuning yang mengucur dari tubuh akibat bekerja keras.
Jika bekerja keras mendapat tempat yang terhormat, maka sebaliknya, orang Madura sangat membenci sikap malas. Itulah sebabnya, orang Madura sangat menekankan anak-anaknya agar tidak bermenantukan orèng ta’ pélak, anak malas, dan kurang baik perilakunya. Pantun dalam lagu anak-anak berikut ini menggambarkan hal yang demikian:
Bing anak, ta’ enda’ nyémpang jalanna
Bing anak, jalanna tombui kolat
Bing anak, ta’ enda’ ngala’ toronna
Bing anak, toronna oréng ta’ pélak.
Anakku, aku tidak mau melewati jalan itu
Anakku, jalan itu ditumbuhi jejamur
Anakku, aku tidak mau menjadikannya menantu
Anakku, ia keturunan yang wataknya hancur
”Melalui pantun, orang Madura mengajari anak-keturunannya untuk menjauhi parséko, yaitu sebuah tindak yang tidak sopan di mata orang lain (ta’ parjugha). Perhatikan paparegan berikut:
Orèng males tadhâ’ lakona,
Lakona ngokor dhâlika,
Palerres tèngka lakona,
Ma’ kantos kacalè dhika.
Orang malas tak mau bekerja,
kerjanya mengukur tempat tidur,
yang baik dalam bekerja
agar engkau tidak ditegur
Begitulah, salah satu sikap yang dijunjung tinggi orang Madura adalah pentingnya manusia melakukan perbuatan yang berguna bagi manusia lain. Oleh karena itu, sejak dini orang-orang tua mengajak dan menekankan anak-anaknya agar memperhatikan tindak perbuatan yang baik yang berguna bagi masyarakat. Pesan-pesan moral yang seperti itu juga muncul dalam sejumlah paparegan nasihat, di samping juga menekankan pentingnya menjalankan syariat Islam, sebagaimana yang dinyatakan dalam filosofi orang Madura, bahwa sejak bayi orang Madura telah berbantalkan syahadat, berpayungkan perlindungan Allah, dan berselimutkan shalawat (bantal sadhat apajung Alla asapo’ salawat).
Perhatikan beberapa paparegan berikut ini:
Arè’na arè’ alalancor,
Èghulunga èkalama’a
Rè-karè oca’ taloccor
Mon burung sè bâremma’a
Celuritnya celurit lancor
Akan digulung dijadikan alas
(cinta) sudah terlanjur diungkapkan
Jika gagal bagaimana jadinya
Bagi masyarakat Madura, celurit adalah simbol kehidupan. Dalam hal ini, sampiran jadi punya makna simbolik untuk menegaskan isi. Munculnya kata celurit menjadi penting, sebab ia berkaitan dengan pemaknaan orang Madura atas benda itu. Maka, jika celurit sudah dijadikan alas, dasar, pegangan, itu berarti tuntutan yang harus diperjuangkan. Dalam hal bercinta, agaknya orang Madura mempunyai harga diri yang seperti itu ketika cinta sudah dinyatakan. Kegagalan berarti kekalahan, kepencundangan martabat diri. Oleh karena itu, orang Madura jarang sekali yang gampang menyatakan cinta kepada kekasihnya, sebelum ia yakin bahwa kekasihnya itu akan membalas cintanya. Dan ketika pernyataan cinta itu bersambut, tidak ada yang boleh berkhianat. Kesetiaan dengan segala konsekuensinya menjadi tanggung jawab bersama. Begitulah, dalam pantun itu kita dapat memperoleh gambaran tentang watak dan filosofi orang Madura. Paparegan tidak hanya sebagai ekspresi diri atau sebagai media komunikasi, tetapi juga sebagai manifestasi sikap budayanya. Perhatikan lagi paparegan berikut ini:
Bânnya’ macem cabbhi rorro,
Ta’ mara cabbhi mekkasan,
Pon bânnya’ lancèng sè terro,
?pènta’a marè tellasan.
Aneka ragam lombok gugur
tak seperti lombok Pamekasan,
sudah banyak pemuda jatuh hati,
akan dipinang setelah lebaran
Sampiran, seperti juga pada paparegan lainnya, sesungguhnya juga bermakna simbolik. Lombok, garam, tembakau, atau padi yang umumnya menjadi wilayah mata pencaharian masyarakat Madura, juga merupakan simbol penghidupan mereka. Jika lombok ambruk atau gagal panen padi, itu berarti musibah. Tetapi, lombok para petani Pamekasan, biasanya punya kualitas yang baik, dan orang Madura cenderung over convident atas kerja keras mereka. Jadi, sampiran yang menunjukkan lombok Pamekasan punya kualitas yang baik, sesungguhnya simbolisasi atas keyakinan lelaki Madura, bahwa meski banyak pemuda yang menaksir sang kekasih, dialah yang akan meminangnya setelah hari raya. Lalu mengapa pula selepas hari raya? Itulah potret tradisi masyarakat Madura yang beranggapan bahwa bulan yang baik untuk menyelenggarakan pesta perkawinan adalah bulan syawal (selepas hari raya). Jadi, isi paparegan tadi juga merepresentasikan sikap tradisi budaya tempatan: masyarakat Madura.
Sejumlah besar paparegan Madura menunjukkan bahwa sampiran, kadangkala mengandung makna simbolik untuk menegaskan isi. Di samping itu, seperti juga parikan Jawa, istilah atau kata-kata tertentu yang muncul di sana, sering kali erat kaitannya dengan warna lokal. Dengan demikian, paparikan Jawa atau paparegan Madura, sesungguhnya dapat digunakan sebagai pintu masuk untuk memahami sikap budaya dan berbagai persoalan etik masyarakatnya. Paparegan di bawah ini juga menunjukkan hal yang demikian.
Ngarè’ belta nyambi sadhâ’
Mon motta èsambi kèya,
Tadhâ’ kasta neng è adhâ’,
Ghi’ kasta èbudhi kèya.
Menyabit benta pakai sadha’
rumput teki dibawa juga,
tidak ada penyesalan di depan,
tetapi menyesal di belakang hari
Mellè bhâko bân kalampok,
Ngangghuy kocca nengghu tok-tok,
Rèng sabangku padhâ kopok,
Mon acaca salang ghettok.
Membeli tembakau dan jambu air,
memakai kopiah nonton toktok
orang sebangku semuanya tuli,
kalau berbicara saling ketuk.
***
Berbeda dengan paparikan Jawa dan paparegan Madura yang mendasari datanya dari teks yang disusun penulis lain, data mengenai pantun Betawi bersumber dari hasil penelitian yang kami lakukan beberapa waktu lalu (Juli—September 2008). Pantun Betawi masih tersebar di wilayah budaya Betawi yang meliputi pinggiran Krawang, Tambun, Bekasi di bagian Timur; Depok, Cimanggis, Cibinong, dan Ciputat di bagian selatan; dan Tanggerang di bagian timur. Adapun di wilayah Jakarta sendiri yang menjadi daerah penelusuran pantun Betawi, dilakukan di kawasan yang diperkirakan masih banyak dihuni masyarakat Betawi asli. Wilayah-wilayah itu meliputi daerah pesisir utara (Marunda, Pasar Ikan, Tanjung Priok), Jakarta Pusat (Tanah Abang, Glodok, Senen), Jakarta Selatan (Condet, Cipete, Pasar Minggu, Pondok Labu, Lenteng Agung, dan perkampungan Betawi di Jagakarsa). Di samping coba melakukan penelusuran di wilayah-wilayah tersebut, usaha menghimpun pantun berbahasa Melayu—Betawi ini juga dilakukan berdasarkan sumber-sumber tertulis. Sejumlah buku, majalah, dan suratkabar terbitan awal (1891) kami periksa. Ternyata, di dalamnya termuat sejumlah pantun yang menggunakan bahasa Melayu pasar yang dalam bahasa Betawi (lisan) mempunyai banyak persamaan. Itulah salah satu alasan dimasukkannya pantun Betawi dari sumber tertulis.
Semua pantun, baik yang disampaikan secara lisan, maupun yang sudah tersedia dalam bentuk tertulis, diseleksi lagi berdasarkan konsep pantun. Dengan demikian, pantun Speelman sebagaimana yang dikutip Hoesein Djajadiningrat tidak kami masukkan sebagai pantun Betawi mengingat bentuknya yang tidak memenuhi syarat sebagai pantun. Demikian juga “Pantun Anak-Anak Cina.” Meski di sana diberi judul pantun, syarat sebagai pantun tidak dapat kita jumpai di sana, sebagaimana yang tampak dalam beberapa larik berikut ini:
Lihat anak Tjina, bagai pinang muda
Rindoe pada dya pandang pada sorga
Lihat anak Tjina, bagai satoe boeroeng
Rindoe pada dya bagai soedah koeroeng
Lihat anak Tjina, bagai bidadari
Bangoen dari tidoer datanglah kamari
Lihat anak Tjina, bagai bidadari
Roepa bagai boenga bangatlah kamari
Meskipun usaha menghimpun pantun Betawi ini salah satu dasar kriterianya berlandaskan adanya syarat-syarat pantun, dalam hal bahasa, kosa kata, dan cara pengucapan, kami sajikan sebagaimana adanya. Maka, jika dicermati betul, akan tampak seperti adanya ketidakkonsistenan. Kata kue, misalnya, ada yang diucapkan kuwe, tetapi ada pula yang diucapkan kue. Demikian juga kata reformasi, diucapkan repormasih. Begitulah, sejumlah kosa kata dibiarkan sesuai pengucapannya.
Satu hal yang sangat menonjol dalam pantun Betawi ini adalah kuatnya ciri yang menunjukkan ekspresi yang spontan. Hampir semua sampiran memperlihatkan nada yang demikian. Boleh jadi semangat dan ekspresi spontanitas itu didasari oleh keinginan untuk membangun kesamaan bunyi: a-b-a-b. Oleh karena itu, sampiran umumnya tidak ada kaitannya dengan isi. Sampiran seperti terlontar begitu saja, lepas, bebas, tanpa beban. Perhatikan contoh berikut:
Ngisi tinta pulpennya bersih
Buru-buru gambarin kura
Biar nyata direpormasih
Guru-guru belon gumbira
Mbelah nangka di daon waru
Daon digelar ama pengejeg
Sapa nyangka nasibnya guru
Pagi ngajar sorenya ngojeg
Berkenaan dengan isi pantun, sejumlah besar pantun Betawi, selain coba mengungkapkan berbagai nasihat yang berkaitan dengan etika, moral, adab, sopan santun, dan ajaran-ajaran agama, juga begitu banyak memuat kritik sosial. Maka, kita akan melihat, betapa pantun Betawi boleh dikatakan sebagai representasi dinamika kehidupan sosial budaya, dan sejarah masyarakat Betawi. Perhatikan beberapa pantun Betawi berikut ini:
Ke Setu ngorak kecapi
Kedebong ditebang sepuun
Baru satu dia punya tipi
Eh, sombongnya minta ampun
Cimuning jalannya redug
Abis ujan disamber kilat
Baju kuning nyeng nabuh bedug
Abis ajan malah gak solat
Kerangkeng di Buni Bakti
Baca patehah di Pondoksoga
Badan bongkeng ‘dah deket mati
Masih betingkah bininya tiga
Kura-kura masukin sarung
Bapak ertenya maen perkusi
Orang Madura takut pulang kampung
Grobog satenya kena operasi
Bangau terbang tinggi membumbung
Burung onta lebar sayapnya
Orang Betawi takut ninggalin kampung
Sebelum tanah waris kejual semuanya
Begitulah bagaimana masyarakat Betawi menyikapi perubahan zaman dalam tata kehidupan mereka sehari-hari dalam bentuk pantun. Akibatnya, sejumlah pantun, selain memuat kritik sosial dan potret masyarakatnya, juga laksana hendak mengusung semangat egalitarian. Peristiwa apa pun, termasuk kehidupan di dalam rumah tangga, dan hubungan menantu—mertua, dapat disampaikan secara lepas. Periksa beberapa pantun berikut ini:
Kopi kentel rasa lambada
Mencet piano lagu si centeng
Mantu batal ke rumah Baba
Takut disuruh betulin genteng
Kayu rengas ditebang patah
Dibikin tatal mbenerin pintu
Muka bringas lagunya mentah
Kaga bakalan dipungut mantu
Gatotkaca terbang ke awan
Dewi Batari gampang ketawa
Lu kudu ngaca, nanya ‘ma kawan
Tiap ari numpang mertua
Cikini di dekat Kwitang
Ngetanan dikit makam tetua
Biar begini aye gak punya utang
Cuman makan numpang mertua
Buah pinang buah belimbing
Betiga ame buah mangga
Sungguh senang berbapak suwing
Biar marah tertawa juga
Terigu, garam sama beras
Dicampur oncom dijadiin dage
Cucu aja udah sebelas
Blagu lagaknya sok a-be-ge
Pantun-pantun yang seperti itu sememangnya sangat lazim disampaikan secara lisan dalam pentas pembacaan pantun. Bahkan, begitu bebasnya orang Betawi menanggapi apa pun yang berkaitan dengan persoalan kehidupan sehari-hari, maka tidak sedikit pula pantun Betawi yang selain mengungkapkan kritikannya atas persoalan sosial budaya yang terjadi ketika itu, juga mengungkapkan kehidupan suami—istri dalam rumah tangga. Perhatikan beberapa pantun berikut ini:
Orang Londo berbadan lebar
Kepentok tiang kepala benjol
Kalo kebelet gak bisa sabar
Kambing pun jadi kliatan bahenol
Kedebong pisang si tali waru
Waluh masak rebusnya labuh
Abong-abong penganten baru
Masuk isa tembusnya subuh
Pacul tajem nebelin tanggul
Pedangnya muntul musti diganti
Uncul dua jem, belom juga gul
Tendang ajah pake pinalti
Ngincer tembakan kudu dikeker
Jambak ajah dia punya kuping
Daripada kedakar-kedeker
Hajar ajah sembari nyamping
***
Dari perbandingan sejumlah pantun Melayu, Jawa, Madura, dan Betawi sebagaimana yang sudah dibicarakan di atas, jelaslah bahwa pantun di satu daerah dengan daerah selalu memperlihatkan adanya persamaan dan sekaligus juga perbedaan. Kesamaan umum terletak pada fungsi pantun yang secara sadar digunakan untuk kepentingan menyampaikan pesan-pesan moral dan etik tentang tata kehidupan. Kesamaan lain terletak pada ciri-ciri pantun yang ditandai dengan adanya sampiran dan isi. Hanya, jika sampiran pada pantun Melayu lebih ditujukan untuk mengantarkan isi, tanpa ada kaitan logis antara sampiran dan isi, pada pantun Jawa dan Madura, dalam beberapa kasus, justru berfungsi untuk menegaskan isi. Oleh karena itu, sampiran kadangkala juga bermakna simbolik. Jadi, dengan demikian, kehadiran sampiran tidak sekadar sebagai pengantar memasuki kesamaan bunyi isi, tetapi sekaligus pengantar pada tema atau persoalan yang hendak disampaikan.
Sampiran pada pantun Betawi berfungsi sebagai pengantar pada kesamaan bunyi isi (a-b-a-b), sama halnya dengan pantun Melayu. Tetapi, kesan yang muncul pada pantun Betawi adalah kelugasan dan semangat spontanitas, tanpa beban, bebas, lugas, dan terkesan disampaikan sesuka hati. Meskipun demikian, kekhasan pantun Betawi terletak pada isi pantun yang cenderung menjadi sarana untuk mengkritik apa pun, juga tanpa beban. Akibatnya, persoalan apa pun, yang berat atau ringan, dapat dijadikan pantun yang disampaikan secara enteng.
Dari sejumlah perbandingan itu, makin jelas bagi kita, bahwa pantun selain sebagai sarana menyampaikan pesan moral dan pesan etik, juga di dalamnya merepresentasikan kultur tempatan. Oleh karena itu, mempelajari pantun sesungguhnya dapat juga dijadikan sebagai pintu masuk untuk memahami kehidupan sosial budaya masyarakatnya.
Kiranya demikian ….
18/10/2008/mklh/pantun/seminar KL
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Kamal, et al. (Peny.), Sempana: Himpunan Esei Penelitian oleh Sarjana
Kesusasteraan Melayu Antarbangsa, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka,
1994, hlm. 149—164.
Alisjahbana, Sutan Takdir. Puisi Lama. Djakarta: Pustaka Rakjat, 1961.
Aminurrrashid, Harun. Kajian Puisi Melayu. Singapore: Pustaka Melayu, 1960.
Bachri, Sutardji Calzoum. “Pantun” (Kompas, 14 dan 21 Desember 1997.
——————————. Isyarat. Yogyakarta: Indonesia Tera, 2007.
Bakar, Zainal Abdin. Kumpulan Pantun Melayu. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka,
1984.
Braasem, W.A. Pantuns. Djakarta-Amsterdam-Surabaia: De Moderne Boekhandel Indonesie,
1950.
Braasem, W.A. “Seorang Romantikus Djerman tentang Pantun,” Zenith, Th. III, No. 1,
Djanuari 1953, hlm. 45—53
Dhakidae, Daniel. “Sampiran, Isi, dan Sisi-Sisi Kehidupan menurut Pantun.” John Gawa.
Kebijakan dalam 1001 Pantun. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2006, hlm. 27—34.
Djajadiningrat, R.A. Hoesein. “Arti Pantoen Melajoe jang Gaib,” Poedjangga Baroe, No. 6,
Th. I, November 1933, No. 8 dan 9, Th. I, Pebroeari – Maret 1934.
Effendy, Tenas. Khazanah Pantun Melayu Riau, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka,
2007
Gawa, John. Kebijakan dalam 1001 Pantun. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2006,
Hutomo, Suripan Sadi. Telaah Kesusastraan Jawa Modern. Jakarta: Universitas Indonesia,
1975.
Ikram, Achadiati.“Pantun dan Wangsalan,” Ilmu Sastra Indonesia, No. 22, 1964.
———————. Filologia Nusantara. Jakarta: Pustaka Jaya, 1997.
Intojo. “Pantun,” Indonesia, No. 4 dan No. 7, Th. II, April dan Djuli 1952.
Junus, Hasan. Pantun-Pantun Melayu Kuno, Pekanbaru: Yayasan Pusaka Riau, 2001.
Mahayana, Maman S. “Lebih Jauh tentang Pantun,” Sembilan Jawaban Sastra Indonesia,
Jakarta: Bening Publishing, 2005.
————————- (Ed.). Pantun di Negeri Pantun. Jakarta: Yayasan Panggung Melayu,
2008.
Mahayana, Maman S., dkk. Pantun Betawi: Refleksi Dinamika Sosial Budaya Masyarakat
dalam Pantun Melayu—Betawi. Bandung: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, 2008.
Prampolini, Giacomo. “Pantun dan Bentuk Sadjak lain dalam Puisi Rakjat.” Zenith, Th. I, No.
11, November 1951, hlm. 666—671.
Prampolini, Giacomo. “Pembicaraan Buku W.A. Braasem/R. Nieuwenhuis ‘Puisi Rakjat dari
Indonesia,” Zenith, Th. III, No. 8, Agustus 1953, hlm. 486.
Pantun Melayu. Jakarta: Balai Pustaka, 2004 (Cet. Ke-14, Cet. I, 1920).
Pijnappel, J.“Over de Maleische Pantoens.” Bijdragen tot de taal, Land en Volkenkunde van
Nederlands—Indie, 1883.
Poedjawijatna, I.R. “Peralihan Kesusasteraan Indonesia dari Lama ke Baru.” Basis, No. 3,
Th. V, Februari 1954.
Rosidi, Ajip, dkk. Ensiklopedi Sunda. Jakarta: Pustaka Jaya, 2000.
Sahhabat-Baik, No. 1, 1891, hlm. 1. (tanpa tanggal dan bulan), diterbitkan Datoe Soetan Maharadja atau di toko toewan Klitsch & Holtzapffel di Padang
Supratman, M. Tauhed. (Ed.), Pantun Madura Puisi Abadi. Pamekasan: (?), 2000. (Naskah