Wednesday, 17 June 2026

Biodata Singkat Raudah Jambak sebagai Akademisi sekaligus Praktisi Seni Sastra dan Budaya Indonesia










 M. Raudah Jambak adalah seorang sastrawan, penyair, dramawan, dan budayawan senior asal Kota Medan, Sumatera Utara. Lahir pada 5 Januari 1972, ia dikenal secara luas di kancah sastra nasional maupun regional (ASEAN) lewat karya-karya puisinya yang sarat akan kritik sosial, budaya, dan humanisme. Kegiatan saat ini secara Internasional di 2026 mengikuti Pertemuan Penyair Nusantara XIV di Aceh. [1, 2, 3, 4]

Berikut adalah rekam jejak, kontribusi, dan karya penting dari M. Raudah Jambak:
1. Karya Sastra dan Antologi Penting
Karya-karya tulisnya, baik berupa puisi, cerpen, maupun naskah drama, telah diterbitkan dalam berbagai buku kompilasi sastra nasional: [1, 2, 3]
  • "Masih Merdekakah Kau, Indonesia?": Salah satu puisi monumentalnya yang paling sering dibacakan dan dipentaskan dalam berbagai pertunjukan teaterikal bertema nasionalisme. [1, 2]
  • "Senandung Perih Dendang Saluang": Karya cerpennya yang mendapat tempat dalam peta kesusastraan nusantara. [1, 2]
  • Antologi Temu Sastrawan Indonesia (TSI): Karya-karyanya masuk ke dalam antologi Tanah Pilih (TSI I di Jambi), Jalan Menikung ke Bukit Timah (TSI II di Bangka Belitung), serta Pulau Marwah (TSI III di Tanjungpinang). [1, 2]
  • Antologi Internasional: Puisinya juga tergabung dalam Antologi Puisi Serumpun (ASEAN) serta proyek sastra Puisi-Puisi Covid-19: Bersama Melawan Bencana. [1]
  • Buku Teater: Terlibat sebagai editor dan penulis dalam buku kumpulan drama, salah satunya Tikar: Antologi Cerita Pendek bersama Laboratorium Sastra Medan. [1]
2. Aktivitas Teater dan Komunitas Seni
Selain menulis, ia aktif menggerakkan seni pertunjukan dan mengelola ruang kreatif: [1]
  • Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) Awards: Pernah mengikuti Festival Teater Alternatif di GKJ dan workshop teater alternatif di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta pada tahun 2003.
  • Pesta Kesenian Mahasiswa: Berpartisipasi sejak muda dalam ajang Pekan Seni Mahasiswa Nasional (PEKSIMINAS) III di Jakarta (1995).
  • Workshop MASTERA: Menjadi bagian dari lokakarya cerpen Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA) di Bogor. [1]
3. Kontribusi sebagai Juri dan Pengajar Budaya
Hingga saat ini, Raudah Jambak mendedikasikan waktunya untuk mengedukasi generasi muda dan menilai kompetensi seni: [1]
  • Juri Kompetensi Nasional: Kerap dipercaya menjadi juri lomba baca puisi, cipta puisi, dan festival teater di berbagai universitas dan instansi (seperti Festival Lomba Seni Siswa Nasional/FLS2N dan lomba nasional di Universitas Malikussaleh).
  • Pembicara & Budayawan: Sering diundang sebagai narasumber dalam pelatihan kepemimpinan, seminar kebudayaan, serta dialog interaktif di televisi lokal untuk membahas perkembangan karakter pemuda berbasis budaya. [1]

No comments: